Kuliah 6:Al’Afwu

Kuliah 6:

Al’Afwu[1]

Al’Afwu adalah sifat Tuhan. Allah disebut dengan sifat ini dalam maqam pujian atas-Nya.[2]

Rasulullah saw. bersabda:

العَفْوُ أَحَقُّ مَا عُمِلَ.

“Memberi ma’af adalah hal paling laik diamalakan.”

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ العفوَ.

“Sesungguhnya Allah itu Maha Pema’af.”

تَعافُوا تَسْقُطُ الضَغائِنُ بينَكُمْ.

“Hendaknya kalian saling berma’af-ma’afan agar gugur kedengkian di antara kalian.” [3]

عَليكُمْ بالعفوِ، فإِنَّ العفوَ لا يَزِيْدُ العبدَ إلاَّ عِزًّا

“Hendaklah kalian memberi ma’af, sebab memberi ma’af tidak akan menambah seorang hamba kecuali kejayaan.” [4]

Diriwayatkan dari Ali ibn Husain as Sajjad as. beliau bersabda:

أَنْتَ الذي سَمَّيْتَ نَفْسَكَ بالعفوِ، فاعْفُ عنِّيْ.

“Dan Engkau Zat yang menamakan diri Mu dengan Maha Pema’af. Maka ma’afkanlah aku.”[5]

Ketahuilah bahwa semakin besar dosa/kesalahan maka keutamaan memberi ma’af akan menjadi besar/agung.[6]

Seorang penyair berkata:

Berbuat jelek kepada pekaku kejelakan adalah perkara mudah…

Namun jika engkau seorang kesatiria sejati maka ma’afkanlah orang yang menyakitimu.


[1] Sifat ini lawan dari saifat membalas, intiqaam. Ia didefinisikan dengan menggugurkan sangsi atasorang lain. Memberi ma’af adalah sebaik-baik akhlak. Demikian disabdakan rasulullah saw.

هَلْ أَدُلُّكُمْ على خَيْرِ أَخْلاَقِ الدنيا و الآخِرَةِ؟ تَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ، و تُعْطِيْ من حرمَكَ، و تَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ.

“Maukah kalian kutunjuki sebaik-baik akhlak dunia dan akhirat? Kamu menyambung yang memutusmu, memberi yang mencegahmu dan mema’afkan yang menzalimimu.”

[2] Seperti dalam ayat:

إِنَّ اللهَ كانَ عَفُوًّا غَفُوْرً.

“Sesungguhnya Allah Maha Pema’af Maha Pengampun.”(Q.S. an Nisa'[3];43)

[3]Rasulullah saw. bersabda:

عَلَيْكُمْ بالعَفْوِ فَإِنَّ العَفْوَ لاَ يَزِيْدُ العَبْدَ إِلاَّ عِزًّا فَتَعَافُوْا يُعِزُّكُمُ اللهُ.

“Hendaknya kamu mema’afkan karena sesungguhnya mema’afkan itu tidak menambah seorang hamba kecuali kemuliaan, maka saling berma’af-ma’aflah kamu semoga Allah memuliakan kamu.”(HR. Al-Kafi,2/108.)

[4] Ushul al Kafi,2/88 hadis5 bab al ‘Afwu.

[5] Ash Shahifah as Sajjadiyah, doa ke 16.

[6] Dikisahkan bahwa pada suatu hari Malik al Asytar ra. Melewati sebuah pasa di kota Kufah,dengan mengenakan baju dan serban sederhana lalu ada seorang jail menghinanya dan melemparnya dengan ketepel.Malik tidak menghiraukannya. Ia terus berjalan menuju masjid. Orang-orang di pasar menegur orang tersebut yang mengatakan, taukan kamu siapa yang kamu lempar itu? Ia menjawab tidak! Mereka berkata, “Ia adalah Malik al Asytar- sahabat dan murid setia Imam Ali as.- . (sementara itu mana Malik dan kepahlawanannya telah menjadi buah bibir penduduk kota). Orang itu serentak gemetar dan mengejar Malik. Ia mendapatinya di masjid sedang menegakkan salat. Seusai salat orang itu langsung menciumi kaki Malik. Malik bertanya menegur, “Apa ini?!” Aku mohon ma’af atasapa yang aku lakukan. Malik berkata, “Aku tidak menegakkan salat kecuali untuk memintakan ampunan untukmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: