Bantahan Atas haulasyiah: “Keutamaan Imam Ali as. Di Atas Abu Bakar Dan Umar”

Keutamaan Imam Ali as. Di Atas Abu Bakar Dan Umar

(Tulisan dibawah adalah bantahan atas artikel “haulasyi’ah.wordpress.com” dengan judul: “KEUTAMAAN ABU BAKAR DAN UMAR DI ATAS ALI RADHIALLAHU ‘ANHUM, Bantahan Syubuhat Syi’ah Kedua” ditulis Oleh: Al-Ustad Muhammad Umar as- Sewed – Anda bisa membaca artikel blog “Haulasyi’ah” tersebut dibawah Artikel Sanggahan ini, atau anda bisa membacanya langsung di blog “Haulasyiah” dengan mengklik disini-)

*************************

Tanggapan atas “KEUTAMAAN ABU BAKAR DAN UMAR DI ATAS ALI RADHIALLAHU ‘ANHUM, Bantahan Syubhat Syi’ah Kedua”

Oleh: Ibnu Jakfari

Pertama yan perlu disoroti adalah klaim tanpa dasar ustadz as-Sewed yang mengatakan bahwa keyakinan Syi’ah akan keunggulan dan keutamaan Imam Ali as. di atas para sahabat termasik Abu Bakar, Umar dan Utsman adalah pendapat yang menyelisihi hadits Rasulullah saw. dan ijma’, kesepakatan para sahabat dan seluruh kaum muslimin. Bahkan menyelisihi ucapan Ali ra. sendiri.

Kemudian ia mulai mencecer hadis-hadis Ibnu Umar yang diangapnya dapat mendukung klaimnya, seperti akan anda baca.

Di sini, tampak sekali bahwa ustadz M.U. as-Sewed bertaqlid buta kepada “Syeikhul-Islamnya”; Ibnu Taimiah yang ia kutip pernyataannya di bagian akhir tulisannya.

Tentang klain ijma’ itu tidak berdasar, ia hanya klaim yang tak mungkin mampu dibuktikan oleh pengucapnya, sebab pada kenyataannya telah terjadi perbedaan pendapat dalam masalah ini sejak masa awal yaitu masa para sahabat Nabi saw., seperti yang juga dikatakan Ibnu Taimiah dalam salah satu kesempatan dalam buku Minhaj as Sunnah-nya.

Ibnu Taimiyah menjelaskan adanya perselisihan pendapat dalam masalah ini, ia berkata:

وَ أيضًا فقولُهُ إنَّ عليّ بنَ أبي طالبٍ كان أفضَلَ الخلقِ بعدَ رسولِ اللهِ –صلى الله عليه (و آلهِ) و سلم دعْوَى مُجَرَّدَةٌ، تنازَعَ فيها الْمسلِمُون مِنَ الأولين الآخرين.

Adapaun ucapannya (Al Hilli) bahwa “Ali adalah paling afdhalnya makhluk setelah Rasulullah saw.” itu adalah klaim belaka. Masalah itu telah diperselisihkan oleh jumhur kaum Muslimin, baik generasi pertama maupun yang terakhir![1]

Jadi yang pertama membantah klaim ijma’ yang dilontarkan ustadz as-Sewed adalah Ibnu Taimiyah sendiri, panutannya sendiri. Kendatai di tempat lain Ibnu Taimiuah mengaku-ngaku telah terjadi ijma’, dan bermunculannya pendapat yang saling kontradiktif dari seorang Syeikhul-Islam Ibnu Taimiyah bukan sesuatu yang aneh. Banyak contoh kontradiktif lain dari panutannya kaum Wahabi yang satu ini!

Bukti bahwa Adanya Perselisihan di Antara Para Sahabat Nabi saw. dalam Masalah Pengutamaan Imam Ali as.

Banyak data akurat yang dinukil para ulama Ahlusunnah yang menegaskan bahwa telah terjadi silang pendapat di antara para sahabat Nabi saw. tentang pengutamaan Ali as. di atas Abu Bakar, Umar dan Utsman. Data-data sejarah itu membubarkan angan-angan ijma’ yang dinyanyikan sebagian orang.

Oleh karenanya perbedaan pendapat di antara para ulama dari berbagai mazhab dalam masalah ini adalah konsekuensi dari adanya perselisihan di antara para sahabat Nabi sandiri…

Ibnu Hazm al Andalusi Membubarkan Angan-angan Klaim Ijma’

Ibnu Hazm al Andalusi telah membongkar kenaifan klaim ijma’ seperti yang dikatakan sebagian orang dan kemudian ustadz M.U. as-Sewed mentaqlidinya dengan tanpa mengomfirmasi kembali kebenarannya. Ibnu Hazm mengatakan bahwa telah terjadi silang pendapat dalam masalah ini diantara para tokoh tabi’in dan para ulama generasi setelahnya. Ia berkata:

“Sebagian Ahlusunnah, sebagian Mu’tazilah dan sebagian Murji’ah serta seluruh Syi’ah berpendapat bahwa Ali ibn Abi Thalib adalah paling afdhalnya umat ini setelah Rasulullah saw.”

Setelahnya ia menguak asal muasal perbedaan pendapat itu, ia berkata:

و قَدْ روينَا هذا القولَ نَصًّا عَنْ بَعْضِ الصحابَةِ (رضيَ اللهُ عنهم) و عن جماعَةٍ منَ التابعينَ و الفقهاءِ…و روينا عن نَحوِ عشرين من الصحابة أنَّ أكرمَ الناسِ على الله و رسولهِ عليًّ بنُ أبي طالبٍ.

“Dan telah kami riwayatkan pendapat ini seraca tegas dari sebagian sahabat –ra- dan sekelompok tabi’in dan fukaha (ahli fikih)…Kami telah meriwayatkan dari kurang lebih dua puluh sahabat pendapat bahwa paling utamanya manusia di sisi Allah dan Rasul-Nya adalah Ali ibn Abi Thalib ra.”[2]

Jadi di manakah dapat ditemukan klaim ijma’ itu?

Ibnu Abdil Barr Membongkar Rahasia Sebagian Sahabat

Keyakinan akan keunggulan dan afdhaliyah Imam Ali as. di atas Abu Bakar, Umar dan Utsman adalah telah diyakini sebagian sabahat besar seperti Salman al Farisi, Abu Darr al Ghiffari, al Miqdad ibn al Aswad, Khabbab, Jabir ibn Abdillah al Anshari, Abu Said al Khudrir, Zaid ibn Arqam dkk.

Ketika membicarakan tentang biodata kehidupan Imam Ali as., Ibnu Abdil Barr dalam al-Istî’âb-nya mengatakan, “Telah diriwayatkan dari Salman, Abu Darr, al- Miqdad, Khabbab, Jabir ibn Abdillah, Abu Said al Khudri dan Zaid ibn Arqam bahwa Ali ibn Abi Thalib ra. adalah orang pertama yang memeluk agama Islam, dan mereka mengutamakan Ali di atas para sahabat lain.”[3]

Dari pemaparan ringkas di atas, dapat disimpulkan bahwa ucapan ustadz as-Sewed setelah menyebut dua riwayat Ibnu Umar????? Adalah tidak berdasar dan hanya sebuah kesimpulan kerdil dari hasi olah pikir seorang yang dangkal!

Ibnu Hajar Tidak Mengakui Adanya Ijmâ’

Kekita mengomentari hadis Ibnu Umar seperti akan disebutkan di bawah nanti, Ibnu Hajar al Asqallani menyebutkan bahwa masih terjadi perbedaan pendapat di kalanganm para ulama Salaf tentang masalah ini. Memang yang masyhur adalah mengutamakan tiga pendahulu Ali atas Ali as. Ibnu Hajar berkata:

ذهَبَ بَعْضُ السلفِ إلى تقدِيمِ عليٍّ على عثمانَ، و مِمَّنْ قال بِهِ سُفْيان الثوري، و يقال إنَّهُ رَجَعَ عنه، و قال بهِ ابنُ خُزَيْمَة و طائفَةٌ قبْلَهُ و بعْدَهُ. و قيل: لا يُفَضَّلُ أحدُهُما على الآخر، قاله مالكٌ في المدينة و تبعَهُ جماعةٌ منهُمْ يَحْيَ بن القطان و من المتأخرين إبنُ حزم

Sebagian Salaf berpendapat mengutamakan Ali atas Utsman, dan di antara yang berpendapat demikian adalah Sufyan ats-Tsawri, ada yang mengatakan ia telah menarik pendapatnya. Pendapat itu juga dikatakan oleh Ibnu Khuzaimah dan juga diyakini oleh sekelompok ulama sebelumnya dan sesudah beliau. Dan ada yang mengatakan keduanya tidak boleh diunggulkan satu di atas lainnya. Ini adalah pendapat Malik di kota Madinah, dan ia dikuti oleh sekelompok ulama, di antaranya adalah Yahya ibn al Qaththân dan dari kalangan muta’akhirin adalah Ibnu Hazm.[4

Ibnu Jakfari berkata:

Apakah keterangan ini tidak dibaca oleh ustadz as-Sewed ketika ia membaca hadis ini dalam Fathu al-Bâri? Bukankah ia menyebut Fathu al Bâri sebagai kitab rujukan yang ia cantumkan? Walaupun ia salah dalam menyebutkan jilid dan halamannya antara dalam teks Arab yang ia sebut dengan terjemahan angka yang ia cantumkan! Mungkin sekedar salah tulis, kami dapat memakluminya. Atau ia memejamkan matanya ketika membaca baris-baris keterangan Ibnu Hajar di atas karena ia sadar bahwa keterangan ulama Ahlusunnah itu tidak mendukung klaimnya?! Atau memang ia benar-benar tidak mengetahuinya, sebab hanya kenyang dengan omongan Ibnu Taimiyah yang ia telan mentah-mentah tanpa mengonfirmasi sejauh akuransinya! Sepertinya asumsi ini semakin jelas ketika di akhir artikelnya ia membanggakan diri dengan menyebut fatwa Ibnu Taimiyah dan menukil fatwa Imam Malik walaupun agak salah-salah dalam mengeja bacaan teks Arabnya yang memang “gundul” tanpa harakat, seperti akan disinggung nanti.

Hadis Ibnu Umar

Adapun tentang hadis Ibnu Umar yang mengatakan bahwa para sahabat mengutamakan Abu Bakar, kemudian Umar kemudian Utsman, dan setelahnya para sahabat Nabi saw. itu sama-sama dalam nilai dan keutamannya, seperti yang Anda sebutkan dari riwayat Bukhrai dan juga diriwayatkan sebagian muhaddis lain dari Ibnu Umar adalah hadis yang perlu dipertanyakan kesahihannya. Bahkan kepalsuan hadis-hadis seperti itu tampak jelas bagi orang yang mau meluangkan waktunya untuk menelitinya.

Di sini ada sebuah catatan yang ingin saya sampaikan kepada para pembaca, bahwa adalah hal aneh ketika ada sekelompok orang bersemangat menghujat keyakinan-keyakinan Syi’ah yang dianggapnya sesat akan tetapi dalam menghujatnya senjata yang dipergunakannya adalah dalil-dalil dari kitab-kitab mazhab si penghujat sendiri. Ini adalah “aneh bin ajabi”! Mestinya, bukti-bukti yang diajukan untuk menghujat Syi’ah adalah dari buku-buku andalan kaum Syi’ah sendiri, bukan dari buku-buku selain mereka! Tetap sayang, yang terjadi tidak demikian, termasuk ustadz as-Sewed dan para pengelolah blog “haulasyiah” yang “bersemanghat 45” untuk menghujat Syi’ah dengan argumentasi mazhabnya sendiri. Itu rasanya tidak lucu! Jadi kalau saya boleh usulkan, bawakan saja dalil-dalil mazhab Syi’ah yang mendukung klaim-klaim kalian! Tetapi terlepas dari itu semua dan terlepas dari bukti-bukti kuat akan keutamaan Imam Ali as. di atas sahabat lain, -tidak terkecuali Abu Bakar, Umar dan Utsman-, para ulama besar Ahlusunnah-pun telah meragukannya dan bahkan menolak hadis di atas walaupun diriwayatkan oleh Bukhari.

Mereka memastikan bahwa Bukhari salah dalam meriwayatkan hadis tersebut:

Pertama, hadis tersebut bertentangan dengan doktrin Ahlusunah sendiri yang meyakini bahwa urutan keunggulan sahabat Nabi adalah sebagai berikut, Abu Bakar, kemudian Umar kemudian Utsman kemudian Ali as. Ahlusunnah sepakat bahwa Ali adalah sahabat paling unggul setelah ketiga sahabat di atas, yang masih diperselisihkan di antara mereka adalah apakah Ali lebih unggul dari Utsman atau tidak? Jumhur Ahlsunnah (bahkan sekarang menjadi suara resmi mereka) adalah Utsman lebih unggul. Oleh karena itu, Ibnu Abdil Barr dalam kitab Istî’âb-nya ngotot menolak hadis Ibnu Umar, ia berkata, “Muhammad ibn Zakaria,Yahya ibn Abdurahman dan Abdurahman ibn Yahya berkata, Ahmad ibn Sa’id ibn Haram berkata, Ahmad ibn Khuld berkata, Marwan ibn Abdulmalik berkata, ‘Aku mendengar Harun ibn Ishaq berkata, ‘Aku mendengar Yahya ibn Ma’in berkata, ‘Barangsiapa mengatakan Abu Bakar, Umar dan Utsman dan Ali dan ia mengakui keutamaan Ali maka ia penganut sunnah.’ Lalu aku sebutkan kepada orang-orang yang berkata, ‘Abu Bakar, Umar dan Utsman, kemudian diam (tidak menyebut Ali dalam urutan keunggulan), maka ia marah dan berkata kasar tentahg mereka.’”Yahya sendiri menyakini Ali lebih afdhal dari Utsman. Abu Amr (Ibnu Abdil Barr) berkata, “Barangsiapa berpendapat seperti hadis Ibnu Umar, ‘Kami berkata di masa Rasulullah saw., ‘Abu Bakar kemudian Umar kemudian Utsman kemudian diam (maksudnya tidak mengutamakan Ali di atas sahabat lain) itulah yang diingkari oleh Yahya ibnu Ma’in dan ia berkata kasar tentang mereka. Sebab yang mengakatan demikian itu berpendapat bertentangan dengan apa yang disepakati oleh Ahulusunah dari kalangan Salaf dan Khalaf dari kalangan Ahli Fikih dan Hadis, sebab Ali adalah paling afdhal-nya sahabat setelah Utsman. Ini tidak diperselisihkan oleh mereka, yang mereka perselisihkan hanyalah apakah Ali lebih afdhal dari Utsman atau tidak, sebagaimana kalangan Salaf berselisih tentang mana yang lebih afdhal, Ali atau Abu Bakar?

Kedua, Andai apa yang Anda simpulkan bahwa sikap Ibnu Umar itu mewakili para sahabat dan Nabi pun telah mendiamkan dan dengan demikian hal itu berarti sunnah taqrîriyah, maka kesimpulan itu akan mempersulit Anda dan para ulama Anda sendiri, sebab redaksi seperti itu jika Anda pahami demikian ia meniscayakan Anda harus juga menerima anggapan tentang hukum dibolehkannya menjual ummahatul awlâd (budak yang telah melahirkan anak dari tuannya), sebab dalam hadis Jabir dan Ibn Sa’id disebutkan redaksi demikian:

(كُنَّا نَبِيْعُ أُمَهاتِ الأولادِ عل عَهْدِ رسولِ الله (ص ).

Kami di masa rasulullah saw. menjual ummahatul awlâd. Padahal tidak satupun ulama Anda yang membolehkan hukum tersebut.

Ketiga, Andai benar hadis itu telah diucapkan oleh Ibnu Umar, maka perlu Anda ketahui bahwa telah terdapat banyak sabahat yang menentang pandangan Ibnu Umar yang ia atas-namakan para sahabat. Tidak sedikit sahabat-sahabat besar yang berbeda pendapat dengan apa yang diucapka putra Umar itu. Ibnu Khaldun berpendapat bahwa di antara para sahabat ada yang berpendapat seperti kaum Syi’ah dalam mengutamakan Ali di atas para sahabat lain …. . [5] Dan kata-kata Ibnu Khaldun, ‘…dan diantara para sahabat ada yang berpendapat seperti kaum Syi’ah…’ tentunya tidak tepat, sebab mereka bukan berpendapat seperti pendapat kaum Syi’ah, akan tetapi justru orang-orang Syi’ah-lah yang mengikuti pendapat para sahabat mulai itu. Mereka itu adalah generasi pertama Syi’ah. Jadi jelaslah bahwa diantara para sahabat Nabi ada yang mengunggulkan Imam Ali di atas para sahabat lain! Lalu dimanakah irama’ yang Anda nyanyikan itu?

Keempat, masalah tafdhîl di antara sahabat Nabi saw. sudah menjadi komodisi politik dan sengketa mazhab di kalangan kaum Muslim sejak masa silam. Ia telah menjadi pilar doktrin Ahlusunah dan dijadikan pijakan dalam menilai seseorang. Jadi tidak menutup kemungkinan adanya kepentingan kemazhaban mendorong sebagian perawi untuk memalsu hadis tersebut atas nama Ibnu Umar, seperti pemalsuan-pemalsuan lain yang diilhami oleh fanatisme mazhab! Dan hal ini tidak perlu mengejutkan Anda, sebab pemalsuan demi mazhab adalah sering kali terjadi. Anda saya persilahkan merujuk berbagai buku ilmu hadis tentang masalah ini.

Tentang Hadis Imam Ali as.

Adalah aneh sikap kaum Wahabi ini, dalam hampir seluruh ajaran agamanya enggan mengambil dari Imam Ali as. dan dari Ahlulbait as. lainnya. Namun mereka mendadak membanggakan hadis ucapan Imam Ali as. ketika sesuai dengan selera nafsu mereka! Itupun dari jalur-jalur periwayatan mereka sendiri. Para pembaca dapat buktikan, dapatkah kaum Wahabi memperagakan shalat berdasarkan riwayat-riwayat yang mereka nukil dari Ali as.?! Tetapi terlepas dari itu semua, pembaca dapat meraba adanya ukiran palsu pada riwayat-riwayat seperti itu atas nama Imam Ali as. Coba pembaca renungkan ucapan palsu yang dinisbatkan kepada Imam Ali as. bahwa beliau akan mencambuk orang yang mengutamakan dirinya atas Abu Bakar dan Umar dengan cambukan seorang pembohong/pendusta! Ketika dikomfirmasi sumber hadis di atas, ternyata ustadz as Sewed menyebut Majmû Fatâwa-nya Ibnu Taimiyah! Lagi-lagi Majmû Fatâwa yang merangkum fatwa-fatwa musuh bebuyan Syi’ah untuk menghujat Syi’ah. Itu aneh kan?! Selain itu, di mana letak kebohongan dan dusta orang yang mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar itu?! Anggap benar doqma Ahlusunnah dan Wahabi bahwa Ali tidak lebih afdhal dari keduanya, tetapi apa itu beratrti dusta, ia hanya salah dalam berpendapat?! Bukankah masalah ini sifatnya ijtihadiyah, dan dasarnya bukan nash qath’i tetapi sesuatu lain seperti akan- disebtu nanti.

Lalu mengapa mereka yang membawa-bawa nama Imam Ali as. tidak menyadari akan hal ini? Apakah mereka hendak menuduh Imam Ali as. sebagai seorang yang bodoh dan “ngawur” dalam menetapkan sangsi hukum? Seperti kebiasaan Syeikhul Islam-nya kaum Wahabi yang tidak segan-segan menuduh Imam Ali as. sering berlaku ngawur?! Sedangkan hadis kedua yang dikutip dari riwayat Bukhari dari Imam Ali as. adalah riwayat yang patut mengundang kecurigaan, sebab:

Pertama, hadis itu mengambarkan seakan Imam Ali as. adalah seorang asing atau orang yang sama sekali tidak dikenal atau tidak diperhitungkan oleh kaum Muslimin di Madinah saat itu; saat-saat menjelang dikebumikannya Khalifah Umar ibn al Khaththab… Jenazah Umar sudah diletakkan di atas keranda, lalu Ali menerobos barisan para pelayat… tidak seorangpun menggubrisnya… tiba-tiba Ali meletakkan kedua sikunya di atas pundak Ibnu Abbas untuk menyaksikan jenazah Umar… Subhanallah… alangkah asingnya Ima Ali di tengah-tengah kerumunan jama’ah kaum Muslimin yang sedang melayat Khalifah mereka?! Seakan beliau sebagai rakyat jelata di antara kaum Muslimin?! Demikinkah kalian menggambarkan hubungan Imam Ali dengan Khalifah kalian?!

Kedua, hadis ini dari sisi sanad bermasalah… ia dari riwayat al Walîd ibn Shaleh adh Dhabbi al Jazari an Nakhâs… Imam Ahmad tidak sudi menulis hadis darinya, sebab ia pendukung aliran ra’yu dan Imam Ahmad pernah menyaksikannya shalat, ternyata tidak becus shalatnya dalam pandangan Ahmad! Ibnu Hajar yang terpaksa mengungkap data rahasia ini tidak mampu mengelaknya, ia hanya mengatakan bahwa Bukhari hanya sekali ini saja meriwayatkan hadis darinya(!?) dan kata Ibnu Hajar, pada dasarnya, Bukhari sendiri tidak berhujjah dengannya, fa dzahara anna al Bukhari lam yahtajja bihi, maka tampaklah bahwa Bukhari sendiri tidak berhujjah dengannya.[6]

Ketiga, redaksi yang digunakan dalam riwayat adalah menyalahi kaidah bahasa Arab yang baku… (saya tidak ingin mengungkapnya di sini, sebab ia secara tekhnis adalah sajian untuk kaum santri), dan Ibnu Hajar sendiri mengakuinya… kerenanya ia membela Bukhari dengan mengatakan, “kan tidak semua redaksi hadis di atas dari jalur lain seperti ini juga, ia dengan radaksi yang benar.”[7] Dan sepertinya si pemalsu lupa memaksukkan tambahan setelah kalimat, “…aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar” dan aku nanti juga dikuburkan bersama Abu Bakar dan Umar, dan kelak di surga juga sederajat dengan Abu Bakar dan Umar, dan dan …agar sekalian lengkap episode pemalsuannya, sehingga tidak perlu ada kata-kata di akhir episode ini (BERSAMBUNG).

Jika demikian adanya, adalah hal menggelikan kesimpulan ustadz as Sewed yang mengatakan, “Hadist-hadits dari Ali bin Abi Thalib ini merupakan sebesar-besar dalil yang membuktikan kedustaan kaum Syi’ah Rafidhah yang mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar ra.”Bukti apa wahai ustadz yang kamu maksud? Apa hadis-hadis palsu yang tidak jelas maknanya itu yang kamu maksud? Mâ lakum Lâ ta’qilûn?! Afalâ Tatafakkarûn?!

Tentang Hadis Nabi saw.

Adapun tentang hadis yang mereka atas-namakan Nabi suci saw. adalah tidak dapat diajukan sebagai bukti di sini, sebab:

Pertama, itu hanya riwayat Ahlusunnah sendiri. Ia tidak laku dalam etika dialoq lintas mazhab, seperti telah disingung sebelumnya.

Kedua, hadis pertama dari riwayat Amr ibn al ‘Ash, si penabur fitnah dan penasehat Mu’awiyah dalam merancang perang Shiffin… ‘Amr ibn al ‘Ash adalah musuh bebuyutan Imam Ali as., setelah sebelumnya getol memusuhi Nabi saw. dan sebagaimana disabdakan dalam hadis shahih bahwa barang siapa membenci Ali maka ia adalah seorang munafik, seperti juga dicantumkan di halaman pinggir blog “haulasyiah”.

Dan dari sisi lain hadis itu disinyalir terputus mata rantai sanadnya, hal mana merusak kualitas hadis sahih yang mensyaratkan bersambungnya sanad, sebab Abu Utsman tidak mendengar dari ‘Amr ibn al ‘Âsh. Demikian dipastikan al Ismaili, sebagai dikutip Ibnu Hajar dalam Fathu al Bâri-nya.[8] Jadi sudikan kita menerima konsep agama kita dari seorang munafik?

Ketiga, Selain itu hadis tersebut kisah penyampaian ucapan (yang dinisbatkan kepada Nabi saw.) adalah seusai perang Dzatus Salâsil, dimana Nabi saw. menunjuk ‘Amr ibn al ‘Âsh sebagai pimpinan dan panglima pasukan dalam peperangan itu yang membawai sahabat-sahabat besar, tidak terkecuali Abu bakar dan Umar[9], hal mana semua pasti menyimpulkan bahwa penunjukkan itu meniscayakan adanya keunggulan pada sisi ‘Amr yang tidak dimiliki Abu bakar dan Umar[10]… dan itu artinya ‘Amr menyandang keutamaan yang tidak disandang Abu bakar dan Umar… oleh sebab itu kuat kemungkinan perlu dilangsirkan edisi sabda yang menandingi bahkan mengusir anggapan seperti itu dari benak setiap yang membacanya… untuk itu edisi ini diluncurkan… dan untuk mempertegasnya dinisbatkannya hadis kepada ‘Amr –sang panglima yang membawahi Abu Bakar dan Umar-.

Keempat, hadis ‘Amr itu bertentangngan dengan hadis-hadis sahih yang sangat banyak jumlahnya yang menegaskan bahwa Ali as. adalah sahabat paling dicintai Nabi saw. Ibnu Hajar menyebutkan sebuah hadis dari Aisyah yang mengakui bahwa Ali lebih dicintai Nabi ketimbang Abu Bakar, ayahnya sendiri. Hadis itu diakui kesahihannya oleh Ibnu Hajar. Ibnu Hajar berkata, “Ahmad, Abu Daud dan an Nasa’i meriwayatkan, dan ia mensahihkannya dengan sanad dari Nu’man ibn Basyir, ia berkata, ‘Abu Bakar meminta izin masuk ke rumah Nabi saw., lalu ia mendengar suara keras Aisyah, ia sedang mengangkat suaranya seraya berkata:

لَقَدْ عَلِمْتُ أَنَّ علِيًّا أَحَبُّ إليكَ مِنْ أبي

Aku benar-benar telah tahu bahwa Ali lebih engkau cintai ketimbang ayahku.”[11]

Hadis ini memiliki nilai penting sebab ia adalah ucapan Aisyah sendiri, yang dalam hadis ‘Amr dikatakan sebagai yang paling dicintai Nabi saw., dan Nabi-pun men-taqirir/membenarkannya dan tidak meyalahkan Aisyah dengan mengatakan misalnya, ‘tidak benar ucapanmu bahwa Ali lebih aku cintai, tetapi engkau dan ayahmu-lah yang paling aku cintai’! Jadi tidaklah beralasan pengunggulan hadis ‘Amr atas hadis Aisyah dengan mengatakan bahwa hadis ‘Amr memuat ucapan Nabi sa. Sementara hadis Aisyah hanya memuat taqrîr beliau saja! Sebab pada hadis Aisyah terdapat banyak pendukung eksternal dan internal.

Pendukung eksternal seperti:

(1) Perawinya yaitu Aisyah lebih utama di banding ‘Amr,

(2) Perawinya adalah yang terkait langsung dengan masalah yang dibicarakan, sedang dalam hadis ‘Amr ia tidak termasuk yang dinominasikan dalam pengunggulan.

(3) Pada riwayat ‘Amr, periwayatnya adalah musuh bebuyutan Imam Ali as. sehingga sangat mungkin kedengkian dan permusuhan itu mendorongnya membuat-buat hadis atas nama Nabi saw., sementara Aisyah bukan seorang yang patut dicurigai mendukung dan membela Ali as. sehingga kecintaannya itu dikhawatirkan mendorongnya memalsu-malsu ucapan demikian.

(4) Hadis ’Amr dan hadis-hadis lain yang semakna hanya diriwayatkan Ahlusunnah, tanpa Syi’ah, sementara hadis keunggulan Imam Ali dan bahwa beliau adalah sahabat paling dicintai Nabi saw. telah disepakati diriwayatkan oleh kedua belah pihak; Sunni dan Syi’ah.

Bukti lain! Telah diriwayatkan dengan berbagai jalur periwayatan (sanad) bahwa Nabi saw. diberi hadiah seekor burung panggang, lalu beliau bersabda memohon kepada Allah SWT:

اللَّهُمَّ إئْتِنِي بِأَحَبِّ خَلْقِكَ إلَيْكَ يَأْكُلُ مَعِيْ هَذَا الطَيْرَ.

“Ya Allah datangkan kepadaku makhluk-Mu yang paling Engkau cintai agar makan bersamaku burung ini.”[12]

Lalu Ali datang dan Anas pun menolaknya dengan alasan bahwa Nabi saw sedang sibuk tidak dapat menerima kehadiran siapapun, sementara itu Nabi saw. menantikan kedatangan Ali as. untuk makan bersama beliau hidangan tesebut, hinga ketiga kalinya, Ali meminta izin dan Nabi pun mendengar suara Ali, kemudian mempersilahkannya masuk dan menanyakan keterlambatannya. Ali berkata bahwa ia telah datang namun Anas menolaknya dengan alasan bahwa Anda sibuk. Nabi saw. menegur Anas atas ulahnya, setelahnya Ali makan bersama beliau hidangan tersebut.[13]

Dari hadis ini terlihat jelas bahwa Nabi saw. hendak menegaskan bahwa Ali as. adalah hamba yang paling dicintai Allah SWT.

Dan karenanya para ulama’ Ahlusunnah kebingungan menghadapi hadis ini, sebab ia dengan tegas mengatakan bahwa Ali adalah hamba paling dicintai Allah, dan itu artinya beliau lebih mulia dari Abu Bakar ash-Shiddiq dan yang demikian itu bertentangan dengan keyakinan mereka! Maka sebagian dari mereka mengambil jalan pintas dengan menganggapnya hadis palsu, dengan demikian semuanya beres! Adapun banyaknya bukti yang menguatkan keshahihan hadis tersebut dalam standar yang ditetapkan ulama’ Ahlusunnah sendiri, maka hal demikian bukanlah sesuatu yang perlu dipertimbangkan. Yang penting, keyakinan tentang keafdhalan Abu Bakar yang merupakan prinsip mazhab(!) harus dipertahankan dan diselamatkan!

Adapun dua hadis terakhir yang ia sebutkan, maka insyallah akan dibicarakan dalam kesempatan tersendiri.

Benang Merah Masalah Tafdhîl

Adalah hal tidak berdasar ketika ada yang mengklaim bahwa masalah pengutamaan Abu Bakar dan Umar di atas Imam Ali as. adalah prinsip yang telah di-ijma’-kan sejak masa para sahabat Nabi mulia saw. dan ijma’ itu didasarkan pada nash-nash pasti tentangnya! Sebab dengan merunut benang kusut dalam masalah ini akan terlihat jelas:

Pertama, bahwa masalah ini adalah bersifat ijtihadiyah.

Kedua, dasar pengutamaan itu adalah dilihat dari sisi bahwa mereka itu berkuasa menjadi Khalifah secara berurutan; Abu Bakar, kemudian Umar kemudian Utsman kemudian Ali, maka dari itu keunggulan mereka pun harus diurutkan persis seperti urutan kekhalifahan mereka! Ibnu Hajar menjelaskan dasar pengambilan keputusan itu oleh para ulama Ahlusunnah, setelah menyebutkan perbedaan dalam masalah itu, ia berkata:

فالْمسألَةُ إجتهادِيةٌ، و مُستَنَدُها أنَّ هؤلآءِ الأربعةُ أختارَهُمُ اللهُ تعالى لِخلافَةِ نبِيِّهِ و إقامَةُ دينِهِ، فَمَنزلَتُهُم عندَهُ بِحسَبِ ترتيبِهِمْ في الخلافَةِ، و الله أعلم.

Masalah ini bersifat ijtihadiyah, dan sandarannya adalah kerena mereka berempat telah dipilih Allah untuk kekhalifahan mengganti Nabi-Nya dan menegakan agama-Nya, maka kedudukan mereka di sisi-Nya sesuai dengan urutan kekhalifahan mereka. Allah a’lam.[14]

Terlepas dari banyaknya klaim dalam ucapan Ibnu Hajar di atas yang sulit ia buktian kebenarannya, seperti:

A) bahwa Allah telah memilih mereka untuk jabatan kekhalifahan(?), apa maksud kata-kata beliau itu? Apa dasarnya, apa sekedar secara defakto mereka memerintah maka dengan serta merta kita berhak mengatakan bahwa Allah telah memilih mereka?! Lalu mengapa kita tidak mengatakan juga bahwa Allah telah memilih Mu’awiyah, Yazid sebagai Khalifah Nabi saw.? bukankah mereka juga telah mengenakan baju kakhalifahan seperti juga Abu Bakar dan Umar mengenakannya!

B) Kesimpulan loncat yang tidak ketemu tautan logikanya dengan mengatakan, “maka kedudukan mereka di sisi-Nya sesuai dengan urutan kekhalifahan mereka” kesimpulan ini ditegakan di atas dasar bahwa Allah telah memilih mereka untuk kehkilafahan(?) yang mustahil dapat ia buktikan.

C) Apa kaitannya antara urutan kekhalifahan dengan urutan keutamaan? Bukankah mereka (kecuali Ibnu Taimiyah dan mereka yang mengikutinya) meyakini prinsip bahwa boleh jadi ada seorang yang lebih afdhal dari Khalifah yang berkuasa?, lalu kalau demikian, mengapa harus memaksa bahwa urutan keutamannya sesuai dengan urutan kekhalifahannya?. Kesimpulan itu adalah sebuah sabotase, mughalathah, dan kesimpulan yang lebih umum/luas dari klaimnya, dalam istilah logika disebut an Natîjah A’ammu min al Mudda’â. Ijmâ’ Baru Terbentuk Belakangan! Selain itu semua, Ibnu Hajar (seorang tokoh terkemuka Ahlusunnah, bukan Wahabi) telah mengakui bahwa klaim adanya ijmâ’ dalam masalah tafdhîl sejak masa para sahabat adalah tidak berdasar, ia hanyan isapan jempol para ulama yang tidak memiliki ketelian dalam mengkaji masalah ini. Setelah menyebutkan berbedaan pendapat dalam masalah ini, Ibnu Hajar berkata:

إِنَّ الإجماعَ إنْعَقَدَ بِآخِرَةٍ بَيْنَ أهْلِ السنةِ أنَّ تَرْتِيْبَهُمْ في الفضْلِ كَترتيبِهِمْ في الخلافَةِ، رضي الله عنهُم أجمعين.

“Ijmâ’ terbentuk belakangan di antara Ahlusunnah bahwa urutan keutamaan mereka sesuai dengan urutan mereka dalam Khilafah, semoga Allah meridhai mereka.”[15]

PENUTUP:

Di akhir makalahnya, As Sewed menympulkan dengan mengutip omongan Ibnu Taymiah yang telah kami bantah di awal makalah ini, dan dengan mengutip statmen Imam Malik yang berbunyi, “Tidak kutemui satupun dari ulama yang dijadikan teladan yang ragu terhadap diutamakannya Abu Bakar dan Umar di atas yang lainnya.” juga terbantah habis dengan data-data akurat yang kami sebutkan di awal makalah.

Setelahnya as Sewed menutup malakahnya dengan kalimat sumbang yang berbunyi: Sebaliknya, barangsiapa yang menyelisihi pendapat ini, maka ia adalah orang yang lebih sesat dari keledai piaraannya. Begitulah gaya kaum Salafy dalam setiap kali menvonis… berbicara tanpa menyadari konsekuensi dari apa yang diomongkan! Apakah tokoh sahabat dan ulama tabi’in dan generasi setelahnya yang telah Anda baca nama-nama dan pendapat mereka itu… Apakah mereka itu lebih sesat dari keledai?. Tidaklah baik mengucapkan kata-kata yang berkonsekuensi menghinakan para Sahabat mulkia Nabi saw. dan para ulama Tabi’în dan pembesar umat Islam. Perumpamaan orang yang sesat dalam kacamata Al Qur’an adalah kaum yang diperumpamakan seperti keledai memikul asfâra, kitab-kitab pengetahuan namun mereka tidak mampu memahaminya, mereka itu bagaikan an’âm, ternak, bal hum adhall, bahkan lebih sesat. Semoga kita tidak dijadikan dari golongan mereka. Amin.

Catatan Akhir:

Di sini saya perlu ingatkan ustadz as Sewed bahwa penulisan teks Arab Anda keliru harakat, dan itu tidak semestinya terjadi dari seorang santri tsanawiyah apalagi seorang ustadz Salafi. Anda menulis: يَقْتَدِيْ dengan kata kerja ma’lûm (membutuhkan fâ’il/pelaku pekerjaan itu), sementara itu dalam kalimat yang anda tulis tidak ada pelaku yang Anda sebutkan.

Kata يَقْتَدِيْ artinya mengikuti/ber-iqtidâ’, lalu siapa pelaku pekerjaan itu ustadz? Yang tepat adalah apabila Anda menulis/membacanya dengan binâ’ majhûl=يُقْتَدَى. /yang diikuti. Tapi tak apa-lah mungkin sekedar salah tulis… saya harap jangan gara-gara kesalahan seperti ini Anda berkecil hati… teruslah berkarya menghujat Syi’ah!

CATATAN KAKI

[1] Minhaj as Sunnah,2/119.

[2] Al Fishal fi al Milal wa an Nihal,4/111.

[3] Al Istî’âb,3/1090.

[4] Fathu al Bâri,14/151.

[5] Abu Zuhrah,Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah :33.

[6] Fathu al Bâri14/178, pada syarah hadis no.3677.

[7] Fathu al Bâri14/179.

[8] Fathu al Bâri,16/195-196. Walaupun kemudian Ibnu Hajar menyimpulkan dengan tanpa dasar pasti adanya kebersambungan itu.

[9] Fathu al Bâri,16/196 dan Sirah an Nabawiyah (dicetak di pinggir as Sirah al Halabiyah),2/231-232. Bahkan di sana sebutkan bahwa dalam peperangan itu tanpa ketidak mengertian Umar akan taktik peparangan yang aling m,endasar sekalipun.

[10] Seperti yang juga disimpulkan ‘Amr sendiri. (baca Fathu al Bâri,16/196, bab Ghazwah Dzâtis Salâsil.

[11] Fathu al Bâri14/158-159.

[12]Sunan at Turmudzi dengan syarah Al Mubarakfuuri, 10/240-241, bab 95, hadis 3820 dan ia berkata, ”Ini adalah hadis hasan.” Al Bidayah wa An Nihayah,7/357 dan ia menggolongkannya hadis hasan. Dan At Taaj Al Jami’ Lil Ushul,3/334.

[13] Hadis riwayat At Turmudzi,10/223, bab87, hadis 3805. dan Khashaiâsh: 25, hadis 12 dengan tambahan: maka Abu Bakar datang, Nabi menolakknya masuk, Umar datang Nabipun menolaknya lalu datanglah Ali maka Nabi mengizinkannya. Dan dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Anas ibn Malik pembantu rumah tangga Nabi saw. berusaha menghalang-halangi Imam Ali as. untuk masuk menemui Nabi saw. dan ketika ditegur ia beralasan bahwa ia ingin kalau yang mendapatkan kemuliaan itu adalah seorang dari anggota sukunya. Dan sejarah mencatat bahwa di masa kekhilafahan Imam Ali as. ketika beliau berpidato dan meminta kesaksian dari para sabahat bahwa Nabi saw. pernah bersabda mengangkat Imam Ali di Ghadir Khum, lalu bangunlah beberapa orang sabahat yang bersaksi bahwa mereka mendengar Nabi bersabda demikian kecuali Anas dan beberapa sahabat lain enggan bersaksi dengan alasan berpura-pura lupa. Imam Ali mendo’akan mereka yang berpura-pura lupa agar tertimpa bala’ yang memalukan dan Anas terkena belang yang tidak dapat ia tutup-tutupi dengan kain serban sekalipun. Dan Anas mengakui bahwa belang itu adalah karena do’a Imam Ali as.

[14] Fathu al Bâri,14/170.

[15] Fathu al Bâri,14/169.

*****************************************

DIBAWAH INI ARTIKEL LENGKAP BLOG “HAULASYIAH” YANG KAMI SANGGAH

“KEUTAMAAN ABU BAKAR DAN UMAR DI ATAS ALI RADHIALLAHU ‘ANHUM, Bantahan Syubuhat Syi’ah Kedua”

[Diposting oleh haulasyiah pada Juli 10th, 2007 dan ditulis Oleh: Al-Ustad Muhammad Umar as Sewed]

 

http://haulasyiah.wordpress.com/2007/07/10/keutamaan-abu-bakar-dan-umar-di-atas-ali-radhiallahu-anhum/

 

Di antara alasan kaum Syi’ah Rafidlah yang menganggap bahwa Ali radliyallahu‘anhu lebih berhak menjadi khalifah adalah:

1. Mereka menganggap Ali radliyallahu ‘anhu lebih utama daripada Abu Bakar dan Umar radliyallahu ‘anhuma.

2. Ali radliyallahu ‘anhu termasuk keluarga Rasulullah (ahlul bait).

3. Wasiat Rasulullah di Ghadir Khum.

Kita jawab alasan mereka satu persatu:

Pertama pendapat mereka tentang keutamaan Ali radliyallahu ‘anhu di atas Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma.

Pendapat ini menyelisihi hadits Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan ijma’ kesepakatan para shahabat dan seluruh kaum muslimin. Bahkan menyelisihi ucapan Ali radhiallahu ‘anhu sendiri.

1. Diriwayatkan dengan sanadnya yang shahih dari Ibnu Umar:

كُنَّا نُخَيِّرُ بَيْنَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَنُخَيِّرُ أَبَا بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ثُمَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ. (رواه البخاري فتح الباري ج 7 ص 16)Kami membanding-bandingkan di antara manusia di zaman Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Maka kami menganggap yang terbaik adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman bin Affan. (HR. Bukhari)Dalam lafadh lain dikatakan: كُنَّا نَقُوْلُ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيٌّ أَفْضَلُ أُمَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَهُ أَبُوْ بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ. رواه أبو داود في كتاب السنة باب التفضيل انظر عون المعبود ج 8 صلى الله عليه و سلم 381 والترمذي وقال حديث حسن صحيح)Kami mengatakan dan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam masih hidup bahwa yang paling utama dari umat nabi shallallahu `alaihi wa sallam setelah beliau adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Dan Tirmidzi berkata: Hadits hasan)Dua hadits ini merupakan dalil yang qath’i (pasti) karena Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan dua kalimat yang penting yang menunjukkan bahwa ucapannya tidak memiliki muatan subyektif. Pertama, kalimat tersebut adalah: “Kami membanding-bandingkan…”, atau “Kami mengatakan……”. Kedua kalimat tersebut menunjukkan bahwa ucapan itu adalah ucapan para shahabat seluruhnya dan tidak ada seorangpun dari mereka yang membantahnya.Kalimat kedua adalah ucapan beliau: “Dan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam masih hidup…” atau dalam lafadh lain: “di zaman Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam…..”. Ucapan ini menunjukkan bahwa ucapan para shahabat tersebut didengar dan disaksikan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, dan beliau shallallahu `alaihi wa sallam tidak membantahnya. Inilah yang dinamakan oleh ahlul hadits dengan hadits taqriri yang merupakan hujjah dan dalil yang qath’i.2. Hadits yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sendiri yang diriwayatkan secara mustafidlah dari Muhammad Ibnil Hanafiyah:قُلْتُ ِلأَبِي: أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُوْلِ اللهَ ?؟ قَالَ: أَبُو بَكْرٍ. قَلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: عُمَرُ. وَخَشِيْتُ أَنْ يَقُوْلَ عُثْمَانُ. قُلْتُ: ثُمَّ أَنْْتَ؟ قَالَ: مَا أَنَا إِلاَّ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. (رواه البخاري: كتاب فضائل الصحابة باب 4 وفتح البارى 7/20)Aku bertanya kepada bapakku (yakni Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu): Siapakah manusia yang terbaik setelah Rasulullah ? ? Ia menjawab: “Abu Bakar”. Aku bertanya (lagi): “Kemudian siapa?”. Ia menjawab: “Umar”. Dan aku khwatir ia akan berkata Utsman, maka aku mengatakan: “Kemudian engkau?” Beliau menjawab: “Tidaklah aku kecuali seorang dari kalangan muslimin”. (HR. Bukhari, kitab Fadlailus Shahabah, bab 4 dan Fathul Bari juz 4/20)Bahkan Ali bin Abi Thalib radhi-yallahu ‘anhu mengancam untuk mencambuk orang yang mengutamakan diri-nya di atas Abu Bakar dan Umar dengan cambukan seorang pendusta. لاَ أُوْتِيَ بِأَحَدٍ يُفَضِّلُنِيْ عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ إِلاَّ جَلَّدْتُهُ حَدَّ الْمُفْتَرِيْنَ.Tidak didatangkan kepadaku seseorang yang mengutamakan aku diatas Abu Bakar dan Umar, kecuali akan aku cambuk dengan cambukan seorang pendusta.Maka ketika itu seorang yang mengatakan beliau lebih utama dari Abu Bakar dan umar dicambuk delapan puluh kali cambukan. (Majmu’ Fatawa juz 4 hal. 422; Lihat Imamatul ‘Udhma, hal. 313).Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah menceritakan ucapan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebagai berikut:إِني لَوَاقِفٌ فِي قَوْمٍ نَدْعُوا اللهَ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ وَقَدْ وُضِعَ عَلَى سَرِيْرِهِ، إِذَا رَجُلٌ مِنْ خَلْفِي قَدْ وَضَعَ مِرْفَقَيْهِ عَلَى مَنْكِبِي يَقُوْلُ: رَحِمَكَ اللهَ إِنْ كُنْتُ َلأَرْجُو أَنْ يَجْعَلَكَ اللهُ مَعَ صَاحِبَيْكَ ِلأَنِيْ كَثِيْرًا مَا كُنْتُ أَسْمَعُ رَسُوْلَ اللهِ ? يَقُوْلُ: كُنْتُ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ، وَفَعَلْتُ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، وَانْطَلَقْتُ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، فَإِنْ كُنْتُ َلأَرْجُو أَنْ يَجْعَلَكَ اللهُ مَعَهُمَا، فَالْتَفَتُّ فَإِذَا هُوَ عَلِي بْنِ أَبِي طَالِبٍ. (رواه البخاري في فضائل الصحابة، باب من فضائل عمر 3389 (4/1858))Sungguh aku pernah berdiri di kerumunan orang yang sedang mendoakan Umar bin Khathab ketika telah diletakkan di atas pembaringannya. Tiba-tiba seseorang dari belakangku yang meletakkan kedua sikunya di kedua pundakku berkata: “Semoga Allah merahmatimu dan aku berharap agar Allah menggabungkan engkau bersama dua shahabatmu (Yakni Rasulullah dan Abu Bakar) karena aku sering mendengar Rasulullah ? bersabda: ‘Waktu itu aku bersama Abu Bakar dan Umar…’ ‘aku telah mengerjakan bersama Abu Bakar dan Umar…’, ‘aku pergi dengan Abu Bakar dan Umar…’. Maka sungguh aku berharap semoga Allah menggabungkan engkau dengan keduanya. Maka aku menengok ke belakangku ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib.Hadits-hadits dari Ali bin Abi Thalib ini merupakan sebesar-besar dalil yang membuktikan kedustaan kaum Syi’ah Rafidlah yang mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma.3. Bahkan ketika ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam siapa yang paling dicintainya, beliau shallallahu `alaihi wa sallam menjawab: “Abu Bakar”. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat dari ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhuma berikut:أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَهُ عَلَى جَيْشِ ذَاتِ السَّلاَسِلِ فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ عَائِشَةُ قُلْتُ مِنَ الرِّجَالِ قَالَ أَبُوهَا قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ عُمَرُ فَعَدَّ رِجَالاً.Bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah mengutus pasukan dalam perang dzatu tsalatsil. Maka aku mendatanginya, dan bertanya kepadanya: “Siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau shallallahu `alaihi wa sallam menjawab: “Aisyah.” Aku berkata: “Dari kalangan laki-laki wahai Rasulllah?” Beliau menjawab: “Ayahnya”. Aku berkata: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Umar”. Kemudian beliau menyebutkan beberapa orang. (HR. Bukhari dalam Fadhailil A’mal, fathul Bari juz ke 7, hal. 18 dan Muslim dalam Fadhailus Shahabah juz ke-4 hal. 1856 no. 2384)4. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah ibnul Yaman, Anas bin Malik dan Abdullah bin Umar: ثُمَّ اقْتَدُوا بِاللَّذِيْنَ مِنْ بَعْدِيْ مِنْ أَصْحَابِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَKemudian ikutilah teladan orang-orang setelahku dari shahabatku yaitu Abu Bakar dan Umar…. (HR. Tirmidzi, Baihaqi dan Hakim; Lihat Silsilah Ash-Shahihah juz 3 hal. 233, hadits no. 1233)5. Banyak isyarat dari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam yang menunjukkan keutamaan Abu Bakar dan sekaligus isyarat bahwa beliaulah yang pantas mewakili Rasulullah shalla-llahu `alaihi wa sallam.Diriwayatkan dari Jubair ibni Muth’im, dia berkata: أَتَتِ امْرَأَةُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَهَا أَنَ تَرْجِعَ إِلَيْهِ قَالَتْ أَرَأَيْتَ إِنْ جِئْتُ وَلَمْ أَجِدْكَ كَأَنَّهَا تَقُوْلُ الْمَوْتَ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ لَمْ تَجِدِيْنِيْ فَأْتِي أَبَا بَكْرٍ.Datang seorang wanita kepada Nabi shallallahu `alaihi wasallam, maka Rasulullah menyuruhnya untuk datang kembali. Maka wanita itu mengatakan: “Bagaimana jika aku tidak mendapatimu?” –seakan-akan wanita itu memaksudkan jika telah meninggalnya Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Beliau menjawab: “Jika engkau tidak mendapatiku, maka datangilah Abu Bakar”. (HR. Bukhari 2/419; Muslim, 7/110; lihat Zhilalul Jannah hal. 541-542, no. 1151)Maka dengan riwayat-riwayat ini seluruh ulama ahlus sunnah sepakat bahwa manusia terbaik setelah rasulnya adalah Abu Bakar, kemudian Umar, ke-mudian Utsman kemudian Ali radhiyallahu ‘anhum.Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah tentang keutamaan Abu Bakar dan Umar di atas Utsman danAli radhiallahu ‘anhum: “Yang demikian telah disepakati oleh para imam-imam kaum muslimin yang terkenal keilmuan dan keshalihannya dari kalangan shahabat, tabi’in, pengikut tabi’in, dan ini pula madzhab Imam Malik dan seluruh penduduk Madinah, Imam Al-Laits Ibnu Sa’ad dan seluruh ulama Mesir, al-Auzai dan seluruh penduduk Syam, Sufyan Ats-Tsauri, Abu Hanifah, Hammad ibni Zaid, Hammad Ibni Salamah dan seluruh penduduk Iraq. Dan ini juga madzhabnya imam Syafi’i, Imam Ahmad, Ishaq Ibnu Rahuyah, Abu Ubaid dan lain-lain dari para imam-imam kaum muslimin”. (Maj-mu’ Fatawa juz IV hal. 421).Imam Malik mengatakan bahwa itu adalah ijma’ penduduk Madinah dalam ucapannya:

مَا أَدْرَكْتُ أَحَدًا مِمَّنْ يَقْتَدِي بِهِ يَشُكُّ فِي تَقَدِّمِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرً.Tidak kutemui satu orang pun dari ulama yang dijadikan teladan yang ragu terhadap diutamakannya Abu Bakar dan Umar di atas yang lainnya. (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 4/421; lihat Al-Imamatul ‘Udhma, Abdullah Ibnu Umar Ibnu Sulaiman ad-Damiji, hal. 311)Sebaliknya barangsiapa yang menyelisihi pendapat ini, maka ia adalah orang yang lebih sesat dari keledai piaraannya.Wallahu a’lamAl Ustadz Muhammad Umar As Sewed

16 Tanggapan

  1. kalau sudah demikian masalahnya maka yang harus diwaspadai adalah ngaku-ngaku adanya ijma’ dalam sebuah masalah sementara kenyataan tidak.

    Memangnya, apa ya konsekuensinya dari meyakini ini afdal atau itu afdal? Apa ada gunanya?

    ____________________________

    Ibnu Jakfari yaqul:

    Memang sering ditemukan kata-kata bahwa itu atau ini sudah diijma’kan, tetapi kenyataannya tidak, jadi perlu ketelitian, jangan asal kutip.

    konsekuensi dari keyakinan itu jelas berpengaruh pada masalah kelayakan seorang menjadi khalifah bagi mereka yang meyakini bahwa khalifah itu harus orang yang paling afdhal, seperti ibnu Taimiyah. Karena itu sebagian bersikeras mengatakan bahwa Abu Bakar lebih afdhal dari Imam Ali as. agar mereka dapat mempertahankan keabsahan kekhalifahan Abu Bakar.

    Sementara jumhur ulama’ ahlusunnah tidak meyakini adanya keharusan itu, kerenanya mereka membenarkan terpilihnya seorang sebagai Khalifah sementara di tengah-tengah kaum Muslimin ada yang lebih afdhal darinya. Tetapi terus jadi aneh kalau mereka ini tetap saja memaksa-maksa Abu Bakar harus lebih afdhal, untuk apa? sedangkan Keabsahan kekhalifahan tidak membutuhkan syarat itu!

  2. Bagus.
    Postingan anda memiliki dasar argumen yang kuat. Memang seharusnya ada Blog seperti ini guna mengkonter Kaum Wahabbi.

    (Blog anda saya link ke Blog saya)
    ____________________

    Ibnu Jakfari yaqul:

    Salam.
    Silahkan. terima kasih!

  3. Ahlul Bid’ah selalu memanfaatkan Ulama ahlu sunnah untum memecah belah kaum muslimin

  4. Mulai lagi nih….dibuka dgn tuduhan-tuduhan tanpa asal-usul

  5. assalamualiakum

    semoga antum bisa mendapatkan hidaya dari allah.

    mungkin ini adalah comentar ana yg terakhir kalinya. kiranya antum sudi ana harap dengan penuh berharap agar sudailah tuduhan dan fitnah antum ini semua. mumpung antum masih punya kesempatan untuk bertaubat kepada Allah. apakah antum sudah siap untuk mempertanggung jawabkan ini semua…………….?

    Ibnu Jakfari:

    Ya ustadz, mana yang fitnah dari tulisan saya di atas?
    Saya khawatir apa yang ustadz katakan itu jusrtu fitnah!

  6. Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan yach?

  7. biasa ja’fary…kalo sudah kehilangan argumentasi logis kan biasanya org bodoh itu mengeluarkan ancaman…..(style wahaby tea)….

  8. @Mukhtar Hasan
    Alhamdulillah. Mudah2an kata2 anda benar bahwa ini KOMENTAR TERAKHIR anda. Krn diblog ini kita tdk menharapkan diskusi dg orang NGAWUR. Yg asal ngomong tanpa pakai OTAK. Sebab kita berbicara disini pakai dalil sbg argument pembahasan.

  9. wah emang dasar syiah. emang antum bukan rafidah tetapi antum syiah IMAMIAH benar bukan syech Jakfariii……?

  10. semoga Allah membuka hati orang yang menulis blog ini

  11. @abu jumu’ah

    Allah telah pun membuka hati pemilik blog ini. Buktinya, beliau tunduk pada dalil2 yg benar.

    Salam Damai

  12. ibnu jakfari……emang al qur’an turun lewat siapa…sampai ke tangan anda lewat siapa….

    ketika rasul berhalangan sakit, siapa yang ditunjuk jadi Imam sholat….

    ketika abu bakar ra diangkat jadi khalifah, apakah ALi menentangnya….andai ALi lebih utama dari abu bakar, mestinya beliau yang menjadi khalifah, dan para shahabat pasti mengangkat beliau bukan abu bakar…

    kenyataannya….

    ah anda ini cuma mengutip pendapat2 lemah yang seolah2 mendukung paham anda…tapi melupakan pendapat2 lain yang lebih kuat…

    dalam majmu fatawa, IBnu Taimiyah berkata bahwa memang ada perselisihan mana di antara Abu bakar dan Ali yang lebih utama, tapi perselisihan itu bukan terjadi di antara para shahabat, tapi terjadi diantara umat Islam antara sunni dan syiah mufaddhilah.,,,,

    syiah mufaddhillah kemudian berkembang menjadi bermacam2 sekte, diantaranya sekte syiah sampeyan ini…

    syiah yang tadi berbeda dengan suni hanya soal politik kemudian berubah menjadi paham dan ideologi yang semakin banyak berbeda dengan sunni…

    benar ga ibnu jakfari…

    diskusi kita bisa menjadi menarik…asal tidak ada yg dihapus,,,,cape ngetik ulang boz…he…he….

    Ibnu Jakfari:

    Biar tidak keluar tema, anda tangapi saja makalah kami di atas.

  13. mas dody, aku mesakke sampeyan. mrenea mas, ayo diskusi karo wong sing ngerti. masih ada cucu rasul SAAW di pelosok desa di Jawa, yangsanggup menyehatkan hati dan pikiran sampeyan.

    kemari mas Dody. mumpung sampeyan durung mati. tak enteni nang surabaya

  14. syiah bukan islam!!!!!…..taqiyahlah sampai kalian kami perangi bersama dajjal sbg imam kalian!!!

    _______________________
    Ibnu Jakfari Yujib:

    Akhi -Arsyadakallah Ilal Huda-, kami tidak memaksa kamu menanggapi tulisan kami secara ilmiah… kalau memang kamu tidak bisa ya tidak apa-apa!!
    tapi jangan emosi begitu, nanti makin kelihatan kelemahan kamu….

  15. […] Keutamaan Imam Ali as. Di Atas Abu Bakar Dan Umar Bantahan Untuk Blog “Haulasyiah” […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: