Ali ibn Abi Tbalib ra. Neraca Untuk Mengenal Kekasih Allah Dari Musuh-musuh-Nya (1)

Mencintai Allah SWT dan dicintai Allah adalah cita-cita setiap hamba berakal dan sehat fitrahnya. Keduanya saling terkait. Kecintaan hamba kepada Allah SWT akan menjadikannya dicintai Allah.

Kecintaan hamba kepada Allah SWT. meniscayakannya lebih mengutamakan Tuhan dalam segala urusan atas segala sesuatu selain-Nya, baik yang terkait dengan diri, harta, kedudukan, keluarga dll. Dalam hal cinta ia tidak akan memberikannya melainkan hanya untuk Allah dan hamba-hamba yang Allah perintahkan untuk dicintai… Ia tidak memberikan cintanya kepada musuh-musuh Allah! Dalam hal amal, ia tidak mengerjakan selain apa yang Alllah cintai dan ridhai.

Adapun kecintaan Alllah kepada hamba-Nya membuktikan keterbebasan hamba dari segala bentuk kezaliman, kesuciannya dari segala bentuk kekeruhan dan kekotoran  maknawi seperti kekafiran, kefasikan dan kemunafikan dengan pemeliharan Allah atau dengan diberinya taufiq untuk bertaubat darinya. Sebab total kezaliman dan maksiat itu tidak dicitai Allah alias dibenci.

Allah tidak mencitai orang-orang kafir….

Allah tidak mencitai orang-orang zalim….

Allah tidak mencitai orang-orang yang menghambur-hamburkan harta…

Allah tidak mencitai orang-orang yang melakukan kerusakan di muka bumi terhadap harta dan keturunan….

Allah tidak mencitai orang-orang yang melampaui batas…

Allah tidak mencitai orang-orang yang berlaku congkak…

Allah tidak mencitai orang-orang yang berkhianat….

Inilah pangkal kehinaan dan kerendahan karakter manusiawi, jika ia terangkat dari seorang karena ia dicintai Allah maka pasti ia menyandang sifat-sifat lawannya, sebab manusia tidak akan terlapas dari dua sisi kemulian atau kehinaan.

Hamba yang dicintai Allah SWT pasti ia adalah hamba mukmin kepada Allah dengan senepuh arti iman; tidak tercemari dengan kezaliman… ia terpelihara dari kesesatan… ia berada di atas rel hidayah Allah yang menyambungkannya menuju Shirâth Mustaqîm….. keimanannya telah dibenarkan Allah SWT. Karenanya ia dituntun oleh hidayah Allah menuju jalan kepatuhan dan mengunktui tunutanan ajara Rasul saw.

Haamba yang mencintai dan dicintai Allah SWT akan selalu membuktikan kecintaannya dengan konsekuen mengukuti Nabi-Nya. Allah berfirman:

“Katakan jika kalian mencintai Allah maka ikuti aku pasti Allah akan mencitai kalian.” (QS. An Nisâ’ [4];65)

Dari sini jelas bahwa kengikuti Nabi saw. dan kecintaan kepada Allah dan dicintai Allah salling terkait. Tiada kecintaan kepada Allah kecuali dengan mengikuti Nabi saw. dan kecintaan Allah SWT hanya akan diberikan setelah ia mengikuti Nabi saw. Sebab jika ia benar-benar mengikuti Nabi saw. pastilah ia menyandang semua sifat terpuji yang dicintai dan dirdhai Allah, seperti keadilan, kataqwaan, kebajikan, sabar, teguh, tawakkal, taubat, bersih diri dari sifat-sifat tercela dll.

Klaim Kecintaan Kepada Allah Harus Dibuktikan!

Seperti telah disinggung bahwa kecintaan itu harus dibuktikan…. klaim kecintaan kepada Allah butuh bukti konkret dan riil. Allah telah  menjadikan hamba-hamba kesayangan-Nya yang telah Ia jadikan hujjah-hujjah-Nya atas hamba di muka bumi sebagai barometer kejujuran setiap klaim kecintaan. Nabi Muhammad saw. adalah barometer utama tersebut! Menerima setiap apa yang beliau tuntunkan adalah sebuah keniscayaan sebagai bukti kecintaan hamba kepada Allah SWT.

Mencintai Nabi saw. adalah barometer akurat kecintaan kepada Allah SWT!

Lalu adakah barometer yang telah ditetapkan “langit” untuk menjadi alat ukur akurat kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya?

Karena hal terkait dengan pembuktian kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya maka akan lebih tepat jika kita tidak mengada-ngada alat ukur dari diri kita sendiri atau dengan inisiatif pribadi dengan menawarkan alat ukur yang sama sekali tidfak diakui Al;l;lah dan rasul-Nya! Akan lebih baik kalau kita mau tunduk pasrah kepada bimbingan Allah dan rasul-Nya!

Apa kata Allah dan Rasul-Nya untuk mengukur kejujuran klaim kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya?

Siapakah kekasih Allah dan Rasul-Nya dalam kamus Allah dan rasul-Nya? Bukan dalam kamus hawa nafsu atau pikiran pribadi yang liar!!

Tidak ada jalan selain menyimak wahyu langit yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw. sebagai hamba suci yang tidak berbicara melainkan atas bimbingan wahyu bukan dari dorongan hawa nafsu…. kita mesti menyimak apa yang disabdakan Rasulullah saw. dalam masalah ini!

Al Hakim dalam kitab Al Mustadrak-nya meriwayatkan dari beberapa jalur dari Abu al Azhar, ia berkata, Abdurrazzaq menyampaikan hadis kepada kami, ia berkata, Ma’mar menyampaikann hadis kepadaa kami dari Zuhri dari  Ubaidullah ibn Abdulllah dari Ibnu Abbs ra. ia berkata, “Nabi saw. memandang Ali lalu bersabda:

يا عليُّ أنتَ سَيِّدٌ فِي الدنيا و سَيِّدٌ فِي الآخرة. حبيِبُكَ حبيِبِي و حَبِيْبِي حَبِيْبُ الله. و عَدُوُّك عَدُوِّي عَدُوُّ الله. ويلٌ لمَن أبْغضك بعْدِي.

“Hai Ali, engkau adalah Sayyidun/penghulu di dunia dan Sayyidun di akhirat. Kekasihmu adalah kekasihku dan kekasihku adalah kekasih Allah. Musuhmu adaalah musuhku dan musuhku adalah musuh Allah. Dan neraka Wail (celaka) atas orang yang membencimu sepeninggalku.”[1]

Hadis ini juga diriwayakan oleh Ibnu ‘Asâkir dalam Târîkh Damasqus, al Khathib al Badhdadi dalam Târîkh Baghdad, Ibnu al Maghâzili dalam Manâqib dan al Muhib ath Thabari dalam ar Riyadh an Nadhirah.

Setelah meriwayatkannya, al Hakim menegaskan bahwa: “Hadis ini shahih sanadnya bersdasarkan syarat Bukhari dan Muslim. Abu al Azhar sesuai kesepakatan ulama adalah seorang parawi yang tsiqah, jika ia menyendiri dalam meriwayatkan sebuah hadis maka berdasarkan dasar ulama adalah shahih.”

Lagi-lagi Adz Dzahabi Curang!

Mengomentari penegasan al Hakim, adz Dzahabi berkomentar, “Hadis ini walaupun seluruh perawinya tsiqah (jujur terpercaya) adalah hadis munkar, tidak jauh dari kepalsuan. Jika tidak, mengapa Abdurrazzaq menyampaikannya secara rahasia? Ia tidak berani menyampaikannya kepada Ahmad dan Ibnu Ma’in dan rombongan yang datang berkunjung kepadanya?!”

Coba perhatikan, bagaimana dan dengan alasan konyol seperti itu ia mengkufuri keshahihann hadis Nabi saw.! padahal ia sendiri mengakui seluruh parawi dalam mata rantai jalur hadis tersebut adalah tsiqah (jujur terpercaya), bukan sekedar parawi shadûq![2]

Jika dengan alasan-alasan yang naif seperti itu hadis-hadis shahih ditolak maka rusaklah Sunnah Nabi saw.!

Apakah cara naif seperti itu termasuk dalam daftar kaidah yang dibenarkan di kalangan para ulama? Apakah kata-kata itu dimaksudkan menuduh seorang dari parawi dalam jalur hadis tersebut?

Jika dengan kata-kata di atas ia hendak menuduh Abu al Azhar, maka perlu diketahui bahwa al Khathib telah menyebutkan dalam keterangannya bahwa: Muhammad ibn Hamdun an Nisaburi telah meriwayatkan dari Muhammad ibn Ali ibn Sulaiman an Najjâr dari Abdurrazzaq… maka dengan demikian Abu al Azhar terbebas dari tuduhan itu karena riwayatnya dari Abdurrazzaq telah dimutâb’ah (didukung dari jalur lain).”[3]

Jika dengan kata-kata itu ia hendak menuduh Abdurrazzaq ash Shan’âni, maka kami akan tangggapi tuduhan itu dengan komentar adz Dzahabi sendiri ketika ia mengkritik habis a’ ‘Uqaili karena mencacat Ali ibn al Madîni, ia berkata, “Jika kami meninggalkan hadis riwayat Ali dan rekannya; Muhammad dan gurunya Abdurrazzaq, Utsman ibn Abi Syaibah, Ibrahim ibn Sa’ad, Affan, Abân, Israil, Azhar,  Habz ibn Asad, Tsabit al Bunnâni dan Jarir ibn Abdulhamîd niscaya kita akan menutup pintu ilmu dan terputuslah pembicaraaan sarta matilah atsâr (hadis/riwayat) dan kekafiran akan berkuasa dan dajjal pun akan segera muncul!

Apa engkau tidak punya akal hai ‘Uqaili?! Tahukan kamu tentang siapa kamu berbicara? Kami ladeni kamu dalam masalah ini karena kami hendak membela mereka dan membidas pencacatan seputar mereka. Seakan kamu tidak mengerti bahwa setiap dari mereka itu lauh bertingkat-tingkat di atasmu dalam kejujuran, bahkan lebih terpercaya di banding banyak kalangan kaum terpercaya yang engkau sebutkan dalam kitabmu. Hal ini tidak diragukan seorang muhaddis pun!

Aku ingin engkau memberitauku, siapa orang tsiqah yang kokoh yang tidak pernah salah daan tidak pernag menyediri dalam meriwayatkan sebuah hadis. Seorang tsiqah yang hafidz jika ia menyendiri dalam menyampaikan beberapa hadis maka ia lebih membuatnya agung dan sempurna dan sebagai bukti perhatiannya terhadap riwayat yang tidak direkam oleh rekan-rekannya. Kecuali jika terbukti ia salah dalam sesuatu yang ia menyebdiri itu.

Pertama-tama perhatikan para sahabat besar dan kecil Rasulullah saw., tiada seorang dari mereka melainkan pernah menyendiri dalam sebuah hadis (sunnah), lalu dikatakan hadisnya tidak didukung oleh jalur lain. Demikian juga dengan para tabi’în, masing-masing daari mereka memiliki sebuah hadis (riwayat) yang tidak dimiliki oleh yang lainnya…

Jika seorang tsiqah yang kokoh hafalannya menyendiri dalam meriwayatkan sebuah hadis maka ia digolongkan hadis shahih yang gharîb, jika yang menyendiri itu seorang yang shadûq maka riwayatnya digolongkan munkar. Dan seringnya seorang perawi menyendiri dalam meriwayatkan hadis yang tidak disesuai oleh parawi terpercaya lain baik teks hadis maupun jalurnya menjadikannya matrûkul hadîts (ditinggalkan hadisnya). Kemudian tidak semua orang yang menyaandang bid’ah atau ketergelinciran atau dosa ia dicacat sehingga melemahkan kualitas hadisnya.”[4]

Demikian keterangan adz Dzahabi sengaja kami sebutkan secara lengkap agar diketahui bagaimana ia melanggar kaidah yang ia bangun sendiri!

Kembali Ke Inti Masalah

Dari hadis di atas, dan puluhan lainnya yang telah disabdakan Nabi suci Muhammad saw. jelaslah bagi kita siapa sejatinya kekasih Allah dan Rasul-Nya dan siapa sebenarnya musuh Allah dan Rasul-Nya….

Nabi saw. telah menjadikan Ali ibn Abi Thalib as. sebagai neraca untuk membedakan kakasih Allah dari musuh Allah… kekasih Rasul dari musuh Rasul…

Hadis-Hadis Lain

  • Hadis Ibnu Abbas ra.

Al Quthai’i meriwayatkan dengan sanad shahih bersambung dari Ahmad ibn Abdul Jabbar al Shafri ia berkata, Ahmad ibn al Azhar menyampaikan hadis kepada kami, ia berlata, Abdurrazzaq menyampaikan hadis kepadda, ia berkata, Ma’mar menyampaikan hadis kepada kami dari Zuhri dari Abdullah ibnu Abbas ra., ia berkata, “Nabi saw. mengutusku kepada Ali ibn Abi Thalib, lalu Nabi saw. bersabda (kepada Ali):

أنتَ سَيِّدٌ فِي الدنيا و سَيِّدٌ فِي الآخرة. مَنْ أحَبَّكَ فقَدْأحَبَّنِي، و حبِيْبُك حبِيْبُ اللهِ، و عدوُّك عَدُوِّيّْ و عَدُوِّيْ عدوُّ اللهِ. الويلُ لِمَنْ أبغضَكَ مِن بعدي.

“Engkau adalah tuan di dunia dan tuan di akhirat. Sesiapa yang mencintaimu berarti ia benar-benar mencintaiku dan sesiapa yang membenciimu berarti ia benar-benar membenciku. Kekasihmu adalah kekasih Allah dan musuhmu adalah musuhku dan  Allah dan musuhku adalah musuh Allah. Celakalah orang yang memusuhimu.”[5]

  • Hadis Ummu Salamah ra.

Ibnu ‘Asâkir meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Ummu Salamah ra. ia berkata, “Aku bersaksi bahwa aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ أحبَّ علِيًّا فقَد أحبَّنِي ومَنْ أحبَّنِي فقَد أحَبَّ الله , ومَنْ أبغَضَ علِيًّا فقَد أبغَضَني ومَنْ أبغَضَني  فقَد أبغَضَ اللهَ.

“Barang siapa mencintai Ali berarti ia mencintaiku dan barang siapa menciataiku berarti ia mencintai Allah. Barang siapa membenci Ali berarti ia membenciku dan barang siapa membenci  berarti ia membenci Allah.”[6]

  • Hadis Salman al Farisi ra.

Al Hakim meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada ‘Auf ibn Abi Utsman al Nahdi, ia berkata, “Ada seorang berkata kepada Salman, ‘Mengapakah engkau begitu mencintai Ali?! Maka ia menjawab, ‘Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ أحبَّ علِيًّا فقَد أحبَّنِي ومَنْ أبغَضَ علِيًّا فقَد أبغَضَني.

“Barang siapa mencintai Ali berarti ia mencintaiku dan barang siapa membenci Ali berarti ia membenciku.”

Al Hakim berkata, “Ini adalah hadis shahih berdasarkan syarat Syaikhain (Bukhari dan Muslim) akan tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.”[7]

Dan di sini adz Dzahabi menerima dan membenarkan penshahihan al Hakim.

  • Hadis Imam Ali as.

Al Hakim juga meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Hayyân al Asadi, ia berkata, ‘Aku mendengar Ali  berkata, “Rasulullah saw. bersabda kepadaku:

إِنَّ الأُمةَ سَتَغْدِرُ بِكَ بعْدِي، و أنتَ تعيشُ على ملَّتِيْ و تُقتَلُ على سُنَّتِيْ، مَنْ أحبَّكَ  فقَد أحبَّنِي ومَنْ أبغَضَكَ فقَد أبغَضَني. و أنَّ هذه سَتُخضبُ مِنْ هذا.

“Sesungguhnya umat sepeninggalku akan berkhianat terhadapmu, dan engkau hidup di atas agamaku  dan dibunuh atas Sunnahku. Dan barang siapa mencintai Ali berarti ia mencintaiku dan barang siapa menciataiku berarti ia mencintai Allah. Barang siapa membenci Ali berarti ia membenciku dan barang siapa membenci  berarti ia membenci Allah. Dan janggutmu ini akan terbasahi oleh darah dari kepalamu.”

Al Hakim menshahihkan hadis di atas  dan adz Dzahabi pun menyetujuinya.[8]

  • Hadis Ammar ibn Yâsir ra.

Ibnu Maghâzili meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Ammar ibn Yâsir ra. ia berkata, “Rasulullah ssaw. bersabda:

أوصِي من أمَنَ بِيْ و صدَّقَنِي بولايَةِ عليِّ بن أبِي طالب، مَنْ تولاهُ فقد تولانِيْ و من تولانِي اللهَ عز وجلَّ ، وَ مَنْ أحبَّنهُ فقَد أحبَّنِي ومَنْ أحبَّنِي فقَد أحَبَّ الله , ومَنْ أبغَضَهُ فقَد أبغَضَني ومَنْ أبغَضَني  فقَد أبغَضَ اللهَ عز وجلَّ.

“Aku wasiatkan kepada setiap yang beriman kepadaaku kepadaaku dan mempercayaiku dengan kepemimpinan Ali ibn Abi Thalib. Barang siapa menerima kepemimpinannya maka ia menerima kepemimpinanku dan barang siapa menerima kepemimpinanku berarti ia menerima kepemimpinan Allah –Azza wa Jalla-. Dan barang siapa mencintainya berarti ia mencintaiku dan barang siapa menciataiku berarti ia mencintai Allah. Barang siapa membencinya berarti ia membenciku dan barang siapa membenci  berarti ia membenci Allah.”[9]

  • Hadis Shalshal ibn Dahalmas

Ibnu ‘Asâkir meriwayatkan dalam dengan sanad bersambung kepada sahabat Shalshal ibn Dahalmas, ia berkata, “Aku duduk di sisi Nabi saw. bersama sekelompok sahabat, lalu Ali ibn Abi Thalib masuk, maka Nabi saw. bersabda:

كذبَ مَنْ زعَمَ أنَّهُ يُحِبُِّي و يبْغُضُكَ. ألآ مَن أَحَبَّكَ فقَدْ أَحَبَّنِي ومن أَحَبَّنِي فقد أَحَبّ اللهَ و من أَحَبّ اللهَ أَدْخَلَهُ الْجَنةَ. ومن أبغْضَكَ فقَدْ أبغْضَنِي ومن أبغْضَنِي فقَدْ أبغْضَ اللهَ و من أبغْضَ اللهَ أَدْخَلَهُ الْنارَ.

“Bohonglah orang yanag mengaku mencintaiku tetapi ia membencimu. Ketahuilah bahwa siapa yang mencintaimu maka berarti ia mencintaiku dan barang siapa mencintaiku maka berarti ia mencintai Allah dan barang siapa siapa mencintai Allah pasti Allah masukkan ia ke dalam surga. Dan barang  siapa membencimu maka berarti ia membenciku dan siapa yang membenciku berarti ia membenci Allah dan siapa yang membenci Allah pasti Allah akan masukkan ia ke dalam api neraka.”[10]

Nasib Buruk Musuh Imam Ali as. Kelak Di Akhirat

Seperti telah ditegaskan dalam banyak sabdanya oleh Nabi Muhammad saw. bahwa hanya kaum munafik lah yang membenci Ali ibn Abi Thalib…. dan hanya kaum Mukmin lah yang mencintainya…. kecintaan kepadanya adalah bukti keimanan dan kebencian kepadanya  adalah bukti kemunafikan! Karenanya tiada nasib yang pantas bagi pembenci Ali ibn Abi Thalib selain kesengsaraan abadi dan kutukan Allah dan neraka adalah sejelak-jelak tempat bagi kaum munafik pembenci Ali!

Dari sini dapat dimengerti bahwa tiada beda bagi pembenci Ali as., apakah ia mati memeluk agama Yahudi atau Nashrani atau secara formal berkedok sebagai Muslim! Sebab pada hakikatnya ia adaalah seorang yang munafik yang menyembunyikan kekafiran!

Ibnu ‘Uqdah meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada sahabat Ibnu Mas’ud ra. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ زَعَمَ أنَّهُ آمن بِيْ و بِمَا جِئتُ بهِ و هو يُبْغِضُ علِيًّا فهو كاذبٌ ليسَ بِمُؤمِنٍ.

“Sesiapa yang mengaku beriman kepadaku dan apa yang aku bawa sementara ia membenci Ali maka ia adalah pembohong, ia bukan seorang mu’min!.”[11]

Al Khathib al Baghdadi meriwayatkan dari sahabat Zaid ibn Arqam ra, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ أحبَّ عليا (فِي) حياتِيْ و بعد موتِي كتب اللهُ لهُ الأمنَ و الإيْمانَ ما طلعت عليه الشمسُ و ما غربت. و من أبغضَ عليا (فِي) حياتِيْ و بعد موتِي ماتَ مِيتةً جاهليةً.

“Sesiapa yang mencintai Ali di masa hidupku dan sesudah matiku maka Allah tetapkan baginya keamanan dan keimanan selama matahari terbit dan berbenam. Dan sesiapa yang membenci Ali di masa hidupku dan sesudah matiku maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.”[12]

Dan beberapa hadis dalam pasal satu juga banyak menyebut nasib buruk bagi pembenci Imam Ali as.


[1] Al Mustadrak,3/127-128, Târîkh Damasqus,42/291-292 dengan dua jalur, Târîkh Baghdad,4/41-42, Manâqib Amiril Mu’minin as.:103 hadis no. 146 dan ar Riyâdh an nadhirah,3/106-107 hadis no. 1324.

[2] Pujian yang disimpulkan dari penyematan predikat tsiqah lebih tinggi disbanding sekedar shadûq.

[3] Târîkh Baghdâd,4/42.

[4]Mîzân al I’tidâl,3/140-141.

[5] Fadhâil ash Shahâbah; Ahmad ibn Hanbal,2/642-643 hadis no.1092 dan Fadâil Amirul Mu’minin Ali ibn Abi Thalib; Ahmad ibn Hanbal:290 hadis no.216. Hadis ini juga disebutkan oleh al Khathib dalam Târîkh Baghdadnya,4/41 dari jalur al Quthai’i dan al Muhib ath Thabaari dalam ar Riyâdhnya dan ia menisbatkannya kepada riwayat Ahmad dalam kitab Manâqib/Fadhâil-nya.

[6] Biografi Imam Ali as. daalam Târîkh Damasqus,2/190 hadis 681 dari jalur Abu Thahir al Mukhallish. Dan juga al ‘Âshimi dalam Simthu an Nujûm,3/32 hadis no. 25 dan ia berkata, “Hadis ini dikeluarkan oleh al Mukhallish dan al Hakimi.

[7] Al Mustadrak,3/130. baca juga Salsilah al Ahâdits ash Shahihah; Syeikh Nashiruddin al Albani,3/288 ketika membahas hadis no.1299 dan Kanz al ‘Ummal,11/610 hadis no.32902.

[8] Al Mustadrak,3/140.

[9] Manâqib Ali ibn Abi Thalib; Ibnu Al Maghâzili asy Syafi’i:230 hadis no. 277. dan pada hadis no. 278 dan 279 ia juga meriwayatkan hadis serupa. Hadis ini juga dikeluarkan al Muttaqi al Hindi dalam Kanz al ‘Ummal-nya dan ia berkata, “Hadis ini telah diriwayatkan ath Thabarani dalam al Mu’jam al kabîrnya. Baca juga Muntakhab Kanz al ‘Ummal,5/32 dan dikatakan bahwa ia diriwayatkan ole hath Thabarani dan Ibnu ‘Asâkir. Al Haitsami juga mengeluarkannya dalam Majma’ az Zawâid,9/108 dari riwayat ath Thabarani.

[10] Bioagrafi Imam Ali as. dalam Târîkh Damasqus,2/215 hadis no.718.

[11] Ibid hadis no.712 dari jalur al Hafidz Ibnu ‘Uqdah. Baca juga Manâqib; al Khawârizmi:76 hadis no.57.

[12] Al Muttafaq wa al Muftaraq,3/1699.

10 Tanggapan

  1. Allahumma Shalli ‘ala Muhammad Wa ‘ala aali Muhammad Waththayyibin Waththahirin

  2. Ternyata bukan hanya harta yang diwariskan, kedengkian & kebencian pun mampu diwariskan. Jaman boleh berubah, namun kedengkian & kebencian kepada keluarga Suci Nabi saw. tetap tak berubah. Ini problem bagi mereka-mereka yang memiliki sesuatu dalam hatinya. Semakin sering kemuliaan disebut-sebut, semakin tebal pula kedengkian & kebencian mereka.

    Salam

  3. Ya dan musuh terbesar umat Islam saat ini adalah Agama baru yg lbh Munafik dr Atheis skalipun yaitu Salafy Wahabi….

  4. Salam semua sahabatku yang aktif mmampir di sini…. kenapa ya kok sepi tanggapan kalau pak admion sedang beber bukti-bukti keutamaan Sayyiduna Ali ra.
    Bukankah cinta Sayyiduna Ali itu iman dan benci kepadanya adalah munafik?!
    Semuanya kan sudah terbukti! Jadi mungkin itu sebabnya kenapa mereka tidak bisa komentari tulisan di sini! Sebab takut tambah kebongkar siapa yang munafik karena benci Sayyiduna Ali!

  5. Ahlu Sunna tdk pnah mbnci pra Sahabat. Utamanya Ali Ra. Akn ttapi,Syi’ah yg sok suci lh lbh mmbnci pra shbat.. Hai Syi’ah Rofidla.. Pnyembah Imam.. Cpat2 lh btobat..
    Sy,orang Awam yg Alergi dgn Agama Syi’ah Dholala!

    • Yah pikiran anda terlalu awam n parah banget mas….Tobat dan perbaiki sifat antum terhadap saudara antum kaum syiah yang menyatakan Allah Rabbnya dan Muhammad Rasulnya….
      Darimana antum bisa mengatakan Syiah menyembah para imam2nya…. antum harus ingat tiap kata yang keluar dari mulut antum akan dimintai pertanggungjawaban yg berat….bukankah mereka itu imam dan memang harus diikuti….dan itulah pesan Rasul ikutilah 12 imam dari keturunannya yg suci…
      Dan bagaimana anda bisa alergi dengan syiah sementara ajaran Syiah yang sebenarnya saja tidak pernah antum ketahui langsung dari mereka….
      Saya tanya….antum menilai mereka dengan kata2 seperti itu apakah sudah antum membaca langsung buku2 mereka dan mengikuti langsung pengajian mereka serta bergaul langsung dgn mereka…?
      Atau anda hanya mendengar ttg syiah dr para ustadz2 anda yang memang pembenci syiah….kalo antum bertanya pd pembenci syiah maka antum tidak akan pernah mendengar kebaikan sedikitpun yg keluar dr mulut mereka ttg syiah….Benarlah kata Rasul pada akhir zaman akan banyak sekali fitnah bahkan dr kaum muslim kpd muslim lainnya….
      Belajarlah akhi…sudah berapa jenis mazhab yg sudah antum pelajari … Apakah mazhab dalam islam itu hanya salafy yg ente pelajari itu ?? banyak2lah belajar dan kritislah terhadap sejarah

  6. ya allah kumpulkan kami di surga bersama imam ali bin abi thalib k.w.

  7. Syiah sekarang menyatakan bahwa Umar RA cs adalah musuh Imam Ali tapi kenyataannya Ali malah menikahkan anaknya Ummu Kultsum dengan Umar bin Khattab…. dari tindakan Imam Ali ini jelas sekali bahwa tidak ada perselisihan yang menjurus pada pengkafiran antara Imam Ali dengan para sahabat. Dengan kata lain, apa yang diklaim syiah hari ini bertolak belakang dengan tindakan Para imam Ahlul Bayt yang suci. masuk akalkah kalau Imam Ali menikahkan anaknya dengan “musuh besarnya”…? logika sederhananya relakah kita menikahkan putri tersayang kita dengan musuh besar kita yang dikenal pemabuk, perampok, perampas, lagi kafir….?????

    __________________

    Ibnu Jakfari:

    Pertama-tama
    Mas Analisis Pencari Kebenaran… Saya yakin anda bukan pemilik blog terkenal ini -blog Analisis Pencari Kebenaran- Kenapa anda harus memakai nama itu? apa untuk kesan mengaburkan opini blog tersebut?!

    .
    Sebelum membangun sebuah kesimpulan hendaknya Anda membuktikan kebenaran asumsi/data yang Anda jadikan pijakan!
    Tolong buktikan dengan data yang shahih bahwa Imam Ali as. menikahkan Ummu Kultsum ra. putri beliau dengan Umar ibn al Khaththab?
    .
    Selain itu saya meminta Anda merenungkan ayat-ayat dalam surah Hud di bawah ini dan kemudian mengaitkannya derngan masalah kita ini:
    .

    وَ لَمَّا جاءَتْ رُسُلُنا لُوطاً سي‏ءَ بِهِمْ وَ ضاقَ بِهِمْ ذَرْعاً وَ قالَ هذا يَوْمٌ عَصيبٌ (77)
    .
    Dan tatkala datang utusan- utusan Kami ( para malaikat ) itu kepada Lut, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata:” Ini adalah hari yang amat sulit.”( 77 (

    .

    وَ جاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَ مِنْ قَبْلُ كانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئاتِ قالَ يا قَوْمِ هؤُلاءِ بَناتي‏ هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَ لا تُخْزُونِ في‏ ضَيْفي‏ أَ لَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشيدٌ (78)

    .
    Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas- gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Lut berkata:” Hai kaumku, inilah putri- putri ( negeri ) ku mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan ( nama ) ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal”(78)

    .

    قالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ ما لَنا في‏ بَناتِكَ مِنْ حَقٍّ وَ إِنَّكَ لَتَعْلَمُ ما نُريدُ (79)

    Mereka menjawab:” Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri- putrimu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.”(79)

  8. Izinkan sayaucapkan: Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa-‘alaa aali Muhammad, wa-taqabbal syafaa-‘atahuu fii ummatihii wa-r-fa’a darajatahu.

  9. […] Ali ibn Abi Tbalib ra. Neraca Untuk Mengenal Kekasih Allah Dari Musuh-musuh-Nya (1) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: