Kebangkrutan Musuh-musuh Syi’ah!!

Perbedaan antara mazhab Syi’ah dan Ahlusunnah yang terjadi hampir di sepanjang rentang sejarah umat Islam, sering dipicu oleh kesalah-pahaman antara kedua belah pihak atau raibnya etikat baik dari kedua pihak atau dari salah satu pihak yang sedang berselisih atau tidak diindahkannya norma-norma yang harus terpenuhi dalam berdialoq.

Perbedaan yang terjadi di sepanjang sejarah umat Islam itu, sering kali berkembang menjadi pertentangan dan sebuah konflik antara kedua pihak. Keterlibatan pihak ketiga yang merasa diuntungkan dengan makin tajamnya perselisihan itu tidak bias dipungkiri.

Artikel ini akan menyoroti berbagai bentuk kerancuan dalam etika berdialoq dan norma-norma yang diabaikan oleh salah satu pihak dalam menyikapi perselisihan dan ikhtilâf yang selama ini terjadi antara Syi’ah dan Sunni.

Sikap Ulama Sunni Dalam Menanggapi Gugatan Syi’ah

Jauh sejak beradab-abad silam, sejak generasi awal, telah terjadi silang pendapat dan perbedaan yang lumayan tajam antara mazhab Syi’ah Ja’fariyah Itsnâ’asyariyyah dengan kelompok-kelompok pemikiran lain yang berkembang di tengah-tengah umat Islam, baik Mu’tazilah maupun Ahlusunnah.

Polemic perkembangan itu telah mewariskan kepada kita kekayaan pemikiran yang berharga –andai kita pandai memanfa’atkannya- dan kelaigus melaporkan bagaimana gentingnya perselisihan itu… sehingga tidak jarang, semangat untuk mengalahklan lawan dialoq menindas obyektifitas pembahasan dan mencoreng kualitas ilmahnya.

Dengan menetili kualitas bantahan dan dialoq atau polemic yang terjadi antara tokoh-tokoh kedua mazhab dapat kita saksikan adanya ketidak beresan pada pihak lawan-lawan Syi’ah dalam sanggahan atau hujatan mereka terhadapa mazhab Syi’ah Ja’fariyah Itsnâ’asyariyyah. Ketidak beresan itu terlihat pada:

1) Tidak jarang gugatan dan bantahan itu rancu dan tidak mengena pada poin inti yang diajukan ulama Syi’ah.

2) Gugatan dan bantahan Sunni atas Syi’ah tidak memenuhi standar ilmiah yang harus terpenuhi, seperti:

A) Berhujjah dalam menghujat lawan dengan dalil yang hanya diakui oleh pihak penghujat saja.

B) Berhujjah dalam menghujat lawan dengan hadis-hadis yang tidak berkualitas, lemah atau bahkan mawdhû’/palsu.

3) Kental denga nuansa emosianoal dan menggunakan kata-kata tidak sopan dan caci maki.

4) Menuduh tanpa dasar pihak lawan dengan keyakinan-keyakinan yang tidak mereka yakini.

5) Memberlakukan standar ganda dalam menilai sebuah hujjah/dalil; hadis atau menetukan vonis.

6) Menolak tanpa alasan dan hujjah hadis shahih yang diajukan ulama Syi’ah.

7) Menolak dengan tanpa alasan semua hadis/bukti yang bertentangan dengan doqma ajaran mereka.

Dan selain yang disebutkan di atas mungkin masih ada ketidak beresan lain yang akan disinggung dicelah-celah pembahasan nanti. Tidak seluruh poin di atas yang hendak penulis soroti kali ini, hanya sebagiannya yang akan menjadi bahan telaah.

· Gugatan dan bantahan Sunni atas Syi’ah tidak memenuhi standar ilmiah

Dalam menghadapi dalil-dalil Syi’ah tentang Imam Ali as., Ahlusunnah terpaksa tidak menggunakan dalil standar yang layak dijadikan dalil…. Mereka hanya mampu menyajikan beberapa hadis, selain hadis-hadis itu hanya diriwayatkan oleh AHlusunnah sendiri, pada sanadnya masih banyak masalah, seperti hadis perintah mengikuti Syaikhain, dan hadis shalat Abu Bakar di hari-hari akhir hidup Nabi saw.!

Ibnu Hazm al Andalusi berkata:

إختلف الناس فِي الإمامة بعد رسول الله (ص)، فقالت طائفةٌ: إنَّ النبي لَم يستخلِف أحدًا، ثم اختلفوا، فقال بعضهُم: لكن لمَّا استخلف أبا بكر على الصلاة كان ذلك دليلاً على أنه أولاهُم بالإمامة و الْخلافة على الأمر. و قال بعضهم: لا، و لكن كان أبينهم فضلا فقدَّموه لذلك، و قالت طائفة: بَل نصًّ رسولُ الله على استخلافِ أبي بكر بعده على أمور الناس نصا جليا.

“Manusia berselisih tentang imamah sepeninggal Rasulullah saw. Sekelompok orang berpendapat: Nabi tidak menunjuk seorang pun. Kemudian mereka berselisih, sebagian berpendapat: Akan tetapi nabi menunjuk Abu Bakar untuk memimpin shalat dan itu bukti bahwa ia paling berhak atas imam dan urusan manusia. Sebagian berpendapat: Tidak, akan tetapi dia adalah yang paling nyata keutamaannya, maka para sahabat mengedepaknannya sebagai Khalifah. Sekelompok orang berpendapat bahwa Nabi telah menunjuk Abu Bakar dengan penunjukan tegas untuk memimpin.” (Demikian dikutip Ibnu Taimyah dalam Minhâj as Sunnah,6/338)

di sini Anda pasti ingin mengetahui mana di antara pendapat-pendapat di atas yang dipilih Ibnu Hazm? Ternyata Ibnu Hazm lebih memilih pendapat yang mengatakan penunjukan atas Abu Bakar. Ia berkata:

و بهذا نقول، لِبراهين.

“Pendapat inilah yang kami pilih, disebabkan beberapa burhan/bukti.”

Setelahnya ia menyebutkan beberapa hadis pengangkatan Abu Bakar dari riwayat Aisyah dan beberapa anggota keluarga Abu Bakar sendiri!

Kemudian ia melanjutkan dengan menyebut dalil mereka yang meyakini tidak adanya nash/penunjukan yaitu hadis Ibnu Umar yang menegaskan bahwa Nabi saw. Tidak menunjuk sispa-siapa untuk menjadi Khalifah! Dan untuk memnajwabnya Ibnu Hazm berkata:

و مِن الْمحال أن يُعارِضَ إجماعَ الصحابة.

“ Dan adalah mustahil ia (hadis Ibnu Umar itu) dapat melawan ijma’ para sahabat.”!!!

Di sini Ibnu Hazm dengan terpaksa mengakui –baik ia sadari atau tidak- bahwa nash/penunjukan atas Abu Bakar itu tidak pernah ada…. Ia terpaksa kembali mengandalkan dalil ijma’!!

Anda akan terheran ketika menyaksikan ulama Sunni dalam bantahannya atas kayakinan Syi’ah tentang bahwa Imam Ali as. adalah Khalifah dan Imam/pemimpin yang telah ditunjuk Nabi saw. dengan nash terang… dan nash-nash itu dapat ditemukan dalam kitab hadis standar Sunni dan telah diriwayatkan para muhaddis mereka dengan sanad-sanad yang kuat dan berkualitas… Anda akan terheran ketika ternyata ulama Sunni membantahnya dengan mengajukan hadis-hadis tertentu yang hanya ada dan diakui kalangan Suuni sendiri, sementara Syi’ah tidak mengakuinya karena memang tidak ada dalam kitab-kitab standar Syi’ah… dengan mengatakan bahwa hadis itu terbantah dengan hadis yang menunjukkan bahwa Nabi saw. tidak menunjuk seorangpun untuk jebatan itu atau bahwa Nabi saw. telah mengisyaratkan kepada Abu Bakar untuk menduduki jabatan itu…

Jelas berhujjah atas lawan dialoq yang sedang berselisih pendapat dengan kita hendaknya dengan mengajukan dalil yang diakui oleh pihak lawan dialoq kita, seperti terdapat dalam kitab yang ia akui kemu’tarannya. Akan tetapi jika hal tidak dipenuhi, maka hujjah yang kita ajukan itu menjadi tidak berguna, sebab ia akan mengatakan kepada kita bahwa dalil itu tidak pernah dia akui kesahahihannya.

Ketika para ulama Syi’ah berhujjah dengan hadis Ghadir yang mengatakan bahwa Nabi saw. telah menujuk Ali as. sebagai pemimpin setelahnya… dan hadis Ghadir itu telah diriwayatkan dan dishahihkan para ulama Sunni… itu adalah sudah kucup memenuhi standar ilmiah dalam berhujjah. Di sini datanglah para ulama Sunni untuk mengatakan bahwa ada hadis yang mengatakan bahwa Nabi saw. telah mengisyaratkan bahwa Abu Bakar-lah yang telah beliu restui sebagai pemimpin setelahnya, ketika beliau saw. menunjuknya sebagai imam dalam shalat selama Nabi saw. sakit di akhir hidup beliau.

Terlepas dari shahih atau tidaknya hadis itu, dan terlapas dari sehat-tidaknya kesimpulann yang mereka bangun darinya, terlepas dari itu semua bahwa berhujjah atas Syi’ah dengan hadis yang hanya diriwayatkan oleh Sunni adalah hal menyalahi etika berdialoq. Kalau mau benar semestinya para ulama Sunni itu harus mampu membuktikan dari kitab-kitab standar Syi’ah bahwa hadis itu shahih atau paling tidak ada dalam kitab-kitab standar Syi’ah itu hadis yang membatalkan penujukan Ali as. Sebagai Khalifah!

Ketika ulama Syi’ah mengajukan bukti tentang Imamah Ali as. Dengan hadis Manzilah misalnya, maka para ulama Sunni menandinginya dengn hadis yang menjeleskan kedudukan Abu Bakar atau Umar yang sepadan dengan kedudukan Ali as. Sementara hadis terakhir ini hanya ada di kalangan Sunni saja! Itupun dengan kualitas sanad yang memalukan.

Ketika ulama Syi’ah mengangkat hadis Madinah Ilmu sebagai bukti imamah Ali as. maka ulama Sunni akan menyajikan hadis tandingan yang mengatakan bahwa Abu Bakar juga pintu kota ilmu Nabi saw.

Serta masih banyak lagi contoh lain yang tidak mungkin disebutkan satu persatu di sini.

· Berhujjah dengan hadis-hadis dhaif atau bahkan mawdhû’/palsu.

Satu lagi cacatan reputasi buruk para ulama Sunni ketika berhadapan dengan ulama Syi’ah dalam memperdebatrkan keyakinan mereka, yaitu mereka sering membela diri dari gugatan Syi’ah yang mengajukan bukti-bukti dari dahis-hadis shshih dari riwayat Sunni dengan hadis-hadis lain yang lemah atau bahkan palsu dalam pandangan ulama Sunni sendiri… Di sisi ada dua kegagalan dalam berdialoq, pertama, dalil itu hanya ada dan diakui dalam leteratur Sunni, kedua, hadis itu lemeh dan tidak berkualitas.

Kenyataan ini sering kita jumpai dalam argumntasi Sunni melawan Syi’ah. Seperti, ketika Syi’ah mengajukan bukti akan keharusan mengukuti ajaran para imam suci Ahlulbait as. Melalui hadis Tsaqalain dan hadis Safinah misalnya… maka di sini ulama Sunni berusaha mencacat kualitas hadis itu. Akan tetapi ketika hal itu tidak akan membuahkan hasil sebab hadis itu kuat dan shahih, maka mereka mengatakan hadis itu bertentang dengan hadis lain yang memerintahkan umat Islam untuk mengikuti sahabat Nabi saw. hadis itu dikenal dengan nama hadis an Nujûm.

Sementara itu para pakar dan ahli hadis Sunni telah mengatakan bahwa paling tidak hadis itu sangat lemah, atau bahkan mawdhû’/palsu.

Sikap tidak ilmiah itu telah dipraktikkan oleh banyak ulama Sunni, di antaranya adalah Ibnu Taimiyah, Fakhurrazi, ath Thaybi, asy Syathibi, ad Dahlawi dll.

Ini dapat menjadi indikasi kuat akan kebangkrutan dunia argumentasi Sunni, jika tidak mengapa harus hadis palsu dan lemah yang diandalkan?

Selain itu, hal ini dapat membuka peluang untuk mengatakan dimanakah keseriusan keberagamaan mereka, setelah mengetahui cacat sebuah hadis, tetap saja mereka jadikan hujjah untuk menegakkan pondasi ajaran agama mereka? Bukankah sikap itu dapat tergolong sebagai menipu dan membodohi kaum awam?!

· Memberlakukan Standar Ganda

Betapa bangga ulama Sunni dengan kualitas kitb Shahih Bukhari. Tak tanggung-tanggung pujian yang mereka berikan untuknya, weleuruh hadis musnad di dalamnya adalah shshih dan ia adalah kitab tershahih setelah Al Qur’an al Karim; kitab suci yang tiada keraguan dan kebatilan di dalamnya.

Akan tetepi, semua itu akan dikesampingkan dan seakan tidak bernilai ketika ternyata ditemukan dalam kitab Shahih Bukhari hadis yang tidak mengintungkan mazhab Sunni atau meruntuhkan bangunan keyakinan yang mereka imani.

Shahih Bukhari sekarang tidak lagi diskralkan, dan Imam Bukharinya pun tidak dinomer satukan. Kini hadisnya menjadi bulan-bulanan para pencacat dan sasaran kritik para kritikus?

Sekali lagi, hanya ketika Bukhari tidak mengintungkan mereka atau lebih tepatnya, ketika Bukahri mempersenjatai ulama Syi’ah dengan hadis yang mendukung mazhab mereka!

Contoh segar sikap ini adalah sikap dan penolakan ulama Sunni atas hadis Manzilah yang tegas-tegas merupakah salah satu bukti kuat imamah Ali as.

Apa pijakan mereka dalam menolak keshahihan hadis Manzliah? Karena al Âmidi menolak kesahahihnya! Siapa al Âmidi itu? Ternyata ia adalah seorang alim yang mereka cacat sendiri kualitas ilmu dan keberagamaannya.

Perhatikan, bagaimana mereka dengan tanpa taqwa menolak hadis shahih hanya karena ucapan seorang al Âmidi yang cacat dan diragukan agamanya!

Mengapakah mereka campakkan penshahihan para pakar ilmu hadis dan kini mengandalkan seorang yang setengah awam dalam dunia hadis? Semua itu harus mereka lakukan, sebab kalau tidak meraka akan terdesak oleh argumentasi Syi’ah yang kuat dengan shahihnya hadis Manzliah! Yang penting kita jangan sampai kalah! Apapu harus dilakukan untuk menag!

Selain hadis Manzilah masihg banyak contoh lain, sengaja kami tinggalkan, kami khawatir Anda makin tidak simpatik dengan ulah ulama seperti itu!

· Menolak Hadis Sesuai Hawa Nafsu

Berapa banyak hadis shshih mereka tolak, berapa perawi jujur dan tsiqah mereka cacat ketika dikatahui bahwa perawi itu meriwayatkan hadis keutamaan Ahlulbait as. atau ketika hadis itu memuat keutamaan Ahlulbait as.!

Sikap anti-pati seperti sangat jelas dalam perlakuan ulama Sunni dalam menyikapi hadis-hadis fadhâil Ahlulbait as. Tidak jarang sikap kebingungan dan ketidak jelasan standarisasi dalam menilai hadis tampak dari sebagian mereka. Sebagaimana klaim ijmâ’ sering dipalsukan untuk kepentingan mereka.

Ibnu Hazm, Ibnu al Jawzi dan Ibnu Taimiyah mungkin termasuk di antara ratusan ulama yang paling berani menerjang rambu-rambu etika islamiyah dalam menerima atau menolak sebuah hadis.

Terlalu sering Ibnu Taimiyah menolak hadis dengan dorongan nafsunya sediri ketika ia tidak berselera terhadapnya.

Sebagaimana caci maki dan kata-kata keji dan kotor yang tak senonoh juga menjadi kebiasaan buruknya.

Begitu juga dengan Ibnu Hazm dan Ibnu Jawzi terlalu berani dan gegabah dalam menvonis hadis dan terlihat tidak memiliki standarisasi yang jelas dan ilmiah dalam penilaiannya.

9 Tanggapan

  1. kang, bisa tolong di cuplikan hadits ghadir ghum yang lengkap.

    _____________________
    -Ibnu Jakfari-

    Banyak versi hadis Ghadir… adz Dzahabi telah meriwayatkannya dari 100 jalur lebih.
    Di antara redaksinya:

    من كنتُ مولاه فعلي مولاه

    atau:

    من كنت وليَّه فهذا علي وليه.

  2. “Sesungguhnya kebenaran itu jelas (gamblang)…”
    Saya sangat respek atas blog ini. Banyak kajian ilmiah yang masuk akal. Mudah-mudahan jerih payak Pak Admin di balas Allah SWT…

    ____________________
    -Ibnu Jakfari-

    Amin Ya rabbal Alamin.

  3. @Abu Jakfary
    Saya salut atas analysa anda terhadap penulisan tsb diatas. Tapi mengapa mereka ngotot ttp tdk mengakui hujah Syiah dg dalil yg cukup jelas? Ada dua kemungkinan:
    PERTAMA : Ulama2 pertama yg mendhaifkan hadis yg telah dishahihkan dr kelompok mrk dlm shahih mereka disebabkan DENGKI, IRI, HASUT terhadap Imam Ali serta Ahlulbait dan Itrahti Nabi.
    KEDUA : Sebgm kita ketahui Hadis2 Rasul terkumpul pd 80 H. Dan pd waktu itu yg berkuasa adalah zaman Muawiyah dilanjutkan oleh Yazid ibnu Muawiyah yg nyata2 membebci para Ahlubait serta itrahnya. Jd klu mrk tdk hasut maka dlm pengumpulan hadis tertekan oleh penguasa diwaktu itu.
    Tapi kita pd zaman skrg tdk tertekan dan tdk perlu membenci Imam Ali dan keturunannya. Jd menurut kami sebaiknya mrk yg sekarang berpikir secara jujur dan benar utk mencari keridhaan Allah tdk perlu bertaklik terhadap mereka2 yg diancam oleh api neraka. untuk ini cobalah mrk pelajari firman2 Allah dibawah ini insaya Allah kita mohon kpd Allah agar mrk sadar dan kembali kejln yg benar. Kita hanya menyampaikan dan menjelasakan sedangkan petunjuk adalah hak Allah. klu mrk menghendaki kesesatan Allah akan sesatkan dan apabila menghendaki petunjuk Allah akan memberi petunjuk. Firman Allah tsb terdpt :
    1. Surah Al Baqarah ayat 90, 109 , dan 213
    2. Surah An Nissa ayat 54 dan 55
    3. Surah Al Fath ayat 9
    4. Surah Al Falak ayat 5
    Mudah2an mrk membaca dan meneliti agar sadar atas kesalahan yg lalu Amin.

  4. Salam ‘alaykum.
    Yang meriwayatkan hadis Ghadir dari 100 jalur lebih itu Al-Dzahabi ataukah Al-Amini? Di kitab apakah Al-Dzahabi mencatat 100 jalur lebih hadis Ghadir?
    Kitab hadis Sunni mana yg meriwayatkan hadis Ghadir dgn redaksi “waliyyahu” sebagai ganti redaksi “mawlahu”?
    Mohon infonya, terima kasih. Salam ‘alaykum.

    ______________________
    Ibnu Jakfari:

    Anda perlu banyak belajar tentang kitab-kitab Hadis di kalangan Ahlusunnah, sebab banyak data di sana yang menunjukkan imamah Ahlulbait as.

    Tidak sedikti ulama Ahlsunnah yang mengarang buku untuk merangkum hadis Ghadir… di antaranya adz-Dzahabi dalam kitab Hadis al-Wilayah, demikian juga Ibnu Uaqdah dll.
    Yang meriwayatkan dengan redaksi:

    من كنت وليه…

    banyak sekali di antaranya Ibnu al-Atsir dalam Usdul Ghabah dengan sanad bersambung kepada Abu Junaidah Janda’ ibn ‘Amr ibn Mazin. Baca Usdul Ghabah:1/308.

  5. saya jauh lebih percaya hadist yang diriwayatkan oleh Ahlul Bait ketimbang hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan lainnya ….

    salam

  6. mas ja’fary….coba donk ente bahas ttg buku2 yg yg mengutip kata waliyahu…di kitab ahlussunah…
    biar clear…
    juga sekalian dibahas pengertian maula itu secara bahasa dan konteks biar jelas….

    Ibnu Jakfari:

    masalah imamah akan dibahas disini nanti, ada gilirannya mas.
    Tentang hadis dengan redaksi yang kamu minta sudah saya sebutkan dalam tanggapan saya kemarin.

  7. Baru2 ini, saya diinterogasi dalam suasana “penghakiman”.
    Dia: Islam itu kota sucinya apa!?
    Saya: Makkah & Madinah.
    Dia: Syiah bikin kota suci sendiri di Qum. Apa itu!?
    Saya: Qum ditetapkan jadi kota suci maksudnya [bhw] yang boleh tinggal & masuk ke kota itu hanya orang Islam [Syiah maupun Sunni]; Orang bukan Islam tidak boleh.
    Dia: Bikin kota suci sendiri apalagi tujuannya kalau bukan mau memindah.
    Saya: Itu argumen prasangka. Qum disebut kota suci bukan berarti disamakan statusnya seperti Mekkah & Madinah.

    Mohon Pak Ibnu Jakfari menilai jawaban saya di atas. Terima kasih bila ada koreksi atau tambahan. Salam ‘alaykum.

    Ibnu Jakfari:

    Untuk sementara, saya belum bisa nambahkan apa-apa. Maaf.

  8. ini ada riwayat mengenai Ghadir Khum :

    http://www.al-shia.org/html/id/books/asbab-nozool/18.htm

  9. […] Kebangkrutan Musuh-musuh Syi’ah! […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: