Hadis-hadis Ahlusunnah Menghinakan Kehormatan Nabi Mulia Muhammad saw.

Siti Aisyah ra. Mengbongkar Hubungan Ranjangnya dengan Nabi saw.

Jika pada beberapa hadis shahih Sunni (seperti telah kami paparkan dalam sebuah atikel kami), Nabi mulia Muhammad saw. digambarkan (wal iyâdzu billâh) sebagai seorang pria yang bersyahwat besar dan memiliki kekuatan birahi yang menandingi kekuatan birahi tiga puluh atau empat puluh pria jantan, karenanya beliau mampu menghabiskan waktu-waktu malamnya dengan menggilir sembilan istri beliau dengan sekali mandi (sekali lagi, ini kata riwayat dan keterangan ulama Sunni. Rasanya saya malu terhadap Nabi mulia saw. menuliskan ini andai bukan demi membela kesucian beliau saw.)

Hadis-hadis shahih Ahlusunnah begitu bersemangat menyajikan hal-hal privat Nabi saw. termasuk hubungan sebadan dengan para istrinya dan adegan-adegan tidak senonoh yang kita saja pasti malu melakukan apalagi menceritakannya kepada orang lain atau teman-teman kita …. Semua hal memalukan itu dibongkar sementara para pensyarah dan ulama memberikan pembelaan bahwa itu semua demi kejelasan hukum.

Ya, kija pada riwayat-riwayat Bukhari, Muslim dan para muhaddis Sunni lainnya Nabi saw. dikatakan mampu menggauli sembilan istrinya dalam sebagian waktu malamnya saja sehingga kehebatan itu menjadi buah bibir dan bahan obrolan para sahabat (kecuali jika ulama Sunni hendak mengatakan kerena aktifitas mengasikkan itu, sampai-sampai Nabi mulia saw. tidak sempat bertahajjud yang menjadi kewajiban atas beliau) …  maka pada riwayat di bawah ini justeru Nabi saw. mengakui bahwa beliau agak lemah syahwat…. Demikian dilaporkan para muhaddis kenamaan Sunni dari istri tercinta dan termanja Nabi saw.

Imam Muslim, Ibnu Hibbân, at Turmudzi, Ibn Majah, al Baihaqi, Imam Nasai, ad Dâruquthni, Imam asy Syafi’i dan Imam Ahmad dari Aisyah; istri Nabi saw., ia berkata:

“Ada seorang pria datang bertanya kepada Rasulullah saw. tentang seorang laki-laki menggauli istrinya kemudian ia loyo[1], apakah wajib atasnya mandi (besar)? Saat itu Aisyah duduk di sisi Nabi saw., maka Rasulullah saw. berkata:

 “Aku benar-benar telah mengalami hal seperti itu dengan Aisyah kemudian kami mandi.”[2]

Ibnu Jakfari berkata:

Di sini saya tidak berani memberikan komentar apa-apa tentangnya! Semuanya terserah Anda dan saya pasrahkan kepada kepekaan spiritual dalam menilai Nabi mulia yang dibanggakan Allah sebagai pemilik khiluqin adzîm, akhlak mulia/agung.

Bukankah apa yang dikatakan Nabi saw. itu termasuk buhungan intim beliau yang tidak semestinya dibongkar kepada penanya walaupun ia sedang membutuhkan keterangan hukum Islam tentangnya! Sebab tanpanya hukum Allah tentanya juga pasti bisa disampaikan dan kemudian dimengerti oleh si penanya andai Nabi mulia saw. tidak mengisahkan adegan tabu itu!! Seperti yang juga diriwayatkan Imam Muslim dalam bab yang sama dari sahabat Ubay ibn Ka’ab, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang seorang laki-laki yang menggauli istrinya lalu ia loyo (apakah wajib mandi?)….[3]

Apakah Anda tidak merasakan ada keganjilan dalam apa yang dilakukan Nabi saw.? Tanpa ada perlunya, beliau menceritakan hubungan ranjangnya dengan Aisyah yang gagal mencapai orgasme kepada pria asing yang Aisyah sendiri tidak mengenalnya, karenanya ia hanya berkata, ‘Inna rajulan/ada seorang laki-kali…. ”!

Apakah jika Anda seorang ustadz atau Kyai yang punya harga diri dan rasa malu, lalu ada seorang datang bertanya tentang hukum Islam serupa, Anda akan mengatakan, “Oh, kalau yang begitu sih, saya pernah mengalaminya ketika saya bersenggama dengan Bu Nyaiku tercinta ini, lalu kami mandi, sebab hukumnya wajib mandi!!”

Akankah Anda mengatakannya?

Pasti Anda malu dan si pendengar pun segera akan Anda buat malu dan kemudian menyimpulkan bahwa Ustadz atau Kyaiku ini agak saru tutur katanya!

Lalu mengapa kita sanggup mengatakannnya untuk Nabi mulia kita Muhammad saw.?!

Bukankah Nabi Muhammad saw. lebih pemalu dibandimg dengan perawan pingitan, seperti yang juga digambarkan sebagian hadis Sunni?

Lalu mengapa sekarang mendadak menjadi tidak punya malu kesannya?!

Mungkin para ulama Sunni punya keterangan demi membela kitab-kitab Shahih mereka walaupun harsu menghinakan Nabi mulia saw.!

Bisa Jadi Aisyah Yang berkata Begitu!

Nabi mulia Muhammad saw. pasti lebih mulia dari mengtatakan kata-kata memalukan seperti itu! Hanya saja perawi hadis yang memalsukan atas nama Nabi mulia saw. Ada sebuah hadis dari Aisyah yang diriwayatkan oleh at Turmudzi dari jalus Abdurrahman ibn Qasim dari ayahnya Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar yang mengatakan: “Aisyah berkata, “Jika penis masuk ke vagina maka wajib mandi. Aku mengerjakannya bersama Rasulullah saw. lalu kami mandi.”[4]

Al Mubârakfûfi –pensyarah Sunan at Turmudzi- mengatakan bahwa yang dimaksud oleh Aisyah dengan kata-katanya di atas ialah ia bersenggama dengn Nabi saw. tanpa sempat/bisa orgasme, lalu setelahnya mandi wajib (besar).[5]

Dalam hadis di atas, jelas yang mengatakannya adalah Aisyah istri Nabi saw.!

Abdurrahman dan Qasim putra Muhammad putra Abu Bakar keduanya ditsiqahkan dan sangat diagungkan para ulama sebagai parawi jujur terpercaya.

Di sini Anda berhak berasumsi, jangan-jangan parawi hadis Aisyah riwayat Muslim dkk. yang menghinakan Nabi saw. sebagai yang tidak punya malu di atas yang sengaja memalsu dan berbohong atas nama Nabi saw. sebab tidak sedikit parawi hadis yang munafik, fasik, zindiq, atau pmbohong besar yang sengaja berusaha merusak nama harum Islam dengaan menghinakan Nabi mulianya!

Dan apabila Anda ketahui ternyata perawi hadis yang menghinakan Nabi saw. di atas adalah az Zuhri dan Urwah ibn Zubair (dua gembong nawâshib/pembenci Nabi dan keluarganya), maka keterheranan Anda bias jadi mulai terjawab!

Urwah ibn Zubair dan az Zuhri adalah ulama panguasa tiran yang bekerja siang malam merusak Islam. Mungkin dalam kesempatan lain akan kami bongkar data-data kemunafikan mereka berdua.   Wallahu A’lam!


[1] Kata yaksal dalam redaksi hadis Aisyah di atas artinya seperti diterangkan oleh Imam Nawawi dalam syarah Shahih Muslim, “lemah sehingga tidak mampu orgasme.” (Syarah Muslim,2/38)

[2] Shahih Muslim (dengn syarah Nawawi) ,2/42, Shahih Ibnu Hibbân,3/451,452,456 dan 458, Sunan at Turmudzi,1/181, Sunan Ibnu Mâjah,1/199, as Sunna al Kubrâ; an Nasa’i, 1/108, 5/352, Musnad Ahmad,6/68, as Sunna al Kubrâ; al Baihaqi,1/164, Sunan ad Dâruquthni,1/111 dam 112 dan Musnad Imam asy Syafi’i:160.

[3]Shahih Muslim (dengan syarah Nawawi),2/38)

[4] Tuhfah al Ahwadzi (syarah Sunan at Turmudzi; al Mubarakfûri),2/361-362

[5] Ibid.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 73 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: