Wahhabi Menggugat Syi’ah (19)

Menyoal Sikap Ibnu Katsir (II)

Pahala Puasa Hari Raya Ghadir

Adapun penolakannya terhadap janji Allah atas orang yang berpuasa di hari Ghadir Khum adalah sama sekali tidak berdasar dan terasa sangat aneh serta terkesan “pelit” dan membatasi keluasan rahmat dan pahala Allah atas amalan-amalan yang Ia syari’atkan. Terlebih lagi ternyata telah datang banyak hadis yang menjanjikan pahala-pahala serupa untuk puasa-puasa sunnah lainnya dan kebenaran hadis-hadis tersebut diterima para ulama, seperti:

o       Pahala Puasa Hari Pengangkatan Karasulan.

Al Halabi menukil dari al Hafidz ad Dimyâthi[1] dalam Sirah-nya hadis Abu Hurairah, “Barang siapa berpuasa pada hari ke 27 bulan Rajab maka Allah menulis baginya puasa enam puluh bulan. Ia adalah hari Jibril turun atas Nabi saw. dengan karasulan dan hari pertama Jibril turun.”[2]

Syeikh Abdul Qadir al Jîlâni menyebutkan dalam kitab Ghunyah ath Thâlibîn-nya sebuah hadis dari Abu Hurairah dan Salman bahwa Nabi saw. bersabda, “Di bulan Rajab ada sebuah hari dan malam, barang siapa berpuasa di siang dan berdiri (ibadah/shalat) di malamnya maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa dan beribadah selama seratus tahun. Hari itu adalah hari kedua puluh tujuh.”[3]

o       Pahala Puasa Beberapa Hari di bulan Rajab.

Syeikh Abdul Qâdir al Jîlâni juga meriwayatkan beberapa hadis, di ataranya dengan sanad bersambung kepada Ali ibn Abi Thalib ra. ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan yang agung, barang siapa berpuasa satu hari darinya maka Allah menulis baginya puasa seribu tahun, barang siapa berpuasa dua darinya maka Allah menulis baginya puasa dua ribu tahun, dan barang siapa beerpuasa tiga harinya maka Allah menulis baginya puasa  tiga ribu tahun.’[4]

Dari Ibnu Mas’ud ia berkata, “Barang siapa berpuasa tiga hari dalam bulan Rajab dan beribadah di malam harinya, maka baginya pahala orang yang berpuasa dan beribadah tiga ribu tahun, Allah mengampuni untuk setiap harinya tujuh puluh dosa besar, memenuhi tujuh puluh hajatnya di saat naza’ (pencabutan nyawa), tujuh puluh hajat di alam kuburnya, tujuh puluh hajat ketika buku catatan amal dibagikan, dan tujuh puluh hajat di mizan (penimbangan amal) serta tujuh puluh hajat di shirâth (jembatan penyembarangan menuju surga).”[5]

Serta banyak hadis-hadis lain.

 

o       Puasa Hari ‘Arafah.

Dalam kitab Rawudhah al ‘Ulamâ[6] tentang keutamaan puasa hari Arafah disebutkan sebuah riwayat dengan sanad bersambung kepada Abu Qatâdah dari Nabi saw., “Barang siapa berpuasa hari Arafah maka baginya pahala puasa dua tauhn.”

 

o       Puasa Tiga Hari Setiap Bulan.

Syeikh al Jîlâni meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad bersambung kepada Ali ibn Abi Thalib ra. ia berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, ‘… Hai Ali ini dia Malaikat Jibril, ia mengucapkan salam atasmu.’

Ali berkata, ‘Atasmu dan atasnya salam.

Kemudian Rasulullah saw. bersabda, ‘Mendekatlah kepadaku!’

Ali pun mendekat, setelahnya Nabi saw. bersabda, “Berpuasalah pada setiap bulan tiga hari, Allah akan menulis bagimu untuk hari pertama pahala sepuluh ribu tahun, untuk hari kedua tiga puluh ribu tahun dan untuk hari ketiga seratus ribu hatun.”

Ali berkata, “Wahai Rasulullah saw., pahala itu apakah khusus bagiku seorang atau untuk semua orang (yang mengerjakannya)?

Nabi saw. berssbda, “Hai Ali Allah akan memberimu pahala tersebut dan juga siapa yang mengerjakan amalan itu setelahmu.”[7] 

o       Puasa Hari Asyurâ’

Terkait dengan pahala berpuasa pada hari Asyûra (hari kesepuluh bulan Muharram) dan pada setiap hari dalam bulan tersebut, Syeikh Abdul Qadir al Jîlâni menuliskan sebuah pasal tentang keutamaannya. Di antaranya ia meriwayatkan hadis dari Ibnu Abbas ra. ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Barang siapa berpuasa pada hari Asyûra maka Allah akan memberinya pahala sepuluh ribu orang yang haji dan umrah serta pahala seribu orang yang mati syahid.’”

Dalam redaksi lain, diriwayatkan, “Barang siapa hari Asyûra maka Allah menulis baginya pahala ibadah enam puluh ribu tahun dengan melaksakan puasa dan shalat.”[8]

 

o       Puasa Enam hari Setelah lebaran Syawwal

Imam Muslim dalam Shahih-nya meriwayatkan dari beberapa jalur, demikian juga dengan Abu Daud dalam Sunan-nya bahwa Nabi saw. bersabda, “Barang siapa berpuasa bulan Ramadhan kemudian ia ikuti dengan enam hari dari bulan Syawwal maka seakan ia berpuasa sepanjang masa.”[9]

Dengan memerhatikan hadis-hadis di atas, apakah Ibnu Katsir akan berani menolaknya dengan alasan seperti yang ia kemukakan ketika menolak hadis Abu Hurairah tentang keutamaan berpuasa di hari Ghadir?!

Selain itu, tidak ada dasar pasti dalam menentukan bertambahnya nilai pahala atas perbuatan kebajikan wajib atas yang sunnah. Bahkan hadis-hadis yang telah saya sebutkan di atas membimbing kita untuk menyimpulkan sebaliknya. Ditambah lagi hadis-hadis tentang pahala amalan-amalan sunnah selain puasa.

Lagi pula perlu diketahui bahwa pahala diberikan berdasarkan hakikat amalan bukan sifat aridhi/yang menempel belakangan, seperti status wajib atau sunnah, karenanya tidaklah mustahil apabila ada amalan sunnah yang pahalanya melebihi amalan wajib, hal itu disebabkan alasan-alasan tertentu yang menyebabkannya.

Di samping itu, diberikannya pahala atas sebuah amal kebajikan itu ditentukan berdasarkan kadar keimanan yang terungkap darinya serta kedalaman keyakinannya dalam jiwa sang hamba. Atas dasar itu, melaksanakan amalan di luar yang diwajibkan (yaitu amalan sunnah) dan atau meninggalkan yang dimakruhkan (kendati tidak diharamkan) pasti lebih menunjukkan keteguhan hamba dalam maqam ‘ubûdiah, penghambaan dan kepatuhan serta ketundukannya terhadap Sang Khaliq.

Dan seperti telah ditetapkan oleh para ulama Ahlusunnah bahwa pemberian pahala oleh Allah adalah murni sebagai tafadhdhlun, anugrah dan kemurahan serta ihsân, kebaikan Allah SWT, bukan karena amal kebajikan hamba. Lebih lanjut baca keterangan ar Râzi dalam tafsir ayat 51-57 surah ad Dukhân dan juga tafsir Ibnu Katsir.[10]

Allah berfirman:

إِنَّ الْمُتَّقينَ في‏ مَقامٍ أَمينٍ* في‏ جَنَّاتٍ وَ عُيُونٍ * يَلْبَسُونَ مِنْ سُندُسٍ وَ إِسْتَبْرَقٍ مُتَقابِلينَ*  كَذلِكَ وَ زَوَّجْناهُمْ بِحُورٍ عينٍ * يَدْعُونَ فيها بِكُلِّ فاكِهَةٍ آمِنينَ لا يَذُوقُونَ فيهَا الْمَوْتَ إِلاَّ الْمَوْتَةَ الْأُولى‏ وَ وَقاهُمْ عَذابَ الْجَحيمِ * فَضْلاً مِنْ رَبِّكَ ذلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظيمُ .

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman. Yaitu (di dalam taman-taman dan mata-air- mata-air; mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap- hadapan, demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari.Di dalamnya mereka meminta segala macam buah- buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran), mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka, sebagai karunia dari Tuhanmu. Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar.“

Setelah menerangkan berbagai kenikmatan surga seperti yang disebutkan dalam ayat di atas, Ibnu Katsir menjelaskan ayat 57 sebagai berikut, “Sesungguhnya semua kenikmatan itu diberikan murni sebagai anugreh (Allah) dan kebaikan untuk mereka, seperti telah tetap dalam hadis shahih dari Rasulullah saw., ‘Berbuatlah, bersikap luruslah, saling mendekatlah dan beramallah, sesungguhnya tidaklah amal kebajikan yang memaksukkan seorang hamba ke dalam surga.’ Lalu ada yang bertanya, ‘Termasuk Anda juga wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Ya, kecuali jika Allah meliputiku dengan rahmat dan anugrah-Nya.’[11]



[1] Al Dimyâthi adalah seorang Hafidz agung, Imam, Hujjah, Pakar Fikih, Ahli Nasab, Guru besar para ahli hadis, penulis banyak karya ilmiah berharga. Ia lahir di kota Dimyâth tahun 613 H dan wafat tahun 705 H. Ia berguru kepada lebih dari 1300 (seribu tiga tarus) guru/syeikh. Demikian disebutkan adz Dzahabi.

[2] Insânul ‘Uyûn (as Sirah al Halabiyah), 1/384. Dan yang aneh dari al Halabi ialah menyebutkan hadis di atas sementara itu ia berusaha menolak hadis Abu Hurairah tentang pahala puasa hari Ghadir dengan menyebut keberatan Ibnu Katsir, kendati di akhir keterangannya ia meminta kita merenungkan kembali keterangan Ibnu Katsir.

[3] Ghunyah ath Thâlibîn:502-503 darinya dinukil dalam Nuzhatul Majâlis,1/154.

[4] Ibid.483.

[5] Nuzhah al Majâlis,1/152.

[6] Rawdhah al ‘Ulamâ’ wa Nuzhah al Fudhalâ’; Ali ibn Yahya az Zanduwisti (w.382 H)

[7] Ghunyah ath Thâlibîn:738.

[8] Ibid.675 dan 675.

[9] Shahih Muslim,1/323 hadis 204 pada  Kitabush Shiyâm dan Sunan Abu Daud,1/381 hadis2433.

[10] Tafsir al Kabir,7/457 dan tafsir Ibnu Katsir,4/147.

[11] Tafsir al Kabir,7/457 dan tafsir Ibnu Katsir,4/147.

9 Tanggapan

  1. Ini para Aristokrat Salafy Sekuler (wahabi) pada kemana?

  2. Wahabi menggugat Syi’ah? Ngga heran tuch.
    Tapi ya begitu dech, beraninya cuma menggugat, mencaci dan memaki. Maklumlah sebagian besar ulama dari mereka itu (Wahabi) cuma BANCI KALENG, yang hobi bersembunyi dibawah KETIAK kaum KAFIR (USA & ZIONIS).
    Dan apanya yang mau digugat dari Syi’ah? wong pemimpin mereka saja tidak bisa melihat alias BUTA.
    Logika sajalah, masa orang tidak bisa melihat dijadikan petunjuk seeh. Dimana-mana orang yang tidak bisa melihat (Buta), PASTI belajar dengan orang yang bisa melihat. Anehnya ini malah terbalik..
    Bukannya yang buta yang dituntun oleh yang melihat, tetapi malah yang melihat dituntun oleh yang buta. Benar-benar tak bisa terbayangkan. :() Ngakaak Jungkir Balik……….

  3. WAHABI adalah BUKTI peninggalan KHAWARIJ yang paling AKTUAL…

    Teruskan tulisan-tulisannya Pak kyai (Ibnu Jakfari), saya dukung sepenuhnya dakwah antum ini.
    Saya tidak perduli antum bermazhab apa, yang penting bukan Salafy Palsu alias Wahabi.
    Sebab ada Istilah “Jika ditengah gurun kita bertemu Ular berbisa dan Wahabi, Maka yang pertama harus kita PENTUNG kepalanya WAHABI dulu. Setelah itu baru ULAR nya yang kita usir.

  4. Pada NYUNGSEP cari hujjah untuk menjawab, tetapi sampe jenggot mereka kriting tak terawat, masih ngga ketemu-ketemu juga.

  5. @shoot, daurulank, enter

    Tapi ya begitu dech, beraninya cuma menggugat, mencaci dan memaki. Maklumlah sebagian besar ulama dari mereka itu (Wahabi) cuma BANCI KALENG, yang hobi bersembunyi dibawah KETIAK kaum KAFIR (USA & ZIONIS).
    Dan apanya yang mau digugat dari Syi’ah? wong pemimpin mereka saja tidak bisa melihat alias BUTA.

    Emang komentar2 sampeyan sendiri gimana mas..?:mrgreen: menunjukkan tutur kata halus dan sopan santun?😆

    Wassalam

  6. Syiah emang yahud…

  7. saya pernah baca beberapa buku anti syi’ah yang diberikan oleh salah seorang ustad wahabi, antara lain :
    1. Seminar sehari ttg syi’ah yang diselenggarakan diaula istiqlal. di situ diceritakan dari pembunuhan ulama-ualam suni oleh syi’ah di iran berdasarkan informasi dari orang iran yang hijrah ke London.
    2. Khomeini, revolusi islam atau provokasi terhadap islam. terbitan salah satu lembaga pengkajian islam di yogyakarta. di situ diceritakan keburukan khomein berdasarkan info dari mantan sahabat imam khomeini yang hijrah ke Amerika
    3. salah satu majalah anti syi’ah memuat artikel yang menceritakan dukungan iran terhadap zionist dengan menarik pasukannya dari perbatasan berdasarkan kutipan berita dari salah satu mediamasa di Jerman.

    ketahuan deh mereka mengutip berita-berita tersebut dari negara-negara pendukung Zionist.

    Akhirnya saya memutuskan untuk bertanya langsung ke orang2 syi’ah. makin ketahuan pula bahwa semua tuduhan-tuduhan dalam buku2 tersebut ternyata fitnah belaka.

  8. […] Wahhabi Menggugat Syiah (19) -Menyoal Sikap ibnu Katsir II- […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: