Wahhabi Menggugat Syi’ah (18)

Menyoal Sikap Ibnu Katsir (I)

Setelah Anda saksikan bagaimana hadis riwayat turunnya ayat al Ikmâl dalam peristiwa Gadir Khum itu sangat kuat dan melalui perawi-perawi terpercaya, dan bagaimana Anda saksikan penolakan tanpa dasar oleh Ibnu Taimiyah, maka kini Anda akan dapati Ibnu Katsir juga tidak kalah bersemangatnya dalam menolak kashahihan hadis tentangnya! Kendati harus meruntuhkan kaidah-kaidah yang semestinya ia perhatikan. Ia menuduh hadis riwayat Abu Hurairah dalam masalah ini sebagai munkarun jiddan/sangat munkar bahkan kidzbun/kebohongan belaka!

Perhatikan komentar Ibnu Katsir di bawah ini:

فأمّا الحديث الذي رواه ضمرة، عن ابن شوذب، عن مطر الورّاق، عن شهر بن حوشب، عن أبي هريرة، قال: لمّا أخذ رسول الله صلّى الله عليـه [وآله] وسـلّم بيـد عليٍّ قال: من كـنت مـولاه فعليٌّ مـولاه؛ فأنـزل الله عزّ وجلّ: (اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي). قال أبو هريرة: وهو يوم غدير خمّ، من صام يوم ثمان عشرة من ذي الحجّة كتب له صيام سـتّين شهراً.

فإنّه حديث منكَر جدّاً، بل كذب، لمخالفته لِما ثبت في الصحيحين عن عمر بن الخطّاب أنّ هذه الآية نزلت في يوم الجمعة يوم عرفة، ورسول الله صلّى الله عليه [وآله] وسلّم واقف بها كما قدّمنا.

وكذا قوله: إنّ صيام يوم الثامن عشر من ذي الحجّة، وهو يوم غدير خمّ، يعدل صيام ستّين شهراً؛ لا يصحّ؛ لاَنّه قد ثبت ما معناه في الصحيح أنّ صيام شهر رمضان بعشرة أشهر، فكيف يكون صيام يوم واحدٍ يعدل ستّين شهراً؟! هذا باطل.

وقد قال شيخنا الحافظ أبو عبدالله الذهبي ـ بعد إيراده هذا الحديث ـ هذا حديث منكَر جدّاً.

ورواه حبشون الخلاّل وأحمد بن عبـدالله بن أحمد النيري ـ وهما صدوقان ـ عن عليّ بن سعيد الرملي، عن ضمرة.

قال: ويروى هذا الحديث من حديث عمر بن الخطّاب، ومالك بن الحويرث، وأنس بن مالك، وأبي سعيد، وغيرهم، بأسانيد واهية.

قال: وصدر الحديث متواتر، أتيقّن أنّ رسول الله صلّى الله عليه [وآله] وسلّم قاله.
وأمّا: اللّهمّ وال من والاه؛ فزيادة قويّة الاِسناد.

وأمّا هذا الصوم فليس بصحيح.

ولا والله ما نزلت هذه الآية إلاّ يوم عرفة قبل غدير خمّ بأيّام. والله تعالىأعلم.
”Adapun hadis yang diriwayatkan oleh Dhamrah dari Ibnu Syaudzab dari Mathar al Warrâq dari Syahr ibn Hausyab dari Abu Hurairah, ia berkata: ‘Ketika Rasulullah saw. mengangkat tangan Ali beliau bersabda, ‘Barang siapa yang aku pemimpinnya maka Ali juga pemiminnya, maka Allah menurunkan ayat:

اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي

Abu Hurairah berkata, ‘Ia adalah hari Ghadir Khum, barang siapa berpuasa pada hari ke delapan belas bulan Dzul Hijjah maka Allah menulis baginya pahala puasa enam puluh bulan.’

Hadis ini adalah munkarun jiddan/sangat munkar bahkan ia kebohongan belaka, sebab ia menyalahi apa yang tetap dalam Shahihain (Bukahri& Muslim) dari Umar ibn al Khaththâb bahwa ayat tersebut turun pada hari Jum’at di padang Arafah, sementara Rasulullah saw. berdiri, seperti telah lewat kami sebutkan.

Demikian juga sabda: “Sesungguhnya berpuasa pada tanggal 18 bulan Dzul Hijjah yaitu hari Ghadir Khum menyamai puasa enam puluh bulan” adalah tidak benar, sebab telah tetap hadis yang mengatakan bahwa berpuasa di bulan Ramadhan menyamai sepuluh bulan, lalu bagaimana puasa sehari saja dapat menyamai enam puluh bulan?! Ini jelas kepalsuan!

Syaikh kami, al Hafidz Abu Abdillah adz Dzahabi setelah membawakan hadis di atas ia berkata, ‘Ini adalah hadis yang sangat munkar.

Hadis itu telah diriwayatkan oleh Habsyûn al Khallâl dan Ahmad ibn Abdullah ibn Ahmad an Nairi, -keduanya adalah shadûq/jujur- dari Ali ibn Sa’id ar Ramli dari Dhamrah.

Ia berkata, “Dan hadis ini juga diriwayatkan dari Umar ibn al Khaththâb, Malik ibn Huwairits, Anas ibn Malik, Abu Sa’id dan selainnya dengan sanad yang lemah.”

Ia (Adz Dzahabi) berkata, “Bagian awal hadis itu adalah mutawatir. Saya yakin bahwa Rasulullah saw. menyabdakannya.”

Adapun sabda:

أللهُمَّ والِ من والاه

Ia adalah tambahan yang kuat sanadnya.

Adapun puasa itu (yang disebutkan Abu Hurairah) ia tidak shshih.

Demi Allah ayat tersebut tidak turun melainkan di padang Arafah beberapa hari sebelum peristiwa Ghadir Khum. Wallahu A’lam/hanya Allah yang Maha Mengetahui.’”[1]

Ibnu Jakfari

Setelah menyaksikan penolakan Ibnu Katsir di atas, mari kita perhatikan poin-poin penting di bawah ini.

Pertama:

Penolakan itu sama sekali tidak bersadar, sebab Ibnu Katsir sendiri telah mengakui bahwa hadis tersebut diriwayatkan melalui jalur Dhamrah dari Ibnu Syaudzab dari Mathar al Warrâq dari Syahr ibn Hausyab dari Abu Hurairah. Sementara itu mereka semua adalah para perawi andalah para penulis kitab-kitab Shahih Ahlusunnah!

Seperti telah lewat saya paparkan, bahwa para perawi dalam jalur-jalur hadis ini para perawi tsiqat/terpercaya. Hanya saja di sini ada tambahan nama beberapa perawi yang harus kita teliti, mereka adalah:

(1) Ali ibn Sa’id ar Ramli.

Adz Dzahabi telah menegaskan bahwa perawi yang satu ini adalah tsiqah dan tidak seorang ulama’pun yang mencacatnya. Ia berkata, “Aku tidak melihatnya mengapa-ngapa, dan tidak seorang-pun mencacatnya. Ia shaleh/baik urusannya. Tidak seorang-pun dari penulis kitab Shahih mengeluarkan (meriwayatkan) hadisnya, padahal ia seorang yang tsiqah.”[2]

Menanggapi komentar adz Dzahabi di atas, Ibnu Hajar berkomentar, “Jika ia seorang yang tsiqah/jujur terpercaya, dan tidak seorang-pun mencacatnya, lalu mengapakah engkau (wahai adz Dzahabi) memasukkannya dalam daftar orang-orang dhu’afâ’/lemah…. Ia wafat tahun 216 H.”[3]

(2) Dhamrah ibn Rabi’ah al Filasthini Abu Abdillah ar Ramli(w.202 H).

Ia seorang perawi yang diandalkan oleh Imam Bukhari dalam kitab al Adab al Mufrad dan juga oleh empat penulis kitab Shahih Ahlusunnah (At Turmudzi, Abu Daud, Ibnu Mâjah dan an Nasa’i).

Abdullah putra Imam Ahmad menukil dari ayahnya ia berkata, “Ia (Dhamrah) adalah seorang yang shaleh, shaleh hadisnya,[4] termasuk orang-orang tsiqât/jujur terpercaya lagi amanat, di kota Syam tidak ada seorang yang menyerupainya. Ia lebih kami sukai dibanding Baqiyyah. Baqiyyah tidak memperhatikan dari siapa ia menyampaikan hadis.”

Utsman ibn Sa’id ad Dârimi berkata menukil Yahya ibn Ma’in dan an Nasa’i “Ia seorang yang tsiqah/jujur terpercaya.”

Abu Hatim berkata, “Ia shaleh.”

Muhammad ibn Sa’id berkata, “Ia seorang yang tsiqah, terpercaya lagi baik, tiada di kota Syam seorang yang lebih afdhal darinya,tidak al Walîd tidak juga selainnya, ia wafat tahun 202 H. Abu Daud, at Turmudzi, an Nasa’i dan Ibnu Mâjah meriwayatkan hadis darinya.”[5]

Adam ibn Yunus berkata, “Tidak ada seorang yang lebih menyadari apa yang keluar dari kepalanya seperti Dhamrah.”

Adz Dzahabi juga menukil banyak pujian ulama tentangnya, seperti Ahmad dan Ibnu Yunus.[6]

(3) Abdullah ibn Syaudzab (w.156 H).

Nama lengkapnya Abdullah ibn Syaudzab al Balkhi al Bashri. Ia berdomisi di kota Syam, tepatnya di Baitul Maqdis. Ia seorang Tabi’în… para Ahli hadis telah meriwayatkan hadis darinya, di antaranya Abu Ishaq al Fizâri, Dhamrah ibn Rabî’ah, Isa ibn Yusuf, Abdullah ibn Mubarak, Salamah ibn Iyar al Fizâri, Walîd ibn Mazîd, Ayyub ibn Suwaid, Ibrahim ibn Adham, Ibnu Muslim al Haffâf al Halabi dan Muhammad ibn Katsîr al Mashîshi.

Ia adalah perawi andalan Abu Daud, at Turmudzi, an Nasa’i dan Ibnu Mâjah.

Adz Dzahabi berkata, “Ia ditsiqahkan oleh banyak kalangan, jamâ’ah, memandangnya mengingatkan kita akan keagungan para malaikat.”[7]

Ibnu Hajar berkata, “Ia shadûq dan abid (ahli ibadah).”[8] Sufyan ats Tsawri berkata, “Ia tergolong guru-guru kami yang tsiqât/jujur terpercaya.”

Yahya ibn Ma’in dan an Nasa’i berkata, “Ia tsiqah.”

Abu Hatim berkata, “Ia tidak mengapa-ngapa.”[9]

Dan Ibnu Hibbân memasukkannya dalam daftar para perawi tsiqah.

(4) Mathar al Warrâq (w.129 H)

Ia adalah perawi andalan Imam Bukhari dalam bab at Tijarah fil Bahri (Perniagaan di Laut) dan juga perawi andalan Imam Muslim dan empat penulis kitab Shahih lainnya.[10]

Adz Dzahabi telah menyebutkan pujian para ulama terhadapnya dalam kitab Hilyatul Awliyâ’-nya,3/75-76.

(5) Syahr ibn Hausyab (w112 atau 111 atau 1oo atau 98 H).

Ia perawi andalan Imam Bukhari dalam kitab al Adab al Mufrad dan juga Imam Muslim dalam Shahih-ya dan empat penulis kitab Shahih Ahlusunnah lainnya.

Dan ini semua sudah cukup untuk mengenali kualitas Syahr ibn Hausyab dan ketsiqahannya.

Jika demikian keadaannya, lalu bagaimana Ibnu Katsir berani mengatakan bahwa ia adalah hadis palsu, kidzbun, hanya dengan satu alasan yang tidak berdasar yaitu karena ia bertentangan dengan riwayat Bukhari & Muslim! Sebab untuk menvonis sebuah hadis/riwayat itu palsu/kidzbun diperlukan kehati-hatian dan penelitian secara seksama serta melibatkan berbagai kaidah-kaidh yang berlaku dalam tindak tarjîhât (pengunggulan antara satu riwayat atas riwayat lainnya) dan upaya serius dalam mentaufiqkan (mengharmoniskan/mengkompromikan) antara riwayat-riwayat yang secara dzahir terkesan saling bertentangan! Tidak dapat dengan semudah itu menvonis secara serampangan bahwa hadis ini atau itu palsu!

Pertama yang ingin saya ingatkan di sini, dalam kasus kita ini adalah tidak adanya keseimbangan antara dua riwayat yang diasumsikan saling bertentangan sehingga salah satunya harus dibuang oleh Ibnu Katsir. Sebab hadis Bukhari & Muslim yang ia maksud adalah memuat ucapan/pendapat Umar ibn al Khaththâb, sementara hadis yang menerangkan turunnya ayat tersebut di Ghadir Khum adalah sabda Nabi saw.

Melakukan uji kualitas itu akan benar jika dilakukan terhadap dua atau lebih hadis yang sama-sama dari Nabi saw. atau sama-sama memuat ucapan para sahabat!

Adapaun dalam kondisi ada sebuah atau beberapa hadis dari Nabi saw. maka terlebih dahulu hadis-hadis itu diuji kualitasnya untuk diketahui mana yang shahih mana yang dha’if atau mana yang lebih shahih. Jika ternyata tidak ada sebuah hadis shahih-pun dalam masalah tersebut baruah kita dibenarkan mencari tau tentang masalah tersebut dari ucapan para sahabat atau tabi’in!

Inilah etika yang seharusnya diindahkan ketika kita meneliti riwayat!

Kedua, andai kita menerima cara berfikir Ibnu Katsir yang mencampur-adukkan antara sabda Nabi suci saw. dan ucapan Umar ibn al Khaththâb, maka di sini tidak bebararti tertutup jalan kompromi di hadapan kita sehingga harus mengambil jalan pintas tanpa dasar dengan mengatakan hadis Abu Hurairah itu munkarun jiddan bahkan kidzbun, seperti yang ia lakukan!

Sebab masih banyak teori yang harus kita libatkan dalam menghadapi kasus semacam itu. Di antaranya, -dan jalan ini saya tempuh dengan sedikit mengalah kepada Ibnu Katsir dkk. bahwa hadis Bukhari & Muslim itu untuk sementara waktu saya terima keshahihannya!- adalah demikian:

Para ulama dan Ahli Tafsir dalam menyikapi kasus-kasus semacam ini menawarkan sebuah teori pengharmonisan dengan mengatakaan bahwa ayat tersebut turun dua kali. Langkah pengharmonisan antara dua riwayat atau lebih dalam satu kasus/tema dengan cara seperti itu adalah banyak disampaikan ulama dan mereka terima keabsahannya serta mereka lakukan.

Jalaluddin as Suyuthi membahas panjang lebar teori ini dalam kitab al Itqân Fi ‘Ulumil Qur’an-nya, ia mengatakan, “(Jenis kesebelas): Ayat-ayat yang turun berulang kali. Sekelompok ulama’ klasik dan kontemporer menegaskan bahwa di antara ayat-ayat Al qur’an ada yang turun berulang kali. Ibnu Hashshâr berkata, ‘Terkadang sebuah ayat turun berulang kali sebagai peringatan dan nasihat…. ‘

Kemudian ia menyebutkan beberapa contoh tentangnya.[11]

Az Zarkasyi menulis sebuah pasal, ia berkata, “Terkadang sebuah ayat diturunkan dua kali sebagai pengagungan atasnya dan sebagai pengingat ketika terjadi sebab serupa karena khawatir dilupakan… .” Setelahnya ia menyebutkan beberapa contoh kasus tersebut.[12]

Dan terkait khusus kasus kita ini, Sibth Ibn Jauzi menolak klaim dha’ifnya hadis turunnya ayat tersebut di Ghadir Khum, ia menyebutkan asumsi bahwa ayat itu turun dua kali.[13]

Jadi sepertinya, Ibnu Katsir belum perlu mengambil sikap ekstrim dengan menvonis palsu hadis Abu Hurairah!


[1] Al Bidayah wa an Nihayah,5/213-214.

[2] Mîzân al I’tidâl,4/125.

[3] Lisân al Mîzân,4/227.

[4] Redaksi pujian seperti:shalehul Hadits/shaleh hadisnya adalah redaksi pujian tingkat empat dalam urutan yang diterangkan an Nawawi dalam at Taqrîb-nya. (baca Tadrîb ar Râwi,1/445).

[5] Tahdzîb al Kamâl,13/319, dan juga perhatikan keterangan pada catatan pinggir kitab tersebut.

[6] Al Kâsyif, 2/38 dan Duwal al Islam, tentang peristiwa tahun 202 H.

[7] Al Kâsyif,1/356.

[8] Taqrîb at Tahdzîb,1/423.

[9] Tahdzîb at Tahdzîb,5/255-261.

[10] Tahdzîb al Kamâl,28/551 dan Tahdzîb at Tahdzîb,2/252.

[11] Al Itqân Fi ‘Uluml Qur’an,1/47-48. Al Halabi-Mesir.

[12] Al Burhân Fi ‘Uluml Qur’an,1/54. Dar al Fikr-Bairut.

[13] Lebih lanjut baca Tadzkirah al Khawâsh: 29-30.

6 Tanggapan

  1. Pak Kyai, saya cuma remind aja, kalo hadits di atas adalah riwayat Abu Hurairah lho… apa pak kyai masih percaya sama beliau bukankah sampeyan pernah menulis di artikel sampeyan yang berjudul “Al Bakriyah Di Balik Pemalsuan Hadis Nabi SAW
    dated 27 Agustus 2007 sebagai berikut :

    Mu’awiyah Membentuk Lembaga Pemalsuan Hadis (LPH)

    Tidak puas hanya dengan memerintah masyarakat Muslim melaknati Imam Ali dan Ahlulbait Nabi saw. dalam berbagai kesempatan, tidak terkecuali ketika salat Jum’at, Mu’awiyah membentuk sebuah lembaga pemalsuan hadis untuk memutarbalikkan agama dan untuk mencoreng nama harum Ali dan Ahlulbait Nabi as. Ibnu Abi Al Hadid juga melaporkan bahwa “Sesungguhnya Mu’awiyah telah membentuk sebuah lembaga yang beranggotakan beberapa sahabat dan tabi’in yang bertugas memproduksi hadis-hadis palsu yang menjelek-jelekkan Ali as, agar orang mengecam dan mencelanya. Ia (Mu’awiyah) mengupah mereka dengan upah yang sangat besar, dan mereka pun memproduksi hadis-hadis sesuai dengan kehendak Mu’awiyah. Di antara mereka adalah Abu Hurairah, Amr bin Al ‘Ash, dan Mughirah bin Syu’bah. Sedangkan dari kalangan tabi’in adalah Urwah bin Zubair.

    Nah bagaimana anda bisa membela dan mempercayai hadits tentang puasa ghadir kum di atas padahal yang meriwayatkan adalah Abu Hurairah yang menurut anda dan orang syiah, dia adalah anggota dewan pemalsu hadits-nya Muawiyah???… Gimana tuch Kyai…

    Wassalam

    Ibnu Jakfari:

    Salam mas….
    Pasti Anda memahami bahwa dalam etika berdialoq itu kita harus membawakan dalil yang dipercaya oleh lawan dialoq Anda! Bukankah demikian sobat?!
    Nah berangkat dari etika itu, saya bawakan hadis Abui Hurairah…. Kalau saya bawakan hadis dari jalur Syi’ah Anda pasti akan mengatakan: Itu kan hadis Syi’ah!!
    Di sini saudara-saudara kita Ahlusunah, khususnya yang awam sering terjebak dalam kesalahan berlogika…..
    Selain itu, mas! seorang pembohong itu tidak selamanya berbohong dalam semua tutur katanya…. kalau yang ia katakan sesuai dengan berita orang-orang jujur ya kita bisa pakai donk!!

  2. @tongos

    mas tongos rupanya sampean ini wahabi tulen, mbok dalam berdiskusi jangan seperti kebiasaan ulama dan awam wahabi dong.

    anehnya wahabi ini dalam berdiskusi atau berdebat selalu pake dalilnya sendiri.. itu namanya lucu. bukankah kita seharusnya memakai dalil/hujjah lawan untuk mematahkan argumen lawan?

    kalo syiah ndak perlu ditanya mas, mereka tidak memerlukan abuhurairah atau selainnya, mereka cukup dalil-dalil dari kalangan Aimmah dan ulama-ulama mereka sendiri untuk mempertahankan keyakinannya. namun ketika menghadapi lawan maka sudah tepat dan seharusnya mereka mempertahankan keyakinannya dengan dalail/hujjah lawannya dan ITULAH KEHEBATAN SYIAH BAHWA AJARANNYA BISA TEGAK DENGAN HUJJAH/DALIL-DALIL LAWANNYA.

    mas tongos tugas anda adalah mematahkan argumentasi mas jakfari/syiah sengan hujjah-hujjah syi’ah itu baru hebat namanya. tapi kalo anda melawan syiah dengan hujjah/dalil-dalil wahabi itu namanya DAGELAN BUKAN DIALAOG MAS !!

  3. GOS.. TONGGOS…
    Malu-maluin deh, anda terlihat jelas sudah kehabisan HUJJAH. Sana berguru lagi dengan Syeikh anda, yang celananya cingkrang dan jenggotnya acak-acakan.
    Anda kuras ilmu Syeikh anda itu sampe celana cingkrangnya berubah menjadi celana pendek dan jenggotnya pun sampe rontok. Baru anda balik lagi ke-BLOG ini.🙂

  4. Selain itu, mas! seorang pembohong itu tidak selamanya berbohong dalam semua tutur katanya…. kalau yang ia katakan sesuai dengan berita orang-orang jujur ya kita bisa pakai donk!!

    Ah Itu namanya subyektif Kyai… dan maaf ga konsisten… Kalo ternyata hadits di atas termasuk yg bohong trs gimana?

    Terus siapakah yang dimaksud “orang-orang jujur” tsb kyai? apakah rawi2 dalam kitab hadits syi’ah? bukankah orang syi’ah sendiri pada ga PeDe dengan kitab2 pegangannya sendiri?🙄

    Wassalam

    @mustofa, enter dan yg satu species

    kalo syiah ndak perlu ditanya mas, mereka tidak memerlukan abuhurairah atau selainnya, mereka cukup dalil-dalil dari kalangan Aimmah dan ulama-ulama mereka sendiri untuk mempertahankan keyakinannya. namun ketika menghadapi lawan maka sudah tepat dan seharusnya mereka mempertahankan keyakinannya dengan dalail/hujjah lawannya dan ITULAH KEHEBATAN SYIAH BAHWA AJARANNYA BISA TEGAK DENGAN HUJJAH/DALIL-DALIL LAWANNYA.

    Ah kata siapa mas?… orang-orang Syi’ah sendiri aja ga pede kok sama kitab2 pegangannya… buktinya jarang beredar dan susah nyarinya iya tho?:mrgreen: sampeyan sendiri pernah pegang kitab Al-Kafi apa blom? coba sampeyan cari komentar ulama syiah zaman sekarang tentang kedudukan kutubul arba’ah (Al-Kafi cs), pasti kebanyakan mereka pada ga pede dan malah bangga bahwa kitabnya itu sebagian besar isinya ga shahih… kalo mereka sendiri aja bilang begitu… apa yg diarepin dr kitab2 syi’ah?🙂

    Yang benar mereka itu mendompleng kitab2 pegangan lawan dan mencari-cari dalil pembenaran di kitab2 lawan…:mrgreen: karena mereka sudah sangat minder sekali dengan kitab2 mereka sendiri jika dibandingkan dg kitab2 pegangan lawan…:mrgreen: menurut saya mending sekalian aza mereka pegang kitab2 lawan seluruhnya ga usah setengah2 dan kitab2 nya sendiri ga usah dipake lg… soalnya mereka jadi lebih faqih dg kitab2 lawan drpada kitab2nya sendiri😆

    Wassalam

  5. @Tonggos…

    wah saudara ini kurang gaul ya mas…. kitab2 syi’ah tuh banyak bertebaran tinggal download dari yang ratusan halama sampai yang ratusan jilid……

    gaul mas…. kuper ko dipelihara….

  6. […] Wahhabi Menggugat Syiah (17) Kenaifan Ibnu Taimiyah […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: