Tahrif Al-Qur’an Dalam Riwayat-riwayat Ahlussunnah (3)

Tahrif Al-Qur’an Dalam Riwayat-riwayat Ahlussunnah (3)

Pengurangan Dua Surah Al Qur’an

Ada perubahan bentuk lain yang juga dialami Al Qur’an yaitu mengingkari teks pasti Al Qur’an yang telah disepakati umat Islam, sebagai bagian dari Al Qur’an! sebagian pembesar sahabat telah mengingkari kequr’anan dua surah al Mu’awwidzatain (Al Falaq dan an Nâs) sebagai dua surah Al Qur’an!

Ibnu Mas’ud sebagai salah seorang sahabat besar yang diakui keahliannya dalam bidang Al Qur’an dan telah datang banyak sabda Nabi agar para sahabat belajar Al Qur’an darinya, seperti diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kedua kitab Shahih-nya. Dan beliau adalah satu-satunya sahabat yang mengatahui data terakhir Al Qur’an, ia mengetahui mana yang termasuk Al Qur’an dan mana yang bukan darinya!

Ibnu Mas’ud tersebut telah menolak bahwa dua surah al Mu’awwidzatain (Al Falaq dan an Nâs) adalah bagian dari Al Qur’an! dan data penolakannya dua surah al Mu’awwidzatain adalah berita masyhur yang tak perlu diperpanjang lagi di sini. Ia adalah berita pasti.

Ibnu Mas’ud bersikeras bahwa kedua surah tersebut bukan Al Qur’an, ia hanya doa azimat yang dibaca Nabi untuk kedua cucunya; Hasan dan Husain.. ia menghapusnya dari lembaran-lembaran mush-haf dan mengatakan, “Jangan campur adukkan Al Qur’an dengan selainnya!” Demikian diriwayatkan para ulama. [1]

Imam Bukhari Menyebutkan Pengingkaran Ibnu Mas’ud Dua Surah al Mu’awwidzatain

Dalam kitab Shahih-nya, Imam Bukhari menyebutkan pengingkaran Ibnu Mas’ud bahwa dua surah al Mu’awwidzatain adalah bagian dari Al-Qur’an yang difirmankan Tuhan kepada Muhammad!

Ia meriwayatkan dari Zirr bin Hubaisy, “Aku bertanya kepada Ubay bin Ka’ab, ‘Hai Abu al Munzdir, sesungguhnya saudaramu Ibnu Mas’ud berkata begini dan begitu.’ Maka Ubay berkata, ‘ Aku bertanya kepada Rasulullah saw. (tentang masalah itu) lalu beliau berkata kepadaku, ‘Telah dikatakan kepadaku begitu ya aku katakan begitu.’ Ubay berkata, Jadi kami berkata seperti kata Rasulullah saw.” [2]

Kendati dalam riwayat Imam Bukhari ada upaya untuk menyembunyikan keyakinan Ibnu Mas’ud itu, namun para ulama hadis lain seperti Al- Baihaqi dalam as Sunan al Kubrâ-nya, al Haitsami dalam Majma’ az Zawâid-nya dan para pensyarah Shahih Bukhari bahwa apa yang dirahasiakan itu adalah sikap dan keyakinan Ibnu Mas’ud yang tidak mengimani bahwa dua surah itu adalah bagian dari Al Qur’an!

Al Baihaqi meriwayatkan, “…Hai Abu al Munzdir, sesungguihnya saudaramu Ibnu Mas’ud telah menghapus kedua surah itu dari Mush-hafnya!… “ Setelahnya ia mengatakan, “Hadis ini diriwayatkan Bukhari dalam Shahih-nya dari Qutaibah dan Ali bin Abdullah dari Sufyan. [3]

Pakar hadis Habiburrahman al A’dzumi dalam komentarnya atas Musnad al Humaidi mengatakan setelah meriwayatkannya, “Hadis ini diriwayatkan Bukhari dalam Shahih-nya dari jalur Qutaibah dan Ali bin al Madini dari Sufyan (8/523) dan ia tidak menjelaskan apa yang diperbuat oleh Ibnu Mas’ud. [4]

Ibnu Hajar telah mengakui bahwa telah terjadi perahasiaan terhadap apa yang dilakukan Ibnu Mas’ud karena menganggapnya sebagai sikap yang besar! Walaupun ia menuduh Sufyan sebagai yang melakukan perahasian itu! [5]

Sikap Ulama Ahlusunnah

Terjadi perbedaan sikap di kalangan para ulama Islam Ahlusunnah dalam menyikapi sikap dan pendapat Ibnu Ma’sud, di antara mereka ada yang menolak kebenaran berita pengingkaran Ibnu Mas’ud tersebut kendati ia telah datang dalam riwayat-riwayat yang sangat berkualitas. Penolakan itu memang tidak berdasar dan hanya mengandalkan alasan, ‘Mana mungkin itu terjadi pada Ibnu Mas’ud, itu tidak masuk akal!’. Sementara sebagian ulama Islam lainnya menerima kebenaran berita itu. Mereka yang membenarkannya berpecah menjadi dua kelompok:

Kelompok pertama, berusaha menta’wilkan sikap Ibnu Mas’ud agar tidak membingungkan mereka!

Kelompok kedua, menerima apa adanya kebenaran riwayat tersebut dan hanya terdiam kebingungan. Sebab hanya ada dua opsi:

Pertama, Dua surah itu telah tetap sebagai bagian dari Al Qur’an dengan dasar kemutawâtiran, artinya tidak mungkin ia tidak menyebar di kalangan para sahabat Nabi… dan barang siapa mengingkari sesuatu teks yang telah tetap berdasarkan ke-mutawâti-ran sebagai Al Qur’an maka dihukumi kafir!

Kedua, Ketika kita menerima berita bahwa ada seorang sekelas Ibnu Mas’ud -yang telah kita kenal kedekatannya dengan Nabi dan keafirannya terhadap Al Qur’an- tidak mengenalnya maka secara pasti akan merusak klaim kemutawâtiran tersebut.

Kalau dua surah itu tidak mutawâtir penukilannya di masa Ibnu Mas’ud, maka kita harus mengakui bahwa ada bagian dalam Al Qur’an sekarang yang pernah pada suatu masa mengalami ketidak-mutawâtiran! Lalu apakah akan berguna sebagai bukti kequr’anannya adanya kemutawâtirannya di masa akan datang?

Dan apabila kita menyakini ia mutawâtir sejak masa Ibnu Mas’ud, tetapi ia mengingkarinya, maka tidak syak lagi ia dihukumi kafir!

Menghadapi kenyataan pelik di atas sebagian mengambil jalan pintas dengan tanpa merasa harus mengajukan dalil apapun bahwa berita pengingkaran Ibnu Mas’ud itu adalah palsu! Sebagaimana yang dilakukan sebagian ulama Islam seperti an Nawawi, Ibnu Hazm dan ar Râzi. An Nawawi berkata, “Kaum Muslim telah bersepakat/terjadi ijma’ bahwa dua surah al Mu’awwidzatain dan surah al Fatihah adalah bagian dari Al Qur’an, dan barang siapa menginkarinya maka ia telah kafir. Dan apa yang dinukil dari Ibnu Mas’ud adalah batil, tidak shahih.”

Akan tetapi seperti telah disinggung bahwa riwayat pengingkaran Ibnu Mas’ud itu adalah sangat shahih. Ketika menyoroti komentar an Nawawi di atas, Ibnu Hajar berkata, “Menolak riwayat-riwayat shahih tanpa dasar tidak dapat diterima. Riwayat itu shahih, dan usaha menta’wilnya masih bisa diterima, sedangkan ijma’ yang ia nukil jika yang dimaksud adalah ijma yang meliputi seluruh masa, maka ia masih cacat, adapun jika maksudnya bahwa pada masa akhir telah ditetapkan demikian, maka itu benar.” [6]

Dari komentar Ibnu Hajar dan an Nawawi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa belum ada ijma’ pada masa sahabat bahwa dua surah al Mu’awwidzatain adalah bagian dari Al Qur’an, terbutki bahwa sahabat Ibnu Mas’ud mengingkarinya!

Kesimpulan di atas ditolak oleh Ibnu Hajar dengan mengatakan, “Kemungkinan bahwa ia mutawâtir di masa hidup Ibnu Mas’ud walaupun tidak mutawâtir menurut Ibnu Mas’ud!” [7]

Akan tetapi apa yang dikatakan Ibnu Hajar tidak lebih dari sebuah kemungkinan belaka, yang ia sendiri tidak mampu membawakan bukti pendukungnya! Selain itu, adalah hal naïf apabila kita mengatakan bahwa dua surah itu telah mutawâtir di kalangan para sahabat, namun tidak mutawâtir pada sahabat senior seperti Ibnu Mas’ud! sebab:

Pertama, sebagaimana diketahui bersama bahwa Ibnu Mas’ud adalah sahabat besar lagi agung dan mendalami banyak ayat-ayat Al Qur’an, sampai-sampai Nabi memerintah para sahabat agar menimba ilmu Al Qur’an darinya!

Para ulama hadis, diantaranya Bukhari, Muslim, Nasa’i, Turmudzi dll telah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Ambillah/belajarlah Al Qur’an dari empat orang; Abdullah bin Mas’ud, Sâlim, Mu’adz dan Ubay bin Ka’ab.” (HR. Bukhari&Muslim) [8]

Hadis di atas juga diriwayatkan oleh at Turmudzi dalam Sunan-nya [9] dan ia menggolongkannya sebagai hadis hasan shahih. Al Mubârkfûri –komentator kitab Sunan tersebut- menerangkan, “Dalam hadis di atas terdapat penjelasan bahwa dikhususkannya keempat orang sahabat untuk dijadikan rujukan dalam pengambillan Al Qur’an karena mereka paling rapi ketepatan hafalannya, atau kerrena merekalah yang meluangkan waktu khusus untuk menimba langsung dari Nabi dan kemudian konsisten mengajarkannnya… “ [10] Keterangan ini sengaja saya sebutkan agar dimengerti bahwa sahabat Ibnu Mas’ud, seperti juga sahabat Ubay bin Ka’ab adalah bukan sahabat sembarangan dalam dunia pergur’anan.

Al hasil, kedudukan istimewa dan kesenioran Ibnu Mas’ud cukup sebagai bukti kelemahan anggapan di atas.

Kedua, Andai dua surah itu belum mutawâtir menurut Ibnu Mas’ud karena keterbatasan informasi yang diperolehnya sa’at hidup Nabi, akan tetapi bukankah Ibnu Ma’sud hidup selama 13 tahun setelah kematian Nabi dan tentunya ia punya banyak kesempatan untuk mendapatkan kepastian akan kemutawâtiran dua surah tersebut?! Dapatkah kita membayangkan waktu sepanjang itu tidak cukup bagi seorang Ibnu Mas’ud untuk mendapatkan kepastian akan kequr’anan dua surah tersebut? Hal itu sulit dibayangkan apalagi diterima!

Ketiga, Sikap Ibnu Mas’ud dalam hal ini bukan mencerminkan sikap seorang yang belum mendapatkan informasi akan kequr’anan dua surah tersebut sehingga ia harus berhenti sejenak untuk menata sikapnya dan bersegera mencari tau dan kepastian. Akan tetapi sikapnya adalah sikap keras yang menolak anggapan kequr’anan dua surah tersebut, ia bangkit untuk menghapusnya dari mush-haf dan mengajak orang lain untuk menghapusnya dan tidak meyakini kequr’anannya… dan keduanya hanya turun sebagai azimat untuk Hasan dan Husan… Jadi mana mungkin kita mengasumsikan keterlambatan Ibnu Mas’ud dalam memperoleh informasi tentangnya!

Senjata Sakti

Menghadapi semua kenyataan dan berbagai konsekuensi yang lahir darinya, sebagain ulama Islam mengatakan bahwa Ibnu Mas’ud telah menarik pendapatnya tersebut! Dan selesailah polemik dalam masalah ini. Demikian dikatakan Ibnu Katsir [11] dan ar Râzi. Tatapi apa alasan anggapan itu? Tidak jelas, hanya karena husnudzdzn kepada sahabat sekaliber Ibnu Mas’ud semata! Dan itu artinya, secara tidak disadari mengandung pengakuan akan adanya perubahan pada Al Qur’an paling tidak dalam pandangan Ibnu Mas’ud, namun karena berperasangka baik kepadanya, kita yakini ia telah mencabut pendapatnya itu.

Hilangnya Dua Surah Panjang

Selain itu, ada dua surah panjang yang belum diketahui dengan jelas dan pasti identitasnya, hanya saja diketahui bahwa salah satunya menyerupai panjangnya surah Taubah dan yang satu lagi menyerupai surah-surah musabbihât (yang dibuka dengan kalimat sabbaha lillahi, atau yusabbihu lillahu).

Imam Muslim dalam Shahih-nya [12] meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Abu al Aswad Dzâlim ibn ‘Amr, ia berkata, “Abu Musa al Asy’ari mengutus seorang untuk mengumpulkan para ahli Al Qur’an kota Bashrah, tiga ratus ahli Al Qur’an datang menemuinya, semuanya telah menghafal Al Qur’an. Lalu Abu Musa berkata, ‘Kalian adalah paling baiknya penduduk kota Bashrah dan ahli Al Qur’an di antara mereka. Maka bacalah ia, jangan sampai panjang waktu berlalu atas kalian (tanpa membacanya), karena hati kalian akan mengeras, seperti mengerasnya hati kaum sebelum kalian. Kami dahulu membaca sebuah surah yang kami serupakan dengan surah Barâ’ah dalam panjang dan keras muatannya, tetapi aku dilupakan terhadapnya, hanya yang masih aku hafal adalah ayat:لَوْ كانَ لإبْنِ آدَمَ وادِيانِ مِنْ مالٍ لأبْتَغَى ثالِثًا، ولا يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدمَ إلاَّ الترابُ.

Dan kami dahulu membaca sebuah surah yang kami serupakan dengan salah satu surah musabbihât, hanya saja aku lupa selain satu ayat yang masih aku hafal:

يَا أَيُّها الذينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُوْنَ ما لاَ تَفْعَلُُونَ فَتُكْبُ شهادَةً فِيْ أعْناقِكُمْ فَتُسْأَلُونَ عنها يومَ القيامَةِ.

Dalam ad Durr al Mantsûr, As Suyuthi meriwayatkan dari Abu Ubaid dalam kitab Fadhâil-nya, Ibnu Dharîs dari Abu Musa al Asy’ari, ia berkata, “Telah turun surah yang keras isinya seperti surah Barâ’ah, kemudian ia dianggkat, dan yang masih aku hafal adalah ayat:

إِنَّ اللهَ سَيُؤَيِّدُ هذا الدينَ بِأَقْوامٍ لا خلاَقَ لَهُمْ.

“Sesungguhnya Allah akan membantu agama ini dengan kaum-kaum yang tidak bernilai.” [13]

Riwayat serupa juga dalam Majma’ az Zawâid, 5/302 dan ia komentari, “Hadis ini diriwayatkan ath Thabarâni, dan para periwanya adalah para perawi kitab Shahih selain Ali bin Zaid, ia agak sedikit lemah, tetapi hadisnya baik/hasan dengan bantuan riwayat-riwayat lain yang mendukungnya.”

Tidak diketahui dengan pasti, apakah surah yang menyerupai surah Barâ’ah yang disebut pada dua riwayat terakhir ini adalah surah yang sama dengan yang disebut pada riwayat pertama atau tidak? Tapi paling tidak, umat Islam telah kehilangan dua surah panjang dari mush’haf-mush’haf mereka.

Pertanyaannya ialah, ‘Kemanakah hilangnya dua surah panjang yang dahulu dihafal para sahabat, di antaranya adalah Abu Musa itu?’ Mengapakah tidak seorangpun selain Abu Musa yang menyebutkannya? Bagaimana para ulama Islam menetapkan kequr’anan dua surah panjang hanya berdasar riwayat âhâd?

Kesimpulan:

Dari data-data yang telah kami kemukakan terlihat jelas bahwa ada enam surah Al Qur’an yang mengalami perubahan. Al Qur’an yang sekarang beredar di kalangan umat Islam Ahlusunnah, tidak memuat seluruh yang pernah diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad, terjadi pengurangan dan penambahan. Sebagaimana ada dua surah asing yang bukan dari firman Tuhan ikut tercampur di dalamnya!

Dengan kenyataan pahit seperti ini, masihkan kita sempat “melempari” kitab-kitab hadis Syi’ah dan menuduh mereka meyakini tahrîf?!

Semua yang mereka lakukan sekedar fitnah yang dilontarkan untuk menipu kaum awam, dengan menutup-nutupi “borok” yang ada dalam riwayat-riwayat yang ada dalam kitab-kitab standar mereka sendiri.

Seperti berkali-kali kami tegaskan, ini semua adalah kerjaan musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin.

(Bersambung)

_________________________

[1] Baca Majma’ az Zawâid,7/149 dari Abdur Rahman bin Yazid an Nakha’i dengan sanad shahih, Mushannaf; Ibnu Abi Syaibah,10/538 hadis dengan nomer10254, dan Fathu al Bâri,8/743 dll.

[2] Shahih Bukhari, Kitab at Tafsîr, bab Tafsir Surah Qul A’ûdzu Birabbin Nâs,6/223.

[3] As Sunan al Kubrâ,2/394 hadis nomer3851.

[4] Musnad al Humaidi,1/185 hadis nomer 374.

[5] Fathu al Bâri,8/742 hadis nomer4693.

[6] Fathu al Bâri,8/742 hadis nomer4693.

[7] Ibid.

[8] Baca al Itqân, naw/macam ke 20 tentang para penghafal dan periwayat Al Qur’an,1/93.

[9] Sunan at Turmudzi,10/312-313 hadis no.3898, bab Man6aqib Abdillah bin Mas’ud.

[10] Tuhfah al Ahwadzi,10/312-313.

[11] Tafsir Ibnu katsir,4/571.

[12] Shahih Muslim,3/100, Kitab az Zakâh, Bab Karâhiyatu al Hirshi ‘Ala ad Dunya. Dan dengan syarah An Nawawi pada,7/139-140 dan al Itqân,2/25 dengan hanya menyebut bagian akhir hadis saja.

[13] Ad Durr al Mantsûr,1/105.

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: