Ar Rajâ’

Kuliah 2:

Ar Rajâ’

Wahai saudaraku, janganlah engakau berputus asa dari rahmat Allah dan terus berharaplah.[1] Ketahuilah bahwa dunia ini adalah lading untuk bercocok tanam, hati anak Adam bagaikan bumi, iman bagaikan benihnya, ketaatan bagaikan iar yang harus membasahi bumi hati dan menyucikannya dari maksiat dan akhlak tercela yang bagaikan duri dan tangkai penggangu, sementara hari kiamat adalah musim panennya…

Barang siapa menanam seperti itu kemudian ia berharap maka pengharapannya benar/tepat dan apabila tidak maka tiada baginya kecuali ketertipuan dan kedunguan.


[1] Imam ja’far ash Shadiq as. Bersabda:

أُرْجُ اللهَ رَجاءً لاَ يُجْرِئُكَ على مَعْصِيَتِهِ. و خِفِ اللهَ خَوْفًا لاَ يُؤْيِسُكَ مِنْ رَحْمَتِهِ.

“Berharaplah engkau derngan pengharapan yang tidak membuatmu berani menerjang maksiat-Nya. Dan takutlah engkau kepada Allah dengan rasatakut yang tidak membuatmu berputus asa dari rahmat-Nya.” (Ath Thabarsi, Misykat Anwaar, pasal 4, hlm:124 )

Imam Ja’far as. pernah ditanya, “Apa wasiat Luqman?” beliau as. bersabda, “Di dalamnya terdapat banyak hal ajib/menakjubkan. Dan yang paling menakjubkan ialah dia berkata ekepada putranya, ‘Takutkan erngkau kepada Allah andai engkau datang menghadapnya dengan membawa amal kebajikan seluruh manusia dan jin niscaya Dia menyiksamu. Dan berharaplah terhadap Allah dengan pengharapan andai kamu datang menghadapnya dengan membawa dosa seluruh manusia dan jin niscaya Dia merahmatimu.'”

Al Kulaini meriwayatkan sebuah hadis dari Hasain ibn Saarah, ia berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ja’far)as. bersabda:

لاَ يكزنُ المُؤْمِنُ مؤمِنًا حتى يكون خائفا راجِيًا، ولا يكون خائفا راجِيًا حتى يكونَ عامِلاً لِما يَخافُ و يرجُوْ.

Tidaklah seorang muknin itu benar-benar beriman sehingga ia menjadi takut dan mengharap. Dan tidaklah ia takut dan mengharap sehingga ia beramal untuk (menghindar dari yang)ia takut darinya dan (untuk meraih apa yang )harapkan.” (Al Kafi,2/57/ hadis no.11)

Dan hendaknya seorang Mukmin itu menyeimbangkan antara Khawf dan Rajaa’ dalam jiwanya, sehingga tidak saling mengalahkan. Pengaharapannya tidak mengalahkan khawfnya agar ia tidak menjadi sembrono dan menerjang batasan-batasan larangan Allah hanya bersandar kepada pengharapannya akan kemurahan dan keluasan rahmat Allah. Demikian pula khawfnya tidak mengalahkan rajaa’nya sehingga ia berputus asa dari meraih rahmat dan pengampunan Allah ketika ia terjatuh dalam jurang maksiat. Jiwanya mesti terbuka bahwa dosa sebesar apapun yang dilakukan seorang hamba pastilah Allah akan membukakan baginya pintu pengampunan-Nya apabila hamba tersebut mau bertaubat dengan sepenuh arti taubat. Imam Ja’far as. bersabda:

إِنَّهُ ليْسَ مِنْ عَبْدٍ مؤمِنٍ إلاَّ وَ فِيْ قَلْبِهِ نُورانِ: نورُ خِيْفَةٍ؟؟؟؟

Tiada bagi seorang mukmin kecuali dalam hatinya terdapat dua cahaya; cahaya khiifah (takut) dan cahaya pengharapan. Andai yang satu ditimbang pasti tidak akan mengalahkan yang lainnya.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: