Bid’ah Puasa Asyurâ’; Usaha Licik Memerangi Ahlulbait as.!

Banyak cara ditempuh untuk mengubur hasil perjuangan Imam Husain as. di padang Karbala’ demi menegakkan agama datuknya; Rasulullah saw. dan membongkar kedok kepalsuan, kemunafikan dan kekafiran rezim Bani Umayyah yang dilakonkan oleh sosok Yazid yang bejat lagi munafik…

Banyak cara licik ditempuh, mulai dari menutup-nutupi kejahatan Yazid dan menampilkannnya sebagai seorang Khalifah yang adil dan bertanggung jawab akan perjalanan Risalah Allah, atau mencarikan uzur dan pembelaan atas apa yang dilakukannnya terhadap Imam Husain dan keluarga suci Nabi saw., terhadap penduduk kota suci Madinah yang ia perintahkan pasukannya agar menebar kekejaman yang tak tertandingi dalam sejarah Islam, membantai penduduknya, dan memperkosa gadis dan wanita; putri-putri para sahabat Anshar  -khususnya- dll. hingga membuat-buat kepalsuan atas nama agama tentang keagungan hari Asyûrâ’ dan keutamaan berpuasa di dalamnya.

Dalam kesempatan ini kami akan batasi kajian kali ini hanya pada kepalsuan keutamaan puasa Asyûrâ’.

Para Pendongen itu berkata:

  • Ketika Nabi saw. hijrah ke kota Madinah, beliau menyaksikan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyûrâ’ yaitu hari kesepuluh bulan Muharram, lalu beliau bertanya kepada mereka, mengapa mereka berpuasa, maka mereka menjawab, “Ini adalah hari agung, Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya.”  Maka Nabi saw. bersabda, “Kami lebih berhak atas Musa dan lebih berhak untuk berpuasa di banding kalian.” Lalu beliau memerintahkan umat Islam agar berpuasa untuk hari itu. Demikian dalam dua kitab Shahih; Bukhrai dan Muslim dan lainnya.[1]
  • Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dan selainnya didongengkan dari Aisyah ra. dan selainnya bahwa: Kaum Quraisy berpuasa di hari Asyûrâ’ di masa Jahiliyah mereka. Dan rasulullah saw. juga berpuasa. Lalu setelah beliau berhijrah ke kota Madinah beliau pun berpuasa dan memerintah (umat Islam) agar berpuasa. Maka ketika diwajibkan puasa Ramadhan, beliau bersabda, “Barang siapa yang mau silahkan berpuasa (Asyûrâ’) dan siapa yang mau juga boleh meninggalkannya.”[2]
  • Sebagian pendongeng juga menyebutkan –seperti diriwayatkan dalam Shahih Muslim- bahwa Nabi saw. baru melaksanakan puasa Asyûrâ’ itu di tahun sembilan Hijrah dan setelah menyaksikan orang-orang Yahudi melakukannya, beliau berjanji jika berumur panjang akan menyalahi kaum Yahudi dengan menambah puasa hari kesembilan juga. Tetapi beliau wafat sebelum bulan Muharram tahun depan.[3]

.  

Ibnu Jakfari berkata:

Di sini kami memastikan bahwa dongeng di atas adalah palsu dan hanya hasil khayalan kaum pendongen belaka!

Dan:

A) Terlepas dari cacat parah pada sanad riwayat-riwayat di atas, di mana ia diriwayatkan dari jalur orang-oraang yang bermasalah dan baru tiba di kota suci Madinah beberapa tahun setelah Hijrah Nabi saw. seperti Abu Musa al Asy’ari, dan ada yang saat hijrah masih kanak-kanak seperti Ibnu Zubair dan di antara mereka ada yang baru menyatakan secara formal keislamannya di tahun-tahun akhir Hijrah Nabi saw. seperti Mu’awiyah ibnu Abu Sufyan.

B) Terlepas dari adanya kontradiksi di antara riwayat-riwayat di atas, seperti, sebagian riwayatnya mengatakan bahwa:

  1. Nabi saw. berpuasa di hari Asyûrâ’ itu karena mengikuti Yahudi di mana sebelumnya beliau tidak mengetahuinya, dan setelah mengetahuinya dari orang-oraang Yahudi kota Madinah beliau berkeyakinan bahwa beliau dan umat Islam lah lebih berhak atas Musa as. dari kaum Yahudi itu!
  2. Sementara riwayat lain mengatakan bahwa Nabi saw. –seperti juga kaum Musyrik lainnya sejak zaman Jahiliyah telah menjalankan tradisi puasa Asyûrâ’.
  3. Sementara riwayat ketiga mengatakan bahwa Nabi saw. meninggalkan tradisi puasa Asyûrâ’ setelah diwajibkannya puasa bulan Ramadhan.
  4. Adapun riwayat keempat mengatakan bahwa Nabi saw. baru mengetahui kebiasaan kaum Yahudi kota Madinah berpuasa hari Asyûrâ’ sebagai ungkapan syukur mereka atas keselamatan Nabi Musa as. dan kaumnya itu di tahun kesembilan Hijrah. Dan kemudian Nabi aw. Berjanji akan menyalahi kaum Yahudi itu dengan menambah puasa hari kesembilan bulan itu. Namun sayang beliau wafat sebelum sempat melaksanakannya.
  5. Bahkan mereka meriwayatkan dari Mu’awiyah (yang baru memeluk Islam dari tahun fathu Makkah) bahwa Nabi saw. tidak pernah memerintahkan umat berpuasa di hari Asyûrâ’ akan tetapi beliau bersabda, “Barang siapa mau berpuasa silahkan dan yang tidak juga tidak apaa-apa.”

Dan masih banyak keanehan lain dalam riwayat-riwayat dongeng puasa hari Asyûrâ’. Dan Ibnu Qayyim telah memaparkannya dalam kitab Zâd al Ma’âd-nya.[4]

Terlepas dari semua masalah di atas coba perhatikan catatan di bawah ini:

Pertama: Riwayat pertama di atas mengtakan kepada kita bahwa Nabi mulia saw. tidak mengetahui sunnah saudara beliau; Nabi Musa as. dan beliau baru mengetahuinya dari orang-orang Yahudi dan setelahnya beliau bertaqlid kepada mereka!

Hal demikian mungkin tidak merisaukan pikiran para ulama itu, sebab mereka meriwayatkan (dan kami beristighfar/memohon ampunan Allah atas kepalsuan itu) bahwa Nabi saw. memang sangat menyukai untuk menyesuaikan diri dengan kaum Yahudi dan Nashrani dalam hal-hal yang belum diperintahkan dalam wahyu. Seperti diriwayatkan Bukhari dan lainnya.[5] Akan tetapi yang aneh dan lucu mereka pada waktu yang sama juga meriwayatkan bahwa Nabi saw. itu selalu bersemangat untuk menyalahi kaum Yahudi dan Nashrani dalam segala urusan, seperti yang mereka kisahkan dalam kasus adzan, di mana beliau menolak tawaran agar adzan dilakukan dengan meniup trompet atau menabuh lonceng seperti di gereja-gereja! Juga dalam masalah datang bulan dan menyemir rambut yang telah beruban… begitu juga Nabi saw. sering berpuasa di hari sabtu dan minggu dengan tujuan menyalahi Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani).. Semua yang mereka riwayatkan ini benar-benar bertentangan dengan apa yang mereka katakan dalam riwayat puasa Asyûrâ’. Sebuah kontradiksi yang biasa kita temukan dalam riwayat-riwayat para ulama itu, seihingga kami tidak kaget lagi dengannya.!!

Sampai-sampai karena kaum Yahudi mengeluhkan sikap Nabi saw. tersebut, mereka berkata, “Orang ini (Nabi maksud mereka) tidak bermaksud membiarkan urusan kita melainkan dia menyalahi kita dalam segala urusan kita.”[6]

Ibnu al Hâj berkata, “Adalah Nabi saw. membenci menyesuai Ahlul Kitab dalam semua urusan mereka, sampai-sampai orang-orang Yahudi berkata, ‘Muhammad menginginkan untuk tidak membiarkan ursan kita melainkan ia menyalahi kita tentangnya.’

Dan telah datang dalam hadis: “Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia dari mereka.”[7]

Kedua: ada sebuah kenyataan yang sering diabaikan oleh para ulama (khususnya mereka yang tertipu dengan dongeng-dongeng palsu tentang puasa Asyura) bahwa kata Asyûrâ’ untuk menunjuk pada hari kesepuluh bulan Muharram itu baru berlaku setelah kesyahidan Imam Husain as. cucu tercita Nabi Muhammad saw. dan keluarga serta pengikut setia beliau… jadi ia adalah nama/istilah Islami. Artinya istilah itu baru berlaku setelah datangnya Islam dan dilakukan oleh kaum Muslimin, sementara sebelum itu istilah itu tidak pernah ada dan berlaku.

Ibnu al Atsîr berkata, “Ia adalah nama Islam.”[8]

Ibnu Duraid berkata, “Sesunguhnya ia adalah nama Islami yang sebelumnya di masa jahiliyah tidak dikenal.”[9]

Ketiga: Dalam ajaran kaum Yahudi tidak ditemukan adanya puasa Asyûrâ’ dan sekarang pu mereka tidak melakukannya dan tidak mpula menganggapnya sebagai hari raya dan hari besar!

Keempat: Lebih dari semua itu adalah bahwa puasa bulan Ramadhan telah diwajibkan sejak beliau masih tinggal di Makkah! Seperti dalam kisah diutusnya ‘Amr ibn Murrah al Juhani sebagaimana diriwayatkan banyak ulama di antaranya Ibnu Katsir, ath Thabarani, Abu Nu’aim, al Haitsami dan lainnya.[10]

Bahaya Pemalsuan Atas Nama Nabi saw.!

Dan kenyataan ini menjadikan kita membayangkan betapa besar bahaya yang sedang mengancam agama Islam dengan kepalsuan-kepalsuan semacam itu…. Bagaimana kebencian terhadap keluarga suci Nabi saw. dan para pecinta mereka (baca Syi’ah)  telah maracuni jiwa dan kemudian mendorong sebagian orang untuk berani memalsu hadis atas nama Nabi Muhammad saw. dengan harapan dapat mengubur perjuangan cucu tercinta Nabi saw.! Dan kemudian lantaran berbaik sangka kepada para pemalsu itu, sebagian ulama menerima dan meriwayatkannya dalam kitab-kitab mereka!

Kepalsuan dan pemalsuan atas nama Nabi saw. seperti itu menjadikan kita harus selalu waspada terhadap semua langkah yang dirancang oleh oknum musuh-musuh Ahlulbait Nabi as. dalam memerangi mereka dan mengaburkan keagungan dan kemuliaan perjuangan mereka!

Hari Asyura’ Adalah Hari Raya Bani Umayyah dan Musuh-musuh Keluarga Suci Nabi as.

Para penguasa Bani Umayyah dan antek-antek mereka di sepanjang sejarah berusaha menjadikan hari ke sepuluh bulan Muharram (Asyûrâ’) sebagai hari raya, hari kebahagian, hari kegembiraan, hari kemenangan dan hari keselamatan! Semua itu mereka lakukan untuk menentang Ahlulbait as. yang menjadikannya sebagai hari duka atas kesyahidan Imam Husain as. dan keluarga serta pengikut setia beliau.

Al Biruni melaporkan’ “Adapun Bani Umayyyah mereka telah mengenakan baju-baju baru, berhias diri, bercelak dan berlebaran. Mereka mengadakan parayaan-perayaan dan jamuan tamu. Mereka membagi-bagi permen dan makanan-makanan yang lezat. Dan demikian lah yang berkalu di kalangan masuarakat selama kekuasan mereka dan tetap berlaku meski kekuasaan mereka telah tumbang. Adapun kaum Syi’ah, mereka meratapi dan menangisi kesyahidan penghulu para syuhada’; al Husain…. .“[11]

Al Miqrizi melaporkan, “Dan setelah tumbangnya kekuasaan ‘Alawiyyin di Mesir, para penguasa dari dinasti Ayyubiyah menjadikan Asyûrâ’ sebagai hari kegembiraan. Mereka berlapang-lapang kepada keluarga mereka. Mereka menyajikan beragam makanan lezat. Memakai alat-alat dapur yang baru. Mereka bercelak dan mendatangi pemandian-pemandian umum sesuai dengan kebiasaan penduduk kota Syam yang ditradisikan oleh Hajjaj di masa kekuasaan Abdul Malik ibn Marwan dengan tujuan menyakitkan hati Syi’ah Ali ibn Abi Thalib (Karramallah wajhahu/ semoga Allah memliakan wajah beliau), di mana mereka menjadikan hari Asyûrâ’ sebagai hari duka dan kesedihan atas kasyahidan Husain ibn Ali as. sebagi beliau gugur syahid di hari itu.” Kemudian ia melanjutkan: “Dan kami masih menyaksikan sisa-sisa tradisi bani Ayyûb yang menjadikan hari Asyûrâ’ sebagai hari kegembiraan dan kelapangan.”

Al Miqrizi juga menyebutkan doa Imam Muhammad al Baqir as. (Imam Kelima Syi’ah) yang berbunyi: “Dan ini adalah hari di mana bani Umayyah dan anak keturunan wanita pengunyah jantung meyakini keberkahannya karena mereka telah berhasil membunuh Husain.”[12]

Dan untuk semua itu, musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. telah membuat-buat kepalsuan atas nama Nabi saw. tentang keagungan hari Asyûrâ’ dan pahala besar yang dijanjikan bahwa yang berpuasa, berbanyak-banyak dalam memberi uang belanja kepada keluarga, mengusap kepala anak yatim, membagi-bagi makanan dan menampakkan kehabagian dan kegembiraan di dalamnya. Walaupun tidak sedikit pula usaha telah dicurahkan ulama Islam (sunni) dalam membongkar kepalsuaan hadis-hadis seperti itu.

Namun yang paling menyedihkan dari pemalsuan atas nama Nabi saw. adalah fatwa-fatwa sesat lagi menyesatkan yang diproduksi sebagai terompet kemunafikan dan kesesatan bani Umayyah yang melarang menampakkan kesedihan atas kesyahidan Imam Husain as. dan juga melarang membacakan kisah kesyahidannya!


[1] Mushannaf Abdurrazzâq,4/289 dan 290, Shahih Bukhari,1/244, Shahih Muslim,3/150, as Sirah al Halaibiyah,2/132-133, al Bidayah wa an Nihayah,1/274, 3/355. baca juga tafsir Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat-ayat puasa dalam surah al Baqarah.

[2] Ibid. dan Muwaththa’; Imam Malik,1/279 dan Zâd al Ma’âd,1/164 dan 165.

[3] Shahih Muslim,3/151.

[4] Zâd al Ma’âd,1/164-165.

[5] Shahih Bukhari, pada bab Farq asy Sya’ri Fi al Libâs, as Sirah al Halabiyah,2/132 dan Zâd al Ma’âd,1/165.

[6] As Sirah al Halabiyah,2/115 dan Sunan Abu Daud,2/250.

[7] Al Madkhal,2/48.

[8] An Nihayah; Ibnu Atsîr,3/240.

[9] Ibid.

[10] Al Bidayah wa an Nihayah,2/252 dari riwqayat Abu Nu’aim, Majma’ az Zawâid,9/244 dari riwayat ath Thabarani dan Kanzu ‘Ummâl,7/64 dari riwayat ar Ruyâni dan Ibnu ‘Asâkir.

[11] ‘Ajâib al Makhlûqât,1/114.

[12] Al Khithath; al Miqrizi,1/490. baca juga al Hadhârah Fi al Qarni ar Râbi’ al Hijri,1/138.

67 Tanggapan

  1. Muawiyyah dan Yazid, Bapak dan anak yg dilaknat Allah, mereka berhasil menyingkirkan dan mencegah Para Orang Suci As utk berkuasa, namun terbukti mereka tdk dapat memutus Nasab Ahlulbayt Al Kisa dengan gagalnya membunuh Imam Ali Zaenal Abidin As dan sekali-kali merekapun tdk dapat menyingkirkan eksistensi kaum Pecinta Sejati Rasulullah Saww dan Ahlulbaytnya di muka Bumi ini.

  2. Salam Ustaz

    Jazakallah atas kupasan mengenai soal Asyura ini, mmg kena pada saatnya.

    Aneh sekali mereka yg mendakwa puasa ini dilakukan oleh Nabi saaw, sedangkan Baginda saaw pasti tidak pernah akan mengingkari perintah Allah.

    Mana mungkin Nabi saaw berpuasa pada hari tersebut dan menyuruh sahabat berpuasa juga, atas alasan bersyukur dgn anugerah Allah pada para Anbiya as sebelum Baginda saaw, sedangkan al Quran berbicara sebaliknya:

    “Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 2:134)

    Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 2:141)

    Sekali lagi…syukran

  3. syiah nih, ckckckck, Islam, bersatulah, amin

  4. salam…
    terimakasih ustaz.
    di tempat saya , para ustaz , dai, menceritakan banyak peristiwa yang terjadi pada10 muharam, kecuali peristiwa syahidnya Imam Husain as.
    manipulasi informasi.
    ijin copy ustaz
    Allahumma shalli ala Muhammad wa ali Muhammad

  5. Ustadz (Rahmatullah Alaiha), peringatan hari asyura di jogjakarta ada ga ya??
    Kalo ada mohon di bagi infonya. Saya seorang muallaf mazhab jakfari. Bisa kirim ke email saya..
    Wassalam

    Ibnu Jakfari:

    Akhi yang terhormat, saya tidak banyak tau tentang itu. Maaf.

  6. terima kasih atas pencerahannya, memang banyak cerita2 kontradiksi sekitar asyura ini, dimana pembantaian keluarga suci nabi yg tdk bisa dipungkiri oleh siapapun yg mau belajar sejarah bahkan sampai anak cecilpun ngerti. disisi lain mereka bersukacita atas kesedihan ini.
    sekali lagi syukron.

  7. mau kontradiksi tidak masuk akal yang penting hadis riwayat bukhori semua shohih titik… itu kata wahabi/salafi… !

    jadi keberagamaan mereka asal POKOKnya

    benar nggak wan wahabi ibnu salafi?

  8. Banyak Ulama Berbaik sangka terhadapa Penipu Hadist. Jadi ingat kisah Abu Hurairah dapat ayat kursi dr Syaiton…Itukah yg terjadi pd sebagian besar ulama kita, para habaib dan cendikiawan muslim ?
    Berbaik sangka sih boleh, hanya saja jangan sampai mengaburkan / menyembunyikan para periwayat yg sengaja menrendahkan Rasul Saw dan Ahlulbaytnya. Bersikaplah tegas, umat sekarang butuh Pemimpin yg tegas dan berani mengatakan ini benar, itu salah tdk berlebihan, apa adanya (tanpa diiringi dg cacian).
    Tokoh Hindu Mahatma Gandhi pun sangat kagum pd sosok Imam Husein As, namun apakah nanya sebtas itu, kemudian dia menjadi Syiahnya ?

  9. eh ternyata dasar puasa asyura’ itu hadis ngawur tho… kagak nyangka… mereka kok gitu ya… mengatakan sunnah ternyata bid’ah… niru yahudi dan umat jahiliyah lagi

  10. Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan pilihan yang disebut Asyhurul Hurum. Firman Allah SWT :
    إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

    “ Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram “ (Q.S at-Taubah : 36)

    Di bulan itu, disunnahkan untuk berpuasa. Rasulullah SAW bersabda :
    أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

    “ Paling utamanya puasa setelah Ramadhan, yaitu puasa di bulan Muharram, dan paling utamanya shalat setelah shalat fadhu adalah shalat malam “.

    Khususnya pada tanggal 10 Muharram yang dikenal dengan hari Asyura’. Ketika Rasulullah ditanya tentang keutamaan puasa di hari Asyura’, Beliau menjawab :
    إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

    “ Aku berharap kepada Allah, bisa menghapus dosa satu tahun yang telah lalu”.

    Diriwayatkan dalam hadits :
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأُنَاسٍ مِنْ الْيَهُودِ قَدْ صَامُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا مِنْ الصَّوْمِ قَالُوا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي نَجَّى اللَّهُ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ الْغَرَقِ وَغَرَّقَ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَهَذَا يَوْمُ اسْتَوَتْ فِيهِ السَّفِينَةُ عَلَى الْجُودِيِّ فَصَامَهُ نُوحٌ وَمُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى وَأَحَقُّ بِصَوْمِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَمَرَ أَصْحَابَهُ بِالصَّوْمِ (رواه احمد في مسنده)

    Dari Abi Hurairah ra berkata : Nabi Saw melewati sekelompok orang yahudi, mereka berpuasa di hari Asyura’. Nabi bertanya : “Puasa apa ini?”. Mereka menjawab : “Ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari tenggelam, dan menenggelamkan Fir’aun. Dan hari ini juga adalah hari merapatnya bahtera (Nabi Nuh) di bukit Judiy. Maka Nabi Nuh dan Nabi Musa berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah SWT ”. Lalu Nabi berkata : “Saya lebih berhak dengan Nabi Musa dan lebih berhak untuk berpuasa di hari ini”. Nabi pun memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa.

    Dan masih banyak riwayat-riwayat lain yang menerangkan keutamaan puasa Asyura’.

    Di hari ini pula, meninggalnya cucu Rasulullah sayyidina Husein ra. Diriwayatkan :
    قالت أم سلمة كان النبي صلى الله عليه وسلم نائما في بيتي فجاء حسين يدرج ، قالت : فقعدت على الباب فأمسكته مخافة أن يدخل فيوقظه ، قالت : ثم غفلت في شيء فدب فدخل فقعد على بطنه ، قالت : فسمعت نحيب رسول الله صلى الله عليه وسلم فجئت فقلت : يا رسول الله والله ما علمت به ؟ فقال : « إنما جاءني جبريل عليه السلام وهو على بطني قاعد ، فقال لي أتحبه ؟ فقلت : نعم قال : إن أمتك ستقتله ألا أريك التربة التي يقتل بها ؟ قال : فقلت : بلى قال : فضرب بجناحه فأتاني بهذه التربة » قالت : فإذا في يده تربة حمراء ، وهو يبكي ويقول : « يا ليت شعري من يقتلك بعدي ؟ »

    Berkata Umi Salamah, sewaktu Nabi tidur ada di rumahku, tiba-riba Husein hendak masuk, maka aku (umi salamah) duduk didepan pintu mencegahnya masuk karena khawatir membangunkan Nabi. Umi Salamah berkata “ kemudian aku lupa akan sesuatu sehingga Husein merangkak masuk dan duduk di atas perut Rasulullah SAW. Lalu aku mendengar rintihan Rasulullah SAW, akupun mendatangi-Nya dan bertanya “ apa yang engkau ketahui sehingga engkau merintih seperti itu “. Rasulullah menjawab : “ Jibril datang kepada-Ku ketika Husein ada di atas perutku seraya berkata kepada-Ku “ apa Engkau mencintai-Nya (Husein) ?, maka akupun menjawab “ ya, Aku mencintai-Nya “, lalu Jibril berkata “ sesungguhnya dari umat-Mu ada yang akan membunuh-Nya (Husein), maukah Engkau aku tunjukkan tanah tempat pembunuhan-Nya ?, maka Akupun menjawab “ ya “, maka Jibrilpun mengepakkan sayapnya lalu memberikan kepadaku tanah ini “. Umi salamah berkata “ maka Nampak pada tangan Rasulullah tanah merah, dan Rasulullah SAW menangis seraya berkata “ siapakah yang akan membunuhmu (wahai Husein) sepeninggal-Ku ?”.

    Sebagian kelompok islam menjadikan hari itu adalah hari berkabung karena kematian sayyidina Husein ra dalam keadaan yang sangat mengenaskan berdasarkan menangisnya Rasulullah SAW sebagaimana keterangan di atas. Bahkan mereka meratap-ratap sambil menyakiti diri sebagai bukti keprihatinan dan kecintaan kepada sayyidina Husein ra.

    Ketahuilah, perbuatan seperti itu dan pendapat seperti itu tidaklah benar. Tidak diriwayatkan bahwa Rasulullah berbuat demikian atau memerintahkan umatnya untuk berbuat seperti itu, juga yang dilakukan oleh Ahlil bait serta orang-orang shaleh yang lainnya, bahkan Rasulullah melarang untuk meratap-ratap karena kematian sebagaimana orang-orang jahiliyah sambil memukul-mukul anggota badan. Dirawayatkan hadits shahih :
    لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

    “ bukanlah termasuk golonganku, orang yang memukul-mukul pipi-pipinya (karena kematian seseorang), dan merobek pakaian-pakaiannya serta menjerit sebagaimana orang-orang jahiliyah “

    Kalau dengan dasar tangisan Rasulullah saat beliau menerima kabar dari Jibril, maka sesungguhnya beliau juga menangis ketika meninggalnya Ibrohim putra beliau, Khodijah istri beliau, Abi Tholib paman beliau dan Jakfar Atthayyar sepupu beliau, juga anak dari Zaenab putri beliau dan masih banyak yang lainnya. Beliaupun tidak pernah mengadakan hari berkabung untuk kematian Nabi Zakariya dan Yahya yang juga dibunuh dengan cara dholim. Alhabib Abdullah Alhaddad menerangknan dalam kitab Tatsbitul Fu’ad halaman 223 :
    واما عاشوراء فانما هو يوم حزن لا فرح فيه ، من ان قتل حسين كان فيه ، ولم يصح فيه اكثر من انه يصام ويوسع فيه على العيال ، ولكنه في نفسه يوم فاضل .

    Adapun Asyura’ adalah hari sedih dan tidak mungkin ada kebahagian di dalamnya dikarenakan mengingat terbunuhnya sayyidina Husein di hari itu. Namun tidak dibenarkan pada hari itu melakukan ritual yang lain melebihi dari berpuasa dan tausi’ah (memberi belanja lebih) pada keluarga karena pada dasarnya hari itu sendiri adalah hari yang utama “

    KESIMPULAN : Janganlah melakukan perbuatan yang tidak diridhoi oleh Allah di hari yang mulia itu, apalagi berlabelkan cinta kepada Ahlil bait. Akan tetapi tingkatkan ibadah di hari itu khususnya dengan yang diajarkan oleh Nabi, karena itu adalah seruan Allah dan Rasul juga ahlil bait. Simaklah apa yang dikatakan oleh Rasul ketika mengubur anak beliau Ibrahim :
    عن النبي صلى الله عليه وسلم لما دفن ولده إبراهيم وقف على قبره، فقال: ” يا بني القلب يحزن، والعين تدمع، ولا نقول ما يسخط الرب، إنا لله وإنا إليه راجعون،

    Ketika putra beliau Ibrohim dikebumikan, Rasulullah SAW berdiam di atas kuburannya seraya berkata : Wahai anakku, hati bisa berduka, mata bisa meneteskan air mata, tapi tidak akan Aku katakan perkataan yang membuat Tuhan-Ku murka. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya”

  11. @ pengunjung, ana akan paparkan isi tulisan Ibin Jakfari bertentangan dengan kitab2 yang mereka ambil.
    1. Anda hanya kemukakan permasalahan yang tertulis dalam kitab padahal di kitab itu pula dipaparkan jawabannya. Kamu sengaja berkhianat dari kitab itu sendiri.
    Para pengunjung website yang terhormat, isi tulisan yek gowul memang tertulis di kitab zaadul ma’ad juz 2 hal 66-77 pada masalah2 yang musykilah, akan tetapi pengarang menerangkan setelahnya jawaban2 dari masalah2 itu sehingga tidak ada kontradiksi padanya. Pengen liat, klik disini.
    2. Anda sengaja memotong keterangan isi kitab untuk membela pendapat anda yang sesat padahal dikitab itu pula disebutkan riwayat2 hadits akan kesunahan puasa Asyura’, sebagaimana riwayat sydt Hafshah berikut :
    وَقَالَتْ حَفْصَةُ : أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعَهُنّ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ وَالْعَشْرُ وَثَلَاثَةُ أَيّامٍ مِنْ كُلّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَا الْفَجْرِ ذَكَرَهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللّهُ
    Ada empat hal yang tidak ditinggalkan oleh Rasulullah SAW : puasa Asyura’, puasa hari-hari sepuluh malam dzulhijjah, puasa tiga hari setiap bulannya dan dua rakaat shalatsunnah fajar. (lihat Musnad Imam Ahmad, hadits 25254)
    Demikian juga hadits riwayat Imam Ahmad :
    وَذَكَرَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النّبِيّ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ أَنّهُ كَانَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجّةِ وَيَصُومُ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيّامٍ مِنْ الشّهْرِ أَوْ الِاثْنَيْنِ مِنْ الشّهْرِ وَالْخَمِيس وَفِي لَفْظٍ الْخَمِيسَيْنِ .
    “ Rasulullah SAW berpuasa 9 hari di bulan Dzilhijjah, puasa Asyura’, puasa tiga hari tiap bulannya, atau hari senin dan kamis “

    3. Anda katakan ibn atsir berkata “Ia adalah nama Islam.”.
    Anda tidak mengerti arti ucapan Ibn Atsir kalo begitu, maksud sebenarnya, orang2 yahudi dan orang2 arab berpuasa di tanggal 10 Muharram, namun hari itu tidak dinamkan saat itu dengan hari Asyura’. Nama hari Asyura’ dikenal di zaman Islam. Olah karena itu Ibn Atsir berkata Asyura’ adalah nama islam.
    4. Anda katakan bahwa : “Dalam ajaran kaum Yahudi tidak ditemukan adanya puasa Asyûrâ’ dan sekarang pun mereka tidak melakukannya dan tidak pula menganggapnya sebagai hari raya dan hari besar! “
     Sebenarnya kami udah menjelaskan ini di atas, tapi mungkin anda belum faham juga, jadi ana terangkan lagi buat anda. Maklum anda cuman copypaste bukan komentar ilmiah.
    Orang yahudi dahulu sangatlah berbeda dengan orang yahudi sekarang. Dulu mereka percaya dengan berita Taurat akan kedatangan seorang Nabi terakhir yang bernama Ahmad (Nabi Muhammad). Namun mereka mengingkarinya setelah mengetahui bahwa Nabi Muhammad dari arab bukan dari kaum Yahudi. Perlu anda ketahui, ada beberapa amalan yang dilakukan orang yahudi atau orang arab tapi tetap diberlakukan dalam islam seperti menghormati asyhurul hurum, puasa Asyura’, dan masih banyak lainnya.
    5. Anda menyebutkan dalam kitab Albidayah wan Nihayah bahwa puasa ramadhan diwajibkan ketika Rasulullah masih tinggal di Makkah (belum hijrah), itu ada disebelah mana ya ..??? justru yang ana dapatkan sangat berseberangan dengan apa yang anda disebutkan. Dalam kitab Albidayah wan Nihayah itu sendiri justru dinyatakan puasa Ramadhan diwajibkan tahun kedua setelah hijrah sebelum peperangan Badar.
    البداية والنهاية – (ج 3 / ص 311)
    فصل في فريضة شهر رمضان سنة ثنتين قبل وقعة بدر قال ابن جرير (1): وفي هذه السنة فرض صيام شهر رمضان وقد قيل إنه فرض في شعبان (2) منها، ثم حكى أن رسول الله صلى الله عليه وسلم حين قدم المدينة وجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم عنه فقالوا هذا يوم نجى الله فيه موسى [ وغرق فيه آل فرعون ] (3).
    6. Adapun hadits riwayat Mu’awiyah yang mengatakan :
    عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَمِعَ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَوْمَ عَاشُورَاءَ عَامَ حَجَّ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُولُ يَا أَهْلَ الْمَدِينَةِ أَيْنَ عُلَمَاؤُكُمْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ وَلَمْ يَكْتُبْ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ وَأَنَا صَائِمٌ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيُفْطِرْ

    Maksudnya adalah puasa Asyura’ yang asalnya wajib (harus dikerjakan) berubah menjadi sunnah (berpahala jika dikerjakan namun boleh ditinggalkan) setelah diwajibkan puasa Ramadhan. Keterangan tersebut juga disebutkan dalam kitab zaadul ma’ad juz 2 hal. 72.
    Adapun untuk yang lainnya, kami gak perlu mengulangi lagi keterangan karena udah kami terangkan panjang-lebar di atas.

    PERHATIAN :
    Kepada saudara2, jika orang2 syi’ah membawa dalil dari kitab, maka cek terlebih dahulu karena mereka suka berbohong dan memelintir isi kitab. Akan tetapi, jika dari diri mereka sendiri, maka “ jika orang bodoh yang berkata, katakan salama”.

    • Imam Husein as dan keluarga saat terbunuh di karbala sedang melaksanakan puasa Asyura ga yah?

      Ibnu Jakfari:

      Akhi, kelihatanya Anda tidak banyak tau tentang apa yang terjadi di Karbala. Saya sarankan Anda banyak membaca dulu tentang peristiwa itu.
      Lagi pula jika beliau puasa, saya yakin Ahlusunnah tidak akan meniru beliau as. sebab Ahlulbait as, bulan panutan mereka! Panutan mereka adalah para fukaha sahabat dan tabi’in, seperti Abu Hurairah, Ibu Umar, Said ibn Musayyib, Urwah ibn Zubair (yang sanagt membenci keluarga Nabi saw.), Zuhri (jongos bani Umayah) atau Ka’ab Alhbar (pendeta Yahudi yang sangat dibangakan kaum Sunni)!!
      Ma’af,

  12. @Ust/mas Ibnu Jakfari

    Kalo boleh tanya, jika hadis perintah Asyura ini palsu dan buatan antek-antek bani umayah, pertanyaan saya apakah diantara perawi-perawi hadis asyuro ini terlibat didalamnya orang-orang pembela bani umayah atau par pembenci sayyidina Ali kw?

    tolong hal ini diungkapkan jika tidak keberatan… siapa saja perawi pembenci ahlulbait/nashibi dan pendukung bani umayah!

    syukron sebelumnya.

    Ibnu Jakfari:

    Semoga kami punya waktu untuk meneliti masalah itu.

  13. Riwayat kesunahan puasa hari Asyura’ diriwayatkan banyak dari sahabat, diantara mereka :
    – Salamah ibn akwa’, meriwayatkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori bahwa Nabi memerintahkan seorang untuk menyerukan kepada manusia di hari Asyura’ untuk memilih antara melaksanakan puasa atau meninggalkannya (maksudnya puasa Asyura’ sunnah boleh untuk dikerjakan dan ditinggalkan).
    حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا يُنَادِي فِي النَّاسِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ إِنَّ مَنْ أَكَلَ فَلْيُتِمَّ أَوْ فَلْيَصُمْ وَمَنْ لَمْ يَأْكُلْ فَلَا يَأْكُلْ (رواه البخاري)
    – Abdullah bin Zubair yang diriwayatkan oleh At-Thabrani menyatakan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan untuk berpuasa Asyura’
    حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بن الْحُبَابِ الْجُمَحِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بن رَجَاءٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ ثُوَيْرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بن الزُّبَيْرِ، يَقُولُ:”هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ، فَصُومُوهُ، فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِهِ”.
    – Riwayat dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأُنَاسٍ مِنْ الْيَهُودِ قَدْ صَامُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا مِنْ الصَّوْمِ قَالُوا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي نَجَّى اللَّهُ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ الْغَرَقِ وَغَرَّقَ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَهَذَا يَوْمُ اسْتَوَتْ فِيهِ السَّفِينَةُ عَلَى الْجُودِيِّ فَصَامَهُ نُوحٌ وَمُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى وَأَحَقُّ بِصَوْمِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَمَرَ أَصْحَابَهُ بِالصَّوْمِ (رواه احمد في مسنده )

    Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat lainnya dari sahabat. Hal ini menguatkan riwayat Ibn Abbas, sehingga tidak bisa dijadikan dasar untuk menghilangkan kesunahan puasa Asyura’.
    Disamping itu, dalam beberapa riwayat menyatakan bahwa banyak dari sahabat melaksanakan puasa Asyura’, sebagaimana riwayat Abdullah bin Umar berikut :
    حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَهُ وَالْمُسْلِمُونَ قَبْلَ أَنْ يُفْتَرَضَ رَمَضَانُ فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ و حَدَّثَنَاه مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا يَحْيَى وَهُوَ الْقَطَّانُ ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ كِلَاهُمَا عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بِمِثْلِهِ فِي هَذَا الْإِسْنَادِ
    2. Banyak pertentangan dari beberapa riwayat hadits tentang kesunahan puasa asyura’.
    Dalam mensikapi hadits yang bertentangan pada dhohirnya, maka dicari thoriqul jam’i (cara memadukan) diantaranya. Jika tidak ada, maka dipilih riwayat yang paling kuat atau riwayat yang lama dikatakan mansukh dan riwayat yang baru dikatakan nasikh. Sekali lagi saya anjurkan kepada kang Jalal untuk belajar lagi ilmu hadits
    Kang jalal menyatakan bahwa hadits Ibn Abbas bertentangan dengan riwayatnya sendiri sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim “Nabi bermaksud puasa pada hari Asyura tetapi tidak kesampaian. Dia keburu meninggal dunia”.
    Riwayat Imam Muslim yang benar adalah :
    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَيْرٍ لَعَلَّهُ قَالَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ
    Artinya : “Seandainya aku hidup hingga tahun yang akan datang, maka aku akan berpuasa di hari kesembilan.
    Jelas sekali riwayat Imam Muslim menunjukkan bahwa Nabi menghendaki berpuasa dihari kesembilan atau yang disebut dengan hari Tasu’a’, bukan Asyura’. Dari sini kita bisa lihat kang Jalal sengaja membelokkan isi hadits bahkan memalsukan isi hadits hanya sekedar bersandar pada buku2 terjemahan syi’ah yang lain tanpa mencari referensi yang valid dari kitab2 hadits.
    Adapun pernyataannya yang menyatakan hadits Ibn Abbas bertentangan dengan beberapa riwayat lainnya seperti riwayat sayyidatina A’isyah atau riwayat Mu’awiyah, maka sebenarnya riwayat2 hadits tersebut tidaklah saling bertentangan tapi justru saling memperkuat akan kesunahan puasa Asyura’ sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Ibn Hajar dalam kitab alFath alBari. Pembahasan kami perinci sebagai berikut :
    Puasa Asyura’ diwajibkan diawal islam sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan atas perintah dari Nabi SAW. Namun setelah kewajiban puasa ramadhan, maka berubah menjadi sunnah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Mas’ud :
    عن عبد الله بن مسعود أنه قال في يوم عاشوراء : « كنا نصومه ، ثم ترك » . « لم يروه عن سفيان إلا الأشجعي » . وتفسير قول ابن مسعود : كنا نصومه ، ثم ترك « ، أي : » كنا نصومه فرضا ، ثم صار تطوعا «
    Adapun riwayat sayyidatina A’isyah yang menyatakan bahwa Nabi telah berpuasa Asyura’ sebelum hijrah dan kaum quraiys juga melakukannya, maka tidaklah ada pertentangan diantara hadits2 tersebut. Hal ini dikarenakan Nabi bukanlah memulai puasa Asyura’ setelah mendapati orang2 yahudi berpuasa di hari itu, akan tetapi telah melakukannya sebelum hijrah. Demikian juga orang2 Qurays berpuasa saat itu. Berarti perintah Nabi untuk berpuasa Asyura’ setelah mengetahui orang2 Yahudi berpuasa di hari itu sebagai ta’kid (penguat) akan kewajiban puasa Asyura’, dan karena menilai bagus dengan mengikuti jejak para Nabi sebelumnya untuk berpuasa di hari itu sebagai rasa syukur kepada Allah SWT. Bukanlah amalan orang Yahudi sebagai dasar dalam mentasyri’kan kewajiban puasa di hari itu. Kewajiban puasa Asyura’ berakhir ketika datang kewajiban puasa Ramadhan di pertengahan tahun kedua dari hijrah sebagaimana riwayat Ibn Mas’ud di atas.
    Namun setelah hilangnya kewajiban puasa Asyura’ tidak serta merta menghilangkan keseluruhannya, akan tetapi tetap akan kesunahannya terbukti dengan beberapa perintah Nabi setelahnya, bahkan pengumuman secara menyeluruh untuk mengerjakan puasa Asyura’ sebagaimana riwayat Salamah ibn Akwa’ di atas.
    Dari sini dapat disimpulkan bahwa tidak ada sama sekali pertentangan diantara riwayat2 hadits tentang Asyura’ tapi justru sebaliknya, hadits2 tersebut saling memperkuat akan kesunahannya. Adapaun analisa Jalaluddin yang memvonis adanya pertentangan, maka itu adalah analisa tanpa dasar yang menunjukkan akan kedangkalan ilmunya tentang hadits bahkan terkesan orang yang sangat ceroboh dalam menanggapi suatu hadits.

    3. Pertentangan waktu kedatangan Nabi dengan pelaksanaan puasa Asyura’
    Dikatakan oleh jalaluddin bahwa : Nabi saw. menemukan orang Yahudi berpuasa Asyura ketika tiba di Madinah. Semua ahli sejarah sepakat Nabi tiba di Madinah pada bulan Rabi’ul Awwal. Bagaimana mungkin orang berpuasa 10 Muharram pada 12 Rabi’ul Awwal ? Mungkinkah orang shalat Jum’at pada hari Senin?
    Dikemukakan oleh Imam Ibn Hajar dalam al-Fath al-Baari juz 6 halaman 284 : bahwa kedatangan Nabi ke Madinah memang di bulan Rabiul Awal, namun hadits tersebut bukanlah menunjukkan bahwa Nabi mengetahui puasanya orang Yahudi di hari Asyura’ seketika ketika Nabi sampai di Madinah, akan tetapi Beliau mengetahuinya setelah tinggal di Madinah hingga bulan Muharram tahun kedua. Atau dimungkinkan adanya perbedaan penghitungan bulan dikarenakan orang Yahudi menghitung hari dalam satu tahunnya dengan mendasarkan pada matahari bukan dengan bulan sebagaimana dasar orang islam.
    Oleh karena itu, tidak ada pertentangan sama sekali, dan sangatlah memungkinkan untuk melaksanakan shalat Jum’ah walaupun masuk islamnya di hari senin selama melaksankannya di hari jum’ah. Lain halnya bagi orang yang mengingkari kewajiban shalat Jum’ah seperti kang Jalal.

    ” وَقَدْ اُسْتُشْكِلَ ظَاهِر الْخَبَر لِاقْتِضَائِهِ أَنَّهُ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قُدُومِهِ الْمَدِينَةَ وَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْم عَاشُورَاء ، وَإِنَّمَا قَدِمَ الْمَدِينَةَ فِي رَبِيعٍ الْأَوَّلِ ، وَالْجَوَاب عَنْ ذَلِكَ أَنَّ الْمُرَاد أَنَّ أَوَّل عِلْمِهِ بِذَلِكَ وَسُؤَالِهِ عَنْهُ كَانَ بَعْدَ أَنْ قَدِمَ الْمَدِينَة لَا أَنَّهُ قَبْلَ أَنْ يَقْدَمَهَا عَلِمَ ذَلِكَ ، وَغَايَتُهُ أَنَّ فِي الْكَلَام حَذْفًا تَقْدِيرُهُ قَدِمَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَة فَأَقَامَ إِلَى يَوْم عَاشُورَاء فَوَجَدَ الْيَهُودَ فِيهِ صِيَامًا ، وَيَحْتَمِل أَنْ يَكُون أُولَئِكَ الْيَهُود كَانُوا يَحْسِبُونَ يَوْم عَاشُورَاء بِحِسَابِ السِّنِينَ الشَّمْسِيَّة فَصَادَفَ يَوْمُ عَاشُورَاء بِحِسَابِهِمْ الْيَوْمَ الَّذِي قَدِمَ فِيهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَة ، وَهَذَا التَّأْوِيل مِمَّا يَتَرَجَّحُ بِهِ أَوْلَوِيَّةُ الْمُسْلِمِينَ وَأَحَقِّيَّتُهُمْ بِمُوسَى عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَام لِإِضْلَالِهِمْ الْيَوْمَ الْمَذْكُورَ وَهِدَايَة اللَّهِ لِلْمُسْلِمِينَ لَهُ ، وَلَكِنَّ سِيَاق الْأَحَادِيث تَدْفَعُ هَذَا التَّأْوِيلِ ، وَالِاعْتِمَاد عَلَى التَّأْوِيل الْأَوَّل
    4. Pertentangan dengan perintah Nabi untuk selalu berbeda dengan orang Yahudi dan Nasrani.
    Dikatakan bahwa : Nabi SAW diriwayatkan meniru tradisi Yahudi untuk melakukan puasa Asyura. Bukankah Nabi berulang-ulang mengingatkan umatnya untuk tidak meniru tradisi Yahudi dan Nashara? “Bedakan dirimu dari orang Yahudi,” kata Rasulullah SAW.
    Benar sekali Nabi memperingatkan kepada umatnya untuk selalu berbeda dengan orang Yahudi atau Nasrani, akan tetapi Nabi memerintahkan puasa Asyura’ bukanlah dikarenakan meniru perbuatan orang2 yahudi, namun karena menilai apa yang dilakukan oleh orang Yahudi adalah positif karena mereka mengikuti Nabi mereka dalam berpuasa. Bukankah Nabi sudah melakukaan puasa dan memerintahkannya untuk berpuasa di hari Asyura’ bahkan sebelum hijrah kemudian mengetahui amalan orang Yahudi sebagaimana penjelasan di atas. Oleh karena itu, Nabi berencana untuk berpuasa di hari kesembilan (tasu’a’) sebagaimana dirwayatkan Ibn Umar dan diriwayatkan oleh Imam Muslim agar berbeda dengan orang Yahudi dalam melaksanakan puasa Asyura’. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad :
    وَلِأَحْمَدَ مِنْ وَجْه آخَر عَنْ اِبْن عَبَّاس مَرْفُوعًا صُومُوا يَوْم عَاشُورَاء وَخَالِفُوا الْيَهُود ، صُومُوا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ
    Raslullah SAW bersabda “ berpuasalah kalian di hari Asyura’ dan berbedalah dengan orang-orang Yahudi. Berpuasalah juga hari sebelumnya (hari kesembilan/tasu’a) atau hari setelahnya (tanggal 11 Muharram).”
    5. Puasa Asyura’ tidak ada dalam agama Yahudi
    Dikatakan : bila ita mempelajari ilmu perbandingan agama, kita tidak akan menemukan tradisi Asyura pada agama Yahudi. Puasa Asyura hanya dikenal oleh sebagian umat Islam, berdasarkan riwayat yang otentisitas dan validitasnya kita ragukan itu.
    Kang Jalal mungkin belum tahu atau pura-pura tidak tahu Yahudi dahulu berdasarkan pada kitab Taurat dan masih mengkabarkan akan datangnya seorang Nabi terakhir, walaupun mereka kemudian mengingkarinya. Adapun jika tidak ditemukan tradisi Asyura’ pada orang Yahudi sekarang itu karena mereka sudah jauh berbeda dengan Yahudi dahulu yang masih memperhatikan syari’at Nabi Musa.
    mungkin itu sementara yg dapat kami paparkan disini.selanjutnya…..

    ikuti pembahasan kami di alamat :www.forsansalaf.com
    kami mengundang antum semua tuk hadir…
    kan selalu ditunggu bagi kawan2 syi’i tuk berdialog sehat di website kami.
    Allahumma Sholli ‘ala Muhammad wa ‘ali muhammad wa sohbih Muhammad…

  14. tolong disampein ke Kang jalal…
    ini penting banged…,masukan buat dia 🙂

    Ibnu Jakfari:

    Akhi yang terhormat, maaf. Anda sampaikan langsung sendiri aja.

  15. Sesama islam harus bersatu..liat aja di mekkah..bermacam-macam madzab tapi mereka tetap bersatu ibadah kepada Allah.kalo ada perbedaan mari di musyawarahkan..islam bersaudara..jaga diri kita dan keluarga kita dari api neraka..jangan memikirkan orang lain dahulu.

  16. anda orang syi’ah terlalu bahlul dalam ilmu hadist,riwayat2 tentang puasa sangat jelas spt yg disebutkan muhibbah.kebanyakan anda ini melintir hadist ato emang goblok ?????????? jwb dg ilmiah mslh puasa asyuro tadi ?
    saya tunggu jwb nya ?

  17. ibnu jakfari :
    Diriwayatkan dalam hadits :
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأُنَاسٍ مِنْ الْيَهُودِ قَدْ صَامُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا مِنْ الصَّوْمِ قَالُوا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي نَجَّى اللَّهُ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ الْغَرَقِ وَغَرَّقَ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَهَذَا يَوْمُ اسْتَوَتْ فِيهِ السَّفِينَةُ عَلَى الْجُودِيِّ فَصَامَهُ نُوحٌ وَمُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى وَأَحَقُّ بِصَوْمِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَمَرَ أَصْحَابَهُ بِالصَّوْمِ (رواه احمد في مسنده)

    Dari Abi Hurairah ra berkata : Nabi Saw melewati sekelompok orang yahudi, mereka berpuasa di hari Asyura’. Nabi bertanya : “Puasa apa ini?”. Mereka menjawab : “Ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari tenggelam, dan menenggelamkan Fir’aun. Dan hari ini juga adalah hari merapatnya bahtera (Nabi Nuh) di bukit Judiy. Maka Nabi Nuh dan Nabi Musa berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah SWT ”. Lalu Nabi berkata : “Saya lebih berhak dengan Nabi Musa dan lebih berhak untuk berpuasa di hari ini”. Nabi pun memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. Salamah ibn akwa’, meriwayatkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori bahwa Nabi memerintahkan seorang untuk menyerukan kepada manusia di hari Asyura’ untuk memilih antara melaksanakan puasa atau meninggalkannya (maksudnya puasa Asyura’ sunnah boleh untuk dikerjakan dan ditinggalkan).
    حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا يُنَادِي فِي النَّاسِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ إِنَّ مَنْ أَكَلَ فَلْيُتِمَّ أَوْ فَلْيَصُمْ وَمَنْ لَمْ يَأْكُلْ فَلَا يَأْكُلْ (رواه البخاري)
    – Abdullah bin Zubair yang diriwayatkan oleh At-Thabrani menyatakan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan untuk berpuasa Asyura’
    حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بن الْحُبَابِ الْجُمَحِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بن رَجَاءٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ ثُوَيْرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بن الزُّبَيْرِ، يَقُولُ:”هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ، فَصُومُوهُ، فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِهِ”.
    – Riwayat dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأُنَاسٍ مِنْ الْيَهُودِ قَدْ صَامُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا مِنْ الصَّوْمِ قَالُوا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي نَجَّى اللَّهُ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ الْغَرَقِ وَغَرَّقَ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَهَذَا يَوْمُ اسْتَوَتْ فِيهِ السَّفِينَةُ عَلَى الْجُودِيِّ فَصَامَهُ نُوحٌ وَمُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى وَأَحَقُّ بِصَوْمِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَمَرَ أَصْحَابَهُ بِالصَّوْمِ (رواه احمد في مسنده )

    Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat lainnya dari sahabat. Hal ini menguatkan riwayat Ibn Abbas, sehingga tidak bisa dijadikan dasar untuk menghilangkan kesunahan puasa Asyura’.
    Disamping itu, dalam beberapa riwayat menyatakan bahwa banyak dari sahabat melaksanakan puasa Asyura’, sebagaimana riwayat Abdullah bin Umar berikut :
    حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَهُ وَالْمُسْلِمُونَ قَبْلَ أَنْ يُفْتَرَضَ رَمَضَانُ فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ و حَدَّثَنَاه مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا يَحْيَى وَهُوَ الْقَطَّانُ ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ كِلَاهُمَا عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بِمِثْلِهِ فِي هَذَا الْإِسْنَادِ
    2. Banyak pertentangan dari beberapa riwayat hadits tentang kesunahan puasa asyura’.
    Dalam mensikapi hadits yang bertentangan pada dhohirnya, maka dicari thoriqul jam’i (cara memadukan) diantaranya. Jika tidak ada, maka dipilih riwayat yang paling kuat atau riwayat yang lama dikatakan mansukh dan riwayat yang baru dikatakan nasikh. Sekali lagi saya anjurkan kepada kang Jalal untuk belajar lagi ilmu hadits
    Kang jalal menyatakan bahwa hadits Ibn Abbas bertentangan dengan riwayatnya sendiri sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim “Nabi bermaksud puasa pada hari Asyura tetapi tidak kesampaian. Dia keburu meninggal dunia”.
    Riwayat Imam Muslim yang benar adalah :
    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَيْرٍ لَعَلَّهُ قَالَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ
    Artinya : “Seandainya aku hidup hingga tahun yang akan datang, maka aku akan berpuasa di hari kesembilan.
    Jelas sekali riwayat Imam Muslim menunjukkan bahwa Nabi menghendaki berpuasa dihari kesembilan atau yang disebut dengan hari Tasu’a’, bukan Asyura’. Dari sini kita bisa lihat kang Jalal sengaja membelokkan isi hadits bahkan memalsukan isi hadits hanya sekedar bersandar pada buku2 terjemahan syi’ah yang lain tanpa mencari referensi yang valid dari kitab2 hadits.
    Adapun pernyataannya yang menyatakan hadits Ibn Abbas bertentangan dengan beberapa riwayat lainnya seperti riwayat sayyidatina A’isyah atau riwayat Mu’awiyah, maka sebenarnya riwayat2 hadits tersebut tidaklah saling bertentangan tapi justru saling memperkuat akan kesunahan puasa Asyura’ sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Ibn Hajar dalam kitab alFath alBari. Pembahasan kami perinci sebagai berikut :
    Puasa Asyura’ diwajibkan diawal islam sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan atas perintah dari Nabi SAW. Namun setelah kewajiban puasa ramadhan, maka berubah menjadi sunnah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Mas’ud :
    عن عبد الله بن مسعود أنه قال في يوم عاشوراء : « كنا نصومه ، ثم ترك » . « لم يروه عن سفيان إلا الأشجعي » . وتفسير قول ابن مسعود : كنا نصومه ، ثم ترك « ، أي : » كنا نصومه فرضا ، ثم صار تطوعا «
    Adapun riwayat sayyidatina A’isyah yang menyatakan bahwa Nabi telah berpuasa Asyura’ sebelum hijrah dan kaum quraiys juga melakukannya, maka tidaklah ada pertentangan diantara hadits2 tersebut. Hal ini dikarenakan Nabi bukanlah memulai puasa Asyura’ setelah mendapati orang2 yahudi berpuasa di hari itu, akan tetapi telah melakukannya sebelum hijrah. Demikian juga orang2 Qurays berpuasa saat itu. Berarti perintah Nabi untuk berpuasa Asyura’ setelah mengetahui orang2 Yahudi berpuasa di hari itu sebagai ta’kid (penguat) akan kewajiban puasa Asyura’, dan karena menilai bagus dengan mengikuti jejak para Nabi sebelumnya untuk berpuasa di hari itu sebagai rasa syukur kepada Allah SWT. Bukanlah amalan orang Yahudi sebagai dasar dalam mentasyri’kan kewajiban puasa di hari itu. Kewajiban puasa Asyura’ berakhir ketika datang kewajiban puasa Ramadhan di pertengahan tahun kedua dari hijrah sebagaimana riwayat Ibn Mas’ud di atas.
    Namun setelah hilangnya kewajiban puasa Asyura’ tidak serta merta menghilangkan keseluruhannya, akan tetapi tetap akan kesunahannya terbukti dengan beberapa perintah Nabi setelahnya, bahkan pengumuman secara menyeluruh untuk mengerjakan puasa Asyura’ sebagaimana riwayat Salamah ibn Akwa’ di atas.
    Dari sini dapat disimpulkan bahwa tidak ada sama sekali pertentangan diantara riwayat2 hadits tentang Asyura’ tapi justru sebaliknya, hadits2 tersebut saling memperkuat akan kesunahannya. Adapaun analisa Jalaluddin yang memvonis adanya pertentangan, maka itu adalah analisa tanpa dasar yang menunjukkan akan kedangkalan ilmunya tentang hadits bahkan terkesan orang yang sangat ceroboh dalam menanggapi suatu hadits.

    3. Pertentangan waktu kedatangan Nabi dengan pelaksanaan puasa Asyura’
    Dikatakan oleh jalaluddin bahwa : Nabi saw. menemukan orang Yahudi berpuasa Asyura ketika tiba di Madinah. Semua ahli sejarah sepakat Nabi tiba di Madinah pada bulan Rabi’ul Awwal. Bagaimana mungkin orang berpuasa 10 Muharram pada 12 Rabi’ul Awwal ? Mungkinkah orang shalat Jum’at pada hari Senin?
    Dikemukakan oleh Imam Ibn Hajar dalam al-Fath al-Baari juz 6 halaman 284 : bahwa kedatangan Nabi ke Madinah memang di bulan Rabiul Awal, namun hadits tersebut bukanlah menunjukkan bahwa Nabi mengetahui puasanya orang Yahudi di hari Asyura’ seketika ketika Nabi sampai di Madinah, akan tetapi Beliau mengetahuinya setelah tinggal di Madinah hingga bulan Muharram tahun kedua. Atau dimungkinkan adanya perbedaan penghitungan bulan dikarenakan orang Yahudi menghitung hari dalam satu tahunnya dengan mendasarkan pada matahari bukan dengan bulan sebagaimana dasar orang islam.
    Oleh karena itu, tidak ada pertentangan sama sekali, dan sangatlah memungkinkan untuk melaksanakan shalat Jum’ah walaupun masuk islamnya di hari senin selama melaksankannya di hari jum’ah. Lain halnya bagi orang yang mengingkari kewajiban shalat Jum’ah seperti kang Jalal.

    ” وَقَدْ اُسْتُشْكِلَ ظَاهِر الْخَبَر لِاقْتِضَائِهِ أَنَّهُ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قُدُومِهِ الْمَدِينَةَ وَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْم عَاشُورَاء ، وَإِنَّمَا قَدِمَ الْمَدِينَةَ فِي رَبِيعٍ الْأَوَّلِ ، وَالْجَوَاب عَنْ ذَلِكَ أَنَّ الْمُرَاد أَنَّ أَوَّل عِلْمِهِ بِذَلِكَ وَسُؤَالِهِ عَنْهُ كَانَ بَعْدَ أَنْ قَدِمَ الْمَدِينَة لَا أَنَّهُ قَبْلَ أَنْ يَقْدَمَهَا عَلِمَ ذَلِكَ ، وَغَايَتُهُ أَنَّ فِي الْكَلَام حَذْفًا تَقْدِيرُهُ قَدِمَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَة فَأَقَامَ إِلَى يَوْم عَاشُورَاء فَوَجَدَ الْيَهُودَ فِيهِ صِيَامًا ، وَيَحْتَمِل أَنْ يَكُون أُولَئِكَ الْيَهُود كَانُوا يَحْسِبُونَ يَوْم عَاشُورَاء بِحِسَابِ السِّنِينَ الشَّمْسِيَّة فَصَادَفَ يَوْمُ عَاشُورَاء بِحِسَابِهِمْ الْيَوْمَ الَّذِي قَدِمَ فِيهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَة ، وَهَذَا التَّأْوِيل مِمَّا يَتَرَجَّحُ بِهِ أَوْلَوِيَّةُ الْمُسْلِمِينَ وَأَحَقِّيَّتُهُمْ بِمُوسَى عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَام لِإِضْلَالِهِمْ الْيَوْمَ الْمَذْكُورَ وَهِدَايَة اللَّهِ لِلْمُسْلِمِينَ لَهُ ، وَلَكِنَّ سِيَاق الْأَحَادِيث تَدْفَعُ هَذَا التَّأْوِيلِ ، وَالِاعْتِمَاد عَلَى التَّأْوِيل الْأَوَّل
    4. Pertentangan dengan perintah Nabi untuk selalu berbeda dengan orang Yahudi dan Nasrani.
    Dikatakan bahwa : Nabi SAW diriwayatkan meniru tradisi Yahudi untuk melakukan puasa Asyura. Bukankah Nabi berulang-ulang mengingatkan umatnya untuk tidak meniru tradisi Yahudi dan Nashara? “Bedakan dirimu dari orang Yahudi,” kata Rasulullah SAW.
    Benar sekali Nabi memperingatkan kepada umatnya untuk selalu berbeda dengan orang Yahudi atau Nasrani, akan tetapi Nabi memerintahkan puasa Asyura’ bukanlah dikarenakan meniru perbuatan orang2 yahudi, namun karena menilai apa yang dilakukan oleh orang Yahudi adalah positif karena mereka mengikuti Nabi mereka dalam berpuasa. Bukankah Nabi sudah melakukaan puasa dan memerintahkannya untuk berpuasa di hari Asyura’ bahkan sebelum hijrah kemudian mengetahui amalan orang Yahudi sebagaimana penjelasan di atas. Oleh karena itu, Nabi berencana untuk berpuasa di hari kesembilan (tasu’a’) sebagaimana dirwayatkan Ibn Umar dan diriwayatkan oleh Imam Muslim agar berbeda dengan orang Yahudi dalam melaksanakan puasa Asyura’. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad :
    وَلِأَحْمَدَ مِنْ وَجْه آخَر عَنْ اِبْن عَبَّاس مَرْفُوعًا صُومُوا يَوْم عَاشُورَاء وَخَالِفُوا الْيَهُود ، صُومُوا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ
    Raslullah SAW bersabda “ berpuasalah kalian di hari Asyura’ dan berbedalah dengan orang-orang Yahudi. Berpuasalah juga hari sebelumnya (hari kesembilan/tasu’a) atau hari setelahnya (tanggal 11 Muharram).”
    5. Puasa Asyura’ tidak ada dalam agama Yahudi
    Dikatakan : bila ita mempelajari ilmu perbandingan agama, kita tidak akan menemukan tradisi Asyura pada agama Yahudi. Puasa Asyura hanya dikenal oleh sebagian umat Islam, berdasarkan riwayat yang otentisitas dan validitasnya kita ragukan itu.
    Kang Jalal mungkin belum tahu atau pura-pura tidak tahu Yahudi dahulu berdasarkan pada kitab Taurat dan masih mengkabarkan akan datangnya seorang Nabi terakhir, walaupun mereka kemudian mengingkarinya. Adapun jika tidak ditemukan tradisi Asyura’ pada orang Yahudi sekarang itu karena mereka sudah jauh berbeda dengan Yahudi dahulu yang masih memperhatikan syari’at Nabi Musa.
    jwb yg ilmiah mas ?????

  18. @dayak
    anda orang suni/wahabi terlalu bahlul dalam ilmu hadist ente, riwayat2 tentang puasa sangat jelas kalau Nabi Saw menurut suni ternyata meniru dr Yahudi (Nabi kok meniru..dari Yahudi lagi)….kebanyakan ente ini melintir hadist ato emang goblok ?????????? jwb dg ilmiah mslh puasa asyuro tadi ?
    saya tunggu jwb nya ?

  19. waduuuuuh ni yg gak ngerti sapa sihh…..
    ana mo tanya, bukankah ketika syd Husein hndak berangkat ke Iraq, salah satu yang mencegah untuk berangkat tu kan syd Abdullah bin Umar, bahkan beliau sgt menangis krn syd Husein tetap aja berangkat…kira2 klo kita pikir, klo beliau benci ama ahlulbait kenapa pake mencegah segala dan menangisi krn gak bisa mencegahnya untuk berangkat ke Iraq…..bukankah ini justru menunjukkan kecintaan beliau yg sangat kpd syd Husein……trus bendingkan dgn orang2 Iraq yang mengaku2 pecinta ahlul bait dgn mengundang syd Husein untuk baiat, namun apa yg mereka lakukan ketika beliau dikepung oleh pesukannya ibn ziyad tidak satupun dari mereka yang membela syd Husein bahkan berbalik membantu pasukannya ibn ziyad untuk menyerang syd Husein….. inikah yg namanya cinta????
    ana kuatir orang2 syi’ah yg sekarang mengaku2 pecinta ahlul bait adalah orang2 spt orang Iraq dulu (krn memang banyak syi’ah yg muncul dr iraq), menebar omongan kecintaan kpd ahlil bait tp haya dusta belaka…..
    so, kpd para habaib (ahlil bait) jgn mudah ketipu dgn pengakuan orang cinta ahlil bait krn datuk anda dulu tu krn dikhianati oleh orang2 semacam itu……

    ______________________

    Ibnu Jakfari:

    Saya tidak mau bunag waktu menangapi apakah orang-orang Syi’ah palsu dalam kecintaann mereka kepada Ahlulbait as. seperti orang-orang iraq masa lalu, tapi yang penting Anda jawab adalah apa bukti kecintaan kalian kepada Ahlulbait as. sementara kalian begitu mencintai dan membela “mati-matian” para membenci Ahlulbait as., bahkan yang membantai mereka! Dan kalian tidak pernah mau mengingat peristiwa-peristiwa yang menimpa mereka!

    Tidak termasuk dalam agenda kalian mengenang hari kelahiran atau hari-hari wafat tokoh-tokoh Ahlulbait as. Bahkan adakah bukti bahwa kalian memang benar-benar terikat dengan bimibingan Ahlulbait as.?

    Jika kaum Syi’ah palsu dalam kecintaan mereka itu jelas bukan berarti dengan serta-merta kalian pecinta mereka selama tanda-tanda minimal kecintaan itu tidak pernah tampak! Justeru dalam banyak kali muncul dari sebagian kalian bukti (atau paling tidak tanda-tanda) ketidak-cintaan (atau bahkan kebencian) kepada Ahlulbait as.!!!!
    Wassalam.

  20. @ ibn jakfari n semua orang2 syiah di blog ini, satu lagi jawaban atas artikel anda dan kemusykilan anda di atas sudah banya terjawab di website : http://www.forsansalaf.com
    liat aja sendiri di artikel ” ASYURA’ HARI BERKABUNG ?”
    ikuti aja diskusinya disitu klo anda menganggap diri anda benar n berani…jangan cuman jago kandang……….

    ____________________

    Ibnu Jakfari:

    Apa Anda telah menemukan formulasi untuk mengharmoniskan antara riwayat-riwayat tentangnya yang centang perentang? Tolong sampaikan di sini! Jangan hanya bisa membaca tanpa mampu menyimpulkan!!

  21. ni alamat selengkapnya.. klik disini :
    http://www.forsansalaf.com/2009/asyura-hari-berkabung/

    _____________________

    Ibnu Jakfari:

    Kalau kalian mengangap salah apa yang dilakukan Syi’ah dalam mengenang kesyahidan Imam Husain as. Ya tidak apa-apa, silahkan kalian (Sunni-habaib/para sayidin) mengenangnya dengan cara kalian! Bukankah sekedar menangis (meneteskan air mata kesedihan) atas kesyahidan Ima Husain as. itu boleh hukumnya? Lalu mengapakah hal sederhana itu juga tidak kalian lakukan? Mengapa hanya air mata saja untuk Imam Husain as. kalian tidak sudi menenteskanya?

    Mengapa kalian tidak membuat haul (peringatan hari syahidnya Imam Husain as.) walaupun dengan gaya kalian (para Sayyidin), membacakan tahlilan, membaca sejarah hidupnya, menyebuytkan hadis-hadis keutamaannya dll.
    Terbukti kan kalau Imam Husain as. dan Ahlulbait tidak punya tempat di hat-hati kalian?

    • Wah…wah…sebentar mas. Jika mas kritik bahwa semua kelompok sunni, bahkan termasuk habaib/sayyid tdk memiliki kecintaan dan kerinduan kepada ahlulbait (Imam Husein) jelas mas telah keliru. Menyamaratakan semua yg bermazhab sunni seperti sangkaan mas ini sungguh tdk fair.

      Apakah mas tdk memahami bahwa sunni atau ahlussunah wal jamaah begitu beragamnya? Di Indonesia saja yg mengaku ahlussunnah tdk kurang dari 5 manhaj yakni NU, Muhammadyah, Wahabi/Salafy, AlIrsyad, HTI, dll.

      Jika sangkaan mas itu ditujukan kepada Wahabi/Salafy nah itu baru shahih. Yang lain sy kurang begitu faham. namun NU jelas2 tdk. Merekalah yg memperkenalkan kecintaan dan kemuliaan ahlulbait Nabi saw yg dimana bahkan mazhab Syafei sendiri tdk mencapainya. Mereka pula yg mengajarkan kecintaan dan pengangkatan derajat thd dzuriat Rasulullah saw demi kecintaan mereka kepada Rasul saw dan ahlulbaitnya.

      Kemudian, menurut mas siapakah yg telah menyebarkan agama Muhammad saw di seluruh penjuru negeri ini yg bahkan masuk ke pelosok-pelosok yg manusia lain enggan menghampirinya? Tidak lain adalah para habaib/sayyid dimana darah Rasul saw mengalir padanya. Wali Songo sebagai pelopor pertama di Indonesia adalah merupakan habaib/sayyid (hanya 1 yg msh dierdebatkan). Kemudian turun temurun memunculkan habaib lainnya seperti Habib Abubakar bin Salim, Habib Idrus bin Salim, Habib Umar Alattas, Habib Abubakar Alattas, dll.

      Haul yg biasa dilaksanakan oleh para sayyid/habaib adalah haul bagi mereka-mereka yg dikenang akan perjuangan dan kemuliaan mereka di Indonesia. Tidak melaksanakan haul bagi Imam Husein adalah bukan sebuah bukti ketidakcintaan kepada Beliau as. Pribadi-pribadi para habib/habaib/sayyid sangat mengenal akan keutamaan dan kemuliaan Imam Husen.

      Jika ada para habaib/sayyid yg seolah-oleh membela musuh-musuh ahlulbait Nabi saw serta seolah-olah tdk menyukai ahlulbait Nabi saw, hendaknya didoakan memperoleh hidayah demi kecintaan kita kepada Nabi saw dan ahlulbaitnya.
      Demikian. Semoga bisa difahami.
      Salam

      ___________________

      Ibnu Jakfari:

      Saya setuju dengan Anda bahwa:Jika ada para habaib/sayyid yg seolah-oleh membela musuh-musuh ahlulbait Nabi saw serta seolah-olah tdk menyukai ahlulbait Nabi saw, hendaknya didoakan memperoleh hidayah demi kecintaan kita kepada Nabi saw dan ahlulbaitnya.
      Tapi yang perlu saya luruskan adalah sebagian mereka bukan: seolah-oleh membela musuh-musuh ahlulbait Nabi sawtapi benar-benar membela musuh-musuh Ahlulbait as. leluhur mereka sendiri! Sungguh menyedihkan!

      Tapi mas tolong disampaikan dong alasan sesungguhnya mengapa habaib/para sayyidin atau kalian warga NU (yang saya yakini banyak yang menyintai Ahlulbait as) mengapa kalian tidak tertarik memperingati tragedi pembantaian Imam Husain as. atau memperingati hari-hari lahir dan wafat para tokoh Ahlulbait as. seperti Sayyidatuna fatimah (putri tercita Nabi saw.), Imam Ali as., Imam Hasan as., Imam Zainal Abidin dll. bahkan tidak mencerehkan keutamaan mereka atau membawakan nasihat dan mutiara hikmah yang mereka sabdakan? Tolong dijelaskan alasan kalian akhi muhtaram… kami ingin tau biar tidak terjadi su’u dzan.

      • Maaf nih numpang nyamber. Kenapa tidak ada haul untuk husein ra. Haul untuk rasullulAh aja g boleh, apa lagi untuk ali ra, apalagi anak nya. Itu bid’ah.

  22. di daerah saya, saya sering melihat jamaah suatu perkumpulan yg bernama MAJELIS RASULULLAH sering mondar mandir konvoi sepeda motor. Kami sebagai rakyat awam, kok melihatnya tidak lebih dari usaha unjuk gigi yg tdk banyak faedahnya, sekedar pamer dan beraroma RIYA dg jaket seragam yg sangat terlihat ‘Sakral’.
    Apakah mereka benar2 pecinta Rasul dan itrah ahlulbaytnya ?

  23. @ ibn jakfari, bukannya kita tidak setuju dengan menangis karena kesedihan atas meninggalnya syd Husein, itu tidak masalah, bahkan Nabipun menangis (spt hadits yg selalu anda tampilkan), tapi yang kami gk setuju, adakah Nabi mengajarkan untuk melukai diri bahkan anak kecil untuk menunjukkan kecintaan kita ???
    klo ada, tolong tampilkan haditsnya beserta riwayatnya !! kami tunggu……
    mas, kira2 untuk menunjukkan cinta itu dengan melukai diri atau melakukan sesuatu yang membuat syd Husein bangga dengan kita ????
    klo permasalahan kami tidak mengadakan acara khusus peringatan haul Imam Husein karena keutamaan syd Husein sudah diketahui secara umum dan tertulis dikitab2 berbeda dgn para habaib (auliya’) mereka tidak setenar syd Husein, shg perlu untuk diadakan acara biar bisa dikenang. klo untuk syd Husein gk usah diadakan acara, orang sudah bisa mengenangnya……..
    sekalipun gitu, bukankah setiap ada acara tahlilan baik di haul ataukah tidak para habaib tidak melupakan untuk mendoakan juga dengan menyebut semua ahlil kitab dalam doanya …???? apakah kita ahlussunnah dikatakan melupakan padahal acara kita tidak nunggu tiap tahun mengenang tapi kita bisa mengenang dan berdoa untuk syd Husein…..

    _____________________

    Ibnu Jakfari:

    Sebuah cara mengelak yang hebat sobat!
    kalau itu alasannya mengapa kalian membuat acara mauludan tanpa henti? Apakah Nabi dan keutamaannya belum jelas dan diketahui umat Islam?
    Lalu siapa yang bilang kalau keutamaan Imam Husain sudah dikenal oleh banyak kalangan Muslim Sunni?
    Selain itu, bukankah dengan mengenang tragedi yang menimpa beliau dan keluarga beliau dengan cara yang sangat kejam oleh musuh-musuh Allah akan menjadikan apa yang sudah kita ketahui iitu akan bertambah dalam dan luas dan generasi penerus pun juga akan mengetahuinya?! di samping kita akan tau siap-siapa musuh-musuh Ahlulbait Nabi saw.!
    Akhi Anda harus jujur bahwa sebenarnya ada keengganan di kalangan sebagian besar Muslim Sunni untuk mengenang tragedi Imam Husain as. sekedar menginat saja mereka enggan!! Dan para ulama kalian menfatwakan haram hukumnya membaca ulang kisah pembantaian yang dialami Imam Husain as.! Ada apa sebenarnya mereka mengharamkannya? Apa takut kalau nanti tuan-tuan yang mereka agungkan; Yazid Cs diketahui kejahatanya? atau mengapa?

  24. @ ibn jakfari, dari mana anda katakan kalo kita membela mati2an pembunuh syd Husein ? klo anda katakan kita berpuasa asyura’ itu membela syd Husein trus gimana dengan hadits tentang puasa ?? gimana dengan syd Husein yang berpuasa asyura’ juga ?? mas, bukankah tanda paling kuat dari kecintaan adalah mengikuti amalannya, trus gimana degn anda orang2 syiah gak mau mengikuti imam anda trus anda mengaku2 cinta dengan syd Husein ….?
    apakah nilai cinta menurut orang syiah itu hanya dengan menangis dan melukai diri, tapi tidak mau mengamalkan dengan amalannya syd Husein ????

    Ibnu Jakfari:

    Kalau Anda ragu bahwa tidak sedikti Muslim Sunni yang membela para pembenci bahkan pembantai keluarga suci Nabi saw., dan pembantaiImam Husain as. maka buka buku-buku ulama kalian yang memuji-muji Umar ibn Sa’ad ibn Abi Waqqash sebagai seorang yang terpercaya dalam agama! yazid sebagai dipuji habis-habisan oleeh ulama-ulama Anda seperti Ibnu al Arabi al Mailiki dalam kitab al Awashim Min al Qawashim dan ulama lainnya.
    Adapun hadis-hadis tentang ppuasa Asyura sudah saya sajikan dalam artikel di sini hadis-hadisnya saling kontradiksitif. tapi jika kalian mau melakukannya itu sih terserah!
    Jika Anda mengatakan Imam Husain juga berpuasa Asyura’, maka tolong tunjukkan buktinya!
    Dan juga tolong buktikan kesetian kalian kepada Imam Husain as. dan ketuluasan kalian dalam mengikuti ajaran Alhulbait as.!!!sementara sekedar menangis untuk Imam Husain saja kalian enggan melakukannya!!

  25. @ ibn jakfari, tu jawaban dari muhibbah tentang artikel anda di atas belum anda jawab…… gimana tu tanggapan anda ????
    klo mo tau jawaban lebih hebat lagi dari orang2 sunni pengikut habaib, liat aja di http://www.forsansalaf.com

  26. @ Ibin Jakfar : Saya dukung anda untuk masuk ke web yang di kasi oleh Elfasi demi membuktikan cinta anda kepada Sayyidina Husein.

  27. @ ibn jakfari, ane udah katakan klo ane gak melarang dan mempermasalahkan untuk menangisi atas kematian syd Husein, semua orangpun akan merasa bersedih jika melihat cucu kesayangan Rasulullah dibantai. Tapi yang kami permasalahkan adalah ritual yang dengan melukai diri aplagi ama anak kecil gitu, mana dalil yang memperbolehkan seperti itu ??? adakah ajaran ahlul bait untuk melukai diri di hari itu ??????
    trus mana dalal yang menerangkan secara jelas tentang hari berkabung dihari kematian syd Husein hingga menghilangkan amlan2 lain yang ada dalilnya seperti puasa asyura’, bersedekah kepada anak yatim dll. ??
    kami tunggu jawabannya……
    n klo bisa ikutan dong di web yang ane sebutkan itu, jangan cuman main di kandang aja apalagi gak bisa jadi jado juga…

    ________________

    Ibnu Jakfari:

    1) Akhi alfasi, sepertinya Anda perlu membaca fatwa-fatwa ulama Syi’ah tentang apa yang anda nisbatkan kepada mazhab Syi’ah atau praktik sebagian orang Syi’ah!
    2) Dalil syar’i itu adalah al Qur’an dan Sunah Nabi saw…. Sunnah itu ada tiga macam, Qaliyah, Fi’liyah dan Taqririyah… maksud fi’liyah adalah tindakan Nabi saw…. Apa yang beliau lakukan adalah dapat menjadi bukti dibenarkanya sebuah amalan (selain yang dikecualikan).. Nah, apa yang beliau lakukan adalah bentuk berkabung dengan menangisi kesyahidan Imam Husain as.
    Lalu apakah kalian sudah melakukannya? Apakah kalian sudah beriqtida’ dengan sunnah beliau dalam hal ini?
    3) Akhi, tolong jelaskan kepama kami di sini, apakah yang dilakukan nabi Ya’qub as. dengan menangisi Yusuf as, putranya yang hilang (belum mati) sehingga beliau menjadi buta, dapat digolongkan sebagai melukai diri sendiri?
    Wasalam.

  28. @ ibn jakfari, anda katakan ” kalau itu alasannya mengapa kalian membuat acara mauludan tanpa henti? Apakah Nabi dan keutamaannya belua jelas dan diketahui umat Islam?
    Selain itu, bukankah dengan mengenang tragedi yang menimpa beliau dan keluarga beliau dengan cara yang sangat kejam oleh musuh-musuh Allah akan menjadikan apa yang sudah kita ketahui iitu akan bertambah dalam dan lluas dan generasi penerus pun juga akan mengetahuinya?! di samping kita akan tau siap-siapa musuh-musuh Ahlulbait Nabi saw.!”

    kita sebagai umat islam kewajiban kita setelah mencintai Allah adalah mencintai Rasulullah SAW, untuk itulah kami sangat sering mengadakan maulid Nabi Muhammad SAW karena kami berusaha menumbuhkan rasa cinta kami kepada Rasulullah sebagai pokok dari keluarga beliau yang suci. Jika rasa cinta kepada beliau sudah tumbuh, maka secara otomatis akan mengajak untuk cinta kepada orang2 yang beliau cintai termasuk syd Husein.
    kami tanya, jika anda benar2 cinta kpd syd Husein ,knp anda hanya memperingati dan mengenang beliau hanya di hari kematian beliau, bukan setiap saatnya ??? jika anda benar2 cinta harusnya anda bisa mengenangnya setiap saat, tidak perlu menunggu satu tahu untuk mengenangnya………

    anda juga katakan “Tapi mas tolong disampaikan dong alasan sesungguhnya mengapa habaib/para sayyidin attau kalian warga NU (yang saya yakini banyak yang menyintai Ahlulbait as) mengapa kalia tidak tertarik memperingati tragedi pembantaian Imam Husain as. atau memperingati hari-hari laihr dan wafat para tokoh Ahlulbait as. seperti Sayyidatuna fatimah (putri tercita Nabi saw.), Imam Ali as., Imam Hasan as., Imam Zainal Abidin dll.”
    mas, kami bukannya enggan untuk mengenag syd Husein, jelas beliau sudah ada di benak kami dan kami cinta beliau beserta keturunannya. namun apakah ritual yang diadakan untuk mengenang beliau (meukul dan melukai diri) diajarkan oleh Rasulullah dan para ahlul baitnya ???? apkah syd Husein sendiri melakukan hal demikian untuk mengenag kematian ayahanda tercinta syd Ali bin abi tholib ??? klo iya dan ada dalilnya , maka kami akan ikuti, karena termasuk ungkapan rasa cinta kepada adalah mengikuti amalan beliau . klo memang mengenang kematian seseorang dengan memukul dan melukai diri sebagai suatu ungkapan rasa cinta yang memiliki keutamaan harusnya beliau syd Husein melakukannya untuk mengenang kematian syd Ali, krn pastinya beliau lebih cinta kpd syd Ali daripada kita.

    ______________

    Ibnu Jakfari:

    Akhi, mana yang belih baik mengenang Imam Husain barang sekali dalam setahun atau sama sekali tidak mau mengenangnya walaupun berdalih karena beliau sudah ada di hati kalian?
    lagi pula, Anda sepertinya tidak mengenal tradisi Syi’ah yang senantiasa mengenagn tragedi kesyahidan Imam Husain as. setiap ada kesempatan…. Kulla yaumin Asyura’ wa Kulla ardhin Karbala’ adalah slogan kami.

    Akhi, saya mau bertanya: Apakah menurut teologi Sunni kekhalifahan yazid itu sah?
    Jawaban Anda akan sangat menentukan akidah mazhab kalian. Jadi hati-hati dan jangan takut menjawabnya!!!!

  29. @ibnu jakfari

    Tapi yang perlu saya luruskan adalah sebagian mereka bukan: seolah-oleh membela musuh-musuh ahlulbait Nabi sawtapi benar-benar membela musuh-musuh Ahlulbait as. leluhur mereka sendiri! Sungguh menyedihkan!

    Ya jika memang apa yg mas sinyalir benar, lantas apa yg menjadi hak dan apa yg menjadi kewajiban kita thd hal itu? Ingatlah bahwa di darah mereka mengalir darah sayyidatina Fatimah Az-Zahra dan Rasul saw. Lebih-lebih jika mereka memiliki kedudukan yg mulia di masyarakat. Adakah hak kita mencela mereka? Sy khawatir ini akan menyinggung perasaan Nabi saw. Bukankah Rasul saw tidak meminta upah atas apa yg telah diusahakannya kecuali kecintaan kepada keluarganya? Apakah Rasul saw pernah menyatakan atau paling tdk mengisyaratkan agar kita boleh mencela dzuriat Beliau? Bukankah Nabi saw bersabda; “Pada hari kiamat semua nasab terputus kecuali nasabku?”

    Tapi mas tolong disampaikan dong alasan sesungguhnya mengapa habaib/para sayyidin attau kalian warga NU (yang saya yakini banyak yang menyintai Ahlulbait as) mengapa kalia tidak tertarik memperingati tragedi pembantaian Imam Husain as. atau memperingati hari-hari laihr dan wafat para tokoh Ahlulbait as. seperti Sayyidatuna fatimah (putri tercita Nabi saw.), Imam Ali as., Imam Hasan as., Imam Zainal Abidin dll. bahkan tidak mencerehkan keutamaan mereka atau membawakan nasihat dan mutiara hikmah yang mereka sabdakan? Tolong dijelaskan alasan kalian akhi muhtaram… kami ingin tau biar tidak terjadi su’u dzan.

    Mas kan mengerti bahwa di Indonesia sebagian besar umat Islamnya bermazhab Syafii dimana mazhab Syiah sdh sejak beheula dianggap sebagai ancaman dan mazhab yg bertentangan dgn akidah Ahlussunnah. Meskipun itu jelas keliru, namun pandangan ini toh msh sulit berubah. Seperti kata-kata seorang ulama Syiah, “Jaman boleh berubah, namun kebencian thd Syiah tdk pernah berubah”. Hal ini juga terutama akibat serangan yg keji yg begitu gencar dari musuh-musuh Syiah yg terus mendiskretkan Syiah dgn menuduh dan melakukan fitnah di luar batas kepantasan, sehingga tanpa disadari masyarakat awam pun menjadi terpengaruh. Bahkan yg paling menyedihkan dan menjadi keprihatinan kita adalah sulitnya mengucapkan kemuliaan Imam Ali as tanpa harus dikata-katai sebagai Syiah.

    Nah kondisi ini juga yg menurut sya dialami oleh sebagian besar para Habib Yang Mulia. Begitu mereka menceritakan kemuliaan Imam Ali dan anak-anaknya, dengan serta merta mereka dicap Syiah. Muncul fitnah. Muncul permusuhan. Lantas bagaimana mas mengharapkan mereka agar menganjurkan atau merayakan haul Imam Husein secara terang-terangan seperti apa yg dilaksanakan oleh saudara Syiah? Jika mas memahami apa yg telah dilaksanakan oleh para Imam kita terdahulu, seperti Imam Ali as dan Imam Hasan as serta keturunan suci lainnya, maka apa yg telah dilakukan dan tidak dilakukan oleh sebagian habib di Indonesia adalah sdh semestinya, demi tetap tegaknya ajaran Muhammad saw dan tetap terjaganya kemaslahatan Umat.

    Dgn uraian singkat sy ini, pertanyaan mas di atas sebenarnya bisa saya tanya balik. Mengapa Imam Ali as tdk melakukan tindakan yg tegas utk mendapatkan hak beliau? Mengapa para Imam Ahlulbait Yang Suci berdiam diri ketika klan-klan Umayyah & Abbasiah memburu, mencaci dan mendiskretkan mereka? Mengapa kemudian Imam Ahmad Al-Muhajir yg hijrah ke Yaman kemudian merubah mazhab keluarga beliau sebelumnya Ahlulbait menjadi Syafii? Dan mengapa keluarga Imam Ahmad Al-Muhajir beserta keturunannya akhirnya selamat serta menjadi wali-wali yg terus dikenang hingga sekarang?

    Ketahuilah, para habib yang mulia lebih mementingkan kecintaan umat akan Nabi saw, ahlulbait, dan dzuriatnya dibanding mengajarkan kebencian umat thd musuh-musuh Nabi saw dan ahlulbaitnya. Karena kecintaan thd ahlulbait Nabi saw bukanlah dimunculkan atau dipelihara dgn kebencian thd musuh-musuh ahlulbait. Kecintaan thd Nabi saw dan ahlulbait serta dzuriatnya diajarkan melalui kisah-kisah keutamaan dan kemuliaan mereka baik melalui kitab-kitab, ratib, doa-doa serta qasidah-qasidah. Sy sdh membuktikannya.

    Maafkan saya jika mas tdk berkenan. Semoga Rahmat Allah swt selalu dilimpahkan kepada kita semua.

    Salam

  30. @ ibn jakfari, tolong anda tampilkan dalam kitab mana alamat situsnya yang menerangkan tentanf fatwa2 ulama’ syiah yang mengharamkan melukai diri ketika peringatan 10 muharrom di karbala ? tapi kenapa masih juga terjadi, apakah mereka orang2 syiah udah tidak patuh lagi dengan ulama’nya ???
    klo anda mendasarkan adanya hari berkabung dengan dasar menangisnya Rasulullah SAW, mana tunjukkan dalilnya klo waktu menangisnya Rasulullah ketika mendapatkan kabar dari JIbril adalah bertepatan dengan 10 Muharrom ???
    n klo anda menyatakan bolehnya melukai diri berdasarkan pada menangisnya Nabi Ya’qub hingga matanya putih, maka ane mau tanya, kira2 sama apa tidak antara keduanya ?? apakah butanya Nabi Ya’qub itu karena kesengajaan untuk membutakan diri dengan menangis atau tidak ? dan gimana dengan orang syiah yang sengaja memukul dan melukai diri bahkan kepada anak kecil ????
    maaf pahami dulu. jangan asal menjadikan sesuatu sebagai dalil…..
    untuk alasan kenapa orang sunni tidak mengerjakan untuk memukul diri saat asyura’ kami jawab karena tidak diajarkan oleh Nabi, bahkan yang beliau ajarkan adalah melakukan apa yang membuat Allah ridho, liat hadits ini baik2 :
    عن النبي صلى الله عليه وسلم لما دفن ولده إبراهيم وقف على قبره، فقال: ” يا بني القلب يحزن، والعين تدمع، ولا نقول ما يسخط الرب، إنا لله وإنا إليه راجعون،
    Ketika putra beliau Ibrohim dikebumikan, Rasulullah SAW berdiam di atas kuburannya seraya berkata : Wahai anakku, hati bisa berduka, mata bisa meneteskan air mata, tapi tidak akan Aku katakan perkataan yang membuat Tuhan-Ku murka. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya”

    ___________________

    Ibnu Jakfari:

    *) Akhi elfasi, tolong sebutkan di kitab mana ulama Syi’ah membolehkan apa yang anda katakan itu?
    Adapun kalau ada orang Syi’ah melakukannya, pertama, Anda perlu pastikan dulu apakah mereka Syi’ah kami (Imamiyah) atau mereka jangan-jangan dari Syi’ah lain, Isma’iliyah misalnya!

    *) Akhi, ana mau bertanya jika orang-orang Sunni rame-rame melacur misalnya (maaf agak mengagetkan mungkin pengandaian ini, walaupun ia benar-benar nyata terjadi) di lokalisasi, apakah berarti hal demikian menunjukkaqn kaum Sunni sudah tidak patuh lagi kepada ulama mereka?

    *) Akhi, kalau tangisan Nabi itu bukan terkait dengan Ima Husain as., lalu terkait dengan siapa?
    Akih, kami hanya meminta Anda melakukan seperti yang dilakukan Nabi saw! Hanya meneteskan air mata kesedihan atas kesyahidan cucunda tercinta Nabi saw.! Kami tidak minta yang lainnya! Apakah meniru Nabi saw. dalam pandangan Anda menjadi Bid’ah?

    *)Akhi, saya tidak mengatakan bahwa boleh melukai diri dengan dalil apa yang dialami Nabi Ya’qub as.! Itu kesimpulam mengada-ngada Anda! Coba tunjukan mana kata-kata saya yang mengatakan demikian? Saya hanya meminta kepada Anda agar menjelaskan apa sikpa Anda terhadap apa yang dilakukan Nabi Ya’qub as.? Mengapa Nabi Ya’qub as menangisi putranya? Apakah Anda akan katakan beliau cengeng?!Apakah tangisan yang mengakibatkan kebutaan itu baik dilakukan seorang nabi?

    *) Apakan menurut Anda apa yang dilakukan orang-orang Syi’ah itu sudah sampai tahap membahayakan diri atau tidak?

    Akhirnya saya bertanya kepada kalian, sekali lagi jika kalian keberatan dengan praktik kaum Syi’ah (jika benar itu dilakukan atas dasar fatwa ulama mereka atau paling tidak direstuai/didiamkan ulama mereka), lalu mengapakah kalian tidsak sedikit pun mau meniru Nabi kalian barang sekedar meneteskan air mata kesedihan untuk cucu nabi kalian?
    Mengapa kaum Sunni tidak tergerak hatinya meperingati hari kesyahidan cucu tercinta Nabi mereka, walaupun dengan cara mereka sendiri? Mengapa? Jangan mengelak akhi!

  31. @ ibn jakfari, klo buat blog dan membuka ruang diskusi yang fair donk …..jangan teman2 syiah aja yang di approve tapi dr orang sunninya tidak, klo emang gak bisa jawab jangan buat ruang diskusi…
    takut ya keliatan bohongnya dan keliatan bodohnya orang2 syiah, cuman ngaku2 ilmiah tapi gak berdasar sama sekali….
    sekali lagi klo gak bisa jawab gak usah buat ruang koment
    n klo nt benar2 bernyali, masuk aja di http://www.forsansalaf.com disitu selalu fair komentar2 baik dr orang sunni atau orang syiah pasti di approve selama masih ilmiah..
    buktikan klo nt benar, ane tunggu disitu klo nt berani jangan cuman jd betina kandang aja

    • @elfasi

      rupanya ente lagi tidur nggak baca komen2 di blog ini… wong banyak yang anti syiah termasuk ente dimuat kok nggak tahu ya ?!!

  32. @ all orang syiah khusus ibn jakfari, jika anda bernyali kami tunggu untuk diskusi di sini :
    http://www.forsansalaf.com/2009/asyura-hari-berkabung/

    buktikan klo nt benar2 n pacinta ahlil bait, jangan cuman jadi betina kandang aja

    • sungguh luar biasa kecintaan mereka (saudara suni) pada HAbaibnya. Tapi mengapa mereka lebih mengutamakan Haul PAra SAyyidnya ketimbang Haul Imam Hussein yg tanpanya, para habaib/sayyid anda tdk akan Eksis di Indonesia tercinta ini ?

      Sepertinya saatnya kita tdk perlu lagi sembunyi thdp musuh Islam/Nabi Saww, Umat Islam sdh terlalu lama larut dlm ‘bertaqiyah’, hingga akhirnya kebablasan jauh dr ajaran NAbi Saww. Para Umaro dan Ulama di NU (ahlussunah wal jamaah) sdh saatnya utk mereformasi Aqidah, jg lg sembunyi dibalik ‘taqiyah’ dihadapan umat yg awam seolah2 berdalih mencontoh sikap Imam Ali as dlm menghadapi para Pesaingnya.

      Toh sikap diam Imam Ali As pada akhirnya terakumulasikan dg Perlawanan Imam Hussein As di padang KARBALA…apa bedanya? Tdk ada istilah Diam di dalam Menghadapi kaum penghianat dan perusak Islam. Semuanya hanya masalah waktu, peluang dan kesempatan. Diam dan Bergerak adalah Syiasat.
      lalu apakah kalian (saudara SUNI) akan diam terus, ….kapankah menurut kalian sikap Imam Hussen as akan kalian ejawantahkan ?

      • Tapi mengapa mereka lebih mengutamakan Haul PAra SAyyidnya ketimbang Haul Imam Hussein yg tanpanya, para habaib/sayyid anda tdk akan Eksis di Indonesia tercinta ini ?

        Pertanyaan “mengapa” ini sejatinya tdk perlu dikeluarkan. Karena selain tdk berhak juga jawaban apa pun sampai mulut bebusah tdk akan pernah memuaskan. Lagi pula menilai kecintaan & ketaatan hanya dari perayaan maulid/haul sungguh sangat naif. Kecintaan tdklah ditunjukkan dgn haul. Mengingat, mengenang dan meneteskan air mata atas syahidnya Imam Husein as secara sendirian jg sdh cukup. Apa lagi yg mas inginkan?

        Dirayakannya haul para Habib Yang Mulia adalah karena perjuangan dan jasa mereka telah dikenal oleh masyarakat Indonesia secara luas dan mereka sendiri telah merasakan manfaatnya. Para habib, dan termasuk sy sendiri, jg bukannya tdk tau dan tdk menyadari bahwa Imam Husein & Imam2 Suci lainnya memliki kedudukan yg jauh lebih mulia. Percayalah, tdk semua habib seperti apa yg mas bayangkan yg seolah-olah membenci Syiah dan apalagi membenci leluhurnya sendiri.

        Sepertinya saatnya kita tdk perlu lagi sembunyi thdp musuh Islam/Nabi Saww, Umat Islam sdh terlalu lama larut dlm ‘bertaqiyah’, hingga akhirnya kebablasan jauh dr ajaran NAbi Saww. Para Umaro dan Ulama di NU (ahlussunah wal jamaah) sdh saatnya utk mereformasi Aqidah, jg lg sembunyi dibalik ‘taqiyah’ dihadapan umat yg awam seolah2 berdalih mencontoh sikap Imam Ali as dlm menghadapi para Pesaingnya.

        Apakah mereka bertaqiyyah atau tdk, sy tidak mau mengomentari. Yang jelas kebanyakan dari mereka mencontoh leluhur2 mereka dalam berpandangan baik thd semua manusia bahkan thd “musuh-musuh” ahlulbait. Bagi mereka, setahu saya, kecintaan kepada ahlulbait dan keluarganya tdk boleh dikotori dgn kebencian kepada musuh-musuhnya. Sikap & prilaku ini toh jg mencontoh dari imam ahlulbait sendiri.

        Apakah sdh cukup waktunya “bertaqiyyah”? Wallahu a’lam. Mereka lebih tau.

        …lalu apakah kalian (saudara SUNI) akan diam terus, ….kapankah menurut kalian sikap Imam Hussen as akan kalian ejawantahkan ?

        Apa yg mas maksud mengejewantahkan sikap Imam Husein?

        Semoga Rahmat Allh swt selalu dilimpahkan kepada kita semua. Amin.

        Nasehat sy, janganlah kita terjebak dalam perangai Wahabi yg sama-sama tdk kita sukai yg begitu doyan dan gigih memaksakan ideologinya serta manyalahkan mereka-mereka yg tdk menuruti kemauan mereka seakan-akan tdk ada alasan lagi selain menerima ideologi mereka. Ingatlah bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan dan keyakinan mereka masing2. Tdk ada hak utk mempertanyakan “mengapa” kamu begini, “mengapa” kalian begitu. Harusnya begini seperti apa yg sy lakukan. Itu hanya para Wahabi & orang2 yg berpikiran picik saja yg melakukan.

        Salam

  33. elfasi,
    udah gua baca itu situs, tapi isinya katrok…

    Ada yg berpendapat sahabat itu Tsiqoh dari semenjak 3 tahun… bahkan mungkin sebielum lahir seperdti Marwan aibn hakam kajli yee…..hihihi…

    jadi nggak usah dipermasalahkan tadlisnya atau usia 3 tahun meriwayatkan hadits…. model berfiir pokoknya…
    ini katrok pertama

    Kan yahudi zaman nabi muhammad saww itu beda sama zaman sekarang, ritual puasanya juga beda…
    ini katrok kedua…

    udan jelas kata Ibn Atsir bahwa kata asyura itu dikenal setelah periode islam, tapi ngotot bahwa dihaditsnya nggak pake kata asyura….padahal yg ditulis sama yg lain bolone pake kata asyura…
    ini katrok ketiga…

    wah banyak katroknya lah…elfasi..katrok

  34. @ ibn jakfari, kami mau tanya apakah Nabi Ya’qub sengaja membutakan matanya atau tidak ? apakah beliau dinyatakn sama dengan tindakan orang syiah memukul2 dadanya ketika ritual asyura’????
    adakah ajran Nabi dalam memukul2 dada ketika sedang sedih ???
    klo menangisny Nabi, apakah harus di hari Asyura’ dan dengan membuat ritual khusus, lalu di hari lainnyamelupakannya lagi ????
    harusnya jika anda dan semua orang syiah mengaku cinta dengan ahlul bait, tiru akhlaq mereka, seperti imam ali zainal abidin, walaupun beliau melihat secara langsung kejadian tragis pada ayahnya tapi beliau tidak pernah sedikitpun melaknat mereka dan tidak ada keinginan untuk mengumpulkan bala tentara guna membalaskan kematian ayahnya kepada yazid dan pasukannya,
    inilah akhlaq dari para ahlil bait yang terus diikuti oleh para cucu beliau di Hadramaut, makanya mereka berhasil dengan mendapatkan kedudukan tinggi disisi Allah dengan menjadi wali besar seperti alhabib abdullah bin alawi alhaddad, bukan malah melaknat mereka……
    buktikan cinta anda dengan amalan dan akhlaq para ahlil bait bukan dengan menangisinya, mereka tidak perlu untuk kalian tangisi karena mereka teleh mendapatkan kedudukan tinggi bersama kekeknya disurga….

    ________________

    Ibnu Jakfari:

    Akhi saya benar-benar prihatin kalau Anda menyebut-nyebut para imam suci Ahlulbait as. yang menerangkan apa yang mereka lakukan seakan kalian (Sunni paling peduli dengan Ahlulbait as.)
    Maaf akhi, kalau kalian benar-benar peduli dengan Ahlulbait as., dengan Imam Zainal Abidin misalnya, tolong coba beritahukan kepada kami di sini, apa yang telah kalian warisi dari beliau?

    Adakah kalian merawisi kumpulan doa beliau yang dikenal dengan nama ash Shahifah as Sajjadiyah?
    Adakah kalian mewarisi Risalah Huquq yang beliau tulis? Maaf akhi yang merawisi semua itu hanya kaum Syi’ah… bukan kalian bukan juga para habaib!!!
    Tolong Anda baca kitabnya Habib Zain ibn Sumaith tentang Thariqah Alawiyah, akankah kalian menemukan fatwa-fatwa, petunjuk, kalimat-kalimat hikmah dan sabda-sabda yang dikutip dari para leluhur habaib?
    Yang Anda akan temukan di sana hanya qala Ibnu Mubarak, Qala fulan qala ‘allan!!!!
    Apakah itu yang disebut merawisi ajaran Ahlulbait?! Thariqah Ahlulbait?!

  35. hayo elfasi, jangan mengelak terus.

    atau gini aja. undang donk orang2 di foransalaf itu kesini. bukankah Anda ndak suka orang yang jago kandang? nah, tunjukkan juga bahwa kalian tak jago kandang. hehehe..

  36. Itulah “hebat”nya para nashibi. Barangkali pabrik pertama di dunia Islam adalah pabrik hadits palsu dg investornya adalah Muawiyah dan komplotannya. Selamat buat anda para nashibi, anda mendapatkan tiket ke neraka hehehe

  37. @Muhibah dan teman-teman

    Saya rasa banyak komen-komen diatas telah keluar dari topik pembahasan, yakni BENARKAH PUASA ASYURA ITU SUNNAH YANG DIPERINTAHKAN NABI SAW ATAU BUKAN?

    Berikut komentar saya:

    Tentu saja para ulama suni tetap mengakuai adanya puasa asyura walaupun hadis-hadis tersebut bermasalah dan kontradiksi…

    Poin yang lebih penting apakah jawaban ulama-ulama tersebut telah menyelesaikan masalah hadis-hadis asyura yang kontradiksi dan bermasalah tersebut?

    Dibawah ini saya bawakan beberapa hadis puasa asyura dari kitab yang konon paling shahih setelah al Qur’an (Bukhari & Muslim), jika anda mengatakan tidak ada kontradiksi tolong masalah ini anda jelaskan:

    1. NABI TELAH BERPUASA ASYURA SEJAK ZAMAN JAHILIYAH BERSAMA KUFFAR QURAISY.

    Hadis no 1

    ‏ حدثنا ‏ ‏عبد الله بن مسلمة ‏ ‏عن ‏ ‏مالك ‏ ‏عن ‏ ‏هشام بن عروة ‏ ‏عن ‏ ‏أبيه ‏ ‏أن ‏ ‏عائشة ‏ ‏رضي الله عنها ‏ ‏قالت ‏
    كان يوم عاشوراء تصومه ‏ ‏قريش ‏ ‏في الجاهلية وكان رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يصومه فلما قدم ‏ ‏المدينة ‏ ‏صامه وأمر بصيامه فلما فرض رمضان ترك يوم عاشوراء فمن شاء صامه ومن شاء تركه ‏

    صحيح البخاري
    Kitab الصوم
    Bab صيام يوم عاشوراء

    Hadis no 2

    حدثنا ‏ ‏أبو كريب ‏ ‏حدثنا ‏ ‏أبو أسامة ‏ ‏عن ‏ ‏الوليد يعني ابن كثير ‏ ‏حدثني ‏ ‏نافع ‏ ‏أن ‏ ‏عبد الله بن عمر ‏ ‏رضي الله عنهما ‏ ‏حدثه ‏
    ‏أنه سمع رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يقول في يوم عاشوراء ‏ ‏إن هذا يوم كان يصومه أهل الجاهلية فمن أحب أن يصومه فليصمه ومن أحب أن يتركه فليتركه

    Shahih Muslim
    Kitab Al Shiyam
    Bab Shaum Yaum Asyura

    Hadis diatas menjelaskan bahwa puasa asyura adalah tradisi musyrikin qureisy, sementara Rasulullah saw. telah melakukan puasa asyura Rasululullah saw. bersama-sama mereka, dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa, Sampai beliau hijrah ke Madinah beliau tetap menjalankan puasa asyura dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa asyura hingga di wajibkannya puasa ramadan (lihat hadis no 1)

    begitu juga hadis no 2 menjelaskan bahwa puasa asyura merupakan tradisi kaum jahiliyah.

    ——————

    2. NABI MENGENAL DAN BERPUASA ASYURA SETELAH HIJRAH KE MADINAH

    Hadis no 3

    حدثنا ‏ ‏أبو معمر ‏ ‏حدثنا ‏ ‏عبد الوارث ‏ ‏حدثنا ‏ ‏أيوب ‏ ‏حدثنا ‏ ‏عبد الله بن سعيد بن جبير ‏ ‏عن ‏ ‏أبيه ‏ ‏عن ‏ ‏ابن عباس ‏ ‏رضي الله عنهما ‏ ‏قال ‏
    ‏قدم النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏المدينة ‏ ‏فرأى ‏ ‏اليهود ‏ ‏تصوم يوم عاشوراء فقال ‏ ‏ما هذا قالوا هذا يوم صالح هذا يوم نجى الله ‏ ‏بني إسرائيل ‏ ‏من عدوهم فصامه ‏ ‏موسى ‏ ‏قال فأنا أحق ‏ ‏بموسى ‏ ‏منكم فصامه وأمر بصيامه ‏

    صحيح البخاري
    Kitab الصوم
    Bab صيام يوم عاشوراء

    Hadis no 4

    حدثنا ‏ ‏علي بن عبد الله ‏ ‏حدثنا ‏ ‏سفيان ‏ ‏حدثنا ‏ ‏أيوب السختياني ‏ ‏عن ‏ ‏ابن سعيد بن جبير ‏ ‏عن ‏ ‏أبيه ‏ ‏عن ‏ ‏ابن عباس ‏ ‏رضي الله عنهما ‏
    ‏أن النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏لما قدم ‏ ‏المدينة ‏ ‏وجدهم يصومون يوما ‏ ‏يعني عاشوراء فقالوا هذا يوم عظيم وهو يوم نجى الله فيه ‏ ‏موسى ‏ ‏وأغرق آل ‏ ‏فرعون ‏ ‏فصام ‏ ‏موسى ‏ ‏شكرا لله فقال ‏ ‏أنا أولى ‏ ‏بموسى ‏ ‏منهم فصامه وأمر بصيامه ‏

    صحيح البخاري
    Kitab أحاديث الأنبياء
    Bab قول الله تعالى وهل أتاك حديث موسى وكلم الله موسى تكليم

    Catatan
    Hadis-hadis 1,2,3 dan 4 saya kutip dari situs Kementrian urusan agama dan wakaf saudi arabia. silahkan dirujuk:

    shahih Bukhari:
    http://hadith.al-islam.com/Display/Hier.asp?Doc=0&n=0

    Shahih Muslim:
    http://hadith.al-islam.com/Display/Hier.asp?Doc=1&n=0

    ______________

    ANEH BIN AJAIB, Setelah dikatakan bahwa Nabi saw bertahun-tahun berpuasa asyura sejak zaman jahiliyah bahkan sampai beliau berhijrah ke Madinah dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa – كان يوم عاشوراء تصومه ‏ ‏قريش ‏ ‏في الجاهلية وكان رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يصومه فلما قدم ‏ ‏المدينة ‏ ‏صامه وأمر بصيامه فلما فرض رمضان ترك يوم عاشوراء – (hadis no1dan no 2),

    TIBA-TIBA DIKATAKAN ketika beliau saw. berhijrah ke kota madinah beliau saw TIDAK MENGENAL APA ITU PUASA ASYURA (hadis Bukhari no 3 & 4), – فقال ‏ ‏ما هذا قالوا هذا يوم صالح هذا يوم نجى الله ‏ ‏بني إسرائيل ‏ ‏من عدوهم فصامه ‏ ‏موسى – Beliau bertanya puasa apa ini? mereka (kaum yahudi) menjawab, “Ini adalah hari baik (agung), pada hari ini Allah telah menyelamatkan bani Israel dari musuh mereka, kemudian Musa as berpuasa. Maka Nabi saw. bersabda, “Kami lebih berhak atas Musa di banding kalian, maka beliau saw berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa. (lihat hadis no 3 dan hadis sejenisnya no 4 -Riwayat Bukhari)

    SAMPAI DISINI TOLONG DIJAWAB PERTANYAAN SAYA?

    1. Dari hadis-hadis diatas yang kontradiksi ini, bagaimana anda menyelesaikannya? mengingat semua hadis tersebut dianggap shahih karena diriwayatkan kitab yang diyakini keshahihan seluruh hadis-hadisnya (Bukhari & Muslim).?

    2. Mana yang benar beliau telah berpuasa sejak zaman jahiliyah atau sejak berhijrah ke Madinah?

    3. Bagaimana bisa dikatakan bahwa Nabi saw telah berpuasa sejak zaman jahiliyah sampai beliau saw berhijrah ke Madina-pun beliau saw. tetap menjalankan sunnah puasa asyura dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa sampai disyariatkannya puasa Ramadan baru beliau tinggalkan (JADI BUKAN KARENA MELIHAT YAHUDI BERPUASA ASYURA)… – كان يوم عاشوراء تصومه ‏ ‏قريش ‏ ‏في الجاهلية وكان رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يصومه فلما قدم ‏ ‏المدينة ‏ ‏صامه وأمر بصيامه فلما فرض رمضان ترك يوم عاشوراء –

    Kemudian dikatakan bahwa beliau berpuasa asyuara setelah melihat Yahudi Madina melakukannya – فقال ‏‏ما هذا قالوا هذا يوم صالح هذا يوم نجى الله ‏ ‏بني إسرائيل ‏ ‏من عدوهم فصامه ‏ ‏موسى ‏ ‏قال فأنا أحق ‏ ‏بموسى ‏ ‏منكم فصامه وأمر بصيامه -?
    Lalu mana yang benar dari dua kontradiksi ini?

    3. RASULULLAH SAW MEMERINTAHKAN PUASA TGL 9 DAN 10 MUHARRAM DEMI MENENTANG TRADISI YAHUDI

    Kemudian yang lebih aneh dan ajaib lagi menurut salah satu riwayat Muslim dari Ibnu Abbas dikatakan, ketika Rasululullah saw berpuasa asyura dan memerintahkan umatnya berpuasa, mereka (para sahabat) mengatakan kepada Nabi saw bahwa hari itu adalah hari yang diagungkan yahudi & Nasrani, Maka Rasulullah saw bersabda maka kalo begitu Insya Allah tahun depan kita berpuasa pada hari kesembilan bulan Muharram (jadi disamping puasa Asyura/tgl 10 Muharram juga tanggal 9 Muharram), akan tetapi beliau saw belum sampai tahun berikutnya sudah keburu meninggal dunia.

    berikut hadisnya:

    حدثني اسماعيل بن أمية أنه سمع أبا غطفان بن طريف المري يقول سمعت عبد الله بن عباس يقول حين صام رسول الله يوم عاشوراء وامر بصيامه قالوا يا رسول الله إنه يوم تعظمه اليهود و النصاري فقال رسول الله ـ فإذا كان العام المقبل ـ إن شاء الله ـ صمنا اليوم التاسع ـ صحيح مسلم كتباب الصيام باب صوم يوم عشوراء ـ

    (Baca Shahih Muslim, Cet. Saudi Arabia, yang dimuraja’ah oleh Syekh Shaleh alu al Syaikh, hadis no. 2666 Kitab Al Shiyam, Bab Shaum Yaum Ashura, hal 860)

    Hadis ini menjelaskan:

    1. Hadis ini membuktikan bahwa Rasulullah saw berpusa asyura dan memerintahkan umatnya berpuasa BUKAN KARENA YAHUDI/NASRANI BERPUASA ASYURA, karena beliau saw baru mengetahui bahwa puasa asyura adalah tradisi yahudi dan nasrani setelah dijelaskan sahabatnya – قالوا يا رسول الله إنه يوم تعظمه اليهود و النصاري –
    JADI hadis ini kontradiksi dengan hadis yang menyatakan bahwa Nabi saw berpuasa asyura setelah melihat yahudi Madina berpusa?

    2. Hadis ini membuktikan bahwa beliau tidak mau menyamai tradisi yahudi/nasrani, makanya beliau memerintahkan agar berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram JADI bukan hanya asyura (10 muharram)?

    3. Lalu mana yang benar, asyura itu tradisi jahilyah, atau tradisi yahudi dan nasrani atau puasa itu memang disyariatkan Allah SWT langsung kepada beliau saw?

    Tolong kerancuan dan kontradiksi-kontradiksi ini di jawab dengan penjelasan yang lugas dan terang dan tidak berputar-putar?

    Wassalam
    Najih Ahyat

  38. @ ibn jakfari , anda katakan ” Maaf akhi, kalau kalian benar-benar peduli dengan Ahlulbait as., dengan Imam Zainal Abidin misalnya, tolong coba beritahukan kepada kami di sini, apa yang telah kalian warisi dari beliau?” mas, perlu anda ketahui, yang kami dan para habaib hadramaut warisi dari leluhur kami yang terus bersambung kepada Imam Ali Zaenal Abidin, yang paling utama adalah kami punya nasab ke mereka, nasab yang suci tapi anda tidak . kami mewarisi ajaran Imam Ali Zainal Abidin untuk tidak melknat dan mengkafirkan orang apalagi para sahabat, inilah warisan2 suci yang langsung berbentuk amal tidak sebagaimana kalian orang syiah hanya mengaku mendapatkan warisan beliau tapi itupun hanya ucapan2nya saja tidak langsung diwujudkan dengan amal……..

    Ibnu Jakfari:

    Oh ternyata Anda ini Sayid toh… Selamat atas anugereh nasab mulia ini. Kami Syi’ah akan selalu menghormati setiap dzurriyah Nabi saw. baik yang Sunni maupun yang Syi’ah.
    Tapi mas, setau saya kebersambungan nasab seorang dengan Ahlulbait Nabi saw. tidak secara otomatis ia mewarisi manhaj dan ajaran mereka… Jadi tolong tunjukan kepada kami nasab ajaran bukan nasab keturunan!!
    Apakah Ansa punya silsilah ajaran yang bersambung kepada Imam ja’far ash Shadiq atau Imam bahkan kepada Ahmad al Muhajir? Kalau punya tolong tunjukkan, pasti kami akan berterima kasih!

  39. Untuk mas Elfasi:

    Nt kayanya ga nongkrongin lg yah blog Forsan Salaf?
    Pertanyaan saya koq yg di http://www.forsansalaf.com/2009/asyura-hari-berkabung/comment-page-2/#comment-1533 sdh 8 hari ga dijawab? Ada apakah? Atw perlu saya tanyakan di sini kpd anda?

    “Iye trus Imam Husein as puasa jg ga saat 9 atw 10 Muharram di Karbala ? Atw pd saat peristiwa tsb Imam Husen as menyinggung2x masalah puasa Asyura kpd para syi’ahnya atw kpd para mushnya ga ?. Secara diakan cucu Nabi SAW pasti tahu sunnah Nabi SAW kan.”

  40. wah……ternyata ini hanya bolg murahan yang gak fair……
    bisanya cuman menmpilkan komentar2 dari orang2 sendiri atauorang lain yang kurang bisa jawab dan mungkin kurang ilmiah…… takut ya keliatan bodohnya adu argumen dengan orang sunni……
    takut kebongkar aibnya klo nt orang2 syiah semuanya gak bisa diskusi secara ilmiah, cuman bisa bawa dalil walaupun maudhu’ dan diberikan kpd orang2 bodoh yang kurang ngerti ama dalil
    klo mo liat kepinteran nt semua diskusi dengan orang yg benar2 bisa ilmiah
    klo gak bisa…tutup aja blog ini mas atao jgn buka ruang koment !!!!!!

    Ibnu Jakfari:

    Mas habib kok di sini pakai nama elfasi?

  41. wah……ternyata ini hanya bolg murahan yang gak fair……
    bisanya cuman menmpilkan komentar2 dari orang2 sendiri atauorang lain yang kurang bisa jawab dan mungkin kurang ilmiah…… takut ya keliatan bodohnya adu argumen dengan orang sunni……
    takut kebongkar aibnya klo nt orang2 syiah semuanya gak bisa diskusi secara ilmiah, cuman bisa bawa dalil walaupun maudhu’ dan diberikan kpd orang2 bodoh yang kurang ngerti ama dalil
    klo mo liat kepinteran nt semua diskusi dengan orang yg benar2 bisa ilmiah. buktiin klo nt ngerasa paling benar dan benar2 pecinta ahlil bait….!!!
    klo gak bisa…tutup aja blog ini mas atao jgn buka ruang koment !!!!!!

    Ibnu Jakfari:

    Lho mas elfasi kok ganti nama menjadi habib.. kapan acara selamatannya mas?

    • baru tahu ya, he….he…he….blog inikan punya syiah jadi wajar kalo isinya begitu dan menghalalkan segala cara dan biasanya kalo kita jawab dengan ilmiah maka akan disensor biar tidak terlihat cacatnya, tapi tidak apa saudara habib tugas kita adalah mengingatkan saudara-saudara kita yang lain biar tidak tersesatkan oleh blog ini…..aaamiiiin..

  42. @armand
    salammu’alaykum akhi,
    bagai mana dengan bukti sejarah para pendakwah dari parsi dan gujarat, bukankah mereka yg lebih dulu mengenalkan islam di Nusantara tercinta ini, bukankah dari merekapun ada para sayidin/habaib yg kita mulyakan, mengapa tdk ada haul untuk mereka, ataukah menurut anda hanya sayidin dr hadramaut saja yg berjasa di Indonesia ini? (saya pun hatur hormat pd sayid hadramaut). tolong jawaban yg objektif.

    sy memahami posisi anda yg sdh terlanjur dekat dg para habaib Suni hingga agak sulit utk bersikap kritis dan obyektif. berbeda dg saya yg memang tdk dekat dan tdk menuntut ilmu dr para habaib suni (walaupun begitu sy tetap haturkan hormat) itulah mengapa saya lebih bebas melantunkan kritik dan pertanyaan pd mereka secara obyektif.

    saya menghormati sesepuh alim ulama kita, para habaib/sayidin suni. namun bagi saya sdh terlalu banyak pertanyaan yg tdk terjawab oleh sdr suni tetntang semua kerancuan/kejanggalan dlm sumber2 hukum islamnya dan telah menjadi standar aqidahnya yaitu hadist2 buhori-muslim atau kutubassithah maupun tafsir Al quran, seperti yg banyak ustdz. IbnJakfari tulis dlm blognya ini.

    Alim ulama syiah bagi saya sdh sangat toleran dlm mensikapi segala keganjilan hadis2 suni, merekapun tdk berlebihan (moderat) dlm mengkritisinya, hanya saja saya melihat justru dr pihak suni yg berlebihan di dlm menanggapi segala krtikan kaum Syiah. Kebenaran moderat (tdk berlebihan, apa adanya) yg saya cari, bukan kebenaran yg samar2. sy tdk ingin mengatakan ini benar atau ini salah, tapi apakah berlebihan jika saya bertanya ‘mengapa’ pd saudara suni tentang banyak hal, terutama kitab hadist rujukan berislam mereka buhori muslim ?

    Salam damai

  43. setuju bung elfasi, emang blog ini ga fair banget yang ditampilakn dari syiahnya saja, berapa kali saya beri tanggapan tapi selalu di sensor….maklum melemahkan syiah….ada juga yang setype dgn blog ini punya si ressay,,,,ya biasa suka sensor yang memojokan syiah….

    Ibnu Jakfari:

    Keterbukaan blog ini bukti ketidak benaran tuduhan anda Cs.

  44. tapi cuma satu berbeda dengan gerombolan syiah dimuat semua…syiah emang licik…..

  45. ya tapi ga sebanyak gerombolan syiah…dasar licik kaya yahudi, oh iya saya lupaa…syiahkan buatan yahudi, abdullah bin saba…..pantas setipe……

  46. @ najih ahyat, anda rupanya kurang memahami ilmu hadits, dalam ilmu hadits, standart penilaian hadits sehinggabisa dinyatakan diterima ataukah tidak bukan dengan logika mas, tapi diliat perowinya, apakah dari orang yagn tsiqoh ataukah tidak.
    jika anda permasalahkan riwayat Ibn Abbas karena pada waktu kejadian beliau masih kecil, ana jawab : mas, dalam meriwayatkan hadits tidak diharuskan sudah besar ketika kejadian karena yang dijadikan tolak ukur adalahwaktu periwayatannya bukan waktu kejadiannya. sehingga walaupun Ibn Abbas ketika kejadian yaitu hijrahnya Nabi masih kecil, namun beliau tidaklah meriwayatkan diwaktu itu pula, akan tetapi ketika beliau sudah dewasa. Perkara apakah beliaumelihat langsung kejadian hijrahnya Nabi ataukah tidak, tidak jadi masalah, karena seandainya saja hadits ini hadits MUDALLAS, tapi ulama’ ahli hadits sepakat bahwa jika tadlisnya adalah sahabat, maka tetap diterima dan bisa dijadikan hujjah. Selain itu, riwayat hadits kesunahan puasa Asyura’ sangatlah banyak, sehingga tidak bisa untuk diabaikan dan dibuang.
    klo gak paham, belajar dulu ilmu mustholah hadits mas,

    • @elfasi

      @ najih ahyat, anda rupanya kurang memahami ilmu hadits, dalam ilmu hadits, standart penilaian hadits sehingga bisa dinyatakan diterima ataukah tidak bukan dengan logika mas, tapi diliat perowinya, apakah dari orang yagn tsiqoh ataukah tidak.

      Ternyata ente yang ngaku pengikut habaib sama juga dengan wahabi yang nggak mau pake akal….
      dan ternyata pemahaman ente tentang hadis juga sama dengan wahabi/salafi hanya kritik sanad, sementara kritik matan, historis dll tidak…!

      kalo benar bahwa ente konsekwen dengan pemahaman tersebut soal hadis, saya mau tanya, bagaimana keyakinan ente terhadap keimanan Ayah Bunda Nabi saw dan Abu Thalib ra, mukmin atau kafir?

      kalo ente mengaku mengikuti leluhur ente para habaib maka ente harus sependapat dengan mereka dan sepanjang yang saya ketahui bahwa tokoh-tokoh ulama habaib hadramut (yang anda juga mengaku sebagi keturunan mereka) semua meyakini bahwa Ayah Bunda Nabi dan pamannya itu mukmin. Juga blog kebanggaan ente “Forsan Salaf” meyakini hal itu.. bahkan menurunkan artikel yang membantah pendapat bahwa Ayah Bunda Nabi saw adalah kafir (lihat artikelnya disini: http://www.forsansalaf.com/2009/sanggahan-orang-tua-nabi-kafir/ ) PADAHAL hadis-hadis tentang kekafiran Ayah Bunda Nabi saw dan Abu Thalib telah diriwayatkan oleh perawi-perawi yang tsiqoh, bahkan diriwayatkan oleh Bukhari & Muslim…!

      kalo anda mengatakan hadis diterima atau tidak hanya (…..diliat perowinya, apakah dari orang yagn tsiqoh ataukah tidak) MAKA LELUHUR ENTA PARA HABAIB dan blog “Forsan Salaf” itu SALAH SEMUA KARENA MENOLAK HADIS BUKHARI & MUSLIM yang mana perowi-perowinya diakui ke-tsiqohannya oleh jumhur ulama bahkan dikatan semua hadis dalam kitab Shahih Bukhari & Muslim adalah shahih!

      KEMABALI KE TOPIK SOAL ASYURA, Mas ucapan Nabi saw yang maksum itu wahyu…jadi nggak mungkin alias mustahil secara akal ucapan seorang yang maksum/wahyu itu KONTRADIKSI..!

      Jadi MUSTAHIL kalo dikatakan bahwa beliau sudah berpuasa sejak zaman jahiliyah dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa KEMUDIAN TIBA-TIBA dikatakan bahwa ketika beliau memasuki kota Madinah beliau tidak mengetahui apa itu puasa asyura? apa ente kira Nabi saw itu pelupa kayak manusia biasa mas (wal iyadh billah)… pake otak dong mas?

      kontradiksi-kontradiksi ini semua menunjukkan bahwa hadis-hadis tersebut maj’ul (bikinan/rekayasa)..!

      Selanjutnya, anda saya tanya dari semua hadis-hadis Bukhari & Muslim yang saling kontradiksi satu sama lain itu, mana yang shahih anda pun tak menjawab?

      menggelikan sekali jika anda meyakini semua hadis yang kontradiksi itu shahih!

      Al hamdulillah ternyata anda tak mampu mensinkronkan/mengkompromikan hadis-hadis asyura yang carut marut dan kontradiksi itu (terutama yang saya sebutkan diatas) !

      Kemudian anda mengatakan:

      jika anda permasalahkan riwayat Ibn Abbas karena pada waktu kejadian beliau masih kecil, ana jawab : mas,….

      Soal hadis Ibnu Abbas saya tak menyinggung atau menyebut permasalahan itu sama sekali, lho kok jawaban anda tiba-tiba kesitu?, rupanya anda asal komen sebelum membaca tulisan saya diatas tersebut…! coba ente baca lagi tulisan saya diatas baru komen!

      Sampai disini dulu

      wassalam
      Najih Ahyat

  47. @arief mulya di 29-Jan

    salammu’alaykum akhi,

    bagai mana dengan bukti sejarah para pendakwah dari parsi dan gujarat, bukankah mereka yg lebih dulu mengenalkan islam di Nusantara tercinta ini, bukankah dari merekapun ada para sayidin/habaib yg kita mulyakan, mengapa tdk ada haul untuk mereka, ataukah menurut anda hanya sayidin dr hadramaut saja yg berjasa di Indonesia ini? (saya pun hatur hormat pd sayid hadramaut). tolong jawaban yg objektif.

    Wa’alaikumusslam,

    Mengenai teori siapa yang pertama kali menyebarkan Islam di Indonesia, di kalangan sejarawan sendiri msh berbeda pendapat, baik teori Persia, Gujarat, maupun teori Timur Tengah. Namun teori Islam masuk Indonesia abad 13 melalui pedagang Gujarat adalah lemah. Bila demikian maka tentunya Islam yang akan berkembang kebanyakan di Indonesia adalah aliran Syiah karena Gujarat pada masa itu beraliran Syiah, akan tetapi kenyataan Islam di Indonesia didominasi mazhab Safi’i (sumber: wikipedia).
    Jika mas kemudian menanyakan bagaimana kita mengingat dan mengenang para penyebar Islam yang kita cintai, maka haul adalah salah satu cara, meski demikian masih ada cara lain yang sdh dijalankan pula selama ini, bukan saja oleh penganut Safi’i di belahan dunia, tapi juga oleh penganut Syia’h di Iran dan negeri2 Syiah lainnya, yakni do’a-doa, qasidah-qasidah serta ziarah kubur. Kegiatan ini di Indonesia sdh secara turun-temurun dijalankan termasuk ziarah kubur ke makam para Wali Songo yang notabene masih dzuriat Imam Ahlulbait.

    Pertanyaan:
    Kenapa harus haul menjadi patokan kecintaan? Apakah tidak melaksanakan haul berarti tidak ada kecintaan? Adakah mengingat para auliya Allah swt, baik auliya yang diklaim milik Syiah maupun auliya Sunni secara bersendiri masih belum cukup?

    sy memahami posisi anda yg sdh terlanjur dekat dg para habaib Suni hingga agak sulit utk bersikap kritis dan obyektif.

    Saya tdk tau apa yang mas pahami mengenai istilah “Habib Sunni”. Sunnikah seorang habib bermazhab Safi’i, yang tidak henti2nya menceritakan ketinggian derajat Nabi saw dan Ahlulbait Beliau Yang Suci? Yang sanjungannya kepada Imam Ali dan keturunannya membuat sekelompok manusia tertentu menjadi merah wajah dan telinganya? Yang para nashibi tidak akan ragu2 mencapnya sebagai Rafidah?

    Dan kekritisan saya adalah bukan pada pribadi-pribadi para habib, terkecuali yang benar2 parah🙂 Jika yang mas maksud dengan kritis adalah mengeluarkan perkataan2 yang merendahkan martabat mereka, mencela serta melupakan bahwa di darah mereka masih mengalir darah Rasul saw, maka silakan saja mas cap saya tidak kritis. No problema bagi saya.

    Berbeda dg saya yg memang tdk dekat dan tdk menuntut ilmu dr para habaib suni (walaupun begitu sy tetap haturkan hormat) itulah mengapa saya lebih bebas melantunkan kritik dan pertanyaan pd mereka secara obyektif.

    Nasehat saya, hindari mendiskretkan pribadi-pribadi mereka serta menyamaratakan penilaian thd mereka jika apa yang mas ucapkan menghormati mereka adalah benar. Tidak sama kedudukan mereka dgn manusia ajam lainnya.

    saya menghormati sesepuh alim ulama kita, para habaib/sayidin suni. namun bagi saya sdh terlalu banyak pertanyaan yg tdk terjawab oleh sdr suni tetntang semua kerancuan/kejanggalan dlm sumber2 hukum islamnya dan telah menjadi standar aqidahnya yaitu hadist2 buhori-muslim atau kutubassithah maupun tafsir Al quran, seperti yg banyak ustdz. IbnJakfari tulis dlm blognya ini.

    Ya, hal itu juga seperti apa yg saya alami. Banyak pertanyaan yg tak terjawab. Kemungkinannya adalah, pertanyaan kita tdk ingin dijawab atau pengetahuan itu belum sampai ke mereka (toh bagi saya di Syiah sendiri msh menyisakan pertanyaan2🙂 ). Biasanya para habib “terlihat” lemah di sejarah. Mayoritas habib bermazhab Safi-i tdk pernah suka menceritakan kejadian-kejadian masa lalu di jaman Rasul saw dan para sahabat. Dan hampir semua pula yang memiliki alasan yang sama, mohon maaf jika keliru, yakni menjaga martabat Rasul saw melalui perlindungan martabat orang2 di sekitar Beliau, termasuk isteri Beliau dan para sahabat.
    Setahu saya tdk ada satu pun habib yang tidak menegur (mencela), paling tdk berdiam diri dari para penanya yang mencoba mengkritisi orang-orang di sekitar Nabi saw. Apa yang mereka isyaratkan dan nasehatkan adalah agar kita berhusnuddon dan tdk mengeluarkan kata-kata tercela terhadap para pelaku sejarah masa itu, terutama mereka-mereka yang sering bergaul dengan Nabi saw. Ini adalah merupakan mata air pencerahan yang mestinya, menurut saya, dijadikan pemikiran dan pemahaman kita bersama.

    Wallahua’lam.

    Alim ulama syiah bagi saya sdh sangat toleran dlm mensikapi segala keganjilan hadis2 suni, merekapun tdk berlebihan (moderat) dlm mengkritisinya, hanya saja saya melihat justru dr pihak suni yg berlebihan di dlm menanggapi segala krtikan kaum Syiah. Kebenaran moderat (tdk berlebihan, apa adanya) yg saya cari, bukan kebenaran yg samar2. sy tdk ingin mengatakan ini benar atau ini salah, tapi apakah berlebihan jika saya bertanya ‘mengapa’ pd saudara suni tentang banyak hal, terutama kitab hadist rujukan berislam mereka buhori muslim ?

    Baiklah. Mas adalah penganut Syiah, sementara Bukhari-Muslim adalah kitab hadits rujukan dari Sunni. Menurut mas dimanakah akhlak seorang penganut sebuah mazhab yang mempertanyakan ajaran mazhab lainnya dan dengan sengaja mengorek-ngorek kelemahannya bahkan termasuk pribadi-pribadi ulama mereka?

    Salam

  48. @ armand, harus anda ketika tau dan mau menghormati para habaib , kenapa anda tidak mau meneladani akhlaq mereka dengan tidak melakukan kritikan serta mencaci sahabat Rasulullah SAW, karena itulah yang menjadi warisan dari Nabi yang mereka warisi secara turun menurun ? justru kami mau tanyakan, kenapa anda justru bersikap mencaci merak bahkan tidak segan2 untuk mengkafirkan mereka, tidakkah kalian tau bagaimana Rasulullah SAW bersabda :
    قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي لَا تَتَّخِذُوهُمْ غَرَضًا بَعْدِي فَمَنْ أَحَبَّهُمْ فَبِحُبِّي أَحَبَّهُمْ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ وَمَنْ آذَاهُمْ فَقَدْ آذَانِي وَمَنْ آذَانِي فَقَدْ آذَى اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَمَنْ آذَى اللَّهَ فَيُوشِكُ أَنْ يَأْخُذَهُ
    Rasulullah SAW bersabda ” tajutlah kalian kepada Allah, pada sahabatku, janganlah kalian jadikan mereka sebagai sasaran (untuk mencela) setelahku, maka barang siapa yang mencintai mereka, maka karena kecintaanku (kepada mereka) aku mencintainya (orang yang mencintai sahabat), dan barang siapa yang membencinya, maka karena membenci aku (Rasulullah) mereka membenci para sahabat. Barang siapa yang mengganggu sahabatku, maka benar2 dia telah mengganggu, barang siapa yang menyakitiku, maka dia telah mengganggu Allah, maka ALlah akan mengadzabnya”

    anda katakan habaib lemah dalam sejarah, mas anda anggap diri anda yang lebih pinter dalam masalah sejarah daripada habaib, mereka tau sejarah dan memahai betul kejadian diantara para sahabat, sehingga mereka tidak sampai mencela satu sahabatpun disamping takut akan ancaman hadits yang saya bawakan tersebut.
    berbeda dengan anda orang2 syiah, yang berusaha untuk menipu ummat dengan memutar balikkan fakta sejarah agar terlihat banyak kebencian diantara para sahabat terhadap ahlil bait, inilah usaha anda orang2 syiah yang sangat busuk yang tidak pernah dilakukan sama sekali oleh ahlil bait, tapi anda menisbatkan diri anda sebagai pecinta ahlil bait.

  49. @ armand
    setuju…
    jgnlah kita bersikap ekstrim trhdp habaib2 atau ulama2 yg berahlak mulia n berjasa besar thdp islam,wlw pun mereka pd dhohirnya bknlah syiah.
    pengalaman tlh membuktikan bhw mereka2 yg menampakn ke syiahanya akan dimusuhi
    permusuhan yg terjadi diwaktu terdahulu berbeda dgn permusuhan yg terjadi sekarang
    yg terdahulu kebanyakan dikarnakan hasut n dengki.
    tapi sekarang kebanyakan diakibatkan krn kebodohan n ikut2an
    utk itu siapakah yg bisa memperkenalkan ahlul bait kpd umat ini sehingga semua fihak bisa menerima.?
    krn klu anda sdh dikenal ke syiahannya maka kebanyakan akan blum apa2 mereka sdh menolak
    masalah kecintaan dg tdk melakukan haul thdp imam2 ahlul bait tp melakukan haul terhdp dzuriat nya sj yg berjasa banyak,adalah manifestasi kecintaan thdp imam2 ahlulbait.
    ini sesuai dgn ayat “aku tdk minta apa2 atas jerih payah ku kecuali kecintaan kalian thdp keluargaku”
    tentu ini jg berlaku trhdp imam2 ahlul bait.mereka tentu jg berkata sama dgn rosul krn merka satu jiwa dgn rosul “anfusana wa anfusakum”
    sehingga imam2 ahlulbait akan memgatakan ttg hal yg sama bhwsanya mereka jg tdk minta apa2 atas jerih payah mereka kecuali kecintaan trhdp keluarganya.
    Jd apabila mereka2 yg mncintai n melakukan haul trhdp habaib yg berjasa besar n tdk melakukan haul trhdp imam as sy pikir ini bisa diterima.
    yg terpenting mereka sdh bisa mengenal kemudian mencintai,setela itu ketaatan thdp ahlulbait
    kenal,mencintai n ketaatan masing2 manusia berbeda2.
    banyak hal yg mempengaruhi
    apakh ini salah?menurut sy yg salah apabila mereka membenci ahlulbait

  50. @armand : anda mengatakan : saya menghormati sesepuh alim ulama kita, para habaib/sayidin suni. namun bagi saya sdh terlalu banyak pertanyaan yg tdk terjawab oleh sdr suni tetntang semua kerancuan/kejanggalan dlm sumber2 hukum islamnya dan telah menjadi standar aqidahnya yaitu hadist2 buhori-muslim atau kutubassithah maupun tafsir Al quran, seperti yg banyak ustdz. IbnJakfari tulis dlm blognya ini.

    coba tunjukin naskah kerancuan/kejanggalan yg anda maksud ? saya tunggu

  51. @elfasi

    Mas nulis di atas ditujukan ke saya ya? Bacalah dgn cermat apa yg tersurat dan tersirat dari komen sy. Jangan mudah menuduh. Sy perhatikan komen mas malah tdk sedikitpun mencerminkan akhlak para habib yg mas bilang harus diteladani.

    Salam

  52. @dayak

    Mas juga nulisnya ditujukan ke siapa?

  53. @aldj

    Terima kasih🙂 Sebagai seorang yg bukan sunni dan anti wahabi, komen mas mengenai bagaimana selayaknya bersikap thd para habib yang mulia sangat sy sy hargai.

    Salam

  54. Salafy/Wahaby tidak akan pernah mengenal imam zaman karena itu jahil (bego)!

  55. diangkat kembali sebagai reminder muharam

  56. […] dari blog ini. Share this:ShareFacebookTwitterLinkedInEmailRedditLike this:LikeBe the first to like this post. […]

  57. […] Bid’ah Puasa Asyurâ’; Usaha Licik Memerangi Ahlulbait as.! […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: