Masihkan Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (1)

Sunnah adalah pondasi kedua ajaran Islam setelah Al Qur’an….

Sementara keshahihan hadis adalah syarat mutlak untuk dijadikan hujjah syar’iyah… dan untuk menentukan shahih tidaknya sebuah hadis kunci utamanya adalah kualitas periwayat yang menajdi perantara periwayatan hadis!! Ia seorang parawi yang tsiqah atau tidak? Munkarul hadis atau tidak? Maqbûl hadis atau tidak?

Dan yang menentukan itu semua adalah Ahli hadis, terpatnya Ahli al jarh wa at ta’dîl; yaitu mereka melibatkan diri dalam menilai kualitas periwayat!!

Karenanya, disyaratkan beberapa syarat yang harus perpenuhi dalam diri Ahli al jarh wa at ta’dîl. Syarat-syarat tersebut antara lain: ketaqwaan dan kehati-hatian, menjauhkan diri dari hawa nafsu, disamping tentanya ilmu yang cukup tentangnya.

Akan tetapi, apakah syarat-syarat tersebut terpenuhi dalam diri Ahli al jarh wa at ta’dîl Ahlusunnah atau tidak?

Itulah yang akan menjadi sorotan artikel ini.

Dari penelitian yang dilakukan para pakar secara seksama, dapat disimpulkan bahwa kelihatannya komentar dan vonis-vonis Ahli Jarh wa Ta’dîl dalam menjarh atau menta’dil itu sulit diterima dan dijadikan acuan akhir dalam menilai kualitas periwayat. Hal itu karena beberapa alasan, di antaranya ialah karena para tokoh yang diandalkan komentar mereka dalam menjarh dan atau menta’dil itu sendiri masih diragukan keadilan dan kredebilitasnya. Tidak sedikit dari mereka adalah pribadi-pribadi yang cacat dan memiliki citra buruk yang setelah dilakukan penelitian, ternyata berakhir dengan pencacatan dan kesimpulan yang mencoreng nama baik mereka. Tidak terkecuali nama-nama penting seperti Imam Malik, Yahya ibn Sa’id Al Qaththaan, Yahya ibn Ma’in, Ahmad ibn Hanbal, Muhammad ibn Yahya Al Dzuhali, Abu Hatim, Al Turmudzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, Ibnu Mandah, Abu Nu’aim, apalagi Al Jawzajâni ,Ibnu Hazm, Ibnu Al Jawzi, Adz Dzahabi.

Imam Malik Cacat!

Sebagai sekedar contoh, Malik, seorang Imam besar yang di andalkan dalam menilai para periwayat ternyata ia sendiri bermasalah.

Perhatikan catatan di bawah ini:

Imam Malik adalah salah seorang tokoh besar dan imam, pendiri mazhab yang dikenal. Ia sangat dekat dengan para penguasa dinasti Abbasiah; Manshur dan Harun ar Rasyîd.

Ia pernah meriwayatkan hadis dari dari Hamîd ibn Qais al A’raj dan sekaligus mentsiqahkannya. Namun gara-gara saudara Hamîd yang bernama Amr ibn Qais yang melecehkan dan menyerang Imam Malik lalu kemudian celan itu sampai kepadanya, sepontan Malik berkata, “Andai aku tahu bahwa Hamîd adalah saudaranya pasti aku tidak sudi meriwayatkan darinya.”[1]

Ibnu al Madîni berkata, “Malik menyebut-nyebut Hamîd al A’raj seraya mentsiqahkan, kemudian ia berkata, ‘saudaranya! ‘saudaranya! Lalu ia mendha’ifkannya (Hamîd).[2]

Mungkin Anda bertanya-tanya, apa salah dan dosa Hamîd ibn Qais, jika Amr, saudaranya yang mencacat Malik, sampai-sampai Malik meninggalkan meriwayatkan darinya dan melemahkannya setelah sebelumnya mentsiqahkan dan rela meriwayatkan darinya?! Lebih dari itu, Ibnu hajar menyebutkan bahwa Hamîd ini telah ditsiqahkan oleh banyak tokoh kenamaan Ahlusunah seperti Ibnu Ma’in, Abu Zar’ah, Ahmad ibn Hanbal, Adu Daud, Ibnu Kharrâsy, Imam Bukhari, Ya’qub ibn Sufyan dan Ibnu Sa’ad.

Tidakkah berbahaya melibatkan emosi berlebihan dalam menjarh para periwayat. Lalu apa tidak mungkin juga luapan emosi terlibat jauh dalam mentsiqahkan dan memuji seorang periwayat?!

Saya akan kembali membahas masalah ini ketika menyoroti tindak cacat mencacat antara rekan semasa dan yang bergelut dalam profesi yang sama.

Dalam Tahdzîb at Tahdzîb-nya, Ibnu Hajar berkata ketika menyebutkan biografi Sa’ad ibn Ibrahim ibn Abdurrahman ibn Auf, “Malik tidak mau menulis hadis darinya.” As Sâji berkata membongkar akar masalahnya, ia berkata, “Disebutkan bahwa Sa’ad menasihati Malik, lalu malik sakit hati karenanya.”

Ibnu Hajar juga menukil pernyataan Ibnu Ma’in bahwa Sa’ad berbicara tentang nasab Malik, oleh sebab itu Malik tidak mau meriwayatkan darinya.

Keterangan Ibnu Ma’in ini mungkin dapat memberikan alasan, mengapa Malik marah terhadap Sa’ad yang telah berbicara tentang masalah yang sangat pribadi, yaitu nasab seorang. Tetapi sepertinya Sa’ad tidak bisa disalahkan begitu saja, sebab konon, Malik lahir tiga tahun setelah kematian ayahnya, Malik mengklaim bahwa ia berada dalam kandungan ibundanya selama tiga tahun!

Ibnu Hajar juga menyebutkan bahwa Imam Malik juga berkomentar kasar tentang Muhammad ibn Ishaq; sejarawan agung, “Ia (Muhammad ibn Ishaq) adalah dajjal dari dajjal-dajjal (maksudnya pembohong besar), seperti akan dibahas lebih lanjut nanti.

(Bersambung)



[1] Al Kâmil Fi Dhu’afâ’ ar Rijâl,5/8 ketika menyebut biografi Amr ibn Qais al Makki, Tahdzîb at Tahdzîb,7/432juga ketika menyebut biografi Amr ibn Qais al Makki.

[2] Tahdzîb at Tahdzîb,7/432.

6 Tanggapan

  1. maaf, sekedar info aja. blog ini kan sering menjawab tuduhan wahabi seperti hakekat.com.
    apa Pak Admin sudah pernah surfing di situs http://www.syiah.net disitu ada juga download buku2nya ihsan ilahi dzahir.
    terimakasih

    __________________________
    Ibnu Jakfari

    Alhamdulillah, saya banyak membaca buku Ihsan Ilahi Dzahir, dan saya sangat berterima kasih kepada penulis Wahhabi Pakistan yang satu ini, kerena “berkat” membaca buku-buku karangannya yang menghujat Syi’ah saya pindah dari Sunni ke mazbah Syi’ah Imamiyah ja’fariyah Itsna’Asyariyah!

  2. Keuntungan apa yang antum peroleh dengan menghujat Imam Malik dan Ulama2 Ahlussunnah lainya. Apakah ingin cari popularitas?. Naif sekali antum.

    _________________________
    Ibnu Jakfari

    Apa yang Anda katakan dapat difahami bahwa Anda sedang kelabakan menghadapi data yang saya bongkar di sini…. Saya hanya ingi menyadarkan Anda dan teman-teman semazhab Anda bahwa mazhab kalian ini carut marut… tidak karuwan…. Apa Anda masih tentram bermazhab mengandalkan orang-orang yang cacat di mata ulama mazhab Anda sendiri?!

    Ikuti terus, saya akan membuat Anda terbelalak dengan apa yang terjadi di antara ulama mazhab kalian!

    Imam-imamnya saling kafir-mengkafirkan!!
    Fukaha’nya saling bid’ah membid’ahkan…
    Ahli hadisnya saling tonjok menonjok…. saling hasud menghasud…. Bung agama itu harus diambil dari orang-orang yang terpercaya bukan?
    Jadi sedkarang jangan mengelak dan lari dari masalah…. bantah aja kalau data yang saya bawa itu salah atau palsu!

  3. Membantah artikel ini tidak cukup hanya sekedar menjelaskan maksud perkataan antara satu ulama dgn yg lain, namun hrs didahului dgn pemahaman ttg ilmu hadits terlbh dahulu.
    Bagi org awam, ungkapan “dajjaalun min dajjaajilah” memang menyeramkan. Namun dr sisi ilmu rijal, apakah otomatis mengugurkan ketsiqahan seseorang? Apakah jarh otomatis mengugurkan ‘adalah seseorang? Apakah semua kisah yg disebutkan oleh Adz-Dzahabi menjatuhkan para tokoh itu? Dalam rangka apa Adz-Dzahabi menjelaskan sedetil-detilnya setiap tokoh dlm Mizanul I’tidalnya?
    (Disinilah letak kelebihan ulama ahlus sunnah. Tdk satupun yg mrk tutupi. Akan ttp butuh ilmu utk memahaminya.)
    Jika mau jujur, penjelasan menyangkut semua rijal dan tarjih thd mrk hrs diungkap juga. Bukankah para ulama termasuk Adz-Dzahabi tlh menjelaskan dlm buku yg sama? Mengapa tdk disebutkan?
    Ilmu hadits adl lautan. Siapa yg tdk mampu merenanginya akan tenggelam.

    Oh ya, apa bisa disebutkan satu orang saja imam ahlus sunnah mana yg saling mengkafirkan? Atau fuqaha mana yg saling membid’ahkan (khususnya bid’ah mukaffirah)?

    Ibnu Jakfari:

    Insya Allah akan saya sebutkan nanti satu persatu.

  4. Ass. sudahlah sodara2ku baik ahlusunah maupun syi’ah ga seharusnya kita kaum muslimin saling musuhan. bukankah muslim yang satu dan lainnya itu sodara??? berdebat pendapat boleh, asal bertuhan Allah dan Rasul tetap muhamad kita harusnya bersatu.. udah liat kan iraq kayak pa?? Jangan jadikan Indonesia seperti itu.. saatnya kita bersatu,,, masalah di indo udah banyak, dari kristenisasi ampe pembantaian. Kalo kita ga saling percaya apa kita masih memahami arti sodara. toh surga neraka Allah yang tentuin. damailah..

    ___________________
    Ibnu Jakfari

    Benar sekali saudaraku seiman dan seagama…. sudah saatnya kita merapatkan shaf-shaf kita untuk sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat Muslim khususnya di tanah air tercinta kita. Semestinya pertentangan yang tidak sehat antara sesama Muslim yang hanya berbeda mazhab sudah tidak lagi menjadi garapan kita. kita semua mendambakan kesatuan dan ukhuwwah di antara Umat Rasulullah saw. Tetapi adanya pihak-pihak yang bekerja -baik di sadari atau tidak- untuk memecah belah umat Islam dengan memfitnah mazhab tertentu yang memaksa blog ini dibuat. tetapi jika ternyata dirasa blog ini telah menyimpang dari tujuan awalnya yaitu meluruskan dan membungkam mulut para pemfitnah maka saya meminta maaf yang sedalam-dalamnya dan yang penting jangan lupa mmeberikan teguran… sekeras apapun saya akan terima dengan lapang dada insya Allah.

    dan sebelum saya akhir tanggapan saya, saya ingin mengajukan pijakan-pijakan yang harus diindahkan oleh kita semua demi terwujudnya ukhuwwah Islamiyah:
    Pertama: Saling mengakui.
    Kedua: Saling menghormati.
    Ketiga: Hendaknya kita bekerja sama demi merealisasikan kemaslahatan umat yang lebih universal.

    Wassalam.

  5. umat islam saat ini ..sudah pintar pintar.. saking pintarnya…pikiran lebih di kedepankan di bandingkan iman. iman jadi makmum..pikiran jadi imam..sudah kebablasankan…saking pintarnya..ulama ulama terdahulu di hujat, di cela.naudzu billah minjalik seburuk apapun dan sejelek apaan ulama..jgn lah kau hina, karena beliau itu warisan nabi..ingat warisan yaa.. bukan pewaris, tanpa mereka mungkin islam tidak masuk indonesia, kalau islam tdk masuk indonesia.. belum tentu kita saat ini jadi pemeluk islam, mungkin saja kita akan beragama nasrani, majusi atautdk beragama ( ateis), jadi tanpa di sadari ulama dulu yg menjadikan dan membawa kita ke jalan hidayah alloh hingga kita jadi islam, kenapa harus kita cela , kita hujat mereka.. kadang kala manusia sekarang, baru membaca buku tanpa di bimbing guru, maupun baru ikut pesantren kilat..sudah mampu menyalahi para ulama seakan akan dia yg paling benar..semoga alloh memberikan hidayah kepada saudaraku semua..

  6. […] Masihkan Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (1) Imam Malik di cacat […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: