Perlakuan Diskriminatif Terhadap Pembawa Syari’at Islam

Seperti kita maklumi bersama bahwa agama Islam ditegakkan di atas dua pilar utama; Al Qur’an dan Sunnah Nabi saw. Kemutawatiran Al Qur’an menjadikannya tidak membutuhkan tawtsîq sanadi/pengukukan kebenaran nashnya dari sisi para pembawa berita (sanad). Sementara tidak demikian dengan Sunnah Nabi saw.[1]

Sunnah Nabi saw. diterima umat Islam melalui proses periwayatan yang melibatkan para perawi/pembawa berita yang memuat sunnah Nabi saw. kualitas hadis (yang memuat kandungan Sunnah nabi saw.) akan ditentukan secara ekstrim oleh kualitas periwayat! Karenanya para ulama membangun kaidah-kaidah yang mampu menyaring Sunnah dari penyisipan dan pemalsuan atau kesalahan. Hal ini sangat serius sebab di atas pondasi Sunnah disamping Al Qur’an bangunan Syari’at (agama) akkan ditegakkan.

Akan tetapi, dalam praktiknya, kita melihat banyak cela yang mengkhawatirkan akan kehandalanya dalam membentengi agama dari penyisipan dan pemalsuan… Sebagaimana juga mengkhawatrikan dalam kehandalannya dalam mengakomodir seluruh elemen Sunnah yang tercecer di dada para periwayat!

Dalam kajian di bawah ini, penulis tidak dalam kapasitas mengkaji seluruh masalah (baca: cela) dalam proses transfer Sunnah. Kajian ini hanya akkan menyoroti satu cela dalam praktik periwayatan Sunnah yang sebelumnya telah dibakukan dalam kaidah. Atau bisa jadi apa yang sedang terjadi adalah cela dalam praktik yang kemudian dicarikan pembenaran dalam ramuan kaidah yang dibakukan.

Kaidah & Praktik Diskriminatif

Para pemerhati perjalanan dan proses periwayatan Sunnah Nabi saw. pasti menyaksikan dengan jelas adanya sikap diskriminatif yang membahayakan keutuhan dan kemurnian Sunnah Nabi saw.

Sikap diskriminatif itu ditampakkan oleh banyak pemungut dan pengepul hadis dengan penuh arogansi dan acuh terhadap nasib Sunnah! Mereka mencoret sederetan nama harum para periwayat Sunnah hanya karena berbeda aliran atau mazhab! Sehingga para periwayat mulia itu gugur berjatuhan sebagai syuhadâ’ di jalan Allah yang suci akibat keganasan mesin-mesin perang ideologis dan fanatik buta mazhabiyah.

Umat Islam dilarang bersentuhan dengan riwayat-riwayat para periwayat tersebut hanya karena satu sebab! Karena mereka bukan dari kelompok aliran Anda! Ia bukan putra mazhab Anda!

Mereka diintimidasi dan dimasukkan dalam daftar hitam para perusak agama yang harus diwaspadai bahkan harus dibasmi atau paling tidak dikarantina/diisolasi agar virus ganas mereka tidak menular dan menjangkiti pikiran umat Islam!!

Demikianlah perlaukan para muhaddis lulusan ‘Madrasah Penguasa Resmi’ terhadap para periwayat yang meyakini bahwa Nabi saw. telah menunjuk Imam Ali as. sebagai pemimpin sepeninggal beliau dan mereka yang berani membahayakan dirinya dengan meriwayatkan hadis-hadis keutamaan Imam Ali dan keluarga suci Nabi saw. ….

Namun mungkin karena keterpaksaan demi menutupi kekurangan materi Sunnah, akhirnya mereka juga mau menerima riwayat hadis sebagian dari “periwayat bermasalah” tersebut. Adz Dzahabi mengakui kenyataan pahit tersebut yaitu kabangkrutan yang dialami mazhabnya dalam materi hadis/Sunnah yang karenanya dengan terpaksa mau menerima hadis riwayat kaum Syi’ah. Ia berkata, “Jika hadis riwayat mereka (Syi’ah) itu ditolak pastilah jumlah yang banyak dari peninggalan kenabian akan hilang dan itu kerusakan nyata dalam agama.”[2]

Akan tetapi bisa jadi selain alasan di atas, ada sebuah kenyataan yang tidak dapat mereka pungkiri bahwa kebanyakan periwayat Syi’ah itu telah diakui kejujuran keteguhan agamanya dan kehandalannya dalam periwayatan Sunnah, sehingga adalah wajar apabila mereka menaruh kepercayaan terhadap para priwayat Syi’ah itu! Al Khathib al Baghdadi melaporkan sebagai berikut, “Sesungguhnya Abdurrahman ibn Shaleh asy Syi’i (W.235H) sering mendatangi Ahmad ibn Hanbal, dan Ahmad pun mendekatkannya, lalu ada yang menegurnya, ‘Wahai Abu Abdillah (panggilan Imam Ahmad_pen), Abdurrahman adalah seorang Rafidhi!’ Maka Imam Ahmad menjawab, “Subhanallah! Seorang yang mencintai sekelompok dari Ahlulbait Nabi saw. kita katakan, ‘Jangan dicintai dia!’ ia itu seorang yang tsiqah! … Muhammad ibn Musa berkata, ‘Aku menyaksikan Yahya ibn Ma’in sering kali duduk di emperan rumah Abdurrahman, ia (Abdurrahman) mengeluarkan untuknya beberapa bendel buku lalu ia menyalinnya. Lalu ada yang menegur Yahya karena sikapnya (mau meriwayatkan darinya) itu, maka Yahya berkata, ‘Abdurrahman ibn Shaleh adalah seorang Syi’ah yang shadûq/sangat jujur. Baginya lebih suka ia tersungkur dari atas langit dari pada berbohong pada separoh huruf.’”[3]

Apa yang dilaporkan al Baghdadi di atas adalah satu dari ratusan atau bahkan ribuan potret hidup kualitas kejujuran para periwayat Syi’ah yang karenanya para ulama dan tokoh hadis Ahlusunnah berhutang budi kepada mereka demi memelihara keselamatan dan keutuhan Sunnah Nabi saw.[4]

Daftar Nama Periwayat Yang Dicoret Berdasarkan Agenda Ilmu Hadis Penguasa

Dalam kesempatan ini, penulis akan menyebutkan daftar bererapa nama yang menjadi korban ‘Unshuriyah Madzhabiyah/fanatisme kemazhaban dan harus disingkirkan dari arena periwayatan Sunnah Nabi saw. berdasarkan metodologi periwayatan versi penguasa.

  1. 1. Abân ibn Taghlib (W 141 H)[5]

Yaqut al Hamawi berkata, “Abân adalah seorang pakar ilmu qira’at, pakar bahasa Arab dan ahli fikih yang berkembang. Ia tsiqah, agung kedudukannya dan tinggi kemuliaannya.”

Abu Nu’aim berkata, ‘Ia adalah puncak dalam segalanya.”

Adz Dzahabi berkata, “Abân ibn Taghlin Al Kufi, seorang Syi’ah tulen tetapi ia sangat jujur… Dan ia telah ditsiqahkan oleh Ahmad ibn Hanbal, Ibnu Ma’in dan Abu Hatim.[6]

Ibnu Hajar berkomentar tentangnya, “Abân tsiqah, ia dibicarakan sebab kesyi’ahannya.” … ia berkata juga, “berkata Ahmad, Yahya, Abu Hatim dan an Nasa’i bahwa Abân tsiqah… Ibnu Adi berkata, ‘Ia memiliki beberapa naskah yang kebanyakannya adalah mustaqim/lulus jika hadis darinya diriwayatkan oleh seorang yang tsiqah. Ia termasuk penyandang kejujuran dalam meriwayatkan kendati ia bermazhab Syi’ah…. .’ Aku (Ibnu Hajar) berkata, ‘Ini adalah ucapan seorang yang inshaf/obyektif. Adapun al; Jauzajâni[7], ia tidak perlu dihiraukan pencacatannya terhadap para perawi asal kota Kufah.”[8]

Ibnu Adi mengatakan, “Ia seorang Syi’ah ekstrim”.

Al ‘Uqaili berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah ia menyebut-nyebut Abân dan memuji kemuliaan adab/sopan santun, dan kemantapan akal serta kesahihan hadis hanya saja terdapat padanya kesi’ahan yanag kental.’”[9]

Azdi berkata, ‘Ia sangat ekstrim dalam kesyi’ahan dan aku tidak menemukannya adalaj masalah pada periwayatanya.”

Dan karena tidak terdapat cacat pada kepribadian dan kejujurannya, para gembong kau Nawashib seperti al Jauzajâni menuduhnya dengan mengatakan, Abân menyimpang dan terkecam mazhabnya.” Seperti juga yang ia tuduhkan tanpa dasar kepada Ajlah dan periwayat Syi’ah atau yang mencintai Ahlulbait Nabi saw. lainnya.

Akan tetapi, seperti ditegaskan Ibnu Hajar bahwa ocehan dan tuduhan palsu al Jauzajâni tidak perlu dihiraukan, sebab ia seorang Nashibi yang membenci Imam Ali as. Dan seperti ditegaskan Rasulullah saw. dalam banyak hadis shahih bahwa pembenci Ali as. adalah munafik! Dan tempat kaum munafik adalaah neraka jahannam!!

Catatan:

Lebih lanjut tentangnya dapat dibaca dalam: Tahdzîb at Tahdzîb, Thabaqât Ibnu Sa’ad, Fahrasat Ibnu Nadîm, Mu’jam al Udabâ’, Siyar A’lâm an Nubalâ’, Mizân al I’tidâl, Khulashah Tahdzib al Kamâl, Syadzarât adz Dzahab, Thabaqât al Qurrâ’, Bughyah al Wu’âdz dan Mirât al Janât.

  1. 2. Ibrahim ibn Yazid ibn Qais an Nakha’i (W. 96 H)[10]

Ibnu Hajar berkata, “Ia adalah mufti penduduk kota Kufah, ia seorang yang shaleh dan fakih… A’masy berkata, Ibrahim adalah seorang yang baik/khayyir dalam hadis.”[11]

Adz Dzahabi berkata, “Aku berkata, ‘Telah tetap perkara bahwa Ibrahim adalah hujjah.”[12]

Ibnu Qutaibah menyebutnya dalam al Ma’ârif: 341 sebagai periwayat Syi’ah.

  1. 3. Ahmad ibn al Mufadhdhal al Qurasyi al Kufi. (W.215)[13]

Adz Dzahabi berkata, “Abu Hatim berkata:

كانَ مِنْ رُؤَساءِ الشيعَةِ، صَدوقًا.

‘Ia adalah seorang tokoh Syi’ah. Ia jujur/shadûq.’”[14]

Ibnu Hajar berkata, “Aku berkata, ‘Abu Bakar ibn Abi Syaibah telah memujinya… Ibnu Hibbân telah menyebutkannya dalam kitab ats Tsiqât… “[15]

Kendati demikian, al Azdi menuduhnya sebagai munkarul hadîts/perawi yang hadis riwayatnya adalah munkar![16]

Mengapa? Hanya al Azdi yang tau alasannya! Akan tetapi, pencacatan serampangan yang dilakukan al Azdi tidaklah pantas untuk digubris, sebab ia –seperti berkali-kali ditegaskan Ibnu Hajar al Asqallâni dalam Hadyu as Sâri –muqaddimah Fathu al Bâri- sering mencacat perawi-parawi bersih dengan tanpa alasan, seperti ketika ia mencacatn Isrâil ibn Musa al Bashri. Ibnu Hajar mengomentarinya dengan: Al Azdi mendha’ifkannya tanpa hujjah! Dan ketika ia mencacat Bahz ibn Asad, Ibnu Hajar kembali menegaskan, “Al Azdi mencacatnya tanda sandaran.” Demikian juga ketika ia mencacat al ‘Alâ’ ibn al Musayyib. Ibnu Hajar mengecamnya dengan mengatakan, “Al Azdi mencacatnya tanpa mustanad/sandaran.” [17]

Jadi sepertinya pencacatan al Azdi tidak layak untuk digubris.

Hadis-hadis riwayatnya yang dikecam oleh para ulama seperti al Azdi dkk. serta digolongkan sebagai hadis-hadis munkar adalah hadis-hadis tentang keutamaan Imam Ali as. dan Ahlulbait Nabi saw. atau hadis-hadis yang akal sebagian tidak mampu memahaminya dengan baik….. di antara hadis riwayatnya yang ditolak para ulama adalah sabda Nabi saw. kepada Imam Ali as. yang beliau riwayatkan sendiri:

يا علِيُّ إذا تَقَرَّبَ الناسُ إلَى خالِقِهِم بِأَنواعِ البِرِّ، فَتَقَرَّبْ إليهِ بِأَنواعِ العَقْلِ.

“Hai Ali, jika orang-orang mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta mereka dengan berbagai amalan kebajikan maka bertaqarrublah engkau dengan beragam akal sehat.”[18]

Mereka mencacat hadis di atas, seakan mereka tidak mengerti bahwa akal sehat adalah sebab bagi segala bentuk kabajikan.. dengannya hamba dapat mengenal Allah Sang Maha Pencipta… dengannya hamba dapat mendekatkan diri kepada Nya, menghamba dan beribadah! Dan tiada kebaikan bagi anal kebajikan tanpanya!

  1. 4. Ajlah Abu Juhaifah al Kindi (W.145 H)[19]

Ibnu Hajar berkata, “Ajlah seorang yang shadûq/jujur, ia seorang Syi’ah, lurus hadis riwayatnya. Dari golongan ke tujuh. Wafat tahun 145 H. Ibnu Ma’in berkata, ‘Ajlah bagus hadisnya, ia seorang tsiqah. Tidak mengapa-ngapa/laisa bihi ba’sun.’ Al Ijli berkata, ‘ia seorang penduduk kota Kufah, jujur terpercaya/tsiqah.’ Ibnu ‘Adi berkata, ‘Ajlah punya banyak hadis yang bagus, darinya ahli hadis kota Kufah dan selainnya meriwayatkan. Aku tidak pernah melihat hadis yang munkar darinya yang melampaui batas, baik sanad maupun matannya, hanya saja ia termasuk seorang penduduk Kufah yang Syi’ah. Dan menurutku ia shadûq’ …[20]

Dalam Tahdîz al Kamâl,2/278 dikatakan bahwa ia lurus hadisnya.

Tidak ada cacat pada kejujurannya hanya saja para ulama mengecamnya dengan sebab alasan mazhab. Dn karenanya sebagian, seperti al Jauzajâni (seorang gembong Nawashib/kelompok pembenci Ali dan Ahlulbait Nabi saw.) menuduhnya sebagai muftarin (pemalsu). An Nasa’i menuduhnya sebagai yang punya pandangan yang jelak.[21]

  1. Jabir al Ju’fi

Di antara yang mengalami perlakuan diskrimatif oleh sebagian besar ulama hadis akibat format penilaian yang sectarian adalah jabir ibn Yazid al Ju’fi. Kendati para ulama ahli hadis Sunni bersepakat bahwa Jabir adalah seorang yang jujur terpercaya dalam periwayatan hadis namun karena ia bukan tergolong perawi yang berkiblat kepada para penguasa tiran yang menadahkan tangan mengemis hadis kepada agen-agen hadis resmi.. karena ia hanya berkiblat kepada keluarga Nabi saw. dan meyakini keimamahan mereka as. maka mereka (Ulama Sunni) pun mencacatnya… Dan pencacatan itu tidak harus dibuktikan dan beralasan… yang pasti ia harus dicacat karena membangkang dari format resmi mazhab Sunni!! Kejujuran tutur katanya, ketaqwaannya, kewara’annya, ketelitiannya dalam meriwayatkan hadis Nabi saw. semua itu harus ddiabaikan.. semua itu tidak berguna sebab ia telah keluar dari garis kesunnian yang ditegakan di atas pondasi keenggaanan menimba hadis dari Ahlulbait as. kecuali sebatas formalitas yang tidak menyentuh keutauhan pondasi bangunan ediologi mazhab!

Jabir Di Mata Ulama Hadis Suuni

Sufyan berkata, “Jabir adalah seorang perawi yang wara’ (ekstra hati-hati) dalam meriwayatkan hadis. Aku tidak pernah menyaksikan seseorang yang lebih wara’ darinya.”[22]

Ismail ibn Ulayyah berkata, “Aku mendengar Syu’bah berkata, ‘Jabir al Ju’fi adalah seorang perawi yang shadûq/jujur dalam periwayataan hadis.”[23]

Syu’bah berkata, “Janganlah perhatikan orang-orang gila itu yang mencacat-cacat Jabir al Ju’fi. Akankah telah datang dari seseorang kepada kalian dengan membawa sesuatu yang tidak ia katakana?”[24]

Wakî’ berkata, “kalaupun kalian ragu atas sesuatu apapun maka jangan pernah ragu bahwa Jabir itu seorang perawi yang tsiqah/terpercaya. Mis’ar, Sufyan, Syu’bah dan Hasan ibn Shaleh telah menyampaikan hadis darinya kepada kami.”[25]

Muhammad ibn Abdillah ibn Abdil Hakam berkata, “Aku mendengar (Imam) Syafi’i berkata, ‘Berkata Sufyan ats Tsawri kepada Syu’bah, ‘Jika kamu berbica (mencacat) Jabir aku akan mencacatmu!.’”[26]

Mu’alla ibn Manshûr ar Râzi berkata, “Abu Mu’awiyah berkata kepadaku, ‘Sufyan dan Syu’bah melarang orang-orang mencacat Jabir al Ju’fi…”[27]

Jabir adalah salah seorang rujukan utama hadis yang dirujuk para ulama dan ahli hadis. Adz Dzahabi telah mensifatinya dengan: Ia adalah salah seorang wadah ilmu/aw’iyatul ‘ilmi.”[28]

Tidaklah berlebihan apa yang dikatakan adz Dzahabi di atas, sebab seperti ditegaskan oleh Abdurrahman ibn Syarîk bahwa Jabir al Ju’fi memliki ilmu tentang sepuluh ribu masalah agama.[29]

Jarrâh ibn Malîh berkata, “Aku mendengar Jabir berkata, ‘Aku memiliki tujut puluh ribu hadis ndari Abu Ja’far (Imam Muhammad al Bâqir/imam kelima Syi’ah) dari Nabi saw. yang semuanya mereka tinggalkan.’”[30]

Sallâm ibn Abi Muthî’ berkata, “Aku mendengar Jabir al Ju’fi berkata, ‘Aku punya lima puluh ribu hadis dari Nabi saw. yang tidak aku sampaikan kepada seorang pun.’”[31]

Pernyataan serupa juga dinukil dari Zuhair ibn Mu’awiyah.[32]

Jika demikian kualitas kejujuran dan keluasan ilmu Jabir al Ju’fi, lalu mengapakan ulama hadis Sunni enggan meriwayatkan hadis darinya? Dan mengapa mereka berbalik menuduh Jabir dengan tuduhan keji sebagai pembohong? Dan tidak cukup itu mereka menngintimidasi setiap orang yang mencoba berani meriwayatkan hadis darinya?[33]

Mengapa semua itu?

Jawabnya mudah Anda dapati dengan sedikit mencermati keterangan para ulama itu sendiri…. Mereka mengarahkan serangan ganas terhadap jabir karena dua alasan:

Pertama, Jabir al Ju’fi beriman dengan keimnanan yang tegas dan teguh akan keunggulkan Ahlulbait Nabi as. di atas semua umat manusia dan mereka adalah para pelanjut misi kenabian yang mengemban ilmu-ilmu kerasulan…. Mereka adalaah rujukan utama dan tunggal bagi yang berminan mengenal ajaran agama secara utuh dan otentik!

Mereka pun mengejek Jabir atas keyakinannya ini. Ketika Jabir menyampaikan hadis ia berkata, “Telah menyampaikan hadis kepadaku washi al awshiyâ (pengemban wasiat Nabi saw.)”.[34] Imam Muhammad al Baqir as. maksudnya.

Dan karenanya keyakinanya itu Jabir diganjar oleh para ulama hadis Sunni dengan dibuangnya riwayat-riwayat darinya. Mereka tidak sudi lagi menimba ilmu Ahlulbait as. dari Jabir.

Adz Dzahabi melaporkan: Sufyan ibn ‘Uyainah berkata, ‘Aku buang Jabir al Ju’fi dan aku tidak mau mendengar riwayat/hadis darinya. Ia (Jabir) berkata, ‘Rasulullah saw. memanggil Ali lalu mengajarinya seluruh ilmu yang telah beliau ketahui. Lalu Ali memanggil Hasan dan mengajarinya seluruh ilmu yang telah ia ketahui. Lalu Hasan memanggil Husain dan mengajarinya seluruh ilmu yang telah ia ketahui. Lalu Husain memanggil putranya …. Sampailah kepada Ja’far ibn Muhammad … Sufyan berkata, “Maka aku tinggalkan hadisnya karena alasan itu.”[35]

Jabir juga berkata, “Ilmu yang dimiliki Nabi saw. berpindah kepada Ali kemudian dari Ali berpindah kepada Hasan dan demikian seterusnya ilmu itu sampai kepada (Imam) Ja’far.”[36]

Jadi jelas mengapa mereka membuang hadis riwayat Jabir! Karena keyakinan Jabir yang kokoh bahwa Ahlulbiat nabi lah yang mewarisi ilmu Nabi saw. dan mereka adalah sumber agama yang terpercaya!

Kedua, Jabir dibuang dan dicacat dikarenakan ia meyakini akan adanya/terjadinya Raj’ah (dibangkitkannya kembali sekelompk umat manusia sebelum harim kiamat tiba).

Para ulama ahli hadis Sunni mencacat Jabir karena keyakinanya tersebut! Demikian dikatakan Abu Muhammad ibn Adiy.[37]

Zâidaah berkata, “Jabir meyakini adanya Raj’ah.”[38]

Jarir ibn Abdil hamîd berkata, ‘Aku tidak menghalalkan untuk diriku meriwayatkan hadis darinya (Jabir), ia beriman akan Raj’ah.”[39]

Sebelum menampakkan keyakinannya itu, para ulama hadis Suni sangat mengandalkannya dalam meriwayatkan hadis… akan tetapi setelah ia menyatakan secara terang-terangan keyakinannya itu, spontan mereka berbalik mengecamnya dan menuduhnya sebagai pembohonjg dan ahli bid’ah dan kemudian hadis-hadis riwayatnya dibuang ke tong sampah!

Al ‘Uqaili melaporkan, “Para ulama hadis meriwayatkan hadis dari Jabir sebelum ia menampakkan apa yang ia tampakkan. Ketika ia tampakkan apa yang ia tampakkkan, mereka menuduhnydalam periwayatan hadis. Sebagian orang membuangnya. Lalu ditanyakan kepadanya, apa yang ia tampakkan? Ia berkata, ‘Keyakinan akan raj’ah.’[40]

Dari keterangan di attas jelaslah bahwa perlakuan ulama hadis Sunni dalam menilai kualitas kejujuran seorang perawi hadis tidak obyektif…. Mereka melibatkan perhitungan persengketaan mazahab sebagai tolok ukur menimbang… sebuah neraca yang sangat berbahaya dan berdampat kepada sikap-sikap intimidatif atas lawan mazhab dan/atau menyanjung perawi bobrok hanya karena terpayungi dalam naungan satu mazhab!

Lalu siapak yang akan mengalamim kerugian? Jelas bukan para ulama ahli hadis yang berserengan mazhab dengan Mazhab Sunni.. akan tetapi mazhab Sunnilah yang akan mengalami kerugian dengan terlewatkannya ribuan bahkan mungkijn puluhan atau raatusan ribu hadis Nabi saw. atas mereka hal mana menjadikan mereka butuh untuk menambal kekurangan itu dengan beragam terobosan di antaranya dengan mengaandalkan ra’yu/perndapat pribadi yang kerkecam dalam agama atau mengemis kepada keterangan Ahlul Kitab; pendeta Yahudi dan Nashrani yang berpura-pura memeluk Islam dan akibatnya tercemarilah kesucian ajaran agama kita dengan kepalsuan ocehan mereka! Innâ Lillâhi wa Innâ Ilaihi Râji’ûn.


[1] Tentunya tidak bagi Sunnah (baca hadis/riwayat) yang telah mencapai kualitas mutawatir.

[2] Mîzân al ‘I’tidâl, 1/5, ketika menyebut data hidup Abân ibn Taghlib.

[3] Târîkh Baghdad,10/260. Dâr al Kotob al Ilmiyah- Beirut dan Tahdzîb at Tahdzîb,6/197.

[4] Walaupun sebagian penulis bayaran berusaha memfitnah kaum Syi’ah dengan menuduh para periwayat hadis Syi’ah adalah para pembohong yang hanya gemar memalsu hadis atas nama Rasulullah saw.! orang-orang yang sudah tercipta berberangan denga karakter berbohong dan memalsu… tidak beriman kepada Allah, rasul-Nya dan hari akhir…. Seperti yang difitnahkan oleh DR. Nashir Al Qiffari dalam bukunya Ushûl Mazhab Syi’ah.

[5] Hadis darinya telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, at Turmudzi, An Nasa’i, Abu Daud dan Ibnu Majah, masing-masing dalam kitab Sunan mereka. Para ulama yang meriwayatkan langsung darinya adalah Musa ibn Uqbah al Azdi, Syu’bah ibn Jajaj, Sufyan ibn ‘Uyainan dan selain mereka. (Baca Tahdzîb at Tahdzîb,1/63)

[6] Mîzân al ‘I’tidâl,1/5.

[7] Al Jawzajâni, nama lengkapnya Abu Ishaq; Ibrahim ibn Ya’qub Al Jawzajâni Ad Dimasyqi. Para ulama tidak jarang mengandalkannya dalam menilai rijâl kendati ia seorang nashibi. Ibnu Adiy berkata, “Ia sangat condong kepada mazhab penduduk Syam dalam hal membenci Ali.” As Sulami berkata menukil Ad Dâruquthni setelah menyebut pentsiqahannya, “Ia menyimpang dari Ali. Pada suatu hari, banyak orang berkumpul di depan pintu rumahnya, lalu ia perintahkan seorang pembantu wanitanya untuk keluar dengan membawa seekor anak ayam agar ada seeorang yang mau menyembelihnya, tapi tidak ada orang yang mau melakukannya. Maka Al Jawzajâni berkata, “Subhanallah! Seekor anak ayam tidak ada yang tega menyembelihnya, sementara Ali dalam satu pagi menyembelih dua puluh ribu sekian orang Muslim.”

Dalam Mukaddimah Fath al Baarinya, Ibnu Hajar menegaskan, “Al Jawzajâni adalah seorang Nashibi yang menyimpang dari Ali, ia lawan Syi’ah….” Dalam kesempatan lain Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Al Jawzajâni adalah seorang yang ghâlin fi an Nushbi, ekstrim dalam penyimpangannya dari Ali…” (Baca: Hadyu as Sâri Mukaddimah Fath al Bâri,2/144 dan160)

[8] Tahdzîb at Tahdzîb,1/63

[9] Adh Dhu’afâ’; al ‘Uqaili,1/37. Dâr al Kotob al Ilmiyah.

[10] Hadis darinya telah dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim serta ulama lainnya. Dan ahli hadis yang meriwayatkan langsung darinya adalah A’masy, Ibnu ‘Aun, Zabîd al Yâmi, Hammâd ibn Sulaiman dkk. (Baca Tahdzîb at Tahdzîb,1/115)

[11] Tahdzîb at Tahdzîb,1/115.

[12] Mîzân al I’tidâl,1/75.

[13] Hadis riwayat darinya telah dikeluarkan oleh Muslim, Abu Daud dan an Nasa’i. Darinya Abu Zur’ah, Abu Hatim, kedua putra Abu Syaibah dan Ahmad as Sulami. (Baca; Tahdzîb at Tahdzîb,1/55).

[14] Mîzân al I’tidâl,1/157.

[15] Tahdzîb at Tahdzîb,1/55.

[16] Al Mughni Fi Dhu’afâ’ ar Rijâl,1/95/466.

[17] Hadyu as Sâri,2/215 dan 217.

[18] HR. Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’,1/18.

[19] Hadis riwayat darinya telah dikeluarkan oleh Bukhari dalam kitab Al Adab al Mufrad dan Muslim serta lainnya. Darinya Sufyan ats Tsauri, Ibnu Mubarak, Yahya ibn Sa’id al Qaththan dan lainnya meriwayatkan hadis. (Tahdzîb at Tahdzîb,1/122).

[20] Tahdzîb at Tahdzîb,1/166.

[21] Mîzân al I’tidâl,1/79.

[22] Tahdzîb al Kamâl,4/467, Târîkh al Islam; adz Dzahabi (ketika membicarakan tokoh-tokoh yang wafat di antara tahun 121-140 H), Mîzân al I’tidâl,1/379 dan Tahdzîb at Tahdzîb,2/47.

[23] Ibid dan Al Jarh wa at ta’dîl,1/136.

[24]Al Jarh wa at Ta’dîl,1/136.

[25]Tahdzîb al Kamâl,4/467, Târîkh al Islam; adz Dzahabi (ketika membicarakan tokoh-tokoh yang wafat di antara tahun 121-140 H), Mîzân al I’tidâl,1/379 dan Tahdzîb at Tahdzîb,2/47.

[26] Ibid.

[27] Tahdzîb al Kamâl,4/468 dan Tahdzîb at Tahdzîb,2/47.

[28] Târîkh al Islam(ketika membicarakan tokoh-tokoh yang wafat di antara tahun 121-140 H).

[29] Mîzân al I’tidâl,1/380.

[30] Shahih Muslim, Mukaddimah,1/25 dan Mîzân al I’tidâl,1/383.

[31] Mîzân al I’tidâl,1/380 dan Tahdzîb at Tahdzîb,2/48.

[32] Mîzân al I’tidâl,1/379.

[33] Tentang sikap aneh para ulama itu dapat Anda rujuk dalam: Tahdzîb al Kamâl,1/469, Tarikh Islam(ketika membicarakan tokoh-tokoh yang wafat di antara tahun 121-140 H), Mîzân al I’tidâl,1/380 dan Tahdzîb at Tahdzîb,2/47-49, dan adh Dhu’âfâ’; al ‘Uqaili,1/192-196.

[34] Adh Dhu’âfâ’; al ‘Uqaili,1/192-196, Mîzân al I’tidâl,1/380 dan Tahdzîb at Tahdzîb,2/47-49.

[35] Mîzân al I’tidâl,1/381.

[36] Ibid.

[37]Tahdîb al Kamâl,4/469 dan Tahdîb at Tahdîb,2/48.

[38] Tahdîb al Kamâl,4/469 dan Tahdîb at Tahdîb,2/48 dan keterangan serupa juda dalam adh Dhu’âfâ’; al’Uqaili.1/93.

[39] Mîzân al I’tidâl,1/380, dan Tahdîb at Tahdîb,2/49 adh Dhu’âfâ’; al’Uqaili.1/93.

[40] adh Dhu’âfâ’; al’Uqaili.1/94.

12 Tanggapan

  1. Kami yang ada di daerah sangat bergembira dengan uraian ustad. pada kesempatan ini kami mohon ijin menrbitkan tulisan ustad dalam bentuk bulletin yang kami gratiskan untuk menjelaskan masalah Isue yang menjelekan syiah.

    kami mohon juga ustad sudi menanggapi tulisan dihttp://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/11/mengenal-fiqh-syiah-1-hukum-menerima.html tentang hukum menerima donor spermalaki laki ajnabiy ke rahim istri. karena menyangkut fiqih kami sangat kekurangan informasi mohon ustad menanggapi Dan membantah tulisan di blog tersebut.

    Ibnu Jakfari:

    Terima kasih. Silahkan. Tentang masaah fikih itu akann kami pelajari artikel Abu jauza terlebih dahulu.
    Syukran.

    • @relawanindonesia

      Mas saya juga ingin tahu bagaimana tanggapan sampean dengan artikel diatas? juga tanggapan ustad anda Abu jauza…

      yang juga enting saya ingin tahu tanggapan anda terhadap artikel mas jakfari bahwa banyak perawi hadis sunni termasuk perawi bukhori yang ternyata seorang pencaci maki sahabat Nabi saw.. padahal menurut kaidah ahli hadis sunni perawi yang mencaci sahabat hadisnya harus dibuang/di tinggalkan..? gimana ini mas. tolong sampekan kepada ustad abu jauza untuk menjawabnya

      https://jakfari.wordpress.com/2009/10/12/ternyata-mencaci-maki-sahabat-nabi-tidak-apa-apa-hukumnya/

  2. Berikut saya kopikan, mohon ustadz tanggapi.

    Berikut ini akan dituliskan sebagian fiqh Syi’ah dari fatwa salah seorang ulama tertinggi Syi’ah kontemporer, yaitu Aayatullaah Al-‘Udhmaa As-Sayyid ‘Aliy Al-Husainiy Al-Khaamainiy. Diambil dari kitab karangannya yang berjudul Al-Ajwibah (Al-Masaailut-Thibbiyyah) juz 2, hal. 71, Ad-Daarul-Islaamiyyah.

    Pertanyaan :

    “Apakah diperbolehkan untuk membuahi (sel telur/ovum) istri seorang laki-laki yang mandul dengan sperma (nuthfah) laki-laki ajnabiy (bukan mahram) dengan jalan memasukkan sperma tersebut ke dalam rahim si istri ?”.

    Jawab :

    Tidak ada larangan dari syari’at dalam usaha membuahi (sel telur/ovum) seorang wanita dengan sperma laki-laki ajnabiy. Akan tetapi wajib bagi wanita dan laki-laki itu untuk menjauhi pembuka hal-hal yang diharamkan, seperti memandang, menyentuh, dan yang lainnya. Meskipun demikian, apabila dilahirkan dari pembuahan tersebut seorang anak, maka ia tidak dinasabkan pada si suami, namun dinasabkan pada laki-laki pemilik sperma dan wanita pemilik rahim dan ovum. Sudah selayaknya dalam kondisi seperti ini agar berhati-hati, terutama menyangkut permasalahan waris……” [selesai jawaban dari Al-Khaamainiy].

    Kita katakan :

    Fatwa di atas adalah fatwa baathil yang akan menyebabkan kekacauan nasab dan direndahkannya kehormatan muslim/muslimah melalui jalan perzinahan. Allaahul-Musta’aan. Ada yang ingin mempraktekkan ? Saya kira, fithrah Islam akan mencegah kita untuk melakukannya, sekaligus akan mengingkarinya…….. kecuali………

    Berikut adalah sumber penukilannya :

    [Abul-Jauzaa’ Al-Atsariy – 1 Dzulhijjah 1430 H, Perumahan Ciomas Permai, Ciapus, Ciomas, Bogor – http://abul-jauzaa.blogspot.com%5D.
    di 08:21
    Label: Syi’ah

    di sana juga ada scan kitab juga mohon ditanggapi

    Ibnu Jakfari:

    Salam akhi, menvonis fatwa itu bathil adalah sikap gegabah…. dan kekacauan nasab yang dikhawatirkan itu di mana?
    Apa yang dimaksud dengan zina dalam syari’at? Apa arti dan kriteria nasab? Apakah ia dikutkan kepada suami secara hukum, atau kepada pemilik sperma sah?
    Tolong dijelaskan dulu pandangan Syari’at berikut dalilnya, baru setelahnya anda berhak mengatakan fatwa itu bathil atau tidak!

  3. Ustadz ada komentar di Facebook demikian mohon tanggapan

    oleh Abdullah bin Abi Ya’foor: Aku menanyakan pada Abu Abdullah tentang
    ngeseks dengan para wanita melalui anus mereka,dia berkata: Tak ada masalah. Dia lalu melafalkan 2:223 “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam,maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu…… kehendaki.”[Tafseer
    al-Ayyashi, vol.1, p.110; Bihaar al-Anwaar Baqir al-Majlisi, vol.23,
    p.98; al-Burhaan fee Tafseer al-Qur’an: Hashim al-Bahraani,vol.1, p.219; Wasaa’il al-Shi’a: al-Hur al-Amily, vol.3, chpater 73: An-Nikaah wa Aadabuh](INI DARI KITAB2 SYIAH)

    Ibnu Jakfari:

    Akhi, semua yang bergelut dalam liku-liku dunia hadis pasti tau bahwa tidak dibenarkan mengambil sikap gegabah dalam menilai atau menyimpulkan sebuah hukum darinya tanpa memerhatikan berbagai hal terkait… termasuk juga dalam masalah hadis di atas.
    Kedua, apa yang aneh dari hadis di atas?
    Kalau itu dianggap sebagai cacat atas Syi’ah ketahuilah hadis-hadis yang persis maknanya dengan hadis di atas juga banyak diriwayatkan dan dishaihkan ulama Sunni.

  4. wah bagus banget nih postingnya. salam kenal ya.
    senang melihat posting anda yang begitu islami. jadi ingin terus berkunjung

  5. menyedihkan apa yang terjadi dengan saudara saudara kita yg bermahzab sunni….😦

  6. Kalau melihat tulisannya Ustd Jakfari….Kacau sekali apa yang dibangun oleh Umat Islam Mayoritas selama ini yah.
    manusia bisa sangat berkuasa dan bebas didalam menetukan hadist2….kehendaknya serba disesuaikan dengan perasaan benci dan suka. Padahal…didlm agama sendiri dlm menghukum sesuatu untuk tidak atas perasaan suka atau tdk suka….

  7. Terimakasih pada Ustd yang telah memberikan pencerahan. sekalian kami dari komunitas kaki langit mohon ijin menerbitkan tulisan ustadz dalam bentuk bulletin bernama al mawaddah, yang insya Allah akan kami edarkan secara gratis.
    syukran sebelumnya. dari kami komunitas kaki langit
    dengan alamat blog http://www.lenteralangit.wordpress.com
    wasalam

    Ibnu Jakfari:

    Demi pencerahan umat kami berterima kasih kepada Anda dan rekan-rekan seperjuangan Anda… Jangan lupa cantumkan sumber pengambilan Anda.

  8. @Ibnu Jakfari
    saya mau minta bantuan info lagi, Pak🙂 Sekaitan dgn catatan kaki nomor 7 perihal Al-Jawzajani yg diriwayatkan menyatakan bhw Imam ‘Ali menyembelih 20000-an muslim: apa kitab rujukan yg memuat hal tsb? Terima kasih atas bantuannya. Salam ‘alaykum.

    Ibnu Jakfari:

    Coba Anda baca Tahdzib at Tahdzib… atau kitab ar Rijal lainnya.

  9. @ ibnu jakfari :
    anda klo jwb jgn cuma ” Coba Anda baca Tahdzib at Tahdzib… atau kitab ar Rijal lainnya”
    klo kth tahdzib 5 lmbr gampang carinya ,sebutkan hal sekian , gituuuuuuuuuuu……
    pernyataan anda :
    menvonis fatwa itu bathil adalah sikap gegabah….
    jwb :
    saya setuju,krn agama dg naql bkn dg akal kata imam ali.
    saya mau tanya ke anda,bagaimana fatwa ulama syi’ah yg membolehkan tadi ??
    tlg jgn anda langsung jwb benar krn sama syi’ah nya dg anda,tapi dari mana pengambilan nya ?

  10. […] Perlakuan Diskriminatif Terhadap Pembawa Syari’at Islam Standar Ganda Dalam Menilai Perawi […]

  11. […] Perlakuan Diskriminatif Terhadap Pembawa Syari’at Islam Standar Ganda Dalam Menilai Perawi Di Mata Ahlusunnah, Ahlulbait as. Adalah Ahli Bid’ah Dan Penyimpang Agama? […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: