<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Menjawab Tuduhan Salafy-Wahabi</title>
	<atom:link href="http://jakfari.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jakfari.wordpress.com</link>
	<description>Katakan Yang Benar Atau Diam</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Nov 2009 11:09:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='jakfari.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/83c573514726f82f1e7f670e9c6eac43?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Menjawab Tuduhan Salafy-Wahabi</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Masihkah Ahli hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (6)</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2009/11/07/masihkah-ahli-hadis-ahlusunnah-dapat-dipercaya-6/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2009/11/07/masihkah-ahli-hadis-ahlusunnah-dapat-dipercaya-6/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 03:19:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Haulasyiah]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=503</guid>
		<description><![CDATA[Muhammad ibn Yahya adz Dzuhali Musuh Bebuyutan Imam Bukhari!
Di antara tokoh yang sangat diandalkan dalam memberikan penilaian terhadap para periwayat Sunnah Nabi saw. adalah: Muhammad ibn Yahya adz Dzuhali. Ia adalah seorang al Imam Syeikhul Islam, Hâfidz kota Nisabur&#8230; kepemimpinan ilmu di wilayah Khurasan berada di tangannya, ia terpercaya, tsiqah, berhati-hati dalam agama dan konsisten [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=503&subd=jakfari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Muhammad ibn Yahya adz Dzuhali Musuh Bebuyutan Imam Bukhari!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di antara tokoh yang sangat diandalkan dalam memberikan penilaian terhadap para periwayat Sunnah Nabi saw. adalah: Muhammad ibn Yahya adz Dzuhali. Ia adalah seorang al Imam Syeikhul Islam, Hâfidz kota Nisabur&#8230; kepemimpinan ilmu di wilayah Khurasan berada di tangannya, ia terpercaya, <em>tsiqah</em>, berhati-hati dalam agama dan konsisten menjalankan sunnah&#8230;<span id="more-503"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Abu Hatim bertutur tentangnya, “Beliau adalah imam ahli zananya.’ Abu Bakar ibn Ziyad bertutur, ‘Beliau adalah Amirul Mukminin dalam disiplin ilmu hadis.” Demikian adz Dzahabi memperkenalkan al Hafidz adz Dzuhali dalam <strong>Tadzkirah al Huffâdz</strong>-nya.<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Ia adalah guru Imam Bukhari! yang kemudian menjadi musuh bebuyutannya!!<strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di natara komentar para ulama berkomentar tentangnya ialah apa yang disampaikan oleh Hasan ibn Muhammad ibn Jabir, ia berkata, “Ketika Muhammad ibn Ismail (Bukhari) mengunjungi ke kota Naysâbûr, Muhammad ibn Yahya (adz Dzuhali) berkata (kepada murid-muridnya), ‘Pergilah kepada orang alim yang shalih itu dan dengarlah hadis darinya!’ Dan orang-orangpun mulai berdatangan memenuhi majlisnya (Bukhari) dan antusia mendengar hadis darinya, sampai-sampai majlis Muhammad ibn Yahya mulai sepi pengunjung, maka setelah itu ia hasud terhadapnya dan mengecamnya.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn2">[2]</a> </p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi, perbedaan pandangan dalam rincian masalah-masalah teologi menjadi menjadi senjata pencacatan bahkan pengkafiran!!</p>
<p style="text-align:justify;">Adz Dzulahi berfatwa, “Al Qur’an adalah <em>Kalamulah</em>, ia bukan makhluq dari segala sisinya. Barangsiapa mengklaim bahwa Al Qur’an adalah makhluq, maka ia benar-benar telah kafir, keluar dari keimanan, istrinya harus dipisahkan darinya, ia harus diminta untuk bertaubat, jika bertaubat (maka diterima), jika tidak kapalanya harus dipenggal, dan hartanya harus dibagi di antara kaum Muslim sebagai harta <em>fai’</em>. Ia tidak boleh dikuburkan di pekubnuran kaum Muslim. Barangsiapa bersikap <em>waqf</em> dan berkata, ‘Saya tidak mengatakan bahwa Al Qur’an makhluq atau bukan makhluq maka ia telah menyamai kekufuran. Barang siapa berkata, ucapan/ bacaanku lafadz-lafadz Al Qur’an itu makhluq, maka ia adalah seorang pembid’ah, tidak boleh diajak duduk dan diajak berbicara. Barangsiapa setelah mendengar keterangan kami di majlis ini mendatangi Muhammad ibn Ismail al Bukhari maka curigai ia, sebab tidak haris di majlisnya kecuali orang yang berpandangan seperti mazhab (pandangan)nya.’<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dan karena sikap adz Dzuhali yang keras kepala dan fanatik buta yang bisa jadi diilhami oleh rasa kecemburuan dan iri hati, Bukhari mengeluhkannya kepada Allah SWT dan kemudian ia mengalah meninggalkan kota ilmu Naysâbûr kembali ke kampun halamannya. Bukhari berkata mengeluh, “Ya Allah Engkau Maha mengetahui bahwa aku tidak tinggal di kota ini kerena ingin berbuat kerusakan atau mencari pamor, tetapi jiwaku enggan tinggal di kota asalku kerena kaum penentang telah berjaya. Dan orang ini (adz Dzuhali maksudnya) telah menyerangku karena rasa hasud atas apa yang Allah anugerahkan kepadaku, bukan karena hal lian.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn4">[4]</a>  </p>
<p style="text-align:justify;">Imam Bukhari menyadari bahwa sikap gurunya itu lebih dialhami rasa dengki dan hasud ketimbang membela prinsip mazhab. Sebab seperti diriwayatkan para ulama bahwa Bukhari telah berusaha mengklrifikasi tuduhan itu dengan menolaknya dan menbeberkan pandangannya tentang Al Qur’an, namun tetap saja penejlasan Bukhari di majlis-majlis itu itu tidak mampu menggoyah dan mengubah sikap adz Dzuhali. Rasa hasud telah membakar jiwa adz Dzuhali. <em>Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Râji’ûn</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah kita masih sudi mempercayakan urusan agama kita kepada seorang yang digerogoti rasa dengki dan hasud sehingga berbuat kerusakan dan kejahatan?!</p>
<p style="text-align:justify;">Apa jadinya nasih Sunnah Nabi saw. jika ternyata para “Pengawal Garis Depannya” bermental buruk? Sekterian! Kaku! Haus pengarfiran sesama Muslim hanya karena masalah-masalah sepele yang tidak semestinya meminta sikap sekaras itu!?</p>
<p style="text-align:justify;">Bukankah ini juga bukti nyata betapa persengketaan di antara para imam besar Ahlusunnah telah mencapai kondisi yang sangat meprihatinkan! Memalukan! Dan mengkhawatirkan kejujuran mereka dalam menyambung lisan suci Nabi saw.!</p>
<p style="text-align:justify;">Sepertinya, sikap saling mencacat&#8230;. saling menghasud&#8230;. saling  melohok adalah hal biasa yang menjadi berita utama!</p>
<p style="text-align:justify;">Di mana kerukunan dan keharmonisan yang dilukiskan sebagian orang tentang mereka? Mana gambaran bahwa mereka cerminan Ahli Surga yang saling kasih dan hormat?</p>
<p style="text-align:justify;">Sepertinya ia hanya  angan-angan belaka!!</p>
<p style="text-align:justify;">Nantikan, saya akan menyajikan tayangan spesial tentang tokoh Hadis sentral kenamaan Ahlusunnah!</p>
<p style="text-align:justify;">
<hr size="1" /></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref1">[1]</a> dalamTadzkirah al Huffâdz,2/530-531 ketika menyebut biografi adz Dzuhali.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref2">[2]</a> Tarikh Baghdad,2/302 ketika menyebut biografi Bukhari dan Kritik Kesahihan Hadis Imam al- Bukhari; Dr. H.Muhibbin Noor, M.A.:48-50.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref3">[3]</a> Tarikh Baghdad,2/31-32 ketika menyebut biografi al Bukhari.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref4">[4]</a> Taghlîq at Ta’lîq,5/434.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/503/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/503/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/503/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=503&subd=jakfari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2009/11/07/masihkah-ahli-hadis-ahlusunnah-dapat-dipercaya-6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a64cca68ac2c1a92a502d76875fe3d31?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masihkah Ahli Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (5)</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2009/11/04/masihkann-ahli-hadis-ahlusunnah-dapat-dipercaya-5/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2009/11/04/masihkann-ahli-hadis-ahlusunnah-dapat-dipercaya-5/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 06:21:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Haulasyiah]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=494</guid>
		<description><![CDATA[Imam Ahmad ibn Hanbal
Tokoh lain yang begitu diandalkan Ahlusunnah dalam penukilan hadis dan penilaian para periwayat adalah Imam Ahmad ibn Hanbal –sala seorang pendiri empat mazhab fikih Ahlusunnah dan bapaak Mazhab Kala Sunni-.
Kedudukan Imam Ahmad di Mata Ulama Ahlusunnah
Imam Ahmad ibn Hanbal adalah salah satu tokoh sentral dalam al jarh wa at ta’dîl, seorang muhaddis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=494&subd=jakfari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Imam Ahmad ibn Hanbal</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tokoh lain yang begitu diandalkan Ahlusunnah dalam penukilan hadis dan penilaian para periwayat adalah Imam Ahmad ibn Hanbal –sala seorang pendiri empat mazhab fikih Ahlusunnah dan bapaak Mazhab Kala Sunni-.<span id="more-494"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedudukan Imam Ahmad di Mata Ulama Ahlusunnah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ahmad ibn Hanbal adalah salah satu tokoh sentral dalam <em>al jarh wa at ta’dîl</em>, seorang muhaddis besar dan imam mazhab yang terkenal. Sebagaimana perannya dalam membangun ideologi Ahli Hadis cukup signifikan. Namun demikian tidak berarti ia selamat dari kecaman dan pencacatan serta kritik tajam dari sebagian pakar ahli dan rekan sejawatnya dalam menjarah dan atau menta’dil.</p>
<p style="text-align:justify;">Abu Bakar ibn Abi Kaitsamah berkata, “Dikatakan kepada Yahya ibn Ma’in, ‘Sesungguhnya Ahmad ibn Hanbal berkata, ‘Ali ibn Ashim adalah tsiqah.’ Maka Yahya berkat, ‘Demi Allah, Ali ibn Ashim sama sekali tidak <em>tsiqah</em> menurutnya, ia-pun tidak sudi meriwayatkan darinya, lalu mengapa sakarang ia menjadi <em>tsiqah</em> menurutnya?!<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan di atas tegas-tegas menuduh Imam Ahmad tidak beras dalam menilai seorang perawi. Nimimal menurut Ibnu Ma’in!</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh lain ialah ada seorang perawi bernama ‘Âmir ibn Shâlih ibn Abdillah az Zubairi. Tentangnya:</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Ma’in berkata, “Ia <em>kadzdzâb</em>, pembohong besar.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Ad Dârulquthni berkat, “<em>Yutraku</em>, Ia ditinggalkan.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;">An Nasa’i berkata, “<em>Liasa bitsiqatin</em>, ia tidak tsiqah.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Azdi berkata, “<em>Dzâhibul hadîts</em>, lenyap hadisnya.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dzahabi berkata, “<em>Wâhin</em>, lemah.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Ady berkata, “Mayoritas hadisnya adalah hasil curian dari orang-orang tsiqah.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Abu Nu’aim berkata, “Ia meriwayatkan hadis-hadis munkar dari Hisyam ibn Urwah. Ia tidak bernilai, <em>lâ syai’</em>.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Abu Zar’ah ditanya tentangnya, ia mengatakan, “Ia banyak membawa ke<em>munkar</em>an dalam hadis.<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hibban berkata, “Ia banyak meriwayatkan hadis-hadis palsu, <em>mawdhû’ât</em> dari orang-orang kuat, <em>atsbât</em>. Tidak halal meriwayatkan hadis darinya”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar berkata, “Matrûkul hadits, ia adalah orang yang ditinggalkan hadisnya.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn11">[11]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dan al Hakim an Nisaburi berkata, “Ia meriwayatkan dari Hisyam ibn Urwah banyak hadis <em>munkar</em>.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn12">[12]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Catatan:</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Para ulama Hadis, seperti Ibnu Shalah, an Nawawi, Ibnu Hajar, Jalaluddin as Suyuthi dkk. dalam bahasan tentang <em>al jarh a at ta’dil</em> menyebutkan tingkatan-tingkatan <em>jarh </em>dan pen<em>ta’dil</em>an berikut redaksi yang akrab digunakan para ahli dalam enilai kualitas para periwayat. Tingkatan<em> jarh</em>, pencacatan pertrama adalah ketika seorang periwayat dicacat dengan redaksi-redsaksi, di antaranya sebagai berikut ini: <em>Kadzdzâb</em> (pembohong besar), <em>yakdzib, wadha’ul hadîts</em> (memalsu hadis),&#8230; . tingkatan kedua, dengan megunakan redaksi- redsaksi, di antaranya sebagai berikut ini: <em>fulân muttahamun bil kadzib aw al wadh’i</em> (si polan terduduh berbohong atau memalsu hadis),<em> fulân sâqitun </em>(polan itu gugur/jatuh),<em> fulân hâlikun </em>(si polan binasa), <em>fulân dzâhibun</em> (si polan hilang)<em>, fulân dzâhibul hadîts </em>(si polan hilang/tidak tepakai hadisnya)<em>, matrûk </em>(ditinggalkan)<em>, matrûkul hadîts </em>(hadisnya ditinggalkan)<em>, tarakûhu </em>(mereka meninggalkannya), <em>laisa bitsiqatin</em> (tidak tsiqah)<em> </em>&#8230;.<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn13">[13]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dari redaksi-redaksi pencacata dan vonis yang dijatuhkan para pakar atas ‘Amir ibn Shalih telihat dengan jelas bahwa perawi yang satu ini memiliki cacat berat, sebab redaksi-redaksi yang dipergunakan adalah redaksi penjarhan tingkat pertama dan kedua.</p>
<p style="text-align:justify;">Kendati demikian Ahmad ibn Hanbal men<em>tsiqah</em>kannya. Adz Dzahabi berkomnetar tentangnya, “Mungkin Ahmad tidak pernah meriwayatkan dari seorangpun yang lebih lemah darinya. Kemudian ia ditanya tentangnya, Ahmad menjawab, ‘Ia <em>tsiqah</em>, ia tidak berbohong.’”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn14">[14]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Pen<em>tsiqah</em>an ini membuat para pakar hadis bereaksi keras atasnya. Ahmad ibn Muhammad ibn Qasim berkata, “Yahya ibn Ma’in berkata tentang ‘Amir ibn Shalih, ‘<em>Kazdzdâb, khabîts, aduwwullah</em> (ia seorang pembohong besar, jahat dan musuh Allah).’”</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian ia melanjutkan, “Aku berkata kepada Yahya, ‘Ahmad ibn Hanbal menyampaikan hadis darinya.’ Mengapa, padahal ia mengetahui bahwa kami semua meninggalkan syeikh itu semasa hidupnya.’ Aku bertanya, ‘Mengapa mereka meninggalkannya?’ Ia menjawab, ‘Hajaj al A’war berkata, ‘Dia (‘Amir) datang kepadaku lalu menulis dariku hadis Hisyam ibn Urwah dari Abi Luhai’ah dan Laits, kemudian ia pergi dan setelahnya ia mengakui hadis itu dan meriwayatkannya langsung dari Hisyam.’”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn15">[15]</a> </p>
<p style="text-align:justify;">Para ulama menukil tamparan pedas dari Yahya ibn Ma’in atas Ahmad, ia berkata, <strong>“Ahmad telah gila! Ia meriwayatkan hadis dari ‘Amir ibn Shalih.”</strong><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn16">[16]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sikap Sektarian Imam Ahmad</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Adalah sebuah  kenyataan bahwa Imam Ahmad sangat sensitif terhadap masalah-masalah kemazhaban, khususnya setelah ia di hadapkan kepada masalah karena pendapatnya tentang Al qur’an, sehingga membentuk sikapnya dalam menilai seorang periwayat. Imam Ahmad –dengan segala hormat saya kepadanya- ketika menerjunkan diri dalam kubangan masalah: Apakah Alqur’an itu <em>qadîm</em> atau bukan, beliau menjadikan masalah ini sejajar dengan konsep tauhid atau bahkan melebihinya. Beliau menolak hadis dari seorang periwayat yang menyalahi pendapatnya dalam masalah ini. Dan sikap seperti ini tentunya merugikan Sunnah Nabi saw. Bahkan lebih jauh, Imam Ahmad menolak hadis dari seorang periwayat yang berhenti tidak memberikan pendapat apapun tentangnya, <em>al wâqif</em>. Ia mengecamnya dengan kata-kata ‘<em>wâqifi masy ûm </em>(seorang yang bersikap nentral/ tidak berbendapat apapun yang sial). Bahkan lebih jauh lagi beliau menolak hadis riwayat mereka yang terpaksa berpendapat lain di hadapan Khalifah yang memaksanya saat itu, seperti yang dialami Yahya ibn Ma’in. Ahmad berkata, “Aku tidak suka meriwayatkan dari orang yang menjawab sesuai pendapat Khalifah.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn17">[17]</a> Padahal ia mengakui bahwa kondisi itu adalah ujian berat bagi para muhaddis, <em>mihnah</em>.<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn18">[18]</a>  </p>
<p style="text-align:justify;">Adz Dzahabi melaporkan bahwa Ahmad berkata, “Aku benci menulis hadis dari periwayat yang menjawab (sesuai dengan kemauan Khalifah) dalam <em>mihnah</em> seperti Yahya dan Abu Nashr at Tammâr.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftn19">[19]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Jakfari bertkata:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Apabila perbedaan pendapat dalam masalah ini menjadi sebab kerasnya sikap dalam mencacat, kendati jelas-jelas orang yang dicacat itu jujur, lalu apa yang menjamin kita bahwa perbedan dalam masalah-masalah lain, seperti sikap tentang keadilan seluruh sahabat tanpa terkecuali, kecintaan kepada Ahlulbait as. Dan membenci musuh-mush mereka tidak dijadikan sebab pencacatan seorang perawi?! Dan adakah yang menjamin bahwa kecocokan dalam mazhab dan pendapat dengan seorang periwayat tidak menjadi sebab utama ketegesah-gesahan dalam menilai positif seorang periwayat dengan tanpa alasan yang benar?!</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref1">[1]</a> Al Jarh wa at Ta’dil,6/198 ketika menyebut biografi Ali ibn Ashim al Wâshithi, keterangan serupa dengan sedikit perbedaan dapat dilihat dalam Tahdzîb at Tahdzîb,7/304, Tahdzîb al Kamâl,20/517 dan Tarikh Baghdad,11/455.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref2">[2]</a> Adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkîn; Ibnu al Jauzi,2/72, Mîzân al I;didâl,4/17, al Mughni fi adh Dhu’afâ’:323, Tahdzîb at Tahdzîb,5/62, al Kâsyif,1/523, dan Tahdzîb al Kamâl,14/46.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref3">[3]</a> Mîzân al I;didâl,4/17, al Mughni fi adh Dhu’afâ’:323, al Kâsyif,1/523, Tahdzîb al Kamâl,14/46, Tarikh Baghdad,12/236 dan Sualât al Burqâni:50.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref4">[4]</a> Adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkîn; Ibnu al Jauzi,2/72, al Kâmil fi adh Dhu’afâ’,5/83, Tahdzîb at Tahdzîb,5/62 dan Tahdzîb al Kamâl,14/47.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref5">[5]</a> Adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkîn; Ibnu al Jauzi,2/72, Tahdzîb al Kamâl,14/47, Tahdzîb at Tahdzîb,5/62.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref6">[6]</a> Mîzân al I;didâl,4/17.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref7">[7]</a> Al Kâmil fi adh Dhu’afâ’,5/83, Tahdzîb at Tahdzîb,5/62 dan Tahdzîb al Kamâl,14/48.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref8">[8]</a> Adh Dhu’afâ’; Abu Nu’aim:124 dan Tahdzîb at Tahdzîb,5/62.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref9">[9]</a> Sualât al Burdza’i:426.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref10">[10]</a> Al Majrûhîn; Ibnu Hibbân,2/188, Adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkîn;2/72, Tahdzîb at Tahdzîb,5/62 dan Tahdzîb al Kamâl,14/48.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref11">[11]</a> Taqrîb at Tahdzîb,1/287.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref12">[12]</a> Al Madkhal Ila ash Shahih:182.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref13">[13]</a> Tawdhîh al Afkâr Lima’âni Tanqîhil Andzâr; Muhammad ibn Ismail ash Shan’ani,2/268, masalam ke 48.  </p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref14">[14]</a> Mizân al I’tidâl,4/17 dan al Mughni fi adh Dhu’afâ’:323.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref15">[15]</a> Tahdzîb al Kamâl,14/47, Mizân al I’tidâl,4/17, Tahdzîb at Tahdzîb,5/62 dan Tarikh Baghdad,12/236.  </p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref16">[16]</a>Mizân al I’tidâl,4/17 dan al Kâmil fi Dh’afâ’I ar Rijâl,5/83.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref17">[17]</a>Al ‘Atbu al Jamîl; Sayyid Muhammad ibn Aqil al Alawi asy Syafi’i:130</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref18">[18]</a>Pada akhir abad kedua Hijrah muncul perbincangan seputar masalah apakah <em>kalamullah</em> makhluk atau <em>qadim</em>. Kaum Mu&#8217;tazilah dengan dukungan Khalifah Ma&#8217;mun meyakini bahwa Al qur’an adalah makhluk. Pada tahun 212 H. Khalifah Ma&#8217;mun mengumumkan bahwa mazhab yang haq adalah bahwa Al qur’an makhluk. Sejak itu ia mengajak meyakininya dalam majlis-majlis diskusi yang ia adakan di istana kekhalifahan. Ia mengemukakan argumentasi mantap tentangnya, dan masing-masing peserta diberi kebebasan menyampaikan pendapatnya. Akan tetapi pada tahun218 H. yaitu tahun kematiannya, ia berpendapat untuk memaksa dengan kekuasaannya agar semua meyakini seperti pendapatnya. Ia menulis sepucuk surat kepada gubenur kota Baghdad; Ishaq bin Ibrahim berisikan pendapatnya tentang Al qur’an dan meminta semua meyakininya. Maka Ishaq bercepat-cepat melaksanakan perintah tersebut dan mengumpulkan para ulama&#8217; dan merekapun menyatakan sependapat dengan Khalifah Ma&#8217;mun, kecuali empat ulama&#8217;: Ahmad bin Hambal, Muhammad bin Nuh, Al Waqariri dan Sajadah, mereka bertahan mengatakan bahwa Al qur’an bukan makhluk. Atas sikap mereka, mereka di borgol. Dan kemudian dua dari mereka menyerah dan mengikuti pendapat Khalifah Ma&#8217;mun sementara dua lainnya, yaitu Ahmad dan Muhammad bin Nuh bertahan. Keduanya di giring ke kota Thurthus untuk di hadapkan kepada Khalifah Ma&#8217;mun, dan di tengah jalan Muhammad bin Nuh meninggal dunia. Dan sebelum Imam Ahmad sampai dan di hadapkan kepada Khalifah Ma&#8217;mun, sang Khalifah mati dan berwasiat kepada penerusnya agar berjalan atas kebijakan yang sama. Dan Khalifah Al Mu&#8217;tashim kemudian Al Watsiq berkuasa sepeninggal Ma&#8217;mun dan merekapun menempuh kebijakan yang sama. Seperti telah di singgung bahwa Ahli hadis, dan di Bârisan terdepan mereka adalah Imam Ahmad bin Hambal adalah kelompok yang menyakini bahwa <em>kalamullah</em> adalah bukan makhluk. Ia menanggung berbagai penderitaan dalam mempertahankan keyakinannya. Ia menyakini konsep tersebut walaupun tidak ada nash tentangnya baik dari Nabi saw. maupun dari para sahabat. Memang pada awalnya ia menyakini bahwa berbicara seputar masalah itu adalah bid&#8217;ah akan tetapi setelah topan fitnah berlalu dengan kematian para penguasa Abbasiyah yang memaksa para ulama&#8217; menyakini bahwa Al qur’an adalah makhluk\haadits, dan lahirlah era baru -sepeninggal Khalifah Ma&#8217;mun dan dua penerusnya; Khalifah Al Mu&#8217;tashim kemudian Al Watsiq- di bawah kekhilafahan Al Mutawakil yang bertolak belakang dengan para pendahulunya serta mendukung pandangan Imam Ahli hadis, dan meminta Imam Ahmad untuk mengemukakan pandangannya tentang Al qur&#8217;an, beliau menegaskan bahwa ia bukan makhluk, kendati demikian- kata Abu Zuhrah- tidak pernah di nukil dari Ahmad bahwa beliau mengatakan bahwa Al qur’an itu qadim. (<em>Tarikh Al Madzahib Al Islamiah</em>:300.) Dan apabila kita menengok sejarah kebelakang, maka kita akan menemukan bahwa masalah Al qur’an bukan makhluk itu telah muncul di abad kedua Hijrah. Orang pertama yang mengatakannya adalah Ja&#8217;ad bin Dirham hanya saja pendapat itu terpendam hingga masa Khalifah Ma&#8217;mun. Komentataor kitab Al Ushul Al Khamsah karya Abdul Jabbar mengatakan: pembicaraan seputar Al qur’an dan Kalamullah adalah salah satu masalah penting yang di hadapi para pemikir Islam. Ia telah menimbulkan kekacauan besar di tengah-tengah Bârisan para ulama&#8217; dan kaum awam dan terkait dengan sebuah bencana besar yang di kenal dengan bencana Imam Ahmad bin Hambal. Slogan kedua teori itu ialah “Apakah Al qur’an itu makhluk atau bukan makhluk?”. Kelompok Mu&#8217;tazilah berada di Bârisan yang mengumandangkan konsep Al qur’an makhluk, mereka merangkul kedalam Bârisan mereka Kahlifah agung yaitu Ma&#8217;mun dan seorang adi patih agung yaitu Ahmad bin Abi Daud. Dalam perselisihan itu banyak yang menjadi korban dan mereka yang meyakini bahwa Al qur’an itu bukan makhluk bertahan di atas pendapat mereka, mereka tidak menikmati sedikitpun urusan pemerintahan. Dan mereka yang meyakini bahwa Al qur’an adalah makhluk mulai mundur teratur di bawah tekanan massa dan Imam Ahmad bin Hambal keluar dari kemelut bencana sebagai pemenang dan contoh model keteguhan dalam mempertahankan keyakinan\akidah. Sebagaimana kelompok Mu&#8217;tazilah dengan sikap mereka dan usaha mereka untuk memaksa manusia meyakni seperti keyakinan mereka menampilkan contoh buruk campur tangan dalam masalah pemikiran, padahal mereka adalah penganjur kebebasan berfikir. (<em>Al Ushûl Al Khamsah</em>:527).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/post-new.php#_ftnref19">[19]</a> Mizân al I’tidâl,7/222 ketika menyebut biografi Yahya ibn Ma’in.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/494/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=494&subd=jakfari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2009/11/04/masihkann-ahli-hadis-ahlusunnah-dapat-dipercaya-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a64cca68ac2c1a92a502d76875fe3d31?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Salafiyah Wahhabiyah Pelanjut Misi Sesat Kaum Nawâshib ! (1)</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/21/salafiyah-wahhabiyah-pelanjut-misi-sesat-kaum-nawashib/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/21/salafiyah-wahhabiyah-pelanjut-misi-sesat-kaum-nawashib/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 02:22:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis Palsu Keutamaan Abubakar & Umar]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Haulasyiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=485</guid>
		<description><![CDATA[Persembahan Untuk Blog haulasyiah 

Tidak ada kebencian terhadap keluarga suci Nabi Muhammad saw. yang ditampakkan kelompok yang mengaku Muslim melebihi kebencian kaum Nawâshib, baik al Bakriyyah al Utsmaniyyah maupun kaum Khawârij. Sejarah mencatat bahwa tidak sedikit dari mereka yang menyelinap di tengah-tengah umat Islam dengan menyembunyikan identitas mereka sesungguhnya, namun demikian kebusukan akidah dan jiwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=485&subd=jakfari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://haulasyiah.wordpress.com/2007/08/06/isyarat-rasulullah-abu-bakar-sebagai-khalifah-bantahan-syubuhat-syiah-ke-5/" target="_blank"><strong>Persembahan Untuk Blog haulasyiah</strong><strong> </strong></a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Tidak ada kebencian terhadap keluarga suci Nabi Muhammad saw. yang ditampakkan kelompok yang mengaku Muslim melebihi kebencian kaum Nawâshib, baik al Bakriyyah al Utsmaniyyah maupun kaum Khawârij. Sejarah mencatat bahwa tidak sedikit dari mereka yang menyelinap di tengah-tengah umat Islam dengan menyembunyikan identitas mereka sesungguhnya, namun demikian kebusukan akidah dan jiwa mereka sulit mereka sembunyikan, sebab sepandai-pandai seorang menyembunyikan bangkai di kantungnya toh pasti akan terciaum juga cepat atau lambat! Kebusukan mental dan jiwa mereka akan tercium melalui kata-kata yang terlontar atau sikap sinis yang tampak dari mereka</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-485"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kebencian kepada Imam Ali as. adalah bukti kuat kemunafikan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam banyak hadis, Nabi menyabdakan:</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Muslim dan lainnya meriwayatkan dari Zirr ibn Hubaisy, ia berkata, “Aku mendengar Ali as. bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">
<h2 style="text-align:right;"><strong>وَ الذِي فَلَقَ الْحَبَّةَ و بَرَأَ النَّسَمَةَ إنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِيِّ الأُمِّيْ أَنَّهُ : لاَ يُحِبُّنِيْ إلاَّ مُؤْمِنٌ ولاَ يُبْغِضُنِيْ إلا مُنافِقُ.</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Demi Dzat Yang membelah biji-bijian dan menciptakan makhluk bernyawa, ini adalah ketetapan Nabi yang Ummi kepadaku bahwa tiada mencintaiku kecuali mukmin dan tiada membenciku kecuali munafik.”</em><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1"> [1]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Allah SWT akan membongkar kedok kemunafikan mereka melalui apa yang terlontar dari mulut-mulut mereka yang mencerminkan kebusukan hati mereka. Allah berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;">
<h2 style="text-align:right;"><strong>أَمْ حَسِبَ الَّذينَ في‏ قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغانَهُمْ * وَ لَوْ نَشاءُ لَأَرَيْناكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسيماهُمْ وَ لَتَعْرِفَنَّهُمْ في‏ لَحْنِ الْقَوْلِ وَ اللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمالَكُمْ.</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka.* Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” </em>(QS. Muhammad [47]:29-30)</p>
<p style="text-align:justify;">Imam <em>Jalaluddin as Suyuthi</em> meriwayatkan dalam tafsir <em>ad Durr al Mantsûr</em>-nya <a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2">[2]</a> ketika menafsirkan ayat di atas beberapa hadis di antaranya:</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu ‘Asâkir dan Ibnu Murdawaih meriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id al Khudri ra. ia berkata tentang ayat:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>وَ لَتَعْرِفَنَّهُمْ في‏ لَحْنِ الْقَوْلِ</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ia berkata, <em>“Dengan kebenciannya kepada Ali ibn Abi Thalib.”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dan kaum munafik adalah penghuni tetap neraka Jahannam.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;">
<h2 style="text-align:right;"><strong>إِنَّ الْمُنافِقينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَ لَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصيراً إِلاَّ الَّذينَ تابُوا وَ أَصْلَحُوا وَ اعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَ أَخْلَصُوا دينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنينَ وَ سَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنينَ أَجْراً عَظيماً</strong><strong>.</strong><em> </em></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.* Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”</em>(QS. An Nisâ’[4]:145-146)<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ulama Islam Telah Membongkar Kemunafikan Kaum Nawâshib!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Para ulama Islam, baik Sunni maupun Syi’ah telah membongkar kedok kemunafikan dan penyimpangan kaum Nawâshib. Mereka bukan Sunni apalagi Syi’ah! Ulama Sunni sendiri menolak jika mereka digolongkan sebagai Ahlusunnah! Lebih dari itu, mereka adalah kelompok terkecam!</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa abad silam ajaran menyimpang dan kesesatan kaum Nawâshib mulai dihidupkan dan disebar-luaskan kembali oleh <em>Ibnu Taimiyah </em>dan murid-murid setiapnya seperti<em> Ibnu Qayyim, adz Dzahabi dkk.</em> Dan kini tonggak obor estafet itu direbut oleh kaum <em>Salafiyah Wahabiyah</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan semangat berkobar-kobar mereka bangkit menghidupkan kembali dan menyebar-luaskan kesesatan kaum <em>Nawâshib</em> dengan berkedok ajaran sesat mereka adalah ajaran <em>Ahlusunnah wa al Jama’ah</em>. Aktifitas mereka juga tertuju kepada pendha’ifan dan menvonis <em>maudhû’</em>/palsu hadis-hadis keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait Nabi saw. dengan berbagai alasan yang mengada-ngada. Di samping yang tidak mereka lewatkan adalah membela mati-matian musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as., seperti Mu’awiyah. Yazid, Amr ibn al ‘Âsh dkk.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti telah kami singgung bahwa di antara cara licik dan licin mereka adalah mempoles pandangan sesat kaum <em>Nawâshib </em>sebagai yang mewakili pandangan Sunni. Dalam rangka ini mereka tidak segan-segan memalsu atas nama tokoh-tokoh Salaf!</p>
<p style="text-align:justify;">Blog Nawâshib: <strong><em>haulasyiah</em></strong> menurunkan artikel berjudul: <a href="http://haulasyiah.wordpress.com/2007/08/06/isyarat-rasulullah-abu-bakar-sebagai-khalifah-bantahan-syubuhat-syiah-ke-5/" target="_blank">( ISYARAT RASULULLAH ABU BAKAR SEBAGAI KHALIFAH, bantahan syubuhat syi’ah ke 5 )</a> untuk menghidupkan kembali kesesatan pandangan kaum Nawâshib yang telah setangan terkubur itu. Di dalamnya oleh <em><strong>Ustadz Muh. Umar as Sewed </strong></em>berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Para ulama telah berbeda pendapat tentang bagaimana pengangkatan Abu Bakar ash-Shidiq sebagai khalifah. Apakah pengangkatan tersebut ditentukan dengan nash secara langsung dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam atau dilakukan dengan musyawarah antara kaum muslimin. Sebagian ulama berpendapat bahwa pengangkatan beliau sebagai khalifah ada lah hasil dari musyawarah dari kaum muslimin ketika itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan Hasan al-Bashri dan sebagian para ulama dari kalangan ahlul hadits berpendapat bahwa terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah adalah dengan nash yang samar dan isyarat dari rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. (Lihat<em> Syarh Aqidah ath-Thahawiyah</em>, hal. 471)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Ibnu Jakfari berkata:</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang ia katakan itu tidak berdasar dan hanya kaum Nawashib lah yang meyakini  keyakinan seperti itu. Umat Islam selain Nawâshib hanya meyakini salah satu dari dua opsi dalam masalah kekhilifahan sepeninggal Nabi Muhammad saw.:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Nabi telah menunjuk Imam Ali as. sebagai Imam dan Khalifah sepeninggal beliau secara langsung dengan penunjukan terang dan tegas!</li>
<li>Nabi saw, tidak menunjuk siapa-siapa. Abu Bakar dipilih oleh kaum Muslim saat itu berdasarkan musyawarah/baiat. Tidak ada penunjukan atasnya sama sekali.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Yang meyakini adanya menunjukan hanya kaum Nawâshib. Mereka tidak segan-segan memalsu banyak hadis atas nama Nabi Muhammad saw. untuk menandingi hadis-hadis keutamaan dan penujukan Imam Ali as., yang kemudian hadis-hadis palsu itu mereka sebar-luaskan di tengah-tangah umat Islam!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ahlusunnah Sepakat Tidak Ada Nash Penujukan Atas Abu Bakar!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hal mendasar yang akan membubarkan angan-angan kaum Nawâshib, seperti pendiri sekte sempalan Wahhabiyah dan para mukallidnya dalam hal ini adalah: bahwa termasuk hal yang telah disepakati para pembesar ulama Ahlusunnah adalah bahwa Nabi saw. tidak pernah menujuk siapa Khalifah sepeninggal beliau saw.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada sebuah stitmen penting dan mendasar yang disampaikan Umar –selaku Khalifah kedua- ketika ia diminta para sahabat untuk menunjuk seorang Khalifah yang akan mengantikan posisinya setalah mati nanti, maka ia berkata, <em>”Jika aku tidak menunjuk seorang pengganti maka ketahuilah bahwa Rasulullah juga tidak menunjuk seorang pengganti dan jika aku menunjuk maka Abu Bakar telah menunjuk.” </em><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dan di saat-saat terakhir menjelang kematiannya, ketika ada yang mengatakan kepadanya, <em>“Jangan Anda biarkan umat Muhammad tanpa pengembala, tunjuklah seorang pemimpin!”</em> Umar ibn al Khaththâb menjawab, <em>“Jika aku membiarkan maka ketahuilah bahwa orang yang lebih baik dariku </em>(Rasulullah saw. maksudnya)<em> telah membiarkan dan jika aku menunjuk seorang pengganti maka sesungguhnya seorang yang juga lebih baik dariku </em>(Abu Bakar maksudnya)<em> telah menunjuk.” </em><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4">[4]</a><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Selain bukti di atas, Anda dapat menemukan bagaimana Abu Bakar -selaku Khalifah pertama- juga berandai-andai jika ia dahulu bertanya kepada Rasulullah saw. siapa yang berhak atas jabatan kekhalifahan ini dan apakah kaum Anshar memiliki hak untuk menjabat  atau tidak? Abu Bakar berkata, <em>“Saya ingin andai dahulu aku bertanya kepada Rasulullah untuk siapa perkara (khilafah) ini sehingga ia tidak direbut oleh seorang pun yang bukan ahlinya? Aku ingin andai aku bertanya, apakah orang-orang Anshar mempunyai hak dalam perkara ini?” </em><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5">[5]</a><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Al hasil, banyak sekali bukti akan hal itu, akan tetapi jika Anda hanya mau patuh dan mendengar ucapan ulama, maka kami akan sebutkan pernyataan tegas seorang tokoh tersohor Ahlusunnah di bawah ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika berusaha menegakkan bukti keabsahan Khilafah Abu Bakar, <em>Imam al Qusyji</em> mewakili pandangan Ahlusunnah mengatakan demikian, “<em>Al Maqshad</em> Keempat tentang Imam (Khalifah) yang <em>haq</em> sepeninggal Rasulullah saw.. menurut kami (Ahlusunnah) adalah Abu Bakar, sedangkan menurut Syi’ah adalah Ali ra.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dalil kami adalah dua:</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Pertama: </em>Cara penunjukan seorang Imam (Khalifah) bisa dengan <em>nash</em> (penunjuan langsung) bisa dengan <em>ijmâ’</em>. <strong><span style="text-decoration:underline;">Adapun nash sama sekali tidak ada,</span></strong> seperti akan dijelaskan nanti, sedangankan <em>ijmâ’</em> tidak terjadi untuk selain Abu Bakar secara aklamasi…. “<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin Ustadz as Sewed kurang mengenal dan tidak akrab dengan buku-buku teologi Ahlusunnah Asy’ariyyah yang ditulis para ulama dan tokoh mereka, sebab bisa jadi sang Ustadz mulia hanya akrab dengan kitab-kitab kaum Nawâshib dan musuh-musuh Ahlusunnah Asy’ariyah seperti <em>Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, adz Dzahabi, Ibnu Abdil Wahhab, Abdul Aziz ibn Bâz </em>dan <em>Ibnu Utsaimin Cs.</em> yang menggolongkan Asya’ariyah termasuk kelompok sesat!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hanya Kaum Nawâshib Yang Meyakini Penunjukan Abu Bakar Sebagai Khalifah!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jika demikian, lalu kelompok manakan yang meyakini keyakinan sesat seperti itu?</p>
<p style="text-align:justify;">Keterangan ulama Ahlusunnah di bawah ini akan menjawabnya. Perhatikan!</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kitab<em> al Mawâqif </em>dan Syarahnya ditegaskan:</p>
<p style="text-align:justify;">
<h2 style="text-align:right;"><strong>الإمام الْحقُّ بعد النبي (ص) أبو بكر، ثبتَتْ إمامتُهُ بالإجماعِ وَ إنْ تَوقَّفَ بعضُهم &#8230; و لَم ينُصَّ رسول اللهِ (ص) علَى أحَدٍ خِلافًا لِلْبَكْرِيَّةِ، فَإنهم زَعَمُوا النصَّ على أبِي بكر&#8230;. إِمَّا نَصًّا جَلِيًّا و إما نَصًّا خَفِيًّا، و الْحقُّ عِنْدَ الْجُمهور نَفْيُهُما</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Imam (Khalifah) yang benar/haq sepeninggal Nabi saw. adalah Abu Bakar. Keimamahannya telah tetap dengan dasar ijmâ’, walaupun ada sebagian orang sahabat menahan diri tentangnya (tidak mengakuinya)</em><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn7">[7]</a><em>… Rasulullah saw. tidak menunjuk seorang pun, berbeda dengan kaum al Bakriyah, mereka mengaku adanya nash (penunjukan) atas Abu Bakar….  Baik nash terang maupun nash samar. Dan yang benar adalah pendapat Jumhur yaitu tidak adanya nash dari dua bentuk tersebut!</em>“<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataaan serupa juga ditegaskan oleh <em>al Munnâwi </em>dalam <em>Faidhul Qadîr</em>-nya.<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Maka jelaslah sekarang bahwa kaum Nawâshib (al Bakriyah) lah di balik kesesatan pandangan yang ditegakkan di atas hadis-hadis palsu itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika demikian, dari hidangan siapakah <em>as Sewed</em> dan kaum Nawâshib modern menelan fitnah tersebut?</p>
<p style="text-align:justify;">Bukti di bawh ini akan memperjelas bahwa tidak lain mereka menelan fitnah ini dari gembong kaun <em>Nawâshib </em>abad pertengahan yang kini selalu menjadi andalan dan rujukan utama mereka… Dia tidak lain adalah <strong><em>Ibnu Taimyah</em></strong>, hamba sesat lagi menyesatkan seperti ditegaskan para ulama Ahlusunnah!</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika <em>Allamah al Hilli</em> (semoga rahmat Allah meliputinya) dalam kitab <em>Minhâj al Karâmah</em>-nya mengatakan bahwa dalam pandangan Ahlusunnah diyakini bahwa Nabi saw. tidak menunjuk siapa-siapa, Ibnu Taimiyah bangkit membantah dengan mengatakan:</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>لِيْسَ</strong><strong> </strong><strong> </strong><strong>هذَا قَولَ جِمِيعِهِم، بل قد ذهبَتْ طوائِفُ مِن أهلِ السُّنَّةِ إلَى أنَّ إمامةَ أبِي بكر ثَبَتَتْ بالنَّصِّ.</strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Tidak benar pendapat itu sebagai pendapat seluruh Ahlusunnah. akan tetapi ada beberapa kelompok dari Ahlusunnah yang berpendapat bahwa imamah (khilafah) Abu Bakar telah tetap berdasarkan nash.”</em><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn10"> [10]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang dikatakan Ibnu Taimyah di atas jelaslah palsu! Ibnu Tamiyah jelas-jelas memalsu keterangan adanya kelompok-kelompok di dalam tubuh Ahlusunnah yang menyakini adanya nash penunjukan atas Abu Bakar! Sebab Ahlusunnah sepakat tidak adanya nash penunjukan atas Abu Bakar!</p>
<p style="text-align:justify;">Dan dengan demikian terbongkarlah sudah kedok sok Sunni yang sedang dilakonkan kaum Nawâshib seperti as Sewed Sc… sebab terbukti sekarang bahwa sumber rujukan pemalsuan data tersebut adalah Ibnu Taimiyah; seorang yang telah dikecam bahkan divonis sesat dan munafik oleh banyak ulama Sunni.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentang <em>Ibnu Tamiyah</em>; Imam kaum Salafiyah Nawâshib yang satu ini, <strong><em>al Hâfidz Ibnu Hajar al Asqallâni </em></strong><span style="color:#0000ff;">berkata:</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><br />
</span></p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>ومنهم من ينسبه الى الزندقة، لقوله ان النبي لا يستغاث به، وان في ذلك تنقيصا و منعا من تعظيم النبي، ومنهم من ينسبه الى النفاق لقوله في علي ما تقدم، ولقوله انه كان مخذولا حيثما توجه، وانه حاول الخلافة مرار فلم يحصلها، انما قتاله للرئاسة لا للديانة. </strong></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan di antara ulama Islam ada yang menisbatkannya (Ibnu Taimiyah) kepada kakafiran karena ucapannya bahwa Nabi tidak layak diistighatsai. Ucapan itu adalah penghinaan dan larangan untuk mangagungkan Nabi. <strong><span style="text-decoration:underline;">Dan di antara ulama ada yang menisbatkannya kepada kemunafikan karena ucapannya yang lalu dan ucapannya bahwa Ali selalu dihinakan Allah kemanapun ia menuju. Dan ia (Ali) terus-menerus merusaha merebut Khilafah tetapi tidak pernah berahasil. Ali berperang hanya untuk merebut kekuasaan bukan untuk menegakkkan agama.</span></strong><strong>”</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Dengan demikian, akan lebih jujur jika kaum Salafiyah Nawâshib tidak berbicara mengatas-namakan Ahlusunnah wa Al Jama’ah, sebab mereka bukan Ahlusunnah! Mereka adalah Nawâshib!</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jika Benar Demikian Berarti Hasan Bashri Bukan Sunni Dia Nâshibi!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti telah disinggung bahwa kaum <em>Nawâshib</em> tak segan-segan memalsu atas nama tokoh-tokoh penting generasi pendahulu untuk menipu kaum awam bahwa kesesatan mereka sebenarnya berlebel “Salafi” yang diambil dari pandangan kaum Salaf Shaleh!</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kasus ini nama<em> Hasan al Bashri</em>; seorang tokoh ternama generasi <em>tabi’în</em> mereka bawa-bawa!</p>
<p style="text-align:justify;">Jika benar apa yang mereka sebutkan, pastilah <em>Hasan al Bashri</em> bukan seorang Sunni atau yang boleh dan laik ditokohkan oleh Ahlusunnah, sebab dengan pandangannya itu ia tergolong al Bakriyah! Apakah itu yang hendak disimpilkan oleh kaum Nawâshib?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penutup</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk sementara kami cukupkan tanggapan kami atas ustadz as Sewed, semoga dalam kesempatan lain kami kembali membuktikan penyimpangan dan kesalahan kaum Nawâshib; musuh-musuh Ahlulbait as. dan Syi’ah setia mereka. <em>Amâin</em>. <em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Wa Shallallahu ‘Alâ Sayyidina Muhammad Wa Âlihi ath Thâhirîn.</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1">[1]</a> Hadis telah diriwayatkan oleh:</p>
<p style="text-align:justify;">1)      Imam Muslim dalam <em>Shahih</em>nya</p>
<p style="text-align:justify;">2)      An Nasa’i dalam <em>Sunan</em>nya dengan dua jalur dan dalam <em>Khashâish</em>nya dengan tiga jalur: hadis 95,96 dan 97, yang semuanya sahih berdasarkan komentar Abu Ishaq al Hawaini (korektor kitab <em>Khashâish</em>), terbitan Saudi Arabia.</p>
<p style="text-align:justify;">3)      At Turmudzi dalam <em>Sunan</em>nya,<em> Manâqibu Ali</em>, bab 95 (Tuhfatu al Ahwadzi,10/239-230) dan ia berkata: “Hadis ini hasan sahih.”</p>
<p style="text-align:justify;">4)      Ibnu Mâjah dalam <em>Shahih</em>nya, bab Fadhlu Ali ibn Abi Thalib ra.,1/42, hadis114. Ia hadis pertama dalam bab itu.</p>
<p style="text-align:justify;">5)      Ibnu Abi ‘Âshim dalam kitab <em>Sunnah</em>nya,2/598.</p>
<p style="text-align:justify;">6)      Abu Nu’aim dalam Hilyatu al Awliyâ’, 4/185 dari tiga jalur dari Adiy ibn Tsâbit dari Zirr, kemudian ia berkata, “Hadis ini <em>muttafaqun ‘alaih</em> (disepakati kesahihannya)”. Setelahnya ia menyebutkan banyak ulama yang meriwayatkan dari Adiy.</p>
<p style="text-align:justify;">7)      Al Muttaqi al Hindi dalam <em>Kanz al ‘Umâl</em>nya, 6/394 dan ia berkata, “Hadis ini telah dikeluarkan oleh Al Humaidi, Ibnu Abi Syaibah, Ahmad ibn Hanbal, Al Adani, At Turmudzi, An Nasa’i, Ibnu Mâjah, Ibnu Hibbân, Abu Nu’aim dan Ibnu Abi ‘Âshim.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2">[2]</a> Ad Durr al Mantsûr,6/54.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3">[3]</a> Baca Shahih Bukhari,9/100, pada <em>Kitabu al Ahkâm</em>, Bab<em> al Istikhlâf</em> dan Shahih Muslim, 3/1454 bab <em>al Istikhlâf wa tarkihi</em>,  Hilyah al Auliyâ&#8217;,1\44, as Sunan al Kubrâ, 8\149 dll.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4">[4]</a> Murûj adz Dzahab; as Mas’udi,:2\253. Dâr al Fikr.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5">[5]</a> Tarikh ath Thabari:4\53dan al Iqd al Farîd,2\254.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref6">[6]</a> Al Mawâqif Fi Ilmi al Kalâm; Qadhi ‘Adhududdîn Abdurahman ibn Ahmad al Îji:400. cet. ‘Alamul Kotob, Bairut.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref7">[7]</a> Seperti Sa’ad ibn Ubadah –seorang tokoh sentral kaun Anshar dan putra-putranya yang hingga wafat secara mesterius ia tetap menolak mengakui kekhalifahan Abu Bakar. Demikian juga dengan Siti Fatimah –putri kesayangan Nabi saw. dn istri Imam Ali as. hingga beliau wafat tetap menolak mengakui keabsahan kekhalifahan Abu Bakar! Sebagian kaum Nâwashib tidak segan-segan menyerang dan menghujat serta menuduh Sa’ad sebagai <em>rajulun sû’ </em>(seorang yang busuk) lagi munafik. Sedang tentang Siti Faitmah as. saya tidak mengetahui hingga saat ini bagaimana sikap kaum Salafiyah Nawâshib terhadap beliau as.? Apakah mereka juga menvonisnya mati jahiliah sebab tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar? Atau mereka akan mengada-ngada kepalsuan dengan mengatakan bahwa Fatimah adalah orang wanita pertama yang membaiat dan mengakui serta merestui kekhalifahan Abu Bakar!!</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref8">[8]</a> Syarah al Mawâqif,8/354.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref9">[9]</a> Faidhul Qadîr,2/56, ketika menerangkan hadis nomer:1318-1310. terbitan Dâr al Ma’rifah. Bairut-Lebanon.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref10">[10]</a> Minhâj as Sunnah; mIbnu Taimyah,1/487.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/485/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/485/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/485/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/485/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/485/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/485/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=485&subd=jakfari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/21/salafiyah-wahhabiyah-pelanjut-misi-sesat-kaum-nawashib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a64cca68ac2c1a92a502d76875fe3d31?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lima Belas Bukti Palsu Khilafah Abu Bakar (9)</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/12/lima-belas-bukti-palsu-khilafah-abu-bakar-9/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/12/lima-belas-bukti-palsu-khilafah-abu-bakar-9/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 06:38:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis Palsu Keutamaan Abubakar & Umar]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis Palsu Keutamaan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Haulasyiah]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Sidogiri]]></category>
		<category><![CDATA[Sikap Neo Nawashib Terhadap Hadis Fadhail Ahlulbait as.]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=467</guid>
		<description><![CDATA[Persembahan Buat Kaum Salafiyah Wahhabiyah dan Blog Haulasyiah!
Kisah Abu Bakar Menjadi Imam Shalat Di Hari-hari Akhir Hidup Nabi saw. adalah Kisah Kepalsuan
Tak henti-hentinya saudara-saudara kami Ahlusunnah, dan khususnya yang Nawâshib di antara mereka, di antaranya adalah Pendiri Sekte Wahhabiyah dan kaum Wahabi …. Tak henti-hentinya mereka berdalil dengan kasus ditunjuknya Abu Bakar menjadi imam shalat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=467&subd=jakfari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Persembahan Buat Kaum Salafiyah Wahhabiyah dan <a href="http://haulasyiah.wordpress.com/2007/08/06/isyarat-rasulullah-abu-bakar-sebagai-khalifah-bantahan-syubuhat-syiah-ke-5/" target="_blank">Blog Haulasyiah!</a></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kisah Abu Bakar Menjadi Imam Shalat Di Hari-hari Akhir Hidup Nabi saw. adalah Kisah Kepalsuan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tak henti-hentinya saudara-saudara kami Ahlusunnah, dan khususnya yang Nawâshib di antara mereka, di antaranya adalah Pendiri Sekte Wahhabiyah dan kaum Wahabi …. Tak henti-hentinya mereka berdalil dengan kasus ditunjuknya Abu Bakar menjadi imam shalat di hari-hari akhir kehidupan Nabi saw. bahwa sebenarnya penunjukan itu oleh Nabi saw. adalah sebuah isyarat atau bahkan dianggap sebagai penunjukan samar/khafiy atas kekhalifahan Abu Bakar…<span id="more-467"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi, semua itu tidak berdasar… di sampan peristiwa penujukan itu adalah palsu!</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Abdil Wahhab berkata:</p>
<h2 style="text-align:justify;">وما صح من أمره صلى الله عليه وسلم أبا بكر في مرض موته بإمامة الناس وهذا التقديم من أقوى إمارات حقيقة خلافة الصديق وبه إستدل أجلاء الصحابة كعمر وأبي عبيدة وعلي رضي الله عنهم أجمعين.</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan apa yang telah shahih bahwa Nabi saw. di waktu sakit kematiannya memerintah Abu Bakar untuk  memimpin shalat. Dan pengajuan itu adalah isyarat terkuat akan hakikat Khilafahnya ash Shiddîq (Abu Bakar). Dan dengannya para pembesar sahabatseperti Umar, Abu Ubaid dan Ali ra. berdalil.” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam <a href="http://haulasyiah.wordpress.com/2007/08/06/isyarat-rasulullah-abu-bakar-sebagai-khalifah-bantahan-syubuhat-syiah-ke-5/" target="_blank">blog haulasyiah,</a> seorang pendekar Wahabiyah juga membanggakan dalil di atas dan mendendangkan nyanyian lama tanpa meneliti dan memerhatikan kepalsuannya&#8230; seakan mereka bersepakat untuk bergantung di atas lumut demi menyelamatkan doqma klasik mazhabnya&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://haulasyiah.wordpress.com/2007/08/06/isyarat-rasulullah-abu-bakar-sebagai-khalifah-bantahan-syubuhat-syiah-ke-5/" target="_blank"><strong>Ust. Muhammad Umar As-Sewed </strong>berkata:</a></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">“Dalil-dalil yang menunjukkan akan adanya isyarat secara tidak langsung (bukan wasiat) dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang mengisyaratkan bahwa Abu Bakarlah yang lebih pantas menjadi khalifah sangat banyak. Isyarat-isyarat tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dipilih sebagai imam Shalat pengganti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hadits-hadits yang menunjukkan diperintahkannya Abu Bakar untuk memimpin shalat menggantikan Rasulullah, shalallahu ‘alaihi wasallam sangat masyhur. Salah satu di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abi Musa radhiallahu ‘anhu berikut:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>مَرِضَ رَسُولُ اللَّهِ فَاشْتَدَّ مَرَضُهُ فَقَال مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فَقَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ رَقِيقٌ مَتَى يَقُمْ مَقَامَكَ لاَ يَسْتَطِعْ أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ فَقَالَ مُرِي أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فَإِنَّكُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ قَالَ فَصَلَّى بِهِمْ أَبُو بَكْرٍ حَيَاةَ رَسُولِ اللَّهِ. </strong><strong>]</strong><strong>متفق عليه) </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sakit parah beliau berkata: “Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami manusia”. Maka berkatalah Aisyah: “Ya Rasulullah sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang laki-laki yang amat perasa (mudah menangis). Bagaimana dia akan menggantikan kedudukanmu, dia tidak akan mampu untuk memimpin manusia”. Rasulullah berkata lagi: “Perintahkanlah Abu Bakar untuk mengimami manusia! Sesungguhnya kalian itu seperti saudara-saudaranya nabi Yusuf.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1">[1]</a> Abu Musa berkata: maka Abu Bakar pun mengimami shalat dalam keadaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam masih hidup. (HR. Bukhari Muslim)”</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudina selanjutnya ia menyebutkan beberapa dalil yang telah kami bantah habis dalam edisi-edisi yang telah lewat.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://haulasyiah.wordpress.com/2007/08/06/isyarat-rasulullah-abu-bakar-sebagai-khalifah-bantahan-syubuhat-syiah-ke-5/" target="_blank">http://haulasyiah.wordpress.com/2007/08/06/isyarat-rasulullah-abu-bakar-sebagai-khalifah-bantahan-syubuhat-syiah-ke-5/</a></p>
<p style="text-align:justify;">
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Jakfari berkata:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah penelitian panjang terhadap riwayat-riwayat yang dijadikan dalil oleh Syeikh Ibnu Abdil Wahhabdan kaum nawâshib Wahhâbiyah, dan pembuktian bahwa dalil-dalil tersebut tidak mampu bertahan di hadapan kritik dan pembuktian akan kepalsuannya, maka di sini tidak tersisa dari dalil yang diandalkan Syeikh kecuali berhujjah dengan shalat Abu Bakar di hari-hari akhir hidup Nabi saw. &#8230; Dan adapun klaimnya bahwa para pembesar sahabat, di antaranya Imam Ali as. telah berhujjah dengannya untuk membuktikan keabsahan Khilafah Abu Bakar adalah sebuah kepalsuan lain yang tidak akan mampu ia buktikan di hadapan kajian ilmiah&#8230; ia hanya sebuah kepalsuan yang diatas namakan Imam Ali as. oleh para pemalsu yang sektarian demia membela doktrin mazhabnya. Sebab jika benar, lalu mengapa Imam Ali as. enggan memberikan baiat untuk Abu Bakar bahkan menentangnya selamma enam bulan, seperti diriwayatkan dalam berbagai riwayat shahih, di antaranya oleh Imam Bukhari?!</p>
<p style="text-align:justify;">Semua itu tidak berdasar, dan hanya kepalsuan belaka!!</p>
<p style="text-align:justify;">Adapan mengaitkan-ngaitkan antara menjadi imam shalat (yang disitilahkan dengan <em>imamah</em> <em>shughrâ</em>) dengan kekhalifahan (yang disitilahkan dengan <em>imamah</em> <em>kubrâ</em>) adalah kesimpulan yang mengada-ngada, dan hanya dilontarkan oleh kaum jahil yang tidak mengerti permasalahan Khilafah/Imamah Kubra dalam teoloqi Islam, khususnya teoloqi Ahlusunnah wal Jama’ah! Sebab:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Pertama: </em>Para ulama Sunni sendiri telah mengakui tidak adanya relevansi antara menjadi imam dalam shalat dan menjabat sebagai Khalifah, sebab ia adalah dua masalah yang sangat berbeda dalam segala seginya termasuk dalam syarat-syarat yang dibutuhkan oleh masing-masing. Ibnu Hazm telah mengakui kenyataan ini, ia berkomentar, “Adapun orang yang mengklaim bahwa Abu Bakar diajukan menjadi Khalifah karena diqiyas karena ia diajukan sebagai imam dalam shalat maka ia adalah batil/salah secara pasti, <em>bâthilun biyaqînin</em>. Sebab tidak setiap yang berhak menjkadi imam dalam shalat ia berhak menjadi Khalifah. Yang berhak menjadi imam dalam shalat adaalah yang paling bagus qira’atnya, walaupun ia seorang ajami (non Arab) ataupun orang Arab, sementara tidak berhak menjabat sebagai Khalifah kecuali seorang dari suku Quraisy. Bagaimana akan diqiayaskan antara keduanya, semantara qiyas itu seluruhnya batil.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Selain Ibnu Hazm, Syeikh Abu Zuhrah –seorang tohok ulama Azhar- juga menolak prinsip relasi tersebut, ia berkata, “Sebagian dari mereka berkata, ‘Nabi saw. telah merelakan ia menjadi imam dalam urusan akhirat kita (shalat), lalu apakah kita tidak meralakannya menjadi imam dalam urusan dunia kita?!’. Akan tetapi ia memaksa adalah relasi yang tidak berdasar, sebab politik (mengurus) urusan dunia berbeda dengan urusan ibadah. Maka dengan demikian isyarat itu tidaklah jelas mengandung penunjukan. Selain itu, dalam rapat di Saqifah yang di dalamnya terjadi persaingan tidak sehat antara kaum Muhajirin dan Anshar dalam memperebutkan jabatan Khilafah tidak seorang pun berdalil dengan dalil tersebut. Yang jelas mereka tidak meyakini adanya relasi antara imamah shalat dan jabatan kepemimpinan umat Islam (Khalifah/Imamah Kubrâ).”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kedua:</em> Dalam fikih Ahlusunnah tidak memberi perhatian dalaam kualitas seorang imam dalam shalat, sebab seorang yang fajir sekalipun boleh dan sah menjadi imam shalat sementara makmunya orang-orang shaleh, waliyullah. Para ulama Ahlusunnah berdalil dengan sabda Nabi saw. yang mereka akui keshahihannya, <em>“Shalatlah di belakang seorang yang barr/baik mapun yang fajir/jahat/derjana.”</em> Sebagaimana mereka juga berdalil dengan bermakmumnya para pembesar sahabat di belakang Walîd ibn ‘Uqbah ketika memimpin shalat dalammkeadaan mabok berat di masa ketika ia menjadi gubernur wilayah Kufah di  masa kepemimpinan Khalifah Utsman ibn Affan.</p>
<p style="text-align:justify;">Andai menjadi imam dalam shalat adalah bukti legalitas kekhalifahan seorang pastilah Salim maula Abu Hudzaifah, Amar ibn ‘Âsh dan Abdurrahman ibn ‘Auf lebih berhak menjadi Khalifah sebab mereka pernah memimpin shalat dan di antara yang menajdi makmun adalah Abu Bakar!<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4">[4]</a> Sementara itu dalam riwayat-riwayat Ahlusunnah Abu Bakar kemudian mundur setelah kedatangan Nabi saw. ke dalam masjid dan menggantikannya menjadi imam shalat!<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abu Bakar Tidak Menjadi Imam Dalam Shalat Tersebut!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seluruh riwayat yang mengisahkan peristiwa tersebut menegaskan bahwa beberapa saat setelah Abu Bakar memimpin shalat, Nabi saw. segera keluar bergegas menuju masjid dengan dipanggul Imam Ali as. dan al Fadhl putra Abbas ra. atau Abas sendiri dalam keadaan sakit parah sehingga kedua kaki suci beliau tidak menginjak ke tanah, kemudian beliau yang memimpin shalat dan menyingkirkan Abu Bakar dari posisinya sebagai imam shalat!</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi jika benar Nabi saw. yang memerintah Abu Bakar untuk menjadi imam shalat, mengapakah kemudian beliau memaksa diri bangkit menuju masjid dan menyingkirkan Abu bakar dari posisinya?! Bukankah kebangkitan Nabi saw. menuju masjid dalam keadaan seperti itu ingin menepis anggapan bahwa beliaulah yang memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dalam shalat!</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sibthu Ibn Jauzi telah menulis sebuah buku untuk membuktikan bahwa Abu Bakar tidak menjadi imam dalam shalat pada kasus  tersebut. Dalam buku tersebut ia menyusun tiga bab, pertama pembuktian bahwa Nabi saw. keluar menuju masjid dan menyingkirkan Abu Bakar, kedua pembuktian adanya ijma dari Abu Hanifa, Malik, Syafi’i dan Ahmad tentang hal tersebut, ketiga, pembuktian kelemahan riwayat yang mengatakan bahwa Abu bakar lah yang menjadi imam dalam shalat tersebut. Dan ia mensifati yang mengatakannya sebagai gedil dan mengikuti hawa nafsu.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar al Asqallani –penutup para huffâdz- juga menegaskan bahwa Abu Bakar tidak menjadi imam dalam shalat itu. Ia berkata, “Telah banyak sekali riwayat dari Aisyah dengan tegas menunjukkan bahwa yang menjadi imam dalam shalat tersebut adalah Nabi saw.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi andai mereka berdalil dengan shalatnya Abu Bakar sebagai bukti keabsahan Khilafahnya, niscaya orang lain dapat berdalil dengan disingkirkannya Abu Bakar dari posisinya sebagai imam shalat adalah isyarat kuat bahwa ia sama sekali tidak memiliki kelayakan untuk menjadi imam shalat apalagi menjadi Khalifah!<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Keempat:</em> Bukti-bukti otentik mengatakan bahwa Abu Bakar saat itu termasuk yang diperintah Nabi saw. untuk bergabung dengan tentara di bawah komandan Usamah ibn Zaid. Jadi tidak mungkin Nabi saw. yang memerintah Abu Bakar untuk menjadi imam shalat ketika itu!<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn7">[7]</a> <em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kelima:</em> Andai dalil yang mereka banggakan itu shahih dan sempurna sanad dan matan dalam pandangan Ahlusunnah, maka itu masih belum cukup, -seperti sering saya tegaskan- sebab ia hanya diriwayatkan oleh ulama Ahlusunnah sendiri, ulama Syi’ah tidak pernah meriwayatkannya dan tidak pula pernah menshahihkannya&#8230; Sementara kebutuhan mereka dalam membela keabsahan Khilafah Abu Bakar adalah dalam menghadapi hujatan ulama Syi’ah, lalu bagaimana dalam mempertahankan dan/atau membuktikannya, mereka (Ahlusunnah) berhujjah dengan dalil sepihak? Bukankah yang demikian itu menyalai etika berdialoq?</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Al Khulashah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi apa yang sedang mereka banggakan adalah gugur dengan sendirinya. Dan dengan gugurnya dalil-dalil yang mereka banggakan dan mereka andalkan dalam menegakkan keabsahan khilafah Abu Bakar maka runtuhlah pilar mazhab mereka yang mereka tegakkan di atasnya!!<em> Walhandu Lihhahi&#8230;.</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1">[1]</a> <span style="color:#ff0000;"><span style="color:#800080;">Terjemahan hadis di atas oleh ustadz Wahabi bernama Muh. Umar as Sewed adalah salah, sebab kata shawâhib dengan wazan (bentuk kata) fawâ’il menunjukkan perempuan… jadi tidak benar jika diterjemahkan dengan: <strong><em>saudara-saudaranya nabi Yusuf</em>. </strong>Akan tetapi yang dimaksud dengannya adalah wanita-wanita yang mengganderungi Nabi Yusuf as.</span> </span>Tapi tak mengapalah kesalahan itu, dan saya tidak akan mengatakan bahwa ia diakibatkan karena sang ustadz pujaan kaum Wahabi itu baru belajar bahasa Arab&#8230;. Sebab bisa jadi beliau adalah pakar dalam bahasa Arab, namun kali ini tergelincir&#8230; Semoga tidak keseleo atau patah tulang dalam ketergelincirannya kali ini!! <em>Amîn</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2">[2]</a> Al Fishal Fi al Milal wa an Nihal,4/109.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3">[3]</a> Tarikh al Madzâhib al Islamiyah:23.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4">[4]</a>Lebih lanjut baca Shahih Bukhari, <em>Kitabul Ahkâm, Bab Istiqshâul Mawâli wa Isti’mâlihim</em>,9/88, Shahih Muslim, Bab al Mashu ‘ala al Imamah1/230, Musnad Imam Ahmad,4/248, 250 dan 251, Sunan Abu Daud,1/37, Sunan Ibnu Mâjah,1/392, Sunan an Nasa’i, 1/77, Bab Kaifa al Mashu ‘Ala al Imamâh, Sirah Ibn Hisyâm,4/272, Sirah Ibn Katsir,3/513 pada bab peperangan Dzatus Salâsil.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5">[5]</a> Shahih Bukhari, Bab man Dakhala Liyaummu an Nâsa Fa jâa al Imam fa Yataakhkhara al awal,1/174</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref6">[6]</a> Fathu al Bâri,2/123.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref7">[7]</a> Fathu al Bâri,8/124, ath Thabaqât al Kubrâ; Ibnu Sa’ad,4/66, Tarikh al Ya’qûbi,2/77, Tarikh al Khamîs,2/154 dll.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/467/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=467&subd=jakfari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/12/lima-belas-bukti-palsu-khilafah-abu-bakar-9/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a64cca68ac2c1a92a502d76875fe3d31?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lima Belas Bukti Palsu Khilafah Abu Bakar (8)</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/12/lima-belas-bukti-palsu-khilafah-abu-bakar-8/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/12/lima-belas-bukti-palsu-khilafah-abu-bakar-8/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 06:24:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis Keutamaan Ahlulbait as.]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis Palsu Keutamaan Abubakar & Umar]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis Palsu Pelecehan Nabi dan Ahlulbait]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Haulasyiah]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=464</guid>
		<description><![CDATA[Di antara hadis yang diandalkan oleh Ibnu Abdil Wahhab –pendiri sekte Wahabiyah- dan juga oleh para pemuka kaum Nawâshib adalah riwayat yang mereka nisbatkan kepada Nabi saw. bahwa beliau telah menegaskan nama-nama para Khalifah dalam sebuah peristiwa ketika beliau berpatisipasi dalam membangun sebuah masjid. Hadis itu sebagai berikut:
وعن سفينة قال : لما بنى رسول الله [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=464&subd=jakfari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Di antara hadis yang diandalkan oleh Ibnu Abdil Wahhab –pendiri sekte Wahabiyah- dan juga oleh para pemuka kaum Nawâshib adalah riwayat yang mereka nisbatkan kepada Nabi saw. bahwa beliau telah menegaskan nama-nama para Khalifah dalam sebuah peristiwa ketika beliau berpatisipasi dalam membangun sebuah masjid. Hadis itu sebagai berikut:<span id="more-464"></span></p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>وعن سفينة قال : لما بنى رسول الله صلى الله عليه وسلم المسجد وضع في البناء حجراً وقال لأبي بكر: ضع حجرك إلى جنب حجري. ثم قال لعمر: ضع حجرك إلى جنب حجر أبي بكر. ثم قال : هؤلاء الخلفاء بعدي&#8221; رواه إبن حبان ، وقال أبو زرعة: إسناده قوي لا بأس به ، والحاكم وصححه والبيهقي .</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dari Safinah ia berkata, “Ketika Rasulullah saw. membangun masjid, beliau  melatakkan batu pada bangunan dan berkata kepada Abu Bakar, ‘Letakkan batumu di samping batuku!’ Lalu berkata kepada Umar, ‘Letakkan batumu di samping batu Abu Bakar.’ Setelahnya beliau bersabda, ‘Mereka adalah para Khalifahku sepeninggalku.” </em>(HR Ibnu Hibbân, dan berkata Abu Zar’ah, ‘Sanadnya kuat, tidak mengapa-ngapa’, dan al Hakim dan ia menshahihkannya serta al Baihaqi.)</p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Jakfari berkata:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Adapun hadis tentang silih bergantinya para Khalifah yang akan menggantikan Nabi saw.; Abu Bakar kemudian Umar kemudian Utsman dari sahabat Safinah adalah hadis riwayat Ibnu Hibbân dan al Hakim. Ibnu Hajar telah menyebutnya dalam kitab ash Shawâiq-nya:14 dan Ibnu Katsir dalam al Bidâyah wa an Nihâyah,6/204.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun sangat disayangkan hadis tersebut tidak memiliki sanad yang dapat dipertahankan. Para muhaddis Sunni telah meriwayatkannya dari jalur Nu’aim ibn Hammâd (W. 228H). Sementara itu semua yang akrab dengan kajian penelitian sejarah para periwayat mengatahuyi bahwa Nu’aim ibn Hammâd yang adalah seorang yang sangat cacat dalam dunia periwayatan. Ia adalah seorang pembohong besar dan pemalsu hadis.</p>
<p style="text-align:justify;">Al Azdi berkata, “Nu’aim sering memalsu hadis untuk mendukung Sunnah dan kisah-kisah palsu dalam mencacat Nu’man, semua palsu. Lebih lanjut Anda saya persilahkan merujuk berbagai buku Rijâl untuk mengenali siapa sejatinya di pemalsu hadis di atas tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana juga dalam mata rantai riwayat tersebut terdapat seorang parawi yang sangat cacat yaitu Hasyraj ibn Nubatah, seperti akan saya sebutkan nanti ketika mendiskusikan hadis (no. 14) bahwa Khilafah adalah tiga puluh tahun!</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu, ketika meriwayatkan hadis al hakim yang semakna dengan hadis di atas, adz Dzahabi menegaskan kepalsuannya dengan mengatakan, “Anda hadis itu benar pastilah ia sebagai <em>nash</em>/penunjukan tiga Khalifah! Dan ia sama sekali tidak shahih!”</p>
<p style="text-align:justify;">Lagi pula andai benar Nabi saw. telah mensabdakan penujukan itu pastilah Abu Bakar dan Umar pasti akan berhujjah dengannya pada rapat darurat di pendopo  Saqifah bani Sâidah.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/464/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=464&subd=jakfari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/12/lima-belas-bukti-palsu-khilafah-abu-bakar-8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a64cca68ac2c1a92a502d76875fe3d31?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lima Belas Bukti Palsu Khilafah Abu Bakar (7)</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/12/lima-belas-bukti-palsu-khilafah-abu-bakar-7/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/12/lima-belas-bukti-palsu-khilafah-abu-bakar-7/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 06:17:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis Palsu Keutamaan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Haulasyiah]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=462</guid>
		<description><![CDATA[Untuk lebih meyakinkan kaum awam, para Nawâshib membawa-bawa nama suci Imam Ali as. untuk mereka palsukan! Dan itu adalah cara lugu dan hanya orang lugulah yang termakan olehnya!
Mereka mengada-ngada atas nama Imam Ali as. bahwa Rasulullah saw. telah meminta dan dengan agak sedikit atau bahkan sangat memaksa Tuhan agar mau berpihak kepada Ali; anak asuh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=462&subd=jakfari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Untuk lebih meyakinkan kaum awam, para Nawâshib membawa-bawa nama suci Imam Ali as. untuk mereka palsukan! Dan itu adalah cara lugu dan hanya orang lugulah yang termakan olehnya!<span id="more-462"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Mereka mengada-ngada atas nama Imam Ali as. bahwa Rasulullah saw. telah meminta dan dengan agak sedikit atau bahkan sangat memaksa Tuhan agar mau berpihak kepada Ali; anak asuh kesayangan dan menantu tercintanya, akan tetapi sepertinya Tuhan tidak menggubris permintaan itu! Karena Allah tidak menginginkan Imam Ali as. yang memimpin umat setelah wafat Nabi saw.! Entah mengapa? Mungkin Allah tidak memaukan keadilan yang akan diterapkan di muka bumi oleh Ali! Atau karena Ali terlalu muda usia, jadi biar yang tua-tua dulu kebagian duduk di kursi jabatan itu…? Atau …? Hanya Allah yang Maha tau dan tentunya para pemalsu juga tau!</p>
<p style="text-align:justify;">Agar Anda tidak terlalu lama menanti riwayat itu, saya segera hadisrkan di bawah ini:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>عن علي رضي الله عنه قال : قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم :&#8221; سألت الله أن يقدمك ثلاثاً فأبى الله إلا تقديم أبي بكر &#8221; وفي رواية زيادة &#8221; ولكني خاتم الأنبياء وأنت خاتم الخلفاء&#8221; رواه الدار قطني والخطيب وإبن عساكر . </strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dari Ali ra. ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda kepadaku, ‘Aku memohon kepada Allah sebanyak tiga kali agar Dia mengajukanmu </em>(menjadi Khalifah)<em> akan tetapi Dia enggan kecuali mengajukan Abu Bakar.”</em> (HR ad Dâruquthni, al Khathîb dan Ibnu ‘Asâkir)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Jakfari berkata:</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Riwayat di atas dibanggakan Syeikh Ibnu Abdil Wahhab sebagai senjata paten keabsahan khilafah Abu Bakar dan kepalsuan akidah Syi’ah dalam Imamah Ali as.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi setelah Anda memerhatikan riwayat di atas, pasti Anda tidak ragu lagi mengatakan bahwa ia adalah sebuah kepalsuan murahan dan carut mawut kandungannya sudah cukup sebagai bukti kepalsuannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebab jika benar, lalu mengapa Imam Ali as. enggan menerima kekhilafahan Abu Bakar selama enam bulan?! Dan jika kekhalifahan Abu Bakar adalah ketetapan Tuhan, maka ia sangat bertolak belakang dengan doktrin Sunni yang menolak adanya penunjukan/nash atas siapapun, baik Ali maupun Abu Bakar! Apakah Syeikh Wahhâbi ini hendak menyebarkan doktrin kaum Al Bakriyah yang bertolak belakang dengan ajaran Ahlusunnah sendiri?!</p>
<p style="text-align:justify;">Makin banyak hadis/riwayat yang Syeikh Wahhâbi kutip makin jelas kejahilannya akan ilmu hadis dan ketidak mampuannya dalam memilah antara hadis/riwayat shahih yang dapat dijadikan hujjah dan riwayat palsu atau batil yang dilayak dijadikan hujjah! Atau ia mengetahui kualitas setiap hadis yang ia kutip, hanya saja <em>“semangat 45”</em>nya dalam membela “kebenaran” telah menjadikannya merasa halal untuk berdalil dengan hadis-hadis palsu sekalipun!</p>
<p style="text-align:justify;">Pujangga Arab klasik bertutur:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Jika engkau jahil, maka itu adalah sebuah bencana… dan jika engkau telah mengatahuinya (namun tetap bersikap  degil) maka musibah itu sungguh besar.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Para santri abangan saja mampu mengenali kepalsuan riwayat di atas, lalu bagaimana dengan <em>“Syeikhul Islam”</em>nya kaum Wahhâbi?! Pasti ia mengatahuinya…. Kalau tidak, alangkah jahilnya ia.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadis (baca dongen murahan) di atas telah diriwayatkan oleh al Khathib dalam <em>Tarikh</em>-nya, 11/213. adz Dzahabi telah menyebutnya dalam <em>Mizân al I’tidâl</em>-nya, 2/222 dari jalur al Khathib dari Abu Juhaifah dan ia berkata, “Hadis ini palsu/bathil, penyakit (penyebab)nya adalah Ali ibn Hisain al Kalbi.” Ibnu Hajar juga menolak hadis itu dalam kitab<em>  al Fatâwâ al Haditsiyah</em>:126</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Jakfari berkata:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jika urusan kekhalifahan itu telah ditetapkan Tuhan, dan Allah SWT berbuat sesuai yang Ia kehendaki, dan tiada kehendak di sisi kehendak Allah, dan Allah telah menghendaki Abu Bakar, seperti dalam riwayat sebelumnya, lalu apa gerangan anggapan kita terhadap Nabi saw. yang memaksa Allah dengan panjatan doanya agar Allah menunjuk Ali, dan setelah ditolak permohonan itu beliau masih bersikeras memohonnya hingga tiga kali?! Bukankah akan lebih sopan Nabi bertanya terlebih dahulu siapakah di antara umat beliau yang paling laik menjabat sebagai Khalifah, bukan berdoa dan memaksa Allah hingga tiga kali agar menunjuk Ali as. yang tidak Allah kehendaki?! Bagaimana dapat samar atas Nabi saw. siapa yang laik dari umat beliau untuk jabatan Khalifah, sehingga beliau meminta dsengan sedikit memaksa agar Allah mengangkat orang yang tidak dikehandaki Allah, langit-langit dan bumi serta kaum Mukmin?! Apa motivasi di balik pemaksaan Nabi saw. dengan mengulang-ngulang permohonan agar Allah menunjuk Ali as., padahal beliau tahu bahwa Allah SWT tidak menghendaki Ali?!</p>
<p style="text-align:justify;">Saya pikir Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb dan para Wahhâbiyûn tulen perlu merenungkan kenyataan ini! Dan agar mulai mengintropeksi diri dalam berdalil agar tidak sembarang “comot riwayat” tanpa meneliti kualitasnya!! Dan mulai sadar bahwa kebenaraan tidak akan dapat ditutup-tutupi dan kebatilan tidak akan pernah bisa ditegakkan dengan bantuan apapun, apalagi dengan hadis-hadis palsu!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/462/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=462&subd=jakfari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/12/lima-belas-bukti-palsu-khilafah-abu-bakar-7/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a64cca68ac2c1a92a502d76875fe3d31?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Para Imam Dan Pembesar Ulama Ahlusunnah Saling Menyesatkan! (1)</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/12/para-imam-dan-pembesar-ulama-ahlusunnah-saling-menyesatkan-1/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/12/para-imam-dan-pembesar-ulama-ahlusunnah-saling-menyesatkan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 06:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Haulasyiah]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenal Para Imam Ahlusunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[Imam Abu Hanifah Dikecam Habis Tokoh-tokoh Ahlusunnah!
Permusuhan dan perseteruan hingga batas menfasikkan, menyesatkan bahkan mengafirkan di antara para imam mazhab dan pembesar ulama Ahlusunnah adalah sebuah kenyataan pahit memalukan yang tak dapat ditutup-tutupi oleh sikap curang dan merahasiakan. Imam Malik ibn Anas mengecam habis Abu Imam Hanifah, para ulama pendukung Imam juga mengecam habis Imam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=457&subd=jakfari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Imam Abu Hanifah Dikecam Habis Tokoh-tokoh Ahlusunnah!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Permusuhan dan perseteruan hingga batas menfasikkan, menyesatkan bahkan mengafirkan di antara para imam mazhab dan pembesar ulama Ahlusunnah adalah sebuah kenyataan pahit memalukan yang tak dapat ditutup-tutupi oleh sikap curang dan merahasiakan. Imam Malik ibn Anas mengecam habis Abu Imam Hanifah, para ulama pendukung Imam juga mengecam habis Imam Malik… Imam Syafi’I dihujat habis dan diragukan keimanannya bahkan dikatakan lebih jehat dari Iblis… Imam Ahmad mengecam dan juga dikecam oleh para ulama lainnya… al hasil, yang akan ditemukan dalam cacatan sejarah mereka hanya mengecam dan dikecam…. Mungkin itu penjelmaan sabda nabi saw. bahwa perselisihan umaatkku adalah rahmat!!!<span id="more-457"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Agar Anda tidak menuduh saya sedang mengada-ngada kepalsuan dan memojokkan para imam besar Ahlusunnah, maka ikuti liputan di bawah ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Imam Malik mengecam Abu Hanifah sebagai perusak agama!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Malik berkata:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>إنّ أبا حنيفة كاد الدين، ومن كاد الدين فليس له دين .</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Abu Hanifah bermakar atas agama. Dan siapa yang bermakar atas agama ia tidak beragama.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abu Hanifah dan Abu Yusuf Adalah Orang Fasik Lagi Sesat Menyesatkan!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mereka juga mengecam Abu hanifah dan murid kesayangannya yang memperjuangkan dan menyebar luaskan mazhabnya; Abu Yusuf sebagai dua orang fasik.</p>
<p style="text-align:justify;">Al ‘Uqaili menyebutkan bahwa Abdullah ibn Idirs –seorang hafidz dan tokoh ulama besar Ahlusunnah mengecam Abu Hanifah dengan kata-katanya:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>كـان أبو حنيفـة ضالاً مضلاً، وأبو يوسف فاسقاً من الفاسقين .</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Adalah Abu Hanifah seorang yang sesat lagi menyesatkan. Abu Yusuf adalah adalah orang fasik.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Abdullah ibn Idris yang mengecam Abu Hanifah dan Abu Yusuf di atas bukan sembarang alim dan imam Ahlusunnah.. ia seorang hafidz, faqîh (ahli fikih), imam besar Ahlusunnah, hujjah lagi jujur terpercaya. Adz Dzahabi  mensifatinya dengan: </p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>الإمام، القدوة، الحجة</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Seorang imam, qudwah (panutan) dan hujjah.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar menyebutnya sebagai:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>ثقة، فقيه عابد</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Tsiqah. Ahli fikih dan abid/jujur terpercaya dan rajib berimadah.”</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan Abu hatim mensifatinya dengan:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>هو إمام من ائمة المسلمين حجة</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Dia seorang imam dari para imam (pemimpin) kaum Muslimin, ia hujjah.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ucapan Imam Abdullah ibn Idirs tentang Imam Abu Hanifah dan Imam Abu Yusuf adalah benar dan diriwayatkan dengan sanad terpercaya. Anda dapat membuktikannya langsung dengan meneliti sanad riwayat itu dalam kitab adh Dhu’afâ’nya al ‘Uqaili.</p>
<p style="text-align:justify;">Sepertinya kecaman atas Abu Hanifah itu sudah diijma’kan ooleh para tokoh brsar ulama Ahlusunnah.</p>
<p style="text-align:justify;">Al Hafidz Ibnu Adiy al Jurjâni berkata:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>إبن عدي الجرجاني: سمعت ابن أبي داود يقول: الوقيعة في أبي حنيفة إجماعة من العلماء، لأن إمام البصرة أيوب السختياني وقد تكلم فيه، وإمام الكوفة سفيان الثوري وقد تكلم فيه، وإمام الحجاز مالك وقد تكلم فيه، وإمام مصر الليث بن سعد وقد تكلم فيـه، وإمام الشام الأوزاعي وقد تكلم فيه، وإمام خراسان عبد الله بن المبارك وقد تكلم فيه، فالوقيعة فيه إجماع من العلماء في جميع الآفاق </strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Aku mendengar Ibnu Adi Daud berkata, “Kecaman atas Abu Hanifah adalah telah dijima’kan oleh para ulama. Sebab Imam penduduk kota Bashrah; Abu Ayyub as Sakhtiyâni mengecamnya. Imam penduduk kota Kufah; Sufyan ats Tsawri mengecamnya. Imam penduduk negeri Hijaz; Imam Malik mengecamnya. Imam penduduk wilayah Mesir; laits ibn Sa’ad mengecamnya. Imam penduduk kota Syam; al Awza’i mengecamnya. Imam penduduk kota wilayah Khurasân; Abdullah ibn Mubarak mengecamnya. Jadi kecaman atasnya addalah ijma’ (kesepakatan) para ulama di berbagai penjuru.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3">[3]</a> </p>
<p style="text-align:justify;">Kecaman atas Abu hanifah itu disebabkan beberapa alasan, di antaranya mungkin karena apa yang dinukil darinya bahwa ia melecehhkan kehormatan Nabi Muhammad saw.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hibbân menukil sebuah riwayat yang memuat sikap Abu Hanifah tersebut. Ia menukil bahwa Abu Hanifah berkata:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>لو أدركني رسول الله (ص) لأخذ بكثير من قولي، وهل الـدين إلا القول الحسن</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Andai Rasulullah saw. hidup bersamaku pastilah ia mengambil banyak pendapatku. Bukankah agama itu pendapat, <em>ra’yu</em> yang bagus.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Tidak diragukan bahwa penukilan omongan itu dari Abu Hanifah dapat dipercaya sebab ia dinukil dari parawi yang terpercaya! Baca langsung sanad nukilan itu dalam kitab al Majrûjîn.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Bukhari jugaa tidak ketinggalam mengecamnya. Bahkan Bukhari adalah musuh bebuyutan Abu Hanifah dan mazhabnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Bukhari berkata:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong>أبو حنيفة النعمان بن ثابت قال نعيم بن حماد حدثنا يحيى بن سعيد ومعاذ بن معاذ، سمعا سفيان الثوري يقول: أبو حنيفة استتيب من الكفر مرتين، وقال نعيم عن الفزاري: كنت عند سفيان بن عيينة فجاء نعي أبي حنيفة، فقال: الحمد لله، كـان يهـدم الإسلام عروة عروة، وما ولد في الإسلام أشر منه .</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Abu Hanifah; Nu’man ibn Tsabit. Nu’aim ibn Hammâd berkata, ‘Yahya ibn Sa’id dan Mu’adz ibn Mu’adz brrkata, ‘Kami mendengar Sufyan ats taswri berkata, ‘Abu Hanifah telah diminta bertaubat dari kekafiran sebanyak dua kali.’ Nu’ain al Fizâri berkata, ‘Aku di sisi Sufyan ats Taswi lalu datanglah berita kematian Abu Hanifah, maka ia berkata, ‘Ahlamdullah, segala puji bagi Allah. Dia (Abu Hanifah) telah merobohkan pilar Islam, pilar demi pilar. Dan tiada dilahirkan di masa Islam bayi yang lebih jahat darinya.’”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan serupa juga dilontarakan oleh banyak imam besar Ahlusunnah lainnya seperti al Awza’i.<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Al Khathib al Baghdadi telah merangkum kecamat ulama dan para imam besar Ahlusunnah atas Abu Hanifah, sementara itu ia merahasiakan kecamat ulama aras Imam Syafi’i, sikap itu membuat marah Qadhi Abu Yaman dalam Mukhtârah Târîkh Baghdâd-nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Al hasil, kecamat atas Abu Hanifah dari para imam dan tokoh besar Ahlusunnah sangat banyak dan masyhur…. Dan tidak berlebihan jika kami katakana untuk merangkumnya butuh berjilid-jilid. Karenanya kami cukupkan sekian dulu…</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1">[1]</a> Adh Dhu’afâ’, al Kabîr; al ‘Uqaili,4/281 dengan nomer 1876, Tarikh Baghdad,13/422, al ‘Ilal Wa Ma’rifah ar Rijâl;Ahmad ibn Hanbal,2/547 dengan nomer 3594, 3/164 dengan nomer 4733 dan Hilyah al Awliyâ’,6/325.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2">[2]</a> Adh Dhu’afâ’,4/440 dengan nomer2071.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3">[3]</a> Al Kâmil fi adh Dhu’afâ’,7/10 dengan nomer:1945.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4">[4]</a> Kitab al Majrûhîn,3/65.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5">[5]</a> Al Intqâ’ Fi Fadhâil al Aimmah al Fuqahâ’; Ibnu Abdil Barr:278.<em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref6">[6]</a> Kitab as Sunnah; Abdullah putra Imam Ahmad,1/178 dengan nomer:249.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/457/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=457&subd=jakfari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/12/para-imam-dan-pembesar-ulama-ahlusunnah-saling-menyesatkan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a64cca68ac2c1a92a502d76875fe3d31?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ternyata Mencaci Maki Sahabat Nabi Tidak Apa-apa Hukumnya!</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/12/ternyata-mencaci-maki-sahabat-nabi-tidak-apa-apa-hukumnya/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/12/ternyata-mencaci-maki-sahabat-nabi-tidak-apa-apa-hukumnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 05:25:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Haulasyiah]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan:[1] 
Dunia hadis Sunni sedang menghadapi ujian berat dalam banyak sisi dan lini untuk mempertahankan kenetralan dan kevalidannya! Mampukah ia keluar darinya dengan sukses mengusung etika kejujuran, kenetralan, obyektifitas dan berpihak kepada al haq? Itulah pertanyaan yang hendak kita cari tau jawabannya dalam artikel ini.
Di antara ujian yang akan menghadang kenetralannya dalam menyaring sumber data [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=450&subd=jakfari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Pendahuluan:<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1"><strong>[1]</strong></a> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dunia hadis Sunni sedang menghadapi ujian berat dalam banyak sisi dan lini untuk mempertahankan kenetralan dan kevalidannya! Mampukah ia keluar darinya dengan sukses mengusung etika kejujuran, kenetralan, obyektifitas dan berpihak kepada <em>al haq</em>? Itulah pertanyaan yang hendak kita cari tau jawabannya dalam artikel ini.<span id="more-450"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Di antara ujian yang akan menghadang kenetralannya dalam menyaring sumber data adalah sikap dunia hadis Sunni terhadap para perawi hadis.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong>Kesucian Sahabat Nabi saw. adalah Garis Merah!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Termasuk malasah yang menyita perhatian dan meminta sikap tegas para ahli hadis Sunni adalah sikap hormat para perawi terhadap para sahabat Nabi saw. tanpa terkecuali! Siapapun yang terbukti bersikap buruk dalam menilai sahabat maka para ulama hadis Sunni tidak akan segan-segan menvonisnya sebagai <em>Zindîq<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2"><strong>[2]</strong></a>, Dajjâl, Ahli Bid’ah, Zâighun ‘Anil Haqqi</em> (menyimpang dari kebenaran) dan kecaman-kecaman lainnya yang tidak kalah seramnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak parawi hadis yang gugur bergelimpangan menjadi korban format penilian tersebut…. Mereka dicacat, dikecam divonis sebagai pembohong/<em>kadzzâb</em> dan kemudian yang pasti mereka digugurkan kelayakannya sebagai sumber hadis karena terbutki pernah berkata-kata atau pernah bersikap buruk terhadap seorang atau beberapa orang oknum sahabat Nabi saw.</p>
<p style="text-align:justify;">Abu Zur’ah –seorang tokoh terkemuka Ahlusunnah, guru agung Imam Muslim- membangun kaidah baku yang dijadikan tolok ukur penilaian, ia barkata, <em>“Jika engkau menyaksikan seorang mencela-cela seorang dari sahabat Rasulullah saw. maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang zindîq, sebab sesungguhnya Rasulullah saw. itu haq, Al Qur’an itu haq, apa yang dibawa Nabi itu haq, dan yang menyampaikan itu semua kepada kita adalah para sahabat. Maka siapa yang mencacat mereka sesungguhnya ia sedang berusaha membatalkan Al Qur’an dan Sunnah, karenanya mencacat mereka lebih tepat dan menvonis mereka sebagai zindîq, sesat, berdusta dan kerusakan adalah lebih lurus dan lebih berhak.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3"><strong>[3]</strong></a></em> </p>
<p style="text-align:justify;">Dan atas dasar kaidah di atas para ulama hadis Sunni membangun penilaian terhadap para perawi. Al Khathib al Baghdadi menukil Yahya ibn Ma’în sebagai mengatakan ketika ia menerangkan kualitas seorang parawi bernama Talîd, <em>“Talîd adalah kadzdzâb/ pembohong besar, ia mencaci maki Utsman. Dan setiap yang mencaci maki Utsman atau Thalhah atau seorang dari sahabat Rasulullah saw. maka ia adalah dajjâl, tidak layak ditulis hadisnya. Atasnya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia.”</em><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hibban berkata, “Talîd adalah seorang rafidhi pencaci kami sahabat dan ia meriwayatkan hadis-hadis yang aneh tentang keutamaan Ahlulbait.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ahmad ibn Hanbal meninggalkan meriwayatkan hadis dari Ubaidullah ibn Musa al Absi hanya gara-gara ia menceloteh Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Tidak cukup itu ia mengutus seorang kepercayaannya untuk mendatangi Yahya ibn Main agar segera meninggalkan meriwayatkan hadis darinya. Ia berpesan kedanya agar menyampaikan kepada Yahya bahwa:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl">أخوك أبو عبد الله أحمد بن حنبل يقرأ عليك السلام ويقول لك: هو ذا تكثر الحديث عن عبيد الله وأنا وأنت سمعناه يتناول معاوية بن أبي سفيان وقد تركت الحديث عنه.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Saudaramu Abu Abdillah menyampaikan salam dan berkata kepadamu, “inilah engkau berbanyak-banyak meriwayatkan hadis dari Ubaidullah, sementara aku dan engkau sama-sama mendengarnya mencaci Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Aku telah meninggalkan meriwayatkan hadis darinya.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn6"><strong>[6]</strong></a></em></p>
<p style="text-align:justify;">Para ahli hadis Sunni akan segera mengecam seorang perawi dikarenakan ia dituduh mencacat seseorang sahabat dengan kecaman sebagai Rafidhi! Pembohong! Dll.</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi apakah mereka setia menjalankan kaidah yang telah mereka bangun sendiri?</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah mereka membangun kaidah tersebut dengan etikat baik untuk menyaring hadis dari sisipan kaum munafikin?</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah mereka akan konsisten menjalankan kaidah tersebut dengan sepenuh hati atas siapa saja yang mencaci dan mencacat apalagi melaknat seorang sahabat Nabi saw.?</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah benar kaidah itu mereka bangun untuk membentengi keangungan sahabat Nabi saw, -seluruh sahabat Nabi saw. tanpa memilih dan melilah- dari sikap sinis dan mulut busuk sebagian parawi hadis?</p>
<p style="text-align:justify;">Atau kaidah itu hanya akan diterapkan ke atas para parawi yang menghujat, mencacat dan membenci serta mengutuk sahabat-sahabat tertentu saja, tidak untuk sahabat tertentu lainnya?</p>
<p style="text-align:justify;">Di sini letak ujian berat yang sedang dihadapi kaidah Sunni tersebut!</p>
<p style="text-align:justify;">Namun sepertinya penelusuran acak –apalagi dengan telaten- akan memberi peluang para pemerhati untuk mencurigai ketulusan dan kenetralan kaidah tersebut! Kerena ternyata, kaidah itu hanya diberlakukan ketika menghadapi para parawi yang mencacat atau bahkan sekedar mengkritik oknum-oknum tertentu sahabat Nabi saw., seperti Mu’awiyah, ‘Amr ibn al Âsh, Walîd ibn ‘Uqbah, Thalhah, Utsman, Umar Abu Bakar dkk. Adapaun ketika berhadapan dengan para parawi yang mencaci maki, melaknati dan membenci Imam Ali as., Imam Hasan dan Husain as. serta pribadi-pribadi mulia keluarga Nabi saw. sepertinya kaidah itu lumpuh tanpa daya dan kekuatan! Bahkan tidak jarang, gelar-gelar kehormatan dan pujian menyertai sebutan para perawi pembenci Ali as.!!</p>
<p style="text-align:justify;">Entah mengapa?</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah karena para sahabat lainnya itu memiliki kehormatan agung di sisi Allah SWT yang tidak dimiliki oleh Imam Ali dan Ahlulbait Nabi as.?</p>
<p style="text-align:justify;">Atau karena para ulama itu telah mendapat bocoran informasi langit bahwa keridhaan Allah terlatak pada kebencian, kesinisan sikap dan caci-maki serta laknatan atas Ali dan Ahlulbait as.?</p>
<p style="text-align:justify;">Atau memang pada dasarnya mencaci maki dan mencacat sahabat Nabi itu sah-sah saja hukumnya! Semua huru-hara fatwa dalam masalah ini hanya bersifat politis belaka!</p>
<p style="text-align:justify;">Atau karena alasan lain yang masih dirahasiakan hingga hari ini? <em>Wallahu A’lam</em>!</p>
<p style="text-align:justify;">Para ulama Sunni sendiri mengakui adanya sikap <em>nakal</em> dan subyektif serta mengertapan standar ganda dalam pemberlakuan “kaidah filterisasi” perawi hadis tersebut! Ibnu Hajar pernah bertanya-tanya kebingunan menyaksikan sikap tidak sehat itu dari para “Pembela Sunah” Sunni.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar berkata, “<span style="text-decoration:underline;">Dahulu aku merasa <em>isykal</em> (melihat adanya keganjilan sikap para ulama Rijal) dalam menstiqahkan seorang parawi Nashibi<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn7"><span style="text-decoration:underline;">[7]</span></a> (pembenci Ali)</span> dan menghinakan terhadap perawi Syi’ah<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn8">[8]</a> (pecinta Ali), terlebih telah datang sabda Nabi saw. tentang Ali bahwa <em>“Tidak mencintainya melainkan seorang Mukmin dan tidak membencinya melainkan seorang munafik.”</em>….. “   </p>
<p style="text-align:justify;">Dari pernyataan Ibnu Hajar di atas dapat diketahui bahwa demikianlah sikap kebanyakan ulama hadis Sunni dalam mentsiqahkan atau mencacat para parawi…. Mereka mentsiqahkan kaum <em>Nawâshib</em> (pembenci Ali as.) … kaum yang mencaci-maki Ali as. ….. Kaum yang melaknati Ali as. ….</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu dinamakan kaidah yang mereka bakukan itu?</p>
<p style="text-align:justify;">Agar pembaca tidak terlalu lama menanti sajian data-data yang membuktikan keharmonisan sikap ulama Sunni terhadap para pembenci Ali dan Ahlulbait as. … sikap kagum dan menyanjung serta terpesona oleh kejujuran, kataqwaan, kezududan dan kashalehan para pembenci Ali as., saya langusng sajikan data-data di bawah ini:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Catatan:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti telah disinggung bahwa data-data yang akan saya sajikan ini saya ambil secara acak tanpa bermaksud menelusuri secara detail dan menyeluruh, karena untuk itu diperlukan kerja karas dan waktu panjang. <strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1.  </strong><strong>Ishaq ibn Suwaid ibn Hubairah al Adwi.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam <em>Hadyu as Sâri</em>-nya, Ibnu Hajar menegaskan bahwa “Yahya ibn Ma’in, an Nasa’i dan al Ijli mentsiqahkannya, dan ia mengecam Ali ibn Abi Thalib.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi sepertinya mencaci maki sahabat Nabi saw. tidak mengugurkan keadilan atau mencacat agama seorang!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong>2.      </strong><strong>Khalid ibn Salamah ibn al Âsh ibn Hisyam al Makhzumi yang dikenal dengan panggilan al Fa’fa’</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kitab <em>Tahdzîb at Tahdzîb</em> disebutkan bahwa: Ahmad, Ibnu Ma’in dan Ibnu al Madîni mentsiqahkannya. Ibnu Hibbân memasukkannya dalam daftar perawi tsiqah. Muhammad ibn Hamîd menukil Jarir berkata, “Al Fa’fa’ adalah tokoh sekte Murji’ah. Dan ia mebenci Ali.”</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu kajahatan perawi yang satu ini adalah bahwa ia juga menggubah bait-bait syair untuk bani Marwan yang memuat ejekan atas Nabi Muhammad saw.<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Kendati demikian ia mampu meraih kepercayaan para ulama hadis Sunni dan ia diandalkan oleh: Muslim dalam Shahihnya, Abu Daud dalam Sunannya, Ibnu Majah dalam Sunannya, at Turmudzi dalam Sunannya, an Nasa’i dalam Sunnanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Jakfari berkata:</strong> Selamat atas umat yang menjadikan manusia durjana seperti al Fa’fa’ sebagai panutan dan tempat kepercayaannya!</p>
<p style="text-align:justify;">Saya yakin dan bahkan <em>haqqul yakin</em>, andai ada seorang perawi yang menggubah bait-bait syair menghujat Abu Bakar atau Umar pastilah para ulama yang pecemburu terhadap kesucian agama itu akan bangkit memuntahkan amunisi laknatan dan kecamannya dan pasti tak segan-segan menvonisnya sebagai si Zindiq yang harus segera dipenggal kepalanya! Akan tetapi anehnya ketika yang dijuhat dan dihina serta dilecehkan itu adalah Rasul Allah mereka terdiam dan bahkan memberinya gelar kehormatan sebagai perawi <em>Tsiqah</em> yang harus kita percaya hadis riwayatnya! <em>Innâ Lillâhi wa Innâ Ilaihi Râji’ûn.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.      </strong><strong>Hushain ibn Numair al Wasithi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Para ulama hadis Sunni, di antaranya adalah Abu Zur’ah mentsiqahkannya, padahal, seperti dilaporkan Abu Khaitsmah, ia terang-terangan menghina Ali.</p>
<p style="text-align:justify;">Bukhari mengandalkannya dalam banyak bab, di antaranya dalam Bab <em>Ahâditsul Anbiya’</em> (hadis para nabi) dan dalam Bab <em>ath Thibb</em> (pengobatan)… para penulis kitab <em>Sunan</em> –selain Ibnu Majah mengandalkan riwayatnya juga.<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn11">[11]</a>   </p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4.      </strong><strong>Khalid ibn Abdillah al Qasri</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kitab <em>Tadzîb at Tadzîb</em> disebutkan, Yahya al Himmani berkata, ‘Dikatakan kepada Sayyâr, apakah engkau meriwayatkan dari Khalid? Maka ia menjawab, ‘Ia lebih mulia dari berbohong.’</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hibbân memasukkannya dalam daftar perawi terpercaya/<em>tsiqat</em>. Dalam kitab <em>al Mîzân</em> dikatakan bahwa ia adalah <em>Shadûq</em>.<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn12">[12]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Padahal tidak samar lagi bahwa Khalid itu seorang Emir Dinasti Umayyah yang sangat kejam dan sangat membenci Imam Ali as. … Ia banyak melakukan kejahatan yang mengerikan. Berikut ini saya sebutkan keselumit kejahatannya:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Khalid itu mengutamakan Abdul Malik ibn Marwan (Khalifah dimasti Umayyah yang dikenal sangat kejam dan haus darah itu) atas Nabi Ibrahim as. (seorang nabi <em>Ulul Azmi </em>yang sangat agung dan mulia  di sisi Allah SWT)… Dia deklarasikan pengutamaan itu di atas mimbar kota suci Mekkah.</li>
<li>Dan dalam kesempatan lain ketika ia menjabat sebagai Emir wilayah Iraq, ia terang-terangan di atas mimbar melaknati Ali ibn Abi Thalib as…. ia berpidato: <em>Ya Allah taknatlah Ali ibn Abi Thalib ibn Abdil Muththalib ib Hasyim, menantu Rasulullah dan ayah Hasan dan Husain…</em> setelahnya ia menghadap kepada para jamaah yang hadir seraya berkata, “Apakah aku menyebutnya samara-samar?”</li>
<li>Dilaporkan juga bahwa ia merobohkan masjid dan kemudian membangun di atasnya sebuah gereja untuk ibu kandungnya dan juga membangun di atasnya singagok-singagok.</li>
<li>Ia memberi jabatan kaum majusi untuk menghinakan kaum Muslimin.</li>
<li>Dan juga menikahkan wanita-wanita Muslimat dengan kaum kafir Ahli Kitab….</li>
<li>Ia mengatakan andai sang Khalifah tidak ridha kepada kami melainkan dengan menghancurkan bangunan Ka’bah pasti itu akan kami lakukan.</li>
<li>Dan ada laporan yang sangat menyayat hati setiap Muslim yang mendengarnya (kecuali jika ia menggemar berat kemunafikan bani Umayyah dan antek-anteknya. Ibnu Khallikan melaporkan bahwa ada seorang wanita Muslimah datang melapor kepada Khalid bahwa ia telah diperkosa oleh seorang pagawainya yang beragama Majusi, maka dengan tanpa keimanan dan rasa malu ia mengabaikan laporannya dan sekaligus mencemoohnya dengan mengatakan:<em> Gabaimana rasa penisnya yang belum dikhitan itu?”</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Jakfari berkata: </strong>Akankah anjing hina sepertinya dikatakan sebagai parawi <em>tsiqah</em>/jujur terpercaya? Lebih mulai dari berbohong? Adakah seorang Muslim yang peduli akan keselamatan agamanya rela menjadikannya sebagai parantara penukilan agama suci Allah? </p>
<p style="text-align:justify;">Apakah ini yang dibanggakan sebagian musuh-musuh Syi’ah bahwa kitab-kitab hadis Sunni, khususnya <em>Shihâh</em> <em>Sittah </em>dapat diandalkan kevalidannya? Sampai kapan kitab-kitab hadis umat Islam dicemari oleh hadis-hadis kaum fasiq, munafik dan kafir seperti Klahid si durja terkutuk itu?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5.      </strong><strong>Ziyâd ibn Jubair ats Tsaqafi al Bashri</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Parawi yang satu ini telah memikat hati banyak ulama hadis Sunni sehingga mereka berlomba-lomba memujinya. Imam Ahmad, Yahya ibn Ma’in, Abu Zur’ah, an Nasa’i, al Ijli, dan Ibnu Hibbân telah sepakat mentsiqahkannya. Dan para penulis <em>Shihâh</em>; kitab hadis standar Sunni juga berhujjah dengannya.<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn13">[13]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Mereka semua sepakat mengandalkannya padahal Ziyâd ini telah mencaci maki Hasan dan Husain as… Ibnu Abi Syaibah melaporkan dari Abdurrahman ibn Abi Nu’aim bahwa Ziyâd telah mencaci maki Hasan dan Husain….”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn14">[14]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Jakfari berkata:</strong> Apa uzur para ulama Sunni itu di hadapan Allah dan rasul-Nya ketika mereka berhujjah dengan si fasiq yang munafik itu?</p>
<p style="text-align:justify;">Akapah kebencian dan caci maki itu haram jika dialamatkan kepada Mu’awiyah dan Utsman dan halal hukumnya jika dialamatkan kepada kedua cucu tercinta Nabi kita; dua penghulu pemuda ahli surga?</p>
<p style="text-align:justify;">Saya benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada umat ini? Jika Ali, Hasa, Husain as. dcacat seakan kebajikan sedang diperagakan dan pemeraganya berhak mendapat sanjungan! Seakan sebuah kawajiban Allah sedang ditegakkkan di atas muka bumi! Namun apabila nama Mu’awiyah, Yazid, ‘Amr ibn Ash, Abu Hurairah, Utsman, Mughirah ibn Syu’bah, Abu Bakar dan Umar disentuh mereka bangkitkan dunia … mereka luncurkan adisi tercangtgih kutukan dan laknatan, seakan kehormatan Allah sedang diinjak-injak! <em>Innâ Lillâhi wa Innâ Ilaihi Râji’ûn</em>, semoga kita dilindungi Allah dari kesesatan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6.      </strong><strong>Abdullah ibn Zaid ibn ‘Amr al Jarmi al Bashri</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Al Ijli menegaskaan bahwa ia tak henti-hentinya mencacat Ali ibn Abi Thalib dan tidak sudi meriwayatkan satu hadis pun dari Ali, namun demikian al Ijli tetap saja menilainya sebagai <em>tsiqah</em>, ia berkata, “<span style="text-decoration:underline;">Ia seorang <em>tabi’în</em> yang tisqah, dan mencacat Ali ibn Abi Thalib dan tidak sudi meriwayatkan satu hadis pun dari Ali</span> .” dan bukan kali ini al Ijli menegaskan bahwa seorang perawi itu membenci Imam Ali as., namun ia tetap menegaskan ketsiqahannya!</p>
<p style="text-align:justify;">Bukhari mengatakan bahwa ia: <em>Rajulun Shâleh</em>/seorang yang shaleh.<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn15">[15]</a> Seperti juga dinukil dalam <em>at Tahdzîb</em>. Demikian juga adalah mengherankan ketika Ibnu Sirin berkata, ‘Dia adalah benar-benar saudaraku.”</p>
<p style="text-align:justify;">Parawi yang fasiq ini telah mampu memukao para ulama hadis Sunni, tak terkecuali Imam Ahli hadis tak tetandingi; Bukhari dan Muslim, serta para panulis kitab-kitab <em>Sunan</em> lainnya, seperti Abu Daud, Ibnu Majah, at Turmudzi, dan an Nasa’i.<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn16">[16]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>7.      </strong><strong>Abdullah ibn Syaqîq al ‘Uqaili al Bashri</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Parawi yang satu ini tidak pernah merahasiakan kebenciannya kepada Imam Ali as. sehingga setiap yang menyebut data pribadinya mengakui dalamnya kebencian tersebut. Namun anehnya, para ulama Sunni yang menegaskan kemunafikan parawi yang satu ini, mereka juga menegaskan ketsiqahannya bahkan lebih dari itu, mereka menganggapnya sebagai seorang <em>Waliyullah</em> yang doanya selalu dikabulkan Allah!</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan data-data di bawah ini:</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Khirâsy berkata, “Ia seorang Utsmaniy (Nashibi) <span style="text-decoration:underline;">yang membenci Ali</span>.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn17">[17]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kitab <em>at Tahdzîb</em> disebutkan bahwa Ibnu Sa’ad menggolongkannya sebagai <em>thabaqah</em> (genesari) pertama <em>tabi’în</em> penduduk kota Bashrah, dan ia berkata: “Ia seorang utsmaniy, ia <em>tsiqah</em>/jujur dalam periwayatan hadis.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn18">[18]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Ahmad al Ijli berkata, “Ia <em>tsiqah</em>. <span style="text-decoration:underline;">Ia mencerca Ali</span>.”</p>
<p style="text-align:justify;">Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah apa yang dikatakan oleh  al Jariri, “Abdullah ibn Syaqîq adalah seorang yang doanya selalu dikabulkan, terkadang ada awan yang lewat maka ia berkata, <em>‘Ya Allah jangan biarkan ia berlalu melewati tempat ini dan itu’</em>  maka turunlah hujan.’” Demikian dikisahkan oleh Ibnu Khaistamah.<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn19">[19]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Jakfari berkata: </strong>Orang Mukmin mana yang akan membenarkan dongeng murahan seperti itu?! Tidak diragukan lagi bahwa Ibnu Syaqîq adalah seorang munafik tulen. Dan kebenciannya kepada Imam Ali as. adalah bukti nyata akan hal itu. Andai benar apa yang didongengkan di atas pastilah itu tergolong <em>istidrâj</em>/diberikan sebagai cobaan, seperti yang diberikan Allah kepada dajjal.  </p>
<p style="text-align:justify;">Setelah terbukti kemunafikan Ibnu Syaqîq adalah sangat mengherankan ketika kita menyaksikan para ulama’ hadis Sunni berlomba-lomba mendapatkan hak paten periwayatan hadis darinya. Muslim dalam kitab Shahihnya telah mengandalkannya sebagai periwayat hadis. Demikian juga dengan Abu Daud, Ibnu Majah, at Turmudzi dan an Nasa’i.</p>
<p style="text-align:justify;">Dimanakah kita daapat temukan kecemburuan para ulama hadis Sunni ini terhadap kemuliaan para sahabat agung Nabi Muhammad saw.? Mengepa mereka begitu membanggakan parawi yang terang-teranngan membenci Ali as.?</p>
<p style="text-align:justify;">Mengepa mereka menyematkan status kehormatan atasnya? Bukankah –seperti yang ditegaskan Abu Zur’ah: <em>“Jika engkau menyaksikan seorang mencela-cela seorang dari sahabat Rasulullah saw. maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang zindîq.”</em> Dan juga yang ditegaskan Yahya ibn Ma’in:<em> “&#8230;Dan setiap yang mencaci maki Utsman atau Thalhah atau seorang dari sahabat Rasulullah saw. maka ia adalah dajjâl, tidak layak ditulis hadisnya. Atasnya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia.”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Saya benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam dunia hadis Sunni?! Mungkin Anda mengetahuinya?!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>8.      </strong><strong>Limâzah ibn Zabâr al Azdi al Jahdami Abu Labîd al Bashri.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kitab <em>Tahdzîb at Tahdzîb</em> dipaparkan pujian dan pentsiqahan para ulama Sunni terhadapnya, sementara pada waktu yang sama mereka menegaskan bahwa parawi yang satu ini adalah sangat membenci Imam Ali as. dan tidak pernah menyembunyikan sara dengki dan dendamnya kepada saudara Rasulullah yang jiwanya adalah belahan jiwa Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia hadir dalam peperangan Jamal di pihak musuh Imam Ali as. dan ia seorang <em>nashibi</em> yang tak henti-hentinya mencaci maki Ali dan memuji Yazid.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kitab <em>Tahdzîb at Tahdzîb</em> di atas disebutkan:</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Main berkata, “Ia seorang yang gemar mencaci maki. Ia mencaci maki Ali.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn20">[20]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Mathar ibn Humrân  berkisah, “Kami di sisi Abu Labîd, lalu ada yang berkata kepadanya, ‘Apakah engkau mencintai Ali?’ Maka ia menjawab, “Bagaimana aku mencintai Ali sedangkan ia telah membunuh enam ribu dari anggota kaumku dalam satu hari.’”</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Hawbi ibn Jarîr dari ayahnya, ia berkata, “Labîd adalah orang yang gemar mencaci maki. Maka aku tanyakan kepada ayahku, siapa yang ia caci maki? Maka ayahku menjawab, ‘Ia mencaci maki Ali ibn Abi Thalib.</p>
<p style="text-align:justify;">Kendati demikian tidak sedikit ulama Sunni yang membanggakannya dan mengangganya <em>Shalihul hadîts</em>/ia bagus hadisnya. Abu Daud, Ibnu Mâjah dan at Turmudzi mengandalkan riwayatnya dalam kitab-kitab <em>Sunan</em> mereka.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>9.      </strong><strong>Harîz ibn Utsman al Himshi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ke<em>nashibi</em>an Harîz tidak samar bagi semua peneliti yang akrab dengan kajian sejarah para perawi hadis. Ia sangat membenci Imam Ali as. dan tak henti-hentinya melaknati beliau di berbagai kesempatan, khususnya dalam wirid seusai shalat!! Tidak cukup itu, ia juga tidak segan-segan memalsu hadis yang menyelek-jelekkan Imam Ali as.</p>
<p style="text-align:justify;">Data-data di bawah ini cukup sebagai bukti:</p>
<p style="text-align:justify;">Ditanyakan kepada Yahya ibn Shaleh, “Mengapa Anda tidak menulis hadis dari Harîz? Ia menjawab, ‘Bagaimana aku sudi menulis hadis dari seorang yang selama tujuh tahun aku salat bersamanya, ia tidak keluar dari masjid sebelum melaknat Ali tujuh puluh kali.’“<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn21">[21]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hibban juga melaporkan, “Ia selalu melaknat Ali ibn Abi Thalib ra. tujuh puluh kali di pagi hari dan tujuh puluh kali di sore hari”. Ketika ia ditegur, ia mengatakan, “Dialah yang memenggal kepala-kepala leluhurku.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn22">[22]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dan tentang keberaniannya memalsu hadis, ikuti laporan Ismail ibn Iyasy berikut ini, ia berkata, “Aku mendengar Harîz ibn Utsman berkata, ’Hadis yang banyak diriwayatkan orang dari Nabi bahwasannya beliau bersabda kepada Ali, <em>“Engkau di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa”</em>, itu benar tetapi pendengarnya salah dengar. Aku bertanya, “Lalu  redaksi yang benar bagaimana? Ia berkata, “<em>Engkau di sisiku seperti kedudukan Qarun di sisi Musa”</em>. Aku bertanya lagi, “Dari siapa kamu meriwayatkannya?” ia berkata, “Aku mendengar Walîd ibn Abd. Malik mengatakannya dari atas mimbar”.<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn23">[23]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Al Azdi juga melaporkan kepada kita “Harîz meriwayatkan bahwa ketika Nabi saw. hendak menaiki <em>baghel</em>nya<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn24">[24]</a> datanglah Ali lalu  melepaskan pelananya agar beliau jatuh.”</p>
<p style="text-align:justify;">Al Jauhari juga melaporkan kepada kita dengan sanadnya bersambung kepada Mahfûdz, Ia berkata, “Aku bertanya kepada Yahya ibn Shaleh Al Wahadzi, ‘Kamu telah meriwayatkan dari para guru sekelas Harîz, lalu  mengapakah kamu tidak meriwayatkan  dari Harîz?’ Ia berkata, ‘Aku pernah datang kepadanya lalu ia menyajikan buku catatannya, lalu  aku temukan di dalamnya, Si fulan telah menyampaikan hadis kepadaku dari fulan… bahwa Nabi saw. menjelang wafat beliau berwasiat agar tangan Ali ibn Abi Thalib di potong.”. Maka aku kembalikan buku itu dan aku tidak menghalalkan diriku meriwayatkan darinya!!.<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn25">[25]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Semua itu tidak rahasia lagi… Akan tetapi yang benar-benar mengeharkan adalah ternyata tidak sedikit tokoh-tokoh besar hadis Ahlusunnah menegaskan ketsiqahannya. Imam Ahmad ibn Hanbal mengatakan, “Ia tsiqah, Ia tsiqah, ia tsiqah!”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn26">[26]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Di sini, seperti Anda saksikan, Imam Ahmad (seorang tokoh terkemuka empat Mazhab Sunni) tidak cukup sekali dalam mengapresiasi kejujuran dan keadilan Harîz. Ia mengulanginya tiga kali. Menyematkan gelar tsiqah kepaada seorang perawi adalah puncak pengandalan. Dan lebih dari kata tsiqah, apabila kata itu diulang dua apalai tiga kali.</p>
<p style="text-align:justify;">Itu artinya Harîz benar-benar menempati tempat istimewa dalam jiwa Imam besar Ahhlusunnah. Selain Ahmad, Yahya ibn Ma’in dan para imam hadis Sunni juga mentsiqahkannya. Demikian ditegaskan Ibnu Hajar dalam <em>Hadyu as Sâri</em>-nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Abu Hatim menegaskan bahwa tidak ditemukan di kota Syam seorang parawi yang lebih kokoh darinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Adi berkata, ‘Ia tergolong parawi kota Syam yang tsiqat/jujur terpercaya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ahmad ibn Abi Yahya berkata, “Ia (Harîz) seorang yang shahih hadisnya, <span style="text-decoration:underline;">hanya saja ia mencaci maki Ali.”</span></p>
<p style="text-align:justify;">Al Ijli berkata, “Ia (Harîz) seorang penduduk kota Syam yang tsiqah. <span style="text-decoration:underline;">Dan ia mencerca dan mencaci maki Ali</span>. Ia menghafal hadisnya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kesempatan lain ia berkata, “Ia kokoh riwayatnya dan <span style="text-decoration:underline;">ia sangat membenci Ali.</span>”</p>
<p style="text-align:justify;"> Ibnu Ammâr berkata, “Para ulama menuduhnya mencaci maki Ali, namun mereka tetap saja meriwayatkan dahis darinya, berhujjah dengannya dan tidak meninggalkannya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Dan masih banyak komentar lain sengaja saya tinggalkan….</p>
<p style="text-align:justify;">Karenannya adalah mengherankan sikap ulama Sunni yang masih tetap saja mengandalkannya dalam periwayatan hadis.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak mengerti apakah sikap keras para muhaddis Ahlusunnah dalam berpegang teguh dengan hadis riwayatnya itu didasari oleh kebanggaan mereka kepada hadis riwayat kaum munafik pembenci Imam Ali as.? Atau didasari oleh kayakinan mereka akan kejujuran tutur kata kaum munafik pembenci Imam Ali as.?</p>
<p style="text-align:justify;">Atau karena sebab lainnya. <em>Wallahu A’lam</em>, hanya Allah yang Maha mengetahui hakikat sebenarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang pasti, sikap tidak sehat seperti itu dapat membuat para pecinta Ahlulbait as. berhak curiga akan ketulusan ulama hadis Sunni dalam klaim kecintaan mereka kepada Imam Ali as. dan Ahlulbait Nabi as.!! Karenanya sudah seharusnya para ulama Sunni kontemporer mengoreksi dan mengintropeksi <em>Manhaj Hadis Sunni</em> demi menemukan kesuciannya! <strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penutup:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk sementara saya cukupkan menyebut sembilan contoh  penyalur hadis yang telah dipercaya habis-habisan oleh muhaddis Sunni. Semoga dalam kesempatan lain saya dapat menyajikan data-data lain tentang parawi-parawi munafik seperti mereka.<em> Wallahu Waliyyut taufîq</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">
<hr size="1" /></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1">[1]</a> Penulis berharap judul di atas tidak akan disalah-pahami oleh musuh-musuh Ahlulbait as. sebagai sebuah stitmen pembenaran atas sikap mencaci maki sahabat mulia Nabi saw.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2">[2]</a> Istilah <em>Zindîq </em>(orang yang lepas dari ikatan agama dan norma-norma langit) sudah disalah-gunakan demi kepentingan-kepntingan tertentu. Misalnya, Khalifah al Mahdi –dari dinasti Abbasiyah- menyebut siapapun yang tidak mengakui kekhalifahannya sebagai <em>Zindîq</em>. (<em>Tarikh Ibnu Katsir</em>,10/153) Demikian juga kata itu dialamatkan kepada seseorang yang mengkritik sebagian hadis sahabat atau menolaknya karena dalam hematnya tidak shahih. (<em>Târîkh Badgdâd</em>,14/7).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3">[3]</a> Ash Shawâiq al Muhriqah;Ibnu Hajar al Haitami, Penutup:211.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4">[4]</a> Târîkh Baghdâd,7/145 ketika menyebut data Taid, no.3582.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5">[5]</a> Al Majrûhîn,1/204.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref6">[6]</a> Tarikh Baghdad,14/427.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref7">[7]</a> Ibnu Hajar mendefenisikan kenashibian sebagai: kebencian kepada Ali dan mengutamakan sahabat lain atasnya. (<em>Hadyu as Sâri Muqaddimah Fathi al Bâri</em>,2/213)</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref8">[8]</a> Ibnu Hajar sendiri telah mendefenisikan kesyi’ahan sebagai berikut: <em>Kesyi’ahan adalah kecintaan kepada Ali dan mengutamakannya atas para sahabat. Maka barang siapa yang mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar berarti ia ekstrim dalam kesyi’ahannya, dan ia disebut juga dengan Rafidhi. Jika tidak (mengutamakannya di atas Abu Bakar dan Umar) maka ia hanya seorang Syi’ah.”</em> (Hadyu as Sâri Muqaddimah Fathi al Bâri,2/213)</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref9">[9]</a> 2/143.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref10">[10]</a> Tahdzîb at Tahdzîb, 3/83 dan Mizân al I’tidâl,2/412.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref11">[11]</a> Ibid.152</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref12">[12]</a> Istilah <em>Shadûq</em> (jujur) adalah gelar yang diberikan kepada seorang perawi sebagai bukti apresiasi pujian, seperti juga kata <em>tsiqah</em>, hanya saja ia dibawah tinggat apresiasi kata <em>tsiqah</em> dalam hirarki redaksi penta’dilan. </p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref13">[13]</a> Tahdzîb at Tahdzîb,3/308.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref14">[14]</a> Mushannaf; Ibnu Abi Syaibah,12/96 hadis no.12225.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref15">[15]</a> At Târiîkh al Kabîr; Bukhari,5/92.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref16">[16]</a> Lebih lanjut baca Mizân al I’tidâl,4/103.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref17">[17]</a> Tahdzîb al Kamâl,15/91 data no.3333.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref18">[18]</a> Ath Thabaqât al Kubrâ,7/126.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref19">[19]</a> Tarîkh Damasqus,26/161.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref20">[20]</a> Pernyataan ini juga dapat Anda temukan dalam Ma’rifah ar Rijâl,1/145.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref21">[21]</a> <em>Tahdzîb al Tahdzîb</em>,2/209 ketika membicarakan biodata Harîz, <em>Tarikh Damaskus</em>,12/349.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref22">[22]</a> <em>Al MajRûhuun</em>,1/268.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref23">[23]</a> <em>Tahdzîb al Tahdzîb</em>,2/209 ketika membicarakan biodata Harîz, <em>Tahdzîb al Kamâl</em>,5/577, Tarikh Baghdad.8,268 dan <em>Tarikh Damaskus</em>,12/349.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref24">[24]</a> <em>Baghel</em> adalah peranakan antara kuda dan keledai.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref25">[25]</a> <em>Syarh Nahj al Balâghah</em>; Ibnu Abi Al Hadid al Mu’tazili,4/70.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref26">[26]</a> <em>Tahdzîb al Kamâl</em>,5/175.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/450/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=450&subd=jakfari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/12/ternyata-mencaci-maki-sahabat-nabi-tidak-apa-apa-hukumnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a64cca68ac2c1a92a502d76875fe3d31?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Ali Tidak Memprotes Pembaiatan Atas Abu Bakar? (2)</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/12/mengapa-ali-tidak-memprotes-pembaiatan-atas-abu-bakar-2/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/12/mengapa-ali-tidak-memprotes-pembaiatan-atas-abu-bakar-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 05:06:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Haulasyiah]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa Imam Ali as. Akhirnya Membaiat Abu Bakar?
Adapun mengapa akhirnya Imam Ali as. memberikan baitannya untuk Abu Bakar? Riwayat-riwayat dari Aisyah di atas mengatakan bahwa ia memohon perdamaian dengan pihak Abu Bakar dikarenakan kematian Fatimah yang mengakibatkan berpalingnya orang-orang dari Ali as.
Demikian Aisyah menganalisa sikap politis Imam Ali as. dan itu adalah hak Aisyah untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=443&subd=jakfari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Mengapa Imam Ali as. Akhirnya Membaiat Abu Bakar?</strong></p>
<p>Adapun mengapa akhirnya Imam Ali as. memberikan baitannya untuk Abu Bakar? Riwayat-riwayat dari Aisyah di atas mengatakan bahwa ia memohon perdamaian dengan pihak Abu Bakar dikarenakan kematian Fatimah yang mengakibatkan berpalingnya orang-orang dari Ali as.<span id="more-443"></span></p>
<p>Demikian Aisyah menganalisa sikap politis Imam Ali as. dan itu adalah hak Aisyah untuk mengatakannya! Sebagaimana orang lain juga boleh mengutarakan analisanya dalam masalah tersebut. Akan tetapi Imam Ali as. menerangkan kepada kita sebab mengapa beliau pada akhirnya memberikan baiat untuk Abu Bakar dan tidak terus mengambil sikap oposisi, apalagi perlawanan bersenjata!</p>
<p>Dalam keterangan-keterangan yang dinukil dari Imam Ali as. ada beberapa sebab:</p>
<p><em>Pertama</em>, tidak adanya pembela yang cukup untuk mengambil alih kembali hak kewalian beliau.</p>
<p>Sikap Imam Ali as. itu telah beliau abadikan dalam benyak kesempatan, di antara dalam pidato beliau yang terkenal dengan nama khuthbah Syiqsyiqiyyah.</p>
<p>Imam Ali as. berpidato:</p>
<p dir="rtl">أَمَا وَاللهِ لَقَدْ تَقَمَّصَهَا إبْنُ اَبِيْ قُحَافَةَ وَإِنَّهُ لَيَعْلَمُ أَنَّ مَحَلِّي مِنْهَا مَحَلُّ اْلقُطْبِ مِنَ الْرُحَى , يَنْحَدِرُ عَنِّي اْلسَيْلُ وَ لاَ يَرْقَى إلَىَّ الْطَيْرُ. فَسَدَلْتُ دُوْنَهَا ثَوْبًا  وَ طَوَيْتُ عَنْهَا كَشْحًا .<strong><em> </em></strong>وَ طَفِقْتُ أَرْتَئِ بَيْنَ أنْ أَصُوْلَ بِيَدٍ جَذَّاءَ أوْ أَصْبِرَ عَلَى طِخْيةٍ عَمْيَاءَ , يَهْرَمُ فِيْهَا الْكَبِيْرُ وَ يَشِيْبُ فِيْهَا الْصَغِيْرُ, وَ يَكْدَحُ  فِيْهَا الْمُؤْمِنُ حَتَّى يَلْقَى رَبَّهُ<strong><em> </em></strong>!</p>
<p dir="rtl">فَرَاَيْتُ اَنَّ الْصَبْرَ عَلَى هَاتَا أَحْجَى . فَصَبَرْتُ , وَ فِي الْعَيْنِ قَذًى, و<strong><em> </em></strong>فِي الْحَلْقِ شَجًا أَرَى تُرَاثِيْ<strong><em>  </em></strong>نَهْبًا.<strong><em>                                              </em></strong><em>           </em><strong><em> </em></strong><strong> </strong></p>
<p><em>“Demi Allah, sesungguhnya putra Abu Quhafah (Abu ABakar) telah mengenakan busana kekhilafahan itu, padahal ia tahu bahwa kedudukanku sehubungan dengan itu adalah bagaikan kedudukan poros pada penggiling. Air bah mengalir dariku dan burung tak dapat terbang sampai kepadaku. Maka aku mengulur tabir terhadap kekhilafahan dan melepaskan diri darinya. </em></p>
<p><em>Kemudian aku mulai berpikir, <span style="text-decoration:underline;">apakah aku harus menyerang dengan tangan terputus</span> atau bersabar atas kegelapan yang membutakan, dimana orang dewasa menjadi tua bangka dan anak kecil menjadi beruban dan orang mukmin yang sesungguhnya hidup dalam tekanan sampai ia menemui Tuhannya!</em></p>
<p><em>Maka aku dapati bahwa bersabar atasnya lebih bijaksana. Maka aku bersabar, walaupun ia menusuk mata dan mencekik kerongkongan. <span style="text-decoration:underline;">Aku menyaksikan warisanku dirampok</span> … “</em> <a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1">[1]</a></p>
<p><em>Kedua</em>, sikap enggan memberikan baiat itu sudah cukup membuktikan hak kewalian beliau yang mereka bekukan.</p>
<p>Dan <em>ketiga</em>, mengingat maslahat umat Islam menuntut agar beliau mengorbankan hak beliau demi meraih maslahat Islam yang lebih abadi. Sebab eksistenti kaum Muslimin dan <em>Dawlah Islam </em>sedang terancam dengan maraknya kaum murtad yang meninggalkan agama Islam dan berniat untuk menyerang kota suci Madinah dan memerangi kaum Muslim!</p>
<p>Dalam sebuah pernyataannya, Imam Ali as. menjelaskan sebab mengapa beliau sudi memberikan baiat untuk Abu Bakar:</p>
<p dir="rtl">فأَمْسَكْتُ يدي حتَّى رأيتُ راجِعَةَ الناسِ قد رجعت عن الإسلامِ , يدعون إلى مَحقِ دين محمد (ص), فَخَشيتُ إن لم أنصرِ الإسلامِ و أهلَه أن أرى فيه ثَلْمًا أو هدمًا تكون المصيبةُ بِهِ عليَّ أعظَم من فوتِ ولايَتِكم.</p>
<p>“Dan ketika aku saksikan kemurtadan orang-orang telah kembali meninggalkan Islam, mereka mengajak kepada pemusnahan agama Muhammad saw., maka aku khawatir jika aku tidak membela Islam dan para  pemeuluknya aku akan menyaksikan celah atau keruntuhan Islam yang bencananya atasku lebih besar dari sekedar hilangnya kekuasaan atas kalian.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2">[2]</a>   </p>
<p>Inilah sebabh hkiki dalam maalah ini, bukan seperti yang diasumsikan sebagian orang.</p>
<p>Adapaun tuduhan Syeikh bahwa dengan demikian kaum Syi’ah menuduh Imam mereka bersikap pengecut, maka kesimpulan miring itu sama sekali tidak berdasar, sebab pada diri Nabi Harun as. terdapat <em>uswah</em>, teladah baik bagi Imam Ali as. ketika beliau berkata, seperti diabadikan dalam Al Qur’an:</p>
<p dir="rtl"><strong>وَ لَمَّا رَجَعَ مُوسى‏ إِلى‏ قَوْمِهِ غَضْبانَ أَسِفاً قالَ بِئْسَما خَلَفْتُمُوني‏ مِنْ بَعْدي أَ عَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَ أَلْقَى الْأَلْواحَ وَ أَخَذَ بِرَأْسِ أَخيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُوني‏ وَ كادُوا يَقْتُلُونَني‏ فَلا تُشْمِتْ بِيَ الْأَعْداءَ وَ لا تَجْعَلْني‏ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمينَ<sup> </sup></strong><strong></strong></p>
<p><em>“Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” Dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata: “Hai anak ibuku, <span style="text-decoration:underline;">sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku,</span> sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang lalim.” (QS.A’râf [7];150)</em><em></em></p>
<p>Imam Ali as. mengalami kondisi serupa dengan parnah dialami oleh Nabi Harun as. ketika kaumnya membangkang dengan kesesatan akibat provokasi Samiri.</p>
<p>Ketertindasan dan ketidak-berdayaan Imam Ali as. itu telah diberitakan Nabi saw. dalam banyak sabda beliau, di antaranya adalah hadis yang sangat terkenal yang berbunyi:</p>
<p dir="rtl">أنتم المستَضْغَفٌون بَعدي</p>
<p><em>“Sepeninggalku, kalian akan ditindas.”</em><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3">[3]</a></p>
<p> </p>
<p><strong>Nabi saw. Mengabarkan Bahwa Umat Akan Mengkhianati Imam Ali as. </strong></p>
<p>Bahkan lebih dari itu, Nabi saw. telah memberitakan dari balik tirai ghaib, bahwa umat ini akan menelantarkan Ali as. dan tidak memberikan kesetian pembelaan untuknya. Mereka akan mengkhianatinya!</p>
<p>Imam Ali as. berulang kali mengatakan:</p>
<p dir="rtl">إنّه ممّا عهد إليّ النبي (صلى الله عليه وآله وسلم) أنّ الاُمّة ستغدر بي بعده.</p>
<p><em> </em><em>“Termasuk yang dijanjikan Nabi kepadaku bahwa umat akan mengkhianatiku sepeninggal beliau.”</em><em> </em></p>
<p>Hadis ini telah diriwayatkan dan dishahihkan al Hakim dan adz Dzahabi. Ia berkata:</p>
<p dir="rtl">صحيح الاسناد</p>
<p><em>“Hadis ini sahih sanadnya.”</em></p>
<p>Adz Dzahabi pun menshahihkannya. Ia berkata:</p>
<p dir="rtl">صحيح<em></em></p>
<p><em>“Hadis ini shahih.” <a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4"><strong>[4]</strong></a></em></p>
<p>Sebagaimana juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, al Bazzâr, ad Dâruquthni, al Khathib al Baghdâdi, al Baihaqi dkk.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Nabi saw. Mengabarkan Bahwa Umat Akan Menuangkan Kedengkian Mereka Kepada Imam Ali as.</strong></p>
<p>Demikian juga, sebagian orang yang memendam dendam kusumat dan kebencian kepada Nabi saw. akan menuangkannya kepada Imam Ali as., dan puncaknya akan mereka lakukan sepeninggal Nabi saw.</p>
<p>Kenyataan itu telah diberitakan Nabi saw. kepada Ali as. Para ulama meriwayatkan banyak hadis tentangnya, di antaranya adalah hadis di bawah ini:</p>
<p>Imam Ali as. berkata:</p>
<p dir="rtl">بينا رسول الله (صلى الله عليه وسلم) آخذ بيدي ونحن نمشي في بعض سكك المدينة، إذ أتينا على حديقة، فقلت: يا رسول الله ما أحسنها من حديقة ! فقال: إنّ لك في الجنّة أحسن منها، ثمّ مررنا بأُخرى فقلت: يا رسول الله ما أحسنها من حديقة ! قال: لك في الجنّة أحسن منها، حتّى مررنا بسبع حدائق، كلّ ذلك أقول ما أحسنها ويقول: لك في الجنّة أحسن منها، فلمّا خلا لي الطريق اعتنقني ثمّ أجهش باكياً، قلت: يا رسول الله ما يبكيك ؟ قال: ضغائن في صدور أقوام لا يبدونها لك إلاّ من بعدي، قال: قلت يا رسول الله في سلامة من ديني ؟ قال: في سلامة من دينك.</p>
<p>“Ketika Rasulullah saw. memegang tanganku, ketika itu kami sedang berjalan-jalan di sebagian kampong kota Madinah, kami mendatangi sebuah kebun, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah alangkah indahnya kebun ini!’ Maka beliau bersabda, ‘Untukmu di surga lebih indah darinya.’ Kemudian kami melewati tujuh kebun, dan setiap kali aku mengatakannya, ‘Alangkah indahnya’ dan nabi pun bersabda, ‘Untukmu di surga lebih indah darinya.’ Maka ketika kami berda di tempat yang sepi, Nabi saw. memelukku dan sepontan menangis. Aku berkata, ‘Wahai Rrasulullah, gerangan apa yang menyebabkan Anda menangis?’ Beliau menjawab, ‘<span style="text-decoration:underline;">Kedengkian-kedengkian yang ada di dada-dada sebagian kaum yang tidak akan mereka tampakkan kecuali setelah kematianku.</span>’ Aku berkata, ‘Apakah dalam keselamatan dalam agamaku?’ Beliau menjawab, ‘Ya. Dalam keselamatan agamamu.’”</p>
<p>Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la, al Bazzâr dengan sanad shahih, al Hakim dan adz Dzahabi dan mereka menshahihkannya,<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5">[5]</a> Ibnu Hibbân dkk. <a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Ia juga disebutkan oleh asy Syablanji dalam kitab Nûr al Abshârnya:88</p>
<p>Jadi jelaslah bagi kita apa yang sedang dialami oleh Imam Ali as. dari sebagian umat ini!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Imam Ali as. Mengeluhkan Pengkhiatanan Suku Quraisy!</strong></p>
<p>Dalam banyak pernyataannya, Imam Ali as. telah mengeluhkan kedengkian, kejahatan dan sikap arogan suku Quraisy terhadap Nabi saw. yang kemudian, ketika mereka tidak mendapatkan jalan untuk meluapkannya kepada beliau saw., mereka meluapkan dendanm kusumat kekafiran dan kemunafikan kepadanya as.</p>
<p>Di bawah ini akan saya sebutkan sebuah kutipan pernyataan beliau as. tersebut.</p>
<p dir="rtl">اللهمّ إنّي أستعديك على قريش، فإنّهم أضمروا لرسولك (صلى الله عليه وآله وسلم) ضروباً من الشر والغدر، فعجزوا عنها، وحُلت بينهم وبينها، فكانت الوجبة بي والدائرة عليّ، اللهمّ احفظ حسناًوحسيناً، ولا تمكّن فجرة قريش منهما ما دمت حيّاً، فإذا توفّيتني فأنت الرقيب عليهم وأنت على كلّ شيء شهيد.</p>
<p>“Ya Allah, aku memohon dari Mu agar melawan Quraisy, karena mereka telah memendam bermacam sikpa jahat dan pengkhianatan kepada Rasul-Mu saw., lalu mereka lemah dari meluapkannya, dan Engkau menghalang-halangi mereka darinya, maka dicicipkannya kepadaku dan dialamatkannya ke atasku. Ya Allah peliharalah Hasan dan Husain, jangan Engkau beri kesempatan orang-orang durjana dari Quraisy itu membinasakan keduanya selagi aku masih hidup. Dan jika Engkau telah wafatkan aku, maka Engkau-lah yang mengontrol mereka, dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Coba Anda perhatikan pernyataan Imam Ali as. di atas, bagaimana dendam dan pengkhianatan Quraisy terhadap Nabi saw. akan mereka luapkan kepadanya! Dan di dalamnya juga terdapat penegasan bahwa mereka tidak segan-segan akan menghabisi nyawa bocah-bocah mungil kesayangan Rasulullah saw.; Hasan dan Husain as. yang akan meneruskan garis keturunan kebanian sebagai melampiasan dendam mereka kepada Nabi saw.!</p>
<p> </p>
<p> </p>
<hr size="1" /><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1">[1]</a>Nahjul Balaghah, pidato ke3.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2">[2]</a> Ibid. pidato ke74.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3">[3]</a> Musnad Ahmad,6/339.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4">[4]</a> Mustadrak al Hakim,3/140 dan 142.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5">[5]</a> Al Mustadrak,3/139 hanya saja bagian akhir radaksi hadis ini terpotong, sepertinya ada “tangan-tangan terampil” yang sengaja menyensor hadis di atas.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref6">[6]</a>Teks hadis di atas sesuai dengan yang terdapat Majma’ az Zawâid,9/118.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref7">[7]</a> Syarah Nahjul Balaghhah, 20/298.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/443/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=443&subd=jakfari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/12/mengapa-ali-tidak-memprotes-pembaiatan-atas-abu-bakar-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a64cca68ac2c1a92a502d76875fe3d31?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Ali Tidak Memprotes Pembaiatan Atas Abu Bakar? (1)</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/11/mengapa-ali-tidak-memprotes-pembaiatan-atas-abu-bakar-1-2/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/11/mengapa-ali-tidak-memprotes-pembaiatan-atas-abu-bakar-1-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 03:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Haulasyiah]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=421</guid>
		<description><![CDATA[Pengingkaran Pendiri Mazhab Wahabi; Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb terhadap tegasnya petunjuk hadis Ghadir sebagai penujukan atas Imam Ali as. sebagai Pemimpin Tertinggi Umat Islam sepeninggal Nabi saw. yang telah kami bantah kepalsuan dan kebatilan anggapannya pada edisi sebelumnya, ia susul denan kata-kata:

&#8230; ولو كان نصاً لادّعاها علي رضي الله عنه لأنه أعلم بالمراد، ودعوى إدّعائها [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=421&subd=jakfari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pengingkaran Pendiri Mazhab Wahabi; Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb terhadap tegasnya petunjuk hadis Ghadir sebagai penujukan atas Imam Ali as. sebagai Pemimpin Tertinggi Umat Islam sepeninggal Nabi saw. yang telah kami bantah kepalsuan dan kebatilan anggapannya pada edisi sebelumnya, ia susul denan kata-kata:</p>
<blockquote><p><span id="more-421"></span></p>
<h2>&#8230; ولو كان نصاً لادّعاها علي رضي الله عنه لأنه أعلم بالمراد، ودعوى إدّعائها باطل ضرورة ، ودعوى علمه يكون نصاً على خلافته وترك إدعائها تقية أبطل من أن يبطل . وما أقبح ملة قوم يرمون إمامهم بالجُبن والخور والضعف في الدين مع أنه أشجع الناس وأقواهم.</h2>
<p><em>“… jika demikian (ia sebagai </em><em>nash/penunjukan terang) pastilah Ali mengakuinya, sebab ia lebih mengerti maksudnya. Dan mengklaim bahwa Ali mengakuinya adalah batil/palsu secara pasti, dan mengklaim bahwa Ali mengetahuinya tetepi ia meninggalkan mengakuinya kerena </em><em>taqiyyah lebih batil untuk dibantah.</em></p>
<p><em>Alangkah jelaknya agama kaum yang menuduh imam mereka pengecut dan takut serta lemah dalam menegakkan agama, padahal ia termasuk paling berani dan paling kuatnya orang …&#8221;<br />
</em></p></blockquote>
<p><strong>Tanggapan Kami:</strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Ibnu Ja’fari berkata: </strong></span></p>
<p>Untuk klaim palsunya kali ini kami bermaksud menaggapinya secara ringkas dan secukupnya dengan membuktikan bahwa sebenarnya sejarah otentik telah mencatat bahwa ternyata Imam Ali as. tidak diam, beliau telah memprotes dengan keras pembaiatan atas Abu Bakar sebagai Khalifah. Demikian juga dengan keluarga beliau, keluarga besar bani Hasyim dan para pengikut setia beliau, mereka telah memprotes keras hasil pembaiatan Abu Bakar di Saqîfah.</p>
<p>Protes tersebut beliau demonstrasikan dengan beragam cara di antaranya dengan sikap praktis yang akan menjadi bukti disepanjang sejarah yang tidak akan dapat ditutup-tutupi oleh upaya pembutaan apapun!</p>
<p>Imam Ali as. melakukan protes keras dengan menolak memberikan pengakuan legalitas syar’i atas hasil pembaiatan Abu Bakar di Saqîfah! Dan berbagai upaya termasuk dengan cara kekerasan sekalipun ternyata para pendukung kekhalifahan Abu Bakar tidak mampu membuat Imam Ali as. bertekuk lutut memberikan baiat dan restu serta pengakuan akan keabsahan Khalifah Abu Bakar!</p>
<p>Imam Ali as. tetap tegar dengan pendiriannya, dan membuktikan kepada umat dan sejarah bahwa hak kewalian beliau yang telah ditetapkan Allah SWT melalui Nabi-Nya di Ghadir Khum telah dibekukan dan diambil alih oleh  kelompok Saqîfah!</p>
<p>Berita tentang keengganan Imam Ali as. untuk membaiat Abu Bakar sedemikian masyhur, sehingga kitab hadis paling selektif, seperti Shahih Bukhari pun melolos-sensorkannya.</p>
<p>Imam Ali as. menolak memberikan baiat selama kurun waktu enam bulan dari pembaiatan Abu Bakar! Sebuah waktu yang sangat panjang! Dalam kurun waktu itu, Imam Ali as. tak henti-hentinya membuktikan hak kewaliannya atas umat Islam! Sehingga terjadi kerenggangan hubungan antara beliau dengan Abu Bakar dan kelompoknya.</p>
<p>Penentangan Imam Ali as. atas rekayasa pembaitan Abu Bakar di Saqîfah berbuntut panjang!</p>
<p>Di antara ekor panjang penentangan Imam Ali as. atas pembaiatan Abu Bakar adalah peristiwa-peristiwa berikut ini:</p>
<p><strong>A) </strong><strong>Ancaman Pembakaran.</strong></p>
<p>Para sejarawan Islam melaporkan berbagai peristiwa penting di antaranya apa yang dilaporkan oleh <em>Ibnu Abi Syaibah</em> (w.235H) dalam <em>Mushannaf</em>-nya dengan sanad bersambung kepada Zaid ibn Aslam dari ayahnya, ia berkata:</p>
<blockquote>
<h2>حين بويع لابي بكر بعد رسول الله، كان علي والزبير يدخلان على فاطمة بنت رسول الله، فيشاورونها ويرتجعون في أمرهم، فلمّا بلغ ذلك عمر بن الخطّاب، خرج حتّى دخل على فاطمة فقال: يا بنت رسول الله، والله ما أحد أحبّ إلينا من أبيك، وما من أحد أحبّ إلينا بعد أبيك منك، وأيم الله ما ذاك بمانعي إنْ اجتمع هؤلاء النفر عندك أن أمرتهم أن يحرّق عليهم البيت.</h2>
<p><em>“Ketika Abu Bakar dibaiat sepeninggal Rasulullah, Ali dan Zubair masuk menemui Fatimah putri Rasulullah. Mereka bermusyawarah dengannya tentang urusan mereka. Ketika berita itu didengar oleh Umar ibn al Khaththab, ia keluar sehingga menemui Fatimah dan berkata kepadanya, ‘Hai putri Rasulullah, demi Allah tiada seorang yang lebih aku cintai dari ayahmu dan tiada seorang setelah ayahmu yang lebih kami cintai darimu. Demi Allah hal itu sama sekali tidak akan mencegahku jika mereka berkumpul di sisimu untuk kuperintahkan agar rumah ini dibakar bersama mereka.’” </em><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1">[1]</a></p></blockquote>
<p>Ath Thabari juga melaporkan dalam <em>Târîkh al Umam wa al Mulûk</em>:</p>
<p dir="rtl">أتى عمر بن الخطّاب منزل علي، وفيه طلحة والزبير ورجال من المهاجرين فقال: والله لاُحرقنّ عليكم أو لتخرجنّ إلى البيعة، فخرج عليه الزبير مصلتاً سيفه، فعثر فسقط السيف من يده، فوثبوا عليه فأخذوه.</p>
<p>“Umar ibn al Khaththab mendatangi rumah Ali, di dalamnya berkumpul Thalhah dan Zubair dan beberapa orang Muhajirin, ia berkata (mengancam), ‘Demi Allah aku benar-benar akan membakar kalian atau kalian keluar untuk memberikan baiat!’ Maka Zubair keluar sambil menghunuskan pedangknya, lalu ia terpeleset dan jatuhlah pedang itu dari tangannya, lalu mereka mengeroyoknya dan mengambil pedang itu darinya.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>B) </strong><strong>Mereka Membawa Obor Yang Menyala.</strong></p>
<p>Jika pada pada laporan-laporan di atas hanya disebutkan bahwa mereka (Umar dkk.) hanya mengancam akan membakar rumah Fatimah bersama penghuninya karena mereka berkumpul menentang Khalifah Abu Bakar, maka dalam laporan-laporan di bawah ini disebutkan bahwa Umar dan rekan-rekannya benar-benar ingin membuktikan keseriusan ancaman mereka itu dengan membawa obor yang menyala-nyala.</p>
<p>Dalam <em>Ansâb al Asyrâf</em>-nya, al Balâdzuri (w.224H) melaporkan:</p>
<blockquote>
<h2>إنّ أبا بكر أرسل إلى علي يريد البيعة، فلم يبايع، فجاء عمر ومعه فتيلة، فتلقّته فاطمة على الباب، فقالت فاطمة: يابن الخطّاب، أتراك محرّقاً عَلَيّ بابي ؟! قال: نعم، وذلك أقوى فيما جاء به أبوك.</h2>
<p><em>“Sesunggunya Abu Bakar mengutus (seorang utusan) kepada Ali memintanya agar membaiat, tapi Ali tidak mau membaiat. Maka datanlah Umar dengan membawa obor, lalu Fatimah menghadangnya di depan pintu, ia berkata, ‘Hai putra al Khaththab, apakah engkau akan membakarku dengan membakar pintu rumahku?!’ Umar menjawab, ‘Ya, dan hal itu akan menguatkan agama yang dibawa ayahmu.’”</em><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3">[3]</a></p></blockquote>
<p>Ibnu Abdi Rabbih (w.328 H) melaporkan dalam <em>al ‘Iqdu al Farîd</em>-nya:</p>
<blockquote>
<h2>وأمّا علي والعباس والزبير، فقعدوا في بيت فاطمة حتّى بعث إليهم أبو بكر ليخرجوا من بيت فاطمة وقال له: إنْ أبوا فقاتلهم، فأقبل بقبس من نار على أنْ يضرم عليهم الدار، فلقيته فاطمة فقالت: يابن الخطّاب، أجئت لتحرق دارنا؟ قال: نعم، أو تدخلوا ما دخلت فيه الاُمّة.</h2>
<p><em>“Adapun Ali, Abbas dan Zubair mereka duduk/bertahan di rumah Fatimah sehingga Abu Bakar mengutus utusan menemui mereka agar mereka segera keluar dari rumah Fatimah. Abu Bakar berkata kepada utusannya itu, ‘Jika mereka enggan keluar maka perangi mereka!’. Lalu ia (utusan itu) datang dengan membawa seonggok api untuk membakar rumah itu atas mereka. Kemudian Fatimah menghadangnya, ia berkata, ‘Hai putra al Khtaththab, apakah engkau datang untuk membakar rumah kami?! Ia berkata, ‘Ya. Atau kalian semua mau masuk bersama umat menerima baiat Abu Bakar.”</em><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4">[4]</a></p></blockquote>
<p><strong>C) </strong><strong>Mereka Menyiapkan Kayu Bakar</strong></p>
<p>Ternyata konflik yang terjadi antara kubu Imam Ali as. dan kubu Abu Bakar tidak berhenti sampai di sini; hanya mengancam dan membawa obor api. Akan tetapi mereka benar-benar telah mempersiapkan kayu bakar untuk menghanguskan rumah Fatimah dan Ali serta membakar seluruh penghuni yang bertahan di rumah tersebut dalam protes mereka atas pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah! Paling tidak demikian yang dilaporkan dalam data-data sejarah yang ada.</p>
<p>Al Mas’ûdi melaporkan dalam <em>Murûj adz Dzahab</em>-nya yang kemudian dinukil oleh Ibnu Abil Hadid al Mu’tazili dalam Syarah Nahjul Balaghah-nya dari Urwah ibn Zubair –keponakan Ummul Mukminin Aisyah- bahwa ia ketika memberikan uzur mengapa kakaknya yang bernama Abdullah ketika berkuasa di Hijâz pernah berniat membakar tokoh-tokoh Bani Hasyim dikarenakan mereka menolak membaiatnya sebagai pemimpin/ Khalifah. Urwah memberikan uzur akan hal itu dengan alasan bahwa dahulu Bani Hasyim juga pernah diancam untuk dibakar dikarenakan keengganan mereka memberikan baiat untuk Abu Bakar.<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5">[5]</a> <em> </em></p>
<p>Al Ya&#8217;qubi dan al Jauhari juga melaporkan, “Dan sekelompok kaum Muhajirin dan Anshar bertahan tidak memberikan baiat kepada Abu Bakar, mereka berpihak kepada Ali bin Abi Thalib, di antara mereka adalah Abbas ibn Abdul Muththalib, Fadhl ibn Abbas, Zubair ibn Awwâm, Khalid bin Said, Miqdad ibn &#8216;Amr, Salman al Fârisi, Abu Dzarr al Ghiffari, Ammar ibn Yasir, al Barâ&#8217; ibn &#8216;Âzib dan Ubai ibn Ka&#8217;ab. Maka Abu Bakar memanggil Umar, Abu Ubaidah dan Mughirah ibn Syu&#8217;bah. Ia berkata, “Bagaimana pendapat kalian?”</p>
<p>Mereka menjawab, “Yang tepat Anda temui adalah Abbas ibn Abdul Muththalib, dan berikan baginya dan keturunannya bagian dari kekuasaan ini, maka dengan demikian Anda melemahkan posisi Ali ibn Abi Thalib dan bukti kuat bagi Anda atas Ali jika ia (Abbas) mau berbagung dengan pihak kalian….“<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Umar berkata, “Termasuk kisah kami ketika Nabi wafat bahwa Ali dan Zubair bersama mereka yang tidak mau berbaiat, mereka berkumpul di rumah Fatimah.<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kedua kitab <em>Shahih-</em>nya meriwayatkan dari Ummul Mukminin A&#8217;isyah bahwa Imam Ali as. tidak mau memberikan baiat untuk Abu Bakar selama masa hidup Fatimah putri Nabi saw. Dan setelah wafat Fatimah, Ali menganggap mungkar wajah-wajah manusia, maka ia menawarkan <em>mushâlahata</em>/perdamaian dan berbaiat untuk Abu Bakar. Sementara ia tidak memberikan baiat… “ <a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn8">[8]</a></p>
<p><strong>Ibnu Ja’fari berkata:</strong></p>
<p>Dalam laporan dan pernyataan Aisyah di atas yang telah diriwayatkan para muhaddis Ahlusunnah, utamanya Bukhari dan Muslim, ditegaskan bahwa Ali enggan memberikan baiat untuk Abu Bakar, dan setelah wafat Fatimah as. Ali menjadi merasa gusar terhadap orang-orang, lalu ia –masih kata Aisyah ra.- menawarkan opsi damai kepada Abu bakar, <em>iltamasa mushâlahata Abi Bakr<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn9"><strong>[9]</strong></a></em> dan mengakhiri kondisi persengketaan antara keduanya!</p>
<p><em>Pertama</em> yang perlu diperhatikan di sini ialah bahwa  benar-benar telah terjadi sengketa antara Abu Bakar dan Imam Ali as. dalam masalah Khilafah sebagai sikap protes Imam Ali atas pembaiatan Abu Bakar. Dan protes itu dilakukan bukan sekedar karena Imam Ali as. tidak diikut sertakan dalam rapat dadakan di Saqîfah, seperti yang hendak disipmpulkan sebagian peneliti, melainkan karena Imam Ali as, pada dasarnya melihat baiat yang terjadi di sana itu ilegal, keluar dari ketentuan Allah dan Rasul-Nya dalam kepemimpinan.</p>
<p>Sebab –dalam pandangan Ahlusunnah-<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn10">[10]</a> betapapun Imam Ali as. tidak hadir dalam rapat di Saqîfah, pembaiatan itu telah sah, jadi adalah wajib atas Imam Ali as. untuk menerimanya dan tidak menolak hasil pembaiatan yang telah dilakukan oleh banyak kalangan sahabat… masalah tidak diikut sertakannya Imam Ali as. dalam rapat itu hanya membenarkan  Imam Ali as. untuk menegur pelanggaran etis tersebut, bukan membenarkannya membangkang dan menolak pembaiatan!</p>
<p>Dari sini di hadapan kita hanya ada dua opsi tentang sikap Imam Ali as. tersebut:</p>
<p><em>Opsi Pertama,</em> Sikap keengganan dan penentangan Imam Ali as. itu dipicu oleh emosi dan atau persaingan dalam memperebutkan jabatan Khilafah!</p>
<p><em>Opsi Kedua</em>, Karena Imam Ali as. meyakini bahwa kekhalifahan adalah hak beliau, dan tidaklah sah pengangkatan siapapun selain dirinya.</p>
<p>Opsi pertama jelas tertolak… tidak ada seorang Muslim yang sadar apa yang ia pikirkan akan terlintas dalam pikirannya bahwa Imam Ali as. menentang pembaiatan atas Abu Bakar atas dorongan hawa nafsu dan emosi serta persaingan tidak sehat! Sebab, seperti disabdakan Nabi saw. bahwa <em>“Ali senantiasa bersama Al Qur’an” “Ali senantiasa bergandengan dengen kebenaran/haq”</em></p>
<p>Terlebih lagi, dalam benyak kesempatannya, Imam Ali as. menyatakan dengan tegas bahwa Imamah/Khilafah adalah hak beliau yang mereka rampas dan mereka halang-halangi Ali dari mengambilnya kembali dengan cara damai.</p>
<p>Dalam salah sebuah pidatonya, Imam Ali as. mempertegas hal tersebut:</p>
<blockquote>
<h2>وقال قائل: إنّك يا ابن أبي طالب على هذا الامر لحريص، فقلت: بل أنتم ـ والله ـ أحرص وأبعد، وأنا أخص وأقرب، وإنّما طلبت حقّاً لي وأنتم تحولون بيني وبينه، وتضربون وجهي دونه، فلما قرّعته بالحجة في الملا الحاضرين هبّ كأنه بهت لا يدري ما يجيبني به.</h2>
<h2>اللهم إني استعديك على قريش ومن أعانهم، فانهم قطعوا رحمي، وصغّروا عظيم منزلتي، وأجمعوا على منازعتي أمراً هو لي، ثم قالوا: ألا إنَّ في الحق أنْ تأخذه وفي الحق أن تتركه .</h2>
<p><em>“Ada seorang berkata, ‘Hai putra Abu Thalib, Sesungguhnya engkau rakus terhadap urusan (Kekhalifahan) ini!’ Maka aku berkata, “Demi Allah, kalian-lah yang lebih rakus dan lebih jauh, adapun aku lebih khusus dan lebih dekat. Aku hanya meminta hakku, sedangkan kalian menghalang-halangiku darinya, dan menutup wajahku darinya. Dan ketika aku bungkam dia dengan bukti di hadapan halayak ramai yang hadir, ia terdiam, tidak mengerti apa yang harus ia katakan untuk membantahku.</em></p>
<p><em>Ya Allah, aku memohon pertolongan-Mu atas Quraisy dan sesiapa yang membela mereka, karena sesungguhnya mereka telah memutus tali kekerabatanku, menghinakan keagungan kedudukanku dan <span style="text-decoration:underline;">bersepakat merampas sesuatu yang menjadi hakku</span>. Mereka berkata, ‘Ketahuilah bahwa adalah hak kamu untuk menuntut dan hak kamu pula untuk dibiarkan.”</em><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn11">[11]</a><em></em></p></blockquote>
<p>Jadi di hadapan kita hanya tersisa opsi kedua yaitu bahwa konsep pemilihan yang menjadi dasar syar’i dalam pembaiatan Saqîfah adalah ilegal, tidak syar’i secara mendasar di mata Imam Ali as.! Dan hak Imamah dan Khilafah adalah hak Imam Ali as. yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan untuknya di Ghadir Khum! Di hadapan puluhan ribu umat Islam dalam sebuah rapat besar pengangkatan!</p>
<p>Mungkinkah Imam Ali as. menyengaja berbohong dan mengada-ngada atas nama Rasulullah saw. bahwa kepemimpinan umat pasca masa kerasulan adalah hak beliau as.?!</p>
<p><em>Kedua</em>, pertanyaan yang layak muncul di sini, mungkinkan opsi damai itu ditawarkan tanpa ada persengketaan antara keduanya?!</p>
<p><em>Al Balâdzuri </em>melaporkan, <em>“Abu Bakar mengutus Umar untuk menemui Ali ra., ketika ia duduk (menolak) memberikan baiat, ia berkata, “Datangkanlah dia kepadaku dengan cara yang paling kasar!” Setelah Ali didatangkan, terjadilah antara keduanya pembicaraan, lalu Ali (berkata kepada Umar), <span style="text-decoration:underline;">‘Perahlah susu itu satu kali perahan, untukmu separohnya.</span>’</em>”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn12">[12]</a> Maksudnya bahwa apa yang dilakukan Umar dalam mendukung  kekhalifahan Abu Bakar ini dengan semangat bahwa nantinya ia juga akan menjabatnya!</p>
<p><em>Adz Dzahabi</em> meriwayatkan sebuah hadis riwayat al ‘Uqaili dari Abdurrahman yang melaporkan bahwa Abu Bakar pernah menyesali sikap kasarnya terhadap Imam Ali as. dan para pembelanya yang menolak memberikan baiat dan mengakuinya sebagai Khalifah! Abu Bakar berkata, “… Aku tidak menyesali sebuah tindakan yang aku lakukan seperti penyesalanku atas tiga perkara, andai dahulu aku tidak menyerang rumah Fatimah dan aku biarkan saja <span style="text-decoration:underline;">walaupun mereka menutupnya untuk menyatakan perang.</span>”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Ada seseorang bertanya kepada Zuhri, “Apakah Ali tidak membaiat Abu Bakar selama enam bulan?” Maka Zuhri menjawab, “Ya, benar. Ali tidak membaiat dan tidak juga satupun dari keluarga bani Hasyim sampai Ali mau membaiat. Dan ketika Ali melihat bahwa orang-orang berpaling darinya, ia meminta <em>mushâlahah</em>/damai dengan Abu Bakar.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn14">[14]</a></p>
<p><em>Al Hafidz Ibnu Hajar</em> berkomentar, ”Baiat yang mereka berikan menurut pendapat yang benar adalah setelah enam bulan.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn15">[15]</a></p>
<p><em>Al Ya&#8217;qubi</em> melaporkan, “Ali tidak memberikan baiatnya melainkan setelah enam bulan.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn16">[16]</a></p>
<p><em>Ibnu Hazm</em> berkata, “Kami mendapatkan bahwa Ali terlambat memberikan baiat sampai enam bulan.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn17">[17]</a></p>
<p><em>Ibnu al Atsîr</em> menegaskan bahwa, “Yang <em>shahih</em>, benar ialah bahwa Ali tidak memberikan baiat untuk Abu Bakar melainkan setelah enam bulan.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn18">[18]</a> <span style="color:#0000ff;"><strong>(Bersambung)</strong></span></p>
<hr size="1" /><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1">[1]</a> Al Mushannaf,7/432. Aslam adalah <em>maula</em> Umar ibn al Khaththab. Sebagian ulama tidak membiarkan riwayat ini tertulis tanpa disensor, seperti yang dilakukan Ibnu Abdil Barr dalam kitab <em>al Istî’âb</em>-nya,3/975, kendati ia meriwayatkan dengan sanad yang sama dengan sanad Ibnu Abi Syaibah ia membuang kata-kata Umar yang mengancam akan membakar rumah putri tercinta Rasulullah saw. berserta seluruh penghuninya, termasuk Ali, Hasan, Husain, Zubair, Thalhah dkk.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2">[2]</a> Târîkh ath Thabari,3/202.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3">[3]</a> Ansâb al Asyrâf,1/586.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4">[4]</a> Al Iqdu al Farîd,3/15.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5">[5]</a>Murûj adz Dzahab,3/86. Dâr al Fikr. Bairut dengan tahqîq MuhammadMuhyiddîn Abdul Hamîd. Dan Syarah Nahjul Balaghah,20/147.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref6">[6]</a> Târîkh al Ya&#8217;qubi, 2\103, as Saqifah, baca Syarah Nahjul Balaghah; Ibnu Abi al Hadid, 2\13 dan 74 dan al Imamah wa as Siyasah,1\14.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref7">[7]</a> Musnad Ahmad,1\55, Tarikh al Umam wa al Mulk; ath Thabari,2\466,  al Kamil; Ibnu, 2\124, Al Bidayah wa an Nihayah, 5\246, Shafwat ash Shafwah,1\97, Syarah NAhjul Balaghah; Ibnu Abi al Hadid, 1\123, Tarikh al Khulafa&#8217;; As Suyuthi: 45, Sirah Ibnu Hisyam,4\338 dan Taisir al Wushul, 2\41.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref8">[8]</a> Ath Thabari,2\448 Shahih Bukhari; Kitab al Maghazi, bab Ghazwah Khaibar, 3\38, Shahih Muslim,2\72 dan 5\153, bab Qaulu Rasulillah: Nahnu La Nurats, Ibnu Katsir, 5\285-258, Ibnu Abdi Rabbih, 3\64, Ibnu al Atsir, 2\126, Kifayah ath Thalib; Al Kinji: 225-226, Syarah Nahjul Balaghah, 1\122, Muruj adz Dzahab, 2\414, Tanbih wa al Isyraf: 250, ash Shawaiq, Tarikh al Khamis,1\193, al Imamah wa as Siyasah,1\14, al Isti&#8217;ab, 2\244, al Bad&#8217;u wa at Tarikh,5\66 dan Ansab al Asyraf,1\586.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref9">[9]</a> Ini adalah redaksi berbahasa Arab seperti dalam riwayat Imam Bukhari yang artinya: Ali meminta damai dengan Abu Bakar!.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref10">[10]</a> Seperti telah lewat dijelaskan bahwa legalitas pembaiatan untuk pengangkatan seorang Khalifah tidak harus dihadiri oleh seluruh anggota <em>Ahlul Halli wa al Aqdi</em>, cukup dihadiri oleh beberapa onggota saja yang telah mewakili. Bahkan di antara ulama Ahlusunnah ada yang mencukupkan dengan jumlah yang sangat sedikit. Artinya dalam kaca mata Teologi Ahlusunnah, pembaitan Abu Balkar di Saqîfah itu sudah memenuhi syarat dan adalah kewajiban atas Imam Ali as. untuk menerimanya, bukan menentangnya!!</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref11">[11]</a> Nahjul Balaghah, kuthbah ke.172.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref12">[12]</a> Ansâb al Asyrâf,1/587.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref13">[13]</a> Mizân al I’tidâl,3/109 dan riwayat itu juga disebutkan Ibnu Hajar dalam Lisân al Mizân,4/189.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref14">[14]</a> Ibid.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref15">[15]</a> Usdu al Ghâbah, 3\222 .</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref16">[16]</a> Târîkh al Ya&#8217;qûbi :2\126 .</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref17">[17]</a> Al Ghadir, 3\102 dari al Fishal: 96-97.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref18">[18]</a> Al Kâmil Fi at Târîkh; ‘Izzuddîn Ibnu al Atsîr,2/326. Dâr Shâdir-Beirut.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/421/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=421&subd=jakfari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/11/mengapa-ali-tidak-memprotes-pembaiatan-atas-abu-bakar-1-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a64cca68ac2c1a92a502d76875fe3d31?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Krisis Defenisi Di Kalangan Ahli Hadis Sunni!</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/11/mengapa-ali-tidak-memprotes-pembaiatan-atas-abu-bakar-1/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/11/mengapa-ali-tidak-memprotes-pembaiatan-atas-abu-bakar-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 02:40:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Haulasyiah]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=415</guid>
		<description><![CDATA[Sebagaimana dimaklumi bahwa sunnah Nabi adalah sumber utama kedfua setelah Al Qur’an. Untuk menjadi hujjah dalam agama, sunnah (baca: hadis) harus memenuhi beberapa persyaratan… ia harus shahih dan tidak menyandang keganjilan ataupun cacat… dan untuk menentukan keshahihan hadis ada dua pendekatan yang dilakukan para kritikus hadis; pendekatan sanad dan pendekatan matan atau dengan mengombinasi antara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=415&subd=jakfari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sebagaimana dimaklumi bahwa sunnah Nabi adalah sumber utama kedfua setelah Al Qur’an. Untuk menjadi hujjah dalam agama, sunnah (baca: hadis) harus memenuhi beberapa persyaratan… ia harus shahih dan tidak menyandang keganjilan ataupun cacat… dan untuk menentukan keshahihan hadis ada dua pendekatan yang dilakukan para kritikus hadis; pendekatan sanad dan pendekatan matan atau dengan mengombinasi antara keduanya.<span id="more-415"></span></p>
<p>Agar sebuah hadis itu diniali shahih, maka para perawi yang menjadi perantara dalam transfer hadis haruslah jujur/tsiqah. Untuk mengenal ketsiqahan seorangg perawi, para peneliti mesti kembali kepada komentar para ulama Rijâl yang telah berkomentar tentang kualitas seorang perawi….. Di sini pernyataan seorang Pakar Ilmu Rijâl menjadi neraca penentu… baik dalam mencacat (<em>jarh</em>) atau men<em>ta’dîl</em> (memuji dan merekomendasi seorang perawi)!</p>
<p>Tetapi na’asnya, dalam mengandalkan keterangan para tokoh Ahli <em>Jarh wa Ta’dîl</em>, kita akan berhadapan dengan sederatan keganjilan dan seribu satu masalah serius yang dapat mengguncang kepercayaan para pencari kebenaran dari berujuk kepada mereka!</p>
<p>Dalam artikel ini saya hanya akan menyorot satu dari problem serius Dunia Hadis Sunni tersebut, yaitu adanya krisis defenisi dalam menilai seorang perawi… di nama seorang penjahat parang, pembuhuh darah dingin, pembohong, pendosa dll diperkenalkan kepada kita sebagai seorang yang zuhud, jujur terpercaya, penghamba yang shaleh, kekasih Allah dll. sehingga tidaklah heran jika kemudian seorang pencari kebenaran dibuat kebingungan tidak lagi mengerti makna kata-kata itu! </p>
<p>Entah mengapa ini semua terjadi? Apakah memang ada kesengajaan untuk membodoi kita; generasi na’as ini…</p>
<p>Atau mereka sendiri sedang tertipu…</p>
<p>Atau mereka memiliki kamus istilah sendiri yang tidak sama dengan kamus-kamus yang berlaku di kalangan anak cucu Adam lainnya….</p>
<p>Atau mereka sedang mengalami krisis defenisi?   </p>
<p>Atau …. Atau …..</p>
<p>Untuk menyingkat waktu coba perhatikan data-data di bawah ini:</p>
<p>1)      <strong>Ziyâd Anak Bapaknya<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></strong></p>
<p>Khalifah ibn Khayyâth berkata memujinya:</p>
<p dir="rtl">كان يعد من الزهاد.</p>
<p><em>“Ia terhitung dari kaum zuduh.”</em></p>
<p>Ahmad ibn Shaleh berkata:</p>
<p dir="rtl">لم يكن يتهم بالكذب.</p>
<p><em>“Ia tidak tertuuduh berbohong.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ibnu Jakfari berkata:</strong></p>
<p>Jika seorang palaku kriminal dan kejahatan sekelas Ziyâd digolongkan sebagai kaum Zuduh, maka kita dibuat ragu kepada para wali Allah lainnya yang juga digelari sebagai sang Zahid! Jangan-jangan para wali itu juga para penjahat, pendosa yang kaum fasik yang disanjung tanpa haq. Atau mereka menggolongkan tindak kejahatan Ziyâd atas perintah tuannya; Mu’awiyah itu sebagai sebuah ibadah, keta’atan kepada Allah dan Rasul-Nya dan sebagai jelmaan sifat kezuduhan? Atau sebenarnya mereka (para ulama itu) sedang mempermainkan akal sehat kita?</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>2)      <strong>Umar ibn Sa’ad ibn Abi Waqqâsh –si pembunuh Imam Husain as.; cucu terkasih Rasululllah saw.-</strong></p>
<p>Al Ijli berkata, <em>“Ia meriwayatkan beberapa hadis dari Ubay. Orang-orang meriwayatkan hadis darinya.  Ia seorang Tabi’în yang tsiqah/jujur terpercaya. Dialah yang membunuh Husain.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3"><strong>[3]</strong></a><strong> </strong></em></p>
<p><strong>Ibnu Jakfari berkata:</strong></p>
<p>Saya ucapkan selamat atas umat yang membanggakan kejujuran pembunuh anak cucu Nabinya di Padang Karbala!!</p>
<p>Dan jika memang demikian pondasi agama mereka, apa hendak dikata?!</p>
<p> <strong> </strong></p>
<p>3)      <strong>Imrân ibn Haththân -gembong kaum Khawârij-.</strong></p>
<p>Kesesatan Imrân ibn Haththân bukanlah rahasia lagi di kalangan ulama Islam. Ia seorang penganjur kepada kemunafikan dan kesesatan mazhabnya… Dialah yang menggubah bait-bait syair memuji dan meratapi si pembunuh Imam Ali ibn Abi Thalib as.<strong> </strong>di antaranya adalah bait di bawah ini:<strong></strong></p>
<p dir="rtl" align="center">يا ضربة من تقي ما أراد بها * إلا ليبلغ من ذي العرش رضوان</p>
<p dir="rtl" align="center">إني لأذكره حينا فأحسبه * أوفى البرية عند الله ميزانا</p>
<p><em>“Duhai pukulan dari seorang yang bertaqwa yang tidak ia lakukan ** melainkan agar mencapai keridhaan Allah pemilik Arsy</em></p>
<p><em>Setiap kali aku mengingatnya aku yakin bahwa ** ia adalah orang yang paling berat timbangan kebajikannya di sisi Allah.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ibnu Jakfari berkata: </strong>Tidak diragukan lagi bahwa bait-bait syair itu sangat menyakitkan hati Rasulullah saw. dan hati Ali ibn Abi Thalib as. lebih dari pukulan Abdurrahman ibn Muljam  (pembunuh Ali as.) itu sendiri! Bagaimana tidak?</p>
<p>Dan termasuk kurang hormat kepada Nabi dan Ali apabila kita menyebut-nyebut nama-nama musuh Ahlulbait as. seperti Ibnu Muljam, Imrân ibn Haththân, Umar ibn Sa’ad, Ziyâd, Mu’awiyah tanpa dibarengi dengan kutukan dan laknatan.</p>
<p>Akan tetapi yang sangat disayangkan adalah sikap ulama Sunni yang membanggakan kejujuran tutur katanya dan mengandalkannya dalam urusan agama! Imam Bukhari telah mempercayainya dalam meriwayatkan hadis dalam kitab Shahihnya! Demikia juga dengan Abu Daud dan an Nasa’i. Al Ijli mentsiqahkannya.</p>
<p>Dan sepertinya tidak hanya Imrâm ibn Haththân yang menjadi tumpuhan kepercayaan ulama hadis Sunni! Semua kaum Khawârij dinilainya sebagai kelompok paling jujur dalam bertutur kata dan meriwayatklan hadis!</p>
<p>Sungguh luar biasa “kehati-hatian” ulama hadis itu sehingga mereka bangga meriwayatkan hadis dari anjing-anjing neraka!<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Abu Daud –seorang imam Ahli Hadis Sunni, <em>“Tiada di antara penyandang kesesatan yang lebih jujur/shahih hadis dari kaum Khawârij.”</em></p>
<p>Jika seorang gembong Khawârij yang sesat yang menyesatkan seperti Imrân diyakini kejujurannya, maka sepertinya kita perlu mendefenisikan ulang kata jujur dan kejujuran! Jika ada yang membanggakan membangun agamanya dari riwayat-riwayat kaum munafikin maka apa yang bisa dibayangkan tentang kualitas bangunan agama itu?</p>
<p>Inikah yang dibanggakan sebagian pihak bahwa dunia hadis Sunni telah rapi dan selektif?</p>
<p>Mengapakah Bukhari -imam teragung mereka- dan juga yang lainnya membanggakan riwayat-riwayat seorang Imrân –si gembong kaum munafikin-? </p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Imam Ahmad mentsiqahkan Seorang Pecandu Arak!</strong></p>
<p>Yang tidak kalah aneh dan mengherankan adalah sikap tokoh terkemuka Ahlusunnah; Imam Ahmad iibn Hanbal yang tetap bersikeras mentsiqahkan seorang pemabuk dan pecandu arak! Hal mana akan mendorong pihak-pihak yang peduli akan kemurnian Sunnah Nabi saw. mulai meragukan keseriusan seleksi yang dilakukan para muhaddis Sunni.</p>
<p>Perhatikan data di bawah ini:</p>
<p>Khalaf ibn Hisyam seorang peminum khamr. Akan tetapi Imam Ahmad metsiqahkannya. Tentu saja sikap itu menuai reakasi dari rekan-rekannya! Mereka menegurnya seraya berkata:</p>
<p dir="rtl">يا أبا عبد الله إنه يشرب؟ فقال: قد انتهى إلينا علم هذا عنه، ولكن هو والله عندنا الثقة الأمين، شرب أو لم يشرب.</p>
<p>“Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya ia peminum khamr! Imam Ahmad menjawab, “Telah sampai kepadaku berita itu kapadaku, akan tetapi demi Allah ia tsiqah dan jujur terpercaya, baik ia minum atau tidak!”</p>
<p>Anda pantas terheran-heran atas sikap acuh Imam Ahmad di atas! Ia telah mengetahui bahwa Khalaf ibn Hisyam adalah peminum namun demikian ia tetap mentsiaqahkan dan menggelarinya sebagai <em>Amîn</em>/terpercaya/amanat.</p>
<p>Jika Sunnah Nabi saw. sebagai sumber utama setelah Al Qur’an diambil dari mulut para pamabok yang mengeluarkan aroma menyengat arak/khamr lalu apa nasib yang akan diderita Sunnah Nabi suci?!</p>
<p><strong>(Bersambung <em>Insya Allah</em>)</strong></p>
<p> </p>
<hr size="1" /><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1">[1]</a> Ziyâd disebuat demikian karena memang ia tidak dikenal dengan pasti siapa laki-laki yang menghamili Sumayyah; ibu kandunggnya, sebab ia seorang pelacur professional yang memiliki beberapa pelanggan rutin pria hidung belang, di antaranya adalah Abu Sufyân –bapaknya Mu’awiyah-…. Namun ketika Mu’awiyah berkuasa, ia menggabungkan Ziyad sebagai anak Abu Sufyân, sehingga sejak itu ia dipangggil Ziyâd ibn Abu Sufyân… dan pristiwa itu dikenal dengan pristiwa <em>istilhâq</em>. Kaum Muslimin mengecam tindakan itu yang terang-terangan menentang syari’at Islam. Ziyâd bergabung dengan Mu’awiyah dan menjadi tangan kananya dalam menjalankan berbagai kajahatannya terhadap umat Islam; membunuh tanpa rahmat kaum sipil tak berdosa dan kejahatan-kejahatan lainnya seperti yang diriwayatkan para ahli sejarah Islam. </p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2">[2]</a> Baca Târîkh Damasqus,5/406-414.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3">[3]</a> Tahdzîb at Tahdzîb,7/450.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4">[4]</a> Dalam banyak hadis yang dishahihkan ulama Sunni sendiri diriwayatkan bahwa Nabi saw. menyebut kaum Khawarij sebagai <em>Kilâb Ahli an Nâr</em>/ anijng penghuni neraka!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/415/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=415&subd=jakfari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2009/10/11/mengapa-ali-tidak-memprotes-pembaiatan-atas-abu-bakar-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a64cca68ac2c1a92a502d76875fe3d31?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Mempelajari Alqur’an  Dalam Riwaya-riwayat para Imam Suci Ahlulbait as.</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2009/06/24/keutamaan-mempelajari-alqur%e2%80%99an-dalam-riwaya-riwayat-para-imam-suci-ahlulbait-as/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2009/06/24/keutamaan-mempelajari-alqur%e2%80%99an-dalam-riwaya-riwayat-para-imam-suci-ahlulbait-as/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 06:31:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fitnah Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Keotentikan Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah Akhlak Ahlulbait As.]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=366</guid>
		<description><![CDATA[Banyak sabda-sabda Nabi saw. dan Ahlulbait suci as. yang menekankan pentingnya dan keharusan mempelajari Alqur’an, dan tidak sedikit praktik-praktik Nabi saw. yang menekankan hal itu. Di bawah ini akan disebutkan beberapa hadis darinya.   

Rasulullah saw. bersabda:

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ ذَكَرٍ أوْ أُنْثَى ، حُرٍّ أوْ مَمْلُوْكٍٍ ، إِلاَّ وَ لِلهِ عَلَيْهِ حَقٌّ وَاجِبٌ أَنْ يَتَعَلََّمَ مِنَ الْقُرْآنِ.
“Tiada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=366&subd=jakfari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Banyak sabda-sabda Nabi saw. dan Ahlulbait suci as. yang menekankan pentingnya dan keharusan mempelajari Alqur’an, dan tidak sedikit praktik-praktik Nabi saw. yang menekankan hal itu. Di bawah ini akan disebutkan beberapa hadis darinya.<span id="more-366"></span>   </p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Rasulullah saw. bersabda:</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl">مَا مِنْ مُؤْمِنٍ ذَكَرٍ أوْ أُنْثَى ، حُرٍّ أوْ مَمْلُوْكٍٍ ، إِلاَّ وَ لِلهِ عَلَيْهِ حَقٌّ وَاجِبٌ أَنْ يَتَعَلََّمَ مِنَ الْقُرْآنِ.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tiada seorang mukmin, laki-laki atau perempuan, merdeka atau budak kecuali atasnya ada kewajiban bagi Allah untuk mempelajari Alqur’an.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ja&#8217;far Ash-Shadiq as. bersabda:<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl">يَنْبَغِيْ لِلْمُؤْمِنٍ أَنْ لاَ يَمُوْتَ حَتَّى يَتعَلََّمَ القرآنَ ، أوْ يَكُوْنُ فِي تَعَلُّمِهِ.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sudah sepatutnya bagi seorang mukmin tidak ia meninggal dunia sehingga ia tuntas mempelajari Alqur’an  atau sedang dalam mempelajarinya.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa? Ya, karena Alqur’an adalah pesan Allah untuk hamba-hamba-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ja’far as. bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl">الْقُرْآنُ عَهْدُ اللَّهِ إِلَى خَلْقِهِ فَقَدْ يَنْبَغِي لِلْمَرْءِ الْمُسْلِمِ أَنْ يَنْظُرَ فِي عَهْدِهِ وَ أَنْ يَقْرَأَ مِنْهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ خَمْسِينَ آيَةً</p>
<p style="text-align:justify;">“Alqur’an adalah pesan Allah kepada hamba-Nya, maka sudah sepentasnya bagi setiap Muslim untuk memperhatikan pesan-Nya dan membacanya setiap hari lima puluh ayat darinya.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Ayat-ayat Alqur’an adalah gudang-gudang ilmu Allah SWT. oleh karenanya sudah sepentasnya, kamu Muslim membuka dan memperhatikan serta merenungkan kandungan gudang-gudang tersebut, dan adalah aib bagi mereka apabila tidak memberikan perhatian terhadapnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Al Kulaini meriwayatkan dalam kitab al Kâfi yang mulia dari Imam Ali Zainal Abidin as., beliau bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl">آيَاتُ الْقُرْآنِ خَزَائِنُ فَكُلَّمَا فُتِحَتْ خِزَانَةٌ يَنْبَغِي لَكَ أَنْ تَنْظُرَ مَا فِيهَا <strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Ayat-ayat Alqur’an adalah gudang-gudang, maka setiap kali ia dibuka hendaknya engkau memperhatikannya apa yang ada di dalamnya.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam membangkitkan semangat kaum Muslim untuk berlomba-lomba mempelajari Alqur’an, banyak cara ditempuh oleh Rasulullah saw., -selain keagungan Alqur’an  itu sendiri-, di antaranya dengan menampakkan perhatian yang luar biasa besarnya terhadap Alqur’an  baik dalam lefel pembacaan, penghafalan maupun pengamalan.</p>
<p style="text-align:justify;">Semasa hidupnya, Rasulullah saw. telah menggesah kaum Muslim agar mempelajari Alqur’an. Ubadah ibn ash Shamit bertutur: <em>Jika ada seorang berhijrah ke kota Madinah, Rasulullah menyerahkannya kepada seseorang dari kami agar mengajarinya Alqur’an. Dan di masjid Rasulullah terdengar suara gemuruh suara para sahabat yang melantunkan ayat-ayat Alqur’an, sampai-sampai beliau memerintahkan agar mereka merendahkan suara mereka supaya tidak bercampur</em>.<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Demikian juga dengan perhatian terhadap Alqur’an  sebelum hijrah, beliau mengirim dua orang sahabat beliau yang pandai Alqur’an bernama Mush&#8217;ab ibn &#8216;Umair dan Abdullah ibn Ummi Maktum ke kota Madinah untuk mengajar Alqur’an  kepada kaum Muslim di sana yang baru memeluk agama Islam. Sebagaimana setelah hijrah dan tepatnya setelah kota Makkah ditaklukkan, Rasulullah saw. mengutus Ubadah ibn ash-Shamit  untuk mengajarkan Alqur’an  kepada penduduk kota tersebut yang baru saja memeluk agama Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak terbatas pada apa yang disebut di atas, untuk mendorong mempelajari Alqur’an, Rasulullah saw. menampakkan perhatian dan penghormatannya kepada para sahabatnya yang pandai dalam Alqur’an  dan atau banyak menghafal ayat-ayat dan surah-surahnya, di antaranya, ketika sebagian sahabat gugur sebagai syahid dalam peperangan Uhud, sebelum mengebumikan mereka, beliau terlebih dahulu menanyakan siapa di antara mereka yang lebih banyak mengahafal ayat-ayat Alqur’an, kemudian beliau mendahulukannya dalam meletakkannya dalam liang kubur.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu rangsangan untuk selalu terkait dengan kitab suci terakhir ini, beliau sampaikan dengan menjelaskan pahala besar yang disediakan bagi mereka. Ayat-ayat Alqur’an  telah banyak menyebut pahala besar tersebut, sebagaimana tidak sedikit hadis yang beliau sabdakan tentang keutamaan membaca dan mempelajari Alqur’an.</p>
<p style="text-align:justify;">Di bawah ini akan saya sebutkan beberapa darinya:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Rasulullah saw. bersabda:</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl">مَنْ تَعَلَّمَ القُرآنَ وَ تَوَاضَعَ فِي الْعِلْمِ ، وَعلَّمَ عِبَادَ اللهِ ، وَهُوَ يُرِيْدُ مَا عِنْدَ اللهِ لَمْ يَكُنْ في الجَنَّةِ أعْظَمُ ثَوَابًا مِنْهُ ، ولا أعظم مَنْزِلَةً منه ، وَلَمْ يَكُنْ في الجنة مَنْزِلٌ ولاَ دَرَجَةٌ رَفِيْعَةٌ وَلا نَفِيْسَةٌ إلاّ وَكَانَ لَهُ أوْفَرُ الْنَّصِيْبِ ، وأشْرَفُ المْنَاَزِلِ.</p>
<p style="text-align:justify;">“Barangsiapa mempelajari Alqur’an  dan berendah hati dalam ilmu, mengajarkan kepada hamba-hamba Allah- sedang dia mengaharap apa (pahala) yang ada di sisi Allah- maka tiada di dalam surga seorang yang lebih besar pahalanya darinya, dan tiada yang lebih agung kedudukannya darinya. Dan tiada di dalam surga kedudukan dan derajat ang tinggi kecuali bagiinya bagian yang lebih besar darinya dan kedudukan yang lebih mulia.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn6">[6]</a></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Rasulullah saw. bersabda:</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl">مَنْ قَرَأَ القرآنَ قَبْلَ أَنْ يَحْتَلِمَ فَقَدْ أُوْتِيَ الحُكْمَ صَبِيّاً.</p>
<p style="text-align:justify;">“Barang siapa (telah mampu) membaca Alqur’an  sebelum ia baligh (yang layak dibebani taklif syari’i)  maka ia telah diberi Al Hukma di masa kanak-kanak.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn7">[7]</a>   <strong></strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Rasulullah saw. bersabda:</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl">خِيَارُكُمْ مَن تعلّمَ القُرآنَ وَعَلَّمَهُ.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Alqur’an  dan mengajarkannya.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn8">[8]</a></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Rasulullah saw. bersabda:</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl">مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتابِ اللهِ تعالى فَلَهُ حَسَنَةٌ, و الحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثالِها. لاَ أَقُوْلُ: ألم~ حَرْفٌ. <strong> </strong>لَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ, و لامٌ حرف, و مِيْمٌ حرف.</p>
<p style="text-align:justify;">“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah (Alqur’an) maka baginya satu kebajikan, dan satu kebajikan digandakan menjadi sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan bahwa  Alif Laam Miim itu satu huruf. Akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Imam Ali ibn Abi Thalib as. Berperan Aktif</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Semasa kekhilafahannya, Imam Ali as. telah banyak berperan aktif dalam memberikan  motivasi kepada umat Islam agar berlomba-lomba mempelajari Alqur’an. Di antaranya dengan memberikan hadiah dari uang Negara bagi setiap <em>mu’allaf</em> yang rajin mempelajari Alqur’an dan menghafalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Al Hurr Al ‘Amili menulis sebuah bab dengan judul <em>Bab barang siapa memeluk Islam dengan ta’at (tidak terpaksa) dan membaca Alqur’an dengan hafalan maka baginya setiap tahun dari Baitulmal dua ratus dirham</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Asyhab An Nakha’i berkata, “Ali ibn Abi Thalib as. bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl">مَنْ دَخَلَ فِي الأَسْلامِ طَائِعاً وَ قَرَأَ الْقُرْآنَ ظَاهِراً فَلَهُ فِي كُلِّ سَنَةٍ مِائَتَا دِينَارٍ فِي بَيْتِ مَالِ الْمُسْلِمِينَ وَ إِنْ مُنِعَ فِي الدُّنْيَا أَخَذَهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَافِيَةً أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَيْهَا .</p>
<p style="text-align:justify;">“Barang siapa memeluk Islam dengan ta’at (tidak terpaksa) dan membaca Alqur’an dengan hafalan maka baginya setiap tahun dari Baitulmal kaum Muslimin dua ratus dirham. Apabila ia dicegah dari menerimanya di dunia maka ia pasti akan menerimanya dengan penuh kelak di hari kiamat tatkala ia sangat membeuthkannya.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1">[1]</a> Mustadrak Al Wasâil,1/287.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2">[2]</a> Bihâr Al Anwâr,92/189.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3">[3]</a> Ushûl  Al Kâfi,2/596 bab Fi Qira’athi, hadis 1 dan darinya Al Wasâil,2/847 bab 15 hadis 1.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4">[4]</a> Ibid. hadis 2.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5">[5]</a> Manahil Al &#8216;Irfaan, 1/241.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref6">[6]</a> Tsawab Al A&#8217;maal, 51.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref7">[7]</a> Kanz Al &#8216;Ummal, 2/245.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref8">[8]</a> Amali Syeikh Ath-Thusi,1/367 dan hadis serupa denga redaksi, خَيْرُكُمْ sebagai ganti خياركم dapat Anda jumpai dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim. (<em>Manahil Al irfaan</em>,1/298).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref9">[9]</a> Hadis riwayat At-Turmudzi dan ia mengatakan,  Hadis in hasan shahih. (Manahil, 1/314).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref10">[10]</a> Al Wasâil,2/838-839, bab 9, dan hadis ini diriwayatkan Ath Thabarsi dalam majma’nya tanpa menyebut sanad.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/366/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=366&subd=jakfari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2009/06/24/keutamaan-mempelajari-alqur%e2%80%99an-dalam-riwaya-riwayat-para-imam-suci-ahlulbait-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a64cca68ac2c1a92a502d76875fe3d31?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lima Belas Bukti Palsu Khilafah Abu Bakar (6)</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2009/06/24/lima-belas-bukti-palsu-khilafah-abu-bakar-6/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2009/06/24/lima-belas-bukti-palsu-khilafah-abu-bakar-6/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 06:08:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis Palsu Keutamaan Abubakar & Umar]]></category>
		<category><![CDATA[Hadis Palsu Keutamaan Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog Haulasyiah]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=363</guid>
		<description><![CDATA[Di antara riwayat-riwayat yang tak henti-hentinya dibanggakan sebagian penentang konsep Imamah Ali ibn Abi Thalib as. seperti Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb; pendiri Sekte Wahhâbiyah dkk. Yang mengatakan bahwa Nabi saw. menuliskan wasiat penunjukan atas Abu Bakar, sebab beliau saw. khawatir akan ada orang yang menginginkan jabatan itu. Kerena Allah dan Rasul-Nya serta kaum Mukmin hanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=363&subd=jakfari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Di antara riwayat-riwayat yang tak henti-hentinya dibanggakan sebagian penentang konsep Imamah Ali ibn Abi Thalib as. seperti Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb; pendiri Sekte Wahhâbiyah dkk. Yang mengatakan bahwa Nabi saw. menuliskan wasiat penunjukan atas Abu Bakar, sebab beliau saw. khawatir akan ada orang yang menginginkan jabatan itu. Kerena Allah dan Rasul-Nya serta kaum Mukmin hanya menghendaki Abu Bakar bukan selainnya! Tidak Ali as. atau selainnya! Yang kemudian mereka simpulkan bahwa sesiapa yang enggan mengakui Khilafah Abu Bakar<em> ash Shihddîq</em> berarti ia benar-benar telah keluar dari keimanan alias kafir, munafik atau terserah Anda menyebutnya!<span id="more-363"></span></p>
<p>Riwayat itu adalah sebagai berikut:</p>
<p dir="rtl"><strong>وعن عائشة رضي الله عنها قالت : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم في مرضه الذي مات فيه ادعي لي أباك وأخاك حتى أكتب كتاباً فإني أخاف أن يتمنى متمن ويقول قائل : أنا أولى ، ويأبى الله</strong><strong>   </strong><strong>و المؤمنون إلا أبابكر. رواه مسلم وأحمد.</strong><strong> </strong></p>
<p><em>“Dari Aisyah ra. ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda di sa’at sakit yang  mengantarkan kepada kamatiannya, ‘Panggilkan ayahmu dan saudaramu untukku agar aku menulis sepucuk surat, karena aku khawatir ada seorang yang menginginkan dan berkata, ‘Aku lebih berhak atas Khilafah.’ Semantara Allah dan oraang-orang yang beriman tidak memaukan kecuali Abu Bakar.” </em>(HR Muslim dan Ahmad.)</p>
<p>Setelah membawakan riwayat di atas, Ibnu Abdil Wahhâb an Najdi (pendiri sekte Wahhabiyah) menyimpulkan:</p>
<p dir="rtl">وهذا الحديث يُخرج من يأبى خلافة الصديق عن المؤمنين .</p>
<p><em>“Dan hadis ini mengeluarkan siapa saja yang menolak Khilafah Abu Bakar ash Shiddîq dari kelompok kaum Mukminin!”</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ibnu Jakfari:</strong></p>
<p>Demikianlah mereka hendak menyimpukan sebuah kesimpulan serius yang menvonis kafir dan keluar dari lingkaran kaum Mukminin sesiapa yang enggan atau menolak menerima kekhalifahan Abu Bakar –putra Abu Quhafah-!!</p>
<p>Sementara hadis itu penuh masalah!</p>
<p>Pertama yang perlu kita ketahui adalah:</p>
<p><em>A)     </em>Hadis itu telah menvonis kafir/keluar dari keimanan sesiapa yang enggan menerima kekhalifahan Abu Bakar, persis seperti yang disimpulkan Syeikh –dan itulah memang yang menjadi tujuan utama pembuatnya-… Dan itu artinya ia telah menvonis banyak pembesar sahabat Nabi saw. yang <em>akhyâr</em>/baik lagi <em>istiqamah</em> dari kalangan<em> as Sâbiqînal awwâlîn, </em>baik kaum Anshar maupun Muhajirin dari lingkaran keimanan… utamanya Ali ibn Abi Thalib –Khalifah keempat kaum Muslimin-, paling utamanya umat setelah ketiga Khalifah (menurut Ahlusunnah)-. Sebagaimana telah ditegaskan Siti Aisyah akan keengganan beliau menerima kekhilafahan Abu Bakar, seperti telah lewat saya buktikan! Sebagaimana juga hadis itu menvonis keluar dari lingkaran keimanan seluruh Bani Hasyim, seperti ditegaskan az Zuhri bahwa tidak seorang pun dari Bani Hasyim memberikan baiat dan mengakui Abu Bakar selama enam bulan!<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1">[1]</a> Seperti juga para pengikut setia Imam Ali as., seperti Ammar ibn Yasir, Zubair ibn Awwam, Miqdad ibn Aswad, dkk.<em></em></p>
<p><em>B)     </em>Kalaupun mereka kemudian setelah bertahan enam bulan menentang kekhalifahan Abu Bakar memberikan baiat untuknya, maka di sini perlu disadari bahwa, (1) Apa nasib dan status Imam Ali dan mereka yang menentang kekhalifahan Abu Bakar selama enam bulan penentangan itu? Apakah kita menetapkan status kafir untuk mereka!? Lalu kapan mereka itu kembali memeluk Islam dan masuk ke dalam lingkaran keimanan? Dan apakah harus dengan mengucapkan <em>syahadatain</em>/dua kalimat syahadat plus dengan tambahan <em>wa asyhadu anna Aba Bakr Khalifatu Rasulillah</em>/dan aku bersaksi bahwa Abu Bakar adalah Khalifah Rasulullah! (2) Sa’ad ibn Ubadah tetap pada pendiriannya menolak kekhalifahan Abu Bakar! Seperti juga putri kesayangan dan belahan jiwa Rasulullah saw.; Fatimah az Zahra as., apakah kaum Wahhâbi akan tegas dalam menvonis mereka kafir?!<em></em></p>
<p>C)    Sejak kapan dan atas dasar apa keimanan kepada kekhalifahan Abu Bakar sebagai <em>ushûluddîn</em> dan sekaligus penentu keimanan? Bukankah menurut pandangan Teologi Sunni keimamahan adalah bagian dari <em>furû’uddîn</em>!? Mengapakah sedemikan kacaunya doqma-doqma kaum <em>Nawâshib</em>/para pembenci Ali dan Ahlulbait Nabi saw.?! mengapakah ketika berbohong atas nama Rasulullah saw. mereka tidak menggunakan sedikit kecerdasan mereka? Coba Anda perhatikan ayat-ayat Al Qur’an yang menetapkan criteria iman dan kafir, tidak sedikitpun menyinggung bahwa keimanan seorang bergantung kepada menerima atau menolak Khilafah Abu Bakar dan atau Umar! Perhatikan hadis-hadis tentang batasan-batasan iman dan kufur dalam <em>Shahih Bukhari</em> dan <em>Muslim</em> serta kitab-kitab <em>Shihâh</em> lainnya, adakah menerima atau menolak kekhalifahan Abu Bakar menjadi penentu, atau bahkan sedikit memberikan pengaruh atas keimanan dan kekafiran? Semua itu tidak akan pernah Anda temukan! Lalu mengapakan mereka membuat-buat kepalsuan atas nama agama? <em>Kaburat kalimatan takhruju min afwâhihim!</em></p>
<p>D)    Riwayat seperti di atas tidak lain hanya sekedar upaya konyol sebagian kaum pemalsu untuk menandingi hadis-hadis shahih yang telah diriwayatkan para ulama Ahlusunnah, utamanya Imam Bukhari dalam kitab<em> Shahih</em>-nya, yang menegaskan bahwa Nabi saw. di detik-detik terakhir kehidupan beliau hendak menuliskan sebuah wasiat keselamatan terakhir untuk umat manusia, namun sebagian sehabat Nabi saw. yang sedang menjenguk beliau mengacaukan niatan itu dan menentangnya, sehingga beliau pun mengusir meraka! Di bawah ini akan saya sebutkan beberapa riwayat hadis Bukhari tersebut. </p>
<ul>
<li><em>Hadis pertama: </em></li>
</ul>
<p>Dari ibnu Abbas ra., ia berkata: Ketika sakit Nabi saw. kian parah, beliau bersabda, “<em>Berikan kepadaku selembar kertas, akan aku tuliskan untuk kalian sebuah wasiat yang kalian tidak akan tersesat setelahnya.” </em>Umar berkata, “Sesungghuhnya Nabi saw. telah dikuasai oleh sakitnya, dan kita sudah memiliki Kitab Allah, cukup bagi kita Kitab Allah&#8221;. Lalu para pengunjung berselisih dan terjadilah keributanpun, kemudian Nabi saw. bersabda, “Menyingkirlah kalian dariku! Tidak sepantasnya terjadi perselisihan (keributan) di hadapanku.”<strong></strong></p>
<p>Maka Ibnu Abbas keluar dan berkata, “Sesungguhnya bencana yang sebenar banar arti bencana ialah dihalanginya Rasulullah saw. dari penulisan wasiat beliau.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2">[2]</a></p>
<p><em>Riwayat kedua :</em><strong></strong></p>
<p>Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata, “Ketika Rasulullah saw. terbaring sakit yang membawa wafat beliau dan ketika itu di dalam rumah ada banyak orang (pengunjung), di antara mereka ada Umar bin Khaththab, Nabi saw. bersabda, “<em>Berikan kepadaku (selembar kertas), aku akan tuliskan untuk kalian sebuah wasiat yang dengannya kalian tidak akan tersesat.”</em> Lalu Umar berkata, “Sesungguhnya ia telah dikuasai oleh sakitnya itu, dan kalian telah memliki <em>Al Qur&#8217;an</em>, cukup bagi kita <em>Kitab Allah</em>&#8220;. Maka berselisih dan ributlah penghuni rumah, di antara mereka ada yang berkata, ‘Berikan pada Rasulullah kertas itu agar beliau menulis wasiat yang dengannya kalian tidak akan tersesat selamanya.’ Dan di antara mereka ada yang berkata seperti ucapan Umar. Maka ketika berselisih dan banyak berbuat keributan serta perselisihan di hadapan Nabi saw., beliau bersabda, “Menyingkirlah kalian!!”<strong></strong></p>
<p>Ubaidullah berkata, “Ibnu Abbas berkata, “Bencana yang sebenar- benar bencana adalah dihalanginya Rasulullah saw. dari penulisan wasiat untuk mereka dikarenakan keributan dan perselisihan mereka.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3">[3]</a>             </p>
<p><em>Riwayat ketiga :</em></p>
<p>Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Hari kamis! Tahukah kamu apa hari kamis itu?! Kemudian ia menangis sampai janggutnya terbasahi oleh derasnya cucuran air mata, lalu ia melanjutkan, ‘Sakit Rasulullah saw.makin keras, lalu beliau bersabda, <em>‘</em><em>Bawakan kepadaku selembar kertas, aku akan tuliskan surat wasiat, setelahnya kalian tidak akan tersesat selamanya!’</em></p>
<p>Lalu mereka berselisih dan membuat keributan– dan tidaklah pantas di hadapan Nabi saw. ada keributan-, mereka berkata, ‘Rasulullah saw. telah melantur.’ Maka Nabi saw. bersabda, “Tinggalkan aku , apa yang aku alami lebih baik dari apa yang kalian mengajakku kepadanya.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4">[4]</a></p>
<p><strong>Umar ibn Al Khaththab Mengakui Kebenaran!</strong></p>
<p>Apa yang kami katakan bahwa Nabi saw. telah berniat mempertegas pengangkatan Imam Ali as. di Ghadir Khum dengan surat wasiat tertulis di akhir hayat beliau telah diakui mkebenarannya oleh Umar ibn al Kthaththab sendiri. Karenanya ia dan rekan-relannya berusaha menghalangi penulisan itu dengan alasan bahwa sudah cukup Kitab Allah ada di tengah-tengah umat Islam! Dan kemudian dikatakan oleh para pendukungnya bahwa niatan Umar itu sebenarnya baik, yaitu karena kasihan kepada Nabi saw. agar beliau tidak usah repot-repot.</p>
<p>Perhatikan pengakuan Umar dalam dialoq dengan Ibnu Abbas di bawah ini:</p>
<p><strong>Umar</strong>: Hai Abdullah jawablah dengan jujur, apakah Ali masih menyimpan di hatinya anggapan bahwa ia lebih berhak dalam jabatan khilafah ini?</p>
<p><strong>Ibnu Abbas</strong>: Ya, benar.</p>
<p><strong>Umar</strong>: Apakah ia mengklaim bahwa Rasulullah telah menunjuknya sebagai Khalifah?</p>
<p><strong>Ibnu Abbas</strong>: Ya, benar, bahkan aku tanyakan tentang penunjukan itu kepada ayahku dan ia pun membenarkan.</p>
<p><strong>Umar:</strong> Aku tahu, bahwa ia memiliki kedudukan yang istimewa di sisi Rasulullah, <span style="text-decoration:underline;">dan ketika  beliau di hari–hari akhir ingin menunjuknya dengan nama terang, maka aku halangi beliau.</span>”<a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Maka dengan demikian riwayat adanya niatan penulisan surat pengangkatan Abu Bakar adalah sekedar sebuah kepalsuan belaka yang dibuat-buat oleh kaum Al Bakriyah demi membela keabsahan khilafah Abu Bakar, sementara ia sendiri tidak butuh pembelaan itu!</p>
<p align="center">****</p>
<p>Dan yang tidak kalah palsunya dari riwayat palsu di atas adalah dongen riwayat yang akan kami paparkan dalam tulisan akan datang. Nantikan!</p>
<p> </p>
<hr size="1" /><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1">[1]</a> Lebih lanjut baca Târikh ath Thabari,3/208 dan al Kamil fi at Târikh,2/321.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2">[2]</a> Shahih Bukhari, Kitabul Ilmi, bab Kitabatul ilmi, 1\38-39.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3">[3]</a> Shahih Bukhari, Kitabuth Thib, bab Qaulul Maridh Qûmû!, 7\155-156, Shahih Muslim pada akhir Kitabul Washiyah, Musnad Ahmad, 4\356 hadis ke: 2992.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4">[4]</a> Shahih Bukhari, Kitab Fadhlul Jihad, bab Hal Yusytasyfa&#8217;u Ila Ahlidz Dzimmah,4\84-85.</p>
<p><a href="http://jakfari.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5">[5]</a> An Nidhâm As Siyâsi: 142 menukil dari Syarah Nahjul Balaghah; Ibnu Abil Hadid, 3\105.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/363/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=363&subd=jakfari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2009/06/24/lima-belas-bukti-palsu-khilafah-abu-bakar-6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>50</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a64cca68ac2c1a92a502d76875fe3d31?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Abu Hurairah Belajar Ayatul Kursi Dari Setan, Bukan Dari Rasululah saw.</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2009/06/22/356/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2009/06/22/356/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 05:28:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/2009/06/22/356/</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah riwayat yang telah dishahihkan para ulama Ahlusunnah dan tidak seorang pun dari mereka meragukannya, karena ia telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab tersuci setelah Al Qur’an… riwayat tersebut mengatakan bahwa Abu Hurairah –sahabat yang paling diandalkan dalam meriwayatkan sunnah Nabi saw.- telah mendapat keistimewaan dengan dipilih sebagai murid khusus SETAN untuk diajarkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=356&subd=jakfari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;">Ada sebuah riwayat yang telah dishahihkan para ulama Ahlusunnah dan tidak seorang pun dari mereka meragukannya, karena ia telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab tersuci setelah Al Qur’an… riwayat tersebut mengatakan bahwa Abu Hurairah –sahabat yang paling diandalkan dalam meriwayatkan sunnah Nabi saw.- telah mendapat keistimewaan dengan dipilih sebagai murid khusus SETAN untuk diajarkan ayat Kursi, dan SETAN menasehatinya agar membacanya sebelum tidur….</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><span id="more-356"></span></p>
<p>Kisah itu demikian, Abu Buhairah bercerita bahwa pada suatu saat Nabi saw. mengamanatinya untuk menjaga zakat fitrah yang telah dikumpulkan, lalu ditengah malam ia dikejutkan dengan masukknya seorang penyusup yang mencuri beberapa genggam gandum zakat itu… untuk Abu Hurairah cekatan, ia langsung mengkap sang pencuri itu.. ia mengancam akan melaporkannya kepada Rasulullah saw…. Si pencuri tak henti-hentinya merayu Abu Hurairah agar tidak melaporkannya karena ia benar-benar sedang dihimpit kebutuhan yang sangat mendesak… memdengar keluhannya itu, Abu Hurairah pun iba… ia tidak jadi melaporkannya..</p>
<p>Keesokan harinya menegur Abu Hurairah, ‘Hai Abu Hurairah, bagaimana kabar tawananmu tadi malam? Abu Hurairah menyampaikan uzurnya mengapa ia melepaskannya… ia mengeluh benar-benar sedang kepepet! Nabi saw. mengingatkan Abu Hurairah bahwa ia dusta dalam alasan yang ia sampaikan, dan –kata Nabi- ia akan kembli lagi nanti malam… Abu Hurairah pun yakin, pencuri akan datang lagi… persis seperti yang dikabarkan Nabi saw. ia datang lagi dan kembali mencuri… dan untuk kedua kali Abu Hurairah menangkapnya dan mengancam akan melaporkannya kepada Rasulullah saw. dan sang pencuri pun menyampaikan permohonannya seperti malam pertama dan Abu HHurairah pun iba dan kasihan sehingga merahasiakan kejadian itu… keesokan harinya, Nabi kembali menegur Abu Hurairah… Malam ketiga juga terjadi lagi aksi pencurian itu…. Kali ini Abu Hurairah agak serius hendak melaporkannya… sehingga setan malakukan negoisasi dan memberikan kompensasi asal Abu Hurairah tidak melaporkannya kepada Nabi… Abu Hurairah setuju… dan SETAn pun mulai mengajarkan doa mujarrab untuk keselamatan dari gangguan setan… Abu Hurairah bertanya, ‘Doa apa yang Engkau maksud?” SETAN berkata mengajari Abu Hurairah, “Jika engkau mendatangi tempat tidurmu, bacalah ayat Kursi… pasti kamu sentiasa dalam penjagaan Allha dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi.”</p>
<p>Keesokan harinya, Abu Hurairah melaporkan peristiwa itu, dan Nabi pun memberitahukan kepadanya bahwa yang datang mengajarimu tadi malam adalah SETAN!</p>
<p><strong>Ini Teks Riwayat Abu Hurairah di atas:</strong></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">عن ‏ ‏محمد بن سيرين ‏ ‏عن ‏ ‏أبي هريرة ‏ ‏رضي الله عنه ‏ ‏قال وكلني رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏بحفظ زكاة رمضان فأتاني آت فجعل ‏ ‏يحثو ‏ ‏من الطعام فأخذته وقلت والله لأرفعنك إلى رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال إني محتاج وعلي عيال ولي حاجة شديدة قال فخليت عنه فأصبحت فقال النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يا ‏ ‏أبا هريرة ‏ ‏ما فعل أسيرك البارحة قال قلت يا رسول الله شكا حاجة شديدة وعيالا فرحمته فخليت سبيله قال أما إنه قد كذبك وسيعود فعرفت أنه سيعود لقول رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏إنه سيعود ‏ ‏فرصدته ‏ ‏فجاء ‏ ‏يحثو ‏ ‏من الطعام فأخذته فقلت لأرفعنك إلى رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال دعني فإني محتاج وعلي عيال لا أعود فرحمته فخليت سبيله فأصبحت فقال لي رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يا ‏ ‏أبا هريرة ‏ ‏ما فعل أسيرك قلت يا رسول الله شكا حاجة شديدة وعيالا فرحمته فخليت سبيله قال أما إنه قد كذبك وسيعود ‏ ‏فرصدته ‏ ‏الثالثة فجاء ‏ ‏يحثو ‏ ‏من الطعام فأخذته فقلت لأرفعنك إلى رسول الله وهذا آخر ثلاث مرات أنك تزعم لا تعود ثم تعود قال دعني أعلمك كلمات ينفعك الله بها قلت ما هو قال إذا أويت إلى فراشك فاقرأ آية الكرسي ‏</h2>
<h2 style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;">الله لا إله إلا هو الحي القيوم ‏</span></h2>
<h2 style="text-align:right;">‏حتى تختم الآية فإنك لن يزال عليك من الله حافظ ولا يقربنك شيطان حتى تصبح فخليت سبيله فأصبحت فقال لي رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏ما فعل أسيرك البارحة قلت يا رسول الله زعم أنه يعلمني كلمات ينفعني الله بها فخليت سبيله قال ما هي قلت قال لي إذا أويت إلى فراشك فاقرأ آية الكرسي من أولها حتى تختم الآية ‏</h2>
<h2 style="text-align:right;">‏الله لا إله إلا هو الحي القيوم ‏</h2>
<h2 style="text-align:right;">‏وقال لي لن يزال عليك من الله حافظ ولا يقربك شيطان حتى تصبح وكانوا أحرص شيء على الخير فقال النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏أما إنه قد صدقك وهو كذوب تعلم من تخاطب منذ ثلاث ليال يا ‏ ‏أبا هريرة ‏ ‏قال لا قال ذاك شيطان ‏</h2>
<p style="text-align:left;">(Lebih jelasnya baca langsung Shahih Bukhari, pada Kitab &#8220;al-Wakalah&#8221; Bab &#8220;Idza Wakkala Rajulan…&#8221;, Baca juga  tafsir Ibnu Katsir,1/306 dan ia berkata hadis ini dari Riwayat Bukhari, an Nasa’i dalam Kitab al Yaum wa al Lailah) Hadis diatas kami ambil dari  situs &#8220;Kementerian Urusan Agama dan Waqaf Saudi Arabia&#8221; silahkan anda merujuknya <a href="http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?Doc=0&amp;Rec=3630" target="_blank">disini</a></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong> </strong></span></p></blockquote>
<p style="text-align:left;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Ibnu Jakfari Berkata:</strong></span></p>
<p>Karena Abu Hurairah adalah seorang sahabat terpandang dan jujur tutur katanya, maka saya yakin Anda pasti percaya bahwa beliau belajar paling afdhalnya ayat Al Qur’an; Ayatul Kursi dari mulut setan yang berbaik hati dengan mengajarinya senjata yang akan menyemalatkannya dari gangguan setan yang terkutuk, tidak seperti para sahabat lainnya yang belajar langsung Ayatul Kursi dari mulut suci Rasulullah saw.</p>
<p>Dan kita sekarang mungkin lebih beruntung sebab SETAN sekarang tidak lagi gemar menjarah KUD atau KIOS-KIOS PEDAGANG BERAS DAN SEMBAKO! Kalau SETAN terus menjarah KUD kita pastilah persiapan PANGAN kita akan terancam!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/356/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=356&subd=jakfari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2009/06/22/356/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>57</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a64cca68ac2c1a92a502d76875fe3d31?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Mata Ahlusunnah, Ahlulbait as. Adalah Ahli Bid’ah Dan Penyimpang Agama?</title>
		<link>http://jakfari.wordpress.com/2009/06/22/353/</link>
		<comments>http://jakfari.wordpress.com/2009/06/22/353/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 05:13:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah Wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Salafi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jakfari.wordpress.com/?p=353</guid>
		<description><![CDATA[Telah banyak usaha serius dilakukan para tokoh kaum Muslimin demi persatuan umat Islam dari berbagai mazhab dan aliran. Namun tidak sedikit pula langkah-langkah jahat yang merusak hasil usaha para pemersatu dan mushlihûn.
Di antara prakarsa jahat untuk memecah belah umat Islam adalah cacci maki, berbagai tuduhan palsu hingga vonis pengafiran yang kerap dilontarkan terhadap Syi’ah (para [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=353&subd=jakfari&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Telah banyak usaha serius dilakukan para tokoh kaum Muslimin demi persatuan umat Islam dari berbagai mazhab dan aliran. Namun tidak sedikit pula langkah-langkah jahat yang merusak hasil usaha para pemersatu dan <em>mushlihûn</em>.<span id="more-353"></span></p>
<p>Di antara prakarsa jahat untuk memecah belah umat Islam adalah cacci maki, berbagai tuduhan palsu hingga vonis pengafiran yang kerap dilontarkan terhadap Syi’ah (para pengikut setia Ahlulbait as.) oleh sebagian pihak yang tidak bertangggung jawab. Dan di masa kita sekarang ini, ada pihak-pihak bekerja siang malam hanya untuk memecah belah kesatuan dan persatuan umat Islam! Kelompok ini hanya membidikkan mata melototnya kepada hal-hal yang akan menimbulkan perpecahan… mengobral fatwa-fatwa dan stitmen ekstrim sebagain ulama yang kaku atau memelintir hadis-hadis tertentu agar dapat menimbulkan sara sentimen atau memaksakan pemahaman sebuah hadis tidak sebagaimana mestinya untuk dijadikan senjata menyerang!</p>
<p>Itu semua sudah sering kita dengar dan mereka yang sadar tidak akan mudah terpengaruh dengannya!</p>
<p>Akan tetapi yang sangat berbahaya adalah ketika fatwa penyesatan dan vonis sebagai penyimpang dan ahli bid’ah tidak lagi dialamatkan kepada pengikut setia Ahlulbait as…. tetapi kepada Ahhlulbait itu sendiri! Kini Ahlulbait yang disucikan Allah SWT dalam Kitab Suci-Nya telah divonis sebagai Ahli Bid’ah yang telah mengada-ngada aliran sesat dan fikih yang menyimpang dari fikihnyan kaum Muslimin!</p>
<p>Jika kejahatan mereka sudah sampai sedikian beraninya, maka apa yang hendak kita katakana? Di mata ulama Ahlusunnah wal Jama’ah para imam suci Ahlulbait dan tokoh-tokoh terkemuka keturunan Nabi Muhammad saw. telah divonis sebagai sesat, ahli bid’ah!</p>
<p>Mungkin Anda menuduh saya telah menimbulkan perpecahan dengan mengatakan demikian?</p>
<p>Atau bahkan mungkin Anda menuduh saya mengada-ngada kepalsuan untuk memojokkan Ahlusunnah?</p>
<p>Tetapi coba perhatikan apa yang difitnahkan Ibnu Khaldun –sejarawan dan filsuf kebangggan Ahlusunnah- dalam kitab Mukaddimah-nya! Ia telah dengan tanpa tanggung jawab menuduh Ahlulbait as. sebagai Kaum Penyimpang sama dengan kaum Khawarij dan kelompok sesata lainnya! Sekali lagi yang ia vonis adalah Ahlulbait! Bukan penyikut Ahlulbait! Bukan Syi’ah Ahlulbait!!</p>
<p>Di sini saya tidak ingin menjelaskan kembali masalah yang sudah sangat jelas siapakah Ahlulbait itu? Ali, Fatimah, Hasan, Husain, Ali Zainal Abidin, Muhammad al Baqir, Musa, Al Kadzim, Zaid ibn Ali Zainal Abidin, Ali ibn Ja’far, Ali ibn Musa ar Ridha adalah nama-nama harum dan cemerlang bani Hasyim, dzurriyah Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Jadi jelas bahwa merekalah yang sedang divonis sebagai Ahli Bi’dah dan menyimpang dari agama!!</p>
<p>Siapakah yang menuduh demikian Ahlusunnah wal Jamâ’ah!!</p>
<p>Perhatikan vonis sesat Ibnu Khaldun di bawah ini:</p>
<p>Ibnu Khaldun berkata dalam pasal yang ia tulis khusus tentang ilmu fikih:</p>
<p dir="rtl"><strong>و شذَّ أهلُ البيتِ بمذاهبَ ابتَدعُوها و فِقْهٍ انفرَدُوا به، و بنوه على مذاهبهم في تناوُلِ بعض الصحابة بالقدح و على قولهم بعصمة الأئمة و رفع الخلاف عن أقوالهم، و هي كلها أصولٌ واهيةٌ.</strong><strong> </strong></p>
<p>“Dan Ahlulbait telah menyimpang dengan mengada-ngada mazhab dan fikih yang mereka menyendiri dengannya. Mereka membangun mazhab mereka di atas caci maki terhadap sebagian sahabat, pendapat mereka bahwa imam harsu makshum dan tidak mungkin berselisih. Dan semua ini adalah dasar-dasar yang lemah.”</p>
<p>Ia juga melanjutkan:</p>
<p dir="rtl"><strong>و شذَّ بِمثل ذلك الْخوارج &#8230;.</strong><strong> </strong></p>
<p>“Dan menyimpang seperti itu juga kaum Khawarij. Jumhur ulama tidak menghiraukan mazhab-mazhab mereka. Bahkan mereka (jumhur) mengingkari dan mengecamnya seraca tegas. Kami tidak tau sedikitpun dari mazhab-mazhab mereka dan kami tidak meriwayatkan kitab-kitab mereka dan tidak ditemukan sebutan apapun dari mazhab-mazhab mereka melainakn anya di tempat-tempat tinggal mereka dan demikian juga dengan kitab-kitab Syi’ah, ia hanya ada di negeri-negeri merreka…. “</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ibnu Jakfari:</strong></p>
<p>Di sini Ibnu Khaldun menvonis bahwa Ahlulbait adalah kaum penyimpang yang mengada-ngada mazhab yang menyimpang dari mazhab kaum Muslimin (jumhur)!! Dan yang berada di atas Sunnah adalah Ibnu Khaludn dan Jama’ahnya!!</p>
<p>Tidak heran saranya jika ada seorang Muslim yang akan hilang kesabarannya, ia bangkit dan duduk bahkan ttidak heran jika ada seorang Muslim yang cemburu terhadap kesucian agamanya akan mati karena menyesal dan maratapi nasib Islam dan penganutnya! Tidak heran itu semua jika kegilaan sebagain umat sudah mencapai sedemikian parahnya!</p>
<p>Apakah Ibnu Khaldun mengatakan bahwa Ahlulbait adalah kaum penyimpang? Ahli Bid’ah? Sementara mereka itu telah Allah sucikan berdasarkan nash Al Qur’an?</p>
<p>Bukankah Alllah memerintah umat Islam agar mencintai mereka?</p>
<p>Bukankah Ahlulbait itu bahtera keselamatan umat?</p>
<p>Jika Ahlubait Nabi dikatakan sebagai Kaum Penyimpang oleh Ibnu Khaldun, lalu siapakah yang ia yakini sebagai pemelihara kemurnian agama Rasulullah? Bani Uamayyah? Mu’awiyah? Yazid? Bagi Anda yang rajin membaca pembelaan Ibnu Khaldun kepada keluarga besar Bani Umayyah pasti Anda tidak akan heran jika Ibnu Khaldun begitu benari memvonis Ahluliabt sebagai Ahli Bid’ah dan kaum Penyimpung!</p>
<p>Mungkin Anda bertanya, bukankah yang menvonis itu hanya Ibnu Khaldun seorang, sementara tokoh-tokoh Ahlusunnah lainnya tidsak sependapat dengannya, lalu mengapakah Anda membebenkan dosa itu kepada Ahlusunnah?</p>
<p>Apa yang Anda pertanyakan itu benar! Hanya Ibnu Khaldun dan segelintir ulama Ahlusunnah saja yang memandang Ahlulbait seperti itu! Akan tetapi coba Anda perhatikan sejak stitmen sesat Ibnu Khaldun itu diluncirkan, tidak pernah seorang pun dari ulama Ahlusunnah yang membantahnya! Itu dapat menimbulkan spikulasi bahwa mereka jangan-jangan setuju dengan vonis sesat menyesatkan Ibnu Khaldun!</p>
<p>Kedua, musuh-musuh Syi’ah Ahlulbait as. sering menggunakan bahasa dan logika yang sama! Mereka membebankan penyimpangan seorang ulama Syi’ah kepada Syi’ah secara keseluruhan! Membebankannya kepada Mazhab!</p>
<p>Jadi, salahkan jika saya berbicara kepada kaum Nawashib Modern dengan bahasa dan logika mereka!</p>
<p>Apa yang saya katakana tidak saya tujukan kepada saudara-saudara kami Ahlusunnah yang kami kenal sebagai mencintai dan menghormati Ahlulbait as. dan dzurriyah Nabi Muhammadd saw.. sebab di kalangan Ahlusunnah sendiri terdapat dua kelompok;</p>
<p>A)    Kelompok Muhibbîn yang mencintai dan menghormati Ahlulbait Nabi saw.</p>
<p>B)     Kelompok Nawashib atau yang yang terpengaruh dengan ide-ide kaum Nawashib.</p>
<p>Ciri kelompok kedua ini adalah menampakkan kebencian kepada keluarga Nabi; Ahlulbait dengan beragam bentuk, mulai mendustakan hadis-hadis shshih keutamaan Ahlulbait as., membela musuh-musuh Ahlulbait as., khususnya Bani Umayyyah, hingga menghujat melecehkan Imam Ali, Siti Fatimah, Imam Hasan, Imam Husain dan tokoh-tokoh Ahlulbait as. lainnya.</p>
<p>Di antara mereka yang dicurigai bahkan dibuktikan ulama Sunni sendiri sebagai pembenci Imam Ali Ahlulbait as. adalah Ibnu Khaldun, Ibnu Tamiyah, adz Dzahabi, Ibnu Al Arabi penulis kkitab <em>al ‘Awâshim Min al Qawâshim</em> dkk.</p>
<p>Ibnu Khaludnlah yang mengtatakan bahwa Imam Husain –cucu tercinta Nabi saw.- itu memang pantas dibunuh oleh Yazid sebab ia memberontak melawan Khalifah yang sah, <em>Amirul Mukminin</em> Yazid putra Mu’awiyah!<a href="#_ftn1">[1]</a> Yang karenanya Imam Abul Hasan al Haitsami mencaci maki dan melaknati Ibnu Khaldun.<a href="#_ftn2">[2]</a> Dan setipa pemberontah hukumnya harus ditumpas dan darahnya halal untuk dicucurkan. Pernyataan serupa juga dilontarkan oleh Ibnu Al Arabi.</p>
<p>Semoga kita diselamatkan dari keseatan dan kemunafikan dan diberkahi keimanan kita dengan mencintai kekasih-kekasih Allah dan membenci musuh-musuh-Nya.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Baca al Badru ath Thâli’; asy Syaukani,1/339, menukil dari Ibnu Hajar.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Ibid. Yang pasti bahwa Abul Hasan al Haitsami tidak mungkin semberono dalam sikapnya itu, ia pasti telah mengetahui dengan pasti keasesatan sikap Ibnu Khaldun ketika mengatakan bahwa Imam Husain dibunuh oleh syari’at kakaknya sendiri. Maksudnya berdasarkan syari’at Rasulullayh saw. setiap yang memberontak dan keluar dari keta’atan Khalifah yang saha maka ia harus dibunuh dan jika mati maka ia mati Jahiliyah!. Sebab Al Haitsami hidup sezaman dengan Ibnu Khaldun,  ia wafat satu tahun sebelum kematian Ibnu Khaldun. Al Hatsmai wafat tahun 807 H. sementara Ibnu Khaldun mati tahun 808 H sementara yang menerima pernyataan sikap Al Haitsami adalah Ibnu Hajar al Asqallani – salah seorang murid Ibnu Khaldun sendiri-. Sikap dan stitmen sesat Ibnu Khaldun itu sebagai dikatakan Ibnu Hajar termuat dalam salah satu naskah kitab tarikh Ibnu Khaldun kendati pada naskah yang beredar sekarang tidak ditemukan lagi! Mungkin setelah mendapat juhatan para ulama dan agar tidak kentara kenashibiannya ia meralatnya! Dan apa yang saya sebutkan di sini membuktikan kebenaran apa yang saya katakkan bahwa di tubuh Ahlusunnah terdapat dua aliran atau kelompok!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jakfari.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jakfari.wordpress.com/353/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jakfari.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jakfari.wordpress.com/353/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jakfari.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jakfari.wordpress.com/353/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jakfari.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jakfari.wordpress.com/353/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jakfari.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jakfari.wordpress.com/353/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jakfari.wordpress.com&blog=1466658&post=353&subd=jakfari&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jakfari.wordpress.com/2009/06/22/353/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a64cca68ac2c1a92a502d76875fe3d31?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibnu Jakfari</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>