Seri Hadis-hadis Palsu Keutamaan Para Khalifah Rasyidîn (1)

Hadis Palsu Keutamaan Abu Bakar, Umar dan Utsman

Di antara hadis-hadis palsu yang diproduksi oleh mulut-mulut beracum penebar kepalsuan adalah ribuan hadis palsu yang diatas namakan lidah suci Nabi Muhammad saw. yang memuji dan menyebut-nyebut keutamaan Abu Bakar, Umar dan Utsman…. .

Para ulama (termasuk ulama Ahlusunnah sendiri) telah membongkar kepalsuan dan kerja rapi para  pemaslu dari kalangan kelompok Bakriyyah yang sangat membenci kebenaran dengan kebencian mereka kepada Nabi saw. dan keluarganya. 

Di sini kami ajak para pengunjung berwisata ke dunia hadis palsu untuk menyaksikan daari dekat produk kepalsuan mereka!

Hadis Dari Ibnu Abbbas ra.

عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

ما في الجنة شجرة إلا مكتوب على كل ورقة منها: لا إله إلا الله. محمد رسول الله. أبو بكر الصديق: عمر الفاروق، عثمان ذو النورين.

“Tiada di surga pepohonan melainkan termaktub pada setiap daunnya kalimat: Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad rasul, utusan Allah, Abu Bakar ash Shiddîq, Umar Farûq (yang memilah antara yang haq dan batil) dan Utsman Dzu Nurain (pemilik dua cahaya).”

Status Hadis:  Palsu

Keterangan: Hadis ini adalah hasil kepalsuan Ali ibn Jumail ar raqqi. Hadis ini telah diriwayatkan ole aht Thabarani dan ia berkata:

موضوع وعلي ابن جميل وضاع، وقد تفرد به وسرقه منه معروف بن أبي معروف البلخي، وعبد العزيز بن عمرو الخراساني رجل مجهول.

Hadis palsu dan Ali ibn Jumail (perawinya) adalah pemalsu kelas kakap. Ia telah menyendiri dalam meriwayatkannya dan kemudian dicuri darinya oleh Ma’ruf ibn Abi Ma’ruf al Balakhi. Dan Abdul Aziz ibn ‘Amr al Khurasani adalah seorang yang majhûl (tidak dikenal identitasnya).

Abu Nu’aim juga meriwayatkannya dari jalur Ali ibn Jumail. Dan al Khatli meriwayatkannya dalam Dîbâjnya dari jalur Abdu Aziz ibn ‘Amr al Khurasani, seperti disebutkan dalam kitab Mîizân al I’tidâl,2/138, dan adz Dzahabi (penulisnya) berkata:

عبد العزيز فيه جهالة والخبر باطل فهو الآفة فيه.

Abdul Aziz padanya terdapar Jahâlah (kemajhulan/tidak dikenal). Dan hadis ini adaalah batil. Ialah (Abdul Aziz) penyakit (penyebab/pemalsu) dalam hadis tersebut.”

Ibnu Aidy juga meriwayatkannya dari jalur Ma’ruf al Balakahi. Adz Dzahhabi dalam Mîizân al I’tidâl,3/184 berkata:

هذا موضوع لكنه مشهور بعلي بن جميل عن جرير وكان يحلف فيقول: حدثنا والله جرير، وقال ابن عدي: معروف هذا غير معروف ولعله سرقه من علي بن جميل.

“Hadis ini adalah palsu, akan tetapi ia dikenal dari (riwayat) Ali ibn Jumail dari Jarir, dan ia bersumpah seraya berkata, Demi Allah Jarir telah menyampaikan hadis kepada kami. Ibnu Adiy berkata, ‘Ma’ruf (si perawi itu) tidak dikenal. Kuat kemungkinan ia mencurinya dari riwayat Ali ibn Jumail.’”

Abul Qasim ibn Busyrân meriwayatkannya dalam kitab Amâli-nya dari jalur Muhammad ibn Abdi ibn ‘Amir as Samarqandi, dan dia adalah seorang pembohong kelas kakap dari ‘Ashim ibn Yusuf. Ibnu Adiy berkata:

روى أحاديث لا يتابع عليها.

Ia sering meriwayatkan hadis-hadis yang tidak didukung oleh orang lain.”

 

Al Khathib al Baghdadi juga meriwayatkannya dalam Tarikh Baghdâd-nya,5/4 dan 7/337 dari jalur Husain ibn Ibrahim al Ihthiyâthi dari Ali ibn Jumail. Adz Dzahabi berkata dalam Mîzân-nya,1/253 setelah menyebutkan jalur di atas:

هذا باطل والمتهم به حسين الاحتياطي.

“Hadis ini adalah palsu. Yang tertuduh (memalsu) adalah Husain al Ihthiyâthi.”

Dan dalam 3/184 ia berkata:

إنه موضوع.

“Ini adalah hadis maudhû’ (palsu).”

 

Ibnu Katsir Bersikap Nyeleneh!

Ibnu Katsir menyebutkannya dalam Tarikhnya,7/205 dari jalur ath Thabarani dan kemudian berkata:

إنه حديث ضعيف في إسناده من تكلم فيه ولا يخلو من نكارة.

“Ini adalah hadis lemah, dha’îf. Pada sanadnya terdapat orang yang masih dibicarakan. Dan di dalamnya tidak kosong dari kemunkaran.”

 

Ibnu Jakfari berkata:

Adalah aneh sikap Ibnu Katsir yang mengatrol hadis palsu ini dengan mengatakan bahwa ia hanya sekedar hadis lemah dan hanya memuat kemunkaran?! Padahal ia pasti mengetahui bahwa riwayat seperti itu tidak pantas disebut sebagai riwayat dha’îf dalam istilah ulama hadis, sementara ia menposisikan dirinya satu di antara ahli hadis! Tetapi apa hendak dikata, kecintaan memang membutakan dan menulikan dan tidak jarang membuat seorang berkalu bodoh!

23 Tanggapan

  1. Kenapa kok tidak ada yang menanggapi?

  2. @aryo

    Ini karena al Quran telah menjawabnya terlebih dahulu…

    Dan Katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.
    QS. al-Isra’ (17) : 81

  3. Dear Ibnu Jakfary,

    sebenarnya siapa yang dimaksud dengan khulafa Rasyidin…?
    dalam hadist -/+ ” khulafaku berjumlah 12..”
    apakah mungkin diantara para khulafa berselisih faham dan atau mungkin bertikai …?
    kalau begitu siapa saja mereka itu …?
    mohon penjelasannnya…?

  4. Paparan di atas justru membuktikan bahwa ulama Sunnah bersikap fair dengan mengkritik riwayat-riwayat yang tidak sahih. Karena kritik-kritik di atas dilakukan oleh ulama sunnah sendiri bukan ulama yang lain.

    Dan kritik tersebut tidak melihat apakah tokoh yang sedang dibicarakan adalah Abu Bakar, Umar atau Ali r.a.

    Semua riwayat yang tidak sahih akan ditolak ..

    Sedangkan yang sahih diterima ..

    Oleh karena itu, kita dapati riwayat-rirwayat yang sahih dalam kitab-kitab sunnah yang diriwayatkan oleh AISYAH RA tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib r.a.

    Jakfari Menjawab:

    ya itu baik. tapi yang mengherankan betapa banyak dan gemarnya para ulama Sunni membanggakan hadis-hadis palsu keutamaan Abu Bakar, Umar dkk, baik dalam tulisan maupun ceramah mereka.

  5. Menurut saya mengenai hadits tsb diatas adalah palsu tanpa perlu melihat sanatnya siapa yang merawikan. Kalau berbicara perawi maka saya mengambil kata firman Allah QAULIHIM (kata mereka). Kita lihat matannya. Apakah mereka2 yang menyebut sahabat pernah ada firman Allah yang mengatakan Allah telah mensucikan shabat Nabi. Karena tidak mungkin Allah menempatkan nama2 makhluknya berdampingan dengan namaNya dg nama2 yang masih kotor.
    Karena dalam Alqur’an tdk pernah ada firman Allah renrang pensucian mereka terkecuali Ahlulbait Rasul maka pasti kata2 tsb yang atas namakan Nabi palsu.
    Wasalam

  6. Jakfari: bisa anda berikan contoh riilnya siapa yang membangga-banggakan hadits palsu tentang keutamaan Abu Bakar dan Umar?

    Ibnu Jakfari Menjawab:

    Banyak sakali akhi. tapi untuk mudahnya anda baca kitab ar Riyadh an Nadhirah karya Muhibbuddin at Thabari.

    • Muhibbuddin at Thabari tidak hanya menampilkan hadits palsu tentang Abu Bakar, tapi juga bagi semua tokoh yang sepuluh orang itu. Artinya dia mencampur adukan antara hadit syang sahih dengan yang palsu yang menceritakan keutamaan 10 tokoh itu.
      Termasuk dia menampilkan hadits palsu tentang Ali bin Abi Thalib juga.
      Bukankah dalam tulisan anda “Hanya Imam Ali yang bergelar Ash Shiddiq”, dan di situ anda menampilkan hadits palsu tentang Ali bin Abi Thalib. hadits itu juga dicatat oleh Muhibbuddin at Thabari dalam bukunya Riyadh an Nadhirah?
      Jadi dia memang pengarang yang tidak cermat dsalam menampilakn hadits-hadits. Atau dia hanya menampilkan hadits yang pernah dia dapati tentang 10 orang yang ia tulis itu tanpa melakukan kritik.

      Ibnu Jakfari:

      Akhi al Faruq, jadi tidak salah kan kalau saya menyebut Muhibbuddin ath Thabari sebagai yang menyebut dan membanggakan hadis palsu tentang Abu Bakar?!
      Adapun malasah hadis keutamaan Imam Ali as. saya kan tidak sedang berbicara tentangnya!!
      Kalaim Anda akan kepalsuan hadis tertentu tentang keutamaan Imam Ali as. perlu anda buktikan! dengan mencacat sebagian periwayatnya tentunya belum cukup! Itu metode menyimpang Ibnu Jauzi yang dikecam para ulama!!
      Adapun pengakuan Anda bahwa Muhibbuddin itu mungkin tidak cermat… itu sebuah pengakuan yang saya hargai. Terima kasih!

  7. @ Jakfari: Tolong berikan nama kitab lain. Saya sudah punya kitab tersebut. Anda bilang, kitab semacam itu banyak sekali.

    Ibnu Jakfari:

    Bang faruq sangat banyak sekali, tidak mungkin disebut satu persatu…. hampirsemua kitab yang menyebut-nyebut keutamaan Abu Bakar sering terjebak membanggakan hadis palsu tentangnya.
    Kalau tidak percaya, Anda sebutkan satu hadis dari kitab yang paling Anda andalkan agar kita diskusikan kepalsuannya di sini. Gimana?

    • @ Jakfari: Dalam keilmuan Sunnah sudah semenjak dahulu ulama melakukan kritik hadits. Sehingga diketahui mana hadits yang sahih, serta mana yang lemah dan palsu.
      Maka untuk mengetahui keutamaan Abu Bakar ash Shiddiq r.a. dan sahabat yang lain, cukup melihat riwayat-riwayat yang sudah dinilai sahih itu. Seperti dalam Bukhari dan Muslim dan kitab-kitab lain yang sudah dinilai sahih haditsnya oleh para ulama.

      Sebaliknya, saya ingin tahu, adakah kitab dalam keilmuan Syi’ah yang berisi hadits-hadits sahih tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib dan keluarganya? Tolong beritahukan saya jika ada.

      Ibnu Jakfari:

      Itu artinya anda hanya bangga menjadi seorang muqallid buta dalam penshahihan atau pendhaifan atau pemaudhuán hadis!
      Adakah ijma di kalangan ulama Hadis Ahlusunnah akan keshahihan seluruh hadis Bukhari&Muslim?
      Ulama Syiáh senantiasa membuka pintu studi kritis terhadap seluruh kitab hadis standar maupu level dua… Mereka tidak menetapkan keshahihan hadis hanya bersandar kepada penulis kitab tertentu tersebut! apalagi bertaqlid buta kepada pendahulu!

      • Berikan saja contoh kritik mereka. Misanya terhadap al Kafi. Sudah sampai di mana.

        Bisakah anda terangkan konsep Majlisi dengan Bahbudi.

        Ibnu Jakfari:

        Kalau mau contoh, dan Anda tergolong ahli, saya persilahkan membuka langsung kitab Man La Yahdhuruhu al Faqih karya Ash Shaduq ra.

      • Tidak ada taqlib buta seperti itu. Justru dalam dunia Syi’ah lah kita mengenal ada istilah “muqallad” dan “muqallid”. Seorang marja’ dengan pengikutnya.

        Di dunia Sunni, konsep keilmuan sunnah sudah matang. Sehingga orang bisa menelusuri sendiri untuk mengetahui kesahihan suatu riwayat dengan adanya konsep yang matang itu.

        Jakfari:

        Al Iddi’a’ Bila Bayyinah Akhul Kidzbi. Man idda’a amran fa ‘Alaihi bayyinah.
        Anda mencampur adukkan antara taqlid dalam fikih dan selainnya… taqlid dalam fikih juga berlaku di kalangan Ahlusunnah…. hanya kaum Salafy yang sok ahli saja yang bernafsu merujuk langsung ke sumber utama Syari’ah dengan bermodal asemangat tanpa senjata ilmu yang cukup.
        Bagaimana seorang sarjana Sunni mampu menelusuri dan kemudian memetapkan keshahihan atau kedha’ifan sebuah hadis?
        Masih terbukakah pintu tash hih dan taadh’if di kalangan ulama hadis Sunni?

      • tentang man la yahdhuruhul faqih, saya punya kitabnya.

        Silakan paparkan contoh yang anda maksud

        Jakfari:

        Kalau Anda punya kitab tersebut, dan Anda pakar ilmu hadis, tolong baca nanti Anda akan temukan hadis riwayat al Kulaaini (ra.) dalam al Kafi yang ditolak kesahihannya oleh ash Shaduq (ra.)
        Jika Anda tidak dapat menemukannya padahal itu mudah, bebarti Anda masih perlu banyak menekuni dunia hadis mazhab kami.
        Wassalam.

      • kasih saja contohnya. tidak usah berputar-putar

  8. seyogyanya harus ada ulama yang selalu mengontrol di setiap penerbitan alqur qan dan buku yang baru terbit,majmu”syarif dan yang lainnya,karna banyak terjadi kesalahan cetak.entah di sengaja atau tidak.

  9. @al Faruq:
    “Di dunia Sunni, konsep keilmuan sunnah sudah matang. Sehingga orang bisa menelusuri sendiri untuk mengetahui kesahihan suatu riwayat dengan adanya konsep yang matang itu.”

    Seringkali kalangan Sunni sangat membanggakan ilmu2 alat khususnya ilmu hadis spt musthalah hadis, jarh wa ta’dil dll. Namun yg mengherankan kok masih banyak hadis2 yg bermasalah masih bisa lolos ke dlm Sahih Bukhori dan Muslim. Umpamanya konsep Ketuhanan yg mengarah kpd tajsim dan tasybih dan penggambaran pribadi Nabi saw yg tdk pantas sbg Insan Kamil adalah berdasarkan hadis2 dari Abu Hurairah, Aisyah dll. yg kelihatannya tabu untuk disaring karena mereka adalah sahabat.

    Jadi ada kesan ilmu2 alat tsb hanya digunakan di dunia ilmu itu sendiri atau berputar-putar di tempatnya sendiri. Ibaratnya cangkul bukannya digunakan untuk mengolah tanah, tapi cangkul hanya untuk cangkul.

    • @ Falseto: karena matangnya itu, kalangan Syi’ah pun akhirnya berdalil dengan hadits riwayat sunni.

      Sila anda perhatikan hadis Kisaa, siapakah yang meriwayatkannya?
      Ummul Mukminin Siti Aisyah r.a.!

      Siapa yang meriwayatkan hadits tentang Fathimah r.a. yang meminta tanah Fadak kepada Abu Bakar ash Shiddiq r.a.?
      Ummul Mukminin Siti Aisyah r.a. juga!

      Bisakah kalangan Syi’ah mengetahui keutamaan tentang Fathimah r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Hasan dan Husain r.a. tanpa riwayat Ahlu Sunnah dan sahabat?

      jawabnya: tidak bisa!

      Karena semua riwayat tentang mereka adanya dalam riwayat Ahlu Sunnah …

      Sedangkan riwayat-riwayat yang ada di kalangan Syi’ah adlaah riwayat palsu (maudhu’), tidak bersambung (munqathi’), atau disampaikan oleh oknum yang tidak jelas (majhul).

      Karena itu, kalau anda cermati orang-orang Syi’ah selalu berdalil dengan hadits riwayat para Sahabat dan Ahlu Sunnah.

      Karena Syi’ah memang tidak mempunyai riwayat yang kuat seperti itu!

      • @ Akhina Al Faruq :
        kalo syiah menggunakan hadits2 dari sunni bukannya pengakuan bahwa ahadits dari sunni lebih kuat dan dpt dipercaya, itu hanya PENILAIAN ANDA . sebetulnya ulama terdahulu tidak membedakan apakah itu diriwayatkan oleh sunni maupun syiah. karena metode penentuan dan pemilihan hadits serta penilaian perawinya yg digunakan bisa diterima oleh kedua pihak dan dianggap adil. namun sayangnya metode yang demikian bagus masih saja tidak bisa mengahasilkan penggunaan hadits dengan cermat oleh sebagian orang. karena masih saja ada kandungan hadist2 palsu dan kontradiksi dalam bukhori muslim kita telan mentah2 dan kita beri label “afsohul kitab ba’dal quran” dan menurut saya ini adalah bencana besar yg menimpa dunia islam.

  10. kan hadits keutamaan abu bakar ra. bukan cuma itu aja akhi?? kalau tujuan penulisan ente ingin menganggap keutamaan abu bakar ra tidak ada sama sekali harusnya ente mentakhrij hadits sahih milik sunni kemudian menjarh hadits tsb dengan pendapat ulama sunni lainnya. Kalau pakai hadits palsu begini cuma bisa menjaring orang2 awam aja kali ya

    Ibnu Jakfari:

    Ya kalau menurut Anda ada hadisnya yang shahih taampilkan aja di sini biar dibahas dan didiskusikan sejauh mana keshahihannya!
    Kebenaran tidak dapat ditegakkan di atas klaim-klaim tidak berdasar!

  11. wah ente malah bikin PR buat saya nih. Lalu bagaimana tanggapan ente tentang firman Allah swt:

    “…sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada sahabatnya: `Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita’.” (QS at-Taubah : 40)

    mufassir sunni setahu saya sepakat kalau kalau yang menemani rasul saw adalah Abu Bakar ra. Didalam hadits imam muslim dikatakan

    Abu Bakar ra berkata: Aku melihat kaki orang-orang musyrik di atas kepala kami tatkala kami berada dalam gua. Aku berkata: Wahai Rasulullah kalau saja salah seorang dari mereka melihat ke kedua kakinya sendiri, niscaya dia akan melihat kita yang berada di bawahnya. Beliau bersabda: Wahai Abu Bakar, apa dugaanmu yang bakal terjadi pada dua orang di mana yang ketiganya adalah Allah. (Shahih Muslim No.4389)

    Bahkan Allah swt telah menjanjikan surga kpd para sahabat:
    “Orang yang terdahulu lagi yang awal (masuk Islam) yaitu Muhajirin, Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (Surah al-Taubah: 100)

    sebenarnya tak ada keberatan di hati saya kalau dikatakan imam Ali kw lebih mulia dibanding Abu Bakar ra karena memang para salaf juga tak memiliki 1 pendapat dalam masalah ini. Tapi kalau mengatakan bahwa Abu Bakar ra tidak memiliki keutamaan sama sekali di hadapan nabi saw tentu merupakan sifat arogan yang berlebihan.

    Mengenai hadits imam bukhari yang menceritakan bahwa ada sebagian sahabat yang berbalik kafir setelah wafatnya rasulullah saw tentu bukan kita yang menghakimi siapa mereka, hanya Allah yang layak menjadi hakim dalam hal ini. Bukankah seorang yang mengucap syahadatain dengan lisannya adalah seorang muslim termasuk kita yang sunni maupun syi’i. Perbuatan2 pelecehan pada para sahabat seperti inilah yang akan terus menghambat persatuan yang memang kalian sendiri idam2kan.

    Ibnu Jakfari:

    Akhi Fillah (rahimakullah)
    Terima kasih atas tangapannya. dalam makalah di atas kami tidak mengatakan seperti yang anda simpilkan:Tapi kalau mengatakan bahwa Abu Bakar ra tidak memiliki keutamaan sama sekali di hadapan nabi saw tentu merupakan sifat arogan yang berlebihan.
    semoga bukan kami yang anda maksud.
    Tentang sahabat dan jaminan surga bagi mereka! Jika yang dimaksud dengan ucapan anda:Bahkan Allah swt telah menjanjikan surga kpd para sahabat:
    adalah seluruh sahabat dengan defenisi yang dibakukan di kalangan mayoritas Sunni, mungkin perlu anda teliti kembali kesimppulan anda itu. Adapun ayat yang anda sitir juga perlu difahami dengan baik. sebab kata Min sebelum kata al Muhajirin wa al Anshar bisa berfungsikan Li tab’idh (sebagian) bisa pula Lil Bayan (untuk menerankan) seperti dalam terjemahan yang anda pilih.
    Lagi pula ayat itu hanya membatasi sahabat anshar dan muhajrin dan yang mengikuti dengan ihsan, lalu bagaimana anda buat total sahabat.
    Wassalam.

  12. Terima kasih akhi kalau ente tidak berkesimpulan demikian. Adapun janji surga kepada para sahabat bukan berarti 100% sahabat masuk surga semua bahkan sudah saya sebut dalam hadits bukhari bahwa ada sahabat yang berbalik kafir setelah wafatnya nabi saw. Yang dibakukan oleh ulama sunni yaitu menetapkan sifat ‘adalah atau keadilan pada para sahabat. Maksudnya perkataan para sahabat diterima apabila dinisbatkan kepada nabi saw mengingat bahwa memang mereka pernah hidup bersama dengan nabi saw. Lantas bukan berarti juga bahwa langsung bisa dijadikan hujjah, apabila ditemukan riwayat2 berlawanan dari para sahabat maka dilakukan thoriqotul jami’ atau thoriqotut tarjih pada riwayat2 tsb. Berbeda dengan syi’ah yang menetapkan standar tertolaknya hadits sahabat karena sahabat tsb tidak mendukung khilafahnya imam Ali kw., kalaupun ada yang dipakai jika matan hadits tersebut berisikan kemuliaan2 ahlul bait, tentu saya juga pencinta ahli bait nabi saw. (kok jadi kesini pembicaraan kita)

    Pada intinya sunni & syi’i sepakat bahwa tidak semua sahabat masuk surga (setahu saya lho) hanya saja sunni menyerahkan hal itu pada Allah swt, tidak mengkafirkan mereka yang jelas muslim mengucap 2 syahadat dgn lisannya (oleh karena ini disebut sahabat, rujuk mukadimah sahih muslim tentang pengertian sahabat). Tentu berbeda dengan syi’ah yang kadang menunjuk person tertentu dari sahabat dan memvonisnya kafir (setahu saya lho). Ingat lho akhi, kita sedang membicarakan Abu Bakar ra bukan sahabat yang lain. Maaf bila ada salah kata

    salam

    Ibnu Jakfari:

    Apa yang anda katakan tentang standar penerimaan hadis di kalangan Syi’ah tidak benar! Sebab Syi’ah menerima hadis dari kelompok Muslim manapun selaa ia tsiqah!
    Tentang penilaian terghadap sahabat juga tidak seperti yang diisukan banyak ihak bahwa Syi’ah mengafirkan para sahabat Nabi saw. tanpa memerhatikan unsur-unsur terkait!
    Maaf, diskusi masalah ini panjang. Lebih baik ditunda dulu. Gimana?

  13. iya akhi tidak apa-apa. Terima kasih sudah mau berdiskusi.

  14. Assalaamua’laikum…
    @ jakfari.. Tulisan anda ini telah membuat banyak kerusakan pada kaum muslimin…sy respect terhadap pandangan al faruq dan centrifugal…saya hanya mo mengingatkan aja pada anda ttg firman Allah swt yang artinya.;
    “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat, lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus diatas pokoknya, tanamn itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin ). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh diantara mereka ampunan dan pahala yang besar.” ( Qs al-fath ayat 29 ).
    ayat ini menjelaskan ttg sifat2 Nabi Muhammad saw, dan sahabat-sahabatnya di Dalam Taurat dan Injil…
    Jadi buat anda Ibnu jakfari..berhentilah membuat kerusakan di muka bumi ini dan bertaubatlah…

  15. […] Seri Hadis-hadis Palsu Keutamaan Para Khalifah Rasyidîn (1) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: