I’tiqâd Tentang Kekafiran Kedua Orang Tua Nabi Muhammad saw.

Keyakinan Syi’ah

Termasuk keyakinan pasti yang disepakati dalam ajaran Syi’ah adalah bahwa ayah bunda mulia Rasulullah Muhammad saw.adalah mu’min/beriman kepada Allah SWT, tidak musyrik/ menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Demikian juga dengan ayah-ayah dan moyang beliau hingga Nabi Adam as. tidak seorang pun dari moyang Nabi saw. yang musyrik… Demikian ditegaskan para tokoh dan pemuka Syi’ah di berbadai masa… keyakinan yang tak bisa ditawar-tawar!

kesempatan ini saya tidak sedang bermaksud membuktikan kebenaran keyakinan kami (Syi’ah) dalam masalah ini, akan tetapi hanya sekedar membandingkan I’tiqâd yang bertolak belakang antara Syi’ah dan Ahlusunnah dalam masalah ini. Karenanya kami tidak akan mengutarakan dalil-dalil kami! Yang akan kami sebutkan hanya komentar ulama dan tokoh mazhab kami.

Syeikh Shadûq (pemimpin tertinggi Ulama Syi’ah Imamiyyah di masanya) menegaskan keyakinan tersebut dalam kitab al I’tiqadât-nya ketika menerangkan keyakinan Syi’ah tentang ayah-ayah Nabi saw.:

إعتقادُنا فيهِم أنَّهم مسلِمون.

“Keyakinan kami (Syi’ah) tentang mereka (ayah-ayah Nabi saw.) bahwa mereka itu semuanya muslimun.”

Penegasan Syeikh ash Shadûq tersebut diterjelas/disyarakan oleh Syeikh Mufid (pemimpin Ulama Syi’ah setelah ash Shadûq) dalam kitab Tash-hîhul I’tiqâd Bi Shawâbi al intiqâd atau yang juga dikenal dengan nama Syarah ‘Aqâid ash Shadûq:

“Ayah-ayah Nabi saw. hingga Adam as. adalah muwahhid/mengesakan Allah, di atas keimanan kepada Allah sesuai dengan apa yang disebutkan Abu Ja’far/ash Shadûq (Rahimahullah).[1] Kemudian beliau memaparkan dalil dan bukti atasnya.

Dalam kitab Awâil al Maqâlât-nya, Syeikh Mufîd kembali mempertegas keyakinan tersebut. Beliau berkata dalam bab al Qaulu Fî Âbâi Rasulillah shallallahu ‘Alaihi wa Âlihi wa ummihi wa ‘Ammihi Abi Thalib (rahmatullahi ta’âlaAlaihim) /pendapat tentang ayah-ayah Rasulullah saw., Ibu dan Paman beliau Abu Thalib semoga -rahmat Allah atas mereka-:

و اتفقت الإمامية على أنَّ آباءَ رسولِ اللهِ (ص) من لدن آدمَ إلى عبد الله بن عبد المطلب مؤمنون بالله عز و جلَّ و موحَّدون له. و احتجوا في ذلكَ بالقرآن و الأخبار….

“Syi’ah Imamiyyah sepakat bahwa ayah-ayah Rasulullah saw. sejak Adam hingga Abdullah ibn Abdul Muththalib adalah orang-oraang yang beriman dan mengesakan Allah. Syi’ah berdalil dengan Al Qur’an dan Hadis-hadis….“[2]

Keyakinan Ahlusunnah

Adapun keyakinan Ahlusunnah dalam masalah ini adalah bertolak belakang total dengan apa yang diyakini kaum Syi’ah. Ahlusunnah meyakini bahwa kedua orang tua mulia Nabi saw.;Sayyiduna Abdullah ibn Abdul Muththalib dan ibunda suci Aminah binti Wahb az Zuhriyah adalah kafir/musyrik menyekutukan Allah dan menyembah berhala dan kelak di hari kiamat nereka tempatnya, wal Iyâdzu billah, semoga Allah melindungi kami dari keyakinan seperti itu.

Apa yang menjadi keyakinan mereka telah diterangkan dan dikukuhkan para ulama besar dan tokoh terkemuka Ahlusunnah wal Jama’ah serta didukung oleh hadis-hadis shahih dalam kitab-kitab standar utama mereka.

Keyakinan demikian adalah kayakinan yang diwariskan turun temurun dan ditegaskan sebagai keyakinan pasti dalam mazhab Ahlusunnah Wal Jama’ah. Kendati belakangan, Ahhlusunnah “kontemporer” (meminjam istilah sebagian penulis Ahlusunnah) berusaha menghilangkan kesan kental itu dari mazhab dengan mengelindingkan pendapat lain yang menyalahi keyakinan para pendahulu mereka yang dibangun di atas hadis shahih! Tetapi tetap saja usaha itu tidak akan mampu menghilangkan kesan kental keidentikan mazbah Ahlusunnah dengan keyakinan tersebut.

Di bawah ini akan saya sebutkan beberap kutipan pernyataan ulama besar Ahlusunnah:

Imam an Nawawi:

Ketika menjelaskan hadis Nabi saw.:

إنّ أبي و أباكَ في النار.

“Sesungguhnya ayahku dan ayahmu berada di neraka.”

Imam An Nawawi (yang digelari Muhyi as Sunnah/penyegar Sunnah) menegaskan, “Di dalam hadits ini terdapat faidah bahwa siapa yang mati di atas kekafiran maka dia di neraka dan tidak akan bermanfaat baginya kerabat dekat.”

Al Imam Al Baihaqi:

Dalam kitab Dalâil an Nubuwah, Al Imam Al Baihaqi berkata setelah menyebutkan sejumlah hadits yang menjelaskan bahwa kedua orang tua Nabi di neraka,“Bagaimana mungkin keduanya tidak mendapatkan sifat yang demikian di akhirat, sedang mereka menyembah berhala-berhala sampai mereka mati,dan tidak beragama dengan aagam yang dibawa oleh Nabi Isa as.”.[3]

Dan kitab as Sunan al Kubrâ, ia kembali menegaskan keyakinan Ahlusunnah tentang ayah-bunda Nabi saw., ia berkata, “Kedua orang tua beliau adalah Musyrik”[4] Kemudian setelahnya, ia mengobral dalil-dalil yang mendukung keyakian tersebut!

Selain mereka tentunya masih banyak keterangan dan pernyataan ulama Ahlusunnah yang secara tegas menyatakan keyakinan tersebut, bahkan Al Imam ‘Ali Al Qâri menukil adanya ijma’/kesepakatan ulama atas keyakinan tersebut.

Menurut sebagian ulama Ahlusunnah, keyakinan bahwa kedua orang tua Nabi saw. mu’min/tidak musyrik adalah keyakinan yang identik dengan mazhab Syi’ah yang dibangun atas dasar kultus Ahlulbait/keluarga dan kerabat Nabi saw.

Dasar Keyakian Ahlusunnah wal Jama’ah

Keyakinan bahwa kedua orang tua Nabi saw. adalah mati dalam keadaan musyrik dan kelak akan ditempatkan dalam neraka telah dibangun di atas pondasi kokoh; hadis-hadis shahih yang diriwayatkan dalam kitab-kitab standar mu’tabarah, seperti Shahih Muslim, as Sunan al Kubrâ, Sunan Abu Daud, Shahih Ibnu Hibban, as Sunan al Kubrâ, Musnad Imam Ahmad, Musnad Abu ‘Awânah, Musnad Abu Ya’lâ Al Mûshili dan lain-lain.

Di bawah ini akan saya sebutkan beberapa hadis darinya:

Hadis Bahwa Ayah Nabi saw. Musyrik Dan ia Di Neraka

Dengan sanad bersambung kepada sahabat Anas ibn Malik, ia berkata:

أن رجلا قال: يا رسول الله! أين أبي؟ قال: “في النار” فلما قفي دعاه فقال: “إن أبي وأباك في النار”.

“Sesungguhnya ada seorang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, dimana ayahku?’ Beliau menjawab, ‘Di neraka.’ Lalu ketika orang tersebut berpaling/pergi, beliau memanggilnya dan berkata, ‘Sesungguhnya ayahmu dan ayahku di neraka.’”

Sumber Hadis

Hadis tersebut telah diriwyatkan oleh banyak ulama hadis ternama Ahlusunnah di antaranya adalah:

A) Imam Muslim di dalam Shahih-nya, bab Bayân Anna Man Mâta ‘Ala al Kufri Fahuwa Fî an Nâr, Lâ Tanâluhu Syafâ’atun walâ Ta’fa’uhu Qarâbatul Muqarrabîn/Barang siapa mati dalam keadaan kafir maka ia di neraka, syafa’at tidak akan mengenainya dan juga kekerabatan kaum yang didekatkan (kepada Allah) tidak berguna baginya,3/79 dengan syarah an Nawawwi. Dan kemudian dinukil oleh banyak ulama dalam buku-buku mereka, seperti dalam Shafwah ash Shaffah,1/172 dan al Bidâyah wa an Nihâyah,2/12-15 dll.

B) Abu Daud dalam Sunan-nya.

C) Ibnu Hibban dalam Shahih-nya.

D) Al Baihaqi dalam as Sunan al Kubrâ-nya.

E) Imam Ahmad dalam Musnad-nya.

F) Abu ‘Awânah dalam Musnad-nya.

G) Abu Ya’lâ Al Mûshili dalaam Musnad-nya.

Hadis Bahwa Bunda Nabi saw. Musyrikah Dan Ia Di Neraka

Para ulama hadis kenamaan Ahlusunah juga meriwayat hadis-hadis yang menegaskan dan mendukung keyakian mereka bahwa bunda Nabi saw. adalah seorang wanita musyrikah yang mati dalam kemusyrikan dan neraka adalah tempatnya. Bahkan ketika Nabi saw. meminta izin dari Allah untuk menziarahi kuburan ibunya dan memohonkan ampunan, istighfâr untuknya, Allah hanya mengizinkan Nabi-nya untuk menziarahi dan tidak mengizinkannya untuk beristighfâr untuk ibunya.

Hadis tentangnya banyak sekali, dalam kesempatan ini saya akan menyebut satu darinya, yaitu hadis yang bersumber dari sahabat kepercayaan Ahlusunnah, “pewaris Sunnah suci Nabi, wadah ilmu dan kepercayan Nabi saw., beliau adalah “Sayyiduna wa Imamuna” Abu Hurairah. Ia berbagi informasi, dengan mengatakan, “Nabi saw. bersabda:

استأذنت ربي أن أستغفر لأمي فلم يأذن لي واستأذنته أن أزور قبرها فأذن لي.

“Aku meminta ijin kepada Allah untuk memintakan ampunan untuk ibuku, akan tetapi Dia tidak mengizinkanku, dan aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya, maka Dia mengizinkanku.”

Sumber Hadis

Hadis tersebut telah diriwyatkan oleh banyak ulama hadis ternama Ahlusunnah di antaranya adalah:

A) Imam Muslim di dalam Shahih-nya pada Kitabul Janaiz bab Isti’dzânu an Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam rabbahu ‘Azza waJalla Fî Ziyârati Qabri Ummihi/permohonan izin Nabi saw. untuk menziarahi kuburan ibunya,(dengan syarah an Nawawi,7/45).

B) Ibnu Hibban dalam Shahih-nya.

C) Ibnu Majah dalam Sunan-nya.

D) Al Baihaqi dalam as Sunan al Kubrâ.

E) Abu Bakar bin Abi Syaibah dalam Al Mushannaf-nya.

F) Abu Ya’lâ dalam Al Musnad-nya.

Komentar an Nawawi:

Juru bicara resmi Ahlusunnah, Imam an Nawawi berkata, “Dalam hadis di atas terdapat faedah/kesimpulan dibolehkannya menziarahi orang-orang musyrikin di kala hidup, maupun menziarahi kuburan mereka setelah mati… Di dalamnya juga terdapat faedah dilarangnya memohonkan ampunan buat orang-orang kafir.” (Syarah Shahih Muslim,7/ 45).

Dengan demikain jelaslah bagaimana aqidah dan keyakinan Ahlusunnah wal Jama’ah tentang kedua orang tua Nabi saw.

Dan kalaupun ternyata aqidah seperti itu dikemudian hari dirasa memalakuan dan dapat mencoreng nama harum mazhab mereka, lalu ada segelintir orang menyelisihinya, maka sama sekali itu tidak akan mengubah kenyataan akan keyakinan Ahlusunnah yang paten! Apalagi yang disampaikan oleh “Sunni kontemporer” sangat menyalahi hadis-hadis shahih mereka sendiri dan juga menyalahi kesepakatan para pemuka mazhab mereka! Mereka tidak konsisten dengan kayakinan mereka sendiri bahwa kitab Shahih Muslim adalah kitab paling shahih setelah Kitab Allah dan Kitab Shahih Imam Bukhari!

Dan kalaupun kalian (sebagian Ahlusunnah) kebetaran dengan keyakinan tersebut karena dianggap bertentangan dengan dalil dan dengan sopan santun dan sikap hormat kepada Nabi saw., lalu apa sikap yang harus ditegakkan mazhab Ahlusunnah (yang telah dimodifikasi itu) terhadap mereka yang meyakini kekafiran ayah-bunda Nabi saw.?!

Apakah di keluarkan dari keanggotaan sebagai Ahlusunnah? Sementara pilar-pilar mazhab Ahlusunnah itu, mereka yang meneggakkan?

Atau kalian -yang yang berseberangan dengan tokoh-tokoh tersebut- akan keluar dari Ahlusunnah?

Atau kalian mengatakan bahwa pendapat para pemuka mazhab kalian itu tidak mewakili mazhab Ahlusunnah?

Lalu siapa yang mewakili mazhab Ahlusunnah?

Kami menanti jawaban konkretnya kalian.

Walahu A’lam.


[1] Tash-hîhul I’tiqâd:117

[2] Awâil al Maqâlât:51.

[3]Dalâil an Nubuwah,1/192-193.

[4] As Sunan al Kubrâ,7/190.

About these ads

84 Tanggapan

  1. Aqidah kami, kami ambil berdasar kepada Al Qur’an dan As Sunnah ash Shahihah. Jadi apa yang kamu anggap aneh apalagi kamu salahkan ketika kami (Ahlusunnah) meyakini bahwa kedua orang tua nabi itu hidup dan mati dalam keadaan kafir/musyrik, menyekutukan Allah Swt.sesuai dengan hadis-hadis shahihah dan persyarahan ulama kami….
    hany kalian saja orang-orang Syiah yang keberatan atau Ahulsunnah yang keracunan paham Syiah atau gemar berdalil dengan hadis dha’ifah.
    Jadi apanya yang salah pak jakfari?! Tolong tunjukkan!

  2. Kalau Abu bakar dilaknat orang syi’ah kalian semua serempak menghujani syi’ah dengan leknatan dan kecaman, sepertinya tak ada ampun.
    Tapi sekarang, lihat tuh, ayah bunda nabi kalian kafirkan! tap kalian ngaku mencintai nabi Muhammad SAW.. Masyaallah, apa sampe sebegini terbalik mata hati kalian ya?
    mana pembelaan kalian hai AHLU SUNNAH?
    Tidak cukup itu, kalain kafirkan juga Abu Thalib panan nabi Muhammad SAW…. mau kalian ini apa sih?
    Buat ibnu jakfari saya dukung perjuangan kamu. bongkar terus kesalahan dan kerancaun ajaran AHLU SUNNAH biar orang jadi melek, kalau madzhab ini memalukan.

  3. Heran, kenapa ya… hari genee masih mensakralkan garis keturunan bukan orang yang bersangkutan? :D

    Ibnu Jakfari:

    Apa yang saudara maksud dengan mensakralkan garis keturunan bukan orang yang bersangkutan?

  4. Mas Jakfari,
    Mau nanya, mas:
    (1) Apakah i’tiqad ini memang diyakini oleh seluruh mazhab ahlussunah atau hanya segelintir golongan dalam ahlussunnah?
    (2) Saya kira untuk membuktikan bahwa hanya segelintir golongan atau seluruh mahzab ahlussunnah yang mengi’tiqadkan hal ini, salah satunya mungkin menurut saya, mas perlu mencari tahu siapa-siapa dari tokoh ulama ahlussunnah terkini yang pernah mengucapkan dan mengutarakannya (mengeluarkan fatwa) secara langsung bahwa ayah-bunda Rasul Tercinta adalah golongan musyrik. Na’udzubillahi min dzalik.

    Damai…damai

    ________________
    -Ibnu Jakfari-

    Saya sudah sebutkan hadis shahihnya dari riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, kitab ketiga setelah Al Qur’an suci, komentar dan pernyataan ulama besar Ahlusunnah pun saudah saya bawakan… nah kalau ada dalil dan pernyataan yang lebih shahih darinya ya tolong disampaikan!

    Yang terpenting, apa ulama yang menentang hadis shahih dan para tokoh utama dan pemukan Ahlusunnhah itu termasuk tokoh mu’tabarah atau bukan? Hadis yang dibawakan mampu menandingi hadis Shahih Muslim tidak?

    Bukan tidak sering para penceramah menyebutkan akidah itu. Tidak sedikit buku yang menyebutkannya?

  5. ASSALAMUALAIK YA AHLI MANITTAB’AL HUDA

    TOLONG DONK DILIHAT LAGI SEJARAH SEBELUM ALQUR’AN DITURUNKAN. YAITU SEBELUM MUHAMMAD DIANGKAT SEBAGAI ROSUL. PADA JAMAN ITU, KAUM ARAB QURAISY TERMASUK BANI HASYIM ADALAH JAHILIYAH DALAM HAL AQIDAH DAN TAUHIDNYA. TERMASUK ABDUL MUTHOLIB DAN KERABATNYA SAAT ITU, YAITU ABU THOLIP DAN ABDULLOH (AYAH ROSUL) DAN IBUNDA ROSUL (AMINAH BINTI WAHAB). MEREKA SEMUA HIDUP PADA MASA JAHILIYAH TERSEBUT. ADAPUN MEREKA JELAS KAFIR KALAU DILIHAT MENURUT ALQURAN . PERKARA MEREKA MASUK NERAKA ATAU SURGA, ITU URUSAN ALLOH. DAN ANTUM YA SAYYID ENTE JANGAN SOK PAHLAWAN, IKUT MENYATAKAN KELUARGA ABDUL MUTHOLIP BERIMAN DALAM RANGKA MENCINTAI ROSULULLOH.

    KITA DIMINTA MENTA’ATI ROSULULLOH DAN MENCINTAINYA ADALAH DALAM KAPASITAS BELIAU SEBAGAI UTUSAN ALLOH DAN DALAM RANGKA KITA TAAT KEPADA ALLOH. KALAU KITA MENGKAFIRKAN ABU THOLIP DAN ORANG2 JAHILIYAH PADA MASA ITU ADALAH DALAM RANGKA KETAATAN KEPADA ALLOH DAN ROSULNYA.

    KALAU SAHABAT ITU MEMANG HIDUP PADA JAMAN NABI MUHAMMAD SETELAH DIANGKAT MENJADI ROSUL, DAN SAMA2 BERDAKWAH DENGAN ROSUL. DAN SAHABAT NABI ADALAH KHOIRO UMMATIN UHRIJAT LINNAS.
    TERMASUK ABU BAKAR AS.

    ________________
    -Ibnu Jakfari-

    Kami (Syi’ah) punya banyak bukti dan dalil akan keimanan kedua orang tua Nabi saw. dan keyakinan itu tidak didorong oleh pengkultusan atau pengagungan tanpa dasar.

    Saya mau tanya kepada saudara, apa saudara yakin bahwa seluruh orang Arab khususnya suku Quraisy dan lebih khusus lagi bani Hasyim adalah musyrikun dan berakidah jahiliyyah?

    Di sini kami hanya ingin mmebuktikan perbedan mendasar antara kami (syi’ah) dan Ahlusunnah dalam melihat kedua orang tua Nabi saw.

    Betulkan bahwa Ahlusunnah meyakini kedua ayah bunda Nabi adalah musyrik dan di neraka? Bukankah kaum Musyrikun tempatnya di neraka? Apalagi hadis riwayat Muslim tegas mengatakannya!
    Hanya itu saja.
    Wassalam.

  6. JADI TULISAN 2 YANG ADA DI SITUS INI MESTI DIWASPADAI ADANYA PENYIMPANGAN2 DARI IMAN,TAUHID, AQIDAH DAN SYARIAT YANG BENAR SESUAI DENGAN YANG DIWAHYUKAN OLEH ALLOH SWT KEPADA ROSULULLOH SAW SEBAGAI KHOTAMUL ANBIYA WAL MURSALIIN.

  7. Sayangnya syi’ah tidak mendasarkan pendapatnya pada dalil apapun, beda dengan ahlussunnah yang mendasarkan pendapatnya pada dalil hadits Nabi,

    dalilnya cuma “syi’ah sepakat”, padahal syi’ah tidaklah maksum, mestinya dalil dari ucapan orang2 maksum.

    kalo tidak ada bilang aja g ada

    ____________
    -Ibnu Jakfari-

    Sejak pertama saya katakan bahwa saya hanya bermaksud membeberkan perbedaan i’tiqad antara kedua mazhab.
    Kami punya sederetan bukti. Tapi kerena bukan tujuan kami menguraikannya maka saya cukupkan dengan mengutip pernyataan ulama kami.
    Sekali lagi, saya hanya hendak membedakan antara kedua mazhab!

  8. dengan perbandingan ini anda telah mempromokan mazhab ahlussunnah, karena berdasar dari sabda Nabi SAW sendiri.

    coba tolong satu dalil saja, kalo memang ada, jangan lari dari dialog

    _____________
    -Ibnu Jakfari-

    Supaya diskusi kita berdua terarah, tolong sebutkan identitas kemazhaban Anda, apa Wahhabi? atau Sunni?
    tapi tak apalah kami mau ajukan pertanyaan kepada Anda (baik ternyata Anda Wahhabi yang tentunya tidak layak berbiacara atas nama Ahlusunnah!): bagaimana pandangan Ahlusunnah tentang orang yang mati sebelum masa kenabian (ahlul fatrah)? tolong dijawab, sebagai awal diskusi kita. Tapi jangan lupa sebutkan identitas kemazhaban saudara!

  9. Saya benar-benar surprise lho…mengetahui bahwa ada sementara golongan dalam Islam yang tidak meyakini ketauhidan dan keislaman Abdul Muthalib, Abdullah bin Adul Muthalib serta isterinya Siti Aminah.
    Apakah mereka ini percaya bahwa manusia-manusia ini keturunan dari Nabi Ibrahim, dimana Allah swt telah mengisyaratkan dan menegaskan ketauhidan mereka di Alquran?

    Bacalah kembali surah AzZukhruf: 28
    “Dan (lbrahim a. s.) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu”

    Menurut saya ini merupakan dalil yang cukup tegas. Bagaimana mungkin golongan yang menyatakan kekafiran orangtua dan kakek Nabi sebagai keturunan Nabi Ibrahim bisa terlewat membaca ayat ini?

    Damai…damai

  10. Pertanyaan balik, apakah keluarga Abdul Mutholib (Kakek Rosul) masih berpegang teguh kepada ajaran Tauhid / Aqidah dari Nabi Ibrahim AS dengan kurun waktu yang jauh melewati sekian puluh generasi?. Tapi kenapa ABu Tholip salah satu anak dari Abdul Mutholip yg juga paman dari Rosul yang sangat mencintai dan selalu mendukung perjuangan Rosul, yang pada akhirnya tidak dapat menerima ajakan Rosul untuk beriman kepada Alloh. Ternyata Abu Tholip lebih memilih kepada keyakinanya semula di bangsa Arab Quraisy sebelum Kenabian Muhammad Rosululloh.

    ___________
    Ibnu Jakfari:

    Kami tidak keberatan kalau mazhab Ahlusunnah menggolongkan Abu Thalib seorang kafir/musyrik! Tetapi, kalau ada yang meminta pembuktian lebih lanjut dan bertanggung jawab tentang kekafiran Abu Thalib, apa Ahlusunnah bisa menghadirkannya?!

    Sekali lagi saya hanya ingin membuktikan adanya perbedaan akidah seputar masalah tersebut antara Syi’ah dan Ahlusunah!
    Memang benar kan ada perbedaan tentangnya?!
    Apa Anda mampu memastikan bahwa tidak ada lagi dari keturunan Nabi Ismail yang masih berpegang teguh dengan agama hanif, tidak menyekutukn Allah?!

  11. @jakasuma
    Luarbiasa komentar anda terhadap keluarga Bani Hasyim seblm turunnya Aqur’an dan mencap mereka kafir. Saya tdk tau dr mana anda mendpt berita ini sdgkan anda tdk hidup pd zaman itu. Jd anda mungkin mendpt cerita dr orang tua anda atau dr ustadz anda yg tdk tahu apa mengenai Islam. Saya tdk berdasarkan kpd Hadits anda maupun cerita anda tanpa dasar. Menurut anda mereka hidup dlm zaman jahiliah yaitu seblm Alqur’an turun. Jd pasti mereka itu kafir. Itu pernyataan. Dan krn kebodohan anda maka anda menganggap lbh mengetahui dr Allah sungguh memalukan. Coba anda buka Alqur’an surat Al Qashash ayat 51, 52, 53, 54,55.
    ayat 52 berbunyi: “Orang2 yg telah kami datangkan Alkitab sblm Alqur’an, mereka beriman dg Alqur’an itu.
    Terkecuali anda membantah firman2 Allah tsb krn anda lbh benar dr Allah

    __________
    Ibnu Jakfari:

    Tujuan saya, hanya membuktikan bahwa mazhab Ahlusunnah meyakini kekafirn kedua orang tua Nabi mulia Saw. dan neraka tempat mereka! Hanya itu!! berbeda dengan mazbah kami (syi’ah)! Apa anda akui itu?!
    masalah dalil, kami (syi’ah) punya segudang wan abu harat bin abu kadzdzab al Saluli.

  12. Rasanya sulit ye bedain kedua madzhab yang emang beda secara diametral. Due-duenye baik ahlussunnah manupun syiah sampe kapan pun nggak mungkin deh bersatu.
    Syiah nggak percaya sama Bukhari Muslim, Ahlussunnah nggak percaya ama al-Kafi en Fatwa-fatwa ulama mereka. Jadinya…….Pusiiiiiiiiiiiiiinggg.
    Mendingan kita main gem aja yok, dari pada nggak ada gunaknye. ye ?

    ______________
    Ibnu Jakfari

    Kalo mau pake nama yang macam-macam mbok email-nya yang beda toh mas,
    anda pake nama el-Askari, M. Burhanuddin dan A. Jalal, al-muntadzar, semua pake email yang sama, bahkan IP-nya juga sama smua !!
    Kalau sebelumnya, kamu bersemangat membantah dan menfitnh kok sekarang malah ngomong:Mendingan kita main gem aja yok, dari pada nggak ada gunaknye. ye ? Apa sudah kehabisan bahan bantahan? Apa pasokan dari Whhabi Arab dan Jowo sudah macet?!

  13. @ibnu jakfari
    Nda usah heran orang yg berganti-ganti nama tandanya pengecut mas. Dan pula jawaban sdr m Baharuddin atau nama apapun yg dipakai kelihatan bahwa ia tak berilmu. hehehe

  14. @Ibnu Jakfari
    Mas terlalu bersemangat dan terlalu bernafsu untuk mengcounter balik serangan dari Wahabi sehingga jadi khilaf. Seperti ini;

    Tujuan saya, hanya membuktikan bahwa mazhab Ahlusunnah meyakini kekafirn kedua orang tua Nabi mulia Saw. dan neraka tempat pemereka! Hanya itu!! berbeda dengan mazbah kami (syi’ah)! Apa anda akui itu?!
    masalah dalil, kami (syi’ah) punya segudang wan abu harat bin abu kadzdzab al Saluli.

    Aburahat keliatannya ingin menanggapi pernyataan dari sdr jakasuma , namun mas mengganggap komentar jakasuma adalah komentar aburahat. Padahal aburahat jelas sangat mendukung peryantaan mas.

    Damai….damai

  15. @Jaka Sembung
    Sorry mas Jakfari yang ini jg perlu saya komen :)

    Mas mempertanyakan sesuatu sesuatu yang sebenarnya sdh jelas di surah Az-Zukhruf yg saya sampaikan.

    Pertanyaan balik, apakah keluarga Abdul Mutholib (Kakek Rosul) masih berpegang teguh kepada ajaran Tauhid / Aqidah dari Nabi Ibrahim AS dengan kurun waktu yang jauh melewati sekian puluh generasi?

    Tapi kalau masih belum puas dengan ayat-ayat Allah, saya akan coba tunjukkan ke mas Sembung bahwa ternyata di setiap generasi selalu ada utusan-utusan Allah untuk umat-Nya. Allah tidak akan mungkin membiarkan umat-Nya tanpa seorang pemberi peringatan. Ini beberapa di ataranya:

    (1) An-Nahl: 36
    “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

    (2) Yunus: 47
    Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya.

    (3) Al-Mukmin: 78
    Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil.

    (4) Al-Qashas: 75
    Dan Kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (Rasul), lalu Kami berkata “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu”, maka tahulah mereka bahwasanya yang hak itu kepunyaan Allah dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulunya mereka ada-adakan.

    Begitu mas Sembung. Semoga bermanfaat.

    Damai…damai

  16. @jakfari wordpress
    Harap jgn terlalu lama memoderasi komentar para komentator mas


    -Ibnu Jakfari-

    Ma’af mas aburahat, jadi tidak bisa tiap hari online,
    kita punya anak istri, kita tidak terima bayaran seperti wahabi
    menerima bayaran dari wahabi arab saudi untuk propaganda
    anti syiah.
    yang sabar Insya Allah smuanya kita tampilkan.

  17. Buat Aburahat,

    Coba disimak di Q.S Al Qashas ayat 56, dan bapak cari absbabun nuzl ayat ini, ditujukan kepada siapa yang dimaksud “”man Ahbabta””

    • asbabun nuzul yang dimiliki Syiah berbeda dengan yang dimiliki Ahlus Sunnah.
      Yang dimiliki Ahlus Sunnah berdasarkan Hadist yang shahih sedangkan yang dimiliki orang syiah berdasarkan akal-akalannya pemimpin mereka.

  18. @ibnu jakfari
    Saya ingin segera anda jelaskan pd saya siapa yg anda maksud dg abuharat b.kadzdzab al saluli dan apabila itu ditujukan pd saya. Tolong jelaskan dasarnya dan jgn seenaknya menghujat dg kata2 yg tdk wajar. Setahu saya orang Syiah tdk pernah sedemikian jahat menghujat seseorang.

  19. @jakfari wordpress
    Tak sangka anda jakfari hanya berani berdialog di internet. Pun anda tdk fair anda tdk mau tampilkan mana yg anda tdk sukai walaupun itu benar. Sayang apa guna blog anda ini. Saya sangat sayangkan. Dan melihat cara2 anda saya yakin apa yg saya tulis pasti anda tdk masukan. Terima kasih

  20. Sekarang coba kembali lagi pada sejarah di masa awal KeRosulan Muhammad, yakni ketika perintah Alloh turun untuk berdakwah secara terbuka, Rosululloh mengajak pamanya yang masih hidup, yakni Abu Lahab dan Abu Jahal ( masing2 ada nama aslinya), tapi mereka membangkang semua, bahkan menuduh Rosululloh ahli sihir dan macam2. Kecuali Hamzah yang mau mengikuti ajakan beriman bersama Rosululloh. Abu Tholib sampai menjelang ajal oleh Rosululloh diajak kepada ber iman dan bertauhid tapi beliau tidak mau.
    Jadi kalaupun atas kehendak Alloh, Kakek dan Ayahanda Rosululloh masih hidup pada masa itu, pastilah oleh Rosululloh akan diajak untuk ber iman dan tauhid kepada Alloh. Dan pilihanya kalau tidak berIman dan berTauhid kepada Alloh, ya mereka adalah kaum Musyrik. Adapun apabila mereka termasuk penghuni Surga atau Neraka, itu adalah urusan Alloh.

    __________
    Ibnu Jakfari:

    Mas Jaka Sukma, saran saya kalau belajar sejarah jangan di bantaran sungai Bengawan Solo, nanti hasilnya seperti sampean sekarang ini. Abu Jahal kamu bilang panam Nabi Saw. sungguh luar biasa kedalaman ilmu sejarahmu… Andai aku dosenmu pasti kamu sudah saya beri gelar Doktor ben Profesor Tarikh Islami.

    Mas kata-kata kamu ini: Adapun apabila mereka termasuk penghuni Surga atau Neraka, itu adalah urusan Alloh. memang benar semua urusan Allah tetapi masalahnya sekarang hadis shahih kalian Ahlusunnah menetapkan bahwa kedua orang tua nabi Saw. adalah pemghuni nereka! Mengapa mengelak mas? Takut tidak sopan dengan Hadrot Rasulullah Saw.?!

    Mas, pertanyaan saya yang sering saya singgung ialah: Apakah menurut Mazhab Ahlussunnah, Ahlul fatrah itu Najun (selamat) atau tidak?! trus kedua orang Tua Nabi Saw. itu termasuk Ahli fatrah atau tidak?

    Saya hanya ingin memelekkan kalian bahwa di antara akidah kalian itu sedang terjadi kerancuan, mas!!
    Jadi jangan berbelit, saya hanya meminta satu hal, Apa benar Mazhab Ahlusunnah mengakfirkan kedua ayah bunda Nabi saw.?
    Kalau kami (Syi’ah) Tidak!! Itu pasti!! Dan kami punya banyak bukti!!

  21. Kenapa proses moderasi perlu waktu lama.


    -Ibnu Jakfai-

    Kita punya banyak kerjaan mas, tidak tiap hari ngurusi blog,
    kita punya anak istri, kita tidak terima bayaran seperti wahabi
    menerima bayaran dari wahabi arab saudi untuk propaganda
    anti syiah.

    jadi yang sabar ya!

  22. @Ibnu jakfari
    Anda tak pernah menjawab penghinaan anda pd saya. Itulah cara curang anda membuka blog ini. Anda tdk munculkan mana yg anda tdk senang. Tp saya akan masukkan keblog lain dan membuka segala ketidak jujuran anda. Selamat Tinggal

  23. maaf saya tidak memperdulikan email, pokoknya ganti nama bisa masuk ya sudah.


    -Ibnu Jakfari-

    A. Jalal,el-Askari, M. Burhanuddin dan al-Muntadzar
    kenapa anda harus ganta-ganti nama? :-)
    Anda persis dengan wahabi arab yang mengarang buku-buku syiah palsu pake nama tokoh-tokoh syiah

  24. Semua hadis-hadis yang mengatakan ayah-bunda Rasulullah saw dan pamannya Abu Thalib as. kafir (audzubillahi untuk mengatakan itu) adalah produk-produk peramu hadis palsu jongos-jongos Rois al-Fi’ah al-Baghiyah alladzi yad’u ilan-Nar Muawiyah bin abi Sufyan !!

    ___________
    Ibnu Jakfari:

    Mas muhibbin, saya ingin tau Anda ini mazhabnya apa? Syi’ah? Sunni? Wahhabi?
    Sebab kalau Anda sunni Anda ini sudah murtad sebab bagaimana Anda berani mengatakan hadis riwayat Imam Muslim dalam kitab tersuci setelah Al Qur’an dan Shahih Bukhari kok Anda bilang produk-produk peramu hadis palsu jongos-jongos Rois al-Fi’ah al-Baghiyah alladzi yad’u ilan-Nar Muawiyah bin abi Sufyan !!

  25. Salam,
    Setau saya (sebatas mendengar ceramah) banyak Ustadz2 Sunni yang mengakui keimanan orang tua Nabi dan mengatakan mereka masih berada di millah Ibrahim as. Tapi kalau wahabi memang doyan kafir-kafir-an. gak kaget atuh bang…padahal datuk2 mereka itu yang musyrikin quraisy, badui jahil, dsb…
    Mohon maaf wahabiyyun, ini cuma pendapat..:))

    ___________
    Ibnu Jakfari:

    Apa Imam Muslim itu imamnya kaum Wahhabiyyin?
    Apa nama-nama ulama yang mengafirkan kedua ayah bunda Nabi yang saya sebutkan itu bukan Sunni? Trus apa mazhab mereka?! Jujur donk! Apa karena mazhab itu memalukan kini saudara menuduh wahhabiyyin yang doyan kafir-kafiran. gak kaget atuh bang…!
    Kalau mereka itu bukan ulama Sunni mu’tabarah, trus siapa yang representatip Sunni?

  26. @jakasuma
    Anda maksud ayat itu utk Abu Thalib RA waktu mau meninggal. Saya ingin menanyakan anda apa yg telah diperbuat Abu Thalib RA selama masa hidupnya terhadap Rasul dan anda bandingkan ayat2 yg turun mengenai hamba2Nya yg berbuat terhadap Rasul apa itu bersifat melindungi ataupub memusuhi. Saya mau lihat apakah anda sdh sadar apa blm

    @Jakfari tolong anda jelaskan supaya ada ketenangan bagi saya: Siapa yg anda maksudkan dg.
    ABUHARAD BIN KADZDZAB EL SALULI. Terima ksh menghindari salah paham

  27. @Ibnu Jakfari
    Semoga Allah swt mencurahkan Rahmat-Nya kepada Rasulullah saww, Keluarga & Imam-Imamnya Yang Suci serta Pengikutnya Yang Setia.
    Sesungguhnya mas, yang saya tau paham Syiah tidak pernah merendahkan paham saudara-saudara kita Sunni, terkecuali mungkin paham Wahabi yang memang selalu mendeskritkan Syiah. Lagi pula bagaimana mas berkeyakinan bahwa Syiah adalah satu-satunya golongan yang diterima oleh Baginda Rasulullah saw kelak? Apakah tidak terpikir oleh mas bahwa kebenaran juga mungkin terdapat pada ajaran Sunni? Mengambil dari pendapat sdr Secondprince, jangan-jangan ada bagian yang pernah diajarkan oleh Baginda Rasulullah saw yang tidak tertangkap oleh golongan Syiah, namun sempat dipelajari oleh golongan Sunni?
    Maaf mas kalau saya agak keluar dari pokok bahasan. Saya hanya ingin sedikit bernasehat kepada mas yang sangat terkesan menolak setiap argumen dari saudara Sunni baik ia sependapat dengan keyakinan mas atau bahkan yang menentang pendapat mas. Lagipula apa urgensinya menanyakan golongan dari setiap komentator mas? Bukankah yang penting ia berkeyakinan seperti apa yang mas sampaikan?
    Maaf ya mas, terserah mas mau mendengar nasehat ini atau tidak. Semoga Allah swt mencurahkan Rahmat-Nya juga kepada kita semua. Amin.

    Damai…damai

    ___________
    Ibnu Jakfari:

    Saya harap Anda tidak salah paham, mengapa saya menanyakan identitas kemazhaban…. hal itu hanya demi terarahnya diskusi…. sebab diskusi dengan saudaraku Ahlussunnah tentu berbeda dengan teman Wahhabi…. jangan-jangan kalau dia wahhabi tapi saya tidak mengetahuinya, lalu saya bawakan keterangan ulama Ahlussunnah dia tolak dengan mengatakan itu bukan ulama kami! kan jadi repot!

  28. Sebaiknya buat milis yahoogroups untuk topik diskusi pertentangan ini, jadi jelas siapa menjawab siapa, dan komentar apa dibalas dg komentar apa. Dan lagi pengirimnya juga akan lebih jelas dg nama dan emailnya.

  29. @Jaka Sukma
    Ini bukan soal tanya jawab dan mengomentari tapi kita disini diskusi (mengerti tdkny anda maksud diskusi) Kita diskusi utk mencari kebenaran yg akan menjadi pegangan kita dlm beribadah kepada Allah. Syarat setiap diskusi hrs mempunyai argumentasi yg valid(yg dpt dipercaya sbg rujukan. (mengertikah anda syarat2 diskusi?) Kita bukan debat kusir. Klu anda dlm berdiskusi dan argument anda tak terbantahkan maka kami akan mengikuti paham anda. Tp selama ini yg saya ikuti tdk ada satu argumentasi yg anda sampaikan terkecuali mencela, menghujat atau memfitnah. Tunjukkan salah satu argumentasi anda yg telah anda sampaikan dan dpt dipertahankan kebenarannya

    ____________
    IBNU JAKFARI:

    Salam,
    Khusus untuk saudaraku yang telah saya zalimi dengan sebutan yang kurang menyenangkan… buat saudaraku Aburahat…. sudi kiranya Anda menerima perminataan maaf saya atas salah tanggapan dan kesalah-fahaman saya.
    Wassalam.

  30. @Abu Rahat

    Masya Alloh Abu Rahat, antum tdk perlu menuduh / menghujat pada komentator2 di forum ini, jelas2 sy ingin mencari kebenaran atau cross chek dg komentator lainya termasuk antum. Jadi salah besar kalau antum bilang ana menghujat. Coba antum pelajari ayat diatas itu asbabun nuzulnya. nanti antum tuangkan di forum ini. SUkron

  31. @Aburahat

    Assalamu alaikum wr. wb

    Khusus untuk saudaraku yang telah saya zalimi dengan sebutan yang kurang menyenangkan… buat saudaraku Aburahat…. sudi kiranya Anda menerima perminataan maaf saya atas salah tanggapan dan kesalahfahaman saya.

    Wassalam.

  32. @Ibnu Jakfari.
    Anda saya sdh maafkan dgn ikhlas sblm anda minta maaf krn saya tahu anda khilaf. Saya meminta anda secara terbuka menyampaikannya agar mereka tau bahwa anda seorang gentle. Berani atas yg hak walaupun itu pahit. Dan tegas dlm menentang kedhaliman. Ana dg hati terbuka menerimanya Aufwan

    ______________
    -Ibnu Jakfari-

    Terima kasih banyak ya akhi, Saya keliru menempatkan jawaban !

  33. @Jaka Sukma
    Saya ingin bertanya apakah menyatakan orang KAFIR bukan menghujat? Tapi antum balik mengatakan saya menghujat. Anda menyuruh saya periksa ayat tsb serta periksa asbabun nuzul dan saya sdh periksa Oleh krn itu saya katakan tolong jg and periksa ayat2 terhadap orang yg membantu Rasul. Bgm kedudukan dihadapan Allah. Nanti anda tahu bahwa hadis asbabun nuzul itu diragukan. Sebab setiap Hadis Rasulullah tdk mungkin bertentangan dg Alqur’an. Klu bertentangan maka Hadis itu bukan mulut Rasul. Dan setiap kata2 yg bukan dr Rasul perlu diragukan kebenarannya. Dan berdasarkan Firman Allah yg begitu banyak menjelaskan mereka2 yg menolong Rasul maka saya yakin bahwa Abu Thalib Ra mmeninggal dlm ke Imanan dan mengucap 2 kalimat syahadat . Salamun ‘Alaika ya abu Imam Ali KW ya Abu Thalib Am Rasulullah Amin

  34. @AbuRahat

    Masya Alloh, antum memutar balikkan Fakta, Masya Alloh, Taubatlah antum dan berlindung dari Hadist2 yang dhoif dan palsu. Shg antum punya pemahaman yang benar terhadap ayat2 Alquran yang benar dan tetap terjaga sejak Zaman Khulafaurrosyidin sampai sekarang.

  35. @jaka sukma
    Al-Qashash:

    56. Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.

    57. Dan mereka berkata: “Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.” Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh- tumbuhan) untuk menjadi rezki (bagimu) dari sisi Kami?. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

    Tolong ditafsirkan selanjutnya ayat ke 57, apakah berkaitan dg Abu Thalib?
    Pertanyaan selanjutnya adalah saya pernah mendapatkan tulisan yg menyatakan bhw Al Qashash 56 turun di Madinah. Saya quote tulisan tsb:

    Anehnya beberapa periwayat hadits tersebut menyebutkan beberapa Asbabul Nuzul (sebab-sebab turunya ayat dalam Al-Quran) dihubungkan untuk mengkafirkan Abu Thalib, sebagai contoh; Surah Al-Tawbah 113 dan Al-Qashash 56, surah Al-Tawbah ayat 113 menurut para ahli tafsir termaasuk surah yang terakhir turun di Madinah, sedang Al-Qashash ayat;56 turun pada waktu perang Uhud (sesudah Hijrah), jadi baik antara kedua surah itu ada jarak yang bertahun-tahun juga antara kedua surah tersebut dengan kewafatan Abu Thalib ada jarak yang bertahun-tahun pula.

  36. @Jaka sukma
    Nda salah anda seharusnya kata2 berlindung dr Hadist palsu dikenakan pd ANDA. Kepalsuan anda saya bs buktikan. Tp saya? Karena HAK maka yg keluar dr mulut anda kata2 taubat. Krn tdk jalur utk membantah. Yg HAK tak terkalahkan ssedangkan yg BATHIL hancur

  37. @Jakasukma+Friends
    Menisbatkan keburukan pada keluarga Nabi, termasuk orangtua Belau adalah i’tikad dan tindakan yang sangat lancang dan berbahaya bagi si pembicara/penulis, kecuali kalau memang ia memiliki data-data otentik yg tdk bisa lagi dibantah kebenarannya. Semisal kisah Abu Lahab yg termaktub dalam Alquran (bahkan ada riwayat yang menceritakan ketidaktegaan dan ketidakberanian para wali Allah untuk membaca ayat khusus tentang Abu Lahab ini). Jika hanya mengandalkan hadits sungguh harus super hati-hati. Karena sebab utama ini, yakni hadits seshahih apa pun ia, masih tetap menyimpan keraguan apakah ia benar dari Rasulullah saw atau ia dari manusia-manusia jahil yang mengatasnamakan Rasul saw. Lagi pula jika ada sementara golongan lain yang tidak turut mengakui keshahihannya, maka lebih-lebih ia harus dikritisi.
    Jika mas-mas mengamati dgn seksama awal ayat di surah Albaqarah: “Kitab ini (Alquran), tidak ada keraguan padanya.”
    Maka secara logika hanya Alquran yang tidak memiliki keraguan. Semua kitab/tulisan selain Alquran masih mengandung keraguan dan berpotensi salah.
    Nah potensi kesalahan yang dimiliki buku-buku selain Alquran inilah yang berbahaya jika dipakai untuk menisbatkan keburukan pada diri keluarga Rasul saw.
    Saya katakan, Nabi saw juga tidak akan tersenyum jika hal ini benar. Namun pasti akan merasa sedih dan sakit hati jika umatnya mengatakan hal yg buruk tentang orangtuanya padahal kenyataannya berbeda.
    Apa yang akan terjadi di Hari Penentuan nanti bila Rasul saw sakit hatinya atas apa yang kita i’tikadkan tentang keluarga Beliau?

    Tolong yang ini direspon juga mas Jakasukma+Friends:
    Saya tidak tau bagaimana mas memandang kesucian kitab-kitab selain Alquran termasuk hadits. Apakah kesucian hadits setara Alquran yang artinya tidak mungkin dan benar-benar tidak mungkin ditemukan kekeliruan dan kesalahan padanya? Jika hadits-hadits yang mas anggap shahih sudah pasti kebenarannya (100% benar), apakah ada ayat atau hadits Rasul yang menyatakannya? Seperti bahwa Alquran telah dijaga kebenarannya?
    Sebaliknya, jika hadits-hadits yang mas anggap shahih masih memiliki potensi terjadi kesalahan dan kekeliruan, artinya tidak seratus persen benar, maka seyogjanyalah mas dapat memahami ucapan saya mengapa kita harus berhati-hati dalam menisbatkan hal yang buruk thd keluarga Nabi saw.
    Yang mas perlu ingat bahwa hadits yang sampai ke kita sekarang ini adalah sepenuhnya buatan manusia. Tidak ada campur tangan Allah swt di situ. Dimana manusia adalah tempatnya lupa, khilaf dan berisi jiwa yang condong kepada hawa nafsu.
    Semoga bermanfaat.
    (dikutip dari jawaban di Blog Halausyiah di tema yang sama)

  38. Assalamu’alaikum, saya gak pernah dilantik kedalam mazhab apapun oleh siapa pun,

    jadi benar2 mo tau kebenaran nya or-tu Nabi saw itu kafir or Beriman ?

    Kalau melihat dari ‘logika’ mestinya ada orang yang masuk surga sebelum Nabi saw membawa Islam

    Mungkinkah diatas bumi ini pernah terjadi tak seorang pun beriman kepada Allah swt ?

    klo sepakat ‘ada orang beriman’ walau hanya satu orang, siapakah yang paling pantas menjadi seorang beriman sesaat sebelum kerasulan Nabi Muhammad saw ?

    apalagi jika dilihat dari silsilah, siapakah silsilahnya yang mestinya lebih bagus diatas muka bumi ini selain Nabi saw ?

    jadi benar2, saya pikir susah untuk diterima klo or-tu Nabi saw itu kafir, kecuali memang ada Dalil Nash nya

    tapi…apakah ada kewajiban kita muslimin untuk mengimani or-tu Nabi saw kafir or Mukmin ? klo tidak ada termasuk dalam aqidah..rasanya ilmu fiqh pun dalam hal ini gak pernah memfatwakan pilihan seperti halal dan haram

    Wassalam
    Filsufsufi

  39. Blog ini sungguh bermanfaat dan mencerahkan, dan merupakan salah satu blog rujukan untuk mengetahui hakekat syiah rafidhah. selamat! semoga Allah selalu memberi rahmat dan tambahan ilmu kepada Antum.

  40. selamat siang ibnu jakfari…

    he…he…
    kembali lagi ketemu ama ane…

    sejujurnya dari yang saudara posting dalam artikel ini memang benar, bahwa sebagian ahlussunnah meyakini hal tsb…tapi hendaknya saudara juga menampilkan pembahasan lain dari para ulama sunni yg lain semisal Imam Suyuthi yg berpendapat beda…
    ya biar utuh gitu lah yau….
    jangan sampai kesimpulan yg dibuat sebagian Syiah bahwa sunni begitu kejinya karena mengkafirkan ayah bunda nabi…

    keyakinan sunni adalah apa yang telah tegas dalam al qur’an dan sunnah shahih, sedang akal adalah nomor dua….
    apa saudara tahu perkataan sayidina Ali ra ?…

    btw kalau saya sendiri masih menyelidiki masalah ini ttg kekafiran ortu nabi, apakah masuk nerakanya tsb dalam artian benar2 kafir atau kafir dzuna kufrin….
    disamping ulama lain semisal Imam Suyuthi berpendapat beda….
    masalahnya apakah kenapa Imam Suyuthi berpendapat beda, tidak mungkin beliau menyelisihi ijma salaf kecuali kalau beliau melihat pendapat lain yang beda….

    bagaimana komentar anda saudara jakfari thd pertanyaan saya ini, kalau benar2 anda merasa tahu 100% aqidah sunni silahkan dijawab, saya tunggu….

    mohon maap apabila tidak berkenan….

    he…he….

    ____________________________________________________

    Ibnu Jakfari:

    Salam akhi, kami menyadari bahwa di antara ulama Ahlusunnah ada yang menyelisihi pendapat jumhur yang menegaskan kekafiran ayah bunda Nabi tercinta…. Tapi masalahnya ialah bukankah saudara sendiri mengatakan:keyakinan sunni adalah apa yang telah tegas dalam al qur’an dan sunnah shahih, sedang akal adalah nomor dua…. Jadi berdasarkan hadis riwayat Muslim ditegaskan ayah bunda Nabi kafir dan di neraka! Jadi apakah salah kalau orang menyimpulkan bahwa memang demikian dalam keyakinan Sunni, dan yang syadz tidak masuk hitungan!

  41. Al-Baqarah: 140. Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah[92] yang ada padanya?” dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.

    [92] Syahadah dari Allah ialah persaksian Allah yang tersebut dalam Taurat dan Injil bahwa Ibrahim a.s. dan anak cucunya bukan penganut agama Yahudi atau Nasrani dan bahwa Allah akan mengutus Muhammad s.a.w.

    dari ayat diatas dan tafsir Depag tsb menjelaskan bahwa or-tu NAbi saw adalah Mukmin, kecuali klo mereka bukan termasuk anak cucu Ibrahiem

  42. he…he..

    shobahul khoir yaa ibnu jakfari…

    akal memang ditempatkan dibawah Qur’an dan sunnah shahih…sebagaimana kata sayidina Ali ra….seandainya agama itu berdasarkan akal, mestinya mengusap bagian bawah sepatu (ketika berwudhu) lebih baik daripada mengusap bagian atasnya….

    tetapi dalam masalah hadits shahih ttg orang tua nabi tsb, tidak disebutkan secara qath’i dlolalahnya ttg kekafiran beliau berdua, hanya kata abii wa abaka fiinnaar….
    maka keimanan saya sekarang ini hanya sebatas meyakini masuknya nabi ke dalam neraka, mengenai kekal tidaknya dalam neraka masih saya kaji lagi…
    itulah makna kufur dzuna kufrin…
    nah saudara sendiri sekarang telah mengakui bahwa pendapat ttg kekafiran orang tua nabi hanyalah pendapat jumhur, kenapa saudara klaim sebagai murni pendapat ahlussunnah….bukankah dalam hal ini saudara telah ‘tidak bersikap jujur’ dalam penulisan artikel saudara….
    kalau saudara mengenal 100% aqidah sunni semestinya saudara juga menampilkan pembahasan ulama lain yang berbeda…..
    tidakkah saudara juga tahu bahwa ada ulama lain yang menasakhkan makna hadits shahih muslim ttg kekafiran orang tua nabi berdasarkan kaidah ta’arudl hadits, mengingat ada hadits shahih lain yg dalam riwayat muttafaqun alaih yang justru menunjukkan kebaikan nasab garis keturunan orang tua nabi….
    dan lagi pula belum saya dapati hadits lain yg menunjukkan bahwa orang tua nabi adalah ahli syirik yg suka menyembah berhala sebagaimana umumnya kafir qurays…
    anda juga harus ingat bahwa para ulama sunni juga berbeda pendapat ttg nasib orang kafir yang meninggal sebelum menerima dakwah seorang nabi….
    banyak masalah yang harus ditampilkan dan dikaji saudaraku….sebelum mengambil kesimpulan secara sepihak ttg aqidah sunni….
    maaf apabila ada yg tidak berkenan…

    wallahu a’lam…

    he…he….

    Ibnu Jakfari:

    Salam akhi, jika sebuah keyakinan telah disepakati oleh Jumhur ulama sebuah mazhab maka tidaklah “terlalu” salah jika ada yang menisbatkannya kepada mazhab tersebut. akan tetapi kendati demikian saya katakan dalam kasus ini, itu adalah pendapat JUMHUR!
    Masalah ada yang menasakh, munkin maksud kamu bukan demikian sebab, nasakh dan mansukh itu hanya yang berkaitan dengan hukum bukan berita atau keyakinan> benar bahwa sebagian ulama Ahlu Sunnah ada yang mengalahkan hadis Muslim karena adanya bukti 2 lain yang bertolak belakang!
    Nah, sekarang masalahnya akhi, jika sebuah pendapat yang telah diyakini oleh JUMHUR Ulmam Ahlu Sunnah, kamu keberatan jika pendapt itu dikatakan pendapatnya Ahlu Sunnnah, lalu bagaimana sebagian teman-teman kamu Ahlu Sunnah menuduh Syi’ah meyakini ini dan itu, sedangkan dalam banyak kali hanya disebabkan adanya riwayat ini atau itu dalam kitab hadis Syi’ah…. atau dikerenakan ada satu atau dua ulamaSyi’ah meyakininya sedangkan mayoritas menentangnya! Bukankah itu sangat tidak adail akhi?!
    Wassalam.

  43. Klo mo memvonis seseorang itu kafir, tentu mesti ada “bukti”, karena setiap anak yg lahir adalah dalam ‘fitrah’ beragama Islam, jadi mesti ada ‘tanda kekafiran’ yg membuat iya tidak fitrah Islam lagi !

    apa pernah or-tu Nabi saw menyembah berhala? atau tanda2 kekafiran lainnya ? klo cuma sejaman sama mereka2 yg hidup pada jaman jahiliyah, kemudian digeneralisasi bahwa semua orang sebelum Kerasulan Nabi saw adalah penyembah berhala, ini alasan yg tidak tepat, buktinya masi ada waraqah yg bukan kafir penyembah berhala, artinya tidak bisa semua digeneralisasi penyembah berhala toh ?!

    Secara umum, sesuai Al-Baqarah 140; Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan “anak cucunya” adalah beriman, kecuali ada ayat yg menjelasakan secara khusus sebagai pengecualian, seperti dijelaskan ayat sebelumnya:

    QS 2:124. Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim”.

    jadi pengecualiannya adalah kepada keturunannya yg dzalim (lalim), nah…sekarang bagi yg memvonis, supaya tidak FITNAH kepada klga NAbi saw, tklo ada pengecualian tolong buktikan dimana KEDZALIMAN or-tu Nabi saw tersebut ?

    Karena klo tervonis KAFIR, maka otomatis KEKAL didalam NERAKA, jadi klo ada hadits yg bilang or-tu Nabi saw ada dineraka (klo benar hadits itu) pun tidak OTOMATIS mereka adalah KAFIR yg KEKAL didalamnya, karena orang beriman pun ada juga yg masuk kedalam neraka dulu toh ?!

  44. shubhanallah….

    wahai ibnu jakfari kenapa postingan saya dihapus lagi yah…
    wahai saudara apakah ini suatu sikap dalam mencari kebenaran…..
    tidak perlu panjang lebar kalau saya berkomentar kalo akhirnya toh dihapus lagi…
    saudara filsufsufi dan semua sunni lainnya, tidak perlu kita capek2 berkomentar toh akhirnya dihapus juga…
    waduh cape dehhhh……

    semoga tulisan ini tidak dihapus lagi…

    Allahu Akbar,,,,,,

  45. QS.Ibrahim: 35. Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri Ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah Aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.

    Apakah doa Nabi Ibrahiem tersebut ditolak ?

    setelah doa2 beliau selanjutnya Allah memberi peringatan dengan firman-Nya :

    QS.Ibrahim:47. Karena itu janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi mempunyai pembalasan.

  46. “Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira”
    doa ini ajaran Nabi SAW bukan yah??

  47. Asslm alaikum wr wb,
    Ibnu Jakfari, rasanya percuma mendiskusikan masalah ortu Nabi SAWW apakah KAFIR atau Tidak.. Jangankan ortu dibilang KAFIR wong Paman Nabi saja dibilang Kafir… atas dasar hadis dari Abuhuraira.. Abuhuraira itu cocoknya jadi pengarang dongeng Ko Ping Ho dari pada membawakan hadis atas nama Rasulullah SAWW.. Tapi yang lucunya sunni ini percaya betul sama si Abuhuraira…

    Mendingan kalau mereka mau diskusi, tentang masalah kepemimpinan setelah Rasulullah SAWW, siapa hak berhak meneruskan Risallah Islam? Apakah ditunjuk oleh Allah melalui Rasulnya ataukan Allah dan Rasulnya menyerahkan kepada ummatnya untuk memilih pemimpin penerus Risallah suci ini?

    Salam
    Baqiranwar

  48. Salam Akhi Jakfari
    Ana setiap hari lihat di tv dan semua ceramah2 di masjid atau dimana saja.. para ustad selalu mengatakan bahwa kita harus berpegang teguh kepada quraan dan sunna… Ana mau tanya ada di kitab mana hadis tersebut? kalau ada bagaimana sanad dan matan hadis tersebut? ana kepingin ulama2 sunni yang menjawabnya…

    Terus, apa ada perintah Allah dan Rasulnya untuk mengikuti Khilafarusidin? tolong dalilnya…

    Dalam ber-muamalah, apa ada perinta Allah dan Rasulnya untuk mengikuti 4 imam mazhab? tolong Dalilnya… Mohon yang menjawab ulama sunni…

    • kamu itu bodoh sekaligus tolol, lawong permasalahan dalil seperti itu aja nggak tahu kok ikut komentar, laambok belajar dulu, buka-buka kitab shohih bukhori atau shohih muslim, kalau ternyata disitu tidak ada baru ikut komentar atau ikut tanya-tanya.
      atau mungkin kamu itu tidak bisa baca Al Qur’an, karena tak sepantasnya seorang muslim tidak tahu dasar pijakan sebagai seorang muslim. kamu tanya aja sama anak yang sekolah di MI, insya Allah dapat jawabannya.

  49. Syi’ah adalah hasil produksi dari orang zindiq yang bahlul jiddan yahudi laknatuLLah Abdullah bin Saba’, syi’ah ga punya dasar atawa dalil, semuanya selalu begini “kami sepakat” “kami sepakat”, “sepakat batok mu”

    Ibnu Jakfari:

    Ngga’ nyambung kan!

  50. Allahu yahdik anta ya Ibnu Jakfari…
    Saya nasehatkan supaya anda cepat-cepat bertobat, kembali pada Kitabullah (al-Qur’an) dan Sunnah Rasululah (hadits yang shohih), bukannya kepada imam-imam yang ga maksum sama sekali, janganlah anda ikuti Abdullah bin Saba’ yang zindiq jiddan, janganlah anda jadi pengikut syaithon yang ingin menyesatkan manusia dan membuat pengaburan kebenaran terhadap orang-orang awam…..

    ______________________
    Ibnu Jakfari:

    Lucu sikap teman-teman wahabiyyun ini, bisanya cuma marah-marah dan latihan bahasa arab gaya Condetan….
    kenaifan anda sangat kentara, pakai nama cinta rasul tapi menyakiti hati Rasul dengaan mengatakan ayah bunda beliau kafir dan di neraka! Subhanallah, ma absya’a mauqifaka!

  51. bismillah.alhamdulillah
    allahummashalli ala muhammad

    ya ibna ja’far…..kembalilah kepada Allah dan rasulnya.kewajiban seorang muslim adalah sami’na wa ‘atho’na terhadap apa yang di kabarkan oleh rasulullah. jika dalam hadist yang shahih menyatakan bahwa nabi bersabda “bapakku (abullah bin abdul muthalib)…….. berada di neraka”,
    maka kita wajib mempercayainya karena yang bilang adalah rasulullah saw sendiri, jadi omongan siapa lagi yang harus kita pegang kalau bukan nabi saw, apakah omongan anda? atau omongan imam anda yang tidak ada jaminan masuk surga?
    Renungkanlah…

    _________________
    Ibnu Jakfari:

    Inilah problem kaum awam, sangat mudah mengatakan Rasulullah saw. bersabda, beliau yang berkata dll. Apa kamu tau persis memang beliau saw. telah menyabdakannya?!

    Kamu saja dalam pembukaan komen kamu sudah menentang Rasulullah saw. sebab Anda tidak mau bershalawat kepada keluarga Nabi saw. seperti yang beliau ajarkan dalam Shahih Bukhari!
    Jadi jangan sok jadi yang paling suci sebab kamu sendiri masih jauh dari sunnah Nabi saw. yang suci!
    maaf, akhi.
    RENUNGKAN BAIK-BAIK!!

  52. Memang repot kalau doktrin sdh menguasai hati dan akal sudah tidak lagi dimanfaatkan. Hadits-hadits ga masuk akal tetap saja dipegang teguh. Penyakit dengki masih terus dipelihara dan terus dikembangkan secara turun temurun.
    Selamat buat Muawiiyah, Yazid dan keturunannya! Anda berdua telah berhasil mengembangkan benih-benih kebencian thd Nabi dan AhlulbaitNya.

    Salam

  53. Permisi,
    Agak menyimpang sedikit. Paman saya menganut madzhab Syi’ah dari lahir tapi beliau, termasuk yang percaya bahwa ayahanda Nabi Ibrahim adalah penyembah berhala, karena dalam Al-Qur’an seperti itu, walaupun mungkin saja dia tidak mengetahui yang sebenarnya karena dia orang awam.
    Maka dari itu, saya ingin bertanya tentang tafsir dari surah Al-An’am ayat 74, saya coba buka almizan.org tapi hanya sampai Volume 9 (Al Maidah), saya TIDAK bisa bahasa arab (sangat minim) sehingga kalau bisa yang bahasa Indonesia atau Inggris.
    Mohon jawabannya.
    Thanks,

    Ibnu Jakfari:

    Dalam keyakinan kami (Syi’ah Imamiyah Ja’fariyah) berdasarkan dalil-dalil tektual/naqliah yang ada bahwa ayah-ayah Nabi Muhammad saw. hingga Adam adalah orang-orang yang mengesakan Allah SWT. tidak satupun dari mereka musyrik/kafir.
    tentang ayah Nabi Ibrahim as. riwayat-riwayat kami juga tegas mengatakan bahwa kata abihi (dalam ayat di atas) bukan bermaknakan ayah kandung Ibrahim, ia adalah paman beliau. Sebab kata Abun juga dapat berartikan paman.
    Selain itu, Al Qur’an juga telah membuktikan keimanan walid/ayah Ibrahim. Baca ayat 41 surah Ibrahim di bawah ini:
    رَبَّنَا اغْفِرْ لي‏ وَ لِوالِدَيَّ وَ لِلْمُؤْمِنينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسابُ (41)
    Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang- orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat ) “(41 (
    Coba Anda renungkan baik-baik. Nabi Ibrahim memohonkan ampunan bagi kedua orang tuanya (ayah dan ibunya) di masa tua Ibrahim, setelah beliau berhijrah ke tanah suci Palestina dan dikarunia keturunan dan menempatkan mereka di tanah suci Makkah.
    Jadi Azar bukanlah Walid (ayah) Ibrahim as.
    Wassalam.

    • Masalah tafsir Al Qur’an jangan tanya kepada orang Syi’ah, karena mereka meyakini kalau al Qur’an itu tidak lengkap dan banyak kesalahan. sehingga mereka tafsiri dengan kemauan mereka bukan dengan hadist nabi yang shahih.

  54. bismillah
    Allahumma sholli ‘alaa muhammad

    sungguh hebat ya ? para kekasih Rasululloh SAW dibantai habis2an,sahabat dibela mati2an !
    kalau orang2 ini lahir di zaman Rasul,pasti mereka ikut membantai anak cucu Rosul ! na’dzu billah !

  55. TO ALI.
    Nama Ali kelakuan perpaduan Muawiyyah & Yazid.

    Jika dikatakan bahwa Muhammad Rasulullah Bin Kafir. Sebagai MUSLIM saya rela menghamburkan darah, sampai tetes darah penghabisan untuk membela Nabi dan kedua Orang Tuanya.
    Tetapi jika dikatakan bahwa Muhammad Abdul Wahab Bin Kafir atau Bin Baz Bin Kafir atau Abu Jibril Bin Kafir. Saya adalah orang yang pertama kali akan mengakuinya. :)

  56. Sebahagian Ahlusunnah bila menvonis Ibunda dan Ayahanda Nabi.saw itu kafir, sah-sah saja, (demi mazhab, al-Quran dan Sunnah Nabi.saw rela untuk dilecehkan) sebab mereka lebih percaya pada musuh Nabi.saw daripada pada Nabi.saw dan keluarganya.

    Bila terjadi pertentangan antara sahabat, mereka (ahlusunnah) lebih percaya pada sahabat yang biasa2 saja daripada pada sahabat istimewa.

    Kalo ditanya: mana lebih percaya pada Ali atau Umar?
    Mereka menjawab: Umar!
    Walau Umar sendiri mengakui Ali lebih utama dan lebih alim dari dirinya.
    Kalo ditanya: Mana lebih percaya Umar atau Abu Hurairah?
    Mereka menjawab: Abu Hurairah!
    Walaupun Umar lebih utama dari Abu Hurairah dan bahkan Umar pernah menyebut Abu Hurairah adalah musuh Allah dan musuh Kitab-Nya.

    Jadi nggak usah heran, deh!!!

  57. Berdebat dengan orang Syi’ah Rafidhoh tak ada manfaatnya, mengapa?
    1. karena tokoh mereka adalah orang Yahudi (Abdullah bin Saba’ laknatullah).
    2. Mereka (syiah) punya senjada pamungkas yaitu Taqiyah (tipu muslihat).
    3. pemahaman tentang cinta terhadap ahlul bait disimpangkan sesuai pemahaman mereka bukan berdasarkan hadist nabi yang shahih.
    4. Mereka mencerca sahabat Abu Bakar dan Umar r.a padahal mereka adalah manusia terbaik setelah Nabi Muhammad.
    5. mereka membolehkan nikah mut’ah kawin kontrak sama dengan cara-cara orang kafir dalam melampiaskan syahwatnya.
    6. Syiah Rafidhah bukanlah salah satu aliran dalam Islam akan tetapi agama syiah rafidhoh adalah agama diluar Islam.
    7. Caci maki mereka (Syiah) thdp para sahabat nabi yang mulia (abu bakar dan umar dll) menunjukkan bahwa hati mereka melebihi hati-hati Iblis laknatullah.
    8. Ahlus sunnah tidak pernah mencaci para Sahabat bahkan meyakini bahwa para sahabat semuanya mendapatkan ridho dari Allah SWT.
    9. Pada akhirnya Allah SWT akan membinasakan mereka semua (syiah Rafidho) bersama tokoh terakhir mereka yaitu AL Masih Adj Dajjal.

  58. DENGAN MENDALAMI SIAPA ABU HURAIRAH DAN CARI TAHU BAGAIMANA RIWAYAT HIDUPNYA KITA BISA PASTIKAN KEBENARAN HADITS YANG BELIAU RIWAYATKAN…. SIAPA MAU TERJUN LANGSUNG …?

  59. Ngk usah berdebat sama syi’ah.. mari kita merujuk kembali kepada hadits Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam.

    “Aku (Nabi shalallahu’alaihi wa sallam) adalah penjamin atas sebuah rumah di surga bagi siapa yang meninggalkan pertengkaran meskipun dia adalah pihak yang benar.” HR At Tirmidzi

  60. Saya sudah banyak baca diskusi, artikel, buku, debat dll ttg hal ini… Setelah saya teliti, menurut saya orang tua Rosululloh termasuk golongan fatrah… berikut ini penjelasannya:

    “Apakah orang tua Rosul di neraka selama2nya?”

    Saya baca di buku “Sirah Nabawiyah” oleh Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfury (juara I lomba penulisan sejarah Nabi oleh Rabithah Al-Alam al-Islamy) disebutkan Bani Al-Khuzaa’i berkuasa sekitar pertengahan abad II M. Itu berarti ratusan tahun sebelum Rosululloh lahir (sekitar 300-350 tahun).

    Jd, penyembahan berhala yg dimulai oleh ‘Amru bin ‘Amir bin Luhay Al-Khuzaa’i dimulai oleh generasi jauh di atas Rosul.

    Nah, Abdul Muttolib, Abdulloh & Aminah tentu tidak tahu bahwa itu sebuah kesalahan fatal. Di Al-Qur’an sendiri orang2 Jahiliyah mengatakan bhw berhala itu utk mendekatkan diri kpd Alloh. Jd, mereka tdk tahu bhw itu salah besar.

    “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya” [Az-Zumar : 3)

    Syaikh Shafiyyur Rahman juga menulis di Bab AGAMA BANGSA ARAB hal. 50:

    “Mereka jg mempunyai beberapa tradisi & upacara penyembahan berhala, yg mayoritas diciptakan amr bin Luhay. Sementara orang2 mengira apa yg diciptakan Amr itu adalah sesuatu yg baru & baik serta TDK MERUBAH AGAMA IBRAHIM.”

    Nah, jelas bhw Abdul Muttolib dst tdk tahu itu kesalahan fatal.

    Di samping itu, saya tdk menemukan dlm sirah bhw para pendeta semisal Waraqah bin Naufal, Buhaira dll melakukan dakwah utk memurnikan ajaran Ibrohim/Musa/Isa.

    Itu berarti tdk ada peringatan ttg kesalahan menyembah berhala kpd Abdul Muttolib, Abdulloh dan Aminah. Mereka melakukan itu krn kondisi masyarakat ya spt itu sejak dulu & mereka ga tahu itu salah.

    Bgmn kita menghukumi mereka masuk neraka selamanya kalau tdk ada peringatan thd mereka?

    Mengapa pendeta2 spt Waraqah, Buhaira tdk berdakwah memurnikan tauhid? Bukankah mendiamkan penyimpangan aqidah itu sebuah kesalahan? Ataukah memang tdk ada perintah u/ itu krn para Nabi/Rosul sebelum Rosululloh diutus terbatas tempat & waktunya?

    Jika tdk ada peringatan datang, apa mereka tidak termasuk golongan fatrah? Kalaupun masuk neraka juga tidak selama2nya atau walaupun diperintahkan masuk neraka tdk akan kepanasan spt yg dimaksud dlm hadits yg terjemahnya:

    “Dan orang yg mati di masa fatrah berkata: Wahai Rabbku, belum pernah seorang rosul datang pdku. Kemudian Alloh mengambil perjanjian dg mereka utk taat pd perintah-Nya lalu Allah mengutus seorang utusan (menyerukan): ‘Masuklah ke Neraka.’ Nabi bersabda: Demi Dzat yg jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya mereka memasuki Neraka, niscaya mereka akan mendapati rasa dingin dan keselamatan” (HR Thabrani dlm Mu’jam Kabir (1/287), Ahmad (4/24), Ibnu Hibban (1828), Bazzar (2174), Baihaqi dlm Al-I’tiqad(92). Dishahihkan Abdul Haq, Baihaqi, Ibnul Qayyim & Syaikh Albani dlm As-Shahihah no. 1434).

    “dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (Al-Isro’ : 15)

    Dari hal2 tsb., saya berkesimpulan bhw orang tua Rosul termasuk golongan fatrah, jd kalaupun masuk neraka tdk selamanya atau bahkan tdk kepanasan.

    Lalu, Kenapa kok ayah Rosul bernama Abdulloh? Tidakkah itu berarti hamba Alloh? Itu berarti Abdul Muttolib meyakini Alloh sbg Robb. Hanya sj, ia tdk tahu bhw berhala itu merusak ajaran Ibrohim.

    Selain itu juga, Imam Baihaqi menulis di Dalailun Nubuwah ttg Mengapa Abdul Muttolib memberi nama “Muhammad”. Dia ingin agar bayi tsb. Allah memujinya di langit & di dunia.

    فلما كان اليوم السابع ذبح عنه ، ودعا له قريشا ، فلما أكلوا قالوا : يا عبد المطلب ، أرأيت ابنك هذا الذي أكرمتنا على وجهه ، ما سميته ؟ قال : سميته محمدا . قالوا : فلم رغبت به عن أسماء أهل بيته ؟ قال : أردت أن يحمده الله تعالى في السماء ، وخلقه في الأرض

    Selain itu, Abdul Muttolib & Aminah (setahu saya) jg mengerti akan kelahiran seorang Nabi dr keturunan mereka. Dan beliau berdua bangga akan hal itu, tdk spt Fir’aun yg memerintahkan membunuh semua bayi yg baru lahir.

    Kebangaan & Kebahagiaan beliau berdua sdh menjadi isyarat bhw mereka berdua mengimani Nabi2 terdahulu & Rosul, termasuk Rosululloh yg akan lahir, serta tak tahu kesalahan selama ini ttg berhala.

    Imam Baihaqi menulis lagi:
    فقال لي رجل من أهل الزبور : يا عبد المطلب : أتأذن لي أن أنظر إلى بدنك ؟ فقلت : انظر ما لم يكن عورة . قال : ففتح إحدى منخري (2) فنظر فيه ، ثم نظر في الآخر ، فقال : أشهد أن في إحدى يديك ملكا ، وفي الأخرى نبوة ، وأرى ذلك في بني زهرة ، فكيف ذلك ؟ فقلت : لا أدري . قال : هل لك من شاعة ؟ قال : قلت : وما الشاعة ؟ قال : زوجة . قلت : أما اليوم فلا . قال : إذا قدمت فتزوج فيهن . فرجع عبد المطلب إلى مكة ، فتزوج هالة بنت وهب بن عبد مناف ، فولدت له : حمزة ، وصفية . وتزوج عبد الله بن عبد المطلب ، آمنة بنت وهب ، فولدت رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقالت قريش حين تزوج عبد الله آمنة : فلج (3) عبد الله على أبيه . وقد قيل : إنها كانت امرأة من خثعم »

    Menurut saya, dg hal2 tsb. semakin yakinlah saya bhw beliau berdua termasuk fatrah. Jika pun masuk neraka tak kekal atau mendapati rasa dingin dan nyaman.

    NB : Buku Sirah Nabawiyah yg saya maksud terjemahan Kathur Suhardi, Pustaka Al-Kautsar, Cet. kelima, Des 1998

    Thx.

  61. ikuti juga diskusi saya dg seorang ustadz yg menurut saya terlalu berapi2 mencari2 kesalahan orang tua Rosul, yaitu di:

    http://haulasyiah.wordpress.com/2007/07/12/kedua-orang-tua-nabi-mati-musyrik-menjawab-syubuhat-syiah-2/

    Namun sayang, beberapa jawaban terakhir saya masih menunggu moderasi, padahal di situlah terlihat bhw haulasyiah melakukan kesalahan fatal.

    Saya tampilkan saja jawaban2 saya yg belum ditampilkan di sana:

    1. Mas (Haulasyiah) menulis:

    Kalau seandainya di jaman sekarang di sebuah daerah ada orang-orang kafir yang menyembah selain Allah dalam keadaan tidak tahu bahwa itu sebuah kesalahan dan kekufuran, apakah perbuatannya bisa dibenarkan? Tentu tidak, karena dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berarti hujjah Allah telah tegak diatas bumi.

    Jawaban saya:

    di Tafsir Ibnu Katsir suroh Al-Isro’ : 15 jelas dinyatakan harus ada diutusnya Rosul. Yg namanya Rosul, di manapun, ya hadir di tengah2 masyarakat. Utk saat ini, berarti ada berita lewat media apa pun.
    Berarti pernyataan sampean (Haulasyiah) tdk sesuai tafsir.

    إخبار عن عدله تعالى، وأنه لا يعذب أحدًا إلا بعد قيام الحجة عليه بإرسال الرسول إليه

    Jelas ada kata “ilaihi”. Jd, bila ga ada berita, ya gak bisa dihukumi.

    lalu, jika di pedalaman Papua yg belum mengerti/mendengar/tahu krn belum ada TV, radio, da’i, muballigh dll ttg Islam, apakah mereka dihukumi masuk neraka selamanya…? bgmn bs spt ini…?

    bukankah sdh jelas di hadits yg saya bawakan:
    “Wahai Rabbku, belum pernah seorang rosul datang PADAKU.”

    kata “PADAKU” berarti ada berita. Kalo gak ada berita, ya ga bisa dihukumi. Jika sampean menghukumi spt itu, bgmn istinbath hukumnya, tolong sampean terangkan.

    Ttg ‘Amr bin Luhai Al-Khuzaa’i , dialah pencipta penyembahan berhala pertama kali & sdh tertera dg jelas uraian Syaikh Shafiyyur Rahman bhw orang2 lain mengira tdk merubah agama Ibrohim. Apalagi generasi jauh di bawahnya, semisal Abdul Mutolib, Abdulloh & Aminah :

    “Sementara orang2 mengira apa yg diciptakan Amr itu adalah sesuatu yg baru & baik serta tdk merubah agama Ibrahim.”

    Yg saya bahas memang hanya Abdul Mutolib, Abdulloh & Aminah. Utk yg lain, hukumnya sama bila memang keadaan/kejadiannya sama.

    Ttg Ibnu Jud’an. Pertanyaan Bunda Aisyah adalah “Apakah amal2nya bermanfaat?”

    Ini menimbulkan pertanyaan:
    a. Pada tahun berapakah Ibnu Jud’an wafat? Apakah ketika Rosul masih kecil ataukah setelah beliau jd Nabi hanya saja belum diajak masuk Islam? Tolong sampean (Haulasyiah) jawab krn saya tdk menemukan riwayat ttg ini.

    b. Asumsikan saja Ibnu Jud’an mati ketika Rosul belum diangkat jd Nabi.

    Imam Nawawi menjelaskan bhw yg tdk mengakui hari Kebangkitan, maka tdk bermanfaat amalnya. Jd, jelas Ibnu Jud’an tdk mengakui hari kebangkitan.

    أَيْ لَمْ يَكُنْ مُصَدِّقًا بِالْبَعْثِ ، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّق بِهِ كَافِر وَلَا يَنْفَعهُ عَمَل

    Nah, tdk ada pernyataan yg sharih (jelas) dr Rosul bhw Abdul Mutolib, Abdulloh & Aminah tdk mengakui hari Kebangkitan. Hukum tdk bisa hanya berdasarkan prasangka.

    Hal yg nyata adalah mereka tetap menyembah Alloh & tdk tahu bhw berhala itu salah besar. Hal ini sdh saya ulas. Selain itu, mereka juga bangga & bahagia krn akan lahir Nabi dr mereka. Ini ada di no 2.

    2. Mas (Haulasyiah) menulis lg:

    Orang-orang Musyirikin, Yahudi, dan Nashrani tidak mengucapkannya karena konsekuensi dari ucapan tersebut adalah meninggalkan sebuah sesembahan selain Allah. Orang musyrikin berkata: “Apakah dia (Muhammad) mau menjadikan tuhan-tuhan (yang banyak ini) hanya satu.”

    Jawaban saya:

    Apa mas tahu bhw Abdul Mutolib, Abdulloh & Aminah tdk mau mengucapkannya…? bukankah mereka telah tiada sebelum Rosululloh resmi jd rosul? Jangan berprasangka, krn kita dilarang berprasangka.

    Imam Baihaqi telah menulis bhw Abdul Mutolib tahu dr keturunannya akan lahir Nabi, bahkan sebelum dia menikah. Siapa dong nabi setelah Isa? Ya jelas Nabi Ahmad spt tertera dlm kitab2 sebelumnya. Tolong sampean lihat lagi, yg menerangkan itu ulama ahli Zabur, jd bukan dukun. Tentu kabar yg disampain bs diterima oleh siapa pun, termasuk kita umat Islam.

    Jika Abdul Mutolib ingkar ngga mau meninggalkan sesembahan selain Alloh, tentu sdh dibunuh sejak bayi spt kisah Nabi Musa. Tp, kan tdk. Itu berarti Abdul Mutolib ga tahu bhw berhala itu salah besar.

    Imam Baihaqi jg menulis keajaiban2 tatkala Rosululloh lahir. Jd, Abdul Mutolib & Aminah tentu tahu bhw bayi itulah yg akan membawa risalah nubuwah, penerus millah Ibrohim.

    Knp? krn keajaiban2 yg terjadi. Kalo yg lahir bayi biasa, tentu tdk ada hal2 aneh yg terjadi. Begitu pula peristiwa saat Rosululloh umur 4 thn & dibelah dadanya oleh malaikat, shg oleh Halimah, Rosululloh dikembalikan lg ke ibu beliau, Aminah.

    Tuduhan Mas scr implisit bhw Abdul Mutolib, Abdulloh & Aminah akan mengingkari nubuwah Rosululloh jelas tak terbukti scr ilmiah. Sejarah telah membuktikan bhw beliau2 merawat Rosul, bukan berusaha membunuhnya spt yg dilakukan Fir’aun.

    3. Tentang pendapat Syaikh Albani spt yg Mas (Haulasyiah) tulis:

    Syaikh Al-Albani rahimahullah menjelaskan, “Padanya juga terdapat faidah bahwa orang jahiliyah yang meninggal sebelum kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bukan Ahlul fathroh, yaitu orang-orang yang belum sampai kepada mereka dakwah Rasul. Karena jika mereka demikian (termasuk Ahlul fathroh) tentu Ibnu Jud’an tidak berhak mendapatkan adzab, dan amalan shalihnya tentu tidak akan hilang.” (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no.249)..

    Jawaban saya:

    Krn hormat saya kpd Syaikh Albani, sebetulnya saya ga mau membahas pendapat beliau. Beliau adalah ulama, sedangkan saya hanya orang biasa.

    Tp, demi menyampaikan kebenaran spt yg Mas katakan, maka menurut saya pendapat Syaikh Albani kurang tepat.

    Kenapa? krn pertanyaan bunda Aisyah itu dijawab oleh Rosululloh bhw Ibnu Jud’an tdk pernah sehari pun memohon ampun atas kesalahannya di hari Kiamat.

    قَالَ : لَا يَنْفَعهُ ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا رَبّ اِغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْم الدِّين

    Jd, Ibnu Jud’an tidak bisa disebut ahli fatrah krn dia mengingkari hari Kebangkitan. Demikian penjelasan hadits Imam Muslim.

    لَمْ يَقُلْ رَبّ اِغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْم الدِّين ) أَيْ لَمْ يَكُنْ مُصَدِّقًا بِالْبَعْثِ ، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّق بِهِ كَافِر وَلَا يَنْفَعهُ عَمَل

    4. Satu lagi hal yg membuat saya terheran-heran, yaitu tulisan Mas (Haulasyiah):

    Sepertinya kedua orang ini telah sampai dakwah -maksudku bapak si penanya dan bapak nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam-,

    Bgmn bisa Mas (Haulasyiah) menetapkan sebuah hukum berlandaskan kata sepertinya… ?

    Bgmn mungkin sebuah vonis masuk neraka selama-lamanya berdasarkan prasangka, perkiraan atau asumsi?

    Apa jadinya agama ini bila para hakim/qadhi/ulama berfatwa dg kalimat “sepertinya…”

    Perlu Mas (Haulasyiah) ketahui. Jika di sebuah pengadilan, ada seseorang dituduh mencuri. Setelah dibahas ternyata tuduhannya lemah. Apa yg dilakukan seorang hakim?

    “Ia akan membebaskan orang itu.”

    Daripada salah menghukum orang baik2, lebih diutamakan membebaskan orang tsb. Toh, bukti tidak kuat…

    Selain itu, Mas (Haulasyiah). Kita saja yg umat Rosululloh bisa saja masuk neraka dulu. Bukankah kita tak luput dr noda & dosa.

    Apa Mas (Haulasyiah) yakin nanti tdk masuk neraka sama sekali? Siapa yg jamin?

    Thx before.

    NB : semoga saja jawaban2 terakhir saya segera ditampilkan oleh Mas Haulasyiah. Jika tidak, terbukti ia tdk spt yg ia katakan, yaitu menyampaikan kebenaran.

  62. [...] keimanan kepada Allah sesuai dengan apa yang disebutkan Abu Ja’far/ash Shadûq (Rahimahullah).”[1] Kemudian beliau memaparkan dalil dan bukti [...]

  63. Ternyata banyak juga ulama ahlussunnah yang meyakini keimanan Ayah bunda Nabi tercinta SAW kalo tidak dikatakan ini pendapat jumhur…

    Dibawah ini sekedar info buku-buku ulama ahlussunnah yang menyatakan tentang keimanan Ayah Bunda Nabi SAW

    .

    إرشاد الغبي في إسلام آباء النبي -صلِّ الله عليه وسلم- ،تأليف أحد علماء الهند كما في كشف الظنون.
    2 الانتصار لوالدي النبي المختار -صلِّ الله عليه وسلم- للسيد مرتضى الزبيدي
    3 حقيق آمال الراجين في أن والدي المصطفى -صلِّ الله عليه وسلم- من الناجين ، لابن الجزار
    4 التعظيم والمنة في أن أبوي المصطفى -صلِّ الله عليه وسلم- في الجنة للإمام السيوطي
    5 حديقة الصفا في والدي المصطفى -صلِّ الله عليه وسلم- للإمام السيد مرتضي الزبيدي
    6 الدرج المنبفة في الآياء الشريفة للإمام السيوطي
    7 ذخائر العابدين في نجاة والدي المكرم سيد المرسلين -صلِّ الله عليه وسلم- للأسبيري
    8 مرشد الهدى في نجاة أبوي المصطفى -صلِّ الله عليه وسلم- لوحدي الرومي
    9 مسالك الحنفا في والدي المصطفى -صلِّ الله عليه وسلم- للإمام السيوطي
    10 مطلع النيرين في إثبات نجاة أبوي سيد الكونين -صلِّ الله عليه وسلم- للمنيني
    11 نشر العلمين المنيفين في إحياء الأبوين الشريفين للإمام السيوطي
    12 هدايا الكرام في تنزيه آباء النبي عليه الصلاة والسلام للبديعي
    13 أمهات النبي -صلِّ الله عليه وسلم- للمدائني
    14 الأنوار النبوية في آباء خير البرية -صلِّ الله عليه وسلم- للرفيعي الأندلسي
    15 بلوغ المآرب في نجاة أبوي المصطفى وعمه أبي طالب للأزهري اللاذقي
    16 بلوغ المرام في آباء النبي عليه الصلاة والسلام لإدريس بن محفوظ
    17 تأديب المتمردين في حق الأبوين ، لعبد الأحد بن مصطفى الكتاهي السيواسي
    18 رد على من اقتحم القدح في الأبوين الكريمين للبخشي
    19 سداد الدين وسدان الدين في إثبات النجاة والدرجات للوالدين ، للبرزنجي
    20 قرة العين في إيمان الأبوين للدوايخي
    21 القول المختار فيما يتعلق بأبوي النبي المختار -صلِّ الله عليه وسلم- للديربي
    22 لمقامة السندسية في الآباء الشريفة المصطفوية ، للإمام السيوطي
    23 الجواهر المضية في حق أبوي خير البرية -صلِّ الله عليه وسلم- للتمرتاشي
    24 سبيل السلام في حكم آباء سيد الأنام -صلِّ الله عليه وسلم- لمحمد بن عمر البالي
    25 أخبار آباء النبي -صلِّ الله عليه وسلم- للكوفي ذريعه
    26 أنباء الأصفياء في حق آباء المصطفى -صلِّ الله عليه وسلم- للرومي الأماسي
    27 تحفة الصفا فيما يتعلق بأبوي المصطفى -صلِّ الله عليه وسلم- للغنيمي
    28 رسالة في أبوي النبي -صلِّ الله عليه وسلم- للفناري
    29 سبيل النجاة للسيوطي
    30 آباء النبي -صلِّ الله عليه وسلم- لابن عمار
    31 السيف المسلول في القطع بنجاة أبوي الرسول -صلِّ الله عليه وسلم- لأحمد الشهرزوري
    32 خلاصة الوفا في طهارة أصول المصطفى -صلِّ الله عليه وسلم- من الشرك والجفا لمحمد بن يحيى بن الطالب
    33 مباهج السنة في كون أبوي النبي -صلِّ الله عليه وسلم- في الجنة لابن طولون
    34 سعادة الدارين بنجاة الأبوين لمحمد علي بن حسين المالكي
    35 لقول المسدد في نجاة والدي سيدنا محمد -صلِّ الله عليه وسلم- لمحمد بن عبدالرحمن الأهدل
    36 خبة الأفكار في تنجية والدي المختار -صلِّ الله عليه وسلم- لمحمد بن سيد إسماعيل الحسني
    37 إيجاز الكلام في والدي النبي -صلِّ الله عليه وسلم- لمحمد بن محمد التبريزي
    38 السل الجلية في الآباء العلية للسيوطي
    39 كنى آباء الرسول -صلِّ الله عليه وسلم- لابن الكلبي
    40 أسماء أجداد النبي -صلِّ الله عليه وسلم- للبرماوي
    41 لعقد المنظم في أمهات النبي -صلِّ الله عليه وسلم- للسيد مرتضى الزبيدي
    42 أمهات النبي -صلِّ الله عليه وسلم- لابن المديني

    .


    Ibnu Jakfari:

    Lalu bagaimana nasib hadis Bukhari dan hadis Muslim yang menegaskan kekafiran ayah bunda mulia Nabi saw.?
    Tolomg dijelaskan!

    • APakah Shahih bukhori dan Muslim itu itu shahih dari Allah?? PAkah Sahih Al-Kaliny juga Shahih dari Allah? mereka semua berijtihad untuk mendapatkan Hadits, sedangkan Matan dan sanad pun bisa di teliti apalagi makna atau syarah dari Hadit bisa di makna benarkan….

      seperti Hadits Sayyiduna wa Imamuna” Abu Hurairah: “Nabi saw. bersabda:
      استأذنت ربي أن أستغفر لأمي فلم يأذن لي واستأذنته أن أزور قبرها فأذن لي.
      “Aku meminta ijin kepada Allah untuk memintakan ampunan untuk ibuku, akan tetapi Dia tidak mengizinkanku, dan aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya, maka Dia mengizinkanku.”

      Dalam Hadits ini terdapat Ulama Sunni paling Utama Mesir menyarahkan makna Haidts ini “Bahwa Sayyidan Rasul SAW tidak dizinkan minta Ampun untuk Ibunya karena Ibu-Nya SAW Suci atau istilahnya Waliyah Allah begitu juga Ayahnda-Nya SAW Jadi minta ampun atau tidak tidak pengaruh karena kedua Ortu-Nya semuanya diRidhoi oleh Allah SWT…

      Jadi sAya sarankan jangan saling menyerang sUNNI-SYIAH kecuali bagi yang membenci Alhlu Bait seperti sebagian besar Wahabi………

      Nadzrah wa Madad Ya Rasullah…Ya Sayyidana Husain…Ya sayyidatan Zainab ya Ahla Bait.

  64. Saya Kira penulis artikel terlalu membenci Sunni dalam Hal Ayanda dan Ibunda Sayyidana Rasul SAW! Coba penulis lebih banyak baca literatur islam dalam kasus ini, Coba buka Imam Suyuti al-Masri yang mengupas luas dan tuntas tentang ha ini dalam kitab fatawanya AL-HAWI dalam masalah USULIYAH DINIYAH sebanyak 30 halaman dalam bab Khusus مسالك الحنفا في والدي المصطفى mulaih hal 191 s/d 221. atau lebih jelas Klik http://bm-mwctjb.blogspot.com/2009/08/bm-pcnu-karawang-070807.html

    Jika anda ingin meyebarkan Syi’ah Gunakan bahasa santun bukan menjelek2an dan membaguskan sendiri…kami dari Mesir adalah Sunii tapi sangat gila dgn Ahlu Bait tidak mempan dihasut2 seperti ini….

    Apalagi terdapat seorang alumnus Azhar tertarik Islam Syi’ah terus menjelek2 sahabat yaitu Syekh Hasan Syahata ..pasti Anda kenal??

  65. sanggahan orang tua nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam KAFIR………
    Ahmad dawilah

    ass ana mau tanya menurut akidah habaib bagaimana hukum orang tua nabi mukmin ato musrik?

    FORSAN SALAF menjawab :

    Dalil golongan yang menyatakan orang tua Nabi masuk neraka adalah hadits riwayat Imam Muslim dari Hammad :
    أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

    Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah “ Ya, Rasulullah, dimana keberadaan ayahku ?, Rasulullah menjawab : “ dia di neraka” . maka ketika orang tersebut hendak beranjak, rasulullah memanggilnya seraya berkata “ sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka “.

    Imam Suyuthi menerangkan bahwa Hammad perowi hadits di atas diragukan oleh para ahli hadits dan hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Padahal banyak riwayat lain yang lebih kuat darinya seperti riwayat Ma’mar dari Anas, al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqosh :
    “اِنَّ اَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ الله اَيْنَ اَبِي قَالَ فِي النَّارِ قَالَ فَأَيْنَ اَبُوْكَ قَالَ حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ كَافِرٍ فَبَشِّّرْهُ بِالنَّارِ”

    Sesungguhnya A’robi berkata kepada Rasulullah SAW “ dimana ayahku ?, Rasulullah SAW menjawab : “ dia di neraka”, si A’robi pun bertanya kembali “ dimana AyahMu ?, Rasulullah pun menawab “ sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar gembira dengan neraka “

    Riwayat di atas tanpa menyebutkan ayah Nabi di neraka.

    Ma’mar dan Baihaqi disepakati oleh ahli hadits lebih kuat dari Hammad, sehingga riwayat Ma’mar dan Baihaqi harus didahulukan dari riwayat Hammad.

    Dalil mereka yang lain hadits yang berbunyi :
    لَيْتَ شِعْرِي مَا فَعَلَ أَبَوَايَ

    Demi Allah, bagaimana keadaan orang tuaku ?

    Kemudian turun ayat yang berbunyi :
    { إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيْراً وَنَذِيْراً وَلَا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيْم }

    Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.

    Jawaban :

    Ayat itu tidak tepat untuk kedua orang tua Nabi karena ayat sebelum dan sesudahnya berkaitan dengan ahlul kitab, yaitu :
    يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

    Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk) (Q.S. Albaqarah : 40)

    sampai ayat 129 :
    وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

    Semua ayat-ayat itu menceritakan ahli kitab (yahudi).

    Bantahan di atas juga diperkuat dengan firman Allah SWT :
    وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

    “dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”

    Kedua orang tua Nabi wafat pada masa fatroh (kekosongan dari seorang Nabi/Rosul). Berarti keduanya dinyatakan selamat.

    Imam Fakhrurrozi menyatakan bahwa semua orang tua para Nabi muslim. Dengan dasar berikut :

    * Al-Qur’an surat As-Syu’ara’ : 218-219 :

    الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ * وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

    Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.

    Sebagian ulama’ mentafsiri ayat di atas bahwa cahaya Nabi berpindah dari orang yang ahli sujud (muslim) ke orang yang ahli sujud lainnya.

    Adapun Azar yang secara jelas mati kafir, sebagian ulama’ menyatakan bukanlah bapak Nabi Ibrohim yang sebenarnya tetapi dia adalah bapak asuhNya dan juga pamanNya.

    * Hadits Nabi SAW :

    قال رسول الله (( لم ازل انقل من اصلاب الطاهرين الى ارحام الطاهرات ))

    “ aku (Muhammad SAW) selalu berpindah dari sulbi-sulbi laki-laki yang suci menuju rahim-rahim perempuan yang suci pula”

    Jelas sekali Rasulullah SAW menyatakan bahwa kakek dan nenek moyang beliau adalah orang-orang yang suci bukan orang-orang musyrik karena mereka dinyatakan najis dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

    “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis”

    * Nama ayah Nabi Abdullah, cukup membuktikan bahwa beliau beriman kepada Allah bukan penyembah berhala.

    Jika anda ingin mengetahui lebih banyak, maka bacalah kitab ‘Masaliku al-hunafa fi waalidai al-Musthafa” karangan Imam Suyuthi.

  66. kepada penulis tolong cek lagi pendapat ahlussunnah yg mana yg antum bawa, atau sekedar ngambil pendapat spt imam nawawi (sekedar mencantumkan mana saja), pdhl kl dilihat itu bukan i’tiqod ahlussunnah wal jamaah……..

    itu spt pendapat jamaah wahabiyah……..
    afwan qoblahu

    Sesungguhnya masalah seperti ini
    memang pernah juga mengusik perhatian di masa lalu. Namun para ulama ternyata
    tidak berhasil menyatukan kesimpulan di mana mereka bersepakat di dalamnya.
    Sehingga kesimpulannya menjadi terpecah dua, yaitu antara mereka yang mengatakan
    bahwa kedua orang tua nabi SAW itu masuk surga dan mereka yang mengatakan
    sebaliknya.

    Pendapat Pertama

    Pendapat pertama mengatakan bahwa
    keduanya termasuk ahlul fatrah, yaitu orang-orang yang hidup di masa
    tidak ada kenabian. Semenjak nabi Isa as hingga diutusnya nabi berikutnya
    terpaut jarak waktu yang panjang. Umat manusia hidup tanpa adanya risalah
    kenabian. Sebagian ulama mengatakan bahwa manusia yang hidup di masa fatrah
    ini tidak dimintai pertanggung-jawaban.

    Mereka mendasarkan pendapatnya dari
    firman Allah SWT:

    ومَا كُنَّا مُعَذَّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسولاً } {سورة
    الإسراء: 15}

    Dan tidaklah Kami mengazab kecuali
    setelah mengirim seorang rasul

    Dan pendapat ini cukup adil, lantaran
    secara nalar tentu kita tidak bisa menerima bila seseorang dimasukkan ke dalam
    neraka, padahal tidak ada seorang nabi pun yang mengajarkan agama kepada mereka.
    Bagaimana Allah SWT yang Maha Adil itu sampai tega menghukum orang yang tidak
    tahu apa-apa?

    Pendapat ini didukung antara lain oleh
    Al-Imam As-Suyuthi dan lainnya.

    Pendapat Kedua

    Namun sebagian ulama berkesimpulan
    yang berbeda. Sebab mereka mendapati adanya hadits yang sekilas sangat tegas
    menyebutkan bahwa Rasulullah tidak diizinkan untuk memintakan ampunan buat kedua
    orang tuanya.

    روى مسلم أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ قال:
    استأذنْتُ ربِّي أن أستغفر لأمِّي فلم يأذن لي، واستأذنته في أن أزورَ قبرها فأذن
    لي

    Rasulullah SAW bersabda, Aku
    meminta izin kepada Tuhanku untuk memintakan ampunan buat ibuku, namun Dia tidak
    mengizinkan Aku. Aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya, Aku pun diizinkan.

    Kalau kita pahami sekilas memang ada
    kesan bahwa ibunda nabi SAW itu tidak masuk surga. Sebab Rasulllah SAW sampai
    memerlukan memintakan ampunan atasnya. Dan ternyata permintaan itu tidak
    dikabulkan Allah SWT.

    Wajar kalau ada yang berkesimpulan
    bahwa kalau begitu ibunda nabi SAW itu bukan muslim, tidak pernah bersyahadat
    dan mati dalam keadaan kafir. Sebab saat wafat, nabi Muhammad SAW belum lagi
    menjadi nabi.

    Namun kesimpulan pendapat kedua ini
    ditentang oleh kelompok pertama. Mereka menolak bila hadits itu disimpulkan
    dengan cara demikian. Kalau Allah SWT tidak memperkenankan Rasulullah SAW
    memintakan ampunan untuk kedua orang tua, tidak berarti orang tuanya bukan
    muslim. Sebagaimana ketika Rasulullah SAW tidak menyalatkan jenazah yang masih
    punya hutang, sama sekali tidak menunjukkan bahwa jenazah it mati dalam keadaan
    kafir.

    Adapun larangan Allah SWT untuk
    memintakan ampunan orang kafir adalah semata-mata karena orang itu sudah diajak
    masuk Islam, namun tetap membangkang dan akhirnya tidak sempat masuk Islam dan
    mati dalam keadaan kafir. Sedangkan kedua orang tua nabi SAW sama sekali belum
    pernah membangkang atau mengingkari dakwah. Sebab mereka ditakdirkan Allah SWT
    untuk hidup sebelum masa turunnya wahyu.

    Sebaiknya buat kita untuk segera
    menutup diskusi seperti ini, karena tidak akan menambah apapun. Sementara bagi
    Rasulullah SAW justru semakin mengiris hatinya. Dan kita tidak boleh menyakiti
    hati beliau dengan memvonis bahwa kedua orang tua beliau kafir. Sedangkan dalil
    yang kita dapat masih belum melahirkan kesimpulan yang pasti. Maksudnya masih
    belum tegas menyatakan bahwa mereka itu kafir.

    Wallahu a’lam bishshawab wassalamu
    ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Ahmad Sarwat, Lc.

    __________________

    Ibnu Jakfari:

    Salahkah jika ada orang yang mengambil akidah atas nama Sunni dari kitab hadis tershahih setelah Al Qur’an dan Shahih Bukhari, terlebih lagi jika ternyata keyakinan itu juga didukung oleh tokoh kelas satu mazhab Sunni seperti Imam Nawawi?!

  67. tulisan antum pada blog antum sungguh menyakitkan hati kebanyakan umat islam berpaham ahlussunnah wal jamaah, sungguh itu sangat menyakitkan khususnya saya pribadi, dan jamaah ahbabur rosul (para pecinta rosul) lecewa, sy yakin apabila ini disebut didepan nabi SAW, bahwa ayah anda kafir/ ibu anda kafir, bagaimana reaksi nabi, pasti marah besar dan sakit hatinya, baca sejarah nabi bagaimana beliau di tinggal mati ibunya, dan betapa sedihnya beliau ditinggal sebatang kara dlm keadaan yatim piatu waktu masih kecil sekali……….

    betapa membuat hati ini menangis, mata sy meleleh saat membaca siroh ini,
    tp tega2nya antum menulis hal spt ini, bagaiman reaksi para habaib jika melihat tulisan antum, pasti marahnya bukan ampun…………………..

    sy pn sangat marah melihat tulisan antum.
    afwan harap maklum
    _________________

    Ibnu Jakfari:

    Maaf akhi, semestinya kemarahan itu Anda luapkan dan alamatkan kepada ulama mazhab anda yang meriwayatkan dan menshahihkan hadis tentang kekafiran kedua orang tua Nabi dan bahwa mereka berada di neraka bukan kepada saya yang mengungkap akidah mazhab Anda!!?
    Kemarahan itu mestikanya Anda arahkan kepada Imam Muslim dan para ulama lainnya yang menshahihkan dan yang meyakini kebenaran hadis itu!

  68. Apakah Kita Layak Mengkafirkan Kedua Orang Tua Rasulullah SAAW?
    by http://syiar.net/?p=26

    Air yang jernih tidak mungkin berasal dari mata air yang kotor, tidakkah anda setuju?. Bagi umat Islam jiwa dan pribadi Rasulullah SAWW adalah jiwa dan pribadi yang agung, yang bersih, suci dan dicintai. Hal itu bukan saja diakui oleh umat Islam, akan tetapi oleh penganut agama-agama lain. Ayat-ayat suci Al-Quran dan catatan sejarah juga mendukung pendapat ini. Pribadi yang agung ini tentu tidak mungkin terbentuk begitu saja, ia pasti melalui suatu proses bimbingan sejak kecil, dan berasal dari benih-benih yang suci. Sangat disayangkan bahwa akhir-akhir ini muncul berbagai teori dan opini yang menyatakan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAWW adalah kafir. Salah satunya adalah yang tertera pada sebuah buku bertajuk “Kafirkah kedua orang tua Rasulullah?” yang diterbitkan oleh Pustaka As-Sunnah dan ditulis oleh Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qaari. Buku ini juga sempat diulas oleh salah satu koran termuka yaitu Republika terbitan jumat 15 April 2005 dengan sebuah artikel berjudul “Meluruskan posisi orang tua Rasulullah”. Mengapa muncul pendapat demikian? Apa dasar argumen tersebut? Dan bagaimana kita menyikapinya? Itulah beberapa pertanyaan yang perlu kita jawab disini.

    Dalam Artikel yang dimuat oleh koran Republika jumat 15 April 2005 dikatakan:

    “Kedua orang tua Rasulullah, yakni Abdullah dan Siti Aminah, wafat sebelum Nabi membawa risalah Islam. Dengan kata lain, keduanya meninggal dalam keadaan kafir. Namun, banyak umat Islam yang merasa tidak sampai hati mengatakan bahwa kedua orangtua Rasulullah wafat dalam keadaan kafir dan karena itu kelak masuk neraka.”

    Bagaimanakah kita, sebagai umat Islam, umat Muhammad menyikapi argumen tersebut? Jawabannya mungkin mudah, yaitu dengan menerima atau menolaknya. Akan tetapi apa dasar yang akan kita gunakan untuk menerima atau menolak argumen tersebut? Alangkah baiknya jika kita disini menggunakan ayat-ayat suci Al-Quran sebagai pedoman juga solusi. ALLAH SWT berfirman dalam surat Al Israa (17) ayat 12:

    “ ..Dan kami tidak akan mengazhab sebelum kami mengutus seorang Rasul”

    Bukankah kedua orang tua Rasulullah sudah meninggal tatkala beliau berusia 8 tahun, sedangkan pengutusan Muhammad sebagai seorang Rasul baru dilakukan ketika beliau berumur 40 tahun? Lalu bagaimana mungkin kedua orangtuanya Abdullah dan Aminah diazhab di neraka? Dimana keadilan ALLAH seperti yang tertera pada surat Al Israa ayat 12 tersebut?

    Pada surat Asy Syu’araa (QS26:217-219) ALLAH SWT berfirman:

    “ Dan bertakwallah kepada ALLAH yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang) dan melihat pula perpindahan badanmu dari (sulbi-sulbi) orang-orang yang bersujud”

    Disini kita dapat melihat bahwa ALLAH SWT menjaga perpindahan badan (benih) Rasulullah dari satu sulbi ke sulbi yang lain. Dan sulbi-sulbi tempat persinggahan itu tidak lain adalah milik orang-orang yang bersujud (beriman). Masihkah kita menerima bahwa kedua orangtua Rasulullah SAWW kafir?

    Dalam paragraf lain dari artikel yang dimuat oleh koran Republika dikemukakan:

    “ Buku ini (kafirkah kedua orang tua Rasul?) memuat pro-kontra para ulama mengenai posisi kedua orangtua Rasulullah, antara lain imam Suyuthi…….…Dalam buku ini dijelaskan Rasulullah SAW tanpa ragu menyatakan bahwa kedua orangtuanya meninggal dalam keadaan kafir. Ketika berziarah ke makam ibunya, rasulullah berkata, “aku memohon izin kepada Rabbb-ku agar aku dapat meminta ampun untuk ibuku tapi tidak diizinkan, lalu aku minta izin untuk menziarahi kuburnya aku diizinkan”

    Aneh sekali jika kita menerima begitu saja pendapat ini. Bukankah Rasulullah SAWW yang mengajarkan kepada kita untuk selalu mendoakan kedua orangtua kita dengan doa “ Robbifirli waliwalidaya warhamhuma kama Rabbayana shohiro”, doa yang senantiasa dibacakan oleh suara-suara cilik untuk kedua orangtua tercinta ketika selesai dikumandangkan adzan maghrib. Jika betul demikian, bukankah Rasulullah orang pertama yang melakukan hal itu? Jika betul demikian, untuk apa beliau mendoakan kedua orangtuanya Abdullah dan Aminah jika sudah jelas bahwa posisi mereka di neraka? Mungkinkah Rasulullah melakukan hal yang sia-sia? Jelas tidak. Dalam hadis lain yang dikemukakan oleh imam Suyuthi (rujukan yang sama) dalam kitabnya yang terkemuka yaitu Durul Manthur diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa Rasulullah SAWW bersabda:

    “Aku dipindahkan dari sulbi-sulbi yang suci ke dalam rahim-rahim yang terjaga”

    Selain itu dalam banyak riwayat juga diceritakan bahwa Bani Hasyim (keluarga besar Abdullah ayah Rasulullah) adalah penjaga ka’bah dan pengikut ajaran nabi Ibrahim A.S. Apakah layak bagi kita untuk mengkafirkan kedua orang tua Rasulullah SAWW setelah mengetahui pernyataan-pernyataan ini?

    Air yang jernih tidak mungkin berasal dari mata air yang kotor. Kalimat itulah yang kira-kira dapat menggambarkan diri Rasulullah dan kedua orangtuanya. Alangkah baiknya jika kita mempelajari secara lebih mendalam tetang keluarga nabi Muhammad SAWW dan mengaca diri akan kedudukan kita di hadapan ALLAH SWT dan di hadapan Rasulnya yang tercinta. Sehingga kita tidak mudah untuk mengeluarkan opini-opini yang tidak pantas dan terjebak dalam badai kesalahpahaman yang terus menguak seperti ini. Semoga bermanfaat.

  69. Allahu Akbar,,, Allahu Akbar,,,, Apa yang anda-anda ini bicarakan, sungguh ini sebuah pelecehan terhadap Rosulullah, apakah Nabi dan Rosul yang kita imani terlahir dari seorang penyembah berhala,, naudzubillah summa naudzubillah. berhentilah wahai saudaraku membicarakan hal ini karena ini bisa merusak aqidah..

  70. kepada seluruh pembaca mari bacalah dengan seksama …
    Pemilik blog ini hanyalah seorang yang membukakan bukti kepada kita semua tentang betapa bobroknya faham sebagian ahlussunnah yang menyatakan bahwa nabi terlahir dari orangtua yg kafir …
    sedangkan syiah sendiri menentang dengan keras faham pelecehan seperti ini …
    Faham pelecehan ayah bunda nabi ini sayangnya banyak dianut oleh kaum muslimin terutama kaum sempalan seperti salafy (wahabi) ….

  71. Salam, terima kasih mas jakfari yg telah membuka “diskusi” yg sgt menarik dan membuka mata hati. Dgn byknya argumen2 yg disertai dalil2nya sgt menambah ilmu dan wawasan sy, amiin.. Utk semuanya yg telah berbagi ilmu dgn niat yg tulus ikhlas dlm berkomentar di artikel ini, semoga اللّهُ SWT memberkahi semua krn sy yakin semuanya disini memiliki niat yg baik.. Sy pribadi meyakini bahwa org tua, paman dan kakek Rasul SAW adalah bkn musyrik, mrk semua bertauhid! Simple saja, melalui ilmu sy yg simple ini sy ingin berbagi logika: mrk (abdul muththallib dan abu thallib) adalah penjaga Ka’bah, Baitullaah, sang Rumah اللّهُ , yg telah diwariskan sejak Ibrahim AS.. Lalu ridhokah اللّهُ bila Ka’bah (Baitullaah) tsb dijaga/dirawat oleh org2 musyrik??? Silakan pikirkan sendiri.
    Wassalam

  72. Ada sebuah kitab yang ditulis oleh Muhammad bin Rasul Al Barzanji. Beliau menyatakan bahwa orang tua Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam adalah orang – orang yang mengesakan Alloh, dan kedua orang tua Rasulullah bukanlah penyembah berhala.

    Saya mengutip kembali tulisan Ibnu Jakfari:

    “Dalam kitab Dalâil an Nubuwah, Al Imam Al Baihaqi berkata setelah menyebutkan sejumlah hadits yang menjelaskan bahwa kedua orang tua Nabi di neraka,“Bagaimana mungkin keduanya tidak mendapatkan sifat yang demikian di akhirat, sedang mereka menyembah berhala-berhala sampai mereka mati,dan tidak beragama dengan aagam yang dibawa oleh Nabi Isa as.”.[3]”

    Saya kira Imam Al-Baihaqi keliru dalam pendapatnya bahwa orang tua Rasulullah harus mengikuti syariat Nabi Isa alaihis salam. Nabi Isa diutus oleh Alloh hanya untuk kaumnya, yaitu kaum bani Israil, sedangkan orang tua Rasulullah Shallallahu alaihi wa alihi wa sallam adalah keturunan nabi ismail. Jadi orang tua Rasulullah mengikuti syariat nabi Ibrahim dan nabi ismail.

    Saya pribadi lebih condong pada keyakinan bahwa kedua orang tua Rasulullah, termasuk paman beliau Abu Thalib, adalah termasuk orang – orang beriman yang mengesakan Alloh.

    @jakfari

    Tidak perlu Anda menunggu jawaban dari ulama Sunni. Biarlah mereka berpendapat sesuai keyakinan mereka, karena setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas semua ucapan dan perbuatannya.

    Salam,

    Abu Yusuf

  73. Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabbarakatuh…

    Mana yang duluan orangtua Rasulullah SAW dimasukkan ke Neraka atau Syurga tidak perlu anda-anda perdebatkan, karena Rasulullah SAW adalah “anak yang shaleh”. Anda-anda tahu pasti anak yang shaleh itu do’a-do’a nya langsung dikabulkan Allah SWT. Jadi itu urusan Allah SWT, bagi yang mengemukakan dalil-dalil untuk dasar argumentasinya kita serahkan kepada Allah SWT, karena Allah SWT yang tahu niat mereka.

    Yang penting kita pikirkan bagaimana bertambah IKHLAS beribadah kepada Allah SWT tanpa mengharap masuk Syurga. Kebanyakan kita beribadah hanya mengharapkan masuk syurga seperti bekerja mengharapkan gaji harus patuh kepada majikan. Bisa nggak kita bekerja ikhlas tanpa mengharap imbalan…??? Jawabnya TIDAK BISA pada zaman sekarang, karena kita butuh “modal” untuk hidup. Tapi untuk beribadah kepada Allah SWT. apakah kita bisa beribadah untuk tidak mengharap syurga ? Jawabnya BISA ! Kenapa ? Karena imbalan dari Allah SWT. sudah ditulis dan ditentukan, sebab janji-janji Allah Maha Benar dan Maha Pasti. Kita berdo’a & berharap kepada Allah SWT. di anjurkan dan wajib karena pada dasarnya kita manusia punya sifat sombong, riya dan takabur. Jadi meningkatkan ikhlas beribadah tanpa mengharap syurga atau pahala itu lebih baik dari pada berdiskusi pada hal-hal yang sebenarnya kita sendiri kurang mengerti dan tidak menjadi saksi pada kejadian peristiwa pada zaman Nabi SAW. Saya usul (karena saya bukan ahli agama), anda-anda pemikir islam yang lebih banyak tahu tentang agama kita islam,…..tingkatkan ke ikhlasan beribadah kepada Allah SWT. dengan catatan tanpa mengharap apapun dari Allah SWT kecuali ridho-Nya dan dicintai Allah SWT, maka pasti anda-anda akan berdiskusi lebih baik, lebih bermutu dan kalimat-kalimatnya lebih beretika. Jangan bangga menjadi anggota aliran islam manapun baik garis keras, sedang atau lemah lembut yang terbentuk berdasarkan meyakini salah satu hadist Rasullulah SAW. Menurut saya zaman sekarang kita bukan lagi menghadapi fitnah antar orang per orang, tetapi kita sudah terlalu dalam masuk ke ruang fitnah antara manusia dengan DAJJAL yang biasa disebut dengan FITNAH DAJJAL. Jadi jangan permasalahkan hadist-hadist Rasullulah yang kita ketahui dari zaman dulu setelah Rasulullah SAW. wafat sudah banyak dipalsukan. Artinya bentuk dan isi dokumen dari hadist-hadist Rasulullah SAW. masih banyak yang asli disimpan para ulama, tetapi akibat fitnah dajjal tadi untuk kepentingan kelompok atau aliran, hadist-hadist palsu banyak dipergunakan dengan cara diplesetkan atau di plintir atau apapun istilahnya. Kadang-kadang satu hadist yang sudah tidak diberlakukan lagi di “aktif” kan kembali (karena ada hadist terbaru mengkoreksi hadist yang lama), namun akibat fitnah dajjal maka terjadilah perdebatan-perdebatan sahih atau tidak sahih nya suatu hadist. Saya orang awam mengilustrasikan hadist adalah keterangan yang menjelaskan isi Al-Qur’an. Seperti UUD 1945 dengan PP, Permen, Perpu, Perda dan lain sebagainya.

    Demikian saja, pada awalnya adalah hadapi komunitas dirumah dan lingkungan kita…sudah benarkah ibadah dan syariat mereka…? Jangan pandai berdiskusi di dunia maya saja, sementara komunitas di rumah dan lingkungan masih melanggar norma-norma syariat islam…Mohon maaf atas kalimat yang tidak berkenaan di hati anda-anda yang membaca, saya orang awam yang mencoba memberi usul tanpa berpihak kepada aliran islam manapun di dunia ini, yang saya miliki hanya Allah SWT. tempat saya berlindung dan Rasulullah SAW, tempat saya mengharapkan syafaat di hari akhir serta pegangan saya adalah Al-Qur’an dan Sunnah…Demikian, sekali lagi saya mohon maaf..Wassalammualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh…

  74. @orang awam
    Bung…untuk beribadah tentulah harus IKHLAS. tetapi salah satu syarat Ibadah Ikhlas yaitu dengan Ilmu, dan yg pasti ibadah kita sehebat apapun dan seikhlas apapun kalau tanpa ILMU Agama dan memahami Orangtua Nabiullah Saw adalah Kafir akan sia-sia.

    Kedua Ibadah yg Ikhlas yg akan mengantarkan kita menuju SYURGA adalah berprasangka yg baik pd Allah SWT dan juga Nabi Muhammad Saw..sekarang bagaimana kita akan menuju Ibadah yg baik jika kita masih meyakini cerita tentang Rosulullah dan Ibu Bapaknya yg Sangat dia Cintai yg ada banyak dlm hadis2 Ahlussunah ternyata sangat2 merendahkan pribadi mereka!

    Anda berniat Ikhlas dalam Ibadah anda tetapi di lain sisi keyakinan anda ttg Potret Rosulullah, ahlbaytnya dan Orangtuanya ternyata menyedihkan…hal ini pada akhirnya banyak dijadikan senjata oleh orang2 non-muslim utk di jadikan bahan ejekan di website2 mereka.

    Ikhlas itu juga adalah berusaha meluruskan/menjernihkan akal kita tentang Allah SWT dan semua Nabi dan Rosul-Nya

  75. sudah2 yg terutama adalh menjaga keimanan dan ketakwaan qt

  76. ko jadi tumpang tindi begini sebagian menyakini klo abu tholib + ortu nb saw kafir sebagian lgi tidak meyakini klo mereka2 itu kafir ..xixix

    orang awam berkata …mana yg harus d ikutin pola pikir model ini ….

    buat ust ja’fari smoga allah swt panjangkan umur antum ……

    *_^

  77. salam.
    saya fikir,penulis blog ini ingin menyampaikan beberapa hal yg tersembunyi dari tajuk diskusi.juga saya tertarik degan jawapan yg diberi oleh saudara el faqir el jifary sekiranya kita dalami tajuknya dan bukti dari kitab hadis pegangan sunni saya pecahkan dalam beberapa hal;-
    1) kitab hadis sunnan sittah tidak harus diyakini 100% sohih. masih terdapat keraguan hadis yg disampaikan.
    2) ahlussunni harus mengkaji kembali perawi dan musnad apabila ingin berhujjah dengan sesuatu hadis.
    3)syiah walaupun ramai Ayatullah yg boleh memberi pendapat, namun dalam hal Aqidah kepercayaan mereka boleh bersatu sebabnya pengkajian tentang ilmu islam yg sangat medalam terutama tentang hadis2 dan sejarah islam.. di zaman sekarang memang logika dengan apa yg dikatakan oleh imam assodiq a.s “sekiranya sesuatu hadis datang kepadamu sesuai dengan urutan AL-Quran, maka ambillah. jika tidak ia bukan dari kami” bukankah perkara ini mudah, Al-Quran adalah penerang segala permasalahan sebelum Adam a.s diciptakan sehingga hari perhitungan dan hari2 seterusnya dan hari2 yg tak dapat difikirkan oleh akal telah ceritakan dalam kitab yg terjaga oleh Allah SWT.
    4) perbezaan mendalami ilmu antara sunni-syiah adalah terlalu jurang bagai langit dan bumi..sekiranya di Qom sesebuah maktabah mempunyai 30ribu buah kitab, 12ribu buah kitab dari kalangan sunni.jadi mereka mengkaji dan dapat berhujjah dengan kitab sunni sahaja untuk menunjukkan kebenaran Ahlulbyt. tapi sayang hidayah itu bukanlah kerjaan manusia menentukan.. masih ada lagi yg tegar.. hanya Allah sahaja yg meberikan hidayah itu. hasbunaAllah i wani’malwakiil.
    5)penyanjungan syiah imammiah terhadap Nabi SAW sangat tinggi sesuai dengan kejadiannya.semua perkara berdasarkan dalil yg haq.
    wallahua’lam. solawat!!!
    maaf kiranya tulisan ini kurang di fahami krn saya gunkan bahasa malaysia.sebab saya dr malaysia.
    maaf jika tidak berkenaan.

    4)

  78. hehehehe….. lagi-lagi mazhab. inilah yang meruntuhkan islam. tidak ada kedamaian dalam islam karena pemeluknya masih memikirkan dirinya dan golongannya. bagaimana islam bisa menjadi Rohmatan Lilalamin jika penganutnya mambaikkan diri-sendiri.
    sejarah perlu dilirik tapi jangan jadikan acuan untuk masa depan. mari kita bersatu supaya islam bisa menjadi Rohmatan lilalamin.

  79. itulah resiko jika kita membela org-org yg dicintai oleh nabi saw. kita harus siap dikatakan kafir, yahudi, ahlul bid’ah, syiah atau rafhidah

    saya sdh alami hal ini ketika sya membantah tulisan2 nashibi (salafi-wahabi)
    silahkan antum merujuk disini bantahan saya dibloq salafi-wahabi ttg abu thalib, kakek dan ortu nabi disini

    http://filsafat.kompasiana.com/2012/06/27/benarkah-abu-thalib-muslim-koreksi-atas-ketergelinciran-dewa-gilang-473577.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 74 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: