Laporan: Potret Hauzah Najaf

Laporan: Potret Hauzah Najaf

SUMBER TULISAN: Irib Indonesia Radio

Hauzah bukanlah istilah asing bagi sejumlah negara di Timur Tengah, khususnya Irak dan Iran. Hauzah adalah pusat pendidikan tradisional yang menelurkan para pemikir dan ulama. Meski hauzah disebut sebagai pusat pendidikan tradisional, namun banyak ulama dan pemikir kontemporer dan progresif muncul dari tempat ini. Sosok seperti Pendiri Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini, pemikir kontemporer, Murtadha Muthahari, penulis Tafsir Mizan, Allamah Thathaba’i, penulis Falsafatuna dan Iqtisaduna, Ayatollah Mohammad Bagir Sadr adalah di antara tokoh-tokoh yang muncul dari hauzah. Bahkan peta perlawanan anti-imperialis dan arogansi di Timur Tengah kini dikendalikan penuh oleh para tokoh yang berasal dari hauzah seperti Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Udzma Sayid Ali Khamenei, Marji Besar Irak, Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Sistani dan Sekjen Gerakan Hizbullah Lebanon, Sayid Hasan Nasrallah. Semua itu menunjukkan bahwa hauzah tidak dapat dipisahkan dari pergerakan dan pencerahan di Timur Tengah.

Sejarah hauzah bermula dari kota Najaf yang juga pernah menjadi pusat pemerintahan Imam Ali as. Bahkan bisa dikatakan bahwa sejarah hauzah tidak dapat dipisahkan dari peran Imam Ali as yang saat itu dipopulerkan dengan hadis Kota Ilmu. Rasulullah Saw pernah bersabda, “Aku adalah kota ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya.”

Pasang surut perkembangan pendidikan di kota Najaf yang dulu dikenal dengan kota Kufah, berbarengan dengan arogansi para penguasa dari masa ke masa. Penindasan terus berlangsung hingga masa diktator Saddam Husein. Di masa pemerintah Saddam selama 35 tahun, hauzah sama sekali tidak diberi peluang untuk bernafas. Saddam sangat menyadari bahwa hauzah akan mengganggu kediktatorannya. Untuk itu, tidak sedikit ulama yang dibantai di masa pemerintahan Saddam. Disebutkan pula, Saddam Husein membunuh Ayatollah Mohammad Bagir Sadr dengan tangannya sendiri. Padahal Ayatollah Muhammad Bagir Sadr adalah pemikir dan ulama kontemporer yang dikenal cerdas dan inovatif.

Di antara karya monumental Ayatollah Muhammad Bagir Sadr yang hingga kini menjadi tempat rujukan adalah Falsafatuna (Our Philosophy), Iqtisaduna (Our Economics), dan Al-Bank al-la Ribawi fi al-Islam (Usury-free Banking in Islam). Buku-buku itu mampu mengenalkan khazanah Islam dengan baik di tengah himpitan pemikiran Barat dan Timur.

Ayatollah Muhammad Bagir Sadr di masa itu disebut-sebut sebagai aset besar Islam. Akan tetapi kebesaran Ayatollah Muhammad Bagir Sadr sama sekali tidak digubris oleh Saddam, bahkan aset besar Islam itu dimusnahkan tanpa ampun. Ini menunjukkan bahwa Saddam Husein adalah pemimpin yang sangat keji.

Hauzah di Najaf

Wartawan IRIB dalam kunjungannya ke Irak dari tanggal 1 hingga 5 Desember 2010, mendapat kesempatan untuk menyorot hauzah dari dekat. Ibrahim Al-Habsyi, pelajar agama asal Indonesia, yang kini menuntut ilmu di kota Najaf, kepada wartawan IRIB, mengaku puas dengan khazanah ilmu dan spritual di kota Najaf.

Mengenyam pendidikan di hauzah bukanlah pengalaman pertama bagi Ibrahim Al-Habsyi. Ia sebelumnya sempat menempuh pendidikan di hauzah Qom, Iran, selama bertahun-tahun. Ketika ditanya tentang kenyamanan menuntut ilmu di kota Najaf, Ibrahim senyum, bahkan raut wajahnya nampak puas tanpa keraguan sedikitpun. Kemudian ia menjelaskan, “Kondisi di Najaf melebihi apa yang saya bayangkan selama ini.”

Lebih lanjut Ibrahim menjelaskan peran para guru hauzah yang tengah berjuang keras menghidupkan kembali hauzah yang perkembangannya sempat menghadapi kendala serius di masa Saddam Husein as.

“Di masa Saddam, para guru kelas menengah di bawah posisi marji dibantai habis,” ujar Ibrahim

Menurut Ibrahim, pembantaian para ulama kelas menengah itu sengaja dilakukan supaya generasi hauzah terputus dan para marji kehilangan para penerusnya. Akan tetapi fakta malah berbalik dari prediksi Saddam Husein.

Pasca lengsernya Saddam, para guru kelas menengah di bawah posisi marji yang juga berfungsi sebagai eksikutor perkembangan dan kemajuan hauzah bermunculan. Para guru hauzah dari negara-negara Arab yang berdomisili di kota Qom, memilih pindah ke kota Najaf dan membentuk dewan untuk menghidupkan kembali hauzah induk di kota Najaf.

“Barangsiapa yang ingin melakukan makar atau konspirasi kepada Allah, maka Allah akan membalikkannya,” tegas Ibrahim sambil mengutip ayat Al-Quran dan menyinggung kekejian Saddam Hussein.

Ustadz Usman, seorang aktivis asal Indonesia yang juga ikut mendampingi wartawan IRIB dalam perjalanannya ke Irak sempat menyinggung bahwa banyak orang tua dan ulama Indonesia, khususnya dari kalangan keturunan Arab, yang menuntut ilmu di Najaf. Salah satunya adalah Ustadz Dziya Shahab yang saat itu juga penasehat ekonomi Timur Tengah.

Dalam pembicaraan santai di hotel dekat makam suci Imam Ali as, Ustadz Usman juga menegaskan pentingnya aspek akhlak dalam berperilaku. Menurutnya, ilmu setinggi langit tidak akan berguna tanpa adanya akhlak.

Sistem Pendidikan

Ibrahim dalam obrolan santai itu menjelaskan sistem pendidikan di hauzah Najaf. Sambil menunjukkan kartu pelajar hauzah, Ibrahim menjelaskan bahwa lembaga hauzah inilah yang memantau mata kuliah yang dipelajari para pelajar agama.

Para pelajar agama mendapat kebebasan untuk memilih guru-guru yang tersebar di kota Najaf. Pada umumnya, para guru mengajar di sejumlah tempat yang tidak jauh dari makam suci Imam Ali as. Tempat belajar sangat klasik sekali, yakni guru duduk di kursi dan para murid duduk di atas karpet seperti kondisi mengaji di kampung-kampung. Meski demikian, pembahasan yang dikaji bukan materi-materi kelas teri, yakni kajian untuk jenjang ijtihad.

Para guru yang mengajar di tingkat menengah atau menjelang ijtihad haruslah seorang mujtahid. Pada umumnya, para guru di kota Najaf mempunyai jam terbang yang relatif tinggi karena mereka sebelumnya sudah mengajar di hauzah Qom. Sosok seperti Ayatollah Bagir Erwani, Ayatollah Hadi Al-Radhi, Hujjatul Islam Sayid Eskawari, Hujjatul Islam Jafar Hakim dan lain-lain adalah di antara para guru kaliber yang saat ini mengajar di kota Najaf.

Menurut Ibrahim, para guru itu mengajar untuk memupuk para pelajar agama hingga mencapai derajat ijtihad. Ketika ditanya tentang tingkat permulaan yang biasa diistilahkan dengan mukadimah, Ibrahim mengaku tidak tahu menahu mengenai perkembangan di tingkat itu. Meski demikian, ada beberapa pelajar Indonesia yang menimba pendidikan hauzah di kota Najaf pada tingkat mukadimah.

Saat ini, Ibrahim tengah menjalani pendidikan di tingkat menengah hauzah. Jika jenjang pendidikan ini dapat diselesaikan, ia akan mendapatkan gelar ijtihad. Bagi Ibrahim, gelar ijtihad bukanlah hal yang mustahil. Apalagi ia sudah pernah menimba pendidikan hauzah di Qom selama puluhan tahun. Jika Ibrahim dalam jenjang pendidikannya di kota Najaf mampu mendapat gelar ijtihad, ia akan menjadi orang pertama asal Indonesia dengan label mujtahid.

Hauzah Boroujerdi

Setelah mengobrol santai, Ibrahim mengajak wartawan IRIB untuk mampir di hauzahnya yang tidak jauh dari makam suci Imam Ali as. Hauzah itu terletak di tengah pasar yang berdempetan dengan komplek suci Imam Ali as. Yang menarik, hauzah itu sangat mini tapi klasik, bahkan pintu hauzah itu terbuat dari kayu tebal sepert jati kuno dan kusam yang menggambarkan potret masa lalu.

Ketika masuk ke hauzah, ada ruangan kecil untuk sebuah hauzah atau asrama yang dihuni puluhan pelajar agama. Diperkirakan ruangan terbuka itu mempunyai lebar 4 meter dan panjang 10 meter. Meski kecil, tapi hauzah itu bertingkat empat. Di tingkat ketiga dan keempat, kamar-kamar langsung menghadap kubah makam suci Imam Ali as. Karena inilah, hauzah itu sangat kental dengan suasana spritual.

Kamar Ibrahim sendiri sangat kecil bahkan hanya cukup untuk satu orang. Ukuran kamarnya hanya mempunyai lebar dua meter dan panjang tiga meter. Untuk itu, Ibrahim selalu membuka pintu kamarnya sehingga kamar kecil itu menjadi terasa lebar. Menurut penjelasan Ibrahim, kamar-kamar di sini pada umumnya cukup untuk dua orang.

Hauzah pada saat itu sangat lengang, bahkan hanya seorang penjaga hauzah dan dua pelajar agama. Ibrahim menjelaskan, “Hauzah lengang karena hari Kamis dan Jumat libur. Untuk itu, mereka memanfaatkan liburan akhir pekan untuk pulang kampung menjenguk anak istri yang biasanya ditinggal di kampung halaman.”

Di Irak, lampu mati sering terjadi bahkan sudah menjadi rutinitas. Akan tetapi di hauzah ini, lampu mati bukanlah hal yang mengkhawatirkan, karena para pelajar masih bisa memanfaatkan cahaya lampu dari makam suci Imam Ali as.

Hauzah itu dikenal dengan nama Hauzah Ayatollah Boroujerdi, salah satu ulama tersohor di Iran yang dimakamkan di kota suci Qom. Ini menunjukkan bahwa hauzah Qom dan Najaf mempunyai hubungan yang erat. Ibrahim menjelaskan,”Saat Imam Khomeini diasingkan di Irak, hauzah ini selalu menjadi tempat persinggahan beliau untuk shalat setelah berziarah ke makam Imam Ali as.”

Di penghujung pertemuan, Ibrahim menyebut kedatangan wartawan IRIB di hauzahnya sebagai pengunjung pertama asal Indonesia. (Alireza Alatas)

About these ads

4 Tanggapan

  1. Jika Allah memperkenankan Ijinkan daku mencerap sari pati mata air kecemerlangan Ahlul Ba’it itu langsung ke sumbernya… namun jika Engkau wahai Tuhan ku tak memperkenankan daku… ijinkanlah pada keturunanku… agar dalam nasabku terdapat manusia yang mencerap mata air kecemerlangan para washi Rasul-Mu….

  2. @ibnu: amien, sungguh indah kata2 antum

  3. jika dunia menjelang kiamat maka kebenaran diputar balikkan, yang dusta dianggap benar dan yang benar dianggap dusta, tidak ada yang ditunggu2 para pendusta kecuali dajjal sembahan mereka. maka hati-hatilah dari para pemutar balik fakta para pengklaim pencinta ahlu bait, berapa banyak orang mengaku jadi ummat belia , namun sayangnya rasulullah-sallallahu alaihi wa sallam- malah mengusir mereka untuk mendekati telaga beliau. mereka itulah para pengklaim mencintai keluarga beliau namun ternyata menyakiti istri2 beliau( syiah sipendusta) karna dusta adalah bagian dari rukun agama mereka( aqidah taqiyyah).

    ____________
    Ibnu Jakfari

    Akhi Buktikan tuduhan keji anda itu… atau jangan-jangan anda sendiri rupanya yang memutar balikkan fakta dan terkena omongan anda sendiri ini “jika dunia menjelang kiamat maka kebenaran diputar balikkan, yang dusta dianggap benar dan yang benar dianggap dusta, tidak ada yang ditunggu2 para pendusta kecuali dajjal sembahan mereka”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: