Seri Hadis-hadis Palsu Keutamaan Para Khalifah Rasyidîn (2)

Abu Bakar Penentu Penghuni Surga dan Neraka, Umar Pemberat atau Peringan Timbangan Dan Utsman Penghalau Kaum Munafiq dari Haudh Nabi saw.

Di antara kepalsuan yang tak henti-hentinya diproduksi kaum murahan adalah hadis palsu di bawah ini: 

Dari Ibnu Abbas ra., dari Nabi saw.:

إذا كان يوم القيامة نادى مناد تحت العرش: هاتوا أصحاب محمد فيؤتى بأبي بكر وعمر وعثمان وعلي فيقال لأبي بكر: قف على باب الجنة فأدخل فيها من شئت، ورد من شئت. ويقال لعمر: قف على الميزان فثقل من شئت برحمة الله، وخفف من شئت. ويعطى عثمان غصن شجرة من الشجرة التي غرسها الله بيده فيقال: ذد بهذا عن الحوض من شئت. ويعطى علي حلتين فيقال له: خذهما فإني ادخرتهما لك يوم أنشأت خلق السماوات والأرض.

“Kelak di hari kiamat pengumandang pengumuman menyerukan dari bawah Arsy, ‘Kumpulkan para sahabat Muhammad, lalu didatangkan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.

Lalu dikataakan kepada Abu Bakar, ‘Berdirlah di depan pintu surga, masukkan orang yang engkau maukan ke dalamnya, dan usirlah orang yang engkau maukan.’

Dan dikatakan kepada Umar, ‘Berdirilah di Mizan (pos penimbangan amal), beratkan timbangan orang yang engkau maukan dan ringankan yang engkau maukan.’

Utsman diberi setangkai dahan dari pohong yang ditaman sendiri oleh Allah dengan tangan-Nya, dengan tangkai ini usirlah dari telaga orang yang engkau maukan.’

Ali diberi dua helai baju dan dikatakan kepadanya, ‘terimalah ini! Keduanya telah disiapkan untukmu sejak Aku pertama menciptakan langit dan bumi.’

 

Status Hadis: Palsu.

Keterangan:

Hadis ini telah dirawayatkan oleh Ibrahim ibn Abdullah al Mashîshi dan Ahmad ibn Hasan ibn Qasim al Kufi. Keduanya adalah pembohong besar dan pemalsu hadis kelas kakap. Hanya Allah yang Maha mengetahui siapa dari mereka berdua yang memalsu hadis di atas!

Adz Dzahabi menyebutkan hadis ini dalam Mîzân-nya,1/20 dan 42, dan di dalamnya terdapat penyakit berat yaitu:

 وفيه آفة القلب بعد الوضع فإن المحفوظ من لفظه كما في الرياض النضرة 1 ص 32 بعد: وخفف من شئت. ويكسى عثمان حلتين ويقال له. ألبسهما فإني خلقتهما أو ادخرتهما من حين أنشأت خلق السماوات والأرض. ويعطى علي بن أبي طالب عصى عوسج من الشجرة التي غرسها الله تعالى بيده في الجنة فيقال: ذد الناس عن الحوض. فقلبوا ما لعلي عليه السلام من ذود المنافقين عن الحوض وجعلوه لعثمان بعد ما زادوا على الحديث صدرا مفتعلا، وحديث ذود أمير المؤمنين علي عن الحوض أخرجه الحفاظ من عدة طرق عن جمع من الصحابة قد أسلفنا طرقه وتصحيح الحاكم له في الجزء الثاني ص 321.

“Dan di dalamnya terdapat penyakit pembalikan di samping pemalsuan, sebab yang direkam para perawi dari redaksi hadis ini seperti dalam ar Riyâdh an Nadhirah,1/32 setelah: ’dan ringankan yang engkau maukan.’ Adalah dan Utsman diberi dua baju dan dikatakan kepadanya, ‘Pakailah baju ini, karena Aku telah menciptakannya (atau) Aku telah menyimpannya sejak Aku menciptakan langit dan bumi. Dan Ali ibn ABi Thalib diberi tongkat dari kayu yang pohonnya ditaman sendiri oleh Allah dengan tangan-Nya, dan Dia berkata kepadanya, ‘Halaulah dari haudh siapa saja yang engkau kehendaki.”

Mereka membalik bagian hadis yang untuk Ali yaitu mengusir kaum munafik dari haudl dan dijadikan untuk Utsman, setelah menambah bagian awalnya yang palsu.

Dan hadis bahwa Ali mengusir kaum munafiq dari telaga (Rasul) telah diriwayatkan para huffâdz (pakar hadis) melalui banyak jalur dari banyak sahabat (Nabi saw.), dan sebelumnya telah kami jelaskan jalur-jalurnya dan penshahihan al Hakim atasnya pada 2/321.”

24 Tanggapan

  1. Bung Jakfari, saya usul, bagaimana kalau tulisan – tulisan bung Jakfari yang sangat bermutu di blog ini dijadikan buku saja ? Supa bisa tersebar lebih luas. Syukron.

    Jakfari:

    Doakan semoga bisa terwujud.

  2. he,,,he,,

    ndak perlu dibuat buku,….daripada malu-maluin…he..he..

    lha wong dalam kutubussittah banyak dimuat hadits shahih tentang keutamaan abu bakar dan umar,,,

    lagian kenapa mereka mau memakain qur;an yang sama dipakai kalangan sunni….

    padahal al qur;an yg ada sekarang ini melewati para shahabat nabi …..termasuk dalam hal ini abu bakar dan umar…

    kembalilah kepada kebenaran saudaraku semua…

    betapa jelas kebenaran di depan mata, kenapa anda tidak bisa menangkapnya…

    ini himbauan saya…sebelum saya membantah argumen ibnu jakfari lebih lanjut…insyaAllah..

  3. he…he….saudara ibnu jakfari..

    saya heran deh..anda benar2 mengenal ajaran syiah apa tidak sih…dan bagaimana bandingannya dengan sunni…

    kalau belum tahu…ya mohon maap kalau saya buruk sangka kepada saudara…kalau belum tahu ya mari kita sama2 belajar…semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita …

    • @Dody Kurniawan
      Hai manusia, marilah kita mencari kebenaran, bukan gontok2an yang gak ada isi.

      Saya liat anda ini rajin, getol, dan bernafsu sekali dalam mendebat setiap posting. Tapi kemudian dari banyak comment anda yang saya liat ternyata isinya cuma maaf (sampah).

      janganlah begitu, kasihanilah saya dan saudara yang laen yang masih mengkaji pengetahuan agama. saya gak perduli sunni, syiah, wahhabi dll. selagi dalam jalur islam dan jalan yang benar maka akan saya ikuti.

      jika anda mempunyai argument dan dalil yang kuat silahkan berargument secara sehat dan tentunya saya akan berterima kasih kepada anda.

  4. Setuju

  5. Saya sudah tulis sebelumnya, bahwa kritik-kritik para ulama hadits sunnah itu tidak melihat siapa yang dibicarakan, tapi bagaimana kekuatan riwayat yang disampaikan.

    Oleh karena itu, seperti riwayat di atas langsung dikritik oleh para ulama sunnah. Jadi kritik tersebut dilakukan oleh ulama sunnah.

    Seperti itulah ulama yang seharusnya …

    Saya ingin tanya, apakah ada kritik semacam ini dalam keilmuan Syi’ah. yaitu ulama Syi’ah mengkritik riwayat-riwayat Syi’ah tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib dan para imam yang lain?

    Jakfari:

    Kalau saya jujur pasti Anda tidak percaya.. Anda akan bilang saya bertaqiyyah. Jadi lebih baik Anda rujuk langsung ulasan dan tradisi studi kritik hadis di kalangan ulama Syi’ah!

    • Al-Faruq apa al-firaq sih? kiddin mas…:)
      Mas, kalau periwayatnya aja pembohong..apa mungkin meriwayatkan kebaikannya orang yang benar2 baik?
      “Burung hanya terbang dengan yang sejenis” begitu kata pepatah Arab. artinya pembohong ya gak mungkin meriwayatkan kebaikan orang jujur.

      • Hadits-hadits palsu sudah ditunjukkan kepalsuannya oleh ulama sunnah. Itu sudah dari dahulu mereka lakukan. Jadi tidak usah heran lagi.
        Sedangkan hadits sahih juga sudah ditunjukkan oleh para ulama sunnah mana yang sahih. Jadi bisa dijadikan rujukan. Karena itu, jika ingin mengetahui keutamaan Khulafa Rasyidin, tinggal lihat riwayat-riwayat yang sahih. Termasuk tentang Ali bin Abi Thalib r.a.

        Justru saya tidak menemukan riwayat hadits yang bersambung sanadnya hingga Rasul saw. dari literatur Syi’ah yang berisi keutamaan tentang Ali bin Abi Thalib r.a., Fathimah r.a. dan Hasan serta Husein r.a.

        Kalau ada, silakan tunjukkan riwayat itu!

        Ibnu Jakfari:

        Saya hormat kepada Anda karena kejujuran dan pengakuan akan keterbatasan Anda dalam merujuk mashadir Syiáh! Anda mengatakan: Justru saya tidak menemukan riwayat hadits
        Maaf, kitab hadis Syiáh apa saja yang sudah Anda baca?
        Dan pakai
        kaca mata apa ketika Anda membacanya?
        Syukran.

    • Akhi..Al Faruq, ana nasihatkan sebaiknya antum tidak usah melayani orang yang telah menghina para Sahabat Nabi SAW. seperti Jakfari Az Zindiqy. ana takut antum akan terkena syubhat darinya. Bagaimana kita akan mendiskusikan sesuatu tanpa ada sumber atau rujukan yang sama. Ingat..! sistem yang dipakai dalam penshahihan atau pendhaifan sebuah hadist antara Sunni dgn Syi’i berbeda. Si Jakfari tidak pernah jujur dan tidak akan pernah berani menunjukkan hadist yang Shahih tentang keutamaan Abu Bakar dan Umar, memang ada hadist palsu yang menerangkan ttg keutamaan Abu Bakar dan Umar, dan itu yg dijadikan alat untuk menggiring opini publik bahwa syi’ahlah yang benar dalam hal ini. Hati-hatilah wahai kaum muslimin dari al Kazzab, berlindunglah kalian kepada Allah SWT, dan kembalilah kepada Al Qur’an dan Sunnah As Shahihah.

      • @Epet

        Tak usah takut terpengaruh syubhatnya syiah jika anda yakin akan kebenaran jalan anda. Sebagaimana anda tak bisa dipengaruhi bagaimana sebaiknya cara anda pergi ke monas. Anda mengerti tujuannya dan anda mengerti bagaimana cara mencapainya. Bahkan anda mampu menjelaskannya secara logis.

        Jika anda meragukan orang lain, sama artinya anda meragukan diri anda sendiri. Sementara orang lain belum tentu selemah anda.

        Salam

      • Kata2nya si EPET adalah bahasa klasik yg biasa dipakai org2 Wahabi ketika tdk bisa membantah & mendebat bukti2 keterangan yg jelass yg dibawa kalangan syiah …. Persis seperti kaum kafir Quraisy yg tdk senang akan kebenaran yg dibawa Rasul . Firman Allah : ” Orang2 Kafir berkata : Janganlah kalian dengarkan dgn sungguh2 Al-Quran itu dan buatlah hiruk oikuk agar kamu dapat mengalahkan “.

  6. Buat mas Dodi: emang sampeyan sendiri pakarnya Syiah ya? saya kira tidak?! soalnya saya udah membaca semua komentar sampeyan dannnn…..dari situ kliatan dech klo sampeyan tuh sebenarnya gak ngerti apa2 tentang Syiah!!! emang sampeyan mau ngomentari argumennya ustadz jakfari yg mana? SILAHKAN mas, monggo! jauh sekalian gak pa2, emang seberapa kuat & cerdas sich sampeyan? paling2 yg keluar dari mulut sampeyan cuman ‘sampah’ warisan dari bani Umayyah…he…he….!

  7. kirain mau bahas tulisannya…nggak taunya cuma mau ngelemparin unek2 doank..si dody…mbok dibantah yg ilmiah jgn debat kusir apalagi debat kursi…hahahhahaha

    • rasanya tiap artikel, selalu ada ajaa opini yang intinya: gertak sambal, ngomong ngalor ngidul, melebar kesana kemarin, ujung-ujungnya cari kambing congek, caci maki dan kabur……capek deh…

  8. @Dody

    Kalau menurut sy sih anda ga nyambung. Ini salah satu penyakit manhaj anda.

    Apa hubungannya hadits palsu di atas dgn AQ yg dipakai Sunni? Lagipula setahu sy pembukuan AQ dilakukan pada masa Utsman memerintah. Kira2 dimana saat itu Abubakar & Umar menurut anda?

    Betapa kepalsuan ada di depan mata anda. Mengapa anda tdk berfikir?

    Jika anda tdk setuju dgn hadits di atas, langsung saja kasi komen.

    Salam

  9. @ Jakfari: Bisakah anda beritahukan saya nama kitabnya?
    Ulama Syi’ah yang mana yang telah melakukan studi kritis atas riwayat-riwayat Syi’ah? Terutama tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib r.a. dan keluarganya?

    Ibnu Jakfari Menjawab:

    Banyak mas, taip saya khawatir anda tidak punya kitabnya… Baca contohnya dalam kitab al Maudhu’at fi al Akhbar wa al Atsar; Sayid Hasyim Ma’ruf al Hasani.

  10. @ Jakfari: Judulnya anda tulis terbalik, seharusnya:
    Al Maudhu’at fi al Atsar wa al Akhbar.
    Bukan
    Al Maudhu’at fi al Akhbar wa al Atsar..

  11. ustadz al Faruq, aku mau tanya nih, mengapa sih kok banyak riwayat hadis palsu keutamaan Abu bakar di kitab-kitab hadis Ahlus Sunnah, seperti yang sebagaiannya disebut di sini?
    Makasih.

    • Menurut sejarahnya, ada pihak-pihak yang senang membuat hadits palsu.

      Oleh karena itu, para ulama Sunnah sangat ketat menyaring riwayat-riwayat tersebut. Juga meneliti para periwayatnya. Sehingga dapat dibedakan mana yang palsu dan mana yang sahih.

      Hal itu dapat kita ketahui ketika dilakukan penelitian atau takhrij terhadap hadits-hadits tersebut.

      Dan diantara kitab yang sangat tersaring sehingga bisa dikatakan isinya semua sahih, adalah kitab Sahih Bukhari dan Muslim.

      Dan untuk kitab-kitab lainnya, sudah dilakukan takhrij oleh para ulama. Sehinga bisa diketahui mana riwayat yang sahih mana yang tidak.

      Hal itu alhamdulillah sangat mapan dalam keilmuan sunnah.

      Berbeda halnya dengan yang terdapat dalam khazanah keilmuan Syi’ah. Karena untuk mendefinisikan “hadits sahih” saja para ulama mereka tidak sepakat.

      Sehingga sampai saat ini belum bisa dilakukan gerakan penyaringan riwayat dalam khazanah keilmuan Syi’ah.

      Malah ada seorang ulama mereka yang bernama Al Hurr ‘Amili yang berkata bahwa jika “definisi hadits sahih” diterapkan secara ketat terhadap hadits-hadits riwayat Syi’ah, niscaya tidak didapati hadits sahih di kalangan Syi’ah.

      Hal itu karena para periwayat hadits Syi’ah banyak yang terdiri dari orang yang tidak jelas identitasnya, atau orang yang bermasalah akhlaknya, atau aqidahnya menyimpang, atau pelaku kriminal, atau pun riwayatnya tidak bersambung.

      Karena itu, jika anda tanya: adakah kitab kumpulan “hadits sahih” dalam Syi’ah? niscaya anda tidak temukan.

      Ibnu Jakfari:

      Akhi, kami harap Anda mau baca kitab-kitab ilmu hadis ulama Syi’ah agar tau dengan baik kaidah-kaidah dan aturan main yang diterapkan ulama ahli hais Syi’ah terhadap kitab-kitab hadis dan hadis-hadis yang diriwayatkan.
      Jika hanya lempar klaim tidak berdasar bukankah cara ilmiah seorang sarnaja pencari kebenaran.

  12. Materi ini sebagai kelanjutan dari kritik hadist dengan Al-quran sebagai pedomannya. tujuan dari pembahasan ini adalah agar seluruh ummat Islam dapat memilah sunnah-sunnah yang bisa dijadikan sandaran hukum sehingga tidak menjerumuskan ummat pada kekeliruan yang resikonya amat sangat membahayakan diri dan orang lain.

    Oleh karena itu kita perlu menelaah sunnah-sunnah yang selama ini beradar di masyarakat Islam dan sudah diyakini sebagai sesuatu yang hak karena diriwayatkan dengan sanad hadits yang oleh sebahagian besar ulama hadits sebagai hadits “sahih”, namun setelah ditelaah isi atau redaksi hadits tersebut banyak yang tidak sejalan dengan Al-Qur’an.

    Mengapa harus Al-Qur’an sebagai standarisasi…? Karena Al-qur’an adalah prilaku Rasulullah SAWW, karena segala ucapan, perbuatan dan diamnya Rasulullah SAWW adalah wahyu sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah.

    QS. 53 (An-Najm): 3 – 4
    Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

    Marilah Kita Teliti, DARI HADIST BUKHARI

    Pada materi ini kita akan menelaah sebuah hadits yang terdapat dalam kitab hadits “SHAHIH BUKHARI” Cetakan Ketigabelas 1992, diterbitkan oleh Penerbit ”Widjaya” Jakarta. Tentang Rasulullah lupa Rakaat Shalat, Yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia,
    1.1.1 Shahih Bukhari Hadits No. 453
    Diceritakan oleh Abdullah bin Buhainah ra. (dia berasal dari Bani Azdi Syanuah, sahabat – dalam suatu perjanjian persahabatan – dengan Bani Abdu Manaf, dan juga salah seorang sahabat Nabi SAW), dia mengabarkan, bahwasanya Nabi SAW pernah shalat Zuhur dengan orang banyak. Setelah raka’at kedua beliau terus saja berdiri tanpa duduk tasyahud pertama, dan orang banyak pun berdiri pula. Setelah shalat hampir selesai dan sedang menanti-nanti Nabi hendak memberi salam, tiba-tiba takbir, padahal ia sedang duduk. Kemudian sujud dua kali (sujud sahwi, red) dan setelah itu barulah beliau memberi salam.
    1.1.2 Shahih Bukhari Hadits No. 286
    Hadits ini dari Abu Hurairah ra., waktu itu Rasulullah sedang shalat salah satu dari dua shalat petang bersama sahabat. Di antara jama’ah waktu itu terdapat juga Abu Bakar dan Umar. Pada waktu itu Rasulullah seolah-olah lupa bilangan rakaat shalat sehingga orang-orang bertanya-tanya,”Apakah shalat diperpendek?” Di dalam jama’ah itu terdapat seorang sahabat yang bernama Dzul Yadain, dan dia bertanya kepada Rasul,”Ya Rasulullah, apakah Anda lupa ataukah memang shalat dipersingkat?”
    Nabi menjawab,”Saya tidak lupa dan shalat tidak pula dipersingkat.” Lalu beliau bertanya (kepada jama’ah),”Betulkah itu apa yang ditanyakan Dzul Yadain?”
    Jawab jama’ah,”Betul!”
    Karena itu Nabi SAW berdiri kembali menyempurnakan rakaat yang tinggal, kemudian beliau memberi salam. Sesudah itu beliau takbir dan sujud seperti sujudnya dalam shalat atau lebih. Kemudian beliau mengangkat kepala sambil takbir, sesudah itu sujud pula seperti sujud shalat atau lebih, kemudian beliau mengangkat kepala sambil takbir. (sujud sahwi, red)
    1.1.3 Shahih Bukhari Hadits No. 644
    Diceritakan oleh Abdullah bin Buhainah ra., bahwa Rasulullah SAW sesudah dua rakaat Zuhur langsung berdiri tanpa duduk (antara rakaat kedua dengan ketiga). Tatkala beliau telah selesai shalat, beliau sujud (sahwi) dua kali, dan sesudah itu membaca salam (tanda selesai).
    1.1.4 Shahih Bukhari hadist No. 645
    Dari Abu Hurairah r.a., katanya “kami shalat Zuhur (atau mungkin ‘Ashar) bersama-sama dengan nabi Saw. Setelah selesai shalat, Dzulyadain bertanya kepada beliau, “kurangkah shalat ya, rasulullah?” Beliaupun bertanya pula kepada jama’ah, “Betulkah apa yang ditanyakannya itu?” Jawab Jama’ah, “Benar!” lalu nabi saw. Shalat lagi dua rakaat, sesudah itu sujud (sahwi) dua kali”
    1.1.5 Shahih Bukhari Hadits No. 646
    Dari Abu Hurairah ra., dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya waktu seseorang kamu sedang shalat, setan datang menggodanya, sehingga tidak diketahuinya telah berapa rakaat dia shalat. Maka apabila kejadian seperti itu terjadi pada kamu, sujudlah dua kali waktu duduk.

    Kajian:
    Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah pernah lupa dalam shalat beliau. Jika kita rujuk dalam Al-Qur’an:
    Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalat, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. (Q.S. Al Mu’minuun: 1-3)
    Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku. (Q.S. Al Baqarah: 152)
    Rasulullah SAW yang merupakan guru dari sekalian para nabi dan rasul dan guru sekalian alam semesta, merupakan orang yang telah mencapai maqam tertinggi kenabian sehingga tidak mungkin Rasulullah sampai lupa rakaat shalat. Apalagi shalat yang diajarkan Rasulullah kepada umatnya adalah shalat untuk mencapai kekhusyu’an secara lahir dan batin, sehingga umatnya memahami dan mengetahui rukun Qauliyah (perkataan), Fi’liyah (perbuatan), dan Qolbiyah (hati).
    Rasulullah adalah orang yang senantiasa berzikir (mengingat) Allah dalam setiap perbuatan maupun desiran nafas beliau, apalagi dalam shalat. Sehingga jika kita merujuk Hadist No. 646 di atas, tidak mungkin setan mampu menggoda Rasulullah untuk melalaikan beliau dari pelaksanaan shalat secara lahir dan batin yaitu hudurul qalbi ma’allah.
    Secara logika, jika Rasulullah akan mengajarkan sujud sahwi kepada para sahabat, Rasulullah tidak perlu sampai “melalaikan” shalat yang merupakan ibadah yang sangat penting.

    Kesimpulannya , Hadist diatas, dalam kitab hadits “SHAHIH BUKHARI” Cetakan Ketigabelas 1992, diterbitkan oleh Penerbit ”Widjaya” Jakarta, hadits tersebut mengkisahkan perihal Peristiwa Rasulullah lupa dalam Shalat adalah SANGAT BERTENTANGAN DENGAN AL-QURAN, SEHINGGA HADIST INI TELAH MENGHINA, MEMFITNAH DAN MENYESATKAN UMMAT ISLAM.

    Allahumma shali ala muhammad wa ala aly muhammad

  13. Untuk saudaraku tersayang al faruq… Terima kasih saudara mau menaggapi pertanyaan saya yang jahil ini. dan ijinkan saya meberikan tanggapan atas jawaban saudara? Boleh kan?
    Saudaraku al faruq,
    Pertanyaan saya:(((ustadz al Faruq, aku mau tanya nih, mengapa sih kok banyak riwayat hadis palsu keutamaan Abu bakar di kitab-kitab hadis Ahlus Sunnah, seperti yang sebagaiannya disebut di sini?))))
    lalu saudara jawab:(((Menurut sejarahnya, ada pihak-pihak yang senang membuat hadits palsu.)))
    nah, saya ingin tau, pihak-pihak mana yang membuat hadis-hadis palsu keutamaan Abu Bakar dan Umar itu? Pihak Syi’ah? Atau pihak AHlusunnah? Bisakah ustad al faruq memberikan jawaban memuaskan buat kta semua?
    Saya tidak menyalahkan apa yang ustad katakan:
    (((Oleh karena itu, para ulama Sunnah sangat ketat menyaring riwayat-riwayat tersebut. Juga meneliti para periwayatnya. Sehingga dapat dibedakan mana yang palsu dan mana yang sahih.))) Tapi kenyataannya mengapa kok masih sangat banyak hadis-hadis palsu baik tentang keutamaan Abu Bakar atau lainnya yang lolos sensor sehingga juga terkoleksi dalam kitab-kitab standar hadis Ahlu Sunnah???
    Anda katakan:(((Dan diantara kitab yang sangat tersaring sehingga bisa dikatakan isinya semua sahih, adalah kitab Sahih Bukhari dan Muslim.))) Dapatkah ustad mebuktikan bahwa riwayat-riwayat dalam kedua kitab Shahih itu memang benar-benar shahah? Apakah ulama Ahlu Sunnah telah sepakat akan keshahihan semua hadis dalam kedua kitab itu?

    ustad al faruq anda juga katakan: (((Hal itu alhamdulillah sangat mapan dalam keilmuan sunnah.))) Apa buktinya? Sebab sampai sekarang masih masih simpang siyur antara sebagian yang mengaku pakar ahli hadis dalam menyohihkan hadis-hadis tertentu!! Apa yang ustad maksud dengan sudah sangat mapan itu???
    Adapun komen ustad yang kemudian berbalik menyerang Syi’ah itu bukan urusan saya… Tapi secara logika waras, kita tidak usah menyerang produk pihak lain kalau produk kita sendiri masih sangat rapuh!!! Saya telah baca tulisan ustad Jakfari yang terakhir di sini tentag kerapuhan kitab-kitab hadis Sunni, sungguh mengerikan (walaupu bukan barang baru buat saya, sebab jelek-jelek begini saya pernah nyantri di PONPES)… Itu yang mestinya perlu ditangggapi, bukan lainnya..
    sementara cukup dulu saya nantikan pencerahan dari ustad.

  14. he,,he…

    capai deh….

    he…je…

  15. […] Seri Hadis-hadis Palsu Keutamaan Para Khalifah Rasyidîn (2) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: