Lima Belas Bukti Palsu Khilafah Abu Bakar (2)

Menyoroti Hadis-hadis Khilafah Abu Bakar

Ibnu Abdil Wahhâb menyebutkan sekitar lima belas hadis/dalil yang ia akhiri dengan kata-kata kecaman dan luapan emosi terpendam, tanpa menghiraukan konsekuensi berbahaya dari vonis yang ia lontarkan. Ia berkata, ”Dan hadis-hadis ini dan yang semisalnya akan membuat hitam gelegam wajah-wajah kaum Rafidhah dan kaum fasiq yang mengingkari kekhalifahan Abu Bakar ash Shiddîq ra.”

Untuk menyingkat waktu pembaca langsung saja kita ikuti satu persatu hadis yang ia sebutkan:

(1) Hadis Ali as.

عن علي رضي الله عنه قال: دخلنا على رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلنا : يا رسول الله استخلف علينا . قال : إن يعلم الله فيكم خيراً يول عليكم خيركم . فقال علي رضي الله عنه : فعلم الله فينا خيراً فولّى علينا خيرنا أبا بكر رضي الله عنه . رواه الدار قطني .

“Dari Ali ra. ia berkata, “Kami masuk menemui Rasulullah saw. lalu kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, tunjuklah seorang pengganti (Khalifah) yang memimpin kami.’ Maka Rasulullah saw. bersabda, ‘Jika Allah mengetahui pada kalian ada kebaikan pastilah Allah mengangkat seorang yang terbaik untuk memimpin kalian.’ Maka Ali ra. berkata, ‘Allah mengetahui bahwa pada kami ada kebaikan maka Allah mengangkat orang terbaik kami yaitu Abu Bakar ra. untuk memimpin kami.’” (HR. ad Dâruquthni)

وهذا أقوى حجة على من يدّعي موالاة علي رضي الله عنه،

“Dan ini adalah paling kuatnya hujjah melawan orang yang mengaku mengikuti Ali.”

Ibnu Jakfari berkata:

Ini adalah hadis pertama dari dalil-dalil tekstual -sperti yang akan saya sebutkan satu persat- yang dibanggakan Ibnu Abdil Wahhâb –Pendiri Sekte Wahhâbi- dalam menegakkan legalitas kekhilafahan Abu Bakar. Dan dengan sedikit bermodal kesabaran dan sedikit ketelitian saja, serta tidak harus menjadi seorang “Pakar Hadis” Anda pasti dapat membuktikan betapa palsu hadis-hadis di atas yang diatas-namakan Rasulullah saw.

Hadis-hadis yang ia banggakan sebagai bukti kuat dan membungkam mulut-mulut lawan itu ternyata saling kontradiksi antara satu dengan lainnya, selain realita sejarah dan perjalanan peristiwa-peristiwa membuktikan kebohongannya, serta tanda-tanda kepalsuannya begitu kentara! Disamping tentunya bertolak-belakang dengan dogma Wahhabi sendiri!

Agar Anda tidak menuduh saya mengada-ngada dalam menvonis palsu atas hadis-hadis di atas, mari kita teliti satu persatu hadis-hadis tersebut!

Namun sebelumnya ada satu hal yang patut diutarakan dan harus senantiasa diingat dan diindahkan dalam mendiskusikan masalah-masalah yang diperselisihkan antara Syi’ah dan kelompok-kelompok lain di luar Syi’ah, khususnya kaum Wahhabi yang akhir-akhir ini getol membawa Panji Permusuhan dan Pengafiran terhadap kaum Syi’ah Imamiyah Ja’fariyah Itsnâ Asyariyyah! Yaitu tentang “aturan main” dan etika berdialoq!

Sepertinya masalah yang satu kurang dimengerti atau memang sengaja tidak mau dimengerti, atau sengaja diabaikan dan tidak “digubris” oleh sebagian besar mereka yang gemar menghujat dan menggugat Syi’ah dan ajarannya. Yaitu mengenai kesepakatan akan argument yang boleh dijadikan pijakan dalam berdiskusi! Tentunya dalil yang berhak masuk ke dalam rana diskusi adalah dalil yang telah disepakati terlebih dahulu kehujjahannya oleh kedua belah pihak yang akan berdiskusi! Bukan hanya dalil yang dipercaya oleh satu pihak saja, sementara pihak lainnya tidak mengakuinya!

Di sini, dalam kesempatan ini Anda berhak terheran-heran ketika menyaksikan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb dalam gugatan dan hujatannya atas kaum Syi’ah yang tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar dan dalam upaya ngototnya (namun sayang sia-sia) dalam menegakkan keabsahan Khilafah Abu Bakar … dalam semua itu ternyata Imam Sekte Wahhâbi ini hanya berdalil dengan dalil-dalil yang hanya berlaku di kalangan kelompoknya… legalitasnya tidak pernah disepakati oleh Syi’ah! bahkan rata-rata hadis andalannya itu ternyata telah divonis lemah, munkar, lâ yashihhu/tidak shahih, lâ ashla lahu/tidak punya asal muassal, bahkan tidak jarang yang maudhû’/palsu. Ia hanya pandai mencecer hadis-hadis dan kemudian memaksa Syi’ah untuk menerima konsekuaensi darinya, sementara itu hadis-hadis itu hanya ada dalam kitab-kitab selain Syi’ah dan Syi’ah sama sekali tidak pernah mengakuinya tidak juga kebanyak pakar ahli hadis Ahlusunnah!

Tentunya etika seperti itu sangat jauh dari inshâf, jauh dari obyektifitas diskusi! Semestinya Imam kaum Wahhabi itu mampu membongkar akar akidah Syi’ah melalui riwayat-riwayat Syi’ah sendiri dan menegakkan pondasi Kekhalifahan Abu Bakar di atas dalil-dalil dan hadis-hadis yang diakui Syi’ah karena, misalnya ia termaktub dalam kitab standar andalan mereka! Seperti yang selama ini dilakukan ulama Syi’ah!

Sebab jika etika berdialoq ini tidak ia indahkan, maka apakah ia siap dan sudi menerima dalil-dalil dari kitab-kitab Syi’ah yang diajukan ulama mereka untuk menegakkan pondasi akidah mereka tentang Imamah Ali dan Ahlulbait as.

Apakah jika ulama Syi’ah mengatakan bahwa keyakinan kami tentang Imamah adalah bahwa Nabi telah menunjuk Ali dan Ahlulbait as. sebagai pemimpin umat Islam sepeninggal Nabi saw. dan siapapun yang menyerobot Ali as. berarti Khilafahnya tidak sah! Semua itu berdasarkan hadis-hadis yang telah diriwayatkan para ulama kami dalam kitab-kitab mereka! Apakah jika hal itu dilakukan ulama Syi’ah, Ibnu Abdil Wahhâb akan menerimanya? Atau justru ia akan mengatakan bahwa, itu adalah hadis-hadis ulama kamu! Kami tidak akan menerimanya! Datangkan hadis-hadis dari riwayat kami, agar kami mau menerimanya! Bukankah demikian sikap yang akan ia tampilkan?! Lalu sekarang mengapakah kaum Syi’ah harus dipaksa menerima hadis-hadis yang hanya diriwayatkan melalui jalur-jalur selain Syi’ah yang kandungannya bertentangan dengan keyaknan dan akidah Syi’ah?!

Jadi semestinya, jika Ibnu Abdil Wahhâb bernafsu untuk menegakkan bukti-bukti kekhilafahan Abu Bakar, ia harus membutkikan dari riwayat-riwayat Syi’ah! sebab dengan demikian ia berhak memaksa kaum Syi’ah untuk menerimanya secara konsekuen hadis-hadis yang ternyata telah diriwayatkan dan dishahihkan para ulama mereka sendiri. Sebagaimana apabila kaum Syi’ah hendak bermaksud menegakkan bukti-bukti imamah Ali dan Ahlulbait as. dan atau membuktikan ketidak-sahan khilafah selain Ali as. maka hendaknya mereka membuktikannya dari riwayat-riwayat ulama kelompok yang menjadi lawan dialoq mereka!

Tetapi sekali lagi saya katakan sangat disayangkan ternyata Ibnu Abdil Wahhâb, seperti juga kebanyakan ulama lainnya yang menghujat dan mengguat Syi’ah tidak pernah mengindahkan etika positif ini…. Mereka hanya mau menang sendiri… maka akibatnya hanya kerancaun dan hilangnya panji-panji kebanaran di tengah-tengah huruk-pikuk kegaduhan!

Dan perlu saya sampaikan juga bahwa sejatinya tidak ada kuwajiban atas saya untuk menanggapi dalil-dalil (hadis-hadis) yang ia ajukan sebab ia riwayat selain Syi’ah yang tidak ada hak baginya untuk memaksa kaum Syi’ah agar menerimanya dan meninggalkan keyakinan yang telah mereka tegakkan di atas dasar hadis-hadis Ahlulbait as. yang telah mereka riwayatkan dengan sanad yang shahih. Kalaupun saya menanggapinya sekarang ini, itu murni karena kebaikan sikap saya yang masih mau meluangkan waktu untuknya! Sama sekali tidak ada kewajiban atas saya, baik wajib aqli maupun wajib akhlaqi!

Setelah ini semua marilah kita kembali meneliti hadis-hadis di atas.

Ahlusunnah Sepakat Tidak Ada Nash Penujukan Dari Nabi saw!

Hal mendasar yang akan membubarkan angan-angan Imam Wahhabi kali ini ialah bahwa termasuk hal yang telah disepakati para pembesar ulama Ahlusunnah adalah bahwa Nabi saw. tidak pernah menujuk siapa Khalifah sepeninggal beliau saw. Ketarangan al Îji sebelumnya telah menegaskan hal itu!

Ada sebuah stitmen penting dan mendasar yang disampaikan Umar –selaku Khalifah kedua- ketika ia diminta para sahabat untuk menunjuk seorang Khalifah yang akan mengantikan posisinya setalah mati nanti, maka ia berkata, ”Jika aku tidak menunjuk seorang pengganti maka ketahuilah bahwa Rasulullah juga tidak menunjuk seorang pengganti dan jika aku menunjuk maka Abu Bakar telah menunjuk.”[1]

Dan di saat-saat terakhir menjelang kematiannya, ketika ada yang mengatakan kepaanya, “Jangan Anda biarkan umat Muhammad tanpa pengembala, tunjuklah seorang pemimpin!” Umar ibn al Khaththâb menjawab, “Jika aku membiarkan maka ketahuilah bahwa orang yang lebih baik dariku (Rasulullah saw. maksudnya) telah membiarkan dan jika aku menunjuk seorang pengganti maka sesungguhnya seorang yang juga lebih baik dariku (Abu Bakar maksudnya) telah menunjuk.”[2]

Selain bukti di atas, Anda dapat menemukan bagaimana Abu Bakar -selaku Khalifah pertama- juga berandai-andai jika ia dahulu bertanya kepada Rasulullah saw. siapa yang berhak atas jabatan kekhalifahan ini dan apakah kaum Anshar memiliki hak untuk menjabat atau tidak. Abu Bakar berkata, “Saya ingin andai dahulu aku bertanya kepada Rasulullah untuk siapa perkara (khilafah) ini sehingga ia tidak direbut oleh seorangpun yang bukan ahlinya? Aku ingin andai aku bertanya, apakah orang-orang Anshar mempunyai hak dalam perkara ini?.”[3]

Umar juga menyesal karena tidak sempat bertanya kepada Rasulullah saw. tentang tiga perkara, yang andai ia mengetahuinya pasti itu lebih ia sukai dari onta berwarna kemerah-merahan atau seperti dalam redaksi lebih ia sukai dari dunia dan seisinya, yaitu siapa Khilafah sepeninggal beliau, tentang hukum waris Kalalah dan hukum riba’.[4]

Semua itu adalah bukti konkrit bahwa baik Abu Bakar maupun Umar tidak pernah mengetahui barang satu huruf pun dari nash-nash penunjukan tersebut. Terlebih lagi jika Anda memperhatikan argumentasi yang diajukan Abu Bakar dan Umar dalam rapat Saqifah… . Sama sekali tidak menyebut-nyebut adanya nash/penunjukan itu!

Adapun riwayat-riwayat yang dibanggakan Ibnu Abdil Wahhâb maka perlu diketahui di sini bahwa para pembesar ulama Ahlusunnah telah menegaskankan kebatilan sebagian besar darinya!

o Riwayat Pertama:

Adapun riwayat pertama maka ia tertolak dengan alasan di bawah ini:

1) Imam Ali as. tidak memberikan baiat selama enam bulan

Berdasarkan riwayat-riwayat shahih yang telah saya sebutkan sebelumnya dari riwayat Imam bukhari, Muslim dan para pembesar ahli hadis lainnya yang mengatakan bahwa Imam Ali as. tidak memberikan baiat kepada Abu Bakar selama enam bulan, sebab beliau menganggap Abu Bakar bersikap semena-mena dalam hal ini. Jika benar Imam Ali as. telah mendengar Nabi saw. bersabda demikian pastilah beliau orang pertama yang akan bergegas membaiat Abu Bakar dan tidak akan membiarkan Fatimah istrinya menentang Abu Bakar dan menolak memberikan baiat!

2) Abu Bakar mengaku ia bukan orang yang paling baik

Sumber-sumber terpercaya Ahlusunnah menukil bahwa segera setelah diangkat sebagai Khalifah, Abu Bakar berpidato dan berkata, “Sesungguhnya aku telah diangkat menjadi pemimpin atas kalian sementara aku ini bukan orang terbaik kalian.”[5]

Dan ini adalah bukti nyata bahwa Abu Bakar tidak menilai dirinya memiliki keunggulan di atas lainnya seperti yang ramai-ramai diklaim oleh pengikutnya.

3) Umar menuduh baiat Abu Bakar adalah faltah

Dalam sebuah kesempatan, Umar menyatakan di hadapan khalayak ramai ketika berpidato bahwa pembaiatan atas Abu Bakar itu terjadi secara faltah, tergerah-gesah, akan tetapi menyelamatkan umat dari dampak buruknya.

[1] Baca Shahih Bukhari,9/100, pada Kitabu al Ahkâm, Bab al Istikhlâf dan Shahih Muslim, 3/1454 bab al Istikhlâf wa tarkihi, Hilyah al Auliyâ’,1\44, as Sunan al Kubrâ, 8\149 dll.

[2] Murûj adz Dzahab; as Mas’udi,:2\253. Dâr al Fikr.

[3] Tarikh ath Thabari:4\53dan al Iqd al Farîd,2\254.

[4] Musnad Imam Ahmad,1/35, Tafsir al Qurthubi,6/30, Al Bidayah wa an Nihayah,3/247 dan Sunan al Baihaqi,8/149. Hadis serupa juga dapat Anda jumpai dalam tafsir Ibnu Katsir,1/595 dari riwayat al hakim dengan sanad shahih bertdasarkan syarat Bukhari&Muslim.

[5] Al Kâmil fi at Târîkh,2/232, Târîkh ath Thabari,3/210 dan at Tamhîd:487.


9 Tanggapan

  1. Hari geenee… masih mempersoalkan khalifah ribuan tahun lalu…weleh-weleh… Imam Ali aja akhirnya berbai’at kepada Abu Bakar walau setelah 6 bulan apapun alasan beliau dan selama pemerintahan Abu Bakar beliau menjadi penasehat Abu Bakar, kalo sampeyan mengaku pengikut beliau… ikutin saja beliau… beres… daripada sakit hati terus mengenang masa silam dan mati ga tenang… terima aja dech…😆 … emang dg ngungkit2 lagi, sampeyan akan bisa merubah sejarah??? ga la yao…:mrgreen:
    Salam

    Ibnu Jakfari:

    Karena Anda tidak mengerti soal Khilafah itu apa jadi Anda mengatkan demikian…. Hari geenee… masih mempersoalkan khalifah ribuan tahun lalu…weleh-weleh… Jadi saya maklumi aja!
    Apa Anda tidak terpanggil ingin tau mengapa Imam Ali as. tidak memberikan baiatnya untuk Abu Bakar selamaa enam bullan, tidak juga seluru keluarga besar Bani hasyim dan banyak kalangan muhajirin dan sebagian Anshar?
    Wassalam.

  2. Apa Anda tidak terpanggil ingin tau mengapa Imam Ali as. tidak memberikan baiatnya untuk Abu Bakar selamaa enam bullan, tidak juga seluru keluarga besar Bani hasyim dan banyak kalangan muhajirin dan sebagian Anshar?

    buat apa pak Kyai? yang penting itu kan endingnya… akhirnya kan beliau dan seluruh kaum muslimin berbaiat kepada Abu Bakar… itu sdh cukup… boleh kan keputusan itu diambil melalui proses dulu…

    lagian Imam Ali bersikap yg sama tuch thd 2 kekhalifahan berikutnya… kalo memang Imam Ali ditunjuk oleh Rasul dlm urusan itu, pasti bagaimanapun caranya beliau akan melaksanakannya dan menuntut haknya walopun dg cara peperangan sekalipun… tapi nyatanya nggak itu kyai…

    so… diterimo wae lahh…. yg lalu biarlah berlalu… ikutilah jejak Imam Ali… Insyaallah slamet, tenang & ga makan ati sampeyan kyai…:mrgreen:
    Wassalam

    Ibnu Jakfari:
    Ya ini akibatnya! Karena Anda tidak mau tau akar masalahnya jadi anda mengatakan seperti itu!
    Alasan yang saudara sampaikan itu pastilah akan cocok kalau Imam Ali as. hanya mementingkan jebatan betapaun untuk mengambilnya kembali dari perampasnya akan membawa petaka bagi umat Islam daan agama. Renungi baik-baik masalah ini… Jangan kita perpikir sempit… Tidak mau melibatkan semua data dan fakta sejarah.
    Anda juga perlu meneliti sikap Imam Ali as. terhadap dua pendahulunya yang lain… Al Hasil kalau memang jujur mau tau dan obyektif dalam meneliti kita harus melibatkan semua data yang ada. Jangan kesimpulan penelitian itu kita paksakan sesuai dengan doqma lama kita sendiri, atau kita hanya memilih data yang cocok dengan doqma lama kita!
    Wassalam.

  3. Alasan yang saudara sampaikan itu pastilah akan cocok kalau Imam Ali as. hanya mementingkan jebatan betapaun untuk mengambilnya kembali dari perampasnya akan membawa petaka bagi umat Islam daan agama. Renungi baik-baik masalah ini… Jangan kita perpikir sempit… Tidak mau melibatkan semua data dan fakta sejarah.

    Bukan begitu maksud saya kyai, logikanya cukup sederhana saja, kita tau Imam Ali adl seorang yg sangat mentaati apa2 yg diperintahkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, contoh ketika Rasul hendak berhijrah beliau diperintahkan untuk tidur di dipan Rasul, dan Imam Ali mentaatinya tanpa bertanya-tanya lagi, tanpa mikir gimana jadinya nanti, tentunya kalau hal ini kita proyeksikan ke masalah khilafah setelah Rasul, seandainya memang benar Rasul berwasiat tentang masalah ini ke Imam Ali, tentu beliau akan jalankan wasiat dari Rasul tsb tanpa keraguan & mikir yg macem2 … dan ternyata tidaklah spt itu kenyataannya… maka logika sebaliknya yg paling mendekati kebenaran adalah memang tidak ada wasiat khusus dari Rasul mengenai masalah khilafah tsb kepada Imam Ali…

    Soalnya pak Kyai, kalo ga logika itu yg kita ambil, yg terkena tuduhan tidak menjalankan wasiat rasul bukan hanya sahabat saja yg menurut sampeyan adl “sang perampas” serta mayoritas kaum muslimin yg membaiat Abu Bakar saat itu, tetapi Imam Ali sendiri pun bisa dikenakan tuduhan juga karena tidak menjalankan apa yg menjadi wasiat Rasul… so yg paling mendekati kebenaran adalah seperti yg saya uraikan di atas… gitu pak kyai… kalo ada salah-salah kate sepuranya aja ya kyai…🙂
    Wassalam

    Ibnu Jakfari:
    Salam akhi, hadaniyallah wa iyyakum Ilal haq.
    Dengan logika yang anda anut pastilah orang berhhak bertanya, ‘Jika Ali itu sahabat yang paling ta’at… dan dalam masalah Khilafah tidak ada penunjukan… lalu mengapa beliau menentang pembaiatan atas Abu Bakar selama enam bulan? Mengapa beliau -bahkan ketika telah membaiat dengan alasan tertentu- beliau masih tak henti-hentinya menegaskan hak beliau sebagai yang telah ditunjuk Rasul untuk memimpin umat, tapi dirampas! (Yang berkata demikian Imam Ali as. sendiri mas, bisa Anda rujuk dalam Nahjul Balaghah dan kitab-kitab lainnya).
    Bukankah dalam teoloqi Islam Sunni (yang tentunya diambil dari apa yang terjadi dan bukan apa yang semestinya terjadi) ditegaskan bahwa keabsahan sebuah kekhalifahan sudah dapat diperoleh dengan baiat wal;au bebepara orang saja dari Ahhlul halli wal Aqdi? Jadi semestinya (masih dalam pandangan Sunni) semua orang WAJIB menerima khilafah Abu Bakar… dan HARAM/DOSA BESAR menentangnya? Lalu kalau demikian apa pandangan kita terhadap Imam Ali as. dalam kurun waktu (6 bukan) penentangan itu?!
    Logika yang mengatakan bahwa Imam Ali as. juga harus dipersalahkan, sebab kenapa beliau tidak bangkit, itu akan benar dan sehat jika memang Nabi saw. berwasiat kepada Ali as. untuk mengambil kembali hak kepemimpinan yang dirampas orang lain itu… betapapun kondisi dan situasi serta akibatnya!
    Mas, kalau tidak keberatan ikuti terus artikel di sini… saya akan bicarakan lebih lanjut tentang masalah ini… ini bukan lari dari diskusi di sini! Maaf.
    Terima kasih…. Anda tetap saudaraku walaupun tidak sependapat denganku… Tempat seorang Muslim adalah hatiku.

  4. Salam

    @Tonggos,
    Sejarah Fadak tidak di ambil peduli? Maka, bagaimana wanita-wanita dapat tauladan 4 wanita yang dimuliakan ALLAH s.w.t.

    Begitulah akibatnya, menyesakkan akal fikiran.

    Salam aidil adha.. Pak Jafari

    wasSalam

  5. Salam wa Rakhmah

    Saya mau tanya apakah hadist dibawah ini shahih?

    Rasulullah SAW bersabda, “Seluruh hal yang Allah SWT percayakan kepadaku di malam ‘Isra, telah kutanamkan ke dalam hati Abu Bakar RA.”

    Wassalam

    Ibnu Jakfari:

    Secara khusus saya belum menelitinya atau membawa penelitian ulama tentangnya… Tetapi perlu diwaspadai karena banyak hadis palsu keutamaan Abu Bakar yang diproduksi oleh agen-agen bani Umayyah!!
    Insya Allah saya dalam kesempatan lain mampu menelitinya.

  6. coba akh antum baca diakhir surat al mujadalah,bagaimana sikap kita terhadap saudara kita seiman……

  7. apalagi Allah telah mentaskiyyah mreka para sahabat radiallahu anhu dibanyak beberapa ayat dalam al quran “fa tabiru ya ulil albab…apakah kita akan mengingkari apa yang RABB kita firman kan…

  8. […] Lima Belas Bukti Palsu Khilafah Abu Bakar (2) Menyoroti Hadis-hadis Khilafah Abu Bakar […]

  9. Salam.
    Sayyidah Fathimah az-Zahra juga sampai hari wafatnya nggak ngasih bay’ah sama Abu Bakr kan ya. Tapi ini masalah lain.

    Yang ingin saya tanyakan terkait artikel di atas adalah: kenapa seolah-olah Abu Bakr dan Umar tidak mengetahui siapa orang yang akan menjadi pengganti (khalifah) Rasulullah saw. dengan mengatakan “Rasulullah juga tidak menunjuk seorang pengganti”, “orang yang lebih baik dariku (Rasulullah saw. maksudnya) telah membiarkan”, “Saya ingin andai dahulu aku bertanya kepada Rasulullah untuk siapa perkara (khilafah) ini sehingga ia tidak direbut oleh seorangpun yang bukan ahlinya? Aku ingin andai aku bertanya, apakah orang-orang Anshar mempunyai hak dalam perkara ini?.”
    Agak aneh, karena: bukankah seharusnya Abu Bakr dan Umar telah mengetahuinya lewat khutbah Rasulullah saw. di Ghadir Khumm?
    Begitu juga dengan peristiwa Saqifah, kenapa beberapa sahabat kalangan Anshar berkumpul di Saqifah? Seolah peristiwa di Ghadir Khumm tidak pernah terjadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: