<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Menjawab Tuduhan Salafy-Wahabi</title>
	<atom:link href="http://jakfari.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jakfari.wordpress.com</link>
	<description>Katakan Yang Benar Atau Diam</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Jan 2012 06:02:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jakfari.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Menjawab Tuduhan Salafy-Wahabi</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jakfari.wordpress.com/osd.xml" title="Menjawab Tuduhan Salafy-Wahabi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jakfari.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Fatwa Sayyidina Umar: Boleh Hukumnya Merubah-rubah Teks Suci Al Qur’an!</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2012/01/30/fatwa-sayyidina-umar-boleh-hukumnya-merubah-rubah-teks-suci-al-quran/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2012/01/30/fatwa-sayyidina-umar-boleh-hukumnya-merubah-rubah-teks-suci-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 05:51:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih Wahabi-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Keotentikan Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Haulasyiah]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=1965</guid>
		<description><![CDATA[Apa pendapat Anda tentang fatwa di bawah ini: “Tidak ada kewajiban membaca Al Qur’an sesuai dengan teks asli yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw., baik dalam shalat maupun di luar shalat! Tetapi boleh hukumnya mebaca Al Qur’an dengan redaksi apapun asal sesuai dengan maknanya atau yang mirip dengan maknanya! Yang penting jangan Anda rubah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1965&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Apa pendapat Anda tentang fatwa di bawah ini: “Tidak ada kewajiban membaca Al Qur’an sesuai dengan teks asli yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw., baik dalam shalat maupun di luar shalat! Tetapi boleh hukumnya mebaca Al Qur’an dengan redaksi apapun asal sesuai dengan maknanya atau yang mirip dengan maknanya! Yang penting jangan Anda rubah ayat tentang azab/siksa/murka menjadi ayat rahmat atau sebaliknya. Barang siapa membacanya Al Qur’an sesuai dengan syarat di atas maka bacaannya sah dalam pandangan syari’at! Dia adalah Qur’an yang diturunkan Allah. Sebab Allah telah mengiznkan manusia membaca Kitab suci terakhir dan mu’jizat Nabi-Nya dengan redaksi apapun yang kita buat sendiri dengan memerhatikan syarat sederhana di atas!</p>
<p style="text-align:justify;">Kira-kira apa tanggapan dan sikap Anda terhadap fatwa seperti di atas? Mungkin Anda akan mengatakan di pencetus fatwa di atas adalah seorang yang fasik atau bahkan kafir!</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi jangan terburu-buru dan gegabah menvonisnya dengan vonis apapun, sebab fatwa itu telah dicetuskan oleh Sayyidina Umar, Khalifah Nabi saw.!<span id="more-1965"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sumber Fatwa Sayyidina Umar</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab Musnad-nya,4/30:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>قرأ رجل عند عمر فَغَيَّر عليه فقال: قرأت على رسول الله (ص) فلم يغير علي! قال فاجتمعنا عند النبي (ص) قال فقرأ الرجل على النبي (ص) فقال له: قد أحسنت! قال فكأن عمر وجد من ذلك فقال النبي (ص): يا عمر إن القرآن كله صواب، ما لم يجعل عذاب مغفرة أو مغفرة عذاباً!!</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Ada seorang membaca Al Qur’an di sisi Umar, lalu ia meralatnya, orang berkata, ‘AKu membacanya demikian di hadapan Rasulullah saw. dan beliau tidak menyalahkanku!’ Umar berkata, “Maka kami berkumpul di sisi Nabi saw., orang itu membacakannya kepada Nabi saw. dan beliau pun bersabda untuknya, ‘Engkau telah berbuat baik!’ Perawi berkata, ‘Maka Umar sepertinya tidak enak hati, maka nabi saw. bersabda kepadanya, “Hai Umar selurh bentuk bacaan Al Qur’an itu benar, selama ayat siksa tidak dijadikan ayat ampunan dan ayat ampunan dijadikan ayat siksa.” <a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Musa al Asy’ari dari Nabi saw. beliau  bersabda:<strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>أتاني جبريل وميكائيل فقال جبريل إقرأ القرآن على حرف واحد، فقال ميكائيل استزده، قال إقرأه على سبعة أحرف كلها شاف كاف، ما لم تختم آية رحمة بعذاب أو آية عذاب برحمة!!.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Bacalah Al Qur’an dengn satu huruf!’ Mikail berkata (menasihati Nabi saw.). ‘Mintalah tambah!’ ia berkata, ‘Bacalah dengan tujuh huruf, semuanya melegahakan dan cukup selama engkau tidak menutp ayat rahmat dengan siksa atau ayat siksa dengan rahmat.’”<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Imam as Suyuthi dalam Itqân-nya,1/168 berkata:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl">وعند أحمد من حديث أبي هريرة: أنزل القرآن على سبعة أحرف، عليماً حكيماً غفوراً رحيماً.</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan pada riwayat Ahmad dari hadis Abu Hurairah, “Al Qur’an diturunkan atas tujuh huruf, <em>‘alîman hakîman, ghafûran rahîman</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia juga menyebutkan hadis Umar bahwa:<strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>إن القرآن كله صواب ما لم تجعل مغفرة عذاباً أو عذاباً مغفرة.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Sesungguhnya bacaan Al Qur’an itu semuanya benar, selama engkau tidak menjadikan ayat ampunan sebagai siksa dan ayat siksa sebagai ampunan.”</p>
<p style="text-align:justify;">Dan ia mengatakan sanad hadis-hadis di atas adalah bagus/<em>jiyâd</em>!</p>
<p style="text-align:justify;">Dan untuk melihat lebih lanjut hadis-hadis seperti di atas yang mengerikan baca: At Târîkh al Kabîrnya Imam Bukhari,1/381, Usdul Ghâbah,5/156 dan Kanz al Ummâl,1/550,618,619 dan 2/52 dan 603.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam ath Thabari menambahkan dalam tafsirnya,1/34 dari hadis putra Abu Musa bahwa malaikat Mikail membantu ayahnya dan Umar, ia (Mikail) mengajarkaan kepada Nabi saw. agat tidak menerima jika hanya diajarti Jibril satu model (huruf) bacaan Al Qur’an saja, ia menyurhnya meminta tambah.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Abu Bakrah dari ayahnya (Abu Musa) ia baerkata, “Rasulullah saw. bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>قال جبريل: إقرءوا القرآن على حرف، فقال ميكائيل</strong><strong>: </strong><strong>استزده، فقال على حرفين، حتى بلغ ستة أو سبعة أحرف فقال: كلها شاف كاف ما لم يختم آية عذاب برحمة، أو آية رحمة بعذاب، كقولك هلم وتعال)!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Jibril berkata, ‘Bacalah Al Qur’an dengan satu huruf.’ Mikail berkata (kepada Nabi saw.), ‘Mintalah tambah!’ Jibril berkata, ‘Dengan dua huruf.’ Dan Nabi saw. terus minta tambah sehingga mencapai tujuh huruf. Ia berkata, ‘Semuanya melegahkan dan cukup selama ayat siksa tidak dirubah menjadi ayat rahmat dan selama ayat rahmat tidak dirubah menajdi ayat saksa, seperti bacaan kamu, halumma dan ta’âl.”<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya redaksi <em>halumma</em> boleh Anda rubah bacaannya menjadi <em>ta’âl </em>atau sebaliknya sebab kedua kata itu maknanya sama: kemarilah!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Jakfari Bertanya:</strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Apa pendapatmu tentang konsep bacaan Al Qur’an di atas? Bukankah konsep ini merupakan bom waktu yang akan segera meledak dan memporak-porandakan kesucian teks Al Qur’an yang diandalkan sebagai mu’jizat utama Nabi saw.?! Apakah akal waras Anda menerima dan setuju bahwa fatwa sesat di atas dinisbatkan kepada Nabi saw.?</li>
<li><em>2.      </em>Apakah Sayyidina Umar memiliki hak untuk memporak-porandakan teks suci Al Qur’an hanya dengan memberinya kunci: <em>selama ayat siksa tidak dirubah menjadi ayat rahmat dan selama ayat rahmat tidak dirubah menajdi ayat saksa!</em> Sementara Nabi saw. saja tidak diberikan hak seperti itu bahwa diancam jika merubah-rubah tesk suci Al Qur’an! Baca ayat:<em></em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong> وَ إِذا تُتْلى‏ عَلَيْهِمْ آياتُنا بَيِّناتٍ قالَ الَّذينَ لا يَرْجُونَ لِقاءَنَا ائْتِ بِقُرْآنٍ غَيْرِ هذا أَوْ بَدِّلْهُ قُلْ ما يَكُونُ لي‏ أَنْ أُبَدِّلَهُ مِنْ تِلْقاءِ نَفْسي‏ إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ ما يُوحى‏ إِلَيَّ إِنِّي أَخافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذابَ يَوْمٍ عَظيمٍ</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: &#8220;Datangkanlah Al Qur&#8217;an yang lain dari ini atau gantilah dia&#8221;. Katakanlah: &#8220;<strong>Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. </strong>Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)&#8221;.(QS. Yunus;15)</em></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>3.      </strong>Jika kalian mendustakan hadis-hadis di atas dan banyak selainnya dalam masalah ini, sementara ia adalah shahih dan bersanad jayyid dan kuat dan para perawinya jujur terpercaya, maka siapakah menurut kalian yang berbohong dan memalsu atas nama Nabi saw. agar kita dapat berhati-hati dari kepalsuan dan kebohongannya dalam masalah lain juga?!<strong></strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong>Fatwa Ulama Ahlusunnah Membolehkan Merusak Teks Suci Al Qur’an!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang disebutkan dalam hadis-hadis yang shahih menurut Ahlusunnah itu ternyata tidak hanya sekedar menjadi bacaan untuk mengisi waktu-waktu nganggur para ulama… tetapi merekla benar-benar serius dalam menjakankan polotik pengrusakan teks suci walaupun kami yakin niatan para ulama Sunni itu baik, semata karena kepatuhan mereka kepada Sunnah Nabi saw.!</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk lebih singkatnya dan agar Anda tidak curiga bahwa saya mengada-ngada atas nama ulama besarv Ahlusunnah  dalam masalah ini, saya segera sajikan untuk Anda fatwa-fatwa mereka:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Imam asy Syafi’i </strong>berfatwa dalam kitabnya <em>al Umm</em>,1/142:</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>وقد اختلف بعض أصحاب النبي في بعض لفظ القرآن عند رسول الله (ص) ولم يختلفوا في معناه، فأقرهم وقال: هكذا أنزل، إن هذا القرآن أنزل على سبعة أحرف فاقرؤوا ما تيسر منه!! فما سوى القرآن من الذكر أولى أن يتسع هذا فيه إذا لم يختلف المعنى</strong><strong>!</strong></p>
<p style="text-align:justify;"> “Sebagian sahabat Nabi telah berselisih tentang teks Al Qur’an di sisi Rasulullah saw. dan mereka tidak berselish tentang maknanya, dan beliau pun membenerkan mereka semua atas bacaannya dan bersabda, ‘Begitulah ia diturunkan. Sesungguhnya Al Qur’an diturunkan atas tujuh huruf. Maka bacalah sesuai yang mudah bagimu darinya.” Maka (kata Syafi’i) pada selain teks Al Qur’an, seperti dzikir lebih berhak dibolehkan merubah teksnya selama tidak merubah maknanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia juga berkata:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>وليس لأحد أن يعمد أن يكف عن قراءة حرف من القرآن إلا بنسيان، وهذا في التشهد وفي جميع الذكر أخف</strong><strong>.</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Dan tidaklah bagi seseorang itu menyengaja mencegah dari bacaan sebuah huruf Al Qur;’an melainkan dikerenakan kelupaan. Dalam pada masalah bacaan <em>tasyahhud</em> dan <em>dzikir</em> lainnya lebih ringan hukumnya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Al Baihaqi berkata dalam kitab Sunan-nya,2/145:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>قال الشافعي: فإذا كان الله برأفته بخلقه أنزل كتابه على سبعة أحرف، معرفة منه بأن الحفظ قد نزر ليجعل لهم قراءته وإن اختلف لفظهم فيه، كان ما سوى كتاب الله أولى أن يجوز فيه اختلاف اللفظ ما لم يخل معناه</strong><strong>!)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Asy Syafi’i berkata, ‘Jika Allah dengan kemaha lembutan-Nya atas hamba-Nya telah menurunkan al Kitab (Al Qur’an) dengan tujuh huruf/bacaan, karena Dia mengetahui bahwa menghafal/memelihara teks tunggal itu telah langka, agar dibukakah jalan untuk mereka membacanya walaupun dengan ragam teks yang berbeda, maka untuk selain Al Qur’an lebih boleh dibaca berbeda redaksi/teksnya selama maknanya tidak rusak.”</p>
<p style="text-align:justify;">Dan selain fatwa Imam Syafi’i, fatwa para imam dan ulama mazhab Sunni lainnya juga sama!</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, kira-kira, apa yang bakal tersisa dari teks suci asli Al Qur’an yang Allah wahyukan?</p>
<p style="text-align:justify;">Bukankah fatwa ini seruan berbahaya atas keotentikan wahyu laingi terakhir?!</p>
<p style="text-align:justify;">Bukankah ini ajakan untuk beramao-ramai agar umat Islam mentahrif Al Qur’an?!</p>
<div style="text-align:justify;"></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Al Haitsami dalam Majma’ az Zawâid,7/150 dan ia berkata, “Hadis ini diriwayatkan Ahmad dan seluruh perawi jujur terpercaya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Majma’ az Zawâid,7/150 dan ia berkata, “Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan ath Thabarani dengan redaksi serupa hanya saja ada tambahan, ‘Pergi dan berpalinglah. Dalam hadis itu ada perawi bernama Ali ibn Zaid ibn Jadz’ân, ia jelek halafalannya. Tetapi hadisnya telah didukung oleh perawi lain, sedangkan peraewi lainnya dalam jalur Ahmad adalah parawi shahih.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Pada catatan kaki tafsir eth Thabari disebutkan: Hadis ini diriwayatkan Ahmad dalam Musnad,7 hadis no.20447 dengan singkas dan pada 7 hadis no.20537 dengan redaksi serupa tapi ada tambahan, seperpi bacaanmu: تعال، وأقبل، وهلم واذهب، وأسرع وأعجل</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/1965/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/1965/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/1965/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/1965/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jakfari.wordpress.com/1965/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jakfari.wordpress.com/1965/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jakfari.wordpress.com/1965/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jakfari.wordpress.com/1965/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/1965/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/1965/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/1965/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/1965/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/1965/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/1965/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1965&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2012/01/30/fatwa-sayyidina-umar-boleh-hukumnya-merubah-rubah-teks-suci-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/448ec135645f1d27ee5bd10e169255c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sayyidina Umar bin Khaththab ra. Di Mata Imam Bukhari !</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2011/11/05/sayyidina-umar-bin-khaththab-ra-di-mata-imam-bukhari/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2011/11/05/sayyidina-umar-bin-khaththab-ra-di-mata-imam-bukhari/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Nov 2011 14:12:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=1923</guid>
		<description><![CDATA[Sayyidina Umar bin Khaththab ra. Di Mata Imam Bukhari ! Menurut Imam Bukhari, Umar bin Khaththab Murka Atas Nabi Muhammad saw.! Pendauhuluan Seperti Imam Bukhari tak merasa puas dengan membongkar data-data rahasia terkait dengan Siti Aisyah –istri Nabi saw.- yang rumah tempat tinggalnya ia sebut sebagai sarang fitnah dan tempat munculnya tanduk setan! Kini Imam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1923&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Sayyidina Umar bin Khaththab ra. Di Mata Imam Bukhari !</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Menurut Imam Bukhari, Umar bin Khaththab Murka Atas Nabi Muhammad saw.!</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pendauhuluan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti Imam Bukhari tak merasa puas dengan membongkar data-data rahasia terkait dengan <a href="http://jakfari.wordpress.com/2011/11/02/munafik-yang-mukmin-sejati-versus-mukmin-waliyullah-yang-fasik-dalam-pandangan-salafi-wahhabi/" target="_blank">Siti Aisyah </a>–istri Nabi saw.- yang rumah tempat tinggalnya ia sebut sebagai sarang fitnah dan tempat munculnya tanduk setan! Kini Imam Bukhari mengagetkan banyak pihak dengan membongkar data rahasia berbahaya tentang sikap keimanan, keta’atan dan ketundukan Khalifah Umar bin Khaththab&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Bukhari membongkar data yang mengatakan bahwa SAYYIDINA UMAR MURKA BERAT ATAS NABI MUHAMMAD SAW. Sebuah sikap berbahaya yang segera akan menggugurkan keimanan! Bagaimana mungkin seorang Mukmin Muslim MURKA atas Nabinya dan keputusan yang diambilnya berdasarkan wahyu?! Padahal Allah mengancam atas siapa yang mendahulukan pendapatnya atas pendapat Nabi dan/atau mengeraskan suaranya di atas suara Nabi saw. bahwa seluruh amalnya akan digugurkan! (baca surah al Hujurât;1-3) dan dalam ayat lain Allah mengancam siapapun yang menolak keputusan Nabi saw. sebagai orang sesat dan jalan di atas kesesatan, sekalipun dalam urusan yang paling privat apalagi terkait dengan urusan dan maslahat umat Islam?!<span id="more-1923"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Allah berfirman:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>وَ ما كانَ لِمُؤْمِنٍ وَ لا مُؤْمِنَةٍ إِذا قَضَى اللَّهُ وَ رَسُولُهُ أَمْراً أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَ مَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَ رَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالاً مُبيناً </strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata,” </em><strong>(QS. Al Ahzab [33]; 36)</strong><em></em></p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan lebih dari itu, Allah menghukumi orang yang menentang keputusan Nabi saw, sebagai orang yang keluar dari keimanan! Allah berfirman:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>فَلا وَ رَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فيما شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا في‏ أَنْفُسِهِمْ حَرَجاً مِمَّا قَضَيْتَ وَ يُسَلِّمُوا تَسْليماً </strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“</em><em>Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan,</em><em> </em><em>kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.</em><em>” </em><strong>(QS. An Nisæ’ [4];65)</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Ibnu Katsir berkata:</span><em> “Allah bersumpah dengan Dzat-Nya sendiri Yang Maha Suci bahwa sesungguhnya tidaklah seorang itu beriman sehingga menjadikan Rasul saw. sebagai Hakim? penetap keputusan akhir dalam segala urusannya. Apapun yang beliau putuskan adalah benar sejati yang wajib diikuti baik secara batin maupun dzahir. Karenanya Allah berfirman: “kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” Artinya, jika mereka telah menjadikanmu sebagai Hakim mereka mena’atimu dalam batin-batin mereka sehingga mereka tidak mendapatkan dalam jiwa-jiwa mereka keberatan atas apa yang kamu putuskan dan mereka tunduk dan patuh menjalankannya pada sikap dzahir mereka serta pasrah menerima dengan sepeunghnya tanpa menentang, membangkang dan menentang&#8230;.</em> “<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Pendek kata, sudah sangat jelas ketetapan hukum Islam dalam masalah ini!<strong><em></em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> Sayyidina Umar bin Khaththab Murka Atas Keputusan Nabi Muhammad saw.!</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Imam Bukhari</span> –yang dikenal sangat hati-hati dalam menyeleksi hadis- setelah memohon petunjuk Allah dengan shalat dua raka’at, sebagaimana kebiasaan baik beliau sebelum menulis sebuah hadis dalam kitab Shahihnya; kitab tershahih setelah kitab suci terakhir Al Qur’an al Majîd&#8230; ya setelah bertawassul dengan shalat dua raka’at beliau meriwayatkan sebuah hadis SHAHIH bahwa Sayyidina Umar MURKA atas keputusan Nabi saw. untuk berdamai dengan kaum Musyrik Mekkah dalam perjajnjian Hudaibiyyah!</p>
<p style="text-align:justify;">Hadis Shahih Bukhari itu berbunyi demikian:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Maka Umar datang (menemui Nabi saw. setelah keputusan damai ditetapkan Nabi saw._pen), “Bukankah kita di atas kebenaran dan mereka di atas kebatilan? Bukankah orang yang gugur dari kami itu surga tempatnya dan yang gugur dari mereka neraka tempatnya?”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Nabi saw. berkata, “Benar!”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Umar menjawab, “Kalau begitu, mengapakan kita dihinakan  dalam urusan agama kita seperti ini, kita pulang sementara Allah belum memenangkan kita.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Nabi saw. bersabda mengingatkan, “Hai putra Khaththab, sesungguhnya aku ini Rasul utusan Allah. Allah tidak akan pernah menelantarkan aku selamanya!”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Maka Umar pergi dalam keadaan MURKA</em><a title="" href="#_ftn2">[2]</a> <em>LALU TIDAK SABAR sehingga ia menemui Abu Bakar dan berkata, ‘Hai Abu Bakar, bukankah kita di atas kebenaran/haq dan mereka di atas kebatilan/bathil?!’ Abu Bakar berkata, ‘Hai putra Khaththab, sesungguhnya dia adalah rasul utusan Allah saw., tidak mungkin Allah menelantarkannya. Maka turunlah setelah itu surah al Fath.</em>”<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Al Halabi dan juga para ulama ahli sejarah lain menyebutkan bahwa <span style="color:#0000ff;"><em>dalam peristiwa Hudaibiyyah Sayyidina Umar terus menerus mendebat Nabi saw.</em></span> sehingga Abu Ubaidah bin Jarrâh menegurnya dengan keras, ia berkata, “Hai putra Khaththab, tidakkah engkau mendengar rasulullah saw. mengucapkan apa yang beliau ucapkan. Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” Sampai-sampai Nabi saw. bersabda kepada Umar,<span style="color:#0000ff;"><em> “Hai Umar, aku relah sedangkan kamu menolak?!</em></span><a title="" href="#_ftn4"> [4]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><strong>Ibnu Jakfar berkata:</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Surah al Fath turun untuk menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi saw. dengan mengambil keputusan damai berdasarkan bimbingan Allah yang nota kesepakatannya di tandanagangi oleh kedua belah pihak; Nabi saw. dan para pembesar kaum Musyrik Mekkah adalah sebuah kemenangan terbesar Islam dan kaum Muslimin. Dan surah yang memuat penegasan itu dinamai dengan surah al Fath yang artinya kemenangan! Nabi saw. bersabda, <span style="color:#0000ff;"><em>“Telah diturunkan kepadaku sebuah surah ia lebih aku sukai dari duni dan seisinya. Demikian diriwayatkan Imam Bukhari</em></span>.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a> Lalu beliau membacakannya kepada para sahabat. Tetapi beliau segera tersentak kaget ketika menyeruak suara sepontan menjerit mengatakan, <strong>“Fath apakah ini! Ini bukanlah Fath!<a title="" href="#_ftn6"><strong>[6]</strong></a></strong> Kita dihalau dari masuk masjid Haram&#8230; hewan-hewan korban kita terhalau&#8230; “</p>
<p style="text-align:justify;">Suara siapakah itu? Tentu Anda pun pasti kaget ketika ada di antara sahabat beliau yang dengan tidak sopan menentang Allah dan Rasul-Nya? Anda juga tidak sabar ingin tau siapakah si pengucap kata-kata sumbang itu? Saya sarankan Anda tidak usah mencari tahu siapa gerangan dia? Sebab saya khawatir Anda <em>&#8220;murtad&#8221;<a title="" href="#_ftn7"><strong>[7]</strong></a></em> mencampakkan doqma yang selama ini Anda yakini sebagai kebenaran absolut! Jangan! Tutup saja lembaran kasus ini!</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi yang penting Andalah jawaban Nabi saw. terhadapnya! Nabi saw bersabda, <span style="color:#0000ff;"><em>“Sejelek-jelak ucapan adalah apa yang engkau ucapan ini. Dia adalah Fath teragung.”</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam banyak riwayat lain juga disebutkan bahwa setelah Sayyidina Umar MURKA ATAS KEPUTUSAN NABI SAW., ia berkampanye mempengaruhi kaum Muslimin agar menentang ketetapan dan keputusan Nabi saw.! Sayyidina Umar sendiri mengakui provakasi yang ia lakukan untuk mempangaruhi kaum Muslimin agar menentang keputusan Nabi saw. ia berkata, <span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><em>“Maka aku lakukan untuk itu banyak perbuatan.”</em></span><a title="" href="#_ftn8">[8]</a> Dan setelah menyadari keburukan apa yang ia lakukan, ia menyesali dan menutup kesalahan itu dengan berpusa, bersedekah dan shalat serta memerdekakan budak. Demikian dilaporkan oleh al halabi dalam kitab Sirah-nya,2/706</p>
<p style="text-align:justify;">Terlepas dari berbagai data yang diungkap riwayat-riwayat lain, riwayat Imam Bukhari di atas yag menyebut Sayyidina Umar sebagai orang yang MURKA atas ketetepan dan keputusan Nabi saw. adalah data berbahaya dan riskan untuk dibongkar!!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><strong>Ibnu Jakfari berkata: </strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak mengerti, apakah memang demikian yang terjadi dan dilakukan oleh Sayyidina Umar, atau ini hanya sebuah fitnah yang sengaja disebarkan oleh Imam Bukhari dkk.? Bagi Anda yang meyakini kehati-hatian Sang Imam Agung; Bukhari dalam menyeleksi hadis sehingga beliau tidak mengoleksi dalam kitab Shahih-nya kecuali yang telah dipastikan keshahihannya&#8230; bagi Anda yang mempercayai seluruh hadis dalam kitab tershahih itu adalah pasti shahih dan harus diterima&#8230; apapun resikonya, betapapun ia membahayakan keutuhan doqma akidah Anda&#8230; maka sikap itu sepenuhnya adalah hak Anda, saya tidak akan mengintervensi pilihan Anda!</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin Anda dapat memaklumi sikap “tegas” Sayyidina Umar itu dilhami oleh keimanannya yang begitu teguh bahwa umat Islam tidak boleh menerima tamparan keterhinaan! Mungkin! Walau pun saya yakin jika pembelaan itu Anda sampaikan langsung kepada Sayyidina Umar -yang sedang Anda hendak bela, dan itu sah-sah saja!- pasti beliau ra. akan segera membantah Anda! Tentu beliau akan segera meminta Anda untuk tidak terlalu bersemangat membelanya. Sebab beliau sendiri tau alasan mengapa sikap MURKA itu begitu ia pilih? Dengarkan Sayyidina Umar menjelaskan kepada Anda:<span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><em> “Demi Allah, aku tidak syak/ragu setelah aku memeluk Islam kecuali hari itu&#8230; “</em></span> setelahnya Sayyidina Umar mulai mendebat Nabi saw. seperti yang Anda baca serpihan datanya di atas. Demikian dilaporkan oleh <span style="color:#0000ff;"><em>Imam Jalaluddîn as Suyûthi</em></span> dalam <span style="color:#0000ff;"><em>tafsir ad Durrul Mantsûr</em></span>-nya dalam hadis panjang dari riwayat Abdur Razzâq, Imam Ahmad, Abdu bin Humaid, Bukhari, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir dari sahabat Miswar bin Makhramah dan Marwan bin al Hakam.<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Itulah sesungguhnya yang membuat Sayyidina Umar murka dan kemudian bereaksi memprovokaqsi para sahabat lain!</p>
<p style="text-align:justify;">Dan apakah ini pujian dan pengagungan terhadap Sayyidina Umar bin Khaththab, Khalifah kedua umat Islam dan mertua Nabi Muhammad saw.? Atau hinaan dan tuduhan keji?!</p>
<p style="text-align:justify;">Apa kira-kira yang segera akan dimuntahkan oleh mulut-mulut berbisa kaum nashibi dan kaum Salafi pendukung Bani Umayyah apabila ada data sejenis itu diriwayatkan oleh ulama Syi’ah dan diabadikan dalam kitab-kitab mereka?! Pasti kalimat berbalut racun terlembut yang akan terlontar dari mulut-mulut mereka adalah Syi’ah Kafir karena menghina Sayyidina Umar al Fâruq! Demikianlah kedengkian kaum Majusi Persi yang berpura-pura mencintai Ahlulbait Nabi terhadap Sayyidina Umar Penakluk Kerajaan Persi Majusi! Dan kata-kata senada dengannya!! Pasti dan sudah sering terlontar kalimat beracum seperti itu dari kaum nashibi Salafi Wahhabi!</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi apakah Bukhari, Muslim dan para ulama Ahlusunnah lainnya juga pendukung kaum Majusi Persi atau Rafidhah Persi?! Atau jangan-jangan nanti mereka harus terpaksa mengatakan bahwa Bukhari dan ulama Ahlusunnah lainnya yang membongkar data-data seperti itu adalah antek-antek kaum Syi’ah yang bertaqiyyah dan menebar racum di tengah-tengah kaum Muslim Sunni?!</p>
<p style="text-align:justify;">Hanya Allah yang Maha Mengetahui apa yang bakal mereka katakan di kemudian hari jika semua jalan untuk membungkam suara kebenaran telah gagal!!</p>
<p style="text-align:justify;">Siapa tau?! Bukankah kaum nashibi panutan kaum Salafi Wahhâbi dahulu juga menuduh Imam Syafi’i, Imam an Nasa’i, Imam Sibthu Ibnu Jauzi dan lainnya sebagai Syi’ah Rafidhah! Kaum Sesat! Karena kecintaannya kepada Ahlulbait dan ketegasan sikapnya terhadap <em>du’âtu ilan nâr</em>/para penganjur kepada neraka jahannam; Mu’awiyah, Yazid dan tentara setan lainnya!</p>
<p style="text-align:justify;">Kita nanti saja sampai dimana ulah bodoh kaum Salafi Wahhâbi yang sedang menanti kehancuran dan kematian rezim Wahhâbi yang sedang sekarat dan para emirnya sedang menanti giliran panggilan malaikat maut untuk dikumpulkan bersama Fir’aun, Namruth, Qadzdzâfi, Saddam Husain dan fir’aun-fir’aun lainnya!</p>
<div style="text-align:justify;">
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Tafsir al Qur’an al ‘Adzîm; Ibnu Katsîr,1/520. Ibnu Katsîr juga menyebutkan beberapa riwayat yang  di antaranya mengatakan bahwa orang yang menolak dan apalagi tentunya sakit hati lalu murka dan bereaksi untuk mempwngruhi orang lain agar menentang keputusan Nabi saw. adalah halal darahnya!</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Kata <em>mutaghayyidhan</em> dalam riwayat di atas saya terjemahkan dengan murka. Kata itu berasal dari kata kerja tsulâtsi (berhufuf tiga): <em>Ghâdza-yaghidzu- ghaidhan</em>. Contoh<em> Ghahdahu amrun </em>artinya: Perkata itu membuatnya marah dengan marah yang  sangat. Kata kerja <em>taghayyadha</em>-yataghayyadhu-<em>mutaghayyidhun</em> artinya: Menampakkan marah yang sangat terhadap sesuatu lain akibat sebuah perkara! (baca kamus-kamus bahasa Arab seperti <em>al Mu’jam al Wasith</em>,2/668. Dalam kasus di atas Sayyidina Umar menampakkan marah yang sangat kepada Nabi sebagai reaksi dari keputusan yang beliau saw tetapkan untuk berdamai dengan mengadakan perjanjian Hudaibiyyah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Shahih Bukhari, Kitab at tafsîr, tafsir surah al Fath,6/171, hadis nomer 4844 dalam penomeran Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bâri,18/216-217 dan Shahih Muslim, Kitâb al Jihâd wa as Siyar bab ke 34, juz 3 hal 1412 hadis nomer 1785.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> As Sirâh al Halabiyyah,2/706 Sirah Nabawiyyah; Ibnu Katsir,3/320.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Shahih Bukhari, Bab Shulhu Hudaibiyyah juga baca as Sirah al Halabiyah dan Sirah Nabawiyyah tulisan Sayyid Zaini Dahlan</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Baca juga tafsir Fathul Qadîr; asy Syaukani,5/57.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Jangan disalahpahami kata murtad di sini tidak berarti keluar dari agama Islam. Seorang bisa disebut murtad secara bahasa apabila ia mencampakkan apa yang selama ini diyakininya sebagai bagian inti agama misalnya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Baca Shahih Bukhari, Kitab asy Syurûth, Bab asy Syurûth fi al Jihâd,1/122 dan 3/256 dan Musnad Imam Ahmad dari hadis Miswar bin Makhramah dan Marwan bi  al Hakam. (Lihat juga Ad Durrul Mantsûr,6/74 ketika menafsirkan ayat 24-25 surah al Fath).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Ad Durrul Mantsûr,6/74 ketika menafsirkan ayat 24-25 surah al Fath.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/1923/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/1923/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/1923/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/1923/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jakfari.wordpress.com/1923/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jakfari.wordpress.com/1923/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jakfari.wordpress.com/1923/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jakfari.wordpress.com/1923/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/1923/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/1923/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/1923/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/1923/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/1923/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/1923/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1923&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2011/11/05/sayyidina-umar-bin-khaththab-ra-di-mata-imam-bukhari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/448ec135645f1d27ee5bd10e169255c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Munafik Yang Mukmin Sejati Versus Mukmin Waliyullah Yang Fasik Dalam Pandangan Salafi Wahhâbi!</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2011/11/02/munafik-yang-mukmin-sejati-versus-mukmin-waliyullah-yang-fasik-dalam-pandangan-salafi-wahhabi/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2011/11/02/munafik-yang-mukmin-sejati-versus-mukmin-waliyullah-yang-fasik-dalam-pandangan-salafi-wahhabi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 14:47:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=1927</guid>
		<description><![CDATA[Munafik Yang Mukmin Sejati Versus Mukmin Waliyullah Yang Fasik Dalam Pandangan Salafi Wahhâbi! . Menyoal Konsep Keadilan Seluruh Sahabat Versi Sunni Umawi Alias Salafi Wahhâbi Membangun keyakinan yang batil dengan menumpang kendaraan kebenaran pasti akan banyak mengalami kerancuan dan kontradiksi yang menggelikan dan sekaligus membuktikan kebatilahnya! Itulah kira-kira yang pasti akan Anda dapati setiap kali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1927&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"><strong>Munafik Yang Mukmin Sejati Versus Mukmin Waliyullah Yang Fasik Dalam Pandangan Salafi Wahhâbi!</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Menyoal Konsep Keadilan Seluruh Sahabat Versi Sunni Umawi Alias Salafi Wahhâbi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Membangun keyakinan yang batil dengan menumpang kendaraan kebenaran pasti akan banyak mengalami kerancuan dan kontradiksi yang menggelikan dan sekaligus membuktikan kebatilahnya!</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah kira-kira yang pasti akan Anda dapati setiap kali Anda menelaah kajian keadilan sahabat yang disajikan oleh pemuja doqma Islam Umawi yang sekarang dengan bangga dilakoni oleh para masyâikh Salafi Wahhâbi yang dengan tanpa rasa malu mengelari diri mereka dengan Ahlil Ilmi/ulama ahli ilmu, sementara gelar itu sendiri tak henti-hentinya menjerit, menangis dan mengeluh karena disandang oleh mereka yang lebih pantas disebut dengan sekumpulan orang  buta dan jahil yang sedang memimpin kaum buta lagi jahil lainnya!<span id="more-1927"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Mereka menjadikan konsep keadilan seluruh sahabat tanpa terkecuali adalah orang-orang yang mukmin sejati, adil/baik dan shaleh dan tidak bertindak dan atau bersikap melainkan murni karena agama dan demi al haq&#8230; kerenanya pahala selalu menjadi bonus yang akan mereka terima! Siapapun yang berani mengkritisi mereka berarti ia seorang Zindiq alias kafir atau paling ringan adalah Ahli Bid’ah yang neraka adalah tempatnya!</p>
<p style="text-align:justify;">Dan apabila kita katakan bahwa ada di antara sahabat Nabi saw. itu yang munafik mata-mata mereka segera melotot marah dan vonis Zindiq atau Ahli Bid’ah sudah siap di ujung mulut-mulut mereka! Apa katamu?! Sabahat Nabi Muhammad ada yang Munafik! Enyahlah engkau hai Zindiq! Enyahlah engkau hai ahli bid’ah! Itulah pasti yang akan Anda dengan darti para masyâikh pelestari doqma rezim Umawi terkutuk itu!</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi cobalah kita perhatikan beberapa kenyataan di bawah ini:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdullah bin Ubay bin Salûl</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jika Abdullah bin Ubay kita ambil contoh kasus, maka kita akan menemukan sederetan keajaiban.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdullah bin Ubay Adalah Seorang Sahabat Mukmin!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sebuah ayat Al Qur’an Allah menggelari Abdullah bin Ubay dan kelompoknya (yang dituduh oleh kaum Salafi Wahhâbi sebagai Munafik) sebagai kaum Mukminin, perhatikan ayat 9 surah al Hujurât:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>وَ إِنْ طائِفَتانِ مِنَ الْمُؤْمِنينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُما فَإِنْ بَغَتْ إِحْداهُما عَلَى الْأُخْرى‏ فَقاتِلُوا الَّتي‏ تَبْغي‏ حَتَّى تَفي‏ءَ إِلى‏ أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُما بِالْعَدْلِ وَ أَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطينَ </strong><strong><em></em></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan jika ada dua golongan dari orang- orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang- orang yang berlaku adil.”</em> (QS. Al Hujurât;9)<em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Imam Jalaluddîn as Suyûthi</span> dalam tafsir ad Durrul Mantsûr-nya menyebutkan sebuah riwayath shahih tentang sebab turunnya ayat di atas dari riwayat Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, Ibnu Mardawaih dan al baihaqi dari sahabat Anas bin Malik bahwa yang dimaksud dengan dua kelompok <strong>kaum Mukmin </strong>yang sedang bersengketa sehingga mereka saling serang dengan bersenjatakan batang pelepah korma, sandal bahkan dengan tangan kosong juga adalah Abdullah bin Ubay dan kelompoknya dengan sekelompok kaum mukmin lainnya yang kedua-duanya adalah sahabat Nabi saw.!<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Ini addalah sebuah kenyataan yang diungkap oleh data riwayat ulama Ahlusunnah. Lalu bagaimana kaum Salafi Wahhâbi mengatakan bahwa Abdullah bin Ubay adalah Munafik?! Sementara Allah dalam Al Qur’annya menyebutnya sebagai Mukmin?! Ini adalah realita!</p>
<p style="text-align:justify;">Saya akan setia menanti tanggapan kaum Salafi Wahhâbi pengikut Ibnu Taimiyah dan pemuja doqmaq Umawi!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Realita kedua:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tidak cukup dengan hanya menyebut Abdullah bin Ubay sebagai Mukmin dalam ayat di atas, Allah mempertegas bahwa Allah telah ridha kepada Abdullah bin Ubay bin Salûl (sekali lagi Abdullah bin Ubay yang dalam pandangan Salafi Wahhâbi adalah orang terkutuk). Coba perhatikan ayat di bawah ini:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنينَ إِذْ يُبايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ ما في‏ قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكينَةَ عَلَيْهِمْ وَ أَثابَهُمْ فَتْحاً قَريباً</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).</em>(QS. Al Fath[48];18)</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Berdasarkan pemahaman kaum Salafi Wahhâbi bahwa Allah telah ridha terhadap seluruh mereka yang berbaiat kepada Nabi saw. dalam peristiwa Hudaibiyah.</em></span> Mereka membaiat Nabi saw. untuk tidak lari dari medan perang dan dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka membaiat Nabi saw. tidak sekedar tidak lari tapi mereka akan membela beliau hingga tetes darah penghabisan yaitu hingga mati.</p>
<p style="text-align:justify;">Terdapat perbedaan riwayat tentang jumlah mereka. Jumlah paling sedikit disebutkan adalah 1300 orang sahabat. Al Halabi menguatkan bahwa jumlah mereka saat itu adalah 1400 sahabat!</p>
<p style="text-align:justify;">Yang penting adalah bahwa Allah dalam ayat di atas menegaskan keridhaan-Nya terhadap mereka yang berbaiat kepada Nabi saw. di bawah pohon. Sampai-sampai kaum Muslimin pun menamakan peristiwa pembaiatan itu dengan bai’atu Ridhwân/baiat keridhaan karena Allah meridhai <em>mereka semua!</em> Nabi pun mempertegas bahwa mereka yang ikut membaiat beliau adalah sebaik-baik penghuni bumi. Para ulama di antaranya Said bin Manshûr,, Bukhari, Muslim, Ibnu Mardawaih, dan al Baihaqi dalam kitab Dalâil an Nubuwwah meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah al Anshâri ra. bahwa Nabi saw. bersabda:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>أنتم خيرُ أهلِ الآرضِ</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Kalian adalah sebaik-baik penghuni bumi.”</em><a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Lebih dari itu, Nabi saw. menegaskan bahwa mereka yang berbaiat dengan beliau dalam Bai’atu Ridhwân tidak akan masuk neraka!</p>
<p style="text-align:justify;">Para ulama Ahluusunnah seperti Imam Ahmad, Muslim meriwayatkan bahwa Nabi saw, bersabda:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>لا يدخل النارَ أحدٌ ممَّن بايعَ تحتَ الشجرة</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Tiada akan masuk neraka seorang pu yang berbaiat di bawah pohon.</em>”<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abdullah bin Ubay Termasuk Yang Hadir Dalam Peristiwa Hudaibiyah Dan Membaiat Nabi saw.!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum keberangkatan ke kota Madinah, Nabi saw. mengumumkan niatan keberangkatan itu dan meminta seluruh sahabat beliau, tidak hanya yang tinggal di kota Madinah saja, untuk bergabung berangkat bersama beliau. Akan tetapi kaum munafik dan kaum Arab Baduwi menolak bergabung bersama Nabi saw. dengan seribu satu alasan. Hal itu disebutkan dalam ayat 11 surah al Fath:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>سَيَقُولُ لَكَ الْمُخَلَّفُونَ مِنَ الْأَعْرابِ شَغَلَتْنا أَمْوالُنا وَ أَهْلُونا فَاسْتَغْفِرْ لَنا يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ ما لَيْسَ في‏ قُلُوبِهِمْ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئاً إِنْ أَرادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ أَرادَ بِكُمْ نَفْعاً بَلْ كانَ اللَّهُ بِما تَعْمَلُونَ خَبيراً </strong><strong><em></em></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiah)  akan mengatakan: “Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami”; mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudaratan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” </em>(QS. Al Hujurât;11)</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi saw. berangkat dengan seribu sekian ratus sahabat beliau menuju kota suci Mekkah yang kemudian dihalang-halangi masuk oleh kaum Musyrik Mekkah di desa Hudabiyah dan yang akhirnya terjadi peristiwa sejarah yang sangat terkenal yaitu perjanjian Hudaibiyah. Abdullah bin Ubay termasuk yang ikut bergabung berangkat bersama Nabi saw.. Banyak bukti sejarah menegaskan keikut-sertaannya dalam peristiwa itu dan juga berbaiat kepada Nabi saw.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bukti Pertama: </strong>Sesampainya di desa Hudabiyah kaum Muslim kehabisan perbekalan air dan kesulitan untuk mendapatkan sumur atau mata air di tempat sekitar. Maka Nabi saw. menampakkan mu’jizat beliau dengan mengambil sedikit sisa air dan berwudhu’ dengannya, beliau berkumur lalu memuntahkan air kumur beliau ke dalam lubang sumur itu dan seketi sumur itu memancarkan air dan para sahabat pun menikmati air sumur itu untuk minum, wadhu’ da lain sebagainya. Ulama menyebutkan data sejarah yang mengatakan bahwa Abdullah bin Ubay termasuk yang berada dekat dengan bibir sumur dan menimba air darinya. Demikian dipastikan oleh <span style="color:#0000ff;"><em>Imam Allamah Burhanuddîn al Halabi</em></span> dalam<em> Sirah Halabiyyah</em>-nya,3/12.<strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bukti Kedua: </strong>Setelah berhasil menghalang-halangi Nabi saw. dan para sahabat untuk terus masuk ke kota Mekkah, kaum Musyrik/kafir berusaha memecah-belah kesatuan kaum Muslimin dengan banyak cara. Di antaranya dengan menawarkan kepada Abdullah bin Ubay sebuah tawaran menarik yaitu mengizinkan Abdullah bin Ubay untuk masuk kota Mekkah dan tawaf mengelilingi Ka’bah! Tawaran itu ditolak oleh Abdullah bin Ubay. Abdullah bin Ubay berkata, <strong>“Aku tidaak sudi tawaf sehingga Nabi bertawaf terlebih dahulu.”</strong> Demikian dilaporkan oleh Imam Allamah Burhanuddîn al Halabi dalam sirah Halabiyyah-nya,3/18.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bukti Ketiga: </strong>Seluruh sahabat yang ikut berangkat bersama Nabi saw. dalam peristiwa itu, ikut serta mebaiat Nabi saw. di bawah pohon, tidak seorang pun enggan atau membelot kecuali hanya satu orang sahabat bernama al Jadd bin Qais. Ia bersembunyi di balik badan ontanya. Disinyalir dia seorang munafik! Demikian ditegaskan oleh Imam Allamah Burhanuddîn al Halabi dalam sirah Halabiyyah-nya,3/17.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, semua keutamaan dan keistimewaan yang diyakini diberikan untuk para sahabat yang membaiat Nabi dalam Bai’atu Ridhwan juga harus diyakini diberikan untuk Abdullah bin Ubay! Lalu bagaimana  masyâikh Salafi Wahhâbi mengatakan bahwa dia seorang munafik terkutuk?!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><strong>Ibnu Jakfari: </strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;"><em>Saya harap Anda tidak menyalah-pahami apa yang saya maksud di sini, bahwa saya membela Abdullah bin Ubay bin Salûl!</em></span></span> Akan tetapi, berdasarkan logika bengkok mereka, bukankan Abdullah bin Ubay berhak mendapat semua yang biasa dibagikan para Salafi Wahhâbi&#8230; Taburan mawar merah, pujian, pembelaan dan bahkan kecintaan&#8230; ya kecintaan kepada siapapun yang bergelar sebagai sahabat Nabi saw. apalagi sahabat yang ikut serta dalam Bai’at Ridhwân! Walaupun tidak jelas pula siapa yang menggelari si A atau si B atau si C sebagai sahabat!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sekarang Bandingkan!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang bandingkan sikap para masyâikh Salafi Wahhâbi terhadap seorang yang tegas-tegas disebut sebagai <strong>FASIQ</strong><span style="color:#0000ff;"><em> yang juga dimuat dalam surah al Hujurât ayat 6-8 persis sebelum ayat yang menyebut Abdullah bin Ubay sebagai Mukmin ayat 9</em></span>.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Si FASIQ itu justru mereka banggakan</em></span>. Semua data riwayat menegaskan bahwa yang dimaksud dengan <span style="color:#0000ff;"><em><span style="color:#000000;">si FASIQ itu adalah</span><strong> <a href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/" target="_blank">Al Walid bin ‘Uqbah</a></strong></em> &#8230; Tetapi para masyâikh Salafi Wahhâbi membelanya</span> dan memelototi dan menghardik siapapun yang berani menyebut Walid bin ‘Uqbah sebagai si <strong>FASIQ!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bukankah ini sebuah <em>kebelingeran</em> atau katakan saja &#8220;kemunafikan&#8221;! Mengapa mereka membela si FASIQ <a href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/" target="_blank"><em>Al Walid bin ‘Uqbah</em></a> dan menelantarkan Abdullah bin Ubay dan tidak sedikit pun membelanya, bahkan ikut serta dalam menghancurkan identitasnya?! Mengapa demikian, padahal keduanya sama-sama munafik?! Jawabannya jelas dan sederhana. Sebab Abdullab bin Ubay bukan dari keluarga bani Umayyah kelurga terkutuk dalam Al Qur’an dan lisan Nabi suci Muhammad saw. yang mana para masyâikh Salafi Wahhâbi telah mawakafkan diri mereka untuk menjadi pembela pohon terkutuk itu!</p>
<p style="text-align:justify;">Munafik tulen atau bukan tidaklah penting dalam kamus kaum Nashibi Salafi Wahhâbi! Yang penting adalah bani Umayyah harus ditampilkan sebagai hamba-hamba pilihan Allah!! Firman suci Allah SWT harus dibuang jauh-jauh jika menggalangi agenda mereka! Jika perlu Nabi Muhammad pun harus dikecam jika berani bersabda membongkar kejelekan Mu’awiyah, Amr bin Ash, Walid bin Uqba dan kaum munafik lainnya! Nabi Muhammad pun harus segera diragukan kemaksumannya jika mulai mengecam bani Umayyah!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Nasihat Kami:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Karenanya doqma keadilan seluruh sahabat Nabi saw. harus Anda segera tinjau ulang&#8230; sebab ia berdampak bahaya bagi agama Anda. Janganlah sekali-kali Anda tertipu oleh propaganda bani Umayyah yang menanamkan konsep ini sebagai doqma! Jika Anda tetap mengimani doqma bani Umayyah maka Anda harus juga membela kaum munafik termasuk Abdullah bin Ubay.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga kita semua diselamatkan dari kesesatan bani Umayyah dan dari kejahatan para pengikut mereka yang kini makin mengganas!</p>
<div style="text-align:justify;">
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Tafsir ad Durrul Mantsûr,6/94-95 riwayat pertama yang disebutkan penulisnya untuk menafsirkan ayat di atas!</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Tafsir ad Durrul Mantsûr,6/68 ketika menafsirkan ayat17 surah al Fath.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Ibid. Dan baca juga kitab-kitab lain seperti Sirah Halabiyyah,3/18.</p>
<p>.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><strong>ARTIKEL TERKAIT</strong></span></p>
<ul>
<li><a href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/" target="_blank">Potret Sahabat Agung Kebanggaan Ahlusunnah! (2): Al Walid bin Uqbah</a></li>
</ul>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/1927/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/1927/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/1927/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/1927/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jakfari.wordpress.com/1927/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jakfari.wordpress.com/1927/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jakfari.wordpress.com/1927/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jakfari.wordpress.com/1927/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/1927/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/1927/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/1927/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/1927/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/1927/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/1927/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1927&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2011/11/02/munafik-yang-mukmin-sejati-versus-mukmin-waliyullah-yang-fasik-dalam-pandangan-salafi-wahhabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/448ec135645f1d27ee5bd10e169255c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hadis Shahih Bukhari Dan Ummul-mukminin Aisyah ra</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2011/10/31/hadis-shahih-bukhari-dan-ummul-mukminin-aisyah-ra/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2011/10/31/hadis-shahih-bukhari-dan-ummul-mukminin-aisyah-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 14:59:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=1911</guid>
		<description><![CDATA[Hadis Shahih Bukhari Dan Ummul-mukminin Aisyah ra Pendahuluan Tidak diragukan lagi bahwa Nabi saw selalu terbimbing oleh wahyu dalam apa yang disampaikannya. Sebagaimana ayat-ayat Al Qur’an juga menegaskan bahwa di antara tugas penting  beliau saw. adalah memberi peringatan, indzâr. Demikian pula dengan sifat belas kasih Rasul saw. terhadap umat beliau adalah hal yang tidak perlu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1911&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;"><strong>Hadis Shahih Bukhari Dan Ummul-mukminin Aisyah ra<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tidak diragukan lagi bahwa Nabi saw selalu terbimbing oleh wahyu dalam apa yang disampaikannya. Sebagaimana ayat-ayat Al Qur’an juga menegaskan bahwa di antara tugas penting  beliau saw. adalah memberi peringatan, <em>indzâr</em>. Demikian pula dengan sifat belas kasih Rasul saw. terhadap umat beliau adalah hal yang tidak perlu dipersoalkan lagi. Beliau sangat besar perhatian dan belas kasihnya terhadap umat ini. Ayat-ayat tentangnya sangat banyak, sehingga tidak perlu rasanya disebutkan satu-persatu di sini!</p>
<p style="text-align:justify;">Di antara yang menyita perhatian dan membuat kesedihan dan keprihatinan mendalam tak menyingkir dari pikiran beliau adalah fitnah yang akan dialami oleh sekelompok dari umat Islam. Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah bahwa fitnah itu bakal dimotori dan dikomadoi oleh orang-orang yang secara formal telah mengikat dengan beliau dengan sebuah ikatan tertentu. <span id="more-1911"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Bukhari dalam kitab hadis Shahihnya yang diyakini sebagai kitab suci tershahih setelah Al Qur’an wahyu terakhir Allah dan yang semua hadisnya adalah shahih 100%, telah membongkar sebuah data berbahaya tentang lakon fitnah dan dari nama tanduk setan akan muncul.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata hadis shahih riwayat <span style="color:#0000ff;">Imam Bukhari</span> itu ternyata fitnah menyesatkan dan tanduk setan yang membahayakan umat Rasulullah saw. akan digodok matang di dapur Rumah Ummul Mukminin Aisyah ra dan akan keluar  disajikan sebagai hidangan maut atas umat beliau!</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh mengerikan!</p>
<p style="text-align:justify;">Mengingat dampak buruknya yang tak terbayangkan dan bahayanya yang mengerikan, Rasulullah saw. yang sangat berbelas kasih terhadap umatnya itu tidak mencukupkan dengan hanya mengingatkan Aisyah  ‘istri terkasihnya’ secra pribadi agar tidak bangkit sebagai lakon fitnah dan rumahnya menjadi tempat setan memamerkan kekuatan jahatnya! Lebih dari itu, tanggung jawab berat beliau saw. sebagai <em>mundzir</em>, pemberi peringatan menuntut beliau untuk bangkit berpidato di hadapan para sahabat. Dari atas mimbar suci itulah Rasulullah saw. berpidato menegaskan <span style="color:#0000ff;"><em>seraya menunjuk rumah tempat tinggal Aisyah</em></span> bahwa dari rumah itulah kelak fitnah akan bangkit dan tanduk setan akan muncul!</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan sobat teks pidato abadi sang Rasul yang kasih!</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا جُوَيْرِيَةُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطِيبًا فَأَشَارَ نَحْوَ <span style="color:#0000ff;">مَسْكَنِ عَائِشَةَ</span> فَقَالَ هُنَا الْفِتْنَةُ ثَلَاثًا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ</h2>
<h3 style="text-align:right;"><span style="color:#800000;">صحيح البخاري &#8211; كِتَاب فَرْضِ الْخُمُسِ &#8211; بَاب مَا جَاءَ فِي بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا نُسِبَ مِنْ الْبُيُوتِ إِلَيْهِنَّ<br />
</span></h3>
<p style="text-align:justify;"><em>Imam Bukhari meriwayatkan &#8230; dari Nâfi’ dari Abdullah bin Umar ra.: Nabi saw. berdiri berpidato seraya menunjuk ke arah<span style="color:#0000ff;"> rumah Aisyah l</span>alu bersabda, “Di situlah fitnah! -beliau mengulangnya tiga kali- di mana tanduk setan akan muncul.”</em>!<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Teks Arab diatas saya ambil dari &#8220;Shahih Bukhari Online&#8221; situs Kementrian Agama Arab Saudi <a href="http://hadith.al-islam.com/Page.aspx?pageid=192&amp;TOCID=1974&amp;BookID=24&amp;PID=2941" target="_blank">http://hadith.al-islam.com/Page.aspx?pageid=192&amp;TOCID=1974&amp;BookID=24&amp;PID=2941</a> )</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah Nabi Muhammad saw memperingatkan para sahabat dan tentunya juga kita semua agar mengetahui sumber fitnah berawal dari mana? Dan kekuatan penyesat dan penghancur keutuhan umat dan ajaran -yang disebut sebagai tanduk setan- akan muncul dari mana?<strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Para Ulama Lari Dari Tanggungjawab!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Para ulama adalah pewaris para nabi as. Tentunya mereka juga harus memerankan peran para nabi dalam membimbing umat, memberikan pencerahan dan penyadaran! Akan tetapi yang sangat disayangkan, sebagian ulama justeru melakukan upaya pembodohan umat Islam! Mereka tidak menjadi penyambung lidah suci Nabi saw. tetapi yang mereka lakukan justeru merahasiakan sabda-sabda suci Nabi saw.! setelah gagal merahasiakannya, mereka mempelesetkan maksud dan kandungannya, alhasil mereka membodohi umat yang awam! Namun kasihan mereka karena ternyata tidak semua umat Islam awam dan mudah tertipu oleh pembodohan para ulama yang mengaku sebagai pewaris para nabi as.!</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kasus kita ini, kenyataaan itu terlihat begitu nyata! Para pensyarah Shahih Bukhari berusaha membelokkan kandungan hadis ini dan cenderung lari dari tanggung jawab penerjemahan maksud sebenarnya dari sabda suci di atas!</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka berusaha lari dari menerangkan maksud hadis dan menanti kelengahan para santri atau kaum setengan awam setengah alim (yang biasa dipanggil kaum awam sebagai sang maha guru/Syeikh/ustadz dan diandalkan sebagai penyambung lidah suci agama). kelengahan mereka benar-benar dinanti oleh para pensyarah itu!</p>
<p style="text-align:justify;">Ambil contoh nyata! <span style="color:#0000ff;">Ibnu Hajar al Asqallani</span> dalam kitab <em><span style="color:#0000ff;">Fathul Bâri</span></em>-nya yang merupakan syarah Shahih Bukhari terlengkap, <span style="text-decoration:underline;"><em>tenyata ia lari dari menerangkan hadis bahwa fitnah itu dari rumah Aisyah!</em> <em>Dan tanduk setan akan muncul dari rumah Aisyah!</em></span> Dan yang aneh lagi ia mengajak kita menyimpang jauh dengan mengatakan bahwa yang dimaksud dengannya adalah arah timur! Nabi saw. mengatakan fitnah itu muncul dari arah Timur! Maksudnya negeri Irak. Semua itu ia lakukan setelah mendemostrasikan kehebatannya dalam mengakurkan antara berbagai riwayat –katanya-! Sebab ada sabda nabi saw. yang mengatakan bahwa fitnah akan keluar dari sana! Seraya beliau menunjuk ke arah Timur!</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak mengerti, kaidah apa yang sedang diandalkan oleh sang penutup para hafiz itu? Sebab setahu saya (dan tentunya selain ini tidak benar) bahwa apabila ada dua nashyang satu bersifat umum dan yang lainnya bersifat khusus maka yang umum itu mesti diikat dengan yang khusus, sehingga mestinya hadis yang menyebut arah Timur itu dimaknai yang khusus yaitu yang menyebut rumah Aisyah!</p>
<p style="text-align:justify;">Ringkas kata, ada upaya untuk mempermainkan akal kaum awam!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Akhirul Kalam!  </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sabda suci Nabi saw. tentang rumah siti Aisyah belum diterjemahkan dengan benar oleh para ulama’!</p>
<p style="text-align:justify;">Hadis itu jelas sekali memuat kecaman keras atas fitnah yang menjadi pintu masuk setan untuk menebar fitnah penyesatan dan perpecahan!</p>
<p style="text-align:justify;">Dan yang terakhir saya ingin katakan di sini. hadis kecaman terhadap rumah Aisyah seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari; imam ahli hadis teragung Ahlusunnah&#8230;. <span style="color:#0000ff;"><em>andai hadis seperti itu diriwayatkan oleh ahli hadis Syi’ah apalagi oleh Syeikh al Kulaini (semoga rahmat Allah tercurah atasnya), apa kira-kira sikap para penebar fitnah perpecahan itu akan berkomentar?</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Jawabnya tidak samar bagi Anda. Pasti mulut-mulut berbisa itu akan segera memuntahkan bisa beracunnya dan mengatakan bahwa Syi’ah menghina ibu kaum Mukmini Aisyah ra.! Karena Syi’ah kafir dan halal darah mereka..!</p>
<p style="text-align:justify;">Bukankah demikian apa yang selama ini mereka lakukan sesuai dengan tugas yang dibebankan ke atas pundak mereka oleh kaum Zionis dan para masyâikh Wahhâbi Salafi (yang sebagian dari mereka &#8220;buta&#8221; dan sebagian lainya &#8220;setengah buta&#8221; serta yang lain lagi <em>melek</em>  tetapi lebih buta dari yang buta) yang selama ini menjadi agen resmi maupun amatiran musuh-musuh persatuan Islam dan kaum Muslimin!</p>
<p style="text-align:justify;">Pendek kata saya masih akan setia menanti jawaban dan keterangan memuaskan dari para ulama bukan dari para mukallid kaum &#8220;buta&#8221; yang jalannya meraba-raba!<strong><em></em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Barang siapa buta di dunia ini maka ia di akhirat nanti buta dan lebih sesat jalannya!</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<div style="text-align:justify;">
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Shahih Bukhari,4/100 Bab Mâ Jâa Fî Buyûti Azwâji an Nabi saw. habis no.3279. baca juga Fathul Bâri,13/69.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/1911/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/1911/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/1911/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/1911/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jakfari.wordpress.com/1911/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jakfari.wordpress.com/1911/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jakfari.wordpress.com/1911/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jakfari.wordpress.com/1911/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/1911/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/1911/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/1911/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/1911/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/1911/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/1911/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1911&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2011/10/31/hadis-shahih-bukhari-dan-ummul-mukminin-aisyah-ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/448ec135645f1d27ee5bd10e169255c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengkhianatan Sekte Salafi Wahhâbi Terhadap Salaf Shaleh!</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2011/05/15/pengkhianatan-sekte-salafi-wahhabi-terhadap-salaf-shaleh/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2011/05/15/pengkhianatan-sekte-salafi-wahhabi-terhadap-salaf-shaleh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 03:50:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Wahabi-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis Palsu Keutamaan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Sidogiri]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=1809</guid>
		<description><![CDATA[Pengkhianatan Sekte Salafi Wahhâbi Terhadap Salaf Shaleh! Tidaklah mudah menawarkan hidayah Allah kepada para pengikut sekte Salafi Wahhâbi, sebab sumber hidayah ilahi utama; al Qur’an al Karîm sudah mereka nomer-sekiankan, setelah riwayat (tidak terlalu penting kualitas shahih tidaknya) dan ucapan para pembesar kaum Salaf Shaleh (itupun mereka pilih yang kira-kira dapat mendukung atau paling tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1809&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"><strong>Pengkhianatan Sekte Salafi Wahhâbi Terhadap Salaf Shaleh!</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tidaklah mudah menawarkan hidayah Allah kepada para pengikut sekte Salafi Wahhâbi, sebab sumber hidayah ilahi utama; al Qur’an al Karîm sudah mereka nomer-sekiankan, setelah riwayat (tidak terlalu penting kualitas shahih tidaknya) dan ucapan para pembesar kaum Salaf Shaleh (<span style="color:#0000ff;"><em>itupun mereka pilih yang kira-kira dapat mendukung atau paling tidak yang tidak merugikan dokma mereka!</em></span>!)&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#800000;">Ini adalah kenyataan betapa pun pahit dirasa dan berat diterima!</span><span id="more-1809"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><em>Secara teori, mereka mengklaim mengikuti Al Qur’an dan Sunnah dengan berdasarkan pemahaman Salaf!</em></span> <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>Namun kenyataannya, kasihan sekali Salaf Shaleh, mereka hanya diperalat&#8230; dikala dibutuhkan, mereka dipuja dan dirujuk&#8230; ketika tidak sejalan dengan akidah bentukan Sekte Salafi Wahhâbi apalagi bertentangan, pasti mereka segera dibuang&#8230; kalau perlu dikecam terang-terangan!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal akidah posturisasi Allah, Salaf diperalat&#8230; mereka mengatakan bahwa mazhab Salaf adalah meyakini<em> tajsîm</em> dan<em> tasybîh</em> (walaupun para pengikut sekte Salafi Wahhâbi keberatan disebut sebagai kaum Mujassimah dan Musyabbbihah)&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal pembelaan terhadap kaum munafik dan fasik durjana &#8230; sekali lagi Salaf dirujuk&#8230; tentunya yang sikapnya sejalan dengan doktrin Sekte sempalan <em>Salafi Wahhâbi</em> kata mereka, Salaf adalah menghormati dan menjunjung tinggi harkat para munafikun seperti Mu’awiyah putra pasangan Pak Abu Sufyan (gembong kaum kafir Quraisy yang berubah setrategi dengan menjadi munafik tulen) Tante Hindun (yang terkenal doyan pria kekar, masalah warna kulit tidak menjadi masalah, seperti Wahsyi) si pengunyah jantung Sayyiduna Hamzah paman Nabi saw.! atau Amr bin al Âsh, al Walîd dkk.</p>
<p style="text-align:justify;">Karenanya, di sini saya tidak akan membawakan ayat-ayat suci al Qur’an atau hadis-hadis Nabi saw. tentang kemunafikan kaum munafik yang dibanggakan para pengikut sekte Salafi Wahhâbi sebagai Amirul Mukmin, sahabat mulia dan pengemban amanat kerasulan yang disucikan sesuci-suciya&#8230;<span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"> <em>Dia adalah Mu’awiyah!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kaum Salafi Wahhâbi meyakini Mu’awiyah tidak sekedar sahabat Nabi saw. yang mulia, tetapi selain itu ia adalah paman kaum Mukminin, penulis wahyu suci&#8230; pembela Islam nomer wahid setelah Abu Bakar, Umar dan Utsman!</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak sedikit –kata kaum Salafi Wahhâbi- hadis-hadis pujian disabdakan Nabi saw. untuk Mu’awiyah&#8230; mereka telan mentah-mentah (sampai-sampai mereka keracunan akidah sesat memuji mengidolakan gembong-gembong kaum munafik)&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi <span style="color:#0000ff;"><em>benarkan Mu’awiyah adalah hamba Mukmin kepercayaan Allah dan rasul-Nya?</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Atau <span style="color:#0000ff;"><em>benarkan Mu’awiyah itu Islam dengan sebenar arti kata?</em></span> Tidak munafik dan memendam dendam kusumat kepada Allah dan Nabi-Nya?</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Siapakah yang lebih mengenal Mu’awiyah dan kaum munafik sejawatnya? Kita yang telah dipisah oleh waktu dan ruang dengannya atau para sahabat dan tabi’in yang hidup sezaman dengannya.</em></span> Mengenalnya dari dekat menyaksikan langsung sepak-terjangnya?</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Allah telah menyebutkan kemunafikan Mu’awiyah! Nabi Muhammad saw. juga menegaskan hal itu dalam banyak hadisnya!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Tetapi semua itu tidak ada nilainya di mata pengikut sekte Salafi Wahhâbi! Yang laku hanya ucapan para Salaf Shaleh!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Itu pun masih harus dipilih dan disleksi!<span style="color:#0000ff;"><em> Salaf yang boleh dirujuk untuk memberikan penilaian akan kemunafikan Mu’awiyah haruslah salaf yang juga paling tidak “agak-agak munafik” juga</em></span>!! Agar tidak menyalahi pengagungan doktrin sekte Salafi Wahhâbi terhadap Tuan mereka; <em>Sayyiduna</em> Mu’awiyah!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><em>Salaf shaleh yang Mukmin apalagi pelopor dalam keimanan maka harus disingkirka jauh-jauh!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kalau terlanjur diriwayatkan ia memberikan penilaian buruk atas Mu’awiyah bin Abu Sufyan, maka harus segera dicacat riwayatnya&#8230; berapa pun ongkosnya!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ammâr Bersumpah Bahwa Mu’awiyah Cs. Adalah Kaum Kafir!</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><em>Tidak ada sahabat Nabi saw. yang paling menyebalkan buat kaum Salafi Wahhâbi melebihi <a href="http://jakfari.wordpress.com/2011/05/04/potret-sahabat-agung-kebanggaan-syi%E2%80%99ah-i/">Ammâr bin Yâsir</a></em></span> (sahabat agung dan mulai yang surga rindu kepadanya)&#8230;<span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><em> pasalnya karena <span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Ammâr ra</span>. membela Sayyidin Ali as. Dan sangat membenci Mu’awiyah dan bersumpah <span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">mengatakan bahwa Mu’awiyah Cs. Adalah kaum kafir yang hanya berpura-pura menerima Islam</span> sambil menanti pembela yang membelanya untuk memerangi dan menghancurkan Islam!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak sekali bukti yang memuat sumpah Ammâr bin Yâsir ra. tersebut! Ia telah direkam oleh belasan kaum tabi’in terpercaya dan diabadikan dalam banyak literatur utama dan terpercaya dengan sanad yang shahih!</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kesempatan ini saya hanya akan menyajikan satu saja di antara<span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em> riwayat shahih</em></span><span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em> sumpah Ammâr bin Yâsir ra</em></span>., sambil menanti reaksi dari Barisan Pembela Kaum Munafik (BPKM) dari sekte Salafi Wahhâbi, yang pasti akan berontak dan segera menuduh kami Syi’ah Rafidhah &#8230; pembenci para sahabat dan tuduhan-tuduhan murahan lainnya!</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, pasti mereka akan mencarikan seribu satu alasan untuk menolak riwayat shahih yang akan saya sajikan di bawah ini! <span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><em><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">Mereka malu (jika masih punya rasa malu) kalau terbongkar bahwa mereka</span> telah mengkhianati para Salaf Shaleh yang tegas-tegas bersumpah mengatakan bahwa Mu’awiyah <span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">–Tuan kebanggaan kaum Salafi Wahhâbi- dan antek-anteknya</span> adalah kafir!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><strong>Ibnu Abi Khaitsamah</strong></span> meriwayatkan dalam<em> Târîkh</em>-nya yang dikenal dengan nama <span style="color:#800000;"><em>Târîkh Ibn Abi Khaitsamah</em></span>,2/991, ia berkata:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">حَدَّثَنَا أبي (زهير بن حرب ثقة) ، قال : حَدَّثَنا جَرِير ( هو ابن عبد الحميد ثقة)، عَنِ الأَعْمَش ( ثقة) ، عن مُنْذِرٍ الثَّوْرِيّ ( ثقة) ، عن سَعْد بن حُذَيْفَة ( ثقة) ، قال : قال عَمَّار (بن ياسر) – أي يوم صفين- : <span style="text-decoration:underline;">( والله ما أَسْلَموا ولَكِنَّهُم اسْتَسْلَمُوا وأسرُّوا الْكُفْر حَتَّى وجدوا عليه أَعْوَانًا فأَظْهَروه </span>) اهـ.</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Ayahku (Zuhair bin Harb) berkata, ‘Jarîr (bin Abdul Hamîd) telah menyampaikan hadis kepadaku dari A’masy dari Mundzir ats Tsuari dari Sa’ad bin Hudzaifah ia berkata: <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">“Ammâr (bin Yâsir)</span> berkata (pada hari peperangan Shiffîn), <strong>‘<span style="text-decoration:underline;color:#800000;">Demi Allah, mereka tidak masuk Islam akan tetapi mereka menyerah. Mereka merahasiakan kekafiran sehingga setelah mendapatkan para pembela, mereka menampakkannya!’”</span></strong></em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Ibnu Jakfari Berkata:</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Saya berharap para pengikut sekte Salafi Wahhâbi, khususnya para ustadz (sebab kaum awam mereka hanyalah korban pembodohan, walaupun tidak sedikit ustadz-ustadz yang awam; sama-sama korban pembodohan) mau melihat ucapan<em> Sayyiduna Ammâr ra</em>. dan menjadikannya sebagai pedoman dalam menilai siapa yang laik dipuji&#8230; disanjung&#8230; diidolakan dan dicintai serta kecintaan kepadanya dijadikan sebagai bagian dari akidah penentu surga neraka!</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah kurang jelas penegasan Sayyiduna Ammâr ra. Yang ia kuatkan dengan sumpah itu?!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em><span style="text-decoration:underline;">Apakah Sayyiduna Ammâr bin Yâsir bukan Salaf Shaleh</span>!</em></span> Dan yang Salaf Shaleh hanya gembong-gembong kaum munafik dari keturunan pohon terkutuk; bani Umayyah?!</p>
<p style="text-align:justify;">Saya hanya meminta kejujuran kalian dalam beragama! Pikirkan, sampai kapan kalian terus membela <em>aimmatul kufri,</em>para pemimpin kaum kafir/munafik seperti <em>Abu Sufyan, Mu’awiyah, Yazid, Hajjâj bin Yusuf, Marwan bin Hakam, Abdul Malik bin Marwan dkk</em>. dengan mengatas-namakan Ahlusunnah wal Jama’ah?! Dengan mengatas-namakan Salaf Shaleh?!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>Ahlusunnah adalah pembela kaum shalihin&#8230;. bukan pembela kaum dzalimin!!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi, saya hanya menyajikan satu dari ucapan Sayyiduna Ammâr ra. Sebagaimana saya sengaja tidak menghadirkan ayat-ayat al Qur’an dan sabda-sabda Nabi saw. tentangnya&#8230; sebab makanan doyanan para pengikut sekte Salafi Wahhâbi adalah yang diramu tangan-tangan Salaf Shaleh!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Salam sejahtera bagi yang mau tunduk kepada petunjuk Allah.</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/1809/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/1809/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/1809/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/1809/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jakfari.wordpress.com/1809/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jakfari.wordpress.com/1809/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jakfari.wordpress.com/1809/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jakfari.wordpress.com/1809/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/1809/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/1809/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/1809/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/1809/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/1809/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/1809/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1809&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2011/05/15/pengkhianatan-sekte-salafi-wahhabi-terhadap-salaf-shaleh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/448ec135645f1d27ee5bd10e169255c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Potret Sahabat Agung Kebanggaan Salafy-Wahhabi (2): al Walîd bin ‘Uqbah</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 May 2011 03:05:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Haulasyiah]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Sidogiri]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=1790</guid>
		<description><![CDATA[Potret Sahabat Agung Kebanggaan Salafy-Wahhabi (2): al Walîd bin ‘Uqbah Sahabat agung, jalîl lain kebanggaan Ahlusunnnah (khususnya Salafy/Wahhabi) adalah al Walîd bin &#8216;Uqbah bin Abi Mu’aith saudara seibu Khalifah Utsman bin Affân yang hingga masa kekhalifahaannya ia percayai untuk menjabat sebagai Gubenur kendati ia fasik. Tentang siapa dan bagaimana sepak-terjangnya yang mungkin dapat “menjadi teladan” [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1790&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Potret Sahabat Agung Kebanggaan Salafy-Wahhabi (2): al Walîd bin ‘Uqbah</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sahabat agung, <em>jalîl</em> lain kebanggaan Ahlusunnnah (khususnya Salafy/Wahhabi) adalah<span style="color:#800000;"><em> al Walîd bin &#8216;Uqbah bin Abi Mu’aith</em></span> saudara seibu <em>Khalifah Utsman bin Affân</em> yang hingga masa kekhalifahaannya ia percayai untuk menjabat sebagai Gubenur kendati ia fasik.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentang siapa dan bagaimana sepak-terjangnya yang mungkin dapat “menjadi teladan” bagi para pemuda  Salafy/Sunni penuh semangat, simak uraian di bawah ini!<span id="more-1790"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Ibnun Hajar al Asqallâni</em></span> memperkenalkan kepada kita tentang siapa sejatinya <span style="color:#0000ff;"><em>al Walîd bin &#8216;Uqbah,</em></span> ia berkata, <em>“Al Walîd bin &#8216;Uqbah bin Abi Mu’aith &#8230; al Umawi, saudara seibu Ustman bin Affân ibu mereka bernama Arwâ binti Karîz bin Rabî’ah&#8230;</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ayahnya (‘Uqbah) dipancung setelah selesai parang Badr. Ia (‘Uqbah) sangat membenci dan ganas terhadap kaum Muslimin, banyak mengganggu Rasulullah saw. ia ditawan dalam perang Badr lalu Nabi saw. memerintahkan agar ia dibunuh. Ia barkata, ‘Hai Muhammad (jika engkau bunuh aku) siapa yang akan mengurus anak-anakku?’ Nabi saw. berkata,<em><span style="color:#ff0000;"> ‘Anak-anakmu untuk neraka!’</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Dikatakan bahwa untuknyalah ayat <em>“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang yang fasik membawa berita maka periksalah dengan teliti….” </em>(QS. Al Hujurât [49];6) turun, <span style="color:#0000ff;">Ibnu Abdil Barr</span> berkata,<span style="color:#ff0000;"><em> ‘Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama ahli tafsir Al Qur’an bahwa ayat ini turun untukknya</em>.’</span><a title="" href="#_ftn1">[1]</a> (Lalu ia menyebutkan kisah seperti nanti akan saya sebutkan dari riwayat para ulama)</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu Hajar</em></span> melanjutkan,</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan kisahnya ketika<span style="color:#800000;"> <span style="text-decoration:underline;">memimpin shalat shubuh empat rakaat dalam keadaan mabok adalah sangat masyhur dan diriwayatkan dengan banyak jalur</span>.</span> Demikian juga kisah dicopotnya ia dari jabatan sebagai Gubenur wilayah Kufah setelah terbukti mabok juga masyhur dan diriwayatkan dengan banyak sanad dalam kitab Shahîhain (Bukhari dan Muslim)&#8230;. setelah kematian Utsman, al Walîd mengucilkan diri dari dunia politik, tidak ikut terlibat dalam fitnah, tidak bersama Ali tidak juga bersama lawan-lawannya. Akan tetapi ia membakar semangat Mu’awiyah agar memberontak terhadap Ali. Ia menulis surat dan menggubah bait-bait syair untuk tujuan itu dan ia kirimkan juga di antara nya    kepada Mu’awiyah!</em> <a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#0000ff;">Ibnu Abdil Barr</span></em> menegaskan kepada kita hahwa semasa menjabat sebagai Gubenur Kufah, bau busuk sepak terjang terkutuk <span style="color:#0000ff;"><em>al Walîd</em></span> sangat mengganggu penciuman penduduk kota Kufah! Ia berkata, <span style="color:#800000;">‘<em>Dan al Walîd memiliki banyak kejadian buruk selama di kota Kufah yang membuktikan kejelekan keadaannya dan keburukan tindakannya&#8230;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Al Ashmu’i, Abu Ubaid dan al Kalbi</em></span> serta ulama lainnya mengatakan bahwa <em><span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><span style="text-decoration:underline;">al Walîd</span> adalah pecandu berat khamer.</span></em>.. kabar tentang pesta khamer yang biasa ia gelar bersama <span style="color:#0000ff;"><em>Abu Yazîd ath Thâi</em></span> adalah sangat terkenal dan banyak. <em><span style="color:#ff0000;">Kami jijik menyebutnya di sini</span>.</em> Kami hanya akan menyebutkan sekelumit saja apa yang disebutkan oleh  <span style="color:#0000ff;"><em>Umar bin Syubbah,</em></span><span style="color:#800000;"><em> “..<span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;">.al Walîd memimpin shalat shubuh empat raka’at dalam keadaan mabok bera</span>t, lalu ia menoleh kepada para makmum dan berkata, ‘Apa mau saya tambah lagi?!’ dan berita al Walîd yang shalat shubuh empat raka’at adalah sangat masyhur dari riwayat para perawi jujur terpercaya/tsiqât dari penukilan ahli hadis dan ahli sejarah&#8230;.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><em>Karena perbuataannya itu ia dihukum dera/cambuk sebanyak empat puluh kali cambukan setelah para saksi bersaksi. Pelaksana hukuman itu adalah <span style="color:#0000ff;">Abdullah bin Ja’far</span> (anak saudara Imam Ali as.)</em></span>.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><em>Dalam banyak riwayat bahwa ia mabok hingga muntah-muntah di mihrab ketika memimpin shalat shubuh tersebut!</em></span><a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kegemaran Mabok-mabokan Yang Mendarah Daging!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Rupanya ketergantungan terhadap khamer begitu dalam dalam kehidupan sang Sahabat Panutan ulama Ahlusunnah yang <em>Jalîl</em> ini. Sebab apa yang Anda baca di atas bukan satu-satunya kasus yang terpantau dan dicatat sejarah&#8230; banyak kasus serupa yang dicatat para ulama dan ahli sejarah. <span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu ‘Asâkir</em></span> dalam <span style="color:#0000ff;"><em>Târîkh Damasqus</em></span>-nya berkata, <span style="color:#800000;"><em>“Al Walîd bin ‘Uqbah adalah pejabat Utsman pertama yang berbuat kerusakan. Ia mengundang tukang sihir [ke dalam masjid], menenggak khamer dan teman minumnya adalah <span style="color:#0000ff;">Abu Zaid</span> seorang nashrani yang sangat dia istimewakan.</em></span>”<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Imam adz Dzahabi</em></span> (ulama kebanggaan dan andalan Ahlnsunnah) dalam<span style="color:#0000ff;"><em> Siyar al A’lâm</em></span>,<span style="color:#0000ff;"><em> Ibnu Qudâmah</em></span> dalam kitab <span style="color:#0000ff;"><em>al Mughni</em></span> dan <em><span style="color:#0000ff;">Ibnu ‘Asâkir</span></em> melaporkan dari ‘Alqamah, <span style="color:#800000;"><em>“Kami bergabung dalam satu pasukan dalam peperangan melawan Romawi bersama kami Hudzaifah, pemimpin kami saat itu adalah<span style="color:#0000ff;"> al Walîd</span>, lalu ia minum khamer (setelah terbukti berdasarkan kesaksian) kami bermaksud menegakkan hukuman atasnya, Hudzaifah berkata, ‘Apakah kalian akan menyambuk Emir kalian sekarang, sedangkan kalian sudah dekat dengan musuh kalian, maka jika kalian lakukan, maka mereka menjadi berani menyerang kita.’ Lalu sampailah ucapan Hudzaifah kepada  al Walîd maka ia menggubah baik syair yang berbunyi:</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><em>Aku akan terus meminumnya kendati ia haram hukumnya*** </em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#ff0000;">dan aku tetap akan meminumnya betapapun orang-orang murka atasku</span>.<a title="" href="#_ftn6"><strong>[6]</strong></a> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Bait syair<span style="color:#0000ff;"><em> al Walîd</em></span> di atas jelas menunjukkan betapa benar-benar melecehkan agama dan umat Islam&#8230; tetapi jika <span style="color:#0000ff;"><em>al Walîd</em></span> bersikap demikian maka hal itu pantas-pantas saja sebab dia adalah seorang fasik yang telah diabadikan kefasikannya oleh Allah dalam Al Qur’an&#8230;. Mungkinkah seorang fasik jiwanya akan muncul dari dirinya keshalehan sejati?</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang Allah firmankan (seperti akan kami buktikan nanti) adalah bukti mu’jizat Al Qur’an&#8230; betapa seorang yang ditegaskan sebagai fasik tidak mungkin berubah menjadi tidak fasik&#8230; tentunya semuanya dengan sepenuh ikhtiyar hamba! Persis ketika Allah SWT memastikan bahwa Abu Lahab akan mati dalam keadaan kafir dan masuk neraka! Benar bahwa hingga mati, Abu Lahab tidak bertobat dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi, apa yang dinyatakan al Walîd adalah bukti betapa ia benar-benar tidak menghormati norma agama!</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah sekilas sejarah sahabat Agung nun mulia &#8220;kebanggaan Ahlusunnah&#8221;! Dan untuk lebih lengkapnya dan demi memantapkan keyakinan Anda akan kesalehan dan keteladanan &#8220;sahabat unggulan yang satu ini&#8221; ikuti ulasan berikut! Semoga Anda puas! <em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Allah SWT Menyebut al Walîd Dengan Gelar Si Fâsiq!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sebuah ayat, <span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><em>Allah SWT dengan tegas menggelari al Walîd bin &#8216;Uqbah sebagai si fasiq.</em></span> Allah SWT berfirman:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>يَا أَيُّها الذينَ آمَنُوا إِنْ جاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيّنُوا &#8230;</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“</em><em>Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu or</em><em>a</em><em>ng yang fasik membawa berita </em><em>m</em><em>aka periksalah dengan teliti….</em><em>” </em>(QS. Al Hujurât [49];6)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keterangan Para Ulama Ahlusunnah<em></em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kendati nama <span style="color:#0000ff;"><em>al Walîd bin &#8216;Uqbah</em></span> tidak disebut dalam ayat di atas (seperti kebiasaan al Qur’an dalam menyebut peristiwa atau kasus yang terjadi di masa turunnya) namun demikian seluruh riwayat tentang sebab turunnya ayat di atas telah sepakat bahwa ia turun untuk<span style="color:#0000ff;"><em> al Walîd bin &#8216;Uqbah</em></span> terkait sebuah kisah yang panjang, seperti juga telah Anda baca keterangan <span style="color:#800000;"><em>Imam Ibnu Abdil Barr al Mâliki</em></span>.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Al Walîd bin &#8216;Uqbah</em></span>  diutus sebagai ‘<em>âmil</em> zakat untuk mengumpulkan harta zakat dan shadaqah dari bani al Mushthaliq yang telah memeluk Islam, mendengar kabar bahwa utusan Rasulullah saw. akan datang, mereka menyambutnya keluar ke perbatasan desa mereka, namun menyaksikan itu<span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><em> al Walîd bin &#8216;Uqbah  justeru malah kembali pulang dan kemudian membuat-buat berita palsu bahwa mereka telah murtad dan kembali kafir. Mereka menolak menyerahkan harta zakat mereka dan hampir-hampir mereka membunuhku, kata al Walîd</em></span>. Mendengar berita itu Rasulullah saw. memerintahkan sekelompok sabahat beliau untuk memastikan kabar berita itu, ternyata tidak benar dan al Walîd berbohong kepada Rasululah saw. karena, kata sebagian riwayat itu, antara dia dan kaum itu terdapat permusuhan di masa jahiliyah, dan ia ingin melampiaskan demdamnya atas mereka. Maka turunlah ayat tersebut di atas sebagai peringatan bagi kaum Mukmin agar berhati-hati dalam menerima kabar berita dari seorang yang fasik, supaya tidak bertindak keliru.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><em>Para ulama dan ahli tafsir Ahlusunnah telah bersepakat</em></span> berdasarkan riwayat-riwayat yang kuat bahwa <span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><em>yang dimaksud dengan “si fasik” yang berbohong kepada Nabi saw. dalam urusan yang penting ini adalah al Walîd bin &#8216;Uqbah</em></span> saudara seibu Utsman bin Affân.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dibawah ini akan saya sebutkan komentar sebagian ulama tentangnya.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Ibnu Katsir, ia berkata</strong>:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>و قد ذكر كثير من المفسرين أن هذه الآية نزلت في الوليد بن عقبة بن أبي معيط،</strong><strong> </strong><strong>حين بعثه رسول اللّه صلى اللّه عليه و سلم على صدقات بني المصطلق، و قد روي ذلك من طرق‏ و من أحسنها ما رواه الإمام أحمد في مسنده من رواية ملك بني المصطلق، و هو الحارث بن ضرار والد جويرية بنت الحارث أم المؤمنين رضي اللّه عنها</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"> <em>“Dan banyak dari para mufassir menyebutkan bahwa ayat ini turun untuk Al Walîd ibn &#8216;Uqbah ibn Abi Mu&#8217;aith ketika diutus untuk memungut shadagah bani Mushthaliq, kisah itu telah diriwayatkan dari banyak jalur, jalur paling bagus adalah apa yang diriyawatkan Imam Ahmad dari jalur raja/pemimpin bani Mushthaliq yaitu Hârits bin Dhirâr ayah Juwairiyah istri Nabi ra.&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian ia menyebutkan beberapa riwayat tentangnya dari riwayat<span style="color:#0000ff;"><em> Imam Ahmad</em></span>,<span style="color:#0000ff;"><em> Ibnu Jarîr ath Thabari.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ia juga mengatakan:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;">و <strong>كذا ذكر غير واحد من السلف‏</strong><strong> </strong><strong>منهم ابن أبي ليلى و يزيد بن رومان و الضحاك، و مقاتل بن حيان، و غيرهم في هذه الآية أنها أنزلت في الوليد بن عقبة، و اللّه أعلم</strong><strong>. </strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Tidak sedikit dari kalangan ulama Salaf di antara mereka ialah Ibnu Abi Lailâ, Yazid ibn Rûmân, al Dhahhâk dan Muqâtil ibn Hayyân yang menyebutkan bahwa ayat ini untuk Al Wlîd bin &#8216;Uqbah,.”</em><a title="" href="#_ftn8">[8]</a><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Al Qurthubi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam tafsirnya, setelah mengatakan bahwa ayat ini turun untuk <em><span style="color:#0000ff;">al Walîd</span>,</em> menukil riwayat dari Qatadah…&#8230;. lalu Allah menurunkan ayat ini.</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>وسمي الوليد فاسقا أي كاذبا. قال‏</strong> <strong>ابن زيد و- مقاتل و- سهل بن عبد الله: الفاسق الكذاب‏</strong> <strong>. و- قال أبو الحسن  الوراق: هو المعلن بالذنب. و- قال ابن طاهر: الذي لا يستحي من الله.</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan al Walîd dinamai fasik artinya si pembohong. Ibnu Zaid berkata, fasik artinya al kadzdzâb, pembohong besar. Abu al Hasan  al Warrâq berkata, fasik artinya yang terang-terangan dalam menampakkan dosa.. Ibnu Thahir berkata, yang tidak malu terhadap Allah…</em><a title="" href="#_ftn9">[9]</a><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. A</strong><strong>n </strong><strong>Nasafi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Menegaskan, para ulama telah sepakat bahwa ayat ini turun untuk <span style="color:#0000ff;"><em>Al-Walîd ibn &#8216;Uqbah</em></span>. Beliau juga menyimpulkan bahwa disebutkannya kata <em>f</em><em>â</em><em>siqun </em>dalam bentuk <em>nakirah</em> (tanpa <em>alif</em> dan <em>l</em><em>â</em><em>m</em>) untuk tujuan keuumuman, siapapun dari orang yang fasik tanpa melihat golongannya, jika membawa kabar harus diuji kebenarannya terlebih dahulu… jangan kamu bersandar kepada ucapan si fasik, sebab seeorang yang tidak menjaga diri dari jenis kefasikan tertentu ia pasti tidak menjaga diri dari berbohong yang mana ia adalah bagian dari kefasikan itu…<a title="" href="#_ftn10">[10]</a><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. Al</strong><strong> </strong><strong>Kh</strong><strong>â</strong><strong>zin</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berkata:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>الآية نزلت في الوليد بن عقبة بن أبي معيط</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Ayat ini turun untuk<span style="color:#0000ff;"> Al-Waliid ibn &#8216;Uqbah ibn Abi Mt&#8217;aith.</span>” Setelahnya, ia menyebutkan riwayat tentangnya.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Walaupun kemudian ia berusaha membelanya dengan tanpa alasan</em></span>. Seperti akan Anda saksikan nanti! Dan sikap itu adalah aneh, khususnya ia sendiri memastikan bahwa yang dimaksud dengan si fasik dalam ayat itu adalah al Walîd.<a title="" href="#_ftn11">[11]</a><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5. Al</strong><strong> </strong><strong>Baghawi</strong> berkata:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong> </strong><strong>نزلت في الوليد بن عقبة بن أبي معيط</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Ayat ini turun untuk al Walîd bin &#8216;Uqbah ibn Abi Mut&#8217;aith.”</em><a title="" href="#_ftn12">[12]</a><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6. Syeikh al Alûsi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam tafsir <span style="color:#0000ff;"><em>Rûh al Ma&#8217;âni</em>-</span>nya<em> </em>menyebutkan riwayat <span style="color:#0000ff;"><em>Imam Ahmad, Ibnu Abi al Dunya, al Thabarâni, Ibnu Mandah</em></span> dan <span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu Mardawaih</em></span> dengan sanad, yang ia sifati dengan <em>jayyid</em> (bagus) dari <span style="color:#0000ff;"><em>al Harits ibn Abi Dhirâr al Khuza&#8217;i</em></span>. Sebagaimana ia juga menyebut riwayat dari Abduh ibn Humaid dari al Hasan.<a title="" href="#_ftn13">[13]</a> Setelahnya ia menerangkan makna kata <em>fâsiq</em>. Ia berkata:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>و الفاسق الخارج عن حجر الشرع من قولهم: فسق الرطب إذا خرج عن قشرة، قال الراغب: و الفسق أعم من الكفر و يقع بالقليل من الذنوب و الكثير لكن تعورف فيما كانت كثيرة، و أكثر ما يقال الفاسق لمن التزم حكم الشرع و أقر به ثم أخل بجميع أحكامه أو ببعضها</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan fasik itu adalah orang yang keluar dari ikatan syari’at, di ambil dari ucapan orang Arab, fasaqa ar rathbu artinya daging kurma setengah matang itu keluar dari kulitnya. Ar Râghib (al Isfahâni), ‘Kata fasik lebih umum dari kekafiran, dan kefasikan itu bisa terjadi diakibatkan sedikit dosa atau juga banyak, tetapi ia lebih identik digunakan untuk pelaku  tindakan dosa yang banyak. Yang terbanyak digunakan kata fasik itu untuk orang yang telah menerima secara formal syari’at kemudian ia menyalahinya dengan menyalahi seluruh atau sebagian hukumnya.” </em> <strong></strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>7. Asy Syaukâni </strong>berkata:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>قال المفسرون: إن هذه الآية نزلت في الوليد بن عقبة بن أبي معيط كما سيأتي بيانه إن شاء اللّه‏</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Para ahli tafsir berkata ayat ini turun untuk al Walîd bin &#8216;Uqbah ibn Abi Mu&#8217;aith seperti akan kami terangkan nanti…”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian ia menyebutkan riwayat tentangnya dari riwayat Ahmad, Ibnu Abi Hatim, al Thabarâni, Ibnu Mandah dan Ibnu Mardawaih, al Suyûthi dan ia mengatakan bahwa sanadnya bagus dari al Hârits…</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian ia mengutip<span style="color:#0000ff;"><em> Ibnu Katsir:</em></span></p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>قال ابن كثير: هذا من أحسن ما روي في سبب نزول الآية. و قد رويت روايات كثيرة متفقة على أنه سبب نزول الآية، و أنه المراد بها و إن اختلفت القصص</strong><strong>.</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>‘Dan ini adalah paling bagusnya riwayat tentang sebab turun ayat ini. Dan telah diriwayatkan banyak riwayat yang sepakat bahwa ia adalah sebab turunnya ayat tersebut, walaupun ada perbedaan dalam kisahnya</em>.’<a title="" href="#_ftn14">[14]</a><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>8. Al</strong><strong> </strong><strong>Q</strong><strong>â</strong><strong>simi</strong> dalam tafsir ayat ini menukil riwayat-riwayat tentang sebab turunnya ayat ini, dari Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Ia berkata:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>قال ابن كثير: ذكر كثير من المفسرين أن هذه الآية نزلت في الوليد بن عقبة بن أبي معيط، حين بعثه رسول اللّه صلّى اللّه عليه و سلّم على صدقات بني المصطلق. و قد روي ذلك من طرق. و من أحسنها ماعن ابن المصطلق، و هو الحارث بن ضرار والد جويرية أم المؤمنين رضي اللّه عنها</strong><strong>.</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Ibnu Katsîr berkata: “Dan banyak dari para mufassir menyebutkan bahwa ayat ini turun untuk Al Walîd ibn &#8216;Uqbah ibn Abi Mu&#8217;aith ketika diutus untuk memungut shadagah bani Mushthaliq, kisah itu telah diriwayatkan dari banyak jalur, jalur paling bagus adalah apa yang diriyawatkan Imam Ahmad dari jalur raja/pemimpin bani Mushthaliq yaitu Hârits bin Dhirâr ayah Juwairiyah istri Nabi ra.“</em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl">Kemudian ia memperkenalkan kepada kita siapa sejatinya al Walîd itu, ia berkata:<span style="color:#0000ff;"> <em>Ibnu Qutaibah</em></span> berkata dalam <em>al-Ma&#8217;arif</em>:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>الوليد بن عقبة بن أبي معيط بن أبي عمرو بن أمية ابن عبد شمس، و هو أخو عثمان لأمه، أروى بنت كريز. أسلم يوم فتح مكة، و بعثه رسول اللّه صلّى اللّه عليه و سلّم مصدقا إلى بني المصطلق، فأتاه فقال: منعوني الصدقة! و كان كاذبا</strong><strong> </strong><strong>. </strong><strong>فأنزل اللّه هذه الآية. و ولّاه عمر على صدقات بني تغلب، و ولّاه عثمان الكوفة بعد سعد بن أبي وقاص، فصلى بأهلها صلاة الفجر، و هو سكران، أربعا، و قال: أزيدكم؟! فشهدوا عليه بشرب الخمر عند عثمان، فعزله و حدّه. و لم يزل بالمدينة حتى بويع عليّ، فخرج إلى الرقّة فنزلها، و اعتزل عليّا و معاوية. و مات بناحية الرّقة</strong><strong>.</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“<span style="color:#0000ff;">Al Walîd bin &#8216;Uqbah ibn Abi Mu&#8217;aith bin Abi bin Umayyah ibn Abdi Syams,</span> ia adalah <span style="color:#800000;">saudara seibu dengan Utsman</span> yaitu ibu Arwâ binti Karîz. Ia (al Walîd) masuk Islam pada saat penaklukan kota Makkah, ia diutus Rasulullah saw. sebagai pemungut zakat kepada bani al Mushthaliq, ia kembali kepada beliau saw. dan berkata, mereka menolak menyerahkan zakat kepadaku! <span style="color:#ff0000;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Dan ia adalah pembohong</span></strong>.</span> Maka Allah menurunkan ayat ini. Umar mengangkatnya sebagai pemungut shadaqah bani Taghlib. <span style="text-decoration:underline;color:#800000;">Utsman mengangkatnya sebagai Gubernur kota Kufah</span> setelah dicopotnya Sa&#8217;ad ibn Abi Waqqâsh, <span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;">ia ( al Walîd) memimpin salat shubuh dalam keadaan mabuk, ia salat empat raka&#8217;at,</span> dan (setelah salam) mengatakan, ‘Apakah mau saya tambah?!’ Penduduk kota Kufah juga memberikan kesaksian di hadapan Utsman bahwa ia mabuk, maka ia mencopot dan memberikan sanksi (cambuk) kepadanya</em><a title="" href="#_ftn15">[15]</a>, <em>setelah itu ia tinggal di kota Madinah hingga Ali dibaiat, maka ia keluar menuju daerah al Riqqah dan tinggal di sana, ia menjauhkan diri dalam komflik antara Ali dan Mu&#8217;awiyah, ia mati di daerah al Riqqah…. “</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>9. Al Qasimi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Juga menukil kesimpulan yang dibuat <span style="color:#0000ff;"><em>al Suyuthi</em></span>, ‘Dalam ayat ini terdapat (kesimpulan) bahwa berita orang fasik harus ditolak…’.<a title="" href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>10. Jalaluddin as Suyûthi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam tafsir <em><span style="color:#0000ff;">ad Durr al Mantsur</span>-</em>nya <span style="color:#0000ff;">menyebutkan sepuluh riwayat yang menegaskan bahwa ayat ini untuk <em>al Walîd bin &#8216;Uqbah</em></span>;</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Riwayat pertama dari Ahmad, Ibnu Abi Hatim, ath Thabarâni, Ibnu Mandah dan Ibnu Mardawaih, dengan sanad yang bagus dari sahabat al Hârits.</li>
<li>Riwayat kedua dari ath Thabarâni, Ibnu Mandah dan Ibnu Mardawaih dari sahabat Alqamah ibn Nahiyah.</li>
<li>Ketiga, dari riwayat ath Thabarâni dari sahabat Jabir ibn Abdillah.</li>
<li>Riwayat keempat, dari riwayat Ibnu Rahawaih, Ibnu Jarir, ath Thabari dan Ibnu Mardawaih dari Ummu Salamah- istri Nabi saw.</li>
<li>Riwayat kelima, dari riwayat Ibnu Jarir ath Thabari, Ibnu Mardawaih dan al—Baihaqi dalam Sunannya dan Ibnu Asakir dari sahabat Ibnu Abbas ra.</li>
<li>Riwayat keenam, dari riwayat, Adam, Abdu ibn Humaid, Ibnu Jarir ath Thabari, Ibnu al Mundzir dan al Baihaqi dari Mujahid,</li>
<li>Riwayat ketujuh, dari riwayat Ibnu Mardawaih dari sahabat Jabir ibn Abdillah,</li>
<li>Riwayat kedelapan, dari riwayat Abdu ibn Humaid dari al Hasan,</li>
<li>Riwayat kesembilan dari riwayat Abdu ibn Humaid dari Ikrimah,</li>
<li>dan riwayat kesepuluh, dari riwayat Abdu ibn Humaid dan Ibnu Jarir dari Qatadah.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dalam<span style="color:#0000ff;"> <em>Lub</em><em>â</em><em>b a</em><em>n </em><em>Nuq</em><em>û</em><em>l</em></span>,<span style="color:#0000ff;"> as Suyûthi</span> kembali menyebutkan riwayat yang menegaskan bahwa ayat ini turun untuk <em><span style="color:#0000ff;">al Walîd</span></em>.<a title="" href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>11. Imam al Wâhidi</strong> dalam kitab <em>Asbâb an Nuzûl</em>-nya menegeskan bahwa ayat ini turun untuk <span style="color:#0000ff;"><em>al Walîd bin &#8216;Uqbah ibn Abi Mu&#8217;aith</em></span>. Kemudian ia menyebutkan kisah tentangnya dan juga menukil riwayat panjang dari Imam al Hakim.<a title="" href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>12. Syeikh Ibnu Âsyûr</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam tafsir <em><span style="color:#0000ff;">at Tahhîr wa an Nanwîr</span>-</em>nya menegaskan bahwa riwayat yang menyebutkan turunnya ayat tersebut untuk<span style="color:#0000ff;"> <em>al Walîd</em></span> sangat banyak sekali. Ia berkata:</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>و قد تضافرت الروايات عند المفسرين عن أم سلمة و ابن عباس و الحارث بن ضرارة الخزاعي أن هذه الآية نزلت عن سبب قضية حدثت. ذلك أن النبي‏ء صلى اللّه عليه و سلّم بعث الويد بن عقبة بن أبي معيط إلى بني المصطلق من خزاعة ليأتي بصدقاتهم‏</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan telah banyak riwayat di kalangan para ahli tafsir dari Ummmu Salamah, Ibnu Abbas dan al Hârits bin Dhirâr bahwa ayat ini turun terkait dengan sebuah peristiwa yang menjadi sebab turunnya yaitu Nabi saw. mengutus al Walîd bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith kepada bani Mushthalaq dari suku Khuzâ’ah untuk mengumpulkan zakat mereka.</em>”<a title="" href="#_ftn19">[19]</a></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><strong>Ibnu Jakfari berkata:</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Inilah beberapa kutipan dari para ulama sengaja saya hadirkan dari berbagai kitab tafsir Ahlusunnah agar menjadi jelas bahwa hal ini telah diaklamasikan oleh para ulama dan bukan yang hanya diriwayatkan dalam satu atau dua riwayat yang belum pasti kesahihannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan sepak terjang al Walîd seperti juga telah disinggung, tidak berubah, ia tatap fasik dengan tidak henti-hentinya berlaku zalim dalam kekuasaannya, tanpa ada kontrol dari pemerintahan pusat; Khalifah Utsman bin Affân ketika itu. Dan rupanya predikat sebagai orang fasik tidak hanya ditegaskan Allah dalam ayat di atas semata, tetapi <span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><em>ada ayat lain yang juga menyebut al Walîd dengan gelar fasik.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak riwayat menyebutkan bahwa terjadi konflik antara Imam Ali as. dan al-Waliid, lalu Imam Ali as. mengecamnya dengan mengatakan, hai orang fasik, diam kamu. Maka Allah SWT. menururnkan sebuah ayat yang membenarkan kecaman dan mentalitas fasik al-Waliid.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Allah SWT. berfirman:</strong></p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>أَ فَمَنْ كانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كان فَاسِقًا لا يَسْتَوُوْنَ * فَأَمَّا الذينَ آمَنُوا و عَمِلُوا الصالِحاتِ فَلَهُمْ جَناتُ المَأْوَى نُزُلاً بِما كَانوا يَعْمَلُوْنَ * وَ أَمَّا الذيْنَ فَسَقُوا فَمَأْواهُمْ النارُ, كُلَّما أَرادُوا أَنْ يَخْرُحُوا مِنْها أُعِيْدُوا فِيْها,</strong><strong> </strong><strong>وَ قِيْلَ لَهُمْ ذُوْقُوا عَذابَ النارِ الذيْ كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُوْنَ.</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Maka apakah oranmg yang beriman seperti orang yang fasik (kafir)? Mereka tidak sama * Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sale</em><em>h</em><em>, maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan* Dan adapun orang-ornag yang fasik (kafir), maka tempat mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikataan kepada mereka:&#8221; Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya&#8221;. (SQ:32;17-19)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kesempatan ini saya tidak hendak menyebutkan data-data yang menguatkan hal ini, karena saya khawatir pembahahasan kita semakin menjauh, namun saya persilahkan Anda merujuk ke berbagai kitab-kitab tafsir standar, seperti <em>Fath al</em><em> </em><em>Qad</em><em>î</em><em>r</em> dan <em>Syaw</em><em>â</em><em>hid a</em><em>t </em><em>Tanz</em><em>î</em><em>il</em> karya <span style="color:#0000ff;"><em>al Hâkim al Hiskân</em></span>i,<a title="" href="#_ftn20">[20]</a> pasti Anda menemukan kebenaran apa yang saya katakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam ayat-ayat di atas, setelah menegaskan bahwa tidak akan sama antara orang yang mukmin dan orang yang fasik (yang dalam tafsiran para ulama maksudnya adalah orang kafir), Allah SWT. menyebutkan kesudahan dan nasib kedua model manusia itu, orang-orang yang fasik itu di pastikan neraka sebagai tempat tinggal mereka di akhirat nanti.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><em>Namun anehnya para ulama Ahlusunnah mengatakan, al Walîd adalah sahabat yang ‘adil (baik/shaleh, mulia)</em></span> <span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><em>bukan seorang yang fasik!</em></span> dan surga penuh kenikmatan, dan bukan neraka sebagai tempat tinggalnya kelak!! Manakah yang harus kita dengar, firman dan ketetapan Allah atau pendapat para ulama itu?! Jawabnya saya serahkan kepada kejernihan pikiran Anda.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> Para Ulama Ahlusunnah Membela Mati-matian Kehormatan al </strong><strong>Wal</strong><strong>î</strong><strong>d</strong><strong>!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kendati telah nyata bukti-bukti pasti dari riwayat-riwayat shahih serta kenyataan sejarah hidup al Walîd yang fasik, dan kendati Allah telah menegaskan bahwa al Walîd adalah orang yang fasik yang berani mengada-ngada kepalsuan membahayakan terhadap Nabi saw&#8230;. Namun demikian para <span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><em>ulama Ahlusunnah tidak suka hati jika ada yang menyebut al Walîd sebagai si fasik!</em></span> Seakan mereka memprotes Allah SWT yang menyebut sahabat kebanggaan mereka dengan gelar fasik! Sikap itu, memang aneh dan sungguh aneh. Betapa tidak?! Mereka menyaksikan dan menshahihkan riwayat-riwayat tentang sebab turunnya ayat tersebut untuk al Walîd yang Allah sebut sebagai fasik, tetapi mereka menolak menetapkan gelar itu untuk al Walîd!</p>
<p style="text-align:justify;">Sunnguh mengherankan sikap sebagian ulama Ahlusunnah seperti<span style="color:#0000ff;"><em> ar Râzi, ash Shâwi</em></span> –dalam komentarnya atas tafsir Jalalain-, <span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu Âsyûr</em></span> dan beberapa lainnya&#8230; <span style="color:#800000;"><em>keberatan itu benar-benar tanpa alasan selain bahwa karena al Walîd adalah sahabat agung, jalîl, maka tidak pantas kita berprasangka demikian terhadap sahabat</em></span>. Karena, kami; ulama Ahlusunnah telah bersepakat bahwa seluruh sahabat itu <em>‘adil</em>/baik, jujur terpercaya, panutan &#8230; persetan dengan siapa pun yang berani menyebut al Walîd; sahabat kebanggaan dan teladan kami sebagai fasik! Zindiqlah kalian yang menyebutnya fasik!!</p>
<p style="text-align:justify;">Persetan dengan Sayyidina Hasan cucu tercinta Nabi saw. yang berani menghina sahabat agung panutan kami; Ahlusunnnah dengan menggelarinya si fasik –seperti yang digelarkan Allah untuknya- seperti dalam riwayat shahih yang telah diabadikan para ulama sejarah.<span style="color:#0000ff;"><em> Imam Hasan as.</em></span> Berkata kepada <span style="color:#0000ff;"><em>al Walîd,</em></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">“&#8230; <em>Demi Allah aku tidak mencelamu atas kebencianmu kepada Ali karena Ali telah menderamu sebanyak delapan puluh kali karena kamu menenggak khamr (miras)&#8230; <span style="color:#ff0000;">engkau adalah orang yang telah dinamai Allah dengan FASIQ dan Allah menamai Ali MUKMIN.</span></em>”<a title="" href="#_ftn21">[21]</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Persetan dengan “mulut busuk” siapa pun yang berani menyebut al Walîd bin ‘Uqbah, pujaan kami; Ahluusunnah dengan gelar yang ditetapkan Allah atasnya! Kami siap berperang dan menghukumi sebagai Ahli Bid’ah dan Zindiq/kafir atas Anda yang berani menyebut al Walîd bin ‘Uqbah; sahabat agung itu dengan gelar FASIQ!! Demikian kira-kira ancaman para ulama pengagung Para Salaf Shalihîn, seperti al Walîd bin ‘Uqbah, Mu’awiyah putra Abu Sufyân (gembong kaum kafir/musyrik), ‘Amr putra al Âsh (Penghina Nabi saw.), Samurah bin Jundub Cs.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketetapan Allah dan Rasul-Nya harus diabaikan! Demi menjaga kehormatan sahabat betapa pun ia seorang fasik, pemabuk dan pembohong besar, nash-nash keagamaan harus diperkosa!! Demikian kira-kira luapan semangat pembelaan yang ditampakkann ulama Ahlusunnah itu. Lebih jelasnya Anda baca tafsir <span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu Âsyur,</em></span> <span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><em>dia sangat berapi-api dalam usahanya memperkosa ayat dan riwayat-riwayat di atas!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Seakan persahabatan seorang dengan Nabi saw. akan membentenginya dari kemunafikan, kefasikan dan kebobrokan moral. Dengan logika seperti itu bukankah kaum munafik juga bersahabat dengan Nabi saw., dan berjumpa serta menyatakan keimanan di hadapan Nabi saw., namun demikian mereka tetap disebut munafik dan tempat mereka adalah <em>al-darkil asfali minan nâr </em>(tempat paling bawah dan hina dalam api neraka).</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi keterheranan kita mungkin berakhir apabila kita mengerti bahwa bukan persahabatan dengan Nabi saw. yang menjadi titik fokus pembelaaan, akan tetapi sebenarnya adalah kecintaan kepada keluraga besar bani Umayyah dan koleganya yang mendorong mereka membela keluarga terkutuk itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang saya katakan ini tidak berlebihan atau tanpa dasar. Perhatikan betapa mereka menelantarkan sahabat-sahabat besar seperti Ammâr, Abu Dzarr dan tidak memberikan pembelaan yang semestinya dan dengan semangat yang seperti mereka tampakkan ketika membela Mu&#8217;awiyah, ‘Amr ibn al-Ash, Abu Hurairah, al Mughirah bin Syu&#8217;bah, al Walîd dan kawan-kawan. Bahkan yang sangat mengeherankan, mereka sama sekali tidak memberikan pembelaan ketika Bukhari melecehkan Imam Ali as. dengan menyebutnya menentang Nabi saw. dan bersikap kepada beliau saw. seperti sikap orang kafir dengan mendebat dan membantah sehingga Nabi saw. berpaling dan membacakan sebuah ayat yang kata para ulama itu turun menggambarkan karakter buruk orang-orang kafir!</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi para pensyarah Bukhari yang terhormat tidak satu pun dari mereka yang mengatakan, misalnya, tidak layak kita berprasangka buruk terhadap sahabat… bahkan <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800000;text-decoration:underline;"><em>Ibnu Katsir (mufassir andalan Ahluusunnah) menyebutnya dalam tafsir ayat 54 surah al Kahfi dan menjadikan Imam Ali dan Fatimah putri Nabi as. sebagai yang dimaksud dengan ayat kecaman itu.!</em></span></span></p>
<p style="text-align:justify;">Mereka; <span style="color:#800000;"><em>para ulama Ahlusunnah juga tetap saja <span style="text-decoration:underline;">menampakkan senyum ceria mereka ketika giliran Nabi Muhammad saw., nabi mereka dihina, dilecehkan dan difitnah habis-habsan</span> oleh riwayat-riwayat yang mengatakan</em></span> misalnya, Nabi saw. kerjanya <a href="http://jakfari.wordpress.com/2010/04/10/potret-sang-nabi-mulia-dalam-hadis-bukhari-2/" target="_blank">hanya mengisi waktu-waktu malamnya dengan kegiatan sek menggilir sembilan atau sebelas istrinya </a>dan yang lebih konyol lagi kata ulama itu Nabi saw. tidak mandi jenabat melainkan hanya sekali saja!</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/2010/04/07/potret-sang-nabi-mulia-di-mata-hadis-bukhari-1/" target="_blank">Nabi saw. dihina dan difitnah membunuh dengan bengis dan tidak manusiawi </a>lawan-lawannya dengan menusuk mata-mata mereka dengan pedang panas mengangah dan setelahnya membiarkan mereka menggelepar-gelepar di atas padang pasir membakar hingga mati kehabisan darah!</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka diam seribu bahasa ketika <a href="http://jakfari.wordpress.com/2010/11/07/potret-sang-nabi-mulia-saw-dalam-hadis-bukhari-5-nabi-muhammad-saw-dan-awal-prosesi-pelantikan-kenabian-dalam-gambaran-bukhari/" target="_blank">Nabi Muhammad saw. dituduh mau bunuh</a> diri karena stres tidak didatangin wahyu&#8230; beliau lari ke puncak gunung dan bertekad melemparkan diri, namun untung Malaikat Jibril segera datang, jika tidak&#8230;.? Jika tidak, para ulama Ahlusunnah tidak sempat punya nabi akhir zaman!!</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka <em><span style="color:#800000;text-decoration:underline;">menuduh Nabi saw. tidak mengetahui bahwa Allah SWT telah mengutusnya sebagai nabi</span></em> sehingga seorang pendeta  nashrani bernama <span style="color:#0000ff;"><em>Waraqah bin Naufal</em></span> menyadarkannya bahwa yang daatang kepadanya itu malaikat Jibril pembawa wahyu kudus&#8230; barulah Nabi saw. sadar dan yakin bahwa beliau benar-benar sebagai utusan Allah&#8230; andai bukan karena jasa<span style="color:#0000ff;"><em> Waraqah bin Naufal</em></span> pastilah ulama Ahlusunnah akan menyaksikan nabi mereka tepat dalam keraguan dan tidak pernah mau mentablighkan wahyu yang diterimanya!!</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak cukup sampai di sini, <span style="color:#800000;"><em>para ulama Ahlusunnah itu justeru menyerang setiap yang berusaha membela Nabi saw</em></span>. dengan menepis semua fitnahan itu! Tetapi jika giliran data kefasikan al Walîd dibongkar, mereka bangkit bak singa kelaparan mencari mangsa dan meraung-raung menyerang musuh!</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah para ulama Ahlusunnah dengan segenap kekuatan yang mereka miliki membela sahabat kebanggaan mereka; al Walîd yang fasik itu! Karena Salaf kebanggaan mereka harus dibela&#8230; siapa pun yang menghinanya harus dilawan, ditentang dan dikecam habis-habisan betapa pun dia adalah Allah <em>Rabbul ‘Alâmin</em>! Sebab kehormatan “Sahabat Agung” kebanggaan mereka di atas segalanya!!</p>
<p style="text-align:justify;">Selamat bagi Anda yang membanggakan memiliki Salaf Panutan Yang Fasik! Dan di sini saya meminta kepada Anda saudara Sunniku untuk mendatangkan bukti barang satu saja bahwa al Walîd tidak fasik!! Dan data-data yang telah saya sebutkan di atas adalah palsu!!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Jakfari:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Nah sekarang permasalahnya ialah, apakah kita tetap bersikeras mengatakan bahwa orang yang telah ditegaskan Allah SWT. sebagai orang yang fasik, orang yang disebut Nabi saw. sebagai calon tetap penghuni neraka<a title="" href="#_ftn22">[22]</a> apakah juga harus kita yakini keadilannya?</p>
<p style="text-align:justify;">Dan apakah kita masih tentram menjadikan perantara dalam mengambil ajaran agama seorang yang berani berbohong kepada Nabi saw. justru dikala beliau saw. masih hidup? Tidakkah ia lebih berani berbohong kepada kita; manusia biasa ini? Manakah yang lebih harus kita ambil, firman Allah tentang al Walîd bahwa ia fasik atau pendapat para ulama yang mengatakan al Walîd adalah sahabat yang adil dan saleh serta layak dijadikan perantaraan dalam menimba ajaran agama?</p>
<div style="text-align:justify;">
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Al Ishâbah,3/637.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Ibid.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Istî’âb (dicetak dipinggir al Ishâbah),3/630-636.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Ansâb al Asyrâf,6/144.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Târîkh Damasqus,11/314 baca juga Tahdzîb al Kamâl,5/144.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Târîkh Damasqus,239 Siyar al A’lâm,3/414 dan al Mughni,10/538.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a>Ibid.3/632.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Ibnu Katsir. Tafsir al-Qura&#8217;n al-Adziim. Vol.4,208-210. daar al-Ma&#8217;rifah – Beirut. Tahun1400 H/1980 M.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Al-Qurthubi. Al-Jâmi&#8217; li Ahkâm alqur’an. jilid. IIX, juz.16, hal.311-312.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> Tafsir Al-Nasafi. Jilid. Ii, juz4,hal.168. daar al-Kitaab al-&#8217;Arabi. Beirut. tt.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Al Khâzin. Lubâb al Ta&#8217;wîl. Vol.6,222 dan Al Baghawi. Cet. Al-Bâbi al-Halabi-Mesir.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> Ma&#8217;âlim al al Tanzîl. Dicetak dipinggir al Khâzin.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a> Rûh al Ma&#8217;âni. Jil.13, juz.26, hal.297-298. Dâr al Kutub al Ilmiyah. Beirut. Tahun.1994.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a> Al-Syaukani. Fath al-Qadir. Vol.5,61-62. Daar al-Fikr. Beirut.tt.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref15">[15]</a>Dalam banyak dokumen sejarah bahwa Utsman melakukan itu setelah sebelumnya jusrtu berusaha memberikan sanksi kepada para saksi, akan tetapi Imam Ali as. turun tangan dan memaksa Utsman untuk menegakkan hukum Allah SWT. atas al Walîd, si pemabuk yang fasik itu. Dan akhirnya Utsman pun menghukumnya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref16">[16]</a> Al-Qasimi. Mahâsin al Ta&#8217;wîl. Vol.15,115-117. Dâr al Fikr. Tahun.1978.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref17">[17]</a> Lubâb an Nuqûl fi Asbbâb al-Nuzûl.196-197. Dâr Iyâ&#8217; al-&#8217;Ulûm. Beirut. Tahun 1978.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref18">[18]</a> Asbbâb al-Nuzûl.261-263. Dâr al Fikr, Beirut. Cet. Tahun 1988.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref19">[19]</a> At Tahhîr wa an Nanwîr,26/190.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref20">[20]</a> Dalam Syawahidnya vol.1,445-453, al-Hiskani menyebutkan empat belas riwayat, riwayat610 hingga 623. Fath al-Qadir. Vol.4,255-256.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref21">[21]</a> Syarah Nahjul Balâghah; Ibu Abi al Hadîd al Mu’tazili,6/292.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref22">[22]</a> Demikian disebutkan al Mas&#8217;ûdi dalam <em>Mur</em><em>û</em><em>j a</em><em>dz D</em><em>zahab</em>-nya,2/344.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/1790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/1790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/1790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/1790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jakfari.wordpress.com/1790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jakfari.wordpress.com/1790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jakfari.wordpress.com/1790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jakfari.wordpress.com/1790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/1790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/1790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/1790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/1790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/1790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/1790/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1790&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2011/05/09/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/448ec135645f1d27ee5bd10e169255c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sungguh Tega! Ulama Ahlusunnah Menuduh Para Sahabat Meninggalkan Nabi saw. Sa’at Khutbah Jum’at!</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2011/05/07/sungguh-tega-ulama-ahlusunnah-menuduh-para-sahabat-meninggalkan-nabi-saw-sa%e2%80%99at-khutbah-jum%e2%80%99at/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2011/05/07/sungguh-tega-ulama-ahlusunnah-menuduh-para-sahabat-meninggalkan-nabi-saw-sa%e2%80%99at-khutbah-jum%e2%80%99at/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 May 2011 03:05:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Sidogiri]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=1776</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh Tega! Ulama Ahlusunnah Menuduh Para Sahabat Meninggalkan Nabi saw. Sa’at Khutbah Jum’at! Sungguh keterlaluan tuduhan yang dilontarkan para ulama Ahlusunnah terhadap para sahabat mulia Nabi saw. tega-teganya mereka menuduh para sahabat mulia hasil didikan Nabi Muhammad saw. sebagai kaum yang tidak tau adab dan lebih dari itu tidak tau malu! Para sahabat ada di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1776&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"><strong>Sungguh Tega! Ulama Ahlusunnah Menuduh Para Sahabat Meninggalkan Nabi saw. Sa’at Khutbah Jum’at!</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh keterlaluan tuduhan yang dilontarkan para ulama Ahlusunnah terhadap para sahabat mulia Nabi saw. tega-teganya mereka menuduh para sahabat mulia hasil didikan Nabi Muhammad saw. sebagai kaum yang tidak tau adab dan lebih dari itu tidak tau malu! Para sahabat ada di antara mereka telah dididik belasan tahun dan ada yang hampir dua puluh tiga tahun&#8230; ternyata di tahun-tahun akhir mereka menyakiti hati Nabi mereka dengan meninggalkan secara kolektif Nabi saw. yang sedang berpidato di atas minbar Jum’at! Sebuah pemandangan yang saya yakin belum pernah dan tidak akaan pernah kita saksikan ada seorang ustadz/syeikh/kyai ditinggalkan murid-murid dekatnya atau para jama’ah kebanggaannya berdiri <em>bengong</em> di atas mimbar, sementara mereka berlompatan keluar meninggalkan masjid dan membiarkannya di atas Mimbar berpidato hanya berebut makanan misalnya atau kerena ada pawai barongse lewat!!<span id="more-1776"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi itulah yang &#8220;dituduhkan&#8221; para ulama Ahlsunnah terhadap para sahabat mulia! <em>Mereka berhamburan keluar masjid sementara Nabi saw. sedang berkhutbah di atas Mimbar..</em>. mereka tega meninggalkan Nabi saw. berdiri di atas mimbar hanya kerena ada seorang pedagang makanan datang dengan menabuh genderang sebagai alat memanggil para pelanggan! Dari ribuan sahabat yang hadir shalat Jum’at hanya tersisa belasan sahabat saja yang masih setia duduk mendengar pidato Nabi saw.</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh luar biasa!!</p>
<p style="text-align:justify;">Bukankah tunuduhan demikian terhadap para sahabat mulia Nabi saw. <span style="text-decoration:underline;"><em>adalah sebuah penghinaan dan pelecehan?!</em> <span style="color:#800000;text-decoration:underline;"><em><span style="color:#ff0000;text-decoration:underline;">Bukankah para sahabat itu seluruhnya, ajma’în adalah ‘udûl/baik/terdidik dan shaleh?</span>!</em></span></span> Bukankah semestinya kita katakan bahwa para sahabat itu seluruhnya, <em>ajma’în</em> adalah lebih mengutamakan Nabi mereka lebih dari segalanya tidak terkecuali jiwa-jiwa mereka? Lalu mengapakah <span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><em>para ulama Ahlusunnah menghina mereka dengan mengatakan mereka lebih mementingkan perut-perut mereka ketimbang mendengar pidato Rasulullah Muhammad saw.?!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Para Ulama Ahluusunnah Mengaitkan Penghinaan Itu Dengan Sebuah Ayat Al Qur’an!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tidak cukup sampai di sini, para ulama Ahlusunnah sepakat mempertegas tuduhan menghinakan itu dengan mengaitkannya dengan sebuat ayat Al Qur’an. Allah SWT berfirman:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>وَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَ تَرَكُوكَ قائِماً قُلْ ما عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَ مِنَ التِّجارَةِ وَ اللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقينَ </strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“</em><em>Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah:&#8221; Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan&#8221;, dan Allah Sebaik- baik Pemberi rezeki.</em><em>”</em> (QS. Jumu’ah [62];11)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keterangan Para Ulama Ahlusunnah Tentang Ayat di Atas</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tentang ayat di atas, para ulama Ahlusunnnah mengaitkannnya dengan sebuah peristiwa yang menggemparkan penghuni langit sebelum menggemparkan penduduk bumi, sehingga Allah SWT langsung menurunkan ayat teguran bahkan ancaman keras dan Nabi pun tidak ketinggalan menampakkan murkanya atas para pelaku tindakan hina yang biadab itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menyingkat waktu mari kita dengar langsung penghinaan ulama Ahlusunnah terhadap para sahabat Nabi mulia saw.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah menerangkan makna ayat bahwa para sahabat itu meninggalkan Nabi saw. berpidato di  atas mimbar, <strong><span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu Jarir ath Thabari</em></span></strong> (mufassir tertua Ahlusunnah) <span style="color:#0000ff;">mengutip berbagai riwayat, di antaranya:</span></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong>حدثنا ابن حميد، قال: ثنا مهران، عن سفيان، عن إسماعيل السدي، عن أبي مالك، قال: قدم دحية بن خليفة بتجارة زيت من الشام، و النبي صلى الله عليه و سلم يخطب يوم الجمعة، فلما رأوه قاموا إليه بالبقيع خشوا أن يسبقوا إليه، قال: فنزلت وَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَ تَرَكُوكَ قائِماً</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“&#8230;. dari Abu Mâlik, ia berkata, ‘<span style="text-decoration:underline;color:#800000;">Dihyah datang dengan membawa dagangan (berupa minyak) dari negeri Syam.</span> Saat itu Nabi saw. sedang berkhutbah Jum’at, sepontan ketika melihat itu, para sahabat berdiri menujunya di tanah Baqi’. Mereka takut kedahuluan orang lain. Ia berkata, ‘Lalu turunlah ayat <span style="color:#800000;">“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah).”</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">.<em></em></p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>حدثنا أبو كريب، قال: ثنا ابن يمان، قال: ثنا سفيان، عن السدي، عن قرة إِذا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ قال: جاء دحية الكلبي بتجارة و النبي صلى الله عليه و سلم قائم في الصلاة يوم الجمعة، فتركوا النبي صلى الله عليه و سلم و خرجوا إليه، فنزلت وَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَ تَرَكُوكَ قائِماً حتى ختم السورة</strong><em></em></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“&#8230; dari as Suddi dari Qarrah, ‘Tentang ayat<span style="color:#800000;"> {.. apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat}</span>  ia berkata, “<span style="color:#0000ff;">Dihyah al kalbi</span> datang membawa dagangan sementara Nabi saw. berdiri (berkhutbah) dalam shalat Jum’at, maka mereka serempak meninggalkan Nabi saw. dan keluar menghampiri Dihyah. Lalu turunlah ayat:<span style="color:#800000;"> “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah).” hingga akhir surah.”</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">.<em></em></p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>حدثني أبو حصين عبد الله بن أحمد بن يونس، قال: ثنا عبثر، قال: ثنا حصين، عن سالم بن أبي الجعد، عن جابر بن عبد الله، قال: كنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم في الجمعة، فمرت عير تحمل الطعام، قال: فخرج الناس إلا اثني عشر رجلا، فنزلت آية الجمعة. </strong><strong> </strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“&#8230; (sahabat) Jabir bin Abdillah berkata, <span style="color:#800000;">‘Kami bersama Rasulullah saw. di hari Jum’at, lalu lewatah kafilah dagang membawa makanan. Ia (Jabir) berkata, ‘<span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#ff0000;text-decoration:underline;">Maka manusia keluar kecuali dua belas orang saja, lalu turunlah ayat surah Jum’at”</span></span></span></em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>حدثنا ابن عبد الأعلى، قال: ثنا محمد بن ثور، عن معمر، قال: قال الحسن: إن أهل المدينة أصابهم جوع و غلاء سعر، فقدمت عير و النبي صلى الله عليه و سلم يخطب يوم الجمعة، فسمعوا بها، فخرجوا و النبي صلى الله عليه و سلم قائم، كما قال الله عز وجل.</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“ &#8230; Hasan berkata, ‘Penduduk kota Madinah mengalami kelaparan dan mahalnya bahan makanan, lalu datanglah kafilah dagang sementara Nabi saw. sedang berkhutbah shalat Jum’at, ketika mendengar kedatangan kafilah itu mereka bergegas keluar dan meninggalkan Nabi saw. yang sedang berdiri seperti yang difirmankan Allah.”</em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>حدثنا بشر، قال: ثنا يزيد، قال: ثنا سعيد، عن قتادة:</strong><strong> </strong><strong>بينما رسول الله صلى الله عليه و سلم يخطب الناس يوم الجمعة، فجعلوا يتسللون و يقومون حتى بقيت منهم عصابة، فقال: كم أنتم؟ فعدوا أنفسهم فإذا اثنا عشر رجلا و امرأة ثم قام في الجمعة الثانية فجعل يخطبهم قال سفيان: و لا أعلم إلا أن في حديثه و يعظهم و يذكرهم، فجعلوا يتسللون و يقومون حتى بقيت منهم عصابة، فقال: كم أنتم، فعدوا أنفسهم، فإذا اثنا عشر رجلا و امرأة ثم قام في الجمعة الثالثة فجعلوا يتسللون و يقومون حتى بقيت منهم عصابة، فقال كم أنتم؟ فعدوا أنفسهم، فإذا اثنا عشر رجلا و امرأة، فقال:&#8221; و الذي نفسي بيده لو اتبع آخركم أولكم لالتهب عليكم الوادي نارا&#8221; و أنزل الله عز وجل: وَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَ تَرَكُوكَ قائِماً. </strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“&#8230; dari Qatadah, ia berkata, <span style="color:#800000;">‘Ketika Rasulullah saw. berkhutbah di hadapan manusia pada hari Jum’at, tiba-tiba mereka berangsur-angsur bangun dan keluar sehingga tidak tersisa kecuali sekelompok kecil.’</span> Maka <span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">beliau bertanya,</span> <span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">‘Berapa jumlah kalian?’</span> Para sahabat itu kemudian menghitung jumlah mereka, maka hanya dua belas orang laki-laki dan satu perempuan.</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">Kemudian di hari jum’at berikutnya</span> beliau berkhutbah di hadapan mereka &#8230; Sufyan berkata, <span style="color:#800000;">‘Aku tidak mengetahui dari hadisnya melainkan beliau menasihati dan mengingatkan mereka, lalu mereka berangsur-angsur meninggalkan beliau sehingga tidak tersisa kecuali sekelompok kecil.’</span> Maka beliau bertanya, ‘Berapa jumlah kalian?’ <span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;">Para sahabat itu kemudian menghitung jumlah mereka, maka hanya dua belas orang laki-laki dan satu perempuan.</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#0000ff;">Kemudian pada hari jum’at ketiga</span> <span style="color:#800000;">beliau berkhutbah lalu mereka berangsur-angsur meninggalkan beliau sehingga tidak tersisa kecuali sekelompok kecil.’</span> Maka <span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;">beliau bertanya, ‘Berapa jumlah kalian?’</span> Para sahabat itu kemudian menghitung jumlah mereka, maka hanya dua belas orang laki-laki dan satu perempuan. Setelah itu beliau bersabda (mengancam)</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>و الذي نفسي بيده لو اتبع آخركم أولكم لالتهب عليكم الوادي نارا</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><em>“Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, andai orang terakhir kamu mengikuti orang pertama kamu (yang keluar) pastilah lembah ini akan dilahab api membakar kalian!.”</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Lalu turunlah ayat:</span> <em>“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah).” </em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Jakfari:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ini mungkin yang dimaksud dengan penegasan <span style="color:#0000ff;"><em>Syeikh Ibnu Âsyûr</em></span> bahwa<span style="color:#ff0000;"><em> peristiwa memalukan itu mereka lakukan s<span style="text-decoration:underline;">ebanyak tiga kali secara berturut-turut</span></em></span>, sehingga akhirnya Nabi saw. murka dan mengancam dan Allah pun segera menurunkan ayat kecamanan yang mengabadikan prilaku para sahabat itu!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu Âsyûr</em></span> berkata dalam tafsirnya<span style="color:#0000ff;"><em> at Tahrîr at Tanwîr</em></span>,28/205:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>فقد قيل إن ذلك تكرر منهم ثلاث مرات</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan telah dikatakan bahwa peristiwa itu terulang sebanyak tiga kali&#8230; “</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Catatan:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sebagian riwayat dikatakan bahwa sahabat yang tetap setia tidak tergiur kafilah dagang itu berjumlah empat puluh orang.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#800000;">Para ulama Ahlusunnah tidak meragukan peristiwa itu memang benar-benar terjadi.. para sahabat Nabi meninggalklan Nabi saw. berdiri di atas Mimbar!</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Ibnu Katsir</span> meyakinkan kita dengan kata-katanya:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>يعاتب تبارك و تعالى على ما كان وقع من الانصراف عن الخطبة يوم الجمعة إلى التجارة التي قدمت المدينة يومئذ فقال تعالى: وَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَ تَرَكُوكَ قائِماً أي على المنبر تخطب، هكذا ذكره غير واحد من التابعين، منهم أبو العالية و الحسن و زيد بن أسلم و قتادة، و زعم مقاتل بن حيان أن التجارة كانت لدحية بن خليفة قبل أن يسلم، و كان معها طبل فانصرفوا إليها و تركوا رسول اللّه صلّى اللّه عليه و سلّم قائما على المنبر إلا القليل منهم، و قد صح بذلك الخبر فقال الإمام أحمد: حدثنا ابن إدريس عن حصين عن سالم بن أبي الجعد عن‏ جابر قال: قدمت عير مرة المدينة، و رسول اللّه صلّى اللّه عليه و سلّم يخطب فخرج الناس و بقي اثنا عشر رجلا فنزلت وَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها.</strong><strong> </strong><strong>أخرجاه في الصحيحين من حديث سالم به.</strong><strong></strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Allah –Yang Maha Berkah dan Maha Tinggi- telah menegur (para sahabat) atas apa yang terjadi yaitu meninggalkan (Nabi saw.) saat khutbah Jum’at menuju kafilah dagang yang datang ke kota Madinah pada hari itu. Allah -Ta’ala- berfiman:<span style="color:#800000;"> “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri.” </span>berkhutbah di atas mimbar. Demikian disebutkan banyak ulama tabi’în di antara mereka adalah Abul ‘Âliyah, al Hasan, Zaid bin Aslam dan Qatadah. Dan Muqatil bin Hayyân berpendapat bahwa kafilah dagang itu milik <span style="color:#0000ff;">Dihyah</span> sebelum ia memeluk Islam. Ia membawa genderang (dan menabuhnya) lalu orang-orang -kecuali beberapa orang saja- keluar menujunya dan meninggalkan Rasulullah saw. berdiri di atas mimbar. <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">Dan telah shahih berita tentang kejadian ini.”</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian ia menyebutkan beberapa riwayat tentangnya, di antaranya adalah:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Imam Ahmad<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> meriwayat dari &#8230; Jabir, ia berkata, “Pada seuatu hari ada kafilah dagang datang ke kota Madinah ketika itu Rasulullah saw. sedang berkhutbah,<span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"> maka orang-orang keluar (dari masjid) kecuali dua belas orang saja,</span> lalu turunlah ayat:<span style="color:#800000;"> “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri.”</span> Dan hadis ini juga diriwayatkan <span style="color:#0000ff;">Bukhari dan Muslim</span> dalam kedua kitab Sahahih mereka dari hadis Salim dengan sanad di atas.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Jakfari:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sobat, Anda berhak bertanya, mungkinkah Allah menyebut-nyebut kejelekan para sahabat mulia Nabi saw. dalam Al Qur’an, kitab suci-Nya yang akan dibaca umat Islam sepanjang zaman?!</p>
<p style="text-align:justify;">Atau justeru, jangan-jangan mereka yang keluar (apalagi kalau diterima riwayat yang menyebut bahwa kejadian itu terulang sebanyak tiga kali) bukanlah sahabat, tetapi mereka adalah gabungan dari kaum munafik, kaum lemah imam dan yang islamnya ikut-ikutan?!</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><em>Jika hanya karena rayuan pedagang makaman, para sahabat itu berbondong-bondong keluar meninggalkan masjid</em></span> di saat beliau saw. berkhutbah, dengan tanpa malu dan <em>sungkan</em> kepada <em>Kanjeng</em> Nabi Muhammad saw., <span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><em>lalu apa bayangan kita terhadap mereka di medan perang ketika maut mengejar mereka?!</em></span> <span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><em>Mungkinkah mereka akan tegar menghadapinya dan membela Nabi mereka hingga tetes darah penghabisan?</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sobat, <span style="color:#800000;">peristiwa itu terjadi bukan di awal-awal kedatangan Nabi saw. di kota Madinah, tetapi justeru di tahun-tahun terakhir! Artinya mereka sudah lama mendapat didikan istimewa dari Nabi saw.! Lalu apa yang salah di sini?</span> Yang jelas beliau saw. tidak mungkin &#8220;teledor&#8221; dalam mendidik. Tetapi, pendidikan itu bukanlah aktifitas satu arah dan kesuksesan hanya ditentukan oleh sang pendidik betapa pun hebatnya ia!</p>
<p style="text-align:justify;">Di sini, saya hanya hendak mengatakan,<span style="color:#800000;"><em> tidakkah apa yang disajikan para ulama Ahlusunnah tentang kejadian di atas yang dilakoni mayoritas para sahabat itu tergolong penghinaan, caci maki dan pelecehan terhadap kehormatan mereka?</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><em>Bukankah firman suci Allah SWT yang mengabadikan peristiwa itu memuat pelecehan, atau paling tidak tindakan memalukan yang mereka lakukan?!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><em>Apakah para ulama Ahlusunnah itu agak terpengaruh pandangan Syi’ah dalam menilai para sahabat, di mana (kata Syi’ah) tidak semua sahabat itu baik dan terpuji!</em></span> Atau di sini, dalam kasus ini, Allah “agak kesyi’ah-syi’ahan”! <span style="color:#800000;"><em>Buktinya Allah SWT tidak mendukung konsep Sunni tentang keadilan sahabat dan malah memberikan amunisi yang menguatkan argumentasi Syi’ah!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><em>Atau jangan-jangan seluruh data dan nash tentangnya itu palsu?!</em></span> Saya yakin tidak sedikit dari Anda –hai sobat sunniku- yang rasa-rasanya ingin menolak nash-nash dan hadis-hadis tentangnya dan berkata dalam hatinya, ‘Mengapa Allah tidak merahasiakan saja kejadian itu! Tidakkah Allah tau betapa bahayanya jika ayat itu dibaca kaum Syi’ah! Bisa dibuat repot kita oleh mereka’ Atau “Jika kita terima kenyataan ini, habislah! Lebih selamat kalau kita ingkari saja!! Tetapi&#8230; apa hendak dikata&#8230; kali ini Allah kurang berpihak kepada kita (Sunni).’!</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi saya hanya menyampaikan keterheranan saya, bagaimana ulama Ahlusunnah itu tega menghina para sahabat mulai dengan tuduhan seperti itu!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Wassalam. </strong></p>
<div style="text-align:justify;">
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Musnad Ahmad,3-313.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/1776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/1776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/1776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/1776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jakfari.wordpress.com/1776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jakfari.wordpress.com/1776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jakfari.wordpress.com/1776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jakfari.wordpress.com/1776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/1776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/1776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/1776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/1776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/1776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/1776/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1776&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2011/05/07/sungguh-tega-ulama-ahlusunnah-menuduh-para-sahabat-meninggalkan-nabi-saw-sa%e2%80%99at-khutbah-jum%e2%80%99at/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/448ec135645f1d27ee5bd10e169255c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ulama Ahlusunnah Menuduh Para Sahabat Berencana Membunuh Nabi Muhammad saw!</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2011/05/04/ulama-ahlusunnah-menuduh-para-sahabat-berencana-membunuh-nabi-muhammad-saw/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2011/05/04/ulama-ahlusunnah-menuduh-para-sahabat-berencana-membunuh-nabi-muhammad-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 May 2011 06:34:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Sidogiri]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=1764</guid>
		<description><![CDATA[Ulama Ahlusunnah Menuduh Para Sahabat Berencana Membunuh Nabi Muhammad saw! Ada sebuah dokumen yang rasa-rasanya agak rahasia terlanjur ditulis oleh sebagian ulama Ahluusunnah&#8230; dokumen rahasia tentang persengkolan sebagian sahabat (tentunya yang munafik) untuk membunuh Nabi Muhammad saw. dengan menggelincirkan kendaraan yang beliau tunggangi dari atas tebing tajam yang sangat tinggi sepulang beliau dari perang Tabûk. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1764&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#003366;"><strong>Ulama Ahlusunnah Menuduh Para Sahabat Berencana Membunuh Nabi Muhammad saw!</strong></span></p>
<p>Ada sebuah dokumen yang rasa-rasanya agak rahasia terlanjur ditulis oleh sebagian ulama Ahluusunnah&#8230; dokumen rahasia tentang persengkolan sebagian sahabat (tentunya<a href="http://jakfari.wordpress.com/2010/01/26/siapa-bilang-kaum-munafik-bukan-sahabat-nabi-saw/" target="_blank"> yang munafik</a>) untuk membunuh Nabi Muhammad saw. dengan menggelincirkan kendaraan yang beliau tunggangi dari atas tebing tajam yang sangat tinggi sepulang beliau dari perang Tabûk. Dokumen kejahatan itu mereka sebutkan terkait dengan tafsir ayat 74 surah at Taubah [9]:</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ ما قالُوا وَ لَقَدْ قالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَ كَفَرُوا بَعْدَ إِسْلامِهِمْ </strong><strong>وَ هَمُّوا بِما لَمْ يَنالُوا</strong><strong> وَ ما نَقَمُوا إِلاَّ أَنْ أَغْناهُمُ اللَّهُ وَ رَسُولُهُ مِنْ فَضْلِهِ فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْراً لَهُمْ وَ إِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذاباً أَليماً فِي الدُّنْيا وَ الْآخِرَةِ وَ ما لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَ لا نَصيرٍ </strong><strong></strong></h2>
<p>“<em>Mereka (</em><em>o</em><em>rang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, <strong>dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya</strong>; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali- kali tidak mempunyai pelindung dan tidak</em><em> </em><em>(pula)</em><em> </em><em>penolong di muka bumi.</em><em>”<span id="more-1764"></span></em></p>
<p>Ketika menerangkan ayat di atas, khususnya:<em> , <strong>dan (mereka) mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya</strong>, </em>para mufassir Ahlusunnah begitu serius melansirkan isu itu&#8230; mereka benar-benar telah menuduh ada sekelompok sahabat (<em><span style="text-decoration:underline;">yang namanya dirahasiakan</span>)</em> telah berencana dan bermakar jahat hendak mengbahisi nyawa Junjungan kita Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Tentang ayat di atas,<strong> <span style="color:#0000ff;">Ibnu Katsir</span></strong> berkata:</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>و قد ورد أن نفرا من المنافقين هموا بالفتك بالنبي صلى اللّه عليه و سلم و هو في غزوة تبوك، في بعض تلك الليالي في حال السير، و كانوا بضعة عشر رجلا، قال الضحاك: ففيهم نزلت هذه الآية</strong><strong>  </strong><strong></strong></h2>
<p><em>“Dan telah datang riwayat bahwa ada sekelompk orang munafik bermaksud membunuh Nabi saw. ketika dalam peperangan tabuk pada salah satu malam dalam perjalanan pulang beliau. Mereka berjumlah belasan orang. Adh- Dhahhâk berkata, ‘Untuk merekalah ayat ini turun.’”</em></p>
<p>.</p>
<p>Kemudian <span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu Katsir</em></span> menyebutkan bukti kebenaran pendapat ini dengan mengutip beberapa riwayat para ulama dalam masalah ini, seperti riwayat<span style="color:#0000ff;"><em> al Baihaqi</em></span> yang telah lewat, riwayat <span style="color:#0000ff;"><em>Imam Ahmad, Imam Muslim</em></span> dan lainnya.</p>
<p>Dalam sebagian riwayat dikatakan bahwa yang bermaksud membunuh Nabi saw. itu adalah seorang dari suku Quraisy!</p>
<p>Dalam<span style="color:#0000ff;"><em> tafsir al Jalâlain</em></span> (tafsir yang paling merakyat di kalangan pesantren-pesantren tradisional di bumi Indonesia) juga dijelaskan demikian ayat tersebut:</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>وَ هَمُّوا بِما لَمْ يَنالُوا من الفتك بالنبي ليلة العقبة عند عوده من تبوك وهم بضعة عشر رجلا فضرب عمار بن ياسر وجوه الرواحل لما غشوه فردوا</strong><strong></strong></h2>
<p><em>“dan (mereka) mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya yaitu untuk membunuh Nabi  di malam ‘Aqabah (tebing) sepulang beliau dari Taubuk. Mereka berjumlah belasan orang. Ammâr bin Yâsir memuluk wajah-wajah kendaraan mereka dan menghalaunya ketika mereka hendak mengerumuni Nabi saw.”</em></p>
<p>.</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Ibnu Jauzi</em></span> juga menyebutnya dalam tafsir<span style="color:#0000ff;"><em> Zâdul Masîr</em></span>-nya. Ia berkata:</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>و الثاني: أنّها نزلت فيهم حين همّوا بقتل رسول اللّه صلى اللّه عليه و سلم، رواه مجاهد عن ابن عباس، قال: و الذي همّ رجل يقال له: الأسود. و قال مقاتل: هم خمسة عشر رجلا، همّوا بقتله ليلة العقبة</strong><strong>.</strong></h2>
<p><em>“Pendapat kedua: Ayat ini turun tentang mereka yang berniat membunuh Rasulullah saw.. demikian diriwayatkan Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata, ‘Yang berniat membunuh adalah seorang bernama Aswad. Muqatil berkata, ‘Mereka berjumlah lima belas orang. Mereka berniat membunuh Nabi saw. di malam ‘Aqabah.”</em></p>
<p>.</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Al Alûsi</em></span> dalam tafsir<em> Rûh al Ma’âni-</em>nya juga menegaskan adanya persekongkolan para sahabat untuk membunuh Nabi saw. itu sepulang dari pertempuran Tabûk itu.</p>
<p>Serta masih banya lagi kutipan para ulama Ahlusunnah yang menuduh para sahabat itu telah berencana membunuh Nabi Muhammad saw.</p>
<p><strong>Sekilas Peristiwa Makar Itu</strong></p>
<p>Bersama sahabat kepercayaan beliau; Hudzaifah dan Ammâr bin Yâsir, Nabi saw. menempuh jalan pintas dengan melalui tebing sebuah gunung yang tajam, dan meminta sabahat beliau berjalan melewati jalan biasa. Tetapi ada belasan sabahat munafik membuntuti beliau. Mereka mengenakan penutup wajah. Dengan tujuan sesampainya di atas tebing, mereka akan mendorong kendaraan beliau agar terjungkir jatuh ke dalam jurang. Nabi saw. mengetahui rencana jahat mereka yang membuntuti beliau menaiki tebing itu. Nabi meminta Hudzaifah untuk mengusir mereka! Ia pun bergegas mengusir mereka. Sekembalinya, <em><span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">Nabi saw. bertanya kepadanya, ‘Tahukan engkau siapa mereka?</span><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;"> Dan apa rencana mereka?</span></span><span style="color:#0000ff;"> Hudzaifah menjawab, aku tidak kenali wajah-wajah mereka karena mereka menggunakan penutup wajah.</span><span style="color:#0000ff;"> Tetapi aku kenali kendaraan-kendaraan milik mereka</span>.</em> <span style="color:#0000ff;"><em>Kemudian Nabi saw. memberitahukan kepada Hudzaifah nama-nama mereka dan bahwa<span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"> mereka itu berencana membunuh beliau</span></em></span> dengan menggelindingka kendaraan tunggangan beliau ke dalam jurang! Hudziafah berkata, ‘Mengapa tidak Anda perintahkan saja agar mereka dibunuh? <span style="text-decoration:underline;color:#3366ff;"><em>Nabi saw. mengatakan, bahwa<span style="color:#ff0000;text-decoration:underline;"> beliau tidak mau nanti orang-orang berkata bahwa Muhammad membunuh sabahatnya sendiri!</span></em></span></p>
<p><strong>Untuk menyingkap waktu perhatikan rincian dokumen rahasia ini dalam riwayat para ulama Ahlusunnah!</strong></p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">و أخرج البيهقي في الدلائل عن عروة رضى الله عنه قال رجع رسول الله صلى الله عليه و سلم قافلا من تبوك إلى المدينة حتى إذا كان ببعض الطريق مكر برسول الله صلى الله عليه و سلم <strong>ناس من أصحابه</strong> فتآمروا أن يطرحوه من عقبة في الطريق فلما بلغوا العقبة أرادوا أن يسلكوها معه فلما غشيهم رسول الله صلى الله عليه و سلم أخبر خبرهم فقال من شاء منكم أن يأخذ بطن الوادي فانه أوسع لكم و اخذ رسول الله صلى الله عليه و سلم العقبة و اخذ الناس ببطن الوادي الا النفر الذين مكروا برسول الله صلى الله عليه و سلم لما سمعوا ذلك استعدوا و تلثموا و قد هموا بأمر عظيم و أمر رسول الله صلى الله عليه و سلم حذيفة بن اليمان رضى الله عنه و عمار بن ياسر رضى الله عنه فمشيا معه مشيا فأمر عمارا أن يأخذ بزمام الناقة و أمر حذيفة يسوقها فبينما هم يسيرون إذ سمعوا وكزة القوم من ورائهم قد غشوه فغضب رسول الله صلى الله عليه و سلم و أمر حذيفة أن يردهم و أبصر حذيفة رضى الله عنه غضب رسول الله صلى الله عليه و سلم فرجع و معه محجن فاستقبل وجوه رواحلهم فضربها ضربا بالمحجن و أبصر القوم وهم متلثمون لا يشعروا انما ذلك فعل المسافر فرعبهم الله حين أبصروا حذيفة رضى الله عنه و ظنوا ان مكرهم قد ظهر عليه فاسرعوا حتى خالطوا الناس و أقبل حذيفة رضى الله عنه حتى أدرك رسول الله صلى الله عليه و سلم فلما أدركه قال اضرب الراحلة يا حذيفة و امش أنت يا عمار فاسرعوا حتى استووا بأعلاها فخرجوا من العقبة ينتظرون الناس فقال النبي صلى الله عليه و سلم لحذيفة هل عرفت يا حذيفة من هؤلاء الرهط أحدا قال حذيفة عرفت راحلة فلان و فلان و قال كانت ظلمة الليل و غشيتهم وهم متلثمون فقال النبي صلى الله عليه و سلم هل علمتم ما كان شأنهم و ما أرادوا قالوا لا و الله يا رسول الله قال فإنهم مكروا ليسيروا معى حتى إذا طلعت في العقبة طرحوني منها قال أفلا تامر بهم يا رسول الله فنضرب أعناقهم قال أكره أن يتحدث الناس و يقولوا ان محمدا وضع يده في أصحابه فسماهم لهما و قال اكتماهم‏</h2>
<p><em><span style="color:#0000ff;">Imam al Baihaqi</span> meriwayatkan dalam kitab <span style="color:#0000ff;">Dalâil-</span>nya dari Urwah ia berkata, “Rasulullah saw. puulang dari tabuk menuju kota Madinah, sesampainya di sebagian jalan, <span style="color:#ff0000;">sekelompok orang dari sahabat beliau berbuat makar</span><strong>.</strong> Mereka bersekongkol untuk menjatuhkan beliau saw. dari atas tebing di jalan itu. Sesampainya mereka di ujung tebing itu, mereka bermaksud berjalan di sana bersama-sama Nabi saw. ketika telah bergabung, Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabat, ‘Siapa yang ingin menempuh jalan lewat perut lembah silahkan, ia lebih lebar untuk kalian!’ Sementara Rasulullah saw. melewati jalan tebing itu. Para sahabat melewati perut lembat kecuali beberapa orang yang berencana berbuat makar terhadap Rasulullah saw. Ketika beliau mendengar pengumuman itu mereka bersiap-siap dan mengenakan penutup wajah dan berencana melakukan makar besar. Rasulullah saw. memerintahkan Hudzaifah bin al Yamân ra. Dan Ammâr bin Yâsir ra.. Keduanya berjalan bersama beliau, Ammâr diperintah untuk memegang kendali kendran beliau, sementra Hudzaifah diminta untuk menuntunnya. Ketika mereka sedang berjalan, mereka mendengar suara suara langkah-langkah mereka (yang bermakar itu). Mereka berusa menerobos rombongan Nabi saw. Beliau marah dan memerintahkan Hudzaifah untuk menghalau mereka. Hudzaifah melihat marah  Rasulullah saw.. Hudzaifah kembali ke belakang dengan membawa tonhgkat kecil untuk menghalau mereka. Hudzaifah menghadap wajah-wajah kendaraan mereka dan memukulnya dengan tongkat itu. Hudzaifah melihat mereka dalam keadaan mengenakan penutup wajah seperti kebiasaan sebagian kaum musafir. Allah menanamkan rasa takut dalam hati mereka ketika mereka melihat Hudzaifah ra. dan mereka mengira bahwa Hudzaifah mengetahui rencana jahat mereka terbongkar. Mereka bercepat-cepat lari dan bergabung dengan orang-orang lain. Hudzaifah ra. kembali kepada Rasulullah saw., setelah sampai, beliau memerintahnya dan Ammâr agar bercepat-cepat menuntun kendaraan beliau sehingga sampai di puncak tebing itu dan setelahnya mereka keluar darinya sambil menanti rombongan lain yang menempuh jalan perut lembah.</em></p>
<p><em>Nabi saw. berkata Hudzaifah, ‘Hai Hudzaifah, akapah engkau mengenal seorang dari mereka itu?</em></p>
<p><em>Hudzaifah menjawab, ‘Aku mengenali kendaraan-kendaraan itu milik si fulan dan si fulan. Gelapnya malam menutupi wajah mereka di samping itu mereka mengenakan penutup wajah.”</em></p>
<p><em>Nabi saw. bersabda, “Tahukan kamu apa mau mereka?”</em></p>
<p><em>Tidak. Demi Allah. Jawab Hudzaifah.</em></p>
<p><em>Nabi saw. menjelaskan,<span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"> “Mereka berencana jahat membunuhku</span>. Mereka ikut berjalan bersamaku sehingga ketika sampai di atas tebing mereka akan melemparkanku dari aatasnya.”</em></p>
<p><em>Hudzaifah berkata, “Mengapakah tidak Anda perintahkan saja agar kami penggal leher-leher mereka?!”</em></p>
<p><em>Nabi saw. <span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;">“Aku tidak suka nanti orang-orang berkata Muhammad membunuh sahabatnya sendiri.”</span></em></p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;">Kemudian Nabi saw. menyebutkan nama-nama mereka</span> untuk Hudzaifah dan Ammâr dan meminta keduanya merahasiakan</em>.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>.</p>
<p>Riwayat-riwayat senada juga telah disebutkan oleh para ulama seperti<span style="color:#0000ff;"><em> Syeikh Jalaluddin as Suyuthi</em></span> dalam tafsirnya dan lainnya.</p>
<p>Di bawah ini saya sebutkan teks asli riwayat tanpa terjemahan sekedar untuk melengkapi.</p>
<ul>
<li style="text-align:right;">
<h2>و أخرج البيهقي في الدلائل عن ابن اسحق نحوه و زاد بعد قوله لحذيفة هل عرفت من القوم أحدا فقال لا   فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ان الله قد أخبرني بأسمائهم و أسماء آبائهم و سأخبرك بهم ان شاء الله عند وجه الصبح فلما أصبح سماهم له عبد الله بن أبى سعد و سعد بن أبى سرح و أبا حاصر الاعرابى و عامر و أبا عامر و الجلاس بن سويد بن الصامت و مجمع بن حارثة و مليحا التيمي و حصين بن نمير و طعمة بن أبيرق و عبد الله بن عيينة و مرة بن ربيع فهم اثنا عشر رجلا حاربوا الله و رسوله و أرادوا قتله فاطلع الله نبيه صلى الله عليه و سلم على ذلك و ذلك قوله عز و جل وَ هَمُّوا بِما لَمْ يَنالُوا و كان أبو عامر رأسهم و له بنوا مسجد الضرار و هو أبو حنظلة غسيل الملائكة</h2>
</li>
<li style="text-align:right;">
<h2>و أخرج ابن سعد عن نافع بن جبير بن مطعم قال لم يخبر رسول الله صلى الله عليه و سلم بأسماء المنافقين الذين تحسوه ليلة العقبة بتبوك غير حذيفة رضى الله عنه وهم اثنا عشر رجلا ليس فيهم قريشي و كلهم من الأنصار و من حلفائهم‏</h2>
</li>
<li style="text-align:right;">
<h2>و أخرج البيهقي في الدلائل عن حذيفة بن اليمان رضى الله عنه قال كنت آخذ بخطام ناقة رسول الله صلى الله عليه و سلم أقود به و عمار يسوقه أو أنا أسوقه و عمار يقوده حتى إذا كنا بالعقبة فإذا أنا باثني عشر راكبا قد اعترضوا فيها قال فأنبهت رسول الله صلى الله عليه و سلم فصرخ بهم فولوا مدبرين فقال لنا رسول الله صلى الله عليه و سلم هل عرفتم القوم قلنا لا يا رسول الله كانوا متلثمين و لكنا عرفنا الركاب قال هؤلاء المنافقون إلى يوم القيامة هل تدرون ما أرادوا قلنا لا قال أرادوا ان يزحموا رسول الله صلى الله عليه و سلم في العقبة فيلقوه منها قلنا يا رسول الله الله الا تبعث إلى عشائرهم حتى يبعث إليك كل قوم برأس صاحبهم قال لا انى أكره ان تحدث العرب بينها ان محمدا قاتل بقوم حتى إذا أظهره الله بهم أقبل عليهم يقتلهم ثم قال اللهم ارمهم بالدبيلة قلنا يا رسول الله و ما الدبيلة قال شهاب من نار يوضع على نياط قلب أحدهم فيهلك‏</h2>
</li>
</ul>
<p>.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Ibnu Jakfari Berkata:</strong></span></span></p>
<p>Kami tidak mengerti bagaimana sahabat yang berencana membunuh Nabi Muhammad saw. juga <span style="text-decoration:underline;"><em>diyakini keadilannya</em></span>?</p>
<p>Dan karena kita tidak mengenali nama-nama mereka maka bukankah merisaukan jika kita mengambil agama dari sembarang sahabat? Jangan-jangan mereka yang kita banggakan dan kita jadikan rujukan dan panutan dalam agama termasuk dari mereka yang bermakar terhadap Nabi kita saw.?</p>
<p>Siapa tahu?</p>
<p>Apa yang menjamin kita bahwa yang selama ini kita banggakan ternyata bukan mereka yang bermakar jahat terhadap Nabi penutup, kekasih Allah Muhammad ssaw.?</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Tafsir ad Durrul Mantsûr,3358.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/1764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/1764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/1764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/1764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jakfari.wordpress.com/1764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jakfari.wordpress.com/1764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jakfari.wordpress.com/1764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jakfari.wordpress.com/1764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/1764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/1764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/1764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/1764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/1764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/1764/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1764&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2011/05/04/ulama-ahlusunnah-menuduh-para-sahabat-berencana-membunuh-nabi-muhammad-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/448ec135645f1d27ee5bd10e169255c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Potret Sahabat Agung Kebanggaan Syi’ah (I)</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2011/05/04/potret-sahabat-agung-kebanggaan-syi%e2%80%99ah-i/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2011/05/04/potret-sahabat-agung-kebanggaan-syi%e2%80%99ah-i/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 May 2011 06:31:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=1761</guid>
		<description><![CDATA[Potret Sahabat Agung Kebanggaan Syi’ah (I) Menghormati para sahabat mulia yang setia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah keyakinan Syi’ah Imamiyah yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Demikian diajarkan Al Qur’an dan Sunah. Tidak sedikit para sahabat yang telah berhasil menyatu dengan ajaran Islam dan mewujudkannya dalam sifat, sikap dan seluruh aspek kehidupannya. Mereka setia terhadap janji [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1761&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#003366;"><strong>Potret Sahabat Agung Kebanggaan Syi’ah (I)</strong></span></p>
<p>Menghormati para sahabat mulia yang setia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah keyakinan Syi’ah Imamiyah yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Demikian diajarkan Al Qur’an dan Sunah. Tidak sedikit para sahabat yang telah berhasil menyatu dengan ajaran Islam dan mewujudkannya dalam sifat, sikap dan seluruh aspek kehidupannya. Mereka setia terhadap janji keimanan dan kepatuhan yang telah mereka ikrarkan. Di antara mereka adalah sahabat kebanggan kaum Mukmin yang menghargai fitrah dan nuraninya. Dia adalah <em>Sayyiduna Ammâr bin Yâsir</em> (semoga Allah meridhai beliau).<span id="more-1761"></span></p>
<p><em>Ammâr bin Yâsir</em> adalah seoraang sahabat agung nun mulia. Nabi saw. telah mengabarkan kabar gembira untuknya dan kedua orang tuanya surga Allah. Beliau saw bersabda:<span style="color:#800000;"><em> “Bergembiralah hai keluarga Ammâr dan keluarga Yâsir, janji kita ketemu di surga.”</em></span><a title="" href="#_ftn1"> [1]</a></p>
<p>Dalam riwayat disebutkan,<span style="color:#800000;"><em> “Bersabarlah hai keluarga Yâsir, sesunggunhnya janji perjumpaan kita di surga.” </em></span><a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Imam Ali as. juga memberikan apresiasi dan penghargaan kepada<em> Ammâr</em> dengan kata-katanya,<em><span style="color:#800000;"> “Darah dan daging Ammâr haram dilahap api neraka.”</span></em><a title="" href="#_ftn3"> [3]</a></p>
<p>Nabi saw. telah mengingatkan dan mengecam siapa yang mencaci dan memusuhi <em>Ammâr</em> ra.  apalagi memerangi dan membunuhnya. Nabi saw. bersabda,<span style="color:#800000;"><em> “Barang siapa mencaci Ammâr maka Allah akan mencacinya dan barang siapa memusuhi Ammâr maka Allah akan memusuhinya.”</em></span> <a title="" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Dalam riwayat lain disebutkan, Nabi saw. bersabda kepada Khâlid bin al Walîd, <em><span style="color:#800000;">“Hai Khâlid, janganlah kamu mencaci Ammâr karena siapa yang mencaci Ammâr maka Allah akan mencacinya dan siapa membenci Ammâr maka Allah akan membencinya dan siapa yang mengejek Ammâr sebagai orang bodah maka Allah akan membodohkannya.”</span></em><a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Dalam sabdanya, Nabi saw. mengancam pembunuh Ammâr dengaan neraka, <span style="color:#800000;"><em>“Pembunuh Ammâr dan merampas barangnya adalah neraka tempatnya.” </em></span><a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Dalam banyak hadis lain ditegaskan bahwa Ammâr adalah penganjur kepada surga Allah dan yang memerangi serta membunuhnya adalah para penganjur kepada kebatilah dan kepada api neraja Jahannam. Nabi saw. bersabda,<span style="color:#800000;"><em> “Amboi dia Ammâr. Dia mengajak mereka ke surga tetapi mereka mengajaknya ke neraka.”</em></span> <a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Dalam hadis lain, Nabi saw. bersabda,<span style="color:#800000;"><em> “Amboi Ammâr. Dia akan dibunuh oleh fiah bâghiyah (kelompok pembangkang Allah), Ammâr mengajak mereka kepada Allah tetapi mereka mengajaknya ke neraka.”</em></span> <a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Hadis-hadis mulia di atas menjelaskan kepada kita bahwa Ammâr ra. adalah sahabat mulia, agung dan patut dijadikan teladan dalam agama. Di samping ia sebagai bukti nyata husnul khâtimah/kebaikan akhir kehidupan<em> Ammâr</em> sebagai seorang mukmin kekasih Allah SWT. beliau addalah panji hidayah Allah dan petunjuk ke jalan kebenaran bagi mereka yang tersesat jalan!</p>
<p>Banyak hadis Nabi saw. mengatakan bahwa Ammâr memiliki ketaqwaan yang prima yang mendorongnya <span style="color:#800000;"><em>selalu memilih yang haq dan menolak yang batil.</em></span> Kebenaran selalu menjadi pilihannya, berpihak kepada penjunjung kebenaran adalah idamannya! Nabi saw. bersabda, <span style="color:#800000;"><em>“Tiada dihadapkan kepada putra Sumayyah (nama ibu Ammâr) dua perkara kecuali ia memilih yang paling berpetunjuk darinya.”</em></span> <a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Dalam redaksi lain: <span style="color:#800000;"><em>“Tiada dihadapkan kepada Ammâr bin Yâsir dua pilihan kecuali ia memilih yang paling berpetunjuk darinya.”</em></span><a title="" href="#_ftn10"> [10]</a></p>
<p>Bahkan lebih dari itu, Nabi saw. menjadikan<em> Ammâr</em> sebagai panji untuk mengenali kebenaran di kala kabur bagi pencarinya dan terjadi perselisihan di tengah-tengah umat Islam. Nabi saw. bersabda, <span style="color:#800000;"><em>“Jika manusia berselisih maka putra Sumayyah bersama kebenaran.”</em></span> <a title="" href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Dan pesan demikian telah diketahui oleh para sabahat dan sebenarnya dengan cara seperti itu Nabi saw. ingin mengarahkan umat beliau kepada kebenaran sejati.<span style="color:#0000ff;"><em> Habbah al ‘Arani</em></span> (seorang tabi’in mulia) berkata, ‘Aku masuk bersama<span style="color:#000000;"> <em>Abu Mas’ud al Anshari</em></span> menemui<span style="color:#000000;"><em> Hudzaifah bin Yamân</em></span> <em>(seorang  sahabat dekat dan kepercayaan Nabi saw. yang banyak disampaikan kepadanya berbagai rahasia apa yang bakal terjadi menimpa umat Islam)</em> untuk menanyakan kepadanya tentang fitnah <em>(kekacauan para pemberontak yang memberontak Ali as.)</em> yang terjadi, maka ia berkata menasihati, <span style="color:#800000;"><em>“Berputarlah kamu bersama Kitabullah di manapun dia berputar, dan perhatikan kelompok yang di dalamnya terdapat putra Sumayyah (Ammâr) maka ikuti kelompok itu sebab ia senantiasa berputar bersama kebenaran di manapun ia berputar.”</em></span> <span style="color:#0000ff;">Ia (Habbah) berkata</span>, ‘Maka kami berkata, ‘Siapa putra Sumayyah itu?’ Hudzaifah menjawab, ‘Ammâr. Aku mendengar Rasulullah saw bersabda untuknya, <span style="color:#800000;"><em>‘Engkau tidak akan mati sehingga dibunuh oleh kelompok pemberontak/fiatuh bâghiyah, engkau meneguk minuman di siang hari dan itu adalah akhir rizkimu dari dunia ini.’</em></span></p>
<p>Ketika para pemberontak yang dipimpin oleh <em>Mu’awiyah bin Abu Sufyan</em> melawan<em> Imam Ali as</em>, di medan tempur itu<span style="color:#0000ff;"> Ammâr berkata</span>,<span style="color:#800000;"><em>”Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, andai mereka memukul kami sampai kami mundur jauh ke belakang ke negeri hajar niscaya aku yakin bahwa kami di atas kebenaran dan mereka di atas kesesatan.”</em></span> <a title="" href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Demikianlah kita saksikan bagaimana kesetiaan Sayyidina Ammâr ra. terhadap Nabi saw. selama hidupnya dan setia kepada imamnya sepeninggal nabinya.  Hal demikian bukti keimanannya yang kokoh. Demikian Aisyah mensifatinya, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, <span style="color:#800000;"><em>“Ammâr dipenuhi dengan keimanan hingga ujung jari kakinya.”</em></span><a title="" href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Karena kesetiaannya, Ammâr rela mengorbankan seluruh jiwanya demi membela imam sucinya;<em> Ali bin Abi Thalib as</em>. dan <span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><em>benarlah apa yang dikatakan Nabi saw. bahwa para pemberontak itu adalah penganjur kepada neraka jahannam dan Ammâr penganjur kepada Allah…</em></span> kepada kebeneran dan kepada surga! Namun yang mengherankan adalah sikap Ahlusunnah yang menyanjung dan mengidolakan pimpinan kaum penganjur kepada kesesatan dan neraka jahannam dan menjadikannya sebagai panutan dalam agama, sementara Ammâr hampir-hampir tidak mendapatkan tempat di hati mereka!</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Sayyâr bin Abul Hakam</em></span> berkata, <em>“Bani ‘Abs berkata kepada Hudzaifah, <span style="color:#800000;">“Sesungguhnya Amirul Mukmin Utsman telah terbunuh, lalu apa yang Anda perintahkan untuk kami?</span> Hudzaifah menjawab,<span style="color:#800000;"> ‘Aku perintahkan kalian untuk selalu bersama Ammâr dan jangan pernah berpisah darinya!’</span> Mereka, <span style="color:#800000;">‘Sesungguhnya Ammâr tidak pernah berpisah dari Ali!’</span> Hudzaifah berkata, ‘<span style="color:#800000;">Sesungguhnya kedengkian telah membinasakan jasad. Sesungguhnya mereka menjauh dari Ammâr karena kedekatannya dari Ali! Demi Allah Ali jauh lebih afdhal dari Ammâr sejauh bumi dari awan. Dan Ammâr adalah satu dari para kekasih Allah. Dia (Nabi saw.) mengatahui bahwa jika mereka bersama Ammâr pasti mereka bersama Ali.’</span></em><span style="color:#800000;">”</span><a title="" href="#_ftn14"> [14]</a></p>
<p>Ini rupanya yang dapat menjadi jawaban yang akan mengusir rasa penasaran kita mengapa sebagian kaum Muslim kurang simpatik atau tidak mau banyak tau tentang Ammâr…. Sebab Ammâr adalah pecinta sejati dan pembela setia Imam Ali as. dan selalu berseberangan dengan para zalimin! <strong></strong></p>
<p><strong>Ibnu Jakfari: </strong></p>
<p>Sobat! Jujurlah kepada dirimu sendiri, pernahkan engkau dengar para kyai/ustadz Sunni rujukanmu menceritakan keagungan dan keutamaan<em> Ammâr bin Yâsir</em> dan membanggakannya? Mencecer hadis-hadis keutamaan tentangnya di hadapan kaum Muslim?</p>
<p>Apakah nama <em>Ammâr bin Yâsir</em> akrab di telinga Anda sebagai sabahat yang setia membela kebenaran bersama Imam Ali as. Dan melawan kezaliman kaum zalim?</p>
<p>Mengapakah nama harum <em>Ammâr bin Yâsir</em> tidak seakrab “nama-nama harum” lain seperti<em> Mu’awiyah, Marwan, ‘Amr bin al Âsh, Samurah bin Jundub, Abu Musa al Asy’ari</em> dkk.?</p>
<p>Ammâr bin Yâsir adalah Salaf kebanggaan kaum Syi’ah&#8230; semoga Allah meridhai dan merahmatinya. Amin.</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> HR. al Hâkim dalam al Mustadrak,3/438 dan ia menshahihkannya berdasarkan syarat Muslim dan adz Dzahabi pun menyetujui penshahihan itu.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Ibid. juga diriwayatkan al Haitstami dalam Majma’ az Zawâid,9/294 dan ia berkata hadis ini dari riwayat ath Thabarani dan para perawinya tsiqah/jujur.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> HR. al Haitstami dalam Majma’ az Zawâid,9/295 dan ia berkata hadis ini dari riwayat al Bazzâr dan para perawinya tsiqah/jujur.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> HR. al Hakim dalam al Mustadrak,3/439 dan ia menshahihkannya berdasarkan syarat Muslim dan adz Dzahabi pun menyetujui penshahihan itu.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> HR. ath Thabarani dalam al Mu’jam al kabîr,4/112, an Nasai dalam as Sunan al Kubrâ,5/74, ath Thabari dalam tafsirnya,5/206, Ibnu Katsir dalam tafsirnya,1/53 dan as Suyuthi dalam ad Durr al mantsur,2/176.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> HR. al Hakim dalam al Mustadrak,3/437, ia menshahihkannya berdasarkan syarat Muslim dan adz Dzahabi pun menyetujui penshahihan itu.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> HR. Bukhari,1/115.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Ibid.3/207.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> HR. Ahmad dalam Musnad,1/389/4458 al Hakim dalam al Mustadrak,3/438, ia menshahihkannya berdasarkan syarat Muslim dan adz Dzahabi pun menyetujui penshahihan itu.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> HR. at Turmudzi dalam Sunan-nya5/332.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> HR. ath Thabarani dalam al Mu’jam al Kabîr,1/96, Ibnu ‘Asâkir dalam Târikh Damasqus,43/403 dan 406 adz Dzahabi dalam Siyar A’lâm,1/416 dan Ibnu Katsir dalam al Bidâyah wa an Nihâyah,7/300.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> HR. al Haitsami dalam Majma’ az Zawâid,7/243 dan ia berkata, ‘Ahmad dan ath Thabarani meriwayatkannya dan para parawi jalus Ahmad  adalah parawi shahih selain Abdulllah bin Salamah dia <em>tsiqah</em>/jujur terpercaya. Hadis serupa dengan sedikit perbedaan redaksi juga dapat ditemukan dalam Majma’ az Zawâid,9/295 dari riwayat ath Thabarani dan para parawinya adalah <em>tsiqah</em>.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref13">[13]</a>HR. al Haitsami dalam Majma’ az Zawâid,7/243 dan ia berkata, ‘Hadis ini diriwayatkan oleh al Bazzâr dan para parawinya adalah perawi hadis shahih.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref14">[14]</a> Ibdi.7/243 dan ia berkata, ‘Hadis ini diriwayatkan ole hath Thabarani dan para parawinya <em>tsiqah</em>.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/1761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/1761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/1761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/1761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jakfari.wordpress.com/1761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jakfari.wordpress.com/1761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jakfari.wordpress.com/1761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jakfari.wordpress.com/1761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/1761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/1761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/1761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/1761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/1761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/1761/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1761&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2011/05/04/potret-sahabat-agung-kebanggaan-syi%e2%80%99ah-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/448ec135645f1d27ee5bd10e169255c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Potret Sahabat Agung Kebanggaan Salafy-Wahhabi (1): Samurah bin Jundub</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2011/05/01/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2011/05/01/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 May 2011 05:05:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Haulasyiah]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=1749</guid>
		<description><![CDATA[Potret Sahabat Agung Kebanggaan Salafy-Wahhabi (1): Samurah bin Jundub Keadilan seluruh sahabat adalah doktrin andalan IslamSunni khususnya Salafy/Wahhabi… ( والصحابة رضي الله عنهم كلهم عدول باتفاق اهل السنة والجماعة )  Doktrin ini benar-benar menjadi garis merah… Siapapun yang berani mendekati apalagi menerobosnya berarti harus siap menjadi sasaran meriam vonis sesat bahkan bisa jadi dikafirkan. Konsep keadilan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1749&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Potret Sahabat Agung Kebanggaan Salafy-Wahhabi (1): Samurah bin Jundub</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Keadilan seluruh sahabat adalah doktrin andalan IslamSunni khususnya Salafy/Wahhabi…<a href="http://majles.alukah.net/showthread.php?t=31811" target="_blank"> ( <strong>والصحابة رضي الله عنهم كلهم عدول باتفاق اهل السنة والجماعة ) </strong></a> Doktrin ini benar-benar menjadi garis merah… Siapapun yang berani mendekati apalagi menerobosnya berarti harus siap menjadi sasaran meriam vonis sesat bahkan bisa jadi dikafirkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Konsep keadilan Sahabat begitu dibanggakan dalam membangun doktrin agama… mereka adalah panutan dan bak bintang gemintang dengan siapa dari para sahabat umat Islam perpegangan past ia mendapat petunjuk Allah ke shirâth mustaqîm.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak potret cemerlang para sahabat panutan Ahlusunnah yang mungkin pantas disimak dan diperhatikan untuk “ditiru dan diteladani”. Di bawah ini saya sajikan satu dari sekian banyak potret cemerlang membanggakan sahabat panutan Ahlusunnah.<span id="more-1749"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Samurah bin Jundub Sahabat Panutan Ahlusunnah (khususnya Salafy/Wahhabi)<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mengenal keshalehan dan ketaqwaan <span style="color:#0000ff;"><em>Samurah bin Jundub</em></span>, mari kita simak laporan <span style="color:#0000ff;"><em>Imam Muslim</em></span> dalam kitab Shahih-nya (kitab tershahih setelah Al Qur’an suci wahyu ilahi dan Shahih Bukhari). Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbâs ra., ia berkata,</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#ff0000;"><strong>“</strong></span><span style="color:#ff0000;">Telah sampai kepada Umar bahwa Samurah menjul khamr (miras)</span><span style="color:#ff0000;">,</span> lalu ia berkata, <span style="color:#ff0000;">‘Semoga Allah membinasakan Samurah,</span> tidakkah ia mengetahui bahwa Rasulullah saw. bersabda ‘Semoga Allah melaknat bangsa Yahudi, telah diharamkan atas mereka gajih lalu mereka membekukannya kemudian menjualnya.’”</em><strong><a title="" href="#_ftn1"> [1]</a></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jelas sekali di sini bahwa sahabat panutan yang satu ini telah berdagang khamr sementara ia megetahui Rasulullah saw. telah mengharamkannya. Kerena itu, Khalifah Umar begitu keras mengecamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak cukup sampai di sini &#8220;keshalehan&#8221; dan &#8220;ketaqwaan&#8221; sahabat panutan yang wahid ini; <span style="color:#0000ff;"><em>Samurah</em></span> ia juga terbukti banyak melakukan kejahatan yang mengerikan dan sangat bertentangan dengan agama dan kemanusiaan, seperti membunuh jiwa-jiwa terhormat yang diharamkan untuk dibunuh!</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan data di bawah ini (yang sengaja disembunyikan banyak kalangan demi kehormatan para sahabat panutan). <span style="color:#800000;"><span style="color:#0000ff;"><em>Imam ath Thabari</em></span> melaporkan dalam <em><span style="color:#3366ff;">Târîkh</span></em>-nya,4/176</span>  tentang peristiwa-peristiwa tahun 50 H. dengan sanad bersambung kepada Muhammad bin Sulaim, ia berkata,</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">‘<em>Aku bertanya kepada Anas bin Sîrîn, <span style="text-decoration:underline;color:#800000;">‘Apakah <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">Samurah</span> pernah membunuh seseorang?’</span> Ia menjawab, ‘Apakah dapat dihitung orang telah dibantai Samurah bin Jundub? Ia ditunjuk menggantikan Ziyâd memimpin kota Bashrah lalu Ziyâd pergi ke Kufah, sepulangnya dari Kufah, <span style="color:#ff0000;">Samurah telah membunuh delapan ribu orang Muslim<strong>.</strong></span> Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Apakah engkau tidak takut telah membunuh seseorang yang tidak layak engkau bunuh? Ia menjawab,<span style="color:#ff0000;"> ‘Andai aku bunuh lagi sejumlah yang telah aku bunuh aku tidak takut apapun!’”</span></em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;"><em><span style="color:#0000ff;">Ath Thabari</span></em> juga melaporkan dari Abu al Aswad al Adwi, ia berkata,</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#ff0000;"> “Samurah telah membunuh pada suatu pagi 47 (empat puluh tujuh) orang yang telah menghafal Al Qur’an.”</span></em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Ibnu Jakfari berkata: </strong></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong>Inilah sekilas potret cemerlang sang sahabat panutan yang dibanggakan Ahlusunnah sebagai hasil didikan langsung Rasulullah saw. yang wajib atas setiap Muslim menghormati dan memohonkan keridhaan Allah atasnya!</p>
<p style="text-align:justify;">Selamat meneladani sabahat agung panutan kebanggan Ahlusunnnah! Dan selamat pula atas kalian yang membanggakan keadilan sahabat bertaqwa dan shaleh seperti Samurah! Dan jangan lupa kalian memohon kepada Allah agar dikumpulkan kelak bersamanya di akhirat ketika Samurah disambut para bidadari dan arak menuju surga ‘Adan bersama para nabi, shiddiqin dan kaum shalihin! <strong>   </strong></p>
<div style="text-align:justify;">
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Shahih Muslim,5/41 bab Tahrîm al Khamr wa al Maitah (Diharamkannya miras dan bangkai).</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/1749/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/1749/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/1749/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/1749/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jakfari.wordpress.com/1749/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jakfari.wordpress.com/1749/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jakfari.wordpress.com/1749/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jakfari.wordpress.com/1749/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/1749/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/1749/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/1749/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/1749/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/1749/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/1749/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1749&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2011/05/01/potret-sahabat-agung-kebanggaan-ahlusunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/448ec135645f1d27ee5bd10e169255c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Demi Kemantapan Akidahmu, Jangan Baca Hadis Ini!</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2011/05/01/demi-kemantapan-akidahmu-jangan-baca-hadis-ini/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2011/05/01/demi-kemantapan-akidahmu-jangan-baca-hadis-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 May 2011 04:56:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Haulasyiah]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=1744</guid>
		<description><![CDATA[Demi Kemantapan Akidahmu, Jangan Baca Hadis Ini! Seorang santri aktif nun lugu datang menemui sang Kyai dengan perasaan gundah bingung dan diliputi perasaan ingin tau… ia datang tidak seperti biasanya… setelah mencium tangan penuh berkah sang Kyai, ia pun duduk bersimpuh di hadapannya seakan di atas kepalanya ada seokor burung…. Sang Kyai bertanya, anakku, gerangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1744&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#003366;"><strong>Demi Kemantapan Akidahmu, Jangan Baca Hadis Ini!</strong></span></p>
<p>Seorang santri aktif nun lugu datang menemui sang Kyai dengan perasaan gundah bingung dan diliputi perasaan ingin tau… ia datang tidak seperti biasanya… setelah mencium tangan penuh berkah sang Kyai, ia pun duduk bersimpuh di hadapannya seakan di atas kepalanya ada seokor burung…. Sang Kyai bertanya, anakku, gerangan apa yang sedang kamu alami, sepertinya ada yang mengguncang jiwamu? Coba jelaskan, pasti Kyaimu ini akan menenagkan kegaduhan jiwamu itu!<span id="more-1744"></span></p>
<p>Benar, Kyai, ada sesuatu yang benar-benar telah membuat jiwaku guncang, pikiranku gaduh dan yang lebih mengerikan lagi, tambahanya, akidahku yang telah Romo Kyai tanamkan seakan hendak tercabut sampai ke akar-akarnya!</p>
<p>Sepontan sang Kyai duduk tegak mendengarnya! Ada apa ini <em>le</em>?! Bukankah akidah yang telah kita warisi dari Para Salafus Shaleh, dari para imam Ahli hadis, seperti Imam Ahmad dll. dan para ahli tafsir seperti Imam ath Thabari, Imam Ibnu Katsir dkk. sudah cukup mantap?! Lalu apakah yang harus kau risaukan? Mantapkan akidahmu dengan menjadikan mereka sebagai panutan! Jangan dengan bisikan setan-setan jahat dan para dedemit perampok agama!</p>
<p><em>Le</em>, usirlah bisikan setan itu dengan memperbanyak <em>istighfar</em> dan <em>isti’adzah</em>!</p>
<p>Tapi, Kyai… belum juga selesai melanjutkan omongannya, sang Kyai memotong dan berkata, Tapi, tapi apa?! Tapi Kyai, itu <em>lho</em>, para imam besar kita yang selama ini Romo Kyia anjurkan saya untuk membacanya… justeru mereka mulai merusak akidah saya!</p>
<p>Apa? Tidak! Tidak mungkin… Coba, apa yang kamu baca?!</p>
<p>Itu Kyai, hadis-hadis shahih yang diriwayatkan para ulama dan imam kita itu sepertinya kurang <em>ASWAJA</em>… padahal sejak dulu Pak Kyai kan menanamkan kepada kami bahwa semua sabahat itu ‘<em>udûl</em>/baik dan shaleh… tidak ada yang munafik… jiwa mereka semua, <em>ajma’în</em> telah menyatu dengan sunnah dan didikan Nabi saw.! Mana mungkin ada yang munafik?! <em>Lah wong</em> mereka itu langsung  dididik kanjeng Nabi Muhammad! Semua mereka itu <em>radhiallah ‘anhum wa radhû ‘anhum!</em></p>
<p>Ya, benar! Mereka semua tidak ada yang munafik! Mereka semua<em> radhiallah ‘anhum wa radhû ‘anhum!</em> Dan jangan pernah ragu mengambil ajaran agama dari mereka! Mereka penyambung lidah suci Kanjeng Nabi saw.!</p>
<p>Jadi, coba baca aja apa yang kamu temukan itu!<em></em></p>
<p>Sang santri mulai membacanya, <em>Bismillahir rahmanir rahim, qala kyai mushannif–rahimahullah-</em> lalu ia mulailah membacakan beberapa hadis koleksi para Imam agung Ahlusunnah seperti di bawah ini.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><strong>Ibnu Jakfari berpesan:</strong></span></p>
<p>Dan demi kemantapan akidah ASWAJA kamu, jangan baca hadis-hadis shahih di bawah ini! Itu saran saya.</p>
<p><strong>Terkait dengan tafsir ayat 101 surah at Taubah:</strong></p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">وَ مِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرابِ مُنافِقُونَ وَ مِنْ أَهْلِ الْمَدينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفاقِ لا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلى‏ عَذابٍ عَظيمٍ</h2>
<p><em>“Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan) juga (di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu) Muhammad (tidak mengetahui mereka,) tetapi (Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.”</em></p>
<p><span style="color:#800000;"><em>Imam ath Thabari</em></span> meriwayatkan sebuah hadis dari sahabat Ibnu Abbas –<em>radhiyallah ‘anhu</em>- bahwa Rasulullah saw. berpidato pada hari Jum’at lalu di antaranya beliau bersabda:</p>
<blockquote><p><span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><em>“Hai fulan, bangun dan keluarlah kamu dari masjid! Kamu munafik! Hai fulan, bangun dan keluarlah kamu dari masjid! Kamu munafik!</em></span> Beliau mengusir banyak orang dari kalangan kaum munafik dan mempermalukan mereka. Ketika mereka keluar dari masjid, mereka kepergok Umar, melihat mereka,<span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><em> Umar pun bersembunyi, ia malu karena mbolos tidak hadir shalat Jum’at.</em></span> Umar mengira bahwa orang-orang sudah usai shalat Jum’at… sementara mereka pun bersembunyi, mereka menyangka Umar sudah tau urusan mereka… .”<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p></blockquote>
<p><span style="color:#800000;"><em>Imam Ibnu Katsir</em></span> meriwayatkan sebuah hadis dari riwayat Imam Ahmad dari sahabat Uqbah bin Âmir, ia berkata,</p>
<blockquote><p>“Rasulullah saw. berpidato di hadapan kami dengan sebuah khuthbah, beliau memuji Allah kemudian berkata, “Sesungguhnya di antara kalian banyak orang munafik! Maka siapa yang aku sebutkan namanya hendaknya ia berdiri! Lalu beliau bersabda, <span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><em>“Berdiri hai fulan! Berdiri hai fulan! Sehingga Nabi saw. mengusir tiga puluh enam orang…</em></span> .<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p></blockquote>
<p>Hadis serupa juga telah dikoleksi oleh<span style="color:#800000;"> Imam ath Thabari</span> dalam<span style="color:#0000ff;"><em> al Mu’jam al Ausath</em></span>-nya,1/242.<span style="color:#800000;"> Ibnu Hazm</span> juga mengabadikannya dalam kitab<span style="color:#0000ff;"><em> al Muhallâ</em></span>-nya,11/221.</p>
<p>Romo Kyai, bukankah hadis-hadis ini bertentangan dengan akidah ASWAJA kita yang selama ini <em>Panjenengan</em> sampaikan?!</p>
<p>Apanya yang bertentangan? Tidak ada! Semua beres tidak ada masalah!</p>
<p><em>Lho</em> itu, Romo. Orang-orang munafik yang diusir Kanjeng Nabi dari masjidnya… mereka itu kan orang-orang munafik! Malah &#8220;<em>nemen&#8221;</em> (baca keterlaluan) dalam kemunafikan mereka, sampai-sampai Kanjeng Nabi saw. mengusir mereka dan mempermalukan di hadapan umum… di hadapan para sahabat lain!</p>
<p><em>Tole</em> anakku, <em>kowe kudhu</em> ngerti nak, <em>seng</em> diusir itu bukan sahabat… tapi orang-orang munafik! Bantah sang Kyai.</p>
<p>Penasaran mendengar jawaban sang Kyia, santri berbalik bertanya, ‘Kalau begitu, sahabat Nabi saw. itu siapa dan yang bagaimana?</p>
<p>Sahabat itu ya yang <em>ndak</em> munafik! Yang munafik itu ya bukan sahabat! Mana mungkin ada sahabat yang munafik! Iku kan omongannya kaum <em>zindiq</em> yang mau meruntuhkan agama kita dengan menuduh Nabi saw. punya sahabat munafik! Hati-hati <em>lho kuwe,</em> itu bisikan setan seperti itu! Begitu tegas sang Kyai.</p>
<p>Mendengar jawaban itu sang santri menjadi bingung  tidak ketulung. Benar juga ya apa yang di  sampaikan Romo Kyai… mana mungkin sabahat ada yang munafik dan mana mungkin kaum munafik itu termasuk sahabat Nabi saw.</p>
<p>Tapi <em>yen</em> dipikir-pikir, orang-orang munafik itu juga Muslim dan mengucapkan dua kalimat syahadat, ikut shalat di belakang Nabi saw. di masjidnya. Lalu apa yang membedakan sahabat yang munafik dari sahabat yang tidak munafik? Bingung juga ya! Pikiran sang santri mulai<em> mudeng </em>bingung<em> orah karuan</em>…!</p>
<p>Romo, ma’af, saya masih bingung atas keterangan yang Romo sampaikan tadi. Bolehkah saya bertanya untuk mengusir kebingungan pikiran saya?</p>
<p><em>Monggo</em>, silahkan tanya aja… nanti Romo jawab… pasti mantap jawabannya.</p>
<p>Romo, bagaimana caranya membedakan orang-orang yang munafik di zaman Nabi saw. dengan sahabat terpuji Nabi saw.? Biar kita tidak salah pilih dan salah puji?! Tanya santri</p>
<p>Oh, itu yang ingin <em>kowe</em> tanyakan?  <em>Yo</em> <em>gampang</em> <em>le</em>! Pokoknya yang diusir Nabi saw. dari masjid berarti dia yang munafik! Gampang kan? Gitu aja kok repot!</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#993300;text-decoration:underline;">M</span><span style="color:#800000;text-decoration:underline;"><span style="color:#993300;text-decoration:underline;">e</span></span></span><span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><span style="color:#993300;text-decoration:underline;">reka</span> itu siapa Kyai? Siapa nama-nama ketiga puluh enam orang munafik yang diusir Nabi itu, biar kita tidak keliru!</span> Jangan-jangan nanti kita <em>sû’udzdzan</em>, yang baik kita anggap munafik! Atau sebaliknya, yang munafik kita percayai sebagai penyambung lidah Nabi saw,? Yang bahaya Romo?!</p>
<p>Itulah masalahnya, mengapa dahulu para imam kita tidak menyebutkan nama-nama mereka yang diusir Nabi saw., biar kita bisa mengetahuninya! Tapi sudahlah jangan terlalu dirisaukan, yakini dan jalani aja yang sudah ada! <em>Manut</em> aja kepada para salaf kang shaleh, biar selamat! Lanjut Romo Kyai.</p>
<p>Tapi… belum usai sang santri bicara, Pak Kyai memotongnya lagi…</p>
<p>Tapi apa <em>le</em>? Kamu bingung gara-gara baca hadis-hadis tadi? Makanya jangan suka baca yang begituan… buat bingung… Romo sendiri ya bingung… tapi sudah lah jalankan yang ada saja!</p>
<p>Mendengar omangan sang Romo Kyai, santri itu menggerundal dalam hatinya… <span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><em>kalau mereka yang munafik itu belum ketahuan nama-nama mereka, lalu bagaimana kalau ternyata di antara mereka itu termasuk yang selama ini kita anggap sahabat baik dan mulai Nabi saw. atau yang dikenal dekat persahabatannya dengan Nabi saw.!</em></span></p>
<p>Selain itu, sepertinya, Romo Kyai mungkin belum membaca hadis riwayat Imam Muslim,8/122 dari sahabat Ammar bin Yasir –<em>radhiallah ‘anhu</em>-  bahwa Nabi saw. bersabda:</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">في أصحابي إثنا عشر منافقا&#8230;</h2>
<p><em>“Di antara para sahabatku ada dua belas orang munafik …”</em></p>
<p>Romo, Tanya sang santri, dalam hadis Imam Muslim di atas, Nabi saw. justeru mengatakan bahwa orang-orang munafik itu dari golongan sahabat beliau! Tapi Romo <em>kok</em> bilang, kaum munafik bukan dari golongan sahabat Nabi?!</p>
<p>Anakku, Romo sudah baca hadis shahih Imam Muslim yang kamu baca tadi… tapi pokoknya, kaum munafik itu bukan sahabat Nabi saw. (TITIK!). Kamu, jangan sering baca hadis-hadis seperti itu! Tidak baik. Nanti dapat merusak akidahmu! Pesan sang Romo Kyai.</p>
<p>Bukankan akidah kita harus dibangun di atas nash-nash shahihah, Romo?! Tegas sang santri.</p>
<p>Ya, benar, <em>le</em>. Tapi kalau ada hadis shahih yang merusak akidah, ya harus dita’wil… kalau repot, ya jangan dihiraukan… tutup saja.. jangan dibacakan kepada umum! Itu harus tetap disimpan rapat sebagai rahasia dapur kita… nanti kalau kamu sudah menjadi Kyai seperti Romo ini, kamu pasti ngerti betapa pentingnya merahasiakan sebagian  hadis shahih demi kemantapan akidah kita!</p>
<p>Mendengar apa yang disampaikan sang Kyai, santri itu teringat ayat Al Qur’an yang berbunyi:</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>يا أَهْلَ الْكِتابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْباطِلِ وَ تَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَ أَنْتُمْ تَعْلَمُونَ </strong></h2>
<p><em>“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang hak dengan yang batil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui.” </em>(QS. Âlu Imran;71)</p>
<p>Romo, bukankah Al Qur’an telah mengecam ulama yang menyembunyikan kebenaran/<em>al haq</em>!</p>
<p>Anakku, ayat itu untuk para pendeta Yahudi dan Nashrani, bukan untuk kami. Kami ini ulama pawaris para nabi as.! Jadi jangan sembarangan menuduh Romo!</p>
<p>.</p>
<p>Jadi, kalau ulama Islam merahasiakan kebenaran dan menjual <em>al haq</em> dengan <em>al bathil</em> boleh, Romo?</p>
<p><em>Hus</em>, diam kamu, mengapa kamu menjadi cerewet sekarang!</p>
<p><em> </em></p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Tafsir Jâmi’ al Bayân; ath Thabari,11/10. Hadis di atas juga dapat Anda baca dalam tafsir Ibnu Katsir, 2/399.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Tafsir Ibnu Katsir,2/399.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/1744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/1744/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/1744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/1744/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jakfari.wordpress.com/1744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jakfari.wordpress.com/1744/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jakfari.wordpress.com/1744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jakfari.wordpress.com/1744/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/1744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/1744/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/1744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/1744/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/1744/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/1744/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1744&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2011/05/01/demi-kemantapan-akidahmu-jangan-baca-hadis-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/448ec135645f1d27ee5bd10e169255c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ternyata Mereka Suka Ibadah Yang Bid&#8217;ah</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2011/01/15/ternyata-mereka-suka-ibadah-yang-bidah/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2011/01/15/ternyata-mereka-suka-ibadah-yang-bidah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Jan 2011 04:32:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih Wahabi-Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Haulasyiah]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=1236</guid>
		<description><![CDATA[Alangkah mudahnya bagi kaum Muslim Sunni menyematkan gelar Ahlusunnah betapapun praktik ibadah yang digemarinya adalah praktik Bid&#8217;ah&#8230; yang tentunya kata kaum Wahhâbi Salafi: Kullu Bid&#8217;atin Dhalâlah/setiap yang bid&#8217;ah itu adalah sesat! Coba Anda perhatikan apa yang mereka lakukan dalam shalat sunnah yang disyari&#8217;atkan Rasulullah saw. tidak berjama&#8217;ah/munfaridan&#8230; Eh ternyata yang mereka pilih malah yang bid&#8217;ah/tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1236&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alangkah mudahnya bagi kaum Muslim Sunni menyematkan gelar Ahlusunnah betapapun praktik ibadah yang digemarinya adalah praktik Bid&#8217;ah&#8230; yang tentunya kata kaum Wahhâbi Salafi: Kullu Bid&#8217;atin Dhalâlah/setiap yang bid&#8217;ah itu adalah sesat!</p>
<p>Coba Anda perhatikan apa yang mereka lakukan dalam shalat sunnah yang disyari&#8217;atkan Rasulullah saw. tidak berjama&#8217;ah/munfaridan&#8230; Eh ternyata yang mereka pilih malah yang bid&#8217;ah/tidak diajarkan agama!!</p>
<p><span style="color:#ff0000;">Perhatikan riwayat kitab tershahih setelah Kitabullah al Majîd!</span></p>
<p dir="ltr"><strong><span style="color:#ff0000;"><span id="more-1236"></span><br />
</span></strong></p>
<p><img class="aligncenter" src="http://albrhan.org/wthaeq/books/bokhari_1/bokhari_1.jpg" alt=" " width="471" height="824" border="0" /></p>
<p><img class="aligncenter" src="http://albrhan.org/wthaeq/books/bokhari_1/44.jpg" alt=" " width="471" height="810" border="0" /></p>
<p>2009: Dari Abu Hurairah, &#8220;Sesunguhnya Rasulullah saw. bersabda, &#8216;Siapa yang berdiri (menegakkan shalat) di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala maka ia diampuni dosanya yang telah lalu.&#8217;&#8221;</p>
<p>Ibnu Syihâb (az Zuhri) berkata, &#8220;Rasulullah saw. wafat semantara yang berlaku adalah demikian. Kemudian di masa Abu Bakar dan beberapa tahun dari masa khilafah Umar juga demikian.&#8221;</p>
<p>2101:&#8230; dari Abdurrahman ibn Abdil Qâri&#8217; berkata, &#8220;Aku keluar menuju masjid bersama Umar ibn Khaththab ra. pada suatu malam di bulan Ramadhan. Ia menyaksikan manusia sendiri-sendiri, bercerai berai. Ada seorang yang slahat sendiri dan ada yang shalat diikuti oleh segelintir orang. Maka umar berkata,<span style="text-decoration:underline;"><em> &#8216;Aku berpendapat, jika aku kumpulkan mereka dengan satu imam pasti lebih baik.&#8217;</em></span> Lalu ia bertekad dan mengumpulkan mereka dibawah imam Ubay ibn Ka&#8217;ab. Lalu keesokan harinya aku keluar bersama Umar dan ia menyaksikan mereka shalat dengan satu imam. Umar berkata,<span style="color:#ff0000;"> &#8220;SEBAIK-BAIK BID&#8217;AH ADALAH INI.&#8221;</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/1236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/1236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/1236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/1236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jakfari.wordpress.com/1236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jakfari.wordpress.com/1236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jakfari.wordpress.com/1236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jakfari.wordpress.com/1236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/1236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/1236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/1236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/1236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/1236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/1236/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1236&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2011/01/15/ternyata-mereka-suka-ibadah-yang-bidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/448ec135645f1d27ee5bd10e169255c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://albrhan.org/wthaeq/books/bokhari_1/bokhari_1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html"> </media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://albrhan.org/wthaeq/books/bokhari_1/44.jpg" medium="image">
			<media:title type="html"> </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kata Ibnu Tamiyah: Pembunuh Imam Husain Itu Kaum Nawâshib. Bukan Syi’ah!</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2011/01/04/kata-ibnu-tamiyah-pembeunuh-imam-husain-itu-kaum-nawashib-bukan-syi%e2%80%99ah/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2011/01/04/kata-ibnu-tamiyah-pembeunuh-imam-husain-itu-kaum-nawashib-bukan-syi%e2%80%99ah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Jan 2011 03:35:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Haulasyiah]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Sidogiri]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sikap Neo Nawashib Terhadap Hadis Fadhail Ahlulbait as.]]></category>
		<category><![CDATA[Wahhabi Menngugat Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=1687</guid>
		<description><![CDATA[Kata Ibnu Tamiyah: Pembunuh Imam Husain Itu Kaum Nawâshib. Bukan Syi’ah! Sering kita dengar dari para pembela bani Umayyah yang gencar melakukan permusuhan kepada para pengikut Ahlulbait Nabi as., bahw kaum Syi’ah telah mengkhianati Imam Husain as. dan kemudian mereka membantai secara keji Imam mereka sendiri! Karenanya, -masih kata musuh-musuh Ahlulbait as.- kaum Syi’ah sekarang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1687&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#003366;"><strong>Kata Ibnu Tamiyah: Pembunuh Imam Husain Itu Kaum Nawâshib. Bukan Syi’ah!</strong></span></p>
<p>Sering kita dengar dari para pembela bani Umayyah yang gencar melakukan permusuhan kepada para pengikut Ahlulbait Nabi as., bahw kaum Syi’ah telah mengkhianati Imam Husain as. dan kemudian mereka membantai secara keji Imam mereka sendiri! Karenanya, -masih kata musuh-musuh Ahlulbait as.- kaum Syi’ah sekarang menyesali pengkhianatan para Salaf mereka dan meratapi Imam Husain as. setiap bulan Muharram datang!</p>
<p>Para pembenci Ahlulbait as. yang getol memusuhi Syi’ah itu selalu menjadikan Ibnu Tamiyah; Syeikhul Islam mereka sebagai idola dan panutan dalam menghujat Syi’ah.<strong><span id="more-1687"></span></strong></p>
<p>Nah, sekarang mari kita simak apa kata Ibnu Tamiyah, Syeikhul Islamnya kaum Nawâshib/pembenci Ahlulbait Nabi as. tentang siapa yang membunuh Imam Husain as. di karbala?</p>
<p>Ketika membantah kritikan tajam Ulama Syi’ah bernama Allamah Ibnu Mutahahhar Al Hulli, yang menghujat Ahlusunnah yang bersemangat menyematkan gelar Ummul Mukminin hanya untuk Aisyah seorang. Ibnu Taimyah berkata:</p>
<h2 style="text-align:right;">فصل:<br />
قال الرافضي : وسمّوها أم المؤمنين ولم يسموا غيرها بذلك ولم يسموا أخاها محمد بن أبي بكر مع عظم شأنه وقرب منزلته من أبيه وأخته عائشة أم المؤمنين فلم يسموه خال المؤمنين وسموا معاوية بن أبي سفيان خال المؤمنين لأن أخته أم حبيبة بنت أبي سفيان إحدى زوجات النبي صلى الله عليه وسلم وأخت محمد بن أبي بكر وأبوه أعظم من أخت معاوية ومن أبيها</h2>
<h2 style="text-align:right;">والجواب : أن يقال أما قوله إنهم سموا عائشة رضي الله عنها أم المؤمنين ولم يسموا غيرها بذلك, فهذا من البهتان الواضح الظاهر لكل أحد ، وما أدرى هل هذا الرجل وأمثاله يتعمدون الكذب ، أم أعمى الله أبصارهم لفرط هواهم حتى خفى عليهم أن هذا كذب ، وهم ينكرون على بعض النواصب أن الحسين لما قال لهم أما تعلمون أني ابن فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم قالوا والله ما نعلم ذلك وهذا لا يقوله ولا يجحد نسب الحسين إلا متعمد للكذب والافتراء ومن أعمى الله بصيرته باتباع هواه حتى يخفى عليه مثل هذا فإن عين الهوى عمياء .</h2>
<h2 style="text-align:right;"><span style="text-decoration:underline;">والرافضة</span> أعظم جحدا للحق تعمدا وأعمى من هؤلاء فإن منهم ومن المنتسبين إليهم كالنصيرية وغيرهم من يقول إن الحسن والحسين ما كانا أولاد علي بل أولاد سلمان الفارسي ومنهم من يقول إن عليا لم يمت وكذلك يقولون عن غيره</h2>
<h2 style="text-align:right;">ومنهم من يقول: إن أبا بكر وعمر ليسا مدفونين عند النبي صلى الله عليه وسلم .<br />
ومنهم من يقول: إن رقية وأم كلثوم زوجتي عثمان ليستا بنتى النبي صلى الله عليه وسلم ولكن هما بنتا خديجة من غيره .</h2>
<h2 style="text-align:right;">ولهم في المكابرات وجحد المعلومات بالضرورة أعظم مما لأولئك النواصب الذين قتلوا الحسين وهذا مما يبين أنهم أكذب وأظلم وأجهل من قتلة الحسين</h2>
<p><em>“Pasal: Si Rafidhi berkata, “Dan mereka menamakan Aisyah Ummul Mukimin dan tidak menamai selainnya dengan nama itu. Mereka juga tidak menggelari Muhammad putra Abu Bakar dengan gelar Paman kaum Muslimin padahal ia sangat mulia dan dekat kedudukannya di sisi ayah dan saudarinya; Aisyah Ummul Mukminin. Sementara itu mereka mengelari Mu’awiyah dengan gelar Paman kaum Mukminin dengan alasan karena Ummu Habibah bintu Abu Sufyan saudarinya adalah seorang dari istri Nabi saw. Saudarinya Muhammad ibn Abu Bakar dan ayahnya lebih agung dari saudarinya Mu’awiyah dan ayahnya.</em></p>
<p><em>Jawab: Dikatakan di sini bahwa perkataannya bahwa mereka (Ahlusunnah) menamakan Aisyah ra. dengan sebutan Ummul Mukminin dan tidak menggelari istri-istri lainnya dengan gelar itu adalah sebuah kepalsuan nyata yang tampak bagi setiap orang. Aku tidak mengerti apakah orang itu dan yang semisalnya menyengaja berdusta atau Allah membutakan mata mereka karena hawa nafsu yang berlebihan sampai-sampai samar bagi mereka bahwa yang demikian itu adalah dusta?! Sementara itu mereka mengingkari terhadap sebagian orang Nawâshib bahwa ketika Husain berkata kepada mereka, “Tidakkah kalian mengetahui bahwa aku ini adalah putra Fatimah putri Rasulullah saw.?!” Lalu mereka menjawab, “Demi Allah kami tidak mengetahuinya!” yang demikian itu tidak mungkin mengatakannya dan tidak mungkin mengingkari nasab Husain kecuali orang yang menyengaja berdusta dan mengada-ngada. Dan barang sispa yang dibutakan Allah mata hatinya karena mengikuti hawa nafsunya, sehingga ia mengingkari yang demikian. Dan mata hawa nafsu itu buta!</em></p>
<p><em>Dan kaum Rafidhah lebih dahsyat pengingkarannya terhadap kebenaran dan lebih buta dibandingkan mereka (yang mengingkari nasab Husain). Di antara mereka (Rafidhah) adalah kaum Nushairiyah daan selainnya yang berpendapat bahwa Hasan dan Husain bukan putra-putra Ali, akan tetapi anak Salman al Farisi. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa Ali tidak mati… dan demikianlah pendapat-pendapat lain.</em></p>
<p><em>Dan di antara mereka ada yang berkata, “Abu Bakar dan Umar tidak dikebumikan di samping Nabi saw.”</em></p>
<p><em>Dan di antara mereka ada yang berkata, “Ruqayyah dan Ummu Kultsum istri Utsman itu bukan putri Nabi saw. tetapi putri Khadijah dari suami lain.</em></p>
<p><em>Dan kaum Syi’ah punya sikap ngeyel dan menentang kebenaran pasti lebih dahsyat dari apa yang dilakukan <span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;">kaum Nawâshib yang telah membunuh Husain.</span> Dan ini adalah bukti bahwa mereka adalah paling pembohong, paling zalim dan lebih jahil dari para pembunuh Husain.” </em></p>
<p><strong>(Baca: Minhâj as Sunnah,4/366-368) dan rujuk juga di sini:</strong></p>
<p><a href="http://arabic.islamicweb.com/Books/taimiya.asp?book=365&amp;id=2072" target="_blank">http://arabic.islamicweb.com/Books/t&#8230;ok=365&amp;id=2072</a>)</p>
<p><strong>Ibnu Jakfari Berkata: </strong></p>
<p>Jadi jelaslah bagi kita semua sesuai apa yang dikatakan Syeikhul Islamnya kaum Salafi/Wahhâbi bahwa para pembunuh Imam Husain itu adalah kaum Nawâshib… bukan kaum Syi’ah seperti yang selama ini dilontarkan mulut kaum pembenci kebenaran dari kalangan Nawâshib dan antek-antek bani Umayyah, <em>asy Syajarah al Mal’unah fil Qur’ân</em>/pohon terkutuk dalam Al Qur’an!</p>
<p>Dan segala puji bagi Allah yang telah membukakan mulut Ibnu Taimiyah untuk mengucap kebenaran walaupun tidak ia kehendaki!</p>
<p>Atau jangan-jangan apa yang ditegaskan Ibnu Taimyah itu digolongkan para pemujanya sebagai ijtihad yang salah?!</p>
<p>Atau mungkin mere akan menuduhnya sebagai menggigau, yahjuru?!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/1687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/1687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/1687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/1687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jakfari.wordpress.com/1687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jakfari.wordpress.com/1687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jakfari.wordpress.com/1687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jakfari.wordpress.com/1687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/1687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/1687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/1687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/1687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/1687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/1687/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1687&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2011/01/04/kata-ibnu-tamiyah-pembeunuh-imam-husain-itu-kaum-nawashib-bukan-syi%e2%80%99ah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/448ec135645f1d27ee5bd10e169255c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Politik Jahat Mu’awiyah (la) Terhadap Islam!</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2011/01/01/politik-jahat-mu%e2%80%99awiyah-al-terhadap-islam/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2011/01/01/politik-jahat-mu%e2%80%99awiyah-al-terhadap-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Jan 2011 03:44:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Haulasyiah]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Sidogiri]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=1669</guid>
		<description><![CDATA[Politik Jahat Mu’awiyah (la) Terhadap Islam! Untuk membuktikan kekejian unsur dan keburukan jiwanya, Mu’awiyah memuntahkan kedengkiannya kepada Nabi Islam dan Ahlulbaitnya, utamanya Imam Ali as. dengan melancarkan program pelaknatan dan pencaci-makian terhadap Imam Ali as. dan menghukum siapa pun yang berani menentangnya dalam masalah ini. Dengan tanpa malu dan penuh kekejian dan kebencian, Mu’awiyah memerintah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1669&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#800000;"><strong>Politik Jahat Mu’awiyah (la) Terhadap Islam!</strong></span></p>
<p>Untuk membuktikan kekejian unsur dan keburukan jiwanya, Mu’awiyah memuntahkan kedengkiannya kepada Nabi Islam dan Ahlulbaitnya, utamanya Imam Ali as. dengan melancarkan program pelaknatan dan pencaci-makian terhadap Imam Ali as. dan menghukum siapa pun yang berani menentangnya dalam masalah ini. Dengan tanpa malu dan penuh kekejian dan kebencian, Mu’awiyah memerintah kaum Muslim dan pembesar para sahabat di kota suci Manidah dan dari mimbar Nabi saw. agar mereka mencaci-maki Imam Ali as.</p>
<p>Imam Muslim mengabadikan kejahatan Mu’awiyah di atas dalam kitab Shahihnya, ia me riwayatkan ‘Âmir ibn Sa’ad ibn Abi Waqqâsh dari ayahnya, ia berkata:<span id="more-1669"></span></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong><span style="text-decoration:underline;">أَمَرَ </span></strong><a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;SearID=33&amp;IndexItemID=7382',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><strong>مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ </strong></a><a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6362',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><strong>سَعْدًا </strong></a>فَقَالَ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسُبَّ أَبَا التُّرَابِ فَقَالَ أَمَّا مَا ذَكَرْتُ ثَلَاثًا قَالَهُنَّ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَنْ أَسُبَّهُ لَأَنْ تَكُونَ لِي وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَهُ خَلَّفَهُ فِي بَعْضِ مَغَازِيهِ فَقَالَ لَهُ <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6630',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><strong>عَلِيٌّ </strong></a>يَا رَسُولَ اللَّهِ خَلَّفْتَنِي مَعَ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=7275',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><strong>هَارُونَ </strong></a>مِنْ <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6255',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><strong>مُوسَى </strong></a>إِلَّا أَنَّهُ لَا نُبُوَّةَ بَعْدِي وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ يَوْمَ <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6762',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><strong>خَيْبَرَ </strong></a>لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ رَجُلًا يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ قَالَ فَتَطَاوَلْنَا لَهَا فَقَالَ ادْعُوا لِي <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6584',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><strong>عَلِيًّا </strong></a>فَأُتِيَ بِهِ أَرْمَدَ فَبَصَقَ فِي عَيْنِهِ وَدَفَعَ الرَّايَةَ إِلَيْهِ فَفَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6584',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><strong>عَلِيًّا </strong></a><a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6801',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><strong>وَفَاطِمَةَ </strong></a><a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=9687',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><strong>وَحَسَنًا </strong></a><a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=9511',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><strong>وَحُسَيْنًا </strong></a>فَقَالَ اللَّهُمَّ هَؤُلَاءِ أَهْلِي</h2>
<p><em>“Mu’awiyah ibn Abi Sufyan memerintah Sa’ad, ia berkata, ‘Apa yang mencegahmu mencaci Abu Thurâb<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn1">[1]</a>?! Sa’ad menjawab, “Selama aku mengingat tiga sabda Rasulullah saw. untuknya yang andai satu saja untukku itu lebih aku sukai dari dunia dan seisinya maka aku tidak akan mencacinya. Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda kepada Ali ketika beliau meminta Ali tinggal (tidak ikut-serta) dalam sebagian peperangan beliau, lalu Ali berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, mengapakah Anda tinggalkan aku bersama para wanita dan kanak-kanak?’ Maka beliau saw. bersabda,<span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"> ‘Tidakkah engkau rela kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada kenabian sepeninggalku.”</span> Aku mendengar beliau saw. bersabda pada hari parang Khaibar, <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">‘Aku akan serahkan bendera kepanglimaan ini kepada seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai Allah dan Rasul-Nya.</span>’ Maka Allah memenangkannya, dan ketika turun ayat <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">‘Katakan, ‘Marilah, kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian… ,’ Rasulullah saw. memanggil Ali, Fatimah , Hasan dan Husain dan bersabda, ‘Ya Allah hanya merekalah Ahli/keluarga-ku.</span>‘</em>”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn2">[2]</a></p></blockquote>
<p>.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;color:#800000;">Sa’ad juga mengancam akan keluar dari masjid jika Mu’awiyah bersikeras melaknat Imam Ali as</span>. dari atas mimbar Nabi saw. di masjid nabawi suci.<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn3">[3]</a></p>
<p><strong>Al Wâqidi meriwayatkan</strong> bahwa <span style="color:#0000ff;">Mu’awiyah</span> sepulangnya dari Irak setelah kesepakatan perdamaian dengan Imam Hasan as. dan manusia bersatu di bawah pemerintahannya, ia berpidato,<em> “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda kepadaku, ‘Sesungguhnya engkau akan menjabat sebagai Khalifah sepeninggalku, maka pilihlah negeri suci, di dalamnya terdapat wali-wali abdâl.’ Dan aku telah memilih kalian, <span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;">maka laknatilah Abu Thurab!</span> Lau mereka pun melaknatinya. Dan keesokan harinya, Mu’awiyah menulis surat ketetatapan, dan mengumpulkan mereka lalu membacakannya, di dalamnya terdapat: “Ini adalah surat Amirul Mukminin Mu’awiyah,pengemban wahyu Allah yang mengutus Muhammad sebagai nabi, dan ia adalah seorang yang buta huruf; tidak mampu membaca dan menulis. Lalu Allah memilihkan untuknya dari keluarganya seorang wazîr/pembantu, penulis wahyu yang terpercaya. Dan adalah wahyu turun kepada Muhammad dan aku menulisnya, dia tidak mengetahui apa yang aku tulis. Dan tiada seorang pun antara aku dan Allah.”</em></p>
<p>Maka seluruh hadirin berkata, ‘Benar engkau wahai Amirul Mukminin.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Mu’awiyah Melaknati Imam Ali as. Dalam Setiap Pidato Jum’at!</strong></p>
<p><strong>Al Jâhidz melaporkan</strong> bahwa Mu’awiyah selalu menutup pidato jum’atnya dengan pelaknatan atas Imam Ali as. dengan kata-katanya,<em> “Ya Allah! Sesungghunya Ali telah kafir terhadap agama-Mu, mencegah dari jalan-Mu. Maka kutuklah dia dengan kutakan yang berat dan siksalah dia dengan siksa yang pedih!”</em></p>
<p>Dan ia menuliskan teks kutukan itu sebagai penutup pidato ke berbagai penjuru wilayah. Dan kata-kata itulah yang menjadi penutup pidato di atas mimbar-mimbar sampai masa kekhalifahan Umar ibn Abdil Aziz.<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn4">[4]</a></p>
<p>.</p>
<p><strong>Wasiat Mu’awiyah Untuk Mughîrah ibn Syu’bah</strong></p>
<p>Mu’awiyah tidak akan ketinggalan memesankan hal penting itu kepada seluruh aparat pemerintahannya yaitu agar mereka tidak teledor dalam menjalankan program pelaknatan Imam Ali as., dan mereka pun segera dengan senang hati melaksakan program Mu’awiyah untuk pelaknatan Imam Ali as. <span style="color:#800000;"><em>Mughîrah ibn Syu’bah</em></span> ketika ditunjuk Mu’awiyah sebagai Gubernur Kufah tahun 41 H Mu’awiyah memanggilnya dan berpesan kepadanya, <em>“Amma ba’du, … sesungguhnya aku bermaksud mewasiatkan kepadamu banyak hal, namun aku tinggalkan karena aku mengandalkan kecerdasanmu. Tetapi untuk yang satu ini aku tidak akan meninggalkan untuk berpasan kepadamu; ‘<span style="color:#ff0000;"><span style="text-decoration:underline;">Janganlah engkau tinggalkan mencaci dan menghinakan Ali</span>,</span> dan memohonkan rahmat dan ampunan untuk Utsman. Cacatlah para pendukung Ali dan jauhkan mereka, dan pujilah Syi’ahnya Utsman dan dekatkan mereka!.’”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn5">[5]</a> Maka Mughîrah dalam pidatonya selalu mencaci Imam Ali as. dan ia juga memerintahkan banyak khathib untuk mencaci Imam Ali as</em>.<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Sejarah mencatat bahwa <span style="color:#800000;"><em>Mughîrah ibn Syu’bah</em></span> memaksa <span style="color:#0000ff;"><em>Hujr ibn Ad</em></span>i –seorang shabat setia Imam Ali as. agar berdiri di hadapan umum dan melaknati Ali as., ia menolak dan Mughîrah pun mengancamnya, maka Hujr berdiri dan berkata, <em>“Wahai manusia sesungguhnya Amir kalian memerintahku untuk melaknati Ali, maka laknati dia.” Maka penduduk Kufah yang hadir melaknatinya. Yang ia maksud dengan kata ganti orang ketika dalam kata-katanya: maka laknati <span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;">dia</span><span style="color:#ff0000;">,</span> adalah sang Amir bukan Imam Ali as.</em></p>
<p>Karena sikap gigihnya dalam membela kebenaran dan Ahlulbait as. maka <span style="color:#ff0000;"><em><span style="text-decoration:underline;">Mu’awiyah memerintahkan agar Hujr bersama rekan-rekannya dihukum mati!</span></em></span> <span style="color:#0000ff;"><em>Hasan al Bashri </em></span>berkata mengecam Mu’awiyah, <span style="color:#0000ff;"><em><span style="text-decoration:underline;">“Ada empat perkara pada Mu’awiyah andai satu saja ada padanya niscaya sudah cukup menyebarbkan kebinasaan baginya:</span></em></span></p>
<ol>
<li> Ia merampas kekuasaan tanpa musyawarah sementara masih banyak sahabat mulia.</li>
<li>Mengangkat Yazid si pemabok, si pemakai baju sutra dan pemain musik sebagai Khalifah.</li>
<li> Mengakui Ziyâd sebagai anak ayahnya, padahal Nabi saw. bersabda, <em>‘Anak itu milik si pemilik ranjang dan bagi si pezina adalah dicegah</em> (dari mengakui anak hasil zinanya dalam nasab).’</li>
<li>Ia mebunuh Hujr dan rekan-rekannya. Celakalah dia dia dari Hujr dan rekan-rekannya! Celakalah dia dia dari Hujr dan rekan-rekannya!<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn7">[7]</a></li>
</ol>
<p>. <strong></strong></p>
<p><strong>Para Aparat Pemerintahan Mu’awiyah Memaksa Umat Islam Mencaci dan Melaknati Imam Ali as.</strong></p>
<p><strong> </strong>Ibnu ‘Asâkir meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Abu Hâzim dari Sahl ibn Sa’ad, ia berkata:</p>
<p>.</p>
<h2 style="text-align:right;">أَسْتُعْمِلَ عَلَى <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6404',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><strong>الْمَدِينَةِ </strong></a>رَجُلٌ مِنْ آلِ <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=7095',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><strong>مَرْوَانَ </strong></a>قَالَ فَدَعَا <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6800',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><strong>سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ </strong></a>فَأَمَرَهُ أَنْ يَشْتِمَ <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6584',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><strong>عَلِيًّا </strong></a>قَالَ فَأَبَى <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=7031',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><strong>سَهْلٌ </strong></a>فَقَالَ لَهُ أَمَّا إِذْ أَبَيْتَ فَقُلْ لَعَنَ اللَّهُ أَبَا التُّرَابِ فَقَالَ <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=7031',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><strong>سَهْلٌ </strong></a>مَا كَانَ <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6584',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><strong>لِعَلِيٍّ </strong></a>اسْمٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَبِي التُّرَابِ وَإِنْ كَانَ لَيَفْرَحُ إِذَا دُعِيَ بِهَا</h2>
<p><em>“Seorang dari keluarga Marwân ditunjuk sebagai Gubernur kota Madinah, lalu ia memanggil Sahl ibn Sa’ad dan memerintahnya agar mencaci Ali. Sahl menolak. Ia memaksa dengan mengatakan, ‘Jika engkau enggan menyebut nama terangnya maka hendaknya engkau caci dia dengan menyebut nama Abu Thurab!’ Sahl menjawab, Itu nama paling dicintai Ali </em>… “Ibnu Asâkir juga meriwayatkan dari Sammâk ibn Harb ia berkata kepada Jabir, ‘Mereka (para penguasa) memintaku agar mencaci-maki Ali.’ Jabir bertanya, ‘Apa yang engkau lakukan?’ jawab Sammâk, ‘Aku sebutnya dia dengan Abu Thurab.’ <a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn8">[8]</a></p>
<p>.</p>
<p><strong>Rahasia Di Balik Politik Pelaknatan!</strong></p>
<p>Lugulah anggapan yang mengatakan bahwa program pelaknatan atas Imam Ali as. yang dipaksakan Mu’awiyah ke atas kaum Muslimin diilhami oleh permusuhan antara dua keluarga basar yaitu Bani hasyim dan bani Umayyah atau sekedar kebijakan politik demi kekuasaan… <em>akan tetapi lebih dari itu, ia dimaksudkan mengubur Islam dalam-dalam agar semua jerih payah da’wah Nabi saw. dan perjuangan Imam Ali as. menguap dan umat manusia pun akan terus hidup  dalam kesasatan.</em></p>
<p>Imam Ali dan Ahlulbait Nabi as. sebagai pilar utama Islam harus tidak boleh dikenal.. umat Islam mesti harus dibutakan terhadapnya. Demikian ditegaskan sendiri oleh Mu’awiyah. Ada beberapaa orang dari bani Umayyah mengusulkan kepada Mu’awiyah agar menghentikan pelaknatan dan pencacian terhadap Ali, <span style="color:#800000;"><em>“Engkau telah mencapai semua yang engkau cita-citakan, mengapakah engkau tidak menghentikan pelaknatan atas  orang itu (Ali maksudnya)?! Maka Mu’awiyah menjawab, “</em></span><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#800080;"><em>Tidak! Demi Allah tidak, sehingga anak kecil tumbuh besar dan yang tua biar menjadi bangka dan tidak lagi ada seorang yang menybeutnya dengan keutaman.</em></span>”</span><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn9">[9]</a></p>
<p>.</p>
<p>Semua politik jahat yang dijalankan Mu’awiyah utamanya dalam sikapnya terhadap Imam Ali dan keluarga Nabi pembawa Risalah ilahi adalah ia maksudkan untuk mengubur agama Nabi saw.<span style="color:#0000ff;"><em> Mathraf putra Mughîrah ibn Syu’hab </em></span><strong>menceritakan</strong>, “<em>Aku bersama ayahku menemui Mu’awiyah, -dan ayahku biasa menemuinya dan berbincang-bincang dengannya berduaan, kemudian ia menemuiku lalu memujinya dan kehebatan akal dan pandangannya-. Pada suatu malam sepulang dari menemui Mu’awiyah ayahku mencegah diri dari makan malam dan ia terlihat sedih dan gaduh pikirannya. Aku menantinya sejenak, aku mengira itu disebabkan ada kejadian di antara kami. Lalu aku bertanya kepadanya, ‘Wahai ayah, mengapakah aku melihatmu bersedih? Ia menjawab, ‘Wahai anakku, aku baru saja datang dari menemui manusia paling kafir dan paling busuk.” Aku bertanya, ‘Mengapa?’ ia menjawab, ‘Aku telah berbincang-bincang berduaan dengannya (Mu’awiyah) dan berkata kepadanya, ‘Wahai Amirul Mukminin, engkau telah berusia tua, andai engkau menampakkan sikap adil dan menebar kebaikan. Buklankah engau sudah mulai lanjut usia, andai engkau memperhatikan nasib saudara-saudaramu dari bani Hasyim; andai engkau ambil kekerabatan mereka. Demi Allah tidak ada lagi sesuatu yang ditakutkan dari mereka. Sikap baik itu akan membuat nama anda harum dan sebutan Anda dan juga memberikan pahala. Maka ia menajwab, ‘Tidak! Tidak! Sebutan baik apa yang aku bisa harapkan. Saudaraku dari suku Taim (Abu Bakar) berkuasa, ia berlaku adil dan berbuat apa yang ia perbuat, lalu setelah ia mati, matilah bersamanya sebutan nya. Orang hanya menyebut, ‘Abu Bakar! Abu Bakar! Kemdian saudara dari suku Adi (Umar) berkuasa, ia bersungguh-sungguh dalam mempimpin selama sepuluh tahun, lalu setelah ia mati, matilah bersamanya sebutan nya. Orang hanya menyebut, Umar! Umar!. <span style="color:#ff0000;"><span style="text-decoration:underline;">Sementara itu anaknya si Abu Kabsyah<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn10"><span style="text-decoration:underline;">[10]</span></a> namanya dipekikkan lima kali setiap hari, Asyhadu anna Muhammadan rasulullah</span><span style="text-decoration:underline;">. Perbuatan apa yang akan abadi, sebutan apa yang akan abadi setelah ini. celaka engkau. Tidak! Demi Allah kecuali nama itu aku kuburkan!</span><strong><span style="text-decoration:underline;">”</span></strong></span></em><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn11"><span style="color:#000000;"><span style="color:#ff0000;"><strong>[</strong></span>11]</span></a></p>
<p><span style="color:#000000;">Inilah hakikat rahasia di balik semua politik jahat Mu’awiyah terhadap Imam Ali dan Ahlulbait as.! </span></p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref1">[1]</a> Gelar Imam Ali as. yang sangat dibanggakan, walaupun oleh mush-musuh Imam Ali as. dijadikan bahan cemoohan dan ejekan.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref2">[2]</a> Shahih Muslim (dengan syarah an Nawawi)15/175.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref3">[3]</a> Al Iqdu al Farîd,2/300.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref4">[4]</a> Syarah Nahjul Balâghah,4/56-58.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref5">[5]</a> Tarikh ath Thabari,5/253, Ansâb al Asyrâf,5/252 dan al Kâmil Fi at Târîkh,2/488.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref6">[6]</a> Al Mustadrak,3/509 hadis no.5898 dan Siyar A’lâm an Nubalâ’,3/31.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref7">[7]</a> Al Khilafah wa al Mulk; Abul A’la al Maududi:106.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref8">[8]</a> Târîkh Damasqus; Ibnu ‘Asâkir (khusus bagian sejarah Imam Ali as.) Jilid I/31 hadis no. 30 dan 31.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref9">[9]</a> Syarah Nahjul Balâghah,4/57.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref10">[10]</a> <span style="text-decoration:underline;color:#800000;">Dan penyebutan Nabi mulia saw. dengan sebutan itu dimaksudkan sebagai penghinaan dan pelecehan!</span></p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref11">[11]</a>Ibid.5/129.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/1669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/1669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/1669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/1669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jakfari.wordpress.com/1669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jakfari.wordpress.com/1669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jakfari.wordpress.com/1669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jakfari.wordpress.com/1669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/1669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/1669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/1669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/1669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/1669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/1669/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1669&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2011/01/01/politik-jahat-mu%e2%80%99awiyah-al-terhadap-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/448ec135645f1d27ee5bd10e169255c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hakikat Sejarah Yang Dirahasiakan Demi Politik dan Ideologis!</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2011/01/01/hakikat-sejarah-yang-dirahasiakan-demi-politik-ideologis/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2011/01/01/hakikat-sejarah-yang-dirahasiakan-demi-politik-ideologis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Jan 2011 03:25:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis Palsu Keutamaan Abubakar & Umar]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis Palsu Keutamaan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Keadilan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Haulasyiah]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Sidogiri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=1662</guid>
		<description><![CDATA[Hakikat Sejarah Yang Dirahasiakan Demi Politik dan Ideologis! Penulisan sejarah Islam benar-benar telah dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan politik dan ideologis. Banyak data-data sejarah dirahasiakan demi meloloskan sederatan agenda ideologis sebagaimana tidak sedikit kepalsuan dipasarkan dengan serius juga demi membangun kesimpulan-kesimpulan tertentu yang diharapkan mampu membangun ide-ide politik dan kemazhaban tertentu. Tulisan ini tidak bermaksud menyajikan secara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1662&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#800000;"><strong>Hakikat Sejarah Yang Dirahasiakan Demi Politik dan Ideologis</strong>!</span></p>
<p>Penulisan sejarah Islam benar-benar telah dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan politik dan ideologis. Banyak data-data sejarah dirahasiakan demi meloloskan sederatan agenda ideologis sebagaimana tidak sedikit kepalsuan dipasarkan dengan serius juga demi membangun kesimpulan-kesimpulan tertentu yang diharapkan mampu membangun ide-ide politik dan kemazhaban tertentu.</p>
<p>Tulisan ini tidak bermaksud menyajikan secara tuntas masalah ini. ia hanya akan menyajikan beberapa contoh yang diharap dapat menjadi pembuka wawasan baru yang sehat dan bertanggung jawab dalam mengkaji sejarah Islam jauh dari kepentingan dan tujuan apapun selain menemukan kebenaran sejarah sejati dan hakikan apa yang terjadi…<span id="more-1662"></span></p>
<p>Tidak sedikit faktor yang memperkosa data-data sejarah untuk disesuaikan dengan pola pandang resmi tertentu dan kemudian diterima sbagai sebuah kepastian yang dijadikan pondasi di atasnya mereka akan membangun kesimpulan-kesimpulan seperti apa yang mereka maukan sesuai dengan ideologi yang mereka yakini sebelumnya.</p>
<p>Menyajikan sebuah kasus sejarah denagn sederetan rinciannya atau mengada-ngada sebuah kasus sejarah yang lalu memaksanya masuk dalam daftar peristiwa yang harus diterima tanpa boleh dipertanyakan tidak lain adalah upaya penulisan sejarah dan kemudian menggiring para pembaca untuk membacanya sesuai dengan kaca mata pemikiran dan kemazhaban siap saji yang dimaukan!</p>
<p>Upaya seperti diharap mampu menjadikan para pembaca sebagai pengekor yang menelan mentah-mentah sebuah pemikiran yang disajikan dan dikampanyekan oleh “polisi pemberangus kebebasan berfikir” yang berkhidmat untuk kekuasaan di masa penulisan sejarah itu berlangsung.</p>
<p>Jika metodologi penulisan sejarah telah ditundukkan kepada kepentingan kekuasaan maka ia pasti akan menundukkan data-data sejarah yang disajikan demi kekuasaan yang kecenderungan-kecenderungannya.</p>
<p>Dalam kasempatan ini saya akan angkat satu data sejarah yang selama ini disengaja disembunyikan dan dirahasiakan sedemikian rupa oleh kepentingan politik dan kemazhaban. Ia adalah:</p>
<p>.</p>
<p><strong>Nabi saw. Telah Menceraikan Hafshah –Putri Umar-! </strong></p>
<p>Ibnu al Jauzi membongkar dokumen sejarah berbahay tersebut. Ia berkata:</p>
<blockquote><p><em>Dari Qais ibn Zaid bahwa Nabi saw. telah menceraikan Hafshah binti Umar. Lalu saudara ibunya; Qudamah dan Utsman keduanya putra Madz’ûn, ia (Hafshah) menangis dan berkata, ‘Demi Allah, ia tidak menceraikanku dalam keadaan kenyang. Dan Nabi saw. datang dan ia pun berjilbab…</em><strong><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn1"><strong><em>&#8220;</em> [1]</strong></a></strong></p></blockquote>
<p>Peristiwa penceraian Hafshah dapat dibilang sebagai peristiwa yang terpenting dalam kehidupan rumah tangga Nabi saw. sebab ia akan membongkar tingkat kemesraan yang terjalin antara keduanya yang tentunya akan berpengaruh kepada hubungan antara Nabi dan Umar; ayah Hafshah yang selama ini diandalkan oleh pola pandang sebagian mazhab Islam. Di mana mereka membangun sederetan kesimpulan dan keistimewaan atas dasar hubungan itu! Demikian pula dengan hubungan Nabi saw. dengan Aisyah.</p>
<p>Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya meriwayatkan sebuah riwayat panjang dari Ibnu Abbas ra. tentang keretakan hubungan rumah tangga Nabi dengan Hafshah. Dalam riwayat itu Umar –ayah Hafshah- memperjelas kisah kegentingan dan keretakan hubungan rumah tangga itu:</p>
<p>.</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><strong>قَالَ كُنَّا مَعْشَرَ <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6284',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self">قُرَيْشٍ </a>قَوْمًا نَغْلِبُ النِّسَاءَ فَلَمَّا قَدِمْنَا <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6404',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self">الْمَدِينَةَ </a>وَجَدْنَا قَوْمًا تَغْلِبُهُمْ نِسَاؤُهُمْ فَطَفِقَ نِسَاؤُنَا يَتَعَلَّمْنَ مِنْ نِسَائِهِمْ قَالَ وَكَانَ مَنْزِلِي فِي <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6543',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self">بَنِي أُمَيَّةَ بْنِ زَيْدٍ </a><a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=7132',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self">بِالْعَوَالِي </a>فَتَغَضَّبْتُ يَوْمًا عَلَى امْرَأَتِي فَإِذَا هِيَ تُرَاجِعُنِي فَأَنْكَرْتُ أَنْ تُرَاجِعَنِي فَقَالَتْ مَا تُنْكِرُ أَنْ أُرَاجِعَكَ فَوَاللَّهِ إِنَّ أَزْوَاجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُرَاجِعْنَهُ وَتَهْجُرُهُ إِحْدَاهُنَّ الْيَوْمَ إِلَى اللَّيْلِ فَانْطَلَقْتُ فَدَخَلْتُ عَلَى <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6544',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self">حَفْصَةَ </a>فَقُلْتُ أَتُرَاجِعِينَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ نَعَمْ فَقُلْتُ أَتَهْجُرُهُ إِحْدَاكُنَّ الْيَوْمَ إِلَى اللَّيْلِ قَالَتْ نَعَمْ قُلْتُ قَدْ خَابَ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ مِنْكُنَّ وَخَسِرَ أَفَتَأْمَنُ إِحْدَاكُنَّ أَنْ يَغْضَبَ اللَّهُ عَلَيْهَا لِغَضَبِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا هِيَ قَدْ هَلَكَتْ لَا تُرَاجِعِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا تَسْأَلِيهِ شَيْئًا وَسَلِينِي مَا بَدَا لَكِ وَلَا يَغُرَّنَّكِ أَنْ كَانَتْ جَارَتُكِ هِيَ أَوْسَمَ وَأَحَبَّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْكِ يُرِيدُ <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6244',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self">عَائِشَةَ </a><q> </q></strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>قَالَ وَكَانَ لِي جَارٌ مِنْ <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6338',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self">الْأَنْصَارِ </a>فَكُنَّا نَتَنَاوَبُ النُّزُولَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْزِلُ يَوْمًا وَأَنْزِلُ يَوْمًا فَيَأْتِينِي بِخَبَرِ الْوَحْيِ وَغَيْرِهِ وَآتِيهِ بِمِثْلِ ذَلِكَ وَكُنَّا نَتَحَدَّثُ أَنَّ <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6291',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self">غَسَّانَ </a>تُنْعِلُ الْخَيْلَ لِتَغْزُوَنَا فَنَزَلَ صَاحِبِي ثُمَّ أَتَانِي عِشَاءً فَضَرَبَ بَابِي ثُمَّ نَادَانِي فَخَرَجْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ حَدَثَ أَمْرٌ عَظِيمٌ قُلْتُ مَاذَا أَجَاءَتْ <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6291',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self">غَسَّانُ </a>قَالَ لَا بَلْ أَعْظَمُ مِنْ ذَلِكَ وَأَطْوَلُ طَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِسَاءَهُ فَقُلْتُ قَدْ خَابَتْ <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6544',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self">حَفْصَةُ </a>وَخَسِرَتْ قَدْ كُنْتُ أَظُنُّ هَذَا كَائِنًا حَتَّى إِذَا صَلَّيْتُ الصُّبْحَ شَدَدْتُ عَلَيَّ ثِيَابِي ثُمَّ نَزَلْتُ فَدَخَلْتُ عَلَى <a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6544',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self">حَفْصَةَ </a>وَهِيَ تَبْكِي فَقُلْتُ أَطَلَّقَكُنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَا أَدْرِي هَا هُوَ ذَا مُعْتَزِلٌ فِي هَذِهِ الْمَشْرُبَةِ</strong></h2>
<p><em>“ … Umar berkata, “Kami kaum Quraisy adalah kaum yang mengalahkan istri-istri kami dan setelah kami berhijrah ke Madinah kami menemukan kaum yang dikalahkan oleh istri-istri mereka. Wanita-wanita kami mulai belajar dari wanita-wanita mereka. Umar berkata, “Rumah tempat tinggalku di daerah bani Umayyah ibn Zaid di perbukitan. Pada suatu hari aku marah kepada istriku, tiba-tiba ia berani membantahku, aku marah kepadanya karena ia berani membantahku, lalu ia berkata, ‘Mengaka kamu mengingkari karena aku membanthmu? Demi Allah sesungguhnya istri-istri Nabi saw. benar-benar telah membantahnya dan seorang dari mereka terkadang tidak mengajaknya berbicara sehari semalam! Aku pergi dan menemui Hafshah, aku bertanya, “Apakah engkau membantah Rasulullah saw.? Ia menjawab, “Ya. Aku berkata, “Apakah seorang dari kalian tidak mengajaknya berbicara sehari semalam? Ia menajwab, ‘Ya.’ Aku berkata, “Sungguh celaka dan merugilah seorang dari kalian yang melakukan perbuatan itu. Apakah seorang dari kalian merasa aman dari murka Allah karena murka Rasul-Nya. Pasti ia celaka! Jangan engkau membantah Rasulullah saw. dan jangan engkau meminta-minta sesuatu darinya. Mintalah kepadaku apapun yang engkau inginkan! Janganlah engkau tertipu oleh tetanggamu (Aisyah maksudnya), ia itu lebih cantik dan lebih dicintai Rasulullah saw.’</em></p>
<p><em>Umar berkata, “Aku punya tetangga dari suku Anshar, kami bergantian mendatangi Rasulullah saw. sehari aku turun dan sehari ia yang turun. Ia datang dengan membawa kabar tentang wahyu dan selainnya.  Begitu juga aku seperti itu. Kami berbincang-bincang bahwa suku Ghassân telah bersiap-siap untuk menyerang kota Madinah. Temanku turun kemudian ia datang menemuiku dan mengetuk pintu rumahku dan memanggilku. Aku keluar menemuinya. Ia berkata, “Telah terjadi perkara besar!” Aku bertanya, “Apakah suku Ghassân datang?” Ia menjawab, “Lebih besar dan lebih panjang ceritanya dari itu. Rasulullah saw. telah menceraikan istri-istrinya!” Aku berkata, ‘Kecewa dan merugilah Hafshah. Aku telah memperkirakan ini pasti terjadi. Seusai aku shalat shubuh aku pakai bajuku aku turun ke kota menemui Hafshah, ia menangis. Aku kerkata kepadanya, ‘Apakah Rasulullah saw. menceraikan kalian? Hafshah menjawab, “Aku tidak tau. Sekarang ia menyendiri di tempat istirahatnya… </em>“<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn2">[2]</a></p></blockquote>
<p>.</p>
<p>Imam Muslim juga meriwayatkan hadis lain dari Ibnu Abbas ra. bahwa Umar mengabarkan kepadanya seperti di bawah ini:</p>
<p>.</p>
<blockquote>
<h2><span style="color:#000000;">لَمَّا اعْتَزَلَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِسَاءَهُ قَالَ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَإِذَا النَّاسُ يَنْكُتُونَ بِالْحَصَى وَيَقُولُونَ طَلَّقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِسَاءَهُ وَذَلِكَ قَبْلَ أَنْ يُؤْمَرْنَ بِالْحِجَابِ فَقَالَ </span><a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6415',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><span style="color:#000000;"><strong>عُمَرُ </strong></span></a><span style="color:#000000;">فَقُلْتُ لَأَعْلَمَنَّ ذَلِكَ الْيَوْمَ قَالَ فَدَخَلْتُ عَلَى </span><a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6244',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><span style="color:#000000;"><strong>عَائِشَةَ </strong></span></a><span style="color:#000000;">فَقُلْتُ يَا بِنْتَ </span><a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6759',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><span style="color:#000000;"><strong>أَبِي بَكْرٍ </strong></span></a><span style="color:#000000;">أَقَدْ بَلَغَ مِنْ شَأْنِكِ أَنْ تُؤْذِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ مَا لِي وَمَا لَكَ <q><strong>-</strong></q> يَا </span><a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=8189',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><span style="color:#000000;"><strong>ابْنَ الْخَطَّابِ </strong></span></a><span style="color:#000000;">عَلَيْكَ بِعَيْبَتِكَ قَالَ فَدَخَلْتُ عَلَى حَفْصَةَ بِنْتِ عُمَرَ فَقُلْتُ لَهَا يَا </span><a href="void(window.open('/services.aspx?pageid=303&amp;IndexItemID=6544',null,'scrollbars=yes,height=600,width=500,status=yes,toolbar=no,menubar=no,location=no'))" target="_self"><span style="color:#000000;"><strong>حَفْصَةُ </strong></span></a><span style="color:#000000;">أَقَدْ بَلَغَ مِنْ شَأْنِكِ أَنْ تُؤْذِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُحِبُّكِ وَلَوْلَا أَنَا لَطَلَّقَكِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَكَتْ أَشَدَّ الْبُكَاءِ</span></h2>
<p><em><span style="color:#000000;">Ibnu Abbas  berkata, “Umar berkata kepadaku, ‘Ketika Nabi saw. mengasingkan diri dari sitri-istrinya, aku masuk ke dalam masjid tiba-tiba aku menyaksikan orang-orang membolak-balikkan batu-batu kecil ke atas tanah (sebagai tanda kesedihan _pen), mereka berkata, ‘Rasulullah saw. telah menceraikan istri-istrinya.’ Ketika itu hijab belum diwajibkan.</span></em></p>
<p><em>Umar berkata, “Aku akan mencari tau hari ini. ia berkata, ‘Aku masuk menemui Aisyah lalu aku berkata, ‘Hai anak Abu Bakar, apakah sudah sampai seperti itu kamu mengganggu Rasulullah saw.? Aisyah berkata, “Apa urusanmu dan aku hai anak Khaththab? Uruslah anakmu sendiri!”</em></p>
<p><em>Umar berkata, “Aku masuk menemui Hafshah, aku berkata kepadanya, “Apakah sudah sampai seperti itu kamu mengganggu Rasulullah saw.? <span style="color:#ff0000;">Demi Allah aku benar-benar mengatahui bahwa Rasulullah tidak mencintaimu. Jika bukan karena aku pastilah beliau sudah menceraikanmu.” </span>Maka ia menangis dengan tangisan yang sangat…</em> .”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn3">[3]</a><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn4">[4]</a></p></blockquote>
<p>.</p>
<p>Demikianlah hubungan yang terjalin antara Rasulullah saw. dan kedua istri beliau; anak Abu Bakar dan anak Umar!</p>
<p>Peristiwa ini tidak mendapat perhatian yang sesuai di kalangan sekelompk Muslimin padahal ia sangat penting dalam pristiwa-pristiwa Sirah Nabi saw. Sepertinya mereka bersepakat untuk tidak mengangkat kasus ini agar tidak memimbulkan keingin-tauan kaum Muslimin terhadap apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah tangga Nabi saw. yang tentu akan memiliki ekor panjang dalam kehidupan sejarah umat Islam! Dan akan mempertanyakan kembali sederetan keistimewaan yang diberikan kepada kedua ayah merekaa atas dasar kedekatan dan kemesraan hubungan yang terjalin antara Nabi saw. dan kedua anak mereka! Karenanya peristiwa ini harus ditutup rapat demi kemapanan ideologis yang telah dibangun di atas kisah kemesraan dan kehangatan hubungan!</p>
<p>Semua kisah sejarah harus dirajut jauh dari bayanhg-bayang kasus/pristiwa yang tidak diinginkan.  <strong></strong></p>
<p>.</p>
<p><strong>Benarkan Aisyah Masih Gadis Ketika Menikah Dengan Nabi saw.?</strong></p>
<p>Kasus lain yang juga diupayakan agar tetap dalam kerahasiannya adalah <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>pristiwa pernikahan Aisyah dengan seorang pemuda bernama Jubair ibn Muth’im</em></span>, tentunya sebelum pernikahan Aisyah dengan Rasulullah saw.! Artinya ketika dinikahi Nabi saw., Aisyah adalah janda setelah diceraikan oleh suaminya atas permiantaan Abu Bakar.</p>
<blockquote><p><strong>Perhatikan riwayat Ibnu Sa’ad di bawah ini</strong> yang ia nukil dari Ibnu Abi Mulaikah, ia berkata,<span style="color:#800000;"><em> “Rasulullah saw. melamar Aisyah  binti Abu Bakar, lalu Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, aku sudah berikah dia kepada Muth’im untuk dinikahkan kepada anaknya si Jubair. Jadi biarkan aku ambil dengan perlahan lagi dari mereka.’ Lalu Abu Bakar mengambilnya dengan cara halus kemudian menikahkannya dengan Rasulullah saw.”</em></span><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn5">[5]</a></p></blockquote>
<p>Data riwayat di atas tidak menjelaskan apakah suami Aisyah sudah melakukan hubungan suami istri dengannya atau belum sempat. Dan karena Rasulullah saw. melamar Aisyah maka Abu Bakar melihat bahwa adalah mashlahat apabila ia meminta kerelaan keluarga Muth’im untuk mengembalikan putrinya kepadanya. Kemudian keluarga Muth’im berbaik hati dengan menuruti permintaan Abu Bakar dan menceraikan Aisyah dan setelahnya Abu Bakar menikahkannya dengan Rasulullah saw.</p>
<p>Peristiwa yang mirip juga terjadi dengan Zainab dan Zaid ibn Hâritsah anak angkat Rasulullah saw. ketika Zaid mengetahui bahwa Rasulullah saw. tertarik kepada istrinya; Zainab, ia datang menemui Rassulullah saw dan berkata, <em>“Wahai Rasulullah saw. telah sampai berita kepadaku bahwa Anda datang ke rumahku, mengapa Anda tidak sudi masuk? Wahai Rasulullah, semoga ayah dan ibuku sebagai tebusan bagi Anda, apakah Anda tertarik kepada Zainab? Aku siap menceraikannnya untuk Anda.” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Peganglah tali pernikahanmu dengan istrimu!</em>”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Di sini, dalam kasus ini, Zaid lebih mengutamakan keingininan Nabi saw. dan siap menceraikan istrinya demi beliau saw. mirip dengan apa yang dilakukan oleh Jubair ketika ia sudi menceraikan Aisyah demi keinginan Rasulullah saw.</p>
<p>Peristiwa pernikahan Aisyah dengan Jubair ibn Muth’im meruntuhkan khayalan yang selama ini dijadikan pondasi membangun sederetan kesimpulan dan penganugerahan berbagai keistimewaan untuk Siti Aisyah. Diantaranya adalah bahwa ia adalah satu-satunya istri Nabi saw. yang gadis saat dinikahi Rasulullah saw. yang di atasnya pengagungan dan pengutamaan dibangun!</p>
<p>Demikianlaah dua contoh kasus sejarah yang dirahasiakan dan/atau diabaikan sedemikian rupa demi mepertahankan bangunan keutamaan dan keistimewaan yang atas pula pondasi ideologi dan kemazhaban ditegakkan dan kemudian disakralkan!</p>
<p>Mengada-ngada Pristiwa Demi Politik Dan Mazhab!</p>
<p>Sebagaimana sebagian mereka juga mengada-ngada peristiwa sejarah demi tujuan kemazahaban dan ideologis dan kemudian sebagian lainnya terjebak dalam membesar-besarkannya serta terseret dalam penyimpulan-penyimpulan yang sengaja dimaukan para pembaca terjebak di dalamnya, seperti pristiwa <span style="color:#800000;">NIKAHNYA UMAR DENGAN UMMU KULTSUM PUTRI IMAM ALI AS.</span></p>
<p>Di mana kita menyaksikan bagaimana sebagian mereka yang terjebak, baik dengan sadar atau tidak berlomba-lomba menyajikan kesimpulan-kesimpulan “lugu” dan terkadang terkesan ‘dungu” di atas pristiwa yang sulit mereka buktikan sendiri jika tidak mustahil untuk dibuktikan kebenarannya!</p>
<p>Dengan pristiwa yang paling baik status yang pantas kita berikan untuknya adalah pristiwa yang belum pasti kebenarannya, mereka membangun kesimpulan “lugu” dan mengabaikan semua bukti sejarah yang bertolak belakang dengannya… sungguh sukses para pemalsu itu ketika mampu menciptkan generasi pembaca sejarah sesuai dengan arah yang dimaukan oleh para pemalsu itu!</p>
<p>Mudah-mudahan dalam kesempatan lain kami dapat menyajikan tema tersebut! <em>Insya Allah</em>.</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref1">[1]</a> Shafwah ash Shafwah,1/354, al Kunâ wa al Asmâ’; Imam an Nawawi,2/338 dan ath Thabaqât; Ibnu Sa’ad,6/62.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref2">[2]</a> Shahih Muslim, <em>Kitâb ath Thalâq</em>, Bab (5) <em>al Îlâ’ wa I’tizâl an Nisâ’ wa takhyîruhunna</em>,4/192-193.<em> </em>Dâr al Ma’rifah, Bairut.  Lihat juga di sini: http://hadith.al-islam.com/Page.aspx?pageid=192&amp;TOCID=663&amp;BookID=25&amp;PID=2779</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref3">[3]</a> Ibid. 188. Lihat juga di sini: <a href="http://hadith.al-islam.com/">http://hadith.al-islam.com/</a> Page.aspx? pageid= 192&amp; BookID =25&amp; TOCID =663.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref4">[4]</a> <span style="color:#ff0000;">Mungkin saat itu Sayyidina Umar, Siti Hafshah dan siti Aisyah belum mengetahui bahwa semua sahabat itu adalah ADIL, dan apapun yang mereka lakukan pasti diberi pahala sebab dilakukan berdasarkan ijtihad! Jadi semestinya Sayyidina Umar tidak perlu mengancam dan Siti Hafshah pun tidak perlu menangis! Mendapat pahala kok malah menangis?! Aneh bukan?!</span></p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref5">[5]</a> Ath Thabaqat al Kubrâ,6/42.</p>
</div>
<div>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref6">[6]</a> Ibid.75.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/1662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/1662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/1662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/1662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jakfari.wordpress.com/1662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jakfari.wordpress.com/1662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jakfari.wordpress.com/1662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jakfari.wordpress.com/1662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/1662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/1662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/1662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/1662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/1662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/1662/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&amp;blog=1466658&amp;post=1662&amp;subd=jakfari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2011/01/01/hakikat-sejarah-yang-dirahasiakan-demi-politik-ideologis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/448ec135645f1d27ee5bd10e169255c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
