Menyoal Kejujuran Ahli Hadis Sunni (3)

Menyoal Kejujuran Ahli Hadis Sunni (bag. 3)

Abu Hâtim ibnu Hibbân

Ibnu Hibbân adalah salah satu tokoh dan pakar al jarh wa at ta’dîl yang sering diandalkan oleh jumhur. Tentangnya adz Dzahabi bertutur, “Imam Abu ‘Amr ibn ash Shalâh menyebutnya dalam kitab Thabaqât asy Syâfi’iyah dan berkata, ‘Ia (Ibnu Hibbân) telah salah dengan kesalahan fatal dalam sikapnya.’ Benar Abu ‘Amr, ia banyak kesalahannya, al Hafidz Dhiyâuddin telah menelusuri sebagiannya. Abu Ismail al Anshari -Syeikhul Islam- berkata, ‘Aku bertanya keada Yahya ibn Ammâr tentang Abu Hâtim, maka ia berkata, ‘Aku perna menyaksikannya. Kami (para ulama) pernah mengusirnya dari kota Sijistân. Ia memang punya banyak ilmu tetapi tidak memiliki banyak keberagamaan…’ Abu Ismail al Anshari berkata, ‘Aku mendengar Abdush Shmad ibn Muhammad berkata, ‘Aku mendengar ayahku berkata, ‘Para ulama menentang Ibnu Hibân karena ucapannya bahwa kenabian adalah ilmu dan amal. Kerenanya mereka menghukuminya telah zindiq, kafir dan mereka mengucilkannya. Khalifah saat itu menuliskan keputusan agar ia dihukum mati. [1]

At Turmudzi

Adapun Abu Isa at Turmudzi-penulis kitab Sunan-, ia telah dicacat adz Dzahabi ketika menyebutkan sebuah hadis, ketika ia membicarakan Yahya ibn Yamân, “At Turmudzi mensahihkannya, sementara di dalamnya terdapat tiga periwayat dha’if (lemah). Dan janganlah kamu tertipu dengan penghasanan at Turmudzi, sebab jika diteliti kebanyakan adalah lemah. [2]

Ketika membicarakan Katsir ibn Abdillah al Muzani, adz Dzahabi berkata, “Para ulama tidak bersandar kepada pen-shahih-an at Turmudzi. [3]

Al Mubârakfûfi-pensyarah Sunan at Turmudzi yang terkenal- berkata, “Adapun vonis hasan oleh at Turmudzi maka tidak dapat dijadikan sandaran, sebab ia sering menggampangkan.” [4]

Ketika membicarakan Ismail ibn Râfi’, Adz Dzahabi juga menukil pencacatan sekelompok ulama atas at Turmudzi dan sebagian lainnya mengatakan ia matrûk (dibuang/ditinggalkan). Setelahnya adz Dzahabi berkata mengecam at Turmudzi dalam sikapnya yang terkesan menyembunyikan cacat dengan kata-katanya, “Dan termasuk penipuan at Turmudzi adalah ucapannya bahwa ia dikecam oleh sebagian ahli ilmu.” [5]

Jika ucapannya itu benar-benar penipuan oleh at Turmudzi maka bagaimana kita dapat tentram mengandalkannya?! Jika bukan termasuk penipuan bagaiaman kita dapat mengandalkan adz Dzahabi yang mencacatnya dalam menilai para tokoh dan periwayat?!

Ibnu Handah dan Abu Nu’aim

Ibnu Hajar dalam Lisân al Mîzân-nya ketika menyebut biografi Abu Nu’aim al Isbahani; Ahmad ibn Abdullah mengatakan, “Ia salah seorang tokoh, shadûq (jujur). Ia dikecam tanpa alasan. Tetapi ini adalah balasan dari Allah sebab ucapannya tentang Ibnu Mandah dengan dasar hawa nafsu…. dan ucapan Ibnu Mandah tentang Abu Nu’aim sangat keji, saya tidak suka menceritakannya. Dan saya tidak menerima ucapan masing-masing keduanya tentang mereka berdua. Tetapi keduanya menurut saya maqbûlani (sama-sama dapat diterima), dan saya tidak mengetahui dosa mereka yang lebih besar dari meriwayatkan hadis-hadis palsu tanpa menerangkan kepalsuannya… Aku membaca tulisan tangan Yusuf ibn Ahmad asy Syirâzi al Hafidz, aku melihat tulisan tangan Ibnu Thahir al Maqdisi, ia berkata, ‘Semoga Allah memanaskan mata Abu Nu’aim , ia berbicara/mencacat Abu Abdillah ibn Mandah, sementara para ulama telah bersepakat akan keimamahannya dan ia mendiaman orang yang di bawahnya sementara para ulama telah bersepakat akan kebohongannya.” Ibnu Hajar berkomentar, “Ucapan para teman sezaman tentang sesama mereka tidak perlu dihiraukan, khususnya jika tampak darinya bahwa ia muncul karena permusuhan atau perbedaan mazhab atau rasa hasud. Tidak selamat darinya kecuali orang yang diselamatkan Allah. Dan aku tidak mengetahu ada suatu masa yang penghuninya selamat darinya selain para nabi dan shiddîqîn. Andai aku mau pasti akan aku sebutkan hal itu dalam banyak jilid buku…” [6]

Jika Abu Nu’aim berkata tentang Ibnu Mandah dengan dorongan hawa nafsu, bagaimana kita dapat tentram mengandalkannya dalam menjarh dan menta’dil?! Sebab seorang yang dikuasai hawa nafsu pasti menjauh dari jalan kebenaran, dan bagaimana dapat dibedakan antara yang benar dengan yang keliru?! Antara yang jujur dan yang palsu?!

Demikian juga halnya dengan Ibnu Mandah, jika Abu Nu’aim itu seorang yang jujur dan dapat diandalkan, bagaimana kira-kira nasib Ibnu Mandah yang mencacatnya tanpa hujjah dan alasan yang membenarkan dan dengan kata-kata keji, sampai-sampai Ibnu Hajar tidak sanggup membeberkannya kepada kita?

Pada bagian lain makalah ini Anda akan saksikan bahwa permasalahan ini sunguh serius!!

Dan dalam akhir ucapan Ibnu Hajar tampak jelas bahwa pencacatan atas dorongan hawa nafsu; rasa hasud, permusuhan pribadi, perbedaan faham dan aliran adalah hal biasa terjadi di antara para ulama yang hidup sezaman. Oleh sebab itu ucapan-ucapan mereka tidak perlu digubris dalam menjarh dan menta’dil, sekalipun terhadap orang yang tidak sezaman, atau ketika tidak tampak adanya tendensi hasud atau permusuhan, sebab kepercayaan kita sudah sirna dan keadilan mereka pun perlu dipertanyakan dan telah terbukti mereka pernah berbohong tentang rekan se profesinya!

Al Hâkim an Naysâbûri

Al Hâkîm an Naysâbûri adalah seorang tokoh dan pakar ilmu hadis dan jarh wa ta’dil yang cukup handal. Kendati demikian ia dikecam karena sikapnya yang gegabah dalam menilai periwayat! Demikian disifati adz Dzahabi. Dalam Mizan al I’tidâl-nya, ketika menyebutkan biografi Ibnu Qutaibah, adz Dzahabi berkata, “Abdullah Muslim ibn Qutaibah; Abu Muhammad, penulis banyak buku, ia shadûq, jujur… al Khathib bertutur, ‘Ia tsiqah (jujur/terpercaya), teguh dalam agamanya, agung.’ Al Hakim berkata, ‘Umat bersepakat bahwa al Qutabi (Ibnu Qutaibah) adalah kadzdzâb (pembohong besar).’ Aku (adz Dzahabi) berkata, ‘Ini adalah ngawur, asal ngomong yang jelek, dan ucapan seorang yang tidak takut kepada Allah!!.” [7]

Dalam kitab Siyar A’lâm an Nubalâ’-nya [8] ia kembali berkomentar tentang ucapan al Hâkim, “Ini adalah asal ngomong, sedikit kehati-hatian (dalam agama). Saya tidak pernah mengetahui ada seorang yang menuduh Ibnu Qutaibah sebagai pembohong sebelum ucapan ini. Bahkan al Khathib berkata, ‘Ia tsiqah’. Dan telah mengabarkan kepadaku Ahmad ibn Salamah dari Hammâd al Harrâni bahwa ia mendengar al Salafi mengingkari ucapan al Hakim ‘tidak boleh meriwayatkan dari Ibnu Qutaibah’. Ia berkata, ‘Ibnu qutabah itu tsiqah dan Ahlusunnah.’ Lalu ia melanjutkan, ‘tetapi al Hâkim mencacatnya sebab urusan mazhab.’

Ibnu Hajar mengomentari ucapan terakhir ini dengan kata-kata, “Dan yang tampak bagi saya ialah bahwa maksud al Salafi dengan urusan mazhab ialah kenasibian, sebab Ibnu Qutaibah menyimpang dari Ahlulbait, sementara al Hakim bertolak belakang dengannya. [9]

Catatan Kaki

[1] Mizân al I’tidâl,6/99 ketika menyebut biografi Muhammad ibn Hibbân; Abu Hatim al Busti dan Tadzkirah al Huffâdz,3/921-922 juga ketika menyebut biografi Ibnu Hibbân.

[2] Mizân al I’tidâl,7/231ketika menyebut biografi Yahya ibn Yamân al Ijli.

[3] Ibdi.5/493 231ketika menyebut biografi Katsir ibn Abdillah ibn ‘Amr ibn ‘Auf.

[4] Tuhfah al Ahwadzi,2/93.

[5] Mizân al I’tidâl,1/384ketika menyebut biografi Ismail ibn Râfi’.

[6] Lisân al Mîzân,1/201-202.

[7] Mizân al I’tidâl,4/198.

[8] 13/299.

[9]Lisân al Mîzân,3/358.

11 Tanggapan

  1. buat saya ya…kalo masalah hadits begini kita serahkan ke ahlinya, la…kalo sekarang yang jadi rujukan ahli hadits siapa lagi kalo bukan syaikh Albani dan murid-muridnya.

    -Ibnu Jakfari-

    Bagi para pemula, Syaikh Albani mungkin segalanya, tapi bagi para peneliti Albani masih terlihat banyak sekali kesalahannya. Ia kurang jeli dalam meneliti hadis. Dan kalau Anda membanggakannya, maka kami harap Anda sudi mengirimkan satu dari hasil penelitian beliau supaya bisa didiskusikan di sini. Dan saya yakin hasil penelitiannya yang tidak teliti akan mudah dibantah, paling tidak di blog ini.

    Wassalam.

  2. Mas bambangtko aku kasian banget sama kamu, bisanya cuma banggakan albani sebagai ahli hadis. jadi tanggapi aja tantngan mas admin, sebutkan ja hasil penelitian syeikh kebanggaanmu itu. tapi klau lihat tampang ente, nggak mungkin bisa deh, yakin.
    jngn asal tulis lalu sembunyi sepnjang adab, nggak nongol lagi.

  3. YA IBNA SABA ALYAHUDI, SIAPA YG NGAKUI ENTE SBG AHLI HADITS, ENTE PASNYA AHLI HADATS

  4. Ya ALBAQIR
    Kata-kata indah cermin jiwa mulia… Mulut berbisa tanda keruhnya jiwa… bagi ane komentar murahan tidak muncul kecuali dari jiwa rendahan… siapa kalau bukan penganjur ajaran setan yang diperjuangkan bani umayyah dan ulama’-ulama’ bayaran istana Damaskus.
    Ane yakin, mulut busuk hanya cermin dari jiwa murahan.

  5. sampe mulutmu berbusa karna arogan dg kefasihan lidahmu,tetep aja ente ahlunnar,ngerti ngga

  6. Repot memang kalau bica sama orang yang gak membunuh fitrahnya sendiri. Al-Baqir..Wallahi ente tidak pantas menyandang nama itu. masak omongan ente ngaco gitu?!. dan buat pak M. Yahya, mestinya dipikir aja, kalau gak setuju ya dibantah yang ilmiah, kalo gak ngerti ya diem..atau ganti aja namnya jangan M. Yahya tapi M. Yamut…

  7. Eh Mas Admin..salah ketik, yang bener kayak gini nih:
    Repot memang kalau bicara sama orang yang sudah membunuh fitrahnya sendiri. Al-Baqir..Wallahi ente tidak pantas menyandang nama itu. masak omongan ente ngaco gitu?!. dan buat pak M. Yahya, mestinya dipikir aja, kalau gak setuju ya dibantah yang ilmiah, kalo gak ngerti ya diem..atau ganti aja namnya jangan M. Yahya tapi M. Yamut…

  8. @ Al-Baqir dan M Yahya

    Setiap kata2 adalah cerminan akhlak bagi pengucapnya..!

    Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik, akarnya kokoh menghujam kedalam tanah dan batangnya tegak menjulang tinggi, sementara pohon yang buruk tentunya buahnya busuk, akarnya lemah, dan batangnya rapuh dan mudah roboh (tanpa harus dirobohkan dia bisa tumbang sendiri)

    Ahlulbait adalah pohon yang baik walaupun akarnya dicabut dan pohonnya ditebang oleh Muawiyah dan antek2nya ia tetap tumbuh tegak hingga kini, sementara Ahlusunnah adalah pohon yang jelek walaupun disiram dengan segala air dan dipelihara dengan cara apapun ia tetap tak mampu berdiri dan sekarang tinggal menunggu waktu kapan robohnya lalu dilupakan orang.

    Demi Allah, Ahlusunnah bukan benar2 mengikuti sunnah Rasulullah SAW, tapi mengikuti ijtihad Sahabat, walau terkadang ijtihadnya keliru.
    Bila Ahlusunnah roboh maka Islam akan kembali berjaya, karena penyebar fitnah hanya ada di situ (pendusta yang bertopeng ulama).

    Shalawat dan Salam kepada al-Mustafa dan keluarganya yang suci.

  9. hmmm…buat mantan sunni,,,emang al qur;an yang ANDA PEGANG SEHARI-HARI ITU DARI SIAPA,,,,SIAPA YANG MENYAMPAIKAN KEPADA ANDA….

    TANYA AJA KEPADA IBNU JAKFARI….AL QUR’AN PUNYA DIA SAMA TIDAK DENGAN PUNYA SUNNI…

    KALAU BILANG SAMA,,,,KETAHUAN BELANGNYA DEH DAN TUJUAN ASLINYA YAITU MENCELA PARA SHAHABAT.,….

    KALAU BILANG TIDAK SAMA…BERARTI AL QUR;AN SYIAH DAN SUNNI MEMANG BEDA….

    BERARTI BISA JADI KITA BEDA AGAMA…..NDAK USAHLAH MENGAKU2 ISLAM,,,,,

    KALAU AL QUR;AN KALIAN MEMANG YANG BENAR…TUNJUKKAN KEBENARANYA,,,DAN TUNJUKKAN KEPADA KAMI….BUKTIKAN BUKTINYA BAHWA ALLAH TELAH MENJAGA AL QUR’AN PUNYA KALIAN ITU,,..

    AQIDAH SYIAH MUDAH DIPATAHKAN OLEH DALIL LOGIKA YANG SEDERHANA INI….

    SUNGGUH NUANSA KEBENCIAN SAYA RASAKAN DARI TULISAN USTADZ IBNU JAKFARI KEPADA PARA SHAHABAT….EMANG AL QURAN MELEWATI KITA MELALUI SIAPA…

    KALAU KALIAN BILANG PARA SHAHABAT TELAH MENGHILANGKAN BANYAK AYAT AL QUR’AN…BERARTI SAMA SAJA KALIAN MENGANGGAP AL QUR;AN TIDAK DIJAGA ALLAH….

    KALAU KALIAN MENGANGGAP AL QUR;AN YANG DIBAWA PARA SHAHABAT BANYAK YANG DIEDIT….SEKARANG TUNJUKKAN MANA AL QUR;AN YANG ASLI…

    maaf kalau pakai capeslock….

    sudah saatnya kedustaan ini dibongkar…he…he…

    awas ya jangan dihapus lagi tulisan saya…

    he…he…

    Ibnu Jakfari:

    Komentar saudara keluar dari tema. Itu bukti saudara tidak mampu membantahnya.

  10. Anda luar biasa, teruslah menulis !!
    http://mobil88.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: