Menjawab Sidogiri (7)

Menguak Tuduhan Palsu Tim Sidogiri Terhadap Ulama Syi’ah (2)

Setelah kita saksikan kepalsuan tuduhan kepada Syeikhuna al Ajalla Fadhl ibn Syâdzân bahwa beliau telah menyatakan secara tagas terjadinya tahrîf… kini mari kita ikuti bersama kepalsuan tuduhan lain yang dilontarkan Tim Sidogiri.

· Furât al Kûfi (ulama Syi’ah abad ke-3)

Tuduhan itu didasarkan karena beliau menyebut riwayat yang disinyalir menunjukkan adanya penambahan dalam ayat-ayat Al Qur’an dal am tafsir beliau. (1/18).

Sementara semua mengetahui bahwa tafsir Furat al Kufi hanya memuat riwayat tanpa sedikitpun memberikan komentar.

Maka dari sini jelas terlihat bahwa klaim bahwa Furat al Kufi termasuk yang meyakini tahrîf Al Qur’an hanya didasarkan pada adanya riwayat dalam kitab tafsir beliau.

Lalu bagaimana Tim Sidogiri mengatakan bahwa Furât al Kûfi termasuk yang tegas-tegas mengatakan dan meyakini adanya tahrîf? Apa yang mereka maksud dengan kata-kata “tegas” itu? Apakah mereka memiliki kamus sendiri yang tidak sama dengan kamus-kamus bahasa Indonesia yang berlaku?!

Jika sekedar meriwayatkan dapat dituduh “tegas-tegas’meyakini tahrîf, maka pastilah kita akan dengan mudah menyebutkan tarusan ulama Ahlusunnah yang terjaring sebagai yang meyakini tahrîf! Khususnya Bukhari, Muslin dan penulis kitab-kitab Shihâh, Sunan dan Masânid.

Apakah jika yang meriwayatkan hadis yang “konon” dapat dimaknai tahrîf seorang ulama Syi’ah, kalian berhak menuduhnya meyakini tahrîf?! Adapun jika yang menulisnya adalah seorang ulama Ahlusunnah, mereka tidak berhak disebut sebagaii yang meyakini tahrîf? Inikah kajian dan penelitian ilmah yang kalian bangakan itu?!

Inikah kejujuran penyimpulan yang kalian kedepankan dalam tulisan-tulisan kalian?

Sepertinya, kejujuran, ilmiah, penelitian dan istilah-istilah lain itu memiliki makna dan pengertian khusus yang tidak dapat ditemukaan dalam kamus dan penggunaan orang lain?!

· Ayyâsyi (ulama Syi’ah abad ke-3)

Nama lengkap al Ayyâsyi adalah Muhammad ibn Mas’ud al Ayyâsyi, penulis kitab Tafsir yang cukup dikenal. Syeikh an Najjâsyi meneyebut biodatanya demikian, “Beliau tsiqah, shadûq, seorang tokoh mazhab ini. Beliau banyak meriwayatkan dari perawi dhu’afâ’. Pada awal hidupnya ia bermazhab Sunni dan banyak meriwayatkan dari ulama Sunni.”[1]

Syeikh ath Thûsi menyebutnya demikian, “Paling banyaknya penduduk timur dan barat dakam ilmu, sopan santun, keutamaan di samanya. Ia menulis lebih dari 200 karya tulis, telah kami sebutkan dalam kitab kami al Fihrisat. Ia punya majlis khusus untuk pengikut Syi’ah dan majlis khusus untuk orang-orang Ahlusunnah. Semoga Allah merahmatinya.”[2]

Seperti telah disingggung, kendati beliau seorang yang jujur terpercaya, tisqah, akan tetapi beliaau banyak menukil hadis dari kalangan perawi yang lemah. Hadis-hadis dalam kitab tafsirnya mursal (tidak disebutkan mata rantai periwayatnnya). Hal iru dilakukan oleh para penulis ulang naskah tafsir beliau dengan tujuan meringgkas, tetapi tindakan itu justru merugikan bagi usaha penelitian kualitas hadis yang beliau sebeutkan dalam tafsir tersebut. Selai itu, tafsir tersebut sampai kepada kita tidak lengkap, hanya sampai pada tafsir surah al Kahfi.[3]

Al Ayyâsyi Dan Tahrîf Al Qur’an

Seperti Anda ketahui bahwa Tim Sidogiri menuduh al Ayyâsyi sebagai yan secara tegas menyatakan terjadinyaa tahrîf pada Al Qur’an, sementara itu, tidak ada bukti penegasan itu. Tuduhan itu hanya didasarkan pada beberapa riwayat yang beliau sebutkan dalam tafsir beliau. (1/12-13 dan 47-48).

Dan seperti berulang kami tegaskan bahwa tidaklah benar kita menisbatkan sebuah pendapat kepada seorang hanya sekedar karena orang tersebut meriwayatkan sebuah ada beberapa hadis yan secara lahiriah mungkin dapat dimaknai tahrîf. Apalagi –dalam kasus kita ini- tafsir al Ayyâsyi telah dihapus sanad/mata rantai periwayatnya sehingga tidak lagi dapat diteliti apakah hadis yang menyebutkan tahrîf itu shahih atau lemah!

Tetapi terlepas dari itu semua hadis yang disinyalir menunjukkan tahrîf itu telah diteliti para ulama Syi’ah dam mereka memberikan arahan bahwa apa yang disebutkan dalam riwayatriwayat itu menunjukkan adanya penghapusan nama-nama para imam Ahlulbait as. adalah bukan berarti nama-mana tersebut dimuat dalam ayat-ayat suci Al Qur’an lalu dihapus oleh sebagian umat ini, akan tetapi seperti yang juga telah kami jelaskan sebelumnya bahwa nama-nama itu disebutkan dalam tafsir yang didasarkan pada wahyu yang dalam istilah ulama Syi’ah (berdasarkan hadis-hadis Ahlulbait as.) diistilahkan dengan tanzîl. Itulah yang mengalami penghapusan, bukan tekas ayat Al Qur’annya. Tentunya penaknaan demikain itu dilakukan setelah kita menganggap untuk sementara waktu bahwa hadis-hadis shahih sanadnya.

· Abu al-Qâsim Ali ibn Ahmad al-Kufi (w.325H)

Nama lain yang juga dituduh menyatakan terjadinya tahrîf secara tegas adalah Abu al Qâsim Ali ibn Ahmad al Kûfi. Ia dituduh menyatakan kayakinan tahrîf itu dalam kitab al Istighâtsah-nya:51-53).

Untuk lebih jelasnya, perhatikan ulasan di bawah ini.

Siapakah Abu al Qâsim Ali ibn Ahmad al Kûfi Dan Bagaimana Kualitas Kitab al Istighâtsah?

Sebelum mengandalkan sebuah kitab sebagai bukti sebuah keyakinan yang akan dinisbahkan kepada sekelompok umat atau mengganut sebuah mazhab, sudah seharusnya seorang peneliti untuk mengenal jati diri penulis atau ulama yang dibawakan pendapatnya dan sejauh mana kitab yang diandalkannya itu diterima oleh tokoh-tokoh mazhab yang hendak diteliit tersebut! Jika tidak, maka jalaslah bahwa penelitian itu tidak memenuhi unsur-unsur minimal sebuah penelitian ilmiah.

Sepertinya norma dan etika penelitian ini yan tidak dimiliki oleh adik-adik yang tergabun dalam Tim Penulis Buku Sidogiri. Maklum mungkin mereka masih pemula yang baru terjun ke dalam dunia penelitian.

Mereka menyebut nama Abu al Qâsim Ali ibn Ahmad al Kûfi sebagai sebagai tokoh dan pemuka Syi’ah yang secara tegas menyatakan terjadinyan tahrîf.[4]

Akan tetapi, apabila kita merujuk pernyataan dan komentar ulama dan tokoh Syi’ah tentang Abu al Qâsim Ali ibn Ahmad al Kûfi, kita pasti akan menjadi heran atas sikap dan tindakan Tim Penulis Buku Sidogiri, karena ternyata Abu al Qâsim Ali ibn Ahmad al Kûfi adalah seorang yang sangat dikecam oleh para tokoh dan ulama Syi’ah. Mereka menegaskan bahwa Abu al Qâsim Ali ibn Ahmad al Kûfi adalah seorang yang sesat dan kitab al Itsighâtsah karangannya adalah penuh dengan kesesatan tersebut!

Perhatikan komentar ulama dan tokoh Syi’ah di bawah ini:

An Najjâsyi berkata, “Ia mengaku dari keturunan Abu Thalib, pada akhir usianya ia bersikap ghuluw (sesat dalam keyakinannya dengan mendewakan para imam) dan rusak/fasad mazhabnya. Ia mengarang banyak kitab, kebanyakannya mengandung keyakinan sesat, di antaranya adalah kitab al Itighâtsah ini, seperti ditegaskan oleh Syeikh. Pada awalnya ia bermazhab Syi’ah Imamiyah dan mengarang beberapa buku yang lurus, di antaranya kitab al Awshiyâ’ dan kitab tentang Fikih seperti tartib kitab karya al Muzani. Kemudian ia kacau dan menampakkan mazhab al Khamsah dan menulis buku tentang al Ghuluw…. “

Ibnu al Ghadhâiri berkata, “Ia seorang kadzdzâb/pembohong besar, penyandang bid’ah dan pendapat yang sesat. Saya pernah melihat bahwa ia punya banyak kitab karangan, tidak pantas ditoleh. Allamah berkata maksud mazhab al Khamsah di kalangan kaum Ghulât –semoga Allah melaknat mereka- adalah bahwa Salman al Fârisi, al Miqdâd, Ammâr, Abu Dzarr, Amr ibn Umayyah adh Dhamri adalah yang ditugasi untuk mengatur kemaslahatan alam semesta.”[5]

Inilah sejatinya Abu al Qâsim Ali ibn Ahmad al Kûfi di mata ulama dan tokoh Syi’ah dan itulah kualitas kitab al Istiggâtsah yang diandalkan Tim Penulis Sidogiri dalam menuduh Syi’ah Imamiyah dengan tuduhan tahrîf. Lalu apa yang tersisa dari kualitas ilmiah penelitian Tim tersebut. Mengapa mereka bangga menuduh Syi’ah dengan penegasan –andai benar ada penegasan dari Abu al Qâsim Ali ibn Ahmad al Kûfi – seorang yang oleh ulama Syia’h sendiri sudah dipastikan sesat dan keluar dari kafilah Syi’ah Imamiyah?!

Andai tindakan serupa dilakukan oleh pihak lain dengan menuduh Ahlusunnah berkeyakinan tertentu yang pernah dinyatakan dan ditegaskan oleh seorang ulama Ahlusunnah yang telah menyimpang dari mazhab Ahlusunnah, apakan ulama Ahlusunnah akan menerimanya? Atau justru mereka akan keberatan dan menolaknya dengan mengatakan, kami tidak akan bertanggung jawab atas pendapat-pendapat sesatnya! Dan kami tidak akan menerima apabila kesesatannya dinisbatkan kepada mazhab kami!

Apakah kalian rela jika ada yang menuduh bahwa di antara keyakinan Ahlusunnah adalah bahwa Nabi Muhammad bukan nabi terakhir, masih ada nabi lagi setelah beliau yaitu Mirza Ghulam Ahmad, dengan alasan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang ulama Sunni!! Atau dengan alasan bahwa di antara yang meyakini kenabian Mirza Ghulam Ahmad adalah beberap ulama Sunni!!

Pasti kalian akan menjawab bahwa Mirza Ghulam Ahmad atau siapapun ulama Sunni yang meyakini kenabiannya telah keluar dari Ahlulsunnah bahkan telah keluar dari agama Islam dengan keyakinan sesatnya itu! Kerenanya tidak benar apabila keyakinan seperti itu dituduhkan kepada kami Ahlusunnah!! Kalian benar dalam alasan yang kalian kemukakan itu… siapapun tidak berhak menuduh kalian dengan tuduhan seperti itu, sebab Mirza Ghulam Ahmad telah sesat dan keluar dari mazhab kalian!!

Lalu jika demikian mengapa kalian menudu Syi’ah dengan menyebut nama orang yang telah dilaknat dan dikecam oleh ulama dan tokoh-tokoh Syi’ah?! Adilkan sikap kalian itu?

Tetapi sekali lagi, saya dapat memaklumi mengapa Tim Sidogiri terjatuh dalam kesalahan seperti ini. Sebab mereka telah tertipu oleh provokasi para penulis Wahhabi yang tak henti-hentinya, siang malam menebar benih-benih perpecahan di tengah-tengah umat Islam dengan menfitnah mazhab Syi’ah dengan berbagai macam kekejian dan kepalsuan.

Sekali lagi saya dapat memaklumi mengapa kesalahan itu terjadi!! Semoga Tim Penulis Sidogiri segera kembali ke Khiththah para pendahulunya dengan tidak bermesraan dengan kaum Wahhabi dan penulis-penulis Wahhabi bayaran dan antek-anteknya; para penabur fitnah yang aktif mendatangi pesantern-pesantren saudara-saudara kita Ahlusunnah.

Nasihat saya untuk kalian semua, perhatikan firman Allah SWT ini:

وَ لا تُطِعْ كُلَّ حَلاَّفٍ مَهينٍ * هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَميمٍ * مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثيمٍ * عُتُلٍّ بَعْدَ ذلِكَ زَنيمٍ *أَنْ كانَ ذا مالٍ وَ بَنينَ *

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, Yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa. Yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya. Karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. (QS. al Qalam; 8-14)

Jika kalian renungkan ayat-ayat di atas di keheningan malam, pastilah akan tampak bagi kalian bahwa apa yang difirmankan Allah SWT di atas sangat relefan dengan para penabur fitnah yang gentayangan masuk kelua PONPES kaum Muslimin untuk menabur benif furqah dan perpecahan…. mereka kasar sikap dan tutur katanya dan terkenal kejahatannya… . dan selain itu, mereka manawarkan harta yang tidak sedikit bagi sesiapa yang mau menjual agamanya dengan bergabung dalam kafilah menabur fitnah dan pemecah belah umat Islam. Tetapi ketahuilah wahai teman-temanku bahwa:

وَ ما أُوتيتُمْ مِنْ شَيْ‏ءٍ فَمَتاعُ الْحَياةِ الدُّنْيا وَ زينَتُها وَ ما عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَ أَبْقى‏ أَ فَلا تَعْقِلُونَ.

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya.” (QS.al Qashash [28];60(

وَ لا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلى‏ ما مَتَّعْنا بِهِ أَزْواجاً مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَياةِ الدُّنْيا لِنَفْتِنَهُمْ فيهِ وَ رِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَ أَبْقى‏ .

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS.Thaha [20];131)

Dan yang penting sekarang, camkan baik-baik bimbingan Al Qur’an di bawah ini:

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا إِنْ جاءَكُمْ فاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصيبُوا قَوْماً بِجَهالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلى‏ ما فَعَلْتُمْ نادِمينَ.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurât [49];6)

Adakah kefasikan yang lebih kental dari seorang yang serampangan menuduh saudara Muslim seagamanya telah kafir dan menfitnahnya meyakini kesesatan?!

Maka dari itu jauhilah prasangka buruk dan jangan berkata kecuali apa yang kalian ketahui dengan pasti tanpa ada kesamaran sediktipun.

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثيراً مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَ لا تَجَسَّسُوا وَ لا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضاً أَ يُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحيمٌ .

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS. Al Hujurât [49];12)


[1] Rijâl an Najjâsyi:247.

[2] Rijâl ath Thûsi:497.

[3] Baca adz Dzarî’ah,4/295.

[4] Mungkinkkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH?:303.

[5] Mu’jam Rijâl al Hadîts; Sayyid Imam Abu al Qâsim al Khû’i,11/246-247.

29 Tanggapan

  1. Salam lagi buat ikhwani Sidogiryyun dan akhawati Sidogiryyah dan semua yang sependata dengan kalian.
    tuan ibnu jakfari sudah membela tokoh-tokoh Syiah yang kalian tuduh beri’tiqad tahrifnya al qur’an…. terbukti kan kalau mereka itu tidak bisa dituduh meyakini tahrif?! Tidak ada pernyataan secara tegas seperti kata buku sidogiri. Lalu dari mana ya kira-kira buku sidogiri itu mengalap informasi itu?
    Kalau menulis harus dicek dulu langsung ke buku aslinya, supaya tidak jadi korban kekeliruan orang lain.

  2. Kirimi berita

  3. Saudara Aminuddin, Kalo nggak tahu jangan ngomong . buktinya data yang ditulis saudara el-Askari dari perkataan-perkataan ulama’ syiah tentang tahriful qur’an tidak di tampilkan oleh bung jakfari (sebab saya pernah melihat sebentar ketika ditampilkan namun kemudian dibuang kembali). mungkin dia tidak bisa membuat pembelaan terhadap perkataan perkataan tersebut. Bagaimana misalnya al-Mufid dengan perkataan tahrifnya, al-Kasyani, Ni’matullah al-Jazairi, an-Nuri ath-Thabrisi denagan Fashlul Khitabnya De el el.
    kenapa nggak berani terang-terangan seperti mereka???
    kenapa nggak buat Fashlul khitab edisi kedua dan selanjutnya???
    Mengapa kalian juga tidak berani mengatakan dengan tegas bahwa al-Kafi seluruhnya shaheh??? Tidak seperti at-Tijani yang dengan tegas mengatakan sedemikian meskipun akhir-akhir perkataan itu juga berusaha disembunyikan???

    Ya..mungkin karena kalian minoritas sehingga terpaksa harus selalu berbunglon ria (pinjam bahasanya el-Askari) beraninya hanya dibalik layar. jika kalian yang benar mengapa harus sembunyi-sembunyi, ayo berjihad toh umpama kalian mati akan mati syahid dalam membela kebenaran.
    itu menunjukkan kalian adalah pengecut, sampai-sampai Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah dan Para Imam yang lain Radiyallahu anhum (Allahumma a’idni min barokatihim) sering dikatakan bertaqiyyah.

    Ibnu Jakfari:

    Kata-kata tidak bermutu adalah cermin pengucapnya…. masalah-masalah yang Anda angkat semuanya sudah terjawab di sini… Jadi teliti sebelum berkomentar.

  4. Ah, seandainya saja A.Jalal tidak menempatkan otaknya pada kandang babi, jadi bisa dipake deh otaknya.

  5. Anda menyalahkan ath-Thabrisi hanya dengan logika dan dengan tanpa dalil. silahkan pembaca yang menilai siapa yang nggak bermutu.
    Mestinya kalo mau menyanggah muhadits syiah sekaliber ath-thabrisi lakukan dahulu pembedahan satu-persatu terhadap riwayat yang ia sampaikan dalam fashlul khitab bandingkan dengan perkataan ulama’ syiah yang berkata senada, baru berkesimpulan.

    ______________________
    Ibnu Jakfari

    Tolong Anda sebutkan di mana saya menyalahkan ath Thabarsi dengan logika dan dengan tanpa dalil dalam artikel di atas?

    Selain itu saya sarankan Anda menyadari bahwa kata-kata Anda itu mengandung kontradiksi…. Apakah logika itu belum cukup? Kalau seperti yang Anda katakan bahwa saya menyalahkan dengan logika, ya itu artinya saya sudah menggunakan dalil? jadi apa maksud kata-kata Anda setelahnya: tanpa dalil??

    Al hasil, Anda jangan menyimpang dari apa yang saya bahas di atas! Saya membuktikan bahwa fitnah Tim Sidogiri itu terbukti memalukan! menuduh ulama-ulama yang saya sebutkan nama mereka itu sebagai yang tegas menyatakan tahrif, eh ternyata tidak!

    Tolong sampaikan kepada para Kiai Anda, jika memang tidak berani tampil langsung mengahadapi Ibnu Jakfari di blog yang membantah dan menelanjangi mereka ini ya tolong kalau menugasi santrinya untuk menghadapi Ibnu Jakfari ya pilih yang agak pintar dan berlogika sehat, agar tidak membuat malu nama besar Ulama Sunni!! Baru mengahadapi Syi’ah muallaf saja sudah kedodoran!!
    wassalam.

  6. @ A.Jalal
    Ucaapan ente yg ini :

    “Ya..mungkin karena kalian minoritas sehingga terpaksa harus selalu berbunglon ria (pinjam bahasanya el-Askari) beraninya hanya dibalik layar. jika kalian yang benar mengapa harus sembunyi-sembunyi, ayo berjihad toh umpama kalian mati akan mati syahid dalam membela kebenaran.”

    Yang berbunglon ria itu ente dan kiyai2 ente.. … bilang sama “CS” ente Si Toying Alcaf, kpn janjinya mau ditepatin..? suruh inget2 die ketumu syiah “amatiran” di semarang udah kaya tikus kecemplung sumur, pucet…klo ketemu ane titip omomgan tlg ente bilang sama die, kpn janjinya ditapatin? jgn ngumpet trs gini…! jgn kaya bunglon hadromut..!

  7. Dalam posting sebelum ini anda menulis:
    “Apa yang dilakukan Syeikh Nuri telah bertentangan dengan para ulama Syi’ah sendiri sejak zaman Syeikh Shaduq sampai sekarang (mengapa tidak bilang sejak al-Kulaini). Telah banyak kitab dan komentar ulama Syi’ah yang menyalahkan Syeikh Nuri. Ia terjebak dalam jeratan riwayat-riwayat yang belum ia seleksi. Mudah-mudahan dalam kesempatan lain saya berkesempatan membicarakan masalah ini lebih detail lagi”
    apakah perkataan ini tidak memojokkan dia.

    Saya minta anda menulis artikel yang membedah tentang riwayat-riwayat yang ada dalam kitab faslul khitab satu persatu (yang dikatakan ada 2000 riwayat tentang tahriful qur’an) , di blog ini. kalo anda sudah membuatnya dan terbilang valid baru anda salahkan kitab fashlul khitab itu yang telah membongkar keyakinan syiah yang sesungguhnya tentang tahriful quran.
    Makanya yang sebetulnya saya saluti pemuka dalam agama Syiah adalah orang yang bertipologi seperti ath-Thabrisi yang dengan tegas mengatakan terjadi tahrif dalam al-Qur’an, dan keyakinan itu tidak ia sembunyi-sembunykan, dengan begitu tampakkalah jati diri syiah yang sesungguhnya.

    ________________________
    Ibnu Jakfari

    Sejak awal telah saya katakan bahwa saya akan membahasnya secara tersendiri…. tapi untuk sementara saya sampaikan bahwa dari 2000-an riwayat tahriful Qur’an itu ternyata tidak semuanya dari riwayat Syi’ah…. banyak darinya adalah riwayat Sunni, seperti tentang Jam’ul Qur’an di masa Abu Bakar dan Utsman dll.

    Jadi tidak salah jika apa yang dilakukan Syeikh Nuri ath Thabarsi disalahkan oleh ulama dan tokoh Syi’ah, sebab ia jelas-jelas menyalahi pendapat para tokoh sejak zaman Shaduq ( ridhwanullah ‘alaihi)
    Lalu apanya yang aneh?!

  8. kesimpulannya Plin-plan deh”
    مذبذبين بين ذلك لا إلى هؤلاء ولا إلى هؤلاء

    ______________________
    Ibnu Jakfari

    Tolong kesimpulan mana yang plin-plan?
    Tim Penulis Sidogiri menyebut nama-nama di atas sebagai yang meyakini tahrif, lalu saya beber dan buktikan bahwa mereka tidak meyakininya dan Abu al Qasim Ali ibn Ahmad al Kufi yang disebut sebagai tokoh Syiah Imamiyah ternyata bukan!

    Jadi mesdtinya yang harus malu adalah kalian…. sebab kalian bak orang tenggelam yang berpegangan dengan apa saja walau dengan lumut!

    Anda mestinya membela ulama-ulama mazhab Anda yang telah meyakini tahrif itu! dan lebih parah dari yang selama ini kalian tuduhkan kepada Syi’ah!

  9. @Abu Jakfari
    Saya betul2 heran habis akal begitu jg anak2 ingusan krn:
    1. Klu mereka(wahabyisme/salafyaisme) menyanggah kebenaran selalu ngaur. Ternyata anak2 ingusan mengatakan: “Mereka tdk punya ilmu. Mereka hanya mencoba mempropagandakan ISME kpd orang2 goblok.”
    2. Mereka coba membuat blog ternyata isi blog adalah ciplakan tanpa ada penjelasan2 ilmiah Anak2 ingusan katakan: “Bgm mau masukan topik2yg ilmiah mereka kan tdk berilmu” mereka diindoktrinasi utk propaganda.
    3. Saya coba msk ke blog2 mrk (wahabyisme/salafyisme) ternyata masukan2 yg kita masukan utk megkoresi kebodohan mereka.ee tdk ditampilkan , tapi klu caci mencaci, lafir mengkafirkan sebentar aja sdh ditampilkan.
    Anak ingusan katakan: Mereka takut pd KEBENARAN sebab klu ditampilkan nanti semua yg telah dibodohi mrk akan kembali kejalan yg benar. Dan akhir tinggal nama tanpa pengikut.Ini kata2 anak2 ingusan. Pikir punya pikir lbh enak berdialog dg anak2 ingusan dpd yg menyebut diri manusia tp otaknya………..??????? .

  10. Maaf jika saya beberapa hari ini tidak nongol sebab ada kepentingan yang tidak bisa di tinggalkan.
    saya oleh tuan Jakfari dituduh satu orang dengan Jalal, al-Muntadzar dll. tapi nggak apa-apalah saya kira itu tidak penting.
    selain itu saya rasa saya tidak perlu mengadakan jawaban balik atas pernyataan al-Khu’i tentang konsep nasakh tilawah adalah ainut tahrif biarlah pembaca yang menilai.

    saya hanya mau membongkar satu persatu keyakinan tokoh-tokoh syiah tentang tahriful qur’an yang di bela oleh tuan Jakfari

    Saya akan memulai dari an-Nu’mani yang merupakan muridnya al-Kulaini.
    Ibnu Ja’fari menulis:
    “Dari keterangan di atas dapat disimpulkan satu kesimpulan tegas bahwa tidak ada alasan yang menghalalkan seorang untuk menuduh bahwa syekh an-Nu’mani meyakini terjadinya tahrif al-Qur’an!…tidak ada penegasan apapun dari beliau…tidak pula petunjuk bahwa beliau meyakini kesahihan seluruh riwayat yang beliau muat dalam kitab al-Ghaibahnya.”
    Sebagaimana ditulis oleh Ibnu Jakfari bahwa an-Nu’mani adalah ulama’ agung dan terpercaya di mata ulama’ ahli jarh wat ta’dîl.”

    Rupanya Jakfari sangat bersemangat membela dan mensucikan an-Nu’mani dari keyakinan tahrif al-Qur’an sehingga ia bersusah payah menampilkan riwayat yang agak lunak dari an-Nu’mani namun dengan curang ia tidak menulis riwayat yang sangat jelas sekali dari an-Nu’mani tentang tahrif al-Qur’an.
    Riwayat lunak yang saya maksudkan dari an-Nu’mani yang ditulis oleh Jakfari adalah:
    إذا قام قائم آل محمد ضرب فساطيط يعلم فيها يعلم فيها القرآن على ما أنزل فأصعب ما يكون على من حفظه اليوم لأنه يخالف فيه التأليف
    Kemudian ia menulis
    “coba anda renungkan baik-baik penghujung sabda beliau as di atas sebab ia penting!” (sebetulnya riwayat ini merupakan riwayatnya al-Mufid dalam awâil al-Maqâlât).
    Sedangkan riwayat yang tegas tentang tahrif al-Qur’an ia sembunyikan dari para pembaca, ini merupakan kecurangan ilmiah, riwayat yang saya maksudkan adalah:
    عن علي قال: “كأني بالعجم فساطيطهم في مسجد الكوفة يعلمون الناس القرآن كما أنزل قلت (أي الراوي): يا أمير المؤمنين أو ليس هو كما أنزل فقال: لا محي منه سبعون من قريش بأسمائهم وأسماء أبائهم وما ترك أبو لهب إلا إزراء على رسول الله وآله لأنه عمه”. (الغيبة : 318)
    Selain riwayat ini yang disembunyikan Jakfari adalah riwayat:
    قال أبو جعفر رضي الله عنه: “يقوم القائم بأمر جديد، وكتاب جديد، وقضاء جديد”
    Selain sekelumit riwayat dari beberapa riwayat tahrif dalam kita al-Ghaibah mungkin saya juga perlu membeberkan penegasan an-Nu’mani tentang tahrif dalam tafsirnya.
    1. Misalnya ketika ia menjelaskan ayat dalam surat al-Baqarah ia menulis:
    وجعلناكم أئمة وسطاً لتكونوا شهداء على الناس ويكون الرسول عليكم شهيداً
    Kemudian ia berkata:
    فحرفوها وجعلوها امة
    2. Ia berkata:
    عن جابر عن الصادق عن أمير المؤمنين أنه قال : وأما ما حرّف من كتاب الله فقوله ( كنتم خير أئمة ) فحرّفت إلى ( خير أمة )
    3. Ia berkata:
    عن أمير المؤمنين : وقال سبحانه في سورة آل عمران (ليس لك من الأمر أو يتوب عليهم أو يعذبهم فإنهم ظالمون لآل محمد) فحذفوا آل محمد
    Ia berkata:
    عن أمير المؤمنين(ع) في عداد الآيات المحرّفة قوله تعالى: (أفمن كان على بينة من ربه) يعني رسول الله (ويتلوه شاهد منه وصيّه إماماً ورحمة ومن قبله كتاب موسى أولئك يؤمنون) فحرّفوها وقالوا : ( أفمن كان على بينة من ربه ويتلوه شاهد منه ومن قبله كتاب موسى إماماً ورحمة ( فقدّموا حرفاً على حرف فذهب معنى الآية).
    4. Ia brkata:
    عن جابر عن الصادق عن أمير المؤمنين(ع) في أمثلة الآيات المحرّفة 0 قال (ع) : مثله في سورة عمّ😦 ويقول الكافر ليتني كنت ترابياً) فحرّفوها ، فقالوا:( تراباً)، وذلك أن رسول الله  يُكثر من مخاطبتي بأبي تراب.
    Saya rasa sekelumit riwayat dalam al-Ghaibah dan tafsir as-Shaghir karya an-Nu’mani ini cukup untuk mementahkan pembelaan Ibnu Jakfari terhadap an-Nukmani yang sangat dipaksakan dan cacat secara ilmiah.
    Dan saya kira pembelaan Ibnu Jakfari sudah terlambat, sebab telah tersebarnya buku-buku Syiah baik yang primer maupun yang skunder termasuk tafsirnya an-Nu’mani. Andaikan ia lakukan pembelaan ini sebelum terjadi revolusi iran mengkin ahlussunnah akan terkecoh.

    ___________________________
    Ibnu Jakfari:

    Yang saya minta adalah pernyataan tegas dari an Nu’mani bukan riwayat yang ia bawa… sebab kalau sekedar membawakan riwayat, banyak juga ulama Sunni yang meriwayatkan!

  11. Furât al-Kûfi
    Ibnu Jakfari menulis:
    “Tuduhan itu didasarkan karena beliau menyebut riwayat yang disinyalir menunjukkan adanya penambahan dalam ayat-ayat al-Qur’an dalam tafsir beliau. Sementara semua mengetahui bahwa tafsir Furât al-Kûfi hanya memuat riwayat tanpa sedikitpun memberi komentar. Maka dari sini jelas terlihat bahwa klaim bahwa Furât al-Kûfi termasuk yang meyakini tahrif al-Qur’an hanya didasarkan pada adanya riwayat dalam tafsir beliau

    Di sini Ibnu Jakfari melakukan kecurangan kembali sebagaimana kecurangan yang telah ia lakukan ketika membela an-Nu’mani, ia tidak menyebutkan sama sekali bagaimana komentar para ulama’ syiah yang lain tentang seluruh kandungan kitab tafsir Furât al-Kûfi dan bagaimana ulama’-ulama’ syiah baik yang klasik maupun yang kontemporer menganggap kitab ini sebagai kitab yang mu’tabar dan suluruh isinya bisa dijadikan sebagai pedoman. Sekadar contoh akan saya tulis komentar ulama’ syiah tentang hal ini.
    Al-Majlisi ulama’ kenamaan syiah abad 11 berkata dalam Bihar al-Anwar 1/37:
    أخبار تفسير فرات موافقة لما وصل إلينا من الأحاديث المعتبرة
    Coba bandingkan! Mana kira-kira yang benar antara perkataan al-Majlisi yang merupakan ulama’ syiah kondang dengan karya besarnya, atau perkataan seorang Jakfari yang menurut pengakuannya sendiri adalah mu’allaf syiah (dengan kata lain baru pindah ke dalam agama syiah)
    Selain al-Majlisi, an-Nuri ath-Thabrisi dalam Fashlul Khitab hlm 26-31 mengatakan bahwa Furat al-Kufi termasuk tokoh syiah yang meyakini tahrif al-Qur’an, tentunya ath-Thabrisi mempunyai kesimpulan seperti ini ketika ia membaca tafsir Furat al-Kufi.
    Ia berkata:
    فاعلم ان لهم في ذلك اقوالاً مشهورها اثنان، الاول وقوع التغيير والنقصان فيه وهو مذهب الشيخ الجليل علي بن ابراهيم القمي شيخ الكليني في تفسيره… ومذهب تلميذه ثقة الاسلام الكليني…ومذهب الثقة الجليل محمد بن الحسن الصفار… والثقة محمد بن ابراهيم النعماني تلميذ الكليني… والثقة سعد بن عبد الله القمي… والسيد علي بن احمد الكوفي… وهو ايضاً ظاهر أجلة المفسرين وأئمتهم الشيخ الجليل محمد بن مسعود العياشي والشيخ فرات بن ابراهيم الكوفي………. الخ
    Bandingkan juga! Mana kira-kira yang benar antara perkataan tokoh hadits kenamaan dalam agama syiah atau perkataan seorang mu’allaf yang berupa Jakfari.

    Sedangkan komentar yang menjelaskan bahwa ulama’-ulama’ syiah baik yang klasik maupun yang kontemporer menganggap seluruh isi tafsir furat al-kufi (termasuk riwayat tahrif yang telah diakui sendiri oleh Jakfari) bisa dijadikan pegangan dan seluruhnya mu’tabar, bisa dilihat dimukaddimah tafsir furat sendiri yang ditulis oleh Muhammad Ali al-Urdubâdî.
    Demi mempertegas perkataan al-Urdubâdî, baiklah akan saya tulis perkataannya:
    لم يزل علماؤنا يعون على هذا الكتاب منذ ألف إلى وقتنا الحاضر كما هو ظاهر من تقدم ذكرهم من مترجميه وحسبه ثقة رواية مثل أبي الحسن علي بن الحسين بن موسى بن بابويه القمي والد شيخنا الصدوق عنه، الذي عكف العلماء على العمل بفتاواه في رسالته إلى ولده عنه أعواز النصوص، لأنه لم يثبت فيها إلا عيون ألفاظ رواها عن أئمة الهدى عليهم السلام ثقة منهم بما يرويه.
    Selain perkataan al-Urdubadi mungkin saya juga perlu untuk menulis komentar percetakan Haidariyah Najaf tentang tafsir ini, dalam sampul tafsir ini ditulis:
    التفسير القيم الذي طالما تشوقت لرؤيته نفوس العلماء، ضم (على صغر حجمه) ما لم تضمه التفاسير الكبيرة، مطابق تمام المطابقة لأحاديث وأخبار النبي والأئمة – رضي الله عنهم.
    Mungkin saya juga perlu untuk menampilkan satu riwayat saja dalam tafsir al-kufi yang dengan tegas mengatakan terjadi tahrif
    عن أحمد بن موسى عن الحسين بن ثابت عن أبيه عن شعبة بن الحجاج عن الحكم عن ابن عباس قال: أخذ النبي يد علي صلوات الله عليهما فقال: إن القرآن أربعة أرباع، ربع فينا أهل البيت خاصة، وربع في أعدائنا، وربع حلال وحرام، وربع فرائض وأحكام، ورواه ابن المعالي من الجمهور في مناقبه كما نقل عنه في البرهان.

    Kalau Ibnu Jakfari masih besikukuh dengan perkataan semuala ” tafsir Furât al-Kûfi hanya memuat riwayat tanpa sedikitpun memberi komentar” maka perlu juga disampaikan (jangan disembunyikan) bahwa al-Kufi juga mempunyai kitab lain yang dengan tegas menyatakan telah terjadi tahrif dalam al-Qur’an. Lihat kitab al-Istighatsah li al-Kufi hlm. 25.

    ___________________________
    -Ibnu Jakfari-

    Jika ada seorang yang membangun kesimpulan dari adanya periwayatan seorang alim tentang sebuah hadis maka itu berarti mencerminkan keyakinannya…. maka itu adalah kesimpulan yang salah!! Dan itulah yang dijadikan dasar oleh Syeikh Nuri ath Thabarsi…. ia telah mengklaim banyak ulama meyakini tahrif dengan satu alasan bahwa para ulama itu telah meriwayatkan hadis-hadis yang menunjukkan tahrfi atau dianggap menunjukkan tahrif! Para ulama Syi’ah telah menyalahkan beliau dalam dasar penyimpulan itu! Hal ini jelas!

    Adapun pujian dan pemu’tabaran para ulama Syi’ah (jika itu mereka sepakati) itu sama sekali tidaK berarti bahwa mereka meyakini semua yang terkandung di dalamnya adalah shahih!

    Jika ada yang mengatakan bahwa kitab Ihya’ Ulumuddin (misalnya) adalah kitab mu’tabar dalam ilmu tasawwuf apa berarti ia akan menerima keshahihan seluruh hadis di dalamnya?!

    Selain itu, hadis-hadis yang disinyalir menunjukkan tahrif tidak jarang disimpulkan demikian hanya karena salah kesimpulan saja…. contohnya adalah hadis yang disebukan saudara el askari….. coba sebutkan dari sisi mananya Anda dapat menyimpulkan adanya petunjuk tahrif di dalamnya?
    Wassaalam.

  12. jika anda meminta data yang tegas dari an-Nu’mani mungkin sebelum saya tampilkan, ada baiknya kalo kamu saya ajari shorrof dulu.
    “tahrif” itu adalah mashdar dari madhi “harrafa” “harrafa yuharrifu tahrifan”. kata-kata an-Nu’mani yang berbunyi:
    فحرفوها
    apakah kurang tegas menunjukkan perkataan tahrif, hanya berubah bentuk dari mashdar ke madhi kamu sudah mengatakan tidak tegas, betul-betul memalukan.

    ________________
    Ibnu Jakfari:

    Mas el askari, kamu tidak usah pamer keahlian dalam ilmu sharaf, bukan hanya kamu saja orang ajam yang mengerti sharaf dan nahwu!

    Sayang kamu ternyata hanya pinter sharaf tapi tidak luas maklumatnya tentang makna sebuah kata! Coba Anda pamerkan di sini penguasaan kamu tentang arti kata:

    حرّف يحرف تحريفًا

    Lalu yang terpenting ialah tunjukkan di mana Syeikh an-Nu’mani menegaskan terjadinya tahrif pada Al-Qur’an? Bukan hadis yang beliau riwayatkan lho, jangan mencampur adukkan!

  13. kamu berkata tengtang an-Nuri ath-Thabrisi:
    “Para ulama Syi’ah telah menyalahkan beliau dalam dasar penyimpulan itu! Hal ini jelas”
    tulis dong di sini perkataan ulama’-ulama’ syiah itu berikut alasan-alasannya.

    ______________
    Ibnu Jakfari

    pasti akan saya bahas masalah tahrif ini dengan tuntas insyaAllah. Kamu tunggu saja.
    Kami akan membela mazhab kami dan apa yang akan kamu lakukan dalam membela mazhab dan ulama mazhab kamu yang meyakini tahrif?

    Mengapa tidak pernah ada yang membela ulama Ahlusunah yang meyakini tahrif? Apa kalian tidak punya bahan pembelaan?! Atau memang demikian keyakinan mereka?!
    Kalian harus bela dengan membuktikan bahwa ulama kalian tidak demikian! Tidak seperti yang dikatakan Ibnu Jakfari! buktikan di sini! Bukan hanya bisa menyerang dengan modal fitnah! Saya sudah sebutkan semua data rujukannya! Tolong ditanggapi!
    Saya sudah buktikan tiga (3) ulama kalian yang meyakini tahrif, dan masih banyak yang akan saya bongkar nanti! Tunggu saja!

  14. @Bagir

    Si toying Al Kapon (Alcaff) itu sih mafia penyebar fitnah.
    dimana ia berada disitu bikin fitnah, tidak hanya bikin masalah kepada syiah, tapi terhadap sunni dan wahabi.

    anehnya orang seperti itu di anggap ulama khususnya oleh kelompok-kelompok awam yang cuma kegedean semangat seperti kelompok yang menamakan diri al Bayonet (Al Bayyinat)

  15. Bung Jakfari, Anda mengatakan tidak setuju dengan penilaian dan kesimpulan bahwa dalam menilai pemikiran seseorang tidak dari riwayat yang dia tulis melainkan pernyataan tegas.
    Lantas bagaimana Anda berdalil bahwa Ahlussunnah seperti Imam as-Suyuthi telah menyatakan Tahrif hanya karena meriwayatkan hadits dari perkataan Ibnu Umar, telah hilang sebagian banyak dari al-Qur’an. Padahal imam Suyuthi sendiri tidak menyatakan demikian, dan menafsirkan apa yang disampaikan Ibn Umar adalah dalam koridor Nasikh Mansukh.
    Dan pada kenyataannya, pernyataan-pernyataan ulama yang dikemukakan oleh Bung Jakfari, oleh penulisnya dimasukkan ke dalam persoalan Nasikh Mansukh.
    Jika memang demikian adanya, seharusnya dengan kesimpulan yang dikemukakan oleh Bung Jakfari sendiri, tidak menafikan apa yang ditulis oleh ath thabrisi mengenai riwayat-riwayat Tahrif.

    __________________
    Ibnu Jakfari

    Mas A. Jalal, tolong Anda sebutkan di mana saya mengatakan bahwa As Suyuthi menyatakan Tahrif ?!
    Masalah naskh tilawah telah dibahas di sini, dan tidak sedikit ulama Sunni yang menolaknya.

  16. Ketika anda menuduh bahwa ahlussunnah berkeyakinan tahrif dalam riwayat nasakh tilawah, dan saya meminta data yang tegas dari ahlussunnah “annal Qur’an muharraf / waqa’a fihi at-tahrif wa at-tabdil” anda begitu mudahnya mengatakan bahwa saya hanya punya kamus satu.
    namun ketika saya tampilkan data yang tegas cuma lain shigat, anda masih minta yang tegas lagi. betul-betul memalukan.
    Sekali lagi saya minta data dari ahlussunnah yang tegas mengatakan tahrif (bukan dalam konteks nasakh).
    Sedangkan dari ulama’ agama syiah sudah saya tulis berulangkali namun anda tidak mengomentarinya.
    kalo sudah glabakan tutup saja blok ini!

    ___________________
    Ibnu Jakfari:

    Apa data akurat sikap dan keyakinan 3 ulama Ahlusunnah yang saya sebutkan itu belum cukup sebagai bukti?!
    Lagi pula saya tidak pernah menuduh Mazhab Ahlusunnah mayakini tahrif Al-Qur’an! Yang saya katakan bahwa di antara ulama dan tokoh besar Ahlusunnah ada yang meyakini tahrif! jangan dipelesetkan.
    Sementara yang Anda lakukan adalah menyebutkan riwayat ulama Syi’ah bukan pernyataan… selain itu, kayakinan sebauh Mazhab tidak dapat diambil dari pernyataan satu dua ulama!

  17. Mana Tuan Jakfari bin Umar Syihab bin Husain al-Habsyi al-Bangili, kok nggak nongol-nongol. kepaten ibunya tah????

  18. @A.Jalal

    Saudara Aminuddin, Kalo nggak tahu jangan ngomong . buktinya data yang ditulis saudara el-Askari….

    ..

    A.Jalal dan el Askari kan kamu juga bung, kenapa pake taqiyah segala, semua orang kan udah pada tau kalo A. Jalal el-Askari, M. Burhanuddin, al-muntadzar entah apalagi adalah satu orang !! katanyataqiyah nggak boleh? kenapa nggak jantan aja pake nama asli (satu nama aja) atau nama blog/situs (jika punya)?

    kenapa para wahabi nggak ada yang berani nampil pake nama blog nya atau situsnya di blog ini ya? takut reputasinya ambruk di KO/dilucuti Ibnu jakfari he..he..he..

    hanya blog haulasyiah (alwahabi) pernah masuk sebentar belum berdebat sudah lari terbirit-birit…..

    saya ndak membayangkan gimana ya kalo ulama syiah yang punya blog ini,bukan yang bukan muallaf bukan seperti Ibnu jakfari yang muallaf ini…?!

    buat Ibnu Jakfari lanjutkan terus perjuanganmu bravo !

  19. Bung Jakfari, ketika saya tulis beberapa riwayat dalam kitab-kitab Ulama’ syiah tentang tahrif, anda masih berusaha berkelit dengan meminta perkataan tegas dari mereka. Meskipum berulangkali telah saya tulis sedikit dari beberapa perkataan tokoh-tokoh kenamaan syiah yang dengan tegas menyatakan terdapat tahrif dalam al-Qur’an berdasarkan riwayat-riwayat tersebut dan belum anda komentari satu persatu perkataan-perkataan itu.
    Baiklah, akan saya tulis kembali:
    1. Ni’matullah al-Jaza’iri dalam al-anwar an-Nu’maniyah juz 2 hlm. 357, ia berkata:
    ” إن تسليم تواتره عن الوحي الإلهي – يعني القرآن الكريم – وكون الكل قد نزل به الروح الأمين يفضي إلى طرح الأخبار المستفيضة بل المتواترة الدالة بصريحها على وقوع التحريف في القرآن كلاما ومادة وإعراباً

    2. Al-Kasyani dalam tafsir as-Shafi juz 1 hlm. 52 al-‘A’lami Beirut, ia berkata:
    وأما اعتقاد مشائخنا في ذلك – يعني تحريف القرآن – فالظاهر من ثقة الإسلام محمد بن يعقوب الكليني طاب ثراه أنه كان يعتقد التحريف والنقصان في القرآن لأنه كان روى روايات في هذا المعنى في كتابه الكافي ولم يتعرض للقدح فيها مع أنه ذكر في أول الكتاب أنه كان يثق بما رواه فيه

    3. Abu Abdillah Muhammad bin an-Nu’man al-Mufid dalam Awâ’il al-Maqâlât hlm 91ia berkata:
    إن الأخبار قد جاءت مستفيضة عن أئمة الهدى من آل محمد صلى الله عليه وآله وسلم بإختلاف القرآن وما أحدثه بعد الظالمين فيه من الحذف والنقصان

    4. Abu al-Hasan al-‘Amili dalam mukaddimah ke dua dari tafsir Mir’at al-Anwar wa Misykat al-Asrar hlm 36, ia berkata:
    أعلم أن الحق الذي لا محيص عنه بحسب الأخبار المتواترة وغيرها أن هذا القرآن الذي في أيدينا قد وقع فيه بعد رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم شيء من التغييرات وأسقط الذين جمعوه بعده كثيرا من الكلمات والآيات
    Di kesempatan lain ia berkata:
    ” أعلم أن الذي يظهر من ثقة الإسلام محمد بن يعقوب الكليني طاب ثراه أنه كان يعتقد التحريف والنقصان في القرآن لأنه روى روايات كثيرة في هذا المعنى في كتاب الكافي الذي صرح في أوله بأنه كان يثق فيما رواه فيه ولم يتعرض لقدح فيها ولا ذكر معارض لها

    5. Muhammad al-Khurasani dalam Tafsir bayan as-Sa’adah hlm 19 muassasah al-‘A’lami, ia berkata:
    ” أعلم أنه قد استفاضت الأخبار عن الأئمة الأطهار بوقوع الزيادة والنقيصة والتحريف والتغيير فيه – أي في القرآن – بحيث لا يكاد يقع

    6. Adnan al-Bahrani dalam Masyariq as-Syumus hlm. 126 Mansyurat al-Maktabah al-‘Adnaniyah, ia berkata:
    ” الأخبار التي لا تحصى – أي أخبار تحريف القرآن – كثيرة وقد تجاوزت حد التواتر

    7. An-Nuri at-Tabrisi dalam Fashl al-Khitab hlm 32, ia berkata:
    أعلم أن لهم في ذلك أقوالا – أي علماء الشيعة في تحريف القرآن – مشهورها اثنان , الأول وقوع التغيير والنقصان فيه وهو مذهب الشيخ الجليل علي بن إبراهيم القمي شيخ الكليني في تفسيره صرح في أوله وملأ كتابه من أخباره مع إلتزامه في أوله بأن لا يذكر فيه إلا عن مشائخه وثقاته ومذهب تلميذه ثقة الإسلام الكليني رحمه الله على ما نسبه إليه جماعة لنقله الأخبار الكثيرة الصريحة في هذا المعنى في كتاب الحجة خصوصا في باب النكت والنتف من التنزيل وفي الروضة من غير تعرض لردها أو تأويلها.

    8. Muhammad Baqir al-Majlisi Mir’at al-‘Uqul juz 12 hlm 525, ia berkata ketika mensyarai haditsnya Hisyam bin Salim dari Abi Abdillah yang berbunyi:
    إن القرآن الذي جاء به جبرائيل عليه السلام إلى محمد صلى الله عليه وآله وسلم سبعة عشر ألف آية
    Ia berkata:
    هذا الحديث موثق وفي بعض النسخ عن هشام بن سالم موضع هارون بن سالم , فالخبر صحيح , فلا يخفى أن هذا الخبر وكثير من الأخبار الصحيحة صريحة في نقص القرآن وتغييره …. وعندي أن الأخبار في هذا الباب متواترة

    Namun untuk anda sendiri ketika anda mengklaim Ahlussunnah dengan enaknya hanya berdasarkan riwayat, semisal riwayat tentang ayah bunda Nabi, dan tahriful Qur’an dari riwayat Ibn Umar. Maka seharusnya tidak demikian dengan penolakan Anda terhadap riwayat-riwayat di atas dengan mengakui tidak mengakui bahwa ulama Anda telah berpendapat demikian. Anda itu bak pedang bermata dua, mainnya memakai standar ganda.
    Jangan begitu dong malu-maluin sebab anda merupakan pimpinan syiah yang diakui di kalangan anda, Bangil (YAPI) itu merupakan Qum Indonesia.

    __________________
    Ibnu Jakfari:

    Sejak awal saya tidak pernah menolak kalau di antara ulama Syi’ah ada yang meyakini terjadinya tahrif pada Al Qur’an, sebagaimana di kalangan ulama Ahlusunnah ada yang meyakini tahrif juga! Akan tetapi yang tidak benar ialah apabila kita menuduh Syi’ah sebagai Mazhab meyakini tahrif sebagaimana tidak benar juga mengatakan Ahlussunnah sebagai Mazhab meyakini tahrif! Itu sudah jelas sejak awal diskusi saya dalam masalah ini.

    akan tetapi yang saya tolak dan sanggah adalah penyebutan nama-nama ulama Syi’ah tertentu yang dituduh menyatakan keyakinannya akan tahrif denga secara tegas!! Ini yang tidak terbukti pada nama-nama yang mereka sebutkan! seperti nama Syeikh Mufid, Nu’mani, Ayysyi, al Kasyani dkk.

    Jadi tolong ketika menuduh Syeikh Mufid misalnya, sertakan komentar-komentar beliau dengan jujur… saya telah buktikan (dan masih terus akan saya buktikan) bahwa nama-nama tokoh-tokoh Syi’ah yang tidak meyakini tahrif tetapi dituduh meyakininya itu adalah sebuah tuduhan tidak berdasar!

    Karenanya, saya juga sebutkan dengan bukti dan data akurat yang dapat dipertanggung jawabkan bahwa ternyata di antara ulama Ahlusunnah juga tidak sedikit yang meyakini tahrif! Tiga ulama sudah saya buktikan, dan insyaAllah akan saya sebutkan nama-nama ulama lain…. bukan dalam rangka menuduh Ahlusunnah sebagai Mazhab meyakini tahrif, akan tetapi sekali lagi saya tegaskan bahwa di antara ulama Ahlusunnah ternyata ada yang meyakini tahrif… dan tentunya keyakinan mereka itu tidak mewakili keyakinan dan pendapat mazhab Ahlusunnah!!

    Data-data yang saya sebutkan itu mestinya ditanggapai dengan serius, bukan dibiarkan begitu saja!!

  20. Sejak awal juga sudah saya katakan bahwa
    saya tidak perlu mengadakan pembelaan atas tuduhan tahrif terhadap pernyataan ahlussunnah yang diucapkan dalam konteks Nasakh, itu sudah basi. anda hanya mencontek al-Khu’i.
    Padahal tokoh-tokoh syiah juga mengakui akan keberadaan nasikh mansukh.
    saya harap pernyataan-pernyataan tegas dari tokoh-tokoh syiah, seperti pernyataan al-Mufid:
    إن الأخبار قد جاءت مستفيضة عن أئمة الهدى من آل محمد صلى الله عليه وآله وسلم بإختلاف القرآن وما أحدثه بعد الظالمين فيه من الحذف والنقصان
    ini ditanggapi, jangan muter-muter!!!.
    Apakah kurang tegas pernyataan yang mengatakan bahwa keyakinan tahrif “Qod Jâwazat haddat tawâtur”.
    Saya harap anda jangan merasa lebih alim dari pada al-Kasyani, al-Jazairi, al-Amili, al-Bahrani, ath-Thabrisi, al-Majlisi.
    Tawatur itu merupakan kesepakatan yang tidak mungkin dusta.

    Ibnu Jakfari:
    Akhi el askari, Anda tidak perlu memaksa sebuah keyakinan untuk And tuduhkan kepada Syi’ah yang tidak mereka yakini, dengan memenggal-menggal pernyataan atau mempelesetkan atau menyalah artikannya…
    Coba Anda perhatikan lagi bukti-bukti yang telah saya beber di bolog ini… coba baca dan renungkan pernyataan Syeikh Mufi yang telah saya sebutkan di: https://jakfari.wordpress.com/2008/04/27/74/ dan sekarang saya sebutkan lagi di sini
    Syeikh Mufid (w.413 H):

    وَ قَدْ قال جماعَةٌ مِنْ أهل الإمامة: إنَّه لم ينقص من كلمة، ولا آية ، ولا سورة، و لكن حُذِفَ ما كان مثبَتًا في مصحف أمير المؤمنين (عليه السلام) من تَأويليه، و تفسير معانيه على حقيقة تنزيله، و ذلك كان ثابتًا مُنَزَّلاً و إنْ لِمْ يكن من جملةِ كلام الله تعالى الذي هو القرآن المعجِز. و عندي أنَّ هذا أشبهُ من مقال من ادَّعى نُقْصان كلِمٍ من نفسِ القرآن على الحقيقة دون التأويل، إليه أميلٌ، و الله أسأل توفيقه للصواب.

    “Telah berkata sekelompok Ahli imamah (Syi’ah): bahwa Al Qur’an tidak berkurang walaupun hanya satu kata, atau satu ayat atau satu surah, akan tetapi (yang) dihapus (adalah) apa-apa yang tetap dalam mush-haf Amirul Mukminin (Ali) as. berupa ta’wîl dan tafsir makna-maknanya sesuai dengan hakikat tanzîlnya. Yang demikian (ta’wîl dan tafsir) adalah tetap, terbukti telah diturunkan (Allah) walaupun ini bukan dari bagian firman Allah sebagai Al Qur’an yang mu’jiz (mu’jizat). Dan menurut saya pendapat ini lebih tepat dari pada pendapat orang yang menganggap adanya pengurangan beberapa firman dari Al Qur’an itu sendiri bukan ta’wîl nya. Dan saya cenderung kepada pendapat ini. Hanya kepada Allah lah saya memohon tawfiq untuk kebenaran.” (Awâil al Maqâlât fî al Madzâhib al Mukhtârât: 55-56).

  21. Mana… katanya mau membedah tentang fashlul khitab….????

    Ibnu Jakfari:

    Sabar mas, semua ada waktunya.

  22. to jakfari….knp anda menolak…pemaksaan oleh el askari….bukankah sedari awal dia sudah berdiri pada premis pemaksaan thdp literatur..bahkan sampai memotong /memelintir ucapan org lain agar sesuai keinginan…hi..hi…

  23. @el-Askari,

    Memang seperti itulah mereka… selalu muter-muter kalau lagi tersudut…

    teruskanlah perjuanganmu…

    Barokallaahu fiyk

  24. Betul sekali anda akhi al-Qaim, Jakfari hanya berani gertak sambal, ternyata tidak mampu membedah Fashl al-Khitab.
    Kalau Jakfari terus berkelit dengan mengatakan bahwa syiah tidak berkeyakinan jika qur’an yang beredar sekarang sudah di tahrif, maka berarti ia harus rela mengakui akan jasa besar Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu anhum karena berkat beliau-beliaulah al-qur’an masik eksis dibaca sampai sekarang.
    Imam Ali berkata:
    اعظم الناس أجرا في المصاحف أبو بكر ثم عمر

    Ibnu Jakfari:

    Semua asumsi yang saudara sebutkan perlu saudara buktikan dengan dalil yang kongkrit… ucapan Imam Ali as. perlu Anda buktikan keshahihannya riwayatnya….

  25. mbulet……..

  26. Fashl al-Khitab merupakan “fadhihah al-kubra” bagi Syiah sebab kitab itu telah membongkar keyakinan yang disembunyi-sembunyikan oleh sementara orang-orang Syiah sejak zamannya Syekh Shaduq sampai sekarang, didalamnya ia membeberkan riwayat tokoh-tokoh Syiah yang terang-terangan menyatakan tahrif. ketika Nuri ath-Thabarsi bercerita tentang Syekh Shaduq ia mengatakan:
    أن أمر الصدوق مضطرب جدا
    karena di satu sisi beliau menolak adanya tahrif dalam Syiah sementara di sisi yang lain (dalam beberapa kitabnya) ia meriwayatkan beberapa riwayat yang menyatakan adanya tahrif tanpa memberi komentar terhadap riwayat tersebut.
    Maka dari itu, saya tetap meminta kepada Jakfari (kalo anda tetap menyatakan tidak ada tahrif dalam Syiah) untuk membedah riwayat-riwayat tahrif yang ditampilkan dalam Fashl Khitab satu-persatu. disini.

    Ibnu Jakfari:

    Di blog ini, sudah saya paparkan dan saya jelaskan riwayat-riwayat yang terkesan atau “terang dalam pandangan sebagian orang” menunjukkan tahrif… jadi apa yang Anda minta sudah dilakukan.
    Anda perlu melusurskan cara berpikir Anda dalam agar tidak terjebak dalam kerancuan atau memaksakan sesuatu yang tidak berdasar!
    Anda tidak perlu bernafsu dalam menghujat Syi’ah dengan argumentas kaum lemah yang pemfitnah;Wahhabiyah…. kecuali jika Anda sendiri adalah bagian dari mesin penebar fitnah itu.
    Anda berkepentingan untuk membela kayakinan tahrif yang diyakini sebagian ulama Ahlusunnah yang telah saya sajikan di blog ini! (bukan maksud saya mengatakan bahwa Ahlulsunnah meyakini tahrif, tapi sebagia ulama Ahlusunnah!!)
    Anda berkepentingan memebela ulama Ahlusunnah yang meriwayatkan hadis-hadis tahrif!
    Anda harus memberikan arahan yang logis tentang hadis-hadis tahrif dalam kitab-kitab Ahlusunnah!
    Jadi jangan hanya bisa menghujat pihak lain tanpa menyadari milik sendiri.

  27. maaf Akhi Ibnu jakfari, mohon untuk diperjelaskan tentang tanggapan akhi atas فحرفوها nya el askari:
    “Mas el askari, kamu tidak usah pamer keahlian dalam ilmu sharaf, bukan hanya kamu saja orang ajam yang mengerti sharaf dan nahwu!

    Sayang kamu ternyata hanya pinter sharaf tapi tidak luas maklumatnya tentang makna sebuah kata! Coba Anda pamerkan di sini penguasaan kamu tentang arti kata:

    حرّف يحرف تحريفًا

  28. […] Menjawab Sidogiri (6) Menguak Tuduhan Palsu Tim Sidogiri Terhadap Ulama Syi’ah (1) Menjawab Sidogiri (7) Menguak Tuduhan Palsu Tim Sidogiri Terhadap Ulama Syi’ah (2) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: