Potret Sang Nabi Mulia saw Dalam Hadis Bukhari (4) Astaghfirullah Tuduhan Nabi Saw Berusaha Bunuh Diri?! [2]

Nabi Muhammad Saw. Berniat Bunuh Diri Karena Stres Berat!

.

Artikel dibawah adalah sambungan (bagian ke ll)  dari artikel kami sebelumnya “Nabi Muhammad Saw. Dan Awal Prosesi Pelantikan Kenabian Dalam Gambaran Bukhari (BAGIAN I)

________________

Imam Bukhari meriwayatkan dalan kitab Shahih-nya; Kitabu at Ta’bîr,8/67:

.

وفَتَرَ الوحي فترةً حتى حزن النبي(ص) فيما بلغنا حزناً غدا منهمراراً كي يتردى من رؤس شواهق الجبال! فكلما أوفى بذِرْوَة جبل لكي يلقيمنه نفسه ، تبدَّى له جبريل فقال يا محمد إنك رسول الله حقاً ، فيسكن لذلكجأشه وتقرُّ نفسه فيرجع . فإذا طالت عليه فترة الوحي غدا لمثل ذلك فإذاأوفى بذروة جبل تبدَّى له جبريل فقال له مثل ذلك!!

“Dan berhentilah wahyu (tidak turun lagi) untuk beberapa waktu, sehingga Nabi saw. bersedih –sesuai riwayat yang sampai kepada kami- dengan kesedihan yang sangat sehingga berkali-kali berusaha melemparkan dirinya dari puncak gunung-gunung tinggi! Dan setiap kali beliau sampai di puncak gunung untuk melemparkan dirinya dari puncaknya, malaikat Jibril menampakkan diri kepadanya dan berkata, “Hai Muhammad, sesungguhnya engkau adalah benar-benar utusan (Rasul) Allah.” Maka tenanglah dan tentramlah hati dan jiwa beliau lalu beliau pulang”.

Dan jika panjang fatratul wahyi (waktu terputusnya wahyu) beliau kembali seperti semula (ingin melemparkan diri dari puncak gunung)! Dan ketika beliau sampai di puncak gunug Jibril kembali lagi menampakkan dirinya dan berkata yang sama seperti pada kali-kali sebelumnya!.”

.

Inilah riwayat Bukhari (kitab tershahih setelah Al Qur’an dan yang diyakini seluruh hadis di dalamnya adalah shahih dan barang siapa meragukannya maka ia telah keluar dari jalan kaum mukminin) yang menggambarkan Nabi mulia kita sebagai seorang yang stress berat sehingga tidak mampu mengontrol jiwanya dan selalu berusaha mau bunuh diri dengan melemparkan diri dari puncak gunung! Semua itu dikarenakan wahyu terlambat turun!

Kendati para ulama Sunni meyakini keshahihan dan keagungan kitab Shahih Bukhari dan mengimani seluruh hadisnya adalah shahih, namun terkait dengan kasus riwayat di atas, tidak sedikit dari ulama Sunni yang kebingungan sehingga berusaha mati-matian memeras pikiran dan keahlian mereka dalam mencari-carikan seribu satu alasan untuk menyelamatkan Imam Bukhari (bukan menyelamatkan Nabi mulia Muhammad ssaw., maaf!!) dan mempertahankan kewibawaan ketokohon dan kehebatan kitab Shahaih-nya.

Memang dengan memuat riwayat di atas Imam besar Ahlusunnah; Imam Bukhari telah membuat para pensyarah kelabakan dan kebingunan… namun mereka pasti tidak kehilangan akal untuk mengatakan bahwa kendati Imam Bukhari meriwayatkan dongeng konyol diatas tetap saja wibawa Shahih Bukhari tidak tergorahkan!

Mengapa? Sebab riwayat yang diyakini sebagai shahih yang karenanya kitab tersebut diyakini sebagai kitab yang seluruh hadisnya SHAHIH miah bil miah, seratus persen adalah khusus untuk hadis/riwayat yang musnad (memiliki sanad bersambung)! Sementara hadis di atas – kata mereka- tidak lain hanyalah informasi yang diterima az Zuhri dan kemudian ia sampaikan dengan tanpa sanad… ia hanya berkata, “fîmâ balaghanâ/sesuai riwayat yang sampai kepada kami.

Jadi –kata mereka- keberadaan riwayat seperti di atas yang menggambarkan Nabi mulia Muhammad saw. mau bunuh diri…. sama sekali tidak merusak keanggunan dan keshahihan kitab Shahih Bukhari!

Walaupun anehnya, Ibnu Hajar –pensyarah yang paling getol menyelamatkan kewibawaan Bukhari dan kitab Shahih-nya- terpaksa menyebutkan data-data yang memperkuat bahwa dongeng niatan Nabi saw. untuk bunuh diri itu termasuk dalam riwayat az Zuhri yang ia nukil dengan sanad bersambung dari Aisyah-istri Nabi saw.- kendati kemudian ia tidak menggubrisnya tanpa alasan yang jelas!

Coba perhatikan keterangan Ibnu Hajar di bawah ini:

.

ووقع عند ابن مردويه في التفسير من طريق محمد بن كثير عن معمر بإسقاط قوله فيما بلغنا، ولفظه : فترةً حزن النبي(ص)منها حزناً غدا منه.. إلى آخره ، فصار كله مدرجاً على رواية الزهري، عن عروة ، عن عائشة

“Dan dalam riwayat Ibnu Mardawaih dalam tafsir dari jalur Muhammad ibn Katsîr dari Ma’mar dengan tanpa kalimat “fîmâ balaghanâ/sesuai riwayat yang sampai kepada kami. Redaksinya sebagai berikut: ” … wahyu terputus beberapa waktu yang mana Nabi menjadi sedih dengan kesedihan yang sangat sehinggga….” Dan seluruhnya menjadi satu dalam riwayat az Zuhri dari Urwah dari Aisyah. [1]

Adapun keberatan Ibnu Hajar atas data di atas dan kecenderungannya untuk mengatakan bahwa dongeng itu bukan bersambung dengan sanad di atas adalah kecenderungan yang tidak ia dukung dengan dalil dan bukti…. Bukankah banyaknya bukti dari riwayat para ulama lain seperti Ibnu Mardawaih bahwa tambahan dongen itu bersambung dengan sanad di atas yaitu az Zuhri dari ‘Urwsah dari Aisyah sangat banyak dan kuat!

Selain itu, bukankah Ibnu Hajar sendiri telah menyebutkan dan menguatkan riwayat Ibnu Sa’ad dengan sanad bersambung kepada sahabat Ibnu Abbas ra. dengan redaksi berikut ini:

.

مكث أياماً بعد مجئ الوحي لا يرى جبريل، فحزن حزناً شديداً حتى كاد يغدو إلى ثبير مرة وإلى حراء أخرى ، يريد أنيلقي نفسه ، فبينا هو كذلك عامداً لبعض تلك الجبال إذ سمع أنت رسول اللهحقاً وأنا جبريل ، فانصرف وقد أقر الله عينه وانبسط جأشه ، ثم تتابع الوحي

.

“Dan Nabi tinggal beberapa hari setelah datangnya wahyu tidak melihat Jibril kembali, lalu beliau sedih dengan kesedihan yang sangat sampai-sampai beliau sesekali bermaksud mendatangi gunung Tsabîr dan sesekali hendak mendatangi gua Hirâ’ untuk melemparkan diri darinya. Lau ketika beliau bermaksud demikian dan mendatangi sebagian gunung itu beliau mendengar suara:”Engkau benar-benar adalah Rasul Allah dan aku adalah Jibril” maka beliau pergi dan Allah telah menenangkan jiwanya. Lalu setelah itu wahyu lancer turun.”

Dan hadis riwayat Ibnu Sa’ad yang disinggung oleh Ibnu Hajar itu dapat Anda temukan dalam kitab ath Thabaqât-nya,1/196 dengan sanad sebagai berikut: dari az Zuhri dari Urwah dari Aisyah, sebagaimana dapat Anda temukan dalam riwayat ath Thabarai dalam Târîkh-nya,2/47 dan juga dalam Tafsir-nya,30/317.[2]

Lagi pula andai benar seperti hemat Ibnu Hajar bahwa dongeng itu adalah tambahan dari az Zuhri tidak melaui sanad di atas, akan tetapi bukankah ia shahih menurut Imam Bukhari?! Buktinya ia pun mengoleksinya dalam kitab Shahih kebanggaannya yang katanya ia memuatnya setelah melalui seleksi ketat dari ratusan ribu hadis shahih!

*****

Di sini seperti telah disinggung, mereka hanya sibuk menyelamatkan Bukhrai dan kitab Shahihnya! Adapaun Nabi saw. dilecehkan dan digambarkan sehina itu…. Adapun membela Nabi saw. sepertinya bukan tanggung jawab dan urusan ulama Sunni!

Anda dapat membaca Fathul Bâri, bagaimana Ibnu Hajar al Asqallâni ketika mensyarahkan hadis di atas hanya sibuk meneliti dan mengungkap hal-hal sepele yang sama sekali tidak berarti dan tidak satu kata pun membela Nabi saw. yang sedang dihinakan dalam hadis Bukhari di atas!

Dongeng Palsu Versi Imam Bukhari Menjadi Dasar Doqma Akidah Ahlusunnah

Apapun kata ulama dan pensyarah kitab Shahih Bukhari yang berusaha dengan segala cara menyelamatkan Imam Bukhari dan kitab Shahih-nya tentang dongeng niatan Nabi saw. untuk bunuh diri… yang pasti kini dongeng itu benar-benar telah menjadi kayakinan yang diterima dengan tanpa keberatan oleh para tokoh dan ulama Ahlusunnah dan telah mengakar menjadi doqma yang wajib diterima.

Dongeng Palsu Itu Menjadi Data Andalan Para Sejarawan Sunni

Para ulama dan penulis sejarah ketika berbicara tentang awal proses penurunan wahyu dan masa fatratul wahyi tidak akan ketinggalan menyajikan dongeng utama Sirah dan pasti akan memaksa Anda untuk meyakininya sebagai bagian dari kesetiaan terhadap konsep kesunnian… jika tidak bias jadi akan diragukan kesunian Anda!

Anda dapat membuka kitab Sirah Nabi saw. karya Mufti Besar Sunni (Syafi’iyah) di masanya, Syeikh Zaini Dahlan atau kitab Hayâtu Muhammad karya Cendikiawan Muslim kebanggan Sunni Muhammad Husain Haikal atau Fiqhu Sîrah karya ulama dan pemikir hebat Sunni Syeikh Sa’îd Ramâdhan al Bûthidi sana Anda pasti menemukan mereka menyebutkan deongeng itu dari riwayat Bukhari dan lainnya sebagai sebuah kebenaran pasti yang tidak perlu diiperdebatkan!

Syeikh Zaini Dahlan berkata, “Maka Nabi saw. besedih dengan kesedihan yang sangat sehingga berkali-kali berniat untuk melemparkan diri dari puncak gunung. Dan setiap kali ia sampai di puncak gunung untuk melempaskan diri, Jibril as. menampakkan dirinya dan berkata, ‘Engkau benar-benar adalah utusan Allah.’ Maka tenanglah jwa beliau dan pulanglah beliau. Lalu jika lama masa kefakuman wahyu beliau kembali lagi untuk berusaha melemparkan diri dari puncak gunung dan sekali lagi Jibril pun datang dan berkata yang sama.

Dan dalam kitab Fathu al Bâri disebutkan bahwa masa fatratul wahyi itu berlangsung selama tiga tahun. As Suhaili memastikan bahwa ia berlangsung selama dua tahun…. [3]

Haikal dengan gaya bahasa menawan berusaha meyakinkan pembacanya akan kebenaran dongeng yang menggambarkan kondisi betapa labilnya jiwa Nabi saw. di saat wahyu terputus dan Jibril tidak lagi kunjung datang! Haikal berkata,Dikatakan bahwa Nabi saw. berfikir untuk melemparkan diri dari puncak gung Hira’ atau gunung Abu Qubais.[4]

Adapun Syeikh Sa’id Ramâdhan al Bûthi dengan tegas mengatakan bahwa adalah ketetapan hikmah ilahiah untuk memutus wahyu beberapa waktu yang cukup panjang agar kegelisahan menguasai jiwa Nabi saw. kemudian kegelisahan itu berubah menjadi rasa takut bahwa Allah telah menelantarkannya setelah sebeulumnya hendak memuliakannya, mungkin karena kesalahan yang pernah ia lakukan sampai dunia yang lebar ini menjadi sempit di mata Nabi saw. yang kemudian mendorongnya untuk nekad mengakhiri hidupnya dengan melemparkan diri dari puncak gunung![5]

Dari tiga kutipan di atas, dan tentunya ia hanya sekedar contoh semata,Anda dapat memahami betapa riwayat Imam nomer Satu Sunni itu benar-benar telah mendarah daging dalam doqma Sunni dan pikiran para ulama’nya!

Dongeng Palsu Itu Juga Menjadi Bahan Utama Para Ahli Tafsir Sunni

Selain ahli sejarah Sunni, para tokoh dan imam tafsir Sunni juga menjadikan dongeng palsu di atas sebagai bahan utama ulasan mereka ketika mereka berbicara tentang tafsir surah al ‘Alaq (surah pertama yang turun kepada Nabi saw.) tidak terkecuali para ulama yang biasanya ketat dalam meneliti dan menyeleksi riwayat-riwayat seperti Syeikh Muhammad Abduh.

Tidak mungkin menyebutkan komentar mereka semua dalam kesempatan ini. Sekali lagi kami hanya akan membawakan beberapa contoh dari para mufassir agar dapat dijadikan barometer betapa dongeng itu telah menodai kesucian dunia tafsir Sunni pula.

Ibnu Katsir, -setelah menyebutkan riwayat awal proses penerimaan wahyu dan niatan serius Nabi saw. untuk bunuh diri  dari riwayat Ahmad-, mengatakan, “Dan hadir ini telah diriwayatkan dalam dua kitab Shahih (Bukhari dan Muslim) dari hadis az Zuhri.[6]

Imam al Baghawi dalam tafsir Ma’âlim at Tanzîl-nya dan Allamah al Khâzin dalam tafsir Lubâb at Ta’wîl-nya menyebutkan riwayat Bukhari dan mengandalkannya dalam panafsiran ayat dan menyimpulkan darinya beberapa kesimpulan, sebagai bukti bahwa riwayat itu dalam pandangaan mereka tidak perlu dipermasalahkan.[7]

Begitu juga dengan Syeikh Muhammad Abduh, ia mengawali tafsir surah ini dengan mengatakan, “Telah shahih riwayat-riwayat bahwa Nabi saw. pertama kali menyaksikan malaikat menyampaikan wahyu, ia berkata kepadanya, Bacalah” maka Rasulullah saw berkata, ‘Aku bukan orang yang bisa membaca…. (kemudian ia melanjutkan): Perawi berkata, “Maka Nabi saw pulang dengan jiwa berdebar dan menemui Khadijah .. dan hadisnya panjang dan di dalamnya terdapat: “Dan setelah itu wahyu terputus beberapa waktu, Nabi bersedih dengan kesedihan yang sangat sehingga beliau berkali-kali untuk mellemparkan diri dari puncak gunung, akan tetapi penampakan malaikat dan mengabarannya bahwa ia adalah utusan Allah mencegahnya dari melaksakan niatannya itu….[8]

Di sini, Anda berhak bertanya-tanya:

  • Mungkihkan Allah SWT tidak mampu meyakinkan kekasih dan hamba kesayangan-Nya Muhammad saw bahwa ia sekarang telah menjadi Nabi dan Rasul utusan Allah?!
  • Mungkinkah Allah berlaku zalim terhadap Nabi kecintaan-Nya yang baru saja Ia turuni wahyu lalu tiba-tiba disengaja wahyu itu Ia putus agar membuatnya kehilangan akal sehatnya dan akhirnya berusaha berkali-kali mau bunuh diri?
  • Jika Nabi Muhammad saw. saja yang menyaksikan langsung kedatangan malaikat Jibril utusan Allah untuk membawa wahyu-Nya kepada nabi dan rasul-Nya tidak mampu yakin bahwa yang datang itu adalah Jibril dan sekarang dirinya adalah Rasul Allah, lalu bagaimana mungkin Allah memaksa umat manusia untuk mengimani Muhammad sebagai nabi dan utusan Allah dan bahwa yang datang kepadanya itu adalah Jibril membawa wahyu Allah bukan setan, sementara kita tidak menyaksikannya dan tidak pula merasakannya?
  • Para ulama Sunni membenarkan adanya keraguan dalam jiwa Nabi Muhammad saw. tentang apa yang datang kepadanya. Lalu apakah Anda –wahau saudara Sunniku- juga sependapat dengan mereka?

[1] Fathu al Bâri,12/316.

[2] Dan riwayat Ibnu Sa’ad dan ath Thabari di atas justeru memperparah masalah, sebab kendati Allah telah menenangkan jiwa Nabi saw., tetap saja beliau berontak dan berniat untuk bunuh diri!

[3] Sirah Nabawiyah, Syeikh Mufti Syafi’iyah; Ahmad Zaini Dahlan, (dicetak dipinggir kitab as Sirah al Halâbiyah,1/163. Ter.al Maktabah al Islamiyah. Beirut.

[4] Hayât Muhammad:98.

[5] Baca Fiqhu as Sîrah:70.

[6] Tafsir al Qurân al Al ‘Adzîm; Ibnu Katsiîr,4/527-528.

[7] Kedua tafsir itu dicetak menjadi satu. Lihat,7/267-268

[8] TAfsir Juz Ammâ; Syeikh Muhammad Abduh:122-123. cet. Mesir. Tahun 1341 H.

*********************

ARTIKEL TERKAIT SEBELUMNYA

  1. Potret Sang Nabi Mulia Dalam Hadis Bukhari! (1) Tanggapan Atas Fitnah Blog “Haula Syi’ah” dan Wahabiyah Salafiyah Lainnya – Nabi saw. Menghukum dengan Hukuman Sadis dan Mencincang kaum Muslim
  2. Potret Sang Nabi Mulia Dalam Hadis Bukhari (2) Nabi saw. Menggilir Sembilan Istri beliau Dalam Satu Malam Dengan Sekali Mandi!
  3. Potret Sang Nabi Mulia Dalam Hadis Bukhari (3) Astaghfirullah Tuduhan Nabi Saw Berusaha Bunuh Diri?!
  4. Potret Sang Nabi Mulia Dalam Hadis Bukhari (4) Asataghfirullah tuduhan Nabi Muhammad saw tidak adil terhadap istri-istri beliau
About these ads

6 Tanggapan

  1. apakah kita tidak peka selama ini perlakuan imam kita Bukhori terhadap Nabi Agung kita.
    Atau memang sudah demikian kepercayaan muslimin seperti apa yg digambarkan oleh imam bukhori.
    Disini para arif bijak harus memberi jawaban atas persoalan besar ini yg sangat mengganggu kesucian Nabi kita.
    saya tunggu ……………………..

  2. nabi juga kalian hina dan lecehkan bahis habisan..
    riwayat-riwayat kalian (Suni) akan menjadi bahan empuk musuh musuh islam menghinakan dan melecehkan kemuliaan nabi islam…..
    pastilah salman rusydi dapat bahan banyak dari kitab-kitabnya suni seperti bukhari, muslim dll yang katanya mewakili islam suni tapi akhirnya islam yang murni jadi bulan-bulanan musuh-mush islam….
    anjuran saya ulama suni harus punya keberanian mengatakan bahwa hadis-hadis seperti itu palus walaupun ada dalam bukhari!
    memangnya bukhari nabi tidak bisa salah atau ngelantur atau terpengaruh bisakan setan

  3. Kekeliruan para agamawan-ulama-pendeta-rahib mempercayai Taurat,-Zabur-Injil-Qur’an sebagai kitab suci (kitab sabda suci Alloh) yang memiliki kebenaran mutlak menurut bunyi tertulis ayat-ayatnya. Itu bertentangan dengan, Asyuro 51 yang menerangkan bahwa Alloh tidak berkata-kata dengan manusia, melainkan dengan perantaraan wahyu (ilham akal) atau dibalik tabir (alam peragaan = alamraya) atau melalui utusan. Sekaligus ayat itu menyiratkan bahwa, Taurat, Zabur, Injil, Qur’an adalah murni karya Rosul pembawanya sendiri, hasil ilham dari Alloh, lalu diilhamkan kepada manusia sebagai petunjuk jalan lurus.
    Kalau Qur’an hanya menyebutkan 4 kitab, bukan berati para Rosul lainnya tidak mempunyai karya tulis, tetapi ada alasan lain. 4 kitab yang disebutkan adalah yang paling memenuhi kelengkapan syarat dimensi (seperti yang dirumuskan Paul Dirac x = 0 dengan fungsi delta tak terbatas) atau “peralihan 3 dimensi ruang menghasilkan 1 ruang bayangan cermin dalam kesatuan khusus 3 dimensi. Taurat = kitab petunjuk ilmu, Zabur = kitab panduan teknologi, Injil = kitab petunjuk hukum, dan Qur’an = kitab petunjuk kosmologi, sebagai bayangan cermin yang mengisi 3 kitab pendahulunya.
    Dengan kata lain, peralihan ilmu-teknologi-hukum menghasilkan 1-ruang bayangan cermin dalam kesatuan khusus 3-dimensi. Artinya dalam pola simetri, 4-kitab petunjuk itu membangun simetri tingkat delta atau pasangan akhir. Taurat (delta-nol), Zabur (delta-plus), Injil (delta-minus), dan Qur’an adalah bayangan cermin (delta-dua-plus) sebagai kitab petunjuk yang isinya mencakup Injil-Zabur-Taurat dengan moral akal pengasih penyayang (bismillaahir rohmaanir rohiim), sehingga menjadi ajaran yang penuh damai.
    Jadi, kalau sekarang agama terpecah-pecah, karena yang diimaninya bukan kitab-kitab tersebut, tetapi justru keluarannya. Pengikut Rosul Musa dan Rosul Daud, mengimani exodus, pengikut Rosul Isa mengimani bibble, dan pengikut Rosul Muhammad mengimani hadist. Akibatnya semua agama mengimani Tuhan yang berbeda (walaupun namanya sama). Bahkan dalam satu agama pun terpech-pecah pula. Sebagai contoh, dalam agama Islam yang merupakan mayoritas Penduduk negeri ini, ada banyak aliran, seperti NU, Muhammadyah, Persis, Naksabandyah dan lainnya. Itu karena perbedaan pemahaman/penggunaan hadist yang di percayainya. Padahal kalau Qur’an yang diimani sebagai kitab petunjuk Rosul, maka Islam adalah satu peradaban yang membawa kepada ketuhanan yang satu.
    Kalau anda membaca keterangan dalam pengantar Qur’an terjemahan Depag RI halaman 114 di sana tertulis : Pada mulanya hadits tidak dikumpulkan seperti al-Qur’aanul Karim, karena banyak ucapan-ucapan Rosululloh yang maksudnya melarang membukukan hadits. Larangan itu antara lain tersebut dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Said Al-Qhudri yang berkata : “Bersabda Rosululloh s,a,w : Jangan kamu tuliskan ucapan-ucapanku , Siapa yang menuliskan ucapanku selain Al-Qur’aan, hendaklah dihapuskan, dan kamu boleh meriwayatkan perkataan-perkataan ini. Siapa yang dengan sengaja berdusta terhadapku, maka tempatnya adalah neraka.
    Dari keterangan di atas, Rosul Muhammad menyuruh menghapus hadits. Alasannya jelas hadits itu bukan penjabaran Rosul Muhammad dari Qur’an atas petunjuk Alloh langsung, melainkan penjabaran para akhli kitab (ulama-politisi Arab-Yhudi) karena meyakini Qur’an sebagai kitab suci sabda Alloh. Padahal pada Alhaaqqoh 40-42 Rosul Muhammad sendiri memberitahu bahwa : Sesungguhnya Qur’an itu perkataan Rosul yang mulia, bukan perkataan penyair dan bukan perkataan tukang sihir, (tetapi puisi alam sebagai petunjuk akar ilmu penciptaan atau kosmologi–ilmu asal kejadian segala sesuatu–).
    Kenyataannya para ahli kitab di Mekah tetap menolak Qur’an karena mereka hanya mau menerima jika Qur’an sebagai sabda suci Alloh. Para ahli kitab Yahudi mengkotakpandorakan Taurot, dan mengganti dengan kitab keluarannya yang disebut Exodus, mereka juga mengkotakpandorakan Injil, dan mengganti dengan kitab perjanjiannya yang disebut Bibble. Karena itu untuk menjaga kelestarian Qur’an agar tidak disembunyikan, Rosul Muhammad menjelang wafatnya telah menyampaikan dua amanat : 1. Kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, selama berpegang pada dua pusaka, yaitu Alqur’an dan sunahku (hukum qisos disiplin ilmu = hukum sebab akibat); 2. Jangan menuliskan sesuatu yang lain dari aku kecuali Qur’an.
    Tetapi ternyata Muawiyyah dan Abasiyyah telah memanfaatkan penolakan para ahli kitab terhadap Qur’an untuk kepentingan politiknya. Dalam menjalankan langkah-langkah politiknya untuk mendapat dukungan massa Muawiyyah dan Abasiyyah dengan cara memanipulasi kebenaran, mereka saling mendukung dalam mengubah status Qur’an sebagai karya Rosul Muhammad menjadi sabda Alloh (kitab dari langit). Lalu mereka mengarang ribuan hadits dari ayat-ayat Qur’an yang mudah dicerna, dan dinyatakan sebagai penjabaran Rosul atas petunjuk Alloh. Mereka mengambil nama para sahabat dekat Rosul yang sudah wafat sebagai para rawinya yang mengkultuskan diri Rosul Muhammad, agar dipercaya. Itulah pengkotakpandoraan Qur’an.
    Tidak kepalang tanggung, mereka juga menyusun riwayat hidup Rosul Muhammad sejak lahir. Dan di antara langkah langkah perjuangan Rosul Muhammad diselipkan para wanita yang dikawini seperti kebiasaan pemimpin suku di Mekah sebagai raja-raja kecil beristeri puluhan untuk pemuas syahwat dan ego kelelakiannya. Banyak isteri itu diperlukan untuk bahan hadits, sebab dalam Qur’an banyak ayat yang menyebut isteri nabi. Dengan mengangkat Qur’an menjadi sabda suci Alloh, maka sebutan ‘kamu’ Dari Rosul Muhammad kepada para nabi dan manusia umumnya, otomatis jadi teguran Alloh kepada Rosul Muhammad. Maka Rosul Muhammad menjadi Rosul bebal, bersyahwat maniak, diskriminatif hasil pilih kasih (ketidakadilan) Alloh, karena hadits dinyatakan sebagai sunah Rosul Muhammad.
    Tentu saja, untuk memuluskan tujuannya, politik menghalalkan segala cara. Muawiyyah-Abasiyyah menyanjung Rosul Muhammad setinggi langit, sehingga mendapat dukungan semua ahli kitab dan mayoritas masyarakat. Akhirnya system kekholifahan Madinah kalah pamor. Sejak saat itu peradaban Islam berubah bentuk menjadi agama Islam dengan system pemerintahan Monarki (kerajaan), dan para ahli kitab (yang doyan poligami) dijadikan penasihat raja. Dengan demikian, lengkaplah impian lelaki dengan haremnya.
    Hadits penghinaan terhadap Rosul Muhammad
    Kalau kita melihat produk jadi hadist yang diimani para ulama Islam sekarang, sebenarnya merupakan penghianatan terhadap Rosulnya. Betapa tidak, hadits yang merupakan hasil karya para ahli kitab Arab-Yahudi telah melecehkan Muhammad sebagai rosul bebal bersyahwat maniak yang diskriminatif. Padahal semua rosul yang diangkat oleh Tuhan (Hukum) adalah manusia-manusia teladan bagi seluruh manusia di jamanny, karena sudah membuang ‘rasa’(syahwat, angkara, pamrih, ambisi). Rosul itu orang suci, sehingga mampu menemukan amanah-amanah Alloh langsung dari ufuk alam fana.
    Banyak contoh hadist yang nyata-nyata merupakan penghinaan terhadap Rosulnya, tetapi para ulama Islam langsung mengimaninya tanpa koreksi, hal itu terjadi karena mereka telah menutup diri terhadap akal dengan keimanan taklidnya, yang kemudian diturunkan pula pada pengikut-pengikutnya sampai sekarang. Hadits-hadits itu di antaranya : Hadits Isro-Mi’roj misalnya, terlihat jelas bahwa kisah itu hasil rekayasa orang Israil untuk menunjukan kebenaran agama Yahudi yang konon katanya, penganut agama itu dipastikan masuk Syurga, dan Rosul Musa sebagai penentu ritual sholat agama Islam yang direstui Alloh. Semetara Rosul Muhammad tidak lebih dari rosul bebal bersyahwat maniak yang tidak punya pendirian samasekali. Sebab seluruh perjalanan menghadap Alloh untuk menerima tugas kerosulannya dipersiapkan Jibril, dan kewajiban ritual penyembahan agamanya diatur rosul bangsa Israil yang berotak paling cerdas.
    Karena Alloh mengetahu Rosul Muhammad itu tidak mampu menahan nafsu syahwat (dongeng hadits menyatakan istri Rosul Muhammad 9 orang, bahkan hadis lain menyatakan 12 orang ), maka Dia menyuruh Jibril menyediakan burok (wanita bernafsu kuda) untuk dijadikan tunggangan dalam perjalanan ke Sidrotul Muntaha itu. Dan dengan kata sakti ‘kun fayakun’ Alloh menghapus hukum ruang untuk melancarkan perjalanan calon rosul terkasih-Nya itu.
    Karena agama Yahudi dan baitul Makdis (Betlehem = Masjid Aqsho) yang direstui Alloh sebagai kiblat para Rosul berada di Yerusalem, sebelum naik (mi’roj ) ke Sidrotil Muntaha, Rosul Muhammad diwajibkan mengunjungi kiblat itu dulu dipandu oleh Jibril, sang pelayan Rosul. Lalu dalam perjalanan naik, dari langit ke-1 hingga langit ke-6 dia bertemu dengan para Rosul pendahulunya (yang telah wafat) untuk memperoleh informasi tentang tugas kerosulannya.
    Informasi paling penting adalah dari langit ke-6, karena Muhammad ingin penganut ajarannya jadi penghuni syurga seperti penganut agama Yahudi. Maka Rosul Musa berpesan, jika telah bertemu Alloh dan menerima perintahnya, Muhammad harus menemui dirinya lagi untuk mempertimbangkan perintah itu. Ketika menerima perintah menyembah Alloh 50 kali sehari-semalam, tentu saja Rosul Musa menyatakan terlalu berat, Maka Rosul Musa menyuruh Muhammad rekes untuk minta keringanan. Sampai 9 kali Muhammad harus bolak-balik atas suruhan Rosul Musa. Dengan demikian hadits ini menggambarkan bahwa Rosul Muhammad tidak lebih dari orang bodoh yang tidak berkemampuan.
    Sementara buku yang ditulis oleh Dr. Madjid Ali Khan yang berjudul “Muhammad saw, Rosul terakhir“ Penerbit Pustaka Bandung terjemahan dari “Muhammad The Final Messenger“. Menyebutkan pada bulan yang bersamaan dengan wafatnya Khodijah, Muhammad menikahi Saudah lalu dengan Aisyah (Syawal 620 M). Isro Mi’raj-terjadi tahun 621 M. Hijrah ke Yatsrib tahun 622 M. Menikahi Zainab binti Khuzaimah tahun 625 M. Menikahi Umu Salmah tahun 626 M. Menikahi Juwariah tahun 627 M. Menikahi Zainab binti Yahsy tahun 627 M. Menikahi Syofiah tahun 628 M. Menikahi. Berumah tangga (kumpul kebo) dengan Ummu Habibah tahun 628 M. Menikahi Maemunah tahun 629 M. Rosul Muhammad wafat tahun 632 M (jumlah isteri 11 dengan Khodijah).
    Dalam riwayat perkawinan itu tidak tercantum Maria Qibtiah yang melahirkan Ibrohim (628 M) dari Muhammad. Sebab Maria hanya sahaya milik Muhammad (pasti dijabarkan dari Annisaa’ 3). Dengan Ummu Habibah disebut kumpul kebo, karena yang melakukan pernikahannya Raja Negus (kawin politik), baru diserahkan kepada Rosul Muhammad. Artinya menurut moral, percampuran Rosul Muhammad dengan 2 wanita itu adalah perzinahan. Naudubillahi min dzalik, suatu fitnah yang keji.
    Masih banyak cerita prilaku tidak genah para isteri Rosul Muhammad dalam hadits, namun ironisnya para ulama mengimaninya. Bahkan buku Ali Khan ini dipuji para ulama sebagai buku yang hebat, bahkan pada awal pengantarnya dikatakan sebagai pemenang sayembara internasional tahun 1978 di Mekah dengan jurinya para Sheik jumhur. Tidak heran jika citra Rosul Muhammad menjadi buruk di dalam pandangan agama lain, bahkan orang Islam pun, jika berfikir netral, maka prilaku yang digambarkan dalam hadits itu adalah prilaku yang bertentangan dengan moral. Pertanyaannya, patutkah kita sebagai orang Islam mempercayai hadits sebagai sunah rosul ?

  4. Kalian orang SYIAH memang tak berhenti memerangi islam, gak perlu banyak argumen, sejak dahulu kami sudah tau siapa kalian.
    kalian orang khawarij sebenarnya.

  5. [...] Mau lebih jelas dan gamblangnya Klik Di Sini dan klik juga sambungannya Di Sini [...]

  6. Saya sudah memeriksa di dalam kitab shahih bukhari, tidak ada nash hadist seperti yang ditulis dalam artikel ini. Artikel ini kepunyaan orang-orang bodoh yang suka membuat fitnah. Saran saya kepada pembaca, teliti kembali apa-apa yang anda baca dan merujuklah pada kitab yang sebenarnya. Karena jika tidak, maka hal ini akan membuat kaum syiah semakin berani menghina islam dan Rasul saw dengan cara menipu dan membohongi orang awam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: