Wahhabi Menggugat Syi’ah (6)

Apakah Penyebutan Kata Cinta dan Benci Mempengaruhi Pemaknaan Hadis Ghadir Untk Arti Imamah?

Dalam anggapan sebagian orang, khususnya sebagian penulis Wahhabi bahwa penyebutan kalimat akhir dalam hadis Ghadir: اللّهم والِ من والاه وعادِ من عاداه… adalah kendala serius dalam memaknai hadis Ghadir dengan arti imamah/kepemimpinan tertinggi Ali as. atas umat Islam sepeninggal Nabi saw.

Dalam anggapan mereka, dengan menyebutkan kalimat terakhir tersebut, makna hadis Ghadir tersebut adalah demikian: “Barang siapa yang aku mencitainya/atau yang mencintaiku maka Ali juga mencintainya/dia harus mencintai Ali. Ya Allah cintailah yang mencintai Ali dan musuhi yang memusihinya!”

Penyebutan do’a terakhir inilah yang menghalangi kita memaknai maulâ/aulâ dalam sabda Nabi tersebut dengan yang lebih berhak memimpin!

Ibnu Jakfari berkata:

Pertama: Keberatan ini dengan dasar adanya do’a dalam hadis di atas yang dikemukakan sebagian penulis Wahhabi (yang notabane) pengikut dan muqallid buta Ibnu Taimiyah) adalah sangat aneh. Sebab Ibnu Taimiyah sendiri menolak adanya tambahan tersebut dalam hadis Ghadir, dan menganggapnya palsu! Lalu bagaiaman sekarang pengikutnya yang masih bersandar kepada penyimpangannya dalam menelaah hadis Ghadir menjadikan tambahan palsu itu sebagai dalil dan hujjah?!

Ibnu Taimiyah berkata menjawab Allamah al Hilla (tokoh Syi’ah penulis kitab Minhâj al Karâmah)

الوجه الخامس : إنّ هذا اللفظ ـ وهو قوله : « اللّهمّ والِ من والاه وعادِ من عاداه ، وانصر من نصره واخذل من خذله » ـ كذبٌ باتّفاق أهل المعرفة بالحديث… »

“Jawab kelima: Lafadz ini (yaitu: اللّهمّ والِ من والاه وعادِ من عاداه ، وانصر من نصره واخذل من خذله) adalah kebohongan/kidzbun berdasarkan kesepakatan ulama hadis… “

Akan tetapi, seperti telah dibuktikan para ulama dan para peneliti bahwa tambahan tersebut telah diriwayatkan para ulama dan ahli hadis dengan sanad yang dapat dipertanggung jawabkan keshahihannya.

Lebih lanjut baca:

1) Musnad Ahmad,1/118, 4/368,370 dan 372.

2) Al Mushannaf; Abdurrazzâq,2/67 dan 78.

3) Al Khashâish; an Nasa’I;100.

4) Sunan Ibnu Mâjah,1/43.

5) Tarikh Ibnu Katsir,7/347.

6) Kanz al Ummâl,13/168.

7) Musykil al Âtsâr, 2/308.

8) Al Mustadrak,3/116.

9) Dll

Dari sini dapat diketahui siapa yang sedang berbual dan berbohong dalam menisbatkan kepalsuan itu kapada ahli hadis?!

Kedua: Dalam sebagian redaksi do’a dalam hadis Ghadir tersebut terdapat redaksi: « والِ من والاه… » dan « أحب من أحبّه… » disebutkan secara bersama! Dan ini bukti bahwa makna kalimat: والِ من والاه bukan cintailah orang yang mencintainya (Ali), sebab akan sama arti kalimat tersebut denga kalimat: أحب من أحبّه/cintailah orang yang mencintainya! Dan jika tetap dipaksakan pemaknaan tersebut maka akan ada dua kalimat yang memiliki satu arti yang sama! Lalu apa fungsi pengathafan (penggandengan dua kalimat) dengan huruf athaf/penggandeng?! Bukankah funsi athaf adalah menunjukkan bahwa yang diathafkan itu berbeda dengan yang diathafi?!

Riwayat dengan redaksi yang saya makusd telah diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam Târîkh-nya,7/348 dengan beberapa sanad bersambung kepada Zaid ibn Batsî’, ia berkata, “Aku mnendnegar Ali berpidaton di Rahbah….. Lalu bangunlah tiga belas orang sahabat memberikan kesaksian bahwa Nabi saw. benar-benar telah bersabda:

من كنت مولاه فعليّ مولاه ، اللّهمّ والِ من والاه وعادِ من عاداه ، وأحب من أحبّه وابغض من أبغضه ، وانصر من نصره واخذل من خذله.

Hadis tersebut juga diriwayatkan al Muttaqi al Hindi dalam Kanz al Ummâl-nya,13/158 dari riwayat al Bazzâr, Ibnu Jarir, al Khal’i dalam al Khal’iyyat. Ia berkata, ‘Al Haitsami berkata:

رجال إسناده ثقاة.

Para perawinya terpercaya.”

Ibnu Hajar berkata;

ولكنّهم شيعة

“Tetapi mereka Syi’ah.”

Ketiga: Sebagian ulama Ahlusunnah menolak penafsiran tersebut dengan alasan pemaknaan itu tidak sesuai denga teks. Al Hafidz Muhibbuddîn ath Thabari asy Syâfi’i berkata:

قد حكى الهروي عن أبي العبّـاس : إنّ معنى الحديث : من أحبّني ويتولاّني فليحبَّ عليّاً وليتولّه.

وفيه عندي بُعد؛ إذ كان قياسه على هذا التقدير أن يقول : من كان مولاي فهو مولى عليّ ، ويكون المولى ضـدّ العدو ، فلمّا كان الاِسناد في اللفظ على العكس بعُد هذا المعنى… »

“Al Harawi menukil dari Abu al Abbâs bahwa makna hadis itu: ‘Barang siapa yang mencintaiku hendaknya ia mencintai Ali.”

Arti itu menurut saya jauh, sebab dengan pemaknaan seperti itu semestinya redaksinya harus demikian: من كان مولاي فهو مولى عليّ /barangsiapa yang dia itu maulâku maka dia adalah maulânya Ali.’

(Baca: Ar Riyâdh an Nadhirah,1/205)

Keempat: Do’a itu beliau panjatkan setelah selesai menyabdakan hadis Ghadir yang mengangkat Ali sebagai maulâ atas kaum Mukimin. Anda kata maulâ itu butuh kepada penjelasan mestinya kalimat sebelum: من كنت مولاه فهذا عليّ مولاه yang menjalaskannya. Dan pada kalimat/sabda:

« ألست أوْلى بكم من أنفسكم ؟ ! »

atau

« ألست أوْلى بالمؤمنين من أنفسهم ؟ ! »

Khusunya redaksi hadis yang menggunakan huruf Fâ’ yang dalam istilah kaidah bahasa Arab disebut dengan Fâ’ tafrî’. Dan hal ini bukti pendukung yang menentukan makna sabda suci tersebut!

Di antara yang meriwayatkan pengantar tamhaban tersebut adalah: Imam Ahmad, An Nasa’i, Ibnu Mâjah, al Bazzâr, Abu Ya’la al Mûshili, ath Thabari, ad Dâruquthni, Abu Musa al Madîni, Abu al Abbâs ath Thabari dan Ibnu Katsîr.

Tambahan tersebut menunjuk kepada ayat al Qur’an yang menetapkan hak mewalian/kepemimpinan tertinggi untuk Nabi saw.:

النبيّ أوْلى بالمؤمنين من أنفسهم…

“Nabi itu lebih utama terhadap kaum Mukminin dari diri mereka… “

ketika menafsirkan ayat di atas, para mufassir Ahlusunnah.

Baca misalnya:

1. Tafsir atl Baghawi,5/191 (dicetak di pinggir Tafsir al Khâzin).

2. Tafsir al Kasysyâf,3/523.

3. Tafsir al Baidhâwi:552.

4. Tafsir an Nasafi,3/294.

5. tafsir an Nisaburi,21/77-78 (dicetak di pinggir tafsir ath Thabari).

6. Tafsir al Jalâlain:552.

7. Irsyâd as Sâri Fî Syarhi al Bukhrai,7/280.

8. Tafsir ad Durr al Mantsûr,5/182.

Kelima: Dalam sebagian redaksi hadis Ghadir disebutkan kata: بعدي sebelum kata: مولاه, hal mana tegas-tegas menunjukkan makna kepempinan. Sebab dengan dimasukkannya kata:بعدي/setelahku telah menutup kemungkinan pemaknaan lain, baik:مولى dengan arti kecintaan atau pembelaan. Mungkinkah Nabi meminta umat Islam untuk mencintai Ali setelah kematian belaua? Lalu sebelum wafat beliau apa yang harus dilakukan?! Atau Nabi saw. menegaskan bahwa Ali adalah pembela kalian setelah wafatku! Lalu sebelum wafat beliau?

Hadis dengan redaksi tersebut telah diriwayatkan para ulama Ahlusunnah dari al Barâ’ ibn Âzib. Abdurrazzâq meriwayatkan dari al Barâ’ ibn Âzib, ia berkata:

نزلنا مع رسول الله صلّى الله عليه [وآله] وسلّم عند غدير خم ، فبعث منادياً ينادي ، فلمّا اجتمعنا ، قال : ألست أوْلى بكم من أنفسكم ؟ ! قلنا : بلى يا رسول الله ! قال : ألست ؟ ألست ؟ قلنا : بلى يا رسول الله ! قال : من كنت مولاه فإنّ عليّاً بعدي مولاه ، اللّهمّ والِ من ولاه وعادِ من عاداه.

فقال عمر بن الخطّاب : هنيئاً لك يا ابن أبي طالب ، أصبحت اليوم وليّ كلّ مؤمن »

“Kami turun (singgah) bersama Rasulullah saw. di Ghadir Khum, lalu beliau menutus seorang untuk mengumumkan (agar kami berkumpul), setelah kami berkumpul beliau bersabda:

: ألست أوْلى بكم من أنفسكم ؟ !

“Bukankah aku lebih utama terhadap kalian dari diri kalian sendiri?!”

Kami menjawab: “Benar wahai Rasulullah.”

Beliau juga bersabda: “Bukankah aku…. ““Bukankah aku…. “ Dan kami berkata: “Benar wahai Rasulullah.”

(Setelahnya) beliau bersabda:

من كنت مولاه فإنّ عليّاً بعدي مولاه ، اللّهمّ والِ من ولاه وعادِ من عاداه.

“Barang siapa yang aku maulânya maka Ali maulânya setelahku. Ya Allah bimbinglah orang yang menjadikan Ali maulânya dan musuhi yang memusuhinya.”

Lalu Umar setelahnya berkata kepada Ali, “Selamat wahai putra Abu Thalib. Engkau sekarang menjadi maulâku dan maulâ setiap Mukmin.” (Al Bidâyah wa an Nihâyah,7/349)

Andai makna hadis Ghadir bukan menunjukkan arti kepemimpinan, lalu bagaimana kita akan memaknai ucapan Umar di atas?

Enam: Andai makna hadis Ghadir itu tidak menunjukkan arti kepemimpinan tertinggi setelah Nabi saw….. dan ia hanya menunjukkan perintah Nabi agar manusia mencintai Imam Ali as., maka mengapakan sebagian sahabat dan tabi’in meresa keberatan ketika mendengarnya? Apa yang aneh dengan perintah mencintai Ali? Apa yang aneh dengan perintah membela Ali? Yang mendorong munculnya keberatan dari sebagian mereka adalah karena sabda Nabi saw. tersebut menetapkan hal imamah/wilayah/kepemipinan tertingga setelah Nabi, hal mana itu artinya bahwa para pendahulu Ali sebenarnya tidak memiliki hak dalam memimpin umat Islam! Ali –lah yang sebenarnya Pemimpin tertingga, Pemilik otoritas mengurus umat setelah Nabi saw. dan Pemegang Hak Wilayah mutlak!

Perhatikan riwayat ini:

Imam Ahmad dalam Musnad-nya4/370 dan an Nasa’i dalam Khashâish-nya, hadis no.88 dengan sanad shahih meriwayatkan dari Abu Thufail:

جمع عليّ الناس في الرحبة ثمّ قال لهم : أُنشد الله كلّ امرئ مسلم سمع رسول الله صلّى الله عليه وآله وسلّم يقول يوم غدير خمّ ما سمع لما قام . فقام ثلاثون من الناس .. (قال🙂 وقال أبو نعيم : فقام ناس كثير ، فشهدوا حين أخذه بيده ، فقال للناس : أتعلمون أنّي أوْلى بالمؤمنين من أنفسهم ؟ !

قالوا : نعم يا رسول الله .

قال : مَن كنت مولاه فهذا مولاه ، اللّهمّ والِ مَن والاه ، وعادِ مَن عاداه .

قال أبو الطفيل : فخرجت وكأنّ في نفسي شيئاً، فلقيت زيد بن أرقم ، فقلت له : إنّي سمعت عليّاً يقول : كذا وكذا . قال زيد : فما تنكر ؟ ! قد سمعت رسول الله صلّى الله عليه وآله وسلّم يقول ذلك له.

“Ali mengumpulkan orang-orang di Rahbah, lalu berkata meminta, “Aku meninta dengan nama Allah agar setiap orang yang pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda di Ghadir Khum: “Tidakkah kalian mengetahui bahwa aku berhak atas kaum Mukminin lebih dari diri mereka sendeiri (ketika itu beliau sambil berdiri, lalu mengangkat tangan Ali dan bersabda): “Barang siapa yang aku maula-nya maka Ali juga maula-nya. Ya Allah bimbinglah orang yang menjadikan Ali wali-nya dan musuhim orang yang memusuhinya.” Untuk bangu dan memberikan kesaksian!

Abu Thufai berkata, “Lalu ketika aku keluar di dalam hatiku ada sesuatun tentang hal itu, kemudian aku menjumpai Zaid ibn Arqam dan kutanykan hal itu, aku berkata kepadanya, “Aku mendengar Ali berkata begini dan begitu.” Zaid berkata, “Apa yang engkau ingkari?!” Aku benar-benar telah mendengarnya dari Rasulullah saw.

  • Bukti Lain

Di samping bukti-bukti yang telah saya sampaikan, banyak bukti lain yang mempertegas bahwa sabda nabi saw. di Ghadir Khum adalah penunjukan Ali as. sebagai Pemimpin Tertinggi Umat Islam sepeninggal Nabi saw. di antara bukti-bukti itu adalah turunnya ayat al Balâgh/at Tablîgh sebelum peristiwa Ghadir Khum!

Bukti itulah yang akan kita teliti dalam artikel akan dating Insya Allah.

(Bersambung)

14 Tanggapan

  1. mas pembahasan mengenai nikah mut’ah nya sudah selesai y..?? kalau sudah di arsip kan dimana?
    Blog ny bagus sekali mas…semoga Allah mencurahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua…Amin!!

    Ibnu Jakfari:

    Coba Anda baca di sini:
    https://jakfari.wordpress.com/2007/10/02/nikah-mutah-antara-hukum-islam-dan-fitnah-wahhabi/

  2. maksud saya sambungan nya Mas….
    sudah ada sambungan yang bagian 2 nya
    ato belum?

  3. bagus tapi itu bukan Syiah dapat mencela Abu bakr dan Umar seenaknya, ingat Syiah mempunyai konsep Imammiyah, dan Imam ali as adalah imam pertama yang ditunjuk ALLOH melalui rasullnyam dan Abu bakr dan Umar Bukan Imam hany Amerrul Mukmininm sebuah tingkatan di yang jauh dibawah Imam jadi penisbatan Abu bajr tidak menyalahi aturan Nabi, karena mereka hanya seorang Khalifah bukan Imam karena Imam tidak dipilih tapi ditunjuk oleh ALLOH dan seorang Imam adalah mahsum dari awal sampe akhir sedangkan para sahanat tidak, itu pandangan kaum Syiah sendiri jadi kalo menurut saya yang bodoh benar lah pendapat kaum sunni bawah para sahabat tidak pernah merampok dari Ima Ali as

  4. Saya sangat menanti tulisan Ustad soal Ayat Tabligh itu, saya akan tunggu sambungannya
    Salam

    Ibnu Jakfari:

    Salam mas, insya Allah dalam waktu dekat saya sempatkan meneliti hal itu. doanya.
    Terima kasih.

  5. jika demikian seperti yang anda tulis, mengapa ali mendukung kepemimpinan abubakar ra dan umar ra, sbb, itu adalah sesuatu yang bersumber dari rasulullah saw, telah berbuat ma’siyat seorang yang telah mengingkari penisbatan rasululloh saw, dan ini bukti2 dukungan ali ra, kepada abubakar ra dan umar ra, dan untuk menemukan titik temu diantara kita, saya ambil dari kitab2 ulama syiah, krn sebagian saya setuju pandangan anda tentang ajaran wahaby :
    Saat itu aku datangi Abubakar dan membai’atnya. Akupun bangkit membela Abubakar menghadapi segala kejadian yang mengancam situasi ummat, hingga terkikis tuntas semua penyelewengan. Kalimat Allah tetap terjunjung walaupun dibenci oleh kaum kafir. Abubakar telah berhasil menguasai situasi dengan mudah. Ummat kian bersatu. Kesejahteraan kian membaik. Aku selalu mendampingi dan menasehatinya. Aku pun patuh demi kepatuhanku kepada Allah dan tidak berhenti pula berjuang.”(Al-Ghoroot, juz I, hal, 307)
    Surat Ali yang dikirim kepada Gubernur Mesir, Qays bin Saad bin Ubadah al-Anshaar berbunyi :

    “Bismillahirrahmanirrahim, dari hamba Allah Ali Amirulmu’minin kepada yang akan menyampaikan isi suratku kepada kaum muslimin, assalamu’alaikum. Aku bersyukur bahwa tiada Tuhan selain Allah. Ammaa ba’du. Sesungguhnya Allah dengan keindahan ciptaanNya, kodrat dan kecermatanNya telah memilih Islam sebagai agama Allah, para malaikat dan para rasulNya. Allah telah mengutus para Rasul untuk hamba-hambaNya, sebagai pilihan dari semua makhluk-Nya. Allah telah memberi penghargaan kepada ummat manusia dengan mengutus Muhammad SAW guna mengajarkan Al-Qur’an, hik­mah, assunnah dan berbagai kewajiban. Mereka telah dididik untuk memperoleh hidayah. Mereka dipersatukan agar tidak terpecah-belah. Mereka dianjurkan untuk senantiasa dalam keadaan suci-bersih. Setelah beliau menyelesaikan tugasnya, Allah telah mengangkat beliau kembali ke haribaanNya. Setelah itu kaum muslimin mengangkat berturut-turut dua orang khalifah yang saleh, mengamalkan ajaran Al-Qur’an, terpuji perilakunya dan tidak pernah menyimpang dari sunnah RasulNya. Kemudian kedua orang ini dipanggil Allah pula kepangkuan rahmat-Nya.” (Al-Ghoroot, juz I, hal, 210. Juga dalam Naasikh Attawaarikh, juz Ill, haL 241, cetakan Iran. Dan juga dalam “Majma’ul Bihaar” karya Al-Majlisi)
    Ungkapan ali ra, tentang abu bakar ra
    “Setelah wafatnya Muhammad, ummat Islam telah memilih seorang pemimpin yang berasal dari mereka sendiri. Ia telah mengerahkan seluruh kemampuannya dengan sungguh-sungguh dan rasa taqwa kepada Allah.(Syarh Nahjul Balaghah, karya Al-Bahrani haL 400.)
    Abu Sufyan mendatangi Ali AS dan mengatakan ‘Kalian dukung orang yang berasal dari marga yang terendah dikalangan Quraisy. Sungguh, kalau anda mau dicalonkan, akan kami kumpulkan pendukung sebanyak-banyaknya’. Kemudian Ali menjawab : ‘Selama anda masih suka membuat onar dalam tubuh ummat Islam, tak ada gunanya dukungan anda itu. Kami tidak membutuhkan sumbangan ternak serta sekelompok pendukung, Andaikata Abubakar memang tidak pantas menduduki tempat itu, aku pasti tidak akan tinggal diam(Syarah Ibnu Abdil Hadid, juz I hal. 130. Nama lengkapnya Izzuddin Abdulhamid bin Abil Hasan bin Abil Hadid Al-Madaa’ini, penulis kitab syarah Nahjul Balaghah terdiri dari 20 juz. Ia termasuk ulama Syi’ah golongan ghulat yang ekstrim. Data tentang dirinya dapat dibaca dalam Raudhatul Jannaat juz V hal. 20 dan 30)
    Telah ditegaskan pula pidato Ali dalam kitab tersebut yang menyatakan : “Orang yang paling utama setelah Nabi adalah Abubakar dan Umar.”

    Mengapa tidak dikatakan kisah yang juga dirawikan : “Di saat kami bersama-sama Nabi di gua Hiraa, tiba-tiba gunung-gunung itu bergerak, lalu beliau bersabda : Berhentilah, tiada yang lain bagimu kecuali Nabi, Siddiq dan Syahid (Umar)[Talkhis Asy-Syaafi, karya Attousi juz II hal. 372 cetakan Negev.]

    ___________
    Ibnu Jakfari:

    Akhi ashim (ashamakallah minaz zalali wal isytibahi)
    dalam tanggapan saudara di atas ada beberapa yang perlu diluruskan, seperti kesalahan menyebut nama kitab karya ulama Syi’ah, atau menyebut kitab Sunni dan saudara katakan itu buku Syi’ah, seperti Syarah Nahjul balaghah nya Ibnu Abil Hadid yang beraliran Mu’tazilah… tapi selain itu…. Anda tidak perlu repot-repot, mestinya Anda coba buktikan dasar-dasar sahnya khiilafah Abu bakar….
    Anda perlu beri keterangan yang memuaskan mengapa Sayyidina Ali as. tidak mau membaiat Abu bakar sampai eman bulan?! Tidak juga keluarga Ali dan seluruh bani hasyim serta pengikut setia Ali?!
    Jadi saya tunggu keterangan selanjutnya.

  6. Ass. Wr. Wb.

    Didlm Al-Qu’an hadist Gadir Khum kan tidak disinggung. krn tidak diriwayatkan oleh Shahih Bukhari Muslim yg merupakan kitab paling shahih setelah Al-Qur’an. Kenapa hrs mempercayai akan kebenarannya? kita sbg seorang muslim sdh jelas kitab yg menjadi rujukan adlh Al-Qur’an dan Hadist yg diriwayatkan oleh para ulama terdahulu, juga nenek moyang kita. Sy dari kecil belajar mengaji sampai sekarang tidak ada yg namanya Hadist Gadhir Khum. Marilah kita jaga ukhuwah Islam yg sesuai dgn Al-Qur”an dan Sunah.

    Wass. Wr. Wb.

    _____________
    Ibnu Jakfari:

    Assalamu alaik akhi, jika saya bertanya: Apakah yang Anda pelajari sejak kecil sampai sekarang itu adalah seluruh ilmu? Apakah masih ada informasi yang belum Anda ketahui sampai sekarang? Saya yakin anda akan menjawab: Ya ada, dan mungkin banyak yang belum saya ketahui!
    Nah, anggap saja hadis Ghadir itu termasuk informasi yang belum sempat anda pelajari! Gimana kalau begitu?!

    Jadi jangan gegabah mengatakan “Tidak ada” pada sesuatu yang belum Anda ketahui! Tapi katakaan saja: Saya belum mengetahuinya!

    Kalau setiap hadis di luar Bukhari&Muslim ditolak/tidak diterima, wah sepertinya Anda perlu sedikit menyisihkan waktu untuk belajar lagi agama khususnya ilmu hadis. Maaf, sekedar nasihat.

  7. bismillah

    di jaman ini banyak FITNAH (din),khususnya di indonesia banyak sekali orang2 yang mengaku nabi di beri hukuman yang sangat ringan.dan juga banyak dai2 sempalan di layar televisi bermodalkan lisan yang memukau tuk mencari nafkah (dai amplop).
    begitu banyak umat islam yang awam,yang jauh mengenal ilmu agama yang tidak sanggup lagi memilah milah mana yang HAQ dan mana yang BATHIL (bid’ah).
    bertebaranlah PARTAI2 berazaskan ISLAM,seolah olah merekalah berjuang di agama ini hampir semua tidak mengetahui.
    padahal mereka kader2 PARTAI ISLAM,tujuan hanyalah DUNIA mencari nafkah menjual agama slogan2 palsu tuk mengelabui umat islam tuk mencapai dukungan yang penuh.
    mereka anggap DAKWAH tauhid,menghalangi perjuangan mereka seolah olah mereka berJIHAD di medan perang.
    hakikat JIHAD mereka kaburkan dengan menTAKWIL jihad parlemen dengan JIHAD di medan perang sama.
    padahal mereka tidak mengetahui JIHAD MUNAFIQUN adalah JIHAD para ulama rabbaniyin.

    Membantah orang-orang munafiq dan para pembawa kebatilan termasuk bagian daripada jihad fisabilillah. Allah dengan tegas memerintahkan kepada Nabi-Nya:
    يا أيها النبي جاهد الكفار و المنافقين و اغلظ عليهم، و مأواهم النار و بئس المصير
    Wahai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan munafiqin, serta bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat tinggal mereka adalah jahannam, dan itu sejelek-jelek tempat tinggal [At Taubah:73]

    Al Imam Al Mujahid Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata: “Jihad melawan munafiqin ini lebih berat daripada jihad melawan orang-orang kafir. Jihad ini merupakan jihadnya orang-orang khusus dari umat ini, yaitu para ‘ulama pewaris para nabi. Maka orang-orang yang tampil menegakkan jihad jenis ini hanyalah segelintir orang saja, demikian juga orang yang mau membantu mereka hanya sedikit saja. Namun demikian, meskipun secara jumlah mereka itu sedikit, mereka sangat besar kedudukannya di sisi Allah.” –sekian dari Ibnul Qayyim-

    Al Imam Al Harawi meriwayatkan dengan sanad beliau dari Nashr bin Zakariya ia berkata: Saya mendengar Muhammad bin Yahya Adz Dzuhli berkata: “Saya mendengar Yahya bin Yahya berkata: “Membela Sunnah lebih utama daripada jihad fi sabilillah!” Muhammad bin Yahya berkata (keheranan): “Seorang mujahid telah menyerahkan hartanya, mengerahkan kekuatannya dan berjihad di jalan Allah, lantas (bagaimana mungkin) pembela sunnah itu lebih utama daripadanya?”
    “Benar, bahkan (pembela sunnah) jauh lebih utama!” jawab Yahya [Dzammul Kalam lembaran A-111].

    dengan sering mengembar gemborkan JIHAD lewat demo2 di jalan,tidak pernahlah kalian berpikir atau mengkoreksi diri dari perbuatannya yang menyelisihi sunnah nabi shallallahu alaihi wa salam,dan mereka mendustakan AGAMA menyeret2 agama ini ke lubang kebinasaan (demokrasi ala kuffar) seolah olah agama (TAUHID) ini tujuannya hanya untuk bikin PARTAI.
    wallahu musta’an di antara mereka ada orang2 yang berpendidikan,pernah mengenal SUNNAH dan mereka juga menjauhi SUNNAH ini dari umat islam.orang itu di tugaskan tuk mencounter orang2 yang mengHUJJAH firqahnya.

    Ishaq ibnu Ath-Thiba’ rahimahullahu berkata: Aku mendengar Hammad bin Salamah rahimahullahu berkata:
    “Barangsiapa mencari (ilmu, -pen.) hadits untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuat makar atasnya.”

    umat islam mangkin bingung dari komentar2 satu sama lain yang menganggap dirinya yang paling benar.
    demi allah azza wa jalla tidak ada sanggup semua umat islam yang beri beban tuk MENELAAH antara HAQ dan BATHIL di antara kedua duanya mengunnakan DALIL hanya orang2 tertentu saja yang membedakan TAKWIL.

    Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata dalam kitabnya Al-Majmu’: “Shalat yang dikenal dengan istilah shalat Ar-Ragha`ib yaitu shalat 12 rakaat yang dilakukan antara Maghrib dan ‘Isya pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab dan shalat pada malam Nishfu Sya’ban sebanyak seratus rakaat, keduanya adalah amalan bid’ah dan mungkar. Janganlah tertipu karena disebutkannya dua jenis shalat ini dalam kitab Qutul Qulub dan Ihya` ‘Ulumuddin. Dan jangan pula tertipu dengan hadits-hadits yang tersebut di dalam dua kitab tadi. Karena sesungguhnya semua itu batil.”

    sebuah contoh di atas perselisihan,semua di antara mereka mengunakan dalil,membuat umat islam sulit tuk menilai mana yang BATHIL mana yang HAQ?semuanya mengunakan dalil.
    makanya pentingnya umat islam menuntut ilmu agama karena menuntut ilmu agama adalah wajib.

    Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullahu berkata:
    “Menuntut ilmu yang merupakan perkara yang wajib dan sunnah yang sangat ditekankan, namun terkadang menjadi sesuatu yang tercela pada sebagian orang. Seperti halnya seseorang yang menimba ilmu agar dapat berjalan bersama (disetarakan, -pen.) dengan para ulama, atau supaya dapat mendebat kusir orang-orang yang bodoh, atau untuk memalingkan mata manusia ke arahnya, atau supaya diagungkan dan dikedepankan, atau dalam rangka meraih dunia, harta, kedudukan dan jabatan yang tinggi. Ini semua merupakan salah satu dari tiga golongan manusia yang api neraka dinyalakan (sebagai balasan, -pen.) bagi mereka.”
    (An-Nubadz fi Adabi Thalabil ‘Ilmi, hal. 10-11)

    demi allah ini murni dari tulisan ana,sebagian mengutip perkataan2 ulama salaf…………tidak ada satu katapun mengambil dari orang lain.walhamdulillah…….

  8. Asalamualaikum.
    Saya tertarik dengan tulisan2 anda. Bahkan saya memetik beberapa argumen untuk coment di blog haulasyiah akan tetapi masih belum di-approve sama pengelola blognya. Mungkin agak keteteran.
    Saya ingin menanyakan pendapat Ibnu Jakfari tentang tulisan di http://www.syiah.net/Kumpulan-Artikel/WASIAT-RASULULLAH-PADA-IMAM-ALI.html
    sebagai bahan perbandingan dan pembelajaran.
    Semoga Allah mencurahkan segala kebaikan pada anda.. Amin

    Ibnu Jakfari:

    Ikuti terus keterangan kami di sini…. pasti akan Anda temukan jawabannya, insya Allah.

  9. Salom, menarik sekali apa yang dikatakan oleh saudara Asep, “Didlm Al-Qu’an hadist Gadir Khum kan tidak disinggung. krn tidak diriwayatkan oleh Shahih Bukhari Muslim yg merupakan kitab paling shahih setelah Al-Qur’an. Kenapa hrs mempercayai akan kebenarannya?” Ini adalah satu alibi yang sering dikemukakan oleh kaum Sunni pada umumnya, mereka bilang setelah al Qurn hanya sahih Bukhari dan Muslim yang dijadikan rujukan. Apa saudara Asep tidak menemukan bahwa Ali kedudukanmu kepadaku seperti kedudukan Harun kepada Musa akan tetapi tidak ada lagi nabi setelahku. Lalu di sahih Muslim Rasul mewanti-wanti akan ada 12 khalifah setelahku yang akan menjaga agama Allah ini tetap tegak lurus yang kesemuanya dari Qurasy. Coba deh Asep baca lagi kitab yang ente jadikan andalan itu dan renungkan baik-baik apa maknanya.

  10. @Ibnu Jakfari:

    Jadi jangan gegabah mengatakan “Tidak ada” pada sesuatu yang belum Anda ketahui! Tapi katakaan saja: Saya belum mengetahuinya!
    ——————–
    Ma’af apabila saya mengatakan “tidak ada” sebenarnya saya belum mengetahui tentang hadist Gadir Khum. Akan tetapi untuk meyakininya kayanya sangat sulit, karena mungkin tidak ada didalam kitab sahih Bukhari Muslim.

    @Yoyo Waluyo

    Kalo yg anda katakan memang ada dalam sahih Bukhari Muslim, tapi pemimpin umat Islam setelah Rasul Saw wafat adalah Khulafur Rasyidin.

    Ibnu Jakfari:
    Tidak semua hadis yang tidak teriwayatkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim itu berarti tidak benar atau harus sulit diterima… Selama ia memiliki jalur/sanad yang dapat dipercaya dan memenuhi standasr kualitas hadis shahih maka tidak ada alasan yang membenarkan kita untuk meragukannya.
    Wassalam.

  11. tarulah hadits itu shohih , hadits itu hanya menyatkan bahwa ali adalah pempimpin, akan tetapi haruskan imam ali menjadi pemimpin setelah nabi ataupun penganti nabi, bahkan dalam shohih bukhori ada wanita yang bertanya kepada nabi siapa pengati beliau nabi menjawab dengan tegas abu bakar,

  12. “Ali mengumpulkan orang-orang di Rahbah, lalu berkata meminta, “Aku meninta dengan nama Allah agar setiap orang yang pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda di Ghadir Khum: “Tidakkah kalian mengetahui bahwa aku berhak atas kaum Mukminin lebih dari diri mereka sendeiri (ketika itu beliau sambil berdiri, lalu mengangkat tangan Ali dan bersabda): “Barang siapa yang aku maula-nya maka Ali juga maula-nya. Ya Allah bimbinglah orang yang menjadikan Ali wali-nya dan musuhim orang yang memusuhinya.” Untuk bangu dan memberikan kesaksian!

    Boleh tau kapan Ali menggunakan perkataan ini dan bila dia mngucapkankan perkataan ini?

  13. Kalau melihat konteknya..paparan itu dah jelas maksud maula disini ya pemimpin, kalau banyak sahabat nggak mau terima ya justru sahabatnya yg salah..wong sahabat juga nggak maksum, malah ada sahabat yg katanya sebelum islam mengubur hidup2 anak perempuannya. Terima kasih blognya, meski saya suni..saya berpendapat mestinya Imam Ali yg menjadi pemimpin setelah rasul, bukan demokrasi kabilah ngawur ngawuran

  14. […] Wahhabi Menggugat Syi’ah (6) Apakah Penyebutan Kata Cinta dan Benci Mempengaruhi Pemaknaan Hadis G… […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: