Khalifah Abu Bakar dan Umar Di Mata Imam Bukhari dan Muslim

Di Mata Imam Ali as. Dan Abbas ra. Abu Bakar&Umar adalah Pembohong, Pendosa, Penipu dan Pengkhianat!

Pendahuluan:

Di antara perkara menarik untuk dikaji adalah sikap dan penilaian Imam Bukhari dan Imam Muslim terhadap kedudukan Abu Bakar dan Umar. Mengakaji sikap dan pandangan mereka terhadap kedua tokoh sahabat itu dapat ditelusuri melalui hadis-hadis/riwayat-riwayat yang mereka abadikan dalam kitab Shahih mereka setelah menyeleksinya dari ratusan ribu hadis shahih yang mereka berdua hafal atau riwayatkan dari syeikh-syeikh/guru-guru mereka berdua!

Dalam kajian ini pembaca kami ajak meneliti sikap Imam Bukhari dan Muslim terhadap Abu Bakar dan Umar, baik di masa hidup Nabi saw. ataupun setelah wafat beliau dalam sikap mereka ketika menjabat selaki Khalifah!

Sengketa Antara Abu Bakar dan Fatimah as. –Putri Tercinta Rasulullah saw. –

Di antara lembaran hitam sejarah umat Islam yang tak dapat dipungkiri adalah terjadinya sengketa antara Fatimah as. –selaku ahli waris Nabi saw.dan Abu Bakar selaku penguasa terkait dengan tanah Fadak dan beberapa harta waris yang ditinggalkan Nabi saw.

Menolak adanya sengketa dalam masalah ini bukan sikap ilmiah! Ia hanya sikap pengecut yang ingin lari dari kenyataan demi mencari keselamatan dikarenakan tidak adanya keberanian dalam menentukan sikap membela yang benar dan tertindas dan menyalahkan yang salah dan penindas!

Data-data akurat telah mengabadikan sengketa tersebut! Karena deras dan masyhurnya kenyataaan itu sehingga alat penyaring Imam Bukhari dan Muslim tak mampu menyaringnya! Atau bisa jadi sangking shahihnya hadis tentangnya sehingga Imam Bukhari dan Muslim –sebagai penulis kitab hadis paling selektif pun- menshahihkannya dan kemudian mengoleksinya dalam kedua kitab hadis Shahih mereka!

Dalam kali ini kami tidak hendak membicarakan kasus sengketa tanah Fadak secara rinci. Akan tetapi kami hanya akan menyoroti “argumentasi dadakan” yang diajukan Abu Bakar secara spontan demia melegalkan perampasan tanah Fadak! Argumentas Abu Bakar tersebut adalah “hadis Nabi” yang kemudian menjadi sangat masyhur di kalangan para pembela Abu Bakar! Hadis tersebut adalah hadis “Kami para nabi tidak diwarisi, apa-apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”[1]

Setelah dilontarkan pertama kali oleh Abu Bakar secara dadakan di hadapan argumentasi qur’ani yang diajukan putri kenabian; Fatimah az Zahra as., hadis itu menerobos mencari posisi sejajar dengan sabda-sabda suci Nabi saw. lainnya. Tidak penting sekarang bagi kita untuk menyimak penilaian para pakar hadis atau lainnya tentang status hadis tersebut! Apakah ia benar sabda suci Nabi saw. atau ia sekedar akala-akalan Abu Bakar saja demi melegetimasi perampasan tanah Fadak!

Yang penting bagi kita sekarang bagaimana sikap Imam Ali as. dalam menyikapi Abu Bakar yang membawa-bawa nama Nabi saw. dalam hadis itu!

Abu Bakar Kâdzib!

Imam Bukhari dan Imam Muslim keduanya melaporkan dengan beberapa jalur yang meyakinkan bahwa segera setalah Abu Bakar melontarkan hadis itu dan dengannya ia melegalkan perampasan tanah Fadak, Imam Ali as. menegaskan bahwa Abu Bakar telah berbohong atas nama Rasulullah saw. dalam hadis tersebut!

Di bawah ini kami sebutkan hadis panjang riwayat Bukhari dan Muslim yang melaporkan pengaduan/sengketa antara Abbas dan Imam Ali as. di hadapan Umar –semasa menjabat sebagai Khalifah:

فلما توفي رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم قال أبو بكر: أنا وليُّ رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم، فجئتما تطلب ميراثك كن ابن أخيك و يطلب هذا ميراث إمرأته من أبيها فقال أبو بكر: قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال: ما نورث ما تركنا صدقة! فرأيتماه كاذبا آثما غادرا خائنا والله يعلم أنه فيها صادق بار راشد تابع للحق …..

“… Dan ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) dating menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda: “Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”, lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat. Demi Allah ia adalahseorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah saw. dan walinya Abu Bakar, lalu kalian berdua memandangku sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat…. “ (HR. Muslim, Kitab al Jihâd wa as Sair, Bab Hukm al Fai’,5/152)

Imam Bukhari Merahasiakan Teks Sabda Nabi saw.!

Dalam hadis shahih di atas jelas sekali ditegaskan bahwa Imam Ali as. dan Abbas ra. paman Nabi saw. telah menuduh Abu Bakar dan Umar yang merampas seluruh harta warisan Nabi saw. dari ahli waris belaiu dengan membawa-bawa hadis palsu atas nama Nabi saw. sebagai:

  1. Pembohong/Kâdziban.
  2. Pendosa/Atsiman.
  3. Penipu/Ghadiran.
  4. Pengkhianat/Khâinan.

Kenyataan ini sangat lah jelas, tidak ada peluang untuk dita’lilkan dengan makna-makna pelesetan yang biasa dilakukan sebagian ulama ketika berhadapaan dengan redaksi yang agak semu! Karenanya Imam Bukhari dengan terpaksa, -agar kaum awam, mungkin termasuk Anda yang sedang membaca artikel ini tidak menodai kesucian fitrahnya dengan mengetahui kenyataan mengerikan ini; yaitu kejelekan pandangan Imam Ali as. dan Abbas ra. terhadap Abu Bakar dan Umar- maka ia (Bukhari) merahasiakan data yang dapat mencoreng nama harum Abu Bakar dan Umar!

Mungkin niat Imam Bukhari baik! Demi menjaga kemantapan akidah Anda agar tidak diguncang oleh waswasil khanâs!

Ketika sampai redaksi ini:

…. ثم توفى الله نبيه ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏فقال ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏أنا ولي رسول الله فقبضها ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏يعمل فيها بما عمل به فيها رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وأنتما حينئذ وأقبل على ‏ ‏علي ‏ ‏وعباس ‏ ‏تزعمان أن ‏ ‏أبا بكر ‏ ‏كذا وكذا والله يعلم أنه فيها صادق بار راشد تابع للحق ثم توفى الله ‏ ‏أبا بكر ‏ ‏فقلت أنا ولي رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وأبي بكر ‏ ‏فقبضتها سنتين أعمل فيها بما عمل رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وأبو بكر ‏ ‏ثم جئتماني وكلمتكما واحدة وأمركما جميع جئتني تسألني نصيبك من ابن أخيك وأتى هذا يسألني نصيب امرأته من أبيها فقلت إن شئتما دفعته إليكما على أن عليكما عهد الله وميثاقه لتعملان فيها بما عمل به رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وبما عمل به فيها ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏وبما عملت به فيها منذ وليتها وإلا فلا تكلماني فيها فقلتما ادفعها إلينا بذلك فدفعتها إليكما بذلك أنشدكم بالله هل دفعتها إليهما بذلك فقال الرهط نعم قال فأقبل على ‏ ‏علي ‏ ‏وعباس ‏ ‏فقال أنشدكما بالله هل دفعتها إليكما بذلك قالا نعم قال أفتلتمسان مني قضاء غير ذلك فوالذي بإذنه تقوم السماء والأرض لا أقضي فيها قضاء غير ذلك حتى تقوم الساعة فإن عجزتما عنها فادفعاها فأنا أكفيكماها ‏

… lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat, Imam Bukhari –dan tentunya setelah shalat dua rakaat mencari wangsit dari Allah SWT. ia menghapus redaksi tersebut dan mengantinya dengan: lalu kalian berdua memandangnya sebagai begini dan begitu![2]

Sebuah teka teki yang pasti membuat Anda bertanya-tanya, apa ya seperti itu dahulu ketika Umar mengatakannya?!

(HR. Bukhari,6/191, Kitab an Nafaqât/Nafkah, Bab Habsu ar Rajuli Qûta Sanatihi/ Seorang menahan kebuhutan pangan setahunya)

Dan dalam banyak tempat lainnya, secara total Imam Bukahri menghapus penegasan sikap Imam Ali as. dan Abbas ra., ia tidak menyebut-nyebutnya sama sekali! Seperti dalam:

1)      Bab Fardhu al Khumus/Kewajiban Khumus,4/44.

2)      Kitab al Maghâzi/peperangan, Bab Hadîts Bani an Nadhîr,5/24.

3)      Kitab al Farâidh/warisan, Bab Qaulu an Nabi saw. Lâ Nûrats Mâ Taraknahu Shadaqah/Kami tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah,8/4.

4)      Kitab al I’tishâm/berpegang teguh, Bab Mâ Yukrahu min at Ta’ammuq wa at Tanâzu’/larangan berdalam-dalam dan bersengketa,8/147.

Tapi sayangnya, Imam Bukhari masih meninggalkan jejak dan dapat menjadi petunjuk yaitu pembelaan Umar atas dirinya dan juga atas Abu Bakar! Bukhari menyebutkan kata-kata Umar: Allah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran! Dan kata-kata itu dapat menjadi petunjuk awal bahwa apa yang dikatakan Ali dan Abbas paling tidak kebalikan darinya atau yang mendekati kebalikan darinya! Sebab apa latar belakang yang mengharuskan Umar mengatakan kata-kata tersebut andai bukan karena adanya tuduhan Ali dan Abbas ra. atas Abu Bakar dan Umar?!

Para Pensyarah Bukhari Membongkar Apa Yang Dirahasiakannuya!

Akan tetapi, kendati demikian para pensyarah Shahih Bukhari, seperti Khatimatul Huffâdz; Ibnu Hajar al Asqallani membongkar apa yang dirahasiakan Bukhari![3] Maka gugurlah usaha Bukhari agar kaum Muslimin tidak mengetahui kenyataan pahit di atas! Dan ini adalah salah satu bukti keunggulan kebenaran/al Haq! Betapa pun ditutup-tutupi tetap Allah akan membongkarnya!

Ibnu Jakfari Berkata:

Dalam kesempatan ini kami tidak akan memberikan komentar apa-apa! Sepenuhnya kami serahkan kepada para ulama, pemikir, cendikiawan dan santri Ahlusunnah wal Jama’ah untuk menentukan sikap dan tanggapanya atas sikap Imam Ali as. dan Abbas ra. terhadap Abu Bakar dan Umar!

Kami hanya hendak mengatakan kepada pembaca yang terhormat: Jika ada bertanya kepada Anda, jika Imam Ali as. benar-benar telah mengetahui bahwa hadis yang disampaikan Abu Bakar itu benar sabda Nabi suci saw., mungkinkah Ali as. menuduh Abu Bakar berbohong?!

Mungkinkah Ali as. –sebagai pintu kota ilmu Nabi saw.- tidak mengatahui sabda itu? Bukankah yang lebih pantas diberitahu Nabi saw. adalah Ali dan Fatimah? Lalu mengapakah mereka berdua tidak diberi tahu hukum itu, sementara Abu Bakar yang bukan apa-apa; bukan ahli waris Nabi saw. diberi tahu?

Anggap Imam Ali as.dan Abbas ra. tidak diberti tahu oleh Nabi saw. dan Abu Bakar lah yang diberi tahu, pantaskah Imam Ali as. membohongkan sesuatu yang belum ia ketahui? Bukankah sikap arif menuntut Ali agar berhati-hati dalam mendustakan sabda suci Nabi saw. dengan mencari tahu, dari para sahabat lain?! Namun mengapa, hingga zaman Umar berkuasa pun Ali as. dan Abbas ra. masih saja tetap pada pendiriannya bahwa Abu Bakar berbohong dalam meriwayatkan hadis Nabi saw. tersebut!!

Bukankah dengan mencantumkan riwayat-riwayat seperti itu dalam kedua kitab Shahihnya, Syeikhân (khususnya Imam Muslim) hendak mengecam dan menuduh Abu Bakar dan Umar sebagai: pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat?

Atau jangan-jangan kitab nomer wahid kaum Ahlusunnah ini telah tercemari dengan kepalsuan kaum Syi’ah Rafidhah?!

Kami dapat memaklumi bahwa dengan riwayat-riwayat shahih seperti di atas saudara-saudara kami Ahlusunnah dibuat repot dan kebingungan menetukan sikap!

(A)     Apakah harus menuduh Imam Bukhari dan Muslim telah mengada-ngada dan memalsu hadis? Dan itu artinya kesakralan kitab Shahih Bukhari dan Muslim akan runtuh dengan sendirinya!!

(B)      Atau menerima keshahihan hadis-hadis shahih yang diriwayatkan dari banyak jalur di atas dan itu artinya Abu Bakar dan Umar di mata Imam Ali as. dan Abbas ra. adalah: pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat!! Maka jika demikian adanya, mungkinkah para imam dan tokoh ulama dari keturunan Imam Ali as. akan menyanjung Abu Bakar dan Umar, meyakininya sebagai dua imam pengemban hidayah, sebagai Shiddîq dan Fârûq dan memandang keduanya dengan pandangan yang berbeda dengan ayah mereka?

(C)     Atau menuduh Ali as. dan Abbas ra. sebagai telah menyimpang dari kebenaran dan mengatakan sebuah kepalsuan tentang Abu Bakar dan Umar ketita menuduh keduanya sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat?

(D)     Atau jangan-jangan para ulama Ahlusunnah telah meramu sebuah formula khusus yang akan memberi mereka jalan keluar yang aman?!

(E)      Atau sebagian ulama Ahlusunnah akan menempuh jalan pintas dengan  membuang redaksi tersebut dari hadis shahih itu, tawarru’an/sebagai bukti kewara’an, seperti yang dilakukan Bukhari dan sebagian lainnya.[4] Dan tentunya ini adalah sebuah cara aman untuk keluar dari kemelut yang mengguncang kemapanan doqma mazhab! Hadis seshahih apapun harus disinggkirkan dari arena jika membuat repot para Pembela Mazhab dan akan membukan pintu keresahan kaum awam atau bahkan setengah awam, setengah alim!

Semoga Allah memberi kemudahan bagi saudara-saudara kami Ahlusunnah untuk menumukan jalan keluar ilmiah yang bertanggung jawab dari kemelut di atas. Amîn Ya Rabbal Alamîn.


[1] Para ulama Ahlusunnah sendiri menegaskan bahwa hanya Abu Bakar seorang yang meriwayatkannya uacapan itu atas nama Nabi saw.! Tidak seorang pun dari shabat atau Ahlulbait Nabi saw. yang pernah mendengar hadis itu dari Nabi saw.!! Semenatara Fatimah –putri tercita Nabi saw.- tidak mengakuinya sebagai hadis, beliau menudh Abu Bakar telah bertdusta atas nama Nabi saw. karenanya beliau as. tetap bersikeras menuntut hak waris beliau dari ayahnya. Demikian juga dengan Imam Ali dan Abbas, keduanya, seperti akan Anda ketahui di sini menuduh Abu Bakar telah berdusta atas nama Nabi saw.

[2] Demi meringkas tulisan ini, sengaja kami tidak cantumkan riwayat secara lengkap dan tidak juga terjemahkan secara total potongan hadis di atas!

[3] Fathu al Bâri, ketika menysarahi hadis tersebut pada Bab Kewajiban Khumus,13/238.

[4] Baca syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi,12/72.

43 Tanggapan

  1. Alhamdulillah, allahu akbar…………

  2. Serapi rapinya bangkai ditutup, baunya pasti akan kecium juga cepat atw lambat. Bukan hanya itu saja saya jg pernah mendengar dr seseorg yg sdh membaca buku Sirah Muhammad yg ditulis oleh alm. Omar Hasheem, bhw bukan Abu Bakr yg menemani baginda Rasul saat di gua Tsur, melainkan Ibnu Bakr. Bahkan ada riwayat lain yg lebih menghebohkan yakni percobaan pembunuhan baginda nabi setelah perang Tabuk yg dilakukan oleh para sahabat seperti yg dikisahkan di Al Baihaqi dlm Dalail An Nubuwah; Ibnu Katsir, Al Bidayah wal Al Hinayah, 5:24-26. Lalu turunlah firman Allah SWT QS At Taubah ayat 74. Bahkan yg terheboh yakni ada riwayat bhw Nabi Muhammad SAW meninggal akibat diracun !!! Riwayat itu ada di Ansab al Asyraf 1:576, Ibnu Katsir, al Sirah al-Nabawiyah 4:449 dan Mustadrak al Hakim, 3:60, hadis nomor 4395-4399, Bab “Al Maghazi wa al Saraya”. Sudi kiranya ust membahas riwayat 2x barusan agar kami yg awam ini jelas, trims.

    • ALLAHU AKBAR…………………………
      kebohongan apa yg kalian lakukan untuk menghina dan mencela sahabat sahabat NABI SAW?????
      Terlalu pintar kalian untuk menyebut sahabat sahabat NABI SAW berbuat sesuatu yg tercela.
      DEMI ALLAH kalian akan mendapat laknat dari ALLAH dan para malaikatNYA.
      sungguh jelas ALQURAN menceritakan ttg kemulian mereka RA. UNTUK LEBIH JELAS HUB 92707393 & 08176627000

  3. Nah, sy yang pertama kali muncul :)

    Terima kasih atas infonya. Riwayat ini baru sy dengar.

    Namun perselisihan-perselisihan yg timbul antara ahlulbait Nabi saw dan sahabat lain sesungguhnya meminta kita untuk menentukan keberpihakan kita. Apakah kita lebih condong kepada ahlulbait yang memiliki segudang kemuliaan dan kesuciannya sdh terjamin, atau kepada manusia lain yg msh dapat dihinggapi nafsu keduniawian?
    Bukan maksud sy utk menyatakan bahwa selain ahlulbait Nabi saw, orang-orang di sekitar Nabi adalah manusia-manusia yang berprilaku tdk terpuji. Namun sebaiknya kita melihat dari sisi bahwa ahlulbait Nabi saw adalah manusia-manusia suci yang menjadi sumber kebenaran, dimana kita diminta untuk mengikuti mereka. Sehingga tidak pantas rasanya jika ada yang menyelisihi mereka. Kita sebagai generasi berikutnya seyogjanya mampu melihat hal ini secara jernih bahwa memang terjadi telah peselisihan dan kemana sebaiknya kecondongan kita.

    Dan sy mohon bagi yg tdk suka dengan riwayat ini agar pandai-pandai dan bijaklah berucap sehingga jangan malah terjerumus dengan melemahkan kedudukan dan kemuliaan ahlulbait Nabi saw demi membela tokoh-tokoh pujaaannya.

    Salam

  4. @Nomad:
    “Bahkan ada riwayat lain yg lebih menghebohkan yakni percobaan pembunuhan baginda nabi setelah perang Tabuk yg dilakukan oleh para sahabat seperti yg dikisahkan di Al Baihaqi dlm Dalail An Nubuwah; Ibnu Katsir, Al Bidayah wal Al Hinayah, 5:24-26.”

    Saya pernah membaca informasi adanya para sahabat yg mau membunuh Nabi tsb. tapi tidak disebutkan nama2nya. Apakah dlm riwayat yg anda sebutkan itu terdapat nama2 yg dimaksud ?

    Terima kasih.

    • Akhir riwayat tsb berkata : “Lalu Rasulullah SAW menyebutkan nama – nama mereka kpd Hudzaifah dan Ammar seraya berkata: sembunyikanlah nama – nama mereka.” Saya juga mendengar informasi dari kitab2x lain dalam riwayat k’lo ga salah Hudzaifah atw Walid bin Jami’ disebutkan namanya, yakni Abu Bakar, Umar, Ustman, Thalhah dan Sa’ad bin Abi Waqash. Utk lebih jelasnya mendingan ust. Jakfari yg saja menjelaskannya di blog ini.

      Terima Kasih

      • ALLAHU AKBAR…………………………
        kebohongan apa yg kalian lakukan untuk menghina dan mencela sahabat sahabat NABI SAW?????
        hati hati dgn ilmu yg tidak jelas yg kalian terima.
        cukuplah ALLAH sebagai saksi atas KEBODOHAN yg kalian lakukan.

  5. Sangat menyedihkan sekali ajaran2 syiah ini. selalu saja mengumbar kebencian, kemarahan, dan kata2 kasar. Selalu menganggap sbg umat muslim, padahal kerjanya cuma menggerogoti Islam dari dalam.

    • Sangat menyedihkan sekali kelakuan Anda ini, entah beragama apa Anda ini. Semoga agama Anda tidak mengajarkan berasumsi seperti itu.

      Kalau memang ndak sepakat, mbok ya tanggapi dengan ilmiah. Kalau memang masih belajar, ya akui itu.

      Aku masih masih belajar nih jadi ndak mau merasa diri paling bener sendiri. Aku juga masih baca al-fatihah ayat 6-7 lho ketika shalat.

  6. Saya berlepas diri dari pendapat-pendapat anda. Begitu juga Imam Ali dan Ahlul Bait.

    • Itu namanya fallacy diksional.

      “Ali mencintai istrinya. begitu juga aku.” Ambigu maknanya.

      saya dengan tulisan Anda diatas. Ada dua makna:

      1. Anda berlepas diri dari pendapat2 jakfari (mungkin) dan juga pendapat Imam Ali dan Ahlulbayt.

      2. Anda berlepas diri dari pendapat2 jakfari (mungkin) dan juga Imam Ali dan Ahlulbayt pun berlepas diri dari pendapat2 jakfari (mungkin).

      mana yang betul kawan?

      • kayaknya yg doi maksud yg ke-2 deh mas ressay…tapi bisa juga yang ke-1 yah, hadoohh jadi ikut bingung neh.

        @ dildaar80, trus pendapat anda gimana? jgn jawab ga punya pendapat lho yah…

      • yg saya ketahui AHLUL BAIT tidak mengikuti pendapat jakfari.
        jgn berbohong mengatasnamakan AHLUL BAIT.
        SAMPAI SEKARANG TIDAK TERDAPAT MAZHAB JAKFARI DI KALANGAN AHLUL BAIT.
        HENTIKAN DUSTAMU INI.

  7. Justru yang terlihat jelas bahwa ahlul bait ternyata tidaklah maksum sebagaimana yg diklaim rafidhah, di saat mereka berselisih paham mereka bisa mengatakan yg seperti itu, tetapi anehnya akhirnya menerima keputusan tsb.. bahkan Ali dan Abbas ternyata bisa juga berselisih, padahal mereka adalah ahlul bait Rasulullah….. inilah salah satu yang menunjukkan ketidakmaksuman ahlul bait.

    Finally akhirnya ternyata mereka mau menerima keputusan Abu Bakar dan Umar, bahkan ketika Ali menjadi Khalifah pun, tanah fadak tetap statusnya sebagaimana diputuskan oleh khalifah Abu Bakar dan Ali pun tidak mengubahnya.. hal ini membuktikan Imam Ali mengakui kebenaran pendapat Abu Bakar…

    Dengan anda membahas di atas tidaklah membuat kami ragu atas ketsiqahan Imam Bukhari, karena hal tsb bukanlah suatu hal yg penting… justru sebenarnya seandainya benar demikian, Imam Bukhari telah menjaga nama baik ahlul bait dari perkataan yg tidak layak seperti itu… coba anda bayangkan jika ahlul bait mengatakan spt itu kpd Abu Bakar dan Umar, kenapa mereka datang lagi kepada Umar dan mengadukan masalah diantara mereka kepadanya? jika memang Umar tidak kredibel (pembohong, pendosa, penipu, pengkhianat) mengapa mereka menyerahkan persoalan mereka kepada beliau? pikir donk pikir..

    Apakah dengan memuat hal ini, kami akan terkesiap? ga lah yao… wuakakakakak…

    Ibnu Jakfari:

    Salam akhim imem, kami (syi’ah) tidak membangun akidah kami berdasarkan hadis riwayat Bukhari!
    Kami punya punya hadis-hadis mutawatir tentang akidah kami!
    Tetapi ketika berbicara dengan saudara-saudara kami Ahlusunnah, kami membawakan hadis riwayat Sunni! Jadi tidaklah berdasar apa yang Anda simpulkan:Justru yang terlihat jelas bahwa ahlul bait ternyata tidaklah maksum !!
    Yang menjadi pertanyaan kami, percayakan Anda kepada riwayat Bukhari dan Muslim yang kami sebutkan di atas?

    • @imem

      bahkan Ali dan Abbas ternyata bisa juga berselisih, padahal mereka adalah ahlul bait Rasulullah

      anda perlu belajar lagi tentang syi’ah baru berdiskusi, karena anda tidak tahu siapa ahlulbait menurut syi’ah !

  8. tidak setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu……..

  9. tidak setuju yang kedua kali …….

  10. WADUH-WADUH KALAU BENER KATA KAMU USTADZ JAKFARI BERARTI PARA SAHABAT SALING GONTOK-GONTOKAN NIH. KATA RUHAMA’ BAINAHUM?
    USTADZ, KALAU MAU NIRU IMAM ALI NGATAKAN BAHWA ABU BAKAR DAN UMAR KADZIB BOLEH TIDAK YA? KAN IMAM ALI BERSAMA KEBENARAN DAN KEBENARAN BERSAMA ALI!
    ATAU JUSRETU IMAM ALI YANG SEDANG MENYIMPANG KERENA MENCACI KAMI ABU BAKAR DAN UMAR/ ATAU BUKHARI YANG BOONG?
    BINGUNG AHHH.
    HDUP ABU BAKAR!!! HDUP ABU BAKAR!!!HDUP ABU BAKAR!!!HDUP ABU BAKAR!!!HDUP ABU BAKAR!!!

  11. kalau lho nggak setuju memangnya gue pikirin!!!! khayal kaliiii?

  12. Iiiih bukhari kok gitu ya.. suka nyensor segala… itu sih namanya tidak amanat…. alias ….? lanjutkan sendiri.
    sepertinya bukan cuma satu kali ini aja bukhari curang begitu, sering juga di tempat lain..
    kalau sudah begini, apa itu artinya? Apa masih ada yang sok bangggakan dunia kritik dan seleksi hadis sunni sudap sangat rapi dan matang?
    Saya berharap ada diskusi yang ilmiah tentang hal ini di sini… saya siap manjadi pemerhati alias penonton setia.

  13. Tetapi ketika berbicara dengan saudara-saudara kami Ahlusunnah, kami membawakan hadis riwayat Sunni! Jadi tidaklah berdasar apa yang Anda simpulkan:Justru yang terlihat jelas bahwa ahlul bait ternyata tidaklah maksum !!

    Kalo anda telah berani mengambil dalil-dalil dari ahlussunnah, ya anda hrus menerima juga mengambil konsekuensinya donk.. kalo ga, itu namanya ga konsisten…

    Ibnu Jakfari:

    Saya berharap anda mengerti etika berdialoq.
    Apa maksud anda dengan:Kalo anda telah berani mengambil dalil-dalil dari ahlussunnah, ya anda hrus menerima juga mengambil konsekuensinya donk..?

    • @imem

      sebaiknya anda dan salafiyyun/wahabiyyun belajar berdialog jadi nggak bikin orang tertawa…

      kiranya kalo ada orang syi’ah mengkritik ajaran wahabi/salafy dengan hadis2/pendapat ulama mereka, apa kiranya bisa diterima oleh salafy/wahabi?

      kebencian anda terhadap syiah membikin otak anda semakin tumpul -ma’af- ! jadi diskusi anda semakin ngacau!

  14. ck..ck..ck…memang benar dan tepat sekali apa yang pernah dinasihatkan para ulama ahlussunnah yg ber MANHAJ SALAF bahwa betapa berbahayanya pemahaman syiah ini..bahkan lebih berbahaya ketimbang nasroni maupun yahudi..semoga Alloh melindungi kaum muslimin dar itipu daya para RUWAIBIDHOH yg berkumpul diketiak para AYATUSY-AYATUSY-SYAYAATIEN…….
    Wana’uudzubillaahimin dzaalik

    ________________

    Ibnu Jakfari:

    Akhi, hadis shshih Bukhari dan Muslim yang saya sebutkan bukan termasuk hadis Mutasyabihat yang samar maknanya…. ia sangat jelass sekali! Jadi apa maksud anda:bahwa betapa berbahayanya pemahaman syiah ini
    Untuk faham makna gamblang dalam hadis itu tidak butuh kedalaman ilmu…
    Tapi saya dapat memaklumi sikap Anda yang begitu! Anda sedang kebingungan kan? karena ternyata di kitab tershahih kalian setelah Al Qur’an; Shahih Bukhari dan Muslim ternyata ada hadis kecaman seperti itu!!!
    Saya sarankan cara mudah untuk keluar dari kemelut itu! Buang aja dari kitab Shahih Bukhhari, seperti yang sering dilakukan kaum WAHHABI dalam cetakan/penerbitan mereka!!

  15. @Ahlulbaitphobia

    Kesucian ahlulbait Nabi saw bukan direka-reka, tapi sdh ditetapkan langsung oleh Allah swt dalam surah Al-Ahzab: 33. Terserah anda-anda bermaksud menafsirkan siapa-siapa yg dimaksud ahlulbait. Tapi mereka suci dari dosa.
    Kemuliaan dan kesucian ahlulbait dan itrahnya juga sudah diisyaratkan dalam Hadits Tsaqalain. Hadits yang mengisyaratkan bahwa mereka bersama Alquran dan selalu dalam kebenaran. Kedudukan, keutamaan dan kemuliaan ahlulbait juga sudah terlalu sering diucapkan Nabi saw.
    Jadi, wahai ahlulbaitphobia, siapa yang akan anda ikuti? Allah swt, Nabi saw, Alquran atau Abubakar, Umar, atau Bukhari?

    Salam

  16. Apa maksud anda dengan:Kalo anda telah berani mengambil dalil-dalil dari ahlussunnah, ya anda hrus menerima juga mengambil konsekuensinya donk..?

    Maksud saya, dengan anda menyodorkan hadits di atas kepada kaum sunni dengan tujuan agar mereka tau bahwa Ali dan Abbas pernah memandang Abu Bakar dan Umar sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat (walaupun dalam hadits tsb, justru terlihat mereka menyadari akan kekeliruan ucapan mereka dg menghadap Umar)… justru di dalam hadits tsb mengandung konsekuensi yang lain yaitu :
    - Ahlul bait tidaklah maksum, karena mereka berani mengatakan ketidakkredibelan Abu Bakar dan Umar, tetapi di sisi lain mereka menerima dan mengakui keputusan kedua khalifah tsb. contohnya adalah tanah fadak. semasa Imam Ali menjabat sebagai khalifah beliau tidak merubah sedikitpun status tanah fadak yang telah diputuskan pada masa Abu Bakar.

    - Dengan datangnya mereka kepada Umar, seakan-akan dlm hadits di atas Imam Ali dan Abbas mengakui kesalahan atas pandangan mereka berdua sebelumnya terhadap Abu Bakar dan Umar, buktinya mereka masih mau menghadap dan mengadukan permasalahan diantara mereka untuk menerima keputusan dari Umar.

    - Jika anda menuduh Bukhari menghapus perkataan Imam Ali dan Abbas mengenai Abu Bakar dan Umar, justru beliau telah menjaga nama baik ahlul bait dari perkataan yg tidak layak spt di atas..
    Salam

    _______________________
    Ibnu Jakfari:

    Kawan, ketika Imam Ali as. menvonis Abu Bakar sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat itu atas dorongan apa? hawa nafsu? Atau atas dasar apa? sebab setiap tuduhan ada tanggung jawabnya di hadapan hukum maupun di hadapan Allah!
    Mungkinkah Imam Ali as. dan Abbas paman Nabi saw. sesemberono itu menvonis Abu Bakar dan Umar kalau memang mereka tidak seperti itu?
    Mau kalian nilai apa kulitas iman dan islam serta kepribadian ALi dan Abbas?

    Adapun selainnya, hanya sekedar opini dan analisa saudara semata!
    Kalau anda menyimpulkan dengan kata-kata ngawur Imam Ali as. terhadap Abu Bakar dan Umar bahwa Ahlulbait tidak maksum, maka sebenarnya bukan sekedar tidak maksum, mereka itu sangat tidak berakhlak! Dan itu bisa disimpulkan bahwa riwayat-riwayat Ahlusunnah menghina Ahlulbait!

  17. Itulah Sunni yang Wahabi (nashibi) kalau sudah kepepet tampak keyakinan aslinya… Imam ali langsung disikat! dihujat! dicela!
    Ini kata-katan ente:((Ahlul bait tidaklah maksum, karena mereka berani mengatakan ketidakkredibelan Abu Bakar dan Umar,))
    logika apa yang sedang ente pakai ini? Karena Ali mengatakan …. maka Ali tidak maksum! Sunggung antara mukaddimah dan kesimpulan tidak ada hubungannya!
    Juga kaata-kata ente:((justru terlihat mereka menyadari akan kekeliruan ucapan mereka dg menghadap Umar)) dimana bukti kalau mereka menyadari kesalahan itu? Bukankah Umar juga mengatakan bahwa Ali dan Abbas juga memvonis Umar sebagai pembohong dan … dan … sama seperti Abu Bakar!!
    Sobat, sudahlah jangan ngelantur…. tidak ada pilian dihadapan ente kecuali membela Abu Bakar dan Umar dengan menyalahkan Ali dan Abbas! Atau sebaliknya! Mengakui kebenaran vonis Ali dan Abbas… memang Abu Bakar dan Umar sepertiitu!!!
    Di sini saya hanya kasihan kepada pak Jakfari… sebab harus meladeni kaum yang LA YAKADU YAFHAMUNA QAULA!

  18. Mungkinkah Imam Ali as. dan Abbas paman Nabi saw. sesemberono itu menvonis Abu Bakar dan Umar kalau memang mereka tidak seperti itu?
    Mau kalian nilai apa kulitas iman dan islam serta kepribadian ALi dan Abbas?
    Adapun selainnya, hanya sekedar opini dan analisa saudara semata!
    Kalau anda menyimpulkan dengan kata-kata ngawur Imam Ali as. terhadap Abu Bakar dan Umar bahwa Ahlulbait tidak maksum, maka sebenarnya bukan sekedar tidak maksum, mereka itu sangat tidak berakhlak! Dan itu bisa disimpulkan bahwa riwayat-riwayat Ahlusunnah menghina Ahlulbait!

    Kalo menurut saya kok ga begitu tho, berlebihan sampean itu.. Makanya anda harus menyadari perbedaan ahlussunnah dengan syi’ah dalam memahami hadits2 Rasulullah, Syi’ah sangat berlebihan dalam mengkultuskan ahlul bait dan sangat berlebihan dalam merendahkan sahabat nabi… karena syi’ah terindoktrinasi dg dikotomi “ahlul bait” (definisi ahlul bait mereka saja sdh keliru) dan “sahabat”, seakan-akan mereka ini dulunya adalah bukan umat yang satu, tetapi dua kubu yang saling bermusuhan… akhirnya ya jadi gini…

    sedangkan ahlussunnah proporsional, memahami mereka adalah satu umat, berusaha memuliakan semuanya dan diam dari mengungkit-ungkit perselisihan diantara mereka… kenapa? karena kita terpisahkan lebih dari 1400 th dr mereka, sehingga bisa dipastikan akan gagal untuk mengadili mereka dengan adil (btw kita ini siapa? hakim mereka?)…

    Kalo anda berani merubah sedikit saja mindset anda, saya yakin anda tidak akan merasa heran ato bingung dalam memahami riwayat2 seperti di atas.

    Contoh aja ya.. kalo anda pernah hidup di negeri2 Arab anda akan sering menemui, jika terjadi perselisihan diantara mereka, anda akan melihat mereka akan berteriak-teriak dan mengeluarkan kata2 yg mungkin bagi telinga kita orang Indonesia terlalu panas dan berlebihan, tetapi satu hal yg sangat beda dgn culture kita, setelah selesai ya selesai, seperti tidak ada masalah diantara mereka, tidak ada dendam diantara mereka, sedangkan orang kita? tau sendirilah..

    Anda mungkin sering membaca perkataan2 khas Umar bin Khattab di dalam riwayat2, saya yakin anda pernah menemukan perkataan2 beliau seperti “Wahai Musuh Allah”, “Allah memerangi Fulan” padahal perkataan2 tsb beliau tujukan kepada sahabat2 beliau sendiri yang beliau anggap mereka melakukan kesalahan.. tetapi belum pernah kan kita temui, ada sahabat yg mendendam karena perkataan2 spt itu..

    seperti juga istilah “kadzib”, Al-Khaththabi berkata : ” …orang Arab menyebut istilah “kadzib” yang bermakna “keliru” dalam perkataannya. Mereka mengatakan : dusta pendengaranku, dusta pandanganku. Termasuk juga, perkataan Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam terhadap orang yang bercerita tentang madu, “Maha Benar Allah dan dusta perut saudaramu” (Aunul Ma’bud, Abadi: 2/66. lihat pula : At-Tahqiq fi Ahadits Alkhilaf, Ibnul Jauzi: 1/451)

    Jadi akhi, nilai rasa dalam setiap bahasa itu berbeda-beda.. kalo orang ajam (non arab) sekarang memaknai kata-kata yang sudah menjadi dialek orang arab saat itu akan terasa sangat beda dech rasanya…

    Dan itu semua jika anda yakin bahwa selain Rasulullah adalah tidak maksum, kalo mereka berselisih ya wajar2 ajah.. yg jelas 4 khalifah di atas akur2 aja tuch…. & yg jelas kedudukan mereka jauh di atas kita, mereka mempunyai keutamaan2 yg tidak dimiliki generasi skrg.. so kita bukanlah orang yg pantas menjadi hakim mereka, menentukan siapa yg salah ato yg benar diantara mereka.. mengkultuskan yg satu merendahkan yg lain…

    salam..

    ________________________________
    Ibnu Jakfari:

    Akhi imem, Anda menvonis bahwa pandangan:Syi’ah sangat berlebihan dalam mengkultuskan ahlul bait dan sangat berlebihan dalam merendahkan sahabat nabi… tidaklah berdasar! Hanya kesimpulan Anda saja. Apa yang anda maksud dengan berlebihan? tentunya yang layak dianggap berlebihan itu kalau mendudukan seseorang di atas kedudukan yang layak baginya…. seorang bukan nabi dikatakan nabi, misalnya! Kalau mendudukan Ahlulbait as. sesuai kedudukan yang Allah tetapkan untuk mereka apa itu menurut Anda berlebihan?

    Pandangan Syi’ah terhadap sahabat juga demikian, mereka akan menghormati yang dimuliakan Alllah karena keimanan, keta’atan dan ketulusannnya kepada Allah dan rasul-Nya! Adapun yang munafikin tentu tidak akan dihormati oleh Syi’ah! dan di antara kedua tingkatan itu ada banyak tingkatan bagi para sahabat. Semua akan didudukkan sesuai penilaian Allah dan Rasul-Nya!

    Akhi itu bukan mengadili…. kalau kalian enggan menelaah sejarah para sahabat itu sih urusan kalian! Tapi toplong tunjukan apa ada larangan mengkaji sejarah para pendahulu untuk diambil pelajaran darinya demi masa depan kehidupan beragama kita?

    Jika anda menganggap pemaknaan Ahlulbait oleh Syi’ah itu keliru, lalu menurut Anda yang benar itu gimana? (definisi ahlul bait mereka saja sdh keliru)
    Anda mema’nai kata kadzib dengan arti di atas, walaupun saya punya cacatan tentangnya (bukan sekarang waktu yang tepat untuk membebernya), akan tetapi bisakah anda mencari arti lain dari ketiga vonis Imam Ali as. atas Abu Bakar dan Umar?

    Adapun bahwa kebiasaan orang-orang Arab yang Anda jadikan tolok ukur adalah sangat aneh, bagaimana Anda menjadikan kebiasaan buruk sebagian orang Arab sebagai tolok ukur untuk Imam Ali as.? Apa Anda mau samakan akhlak Imam Ali as. dengan orang-orang Arab Saudi (juragan TKI yang tak henti-hentinya menghina orang-orang Indonesia dengan panggilan YA BAQAR! /HAI SAPI). Sungguh keterlaluan permisalan itu. Apakah Imam Ali punya akhlak serendah itu dalam mengobral kata-kata buruk dan palsu?

    tapi saya, tidak heran jika kalian menilaii Imam Ali as. seperti itu, sebab Nabi Muhammad saw. aja digambarkan dalam riwayat-riwayat Ahlusunnah sebagai orang yang tak mampu mengontro mulutnya, sehingga seenaknya saja melontarkan kutukan, caci maki dan kata-kata keji lainnya untuk orang-orang yang tidak layak!
    tapi tolong akhi, kita perbaiki penilaian kita terhadap kemuliaan nabi dan Ahlulbaitnya sesuai dengan nash-nash shahih, bukan berdasarkan doqma lama kita yang mungkin keliru!

    • @imem

      lagI-lagi logika anda (wahabi/salafi) nggak beres contohnya ucapan anda:

      dan “sahabat”, seakan-akan mereka ini dulunya adalah bukan umat yang satu, tetapi dua kubu yang saling bermusuhan…

      memang dulunya di zaman Nabi mereka bersatu karena setiap ada perselisihan, maka Nabi lah penengahnya.. tetapi setelah Nabi saw meninggalkan mereka, mereka malah berperang antar sesama kan?

      sedangkan ahlussunnah proporsional, memahami mereka adalah satu umat,….

      jadi ahlussunnah CUMAN MEMAHAMI mereka sebagai umat yang satu – WALAUPUN KENYATAANNYA MEREKA TIDAK BERSATU SEMUANYA KAN?

      hal ini anda akui secara tidak sadar

      …berusaha memuliakan semuanya dan diam dari mengungkit-ungkit perselisihan diantara mereka

      “tidak mengungki-ungkit”…… jadi sebetulnya mereka bukan umat yang satu HANYA SAJA AHLUSSUNNAH TIDAK MAU MENGUNGKIT-UNGKIT!

      coba anda pikirkan ucapan anda diatas !

  19. jadi Si Imeem…
    menyamakan Imam Ali as sama dengan Arab yg suka memperkosa TKI kita….dalam berkata…..kata….
    waduh…..
    nggak ikutan lah sama madzhab yg kaya gini….mah

  20. Iya Majikan2 TKI di Saudi banyak yg bengis2 n banyak TKW kita yg diperkosa di sana ….
    Loh kok malah ngomongin TKI sih…??

  21. Saya pingin nanya, gimana status tanah fadak setelah Khalifah di pegang oleh Ali ra. dan 12 imam maksum, berubah atau tetap statusnya.

    ___________________
    Ibnu Jakfari:

    nanti akan dibahas, Insya Allah.

  22. Mana mungkin Imam Ali as. menvonis Abu Bakar sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat itu ?.
    Yang memvonis tidak lain adalah orang2 yang se aliran dengan anda!.

    TOLONG JANGAN MEMECAH BELAH AKIDAH DAN MERACUNI KEYAKINAN UMAT ISLAM, JANGAN MEMBUAT FITNAH DENGAN MEMASUKKAN RIWAYAT2 PALSU SEBAGAI DASAR ANDA UNTUK BER ARUMENTASI.

    _______________________
    Ibnu Jakfari yaruddu:

    Akhi, saudaraku seiman, yang menyebutkan itu Imam Bukhari dan Muslim. Bukankah sudah saya sebutkan dengan jelas?!

  23. inilah kondisi ummat islam sekarang ini.. mereka sibuk menjelek-jelekkan sahabat2 nabi, para khalifah dan istri2 nabi. kalau lah benar cerita yang telah antum sampaikan berarti antum telah membuka aib saudara kita sesama muslim. bukankah rasulullah bersabda “barang siapa yang menutup aib saudaranya maka Allah SWT akan menutup aibnya di dunia dan akhirat”. dan kalau cerita antum salah maka antum telah memfitnah para sahabat dimana mereka memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. berhentilah… beruntunglah orang yang dikarenakan sibuk meneliti amal2nya sehingga tak sempat mencari-cari aib orang lain. Perbaiki saja amal antum, cobalah cek berapa kali antum berdusta dalam sehari??? sementara mereka para sahabat hampir tak pernah berkata dusta..Antum belum layak dan tidak akan pernah layak untuk memberikan penilaian terhadap mereka. Apa pandangan antum jika ada anak SD kelas 1 memberi komentar pelajaran kalkulus Kelas 3 SLTA?????

    • Hu hu hu..pintarnya berbicara tentang aib setelah tak mampu lagi berargumen. Perhatikanlah wahai ahaddin;

      (1) Siapa yg lebih dekat di sisi Nabi saw? Abu Thalib sang Pembela ataukah manusia2 di sekitar Nabi lainnya yg anda anggap sahabat? Lantas mengapa mazhab anda dengan lantangnya memvonis dan berkoar-koar bahwa Abu Thalib adalah kafir? Apakah anda2 tdk khawatir bahwa tuduhan anda ini keliru?

      (2) O jadi kelakuan buruk para sahabat itu anda akui juga? Sehingga menjadi aib bagi anda? Percayalah bahwa apa yg telah mereka lakukan dan apa yg mereka telah perbuat thd ahlulbait Nabi saw tdk membuat mereka merasa berdosa sehingga mereka akan merasa malu jika kelakuan mereka diungkit-ungkit. Bukankah yg namanya aib jika si pelaku merasa malu bila kesalahan dan dosa mereka diungkap?

      cobalah cek berapa kali antum berdusta dalam sehari??? sementara mereka para sahabat hampir tak pernah berkata dusta..

      Ck..ck..ck buka main ghuluwnya….
      Hampir tak pernah berkata dusta? Nah jika demikian anda tau bahwa mereka pernah berdusta. Coba tunjukkan ke sy jika anda memiliki riwayat bahwa para sahabat yg anda banggakan pernah berdusta?

      Salam

  24. Imem, saya suka anda menanggapi seperti itu tapi menurut saya gaya seperti itu lebih pas berhadapan dengan situs faith freedom yang berisi kaum murtadin, tolong akhi debat mereka juga, tks, wsl

  25. Emang Iran juga bersih? tuh pemilu kemaren juga rusuh..perempuan ditembakin, orang2 ditankapin..bah..Jangan berani2 bawa Ideologi Iran ke Indonesia!..atau kami tumpass..

  26. Saya mohon bagi yg sunni jng terpancing amarah sehingga kita jadi nawasib, dan saya mohon yg syiah yg masih awam (jng pakai kata2 kasar dong). cukuplah berkomentar seperti cara aki jakfari (pakai ilmu dan argumen). jng nulis sepotong2 pendek yg penuh dengan caci maki. dan tolong topiknya jng lari2. OK sekarang saya mau berkomentar.
    1. saya bertanya kepada seluruh sunni yg berilmu. APakah abu bakar dan umar maksum? klo jawaban anda tidak, maka timbul konsekwensi jawaban itu ” berarti abu bakar dan umar boleh salah dong?” selesai satu perkarakan…
    2. saya bertanya kepada sunni dan syiah, apakah ahlul bait maksum? (dikarekan setau saya dari 3 pengertian ahlul bait di kalangan sunni, ketiga2nya Ali termasuk) sehingga tidak ada masalah dengan bertanya ” apakah ahlul bait (Ali) maksum? silakan dijawab (ingat aki Imem, alQuran telah berkata tentang ahlul bait, jngan anda sembarangan menyimpulkan)..selesai perkara kedua
    3. kalau benar hadist yg dikutipkan jakfari diawal(saya blm sempat cek), ada dua kemungkinan: satu pendapat Ali benar sehingga Abu bakar dan Umar keliru (bukankah Abu bakar dan Umar bisa keliru karena mereka tidak maksum?). kedua pendapat Ali yg keliru dan Abu bakar dan Umar yg benar, yg kedua ini menimbulkan konsekwensi bahwa Ali tidak maksum. sedangkan orang syiah yakin bahwa Ali dan seluruh ahlulbait (menurut pengertian syiah) adalh maksum. sehingga orang syiah secara otomatis memilih opsi pertama untuk jawaban.
    4. bagi orang sunni, anda meragukan kemaksuman Ali, tapi anda tak mau sedikitpun abu bakar dan umar tercela. klo anda yakin abu bakar dan umar tidak maksum, maka anda harus bisa menerima bahwa suatu ketika mereka berdua melakukan kesalahan. jadi jangan selalu pandang pendapat yg menyalahkan abu bkar atau umar atau ustman sebagai pendapat munkar. karena toh menurut ilmu anda bahwa mereka tidak maksum (boleh salah)
    5. mengenai kemaksuman ahlul bait coba anda baca surat al ahzab, disana terang ayat yg menyatakannya. anda tak dapat membantah walau secuilpun. karena dalam tafsiran apapun tentang ahlul bait rasul, ali, fatimah, hasan dan husain pasti ikut, cuma masalahnya ada yg menambah, keluarga jakfar, atau ada juga yg menyatakan tambahan istri2 beliau.

    demikianlah telaahan saya, saya mohon yg menagggapi jng pake hati yg panas..jawablah dengan nash atau dengan logika yang dapat diterima.
    wassalam

  27. Saya merasa saya sunni yg mencoba membersihkan diri saya dari doktrin2 nawasib (tapi terus terang saya juga tidak setuju full dengan syiah dalam beberapa cabang furuq). saya berpendapat bahwa orang sunni tidak bolh mengkafirkan syiah imamiayah karena perbedaan kita bukan masalah Aqidah. Dan insya Allah saya sudah banyak menyadari sedikit banyaknya bahwa ulama2 dikalangan ahlussunaah banyak yg tercemar fikiran nawasib (walaupun tidak sampai mencaci maki Ali).
    Pandangan saya:
    1. Sebaiknya kita yg mengaku ahlussunah mengembalikan HAq2 Ahlul bait yg telah kita lalaikan. Karena didalam Alquraan, Nabi hanya meminta Imbalan beliau sebagai rasul adalah haq atas ahlul baitnya. kemana ulama sunni mencampakkan Haq Ahlul bait selama ini sehingga Imam Bukhari hanya meriwayatkan kurang dari 50 hadist dari Ali, padahal dilain fihak kita mensahihkan hadist tentang ” Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintu ilmu”. bagai mana mungkin Imam bukhari meninggalkan si pintu Ilmu (Imam bukhari juga manusia biasa yg tidak maksum..menurut saya beliau melakukan kesalahan disana)
    2. Ada beberapa kenyataan tentang perselisihan antara ahlul bait (Ali) dengan sahabat2 lain (seperti Abu bakar, Umar dan Ustman dll). dan perselisihan ini tak terbantahkan (dan tak perlu coba disembunyikan). konsekwensinya setiap orang harus memilih mengikuti pendapat siapa? barang siapa memilih kubu A maka otomatis dia menolak pendapat Kubu B dan sebaliknya. Menurut saya, seorang Sunni tidak harus melulu membenarkan pendapat Abu bakar (hanya karena syiah menyalahkannnya). kita seharusnya objektif jangan menjadi kontra syiah. klo syiah bilang A (walaupun benar) kita tidak harus memilih B (dan berusaha menambali dengan kebohongan). katakanlah yg benar itu benar dan yang salah itu salah meski dari orang2 yg selama ini kita anggap musuh (bahkan dari iblis..ingat hadist abu hurairah).
    3. Akhirnya saya berpendapat. bahwa dalam masalah kekhalifahan setelah nabi, yg lebih berhak adalah Ali (setelah menelusuri sejarah..insya Allah saya benar).
    4. Tapi dengan pengambil alihan kekhalifahan tersebut (mengambil Haq Ahlul bait) maka setiap orang akan menerima konsekwensinya, Allah bisa memaafkan dan bisa juga membalasnya karena perbuatan itu bukan perbuatan syirik. Janganlah kita menutupi sesuatu yg salah karena konsekwensinya kita akan menyakiti orang2 yg benar. cukup katakan si fulan keliru dan si fulan benar..tanpa tentunya mencaci maki mereka yg terpilih diantara yg pilihan.

    Akhirnya saya puas..
    wassalam

  28. Saya sependapat dengan tulisan saudara valson….
    Biarlah masa lalu menjadi sejarah….tidak perlu generasi yang di belakang menyesalinya….

Tinggalkan Balasan