Wahhabi Menggugat Syi’ah (2)

Kemutwatiran Hadis Ghadir

Satu kesalahan lagi yang dilakukan Syeikh Muhammad ibn Abdi al Wahhab ketika ia mengatakan bahwa tidak shahih dari hadis Ghadir kecuali sabda Nab saw.: من كنت مولاه (barang siapa yang aku pemimpinnya).

Kesalahan itu sunggguh mengerankan dan sebagai bukti kedangkalan Syeikh dalam mengenalannya terhadap hadis-hadis Nabi saw., sebab para imam ahli hadis dan para hafidz telah menshahihkan banyak jalur hadis Ghadir dengan redaksinya yang jauh lebih lengkap dari yang sekedar diklaim oleh Syeikh Muhammad ibn Abi al Wahhab!

Bahkan tidak jarang ulama dan ahli hadis Sunni yang menegaskan kemutawatirannya.

Di bawah ini saya akan sebutkan bebepa komentar para ulama dan ahli hadis yang menjadi rujukan dan i’timâd para ulama Ahlusunnah.

Al Hafidz Ibnu katsir menyebutkan komentar Adz Dzahabi tentang hadis Abu Hurairah: “Ketika Rasulullh saw. mengangkat tangan Ali dan bersabda:

من كنت مولاه

“Barang siapa yang aku pemimpinnya maka Ali juga peminmpinnya.”

Maka Allah –Azza wa Jalla- menurunkan ayat:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دينَكُمْ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu… “

Abu Hurairah berkata, “Dia adalah hari Ghadir Khum. Barang siapa berpuasa pada tanggal 18 bulan Dzul Hijjah maka Allah menulis untuknya pahala berpuasa enam puluh tahun.”

Adz Dzahabi bertaka:

وصدر الْحديثِ متواترٌ أتَيقَّنُ أنَّ رسولَ الله (ص) قاله. و أما: أللهُمَّ والِ من والاه فزيادةٌ قويةُ الإسنادِ. و أما هذا الصوم فليسَ بِصحيحٌ… .

“Bagian awal hadis itu adalah mutawatir. Saya yakin bahwa Rasulullah saw. menyabdakannya.

Adapun sabda:

أللهُمَّ والِ من والاه

Ia adalah tambahan yang kuat sanadnya.

Adapaun puasa itu (yang disebutkan Abu Hurairah) ia tidak shshih…. “

Baca al Bidâyah wa an Nihâyah; Ibnu Katsir,5/214.

Sebagaimana kemutawatiran hadis Ghadir telah ditegaskan oleh ulama lain seperti:

Ketika menggomentari hadis Abu Lailâ, Ibnu al Jazari berkata:

Abu Lailâ berkata, “Aku mendengar Ali ra. di Rahbah (suduh masjid kota Kufah) meminta manusia memberikan kesaksian (akan kebenaran sabda Nabi saw), ‘Barang siapa mendengar Nabi saw. bersabda:

من كنت مولاه فعليٌّ مولاه، أللهُمَّ والِ من والاه، و عادِ مَن عاداه؟

“Barang siapa yang aku pemimpinnya maka Ali juga peminmpinnya. Ya Allah bimbinglah yang mejadikan Ali peminpinnya dan musuhi yang memusuhinya?”

maka bangunla dua belas orang yang ikut serta dalam perang Badar, mereka memberikan kesaksian bahwa mereka mendengar Rasulullah saw. menyabdakannya.

Ibnu al Jazari berkata, “Hadis ini dari jalur ini adalah hasan, dan ia shahih dari jalur-jaluar lain yang banyak, ia mutawatir dari Amirul Mukminin Ali ra. dan ia juga mutawatir dari Nabi saw. ia telah dirwayatkan oleh jumah yang banyak dari perawi dari jumah yang banyak pula. Dan tidak perlu dihiraukan orang yang melemahkannnya dari kalangan orang yang tidak punya pengetahuan tentang ilmu ini..

Hadis Ghidir telah diriwayatkan secara marfû’ dari: Abu Bakar ash Shiddîq, Umar ibn al Khaththâab, Thalhah ibn Ubaidillah, Zubair ibn al ‘Awwâm, Sa’ad ibn Abi Waqqâsh, Abdurrahman ibn Auf, Abbas ibn Abdul Muththalib, Zaid ibn Arqam,, Barâ’ ibn ‘Âzib, Buraidah ibn al Khashîb, Abu Hurairah, Abu Sa’id al Khudri, Jabir ibn Abdillah, Abdullah ibn Abbas, Hubsyi ibn Junâdah, Abdullah ibn Mas’ud, Imrân iibn Hushain, Abdullah ibn Umar, Ammar ibn Yasir, Abu Dzar al Ghaffâri, Salman al Farisi, Sa’ad ibn Zurarah, Khuzaimah ibn Tsâbit, Abu Ayyub al Anshari, Sahl ibn Hunaif, Hudzaifah ibn al Yamân, Saumurah ibn Jundub, Zaid ibn Tsabit, Anas ibn Malik dan selain mereka dari kalangan sahabat. ra.

Dan telah shahih dari sekelompok orang yang dengannya diperoleh kepastian akan berita mereka. Dan telah tetap juga bahwa sabda itu beliau sabdakan di Ghadir Khum.“

Baca Asnâ al Mathâlib Fi Manâqib Ali ibn Abi Thalib:48.

Al hafidz al Faqîh Ibnu al Maghâzili asy Syâfi’i menegaskan dalam kitab Manâqib Amiruil Mu’minîn telah diriwayatkan oleh kurang lebih seratus sahabat Nabi saw. dan tidak terdapat cacat sedikitpun padanya.

Pada bagian-bagian awal kitabnya, setelah menyebutkan nasab, kuniyah/gelar, tempat kelahiran dan usia ketiak Imam Ali as. menerima Islam, Ibnu al Maghâzili menulis pasal tentnag sabda Nabi saw.: من كنت مولاه فعليٌّ مولاه di dalamnya ia menyebutkan lima belas jalur periwayatan hadis tersebut, hadis dengan nomer 23 hingga 38. dan pada akhirnya ia menutup dengan mengutip pernyataan Abu al Qâsim al Fadhl ibn Muhammad, ia berkata: “Abu al Qâsim al Fadhl ibn Muhammad berkata, ‘hadis ini shahih dari Rasulullah saw.. dan telah diriwayatkan dari beliau oleh sekitar seratus (100) sahabat termasuk di antaranya adalaah sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Ia adalah hadis yang tetap, aku tidak mengetahui ada cacat padanya. Ini adalah keutamaan yang khusus dimiliki Ali, selainnya tidak menyertainya dalam keutamaan ini.’” (Manâqib Amiruil Mu’minîn:16-27).

Para Ulama Ahlusunnah Menulis Buku Tentang Hadis Ghadir

Karena banyaknya jalur periwayatan hadis Ghadir tersebut, maka para ulama dan Ahli Hadis Sunni memperikan perhatian khusus mereka dengan menulis buku yang merangkum jalur-jalur periwatannya. Di antara mereka adalah:

1) Ibnu ‘Uqdah.

Ibnu ‘Uqdah nama lengkapnya adaalah Abu al Abbas Ahmad ibn Ahmad ibn ‘Uqdah. Seorang hafidz yang kokoh hafalan dan periwayatannya dan tsiqah/terpercaya di kalangan para ulama hadis. Lahir tahun 244 H dan wafat taahun 332 H..

Para ulama menyebutnya dengan disertai pujian dan pengagungan. As Suyuthi mengatakan tentangnya, “Ibnu ‘Uqdah adalah tergolong pembesar para hafidz. Orang berselisih tentang pujian ada pencacatan atasnya. Ad Dâruquthni berkata, ‘Berbohonglah orang yang menuduhnya sebagai pemalsu hadis.’… Abu Ali al Hafidz berkata, ‘Abu al Abbas adalah seorang imam hafidz, posisi dia seperti posisi para tabi’în dan tabi’ut tabi’in. (Al Lalâli al Mashnû’ah,1/337)

Kendati kitab karangan ibnu ‘Uqdah tersebut hilang ditelan masa, akan tetapi para ulama menegaskan bahwa benar Ibnu ‘uqdah pernah menulis buku tersebut…. Di antara para ulama yang menegaskan hal itu adalah:

A) Ibnu Taimiyah, ia berkata, “Dan Abu al Abbas Ibnu ‘Uqdah telah menulis sebuah buku yang menghimpun jalur-jalur hadis itu (Ghadir).” (Minhâj as Sunnah,4/86)

B) Ibnu Hajar al Asqallani berkata, “Adapun hadis: من كنت مولاه فعليٌّ مولاه ia telah diriwayatkan oleh at turmudzi dan an Nasa’i. ia adalah hadis yang banyak jalurnya. Ibnu ‘Uqdah telah merangkumnya dalam sebuah buku karangan khusus, banyak dari jalurnya yang shahih dan hasan.” (Fathu al Bâri,7/61) selai itu, Ibnu Hajar juga sering menyebut keberadaan kitab tersebut dalam buku-bukunya yang lain, seperti al Ishâbah,2/413 ketika menyebutkan beberapa riwayat hadis Ghadir.

Dan selain mereke berdua banyak ulama lain menyebutkan keberadaan buku karya Ibnu ‘Uqdah tersebut.

2) Imam ath Thabari.

Selain Ibnu ‘Uqdah, Ibnu Jarir ath Thabari juga menulis buku khusus yang merangkum jalur-jalur hadis Ghadir.

Keberadaan kitab ath Thabari tentang jalur-jalur hadis Ghadir ini telah dikaui oleh para ulama Ahlusunnnah, di antara mereka adalah:

A) Adz Dzahabi:

Dalam Tadzkirah al Huffâdz, Adz Dzahabi berkata, “Muhammad ibn Jarir menulis sebuah kitab tentang hadis Ghadir, aku telah menyaksikan dan membacanya, aku sangat terkejut karena banyaknya jalur periwayatan hadis tersebut.” (Ar Rawdhah an Nadiyyah:57)

B) Yaqût al Hamawi:

Yaqût al Hamawi dalam Mu’jam al Buldân mengatakan, “Ada sebagian Syiekh di kota Baghdad membohongkan hadis Ghadir Khum, ia berkata, ‘Ali ibn Abi Thalib ketika Nabi saw. berpidato di Ghadir itu berada di Yaman, ia mengarang qashidah (bait-bait syair) menyinggung masalah itu…. Lalu sampailah hal itu kepada Abu Ja’far (ath Thabari), maka ia memulai menulis tentang keutamaan Ali dan menyebut jalur-jalur hadis Ghadir Khum.” (Mu’jam al Buldân,6/455)

C) Ibnu Hajar:

Ibnu Hajar al Asqallani berkata, Dan Ibnu Jarir telah mengumpulkan jalur-jalur periwayatan hadis Ghadir dalam sebuah kitab khusus yang jauh lebih banyak ia dikumpulkan Ibnu Abdir Barr dalam Isti’abnya.” (Tahdzîb at Tahdzîb,7/339)

Tidak Meragukan Keshahihan Hadis Ghadir Kecuali Orang Jahil Atau Penentang Kebenaran!

Setelah Anda saksikan bagaimana pendapat ulama tentang kemutawatiran hadis Ghadir Khum, dan ia telah diriwayatkan dari tidak kuran seratus sabahat dengan berbagai jalur, ang kebanyakan darinya adalah shahih atau hasan, dan bagaimana para ulama dan para peneliti hadis telah menulis buku-buku khusus untuk merangkum jalur-jalurnya, maka adalah aneh jika masih ada yang berusaha meragukan kemutawatiran apalagi keshahihannya! Dan tidak meragukannya melainkan orang yang jahil tidak mengerti apa-apa tentang ilmu hadis atai seorang penentang yang sengaja menentang kebenaran setelah jelas di hadapannya!

Telah lewat disebutkan pernyataan al Jazari bahwa: Dan tidak perlu dihiraukan orang yang melemahkannnya dari kalangan orang yang tidak punya pengetahuan tentang ilmu ini.

Mirza Muhammad ibn Mu’tamad Khân al Badkhesyi dalam kitab Nuzul al Abrâr:21 menegaskan, “Hadis ini adalah shahih dan masyhur sekali, dan tidak mencacat keshahihannya melainkan orang yang fanatik buta yang menentang dan tidak perlu dihiraukan omongannya. Sebab Sesungguhnya hadis ini banyak sekali jalurnya. Ibnu ‘Uqdah telah merangkumnya dalam kitab khusus. Adz Dzahabi telah menegaskan keshahihan banyaak darinya. Hadis ini telah diriwayatkan dari banyak sahabat.”

(Bersambung)

9 Tanggapan

  1. Tidak Meragukan Keshahihan Hadis Ghadir Kecuali Orang Jahil Atau Penentang Kebenaran!

    Bisa disamakan gak dengan ini..

    Tidak meragukan Imam Ali membaiat Abu Bakar, Umar, Ustman sebagai Khalifah Kecuali Orang Jahil Atau Penentang Kebenaran!

    Ibnu Jakfari:

    Andai setiap orang berbicara pada batasan ilmu dan keseriusan mencari kebenaran pastilah terbuka di hadapan mata hati dan pikirannya kebenaran itu.
    Hadis Ghadir telah tegak bukti keshahihannya… jadi tidak menentannya kecuali orang jahil atau penentang…
    Coba baca Shahih Bukhari, kapan Imam Ali as. baru suci berdamai dengan Abu Bakar dan memberikan baiat? Agar saudara tau, dan tidak terhanyut oleh emosi yang dibangun di atas doqma keliru.
    Karenanya saya anjurkan ikuti terus artikel ini, saya akan beberkan banyak bukti untuk saudara.
    Wassalam.

  2. Imam Ali as membaiat Abu Bakar dua kali, pertama pada saat awal diangkatnya Abu Bakar, beliau membaiat bersama Zubair bin Awam. Dan hadist ini shohih, lalu beliau membaiat lagi setelah meninggalnya Fatimah, untuk menghilangkan keragu – raguan sebagian orang, dimana dukungan Imam Ali terhadap Abu Bakar.

    Imam Hasan as juga menyerahkan kepemimpinan kepada Muawiyah.

    Ibnu Jakfari:

    Tolong Anda buktikan apa yang Anda sebutkan di sini. Sebab nilai sebuah pernyataaan ditentukan dalilnya.
    Apa yang Anda sebutkan bertolak belakang total dengan riwayat Imam Bukhari dan data-data sejarah yang ada.
    Nantikan terus artikel saya di sini, saya akan sebutkan data-data yang menolak pernyataan Anda!
    Wassalam.

  3. Kebenaran itu bak mentari dan mata-mata ini memandangnya
    Akan tetapi matahari itu tersembunyi bagi si buta

    “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang didalam dada”. [QS Al-Hajj 46].

  4. Jadi kasian itu Ulama-ulama salafy/wahabi yang di Arab Saudi sono. Kan buta matanya.

  5. hehehe..

    maap nih, ikut nimbrung,,,,saya tanya, mana bukti validitas hadits ghadir khum, katanya ada pidato panjang lebar dari nabi ya…

    saya baca kitab2 aslinya kok tidak ada ya…

    tolong dituliskan dulu secara lengkap ya…

  6. Maaf copas dari salafytobat

    __________
    Ibnu Jakari:

    Ma’af akhi kami tidak menerima Copas

  7. Tolong dong bagi yang tidak mengerti mengenai dalil/hujjah atau ilmu2 agama janganlah ikut2an nimbrung diskusi supaya tidak runyam dan timbulnya malah debat kusir, yang awam2 seperti saya ini marilah jadi pembaca yang baik dan menimba ilmu dari sumber2 kedua kubu.
    semoga Allah memberi barokah dalam kita menuntut ilmu.
    Wassalam

  8. Syiah Islam adalah Islam aseli, sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW yang diteruskan oeh 12 Imam Suci. Taat kepada Allah dan Rasulnya wajib, jelas perintah dalam Qur’an. Siapapun yang merubah Sunah Nabi seperti yang telah dikerjakan oleh Umar bin Khattab, jelas bid’ah: bai’at terhadap Abu Bakar, wudu- telunjuk tangan kanan dikeluarkan waktu tasyhud- nikah mut’ah di haramkan- shalat tarawih – talaq 3 langsung- menambah ashalatu qairul minna na’um pada adhan subuh- menyita tanah Fardak warisan Nabi kepada puteri beliau Fatimah Zahra- kudeta di Saqifah- meragukan kerasulan Nabi Muhammad waktu perjanjian Hudaibiyah- dan masih banyak lagi bid’ah Umar bin Khattab ini.

  9. […] Wahhabi Menggugat Syi’ah (2) Kemutwatiran Hadis Ghadir […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: