Sayyidina Umar bin Khaththab ra. Di Mata Imam Bukhari !

Sayyidina Umar bin Khaththab ra. Di Mata Imam Bukhari !

Menurut Imam Bukhari, Umar bin Khaththab Murka Atas Nabi Muhammad saw.!

Pendauhuluan

Seperti Imam Bukhari tak merasa puas dengan membongkar data-data rahasia terkait dengan Siti Aisyah –istri Nabi saw.- yang rumah tempat tinggalnya ia sebut sebagai sarang fitnah dan tempat munculnya tanduk setan! Kini Imam Bukhari mengagetkan banyak pihak dengan membongkar data rahasia berbahaya tentang sikap keimanan, keta’atan dan ketundukan Khalifah Umar bin Khaththab….

Imam Bukhari membongkar data yang mengatakan bahwa SAYYIDINA UMAR MURKA BERAT ATAS NABI MUHAMMAD SAW. Sebuah sikap berbahaya yang segera akan menggugurkan keimanan! Bagaimana mungkin seorang Mukmin Muslim MURKA atas Nabinya dan keputusan yang diambilnya berdasarkan wahyu?! Padahal Allah mengancam atas siapa yang mendahulukan pendapatnya atas pendapat Nabi dan/atau mengeraskan suaranya di atas suara Nabi saw. bahwa seluruh amalnya akan digugurkan! (baca surah al Hujurât;1-3) dan dalam ayat lain Allah mengancam siapapun yang menolak keputusan Nabi saw. sebagai orang sesat dan jalan di atas kesesatan, sekalipun dalam urusan yang paling privat apalagi terkait dengan urusan dan maslahat umat Islam?!

Allah berfirman:

وَ ما كانَ لِمُؤْمِنٍ وَ لا مُؤْمِنَةٍ إِذا قَضَى اللَّهُ وَ رَسُولُهُ أَمْراً أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَ مَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَ رَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالاً مُبيناً

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata,” (QS. Al Ahzab [33]; 36)

Bahkan lebih dari itu, Allah menghukumi orang yang menentang keputusan Nabi saw, sebagai orang yang keluar dari keimanan! Allah berfirman:

فَلا وَ رَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فيما شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا في‏ أَنْفُسِهِمْ حَرَجاً مِمَّا قَضَيْتَ وَ يُسَلِّمُوا تَسْليماً

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.(QS. An Nisæ’ [4];65)

Ibnu Katsir berkata: “Allah bersumpah dengan Dzat-Nya sendiri Yang Maha Suci bahwa sesungguhnya tidaklah seorang itu beriman sehingga menjadikan Rasul saw. sebagai Hakim? penetap keputusan akhir dalam segala urusannya. Apapun yang beliau putuskan adalah benar sejati yang wajib diikuti baik secara batin maupun dzahir. Karenanya Allah berfirman: “kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” Artinya, jika mereka telah menjadikanmu sebagai Hakim mereka mena’atimu dalam batin-batin mereka sehingga mereka tidak mendapatkan dalam jiwa-jiwa mereka keberatan atas apa yang kamu putuskan dan mereka tunduk dan patuh menjalankannya pada sikap dzahir mereka serta pasrah menerima dengan sepeunghnya tanpa menentang, membangkang dan menentang….[1]

Pendek kata, sudah sangat jelas ketetapan hukum Islam dalam masalah ini!

 Sayyidina Umar bin Khaththab Murka Atas Keputusan Nabi Muhammad saw.!

Imam Bukhari –yang dikenal sangat hati-hati dalam menyeleksi hadis- setelah memohon petunjuk Allah dengan shalat dua raka’at, sebagaimana kebiasaan baik beliau sebelum menulis sebuah hadis dalam kitab Shahihnya; kitab tershahih setelah kitab suci terakhir Al Qur’an al Majîd… ya setelah bertawassul dengan shalat dua raka’at beliau meriwayatkan sebuah hadis SHAHIH bahwa Sayyidina Umar MURKA atas keputusan Nabi saw. untuk berdamai dengan kaum Musyrik Mekkah dalam perjajnjian Hudaibiyyah!

Hadis Shahih Bukhari itu berbunyi demikian:

Maka Umar datang (menemui Nabi saw. setelah keputusan damai ditetapkan Nabi saw._pen), “Bukankah kita di atas kebenaran dan mereka di atas kebatilan? Bukankah orang yang gugur dari kami itu surga tempatnya dan yang gugur dari mereka neraka tempatnya?”

Nabi saw. berkata, “Benar!”

Umar menjawab, “Kalau begitu, mengapakan kita dihinakan  dalam urusan agama kita seperti ini, kita pulang sementara Allah belum memenangkan kita.”

Nabi saw. bersabda mengingatkan, “Hai putra Khaththab, sesungguhnya aku ini Rasul utusan Allah. Allah tidak akan pernah menelantarkan aku selamanya!”

Maka Umar pergi dalam keadaan MURKA[2] LALU TIDAK SABAR sehingga ia menemui Abu Bakar dan berkata, ‘Hai Abu Bakar, bukankah kita di atas kebenaran/haq dan mereka di atas kebatilan/bathil?!’ Abu Bakar berkata, ‘Hai putra Khaththab, sesungguhnya dia adalah rasul utusan Allah saw., tidak mungkin Allah menelantarkannya. Maka turunlah setelah itu surah al Fath.[3]

Al Halabi dan juga para ulama ahli sejarah lain menyebutkan bahwa dalam peristiwa Hudaibiyyah Sayyidina Umar terus menerus mendebat Nabi saw. sehingga Abu Ubaidah bin Jarrâh menegurnya dengan keras, ia berkata, “Hai putra Khaththab, tidakkah engkau mendengar rasulullah saw. mengucapkan apa yang beliau ucapkan. Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” Sampai-sampai Nabi saw. bersabda kepada Umar, “Hai Umar, aku relah sedangkan kamu menolak?! [4]

Ibnu Jakfar berkata:

Surah al Fath turun untuk menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi saw. dengan mengambil keputusan damai berdasarkan bimbingan Allah yang nota kesepakatannya di tandanagangi oleh kedua belah pihak; Nabi saw. dan para pembesar kaum Musyrik Mekkah adalah sebuah kemenangan terbesar Islam dan kaum Muslimin. Dan surah yang memuat penegasan itu dinamai dengan surah al Fath yang artinya kemenangan! Nabi saw. bersabda, “Telah diturunkan kepadaku sebuah surah ia lebih aku sukai dari duni dan seisinya. Demikian diriwayatkan Imam Bukhari.[5] Lalu beliau membacakannya kepada para sahabat. Tetapi beliau segera tersentak kaget ketika menyeruak suara sepontan menjerit mengatakan, “Fath apakah ini! Ini bukanlah Fath![6] Kita dihalau dari masuk masjid Haram… hewan-hewan korban kita terhalau… “

Suara siapakah itu? Tentu Anda pun pasti kaget ketika ada di antara sahabat beliau yang dengan tidak sopan menentang Allah dan Rasul-Nya? Anda juga tidak sabar ingin tau siapakah si pengucap kata-kata sumbang itu? Saya sarankan Anda tidak usah mencari tahu siapa gerangan dia? Sebab saya khawatir Anda “murtad”[7] mencampakkan doqma yang selama ini Anda yakini sebagai kebenaran absolut! Jangan! Tutup saja lembaran kasus ini!

Tapi yang penting Andalah jawaban Nabi saw. terhadapnya! Nabi saw bersabda, “Sejelek-jelak ucapan adalah apa yang engkau ucapan ini. Dia adalah Fath teragung.”

Dalam banyak riwayat lain juga disebutkan bahwa setelah Sayyidina Umar MURKA ATAS KEPUTUSAN NABI SAW., ia berkampanye mempengaruhi kaum Muslimin agar menentang ketetapan dan keputusan Nabi saw.! Sayyidina Umar sendiri mengakui provakasi yang ia lakukan untuk mempangaruhi kaum Muslimin agar menentang keputusan Nabi saw. ia berkata, “Maka aku lakukan untuk itu banyak perbuatan.”[8] Dan setelah menyadari keburukan apa yang ia lakukan, ia menyesali dan menutup kesalahan itu dengan berpusa, bersedekah dan shalat serta memerdekakan budak. Demikian dilaporkan oleh al halabi dalam kitab Sirah-nya,2/706

Terlepas dari berbagai data yang diungkap riwayat-riwayat lain, riwayat Imam Bukhari di atas yag menyebut Sayyidina Umar sebagai orang yang MURKA atas ketetepan dan keputusan Nabi saw. adalah data berbahaya dan riskan untuk dibongkar!!

Ibnu Jakfari berkata:

Saya tidak mengerti, apakah memang demikian yang terjadi dan dilakukan oleh Sayyidina Umar, atau ini hanya sebuah fitnah yang sengaja disebarkan oleh Imam Bukhari dkk.? Bagi Anda yang meyakini kehati-hatian Sang Imam Agung; Bukhari dalam menyeleksi hadis sehingga beliau tidak mengoleksi dalam kitab Shahih-nya kecuali yang telah dipastikan keshahihannya… bagi Anda yang mempercayai seluruh hadis dalam kitab tershahih itu adalah pasti shahih dan harus diterima… apapun resikonya, betapapun ia membahayakan keutuhan doqma akidah Anda… maka sikap itu sepenuhnya adalah hak Anda, saya tidak akan mengintervensi pilihan Anda!

Mungkin Anda dapat memaklumi sikap “tegas” Sayyidina Umar itu dilhami oleh keimanannya yang begitu teguh bahwa umat Islam tidak boleh menerima tamparan keterhinaan! Mungkin! Walau pun saya yakin jika pembelaan itu Anda sampaikan langsung kepada Sayyidina Umar -yang sedang Anda hendak bela, dan itu sah-sah saja!- pasti beliau ra. akan segera membantah Anda! Tentu beliau akan segera meminta Anda untuk tidak terlalu bersemangat membelanya. Sebab beliau sendiri tau alasan mengapa sikap MURKA itu begitu ia pilih? Dengarkan Sayyidina Umar menjelaskan kepada Anda: “Demi Allah, aku tidak syak/ragu setelah aku memeluk Islam kecuali hari itu… “ setelahnya Sayyidina Umar mulai mendebat Nabi saw. seperti yang Anda baca serpihan datanya di atas. Demikian dilaporkan oleh Imam Jalaluddîn as Suyûthi dalam tafsir ad Durrul Mantsûr-nya dalam hadis panjang dari riwayat Abdur Razzâq, Imam Ahmad, Abdu bin Humaid, Bukhari, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir dari sahabat Miswar bin Makhramah dan Marwan bin al Hakam.[9]

Itulah sesungguhnya yang membuat Sayyidina Umar murka dan kemudian bereaksi memprovokaqsi para sahabat lain!

Dan apakah ini pujian dan pengagungan terhadap Sayyidina Umar bin Khaththab, Khalifah kedua umat Islam dan mertua Nabi Muhammad saw.? Atau hinaan dan tuduhan keji?!

Apa kira-kira yang segera akan dimuntahkan oleh mulut-mulut berbisa kaum nashibi dan kaum Salafi pendukung Bani Umayyah apabila ada data sejenis itu diriwayatkan oleh ulama Syi’ah dan diabadikan dalam kitab-kitab mereka?! Pasti kalimat berbalut racun terlembut yang akan terlontar dari mulut-mulut mereka adalah Syi’ah Kafir karena menghina Sayyidina Umar al Fâruq! Demikianlah kedengkian kaum Majusi Persi yang berpura-pura mencintai Ahlulbait Nabi terhadap Sayyidina Umar Penakluk Kerajaan Persi Majusi! Dan kata-kata senada dengannya!! Pasti dan sudah sering terlontar kalimat beracum seperti itu dari kaum nashibi Salafi Wahhabi!

Tetapi apakah Bukhari, Muslim dan para ulama Ahlusunnah lainnya juga pendukung kaum Majusi Persi atau Rafidhah Persi?! Atau jangan-jangan nanti mereka harus terpaksa mengatakan bahwa Bukhari dan ulama Ahlusunnah lainnya yang membongkar data-data seperti itu adalah antek-antek kaum Syi’ah yang bertaqiyyah dan menebar racum di tengah-tengah kaum Muslim Sunni?!

Hanya Allah yang Maha Mengetahui apa yang bakal mereka katakan di kemudian hari jika semua jalan untuk membungkam suara kebenaran telah gagal!!

Siapa tau?! Bukankah kaum nashibi panutan kaum Salafi Wahhâbi dahulu juga menuduh Imam Syafi’i, Imam an Nasa’i, Imam Sibthu Ibnu Jauzi dan lainnya sebagai Syi’ah Rafidhah! Kaum Sesat! Karena kecintaannya kepada Ahlulbait dan ketegasan sikapnya terhadap du’âtu ilan nâr/para penganjur kepada neraka jahannam; Mu’awiyah, Yazid dan tentara setan lainnya!

Kita nanti saja sampai dimana ulah bodoh kaum Salafi Wahhâbi yang sedang menanti kehancuran dan kematian rezim Wahhâbi yang sedang sekarat dan para emirnya sedang menanti giliran panggilan malaikat maut untuk dikumpulkan bersama Fir’aun, Namruth, Qadzdzâfi, Saddam Husain dan fir’aun-fir’aun lainnya!


[1] Tafsir al Qur’an al ‘Adzîm; Ibnu Katsîr,1/520. Ibnu Katsîr juga menyebutkan beberapa riwayat yang  di antaranya mengatakan bahwa orang yang menolak dan apalagi tentunya sakit hati lalu murka dan bereaksi untuk mempwngruhi orang lain agar menentang keputusan Nabi saw. adalah halal darahnya!

[2] Kata mutaghayyidhan dalam riwayat di atas saya terjemahkan dengan murka. Kata itu berasal dari kata kerja tsulâtsi (berhufuf tiga): Ghâdza-yaghidzu- ghaidhan. Contoh Ghahdahu amrun artinya: Perkata itu membuatnya marah dengan marah yang  sangat. Kata kerja taghayyadha-yataghayyadhu-mutaghayyidhun artinya: Menampakkan marah yang sangat terhadap sesuatu lain akibat sebuah perkara! (baca kamus-kamus bahasa Arab seperti al Mu’jam al Wasith,2/668. Dalam kasus di atas Sayyidina Umar menampakkan marah yang sangat kepada Nabi sebagai reaksi dari keputusan yang beliau saw tetapkan untuk berdamai dengan mengadakan perjanjian Hudaibiyyah.

[3] Shahih Bukhari, Kitab at tafsîr, tafsir surah al Fath,6/171, hadis nomer 4844 dalam penomeran Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bâri,18/216-217 dan Shahih Muslim, Kitâb al Jihâd wa as Siyar bab ke 34, juz 3 hal 1412 hadis nomer 1785.

[4] As Sirâh al Halabiyyah,2/706 Sirah Nabawiyyah; Ibnu Katsir,3/320.

[5] Shahih Bukhari, Bab Shulhu Hudaibiyyah juga baca as Sirah al Halabiyah dan Sirah Nabawiyyah tulisan Sayyid Zaini Dahlan

[6] Baca juga tafsir Fathul Qadîr; asy Syaukani,5/57.

[7] Jangan disalahpahami kata murtad di sini tidak berarti keluar dari agama Islam. Seorang bisa disebut murtad secara bahasa apabila ia mencampakkan apa yang selama ini diyakininya sebagai bagian inti agama misalnya.

[8] Baca Shahih Bukhari, Kitab asy Syurûth, Bab asy Syurûth fi al Jihâd,1/122 dan 3/256 dan Musnad Imam Ahmad dari hadis Miswar bin Makhramah dan Marwan bi  al Hakam. (Lihat juga Ad Durrul Mantsûr,6/74 ketika menafsirkan ayat 24-25 surah al Fath).

[9] Ad Durrul Mantsûr,6/74 ketika menafsirkan ayat 24-25 surah al Fath.

9 Tanggapan

  1. Ass. Wr wb.

    Salam sejahtera untuk Ustd Jakfari. Sekian lama saya bertandang ke blok ustad tak terposting tulisan baru. Alhamdulillah setelah menunggu cukup lama, akhirnya tulisan Ustad yang mencerahkan hadir juga.
    Salam takzim

  2. pertamax…..

  3. kesimpulannya yang tergesa gesa……saya pikir persoalan Nabi Muhammad adalah persoalan mu’amalah..jangan dikaitkan dengan persoalan ketundukan dalam masalah ibadah dan ketauhidan….

  4. kang jakfari, sediakah antum jika ada waktu untuk membantah argumen tendensius nan konyol nashibi di thread kaskus ‘sejarah syiah’ ini http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10473131
    ini thread syiah yg ingin menjelaskan sejarah munculnya syiah dg sebenar-benarnya, namun spt biasa kaum nashibi sok benar itu datang2 langsung mendistorsi bahkan ada yg membela yazid disitu. saya sbg awam yg sdg mempelajari ahlulbait nabi tidak berkompeten apa2 selain menyimak.
    berhubung kang jakfari jago dan amat berkompeten ttg syiah, saya harap bantuan antum utk meluruskan argumen ngaur nashibi disitu. dikhawatirkan meracuni persepsi para awam.

  5. Mau tanya ustadz, Kenapa untuk menunjukkan identitas diri bahwa kita baik dan benar saja, kita harus sambil mencaci maki ??

    Bukankah Alloh berfirman dalam surah alHujurat[49] ayat 11:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُن

  6. anda itu terlalu berlebihan dalam memaknai hadis imam bukhari itu,,jngan terlalu provokatif dalam mengartikan kata ustadz,,Sayyidin Umar Ra adalah satu dari seuluh orang yang masuk surga langsung tanpa taftisy, apa anda mau membantah hadits ini,,,begitulah khalifah kedua yang kekokohan imannya membuat dia tak mau islam dinjak injak, bukan seperti anda yang malah menginjak nginjak bahkan mengobrak abrik islam,,anda tau gak kalo Ali bin Abi halib Ra juga pernah membangkang kepada rasul…?

    Ibnu Jakfari:

    Akhi, saya hargai perasaan Anda… Tapi tolong buktikan kalau hadis tentang 10 sahabat yang dijamin masuk surga itu memang shahih! Saya tidak atau lebih tepatnya belum membantah hadis itu!
    Oh ya?! Benarkan Imam Ali as pernah membangkang Nabi saw.?! Di mana? dalam kasus apa?
    Kelihatanya kan kalau Anda mulai menampakkan jiwa asli kalian yang membenci dan tidak hormat kepada Sayyidina Ali ra.!
    Kata kalian semua sahabat udul…. udul kok membangkang?! Apa bisa ketemu antara keduanya ya?!

  7. inilah para penghancur ummat dan islam yg hakiki.. si syiah dan si sunni hanya berperang karena hal sepele dan dunia (politik), bukan krn Allah. mereka tidak malu pada Nabi…. SI syiah dan si sunni yang saling menghina ini, merekalah syaithan la’natullah….. mereka syaithan berwajah manusia. Mudah2an mereka dikutuk Allah!!!!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.