Al Ghuluw Di Kalangan Ahlusunnah wal Jama’ah!

Selamanya Syi’ah tak henti-hentinya menjadi sasaran panah-panah beracum kecaman kaum Nawashib dan mereka yang terpengaruh oleh provokasi mereka… beragam kemacaman telah dilontarkan kepada Syi’ah demi menjauhkan kaum Muslimin dari ajaran Ahlulbiat Nabi as…. Tidak jarang kesengajaan mengaburkan kebenaran mazhab Syi’ah dengan mengaitkan mazhab mereka dengan unsur Yahudi, Persia dan semua ukmum yang merusak Islam….

Di antara yang sering kita dengar dari mulut-muluit berbisa musuh-musuh Ahlulbauit as. adalah bahwa Syi’ah bersikap berlebihan dalam menyanjung dan memuliakan para imam mereka. Tuduhan bersikap ghuluw adalah tuduhan yang popular mereka lontarkan! Sehingga terkesan bahwa sikap ghuluw hanya identik dengan Syi’ah…. Dan Ahlusunnah terbebas dari sikap ghuluw. Sementara sikap ghuluw di kalangan Ahlusunnah sangat kental!

Di bawah ini saya akan sebutkan beberapa contoh sikap ghuluw…. Akan tetapi sebelumnya saya akan sebutkan pengakuan seorang tokoh besar Ahlusunnah bahwa sikap ghuluw tersebar di tengah-tengah Ahlusunnah.

Ibnu Taimiyah yang tak henti-hentinya mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menggempur Syi’ah dengan berbagai tuduhan, telah mengaku adanya sikap ghuluw pada Ahlusunnah.

Ibnu Taimiyah berkata, “Jika ada yang berkata, ‘Sifat yang kamu tempelkan untuk Rafidhah berupa ghuluw, syirik dan bid’ah juga banyak darinya terdapat pada benyak Ahlusunnah…. Banyak dari mereka bersikap ghuluw terhadap para masyâikh (tokoh) mereka dengan menyekutukan mereka dengan Allah, dan membuat-buat bid’ah dalam ibadah yang tidak pernah disyari’atkan… banyak di antara mereka mendatangi kuburan orang yang dihusnudzani, baik untuk meminta-minta dari Allah –ta’ala– sebuah hajat dengan perantaraannya atau dengan anggapan bahwa berdoa di sana lebih afdhal di banding dengan di masjid.

Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa berkunjung ke kuburan para masyâikh mereka lebih afdhal dari berangkat haji ke tanah suci… di antara mereka ada yang merasa lebih merasakan kekhusyu’an dan kelembutan jiwa di kuburan mereka yang tidak ia dapatkan di masjid-masjid dan rumah, dan lain sebagainya yang juga ada di kalangan Syi’ah. Ia meriwayatkan hadis-hadis palsu seperti hadis-hadis kaum Rafidhah, seperti:

Jika seorang dari kalian berprasangka baik dengan seonggok batu pastilah ia akan memberikan manfaat untuknya….

Jika kalian kesulitan dan telah tertutup seluruh jalan maka hendaknya kalian memintanya dari penghuni kuburan…

Kuburan si fulan itu adalah obat penyembuh…

Jika ada yang mengatakan itu, maka akan dijawab bahwa semua itu telah dilarang Allah dan Rasul-Nya. Dan semua yang dilarang Allah dan Rasul-Nya maka ia terkecam, baik pelakunya orang Syi’ah maupun orang Sunni.” (At Tafsir al Kabîr; Ibnu Taimiyah,4/293)

Sekarang ikuti contoh-contoh sikap Ghuluw Ahlusunnah terhadap para tokoh mereka.

· Syeikh Ahmad ibn Hilâl al Husbâni Mengambil Ilmu langsung Dari Allah Tanpa Perantara!

Dalam kitab ath Thabaqât al Kubrâ,1/269 disebutkan bahwa Ahmad ibn Hilâl al Husbâni, seorang wali dan khathib agung di masanya bahwa di antara keramahnya adalah bahwa ia mengambil ilmu langsung dari Allah tanpa perantaraan siapapun dan apapun…. Ia mengaku dirinya sebagai poros peredaran alam. Ia telah berkumpul dengan seluruh nabi di alam jaga.

· Khidhir Belajar Kepada Abu Hanifah

Di antara keagungan dan keutamaan Abu Hanifah adalah bahwa Allah telah mengkhusukan Abu Hanifah dengan Syari’at dan karamah. Di antara karamahnya ialah bahwa Khidhir as. setiap pagi hari datang menjumpainya untuk belajar ilmu syari’at selama lima tahun. Dan ketika Abu hanifah wafat, Khidhir as. memohon kepada Allah, “Wahai Tuhanku, jika aku mesih memiliki kedudukan di sisimu maka izinkan Abu Hanifah untuk mengajariku dari kuburannya seperti keibasaannya di waktu hidup, supaya aku menyelesaikan belajar syari’at Muhammad saw. Dengan lengkap agar aku mendapatkan jalan.’ Maka Allah memenuhi permohonannya. Lalu Khidhir mendapatkan kesempatan belajar syari’at dari Abu Hanifah dari dalam kuburnya selama dua puluh lima tahun.”

Ibnu Jakfari: Kisah di atas dapat dijadikan bahan ujian untuk mengetes waras tidaknya akal seseorang, jika Anda sampaikan kisah ini ia percaya maka pastikan bahwa dia sudah tidak waras!

· Hasan Bashri Shalat Lima Waktu di Mekkah Padahal Dia di Bashrah

Dalam ath Thabaqât al Kubrâ,1/279 disebutkan bahwa termasuk karamahnya Hasan al Bashri ialah bahwa ia shalat lima waktu di Mekkah padahal ia berada di Bashrah. Karamah seperti itu juga dimiliki oleh Habib al ‘Ajami salah seorang wali abdâl dan quthub.

5 Tanggapan

  1. ane kira syiah yang doyan ghuluw… eh ternyata ente -ente juga mas sunni ada ghuluw begituan

  2. sumbernx koq tdk dicantumkan🙂

  3. SUMBERNYA BELUM JELAS USTAD IBNU JAKFARI. BAGAIMANA BISA SAYA YAKINI DAN IMANI PERNYATAAN ITU. TOLONG KASIH SUMER RUJUKANNYA. TERIMA KASIH ATAS ILMUNYA. JAZAKALLAH KHOIRON

    • @Islami

      Saudaraku @Islami,
      Sebetulnya sumbernya sudah disebutkan oleh Ustadz Ibnu Jakfari, yaitu:

      – ath Thabaqât al Kubrâ,1/269,

      – At Tafsir al Kabîr; Ibnu Taimiyah,4/293), dan

      – ath Thabaqât al Kubrâ,1/279.

      Wassalam WR.WB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: