Imam Bukhari dan Perawi Pencaci-Maki Sahabat Nabi saw.!! (1)

Sikap damai lagi mesra terhadap para pembenci dan pencaci maki Imam Ali dan Ahlulbait serta berbanggga dalam mengandalkan riwayat mereka oleh para ulama hadis Sunni juga diperagakan Bukhari –Imam Besar Hadis, bahkan mungkin diangap Imam teragung-. Dalam kitab Shahihnya yang diyakini keshahihan seluruh hadis di dalamnya oleh ulama Sunni sehingga menjadi pandangan resmi mazhab itu, telah mengandalkan kaum Nawâshib yang sangat membenci Imam Ali as. dan juga mencaci maki dan menghina serta melaknati beliau as. sebagai sumber kepercayaan agamanya. Ia banyak meriwayatkan dari kaum Nawâshib.

Ibnu Hajar dalam Mukaddimah Fathu al Bâri (kitab syarah terbesar atas Shahih Bukhari) menyebutkan daftar nama para perawi hadis yang diandalkan Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya yang dicacat para ulama. Di antara mereka adalah para perawi yang dicacat karena alasan kenashibian/kebencian kepada Ali dan Ahlulbait.

Di bawah ini –demi menyingkat waktu pembaca- langsung saja saya sebutkan nama-nama mereka beriktu keterangan singkatnya:

  • Tsaur ibn Yazîd ibn Ziyâd al Kilâ’I al Himshi asy Syâmi (w.153 H)

Imam Bukhari telah mengandalkannya dalam menyumbangkan lima riwayat dalam berbagai bab, di antaranya pada bab: al Buyû’ (jual beli), al Jihâd dan Kitab al Ath’imah (makanan), bab Mâa Yuqâlu Idzâ Faragha Min Tha’âmihi (apa yang diucapkan jika selesai makan)[1]. Imam Bukhari menyebutkan jalur darinya demikian: Telah menyampaikan hadis kepada kami Ishaq ibn Yazîd ad Dimasyqi, ia berkata, telah menyampaikan hadis kepada kami Yahya ibn Hamzah, ia berkata telah menyampaikan hadis kepadaku Tsaur ibn Yazîd dari Khalid ibn Ma’dân ….

Tsuar Di Mata Ulama hadis Sunni

Yahya ibn Ma’in berkata, “Aku tidak menyaksikan seorang pun yang meragukan bahwa ia adalah seorang panganut faham Qadariyah. [2]

Ahmad ibn Hanbal berkata, “Tsaur berfaham Qadariyah. Dan adalah penduduk kota Himsh mengusirnya dari kota mereka. [3]

Ibnu Hajar berkata, “Ia datang ke kota madinah maka Malik melaraang orang-orang untuk duduk bersamanya. Ia dituduh berfaham nushb (membenci Imam Ali dan Ahlulbait as.).”

Yahya ibn main berkata, “Ia (Tsaur) sering duduk-duduk bersama kaum yang mencaci maki Ali. Akan tetapi ia sendiri tidak mencaci makinya.” [4]

Ibnu Jakfari berkata:

Pembelaan Yahya ibn Ma’in terhadap Tsuar di atas tidak benar sebab terbukti bahwa Tsaur tidak hanya gemar dan menikmati duduk bersama kaum yang menjadikan caci maki Imam Ali as. sebagai tema dan obyek pembicaraan… akan tetapi ia juga sangat ganas dalam kebenciannya terhadap Imam Ali as.; sahabat termulia dan khalifah keempat di kalangan Ahlusunuhhah, menantu Nabi saw.

Al Ka’bi melaporkan dalam kitab Qabûl al Khbâr bahwa Tsaur setiap kali menyebut Imam Ali as. selalu berkata, “Aku tidak suka orang yang membunuh kakekku. [5] Dan kakeknya terbunuh dalam peperangan Shiffîn di pihak Mu’awiyah yang disabdakan Nabi saw. (sesuai riwayat Imam Bukhari) sebagai pemimpin kelompok penganjur ke neraka jahannam.!!

Dan pembelaan seperti itu biasa dilakukan terhadap para perawi pujaan mereka…. Karenanya tidak mengherankan jika Anda juga menemukan pujian dan penghargaan atasnya oleh sebagian ulama dan tokoh sentral Sunni, seperti Yahya al Qaththân, yang memujinya dengan: “Aku tidak pernah menyaksikan seorang penduduk kota Syâm yang lebih kokoh riwayatnya darinya.” Atau pembelaan Ibnu Hajar dengan kata-katanya, “Para ulama bersepakat akan ketepatan riwayatnya.”

Anda berhak bertanya akan keseriusan para ulama Sunni dalam menyikapi para pembenci dan pencaci maki sahabat, yang dalam rancangan konsep mereka siapa pun yang membenci dan apalagi juga dilengkapi dengan mencaci-maki sahabat Nabi saw. mereka kecam sebagai zindiq, fasik, pembohong yang tidak halal didengar hadisnya!! Lalu bagaimana dengan perawi yang membenci dan mencai-maki Imam Ali as.? Apakah mereka akan berkonsekuen dalam mengetrapkannya? Atau mereka akan melakukan praktik “Tebang Pilih”! Jika seoraang perawi mencaci maki Mu’awiyah, ‘Amr ibn al ‘Âsh, Abu Hurairah, Utsman ibn ‘Affân, Umar ibn al Khathtab, atau Abu Bakar misalnya, hukuman itu ditegakkan! Jika yang dicaci dan dibenci saudara Rasulullah saw. dan menantu tercintanya; Ali ibn Abi Thalib as. maka seakan tidak terjadi apa-apa! Seakan yang sedang dicaci-maki hanya seorang Muslim biasa atau bisa jadi lebih rendah dari itu…. Pujian dan sanjungan tetap dilayangkan… kepercayaan terhadapnya tetap terpelihara… keimanannya tetap utuh… bahkan jangan-jangan bertambah karena mendapat pahala besar di sisi Allah kerenanya, sebab semua itu dilakukan di bawah bendera ijtihad dan keteguhan dalam berpegang dengan as Sunnah!!

Mengapa kegarangan sikap dan ketegasan vonis itu hanyaa mereka tampakkan dan jatuhkan ketika yang dicaci-maki dan dibenci adalah sahabat selain Imam Ali as., betapapun ia seorang fasik berdasarkan nash Al Qur’an, seperti al Walîd ibn ‘Uqbah! Sementara jika Ali as. atau sahabat dekatnya seperti Ammar ibn Yasir, Salman al Farisi, Abu Darr ra. dkk. yang dicaci-maki dan dibenci serta dilecehkan semua seakan tuli dan bisu….

Inilah yang menjadikan pera peneliti menaruh kecurigaan akan ketulusan, kejujuran dan keseriusan para ulama Sunni dalam membela Ali dan keluarga; Ahlulbait Nabi yang suci dan disucikan Allah.

  • Ishâq ibn Suwaid ibn Hubairah at Tamîmi (w.131H)

Imam Bukhari telah mengandalkannya dalam menyumbangkan hadis dalam Kitab ash Shaum (puasa) digandeng dengan riwayat Khâlid al Hadzdzâ’.

Dalam Hadyu as Sâri-nya, Ibnu Hajar menegaskan bahwa “Yahya ibn Ma’in, an Nasa’i dan al Ijli mentsiqahkannya, dan ia mengecam Ali ibn Abi Thalib.”[6]

Ibnu Hajar juga berkata dalam kitab Tahdzîb at Tahdzîb, “Abu al ‘Arab ash Shaqali berkata dalam kitab adh Dhu’afâ’nya, ‘Ia sangat mengecam/membenci Ali. Ia berkata, ‘Aku tidak suka Ali. Ia tidak banyak hadisnya.’ Dan kemudian ia berkomentar, ‘Siapa yang tidak mencintai sahabat maka ia bukan seorang yang tsiqah/jujur terpercaya dan tidak ada kehormatan baginya.’” [7]

Ibnu Jakfari berkata:

Semoga Allah merahmati ash Shaqali dan membalasnya dengan kebaikan atas ketulusannya dalam membela kesucian Imam Ali as.

Akan tetapi yang disayangkan lagi mengherankan adalah sikap sebagian ulama hadis Sunni yang masih sudi mempercayai perawi fasiq dan munafik sepertinya sebagai sumber agama?!

Tidakkah kebenciannya terhadap Imam Ali as. yang mana kecintaan dan kebencian kepadanya telah dijadikan barometer keimanan dan kemunafikan! Lalu mengapakah Imam Bukhari dan ahli hadis lainnya seperti Muslim, an Nasa’i dan Abu Daud mempercayainya sebagai penyambung lidah suci Rasulullah?

Mengapakah Imam Bukhari mempercayainya dan menjadikannya hujjah yang menyambungkan dirinya dengan Allah, sementara ia tidak sudi meriwayatkan dari putra teladan Ahlulbait; Imam Ja’far ash Shadiq as. dan meragukannya?

Adilkan sikap mereka itu?

Mereka Bangkit Geram Jika Selain Ali as. Yang Dikecam!

Benar seudaraku –semoga Allah merahmati Anda- bahwa jika yang dikecam itu selain Imam Ali ibn Abi Thalib as. maka mereka tidak akan ragu-ragu untuk spontan menjatuhkan vonis garang atas pelakunya… Perhatikan caci-maki dan luapan kemarahan adz Dzahabi atas al Hafidz Ibnu Khirâsy –kendati tadinya ia mensifatinya dengan beragam pujian akademik seperti al Hâfidz/sangat hafidz yang dalam lagi luas pengetahuannya. Lalu setelanya ia menuduhnya sebagai penganut faham Syi’ah dan membuat-buat riwayat tentang kejelakekan Abu Bakar dan Umar… setelah itu semua ia mengalamatkan kecamanannya atas Ibnu Khirâsy dengan kata-kata, “Engkau adalah seorang Zindiq, penentang kebenaran/al Haq. Semoga Allah tidak pernah meridhaimu. Ibnu Khirâsy mati menuju selain raahmat Allah tahun 283 H.” [8]

Demikian pula dengan Ibnu Hajar dalam kitab Tahdzîb at Tahdzîb ketika menyebut biografi Janâb al Asadi, ia menyebutkan bahwa  ad Dûri menukil Yahya ibn Ma’in berkata tentangnya, “Ia (Janâb) adalah seorang yang jelek. Ia mencaci Utsman…

Ahmad ibn Hanbal berkata, “Ia adalah seorang yang jelek pendapatnya.

Ibnu Hibbân berkata, “Tidak halal meriwayatkan hadis darinya.”

Ad Dâruquthni berkata, “Ia adalah seorang yang jelek, berfaham Syi’ah yang kental. Ia mencaci-maki Utsman.”

Al Hakim berkata, “Yahya dan Abdurrahman meninggalkan meriwayatkan hadis darinya, dan keduanya telah berbuat baik, sebab ia mencaci-maki Utsman. Dan barang siapa mencaci seorang sahabat maka ia pantas untuk tidak diambil riwayatnya.

Lebih dari itu, ada sebuah kenyataan yang lebih menyakitkan hati para pecinta Ahlulbait Nabi as… di mana mereka bermesraan dengan para pembenci Imam Ali as. dan mereka yang mencaci-makinya serta melaknatinya… Namun terhadap seorang parawi yang sekedar bersikap kurang menghormat kepada seorang ulama kebanggaan mereka –bukan seorang sahabat besar!- hanya seorang ulama! Mereka segera beramai-ramai mengecamnya! Bahkan melaknatinya!

Banyak contoh kasus dalam hal ini, akan tetapi saya hanya akan menyebutkan sekelumit saja.

Ibnu Hajar dalam kitab Tahdzîb at Tahdzîb ketika menyebut biografi Husain al Karâbisi, ia berkata, “Berkata al Khathib, ‘Hadisnya jarang sekali, sebab Ahmad ketika berbicara tentang masalah Lafadz (ucapan/bacaan) Al Qur’an (apakah ia qadim atau makhluq), al Karâbisi menyalahkan Ahmad, maka para ulama menjauhi dari mengambil riwayat darinya. Dan ketika sampai kepada Yahya ibn Ma’in berita bahwa ia berbicara menyalahkan Ahmad, ia melaknatinya. Dan ia berkata, ‘Alangkah laiknya ia untuk dicambuk.’”

Sementara itu mereka juga mengatakan bahwa keyakinan Husain al al Karâbisi dalam masalah ini adalah bahwa bacaan kita terhadap ayat-ayat Al Qur’an adalah hâdits/bukan Qadîm. Keyakinan itu sama persis dengan yang diyakini oleh banyak tokoh ulama hadis Sunni, seperti Imam Bukhari, Hârits al Muhâsibi, Muhammad ibn Nashr al Marwazi dll.

Subhanallah. Imam Ali dikecam, mereka terdiam! Sementara Ahmad ibn Hanbal disalahkan mereka bangkit melaknati yang menyalahkannya!!

Contoh kedua adalah pembelaan ulama Sunni terhadap Ibnu Mubârak. Ibnu Hajar dalam Tahdzîb at Tahdzîb berkata ketika menyebut biografi Ibnu Mubârak, “Aswad ibn Salim berkata, “Jika engkau melihat seorang menceloteh Ibnu Mubârak maka curigai kemurnian Islamya!.”

Membongkar contoh-contoh kasus dalam masalah ini akan menjadi panjang pembicaraan kita… Maka kami cukupkan sampai di sini.

(Bersambung Insya Allah)


[1] Shahih Bukari,7/106.

[2] Mîzân al I’tidâl,1/374, biografi no.1406. Pernyataan Yahya di ataas juga disebutkan oleh Ibnu ‘Asâkir dalam Târîkh Damasqusnya,11/183/1058.

[3] Ibid.

[4] Hadyu as Sâri (Muqaddimah Fathu al Bâri),2/148. cet. Maktabah al Kulliyât al Azhâriyah-Kairo.

[5] Qabûl al Khbâr,2/158, Thabaqât; Ibnu Sa’ad,7/467.

[6] Hadyu as Sâri,2/143.

[7] Baca juga Hadyu as Sâri,2/143

[8] Baca Biografi al Hafidz Ibnu Khirâsy dalam kitab Tadzkiratul Huffâdz; adz Dzahabi.

17 Tanggapan

  1. waah..benar tadz, sy jadi sedih, kasihan banyak dari saudara kita, para muqallid, yg tidak mengetahui hal ini, pengalaman saya hanya mendengar hadist2 yg terdengar manis saja (yg tdk bermasalah)..sementara banyak hadist2 dan para perawi bermasalah mreka sembunyikan…katanya hal yg tabu jika membicarakan segala keburukannya.
    Why…Why..Jujurlah wahai saudara2ku…janganlah agama Islam tegak atas hujjah para pembenci Ahlbayt (walau ada kata2 yg baik dr mereka)….saya takut akan jauh sekali Barokah Allah pd negri ini…

    • Saudaraku yang masih ingin mencari kebenaran….??? alangkah baiknya anda tidak langsung menerima mentah-mentah pengkajian ini, anda mesti harus mengupulkan terlebih dahulu data-data yang falid, tentang jalur periwayatan hadits, maupun histori yang shohih, anda masih harus belajar islam lebih banyak lagi……!!! karena ahlussunnah bukan pencaci ahlul bait tapi memuliakan ahlul bait sesuai dengan kadarnya tidak melebihi kedudukan mereka sebagai keluarga nabi saja. menghormati ahlul bait memang perintah nabi saw yang harus kita tunaikan, tapi sekali lagi nabi saw tidak pernah bersabda bahwa ahlul baik menjadi standar beragama. dan satu hal yang harus kita kaji kembali. kalau syi’ah melebihkan ahlul bait kenapa hanya 12 imam saja ???……..??? padahal ahlul bait sangat-sangat banyak sekali…??? aneh-aneh….sungguh sangat aneh

      ____________________

      Ibnu Jakfari:

      Akhi ‘Abdurrohman bin Abdullah bin ex’ bin lex’ bin ??? Kalau memang benar Ahlusunnah menghormati Ahlulbnait Nabi saw., lalu para perawi yang mencaci maki Ahlulbait as. seperti yang kami bongkar sebagian data mereka itu siapa? Ahlusunnah bukan? Lalu yang memerangi Ahlulbait as. itu Ahlusunnah bukan?
      Yang melaknati Imam ALi as. itu Ahlusunnah bukan?
      Memang benar di antara Ahlusunnah ada yang mencintai dan menghormati Ahlulbait as. tapi tidak sedikit pula yang membenci, mencaci maki, melaknati dan memerengi mereka dan hadis-hadis shahih keutamaan mereka? Mengecam mereka yang mencintai Ahlulbait as.!! Mereka yang sesat seperti itu tidak sedikit jumlahnya!! Apa Anda akui mereka Ahlusunnah atau Anda keluarkan dari Ahlusunnah?

  2. sana sini saling mencaci…refot-refot. Lagi-lagi hadits biangnya…

  3. Subhanallah…. ternyata begitu ya bukhari itu… kagak nyangka.. kalo begitu kira-kira apa hadis mereka itu bisa dipercaya ya????
    Wah ya jadi reopt nih!!!!!!!!!!!!!

  4. kalau soal agama, saya kurang begitu paham

  5. waduh aku jadi bingung nih melihat pondasi agama teman kita ( ahlusunnah) yg bersumber dari orang2 yg tidak bersih agamanya, padahal imam bukhori/muslim sudah terlanjur terpatri dengan istilah ” afshohul kitab ba’dal quran “

  6. tobatlahlah antum2 semua….apa hikmah yg anda dapat dari perdebatan ini?kalau pun anda benar apa gunanya anda menyakiti umat muslim yg lain? kalau ada perbedaan kembilikan pada allah dan rasulnya,jangan terlalu panatik gitu deh..takliq buta!!!!!laillaha illallah,muhammadarasulullah,,,perbaguslah tauhid anda dahulu

  7. artikelnya bagus sayang (lagi-lagi) ga ada yang yang menaggapi secara ilmiah selain cacian penlabelan sesat dan sebagainya.

  8. Yang dicaci maki itu Imam Ali ato Orang2 yang mengaku sebagai ahlul bait ?
    jadi bingung aku……………………………..

  9. Gitu katanya Bukhari itu paling hati2 dalam menerima hadis… saya pernah dengar dari ustad2 konon katanya bukhari pernah menolak hadis dari seorang perawi yang memukul binatang…

    eh ternyata disini diungkap bahwa bukhari malah menerima perawi yang mencaci maki sahabat.. sahabat yang utama lagi ali bin abi tahlib dan ahlulbait.. jadi dimata bukhari binatang lebih mulia dari ahlul bait

    inna lillahi wa inna ilaihi rojiun

    beginikah bukhari?

  10. Indonesia gempar …Indonesia guncang

    Ribuan Salafi wahabi Masuk Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariah Setelah baca Blog syiahindonesia1.wordpress.com

    Ribuan Salafi wahabi Masuk Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariah Setelah baca Blog syiahindonesia1.wordpress.com

    Ribuan Salafi wahabi Masuk Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariah Setelah baca Blog syiahindonesia1.wordpress.com

    segera kunjungi

    isi web :

    * Imam Ali dan Imam Hasan Membai’at Karena Terintimidasi dan Mencegah Pertumpahan Darah Internal

    * Bukti Imamah Ali Yang Meruntuhkan Aswaja Sunni !!!! 3 WASIAT SAAT NABI SAKIT

    * Kenapa Syi’ah Hanya Mengakui Keshahihan Sebagian Hadis Aswaja Sunni ??? Hadis Palsu Dalam Kitab Bukhari Muslim Terungkap ! HADiS YANG MERUGiKAN AHLUL BAiT ADALAH PALSU

    * Mayoritas Peserta Ghadir Kum Akui Imamah Ali, Tapi Tidak Mau Membai’at Ali

    * Nabi SAW bilang tidak semua sahabat adil.. Kok Ulama Aswaja membantahnya !!!

    * SALAFi WAHABi MEMAKAi HADiS DHA’iF SYi’AH SEBAGAI BLACK CAMPAiGN

    * Kesalahan Terfatal Aswaja Sunni Karena Membela Mu’awiyah Yang Kekejaman nya Melebihi Fira’un… 12 khulafaur rasyidin Syi’ah Dizalimi Rezim Umayyah – Abbasiyah

  11. Menurut saya kita sangat perlu meneliti hadist2, baik yg Shaih Bukhari dan Muslim dll, krn bisa jadi ada yg tidak benar atau diriwayatkan oleh orang2 yg tdk jujur atau diragukan kejujurannya, khususnya terhadap Syd Ali bin Abithalib. Memang benar kita harus menghormati semua shahabat Nabi dan rasulullah. Tetapi shahabat yang membenci Syd Ali RA sdh tentu sangat diragukan ketulusanNya dan kejujurannya. Bukan berarti beliau itu diluar Islam atau menentang Islam secara prinsip, tetapi keikhlasannya terhadap ahlul bait secara utuh menjadi diragukan. Memang dari awal menjelang Rasulullah wafat, sudah ada tanda2 dari beberapa shahabat yg tidak suka dengan Bani Hasyim dan orang2 keturunan Rasulullah dari pihak ST Kadijah. Sepertinya dgn berbagai cara mereka memecah belah umat sejak awal, yang puncaknya pada zaman Muawiyah nin Abi Sufyan . Setelah itu, berbagai tafsir dan pendapat dikemukakan, bahkan hadis2 palsu banyak bermunculan, dan juga hadis2 yang saling menyalahkan, yg tujuan dasarnya tidak menyukai atau memecah belah agar umat tidak terpusat kepada keturunan Bani Hasyim atau darah daging dari Rasulullah, seperti syd Ali, Sydh fathimah, Syd Hasan dan Husen RA. Memang bukan untuk berlebihan, tetapi menurut saya perlu dijelaskan juga bagaimana Syd Ali itu dibunuh dan bagaimana saat dikebumikan, Syd Fathimah, Syd hasan dan Husen dll. Wassalam

  12. Terimakasih atas pengetahuan nya

  13. agan2 yang bercokol disini…
    abah syi’ah jakfari juga…
    ente kan alim neh, supaya orang bisa merata dapet faidahnya, coba deh ente berani kagak diskusi langsung sama ustadz wahhabi? kalo ente bener punya ilmu syar’i dan bukan ilmu wangsit, nanti abah jakfari ana atur ketemuan secara terbuka sama ustadz2 wahhaby deh, mau sama ustadz yazid, ustadz zaenal abidin,atau ustadz abdul hakim abdat?tinggal pilih deh…mau kagak?ane udah sebarin tulisan2 ente ke ustadz2 dan MUI, mereka merespon agar ente siap dialog terbuka tampil wajah, mereka pengen tau wajah ente, ilmu ente yang udah menghujat imam bukhori dan para sahabat lainnye?berani kagak??ane tunggu jawaban jantan ente, jangan cume garang ditulisan aje manipulasi kate, buktiin ye di forum elmu dan kemampuan ente, kl perlu ente bawa semua kitab2 syi’ah di iran, ane tunggu jawaban ente…loading ya jangan kagak nih koment…

  14. Terimakasih ustadz….
    memang begitulah kenyataannya…… kitab bukhari, kitab yang berisi banyak pelecehan atas Nabi …
    Pantes para orientalis habis-habisan mencecar keburukan Islam kalau ternyata ia memang ada di sumbernya… seperti hadits bahwa nabi mencincang / mutilasi sekelompok muslimin…

  15. Daftar ‘Ustadz’ yang ditinggalkan = AWAS JANGAN SALAH PILIH GURU AGAMA / USTADZ !!!

    Berikut nama-nama da’i yang terlibat permasalahan dgn Ihya ut Turath, Al Haramain, Al Sofwah.
    1. Abdul Fattah – Batam (At Turots link)
    2. Abdul Hakim bin Amir Abdat – Yayasan Ubudiyah Riau (Al Haramain , Al Sofwah, At Turots crosslink)
    3. Abdur Rahman At-Tamimi – Surabaya (Al Irsyad – At Turots, Al Sofwah crosslink)
    4. Abu Aziz – Jakarta (Jilbab-online.net link – crosslink Al Haramain, Al Sofwah, At Turots)
    5. Abu Bakar M.Altway Lc (Al Sofwah – Al Haramain link)
    6. Abu Haidar – Bandung (At Turots link)
    7. Abu Ihsan Al-Maidani – Medan (At Turots link)
    8. Abu Izzi – Semarang (Jilbab-online.net link – crosslink Al Haramain, Al Sofwah, At Turots)
    9. Abu Qatadah – Jakarta (Al Sofwah – Al Haramain link)
    10. Abu Sa’ad – Jogjakarta (At Turots link)
    11. Abu Thohir Lc – Padang (Abdul Hakim Abdat link)
    12. Abu Umar Basyr – Solo (rekan Kholid Syamhudi, At Turots link)
    13. Afifi Abdul Wadud – Jogjakarta (At Turots link)
    14. Agus Hasan Bashari. MAg (Al Sofwah – Al Haramain link)
    15. Ahmad Farhan Hamim Lc (Al Sofwah – Al Haramain link)
    16. Amri Mansyur – Padang (link Abdul Hakim Abdat)
    17. Arif Syarifuddin, Lc – Ma’had Bin Baz Jogjakarta (At Turots link)
    18. Arman Amri, Lc. – Jakarta (Jilbab-online.net link – crosslink Al Haramain, Al Sofwah, At Turots)
    19. Aslam Muhsin, Lc. – Jakarta (Al Sofwah – Al Haramain link)
    20. Aunur Rofiq Ghufron, Lc – Gresik (Al Irsyad – At Turots, Al Sofwah crosslink)
    21. Cholid Aboud Bawazeer (Al Irsyad – At Turots, Al Sofwah crosslink)
    22. Fakhruddin – Jogjakarta (At Turots link)
    23. Fariq Gazim Anuz (rekan Kholid Syamhudi, At Turots link)
    24. Hanif Yahya, Lc. (Al Sofwah – Al Haramain link)
    25. Haris Budiyatna (rekan Kholid Syamhudi, At Turots link)
    26. Husnul Yaqin Lc (Al Sofwah – Al Haramain link)
    27. Isnen Azhar Lc – Jakarta (Al Sofwah – Al Haramain link)
    28. Jazuli, Lc – Jakarta (Jilbab-online.net link – crosslink Al Haramain, Al Sofwah, At Turots)
    29. Kholid Syamhudi – Ma’had Bukhari, Solo (At Turots link)
    30. Khusnul Yaqin, Lc. (Al Sofwah – Al Haramain link)
    31. Marwan – Jogjakarta (At Turots link)
    32. Mubarak bin Mahfudz Ba Mu’allim, Lc – Surabaya (Al Irsyad, At Turots, Al Sofwah crosslink)
    33. Muhammad Shio Batam – Medan, Sumatra (At Turots link)
    34. Mustofa ‘Aini Lc (Al Sofwah – Al Haramain link)
    35. Nurul Mukhlisin (rekan Kholid Syamhudi, At Turots link)
    36. Rahmat Abdul Qodir – Jakarta (Jilbab-online.net link – crosslink Al Haramain, Al Sofwah, At Turots)
    37. Ridwan LC – Batam, Sumatra (At Turots link)
    38. Sholih – Jogjakarta (At Turots link)
    39. Ummu Fathimah – isteri ust. Abu Ihsan Medan (At Turots link)
    40. Yahya Asy’ari – Jambi (At Turots link)
    41. Yazid Abdul Qadir Jawwas – Jakarta (Al Haramain , Al Sofwah, DDII eks. Masyumi crosslink)
    42. Yusuf Usman Baisa – Tengaran, Boyolali (Al Irsyad, At Turots, Al Sofwah crosslink)
    43. Zainal Abidin, Lc. – Jakarta (Al Sofwah – Al Haramain link)

  16. […] Imam Bukhari dan Perawi Pencaci-Maki Sahabat Nabi saw.!! (1) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: