Wahhabi Menggugat Syi’ah (20)

Sejenak Bersama As Suyuthi

Seperti Ibnu Katsir, Jalaluddin as Suyuthi juga bersikap serupa ketika ia menvonis tidak shahih hadis turunnya ayat al Ikmâl dalam peristiwa Ghadir Khum. Dalam kitab al Itqân-nya, as Suyuthi menulis sebab pasal tentang ayat-ayat yang turun ketika Nabi saw. di dalam kota, hadhari atau dalam pepergian, safari. Dalam pasal tersebut ia menyebutkan beberapa contoh, salah satunya adalah ayat al Ikmâl, ia berkata, “Di antaranya adalah ayat:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دينَكُمْ

Dalam Shahih dari Umar bahwa ia turun pada sore hari Arafah pada tahun haji Wadâ’. Hadis itu memiliki banyak jalur. Akan tetapi Ibnu Mardawaih dari Abu Sa’id al Khudri bahwa ia turun pada hari Ghadir Khum. Dan hadis serupa juga diriwayatkan dari Abu Hurairah, di dalamnya, ‘Ia adalah hari ke delapan belas bulan Dzul Hijjah sepulang Nabi saw. dari haji Wadâ’. Dan keduanya tidak shahih!.”[1]

Ibnu Jakfari berkata:

Sangat disayangkan sikap yang diambil as Suyuthi ketika ia menvonis dengan semena-mena hadis Abu Sa’id dan Abu Hurairah dengan kata-kata “Dan keduanya tidak shahih”!

Apabila yang beliau maksud dengan adalah “kedua hadis itu tidak shahih” dari sisi sanad dan jalur periwayatannya melalui para perawi yang cacat kualitas, maka seperti Anda telah perhatikan bersama bahwa kedua riwayat tersebut telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih dan melalui para perawi jujur terpercaya! Hadis Abu Sa’id al Khudri ini memiliki banyak jalur, seperti dibeber oleh Syaikul Islam al Himwaini dalam Farâid as Simthain. Selain itu hadis ini tidak terbatas hanya pada riwayat Abu Sa’id dan Abu Hurairah, ia telah diriwayatkan juga dari sahabat Jabir ibn Abdillah dan seorang pembesar mufassir tabi’în dan juga dari Imam Muhammad al Baqir dan Imam Ja’far ash Shadiq as., dan para ulama Ahlusunnah pun telah menerima tafsir keduanya dengan pengakuan.

Sebagaimana juga periwayatan hadis Abu Sa’id tidak terbatas hanya oleh Ibnu Mardawaih saja, akan tetapi para ulama lainnya juga telah meriwayatkannya dengan jalur-jalur mereka. As Suyuthi sendiri telah merangkum berbagai riwayat al Khathîb dan Ibnu ‘Asâkir dalam tafsir ad Durr al Mantsur-nya. Dan selain mereka juga banyak tokoh ulama dan ahli hadis lainnya yang meriwayatkannya seperti al Hakim an Nîsâburi, al Hafidz al Baihaqi, al Hafidz Ibnu Abi Syaibah, al Hafidz ad Dâruquthni, al Hafidz ad Dailami dll.

Dan apabila yang beliau maksud itu adalah ketidak-shahihan dari sisi matan/kandungannya yang ia anggap bertentangan dengan hadis Umar dalam Shahih Bukhari, maka tidak sepatutunya ia menvonis dengan pasti ketidak-shahihan hadis tersebut. Anggap dalam hemat as Suyuthi bahwa hadis Umar adalah yang shahih dan lebih râjih/unggul, akan tetapi seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa hal itu belum cukup alasan untuk menvonis ketidak-shahihannya, sebab antara keduanya dapat diharmoniskan dengan cara mengatagorikan ayat tersebut sebagai ayat yang turun dua kali, seperti telah diasumsikan juga oleh Sibth Ibn al Jauzi! Dan teori seperti itu diterima oleh as Suyuthi sendiri.

Sepertinya As Suyuthi terprovokasi oleh sikap Ibnu Katsir yang pertama kali mendemonstrasikan penolakan semena-mena terhadap hadis Abu Hurairah! 


[1] Al Itqân, nau’ ke dua,1/25.

2 Tanggapan

  1. Salam Ustaz

    Apa benar, riwayat ttg ayat ikmal turun saat di Arafah hanya diriwayatkan oleh Umar sahaja? Mohon pencerahan

    Salam

    Ibnu Jakfari:

    Insya Allah.

  2. […] Wahhabi Menggugat Syiah (20) -Sejenak Bersama As Suyuthi- […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: