Ulama Ahlusunnah Saling Cacat-Mencacat 1

Ulama Ahlusunnah Saling Cacat-Mencacat 1

Sudah seharusnya penilaian terhadap seorang periwayat itu diambil dari orang-orang yang hidup sezaman dengannya, sebab merekalah yang akan mengenal persis siapa sejatinya periwayat yang handak kita kenali kualitasnya tersebut[1]. Akan tetapi, anehnya para ulama justru menghadapi problem besar karenanya. Sebab ternyata banyak ditemukan adanya kasus pencacatan antara mereka yang hidup sezaman ini justru tidak sehat… dilakukan dengan doronan hawa nafsu; karena permusuhan pribadi, merasa tersaingi ataau lainnya.

Tentu Anda yang rajin meneliti pasti tau bagaimana sikap Muhammad ibn Yahya adz Dzuhali terhadap Imam Bukhari, sikap Abu Nu’aim al Isfahani terhadap Ibnu Mandah dan sebaliknya, sikap Imam Malik terhadap Muhammad ibn Ishaq, sikap Yahya Ibnu Ma’in terhadap Imam Syafi’i, Imam Malik dan terhadap Ibnu Abi Dzuaib dll.

Karenanya adz Dzahabi seperti dikutip Ibnu Hajar berkomentar, “Ucapan aqrân, para teman sezaman tentang sesama mereka tidak perlu dihiraukan, khususnya jika tanpak darinya bahwa ia muncul karena permusuhan atau perbedaan mazhab atau rasa hasud…. Anda aku mau pasti aku akan sebutkan berlembar-lembar kasus ini.“ [2]Dan sejujurnya saja kami katakan adz Dzahabi juga telah terjatuh dalam kesalahan yang ia kecam sendiri. Amir ash Shan’âni mengomentari pernyataan adz Dzahabi di atas dengan kata-katanya, “Dan adz Dzahabi juga telah dicacat dengan aib yang ia mencacat orang lain dengannya.”[3] Setelahnya beliau menyebutkan kritikan Taqi as Subki terhadap adz Dzahabi.

Setelah menyebutkan penukilan al Hakim tentang perseteruan dan saling lempar kecaman antara Amr ibn Ali dan Ali ibn al Madîni, adz Dzahabi berkomentar, “Sesungguhnya omongan aqrân tidak dapat dianggap satu sama lainnya, jika ia tidak dijelaskan maka tidak akan menggugurkan keadilan (yang dicacat).”[4]

Adz Dzahabi juga berkata, “Dan kasus ini (pencacatan antara teman sezaman dengan dasar hawa nafsu) adalah sangat banyak, sepantasnya untuk dilipat (dirahasiakaan) dan tidak diriwayatkan, dibuang dan ttidak dijadikan dasar pencacatan, tha’nan. Dan hendaknya seorang diperlakukan dengan adil.”[5]

Ketika menyebut kata-kataa melecehkan dari Imam Ibnu Jarir ath Thabari atas Ibnu Abi Daud, adz Dzahabi kembali berkomentar, “Tidak perlu didengaar omongan Ibnu Jarir ini karena adanya permusuhan pribadi yang terjadi antara keduanya.”[6]

Ibnu Abi Daud ini juga dikecam keraas oleh ayaahnya sendiri Imam Abu Daud, ia berkata:

إبْنِي عَبْدُ اللهِ كَذَّابٌ

“Abdullah putraku ini adalah pembohong besar.”[7]

Mendengar pernyataan Abu Daud tentang putranya sendiri, Ibnu Shâ’id berkata, “Cukup sudah bagi kami ucapan ayahnya tentang dia.”

Setelah menukil itu semua adz Dzahabi berkata, “Tidak sepatutnya menghiraaukan omongan Ibnu Shâ’id terntang Ibnu Abi Daud, sebagaimana kami tidak akan menghiraukan tuduhan bohong yaang ddilontarkan Ibnu Abi Daud atas Ibnu Shâ’id. Begitu juga tidak peerlu didengaar omongan Ibnu Jarir tentangnya, sebab antara mereka itu telah terjadi permusuhan yang nyata. Maka berhentilaah kamu dalam omongan sesama temaan, aqrân. Adapun ucapan ayahnya tentangnya, jika itu benar, sepertinya yang dimaksud adalah berbohong dalam pembicaraan biasa bukan berbohong dalam hadis. Sepertinya ia megucapkannya di waktu Abdullah masih remaja, kemudian ia menjadi dewasa dan memimpin.”[8]

Ketika mengomentari permusuhan dan saling catat mencatat antara Imam Malik dan Ibnu Ishaq, adz Dzahabi berkata, “Aku berkata, ‘Kami tidak mengakui bahwa Ahli jarh dan ta’dîl adalah orang-orang ma’shûm dari kesalahan yang jarang dan tidak juga dari omongan dengan nada kasar terhadap orang yang sedang bermusuhan dengnnya. Dan telaah dikethui bahwa omongan aqrân, satu masa lainnya harus diabaikan dan tidak perlu dihiraukan…. .” [9]

Demikianlah telah kita saksikan bersama, bagaimana pencacatan, tha’nu atas periwayat tertentu atas dorongan nafsu dan permusuhan pribadi. Lalu apakah yang demikian dapat kita jadikan pijakan dalam menilai seoraang periwayat?! Bukankah sikap sepertim itu mencerminkan kurangnya kehati-hatian ddalam agama. Selain itu, pujian, tazkiyah yang attas diberikan kepada periwayat tertentu juga sangat mungkin akan diilhami oleh sikap-sikap tidak obyektif pula. Sebab jika ia mencacat dengan dorongan hawa nafsu, bisa jadi ia akan memuji jugaa atas dorongan hawa nafsu! Karena telah mendapat atau mengharap kebaikaan orang yang dipujinya.

Dan jika demikian keadaannya maka, maka tidak berarti terbatas pada teman sezaman saja, sebab bisa jadi ia akan mencacat atau memuji orang terdahulu karena alasan yang sama. Bukankaan kebencian dan kecintaan itu tidak terbatas hanyaa pada rekan-rekan sezaman saja?!

Sebelum mengakhiri pembicaraan ini saya teertarik menyebut kasus pencacatan an Nasa’i atas Ahmad ibn Shaleh al Mishri.

Ketika menerangkan kata-kata Imam an Nawawi, “Dan wajib atas yang berbicara tentang jarh dan ta’dî untuk bersikap hati-hati. Dan tidak sedikit orang yang salah dalam mencacat orang dengan dasar yang tidak menyebabkaan cacat.”, as Suyuthi mengomentari, Dan tidak sedikit orang [dari para imam/ulama besar]yang salah dalam mencacat orang [tsiqah/terpercaya] dengan dasar yang tidak menyebabkaan cacat [seperti an Nasa’i mencacat Ahmad ibn Shaleh al Mishri dengan katsa-katanya, “ghairu tsiqah wal ma’mûn/ia tidak tsiqah dan juga tidak terpercaya.” Padahal dia itu orang tsiqah, imam dan hâfidz. Imam Bukhari meriwayatkan darinya dalam kitab Shahih-nya dan ia ditsiqahkan oleh kebanyakan ulama besar. Khalili berkata, ‘Para ulama hadis, huffâdz bersepakat bahwa omongan an Nasa’i itu karena sentimen, tahâmul dan omongan seperti an Nasa’i tidak akan menyebabkan cacat atasnya. Ibnu Ady berkata, ’Sebab dilontarkan omongan itu oleh an Nasa’i adalah karena ketika hadir di majlisnya Ahmad ibn Shaleh ia diusir, maka sebab itu ia berkomentar buruk tentangnya.’ ”][10]

**********************

ARTIKEL TERKAIT

  1. Ulama Ahlusunnah Saling Cacat-Mencacat 2
  2. Ulama Ahlusunnah Mencacat Rekan-rekan Mereka Sendiri (1)
  3. Ulama Ahlusunnah Mencacat Rakan-rekan Mereka Sendiri (2)
  4. Masihkan Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (1) Imam Malik di cacat
  5. Masihkah Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (2) Yahya ibn Sa’id al Qaththân
  6. Masihkah Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (3) Yahya ibn Ma’in (W.233H).
  7. Masihkah Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (4) Ali ibn al Madîni (W.234H).
  8. Masihkah Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (5) Imam Ahmad Ibn Hanbal
  9. Masihkah Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (6) Muhammad ibn Yahya adz Dzuhali Musuh Bebuyutan Imam Bukhari!
  10. Ulama Ahlusunnah Saling Menyesatkan Dan Mengafirkan! (1) Imam Malik Harus Diminta Bertaubat!
  11. Ulama Ahlusunnah Saling Menyesatkan Dan Mengafirkan! (2) Ulama Ahlusunnah Menuduh Ibnu Hibban (Penulis Kitab Hadis Shahih) Sabagai Orang Zindiq/Kafir!


[1] Keterangan lebih lanjut baca dalam Tawdhîh al Afkâr,2/279.

[2] Lisân al Mîzân,1/201-202 ketika menyebut diodata Abu Nuiam; Ahmad ibn Abdullah.

[3] Tawdhîh Afkâr,2/278.

[4] Tahdzîb at Tahdzîb,8/71 ketika menyebut diodata Amr ibn Ali ibn Bahr ibn Kanîz al Bâhili.

[5] Ar Ruwât ats Stsiqât:24.

[6] Siyar A’lâm an Nubalâ’,13/230 ketika menyebut diodata Abu Bakar as Sijistâni.

[7] Tadzkirah al Huffâdz,2/767-772 ketika menyebut diodata Ibnu Abi Daud.

[8]Ibid.

[9] Siyar A’lâm an Nubalâ’,7,40-41. ketika menyebut biodata Ibnu Ishaq.

[10] Tadrîb ar Râwi,2/369-370.

10 Tanggapan

  1. @ibnujakfaria. Oleh krn itu saya tdk berpegang hadis2 walaupun dikatakan SHAHIH. Selama hadis bertentangan dg Alqu’an. Klu kita ragu2 dlm menafsirkan ayat2i Alqu’an maka kita serahkan pd Allah yg menentukan dg niat mengharapkan keridhaan Allah. Atau jauhi aja. Masa ada hadis yg katanya dr Rasulullah yg menceritakan bahwa Nabi Musa lari telanjang utk membuktikan kpd bani Israel bahwa Nabi Musa tdk mengandung penyakit herniah. Ini dlm Kitab yg dinyatakan Shahih. Apakah mungkin Rasul bercerita demikian? ANEH. Bgmn sih mereka menilai akhlak Rasul.Jd bg saya klu sdh ada yg ngaur dlm buku Hadis tsb maka seluruh isi dlm hadis Shahih tsb perlu diragukan

  2. Bunga aburahat kalo belum banyak baca kitab-kitab syiah jangan ngomong gitu dong. malu.
    Hadis tantang Nabi Musa tersebut bukan cuma ada dalam kitab ahlussunnah, dalam kitab-kitab syiah juga ada, tanyakan sama ustad anda bahwa yang ngarang kitab Bihar al-Anwar juga menukil riwayat ini, kalo saya mau saya tampilkan beberapa riwayat itu, tapi saya rasa nggak usah deh.

  3. Aburahat, saya harap anda jangan bertopeng ahlussunnah, ato memang anda adalah Bung Jakfari yang sengaja berwajah dua

  4. Terima kasih mas Jakfari atas pemberitahuan-pemberitahuan ini. Semoga bisa menjadi bahan pemikiran bagi kita semua.
    Namun saya skeptis kaum Wahabi akan menerima kenyataan ini dengan sikap mereka yang enggan membuka hati dan pikirannya. Yang akan muncul sebentar lagi adalah cacian-cacian thd penulis dan keyakinan penulis yang notabene cuman menukil ucapan-ucapan ulama mereka. Yang akan muncul kemudian adalah pembelaan-pembelaan personal yang tidak berdasar dan hipokrit dimana sebenarnya kalau mereka membaca tulisan di atas seharusnya yang mereka perlu sanggah adalah apakah tulisan tsb benar. Dan kalau tidak, bagaimana yang sebenarnya?
    Damai…..damai

  5. Ada sebuah artikel berbunyi…

    1. Syaikh Muhammad Bin Shalih Al ‘Utsaimin ditanya: “Apakah ada nash-nash dari Al-Qur`an dan Sunnah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam yang memperbolehkan berbilangnya kelompok-kelompok atau ikhwan?

    Jawab: “Dalam Al-Qur`an maupun As-Sunnah tidak ada sesuatu yang membolehkan berbilangnya kelompok-kelompok dan jamaah-jamaah. Bahkan yang ada, Al-Qur`an maupun As- Sunnah mencela hal itu. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (Al-An’am: 159)

    Dan Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

    “Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Rum: 32)

    Tidak diragukan bahwa kelompok-kelompok ini bertolak belakang dengan apa yang Allah perintahkan, bahkan apa yang Allah anjurkan dalam firman-Nya:

    “Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabbmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (Al-Mu`minun: 52)

    Adapun ucapan sebagian orang bahwa tidak mungkin dakwah akan kuat kecuali jika berada di bawah kelompok/ organisasi, maka kami katakan: Ini tidak benar. Bahkan dakwah akan semakin kuat setiap kali seseorang semakin bernaung di bawah Al- Qur‘an dan Sunnah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam serta mengikuti jejak Nabi dan para Al-Khulafa‘ Ar-Rasyidin.”

    (Sumber : kitab Jama’atun Wahidah la Jama’at, karya Asy-Syaikh Rabi’)

    2. Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya: “Apakah jamaah-jamaah yang ada masuk dalam 72 golongan yang binasa?”

    Jawab: “Ya, semua yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jamaah berupa kelompok- kelompok yang mengatasnamakan Islam, (menyelisihi) dalam hal dakwah atau dalam hal aqidah, atau sesuatu dari pokok-pokok iman, maka ia masuk ke dalam 72 kelompok. Dan ia masuk dalam ancaman dan terkena celaan serta hukuman sesuai kadar penyelewengannya.”

    Beliau juga ditanya: “Apa hukum keberadaan kelompok-kelompok seperti Jamaah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dan lain-lain di negeri muslimin secara umum?”

    Jawab: “Jamaah-jamaah pendatang ini wajib untuk tidak kita terima, Karena mereka ingin menyelewengkan kita dan memecah-belah kita. Menjadikan yang ini ikut jamaah Tabligh, yang ini ikut Ikhwanul Muslimin, yang ini begini… Kenapa berpecah seperti ini? Ini termasuk kufur terhadap nikmat Allah ta’ala. Kita berada di atas satu jamaah dan agama kita jelas. Kenapa kita menjadikan yang rendah sebagai ganti yang baik?”

    (Sumber : dari buku Al-Ajwibah Al-Mufidah)

    Melihat isi artikel diatas, yang jadi pertanyaan… Apakah berorganisasi itu “haram”? padahal pandangan mata kita semua melihat kalau berorganisasi banyak sekali mamfaat yang didapat. (Wallahu ‘alam..mungkin saja pandangan mata kita salah..karena mungkin sebenarnya ada kerusakan yg lebih besar)

    dan kalau itu memang di”haram”kan..bagaimana dengan Muhammadiyah, NU, Persis, Al Irsyad, Jamiat Khair, FUI, FPI, MMI, dan lain2nya? karena kalau diliat mereka pun merupakan kelompok/golongan yg mengatasnamakan islam.

  6. berani nggak dua2nya bilang nggak shohih dan ngak kepake….

  7. @Jakfari
    Rupanya diblog ini sdh muncul tukang ramal.

  8. salam, ana mau nanya dalam ilmu jarh dan ta’dil di sunni kitab apa yang paling representatif setidaknya, begitu juga di syi’ah

    ________________
    -Ibnu Jakfari-

    Di Sunni: Mizan i’tidal, Lisan Mizan, al-Jarh wa at-Ta’dil (Ar Razi), al-Kamil dll.
    Di Syi’ah: Rijal ath Thusi, Rijal adh-Dhaghairi dll.

  9. @husaini
    Buktikan dan tolong kirimkan data2nya klu di Syiah ada. Jgn asal ngomong. Sebab setahu saya (mungkin anda banyak membaca buku Syiah) Tp karangan Wahabi. Saya tdk yakin anda anda membaca buku asli dr Imam2 Syiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: