Kuliah 8:Suu’ul Khuluq

Suu’ul Khuluq[1]

Wahai saudaraku yang mulia, jauhilah perangan buruk, sebab ia akan emenjauhkanmu dari Sang Maha Pencipta dan juga dari makhluk-Nya[2]. Orang yang berperangai buruk akan senantiasa hidup dalam ketersiksaan[3]. Ia bak tawanan musuhnya yang tiada akan pernah lepas kemanapun ia berada.[4]

Seorang penyair bertutur:

Apabila si pemilik perangai buruk berusaha lari ke negri manapun, bahkan di planet manapun ia tinggal…

pastilah ia tetap dalam bencana akibat perangai buruknya…

Adapun prangai baik ia adalah semulia-mulia sifat para kekasih Allah…[5]

Allah SWT berfirman:

وَ إِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٌ.

“Dan sesungguhnya Wengaku (hai Muhammad) benar-benar di atas budi pekerti yang agung.”(Q.S. al Qalam [68];4)

Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ أَحَبَّكُمْ إِلَيَّ وَ أَقْرَبُكُمْ مِنِّي يَوْمَ القيامَةِ مَجْلِسًا أَحْسَنُكُمْ خُلُقًا.

“Sesungguhnya yang paling aku cintai dan yang paling dekak tempat duduknya denganku di hari kiamat adalah yang terbaik akhlaknya di antara kamu.” [6]

أَشْبَهُكُمْ بِيْ أَحْسَنُكم خُلُقًا

“Orang yang palingmirip dengannku adalah yang paling baik budi pekertinya.”[7]

Amirul Mukmin as. bersabda:

حُسْنُ الْخُلُقِ في ثلاثٍ: إجْتِنابُ الْمحارِمِ، و طلبُ الْحلالِ و التَّوَسُّعُ على العِيالِ.

Budi pekerti yang baik adalah padatiga perkara; Menjauhi hal-hal yang diharamkan, mencari (nafkah) yang halal dan berluas (dalam memberi nafkah) kepada keluarga.”[8]


[1] Budi pekerti dalam bahasa Arab disebut dengan kata al khalqu atau kata al khulqu. Kedua kata ini bermakna sama, hanya saja kata al khalqu terkait dengan tingkah laku dan gambaran yang bias dipahami dengan indra mata biasa. Sedang kata al khulqu terkait dengan potensi dan karakter yang bias dipahami dengan mata hati (bashirah). Akhlaq (bentuk jama’ kata khuluq) (etika,budi) adalah perangai manusia yang dipergunakan untuk bergaul dengan manusia yang lain. Adakalanya akhlaq itu terpuji, mahmuudah dan adakalanya tercela, madzmumah. Akhlaq terpuji sacara global adalah bika kamu berbuat adil (memenuhi hak) terhadap orang lain sebagaimana kamu berbuat adil terhadap dirimu sendiri. Secara terperinci, akhlaq terpuji berarti memberi ma’af, bersikap saying, lemah lembut, memenuhi kebutuhan, cinta kasih, ramah dan sebagainya. Sedangkan akhlaq tercela adalah kebailikan dari itu semua. Suu’ulKhuluq (perangai buruk) lawannya adalah Husnul Khuluq (perangai luhur).

· Batasan Husnul Khuluq

Rasulullah saw. bersabda:

عَلَيْكُمْ بِمَكارِمِ الأخْلاَقِ فَإِنَّ اللهَ بَعَثَنِيْ بِها, وَ إِنَّ مِنْ مكارمِ الأخلاقِ أَنْ يَعْفُوَ الرَجُلُ عَمَّنْ ظَلَمَهُ, و يُعْطِيْ مَنْ حَرَمَهُ, و يَصِلُ مَنْ قَطَعَهُ, و أَنْ يَعُوْدَ مَنْ لاَ يَعودُهُ.

Hendaknya kamu menyandang akhlak-akhlak yang mulia, karena sesungguhnya ِsaya diutus dengannya, dan dari akhlak yang mulia adalah seseorang mema’afkan terhadap yang menzaliminya, memberi yang mencegahnya, menyambung yang memutuskan hubungannya dan menjenguk yang tidak menjenguknya. (HR. Biharul Anwar,71/420)

Ditanyakan kepada Imam Ja’far as., “ Apa batasan husnul khuluq?”, maka beliau as. menjawab,

تُلينُ جانِبَكَ ، و تُطَيِّبُ كلامَكَ، و تَلْقَى أَخاكَ بِبِشْرٍ حَسَنٍ.

Kamu melunakkan sisimu, memperindah tutur katamu dan menjumpai saudaramu dengan wajah ceria. (HR. Majlisi dalam Bihar al-Anwar,71/397)

Imam Ali as. bersabda:

إِنَّ بَذْلَ التَّحِيَّةِ مِنْ مَحاسِنِ الأخْلاَقِ.

“Sesungguhnya menyebar ucapan selamat/salam adalah dari kebaikan akhlak.”

[2] Al Kulaini meriwayatkan dari Imam Ja’far ash Shadiq as., beliau berkata, “rasulullah saw. bersabda:

أَبَى اللهُ عز و جل لِصاحِبِ الخُلُقِ السَّيِّئِ بالتوبَةِ.

“Allah –Azza wa Jalla– menerima taubat penyandang perangai buruk.” Ditanyakan kepada beliau, ‘Mengapa demikian, wahai Rasulullah?’ beliau menjawab:

لأنَّهُ إِذَا تابَ مِنْ ذنْبٍ وَقَعَ في ذنبٍ أَعْظَمَ منهُ.

“Sebab jika ia bertaubat dari sebuah dosa ia terjerumus ke dalam dosa lain yang lebih besar darinya.” (HR. Kafi,2/242 hadis 2)

[3] Imam ja’far as. bersabda:

مَنْ ساءَ خُلُقُهُ عَذَّبَ نَفْسَهُ.

“Barang siapa jelek akhlaknya ia pasti menyiksa dirinya sendiri.” (HR. Kafi,2/242 hadis4)

[4] Imam Ja’far as. bersabda:

إِنَّ سُوءَ الخُلُقِ لَيُفْسِدُ الإِيْمانَ كَمَا يُفْسِدُ الخَلُّ العَسَلَ.

“Sesungguhnya perangai yang jelek benar-benar akan merusak iman sebagaimana cuka merusak madu.”

[5] Imam Ali zainal Abidin –putra Imam Husain-as. berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

مَا يُوْضَعُ فِيْ مِيْزانِ امْرِئٍ يوم القِيامَةِ أَفْضَلُ مِنْ حُسْنِ الخلقِ.

“Tiada sesuatu diletakkan dalam timbangan seorang pada harti kiamat yang lebih afdhal dari perangai yang baik.”(HR.2/81 hadis 2)

[6] ‘Ushul al Kafi,2/81 hadis 1 bab husnul khuluq.

[7] Bihar al Anwar,71/375 dan 387.

[8] Ibid.394. Sabda beliau “berluas (dalam memberi nafkah) kepada keluarga” maksudnya tidak kikir terhadap keluarga, sehingga mereka menjadi sengsara karenanya. Keluarga kita harus mendapat eperhatian yang layak dari kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: