Doktrin Imamah, Studi Komperatif Sunnah-Syi’ah (1)

Kepemimpinan Dalam Perspektif Syi’ah dan Sunnah

Untuk mengetahui konsep Islam tentang Imamah/Khilafah, perlu kiranya kita menganalisa poin-poin penting seputar kepemimpinan (Imamah Kubra).Definisi Imamah:

Sebelum memasuki kajian inti Imamah, perlu bagi kita mengetahui pandangan Al qur’an tentangnya, juga pandangan para teolog Islam, baik Syi’ah maupun Ahlusunnah, agar tidak terjadi kerancuan dalam mengalisa permasalahan.

 Imamah Dalam Pandangan Al qur’an

Dari ayat-ayat Al qur’yang berbicara tentang Imamah, kita dapat menyimpulkan adanya tugas-tugas yang menggambarkan hakikat Imamah itu sendiri.

Tugas-tugas tersebut ialah:

Pertama: Seorang Imam adalah panutan dan contoh praktis yang sejati yang akan memperagakan ajaran-ajaran agama, baik dalam sisi akidah, akhlak dan praktik amaliah. 

Kedua: Seorang Imam adalah tempat berujuk dalam segala urusan dan masalah keagamaan. Seluruh masalah agama harus diambil darinya. Sebagaimana seluruh arahannya harus ditaati, tidak boleh dibantah dan dilanggar, sebab ia ma’shum.

Ketiga: Seorang Imam memiliki kewenangan dalam memimpin umat dalam sekala sosial, politik dan membimbing ke arah yang serasi dengan kesempurnaan kehidupan ukhrawi-nya di sisi Allah.

Keempat: Imamah ialah kewenangan dan kemampuan untuk berbuat dan memberi pengaruh pada sistem alam dengan izin Allah.

 Imamah Dalam Kajian Para Teolog Islam

Untuk mngetahui sejauh mana kesesuaian pendefinisian Imamah oleh para teolog Islam dengan pandangan Al qur’an tentang Imamah, marilah kita simak pernyataan-pernyataan mereka:

Imamah Dalam Pandangan Ahlusunnah

Dalam pandangan Ahlusunnah, Imamah hanyalah lembaga kewenangan dalam sekala sosial politik.

Seorang Imam adalah pemimpin  politik/kepala negara yang bertanggung jawab dalam mengurus umat. Oleh karenanya ia adalah urusan keduniaan dan urusan umat. Dan fungsi posisi khilafah, sebagaimana layaknya dalam masyarakat-masyarakat non Islami, adalah pengaturan politis, tidak ada kaitannya dengan fungsi tasyri’iy, pemeliharaan, penafsiran dan penjabaran ajaran agama.

Dan dari sini, datang kesapakatan mereka tentang tidak disyaratkan adanya nash (penunjukan), tidak disyaratkannya kema’shuman, dan hanya cukup dengan syarat ijtihad (jika terpenuhi), dan digugurkannya syarat ini dalam menentukan legelitas syar’iy jika tidak terpenuhi, tidak disyaratkannya afdlaliyah (yang paling mulia) pada sang khalifah bahkan tetap abash kekhilafahan seorang yang mafdluul (tidak mulia) kendati ada yang lebih afdlaf… Dan demikian pula kesepakatan mereka bahwa  jika ditetapkan kekhilafahan bagi  seseorang kemudian muncul seorang yang lebih afdhah, maka kekhilafahannya tetap syah dan tidak dibenarkan berpindah mengangkat yang lebih afdhal  itu… Kesepakan mereka bahwa seorang khalifah tidak gugur kekhilafahannya dengan kefasikan… Kesepakatan mereka bahwa kekhilafahan yang diperoleh dengan jalan kekerasan (memberontak) itu syah, dan begitu pula, jika ada yang memberontak lagi dan ia menang maka ia syah sebagai khalifah dan gugurlah kekhilafan khalifah sebelumnya.

Dan lain sebagainya, berupa pondasi fiqhiyah dan kalamiyah, yang kesemuanya tidak mungkin difahami kecuali atas dasar anggapan bahwa khilafah adalah lembaga yang tidak terkait dengan pembentukan umat atas dasar Islam akan tetapi terkait dengan Negara, masyarakat politis dan kebutuhan politis, pengaturan bagi masyarakat politis.

Dan karenanya, ia adalah  posisi eksekutif murni, tidak terkait dengan Islam sebagai gerakan perkembangan yang dinamis dalam bidang tasyri’, tafsir, penjabaran dan pemeliharaan agama serta pengisian areal tasyri’iy netral yang dimunculkan oleh dinamika kehidupan dan adanya masalah-masalah baru  yang dihadapi seorang Muslim  dan masyarakat Islam dalam kehidupan.

Satu-satunya kaitan khilafah dengan Islam hanyalah bahwa Islam adalah dasar penetapannya dan ia memimpin masyarakat yang meyakini Islam sebagai agama dan ia harus memimpin berdasarkan akidah dan hukum Islam.   

Sesungguhnya khilafah terkait dengan urgensi politis pengaturan dan lahir darinya, ia tidak terkait dengan ediologi dan perkembangan dinamika syari’at di tengah-tengah umat dan dunia kecuali secara sekunder atau bahkan sama sekali tidak terkait.

Dan dari sini disimpulkan bahwa legalitas dan peran seorang Khalifah lahir karena ia memegang tampuk kekuasaan, dan jika hal itu hilang darinya maka hilanglah legalitas Syar’inya.

Ibnu Khaldum berkata, “Imamah adalah posisi mengganti/mewakili Nabi dalam memelihara agama dan mengatur urusan dunia/keduniaan.”[1][2]

Imamah Dalam Pandangan Mazhab Syi’ah

Dalam pandangan Syi’ah, imamah tidak hanya diyakini  sebagai sekedar kekuasaan/kepemimpinan sosial politik seperti dalam keyakinan Ahlusunnah. Mereka meyakini bahwa kepemimpinan politik adalah salah satu dari dimensi imamah, atau justru sebagai konsekuensi logis imamah itu sendiri.

Imamah menurut mereka ialah: mencakup kepemimpinan keagamaan (Marja’iyah Diniyah)  dan kepemimpinan politis (Za’amah Siyasiyah), bahkan lebih dalam lagi mereka meyakini bahwa imamah adalah kewenangan dalam memberikan pengaruh dalam terjadinya fenomena-fenomena alam tertentu (dimensi Takwiniyah).

Imamah adalah Ahdullah (Janji Allah), oleh karenanya harus disandang oleh pribadi yang ma’sum dan harus melalui nash (penunjukan) dari Allah SWT.

Imamah dalam pandanga Syi’ah Imamiyah adalah jabatan keagamaan murni, dan melaluinya akan berlanjut fungsi kenabian dalam bidang tasyri’, pengawalan akidah dan syariat dari penyelewengan, pencemaran dalam penjabaran, penafsiran kaidah-kaidah dasar syari’at dan firman-firman mujmal, global.

Ia adalah jabatan yang menyamai kenabian dalam segala keistimewaan dan fungsinya kecuali dalam keistimewaan menerima wahyu.

Ia adalah jabatan yang –pada dasar dan esensinya- tidak meniscayakan adanya masyarat politis dan insan politis, akan tetapi ia meniscayakan adanya Islam itu sendiri sebagai agama dan meniscayakan adanya umat sebagai eksestensi manusiawi idiologis yang membentuk kehidupannya sesuai dengan Islam dan bukan sebagai masyarakat politis.

Fungsi Imamah Ma’shumah terkait secara mendasar  dengan bidang tasyri’, bukan dengan kondisi penataan politis bagi masyarakat politis.

Oleh karenanya, fungsi Imam ma’shum secara mendasar bukanlah fungsi politis, pengaturan  kedinastian.

Dan bahkan hal ini bukan merupakan esensi Imamah dan fungsinya, akan tetapi secara mendasar esensi dan fungsinya adalah ediologis tasri’iyah, dan secara sekunder adalah politis pengaturan.

Dan dari sini disyaratkannya ishmah (kemaksuman) dan afdlaliyah,  seperti akan dijelaskan nanti.

Dan oleh karenanya, seorang imam ketika ia kehilangan posisi politis (sebagai kepala negara), ia tidak bererti kehilangan fungsi imamahnya dan tidak juga posisinya secara umum tergoyahkan sebab esensi imamahnya  tidak ditentukan oleh kekuasaan dan ruang lingkup fungsinya juga bukan masyarakat politis dan pembuktian fungsinya tidak bergantung kepada kekuasaanya dalam memimpin negara. Akan tetapi fungsi imamahnya ditentukan oleh peran agamis tasyri’iy dan obyek fungsinya adalah umat serta pembuktiannya adalah kepemimpinannya atas umat dalam bidang tabligh dan tasyri’.

Dan dari keterangan di atas dapat dimengerti adanya perbedaan yang mendasar dan bukan hanya pada beberapa syarat saja, dalam pendangan antara Syi’ah dan Ahlusunnah, oleh kerenanya Syahid Muthahari berkata, “Kita harus tidak boleh mencampur adukkan  antara masalah Imamah dan masalah kekuasaan (hukumah), lalu kita mengatakan, ‘Apa pendapat Ahlusunnah? dan apa pendapat kita (Syiah)? Akan tetapi  masalah Imamah adalah masalah lain, pengertiannya menyerupai pengertian kenabian dengan kedudukan tinggi yang disandangnya. Oleh karenanya, kita kaum Syi’ah meyakini imamah sedangkan kaum Ahlusunnah tidak meyakininya sama sekali. Dan tidak dikatakan bahwa mereka meyakininya hanya saja mereka mensyaratkan syarat-syarat lain (selain yang kita syaratkan).”[3] 

Maka dengan demikian mengenal pendefinisian masing-masing madzab dalam hal ini adalah sebuah keniscayaan dan hal penting yang akan menghindarkan kita dari kerancuan dalam berdialog dan menentukan kesimpulan-kesimpulan yang tepat.

Dan hal inilah yang sepertinya kurang mendapat perhatian yang proporsional dari para teolog klasik yang terlibat dalam polemik dan perdebatan berkepanjangan tentang Imamah di sepanjang zaman.

Misalnya, seorang teolog syi’ah langsung terjun mengkounter pandangan Sunni yang mengatakan bahwa Imamah dapat ditegakkan lewat sistem syura, dengan sejumlah argumen bahwa Imamah harus dengan nash, tanpa terlebih dahulu menemukan kata sepaham tentang definisi Imamah itu sendiri, akhirnya diskusi itu jadi rancu dan mandul.

Yang harus kita mengerti sekarang ialah bahwa Imamah yang diyakini kaum Sunni berbeda dengan Imamah yang diyakini kaum Syi’ah, baik dalam definisi, syarat-syarat maupun tugasnya.

(Bersambung)

 _________________

[1] Mukaddimah:191.

 [3]Bidâyah al Ma’ârif :1\10 menukil dari Imamat Wa Rahbari .

10 Tanggapan

  1. pa ustd. saya ingin bertanya, apakah hak imamah yg membawa beban taklif syareat utk menetapkan hukum islam itu berlaku untuk semua keturunan Imam ali kw. atau dari dzuriyat tertentu saja…syukron kalo ustd. mau menjawab ketidaktahuan saya.
    Wassalam,

    Ibnu Jakfari:

    Dalam keyakian Syi’ah, seorang Imam itu ditunjuk oleh Allah melalui Nabi-Nya saw. Tidak ada kaitan dengan sisi keturunan… Allah lah yang menetapkan siapa yang berhak menjabat sebagai Imam.

  2. kalo demikian, apa yg ingin dicapai dalam usaha mempersatukan antara sunni dan syi’ah. mohon pencerahan ustadz.

    Ibnu Jakfari:

    Karena dalam prinsip paling mendasar itu adalah sama antara Sunnah dan Syi’ah maka hendaknya persamaan-persamaan itu kita kedepankan dan dijadikan dasar pemersatu…

  3. mas Jakfari,

    Untuk memperluas wawasan, tolong dong sebut ayat-ayat al-Quran yg ada hubungannya dg Imamah.
    T. kasih

  4. secara logika bahwa disamping Al-Quran yg berbentuk ajaran/doktrin/teori yg agung dan suci wajib ada figur yg agung dan suci pula untuk praktek/operasionalisasinya sekaligus uswah bg umat. Dan hal ini wajib berlaku sampai Hari Kiamat. Syiah meyakini hal ini. Tetapi sayang Sunni tdk meyakini adanya figur yg sepadan dg Al-Quran setelah wafatnya Nabi saw.

  5. mas wahyudi :
    sunny mengakui adanya penguasa alam sebagai hujjah sang Maha Pencipta yg disebut Wali Al Qutub sepanjang kehidupan ini masih ada, namun ditak ada penjelasan siapa Dia.

  6. Assalamualaikum Wr.Wb

    Telah terjadi suatu fenomena menarik, yaitu ratusan orang dalam waktu singkat berbondong bondong pindah dari aliran salafi wahabi ke mazhab AHLUL BAiT, adapu pemicunya adalah setelah mereka membaca website :

    https://syiahindonesia1.wordpress.com

    Web mengguncang dan menggemparkan tersebut memuat 7 buah artikel yaitu :

    1. Bukti Imamah Ali Yang Mengguncang Semesta ! Meruntuhkan Aswaja Sunni

    2. Guncang !!! Hadis Palsu Dalam Kitab Bukhari Terungkap !

    3. KAiDAH : HADiS YANG MERUGiKAN AHLUL BAiT ADALAH PALSU DENGAN SENDiRi NYA

    4. Nabi SAW bilang tidak semua sahabat adil.. Kok Ulama Aswaja membantahnya !!!

    5. 12 khulafaur rasyidin Syi’ah Dizalimi Rezim Umayyah – Abbasiyah Dan Kaitannya Dengan Kitab Hadis Bukhari Muslim

    6. SALAFi WAHABi MEMAKAi HADiS DHA’iF SYi’AH SEBAGAI BLACK CAMPAiGN

    7. Kesalahan Terfatal Aswaja Sunni Karena Membela Rezim Mu’awiyah

    Telah terjadi suatu fenomena menarik, yaitu ratusan orang dalam waktu singkat berbondong bondong pindah dari aliran salafi wahabi ke mazhab AHLUL BAiT, adapu pemicunya adalah setelah mereka membaca website :

    https://syiahindonesia1.wordpress.com

  7. hehe,,maap ustadz nih, syiah juga ada syiah hasyawiyah,,,syiah ini adalah syiah tajsim dan syiah tasybih…

  8. @dody

    hehe,,maap ustadz nih, syiah juga ada syiah hasyawiyah,,,syiah ini adalah syiah tajsim dan syiah tasybih…

    cak dody apa ente nggak tau kalo yang ente hadapi yang punya blog ini bermazhab syiah jakfariah/imamiah?

    kayaknya ente mau berputar kesana kemari, seperti biasanya wahabi/salafy dalam berdialog

    he….he…he…!

  9. inilah Daftar artikel Website http://syiahindonesia1.wordpress.com yang bisa anda nikmati di web kami ..

    Silahkan Nikmati :::

    Artikel Pertama :
    AJARAN KHOMEiNi WAJiBKAH DiPATUHi ??…2.SYi’AH TiDAK FANATiK TAKLiD BUTA PADA PENDAPAT ULAMA SYi’AH TEMPO DULU !!!!!!!!!!!! 3. DALAM SYi’AH PINTU iJTIHAD TERBUKA SAMPAi KiAMAT..

    Artikel Kedua :
    Riwayat Hadits Nabi SAW dari Kitab Sunni dan syi’ah…MANAKAH YG LEBIH UNGGUL HADIS AHLU SUNNAH WA JAMA’AH ATAU HADIS SYI’AH…..Hadis dalam Literatur Syi’ah

    Artikel Ketiga :
    1. MEMBONGKAR KESESATAN SYI’AH ????? SEMUA POiNT TUDUHAN KESESATAN SYi’AH TERNYATA 100% MAMPU KAMi PATAHKAN !!!!!!! 2.PERBEDAAN ANTARA AHLUSSUNNAH SUNNi DAN SYiAH

    Artikel Keempat :
    1.SYi’AH KAFiRKAN SAHABAT NABi SAW ?……. 2. AJARAN KHOMEiNi WAJiBKAH DiPATUHi ??…3.AURAT CUMA DUA LOBANG ?????????….4.SYi’AH AMBiL SANAD DARi KELEDAi ??? ….5.”SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK AKAN MENGUMPULKAN UMATKU Di ATAS KESESATAN”

    Artikel Kelima :
    1.Nikah Mut’ah Dihalalkan Nabi SAW Tapi Diharamkan Umar bin Khattab…2. Nikah Mut’ah Halal Tetapi Dengan Syarat Ketat , misal : Tidak Menzalimi Wanita…3. wanita Iran sangat susah sekali untuk dinikahi secara mut’ah

    Artikel Keenam :
    1.SEJARAH TERBENTUKNYA MAZHAB ASWAJA SUNNi !!! 2.Rasul Suci SAW menyebutkan satu persatu Nama Dua Belas khalifah umat Islam !!! 3.Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait !!! 4. Sejarah Kristen Katolik dan Injil Barnabas

    Artikel Ketujuh :
    1.Kenapa Syi’ah Hanya Mengakui Keshahihan Sebagian Hadis Aswaja Sunni ??? 2.Hadis Palsu Dalam Kitab Bukhari Muslim Terungkap ! 3.HADiS YANG MERUGiKAN AHLUL BAiT ADALAH PALSU…4.Kaitan Hadis Aswaja Dengan Kekejaman Raja Umayyah Abbasiyah….5.“hadis aswaja sunni dikutip syi’ah hanya untuk membuktikan bahwa kebenaran syi’ah ada terselip dalam kitab hadis aswaja”… 6.Secara internal : “hadis syi’ah sudah mencukupi bagi syi’ah”….

    Artikel Kedelapan :
    ASWAJA SUNNi PALSUKAN AGAMA !!! KARENA TERBUKTi MAYORiTAS ALUMNi GHADiR KUM AKUi iMAMAH ALi WALAUPUN TiDAK MAU MEMBAi’AT

    Artikel Kesembilan :
    Aswaja Sunni Runtuh Karena Terbukti “TiDAK SEMUA SAHABAT NABi SAW ADiL”

    Artikel Kesepuluh :
    1.TANDUK SETAN DARi NAJAD MENGGUNAKAN HADiS DHA’iF SYi’AH UNTUK MENUDUH SYi’AH SESAT…2.SYi’AH iMAMiYAH MENDHA’iFKAN RiBUAN HADiS KARENA SYi’AH SANGAT KETAT DALAM iLMU HADiS…

    Artikel Kesebelas :
    1.Dua Belas khulafaurrasyidin syi’ah dizalimi rezim Umayyah Abbasiyah !!! 2.Pembantaian Massal Terhadap Pengikut Ahlul BAit !!! 3.Kekejaman Mu’awiyah Melebihi Fira’un !!! 4.Ijtihad Sahabat : Membunuh Cucu Nabi SAW, Imam Hasan AS.

    Artikel Keduabelas :
    Mengapa Imam Ali dan Imam Hasan Membai’at ??? Imam Ali dan Imam Hasan Membai’at Karena Terintimidasi dan Mencegah Pertumpahan Darah Internal

    Artikel Ketigabelas :
    1. Asy’ari, Maturidy, Empat imam mazhab sunni dan Imam Al Ghazali merupakan PEMiMPiN KEAGAMAAN YANG TiDAK DiTUNJUK OLEH ALLAH !!! 2.Aswaja Sunni meninggalkan ajaran ahlul bait !! 3.Al Quran dan ahlul bait adalah dwitunggal yang tak terpisah !

    Artikel Keempat belas :
    Wajah Allah ? Mata Allah ? Kaki Allah dan Betis Nya ? Bentuk Allah ?? Tangan Allah ? Dimanakah Allah ?

    Artikel Kelima belas :
    SATU Dari TiGA WASIAT SAAT NABi SAW MENJELANG WAFAT DiSEMBUNYiKAN AGAR ASWAJA BiSA TEGAK !!!! DALiL iMAMAH iMAM ALi DAN 11 KETURUNAN NYA

    Artikel Keenam belas :
    Gusdur, Quraish Shihab, Umar Shihab dan Empat Ulama Al Azhar Juga PEMBELA SYi’AH iMAMiYAH iTSNA ASYARiAH

    inilah Daftar artikel Website http://syiahindonesia1.wordpress.com yang bisa anda nikmati di web kami ..

  10. […] Doktrin Imamah, Studi Komperatif Sunnah-Syi’ah (1) Kepemimpinan Dalam Perspektif Syi’ah dan Sunn… […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: