Tahrif Al Qur’an Dalam Riwayat-riwayat Ahlusunnah (2)

Dalam artikel ini kami akan menyajikan kepada pembaca beberapa riwayat adanya perubahan pada Al Qur’an yang terdapat dalam kitab Shahih karangan Imam Bukhari. Dan dalam kesempatan lain, insyaallah, dengan seizin Allah, kami akan menyebut riwayat-riwayat tahrîf Al Qur’an dalam kitab-kitab lain.

(1)         Surah Wal laili Idzâ Yaghsyâ.[92]

Dalam Al Qur’an umat Islam yang turun kepada Nabi Muhammad, ayat itu berbunyi demikian:

وَ ما خَلَقَ الذَّكَرَ وَ الْأُنْثى‏ (3)

Dan  penciptaan laki- laki dan perempuan,(3(

Akan tetapi dalam Al Qur’an versi Imam Bukhari ayat itu berbunyi demikian:

وَ الذَكَرِ و الأُنْثَى.

Dan demi laki-lak dan perempuan.

Pada ayat versi Imam Bukhari mengalami pengurangan kalimat: وَ ما خَلَقَ dan kemudian harakat kata الذَّكَر dibaca karsah bukan fathah, seperti dalam Al Qur’an yang ada.

Dalam riwayat itu disebutkan bahwa sahabat Abu Darda’ menyatakan bahwa demikianlah sebenarnya ayat itu turun kepada Nabi dan yang beliau ajarkan. Jusrtu bunyi ayat seperti yang tertera dalam Al Qur’an sekarang itu dikatakan oleh riwayat Imam Bukhari sebagai hasil paksaan dan rekayasa para penguasa.

Untuk melihat langsung hadis tersebut baca Shahih Bukhari, Kitab at tafsir, tafsir wal laili idâ Yaghsyâ: 6/210.

 

(2)   Surah Tabbat Yadâ

Dalam Al Qur’an umat Islam yang turun kepada Nabi Muhammad ayat itu berbunyi demikian:

تَبَّتْ يَدا أَبي‏ لَهَبٍ وَ تَبَّ (1)

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.”(1)

Sementara dalam Al Qur’an versi riwayat Imam Bukhari ayat tersebut berbunyi demikian:

تَبَّتْ يَدا أَبي‏ لَهَبٍ وَقَدْ تَبَّ

Jika pada kasus pertama terjadi pengguguran beberapa kata, di sini justru mengalami penambahan sebuah hurufقد yang berfungsi sebagai huruf tahqiq/penguat dalam istilah kaidah bahasa Arab.

Ayat Al Qur’an versi Imam Bukhari ini dapat dijumpai dalam Shahih Bukhari, kitab at tafsir, tafsir Tabat Yadâ Abi Lahabin wa Tabb: 6/221.

 

(3)   Surah asy Syu’arâ’ [26] Ayat 214.

Bunyi ayat tersebut dalam Al Qur’an yang ada di kalangan umat Islam demikian:

وَ أَنْذِرْ عَشيرَتَكَ الْأَقْرَبينَ

Dan berilah peringatan kepada kerabat- kerabatmu yang terdekat,(214 (

Sementara redaksi ayat itu sesuai versi Imam Bukahri adalah sebagai berikut:

وَ أَنْذِرْ عَشيرَتَكَ الْأَقْرَبينَ، وَ رَهْطَكَ الْمُخْلَصِيْنَ.

Dan berilah peringatan kepada kerabat- kerabatmu yang terdekat dan kabilahmu yang terpilih.”

Hadis yang memuat ayat tersebut adalah dari riwayat sahabat Ibnu Abbas, beliau mengatakan, “Ketika turun ayat:

وَ أَنْذِرْ عَشيرَتَكَ الْأَقْرَبينَ، وَ رَهْطَكَ الْمُخْلَصِيْنَ.

Rasulullah keluar sehingga menaiki bukit gunung Shafâ, lalu beliau menjerit wâ shabâhâh (sebagai tanda panggilan untuk berkumul) … .”

Jadi demikianlah sebenarnya ayat tersebut turun kepada Nabi, bukan seperti yang beredar dalam Al Qur’an yang dibaca umat Islam. Dalam Al Qur’an yang beradar di kalangan kita ayat tersebut mengalami pengurangan satu bagian yaitu kalimat: وَ رَهْطَكَ الْمُخْلَصِيْنَ..

Ayat Al Qur’an versi Imam Bukhari ini dapat dijumpai dalam Shahih Bukhari, Kitab at Tafsir, tafsir Tabbat Yadâ Abi Lahabin wa Tabb, 6/221.

 

 

(4)         Surah al Kahfi ayat 79.

Bunyi ayat tersebut dalam Al Qur’an demikian:

أمَّا السَفِيْنَةُ فكانَتْ لِمَساكِيْنَ يَعْمَلُوْنَ في البَحْرِ …. و كانَ وَراءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كَلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبًا.

 “Adapun behtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap behtera.”

Sementara itu dalam Al Qur’an versi Imam Bukhari terjadi perubahan kata warâhu dengan kata amâmahum, seperti di bawah ini:

أمَّا السَفِيْنَةُ فكانَتْ لِمَساكِيْنَ يَعْمَلُوْنَ في البَحْرِ …. و كانَ أَمامَهُُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كَلَّ سَفِيْنَةٍ صالِحَةٍ غَصْبًا.

Kata وَراءَهُم diganti dengan kata أَمامَهُُمْ sementara kata سَفِيْنَةٍ disifati dengan kata صالِحَةٍ.

Ayat Al Qur’an versi Imam Bukhari itu dapat Anda baca dalam Shahih Bukhari, Kitab at Tafsir, tafsir Surah al Kahfi,6/112.

(5)         Surah al Kahfi ayat 80

Ayat ke 80 surah al Kahfi juga dalam Al Qur’an versi Bukhari berbeda dengan Al Quran yang beredar di kalangan umat Islam.

Dalam Al Qur’an yang beredar ayat tersebut berbunyi demikian:

وَ أََمَّا الغُلاَمُ فَكانَ أَبَواهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِيْنَا أَنْ يُرْهِقَهُما تُغْيانًا و كُفْرًأ

 “Dan adapun anak muda itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada keseatan dan kekafirann.”

Sementara dalam Al Qur’an versi Bukhari berbunyi demikian:

وَ أََمَّا الغُلاَمُ فَكانَ كافِرًا وكان أَبَواهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِيْنَا أَنْ يُرْهِقَهُما تُغْيانًا و كُفْرًأ

“Dan adapun anak muda itu, maka [ia  adalah kafir dan] kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada keseatan dan kekafirann.”

 

 

 

 

(6)                                          Ayat Yang Beredar adalah Salah!

Dalam pandangan Khalifah Umar, bahwa ayat 9 surah al Jumu’ah adalah salah. Ia adalah redaksi yang telah diralat Allah! Sementara redaksi yang benar adalah seperti yang dibaca Khalifah Umar!

Bagaimana redaksi yang benar  ayat tersebut?

Para ulama meriwayatkan banyak riwayat yang mengatakan bahwa Khalifah Umar tidak membaca ayat 9 surah al Jumu’ah keuali dengan redaksi:

فَاسْعَوْا إلى ذكْرِ اللهِ

Sementara bunyi ayat tersebut dalam Al Qur’aan yang beredar adalah demikian:

فَامْضُوا إلى ذكر اللهِ

Para ulama, di antaranya Abu Ubaid dalam Fadhâil-nya, Sa’id bin Manshûr, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Mundzir, dan Ibnu al Anbâri dalam al Mashâhif-nya meriwayatkan dari Kharsyah bin al Hurr, ia berkata, “Umar melihat padaku sebuah lembaran bertuliskan ayat:

فَاسْعَوْا إلى ذكْرِ اللهِ

Lalu ia bertanya, ‘Siapakah yang mendektekan ayat kepadamu?’

Aku berkata, ‘Ubay bin Ka’ab.’

Ia berkata lagi, ‘Ubay adalaah orang yang paling banyaak tau tentang ayat-ayat yang btelah diralat. Bacalah dengan redaksi:

فَامْضُوا إلى ذكر اللهِ

Jadi apa yang sekarang tertera dalam Al Qur’an yang beredar adalah redaksi yang salah dalam pandangan Khalifah Umar!

Abdu bin Humaid juga meriwayatkan dari Ibrahim, ia berkata, “Dikatakan kepada Umar bahwa Ubay membaca tersebut dengan:

فَاسْعَوْا إلى ذكْرِ اللهِ

Maka Umar, ‘Ubay paling banyak tau tentang yang mansûkh/ telah diralat/dihapus.

Dan Umar membaca:

فَامْضُوا إلى ذكر اللهِ

Imam Syafi’i, dalam al Umm-nya, Abdurrazzâq, al Faryâbi, Sa’id bin Manshûr, Ibnu Abi Syaibah, Abdu bin Humaid, Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, Ibnu Abu Hâtim, Ibnu al Anbâri dalam al Mashâhif-nya dan al Baihaqi dalam Sunan-nya telah meriwayatkan dari Abdullah putra Umar, ia berkata, “Aku tidak pernah mendengar Umar membaca ayat itu melainkan dengan redaksi:

فَامْضُوا إلى ذكر اللهِ

Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa Ibnu Umar berkata, “Umar wafat sementara ia tidak pernah membaca ayat itu kecuali dengan redaksi:

فَامْضُوا إلى ذكر اللهِ

 

Ibnu Mas’ud pun mendukung Bacaan Khalifah Umar

Para ulama seperti Abdurrazzâq, al Faryâbi, Abu Ubaid, Sa’id bin Manshûr, Ibnu Abi Syaibah, Abdu bin Humaid, Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, Ibnu Abu Hâtim, Ibnu al Anbâri dalam al Mashâhif-nya dan ath Thabarâni telah meriwayatkan dari banyak jalur dari Ibnu Mas’ud bahwa ia membaca ayat tersebut seperti bacaan Umar. Dan ia menyalahkan redaksi yang ada sekarang.

Abdullah bin Zubair telah mengikuti Umar dalam membaca ayat tersebut.[1]

Dalam kitab Tamhîd-nya, Ibnu Abdil Barr menerangkan demikian, “Adapun ayat dengan redaksi (فَامْضُوا) ia telah dipilih sebagai bacaan oleh Umar in al Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud,Ubay bin Ka’ab, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Zubair, Abu al Âliyah, Abu Abdirrahman as Sulami, Masrûq, Thâwûs, Sâlim bin Abdillah dan Thalhah bin Mashraf.”[2]

Dari uraian Ibnu Abdil Barr di atas dapat dimengerti bahwa ayat dengan redaksi yang dipilih Umar  adalah telah diakui kebenarannya oleh sekelompok sahabat besar dan tabi’în. Maka dengan demikian tidakkah terlalu salah jika ada yang mengikuti mereka dalam bacaan tersebut!

Bahkan mungkin bacaan itu yang seharusnya ditetpkan dalam Al Qur’an kita sekarang, mengingat, dalam pandangan Umar bahwa yang sekarang tercantum itu adalah telah dimansukhkan tilâwahnya. Dan dalam pandangan para ulama Islam, teks Al Qur’an telah dimansukhkan tilâwahnya tidak lagi boleh disebut dan diyakini sebagai Al Qur’an. Al Qurthubi menegaskan, “Ayat yang telah dimansukhkan lafadz/tilâwah dan hukumnya, atau lafadz/tilâwahnya saja tanpa hukumnya tidak lagi sebagai Al Qur’an, seperti akan diterangkan nanti.”[3] 

Karena kemasyhuran dan kebenaran bacaan Khalifah Umar ini tidak perlu lagi dipertaanyakan apalagi diragukan, maka Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya[4] menyebutkannya tanpa harus perlu menyebut sanad/jalur meriwayatannya. Beliau berkata, “Umar membaca: فَامْضُوا .

 

Ibnu Hajar membenarkan Adanya Perubahan Itu!

Dalam Fathu al Bâri-nya[5], ketika menerangkan, bab as Sa’yu Ila al Jumu’ah, berangkat menuju shalat Jum’at, pada Kitabul Jumu’ah, Ibnu Hajar mengatakan, “Umar membacanya: فَامْضُوا.”

Dan ia berjanji akan membicarakaan tentang bacaan Umar pada Kitab at Tafsir. Kemudian ia menepati janjinya dengan membicarakannya. Ia berkata, “Kata-kata Bukahri, ‘Umar membaca: فَامْضُوا‘ ini telah tatap dalam riwayat al Kasymîhani seoraang. Ath Thabari dari Abdul hamîd bin Bayân dari Sufyan dari Zuhri dari Sâlim bin Abdillah dari ayahnya (Abdullah bin Umar), ia berkata, ‘Aku tidak mendengar Umar melainkan membaca dengan radaksi: فَامْضُوا.

Dan dari jalur Mughîrah dari Ibrahim, ia berkata, “Dikatakan kepada Umar bahwa Ubay membaca tersebut dengan:

فَاسْعَوْا إلى ذكْرِ اللهِ

Maka Umar, ‘Ubay paling banyak tau tentang yang mansûkh/yang telah diralat/dihapus.

Sesungguhnya yang benar adalah: فَامْضُوا.

Hadis ini juga diriwayatkan Sa’id bin Manshûr dan iaa menerangkan perntara penukilan hadis itu antara Ibrahim dan Umar yaitu Kharsyah bin al Hurr. Maka dengaan demikian shahihlah sanad ini.”

 

Ringkas Kata:

Dari paparan singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa hanya ada dua opsi, pertama, bacaan yang benar adalah apa yang dinyatakan Umar dan para sahabat lainnya, atau kedua, Umar dan teman-temannya salah dan yang benar adalah apa yang sekarang tertera dalam Al  Qur’an kita.

Manapun opsi yang kita pilih itu artinya bahwa Al Qur’an kita telah mengalami perubahan.

Jika yang Umar yang benar, maka konsekuensi darinya adalah bahwa kita kaum Muslimin sekarang ini sebenarnya sedang membaca teks ayat Al Qur’an yang salah. Ia bukan Al Qur’an sebab telah dimansûkh lafadznya kendati dahulu pernah berstatus sebagai Al Qur’an.

Jika yang benar adalah apa yang tercantum dalam Al Qur’an kaum Muslimin, dan Umar serta para sahabat lainnya salah maka kita harus mengakui bahwa mereka telah melakukan perubahan Al Qur’an dengan mengganti redaksi wahyu kudus yang Allah wahyukan kepada nabi-Nya.

Dalam pandangan mereka Al Qur’an yang ada telah mengalami perubahan redaksi, sementara itu dalam pandangan mereka yang mendukung apa yang ada dalam Al Qur’an yang sakarang justru merekalah yang melakukan peerubahan! 

Sebagai seorang awam pantaslah bila ia kebingungan menentukan teks mana yang sebenarnya harus ditetapkan dalam Al Qur’an sekarang? Teks Umar dan para sahabat lainnya atau teks Ubay bin Ka’ab?

Selin itu, mungkin akan muncul anggapan bahwa Imam Bukhari sebenarnya meyakini adanya perubahan pada Al Qur’an, karenanya ia memasukkannya dalam koleksi kitab Shahih-nya yang ia yakini keshahihan seluruh hadis dan riwayat yang dinukilnya. Dan sepertinya anggapan itu tidak dapat begitu saja diabaikan.




[1] Ad Durr al Mantsûr,6/219.

[2] At Tamhîd,8/298.

[3] Tafsir Al Qurthubi,1/86.

[4] Shahih Bukhari, Kitab at Tafsir, pada tafsir surah al Jumu’ah.

[5] Fathu al Bâri,5/48.

6 Tanggapan

  1. Kayakinan kaum muslimin adalah satu: Al qur’an adalah Kiotab suci terakhir yang pasti akan dijaga kesuciannya oleh Allah. tiada kemampuan apapun yang dapat merubah-rubahnya!
    adanya riwayat yang mengatakan ada ayat ini atau ayat itu yang sekarang kok tidak ada dalam Al qur’an kita itu adalah bukti kuat bahwa riwayat seperti itu tidak bisa diterima!
    buikti kan bahwa Al qur’an tetap terjaga dan adanya isu perubahan itu hanya ada dalam dongeng riwayat?! Al qur’an tidak tersentuh oleh tahrif!
    kaributan seputar adanya Al qur’an versi Syiah dan Al qur’an versi Ahlusunnah hanya buatan kaum kafir untuk memecah belah kesatuan kaum muslimin.
    kalau saya perhatikan yang paling getol ya cuma kaum wahabi saja! Maaf lho kalau ada wahabi tersinggung.

  2. Semua riwayat tentang tahrif baik dari Sunni maupun Syiah jelas-jelas bertentangan dengan Al Quranul Karim
    Saya memilih untuk menolak semua riwayat seperti itu
    Semoga tulisan ini tidak disalahartikan
    Salam

    Ibnu Jakfari:

    Al Qur’an al Majid selalu dalam penjagaan Allah SWT. Semua riwayat yang tegas-tegas menunjukkan adanya tahrif harus ditolak. Saya setuju dengan Anda Pak Secondprince.

  3. @akhi seconprince

    assalamu alaikum

    Semoga tulisan ini tidak disalahartikan

    Insya Allah nggak akan disalah artikan KECUALI MUNGKIN PARA WAHABI yang selalu ngotot menuduh syi’ah mempercayai tahrif, kan mereka (wahabi) sekte”POKOKNYA”

    kenapa saya katakan nggak mungkin disalah artikan, karena pak Ibnu Jakfari sdh menjelasakan:

    Dengan kenyataan pahit seperti ini, masihkan kita sempat “melempari” kitab-kitab hadis Syi’ah dan menuduh mereka meyakini tahrîf?!

    Semua yang mereka lakukan sekedar fitnah yang dilontarkan untuk menipu kaum awam, dengan menutup-nutupi “borok” yang ada dalam riwayat-riwayat yang ada dalam kitab-kitab standar mereka sendiri.

    Seperti berkali-kali kami tegaskan, ini semua adalah kerjaan musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin.

    jadi saya memahami, bahwa bukti-bukti yang diungkap pak Ibnu jakfari tentang adanya riwayat tahrif di buku-buku shahih ahlussunnah adalah, sekedar menunjukkan bahwa suni-syiah sama-sama mempunyai riwayat-riwayat palsu tentang tahrif tersebut. dan kedua madzhab TELAH JELAS-JELAS MENOLAK riwayat-riwayat tersebut.

    TETAPI KENAPA SEBAGIAN SUNNI dan KHUSUSNYA WAHABI (Sekte diluar sunni) TETAP NGOTOT MENYEBARKAN FITNAH BAHWA SYIAH MEMPUNYAI QUR’AN YANG BEDA (TAHRIF)

    bukankah begitu pak Ibnu Jakfari.?

    Mudah-mudahan para wahabi insyaf dan tidak menyebar fitnah kepada syiah tentang adanya tahrif.

    Ibnu Jakfari:

    Salam mas Khudori.
    Benar sekali. kita semua sepakat bahwa Al Qur’an kita ini adalah yang diterima oleh Nabi Muhammad saw., tanpa ada kekurangan atau menambahan.

  4. [quote]jadi saya memahami, bahwa bukti-bukti yang diungkap pak Ibnu jakfari tentang adanya riwayat tahrif di buku-buku shahih ahlussunnah adalah, sekedar menunjukkan bahwa suni-syiah sama-sama mempunyai riwayat-riwayat palsu tentang tahrif tersebut. dan kedua madzhab TELAH JELAS-JELAS MENOLAK riwayat-riwayat tersebut.[/quote]

    Ya. karena dalam Suni ataupun Syiah tercampur usaha-usaha orang-orang (perawi/ “ulama”) Majusi Persia agar muslimin meragukan keaslian Al-Quran.

    [quote]TETAPI KENAPA SEBAGIAN SUNNI dan KHUSUSNYA WAHABI (Sekte diluar sunni) TETAP NGOTOT MENYEBARKAN FITNAH BAHWA SYIAH MEMPUNYAI QUR’AN YANG BEDA (TAHRIF)[/quote]

    Karena memang “ulama” Syiah zaman dahulu meyakini adanya tahrif tsb.

    Bahkan Syi’i sekarangpun masih ada yang meyakininya.

  5. […] Abdullah bin Zubair telah mengikuti Umar dalam membaca ayat tersebut.[1] […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: