Bahaya Pemalsuan Hadis Atas Nama Nabi saw.

Bahaya Pemalsuan Hadis Atas Nama Nabi saw.

Para Pemalsu Yang Shaleh

Pemalsuan hadis Nabi saw. tidak terbatas hanya dilakukan musuh-musuh Islam, kaum munafikin dan penyandang ide-ide sesat, akan tetapi, seperti telah disinggung, kaum “Shalihin” juga berperan aktif dalam melakukan pemalsuan hadis atas nama Rasulullah saw. Mereka melakukannya dengan anggapan mereka berbuat baik kepada agama dan mangharap pahala dari Allah SWT! Apabila ada yang bertanya kepada salah seorang dari mereka mengapa kamu membuat-buat kebohongan atas nama Nabi saw.?! Ia dengan penuh percaya diri mengatakan saya sedang berbuat baik untuk Nabi saw., karena dengan itu saya mengarahkan umat kepada agama beliau! Saya tidak berbohong yang merugikan beliau, tetapi justru menguntungkan agama beliau! Ibnu Hajar berkata, “Dan sebagian kaum bodoh telah tertipu, mereka membuat-buat hadis palsu tentang anjuran dan ancaman, mereka berkata, ‘Kami tidak berbohong yang merugikan Nabi saw., akan tetapi kami melakukannya untuk menguatkan syari’at beliau!’ [1]

Mereka adalah paling berbahayanya para pemalsu, sebab banyak orang tertipu dengan polesan luar kezuhudan dan kesalihan mereka. Ketika menerangkan macam-macam pemalsu hadis, An-Nawawi dan As-Suyuthi menerangkan: “Para pemalsu itu bermacam-macam, yang paling besar dampak bahayanya adalah kaum yang dianggap zuhud, mereka memalsu hadis dengan anggapan mencari pahala (di sisi Allah), oleh karenanya hadis-hadis palsu mereka diterima karena kepercayaan orang terhadap mereka”. Oleh sebab itu Yahya ibn Al-Qaththân berkata, “Aku tidak menyaksikan kebohongan pada sebuah komunitas lebih banyak dari komunitas kaum yang dinisbatkan (dianggap) saleh”. Salah satu contoh hadis palsu produk mereka adalah apa yang diriwayatkan Al-Hakim dengan sanadnya dari Abi Ammar Al Marwazi, dikatakan kepada Abu Ishmah Nuh ibn Abi Maryam:

“Dari manakah kamu peroleh hadis tentang keutamaan surah demi surah Al-Qur’an ini dari jalur Ikrimah dari Ibnu Abbas, sementara murid-murid Ikrimah tidak ada yang meriwayatkannya? Ia menjawab, “Aku menyaksikan orang-orang telah berpaling dari Al-Qur’an dan mereka sibuk dengan fikih Abu Hanifah, kitab sejarah Ibnu Ishaq maka saya buatkan hadis ini dengan harapan mendapat pahala”.

Perlu diketahui tentang Abu Ishmah Nuh ini, bahwa ia adalah seorang ulama yang telah menguasai banyak disiplin ilmu Islam, tetapi sayang ada satu yang tidak ia miliki yaitu kejujuran. Ibnu Hibban berkata, “Ia mengumpulkan segala sesuatu kecuali kejujuran”. Al Dzahabi berkata, “Ia digelari Al Jaami’ (yang merangkum) sebab ia belajar fikih dari Abu Hanifah dan Ibnu Abi Laila, belajar hadis dari Hajjaj ibn Arthah, belajar tafsir dari Al Kalbi dan Muqatil, dan belajar sejarah Islam dari Ibnu Ishaq… ia menduduki jabatan sebagai qadhi, jaksa tinggi di kota Maru, ia berumur panjang dan mampu mengumpulkan banyak kesempurnaan kecuali kejujuran”.

Nama-nama Para Pemalsu Yang Shaleh

1. Abu Daud Al Nakha’i

Contoh lain pamalsu hadis yang shaleh adalah Abu Daud Al Nakha’i. Ia adalah seorang yang paling panjang bangun malamnya, paling banyak puasa di siang harinya, tetapi ia gemar memalsu hadis!

2. Abu Bisyri Ahmad ibn Mumahhad Al Faqîh Al Marwazi

Ibnu Hibban berkata, “Abu Bisyri Ahmad ibn Mumahhad Al Faqîh Al Marwazi salah satu yang paling gigih dalam membela sunnah dan paling tegas terhadap yang menyalahinya, tetapi ia gemar membuat hadis-hadis palsu.”

3. Wahb ibn Hafsh

Ibnu Adiy berkata, “Wahb ibn Hafsh termasuk kaum Shalihin, ia pernah berdiam diri tidak berbicara kepada siapapun selama dua puluh tahun, tetapi ia suka berbohong dalam hadis dengan kebohongan yang keji”. [2] 4. Harb ibn Maimûn al Abdi

Harb ibn Maimûn al Abdi; Abu Abdillah al Bashri, seorang mujtahid, abid (ahli ibadah), tetapi ia paling pembohongnya orang. [3]

5. Haytsam ath Thâi

Haitsam ibn Adi ath Thâi (W:207H), seorang pembohong besar, tidak bernilai sedikitpun. Budak wanitanya bertutur, “Tuanku selalu bangun di malam hari untuk salat, dan apabila masuk waktu pagi ia duduk (di majlisnya) mengobral kebohongan. [4]

6. Muhammad ibn Ibrahim asy Syâmi.

Muhammad ibn Ibrahim asy Syâmi; Abu abdillah, ia digelari az zahid (seorang yang zuhud). Ia adalah seorang kadzdzâb, wadhdhâ’, punya kebiasa memalsu hadis. Rata-rata hadisnya adalah tidak pernah dihafal muhaddis lain. Tidak halal meriwayatkan darinya kecuali untuk mengambil pelajaran dari kepalsuannya. Ia terhitung dari kaum zuhud. [5]

7. Al Hâfidz Abdul Mughîts al Hanbali.

Nama lengkapnya Abdul Mughîts ibn Zuhair ibn Alawi al Harbi al Hanbali al Baghdadi (W.583H). salah seorang huffâdz (ahli hadis kelas atas). Para ulama mensifatinya dengan amanat, kesalihan, kesunguhan dalam ibadah dan berpegang dengan Sunnah.Kendati demikian ia mengarang sebuah buku tentang keutamaan Yazid ibn Muawiyah, yang di dalamnya ia penuhi dengan hadis-hadis palsu. Ibnu Jawzi menulis sebuah buku sebagai bantahan atasnya dengan judul ar Radd ‘ala al Muta’shshib al ‘anîd al Mâni’ min Dzammi Yazîd (Bantahan atas orang yang Fanatik lagi Degil Yang Melarang Mengecam Yazid) [6]

8. Mu’alla ibn Shubaîh

Mu’alla ibn Shubaih al Mûshili. Ibnu Ammar berkata tentangnya, “Ia tergolong ahli ibadah warga kota Mosel. Ia gemar memalsu hadis dan berbohong.” [7]

9. Mu’alla ibn Hilâl

Mu’alla ibn Hilal ibn Suwaid ath Thahhân al Kûfi al ‘Abid (sang ahli ibadah) ia seorang pembohong besar yang sangat terkenal dengan kegemaran memalsu hadis. Ahmad berkata, “Semua hadis riwayatnya adalah palsu.” [8]

10. Muhammad ibn ‘Ukâsyah

Muhammad ibn ‘Ukâsyah al Kirmâni, pembohong besar, pemalsu hadis dan menyampaikan hadis-hadis bathil. Ia seorang yang mudah menangis (karena terharu) sehingga dikenal dengan gelar itu. Jika ia membaca Al qur’an ia menetetskan air mata dan menangis. Telah dinukil dari al Hafidz as Sirri ia berkata, “Ahmad al Juwaibari, Muhammad ibn Tamî dan Muhammad ibn ‘Ukâsyah telah memalsu hadis atas nama Rasulullah saw. Sebanyak 10 ribu hadis.” [9]

Dalam at Tidzkâr-nya:155, al Qurthubi menggolongkannya dalam kelompok para pemalsu hadis demi merangsang orang-orang untuk mengerjakan keutamaan amalan, fadhâilul a’mâl.

Dan dalam kesempatan akan datang akan kami sebutkan data-data dan nama lain yang terlibat dalam pemalsuan hadis atas nama Nabi saw.

(Bersambung)

________________________

[1] Fath Al Bâri,1/161.

[2] An Nawawi, Taqrîb ,1/282-283.

[3] Tahdzib at Tahdzib,2/227 dan Khulashah at Tahdzib:63.

[4] Tarikh Baghdad,14/52, Mizân al I’tidâl,3/265, Nashbu ar Râyah,1/102, al Laâli al Mashnû’ah,2/3 dan Majma’ az Zawâid,10/10.

[5] Mizân al I’tidâl,3/11, Tadzkiratul Mawdhû’at:36,71,104 dan105, Tahdzib at Tahdzib,9/14 dan al Laâli al Mashnû’ah,2/92 dan 100.

[6] Kitab ini telah diterbitkan oleh Dâr al Kotob al Ilmiah-Beirut.

[7] Lisân al Mizan,6/64.

[8] Tarikh Baghdad,8/63, Thabqât al Huffâdz,3/112, Mizan al I;tidal,3/187 dan al Laâli al Mashnû’ah,2/47.

[9] Mizan al I;tidal,3/104, al Laâli al Mashnû’ah,2/34,1347 dan 200..

10 Tanggapan

  1. Maap sayah awam, dan sayah tau mingsih bersambung.

    Pertanyaan sayah, “Ulama nyang mana nyang dianggap Wahabiisme…???”.

    Ibnu Jakfari:

    Kaum Wahhabi adalah mereka yang dalam pemahaman dan praktik keagamaannya bertaqlid atau merujuk pada pemahaman Ibnu Abdil Wahhab an Najdi. Ada diantara mereka yang kental kewahabiaannya ada pula yang tidak, mereka hanya terpengaruh dalam beberapa sisi dari pemikirannya.

  2. makanya Al-Quran lah nomer satu. Hati2 ama hadits…hehehe

  3. Assalamualaikum.
    Salam kenal. Buat kami tulisan-tulisan tentang studi hadis di blog ini sangat menarik dan informatif selain menggelitik pikiran kami. kebetulan kami mahasiswa jujuran Tafsir Hadis yang banyak bergesekan dengan kajian-kajian seperti ini.
    Sepertinya para pemalsu itu begitu bebas beraktifitas dalam memalsu hadis atas nama rasulullah s.w.t. pertanyaan kami apakah keterlambatan penulisan hadis pada masa awal turut bertangguing jawab atas maraknya praktik pemalsuan itu? Mohon siapaun yang punya keterangan untuk menanggapinya.

  4. saya islam KTP … tentang wahabi katanya sih mereka teroris…

  5. wah wh blog ini luar biasa, abis deh air mukanua suni… ditelanjangi terus-terusan… wah mas admin awas anda kuwalat para ulama yang “jujur dan terpercaya itu” lho.
    masak orang sudah sembunyi-sembunyi bohongnya eh dibongkar disini.
    mas ojo bikin kita bingung…. nanti murtad lho kit-kit ini, kalau ternyata panutanny tukan bohong sumua… tukan nipu semua… end rkus dunia.

  6. Kuatkan Akidah, agar Wahabi tidak merusak anak cucu kita

  7. Mas Baiquni benar bahwa keterlambatan dalam pendiwanan hadis merupakan penyebab maraknya praktek pemalsuan hadis. Tapi itu hanya salah satu faktor penyebab. Masih ada penyebab dari penyebabnya. Artinya penyebab utamanya harus ditelusuri dari awal yaitu dari masa menjelang dan pasca wafat Rasulullah. Ayat Inqilab yang berbunyi :”Wama Muahammaduun illa rasul, qod kholat min qoblihir rasulu. Afaim mata au qutila anqolabtum ‘ala a’qobikum dst…(Ali Imran) cukuplah sebagai petunjuk adanya orang2 yang mengaku sahabat, tetapi ketika Nabi wafat, mereka balik kembali kepada sistem kehidupan yang jahiliyyah (a’qobikum).

    Makanya tidak aneh dalam buku hadis atau sejarah terdapat riwayat seperti ini :
    Pertama. Pada saat Nabi sedang sakit keras menjelang wafatnya sudah terlihat tanda-tanda kelompok yang anti Sunnah Rasul. Ini terbukti ketika Nabi meminta kertas dan alat tulis kepada para sahabat yang hadir di kamarnya untuk menuliskan wasiatnya, maka Umar ibnu Khattab mencegahnya dengan mengatakan :”Sakit Nabi bertambah keras (redaksi aslinya: “Nabi sedang meracau”). Di sisi kita ada Kitabullah. CUKUPLAH ITU !” (Sahih Bukhori).

    Pada umumnya saudara2 kita Ahlu Sunnah membaca hadis tsb tanpa komentar apa2 dan tanpa menganggap perbuatan Umar tsb sebagai sesuatu yang “serius” ! Padahal kalau kita jeli maka kita akan dapat memahami rentetan peristiwa berikutnya :

    Kedua. Ketika Ali sedang sibuk mengurus jenazah Nabi, sekelompok sahabat memperebutkan kekuasaan di Shaqifah Bani Saidah dengan hasil Abu Bakar menjadi khalifah pertama. Salah satu kebijakannya yang menonjol adalah membakar semua catatan mengenai Sunnah nabi, dengan alasan takut bercampur dengan AlQuran dan Nabi melarang pencatatan hadis. Dan kebijakan ini dilanjutkan oleh Umar, Usman dan Muawiyah dan para khalifah Dinasti Umayah sampai akhirnya pada masa Khalifah Bani Umayah Umar ibnul Aziz (Tahun 80 H) dirintis usaha2 untuk mengumpulkan dan meneliti hadis2 yang finalisasinya baru terwujud pada abad II atau III H. Lumayan lama untuk memberikan kesempatan kepada para pemalsu hadis untuk “berkreatifitas” memproduksi hadis2 palsu pesanan para penguasa zalim dengan mengatakan: hadza min Rasulullah.

    Ketika Umar mengatakan :”..wa indana Kitabullah. Hasbuna (di sisi kita ada Kitabullah. Cukuplah itu), bukan berarti dia tidak perlu Sunnah. Hanya saja bukan Sunnah Rasul yang ia maksud, tetapi sunnah yang sahabat yang pada hakikatnya hasil “ijtihad” Abu Bakar, Umar dan Usman, yang berdasarkan data dalam kitab2 hadis Sunni banyak bertentangan dengan AlQuran dan Sunnah Rasul.

    Untuk lebih jelasnya dan rincinya anda bisa mengakses website http://www.fatimah.org

  8. sepaham mas..ini tugas para ulama untuk meneliti kembali hadist2 yang menjadi patokan kita sekarang…sejarah tidak akan pernah bohong bahwa ada sebagian para fuqaha yang menjual akhiratnya dengan melebihkan dunianya..mengikuti sifat2 muawiyah serta anaknya yang tukang mabuk..dimana mereka menyokong para ulama2 karbitan untuk melegitimasi kekuasaan mereka…sampai pada kebatilan mereka disebut sebagai amirul mukminin..astagfirullah…(dari hongkong kali yee..)

    pastikan juga hadist mengenai perpecahan yang disebut sebagai “mereka berijtihad” yang salah dapat pahala apalagi yang benar,..

    sehingga hadist tersebut dijadikan tameng untuk membentengi diri terhadap kejahatan para pemberontak dengan dalih ijtihad..

    Apa hubungannya ijtihad dengan pembunuhan..
    apa benar pembunuhan,pemenggalan mendapatkan pahala…astagfirullah..

    dunia sudah berubah, dah jauh dari kebaikan…sudah saatnya kita berbenah diri, kenapa islam yang jadi korbannya..saya berharap kita melepaskan kefanatikan yang diluar dari syariah, insyallah kita bisa bersatu..amin

  9. Pernah dengar hadist sahih yang menjamin 10 orang sahabat masuk surga. Mari berlogika, kalau Abu Bakar, Umar, dan Usman (mereka termasuk yang 10 orang tsb) berkhianat kepada Nabi (seperti tudingan Syiah), mungkinkah mereka masuk surga? Berapa banyak hadist2 yang hilang krn Syiah tidak mengakui riwayat2 yang berasal dari Abu Bakar, Umar, Usman, Aisyah?

    Setuju, bahwa kita harus meneliti kembali hadist2, sehingga bisa dipilah mana yang sahih, dhoif, maudhu, dll. Mari … ini bukan hanya tugas ulama. Kita lebih bangga menyekolahkan anak2 kita di sekolah2 sekuler, seolah2 itulah ukuran intelektual seseorang. Sementara seorang Karen Armstrong mengatakan ilmu hadist yang dipunyai umat islam adalah kejeniusan intelektual umat islam. Tentunya bahwa ini tidak bisa dilepaskan dari intervensi Allah yang akan selalu menjaga islam.

    Masalah perbedaan penafsiran adalah tergantung dari manhaj (metodologi)nya. Kita bikin tesis yang kebenarannya relatif aja pake metodologi, apalagi yang kaitannya dengan agama yang kebenarannya absolut. Sekarang metodologi mana yang mau diambil? Memahami agama lewat mimpi, logika, atau kita telusuri sanadnya sehingga nyambung ke Nabi. Ini adalah masalah ilmu pengetahuan.

    Memahami islam yang benar adalah dengan menelusuri bgm sahabat, tabiit, tabiit tabiin memahaminya dan ulama shalih berikutnya mengamalkannya, terus nyambung sampai sekarang. Umur Islam masih pendek kok, baru 14 abad. Kalau di rata-rata satu generasi 100 tahun, maka baru 14 generasi. Masa sih, nggak ada dokumentasinya yang sahih dan nyambung? Jawabannya ada, bahkan di Arab, sampai Nabi Ibrahimpun silsilah masih nyambung. Tinggal balik lagi ke kita, maukah kita mempelajari ilmu? Percayakah kita dengan ibadah2 hasil mimpi2 guru2 kita? Maukah kita menjalankan ibadah hanya jika kita tahu bahwa ibadah tsb ada contohnya dari nabi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: