Hanya Imam Ali ibn Abi Thalib as. Yang Bergelar Ash Shiddîq!

HANYA IMAM ALI as. YANG BERGELAR ASH-SHIDDIQ

Tanggapan atas -haulasyiah-: “Kedudukan Hadist: Ali adalah Ash Shiddiq terbaik”

Di antara hadis-hadis shahih keutamaan Ali ibn Abi Thalib as. yang membuat kaum Nawâshib geram dan sakit hati kemudian menjulurkan lisan beracunnya untuk mencari-cari sasaran bidik agar dijadikan pelampiasan pencacatan adalah hadis di bawah ini.

Sekelompok ulama, di antaranya Ibnu an Najjâr, Abu Nu’aim, Al Bukhari, Ibnu ‘Asâkir, Ad Dailami dkk. telah meriwayatkan dari beberapa jalur dari sahabat Ibnu Abbas ra. dan Abu Lailâ ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda:

الصديقون ثلاثة : حبيب النجار مؤمن آل يس الذي قال : (يا قوم اتبعوا المرسلين)، و حزقيل مؤمن آل فرعون الذي قال : (أتقتلون رجلا أن يقول ربي الله)، و علي بن أبي طالب و هو أفضلهم

“Para ash Shiddîqûn (orang yang bergelar ash Shiddiq) ada tiga; Habib An Najjâr, yaitu seorang Mukmin dari keluarga Yasin, yang pernah berkata, ‘Wahai kaumku, ikutilah para rasul!’ dan Hizqil, seorang Mukmin dari keluarga Fir’aun, yang pernah berkata, ‘Apakah kalian akan membunuh seorang yang mengatakan Rabbku adalah Allah?!’ dan Ali bin Abi Thalib dan ialah yang termulia.”

Para Perawi Hadis Ini:

Hadis ini telah diriwayatkan oleh banyak ulama Ahlusunnah dalam kitab-kitab berharga mereka, di antaranya adalah:

  1. Imam Ahmad ibn Hanbal dalam kitab al Manâqib-nya: 264 hadis no.196 dan 323 hadis no.241.
  2. Al Hafidz al Kinji dalam Kifâyah ath Thâlib pada bab 24 hal.123 dengan sanad yang sama dengan sanad Imam Ahmad. Kemudian ia berkata, “Ini adalah sanad yang diandalkan dijadikan hujjah oleh ad Dâruquthni.”
  3. Husâmuddîn al Hindi dalam Muntakhab Kanz al Ummâl,6/31.
  4. Ibnu al Maghâzili  dalam Manâqibnya:246-147 hadis no.293 dan 294.
  5. As Suyuthi dalam al Jâmi’ ash Shaghîr,2/451, dan ia katakan bahwa hadis ini diriwayatkan Abu Nu’aim dalam kitab al Ma’rifah, Ibnu ‘Asâkir dari Ibnu Abi Lailâ, serta ia beri tanda:Hasan. Artinya hadis itu ia nilai sebagai hadis hasan (sebuah kualitas di atas hadis dha’if, apalagi palsu/maudhû’!.
  6. Al Munnawi dalam Faidhul Qadîr (Syarah al Jâmi’ ash Shaghîr), 4/238 dan ia tambahkan: “Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dan ad Dailami”. Dan ia tidak keberatan dengan keterangan As Suyuthi di atas  bahwa hadis ini hasan.
  7. Syeikh Ali ibn Ahmad ibn Muhammad Al Azizi asy Sayfi’i dalam as Sirâj al Munîr (Syarah al Jâmi’ ash Shaghîr), 2/403. Bahkan beliau menguatkan hadis tersebut dengan mengatakan, “Dan Ali. Dia adalah Shiddîq A’dzam (teragung)nya umat ini. Karenanya beliau (Ali) berkata: “Aku adalah ash Shiddîq al Akbar, tiada seorang pun yang mengatakannya selainku.”
  8. As Suyuthi dalam Ad Durr al Mantsûr, pada tafsir ayat 28-29 surah Yâsîn,5/492 dari riwayat Imam Bukhari dalam kitab Târîkhnya dari Ibnu Abbas dan dari riwayat Abu Daud, Abu Nu’aim, Ibnu ‘Asâkir dan ad Dailami dari Abu Lailâ.
  9. Muhibbuddîn ath Thabari dalam Dzakhâir al ‘Uqba:59.
  10. Al Qandûzi al Hanafi dalam Yanâbi’ al Mawaddah:126 dan 202 dari jalur al Khawârizmi dan Ibnu al Maghâzili.
  11. Ibnu Hajar al Haitami dalam ash Shawâiqnya:125 pada bab 9 pasal 2 tentang hadis-hadis keutamaan Imam Ali as. hadis no. 30.

Inilah sepuluh nama ulama yang telah meriwayatkan dan menyebutkan hadis di atas dalam kitab-kitab mereka. Selain mereka masih banyak nama lainnya sengaja tidak saya sebutkan di sini.

Tanbîh:

Ketika haulasyiah menyebut habwa hadis ini telah disebutkan as Suyuthi dan al Munnâwi ia berusa mengelabui pembaca awam dengan mengatakan:

Disebutkan Asy Suyuthi dalam Al Jami’ush Shaghir dari riwayat Abu Nu’aim dalam Al Ma’rifah dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abi Laila, Al Munawi selaku pensyarah kitab tersebut hanya berkata, “Diriwayatkan Ibnu Mardawaih dan Ad Dailami.”

Ia tidak menjelaskan bahwa Jalaluddîn as Suyuthi dan al Munnawi sama sekali tidak menvonis palsu hadis tersebut! Andai hadis ini palsu sudah seharusnya al Munnawi –selaku pensyarah- menjelaskannya, sebab meriwayatkan hadis palsu/maudhû’ dengan tanpa menjelaskan kemaudhû’annya adalah sebuah dosa dan penipuan terhadapa agama dan haram hukumnya! Disamping pasti akan dituduh haulasyiah sebagai ANAK KETURUNAN ABDULLAH BIN SABA’!

Sanad Hadis Ini

Dalam riwayat Imam Ahmad,. Hadis itu dengan sanad sebagai berikut:

Muhammad menyampaikan hadis kepada kami, ia berkata, Hasan ibn Abdurahman al Anshâri menyampaikan hadis kepada kami, ia berkata, ‘Amr ibn Jumaî’menyampaikan hadis kepada kami dari Ibnu Abi Lailâ dari saudaranya; Isa ibn Abdurahman ibn Abi Lailâ dari ayahnya, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:…..

Dengan sanad yang sama seperti di atas, Ibnu al Maghâzili meriwayatkannya. Demikian juga dengan al Kinji.

Selain melalui sanad di atas hadis tersebut juga diriwayatkan para ulama melalui sanad-sanad lain..

Sekilas Tentang Kualitas Para Parawi

Ibnu Hajar Menshahihkan Hadis tersebut !

Sebelum kita meneliti para perawi yang dicacat oleh Syeikh al Albâni –seperti dinukil haulasyiah– perlu saya sampaikan di sini bahwa hadis ini telah dishahihkan oleh Ibnu Hajar al Haitami (yang telah dibanggakan pengelolah blog haulasyiah kehebatan dan kedalaman ilmunya serta kepakarannya dalam ilmu hadis pada artikel yang ia tulis tentang hadis “Ahlulbait bagaikan Pintu pengampunan” yang telah kami bantah sebelumnya). Ibnu Hajar menyebutkan hadis itu dalam ash Shawâiq-nya:125 pada bab 9 pasal 2 tentang hadis-hadis keutamaan Imam Ali as. hadis no. 30. Dan pada awal pasal itu ia menuliskan demikian: “… Dan aku ringkas dengan hanya menyebut empat puluh hadis (keutamaan Ali) karena ia (40 hadis ini) adalah mutiara terindah keutamaannya.”

Jadi andai hadis ini lemah apalagi palsu/maudhû’ pastilah ia tidak mensifatinya dengan mutiara terindah keutamaan Ali as.!

Jadi semestinya sudah seharusnya haulasyiah menerima penegasan “Pakar Ilmu Hadis” andalannya bahwa hadis itu adalah termasuk di antara mutiara terindah keutamaan Ali as.!

Siapkah dia menerima dan tunduk kepada al haq yang pahit ini?

Saya yakin pengelolah haulasyiah tidak kehabisan akal dan kehilangan cara… ia pasti pandai melompat dari satu rak kitab ke rak kitab lainnya… kalau kali ini Ibnu Hajar menshahihkan hadis tersebut, maka ia harus bergegas lompat mencari “Pakar Hadis” lain yang menvonis palsu hadis itu… karena memang pemusnahan hadis-hadis keutmaan Ahlulbait as. lah yang menjadi tujuan inti dari semua “penelitian” yang ia lakukan!

Karena “Pengelolah haulasyiah” menjadikan Syeikh al Albâni sebagai “gaet”-nya dalam pengembaraan ilmu-ilmu agama… maka ia menuntunnya melewati tumpukan sampah kedengkian kepada Ahlulbait, sebab siapa yang menjadikan burung pemakan bangkai sebagai penunjuk jalannya janganlah heran apabila ia diajak lewat di atas tumpukan bangkai!

Al Albâni menuntunnya kepada Ibnu Taimiyah dan adz Dzahabi yang kesinisan sikap keduanya terhadap hadis-hadis keutamaan Ali dan Ahlulbait telah menjadi buah bibir para ulama… berapa banyak hadis shahih yang ia tolak dengan tanpa dasar, hanya karena ia memuat keutamaan Ali as.

Luapan-luapan kedengkian kaum Munafikin yang berluncuran dari mulut-mulut najis mereka adalah ciri yang dengannya kita dapat mengenali orang-orang munafik dari kaum Mukminin.

Allah SWT berfirman: dalam surah Muhammad ayat 30:

وَ لَوْ نَشاءُ لَأَرَيْناكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسيماهُمْ وَ لَتَعْرِفَنَّهُمْ في‏ لَحْنِ الْقَوْلِ وَ اللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمالَكُمْ .

“Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka (orang-orang munafikin) kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.”

Tentang ayat  ini Abu Sa’id al Khudir –seorang sahabat Nabi saw.- berkata menerangkan: “Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka” dengan kedengkian mereka kepada Ali ibn Abi Thalib.

Jadi kedengkian kaum munafik tak mampu tertahan dalam dinding dada-dada mereka… ia akan berlompatan dari mulut-mulut mereka dalam bentuk kata-kata sinis dan merendahkan Ali as. dan sikap ketidak terimaan terhadap berbagai keutamaan dan keistimewaan yang Allah anugerahkan kepadanya.

Jadi hati-hatilah dari kata-kata berbisa mereka… janganlah Anda tertipu dengan manisnya kata-kata karena di dalamnya telah dicampuri racum mematikan… sebab kaum munafik adalah musuh nomer wahid kaum Mukminin.

Allah berfirman:

وَ إِذا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسامُهُمْ وَ إِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ .

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran). (QS. Al Munafiqûn ayat 4)

Setelah ini mari kita kembali kepada perawi yang menjadi bulan-bulan hujatan kaum Nawâshib, seperti Ibnu Taimiyah, al Albani dkk.

Pada bantahan kedua Ibnu Taimyah atas Allamah al Hilli (rahmatullah ‘Alaihi/Semoga rahmat Allah atasnya) ia menolak hadis tersebut dengan mengatakan: “Sesungguhnya hadis ini adalah palsu atas nama Rasulullah saw.” [1]

Sebagai langkah awal menvonis palsu hadis di atas, ia “ngotot” mencatat ‘Amr ibn Juma’i (yang benar adalah Juma’i bukan Jami’ seperti dieja oleh haulasyiah) dengan menyebutkan komentar sebagian ulama yang mencacatnya dengan pencatatan yang muhbam… . dan adalah sudah menjadi maklum bahwa sering kali seorang perawi menjadi bulan-bulanan para pencacat hanya kerena mereka sering meriwayatkan hadis-hadis keutamaan Ali dan Ahlubait as. mereka akan menuduhunya sebagai Khabîts (jahat), Kadzdzâb (pembohong), Yarwi al Maudhû’ât (meriwayatkan hadis-hadis palsu) wal manâkîr (hadis-hadis munkar), matrûk (ditinggalkan) dll. Sementara itu setelah diteliti maka hadis-hadis yang divonis munkar atau maudhû’ itu mereka vonis demikian karena ia memuat keutamaan Ali dan Ahlulbait! Tidak lain! Mereka mencacat seorang perawi kerena meriwayatkan hadis tertentu keutamaan Ali dan Ahlulbait as. kemudian setelahnya mereka menvonis palsu atau lemah hadis tertentu itu karena ia diriwayatkan oleh si perawi itu! Aneh bukan?!

Dan andai boleh menggugurkan/mencacat hadis dengan cara seperti itu yang hanya mengandalkan pencacatan mubham, tendensius dan hanya dari sebagian ulama hadis saja dengan mengabaikan komentar ulama lainnya, maka rusaklah tatanan ilmu hadis dan dunia perhadisan umat Islam!

Cukup Bagi Syi’ah Penshahihan Sebagian Ulama Ahlusunnah!

Ada satu hal yang perlu dimengerti oleh teman-teman Wahhabi, bahwa ketika Syi’ah Ahlulbait berhujjah dengan sebuah hadis dari riwayat ulama Ahlusunnah cukuplah bagi mereka penshahihan yang dilakukan oleh sebagian saja dari mereka. Sebab menanti seluruh ulama menshahihkannya adalah hal mustahil dan tidak pernah dilakukan oleh ulama Ahlusunnah sendiri ketika mereka berhujjah di antara mereka sendiri!

Selain itu, ada satu hal penting lain, bahwa ketika Syi’ah berhujjah dengan hadis riwayat Ahlusunnah tidak semestinya dibantah dengan mempertentangkannya dengan hadis lain dari riwayat Ahhlusunnah sendiri! Sebab pada dasarnya riwayat Ahlusunnah tidak akan dapat mengikat Syi’ah, tidak sebaliknya… riwayat-riwayat Ahlusunnah akan mengikat ulama Ahlusunnah sendiri!

Di sini, Ibnu Tamiyah dan koleganya dalam menolak hadis di atas mempertentangkannya dengan hadis riwayat Ahlusunnah bahwa ada orang lain tang ternyata digelari Nabi saw. dengan ash Shiddîq… jadi tidak benar kalau hanya Ali yang bergelar ash Shiddîq!

Sebagaimana tidak jarang pengingkaran atas sebuah hadis dari sisi maknanya karena ia bertentangan dengan doktrin mazhabnya… Lalu ia menuding riwayat itu matannya munkar! Dan kemudian si perawinya dibunuh karakternya dengan tuduhan sebagai munkarul hadîts! Dan kemudian dibuang ke dalam “tong sampah sejarah”!!

Semua itu sangat jelas bagi Anda jika mau meneliti sepak terjang sebagian ulama hadis Ahlusunnah, khususnya yang berbau Nashîbi seperti Ibnu Taimiyah, adz Dzahabi, Al Jauzajani, Ibnu Hazm dkk.

Beberapa Contoh Kasus!

Untuk menyingkat pembicaraan kita dalam masalah ini, saya akan coba bawakan contoh kasus yang akan membuktikan hal itu.

Ketika Ibnu Luhai’ah memberanikan diri meriwayatkan hadis yang memuat ucapan Imam Ali as.:

علَّمني ألفَ باب يُفْتَحُ من كل باب ألفُ باب

“Nabi saw. mengajariku seribu pintu ilmu dan dari setiap pintunya terbuka seribu pintu ilmu lainnya.” (HR. Ibnu Adi; Al Kamil,3/389).

Ibnu al Jauzi menyebutkan riwayat di atas dalam kitab al I‘lal al Mutanâhiyah kemudian menvonisnya dengan mengatakan, “Ini adalah hadis munkar. Mungkin penyebabnya adalah Ibnu Luhai’ah. Ia sangat kental kesyi’ahannya. Para ulama hadis telah memperbincangkannya dan mereka mengecapnya dha’if.”

Sementara jika Anda bertanya, mengapa Ibnu Luhai’ah dilemahkan dan hadisnya divonis munkar? Maka Anda tidak menemukan jawabannya kecuali karena ia sering meriwayatkan hadis-hadis keutamaan Ali dan Ahlulbait Nabi as. yang karenanya seorang perawi dicap Syi’ah ekstrim!!

Adz Dzahabi membuka kedok semua ketika ia mengatakan:

بهذا و شبهِهِ  استحق ابن لهيعة الترك.

“Dengan hadis ini dan semisalnya, Ibnu Luhai’ah berhak dicampakkan.” [2]

Mengapa adz Dzahabi menvonisnya demikian? Padahal di tempat lain… di bukunya yang lain ia mensifati Ibnu Luhai’ah dengan: Imam Allamah (sangat pandai), Muhaddis negeri Mesir… beliau tergolong lautan ilmu… ketika beliau wafat, Laits berkata, ‘Tidak ada lagi oorang yang hebat sepertinya… tidak diragukan bahwa Ibnu Luhai’ah dan Laits adalah tokoh alimnya negeri Mesir, seperti halnya Imam Malik tokoh alimnya kota Madinah, Awza’i tokoh alimnya negeri Syam, Ma’mar tokoh alimnya negeri Yaman, Syu’bah dan Tsawri tokoh alimnya negeri Iraq dan Ibrahim ibn Thahman tokoh alimnya negeri Khurasan… “ para ulama di antaranya adalah adz Dzahabi juga memujinya dengan menukil berbagai pujian atas Ibnu Luhai’ah. Adz Dzahhabi menukil Ahmad sebagai berkata, “Siapakah yang seperti Ibnu Luhai’ah di negeri Mesir dalam banyaknya hadis, itqânihi, kekohokan dan dhabthihi, ketepatan periwayatannya?!.” Serta banyak pujian lain dari para tokoh ahli hadis. Ibnu Adi juga memuji ketepatan dan kebagusan hadisnya, tentunya ketika ia (Ibnu Adi) tidak sedang berhadapan dengfan hadis Ibnu Luhai’ah tentang keutamaan Ali as.!

Dari sini dapat Anda saksikan persekongkolan jahat kaum Nawâshib dalam membegal setiap hadis keutamaan Ali dan Ahlulbait dan membunuh kerakter setiap perawinya!

Sebagian dari kaum Nawâshib telah bersikap sebagai “Preman-preman agama” yang kerjanya hanya mengintimidasi setiap perawi yang berani menyebar-luaskan hadis keutamaan Ahlulbait Nabi as. maka hati-hatilah kalian dari makar jahat mereka dan beristi’âdzahlah/mohonlah perlindungan kepada Allah dari kejahatan Waswâsil Khannâs baik dari kalangan jin maupun manusia yang selalu meniupkan bisikan setan!

Dan setelah itu semua, masihkan Anda mengandalkan vonis-vonis miring tidak bertanggung jawab dari mereka?!

Ketsiqahan Seorang Perawi Tidak Dianggap Jika Ia Meriwayatkan Hadis Tentang Keutamaan Imam Ali as.

Kejahatan intelektual dan agama yang dilakukan para pendengki Ali dan Ahlulbait as. dalam sikap brutal mereka dengan menolak hadis-hadis shahih yang telah diriwayatkan para perawi jujur dan terpercaya tsiqah seperti yang telah kami singgung di atas dapat Anda temukan dengan mudah dalam tulisan-tulisan sebagian mereka! Menolak hadis keutamaan Ali dan Ahlulbait as. telah menjadi agenda utama mereka… mencari-cari sasaran tembak pada setiap jalur riwayat untuk mereka cacat adalah modus yang selalu mereka jalankan…. mereka harus menuding satu atau lebih perawi untuk mereka cacat agar tugas dan cita-cita mereka tercapai!

Namun jika semua upaya ke arah itu tidak menghasilkan, maka dengan tanpa dasar pun mereka tetap akan menolak dan menvonis palsu atau lemah hadis keutamaan Imam Ali as.

Ratusan contoh dapat dengan mudah ditemukan dalam kasus ini. Akan tetapi di sini saya hanya menyebut satu contoh saja.

Al Hakim meriwayatkan sebuah hadis riwayat Abu al Azhar dengan sanad bersambung kepada Ibnu Abbas ra. ia berkata, “Nabi saw. memandang Ali lalu beliau bersabda, ‘Hai Ali engkau adalah Sayyidun/pemipin di dunia dan engkau adalah Sayyidun/pemipin di akhirat. Pecintamu adalah pecintaku. Dan pecintaku adalah pecinta Allah. Musuhmu adalah musuhku. Dan musuhku adalah musuh Allah. Dan celakalah orang yang membencimu sepeninggalku nanti.’”

Al Hakim berkata, “Hadis ini shahih berdasarkan syarat Syaikhain (Bukhari & Muslim). Abu al Azhar berdasarkan kesepakatan ulama Ahli Hadis adalah tsiqah (jujur terpercaya). Dan apabila seorang tsiqah menyendiri dalam meriwayatkan sebuah hadis maka berdasarkan kaidah ulama Ahli Hadis adalah shahih.” Setelahnya ia membuktikan bagaiamana ketsiqahan Abu al Azhar…. [3]

Demikian al Hakim berkomentar … lalu  sekarang perhatikan komentar angkuh dan penuh kedengkian dari seorang adz Dzahabi yang dibanggakan kaum Nawâshib, termasuk pengelolah blog haulasyiah.

Adz Dzahabi berkata dalam Talkhîsh al Mustadrak-nya, “Hadis ini walaupun seluruh parawinya tsiqah (jujur terpercaya) ia adalah hadis yang munkar! Tidak jauh dari status palsu!…”

Jadi dengan demikian bubaarlah semua kaidah penshahihan hadis yang telah dibangun para ulama… karena kaum Nawâshib telah merancang sebuah kaidah bahwa setiap hadis keutamaan Ahlulbait as., khusunya Imam Ali as. adalah harus dilemahkan bahklan dimaudhu’kan walaupun seluruh perawinya tsiqah bahkan makshum sekalipun!

Dari sini perlu Anda waspadai setiap pencacatan yang dialamatkan kepada para perawi, khususnya yang meriwayatkan hadis-hadis keutamaan Ali dan Ahlulbait as.!

Hadis Tersebut Didukung Oleh Banyak Hadis Lain

Di antara yang mendukung hadis yang sedang kita bahas ini adalah banyak hadis yang memuat makna serupa yang menegaskan bahwa Imam Ali as. adalah Shiddîq umat ini, bahkan beliau adalah ash Shiddîq al Akbar (ash Shiddîq teragung). Di antaranya adalah:

(1)   Hadis riwayat Imam an Nasa’i dan al Hakim dari Ali as. ia berkata, “Aku adalah hamba Allah, saudara rasul-Nya dan ash Shiddîq al Akbar (ash Shiddîq teragung). Tidak mengatakannya selainku melainkan ia pembohong… “ [4]

(2)   Hadis riwayat ath Thabarani dari Salman dan Abu Dzarr ra. dan riwayat al Baihaqi dan Ibnu Adi dari Hudzaifah bahwa Nabi saw. bersabda tentang Ali, “Sesungguhnya dia ini adalah orang pertama yang beriman kepadaku. Dia yang pertama akan berjabat tangan denganku pada hari kiamat. Dia ini adalah ash Shiddîq al Akbar (ash Shiddîq teragung). Dia ini adalah al Fârûq umat ini, ia akan membedakan antara yang haq dan yang batil. Dia ini adalah pemimpin umat agama ini. Sedangkan harta adalah panutan kaum zalim.” [5] Hadis serupa dengan tambahan di awalnya telah diriwayatkan oleh Ibnu Hajar dalam al Ishâbah-nya ketika menyebut sejarah Abu Lailâ al Ghiffâri.

Catatan Terakhir:

Ketika mensyarahi hadis ash Shiddiqûna Tsalatsatun, Al Azizi mempertegas dengan mengatakan, “Dan Ali. Dia adalah Shiddîq A’dzam (teragung)nya umat ini. Karenanya beliau (Ali) berkata: “Aku adalah ash Shiddîq al Akbar, tiada seorang pun yang mengatakannya selainku.” [6]

Jadi masihkan Anda meragukan keshahihan hadis ini?!

________________________

[1] Minhaj as Sunnah,3/61.

[2] Al I‘lal al Mutanâhiyah; Ibnu al Jauzi,1/221 hadis nomer.347 dan Talkhîsh al I‘lal al Mutanâhiyah; adz Dzahabi:75-76 hadis hadis nomer.169.

[3] Al Mustadrak,3/128.

[4] An Nasa’i dalam Khashâishnya:20 hadis no.6 dan al Hakim dalam al Mustadrak,3/112. Adapun penolakan adz Dzahabi dengan mengatakan, “Ia adalah hadis batil adalah tidak berdasar… pencacatan Ibnu Madini atas Abbâd tidak layak dihiraukan, terlebih dengan memperhatikan pentsiqahan al Hakim. Dan meminjam kaidah yang dibangun haulasyiah: “Sang perawi lebih mengenal para perawi dalam sanadnya”, maka tentunya pentsiqahan al Hakim lebih layak didengar!

[5] Kanz al ‘Ummâl,6/405.

[6] as Sirâj al Munîr (Syarah al Jâmi’ ash Shaghîr), 2/403.

27 Tanggapan

  1. Secara pribadi ana tidak setuju dengan pendapat HANYA YANG BERGELAR ASH-SHIDIQ

    Imam Ali ibn Tholib bergelar Amiral Mukminin.

    AHLUL BAIT
    1. Imam Ali ibn Tholib & Syaidah Fatimah binti Muhammad.
    2. Imam Hasan, Imam Husain dan Syaidah Zainab.
    3. Imam Ali ibn Husian dengan gelar Zainal Abidin.
    4. Imam Muhammad ibn Ali dengan gelar Al Baqir.
    5. Imam Jafar ibn Muhammad dengan gelar ASH-SHIDIQ.

  2. Bagaimana tidak muncul kebencian dan kedengkian bila kemegahan dunia masih digenggam di hati?

    Bagaimana tidak muncul kebencian bila banyak keluarga mereka yang kafir tewas di peperangan dibunuh oleh Imam Ali?

    Bagaimana tidak muncul kedengkian bila semuda Beliau sudah memiliki kefasihan dan kefaqihan?

    Bagaimana tidak muncul kebencian dan kedengkian bila setiap saat Nabi saw selalu memujinya dan menunjukkan keutamaannya?

    Bagaimana tidak muncul kebencian dan kedengkian bila wasiat Nabi saw ternyata berisi tentang kemuliaan ahlulbayt dan itrahnya?

    Bagaimana tidak muncul kebencian dan kedengkian bila Allah swt pun memuji-muji, memuliakan serta menjamin kesuciannya?

    Salam

  3. http://koranindependen.wordpress.com : saya berpendapat cukuplah apa yang diterima banyak umat Muslim. Abubakar lah yang bergelar Ash Shidiq. Lagi pula untuk apa juga banyak2 yang bergelar Ash Shidiq, toh mereka telah tiada, wafat belasan abad lalu. Mereka yang telah wafat sedikitpun tak dapat memberikan manfaat dan mudharat. Jadikan lah posisi para sahabat Rasul Allah itu sama, mereka semua para manusia yang seluruh kehidupannya diperuntukkan untuk menegakkan agama Allah, bukan mengharap apa2 terkecuali ridha Allah semata.

  4. Mas,mba,
    Saya melihat syiah dan sunni adalah sebuah hasil sejarah perpolitikan yang terjadi setelah nabi meninggal dunia dan terjadi perebutan kekuasaan, untuk bisa berkuasa/merebut kekuasaan maka kandidat yang terkuat dari keluarga nabi, ali bin abi thalib dan kemudian ahlulbait harus didiskreditkan sebanyak mungkin dan kalau perlu dicerca.
    Contoh yang gampang bagi bangsa indonesia adalah setelah tumbangnya orde lama maka keluarga soekarno dan soekarnoisme dipinggirkan bahkan diusahakan untuk dilupakan sebab berbahaya bagi penguasa orde baru.
    begitupula ahlulbait yang punya reputasi dan nama baik harus di singkirkan dan kalau bisa dilupakan untuk kelangsungan kekuasaan penerus nabi pada waktu itu.
    maaf saya kurang tau mengenai hadis2 saya melihat dari kacamata sejarah saja.
    wassalam , mudah2an bermanfaat untuk menelaah sejarah islam dari sisi lain.

  5. @koranindependen…

    ko jadi ngaco….. Justeru paham anda inilah

    “Jadikan lah posisi para sahabat Rasul Allah itu sama, mereka semua para manusia yang seluruh kehidupannya diperuntukkan untuk menegakkan agama Allah, bukan mengharap apa2 terkecuali ridha Allah semata.”

    apa iya?

    Lha lihat surat al-jum’ah sahabat bubar meninggalkan Rasul ketika beliau sedang berkhutbah….. bandingkan dengan khayalan anda……

    Jangan mimpi ms sudah siang!!

  6. Makin banyak yang ngaku2 pujaannya yang paling benar,makin rame aja diskusi ini..

    Ayo!!!sapa yang mo ngaku2 Utsman bin Affa yang bergelar Ash Shiddîq!????????

  7. Ya beginilah kalo diskusi hanya memperturutkan hawa nafsu dan sok menang sendiri, tidak mau mencoba mengkaji dengan lebih jernih hati dan fikirannya. Maka benarlah sabda Imam Ja’far : jika mereka mau duduk dalam majlisku niscaya mereka akan mengikuti aku.
    Ash-shidiq memang hanya untuk Imam Ali bin Abli Thalib a.s.

  8. Ass..wr..wb
    Kebetulan saya baru di blog ini. Setelah melalui kajian secara seksama, Alhamdulillah saya menemukan bahwa syiah-lah yang benar2 mengikuti sunnah Nabi saw yaitu berpegang teguh kepada Al-Quran dan Ahlul Baitnya yang suci. Melalui blog ini, saya ingin tanyakan kepada pak admin maupun saudara2 yang ikut berdiskusi dalam blog ini, di mana saya dapat menemukan komunitas syiah ataupun juga pengajian pengajian syiah terutama di Malang, karena kebetulan saya tinggal di Malang. Mungkin Pak Admin dan Saudara2 lainnya bisa mengenalkan saya dengan orang2 syiah di Malang (kalau bisa juga nomor telponnnya) atau memberi alamat2 yayasan syiah di Malang, karena saya ingin sekali ikut dalam pengajian syiah karena selama ini saya tidak punya kenalan dengan orang syiah, jadi saya hanya bisa belajar syiah dari buku-buku yang di jual di toko buku. Saya juga ingin berkenalan dengan saudara2 syiah dalam blog ini, silahkan hubungi saya di 085646695456. terima kasih sebelumnya. Wassalam…

  9. he…he….

    salam ibnu jakfari..

    apakah al qur;an anda memakai mushaf utsmani…

    buat saudara yg mulai terpengaruh syiah…saya himbau jangan terburu nafsu….karena terburu nafsu adalah dari setan…

    bagaimana pandangan saudara jika ada orang yang mencaci dan melaknat para shahabat nabi, melebihi cacian kepada iblis sekalipun…

    he…he…

  10. Dalam literatur Syi’ah juga diakui kalau Abu Bakar r.a. itu bergelar Shiddiq ..

    Apakah Pak Ja’fari tidak tahu tentang hal itu?

    Jakfari Menjawab:

    Ya. tolong sebutkan di kitab mana dan kalau tidak repot sebutkan redaksinya….
    Kami nanti.
    Makasih.

    • Spertinya pak Faruq ini memang hoby gertak kitab…hehehe
      saya jadi ragu apa bisa baca kitab beneran? biasanya orang yang gertak tanpa nyebut sumbernya itu cuma hasil bisikan makhluk orang lain…peace man…

    • Nih teksnya dan keterangan kitabnya:
      رواه القمي في تفسيره عن أبيه عن بعض رجاله، رفعه إلى أبي عبد الله قال: (لما كان رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم في الغار قال لأبي بكر: كأني أنظر إلى سفينة جعفر في أصحابه تقوم في البحر، وأنظر إلى الأنصار محتبين في أفنيتهم، فقال أبو بكر: وتراهم يا رسول الله! قال: نعم، قال: فأرنيهم، فمسح على عينيه فرآهم، فقال له رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: أنت الصديق) تفسير القمي: (1/289).

      Ibnu Jakfari:

      Akhi riwayat yang ANda bawakan itu dalam kitab tafsir al Qummi tidak ada sebutan nama Abu Bakar….
      Dan di dalamnya juga ada kalmt6a yang pasti kaum Wahhabi tidak akan sanggup menerimanya.
      Jadi kalau Anda siap menerimanya yang terima riwayat itu dengan lengkap! Jika tidak ya buang secara total juga!
      Selain itu, riwayat tersebut belum tentu dishahihkan ulama dan para peneliti Syi’ah Imamiyah…. Mereka mempunyai penilaian yang obyektif terhadap kitab tersebut dan juga terhadeap riwayat-riwayat yang ada di dalamnya. Bukan hanya sebatas riwayat di atas!!

      • Anda ini menghindar tak karuan …

        sudah jelas nama Abu Bakar ash Shiddiq r.a. disebut di sana:

        قال لأبي بكر

        Ibnu Jakfari:

        Dalam riwayat itu tidak menyebut namaa Abu Bakar!
        Kalau Anda mengklaim ada nama Abu Bakar tolong hadirkan scan kitab tersebut! dan kami juga akan hadiran juga.

  11. afwan…
    komentar saya out of topic.
    saya cuma bertanya seputar hadits ttg 10 sahabat yang dijamin masyk Surga…. apakah hadits itu sahih atau tidak?
    Berharap admin bersedia mengulas atau mengkkritisi hadits itu selengkap hadits2 ttg Siapa Ash-Shiddiq sejati pada artikel di atas.
    syukran.
    salam.

    Ibnu Jakfari:

    Doakan ya, biar punya waktu dan diberi taufiq Allah untuk itu.

  12. Hadits
    الصديقون ثلاثة
    Hadits ini maudhu’/palsu.
    Cacat tersebut terletak pada:
    1.Dari jalur periwayat Abi Laila terdapat perawi bernama Amru bin Jami’, seorang perawi yang diindikasikan senang membuat hadits palsu.
    2. Dari jalur periwayatan Ibn Abbas terdapat perawi bernama Mahfuzh bin Abi Daumah, dia adalah seorang perawi yang lemah sekali.
    3. Dan riwayat yang benar dan terdapat dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim adalah:
    ففي الصحيحين : أن النبي صلى الله عليه و سلم صعد أحدا ومعه أبو بكر وعمر وعثمان فرجف بهم فقال النبي ( ص ) اثبت أحد فما عليك إلا نبي وصديق وشهيدان

    Ibnu Jakfari:

    Akhi, terima kasih atas tanggapannya, akan tetapi:
    A) Apa yang Anda katakan hanya sia-sia belaka… hadis di atas telah dishahihkan oleh banyak ulama mazhab Anda…. Ketarangan saya dalam artikel di sudah cukup sebagai bukti…
    B) Metode yang Anda gunakan dalam menolak hadis shahih di atas tidak berdasar, sebab dengan sekedar mendha’ifkan seorang periwayat dalam sebuah jaulur belum cukup menvonis dha’if apalagi palsu sebuah hadis….
    C) Kalau sebuah hadis yang dijadikan Syi’ah sebagai hujjah Anda lemahkan/tolak dengan alasan bahwa ada si alim anu mendha’ifkan atau menvonisnya palsu/maudhu’, maka itu juga tidak dapat dibenarkan, sebab apakah Anda menanti hadis tertentu tersebut dishahihkan oleh seluruh ulama mazhab Anda, dan seluruh perawinya ditsiqahkan oleh semua ulama ahli hadis mazhab Anda?! Itu nihil, akhi! Bukankah Anda sendiri akan mustahil menegakkan pilar-pilar mazhab Anda dengan cara demikian?! Bukankah yang penting bahwa hadis itu telah diriwayatkan dan dishahihkan oleh sebagian ulama mazhab Anda…
    D)Pencacatan yang Anda andalkan itu belum cukup dan jauh dari dapat diandalkan, sebab ia mubham/tidak dijelaskan pencacatannya… di nama si perawi itu berbohong dan dalam hadis apa? dan mengapa ia dilemahlan?
    Perlu ada kejelasan pada semua vonis dan pencacatan itu!
    Tanbih!
    Akhi, saya harap Anda ini sedang sadar ketika menulis komentar di atas… (ma’af bukan maksdu saya melukai Anda)… Anda ini sedang berdiskusi dengan sorang Syi’ah!!! Lalu mengapa Anda membantah saya dengan hadis yang hanya diriwayatkan dalam kitab-kitab Anda? Logiskan sikap demikian itu? Mestinya Anda membawakan hadis riwayat Syi’ah dan yang telah dishahihkan oleh ulama Syi’ah berdasarkan kaidah ilmu hadis mereka!!
    Andai hadis yang Anda bawahan itu shahih menurut kaca mata ulama mazhab Anda, kami pasti tidak harus terikan dengannya. apalagi jika hadisnya palsu!!
    Tolong sebutkan sanad riwayat di atas, dan setelahnya pasti akan sama buktikan kepalsuannya… dengan pendekatan metode sanad dan matan , insya Allah!

    • Silakan tampilkan hadits yang sahih dari kitab Syi’ah yang menurut anda telah disahihkan oleh ulama Syi’ah

      Jakfari:

      Akhi al Faruq -Hadakallah ilal haqqil mubin-, kami kaum Syi’ah sangat menghargai etika berdialoq yang sehat. dalam berdiskusi dengan saudara-saudara kami kaum Sunni, kami akan berdalil dengan hadis yang diriwayatkan dan dishahihkan ulama mazhab mereka! Kami sangat menghargai etikaa itu!
      jadii jangan memaksa, sebab sepertinya akan sia-sia belaka, sebab hadis shahih riwayat ahli hadis amzhab Anda saja Anda tentang apalagi riwayat ulama kami.
      bahkan lebih dari itu, imam Ja’far as. saja kalian lecehkan! Lalu apa yang kami bayangkan dengan riwayat Syi’ah setianya?!

      • tampilkan saja. mengapa takut. sebut periwayatnya. dan di kitab apa. nanti orang-orang kita teliti dengan kitab rijal hadits syi’ah

  13. Buat Mas Faruq, sederhana saja neh…
    Apa kira2 Anda bisa terima hadits riwayat syi’ah? menurut Anda apa Ja’far Shadiq jujur dalam menyampaikan ucapannya? Atau apakah Anda mengakui tidak ada celaan untuk murid2 setia Ja’far Shadiq dalam meriwayatkan hadits? (tentunya selain celaan karena mereka dicap “syi’ah).
    Kalau jawaban Anda “Tidak”, lantas buat apa tanya hadits syi’ah, kan di sunni sudah ada.
    Kalau jawaban Anda “Iya”, saya ucapkan “Ahlan wa sahlan…satu kaki anda sudah masuk menjadi Syi’i”🙂

    • Assalamualaikum semuanya..
      sepertinya orang2 yang mengklaim pengikut Ahlu Bayt tidak akan menerima bahwa gelar Ash-shiddiq itu memang untuk sahabat yang mulia yakni Abu Bakar…..
      namun bagi kita(sunni), cukuplah Imam2 Ahlul Bayt mereka yang menjelaskannya….
      1. Berdasarkan kisah Abi Abdullah Al-Ja’fi yang diperoleh dari Urwah bin Abdullah : “Telah kutanya Abu Ja’far Muhammad bin Ali AS tentang memperhias pedang ?” Beliau menjawab :”Tidak mengapa, karena Abubakar Siddiq telah menghias juga pedangnya.” Kutanya pula padanya : “Kau sebut ia itu ‘Ash-Shiddiiq’?” Secepatnya imam itu bergeser menghadap qiblat sambil berkata dengan tandas : “Ya, benar Ash-Shiddiiq. Siapa yang tidak menyebut ia sebagai Shiddiiq, maka Allah tidak akan lagi mempercayai kata-katanya di dunia dan di akhirat.” (Kasyful Ghummah, jus II hal 147.)
      2. Bukankah kakeknya sendiri, Rasulullah, yang mengucapkan wahyu Ilahi dan menjuluki Ash-Shiddiiq, sebagaimana yang dikisahkan Al-Bahrani dalam tafsirnya Al-Burhan, yang dikutip dari Ali bin Ibrahim mengatakan : Dari kisah ayahku yang diperoleh dari beberapa ahli hadits bahwa Abi Abdullah AS mengatakan “Ketika Rasulullah di gua, beliau berkata kepada Abubakar : ‘Aku seperti melihat kapal Ja’ far beserta kawan-kawannya terombang-ambing di lautan. Perhatikanlah para pendukungnya yang sedang celaka itu’. Abubakar menegur :

      Kau lihatkah semua itu, ya Rasulullah ? Ya, aku lihat semua itu, jawab Rasulullah. Perlihatkan aku, ya Rasulullah, pinta Abubakar. Lalu Rasulullah menyapu kedua mata Abubakar. Maka terlihatlah semuanya itu. Setelah itu Rasulullah mengatakan : Kau adalah Ash-Shiddiiq.(al-Burhan, jus 2 hal. 125.)
      sudah jelas belum…………?

      Jakfari:

      *Akhi coba Anda perhatikan lagi, riwayat yang diatas namakan Imam Ja’far as. di atas adalah dari riwayat jalur Sunni! lalu apakah cukup untuk berargumentasi atas Syi’ah dengan riwayat jalur Sunni?
      *Tidak semua riwayat dalam kitab Syi’ah diterima oleh ulama Syi’ah!
      Wassalam.

      • Assalamualaikum….

        1. Akhi… anda sangat tidak ilmiah dalam membantah dalil diatas.. padahal saya sudah menghadirkan hadist diatas yg berasalkan dari para Imam anda. saya tidak mengambil hadits itu dari shahih bukhari, shahih muslim abu dawud, nasa’i,dll. tapi hadist itu saya ambil dalam kitab Kasyful Ghummah, Al-Arbili. dan ia bukanlah orang sunni tapi ulama besar syiah imamiyah. Nama lengkapnya Baha’uddin Abul Hasan Ali bin Alhusein Fakhruddin lsa bin Abil Fatah Al-Arbili. Lahir pada abad ke tujuh Hijriyah di Arbil dekat Musil, wafat di Bagdad tahun 693. Kata Al-Qummi, Arbili termasuk ulama besar Imamiyah. Ia seorang alim, penyair, sasterawan, penulis, ahli Hadits, sebagai andalan yang terpuji, memiliki keutamaan dan kebaikan, sebagai hujjah. Iapun sebagai penulis kitab Kasyful Ghummah Fii Ma’rifatil A’immah yang diselesaikan penulisanya tahun 687. Banyak bait syairnya yang memuji para imam yang dimuat dalam buku Kasyful Ghummah. Dan kitab ini tinggi nilainya, menyeluruh dan indah.(AI-Kunni Wal Alqoob jus II hal. 14 dan 15, cet, Qum).
        dan sengaja pula saya mengambil dari kitab ulama2 anda yg muktabar agar saya tidak dituduh memfitnah dan agar sesuai dengan etika keilmiahan.

        2. Anda mengatakan “Tidak semua riwayat dalam kitab Syi’ah diterima oleh ulama Syi’ah”
        kalau toh memang apa yang disampaikan oleh Al-Arbili, seorang ulama besar imamiyah yang ahli hadis adalah pendapat yang lemah atau riwayatnya tidak dapat diterima oleh ulama2 syiah, baik ulama2 syiah terdahulu maupun ulama2 syiah kontemporer, seharusnya akhi menghadirkan/mengutipkan pendapat dari ulama anda tersebut, yang mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Al-Arbili adalah lemah dalilnya/tidak dapat diterima.
        Dan uraikan kembali sanad2 periwayat hadist tersebut dan terangkan kepada pembaca blog ini , bahwa sanad periwayat hadist itu memiliki banyak kelemahan sehingga hadisnya harus ditolak. dan tentunya dengan tetap menyebutkan referensinya dimana anda mengutipnya. hal seperti itu baru dikatakan ilmiah.

        terima kasih… mohon dibalas…

      • Assalamaualakum…
        gini saja…
        dapatkah saudara menunjukkan kepada kami, mana nama2 perowi2 yang menurut kalian tsiqah dan mana nama perawi yang menurut kalian tidak tsiqot terutama sekali yang periwayat2 yang ada dalam kitab Al Kafi Al Kulaini, agar kami sendiri yang dapat menilai secara langsung…?

        Kalo kebanyakan, tunjukin kitab jarh wa t’dilnya aja deh (v.Syi’i)..ulama2 syiah yang mencela n memuji perawi2 mereka.. terutama periwayat yang ada dalam kitab Al Kafi?

        bukankah kata saudara kitab anda masih diteliti oleh ulama2 kalian… tapi kenapa sampai saat ini belum ada satu pun hasil kerja dari ulama kalian yang hanya sekedar menyeleksi mana hadis shahih dan mana hadis dhoif dalam kitab Al Kafi….? tidak mampukah ulama2 kalian melakukan hal tersebut..? yg lebih aneh lagi belum ketahuan mana hadis shahih dan mana hadis shahih dalam kitab Al Kafi, kalian sudah berani mengamalkan apa2 yang ada dalam kitab Al Kulainin tersebut…?
        Ilmiahkah mengamalkan/meyakini, hadis2 yang belum jelas statusnya.. apalagi ini menyangkut masalah agama..?
        terima kasih ..

        Ibnu Jakfari:

        Akhi, kami dapat memaklumi jika kalian belum banyak tau hasil karya para pembesar ulama mazhab kami, sebab mazhab ini masih sangat asing bagi kalian.
        Kalau mau tau penelitian ulama kami tentang kualitas dan status para perawi banyak sekali kitab karya ulama kami, coba kalian baca Mu’jam Rijal Hadis karya Imam Sayyid al Khi’i (Qaddasallahu Rruhahu).
        Jangan jadikan ketidak tahuan kita sebagai modal utama kedegilan di hadapan kebeneran!

  14. assalamualaikum

    kok hadist syiah ini hanya tentang keutamaan ali dan imam syiah aja sih? apa islam bisa memenangi pertempuran hanya dengan ali dan imam 2x nya?
    insya allah gak mungkin.
    bukankah abu bakar itu mertua rasulullah?
    bukankah aisyah itu istri rasulullah?
    klo tidak ada keutamaan dari mertua, istri, dan sahabat rasulullah dimata orang syiah…, berarti nabi muhammad salah pilih mertua, istri dan sahabat donk.
    setau gw dimasa abu bakar dan umar… islam itu sangat berjaya melebihi di masa ali. itu berarti ada kelebihan dari abu bakar dan umar yg melebihi ali dan ada juga kelebihan ali yg gak dimiliki sahabat yg lainnya.

    Ibnu Jakfari:

    Akhi hadis yang kami sebutkan dan juga banyak ratusan hadis shahih lainnya tentang keutamaan Imam Ali as. itu dari riwayat Ahlusunnah dan dishahihkan para ulama Ahlusunnah juga.
    Anda pasti membaca Al Qur’an kan?! Apa menurut Anda nabi Nuh dan Nabi Luth as. itu salah pilih istri? Bukankan istri kedua nabi itu kafir dan beerkhianat terhadap risalah suami mereka berdua? Harap tidak disalah fahami dan dipelintir kata-kata saya di sini!
    Akhi cara berpikir Anda perlu diilmiahkan agar tidak terhanyut dalam emosi dan istidlal yang rancu. Maaf sekedar nasihat! Semoga tidak keberatan.

  15. mas al faruq dan akhi nyeletuk sepertinya ahli ngenyel bin ngotot… asalh pasang komen kadang nggak nyambung juga! lalu kalau mas jakfari ngejawab nggak digubris….
    Jadi biar kami tau kualitas kalian yo mbok yang serius kang mas!
    Kalo ane pperhatiin ente-ente ini kok ngotot banget maksa biar abu Bakar digelari ash Shiddiq,,, dan pakai bawa-bawa umongan atas nama Ahlul Bait segala… Tapi anehnya ketiika akhuna Jakfari bawakan bukti dari Shahihnya Bukhari & Muslim bahwa Imam Ali RA. menetapkan gelar Kadzib, (si Pembohong), kalian diam seribu bahkan sejuta bahasa!!!!!!!
    Kalau memang ngak bener ya tolong dibantah yang ilmiah!!!! Bukannkah hadis yang dibawa akhuna Jakfari dari Bukhari & Musliim?
    Jadi mana mungkin Abu Bakar digelari ash Shiddiq?! Itu nggak mungkin!!!! aliaa mustahil bin mustajab!!!!!!!!!!
    wahai teman-teman di sini! Ada keganjilan yang ane perhatikan di komen teman-teman yang anti syiah (maaf saya tidak berani mengatakan mereka itu nawashib)…. mengapa ya kok mereka itu sangat keberatan kalau disebutkan hadis keutamaan Sayyidina wa Imamina Ali bin Abi Thalib? Dan kalau dibuktikan ketidak sahihan hadis keutamaan Sayyidina wa Khalifatina Abu Bakar & Umar mereka keberatan bahkan lebih aneh lagi Mu’awiyah juga dibelain pakai namma Ahlusunnah? Ahlusunnah yang mana teman-teman?
    Jangan membuat Ahhlusunnah dibenci kaum berpikiran merdeka gara-gara membela Mu’awian CS!
    Tolong ini menjadi perhatian kita semua!!!
    Hidup Sunni !!!!! Hidup Syi’ah!!!! Hidup semua kaum Muslimin dan Muslimat!!!!!

  16. Ikutan ngobras nih…
    Sebaiknya Sunni Syiah jangan saling mengkafirkan. Yg berada dibalik semua kemelut ini adalah kaum munafiqun, yg di dalam Alquraan sendiri Allah bilang, Nabi Muhammad ngga tau diantara sahabatnya yg munafiqun (tapi jelas ada), itu alquraan yg ngomong lo… jangan tanya ayat yang mana yah, moso alquran ngga hafal..tapi berani berdebat..hehehhe..

  17. @ valzon :
    kafir dapat diartikan ingkar.. apakah keberatan jika saya bilang anda telah ingkar..! tp saya tdk akan melakukan’y.. atau anda boleh melakukan sebalik’y terhadap saya.. tapi sebelum’y coba tunjukkan letak keingkaran (kekafiran) saya..! anda jgn terlalu sensitif dengan kata kafir.. lagipula mana yg saling mengkafirkan..? seperti’y tak ada..

    memang benar allah tidak menyebutkan nama2 sahabat nabi yg munafiq.. tp nabi [sawa] dan sahabat setia [ra] dpt membedakan dgn keberpihakan’y terhadap imam ali [as].. sebab imam ali [as] adalah al-faruq (yg membedakan antara yg haq dan yg bathil)..itu hadits nabi [sawa] lho..! dan ingat.. al-faruq (pembeda) bukan milik umar ibn al-khattab.. kalo ada bukti otentik dari anda.. mohon lampirkan.. terima kasih.. salam..

  18. Heehehe..waduh semua gelar khalifah diborong ama imam ali as., buat saudara2 aswaja ga perlu sensian yah..biarlah masing2 gelar silahkan tetap disematkan seperti sediakala… piss..🙂

  19. […] Hanya Imam Ali ibn Abi Thalib as. Yang Bergelar Ash Shiddîq! -Tanggapan atas -haulasyiah-: “Kedudukan Hadist: Ali adalah Ash Shiddiq terbaik” […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: