Astaghfirullah, Ahlusunnah Menvonis Sahabat Murtad Massal Sepeninggal Nabi saw.!

Musuh-musuh Ahlulbait as. dan Syi’ah (pengikut setia) mereka tak henti-hentinya menaburkan fitnah beracun untuk memecah belah wahdatul Islam wal Muslimin/keutuhan Islam dan kesatuan barisan kaum Muslimin. Demi menyukseskan proyek besar musuh-musuh Islam, berbagai cara licik mereka tempuh agar terjadi benturan antara dua puak besar kaum Muslimin yaitu Ahlusunnah dan Syi’ah! Tuduhan demi tuduhan palsu tak henti-hentikinya mereka sebar-luaskan, mulai dari menuduh Syi’ah memiliki Al Qur’an sendiri dan tidak meyakini Al Qur’an kaum Muslimin hingga menuduh bahwa Syi’ah mengafirkan seluruh sahabat Nabi saw. kecuali segelintir saja dari mereka! Untuk melengkapi tuduhan palsu semacam itu tidak jarang riwayat-riwayat tertentu mereka pelintir kandungannya atau bahkan teksnya mereka modifikasi agar mendukung kesimpulan mereka.

Khusus terkait dengan tuduhan bahwa Syi’ah mengafirkan seluruh sahabat Nabi saw. kecuali tiga atau lima orang saja, di mana atas dasar tuduhan palsu tersebut mereka membangun kesimpulan untuk menvonis kafir kaum Syi’ah!

Sementara itu, hadis-hadis serupa tentang kemurtadan para sahabat juga banyak diriwayatkan para ulama ahli hadis Ahlusunnah wal jama’ah. Lalu bagaimana para ahli hadis Sunni dapat dibebaskan dari vonis itu sementara muhaddis dan kaum Syi’ah divonis kafir?

Untuk menyingkat waktu kami akan sebebtkan beberapa contoh hadis-hadis kemurtadan sahabat dalam riwayat Ahlusunnah dengan harapan mendapat jawaban dan arahan yang prorsional dan ilmiah tentangnya.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw.:

بَيْنَا اَنَا قَائِمٌ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، فَقُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ إِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ وَمَا شَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ القَهْقَرَى، ثُمَّ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، قُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ اِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ مَاشَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى. فَلاَ اَرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ اِلاَّ مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ.ااااابشنمبش 

“Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.”[1]

Riwayat di atas bukan satu-satunya riwayat dalam masalah ini. Banyak riwayat lain yang menegaskan kenyataan itu. Di antaranya:

  • Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:

يَرِدُ عَلِيَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَهْطٌ مِنْ اَصْحَابِى، فَيُحْلَوْنَ عَنِ الْحَوْضِ فَأَقُوْلُ: يَارَبِّ اَصْحَابِى. فَيَقُوْلُ: إِنَكَ لاَ عِلْمَ لَكَ بِمَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ، إِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى.

“Akan (datang) di hadapanku kelak sekelompok sahabatku, tapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya, wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku. Lalu dikatakan: ‘Kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka murtad dan berpaling (dari agama).’.”[2]

  • Dari Abu Bakrah, Rasulullah saw. bersabda:

لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ الْحَوْضَ رِجَالٌ مِمَّنْ صَحِبَنِى وَرَآنِي، حَتَّى اِذَا رُفِعُوْا اِلَيَّ وَرَأَيْتُهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى فَأَقُوْلَنَّ: رَبِّ اَصْحَابِى اَصْحَابِى. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Akan datang menjumpaiku di telaga (haudh) orang-orang yang pernah bersahabat dan melihatku. Ketika mereka dihadapkan denganku, dan aku kenali mereka, mereka terpelanting dariku. Maka aku berseru, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabatku.’ Lalu dijawab, ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[3]

  • Dari Abi Wa’il, ia berkata, “Abdullah berkata: Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى اِذَا اَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى،فَأَقُوُْل: اي رَبِّ اَصْحَابِيْ؟ يَقُوْلُ: لاَتَدْرِى مَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Aku akan mendahuluimu sampai di telaga hudh, dan akan dihadapkan kepadaku banyak orang-orang dari kalian. Lalu, tatkala aku hendak memberi minum mereka, mereka terpelanting, maka aku bertanya, ‘Wahai Tuhanku, bukankah mereka itu sahabat-sahabatku? Ia menjawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[4]

  • Dari Abu Hazim, ia berkata, “Aku mendengar Sahl bin Sa’ad berkata, ‘Aku mendengar Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُم عَلَى الْحَوْضِ -مَنْ وَرَدَ شَرِبَ مِنْهُ، وَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ لاَيَظْمَأُ بَعْدَهُ اَبَدًا- لَيَرِدُ عَلَيَّ اَقْوَامٌ اَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُوْنِى، ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ.

“Aku akan mendahuluimu datang di haudh -siapa yang mendatanginya ia pasti akan minum darinya, dan siapa yang meneguknya ia tak akan haus selamanya- dan akan datang kepadaku beberapa kelompok yang sudah aku kenali mereka, lalu mereka dihalau dariku.”

Abu Hazim berkata, “Ketika aku menyampaikan di hadapan orang-orang, Nu’man bin Abi ‘Iyasy bertanya kepadaku, ”Apakah demikian yang kamu mendengar dari Sahl?” Aku menjawab, “Ya, benar.” Ia berkata, “Aku bersaksi bahwa aku mendengar Abu Said Al Khurdi menyampaikan tambahan:

 إِنَّهُمْ مِنِّى فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَابَدَّلُوْا بَعْدَكَ فَاقُوْلُ: سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

 …”. Mereka adalah sahabatku’. Maka dijawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang sudah mereka ubah sepeninggalmu.’ Lalu aku berkata, ‘Celakalah orang-orang yang mengubah (agamaku) sepeninggalku.”[5]

  • Dari Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

إِنِّى فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، وَإِنِّى سَأُنَازِغُ رِجَالاً فَأُغْلَبُ عَلَيْهِمْ فَأَقُوْلُ: يَارَبِّ: أَصْحَابِى، فَيُقَالُ: لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Saya akan mendahuluimu sampai di telaga (haudh), dan aku akan menarik beberapa kelompok manusia, akan tetapi aku dikalahkan olehnya, lalu aku serukan, “Wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku! Ia menjawab, “Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[6]

  • Dari Hudzaifah, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda,  “Akan datang kepadaku beberapa kelompok manusia, lalu mereka terpelanting. Maka aku serukan, “Ya Rabbi, sahabat-sahabatku! Ya Rabbi, sahabat-sahabatku! (selamatkan mereka).” Kemudian dijawab, ‘Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[7]
    • Dari Ibnu Abbas, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ اُنَاسًا مِنْ اَصْحَابِى يُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِمَالِ، فَأَقُوْلُ، اَصْحَابِى! اَصْحَابِى! فَيَقُوْلُ: إِنَّهُ لَمْ يَزَالُوْا مُرْتَدِيْنَ عَلَى اَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُمْ، فَأَقُوْلُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ: وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَادُمْتُ فِيْهِمْ، فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِى كُنْتَ اَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ وَاَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ. اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَاِنْ تَغْفِرْلَهُمْ فَاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ  الْحَكِيْمُ.

“Ada sekelompok sahabatku kelak akan diambil dan digolongkan kepada kelompok kiri. Aku bertanya, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabat-sahabatku, (selamatkan mereka, mengapa Engkau memasukkan mereka ke golongan kiri?) Allah menjawab, ‘Mereka berpaling dan murtad dari agama sejak engkau meninggalkan mereka.’ Lalu aku berkata seperti yang diucapkan oleh seorang hamba yang shaleh (Nabi Isa a.s.): ‘Dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau siksa, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”[8]

Kemurtadan yang disinyalir akan terjadi sepeninggal Nabi saw. bukanlah sebuah masalah aneh, jika kita menyaksikan bahwa di masa hidup Nabi pun fenomena kemurtadan kolektif ini juga pernah terjadi. Para ulama dan ahli sejarah Ahlusunnah menyebutkan dengan tegas adanya kenyataan tersebut. Di antaranya adalah dokumen kemurtadan yang terjadi ketika para sahabat itu mendengar berita tentang isrâ’ dan mi’râj yang disampaikan Nabi saw…. tidak sedikit dari para sahabat saat itu murtad kembali kepada kekafiran dan kemusyrikan.

  • Ibnu Hisyam menyebutkan aksi kemurtadan itu dengan kata-kata:

فَارْتَدَّ كثيرٌ مِمَّنْ كان أسْلِمَ.

“Maka murtadlah banyak dari mereka yang telah memeluk Islam.”[9]

  • Al Halabi menyebutkan sebuah riwayat:

حين حدَّثَهم بذلك ارْتَدّ ناسٌ كانوا أسْلِمٌوا.

“Ketika beliau menyampaikan berita itu kepada penduduk Mekkah, murtadlah banyak orang yang sebelumnya telah memeluk Islam.”[10]

Dalam kitab Hayâtu Muhammad Saw., Muhammad Husain Haikal menulis sub judul: Raibatu Quraisy wa Irtidâdu Ba’dhi Man Aslam (keraguan kaum Quraisy dan kemurtadadn sebagain orang yang telah memeluk Islam). Di dalamnya ia menegaskan terjadinya kemurtadan oleh banyak sahabat Nabi saw., ia berkata:      

وَارْتَدَّ كثيرٌ مِمَّنْ كان أسْلِمَ.

“Dan murtadlah banyak dari mereka yang telah memeluk Islam.”

Ibnu Jakfari berkata:

Jika kemurtadan itu bisa saja terjadi dan telah terjadi di kalangan para sahabat, sementara Nabi saw. masih hidup di tengah-tengah mereka dan mampu memberikan pengarahan yang meyakinkan tentang apa yang menyebabkan kemurtadan, lalu apa bayangan kita jika ada penyebab serupa yang menguncang keyakinan sebagian sahabat sementara Nabi saw. tidak lagi berada di tengah-trengah mereka? Akankah kemurtadan itu menjadi mustahil terjadi?

Mengapa? Apakah keberadaan Nabi saw. dianggap sebagai faktor pemicu kemurtadan sementara jika beliau telah mangkat dan tidak lagu bersama mereka, keimanan mereka menjadi mantap dan tak mungkin tergoyahkan?

Apakah keberadaan Nabi saw. yang menjadi pemicunya?

Subhanallah… tidak mungkin! Pasti semestinya keberadaan beliau dapat mencegah terjadinya kemurtadan bukan sebaliknya! Dan ketidak beradaan beliau di tengah-tengah para sahabat jusretu dapat menjadi faktor pemicu. Seperti disiyaratkan dalam hadis Imam Bukhari juga dari Ibnu Umar, ia mendengar Nabi saw. bersabda:

لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِى كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ.

“Janganlah kamu kembali menjadi kafir sepeninggalku nanti, sebagian dari kamu menebas leher sebagian yang lain.”

Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Bakrah, Jarir dan Ibnu Abbas dari Nabi saw.[11]

Karena penyebab kemurtadan seperti yang disinyalir dalam hadis di atas itu muncul di saat Nabi saw. tidak berada di tengah-tengah para sahabat!

Semua yang kami paparkan di sini sekedar renungan yang menuntut kita untuk merenung dan memikirkan kenyataan tersebut dan mencari tau apa penyebab sebenarnya kemurtadan itu? Dan apa maksud dari kata kemurtadan itu? Semua itu agar kita terhindar dari kesalahan fatal dalam menilai para sahabat dan juga agar tidak gegebah menuduh serampangan mazhab lain yang tidak kita sukai!

Wallah A’lam. 


[1]Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi.

[2]Shahih Bukhari, 8/150.

[3]Musnad Ahmad,5/48 dan 50.

[4]Shahih Bukhari,9/58, kitabul-fitan,8/148. Ia juga meriwayatkan dari Hudzaifah. Musnad Ahmad,1/439 dan 455.

[5]Shahih Bukhari,9/58-59, kitabul-fitan dan 8/150, Shahih Muslim,7/96, Musnad Ahmad, 5/33 dan 3/28, Al Isti’âb (di pinggir Al-Ishâbah),1/159.

[6]Musnad Ahmad,1/402, 406, 407, 384, 425 dan 453. Shahih Muslim, 7/68.

[7]Musnad Ahmad,5/388. Dan ada riwayat serupa pada hal. 393. Imam Bukhari mengisyaratkan adanya riwayat serupa pada8/148 – 149.

[8]Shahih Bukhari,4/168, 204, 6/69, 70, 122, 8/136, Shahih Muslim,8/157, Musnad Ahmad,1/235 dan 253, Al Istîy’âb (di pinggir Al-Ishabah), 1/160.

[9] Sirah Ibnu Hisyam:288. Terbitan Dâr al Kotob al Ilmiah- Beirut- Lebanon.

[10] As Sirah al Halabiyah,1/378. Terbitan al Maktabah al Islamiyah. Beirut – Lebanon.

[11]Shahih Bukhari,9/63-64, Shahih Muslim, 1/58.

14 Tanggapan

  1. baca di sini :

    http://alfanarku.wordpress.com/2009/11/07/sahabat-nabi-akan-diusir-dari-telaga-haudh/

    paling ga ditampilin lagi ama si Ibnu Jakfari.. dasar curang.. mengambil haditsnya juga sepotong-sepotong..

    komentar saya yg lain kok ga ditampilin? takut ya orang awwam akan tahu kedustaan anda?.. ternyata hanya spt ini ya cara syi’ah menyesatkan kaum awwam .. wuakakakak

    Ibnu Jakfari:

    Akhi imem, apa yang Anda maksud dengan menyesatkan kaum awam itu?
    Artikel yang Anda banggakan itu sepertinya kurang bertanggung jawab, sebab apa alasannya memaknai kata Ash-habi dalam hadis-hadis itu dengan umatku? Mengapa kalau kata ash-habi terkait dengan kemurtadan dimaknai umat, jika pada hadis ash-habi seperti bintang-bintang dimaknai sahabat Nabi saw.!
    Bukankah mereka juga bisa murtad? Lalu siapakah mereka itu? Apa penyebab kemurtadan mereka?
    serta masih banyak pertanyaan lainnya yang harus dijawab secara ilmiah…

    • @imem

      terlalu sulit klo anda mau menakwil kata “sahabat” dalam hadis tentang kemurtadan sahabat karena terlalu banyak hadis yang jelas2 menyebut kata sahabat baik di bukhari maupun muslim apalgi di kitab hadis2 lain..

      memenag soal ini bertentangan dengan akidah suni jadi ya harus di takwil2 walo tidak masuk akal

  2. @ imem :
    aku membaca jawaban anda kurang ilmiah, kalo memang sepotong2 tunjukkan lengkapnya. sehingga yg lain ngerti. blog ini disajikan untuk umum.ok

  3. ya ibnu jakfari yg goblok?
    kok bisa anda menuduh ahlis sunnah yg mengkafirkan ????
    buka al-kafi juz 8 hal 245 no 241 :
    disitu syi’ah memurtadkan smua sahabat trmasuk imam ali !!!!
    kok bisa anda ikuti imam ali sedangkan menurut alkafi beliau termasuk murtad !!!

    Ibnu Jakfari:

    Akhi dayak yang pintar, jaga emosi anda, sebab biaya pengobatan sekarang mahal! Lagi pula jadi dayak tidak harus galak.
    Anda mepertnyakan saya karena menuduh Ahlusunnah mengafirkan sahabat! Apakah riwayat Bukhari yang saya sebutkan itu bukan bukti. Bukankah Ulama Ahlusunah menshahihkan hadis Bukhari?!
    Tapi anehnya, Anda marah-marah dan menuduh Syi’ah dengan merujuk al Kafi. Tolong sebutkan nash hadisnya, nanti biar dibandingkan dengan hadis Bukhari!

    • @dayak

      wong hadis2 diatas udah jelas menunjuk sahabat murtad kok masih dibilang nuduh
      yang bener mas !!!

    • Sahabat yang mane dulu bang..? Yang membangkang dan menolak zakat..? atau yang ikut musailamah al-kadzab..?.

      Yang jelas hadits itu penjelasanya, bukan sahabat nabi di kafirkan syiah…

  4. riwayat yang mana ? apa di syarah bukhori spt di fathul bari,irsyadus sari dll nya syarah hadist nya spt itu ?
    krn klo cuma matan hadistnya aja yg kita artikan,blm tentu sama dg syarahnya . maaf,klo syarah dari anda atau pun dari orang ahlus sunnah sy juga gak menerima,krn di syarah hadist udah disebutin smua nya.
    tunjukin dong !!!!!!!!!!!!!!

    Ibnu Jakfari:

    Akhi dayak, saya hargai ada orang dayak sepintar Anda!!
    Anda berkata:(((krn klo cuma matan hadistnya aja yg kita artikan,blm tentu sama dg syarahnya.)))) dan itu lucu buat saya! Bukankah tugas syarah itu menjelaskan makna matan (teks hadis)? Lalu kalau ia berbeda dengan matannya ya beberti ia bukan syarah!! Itu pemelesetan teks hadis!!
    Selain itu, Anda ini aneh, kalau Anda sah-sah saja menuding Syi’ah begini dan begitu hanya berdasarkan hadis (riwayat) yang ada dalam sebuah atau beberapa kitab mereka tanpa mengindahkan apa kata penysrah Syi’ah tentangnya! Giliran orang lain membawakan hadis yang sangat gamblang maknanyaAnda mengelak dengan mengatakan harus kembali kepada syarah para ulama; Ibnu Hajar, Qasthallani dkk.!!! Anda kelihatan kalau tidak punya metode dan hanya mau menang sendiri! Saya hanya kasian kepada Anda dam kaum awam sejenis Anda!!

  5. @ mas jakfari,saya lg pake hp jadi gak bisa nulis arab,tapi kan saya udah tunjukin juz 8 hal 245 hadist no 241 ? anda kan punya kitab nya ,gak sampai satu menit udah bisa dapatkan !

    Ibnu Jakfari:

    Kalau begitu tulis aja terjemahannya! Biar didiskusikan di sini!

  6. @ibnu jakfari ;
    Apa udah dilihat di alkafi juz 8 hal 245 ?

    Ibnu Jakfari:

    Mas, tolong disebutkan aja hadisnya! Bira semua tau. Siap?

  7. hehe…artikel lucu nih…shahabat yang murtad dari Islam maka jelas statusnya bukan seorang shahabat dan mereka tidak bisa disebut sebagai SHAHABAT NABI SAW,,,

    wah bagaimana nih pak ibnu jakfari,,,,kok muter-muter, sekarang bilang istighfar ketika sedih melihat ada ‘shahabat’ yg murtad hehe,,,kemarin2 mencaci dan mencela para shahabat nabi hehe..wah…bingung bener deh…

    para ulama ahlussunnah mengatakan definisi shahabat nabi adalah sbb :

    Berkata IBnu Katsir :
    “Shahabat adalah orang Islam yang bertemu dengan rasulullah saw meskipun masa bertemu dengan beliau tidak lama dan tidak meriwayatkan satu hadits pun dari beliau.”

    Berkata Ibnu Hajar al asqalani :
    “Definisi yang paling shahih tentang shahabat yang aku teliti adalah,”Orang yang berjumpa dengan Nabi saw dalam keadaan BERIMAN dan wafat dalam keadaan Islam.”

    Yang tidak termasuk shahabat adalah :
    1. Orang yang bertemu beliau dalam keadaan kafir meskipun dia masuk Islam sesudah itu (yakni sesudah wafat rasulullah saw)
    2. orang yang beriman kepada Nabi ISa dari ahli kitab sebelum diutus rasulullah saw dan setelah diutus rasulullah saw dia tidak beriman kepada beliau
    3. orang yang beriman kepada beliau kemudian murtad dan wafat dalam keadaan murtad.”
    (Al Ishabah fii Tamyitis shahabat, hal 7-8)

    nah orang Islam yang murtad kembali menjadi kafir maka tidaklah disebut sebagai shahabat nabi saw…

    gimana pak ibnu,,,semoga jelas,,,persoalan selesai..

    hehe,,,

    Ibnu Jakfari:
    Akhi Dody, sepertinya Anda tidak memahami apa yang dimaksud dalam tulisan saya.
    Mas, saya hanya mau tanya kepada Anda, apakah Sahabat Nabi itu bisa murtad tidak?
    Saya yakin Anda akan menajwab: Ya, bisa. bukankah begitu akhi?!
    Nah, permasalahannya adalah bagaimana nasih konsep yang mengatakan semua sahabat itu ‘udul? di mana semua tidakan mereka betapapun menyimpang dari prinsip agamasekali pun dinilai posisitf sebab ia lahir dari “ijtihad”! Apakah kemurtadan mereka juga dilihat dari kaca mata ini?

  8. aduh perasaan ini juga pernah didiskusikan di blogku.

    Shahabat itu bisa murtad cuy. Buktinya mah jelas atuh. itu tuh dari hadits yang dibawakan ibnu jakfari.

    Bahwa kelak akan ada sekelompok orang yang nabi menanggilnya dengan sebutan “ASHABI” dan mereka akan dimasukkan ke neraka. karena mereka telah merubah2 hukum2 Islam sepeninggal Nabi.

    Jadi sahabat itu bisa masuk neraka cuy. Sahabat bisa murtad cuy…ckckckck…

  9. 1.tolong sebutkan rukun iman orang syi’ah?
    2.knp orang syi’ah sholat mayit 5x takbir? apa aja c yg dibaca?
    tlg dijawab

  10. WADUH SI DAYAK KOK NGEYEL YA… TAPI WONG NAMANYA AJA DAYAK YA PASTI BADUWI,
    TAPI ANEHNYA SI DEDY MALAH KETULARAN LOGIKA BADUWI DAYAK…

  11. […] Astaghfirullah, Ahlusunnah Menvonis Sahabat Murtad Massal Sepeninggal Nabi saw.! […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: