Al Ghairah dan Al Hamiyyah

Kuliah 3:

Al Ghairah[1] dan Al Hamiyyah

Wahai saudaraku, janganlah engkau bertoleransi dan teledor dalam menjaga/memelihara sesuatu yang perlu engkau jagajaga/pelihara yaitu agamamu, harga dirimu, putra-putrimu dan hartamu.

Berusahalah selalu untuk menolak bid’ah kaum pembid’ah, syubhat para pengingkar agama. Bersungguh-sungguhlah dalam menyemarakkan syari’at yang jelas. Jangan teledor dalam menegakkan amr bil ma’ruf dan nahi munkar.[2] Jangan engku angkat tirai kewibawaanmu dari wanita keluargamu. Berusalah sekuat kemampuanmu agar mereka tidak dilihat lajk-laki asing,jegahlah mereka dari hal-hal yang dapat membawa kerusakan, seperti mendengar musik dan nyanyian serta keluar rumah[3] dan bergaul dengan lelaki asing, mendengar cerita-cerita yang membangkitkan syahwat birahi. Berlemah lembutlah dengan mereka dalam membimbing dan seriuslah dalam memantau kondisi mereka.

Kecaman Atas Al ‘Ajalah[4]

Wahai putraku, hati-hatilah dari ketergesah-gesahan, renungkan setiap tindakan dan ucapanmu. Ketahuilah bahwa setiap perkara yang muncul dari manusia tanpa direnungkan terlebih dahulu pasti akan menimbulkan kerugian dan membawa palakunya menyasal.

Setiap orang yang tergesah-gesah dan pendek akalnya akan dipandang remeh orang lain, tidak mendapat tempat dan menganggapan di hati mereka.

Filsuf Sa’di bersyair:

Pekerjaan itu akan rampung dengan kesabaran dan berlahan-lahan.

Dan tiada bagi yang tergesah-gesah selain keterjatuhan.

Aku melihat dengan mata kepalaku bagaimana seorang yang berjalan dengan berlahan-lahan di padang pasir akan sampai lebih dahulu…

Dan bagaimana kuda yang lari kencang terjatuh kerena kepayahan… sementara onta dapat menyempurnakan perjalanannya dengan berlahan-lahan.



[1] Al Ghairah adalah langkah untuk memelihara/menjaga agama, keluarga dan harta. Sifat ini adalah bagian dari sifat syaja’ah, keberanian dan kebesaran dan kekuatan jiwa. Buah hasil syaja’ah adalah sifat al ghirah.

[2] Imam Ali as. bersabda:

قِوامُ الدِّيْنِ الأمرُ بالْمَعْرُوفِ و النهيُ عَنِ المُنْكَرِ وَ إقامَةُ الحُدودِ.

“Peneegak Syari’at adalah Amr bil Ma’ruf, nahi munkar dan menegakkan hokum/undang-undang.”(Ghurar Al Hikam:234)

Beliau as. juga bersabda:

الأَمْرُ بالمعروفِ أَفْضَلُ الأَعْمالِ.

Memerintah dengan kebajikan adalah paling afdhalnya amal.”(Mustadrak Al Wasail,12/185)

[3] Berkata Abu Yahya Al mazini, “Aku bertetangga dengan Amirul Mukminin as. dalam waktu yang sangat lam, rumahku berdekatan dengan rumah Zianab putrid beliau. Demi Allah, aku tidak pernah menyaksikan postur Zainab, tidak juga mendengar suaranya. Jika ia hendak berziarha ke makam kakeknya; Rasulullah saw., ia pergi ke sana di malam hari, dikawah hasan di sisi kanannya, Husain di sisi kirinya, Amirul Mukminin as. di depannya. Ketika sudah dekat dengan makam mulia, Amirul Mikminin as. mendahuluinya menuju makam dan memadamkan lampu di dalamnya. Ketika Hasan bertanya kepadanya tentang hal itu, beliau menjawab, “Aku khawatir ada seorang yang menatap saudarimu zainab.” (Syeikh Ja’far An Naqdi, Zainab Al Kubra).

[4] Al ‘Ajalah adalah melakukan tindakkan dengan tergesah-gesah tanpa menimbang dan memikirkan akibatnya. Ada pepatah yang mengatakan, “Pada ketergesah-gesahan terdapat penyesalan dan pada kehati-hatian dan berlahan terdapat keselamatan.”

Rasulullah saw. bersabda:

الْعَجَلَةُ مِنَ الشيطانِ و التَأَنِّي مِنَ اللهِ.

Ketergesah-gesahan itu dari setan dan berlahan-halan itu dari Allah.” (Al Niraqi, Jaami’ Aas Sa’adah,1/274)

Dan di sini perlu diketahui bahwa tidak semua Al ‘Ajalah itu tercela, ada juga yang terpuji yaitu bergegas dan bercepat dengan tidak menunda-nunda melaksanakan amal kebajikan, membantu menyelesaikan hajat orang lain. Syeikh Al Kulaini meriwayatkan dari Imam Baqir as., beliau berkata, Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ مِنَ الخَيْرِ مَا يُعَجَّلُ.

“Sesungguhnya Allah menyukai kebaikan yang dikerjakan dengan segera.” (Al Kafi,2/114 hadis no.4)

Imam Baqir as. bersabda:

مَنْ هَمَّ بِشَيْئٍ مِنَ الخَيْرِ فَلْيُعَجِّلْهُ، فَإِنَّ كُلَّ شيئٍ فيهِ تَأْخيرٌ فإنَّ لِلشَّيْطانِ فيه نَظْرَةً.

Barang siapa bertekad melaksanakan kebajikan maka hendaknya ia bercepat-cepat/bergesa, sebab sesungguhnya setiap kebaikan yang ditunda (pelaksanaannya) maka setan akan memantau/campur tangan.” (Al Kafi,2/114 hadis no.9)

Imam Ja’far as. bersabda, “Ayahku bersabda:

إِذََا هَمَمْتَ بِخَيْرٍ فَادِرْ، فَإنَّكَ لاَ تَدْرِيْ ما يَحْدُثُ.

“Jika kamu bertekad untuk berbuat kebaikan maka bercepat-cepatlah, sebab kamu tidak tahu apa yang bakal terjadi.”

2 Tanggapan

  1. Wahhabi dengan madzhab takfirnya merupakan bencana terbesar bagi umat ini., kebencian, dendan kesumat yang akhirnya menjadikan umat Islam becerai berai dan pecah belah dalam beberapa firqoh bermura dari madzhab sesat yang sering mengaku mengikuti Quran dan Sunnah Nabi ini.

    Kewajiban bagi kaum Muslimin untuk menjelaskan kebohongan mereka demi menyelamatkan generasi baru dari virus mematikan yang disebarkan wahhai lewat buku-buku dan antek-antek dungu mereka.

    Semoga semua terhindar dari fitah wahhabi ini

  2. Amiiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: