Naskh Tilawah Antara Pendukung dan Penentangnya

Sikap Ulama Islam Tentang Hadis-hadis Perubahan Al Qur’an

Menyaksikan terang dan tegasnya hadis dan riwayat yang menyebutkan adanya perubahan atas Al Qur’an, maka perlu kiranya kita menyimak apa kata ulama Islam tentangya. Sebab pada kenyataannya umat Islam telah menyakini keterjagaan Al Qur’an dari perubahan, sementara riwayat-riwayat dan data-data yang ada tidak mendudukngnya bahkan justru sebaliknya. Jadi adalah sebuah keniscayaan untuk diberi penjelasan tentangnya.

Di sini dapat disebutkan bahwa di antara ulama Islam ada yang menerima apa adanya riwayat-riwayat tersebut dan menetapkan adanya perubahan, walaupun suara mereka tidak mewakili suara mayoritas umat Muslim. Sementara sebagian lainnya menerima dengan meyakini bahwa kekurangan yang ada sebagai disebut dalam riwayat-riwayat itu adalah tergolong ayat-ayat yang telah digugurkan/dimansukh-kan bacaannya.

Untuk lebih dalam mari kita teliti apa dan bagaimana konsep naskhh tersebut. 

Nashk, Ragamnya dan Kaitannya Dengan Isu Perubahan Al Qur’an

Seperti telah disinggung bahwa di antara para ulama Islam ada yang menyikapi riwayat-riwayat perubahan seperti telah diuraikan di atas dengan tetap menolak dugaan adanya perubahan. Kendati mereka menerima kashahihan riwayat-riwayat tersebut atau paling tidak sebagian besar darinya, mereka menolak anggapan adanya perubahan tersebut. Karenanya mereka harus memberikan solusi yang dapat menggabungkan antara keduanya; klaim keshahihann riwayat dan klaim keotentikan Al Qur’an.

Di sini formulasi naskh tilâwah ditawarkan sebagai solusi alternatif mempertahankan keotentikan Al Qur’an.

Apa dan bagaimana naskh tilâwah dimaksud, mari kita ikuti ulasan para ulama Islam tentangnya.

 

Defenisi Naskh

Dalam bahasa Arab, kata naskh dapat diartikan dengan dua arti, pertama, menghilangkan dan mentiadakan sesuatu, kedua, memindah sesuatu dari tempatnya tanpa mentiadakannya (memusnahkannya). Dalam Al qur’an kedua arti ini pernah dipakai.

Adapun secara defenitif, yaitu diangkatnya sebuah hukum syari’at yang telah lalu (berlaku) yang secara lahirnya seakan menunjukkan kelenggengan dengan hukum syari’at baru, sekira tidak mungkin keduanya diberlakukan secara bersamaan dalam satu waktu karena adanya pertentangan (tanâfi).

Ayat yang nâsikh artinya ayat yang menghapus kandungan hukum yang termuat dalam ayat tertentu. Dan ayat yang mansûkh adalah ayat yang dihapus kandungan hukumnya oleh ayat nâsikh tadi.

 

Ragam Naskh 

Secara teoritis, imkân, para ulama Islam telah menyebut tiga ragam bentuk naskh dalam Al Qur’an.

(1)   Nashk hukum tanpa teksnya, naskh al hukmi dûna at tilâwah..

Dalam bentuk ini, yang dihapus hanya hukum yang terkandung dalam ayat, sementara teks ayatnya tidak dihapus/digugurkan.

(2)               Nashk tilâwah/teksnya tanpa hukum,  naskh at tilâwah dûna al hukmi.

Teks ayat yang mengandung sebuah hukum tertentu itu dihapus/digugurkan, sementara hukum yang terkadung di dalamnya tetap berlaku.

Untuk bentuk ini para ulama Islam mengangkat ayat Rajam sebagaai contoh kasusnya.

(3)   Nashk hukum dan sekaligus teksnya, naskh al hukmi wa at tilâwah

Dalam bentuk ini, yang dihapus/digugurkan adalah keduanya; tekas ayat dan hukum yang terkandung di dalamnya.

Ayat Radhâ’ adalah salah satu contoh yang sering disebut-sebut untuk bentuk ini.

Untuk bentuk pertama telah disepakati dibenarkannya dan telah terbukti pula terjadinya di kalangan para ulama Islam. Sedangkan untuk bentuk kedua dan ketiga masih diperselisihkan, apa benar telah terjadi pada Al Qur’an? Sebagian ulama Islam menolaknya, sementara mayoritas menerimanya.

Al Jashshâsh-seorang tokoh bermazbah Hanafi- berkata, “Sekelompok ulama berpendapat, ‘Tidak boleh menasakh (hukum) Al Qur’an dan tilâwahnya, akan tetapi boleh menasakh hukumnya saja sementara tilâwahnya masih tetap ada.’”[1]

Abu Ishaq  asy Syîrâzi berkata, “Sekelompok ulama berpendapat tidak dibenarkaan menashk tilâwah sementara hukumnya tetap berlaku, sebab keberadaan hukum itu mengikuti keberadaan teks/tilâwahnya, maka tidak boleh pangkalnya dihapus/dimansûkh sementara tâbi’nya/yang mengikutinya ditetapkan.”[2]

Asy Syaukani berkata, “Sekelompok ulama menolak adanya naskh teksnya sementara hukumnya tetap, dan pendapat ini dipstikan oleh as Sarakhsi, sebab sebuah hukum tidak akan tetap tanpa dalil teksnya.”[3]

Selain keterangan di atas, banyak keterangan dari ulama lain, seperti Syeikh Muhammad Rasyid Ridha, Syeikh Shubhi Shaleh, Syeikh Mannâ’ al Qaththân, Syeikh Khudhari, Syeikh Abdur karim al Khathîb –penulis kitab at Tafsîr al Qur’ani Li al Qur’an, Syeikh Ali Hasan al ‘Uraidh-penulis kitaab Fathu al Mannân Fi Naskhi al Qur’an, Syeikh Mushthafa Shadiq ar Râfi’i –peenulis kitab I’jâz al Qur’an, Doktor Mushthafa Zaid-penulis kitab An Naskh Fi Al Qur’an dll.

 

Naskh Tilâwah adalah Solusi Yang Dipaksakan

Solusi adanya naskh tilâwah baik berikut hukumnya apalagi tanpa hukumnya, yang ditawarkan para ulama Islam dalam menyikapi derasnya riwayat-riwayat perubahan Al Qur’an sepertinya belum mampu menyelamatkan Al Qur’an dari dugaan terjadinya perubahan. Hal disebabkan banyak alasan. Para ulama muhaqqiqîn yang tekun meneliti telah mengarahkan panah-panah kritik tajam terhadapnya, dan hampir seluruh kritikan para ulama itu tak terjawab dengan baik oleh mereka yang meyakini terjadinya dua bentuk naskh di atas. Sehingga tampak bagi kita bahwa menawarkan solusi adanya naskh tilâwah sebenarnya hanya sekedar upaya yang dipaksakan untuk mempertahankan statsu hadis/riwayat yang terlanjur termuat dalam kitab-kitab ulama Islam yang sulit bagi mereka untuk menolek kebenaran dan keshahihannya.

Pada lembar-lembar berikut kami akan ajak pembaca merenungkan beberapa kritikan para ulama itu.

 

Para Sahabat Dan Ulama Tabi’în Tidak Mengenal Konsep Naskh Tilâwah

Pertama yang menghadang konsep Naskh Tilâwah ialah bahwa terma ini adalah terma penting yang tidak mungkin diabaikan begitu saja. Andai benar telah terjadi menasakhan tilâwah sebagian ayat Al Qur’an pastilah berita tentangnya akan datang dalam kuantitaas yang tidak sedikit dan pastilah akan ditemukan hadis yang sangat banyak yang menguatkan terjadinya, khususnya dari para ulama generasi sahabat tâbi’în.

Keseriusan para sahabat Nabi dalam mengenali ayat nama yang pertama turun, dan mana ayat yang terakhir turun, hukum Islam mana yang telah dimansukhkan…. Apakah akal sehat kita dapat menerima bahwa para sahabat itu tidak memiliki kepedulian untuk mengenali konsep naskh tilâwah dan kemudian menginformasikan kepada generasi tabi’în agar tidak bercampur aduk dengan Al Qur’an?!

Tetapi kenyatannya justru para sahabat menegaskan bahwa ayat-ayat yang dikategorikan para ulama Islam sebagai  mansûkh tilâwah itu ditegaskan sebagai bagian tak terpisahkan dari ayat  Al Qur’an tanpa ada sedikitpun singgungan tentang adanya mansûkh tilâwah. Bahkan  sebagian sahabat membawanya kepada panitia pengimpulan Al Qur’an untuk ditulis bersama ayat-ayat lainnya. Dan tidak seorang pun dari mereka yang menolaknya dengan alasan  bahwa ia telah dimansukhkan bacaannya! Sementara sebagian lainnya menuliskannya dalam mush-haf khususs milikinya dan ia selalu membacanya.

Tidak seorang pun dari para ulama sahabat, seperti Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Abu  Musa al Asy’ari, Abu Dardâ’ dkk. menyebut-nyebut adanya nashk tilâwah!!

 

Persengketaan Para Sahabat Dalam Penyampaian Ayat-ayat Al Qur’an

Hal kedua yang melemahkan klaim adanya naskh tilâwah seperti yang diaku oleh ulama Islam ialah telah terjadinya persengketaan dan perdebatan di antara para sahabat Nabi saw. dalam penyampaian ayat-ayat Al Qur’an yang secara khusus  diklaim ulama itu sebagai ayyat yang telh dimansukhkan tilâwahnya. Kendati demikian kita tidak.mendapati seorang pun dari mereka menyebut-nyebut adanya konsep naskh tilâwah sebagai solusi untuk melerai persengketaan tersebut.

Sebagai bukti saya ingatkan pembaca kepada kasus persengketaan antara Umar ibn al Khththab dengan Ubay ibn Ka’ab tentang teks ayat al Hamiyyah sebagai diriwayatkan para ahli hadis di bawah ini.

As Suyuthi telah meriwayatkan dari Imam an Nasa’i dan al Hakim –dan ia menshahihkannya- dari jalur Ibnu Abi Idris dari Ubay bin Ka’ab, ia membaca ayat:

إِذْ جَعَلَ الذيْنَ كَفَرُوا في قُلُوبهِمُ الْحميةَ ، حميّةَ الجاهِلِيَّةِ لَوْ حمَيْتُمْ كما حَمُوا لَفَسَدَ الْمَسْجِدُ الحرامُ. فَأَنْزَلَ سَكِيْنَتَهُ علَىَ رسُولِهِ.

Lalu sampailah berita pembacaan itu kepada Umar, Umar gusar terhadapnya. Kemudian Ubay dihadapkan kepada beberapa orang teman Umar, di antara mereka terdapan Zaid ibn Tsabit.

Umar berkata, “Siapa di antara kalian yang bisa membaca surah al Fath?”

Lalu Ziad membacanya, seperti bacaan kita sekarang. Lalu Umar bersikap kesar kepada Ubay. Maka. Ubay berkata, ‘Bolehkan aku berbicara?’

Umar berkata, ‘Silahkan!’

Ubay berkata, ‘Engkau telah mengetahui bahwa aku masuk menemui Nabi saw., dan beliau mengajarkan kepadaku bacaan Al Qur’an, sementara kalian berada di luar. Jika engkau kehendaki –hai Umar- aku membacakan Al Qur’an seperti yang Nabi ajarkan kepadaku, maka aku akan mengajar Al Qur’an, jika tidak, maka aku akan berhenti mengajar satu huruf pun Al Qur’an selama aku masih hidup!

Lalu Umar berkata, ‘Ajarkan Al Qur’an kepada orang-orang.’ ”[4]

Jalaluddin as Suyuthi meriwayatkan dari Abdurrazzaq, Said ibn Manshûr, Ishaq ibn Râhawaih, Ibnu Mundzir dan Al Baihaqi dari Bajâlah, ia berkata, “Umar ibn al Khaththab ra. melewati seorang bocah yang sedang membaca ayat dalam sebuah mush-haf:

النَّبِيُّ أَوْلى‏ بِالْمُؤْمِنينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَ أَزْواجُهُ أُمَّهاتُهُمْ وَ هُوَ أبٌ لَهُمْ.

“Nabi itu ( hendaknya ) lebih utama bagi orang- orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri- istrinya adalah ibu- ibu mereka dan ia [nabi] adalah ayah mereka.” (QS. Al Ahzâb [33];6)

Maka Umar berkata, ‘hai bocah, hapuslah!”

Anak itu berkata, “Ini adalah mush-haf Ubay!”

Lalu Umar mendatangi Ubay dan menanyainya. Ubay menjawab, “Aku disibukkan dengan Al Qur’an sedangkan engkaun hanya disibukkan oleh perniagaan di pasar-pasar!.”[5]

Dalam dialoq antara kedua sahabat besar tersebut tidak disebut-sebut tentang adanya naskh tilâwah, sementara itu para ulama Islam mengklaim bahwa tekh ayat yang diakui kequr’anannya oleh sabahat Ubay adalah tergolong ayat yang mansukh tilawahnya! Bukankaah akan mudah bagi sahabat Umar uuntuk menutup perdebatan itu dengan mengatakan bahwa apa yang Ubay baca adalah ayat yang telah dimansukh tilawahnya, dan ia tidak boleh membacanya lagi dengan teks tersebut?! Maka dengen demikian selesailah perselisihan tanpa ada persengketaan dan kata-kata menghina bahwa kesibukan mencari nafkah telah menyibukkan Umar dari mengetahui adanya ayat tersebut!!

Dan apa yang disebutkan dalam riwayat terakhir di atas bukan kali pertama persengketaan antara Umar dan Ubay. Telah terjadi berulang kali persengketaan antara keduanya dalam penyampaian teks suci Al Qur’an, seperti dapat Anda saksikan dalam lembaran-lembaran sebelumnya. Dan dalam persengketaan-persengketaan itu tidak terolntar dari mereka adanya naskh tilâwah! Andai benar konsep tersebut ada dan diakui para sahabat pastilah akan ditawarkan sebagai solusi yang akan menuntaskan persengketaan tersebut.

 

Naskh Ayat Al Qur’an Hanya dapat Terjadi Di Zaman Nabi saw.!

Seperti disepakati para ulama Islam bahwa pemansukhhan ayat Al Qur’an itu hanya dapat terjadi dan berlaku di masa hidup Nabi saw. Dan tidak dapat terjadi setelah wafat Nabi saw. Sehingga klaim apapun dan dari siapapun yang mengatakan telah terjadi pemansukhan ayat-ayat Al Qur’an setelah wafat Nabi saw. adalah salah dan palsu!

Sementara itu, tidak sedikit riwayat yang menyebut adanya ayat-ayat yang oleh para ulama Islam dikatakan telah dimansukhkan tilâwah/bacaannya itu masih sah dibacaa oleh para sahabat besar dan umumnya umat Muslim dewasa itu.

Beberapa contoh di bawah ini akan memperkuat apa yang kami katakan.

Imam Muslim dan para ahli hadis lain meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Aisyah –istri Nabi-:

كانَ فيما أُنْزِلَ مِنَ القُرآنِ {عشر رضعاتٍ معلُوماتٍ يُحَرِّمْنَ} ثُمَّ نُسِخْنَ بِ {خمْسِ معلُوماتٍ}، فَتُوُفِيَ رَسُوْلُ اللهِ –صلى اللهُ عليه و سلم- و هُنَّ فيما يُقْرَأُ مِنَ القرآنِ.

“Adalah termasuk yang diturunkan dalam Al Qur’an adalah tentang hukum sepuluh kali menyusui adalah mengharamkan (menjadikan haram dinikahi) kemudian dihapus dengan hukum lima kali menyusui mengharamkan. Rasulullah saw. wafat sementara ayat-ayat itu masih dibaca sebagai Al Qur’an.”[6]

Urwah ibn Zubair -keponakan Aisyah, istri Nabi Muhammad saw.- meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata:

كانَتْ سورَةُ الأحزابِ تُقْرَاُ في زمَنِ النبيِّ (ص) مِئَتَيْ آيَة، فَلَمَّا كتَبَ عثْمانُ المصاحِفَ لَمْ نَقْدِرْ مِنْها إلاَّ ما هُوَ الآنَ.

“Dahulu surah Al Ahzâb itu dibaca di masa hidup Nabi sebanyak dua ratus ayat. Lalu setelah Utsman menulis mush-haf-mush-haf kita tidak bisa membacanya kecuali yang sekarang ada ini.”[7]

Di sini tampak jelas dari pernyataan Siti Aisyah bahwa hilangnya banyak ayat tersebut bukan diakibatkan adanya nashk tilâwah, akan tetapi diakibatkan oleh Utsman –selaku Khalifah yang memerintahkan penulisan Al Qur’an dan membakar data-data yang tidak ia sepakati!

Sahabat Umat berkata:

وَ لَوْ لا أَنْ الناسُ يقولُونَ زادَ عُمَرُ في كتابِ اللهِ عزَّ و جَلَّ لَكَتَبْتُهُ بِخَطِّيْ حَتَّى أُلْحِقُهُ بالكتابِ.

“Andai bukan karena manusia mengatakan Umar menambah-nambah dalam Kitab Allah pasti aku telah menulisnya dengan tulisanku sendiri sehingga aku gabungkan dengan Kitabullah.”[8]

Jalaluddin as Suyuthi meriwayatkan dari jalur Hamîdah binti Yunus, ia berkata, “Ayahku membacakan ayat dalam mush-haf Aisyah- saat itu ayahku berusia delapan puluh tahun-:

إِنَّ اللَّهَ وَ مَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوا تَسْليماً وَ عَلَى الذينَ يُصَلُّونَ الصفُوْفَ الأُوَلَ.

Sesungguhnya Allah dan malaikat- malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang- orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya, dan kepada oraang-orang yang shalat di shaf-shaf terdepan.”(QS. Al Ahzâab [33];56(

Aisyah berkata, “Demikianlah bacaan ayat tersebut sebelum Utsman merubah-rubah mush-haf!![9]

Bukankah kata-kata Aisyah di atas tegas mengatakan bahwa tambahan itu diyakini kequr’anannya sesuai dengn apa yang ia terima dari Nabi saw. dan kemudian ia tetapkan dalam mush-hafnya hingga zaman kekhalifahan Utsman, orang-orang membacanya dan kemudian ketika Utsman memerintahkan penyatuan Al Qur’an, tambahan itu digugurkan… Utsman telah merubah mush-haf-mush-haf! Jadi jelas dari ucapan Asiyah bahwa ia menuduh Khalifah Utsman ibn Affân lah yang telah merubah ayat tersebut! Dan tidak ada pemansukhan atasnya sama sekali! Ummul Mukimin Aisyah ra. tetap meyakini kequr’anannya, demikian juga dengan banyak kalangan umat Islam yang mengikuti bacaan mush-haf Aisyah, seperti Abu Yunus;  ayah Hamîdah juga meyakini kequr’anannya!

 

Naskh Hanya Belaku Pada Ayat Hukum

Di antara syarat-syarat dasar berlaakukanya naskh adalah bahwa apa yang dimaknsukh itu berupa hukum syari’at, bukan berita, khabar atau prinsip-prinsip keyakinan. Sementara itu, seperti jelas disaksikan bahwa tidak sedikit ayat-ayat yang mereka katakan telah dimansukh-kan tilâwahnya itu adalah ayat-ayat yang memuat berita bukan hukum syari’at!

Dapatkah kita membayangkan bahwa dua pertiga Al Qur’an –dalam riwayat Khalifah Umar itu- yang konon telah dimansukh-kan tilâwahnya itu kesemuanyaa hanya memuat hukum saja?!

Dapatkah kita memastikan bahwa puluhan ayat Al Qur’an yang dahulu turun dalam surah al Ahzâb –dalam riwayat para sahabat- dan sekarang tidak dapat kita temukan lagi itu adalah ayat-ayat hukum?!

Apakah Anda beranggapan bahwa kalimat: وَ رَهْطَكَ الْمُخْلَصِيْنَ dalam ayat:

وَ أَنْذِرْ عَشيرَتَكَ الْأَقْرَبينَ، وَ رَهْطَكَ الْمُخْلَصِيْنَ.

adalah terkait dengan hukum syari’at?!

Apakah Anda setuju dengan Imam an Nawawi ketika mengatakan bahwa, “Kata-kata: وَ رَهْطَكَ الْمُخْلَصِيْنَtermasuk bagian dari ayat Al Qur’an yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. kemdian ia mansukhkan?! Dan tambahan kalimat itu tidak terdapat dalam riwayat Imam Bukhari!!”[10]

Apakah kita akan bersi keras mengatakan bahwa berbagai ayat yang telah direkam dalam riwayat para sahabat seperti telah kami sebutkan sebelumnya- dan sekarang tidak lagi dapat kita temukan itu adalah ayat-ayat  hukum?

Sulit rasanya mempertahankan anggapaan bahwa seluruh ayat yang telah disebutkan oleh riwayat-riwayat itu sebagai bagian dari ayat-ayat yang telah dimansukh-kan tilâwahnya! 

Dan akhirnya Anda berhak bertanya-tanya, apa hikmah dibalik ditetapkan dan diberlakukannya sebuah hukum syari’at tertentu dalam sebuah ayat Al Qur’an, kemudian tekas ayat yang menunjukkan hukum itu dihapus/dimansukhkan sementara hukum syari’at yang termuat di dalamnya ditetapkan? Bukankh teks ayat Al Qur’an itu sebagai sandaran hukum syari’at tersebut? Lalu jika ia dihapus, apa yang tersisa untuk dijadikan dasar? Dapatkan kita menetaapkan sebuaah hukum dengan teks yang telah hilang dan tidak ketahuan rimbanya?!

Ibnu al Khathîb al Misri berkata dalm kitab al Fur’qân-nya, “Dan di antara yang yang sangat mengherankan adalah anggapan mereka bahwa ada ayat-ayat tertentu telah dimansukh-kan tilâwahnya sementara hukumnya tetap berlaku. Ini adalah pendapat yang tidak akan dikelurkan oleh seorang pun yang berakal sehat! Sebab dihapusnya sebuah hukum sementara teks ayatnya tetap ada, adalah hal yang masuk akal dan dapat diterima, karenaa sebagian hukum itu tidaak turun sekaligus, ia turun secara bertahap… Adapun yang meraka klaim yaitu dihapusnyaa teks ayat sementara hukumnya harus tetap berlaku adalah perkara yang tidak dapat diterima oleh seorang yang menghargi dirinya dan menghormati anugerah Allah berupa akal sehat. Lalu apa hikmah dhapusnya teks ayat tertentu sedangkan hukumnya tetap?! Apa hikmah dibalik ditetapkannya sebuah undang-undang yang wajib dilaksanakan, dan kemudian teks undang-undang itu dihapus sedangkan hukmunya teetap berlaku?!”[11]

 

Latas Belakang Kelahiran Konsep Naskh Tilâwah

Dari pemaparan ringkas dapat dibuktikan bahwa anggapan terjadi Naskh Tilâwah adalah tidak berdasar. Ia hanya sekedar anggapan yang dipaksakan untuk mempertahankan kayakinan yang telaah dibangun sebelumnya bahwa hadis/riwayat yang menunjukkan aadanya perubahan itu adalah shahih dan tidaak boleh diragukan keotentikannya sebab ia telaah termuat dalam kitab-kitab hadis standar, khususnya Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, yang apabila kita buka pintu untuk meragukan keshahihannya maka akan menjadi peluang bagi para peragu untuk merong-rong sendi-sendi ajaran Islam.

Selain itu, riwayat-riwayat tahrîf itu telah menyebutkan banyak nama sahabat Nabi saw. yang dinukil telah memberikan pernyataan telah terjadinya perubahan dalam Al Qur’an dengan menganggap teks tertentu yang sekarang tidak termuat dalam Al Qur’an sebagai bagian dari ayat-ayat suci Al Qur’an. Dan pernyataan yang memuat tuduhan terhadap sahabat tertentu bahwa telaah merubah Al Qur’an dengaan menggugurka teks tertentu dari rangkaian ayat-ayat Al Qur’an.

Menghadapi semua itu, mesti dilakukan upaya untuk dapat mengharmoniskan antara keyakinan bahwa Al Qur’an adalah terpeliharaa dari perubahan tangan manusia dan keyakinan akan keshahihan riwayat-riwayat para ulama Islam, khususnya Imam Bukhari dan Muslim! Maka naskh tilâwah-laah yang ditawarkan sebagai solusi pengharmonis! Demikian dalam hemat sebagian pemerhati masalah ini.

Di samping itu, kegemaran berlebihan dalam mengungkap ayat-ayat yang mansûkhah telah menyebabkan mereka kekeliruaan konseptual yang tidak semestinya terjadi! Semua itu dilakukan agar dapat menjaring sebanyak mungkin ayaat yang ddapat dimasukkan dalam daftar ayat-ayat mansûkhah. Lebih lanjut kami persilahkan Anda merujuk Mabâhits Fî ‘Ulûmul Qur’ân karya DR. Shubhi Shâleh:265-266.                                                                                         


[1] Al Fushûl Fi al Ushûl,2/253.

[2] Al Luma’ Fi Ushûlil Fiqh,1/58.

[3] Irsyâd aal Fuhûl,190.

[4] Ad Durr al Mantsûr,7/535, Mustadrak; al Hakim,2/225 dan ia mengatakn hadis ini shahih berdsarkan syarat Bukhari&Muslim, tapi kedunya tidak meriwayatkannya. Adz Dzahabi pun menyetujui komentar al Hakim ini.

[5] Ad Durr al Mantsûr,5/183.

[6] Shahih Muslim,4/167, Sunan ad Dârimi,2/157, Mushannaf,7/467 dan 470, Sunan at Turmudzi,3/456, as Sunan al Kubrâ,7/454 hadis no.1597, Musykil al Âtsâr; ath Thahhawi,3/6, Sunan an Nasa’i,6/100, al Muhalla; Ibnu Hazm,11/191, Muwaththa’ Imam Malik,2/117 dan Musnad Imam Syafi’i,1/220.

[7] Al Itqân,2/25.

[8] As Sunan al Kubrâ,4/272 hadis no.7151.

[9] Al Itqân,2/32

[10] Syarah Shahih Muslim; An Nawawi,3/82. Kata-kata an Nawawi, “Dan tambahan kalimat itu tidak terdapat dalam riwayat Imam Bukhari!!” sepertinya tidak benar, sebab dalam Shahih Kitab at Tafsir, tafsir Tabbat Yadâ Abi Lahabin wa Tabb, 6/221 ayat tersebut juga dinukil dengan tambahan kalimat itu. Baca kembali keterangan penulis pada: Bagian Ketiga.

  [11] Al Furqân:156. Dalam kitab tersebut Ibnu  al Khatîb menegaskan pendangannya bahwa telah terjadi perubahan pada Al Qur’an. Kerenanya para ulama al Azhar meminta pemerintah Mesir agar membredel penerbitaan kitab tertebut. Jadi Ibnu al Khatîb adalah salah seorang ulama al Azhar-Mesir beraliran Ahlusunah yng meyakini terjadinya perubahan daalam Al Qur’an. 

5 Tanggapan

  1. Assalamu alaikum
    adik-adik para kementataor yang gigih dan tangguh, adikku el askari, dody, khumani, dkk..
    apa nggak lebih baik kalian menaggapi tulisan ini dari pada komentar nggak karuan.
    coba tanggapi secara ilmiah dan ala santri, jangan ala koboi…
    Saya cuma mau tanya sedikit ya:
    A)Apa buktinya kalau tambahan-tambahan dalam ayat-ayat yang disebutkan saudara Ibnu Jakfari itu memang bener\bener ayat alquran? jikalau ada baru kita boleh masuk bebak berikutnya mengatakannya telah dimasukhkan tilawahnya.
    B) Apa ada bukti kalau semua tambahan yang dicontohkan pak Ibnu Jakfari dari hadis-hadis Ahlusunnah wal jamaah itu tergolong mansukh tilawah?
    sudah sekian dulu, sambil nentosi tanggapan saking konco-konco, bocah-bocah santri seng ganteng-ganteng lan sregep sinawu.
    Wassalam.

  2. tolong ada website yang menghujat syiah tanpa rasionalitas, coba klik di http://hakekat.com/

    saya sudah telusuri pemikiran mereka yg menghujat nikah mutah tapi mentah secara dalil.

    tolong dikasih jawaban yang sepadan, saya mendukung website seperti ini.

    regards,

    dari yg selalu mencintai Imam Husein As

    ____________
    -Ibnu Jakfari-

    Assalamualaikum mas as al Asyari bin Gus Dur Sunni….
    Insyaallah blog ini akan memberikan jawaban baik langsung maupun tidak terhadap berbagai tuduhan palsu atas Syi’ah.

    http://hakekat.com/ adalah blog wahhabi yang bersemangat 45 menghujat Syi’ah. Terima kasih atas semangatnya.

  3. He… he… he… ini beberapa nama dari sekian banyak ulama’ syiah yang dengan tegas menyatakan terjadi tahrif dalam alqur’an.

    ____________
    -Ibnu Jakfari-

    Pak el Wahhaby, kami harap tanggapan saudara mengena pada tema makalah, dan bukan melenceng…. karenanya kami tidak dapat memuat komentar saudara.
    Maaf.

  4. Salam
    minta ustaz jelaskan sedikit mengenai ayat rajm yg dikatakan terdapat dalam al-Kafi (serta nota kakinya). Syukran



    Ibnu Jakfari:

    Tanyakan kepada yang menyebutkan di kitab Al Kafi, bab apa halaman berapa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: