Hadis Perintah Ber-iqtida’ Dengan Abubakar Dan Umar I

Hadis Perintah Ber-iqtida’ Dengan Abubakar Dan Umar I

Ada sebuah hadis yang tak henti-hentinya dibanggakan sebagian orang sebagai bukti kuat keutamaan Abu Bakar dan Umar atas Imam Ali as. dan keberhakan keduanya menjabat kekhalifahan setelah Nabi saww dan bahwa ijma’ atau ucapan mereka adalah wajib diikuti. Hadis itu adalah hadis iqtidâ’ dengan Syaikhain. Hadis ini sangat masyhur dan selalu hadir dalam kajian para ulama dalam berbagai disiplin ilmu, seperti teologi Islam, Ushul Fikih dan Fikih.

Dalam blog “haulasyiah.wordpress.com”, ketika menulis bantahan atas syubuhat Syi’ah kedua, hadis itu juga diangkat sebagai bukti keutamaan Abu bakar dan Umar atas Imam Ali as.

Untuk melihat sejauh mana kesahihan hadis andalam mereka itu, mari kita telaah bersama dengan merujuk melihat sanad periwayatannya dan dengan melibatkan komentar para pakar ilmu hadis.

Sanad Hadis:

Hadis tersebut telah diriwayatkan para ulama dari enam sahabat melalui beberapa jalur.

1. Hudzaifah ibn al Yamân.

2. Abdullah ibn Mas’ud.

3. Abu Dardâ’.

4. Anas ibn Malik.

5. Abdullah ibn Umar.

6. Nenek Abdullah ibn Abu al Hudzail

Tetapi yang menarik diperhatikan ialah bahwa Bukhari dan Muslim enggan meriwayatkan dalam kedua kitab Shahihnya. Dan dalam kitab-kitab Shihâh (bentuk jama’ kata Shahih) andalah mazhab Ahlusunnah tidak diriwayatkan kecuali dari Hudzaifah ibn al Yamân dan Ibnu Mas’ud. Sementara itu tidak jarang ulama Ahlusunnah menolak sebuah hadis hanya dikarena tidak diriwayakan oleh Bukhari & Muslim bahkan ada juga yang menolak setiap hadis yang tidak diriwayatkan oleh seorangpun dari penulis enam kitab Shahih!

Berdasarkan hal itu mestinya hadis iqtidâ’ ini dari selain riwayat Hudzaifah ibn al Yamân dan Ibnu Mas’ud gugur dan tidak layak diangkat sebagai hujjah, sebab ia tidak diriwayatkan dalam salah satu dari enam kitab Shihâh!

Oleh sebab itu pula kami tidak akan memperpanjang dengan menelaah jalur-jalur hadis ini dari selain kedua sahabat itu.

Sanad Hadis Hudzaifah:

A) Hadis iqtidâ’ dalam Riwayat Imam Ahmad

Sufyan ibn ‘Uyainah menyampaikan hadis kepada kami, dari Zâidah dari Abdul Malik ibn Umair dari Rib’iy dari Ibnu Khirâsy dari Hudzaifah, bahwa nabi saw. bersabda:

إقْتَدُوا باللذَيْنِ مِنْ بَعْدِيْ أبي بكْرٍ و عُمَرَ.

Ikutilah dua orang setelahku; Abu Bakar dan Umar.[1]

Wakî’ menyampaikan hadis kepada kami, ia berkata, Sufyan menyampaikan hadis kepada kami dari Abdul Malik ibn Umair dari budak sahaya Rib’iy ibn Hirâsy dari Rib’iy ibnu Khirâsy dari Hudzaifah, (ia berkata) Kami duduk di sisi Nabi saw. lalu beliau bersabda:

إنِّيْ لَسْتُ أَدْرِيْ ما قَدْرُ بقائِيْ فِيْكُمْ، فَاقْتَدُوْا باللذَيْنِ مِنْ بَعْدِيْ أبي بكْرٍ و عُمَرَ.

Aku tidak tahu berapa lama lagi aku tinggal di tengah-tengah kalian, maka ikutilah dua orang setelahku- dan belia menunjuk kepadaAbu Bakar dan Umar-….[2]

B) Hadis iqtidâ’ dalam Riwayat at Turmudzi

1) Al Hasan ibn ash Shabbâh al Bazzâr menyampaikan hadis kepada kami ia berkata, Sufyan ibn ‘Uyainah mengabarkan kepada kami dari Zâidh dari Abdul Malik ibn ‘Umair dari Rib’iy dari Hudzaifah, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

إقْتَدُوا باللذَيْنِ مِنْ بَعْدِيْ أبي بكْرٍ و عُمَرَ.

Ikutilah dua orang setelahku; Abu Bakar dan Umar.

Abu Isa (at Turmudzi) berkata, “Dan dalam masalah ini ada hadis dari Ibnu Mas’ud. Ini adalah hadis hasan. Dan Sufyan ats Tsauri meriwayatkan hadis ini dari Abdul Malik ibn ‘Umair dari budak Rib’iy dari Rib’iy dari Hudzaifah dari Nabi saw.”

2) Ahmad ibn Manî’ dan lainnya menyampaikan hadis kepada kami, mereka berkata, Sufyan ibn ‘Uyainah mengabarkan kepada kami dari Abdul Malik dengan hadis serupa. Dan adalah Sufyan ibn ‘Uyainah melakukan tindak tadlis dalam periwayatan hadis ini, sesekali ia menyebutkannya dari Zâidah dari Abdul Malik ibn ‘Umair dan sesekali tidak menyebut (menggugurkan) nama Zâidah.

3) Hadis ini juga dirwayakan oleh Ibrahim ibn Sa’ad dari Sufyan ats Tsauri dari Abdul Malik ibn ‘Umair dari Hilâl budak sahaya Rib’iy dari Rib’iy dari Hudzaifah dari Nabi saw.

4)Sa’id ibn Yahya ibn Sa’id al Umawi menyampaikan hadis kepada kami, ia berkata, Wakî’ mengabarkan kepada kami dari Salim Abu al ‘Alâ’al Murâdi dari Amr ibn Haram dari Rib’iy ibn Khirâsy dari Hudzaifah, ia berkata, “Kami duduk di sisi Nabi saw. lalu beliau bersabda:

إنِّيْ لَسْتُ أَدْرِيْ ما قَدْرُ بقائِيْ فِيْكُمْ، فَاقْتَدُوْا باللذَيْنِ مِنْ بَعْدِيْ أبي بكْرٍ و عُمَرَ.

Aku tidak tahu berapa lama lagi aku tinggal di tengah-tengah kalian, maka ikutilah dua orang setelahku- dan belia menunjuk kepadaAbu Bakar dan Umar….[3]

Dalam bab Manâqib Ammar ibn Yasir at Turmudzi juga meriwayatkannya dengan sanad: Mahmûd ibn Ghailân menyampaikan hadis kepada kami, ia berkata, Wakî’ mengabarkan kepada kami, ia berkata, Sufyan mengabarkan kepada kami dari Abdul Malik ibn ‘Umair dari budak Rib’iy dari Rib’iy ibn Hirâsy dari Hudzaifah, ia berkata, “Kami duduk di sisi Nabi saw…. .”[4]

C) Hadis iqtidâ’ dalam Riwayat Ibnu Mâjah

Dari Abdul Malik ibn ‘Umair dari budak Rib’iy dari Rib’iy ibn Hirâsy dari Hudzaifah, ia berkata, “Kami duduk di sisi Nabi saw. …”[5]

D) Hadis iqtidâ’ dalam Riwayat al Hakim

Dari Abdul Malik ibn ‘Umair dari Rib’iy ibn Hirâsy dari Hudzaifah, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:

إقْتَدُوا باللذَيْنِ مِنْ بَعْدِيْ أبي بكْرٍ و عُمَرَ….

Ikutilah dua orang setelahku; Abu Bakar dan Umar…

Dan darinya dari Rib’iy dari Hudzaifah, ia berkata, “Rasulullah bersabda, …. .”

Darinya dari Hilâl budak Rib’iy dari Rib’iy ibn Hirâsy dari Hudzaifah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ikutilah …. .”

Dengan sanadnya: dari Abdul Malik ibn ‘Umair dari Rib’iy ibn Hirâsy dari Hudzaifah ibn al Yamân bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ikutilah ….”

Kemudian al Hakim berkata, “Hadis ini adalah semulia-mulianya hadis yang diriwyatkan tentang keutamaan Syaikhain; Abu Bakar dan Umar…. (setelah menyebutkan beberapa jalur sanadnya, ia berkata), maka telah tetaplah dengan apa yang kami sebutkan kesahihan hadis ini kendati tidak diriwayatkan Bukhari dan Muslim.”[6]

Tela’ah Sanad

Demikianlah telah kami paparkan panjang lebar jalur-jalur riwayat Hudzaifdah ibn al Yamân dalam berbagai kitab hadis standar Ahlusunnah, darinya para pembaca dapat menyaksikan bahwa seluruh jalur hadis tersebut berakhir pada Abdul Malik ibn ‘Umair. Oleh sebab itu, kami akan cukupkan dengan menyoroti kualitas perawi yang satu ini, agar dapat diketahui sejauh mana kualitas hadis ini.

Abdul Malik ibn ‘Umair di Mata Para Ulama

Abdul Malik adalah seorang pentadlis, sangat lemah, banyak salah dan kacau riwayat hadisnya.

Imam Ahmad berkata, “Ia sangat kacau sekali hadisnya, padahal sedikit riwayatnya. Aku tidak yakin ia memiliki lima ratus hadis, dan itupun ia banyak salah dalam hadis-hadis itu.”[7] Ia sangat lemah dan banyak salah.[8]

Ishaq ibn Manshûr berkata, “Ahmad menganggapnya dhaif sekali.[9] Tetapi adalah hal mengherankan bahwa Imam Ahmad dalam Musnadnya justru meriwayatkan hadis tersebut dan hadis-hadis lain dari parawi yang ia cacat sendiri, sementara itu ia telah memposisikan musnadnya sebagai kitab hadis induk dan sebagai hujjah antara dia dan Allah!!

Ibnu Ma’in berkata, “Perawi yang kacau hadisnya.”[10]

Abu Hatim berkata, “Ia bukan seorang hafidz, hafalannya rusak/berubah.”[11] Ibnu Kharrâsy berkata, “Syu’bah tidak merelakannya sebagai perawi.[12]Adz Dzahabi berkata, “Adapun Ibnu al Jauzi maka ia telah menyebutkannya lalu ia menyebutkan pencacatan ulama atasnya dan tidak menyebutkan pentsiqahan.”[13]

As Sam’âni berkata, “Ia seorang pentadlis.”[14] demikian juga Ibnu Hajar al Asqallani dalam Taqrib-nya .[15]

Dan yang sangat istimewa dari lembaran hidup Abdul Malik ini ialah bahwa dialah yang menyembelih Abdullah ibn Yaqthur atau Qais ibn Mishar ash Shaidawi utusan Imam Husain as. ke kota Kufah. Ketika ia dilempar oleh Ibnu Ziyad dari atas istana dan belum mati maka datanglah Abdul Malik menyembelihnya.[16]

Sanad Hadis Ini Terputus

Selain malasalah kualitas Abdul Malik seperti telah and baca di atas, hadis in juga terputus sanadnya, sebab Abdul Malik tidak mendengarnya dari Rib’iy ibn Hirâsy dan Rib’iy ibn Hirâsy tidak mendengarnya dari Hudzaifah ibn al Yamân… Demikian ditegaskan al Munnâwi dalam Faidh al Qadîr-nya ketika mensyarahi hadis ini, ia berkata, “Ibnu Hajar berkata, ‘Diperselisihkan atas Abdul Malik, Abu Hatim menganggapnya memiliki cacat. Al Bazzâr berkata seperti juga Ibnu Hazm, ‘hadis ini tidak sahih, sebab Abdul Malik tidak mendengarnya dari Rib’iy ibn Hirâsy dan Rib’iy ibn Hirâsy tidak mendengarnya dari Hudzaifah. Tetapi ia mempunyai syâhid (hadis yang menyerupai sehingga dapat dijadikan penguat).’”

Saya berkata, “Jika yang dimaksud “Tetapi ia mempunyai syâhid” adalah hadis Abdullah ibn Mas’ud maka pembaca akan mengetahui kualitasnya nanti.

Dan jika yang dimaksud dalah hadis Hudzaifah dengan sanad lain dari Rib’iy seperti dalam riwayat at Turmudzi nomer 4, maka perlu anda ketahui bebepara hal di bawah ini tentang sanadnya:

Di dalam sanadnya terdapat beberapa perawi bermasalah:

1) Salim Abu al Alâ’ al Muradi.

Hadis ini berporos padanya. Ibnu Hazm setelah meriwayatkan hadis in dengan sanad tersebut, mengatakan, “Salim adalah dfha’if.”[17]

Dalam Mizân al I’tidâl disebutkan, “Ibnu Ma’in dan an Nasa’i mendhaifkannya.”[18]

Dalam al Kâsyif disebutkan, “Ia dilemahkan.”[19]

Dalam Tahdzîb at Tahdzîb disebutkan, “Ad Dûri berkata dari Ibnu Ma’in, ‘Ia lemah dalam hadis.’”[20]

Dalam Lisân Mizân disebutkan, “Al Uqaili menyebutnya… dan ia didhaifkan oleh Ibnu al Jârûd.[21] 2) Amr ibn Haram. al Qathtân telah mendhaifkannya.[22]

3) Wakî’ ibn Jarrâh. Ia cacat, maqdûh.[23]

Selain itu dalam kebanyakan jalur hadis Hudzaifah terdapat perawi yang tidak dikenal identitasnya yaitu budak Rib’iy ibn Hirâsy. Demikian dikatakan Ibn Hazm. Dalam sebagian jalur budak sahaya itu disebut dengan nama Hilâl, nama itu juda tidak dikenal. Ibnu Hazm berkata, “Sebagi orang menamai budak Rib;iy itu dengan Hilâl ,maula, budak sahaya Rib’iy. Iapun majhûl, tidak dikenal sama sekali , siapa dia sebenarnya.”[24]

Maka dengan demikianlah jelas bagi kita semua seperti apa kualitas hadis tersebut di atas, dan bagimana nasib mereka yang bersandar dengannya dalam menegakkan klaim-klaimnya! Wal hamdulillah al ladzi adzhara al haqqa wa azhaqa al bâthila. (bersambung)

CATATAN KAKI

[1] Musnad,5/382.

[2] Musnad,5/385.

[3] Sunan at Turmudzi, bab manâqib Abi Bakr (52),5/609, dan dengan syarah al Mubarakfûri,10/147-149 hadis no.3742-3744.

[4] Sunan at Turmudzi bab Manâqib Ammar ibn Yasir, 10/300, hadis3887.

[5] Sunan Ibnu Mâjah, bab Manâqib Abu Bakr,1/37.

[6] Al Mustadrak,3/75.

[7] Tahdzîb at Tahdzîb,6/411.

[8] Mizân al I’tidâl,2/660.

[9] Tahdzîb at Tahdzîb,6/412 dan Mizân al I’tidâl,2/660.

[10]Tahdzîb at Tahdzîb,6/412, Mizân al I’tidâl,2/660 dan al Mughni,2/407.

[11] Mizân al I’tidâl,2/660.

[12] Mizân al I’tidâl,2/660.

[13] Mizân al I’tidâl,2/660.

[14] Al Ansâb,10/50.

[15] Taqrib at tahdzîb,1/521.

[16] Talkhîsh asy Syâfi,3/35, Raudhah al Wâ’idzîn:177 dan Maqtal al Husain:185.

[17] Al Ihkâm Fî Ushûl al Ahkâm,2/242.

[18] 2/112.

[19] 1/344.

[20] 3/440.

[21] 3/7.

[22] Mizân al I’tidâl,3/291.

[23] Mizân al I’tidâl,3/312.

[24] Al Ihkâm Fî Ushûl al Ahkâm,2/243.

19 Tanggapan

  1. Saya jadi ingin tahu, mungkinkah nabi memerintah kita mengikuti Abu bakar dan Umar sementara diantara merteka sendiri sering bertentangan satu sama lainnya…. belum lagi berapa banyak ketidak tauan mereka akan hukum islam…. Saya kok yakin walau saya tidak banyak tau mengenai ilmu hadis bahwa hadis ini tidak beras.

    mungkin sekedar mau nadingin hadis perintah menjadikan Sayyidina Ali sebagai rujukan umat islam dan beliau adalah pintu kota ilmu rasul saw.
    _______________________

    Ibnu Jakfari yaqul:

    Benar, apa yang mas Slamet sampaikan itu beralasan. dan itu salah satu alasan mengapa Ibnu Hazm menolaknya, sepeti dapat anda baca dalam lanjutan artikel di blog ini.

  2. Salam kenal.

    Sepertinya blog ini menarik untuk dikunjungi, sebab berniat meluruskan berbagai tuduhan miring para penghujat Syi’ah, yang dipelopori alim ulama (?) Arab Saudi atau yang telah terinfiltrasi hasutan mereka.

    Saya menaruh harapan besar, semoga para pengelolah di sini dapat menjaga kearifan intelektual dan kesopanan terdialoq dan jangan mengikuti gaya bahasa ala Wahabi yang kasar dan main tuduh tanpa bukti.

    Salam kenal semoga sukses. amin ya Rabbal Alamin.

    _________________________________

    Ibnu Jakfari yaqul:

    Salam kenal juga… semoga kita semua diridhai Allah Swt.

    Oh ya Benar, blog ini untuk anda yang mau tau ketidak jujuran Para pembenci Syi’ah… kekejian tuduhan dan fitnah para pembuat fitnah….dan kesinisan sikap tanpa akhlak… blog ini mengedepankan dalil….

    kami adalah putra-putra dalil, kemanapun ia berpihak kami di situ, nahnu abna’ud-dalil, ainama yamilu namil.
    Doakan sukses dan jangan bosan mengukuti kajian di sini…
    insya-Allah semuah bil hujjah wad-dalil.

    Terima kasih!

  3. KALIAN INI CAPEK2 NUKIL PERKATAAN ULAMA AHLISSUNNAH , NAMUN DENGAN KESIMPULAN YANG MENDATANGKAN MURKA ALLOH, KALIAN INI HARUS SADAR BAHWA GENERASI YANG TERBAIK UMAT INI ADALAH SHAHABAT RODHIYALLOHU ANHUM JAMIAN, BACALAH QS ATTAUBAH AYAT 100, ALFATH AYAT TERAKHIR ,DAN ALHASYR TTG PUJIAN DARI ALLOH THD PARA SHAHABAT , TOBATLAH ENGKAU WAHAI IBNU JA’FARI

    -Ibnu Jakfari berkata-

    Al-Qur’an juga penuh dengan kecaman terhadap kaum Munafiqin generasi Nabi saw. (termasuk surah taubah yang anda sebutkan), apakah mereka bukan shahabat?

    Anda wahai Abu Wahabi sedang berbuat Bid’ah Dhalalah sebab ketika anda menyebut Sahabat anda mangatakan RODHIYALLOHU ANHUM JAMIAN Apa hal itu pernah dipraktikan Nabi saww? kalau tidak bid’ah dong, wa kullu bid’atin dhalalah, wa kullu dhalaltin fin nari!

  4. YA IBNA JA’FARI HADAKALLOH , DEFINISI SHAHABAT ITU ADALAH ORANG YANG BERTEMU DGN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WAALIHI WASHOHBIHI WASALLAM , BERIMAN DENGAN NABI , DAN MATI DALAM KEADAAN ISLAM. TERMASUK DIDALAMNYA AHLUBATIHI YANG MULIA. SEDANGKAN MUNAFIQIN DIZAMAN NABI JELAS BUKAN SHAHABAT, SEPERTI ABDULLOH BIN UBAY BIN SALUL DAN KELOMPOKNYA , YANG PURA2 ISLAM BACA QS ALBAQOROH AYAT 8
    , BACA QS ALMUNAFIQUN AYAT 1. ADAPUN ABU BAKR DAN UMAR DAN SHAHABAT SEMUANYA RADHIYALLOHU ‘ANHUM MEREKA SEMUA DIRIDHOI OLEH ALLOH QS ATTAUBAH AYAT 100. DOA SAYA : YA ROBBI BERILAH HIDAYAH KEPADA IBN JA’FARI KEPADA SUNNAH NABIMU AMIN

    -Ibnu Jakfari yaqul-

    Kalau kaum Munafiqin bukan sahabat, lalu kenapa Nabi menshalati jenazahnya Abdullah ibn Ubay ibn Salul (si gembong Munafiqin itu)?

    Lalu siapakah yang anda maksud dengan DAN KELOMPOKNYA? Bisakah Anda pilah mereka dari shabat-sahabat yang benar-benar beriman? Dan untuk mengenalinya adakah cara yang bisa kita lakukan?

    Apakah Allah meridhai kaum Munafikin? Apakah Allah meridhai orang-orang yang mengganggu Nabi?
    Ayat-ayat yang anda bawa-bawa itu hanya mengena sahabat yang beriman dan tulus dalam keimannya saja tidak mengena yang munafik?

    Kalau seperti anda katakan kaum munafiqin bukan sahabat Nabi saww, lalu mengapa mereka juga ikut berjihad bersama Nabi saww? Inti masalahnya ya Abu adalah apa bukti kamu bahwa kaum munafiqin itu bukan sahabat Nabi saww.!!! Ndak usah emosi dan muring-muring!!!

  5. YA IBNA JAKFARI : INNAHA LAA TA’MAL ABSHORU WALAKIN TA’MAL QULUBUL LADZI FISHSHUDUR.

    -Ibnu Jakfari-

    Kami tunggu komentar para ustadz Salafiyin bukan omelan kaum juhal.

  6. Kapan ya kaum syiah di Indonesia mengadakan “karnaval” sobek2 baju, pukul kepala sambil berdarah2???
    Lumayan buat wisatawan ke Indonesia,nambah devisa buat negara, sambil rakyat komentar ” OH…ini toh orang syiah yang goblok dan nggak punya otak itu!!!

    Salam mas abu.

    Saya sarankan anda banyak baca tentang Syi’ah dan doktrin-doktrin mazhab mereka, biar kedengkian tidak meluap-luap dari dalam dada anda. TAK KENAL MAKA TAK SAYANG!

  7. Kapan ya kaum syiah di Indonesia mengadakan “karnaval” sobek2 baju, pukul kepala sambil berdarah2???
    Lumayan buat wisatawan ke Indonesia,nambah devisa buat negara, sambil rakyat komentar ” OH…ini toh orang syiah yang goblok dan nggak punya otak itu!!!Beragama IBLIS yang mengajarkan…………

    Ibnu Jakfari.

    Salam mas Abu, sepertinya anda kenal betul dengan Kang Iblis.
    kami sarankan anda kenali dengan baik siapa Syi’ah, agar kebencian tidak meluap-luap dari dada anda. TAK KENAL MAKA TAK SAYANG.

  8. @Abu Wahabi

    permisi ikut nimbrung ya, mengomentari tulisan anda tentang difinisi sahabat yang anda katakan:

    (DEFINISI SHAHABAT ITU ADALAH ORANG YANG BERTEMU DGN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WAALIHI WASHOHBIHI WASALLAM , BERIMAN DENGAN NABI , DAN MATI DALAM KEADAAN ISLAM. TERMASUK DIDALAMNYA AHLUBATIHI YANG MULIA. SEDANGKAN MUNAFIQIN DIZAMAN NABI JELAS BUKAN SHAHABAT, SEPERTI ABDULLOH BIN UBAY BIN SALUL DAN KELOMPOKNYA , YANG PURA2 ISLAM BACA QS ALBAQOROH AYAT 8
    , BACA QS ALMUNAFIQUN AYAT 1.)

    Mas abu Wahabi: kalo anda memberi difinisi sahabt seperti itu, dan menganggap semua sahabat baik dan di ridoi Allah sebagaimana diyakini para wahabi, lalu bagaimana anda mengetahui bahwa diantara mereka ada sahabat yang munafik yang tidak diketahui identitasnya (yang anda sebut itu HANYA MUNAFIQIN yang sudah diketahui identitasnya) alias para munafiqun yang tidak terdeteksi kemunafikannya, yang bahkan kata Allah SWT, Nabi Muhammad saw sendiri tidak mengetahui siapa gerangan para munafiqin yang tersembunyi itu, sebagaimana firman-Nya SWT dalam surat at-Taubah ayat 101

    “Diantara orang yang disekelilingmu. diantara orang-orang badui ada orang-orang munafiq. Dan begitu juga diantara penduduk Madinah. Mereka tetap atas kemunafikannya. Engkau (Muhammad) tiada mengetahui mereka. tetapi Kami mengetahuinya. Nanti akan kami siksa mereka dua kali. kemudian mereka di dikembalikan ke dalam siksaan yang besar”

    jelas sekali ayat tersebut menyebut penduduk Madinah, dan sebagaimana diketahui bahwa penduduk Madinah itu adalah para Muhajirin dan Anshor. jadi diantara mereka ada yang munafiqun yang tidak diketahui identitasnya oleh Nabi saw.

    kalo Rasul saw saja kata Allah SWT tidak mengetahui identitas mereka lalu bagaimana anda mengetahuinya? apa jadinya jika anda mengambil ajaran Rasul saw dari semua sahabat (sesuai difinisi anda) dengan “gebyah uyah” tanpa memilah-milah? satu ayat saja sudah membuktikan seperti itu, belum ayat-ayat yang lain apalagi di dalam hadis, nggak usah jauh-jauh mas didalam kitab Bukahari saja -yang anda yakini kebenaran semua kandungannya- akan anda dapati setumpuk bukti bahwa diantara para sahabat (sekali lagi sesuai difinisi anda) banyak yang mengubah-ubah ajaran Rasul saw dan bahkan oleh Rasul sendiri disebut sebagai ahli neraka.
    untuk diketahui saya nukil dua saja hadis Bukhari:

    1. hadis yang memuat kesaksian sahabat al-Barra’ bin Azib yang membuktikan bahwa diantara para sahabat ada yang ahli bid’ah tukang mengubah-ubah ajaran Rasul saw:

    “Dari al-alaa’ bin al-musayyab dari ayahnya, berkata: “saya pernah bertemu dengan al-Barra’ bin Azib, lalu kukatakan kepadanya: “anda beruntung telah bersahabat dengan Nabi saw dan anda telah membaiat beliau saw dibawah pohon” akan tetapi al-Barra’ bin Azib berkata: “WAHAI PUTRA SAUDARAKU KAU TIDAK TAHU APA SEBENARNYA YANG TELAH KAMI ADA-ADAKAN (bid’ah) SEPENINGGAL BELIAU SAW”
    (Shahih Bukhori, Bab ghazwah al-Hudaibiyah)

    2. hadis yang meyebutkan bahwa diantara para sahabat adalah ahli neraka:

    “….akan berdatangan dihadapanku (kelak dihari kiamat) di al-Haudh orang-orang dari SAHABATKU HINGGA AKU KENALI MEREKA, kemudian mereka dihalau dari aku, lalu aku katakan: “mereka adalah sahabat-sahabatku”. lalu dikatakan: “kamu tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan (bid’ah) sepeninggalmu” (Shahih Bukhari, kitab ad-Da’wat, Bab fi al-haudh)
    hadis sejenis ini banyak dimuat di shahih Bukhari coba anda baca kitab Bukhari!

    HADIS KEDUA INI MEMBUKTIKAN KEBENARAN KESAKSIAN SAHABAT AL-BARRA’ BIN AZIB TERSEBUT, BAHWA DIANTARA SAHABAT BANYAK PELAKU BID’AH DAN PENGUBAH-UBAH AGAMA!

    Mas Abu kalo begitu keadaan sahabat, apa anda akan asal comot mengambil ajaran Rasul saw dari mereka? apa anda akan mengambil ajaran beliau saw dari para pelaku bid’ah hanya lantaran mereka pernah bertemu Nabi saw? Apakah lantaran mereka pernah bertemu dengan Rasul saw lalu mereka menjadi baik walao jelas-jelas terbukti ada diantara mereka yang ahli bid’ah? mbok sampean berfikir jangan bersifat “ghulu” seperti itu!golongan anda suka menuduh syiah ghuluh, tapi para wahabiyyin sangat ghuluh terhadap para sahabat, bahkan terhadap keluarga bani umayah si pembantai keluarga Nabi saw dan pembantai para sahabat sejati Rasul saw dan keturunan sahabat.

    Mas Abu Wahabi Biar nggak panjang-panjang tolong ini ditanggapai dulu…! itung-itung barangkali anda bisa memberi pencerahan.

    @Ibnu jakfari
    Buat mas Ibnu Jakfari, biar tidak debat kusir dan terarah sebaiknya diskusi sesuai artikel yang dimuat aja, diluar tulisan anda, nggak perlu ditanggapi, biar terarah dan nggak melebar kemana-mana !

    wassalam
    Usup Arifin

  9. kok sepi sudah berbulan2….kmn anu wahaby

  10. salam Ibnu Jakfari
    semoga ALlah merahmati
    Rasulullah saw dikatakan merestui Abu Bakar sebagai khalifah dengan hadis:

    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ: ادْعِي لِي أَبَا بَكْرٍ أَبَاَكِ وَأَخَاكِ، حَتَّى أَكْتُبُ كِتَابًا، فَإِنِّي أَخَافُ أَنْ يَتَمَنَّى مُتَمَنٍّ، وَيَقُوْلُ قَائِلُ: أَنَا أَوْلَى، وَيَأْبَى اللهُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ إِلاَّ أَبَا بَكْرٍ.
    Dari Aisyah ra, ia berkata; berkata kepadaku Rasulullah saw: “anggillah Abu Bakar Bakar, Ayahmu dan saudaramu, sehingga aku tulis satu tulisan (wasiat). Sungguh aku khawatir akan ada seseorang yang menginginkan, kemudian berkata: “Aku lebih utama”. Kemudian beliau bersabda: “Allah dan orang-orang beriman tidak meridlai, kecuali Abu Bakar”. (HR. Muslim 7/110 dan Ahmad (6/144); Lihat Ash-Sha-hihah, juz 2, hal. 304, hadits 690)

    dalil terkuat menunjukkan Imam Ali tahu benar bahwa khalifah itu tidak ditetapkan buatnya:

    عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رضي الله عَنْهُ خَرَجَ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْعِهِ الَّذِي تُوُفِّىَ فِيْهِ فَقَالَ النَّاسُ: يَا أَبَا الْحَسَنِ كَيْفَ أَصْبَحَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ أَصْبَحَ بِحَمْدِ اللهِ بَارِئًا فَأَخَذَ بِيَدِهِ الْعَبَّاسُ فَقَالَ لَهُ أَلاَ تَرَاهُ أَنْتَ وَاللهِ بَعْدَ ثَلاَثٍ عَبْدُ الْعَصَا وَاللهِ إِنِّي َلأَرَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْفَ تُوُفِّىَ فِي وَجْعِهِ وَإِنِّي َلأَعْرِفُ فِي وُجُوْهِ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ الْمَوْتَ فَاذْهَبْ بِنَا إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَسْأَلُهُ فِيْمَنْ هَذَا اْلأمْرُ؟ فَإِنْ كَانَ فِيْنَا عَلِمْنَا ذَلِكَ وَإْنْ كَانَ فِي غَيْرِنَا عَلِمْنَا ذَلِكَ فَأَوْصَى بِنَا. قَالَ عَلِيُّ وَاللهِ لَئِنْ سَأَلْنَاهَا رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنَعْنَاهَا لاَ يُعْطِيْنَاهَا النَّاسُ بَعْدَهُ وَإِنِّي وَاللهِ لاَ أَسْأَلُهَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه البخاري)
    Dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya Ali bin Abi Thalib keluar dari sisi Rasulullah saw ketika beliau sakit menjelang wafatnya. Maka manusia berkata: “Wahai Abal Hasan, bagaimana keadaan Rasulullah saw?” Beliau menjawab: “Alhamdulillah baik”. Abbas bin Abdul Muthalib (paman Rasulullah saw) memegang tangan Ali bin Abi Thalib, kemudian berkata kepadanya: “Engkau, demi Allah, setelah tiga hari ini akan memegang tongkat kepemimpinan. Sungguh aku mengerti bahwa Rasulullah saw akan wafat dalam sakitnya kali ini, karena aku mengenali wajah-wajah anak cucu Abdul Muthalib ketika akan wafatnya. Marilah kita menemui Rasulullah saw untuk menanyakan kepada siapa urusan ini dipegang? Kalau diserahkan kepada kita, maka kita mengetahuinya. Dan kalau pun diserahkan untuk selain kita, maka kitapun mengetahuinya dan beliau akan memberikan wasiatnya”. Ali bin Abi Thalib menjawab: “Demi Allah, sungguh kalau kita menanyakannya kepada Rasulullah saw, lalu beliau tidak memberikannya kepada kita, maka tidak akan diberikan oleh manusia kepada kita selama-lamanya. Dan sesungguhnya aku demi Allah tidak akan memintanya kepada Rasulullah saw. (HR. Bukhari, kitabul Maghazi, bab Maradlun Nabiyyi wa wafatihi; fathlul bari 8/142, no. 4447)

    _____________________________

    -Ibnu Jakfari-

    banyak masalah yang perlu dibicarakan seputar keshahihan kedua hadis yang saudara bawakan!
    akan tetapi coba Anda renungkan kenyataan-kenyatan ini:

    Satu: Imam Ali sa. tidak sudi mengakui Abu Bakar sebagai selama enam bulan selama hidup istri tercintanya; putri kesayangan baginda Rasulullah saw. yang juga hingga wafat tidak mau berbait mengakui kekhalifahan Abu Bakar!
    Pertanyaannya: Apakah Fatimah yang enggan mengakui khilafah Abu Bakar (تأبى خلافة أبي بكر) itu bukan orang Mu’minun?
    Apakah Imam Ali as. selama enam bulan tidak mau mengakui kekhailfahan Abu Bakar itu Anda keluarkan dari golongan kaum Mu’minun?

    Dua: Sa’ad ibn Ubadah dan putranya yang juga sampai mati di zaman kekhalifahan Umar tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar dan juga Umar, apakah Anda keluarkan dari golongan Mu’minun?

    Tiga: Bani Hasyim, seperti Abbas -paman Nabi saw.- dan seluruh putranya yang enggan memberikan baiat dan enggan mengakui kekhalifahan Abu Bakar Anda anggap bukan kaum Mu’minin?

    Menurut hadis yang Anda sebutkan:”Allah dan orang-orang beriman tidak meridlai, kecuali Abu Bakar”.Jadi bukankah yang tidak meridhai kekhalifahan Abu Bakar berarti bukan orang-orang beriman?!

    Anda perlu menyadari bahwa betapa banyak kepalsuan yang diatas-namakan Nabi mulia saw.! Jadi jangan asal ada hadis Anda terima dan telan mentah-mentah, nanti bisa keracunan pikiran Anda!

    Empat: Untuk membuktikan keshahihan hadis yang Anda bawakan di atas, Anda harus terlebih dahulu membuktikan kepalsuan data-data yang saya bawakan dalam tiga poin di atas! Yang sebagiannya telah diriwayatkan oleh Bukhari Imam Ahlusunnah dalam kitab yang paling dishahihkan setelah Al Qur’an; Shahih Bukhari!

    Lima: Untuk mempertahankan anggapan keshahihan hadis yang Anda sebutkan di atas, Anda harus mampu menolak keshahihan hadis-hadis yang menunjukkan bahwa Nabi saw. telah menunjuk Imam Ali as.!

    Dan untuk semua itu, saya minta ulama dan para pemikir Ahlusunnah untuk berkumpul mendiskusikannya dan saya nanti jawabannya!
    Wassalam!

  11. salam
    terimakasih sauara Ibnu jakfari, jawapan yang saya fikir2kan juga sebenarnya hampir sama saja dengan anda, anda punya tentunya lebih baik lagi. penting bagi saya untuk anda jawab permasalahan hadis tersebut kerana hadis tersebutlah yang sangat sering diajukan kepada orang2 yang mengkaji bab kekhalifahan ini, apatah lagi ianya dipetik dari kitab Sahih. Menolaknya adalah satu yang absurd bagi umat Islam Sunni. Bagi saya jawapan anda sudah memuaskan hati saya, apatah lagi saya sedang dalam perjalanan mencari kebenaran. Mungkin ya, kalau ada kelapangan kelak, anda boleh kupaskan hadis tersebut untuk melengkapkan jawapannya. Saya doakan insyaAllah.

    Ibnu Jakfari:

    Insyaallah, dalam kesempatan lain, akan dibahas secara khusus topik imamah. Semoga rahmat Allah selalu menyertai kita semua.

  12. @Ibnu Jakfari
    Benar anda dlm Metode penilitian untuk Menyatakan yg ini benar dan itu salah. Maka buktikan yg salah kesalahannya dulu. Tdk bs kita katakan ini benar dan itu salah tanpa menunjukan kesalahan yg dianggap salah

  13. @bob

    kok sepi sudah berbulan2….kmn anu wahaby

    Kombinasi tulisan Abu Salafy dan Yusuf Arifin menyebabkan tdk ada lg celah kecuali bagi yg datang utk memaki2. Tapi keliatannya yg mau maki2 jg takut kualat dg ayat Al-Qur’an ttg MUNAFIQUN.
    Oyaaa, betul gak bhw Abu Wahaby sampai menggunakan definisi sahabat yg mirip2 definisi syi’ah?.
    Apakah artinya juga MUNAFIQUN bisa digolongkan SALAF versi WAHABI? Kan tdk ada yg bisa membedakan ygmn yg MUNAFIQUN ygmn yg SETIA pd Rasulullah.

  14. @mautau

    Dari Aisyah ra, ia berkata; berkata kepadaku Rasulullah saw: “anggillah Abu Bakar Bakar, Ayahmu dan saudaramu, sehingga aku tulis satu tulisan (wasiat). Sungguh aku khawatir akan ada seseorang yang menginginkan, kemudian berkata: “Aku lebih utama”. Kemudian beliau bersabda: “Allah dan orang-orang beriman tidak meridlai, kecuali Abu Bakar”. (HR. Muslim 7/110 dan Ahmad (6/144); Lihat Ash-Sha-hihah, juz 2, hal. 304, hadits 690)

    Harap diperhatikan hal2 berikut:
    1. Jika Rasulullah benar2 ingin mewasiatkan penggantinya (suatu hal yg teramat besar dan berat), maka tdk mungkin Rasulullah akan mewasiatkan kepada keluarga terdekat sang pengganti (pengganti Rasulullah Abu Bakar dan penerima wasiat Aisyah/anak), krn Rasulullah tahu akan ada keraguan mengenai subjektivitas penerima wasiat. Jauh dibandingkan dg hadits2 yg menyatakan Imam Ali adalah pengganti beliau, berita tsb disampaikan kpd umum.

    2. Apa maksud kata aku tulis suatu tulisan, dimanakah tulisan tsb?.

    3. Jika Abu Bakar yg ditetapkan Rasulullah, dan itu diketahui oleh umat islam saat itu, maka perebutan kekuasaan (umat islam bersitegang ) di Saqifah pasti tdk akan terjadi. Krn peristiwa Saqifah terjadi krn sebagian umat islam saat itu mencuri kesempatan agar kepemimpinan tdk diwarisi hanya oleh Bani Hasyim. Perlu jg diketahui pd saat di Saqifah tdk ada satu argumen dr khalifah Abu Bakar maupun khalifah Umar yg menggunakan hadits yg disebutkan diatas ataupun hadits2 lainnya (krn mrk tdk bisa mengada2kan hadits di tengah2 umat islam yg sejaman).

    Wassalam.

  15. Mautau wrote :

    عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رضي الله عَنْهُ خَرَجَ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ
    عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْعِهِ الَّذِي تُوُفِّىَ فِيْهِ فَقَالَ النَّاسُ: يَا أَبَا الْحَسَنِ كَيْفَ أَصْبَحَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ أَصْبَحَ بِحَمْدِ اللهِ بَارِئًا فَأَخَذَ بِيَدِهِ الْعَبَّاسُ فَقَالَ لَهُ أَلاَ تَرَاهُ أَنْتَ وَاللهِ بَعْدَ ثَلاَثٍ عَبْدُ الْعَصَا وَاللهِ إِنِّي َلأَرَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْفَ تُوُفِّىَ فِي وَجْعِهِ وَإِنِّي َلأَعْرِفُ فِي وُجُوْهِ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ الْمَوْتَ فَاذْهَبْ بِنَا إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَسْأَلُهُ فِيْمَنْ هَذَا اْلأمْرُ؟ فَإِنْ كَانَ فِيْنَا عَلِمْنَا ذَلِكَ وَإْنْ كَانَ فِي غَيْرِنَا عَلِمْنَا ذَلِكَ فَأَوْصَى بِنَا. قَالَ عَلِيُّ وَاللهِ لَئِنْ سَأَلْنَاهَا رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنَعْنَاهَا لاَ يُعْطِيْنَاهَا النَّاسُ بَعْدَهُ وَإِنِّي وَاللهِ لاَ أَسْأَلُهَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه البخاري)
    Dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya Ali bin Abi Thalib keluar dari sisi Rasulullah saw ketika beliau sakit menjelang wafatnya. Maka manusia berkata: “Wahai Abal Hasan, bagaimana keadaan Rasulullah saw?” Beliau menjawab: “Alhamdulillah baik”. Abbas bin Abdul Muthalib (paman Rasulullah saw) memegang tangan Ali bin Abi Thalib, kemudian berkata kepadanya: “Engkau, demi Allah, setelah tiga hari ini akan memegang tongkat kepemimpinan. Sungguh aku mengerti bahwa Rasulullah saw akan wafat dalam sakitnya kali ini, karena aku mengenali wajah-wajah anak cucu Abdul Muthalib ketika akan wafatnya. Marilah kita menemui Rasulullah saw untuk menanyakan kepada siapa urusan ini dipegang? Kalau diserahkan kepada kita, maka kita mengetahuinya. Dan kalau pun diserahkan untuk selain kita, maka kitapun mengetahuinya dan beliau akan memberikan wasiatnya”. Ali bin Abi Thalib menjawab: “Demi Allah, sungguh kalau kita menanyakannya kepada Rasulullah saw, lalu beliau tidak memberikannya kepada kita, maka tidak akan diberikan oleh manusia kepada kita selama-lamanya. Dan sesungguhnya aku demi Allah tidak akan memintanya kepada Rasulullah saw. (HR. Bukhari, kitabul Maghazi, bab Maradlun Nabiyyi wa wafatihi; fathlul bari 8/142, no. 4447)

    dalam sanadnya ada nama Az zuhri.

    Az zuhri adalah Ulama umayyah yang kerap melaknat Imam Ali AS di mimbar mimbar Muawiyah (LA)

    Az Zuhri adalah Ulama Nashibi. Dengan Demikian Hadits dan Rijal adalah Batil karena Batal dengan Hadith

    Mencintai Ali As adalah Imam, Membenci Ali As adalah Fasiq ( Hasan Shoheh )

    dengan acuan Keimanan tersebut Orang yang Nashibi tidak bisa jadi Hujah.

    demikian..

  16. Mautau wrote :

    Rasulullah saw dikatakan merestui Abu Bakar sebagai khalifah dengan hadis:

    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ: ادْعِي لِي أَبَا بَكْرٍ أَبَاَكِ وَأَخَاكِ، حَتَّى أَكْتُبُ كِتَابًا، فَإِنِّي أَخَافُ أَنْ يَتَمَنَّى مُتَمَنٍّ، وَيَقُوْلُ قَائِلُ: أَنَا أَوْلَى، وَيَأْبَى اللهُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ إِلاَّ أَبَا بَكْرٍ.
    Dari Aisyah ra, ia berkata; berkata kepadaku Rasulullah saw: “anggillah Abu Bakar Bakar, Ayahmu dan saudaramu, sehingga aku tulis satu tulisan (wasiat). Sungguh aku khawatir akan ada seseorang yang menginginkan, kemudian berkata: “Aku lebih utama”. Kemudian beliau bersabda: “Allah dan orang-orang beriman tidak meridlai, kecuali Abu Bakar”. (HR. Muslim 7/110 dan Ahmad (6/144); Lihat Ash-Sha-hihah, juz 2, hal. 304, hadits 690)

    Analisa sejarah : Bila ada Hadith itu mengapa Abu bakar dan Umar mengkoordinir orang di Saqifah. Dihari Wafatnya Rasul Saww?

    Apakah Orang akan diridhoi ALLAH AWJ bila saat rasul Wafat ia malah sibuk suksesi dan bukan sibuk mengurusi Jenazah Rasul Saww.

    sungguh tidak ada ayat turun berkenaan keluarga kami said Aisyah {bukhari}

    Bila saat Rasul Masih hidup Abu bakar dilarang menyampaikan ayat baro’ah. Pastilah setelah Wafat Beliau Saww Abu Bakar tidak pantas menjadi pemimpin.

    Dan tidak pernah Abu Bakar di tunjuk menjadi pemimpin apapun selama Rasul Masih Hidup..

  17. ya ……akhi……suksesi kepemimpinan adalah politik…..dan anda tau politik itu selalu di warnai dengan kebohongan ( hadis hadis palsu ) dan kesalahan ( penapsiran yang berbeda ) ……….kenapa kita mesti terjebak……..buka wawasan kita, tak perlu disalahkan yang sudah berlalu ……… toh mereka juga membawa jasa besar terhadap islam misalnya : Abu bakkar Ashiddiq dengan pengkodifikasian Al qur’an dan perluasan wilayah kekuasaan islam, umar bin khattab dengan perluasan islam sampai ke palestina dll, usman bin affan dengan penyatuan tulisan dan penyebutan dalam Alqur’an sehingga Alqur’an sampai saat ini tetap dalam satu dialek yaitu dialek Qurais….bayangkan jika dialeq itu tidak di satukan dan setiap orang arab menulis alqur’an sesuai dengan dialeqnya……maka alqur’an menjadi beragam persi dan kenyanglah oreantalis menghujjat kita dan memalsu malsukan alqur’an kita, oke ….muawiyah….sekalipun saya tidak setuju dengan sistem pemerintahan yang ia bangun ………..tapi bukankah tidak sedikit pula jasa mereka terhadap perkembangan islam, hingga islam di kenal sampai keafrika dan eropa. sementara kita ??? apa yang kita sumbangkan secara real terhadap islam …….selain menghina sahabat dan mencari cari dalil untuk melemahkan mereka ………apa ??? belum ada akhi …..kenapa kita tidak fokus mendukung hizbullah ( syiah ) dan hamas ( sunni )….yang real berjuang dan berdarah darah di palestina ……..demi Allah saya bukan wahabi ……..tapi saya tidak redha sahabat rasulullah di rendahkan …. seperti tidak redhanya saya ……. atas perendahan sahabat orang tua saya atau sahabat saya sendiri …….. seburuk apapun mereka ……..apalahi sahabat orang yang sama sama SANGAT kita cintai ( Rasulullah ) …. bahkan mereka adalah mertua rasulullah. Demi Allah ….saya tidak redha mereka di hina ………bagai mana dengan anda ?????

  18. @Zulhalik
    mas ibnu jakfary menurutku tdk menjelekan sahabat, dia hanya mengingatkan bhw sahabat itu macam2 sifat dan karakternya, tdk semua sahabat itu adil dan jujur dan tdk semua sahabat itu jelek, kalo kita sdh ngerti posisi sahabat kita akan hati2 dalam menerima hadis darinya.
    apakah anda tau bukhori meriwayatkan berbagai karakter sahabat, ada yg masih suka teler, tapi juga perawi hadis, apakah sahabat macam ini bisa diterima hadisnya. ada sahabat yg membunuh dg kejam cucu kesayangan nabi saw dan masih banyak lagi contohnya. apakah urusan agama kita akan kita gantungkan kpd orang2 seperti itu.
    salam damai

  19. […] Hadis Perintah Ber-iqtida’ Dengan Abubakar Dan Umar (l) Bantahan Untuk Blog “Haulasyiah” […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: