Menjawab Sidogiri (2)

Hadis ketiga yang disebutkan Tim Sidogiri adalah riwayat al Kafi:

علي بن الحكم عن هشام بن سالم عن أبي عبد الله (ع) قال: إِنَّ القرآنَ الذي جاء به جبريل (ع) إلى محمد (ص) سبعةَ عشر ألف آية.

“Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa Jibril as. kepada (Nabi) Muhammad saw. Adalah 17 ribu ayat.”

Hadis di atas diriwayatkan Syeikh al Kulaini (RH) dalam kitab al Kâfi pada Kitabu Fadhli al Qur’an, Bab an Nawâdir. Para perawi dalam sisilah riwayat di atas adalah tsiqâh seperti dinyatakan para Ahli Ilmu Rijâl Syi’ah. Karenanya sebagian orang menyerang Syi’ah bahwa hadis riwayat al Kâfi yang menunjukkn adanya tahrîf di atas adalah shahih, jadi berarti Syi’ah meyakini adanya tahrîf.

Sementara, seperti diketahui bersama, baik dalam disiplin Ilmu Hadis Ahlusunnah mupun Syi’ah, bahwa bisa jadi sebuah hadis itu shahih dari sisi sanadnya dalam arti para perawinya terpercaya/tsiqât, namun sebenarnya pada matannya terdapat masalah! Sebab keterpercayaan seorang perawi bukan segalanya dalam menentukan stastus sebuah hadis, kita harus membuka asumsi boleh jadi ia lupa, salah dalam menyampikan matan hadis atau… atau….

Selain itu, hadis di atas adalah hadis Âhâd (bukan mutawâtir) yang tidak akan pernah ditemukan baik dalam kitab al Kâfi maupun kitab-kitab hadis Syi’ah lainnya dengan sanad di atas. Di samping itu, perlu dimengerti bahwa al Kulaini (RH) memasukkan hadis di atas dalam bab an Nawâdir, dan seperti disebutkan Syeikh Mufîd bahwa para ulama Syi’ah telah menetapkan bahwa hadis-hadis nawâdir adalah tidak dapat dijadikan pijakan dalam amalan, sebagaimana istilah nadir (bentuk tunggal kata Nawâdir) sama dengan istilah Syâdz. Dan para Imam Syi’ah as. telah memberikan sebuah kaidah dalam menimbang sebuah riwayat yaitu hadis syâdz harus ditinggalkan dan kita harus kembali kepada yang disepakati al Mujma’ ‘Alaih.

Imam Ja’far as. bersabda:

يَنْظُرُ إلَى ما كان مِن رِوَايَتِهِم عَناّ فِي ذلك الذي حَكَمَا بِه الْمُجْمَع عليه مِن أصحابِك فَيُؤْخَذُ بِه من حُكْمِنَا وَ يُتْرَكُ الشَّاذُّ الذي ليْسَ بِمَشْهُوْرٍ عند أصحابِكَ، فإنَّ الْمُجْمَعَ عليه لاَ رَيْبَ فيه.

“Perhatikan apa yang di riwayatkan oleh mereka dari kami yang jadi dasar keputusan mereka. Diantara riwayt-riwayt itu, apa yang disepakati oleh sahabat-sahabatmu, ambillah! Adapun riwayat yang syâdz dan tidak masyhur di antara sahabat-sahabatmu tinggalkanlah! Karena riwayat yang sudah disepakati itu tidak mengandung keraguan….”  (HR. al Kâfi, Kitab Fadhli al ‘Ilmi, Bab Ikhtilâf al Hadîts, hadis no. 1o.)

Sementara hadis di atas tidak meraih kemasyhuran dari sisi dijadikannya dasar amalan dan fatwa, tidak juga dari sisi berbilangnya jalur periwayatannya. Ia sebuah riwayat Syâdz Nâdirah dan bertentangan dengan ijmâ’ mazhab seperti yang dinukil dari para tokoh terkemukan Syi’ah di antaranya Syeikh Shadûq, Syeikh Mufîd, Sayyid al Murtadha ‘Almul Hudâ, Syeikh ath Thûsi, Allamah al Hilli, Syeikh ath Thabarsi dll.

Hadis di atas tidak memenuhi syarat-syarat diterimanya sebuah riwayat dan kaidah-kaidah pemilahan antara hadis shahih dan selainnya yang telah ditetapkan Syeikh al Kulaini sendiri dalam al Kâfi.

Ini semua dengan asumsi bahwa penyebutan angka 17 ribu ayat itu telah tetap dalam kitab al Kâfi!

 

Jumlah 17 Ribu Ayat Belum Pasti Dalam Al Kâfi

Sementara itu terdapat ketidak-pastiaan tentang adanya bilangan angka 17 ribu ayat itu dalam al Kâfi, sebab dalam sebagian manuskrip kuno kitab al Kâfi angka yang disebut dalam riwayat itu adalah 7 ribu bukan 17 ribu! Dengan demikian belum dapat dipastikan angka tersebut dari riwayat al Kâfi! Bisa jadi kesalahan dilakukan oleh penulis sebagian manuskrip kuno kitab al Kâfi!

Sebutan angka 17 ribu ayat telah dinukil dari al Kâfi beberapa ulama Ahlusunnah ketika menyerang Syi’ah. Di antara mereka adalah:

1.                 Al Alûsi dalam Mukhtshar Tuhfah aal Itsâ ‘Asyriyah: 52.

2.                 Mandzûr an Nu’mâni dalam ats Tsawrah al Irâniyh Fî Mîzâni al Islâm:198.

3.                 Muhammad Mâlullah dalam asy Syi’ah wa Tahrîfu al Qur’ân: 63.

4.                 Dr. Muhmmad al Bandâri dalam at Tasyayyu’ Baina Mafhûmi al Aimmah wa al Mafhûm al Fârisi:95.

5.                 Dr. Shabir Abdurrahman Tha’imah dalam asy Syi’ah Mu’taqadan wa Madzhaban:103.

6.                 Ihsân Ilâi Dzahîr dalam asy Syi’ah wa as Sunnah:80 dan asy Syi’ah wa Al Qur’ân:31.

7.                 Dr. Umar Farîj dalam asy Syi’ah Fî at Tashawwur al Qur’âni:24.

8.                 Dr. Ahmad Muhammad Jali dalam Dirâsat ‘An al Firaq Fî Târîkh al Muslimîn:228.

Adapun di antara ulama Ahlusunnah yang menyebutkan hadis tersebut dari al Kâfi dengan angkan 7 ribu ayat adalah di antaranya:

1.                 Musa Jârullah dalam al Wasyî’ah:23.

2.                 Abdullah Ali al Qashîmi dalam ash Shirâ’ Baina al Islâm wa al Watsaniyah:71.

3.                 Syeikh Muhammad Abu Zuhrah dalam kitab al Imâm ash Shâdiq: 323.

4.                 Dr. Ahmad Muhammad Jali dalam Dirâsat ‘An al Firaq Fî Târîkh al Muslimîn: 228.

5.                 Ihsân Ilâi Dzahîr dalam asy Syi’ah wa Al Qur’ân:31.

 

Dalam Naskah Kuno al Faidh al Kâsyâni Hanya 7 Ribu Ayat!

Hadis riwayat al Kâfi di atas dalam naskah kuno yang dimiliki dan dijadikan pijakan al Faidh al Kâsyâni dalam penukilan hadis al Kâfi dalam insklopedia hadis berjudul al Wâfi yang beliau karang adalah 7 ribu ayat. Dan beliau tidak menyebut-nyebut adanya riwayat 17 ribu ayat! Hal mana membuktikan kepada kita bahwa naskah asli al Kâfi yang dimiliki al Faidh al Kâsyâni redaksinya adalah 7 ribu ayat bukan 17 ribu!

Lebih lanjut baca kitab Shiyânatu Al Qur’ân; Syeikh Allamah Muhammad Hadi Ma’rifah:223-224.

Jumlah 7 ribu itu disebut tentunya dengan menggenapkan angka pecahan yang biasa dilakukan orang-orang Arab dalam menyebut angka/bilangan ganjil! Demikian diterangkan oleh Allamah asy Sya’râni dalam Ta’lîqah-nya atas kitab al Wâfi.

 

Andai Shahih Riwayat 17 Ribu Ayat!

Andai redaksi riwayat al Kâfi yang benar adalah 17 ribu ayat, apa yang akan terjadi? Apakah hal itu dengn serta merta membuktikan bahwa mazhab Syi’ah adalah meyakini tahrîf Al Qur’an, seperti yang sering dituduhkan musuh-musuh Syi’ah?!

Apa komentar ulama Syi’ah tentangnya?

Para ulama Syi’ah meyakini bahwa disamping Al Qur’an, Jibril as. juga turun kepada Nabi Muhammad saw. dengan membawa selain Al Qur’an, yang andai ia dikumpulkan bersama Al Qur’an maka akan menjadi sekitar 17 ribu ayat!

Syeikh Shadûq (pimpinan tertinggi Syi’ah di masanya) menegaskan dalam kitab al I’tiqâdât-nya yang beliu tulis khusus menerangkan kayakinan akidah Syi’ah Imamiyah Ja’fariyah. Beliau berkata:

إعتقادُنا أَنَّ القرآن الذي أنزلَهُ الله على نبينا (صلى الله عليه و آله و سلم) هُو ما بين الدفَّتين، و هو ما بِأَيدي الناس، ليس بِأَكثر من ذلك. و مبلغ سوره عند الناس مائة و أربع عشر سورةو عندنا أنَّ الضحى و ألم نشرح سورة واحدة، و لايلاف و ألم تر كيف سورة واحدة. و من نَسَبَ إلينا أنَّا نقول أنه أكثر من ذلك فهو كاذبٌ….

إنَّهُ قد نزلَ من الوحيِ الذي ليس من القرآن ما لو جُمِع إلى القرآن لكان مبلَغُهُ مِقْدار سبع عشرة ألف آية، و ذلك قول جبريل (ع) للنبي (صلى الله عليه و آله و سلم): إن الله تعالى يقول لك: يا محمد دارِ خلقِي. و مثل قوله: عشْ ما شئتَ فَإِنَّكَِ مَيِّتٌ و أحْبِبْ ما شئتَ فَإِنَّكَِ مفارقُه و اعمل ما شئتَ فَإِنَّكَِ ملآقيه. و شرفُ المؤمن صلاته بالليل….

و مثل هذا كثير، كله وحيٌ و ليس بقرآن، و لو كانقرآنا لكان مقرونا به و موصولا إليه غير مفصولٍ عنه….

“Keyakinan kami bahwa Al Qur’an yang diturunkan Allah kepada nabi-Ny; Muhammad saw. adalah apa yang termuat di antara dua sampul (mush-haf), yaitu yang sekarang beredar di kalangan manusia. Tidak lebih dari itu. Jumlah surahnya adalah 114 surah. Dan menurut kami surah Wa adh Dhuhâ dan Alam Nasyrah dihitung satu surah dan surah Li ilâfi dan Alam Tara Kaifa dihitung satu surah. Dan barang siapa menisbahkan kepada kami bahwa kami meyakini bahwa Al Qur’an  lebih dari itu maka ia adalah pembohong!

Sesungguhnya telah turun wahyu selain Al Qur’an yang jika dikumpulkan bersama Al Qur’an jumlahnya mencapai sekitar 17 ribu ayat. Yaitu seperti ucapan Jibril as. kepada Nabi saw., “Sesungguhnya Allah berfirman kepadamu, ‘Hai Muhammad bergaullah dengan baik kepada hamba-hamba-Ku.’. “Hiduplah sesukamu, kerena engkau pasti akan mati. Cintailah apa yang engkau mau, karena engkau pasti berpisah dengannya. Berbuatlah sekehendakmu karena engkau pasti akan berjumpa dengannya!” Kemuliaan seorang Mukmin adalah shalatnya di waktu malam”…

Dan yang seperti ini banyak sekali. Semuanya adalah wahyu selain Al Qur’an. Andai ia bagian dari Al Qur’an pastilah digandengkan dengannya, bersambung dan tidak terpisah darinya… “. (al I’tiqâdât:93, dicetak dipinggir kitab al Bâb al Hâdi ‘Asyar)

Dengan penafsiran seperti itu para ulama Syi’ah memahami riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa ayat/kalimat ini atau itu demikian diturunkan, maksudnya bahwa ia diturunkan bukan sebagai bagian dari ayat Al Qur’an, seperti akan dijelaskan nanti, insyâ Allah.

Para penulis Wahabi, demikian juga mereka yang terinfeksi “Virus Wahhabisme” seperti adik-adik Tim Penulis Sidogiri yang begitu bersemangat menyerang Syi’ah, boleh jadi tidak sependapat dengan tafsiran ulama dan pembesar Syi’ah di atas. Akan tetapi, yang pasti mereka telah menyaksikan bagaimana ulama Syi’ah tidak berhujjah dengan hadis di atas sebagai bukti adanya tahrîr Al Qur’an!! Lalu apa alasannya mereka memaksakan tuduhan tahrîf melalui riwayat di atas?!

 

v                 Riwayat Yang Serupa Ada Di Kitab-kitab Ahlusunnah, Lalu Apa Komentar Mereka?

Menurut Umar ibn al Khaththab Al Qur’an Telah Hilang Dua Pertiganya!

Dalam kitab tafsir ad Durr al Mantsur-nya, Jalaluddin as Suyuthi menyebutkan riwayat Ibnu Mardawaih dari Umar ibn al Khaththab, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

القرْآنُ أَلْفُ أَلْفِ حَرْفٍ وَ سَبْعَةٌ و عِشْرُونَ ألفِ حَرْفٍ، فَمَنْ قَرَأَهُ مُحْتَسِبًا فَلَهُ بِكُلِّ حرفٍ زَوْجَةٌ مِنَ الْحُوْرِ العِينِْ.

“Al Qur’an itu adalah terdiri dari sejuta dua puluh tujuh ribu huruf, barang siapa membacanya dengan niat mengharap pahala maka baginya untuk setiap hurufnya seorang istri dari bidadari.” [1]

Dalam kitab Al Itqân-nya ia kembali menyebutkan riwayat di atas dalam pasal, Naw’ (macam) ke 19: Bilangan surah, ayat, kata-kata dan hurufnya dari riwayat ath Thabarâni, dan setelahnya ia mengomentari dengan mengatakan, “Hadis ini, seluruh perawinya terpercaya, kecuali guru ath Thabarâni; Muhammad ibn Ubaid ibn Adam ibn Abi Iyâs. Adz Dzahabi mempermasalahkannya karena riwayat hadis di atas.”[2] Artinya pada dasarnya ia juga jujur terpercaya, hanya saja dicacat karena ia meriwayatkan hadis di atas. As Sututhi sendiri menerima keshahihan dan kemu’tabaran hadis di atas, terbukti ia mengatakan, “Dan di antara hadis-hadis yang mengi’tibarkan masalah huruf-huruf Al Qur’an adalah apa yang di riwayatkan at Turmudzi (lalu ia menyebutkannya) dan apa yang diriwayatkan ath Thabarâni… .” yaitu hadis di atas.

Hadis riwayat Umar di atas telah diterima para ulama Ahlusunnah, bahkan ada yang menyebutnya ketika menghitung jumlah huruf-huruf Al Qur’an seperti yang dilakukan Doktor Muhammad Salim Muhaisin dalam kitabnya Rihâbul Qur’an al Karîm:132.

Dari riwayat di atas terlihat jelas bahwa Al Qur’an yang beredar di tengah-tengah umat Islam hingga sekarang hanya sekitar sepertiga dari Al Qur’an yang telah diterima oleh Nabi Muhammad saw.! Itu artinya dua pertiga darinya telah musnah! 

Az Zarkasyi dalam kitab al Burhân-nya[3] menyebut beberapa hasil penghitungan para pakar Al Qur’an tentang bilangan huruf Al Qur’an, seperti di bawah ini:

1.                       Dalam penghitungan Abu Bakar Ahmad bin Hasan bin Mihrân: 323015 huruf.

2.                       Dalam penghitungan Mujahid:321000 huruf.

3.                       Dalam Penghitungan para ulama atas perintah Hajjaj bin Yusuf:340740 huruf.

Inilah pendapat-pendapat yang disebutkan az Zarkasyi, sengaja saya sebutkan dengan beragam perbedaannya, agar dapat dilihat langsung bahwa jumlah tertinggi yang disebutkan di atas tidak melebihi tiga ratus empat puluh satu ribu huruf. Itu artinya jumlah ayat Al Qur’an yang hilang sebanyak lebih dari 686260 huruf.

As Suyuthi mengakui bahwa Al Qur’an yang ada sekarang kurang dari jumlah itu, yaitu yang pernah diterima Nabi saw. ….

Sepertinya Umar hendak memperkuat apa yang ia riwayatkan dalam hadis di atas. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Umar memerintah agar umat Islam berkumpul, setelah berkumpul ia berpidato, setelah memuji Allah, ia berkata:

أَيُّها الناس! لا يَجْزِعَن مِنْ آيَةِ الرَجْمِ، فَإِنَها أيَةٌ نزلَتْ في كتابِ اللهِ و قَرَأْناها، و لَكِنَّها ذَهَبَتْ في قُرْآنٍ كَثِيْرٍ ذهَبَ معَ محَمَّدٍ.

“Hai sekalian manusia! Jangan ada orang yang sedih atas ayat Rajam. Sesungguhnya ia adalah ayat yang diturunkan dalam Kitab Allah, kami semua membacanya, akan tetapi ia hilang bersama banyak ayat Al Qur’an yang hilang bersama (kematian) Muhammad.[4]

Jadi menurut Umar bahwa banyak ayat Al Qur’an yang hilang bersama kematian Muhammad (!) dan tidak seorang pun dari pengikutnya yang sempat menghafalnya!

Karenanya sahabat Ibnu Umar seperti dalam hadis yang telah disebutkan sebelumnya, melarang kita mengklaim bahwa kita dapat merangkum seluruh ayat Al Qur’an! Sebab, menurutnya telah banyak yang hilang!

Lalu, jika ada orang yang menuduh Ahlusunnah mayakini telah terjadinya tahrîf Al Qur’an berdasarkan hadis di atas, salahkah dia?

Apa jawaban ulama Wahhabi dan sebagian Ahlusunnah yang terinfeksi “Virus Wahhabisme” yang bisanya hanya “mengorek-ngorek” riwayat-riwayat Syi’ah dengan tanpa pemahaman yang utuh atasnya?

Mengapa mereka menutup-nutupi “borok” dalam kitab-kitab mu’tabarah dan riwayat-riwayat shahihah mereka yang tegas-tegas menunjukkan adanya tahrîf Al Qur’an, dan hanya pandai membodohi kaum awam dengan menyitir, memelintir hadis-hadis dan keterangan ulama Syi’ah?  

Sampai kapankah penulis-penulis bayaran Wahhabi dan santri serta Kyai Ahlusunnah yang terinfeksi “Virus Wahhabisme” menjalankan Proyek Pemecah-belahan Umat Islam dengan kepalsuan?!

Mengapakah merekaa tidak pernah jujur dan bersikp obyektif dalam mendiskusikan dan atau membicarakan ajaran Syi’ah?!

Apakah “Kejujuran dan Obyektifits” telah terhapus dari kamus Etika Islami mereka?

Setau saya yang bermental seperti itu hanya kaum Wahhabisme, bukan saudara-saudara kami Ahlusunnah! Lalu mengapakah sekarang mental licik dan sikap picik itu menjangkiti sebagian santri-santri, para Kyai dan “Setengan Kyai” dari saudara-saudara kita dari Ahlusunnah?!    

Ya, kami berharap Tim Sidogiri mampu memberikan jawaban ilmiah atasnya, kami yakin Sidogiri dengan tradisi keilmuan yang telah diwarisinya sejak lama akan mampu memberikn jawaban memuskan itu…. Kami akan menantinya dan kami siap mendiskusikannya di sini, insyâ Allah!

(Bersambung)




[1] Ad Durr al Mantsur,6/422.

[2]Al Itqân,2/93, cet. Al Halabi-Mesir.

[3] Al Burhân Fî ‘Ulûmil Qur’ân,1/314-315. cet. Dâr al  Kotob al Ilmiah. Lebanon. Thn.1988.

[4] Mushannaf; ash Shan’âni,7/345, hadis no.13329

40 Tanggapan

  1. selamat siang…

    he…he…

    saudara ibnu jakfari…
    maaf saudara,,,perlu direnungkan kembali makna dari perkataan Jalaluddin as Suyuthi dan Umar ra tersebut…apakah benar seperti yg anda pahami yaitu tahrif al qur’an, ataukah bermakna lain…sekali lagi tolong dicermati dan direnungkan kembali….

    apakah benar atau anda yg salah memahami..jangan sampai anda disebut memelintir perkataan shahabat lhoooo…

    he…he….

    Ibnu Jakfari:

    Jika saudara punya pemahaman lain silahkan saudara sebutkan di sini, kita bisa diskusikan….

    • he..he..he. saya jadi bingung dengan om ibnu jakfari – jakfar adalah nama salah satu Ahlulbait ( nama anda tidak sesuai dengan Ahklak anda ) kalau Alqur’an yang sekarang tidak benar atau berkurang isinya, jadi pertanyaan saya yang Alqur’an benar itu yang mana, kalau memang Alqur’an yang sekarang sudah tidak asli lagi kenapa orang syiah memakainya, Kitabnya orang syiah apa sih ? apa bukan Alqur’an yang sekarang ini, kalau orang syiah tidak percaya dengan kebenaran Aqur’an yang ada sekarang kenapa mereka memakainya, apa itu tidak sama dengan sifat2 orang munafik. anak SD aja kalau dia nggak percaya isi bukunya pasti di buangnya. heranlah nengok orang syiah ini. tunjukkan kitab kalian itu apa, perlihatkan mushab2 kalian. jangan hanya mengaku2 islam, kalau syiah itu benar tunjukkanlah letak kebenarannya dimana.

  2. om. kenapa sih, kita selalllllllllu bertengkar dan berdebat sesama muslim percayalah om bahwa manusia itu mahluk emosi hanya sedikit yang termasuk mahluk logika
    terahir kita tidak bisa mengubah seseorang om. yang bisa merubah hanya dirinya sendiri. kalau tidak salah, ini dikatakan oleh galileo om
    damai aja om. demi umat islam yang kebingungan di bawah sana
    salam

  3. bila kitab sucinya dah beda, jelas agama nya beda
    syiah kan bukan islam , so , ngapa diributin

    • ujang: klo mereka tidak islam,knp mereka mngakui Allah sebagai Tuhan,Muhammad sebagai Nabi,,,ini masalah perbedaaan paradigma,,???

  4. Dengan keberhasilan Imam Khomaini menciptakan Sistem Negara dan Pemerintahan di Iran sebagai suatu republik Islam, maka saya kira peran ‘imam’ atau ‘imam 12’ sudah direformasi menjadi sistem khalifahnya adalah bernama ‘presiden’. Sistem negara dan pemerintahan hasil ijtihad Imam Khomaini ini adalah karya besar dibidang politik khususnya politik Islam.

  5. he…he…

    saya punya kitab bagus nih untuk membantah tulisan ibnu jakfari ini…ada link downloadnya…bahasa arab so pasti…

    mungkin saudara2 disini ada yg tertarik…

    he…he…

  6. @Ujang

    Sepertinya anda tidak pernah bertemu dgn org Syiah ya? Anda ingin bukti bahawa kitab al Quran Syiah itu tiada bedanya dgn apa yg beredar di kalangan kaum Muslimin?

    Kami bawakan ayat berikut buat anda renungkan:

    1. Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
    QS. al-Hujurat (49) : 6

    Anda masih punya akal waras utk diguna menalar bukan? Gunakanlah akal anda..perhatikan firman Allah yg berikut:

    Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.
    QS. Yunus (10) : 100

    Lalu coba anda buka kitab anda, apa sama ayat dan surahnya atau beda?

    • Hadi : Anda masih punya akal waras utk diguna menalar bukan? Gunakanlah akal anda…..kata2 anda terlalu sombong dan sok untuk seorang intelektual muslim,,sedikit sentuhan,,saya kira anda paham tntg watawa shaubil haq,wa thawa shaubi shobri..islam tu arif,indah, nabi saja ketika mlihat orang kafir kencing di mesjid,cara menasehatinya dengn penuh kearifan,itulah perbedaan antara orang pintar dengan orang paham…

    • waduh waduh ni syiah ato SUSI (Sunni syiah), jangan tanggung-tanggung lah coba baca literatur2 syiah yang sesungguhnya, datang ke iran, nanti anda akan faham sendiri, fakta membuktikan kalo syiah betul – betul bukan islam lagi. bagi para pembaca yang budiman, hati-hati dengan tipu daya syi’ah, mereka tidak hanya pintar bersilat lidah, fuluspun mereka lancarkan….

  7. PAHAM WAHABI
    MERACUNI PEMUDA MUSLIM INDONESIA

    Di abad ini, muncul kelompok-kelompok pergerakan muslim yang membuat para pemuda muslim tertarik untuk bergabung. Kelompok-kelompok ini memang selalu mengobarkan semangat juang para pemuda, sehingga tidak sedikit pemuda muslim yang memiliki jiwa mujahid yang kemudian bergabung. Tetapi sayangnya, ilmu pemuda itu tidak setinggi semangat jihad mereka, sehingga tidak jarang mereka terjerumus kepada kelompok-kelompok yang beraqidah menyimpang. Di antara kelompok-kelompok itu ada yang berpaham mirip dengan paham wahabi.

    MENGHARAMKAN MENGIRIM HADIAH BAGI MAYIT

    Mereka mengharamkan mengirimkan hadiah kepada mayit. Mereka beranggapan bahwa pekerjaan yang demikian tidak dicontohkan oleh nabi. Tetapi jika kita membuka kitab Fiqih Sunnah oleh Sayyid Sabiq, pada jilid IV halaman 185-191, kita akan menemukan bahwa nabi telah memberikan penjelasan yang sangat jelas mengenai hal ini.

    1. Berdo?a dan memohon ampun bagi mayat. Hal ini disetujui secara ijma?.
    Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Al Hasyr: 10)

    2. Sedekah.
    Imam Nawawi telah menceritakan adanya ijma? bahwa sedekah berlaku atas mayat dan sampai pahala padanya, baik ia berasal dari anak, maupun dari lainnya. Berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, dan lain-lain dari Abu Hurairah:
    Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAAW, ?Ayahku meninggal dunia, dan ia meninggalkan harta serta tidak memberi wasiat. Apakah dapat menghapus dosanya bila saya sedekahkan?? Ujar Nabi SAAW, ?Dapat!?
    Dari Hasan yang diterimanya dari Sa?ad bin Ubadah:
    Ibu Sa?ad bin Ubadah meninggal, maka tanyanya kepada Rasulullah SAAW, ?Ya Rasulullah, ibuku meninggal, dapatkah saya bersedekah atas namanya?? Ujar beliau SAAW, ?Dapat!? Lalu tanyanya lagi, ?Sedekah manakah yang lebih utama?? Ujar beliau SAAW, ?Menyediakan air.?
    Kata Hasan, ?Itulah dia (sejarah) penyediaan air dari keluarga Sa?ad di Madinah!?
    Diriwayatkan daripada Aisyah r.a katanya: Seorang lelaki datang kepada Nabi s.a.w dan berkata: Wahai Rasulullah! Ibuku meninggal dunia secara mengejut dan tidak sempat berwasiat tetapi aku menduga, seandainya dia mampu berkata-kata, tentu dia menyuruh untuk bersedekah. Adakah dia akan mendapat pahala jika aku bersedekah untuknya? Rasulullah s.a.w bersabda: Benar!
    Dan tidak disyariatkan mengeluarkan sedekah itu di pekuburan, dan makruh hukumnya bila dikeluarkan beserta jenazah.

    3. Puasa.
    Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a katanya: Seorang wanita telah datang menemui Rasulullah s.a.w dan berkata: Ibuku telah meninggal dunia dan masih mempunyai puasa ganti selama sebulan. Baginda bertanya kepada wanita itu dengan sabdanya: Bagaimana pendapatmu jika ibumu itu masih mempunyai hutang, adakah kamu akan membayarnya? Wanita itu menjawab: Ya. Lalu Rasulullah s.a.w bersabda: Hutang kepada Allah itu lebih berhak untuk dibayar. (HR. Bukhori dan Muslim)

    4. Hajji.
    Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi SAAW lalu bertanya, ?Ibuku bernadzar akan melakukan hajji, tapi belum juga dipenuhinya sampai ia meninggal. Apakah akan saya lakukan hajji itu untuknya?? Ujar Nabi SAAW, ?Ya, lakukanlah! Bagaimana pendapatmu jika ibumu berhutang, adakah kamu akan membayarnya? Bayarlah, karena Allah lebih berhak untuk menerima pembayaran.? (HR. Bukhori)

    5. Shalat.
    Diriwayatkan oleh Daruquthni bahwa seorang laki-laki bertanya, ?Ya Rasulullah SAAW, saya mempunyai ibu bapak yang selagi mereka hidup, saya berbakti kepadanya. Maka bagaimana caranya saya berbakti kepada mereka, setelah mereka meninggal dunia?? Ujar Nabi SAAW, ?Berbakti setelah mereka meninggal, caranya ialah dengan melakukan shalat untuk mereka disamping shalatmu, dan berpuasa untuk mereka disamping puasamu!?

    6. Membaca Al Qur`an. Ini merupakan pendapat jumhur dari Ahlus Sunnah.
    Berkata Imam Nawawi, ?Yang lebih terkenal dari madzhab Syafi?i, bahwa pahalanya tidak sampai pada mayat. Sedangkan menurut Ahmad bin Hanbal, dan segolongan sahabat-sahabat Syafi?i, sampai (pahalanya) kepada mayat. Maka sebaiknya setelah membaca, si pembaca mengucapkan: Ya Allah, sampaikanlah pahala seperti pahala bacaan saya itu kepada si fulan.?
    Hanya saja disyaratkan agar si pembaca tidak menerima upah atas bacaannya itu. Jika diterimanya, haramlah hukumnya, baik bagi si pemberi maupun si penerima, sedang bacaannya itu hampa, tidak beroleh pahala apa-apa.
    Dalam Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah: Berkata Ahmad bin Hanbal, ?Apa pun macam kebajikan, akan sampai kepada si mayat, berdasarkan keterangan-keterangan yang diterima mengenai itu, juga disebabkan kaum muslimin biasa berkumpul di setiap negeri dan membaca Al-Qur`an lalu menghadiahkannya kepada orang-orang yang telah meninggal di antara mereka, dan tak seorang pun yang menentangnya, hingga telah merupakan ijma?.?

    Berkata Ibnu Al-Qayyim, ?Ibadah itu dua macam, yaitu mengenai harta dan badan. Dengan sampainya pahala sedekah, syara? mengisyaratkan sampainya pada sekalian ibadah yang menyangkut harta, dan dengan sampainya pahala puasa, diisyaratkan sampainya sekalian ibadah badan (badaniyah). Kemudian dinyatakan pula sampainya pahala hajji, suatu gabungan dari ibadah maliyah (harta) dan badaniyah. Maka ketiga macam ibadah itu, teranglah sampainya, baik dengan keterangan nash maupun dengan jalan perbandingan.?
    Berkata Ibnu ?Ukeil, ?Jika seseorang melakukan amal kebajikan seperti shalat, puasa, dan membaca Al Qur`an dan dihadiahkannya, artinya pahalanya diperuntukkannya bagi mayat muslim, maka amal itu didahului oleh niat yang segera disertai dengan perbuatan.?

    • Menurut ayat-ayat Qur-an, bahwa pahala Qur-an atau Tahliel atau lain-lain ‘amalan yang di buat oleh orang yang hidup untuk orang yang mati itu, tidak sampai kepada simati itu. Dengarlah sabda Nabi s.a.w. :

      Artinya : Apabila anak Adam itu mati, maka putuslah ‘amalannya, kecuali tiga perkara. Pertama shadakah jariah (waqaf), kedua ilmu yang orang ambil munfa’at daripadanya, ketiga anak yang shalih yang mendo’akan dia.

      (H.S.R. Abu Dawud).

      Maqshud daripada Hadiets itu, bahwa ‘amalan simati itu, tidak akan bertambah, kecuali dengan tiga yang disebut itu ; dan yang disebutkan itu adalah dari usaha sendiri pada waqtu hidupnya.

      Dan firman Allah :

      Artinya : Dan sesungguhnya manusia tidak akan dapat (ganjaran) melainkan (dari) apa ia kerjakan (sendiri).

      (Q. An-Najm, 39)

      Dan firman Allah ;

      Artinya : Maka pada hari (Qiamat) ini, tidaklah seseorang akan dianiaya sedikit juapun, dan tidak dibalas kamu, kecuali apa yang kamu telah kerjakan.

      (Q. Yasin, 54).

      Maqshud Ayat ini, menyatakan dengan terang bahwa pada hari Qiamat itu, tidaklah seorang akan dianiaya ; dan manusia itu tidaklah akan dapat upah (ganjaran), melainkan dari apa yang diusahakannya di atas dunia ini. Usaha orang lain, seperti membaca Qur-an, Tahliel dan sebagainya itu, tidaklah si mati akan dapat pahalanya. Lagi, kalau sampai pahala Qur-an atau Tahliel itu kepada si mati, tentulah dikerjakan oleh Nabi s.a.w. atau oleh shahabat-shahabatnya, dan tentulah diriwayatkan dari padanya, padahal satu patah kalimatpun tidak menunjukkan kepada yang demikian itu.

      Tetapi dalam kitabnya Imam Asy-Syafi’i berkata,” Disampaikan pahala
      kepada si mayit dari tiga amalan orang lain; haji yang
      dilaksanakan untuknya, harta yang dishadaqahkan atau
      dilunasi untuknya, dan doa. Adapun shalat dan puasa, itu hanya milik pelaku dan tidak sampai kepada mayit.
      Berbeda dengan harta, sesungguhnya seorang
      mempunyai kewajiban untuk memenuhi apa –apa yang pada harta itu terdapat hak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berupa zakat dan lainnya, karena itu memadai bila dilaksanakan oleh orang lain atas perintahnya.
      Adapun doa, sesungguhnya Allah Subhanahu wa
      Ta’ala telah menganjurkan hamba-hamba-Nya untuk
      melakukannya dan meminta Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwa Salam untuk melaksanakannya. Maka, apabila dibolehkan berdoa untuk saudara yang masih hidup, berarti boleh pula berdoa untuk yang telah mati. Dan Insya’ Allah Subhanahu wa Ta’ala keberkahan akan sampai kepadanya, di samping Allah Subhanahu waTa’ala Maha Luas rahmat-Nya untuk memenuhi pahalaorang hidup dan menyertakan si mayit dalam kemanfaatannya. Demikian pula setiap kali seseorang
      bertathawwu’ (shadaqah sunnah) untuk orang lain
      melalui sedekah tathawwu’”.(Al-Umm, 4/120, Manaaqib Asy-Syafi’i, 1/431)

      Adapun perkataan Imam Syafi’e tersebut berdasar Hadiets-hadiets tentang anak menghajjikan orang tuanya dan juga tentang orang hidup bersedekah untuk orang yang sudah mati, tetapi oleh sebab semuanya itu berlawanan dengan ayat-ayat Qur-an yang begitu quat dan tegas, maka tak dapatlah kita katakan Hadiets-hadiets itu shahih.

      • AS.ISLAM ITU POKOK /USUL.DARI SEGALA PERMASALAHAN DUNIA AKHEROT,ALLAH ITU THOYYIBUN LAYUKBALU ILLATOYYIBUN,APA YG DI PERMASALAHKAN KALAU HAL ITU BAIK,MEMANG ANJURAN AGAMA KPD HAL YG BAIK,KARNA ISLAM BISA DITRIMA SEPANJANG MASA DGN NILAI2 AGAMANYA.PERMASALAHAN YG ADA HANYA DLM ISTILAH BAHASA DGN KEBERADAAN DAERAH MASING2 ISLAM BERKEMBANG, MISAL;APA BEDANYA SI.A MEMBERIKAN LASUNG KE SI C,DGN SI A MELALUI SI B DIBERIKAN KE SI C, INTINYA NILAINYA SODAKOH, INTINYA SEMUNYA BENAR YG DAK BENAR ORANG YG DAK MU MELAKUKAN DAN YG KELUAR DARI NILAI2 AGAMA SIAPAPUN ORANGNYA,MEMANG INI KELEBIHAN ISLAM AGAM YG SEPURNA,SEHINGGA PERBEDAAN RAHMAT,DUNIA INI BISA BERJLN KARNA ADA PERBEDAAN, KARNA KEMAMPUAN 2 YG DK SAMA YG ADA DI BUMI INI, COBA KALAU SEMUA SAMA?…APA JADI.YG PENTING MAKSUD DAN NILAINYA SAMA,MAKA KESADARAN PENTING KITA BANGUN,KEBERSAMAAN,SLING MENASEHATI,MENUNTUT ILMU,MUSYAWARAH,BERTANYA BILA KURANG PAHAM,DLL BERUSAHA UNTUK MENCAPAI MANUSIA YG SEPURNA,KARNA NILAI DARI ILMU ITU ADALAH AMALNYA,YG BUAHNYA DIRASAKAN OLEH DIRI,ORG LAIN,DUNIA AKHEROT. AMIIN

  8. Ketika tahyat, posisi tahrich sebenarnya bagaiama ?
    tolong asbabul haditsnya dijelaskan.
    terima kasih.

  9. hehehe..

    maap pak ibnu jakfari, numpang tanya, hadits2 dalam al kafi shahih gak?

  10. om jakfari……. kalo nulis sabar aja, jangan pake nafsu, jangan memaksakan diri agar dalilnya gak mengada-ngada, sory

  11. Terus bumi dayakan aswaja dan selamatkan umat dari faham-faham menyimpang saudaraku..

  12. Jakfari itu siapa ya ?

  13. yg saya mo tanya kenapa di antra uama wahaby mengataka bahwa ibu hawa itu kafir

    -membaca tawassul kepada nabi d hukumi kafir
    -belajar ilmu tasawuf d hukmi kafir bahkan dewasa ini di katakan bian kesyirikan

  14. aku yg bingung kok tambah bodoh

  15. kuncinya dakwah islam itu di khutbah sholat jumat karna nggak ada yang interupsi atau protes .yang kedua kebohongan yg di ucapkan 1000 kali akan di anggap benar oleh masyarakat. yg ke 3 ulama aswaja klo ngadain tahlilan yasinan dsb nggak di sertakan dasar 2 nya , mungkin ini hanya jadi renungan benar salah nya wallohua lam, apalagi klo yg di khutbai orang islam abangan.

    • as.mogo nutut ilmu rek..menurut pandangan saya,orang islam hrs masuk dlm rukun islam d iman.jelas.manusia makluk paling sempurna,krn a’kalya,inilah modal manusia belajar utk mengetahui apa yg ada dailangit dan bumi,termasuk allah swt.yg di pandu oleh algu’an dan alhadist,para sahabat dan pengikut2nya sampai skrg baik di gunakan unk urusan dunia,maupun akhirot ,sebagai pegangan hidup.beramal,namun tidak mukinlah alguran dan alhadist menerangkan semu permasalahan2 hidup secara perinci dan mendetail.ya kayak apa nanti bentuk algur’an ,alhadisya.yg udah rinkas aja[usullul hukmi ,ilmi]jarang di hatamkan,di hafalkan.semuaya allah progam.maka islam punya kandungan nilai2 ajaran yg luas,sebagai rahmat ya,ringkasya selagi pola fikir dan prilaku itu tidak menyimpang pd nilai2 agama…apa yg harus di perdepatkan walai secara terperinci dak ada ,secara nilai ada,contoh dzikir,sodagoh,silaturrohmi,amal dll kalau di tanah air kita telah menyatu dgn tradisi.yg tidak taglid dan bit,ah ya di zaman rosulullah saw.maka kesimpulanya ada yg baik ada yg buruk,yg tidak boleh dilakukan ,karna rosul saw,tidak mengajarkan ya.hal yg buruk,jusru di printah berlomba dlm kebaikan.marilah kita menuntut ilmu,dgn ilmulah jln kita semakin lurus,dgn persaudaraan hidup terasa damai,alloh yg tahu amal seorang ,sorga milikya.salam

  16. numpang baca

  17. kata kuncinya adalah:
    وما اختلف اللذين اوتوا الكتاب الا من بعد ما جأتهم البينات بغيا بينهم
    mari kita koreksi diri, fahami alur berfikir ilmiah, bekali kaidah bahasa, salaing belajar dan salaing menerima kelebihan dan mengakui kesalahan, karena..ما خرج من القلب وصل الى القلب وما غير ذالك لم يجاوز عن الاذن
    dan pakailah hati nurani dan akhlaq
    البر حسن الخلق والاثم ما حاك في صدرك وكرهت ان يطلع عليه الناس
    kecuali memang sudah tidak memiliki hati nurani dan merasa benar sendiri

  18. kata kuncinya adalah:
    وما اختلف اللذين اوتوا الكتاب الا من بعد ما جأتهم البينات بغيا بينهم
    mari kita koreksi diri, fahami alur berfikir ilmiah, bekali kaidah bahasa, saling belajar dan saling menerima kelebihan dan mengakui kesalahan, karena..ما خرج من القلب وصل الى القلب وما غير ذالك لم يجاوز عن الاذن
    dan pakailah hati nurani dan akhlaq
    البر حسن الخلق والاثم ما حاك في صدرك وكرهت ان يطلع عليه الناس
    kecuali memang sudah tidak memiliki hati nurani dan merasa benar sendiri

  19. orang wahabi mimang bukan sepaham dengan ahlu sunnah wal jama’ah sehingga wahabi di klaem sebagai aliran sesat, mungkinkah seperti itu dan apakah wahabi tidak punya harapan untuk masuk surga…??

  20. saya mau nanya adakah imam atau keterangan yang memperbolehkan sholat tahijut walau tidur dan reprensinya…secepatnya,,,ea,,,,

  21. adakah keterangan dan refrensinya yang menerangkan sholat tahajud sebelum tidur

  22. as.ikhtilaf rahmatal lilalamiin,karna kemampuan seorang dak sama;ilmu /tagwa .manusia di anjurkan berusaha,mencari d meminta k pdnya,kesadaran penting,berpegaqngan algur,an,alhadtis,dan para sahabatya,jgn saling mencaci,karena kebenaran milik allah.sihingga islam seperti tgnan satu.bila berbeda haya masalah menu,yg peting bersama2,berusaha,mencari kebenaran,sesuai anjuran,bertaya,musyawarah,mencari ilmu sebayak2ya,berijtihat,tafakkur dgn akli dan naqli. sehingga ucapan,prilaku,pikiaran,hati, bisa terarah pd hal lebih baik,bukan kpd fanatik buta,karna hubungan sesama manusia juga kepada sang pecipta,bisa kita buktikan,termasuk sebagai kholifah di bumi dan uswatun hasanah,bukan sebalikya mengaku benar malah buat onar,melangkar nilai agama islam,dgn klaim agama.semuanya kan udah jelas yg tidak jelas2,kan manusianya.mukin krn manusia ter bentuk dr dua sifat malaikat/patuh,hayawan/ sakkarepe dewe. mari kita bersama2 dlm fastabikul khoirot.jgn jadi bani israil,berhujjah tapi dak ber amal,/patuh..karena kesadaran yg tdk terbangun membuat islam akan runtuh dan hancur kelak,kehancuran islam bukan dari luar tapi dari islam sendiri./termasuk dari klaim2 islam,klompok .mari kita duduk satu meja dlm aneka menu islam.salam

  23. apakah hukum memakai purdah? apakah sah lagi whuduk ku jika menyentuh rambut perempuaan

  24. apakah hukum memakai songkok? ada yg menyatakan tiada dosa dan tiada pahala memakainya.. melainkan memakai serban..mendapat pahala memakainya.. karna itu sunnah nabi..

  25. Banyak hapal al-qur’an dan hadis tapi gampang dan senang
    1.mengkafirkan
    2.menyesatkan
    3.membid’ahkan
    4.menyalahkan
    Fenomena apakah ini??? Apanyakah yang salah??? Bukankah islam itu rahmat bukan laknat??? Ayo kita belajar intropeksi diri biar tahu diri jangan sibuk melihat orang tapi diri sendiri tak terlihat,saudaraku mari kita belajar tapi jangan pakai nafsu dan mari kita berfanatik/bertaklik tapi jangan buta,bukankah allah telah menganugrahkan pada kita apa yang di sebut panca indra pakailah itu…“GITU AZA KO’ REPOT“ salam kenal tanpa terkecuali

  26. banyak yang hafal al-qur’an dan al-hadits, tapi masih sering mengkafirkan yang lain….. allahumma sholly ala sayyidina muhammadin..

  27. aneh orang2 yg mengaku islam anti laknat ini… mereka tdk mengenal KITAB Sucinya sendiri tapi malah sok tahu dan sok islami dari penulis blog ini..atau kitabsucinya mereka berbeda dengan AlQur’an ?

    banyak dlm Al Quran Allah SWT mengutuk bahkan memerintahkan manusia dan para malaikat utk mengutuk/melaknat mereka yg berbuat zolim dan menyelisishi Allah dan Rosul Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: