Tahrif Al Qur’an Dalam Riwayat-riwayat Ahlusunnah (1)

Tak henti-hentinya musuh-musuh Syi’ah Ahlulbait as. Menebar fitnah demi fitnah untuk memecah belah kesatuan umat Islam dan untuk menjauhkan mereka dari kesadaran akan pentingnya peran perjuangan.

Di antara fitnah yang mereka sebar luaskan adalah bahwa Syi’ah Imamiyah Ja’fariyah Istâ’asyariyah meyakini perubahan, tahrîf Al Qur’an dan sebenarnya dalam keyanikan mereka Al Qur’an yang lengkap berada di tangan Imam mahdi as.; imam kedua belas mereka!

Yang menarik dari semua usaha “ngotot” penyebaran fitnah itu, kita menyaksikan bahwa yang paling berperang penting dan menjadi ujung tombak adalah para sarjana dan penulis bayaran Wahhabi, seperti Ihsan Ilâhi Dzahîr, Mâlullah, al Qifari dll. Mereka menulis dan terus menulis derngan satu tujuan agar umat Islam terpengaruh dengan fitnah murahan mereka dan kemudian membangun vonis kafir atas Syi’ah Imamiyah.

Terlepas dari itu semua, yang perlu kita soroti adalah apa yang menjadi landasan mereka dalam menjatuhkan vonis fitnahan itu?

Ada dua hal paling tidak yang dapat Anda saksikan, pertama, adanya riwayat-riwayat dalam kitab-kitab Syi’ah yang menhgesankan atau bahkan tmenyebautkan telah terjadinya tahrîr pada Al Qur’an; pengurangan ayat dan atau penambahan. Kedua, adanya ulama Syi’ah (yang dalam pandangan mereka/para penyebar fitnah itu) yang meyakini telah terjadinya tahrîf.

Maka atas dasar dua poin ini, kaum Wahhabiyah berusaha mengajak umat Islam Sunni untuk menvonis kafir Syi’ah.

Apakah dua alasan di atas sudah cukup sebagai bukti atas kekafiran Syi’ah?

Apakah sekedar adanya riwayat dalam kitab-kitab Syi’ah sudah cukup alasan bagi kaum Wahhabiyah untuk menvonis sesat dan kafir penulisnya dan umat yang bergabung dalam payng kelompok mereka?

Apakah adanya satu atau dua atau bahkan sekelpmpok ulama dari kelompok tertentu yang meyakini terjadinya tahrîf sudah cukup alasan untuk menghukum semua pengikut kelompok tersebut?

Dan yang penting ialah bukankah riwayat-riwayat tahrîf juga tersebar luas dalam kitab-kita standar Ahlusunnah dan meraka akui kesahihannya?

Lalu apakah vonis yang sama akan dijatuhkan atas mereka juga?

Anda mungkin mengira, bahwa kami mengada-ngada dusta bahwa di dalam kitab-kitab stantar kelas satu Ahlusunnah terdapat riwayat-riwayat tahrîf dalam jumlah yang tidak kalah banyaknya kalau tidak lebih banyak dan lebih kronis kondisinya, serta lebih jelas petunjuk tahrîfnya!

Maka untuk itu, kami menulis beberapa artikel ini untuk membuka mata hati dan akal pikiran saudara-saudara kami Ahlusunnah agar tidak gegabah menuduh Syi’ah meyakini tahrîf karena propaganda kaum Wahhabiyah dan antek-antek musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya!! Kami tidak bermaksud menyudutkan saudara-saudara kami Ahlusunnah atau memperkeruh masalah, atau menuduh mereka berkeyakinan adanya tahrîf. Hanya satu yang menajdi tujuan kami, agar tumbuh kesadaran kolektif di tengah-tengah umat Islam akan jahatnya fitnah yang dilakonkan sebagian penulis dan atau penceramah bayaran atau yang lalai akan tanggung jawabnya dalam membina umat, agar semuan fitnah ini cepat berlalu dan umat Islam dapat meraih kejayaan mereka. Amin Ya Rabbal Alamin.

Kami akan menyajikan kepada pembaca beberapa catatan yang sempat kami himpun dari berbagai kitab standar Ahlulsunnah tentang adanya tahrîf.

Sebelumnya saya tertarik menyebutkan pernyataan Syeikh Abdul Wahhâb asy Sya’râni –seorang ahli fikih bermazhab Hanafi daan tokoh sufi terkemuka- yang menegeskan bahwa benar-benar telah terjadi perubahan Al Qur’an. Beliau berkata, “Andai bukan karena pengaruh yang akan dialami oleh hati yang lemah dan tergolong meletakkan hikmah bukan pada tempatnya yang layak, pastilah saya akan terangkan seluruh ayat/surah yang gugur, saqatha dari mush-hafnya Utsman.” [1]

 

Penambahan Dua Surah Al Qur’an

Ada dua surah yang diyakini telah difirmankan Tuhan kepada Muhammad akan tetepi kita sekarang tidak akan pernah dapat menemukan dan membacanya lagi dalam Al Qur’an. Dua surah itu dinamai surah al Hifd dan surah al Khulu’.

 

Teks Surah al Khulu’: :

أللَّهُمَِّ إِنَا نَسْتَعِيْنُكَ و نَسْتَغْفِرُكَ و نُثْنِيْ عليكَ الخيرَ ، ولا نَكْفُرُكَ، و نَخْلَعُ و نَتْرُكَ مَنْ يَفْجُرُكَ.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sesungguhnya kami minta pertolongan-Mu, meminta ampunan-Mu, memuja-Mu dengan kebaikan, dan tidak mengingkari-Mu serta meninggalkan orang yang meninggalkan-Mu.

 

Teks Surah al Hifd:

أللَّهُمَِّ إيَّاكَ نَعْبُدُ، و لَكَ نُصَلِّيْ وَ نَسْجُدُ، وَ إليكَ نَسْعَى و نَحْفُدُ، نرجُو رَحْمتَكَ، و نَخْشَى عذَابَكَ الجَدَّ، إنَّ عذابَكَ بتالكُفارِ مُلْحَقٌ.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya untuk-Mu kami salat dan bersujud, dan kepada-Mu kami menuju, kami mengharap rahmat-Mu, dan takut akan siksa-Mu, sesungguhnya siksa-Mu akan menimpa kepada orang-orang kafir.[2]

Para ulama Ahlusunnah telah meriwayatkan adanya dua surah tersebut sebagai bagian dari firman Allah SWT yang diterima Nabi Muhammad saw., seperti surah-surah lain, dan sebagian sahabat Nabi saw. telah membacanya dalam shalat dan di antara mereka ada yang bersumpah bahwa keduanya adalah bagian dari Al Qur’an yang turun dari langit! Sementara sebagian lainnya menuliskannya dalam mush-haf mereka!

§        Para Sahabat Membacanya!

1)      Sahabat Umar bin al Khaththab membacanya dalam Qunut. Demikian diriwayatkan ath Thahâwi dari sahabat Ibnu Abbas ra., Sufyan, Hasan, dan Abdur Rahman bin Abi Lailâ. Ibnu Abi Syaibah dari Abdul Malik bin Suwaid al Kâhili.[3]

Tentang keagungan Umar dan  ketepatannya dalam seluruh sikap dan pandangannya, telah diriwayatkan Nabi pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menjadikan haq/kebenaran atas lisan dan hati Umar.” (HR. Turmudzi, dan dia mengatakan hadis ini hasan shahih). Jadi sepertinya kita tidak perlu meragukan beliau.

2)      Ubay bin Ka’ab meyakininya sebagai dua surah Al Qur’an dan ia juga membacanya dalam qunut. Demikian diriwayatkan oleh ath Thahâwi dan Ibnu Abi Syaibah dari Maimûn bin Mahrân.[4].

Tentang Ubay pun kita tidak perlu khawatir, sebab Nabi telah memerintah kita merujuk bacaan Ubay. Bukhari, Muslim, Nasa’i, Turmudzi dll telah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Ambillah/belajarlah Al Qur’an dari empat orang; Abdullah bin Mas’ud, Sâlim, Mu’adz dan Ubay bin Ka’ab.” (HR. Bukhari&Muslim)[5]

3)      Anas meyakininya sebagai bagian dari Al Qur’an. Demikian diriwayatkan al Qaththân dalam al Muthawwalât dari Abân bin Ayyâsy dari Anas bin Malik.[6]

Adapun Anas bin Malik, beliau sendiri telah meyakinkan kita semua bahwa apa yang ia sampaikan adalah dari Allah melalui Rasul-Nya. At Turmudzi meriwayatkan dari Tsâbit al Bunnâni, ia berkata, “Anas bin Malik berkata kepadaku, ‘Hai Tsâbit, ambillah dariku,[ilmu Al Qur’an daan Sunnah] karena engkau tidak akan mendapati oraang yang lebih terpercaya dariku. Sesungguhnya aku menggambil darii Rasulullah, dan Rasululllah mengambil dari Jibril dan Jibril mengambil dari Allah –Azza wa Jalla-.’[7]

4)      Diriwayatkan dari Abu Ishaq, ia berkata, “Umayyah ibn Abdullah ibn Khalid ibn Usaid memimpin kami dalam shalat di kota Khurasân, maka ia membaca dua surah ini: أللَّهُمَِّ إِنَا نَسْتَعِيْنُكَ  dan نَسْتَغْفِرُكَ.[8]

Dan adalah jalas bahwa dalam shalat tidak idbolehkan membaca selain Al Qur’an

5)      Muhammad ibn Nashr meriwyatkan dari ‘Atha’ ibn as Sâib, ia berkata, “Adalah Abu Abdur Rahman mengajarkan kepada kita bacaan surah أللَّهُمَِّ إِنَا نَسْتَعِيْنُكَ dan ia mengaku bahwa Ibnu Mas’ud mengarakan surah itu kepadanya, dan ia (Ibnu Mas’ud) mengaku bahwa Rasulullah saw. mengajarkan surah itu kapadanya.”

 

§         Para Sahabat Menuliskannya dalam Mush-haf-mush-haf Mereka!

1)      Ubay bin Ka’ab menuliskannya dalam Mush-hafnya dengan keyakinan bahwa keduanya adalah surah Al Qur’an. Demikian diriwayatkan Ibnu Dharîs dalam Fadhâil-nya dari Musa bin Ismail dari Hammâd bahwa ia membacanya dalam mush-haf Ubay.[9]

2)      Ibnu Abbas juga menetapkan kedua surah tersebut dalam mush-hafnya dan mengatakan bahwa ia sesuai dengan keyakinan Ubay dan Abu Musa.[10]

3)      Nashr ibn Muhammad al marwazi meriwayatkan dalam kitab ash Shalah dari Ubay bahwa ia membaca kedua surah itu dalam qunut, dan ia menyebutkan bahwa teks kedua surah itu, dan ia menulsi keduanya dalam mush-hafnya.[11] 

4)      Al Baihaqi meriwyatkan bahwa Umar membaca keduanya dalam qunut setelah ruku’:

بسمِ اللهِ الرحمن الرحيم أللَّهُمَِّ إِنَا نَسْتَعِيْنُكَ  

Ibnu Juraij berkata, “Hikmah membaca basmalah sebelum membaca surah tesebut ialah dikarenakan ia adalah terhitung sebagai surah Al Qur’an dalam mush-haf sebagian sahabat.”

5)      Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Mushannaf-nya, Muhammad ibn Nashr dan al Baihaqi dalam Sunan-nya dari Ubaid ibn Umair bahwa Umar ibn al Khaththab membaca qunut setelah ruku’, ia membaca:

بسمِ اللهِ الرحمن الرحيم أللَّهُمَِّ إِنَا نَسْتَعِيْنُكَ  

Dan Ubaid menganggap bahwa telah sampai kepadanya bahwa keduanya adalah dua surah dari Al Qur’an dalam mush-haf Ibnu Mas’ud.[12]

Jadi dalam mush-haf Ubay jumlah surah Al Qur’an adalah 116 surah dengan tambahan dua surah di atas, sementara dalam mush-haf Ibnu Mas’ud hanya 112 surah sebab ia tidak meyakini dua surah terakhir Al Qur’an; al Falaq dan an Nâs sebagai bagaian dari Al Qur’an, seperti akan diketahui nanti.

Dari data-data riwayat di atas, dan selainnya yang tidak sayaa singgung dapat ditemukan bukti nyata adanya kekurangan pada Al Qur’an sekarang, sebab kedua surah tersebut tidak tercantum dalam mush-haf kaum Muslim.

 

Anggapan Tidak Berdasar!

Mungkin ada sementara orang mengatakan bahwa ditulisnya dua surah tersebut dalam Mush-haf sebagian sahabat Nabi Muhammad saw. belum cukup sebagai bukti bahwa keduanya adalah surah Al Qur’an, sebab bisa jadi keduanya ditulis sebagai dzikr dan do’a yang diletakkan di akhir mush-haf sekedar untuk memudahkan untuk dibaca sewaktu-waktu!

Akan tetapi anggapan ini tidak berdasar, sebab riwayat-riwayat yang ada telah dengan tegas menyebut keduanya sebagai surah Al Qur’an, dan belum pernah dilakukan menyebut do’a atau dzikir dengan istilah surah!

Selain itu riwayat-riwayat yang ada juga telah menjelaskan letak dan posisi kedua surah tersebut, seperti apa yang dituliskan oleh Jalaluddin as Suyuthi dari riwayat Ibnu Asytah dalam kitab Mashâhif-nya dengan sanad berambung kepada Abu Ja’far al Kufi, ia berkata, “Ini adalah urutan mush-haf Ubay: Al Hamdu (Al Fatihah) kemudian Al Baqarah, kemudian an Nisâ’ kemudian Âlu ‘Imrân, kemudian al An’âm kemudian al A’râf kemudian al Mâidah kemudian Yunus kemudian al Anfâl (kemudian ia lanjutkan hingga): kemudian wa adh Dhuhâ kemudian Alam Nasyrah kemudian al Qâri’ah kemudian at Takâtsur kemudian surah al Khulu’ kemudian surah al Hifd kemudian surah Likulli Humazah …. .”[13]

Ibnu Nadîm dalam kitab al Fahrasat-nya juga menyebutkan tertib surah-surah Al Qur’an dalam mush-haf Ubay seperti yang disebutkan Ibnu Asytah, dengan memasukan dua surah tersebut.[14]

Maka atas dasar ini semua dapat dipastian bahwa kedua surah itu memang benar-benar surah Al Qur’an, paling tidak dalam keyakinan para sahabat besar tersebut. Hal itu terlihat jelas dari penempatannya dalam mush-haf para sahabat itu.

Selain itu, data-data yang ada telah menyajikan kepada kita nama-nama sahabat dan pembesar tabi’în yang menghitung keduanya sebagai surah Al Qur’an, di antara mereka ialah: Ubay ibn Ka’ab, Abdullah ibn Mas’ud, Ibnu Abbas, Anas ibn Malik, Abu Musa al ‘Asy’ari, Ibrahim an Nakha’i, Sufyan ats Tsauri, Hasan al Bashri, Athâ’ ibn Rabâh, Abu Abdirrahman.

Dan akhirnya sebagai bukti tambahan bahwa Jalaluddin as Suyuthi, seorang ulama besar Islam dan mufassir ulung Al Qur’an telah menyebut kedua surah itu dalam kitab tafsir terkenal beliau ad Durr al Mantsûr setelah surah an Nâs sebagai bukti keyakinannya bahwa keduanya adalah bagian dari surah Al Qur’an!

 

Kemana Raipnya Dua Surah Tersebut?

Ini adalah pertanyaan penting yang harus segera ditemukan jawabannya! Kemanakah raipnya dua surah tersebut? Mengapa keduanya tidak ditulis dalam mush-haf umat Islam pada zaman Khalifah Utsman? Sebab para sahabat yang menulis dan  membaca kedua surah tersebut, mereka menulis dan membacanya sepeninggal Nabi juga dalam waktu yang cukup panjang, bahkan setelah zaman Utsman juga. Dan seperti diketahui sebelumnya bahwa Khalifah Umar bin al Khaththab juga membacanya dalam qunut shalat berjamaah ketika ia memimpin mereka dalam shalat.

Apakah umat Islam harus selamanya kehilangan dua surah tersebut?

Mengapakah tidak dilakukan pendataan ulang surah-surah Al Qur’an sehingga ditemukan secara lengkap agar umat Islam dapat membacanya dalam mush-haf-mush-haf mereka?!

Sampai kapankah umat Islam mendiamkan pengurangan teks suci Tuhan; Al Qur’an, kitab suci mereka?

 




[1] Al Kibrît al Ahmar-dicetak dipinggir kitab al Yawâqit wa Jawâhir-:143.

[2]. As Suyuthi, Al-Itqan,1/l.67, Ath Thabarâni, al Baihaqi, Ibn Adh Dharis.

[3] Ad Durr al Mantsûr,6/420. Mungkin ada sementara dugaan bahwa karena ia dibaca dalam qunut maka ia bukan Al Qur’an, ia adalah doa! Akan tetapi dugaan ini salah sebab ayat-ayat Al Qur’an itu boleh dibaca dalam qunut.

[4] Ad Durr al Mantsûr,6/422.

[5] Baca al Itqân, naw/macam ke 20 tentang para penghafal dan periwayat Al Qur’an,1/93.

[6] Ad Durr al Mantsûr,6/420.

[7] Sunan at Turmudzi (dengan syarah Tuhfah al Ahwadzi), Bab Manâqib Anas bin Mâlik,10/332 hadis no..3919 dan 3920.

[8] Majma’ az Zawâid,7/157 dari riwayat ath Thabarâni, dan para parawinya adalah perawi kitab Shahih, dan al Itqân,1/65.

[9] Ad Durr al Mantsûr,6/420 dan al Itqân,1/65.

[10] Ad Durr al Mantsûr, 6/420.

[11] Al Itqân,1/65.

[12] Ad Durr al Mantsûr,6/421.

[13] Al Itqân,1/64.

[14] al Fahrasat,1/40.

10 Tanggapan

  1. Syi’ah memang kadang baik. Namun jika anda mulai menyulut api, bukankah dakwah taqrib yang oleh pembesar Syi’ah digemborkan-gemborkan menjadi tak berguna ?

    mas, anda sudah pernah membaca al-Kafi buah karya al-Kulaini ? Tafsir al-Qummi ? bagaimana tanggapan anda dengan riwayat-riwayat yang mengindikasikan tahrif didalamnya ? padahal anda tahu, bagi Syi’ah, al-Kafi setara dengan Shahih Bukhari menurut Sunni.

    Saya ingin tegaskan, bahwa riwayat-riwayat yang mengindikasikan tahrif dalam Sunni, tidak serta merta menjadi ideologi, seperti dalam al-Durr al-Mantsur karangan Suyuthi, atau yang lain. Ada yang sudah di Nasakh, ada yang di riwayatkan oleh Khabar Wahid, dll. padahal kita tahu, al-Qur’an sudah searusnya di riwayatkan melalui dengan sanad mutawatir. Khabar Wahid kadang Sahih, tapi tidak sampai pada derajat Mutawatir. Dan kami kaum Sunni, tidak meyakini al-Qur’an terkecuali dengan sanad mutawatir. Pertanyaan saya, baaimana anda membuktikan bahwa sanad riwayat tersebut Mutawatir ? Jika tidak, maka tak ada gunanya riwayat yang anda katakan al-Qur’an, walaupun shahih sekalipun.

    Sekarang ganti anda yang menjawab pertanyaan saya. Ulama Syi’ah, al-tabrasyi mengarang kitab yang berjudul fashl al-khitab fi tahrif kitab rabb al-arbab, begitu juga Ni’amuttalh al-Jazairi. Dalam website Sunni, disebutkan dua ayat yang di tahrif oleh Syi’ah :

    1. Ayat Wilayah

    “يا أيها الذين آمنوا آمنوا بالنبي والولي اللذيّن بعثنا هما يهديانكم إلى الصراط المستقيم. نبي وولي بعضهما من بعض وأنا العليم الخبير ….”

    2.

    “يا أيها الذين آمنوا أمنوا بالنورين أنزلناهما يتلوان عليكم آياتي ويحذرانكم عذاب يوم عظيم . نوران بعضهما من بعض وأنا السميع العليم …”

    bagaimana ?

    wallahu a’lam

    ________________________
    Ibnu Jakfari:

    Saudaraku Mukhsin, semoga Allah membimbing kita semua ke jalan kebenaran. Amin.
    kawan, sepertinya anda belum banyak tau tentang Syi’ah dan pandangan mazhab mereka.

    Saya sarankan anda tabayyun dulu tentang apa yang anda katakan bahwa:padahal anda tahu, bagi Syi’ah, al-Kafi setara dengan Shahih Bukhari menurut Sunni.Siapa mas yang meyakini begitu? dari kitab Syi’ah yang mana kawan? Andai anda mengambil informasi tentang mazhab Syi’ah dari ulama Syi’ah pasti lebih baik.
    akhi, apa setiap riwayat dalam kitab Syi’ah itu harus diartikan keyakinan Syi’ah? Sementara kalau di kitab-kitab Sunni ada riwayat serupa (yang menunjukkan adanya tahrif), Sunni diberi hak mena’wil dan tidak berarti itu akidah/keyakian mereka? rasanya itu tidak adil!

    Jadi coba Anda renungkan dan perhatikan baik-baik data-data yang saya hadirkan di atas!

    • saudaraku
      kalau anda katakan bahwa kitab Al-Kafi itu tidak menjadi pegangan keyaqinan dalam Syi’ah tentu juga seharusnya anda tabayyun dulu terhadap kitab Sunni, darimana anda bisa berkeyakinan bahwa kitab sunni itu semuanya masuk dalam bab aqidah yang makbul ?

      saya boleh juga bertanya, apakah setiap riwayat dalam jami’ itu harus diartikan sebagai keyakinan sunni ?

      saya sudah tanyakan, apakah riwayat yang anda nukil itu mutawatir ?

      kalau anda tidak tau kaitan antara keduanya, maka bisa dipastikan anda memang tak memahami bagaimana metodologi kaum sunni dalam pengambilan riwayat atas ideologi.

      saya sarankan, sebelum terlalu jauh anda menganggap sunni melakukan tahrif, coba anda telaah dulu dengan baik, bagaimana sunni mengambil riwayat dalam aqidahnya.

      Wallahu a’lam

      _______________________
      Ibnu Jakfari:

      Salam akhi, sepertinya Anda belum memahami apa yang saya tulis. jadi saya serahkan kepada para pengunjung lain untuk memahamkan kekeliruan Anda.

      • saudaraku,,
        apa tidak sebaliknya, anda tidak memahami apa yang anda tulis itu. Kenapa ? karena ketika saya minta anda untuk membuktikan apakah riwayat yang anda bawa itu Mutawatir, anda tak mampu untuk membuktikannya, malah kemudian anda mengatakan saya tidak faham dengan yang anda tulis.

        ya akhi
        insyaAllah saya faham yang anda tulis itu, namun jadi satu keanehan, ketika anda menganggap bahwa riwayat sunni tahrif atas Al-Qur’an, dimana pengetahuan anda itu, tidak menyeluruh atas metedologi kaum Sunni dalam pengambilan riwayat atas Al-Qur’an.

        al-Quran menurut kami di riwayatkan melalui jalur mutawatir. Masalah riwayat shahih, sama sekali tak berhubungan dengan al-Qur’an yang diriwayatkan melalui jalan mutawatir. Karena riwayat ahad, walaupun shahih sekalipun, tidak sampai pada derajat mutawatir. Jika anda mengaku itu merupakan al-Qur’an Sunni yang tidak dimasukkan mushaf, seharusnya anda juga mampu memberikan bukti pada kami bahwa riwayat tersebut mutawatir.

        Dari mana penilaian saya ? penilaian bisa dilihat dari definisi al-Qur’an yang tersebar dan sudah amat masyhur dikalangan Sunni. Yaitu, al-Muta’abbad bi tilawatih, al-Manqul ilaina bi al-tawatur. Ingat, jangan samakan al-Qur’an (saat menggunakan riwayat Mutawatir) dengan hukum-hukum lain yang diambil melalui hadis shahih. Ini jelas beda jika anda memahami background inferensi hukum dalam Sunni, Ushulnya dan kaidah-kaidahnya.

        wallahu a’lam

        __________________________
        Ibnu Jakfari yaqul:

        Saudaraku seiman, kami tidak pernah ragu barang sedikit pun bahwa yang namanya Al Qur’an itu harus dinukil secara mutawatir!!! Itu pasti. Tapi masalahnya, bisakah anda mempertahankan keyakinan itu dengan mengandalkan riwayat-riwayat Bukhari, Muslim dll tentang pengumpulan Al Qur’an baik di zaman Abu Bakar, Umar maupun Utsman?! Sebab di sana jelas diterangkan proses pengumpulannya hanya mengandalkan dua syahid (saksi)… karenanya ketika Umar membawa ayat rajam, ditolak karena dia tidak mampu mendatang 2 saksi! Andai dia mampu pasti masuk kan? apa dua saksi itu mutawatir???

  2. sekaligus, mas coba anda bukatikan apakah memang riwayat yang anda bawa itu mutawatir ?

    Wallahu a’lam

    Ibnu Jakfari:

    Apa yang anda maksud dengan mutawatir? dan apa kaitannya?

  3. aku jadi heren kalo lihat sebagian orang yang masih ndak henti-hentinya menuduh syiah meyakini tahrifulqurán!! Padahal bukti2 sudah tegak bagaimana keyakinan mereka tentang qurán! kalo soal riwayat, sama-sama ada di sunni maupun di syiáh… bener tuh kata ustad jakfari… jangan riwayat dijadikan bahan tuduhan.
    mudah2an semua kembali kepada jalan yang benar yang mustaqim………………………………
    Wassala

  4. mas acep..

    ada kok ulama syiah yang meyakini tahrif/perubahan al qur;an.

  5. […] Sebelumnya saya tertarik menyebutkan pernyataan Syeikh Abdul Wahhâb asy Sya’râni –seorang ahli fikih bermazhab Hanafi daan tokoh sufi terkemuka- yang menegeskan bahwa benar-benar telah terjadi perubahan Al Qur’an. Beliau berkata, “Andai bukan karena pengaruh yang akan dialami oleh hati yang lemah dan tergolong meletakkan hikmah bukan pada tempatnya yang layak, pastilah saya akan terangkan seluruh ayat/surah yang gugur, saqatha dari mush-hafnya Utsman.” [1] […]

  6. Sekedar meluruskan pemahaman saya yang takut keliru dan dikatakan bodoh..Saya mau tanya :
    1. Dari postingan di atas, dengan demikian qur’an yang ada sekarang ini mengalami tahrif ?
    2. Benarkah di Iran sekarang ini Qur’annya sama dengan Qur’an yang ada di kita (mushhaf Utsmany)?
    3. Menurut Akang, Qur’an yang asli masih ada? di mana?
    terima kasih

  7. @DodyKurniawan

    kalau riwayat itu shahih berarti banyak sahabat yg percaya bahwa al-Quran tidak lengkap. Begitu pula banyak ulama besar yg tidak percaya kalau qur’an sekarang tidak lengkap.

    Dan banyak pula sahabat dan generasi selanjutnya yg percaya al-Quran lengkap, tidak kurang atau lebih, ini pendapat mayoritas.

  8. […] Riwayat-Riwayat Hilangnya dua pertiga ayat Al Qur’an […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: