Krisis Defenisi Di Kalangan Ahli Hadis Sunni!

Sebagaimana dimaklumi bahwa sunnah Nabi adalah sumber utama kedfua setelah Al Qur’an. Untuk menjadi hujjah dalam agama, sunnah (baca: hadis) harus memenuhi beberapa persyaratan… ia harus shahih dan tidak menyandang keganjilan ataupun cacat… dan untuk menentukan keshahihan hadis ada dua pendekatan yang dilakukan para kritikus hadis; pendekatan sanad dan pendekatan matan atau dengan mengombinasi antara keduanya.

Agar sebuah hadis itu diniali shahih, maka para perawi yang menjadi perantara dalam transfer hadis haruslah jujur/tsiqah. Untuk mengenal ketsiqahan seorangg perawi, para peneliti mesti kembali kepada komentar para ulama Rijâl yang telah berkomentar tentang kualitas seorang perawi….. Di sini pernyataan seorang Pakar Ilmu Rijâl menjadi neraca penentu… baik dalam mencacat (jarh) atau menta’dîl (memuji dan merekomendasi seorang perawi)!

Tetapi na’asnya, dalam mengandalkan keterangan para tokoh Ahli Jarh wa Ta’dîl, kita akan berhadapan dengan sederatan keganjilan dan seribu satu masalah serius yang dapat mengguncang kepercayaan para pencari kebenaran dari berujuk kepada mereka!

Dalam artikel ini saya hanya akan menyorot satu dari problem serius Dunia Hadis Sunni tersebut, yaitu adanya krisis defenisi dalam menilai seorang perawi… di nama seorang penjahat parang, pembuhuh darah dingin, pembohong, pendosa dll diperkenalkan kepada kita sebagai seorang yang zuhud, jujur terpercaya, penghamba yang shaleh, kekasih Allah dll. sehingga tidaklah heran jika kemudian seorang pencari kebenaran dibuat kebingungan tidak lagi mengerti makna kata-kata itu! 

Entah mengapa ini semua terjadi? Apakah memang ada kesengajaan untuk membodoi kita; generasi na’as ini…

Atau mereka sendiri sedang tertipu…

Atau mereka memiliki kamus istilah sendiri yang tidak sama dengan kamus-kamus yang berlaku di kalangan anak cucu Adam lainnya….

Atau mereka sedang mengalami krisis defenisi?   

Atau …. Atau …..

Untuk menyingkat waktu coba perhatikan data-data di bawah ini:

1)      Ziyâd Anak Bapaknya[1]

Khalifah ibn Khayyâth berkata memujinya:

كان يعد من الزهاد.

“Ia terhitung dari kaum zuduh.”

Ahmad ibn Shaleh berkata:

لم يكن يتهم بالكذب.

“Ia tidak tertuuduh berbohong.”[2]

 

Ibnu Jakfari berkata:

Jika seorang palaku kriminal dan kejahatan sekelas Ziyâd digolongkan sebagai kaum Zuduh, maka kita dibuat ragu kepada para wali Allah lainnya yang juga digelari sebagai sang Zahid! Jangan-jangan para wali itu juga para penjahat, pendosa yang kaum fasik yang disanjung tanpa haq. Atau mereka menggolongkan tindak kejahatan Ziyâd atas perintah tuannya; Mu’awiyah itu sebagai sebuah ibadah, keta’atan kepada Allah dan Rasul-Nya dan sebagai jelmaan sifat kezuduhan? Atau sebenarnya mereka (para ulama itu) sedang mempermainkan akal sehat kita?

 

2)      Umar ibn Sa’ad ibn Abi Waqqâsh –si pembunuh Imam Husain as.; cucu terkasih Rasululllah saw.-

Al Ijli berkata, “Ia meriwayatkan beberapa hadis dari Ubay. Orang-orang meriwayatkan hadis darinya.  Ia seorang Tabi’în yang tsiqah/jujur terpercaya. Dialah yang membunuh Husain.”[3] 

Ibnu Jakfari berkata:

Saya ucapkan selamat atas umat yang membanggakan kejujuran pembunuh anak cucu Nabinya di Padang Karbala!!

Dan jika memang demikian pondasi agama mereka, apa hendak dikata?!

  

3)      Imrân ibn Haththân -gembong kaum Khawârij-.

Kesesatan Imrân ibn Haththân bukanlah rahasia lagi di kalangan ulama Islam. Ia seorang penganjur kepada kemunafikan dan kesesatan mazhabnya… Dialah yang menggubah bait-bait syair memuji dan meratapi si pembunuh Imam Ali ibn Abi Thalib as. di antaranya adalah bait di bawah ini: 

يا ضربة من تقي ما أراد بها * إلا ليبلغ من ذي العرش رضوان

إني لأذكره حينا فأحسبه * أوفى البرية عند الله ميزانا

“Duhai pukulan dari seorang yang bertaqwa yang tidak ia lakukan ** melainkan agar mencapai keridhaan Allah pemilik Arsy

Setiap kali aku mengingatnya aku yakin bahwa ** ia adalah orang yang paling berat timbangan kebajikannya di sisi Allah.

 

Ibnu Jakfari berkata: Tidak diragukan lagi bahwa bait-bait syair itu sangat menyakitkan hati Rasulullah saw. dan hati Ali ibn Abi Thalib as. lebih dari pukulan Abdurrahman ibn Muljam  (pembunuh Ali as.) itu sendiri! Bagaimana tidak?

Dan termasuk kurang hormat kepada Nabi dan Ali apabila kita menyebut-nyebut nama-nama musuh Ahlulbait as. seperti Ibnu Muljam, Imrân ibn Haththân, Umar ibn Sa’ad, Ziyâd, Mu’awiyah tanpa dibarengi dengan kutukan dan laknatan.

Akan tetapi yang sangat disayangkan adalah sikap ulama Sunni yang membanggakan kejujuran tutur katanya dan mengandalkannya dalam urusan agama! Imam Bukhari telah mempercayainya dalam meriwayatkan hadis dalam kitab Shahihnya! Demikia juga dengan Abu Daud dan an Nasa’i. Al Ijli mentsiqahkannya.

Dan sepertinya tidak hanya Imrâm ibn Haththân yang menjadi tumpuhan kepercayaan ulama hadis Sunni! Semua kaum Khawârij dinilainya sebagai kelompok paling jujur dalam bertutur kata dan meriwayatklan hadis!

Sungguh luar biasa “kehati-hatian” ulama hadis itu sehingga mereka bangga meriwayatkan hadis dari anjing-anjing neraka![4]

Abu Daud –seorang imam Ahli Hadis Sunni, “Tiada di antara penyandang kesesatan yang lebih jujur/shahih hadis dari kaum Khawârij.” (Tadrib ar Rawi,1/226 dan Taudhih al Afkar; Amir ash Shan’ani -penulis kitab Subulus Salam-,2/203)

Jika seorang gembong Khawârij yang sesat yang menyesatkan seperti Imrân diyakini kejujurannya, maka sepertinya kita perlu mendefenisikan ulang kata jujur dan kejujuran! Jika ada yang membanggakan membangun agamanya dari riwayat-riwayat kaum munafikin maka apa yang bisa dibayangkan tentang kualitas bangunan agama itu?

Inikah yang dibanggakan sebagian pihak bahwa dunia hadis Sunni telah rapi dan selektif?

Mengapakah Bukhari -imam teragung mereka- dan juga yang lainnya membanggakan riwayat-riwayat seorang Imrân –si gembong kaum munafikin-? 

 

Imam Ahmad mentsiqahkan Seorang Pecandu Arak!

Yang tidak kalah aneh dan mengherankan adalah sikap tokoh terkemuka Ahlusunnah; Imam Ahmad iibn Hanbal yang tetap bersikeras mentsiqahkan seorang pemabuk dan pecandu arak! Hal mana akan mendorong pihak-pihak yang peduli akan kemurnian Sunnah Nabi saw. mulai meragukan keseriusan seleksi yang dilakukan para muhaddis Sunni.

Perhatikan data di bawah ini:

Khalaf ibn Hisyam seorang peminum khamr. Akan tetapi Imam Ahmad metsiqahkannya. Tentu saja sikap itu menuai reakasi dari rekan-rekannya! Mereka menegurnya seraya berkata:

يا أبا عبد الله إنه يشرب؟ فقال: قد انتهى إلينا علم هذا عنه، ولكن هو والله عندنا الثقة الأمين، شرب أو لم يشرب.

“Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya ia peminum khamr! Imam Ahmad menjawab, “Telah sampai kepadaku berita itu kapadaku, akan tetapi demi Allah ia tsiqah dan jujur terpercaya, baik ia minum atau tidak!”

Anda pantas terheran-heran atas sikap acuh Imam Ahmad di atas! Ia telah mengetahui bahwa Khalaf ibn Hisyam adalah peminum namun demikian ia tetap mentsiaqahkan dan menggelarinya sebagai Amîn/terpercaya/amanat.

Jika Sunnah Nabi saw. sebagai sumber utama setelah Al Qur’an diambil dari mulut para pamabok yang mengeluarkan aroma menyengat arak/khamr lalu apa nasib yang akan diderita Sunnah Nabi suci?!

(Bersambung Insya Allah)


[1] Ziyâd disebuat demikian karena memang ia tidak dikenal dengan pasti siapa laki-laki yang menghamili Sumayyah; ibu kandunggnya, sebab ia seorang pelacur professional yang memiliki beberapa pelanggan rutin pria hidung belang, di antaranya adalah Abu Sufyân –bapaknya Mu’awiyah-…. Namun ketika Mu’awiyah berkuasa, ia menggabungkan Ziyad sebagai anak Abu Sufyân, sehingga sejak itu ia dipangggil Ziyâd ibn Abu Sufyân… dan pristiwa itu dikenal dengan pristiwa istilhâq. Kaum Muslimin mengecam tindakan itu yang terang-terangan menentang syari’at Islam. Ziyâd bergabung dengan Mu’awiyah dan menjadi tangan kananya dalam menjalankan berbagai kajahatannya terhadap umat Islam; membunuh tanpa rahmat kaum sipil tak berdosa dan kejahatan-kejahatan lainnya seperti yang diriwayatkan para ahli sejarah Islam. 

[2] Baca Târîkh Damasqus,5/406-414.

[3] Tahdzîb at Tahdzîb,7/450.

[4] Dalam banyak hadis yang dishahihkan ulama Sunni sendiri diriwayatkan bahwa Nabi saw. menyebut kaum Khawarij sebagai Kilâb Ahli an Nâr/ anijng penghuni neraka!

6 Tanggapan

  1. Salam ‘alaykum.
    1.) Riwayat bhw Imam Ahmad mentsiqahkan Khalaf bin Hisyam di atas belum disebutkan sumber rujukannya. Bisa mohon dituliskan?
    2.) Bisakah disebutkan rujukan kitab2 hadis yg memuat sabda Nabi saw. bhw kaum Khawarij adalah kilab ahli al-nar?
    Terima kasih atas infonya.

    Ibnu Jakfari:

    Maaf akhi, hampi lupa menjawab pertanyaan yang Anda ajukan.
    1) Riwayat bhw Imam Ahmad mentsiqahkan Khalaf bin Hisyam dapat Anda baca dalam kitab Tarikh Baghdad.. tapi maaf saya sedang lupa jilid dan halamannya… dan sekarang saya tidak sedang bersama kitab tersebut.
    2) Dalam kitab al Bidayah wa an Nihayah; Ibnu Katsir banyak menyebutkan hadis-hadis tentang Khawarij. Di sana dapat Anda temukan. Insya Allah.

  2. Subhanallah!Kok jadi jungkir balik begini ya agama ini… yang fasiq dipuji yang munafik disanjung… wah kalau begini jadi meragukan agama ini.. bukankah agama ini kita ambil dari mulut-mulut para parawi…lha kalau perawi aja begitu kualitasnya trus diterima hadisnya apa ngak kacau agama kita???????
    Pusing ah.. mending ……

  3. @Ibnu Jakfari

    kutipan antum

    Abu Daud –seorang imam Ahli Hadis Sunni, “Tiada di antara penyandang kesesatan yang lebih jujur/shahih hadis dari kaum Khawârij.”
    _____________

    Tolong kami diberitahu kutipan tersebut dikutip dari buku apa? Syukron ya !

    Ibnu Jakfari:

    Terima kasih atas pertanyaannya. Anda dapat meerujuknya dalam: Tadrib ar Rawi; as Suyuthi,1/226 dan Taudhih al Afkar; Amir ash Shan’ani (penulis kitab Subulus Salam),2/203.

  4. Adakah Ibnu Jakfary telah mengumpulkan artikel sejenis yang dikumpulkan dalam satu judul buku?
    Selama ini yang kita dengan hanya suara SANJUNGAN AKAN KEHEBATAN para ulama hadis seperti Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasa”i dll yang tidak kita ketahui sedikitpun metode yang bagaimana kehati-hatian mereka dalam menyeleksi perawi hadits.
    Kita tau baru datang dari anda. dari yang lain sama sekali tidak kita dengar. semoga perjuangan anda dalam membuka masalah ini merupakan informasi yg penting bagi para peneliti hadis.

  5. […] Krisis Definisi Di Kalangan Ahli Hadis Sunni ! Perawi Bermasalah Dan Nawashib Dalam Hadis-Hadis Suni […]

  6. […] Krisis Definisi Di Kalangan Ahli Hadis Sunni ! Perawi Bermasalah Dan Nawashib Dalam Hadis-Hadis Suni… […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: