Seri Penyimpangan Akidah Ketuhanan Ahlusunnah (1)

Allah SWT Dalam Akidah Ahlusunnah

Di antara keyakinan tentang Allah SWT dan sifat-sifat-Nya yang meniscayakan tajsîm dan tasybîh adalah keyakinan bahwa Allah SWT itu butuh kepada ruang dan wadah untuk bertempat. Dan tempat itu adalah Arsy. Dan Arsy yang di atasnya Allah bersemayam itu dipikul oleh delapan malaikat dalam bentuk kambing hutan yang mengapung di atas laut di atas langit ke tujuh. Dalam laut itu seperti tebal antara langit yang satu dengan langit lainnya! Demikianlah keyakinan Mazhab Sunni dalam menggambarkan Tuhan yang dibangun di atas hadis-hadis yang diriwayatkan para muhaddis dan dibakukan sebagai dasar akidah oleh para ulama Sunni. Hadis tentangnya dikenal dengan nama hadis Au’âl (kambing jantan).

Untuk menyingkat pembahasan ini, saya akan sebutkan langsung nash hadis andalan Mazhab Sunni dalam menegakkan akidah yang satu ini.

Nash Hadis Au’âl!

Para muhaddis Sunni, di antaranya Al Hâkim dalam kitab al Mustadrak-nya[1] dengan sanad: Dari Abdullah ibn Umarah dari Abbas ibn Abdil Muththalib, ia berkata:

.

كنا جلوساً مع رسول الله (ص) بالبطحاء ، فمرت سحابة ، فقال رسول الله (ص) : أتدرون ما هذا ؟ فقلنا : الله ورسوله أعلم . فقال السحاب . فقلنا: السحاب ؟ فقال : والمزن فقلنا : وما المزن ؟ فقال : والعنان ، ثم سكت ، ثم قال : أتدرون كم بين السماء والأرض ؟

فقلنا : الله ورسوله أعلم .

فقال : بينهما مسيرة خمسمائة سنة ، وبين كل سماء إلى السماء التي تليها مسيرة خمسمائة سنة ، وكثف كل سماء مسيرة خمسمائة سنة ، وفوق السماء السابعة بحر بين أعلاه وأسفله كما بين السماء والأرض ، ثم فوق ذلك ثمانية أوعال بين ركبهم وأظلافهم كما بين السماء والأرض ، والله فوق ذلك ليس يخفى عليه من أعمال بني آدم شيء .

.

Ketika kami sedangn duduk di sisi Rasulullah saw. di sebuah lembah, lalu lewatlah awan, maka beliau saw. bersabda: ‘Tahukah kalian apa namanya ini?’ kamipun menjawab, ‘Allah dan rasul-Nya lah yang lebih tau.’ Lalu beliau bersabda, ‘Ia adalah sahâb/awan.’ Maka kamipun mengatakan: ‘awan.’ Dan al muzn, lanjut beliau. Maka kami pun mengatakan, al muzn. Al ‘anân, tambah beliau lagi, dan kami pun mengatakannya. Kemudian beliau berhenti sejenak lalu bersabda: ‘Tahukah kalian berapa jarak antara langit dan bumi?

Kamipun menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nyalah yang lebih mengetahui.’

Lanjut beliau: ‘Jarak antara langit dan bumi adalah lima ratus tahun (perjalanan). Dan jarak antara satu langit dengan langit setelahnya adalah lima ratus tahun (perjalanan). Dan tebal antara satu langit dengan langit berikutnya adalah lima ratus tahun (perjalanan).

Dan di atas langit ke tujuh terdapat lautan yang jarak antara atas dan bawahnya seperti jarak antara langit dan bumi. Kemudian di atas itu terdapat delapan kambing hutan yang antara lutut dan kuku-kuku mereka sepertti jarak antara langit dan bumi. Dan Allah berada di atas itu. Tiada terseumbunyi sedikitpun dari amal anak Adam.”

(Al Hâkim berkata; “Hadis ini shahhih sanadnya akan tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.” Adz Dzahabi juga menyetujui penshahihan itu.)

Seperti telah disinggung bahwa hadis di atas telah diriwayatkan banyak ulama selain al Hâkim, di antaranya adalah:

1)  Ahmad dalam Musnad-nya. Hanya saja dalam riwayat Ahmad terdapat tambahan di akhirnyta:

.

: ثم فوق ذلك ثمانية أوعال بين ركبهن وأظلافهن كما بين السماء والأرض ، ثم فوق ذلك العرش بين أسفله وأعلاه كما بين السماء والأرض ، والله تبارك وتعالى فوق ذلك وليس يخفى عليه من أعمال بنى آدم شيء

“Kemudian di atasnya terdapat delapan ekor kambing hutan yang jarak antara lutut dan kuku-kuku mereka seperti jarak antara kangit dan bumi. Kemudian di atasnya terdapat Arsy yang jarak antara atas dan bawahnya seperti jarak antara kangit dan bumi. Dan Allah Yang Maha Berkah dan maha Tinggi berada di atasnya. Dan tiada samar atas-Nya amal-amal bani Adam.[2]

2)      At Turmudzi dan ia mengatakan: “hadis itu Hasan Gharîb.

3)      Abu Daud.

4)      Ibnu Mâjah.

5)      Abu Ya’lâ al Mûshili.

6)      Al Bzzâr.

7)      Ibnu Ab Syaibah dalam kitab al ‘Arsy.

8)      Al Fâkihi dalam kitab Akhâr Mekkah.

9)      Ibnu Abi Hâtim.

10)   Al Lâlakai ath Thabari dalam ‘Ushûl I’tiqâd Ahlisunnah wal Jamâ’ah.

11) Al âjuri dalam kitab Syarî’ah.

12)   Utsman ibn Sa’ad ad Dârimi dalam an Naqdhi, dan dalam ar radd ‘Ala al jahmiah.

13)   Ibnu Khuzaimah dalam kitab at Tauhid.

14)   Ibnu Mandah dalam kitab at Tauhid.

15)   Al baihaqi dalam al Asmâ’ wa ash Shifât.

16)   Abu Bakr asy Syafi’i dalam kitab al Fawâid.

17)   Ar Ruyâni dalam Musnad-nya.

18)   Ibnu ABdil Barr dalam att Tamhid-nya.

19)   Abu Syaikh al Isfahâni dalam kitab al ‘Adhamah.

20)   Al Maqdisi dalam kitab al Mutkhtarah-nya.

21)   Adz Dzahabi dalam kktab al ‘Uluw-nya.

22)   Dan selain mereka masih banyak lainnya.[3]

Pernyataan Para Ulama Ahlusunnah wal Jamâah

Para ulama Ahlusunnah-khusunya yang bermazhab Hanbali, yang sekarang menamakan diri dengan Salafiyah telah menshahihkan hadis di atas dan menjadikannya dasar dalam meyakini bahwa Allah (Maha Suci Allah dari pensifatan kaum Jahil) itu bertempat dan bersemayam di atas Arsy-Nya yang dipikul oleh delapan malaikat yang menyerupai rupa kambing. Di antara mereka:

1)                  Al Hâkim

2)                  Adz Dzahabi seperti telah Anda baca bersama pernyataan mereka berdua.

3)      Ibnu Tamiyah (yang selalu mereka sebut dengan gelar Syeikhul Islam sebagai penghormatan.

Keterangan Ibnu Tamiyah

Dalam perdebatannya dengan lawan akidah al Wâsithiah-nya, Ibnu Tamiyah yang dipojokkan kerena meyakini apa yang disebutkan dalam hadis membela diri dengan mengatakan:

.

… وطلب بعضهم إعادة قراءة الأحاديث المذكورة في العقيدة ليطعن في بعضها ، فعرفت مقصوده . فقلت: كأنك قد استعددت للطعن في حديث الأوعـال: حديث العباس بن عبـد المطلب .

“Sebagian mereka meminta untuk meneliti kembali hadis-hadis tersebut dalam Aqidah karena sebagiannya ada yang cacat. Aku mengerti maksudnya, maka aku berkata, ‘Sepertinya kamu telah menyiapkan kecaman atas hadis Au’âl yaitu hadis riwayat Abbas ibn Abdul Muththalib

Lalu ia mengatakan:

.

وكانوا قد اعنتوا حتى ظفروا بما تكلم به زكي الدين عبد العظيم من قول البخاري في تأريخه : عبد الله بن عميرة لا يعرف له سماع من الأحنف . فقلت : هذا الحديث مع أنه رواه أهل السنن كأبي داود ، وابن ماجة ، والترمذي ، وغيرهم ، فهو مروي من طريقين مشهورين فالقدح في أحدهما لا يقدح في الآخر .

فقال : أليس مداره على ابن عميرة ، وقد قال البخاري : لا يُعرف له سماع من الأحنف ؟

فقلت : قد رواه إمام الأئمة ابن خزيمة في كتاب التوحيد الذي اشترط فيه أنه لا يحتج فيه إلا بما نقله العدل عن العدل موصولاً إلى النبي صلى الله عليه (وآله) وسلم . قلت : والإثبات مقدم على النفي ، والبخاري إنما نفى معرفة سماعه من الأحنف ، لم ينف معرفة الناس بهذا ، فإذا عرف غيره كإمام الأئمة ابن خزيمة ما ثبت به الإسناد كان معرفته وإثباته مقدماً على نفي غيره وعدم معرفته .

.

“Mereka telah bersungguh-sungguh dalam memerhatikan hadis ini sehingga mereka menemukan keterangan dari Zakiyyuddîn Abdul ‘Adzim yang menukil pernyataan Bukhari dalam kitab Târîkh-nya: ‘Abdullah ibn ‘Umairah itu tidak dikenal pernah mendengar hadis dari Ahnaf.’ Maka aku berkata: ‘Hadis ini telah diriwayatkan oleh penulis kitab Sunan seperti Abu Daud, Ibnu Mâjah, at Turmudzi dan lainnya. Dia telah diriwayatkan dari dua jalur yang terkenal. Mengecam salah satunya tidak akan mencacat hadis jalur lainnya.

Ia berkata: ‘Bukankah hadis itu berporos pada Ibnu ‘Umairah, sementara Bukhari telah berkata: ‘Abdullah ibn ‘Umairah itu tidak dikenal pernah mendengar hadis dari Ahnaf?’

Maka aku berkata: “Hadis itu telah diriwayatkan oleh imam para imam; Ibnu Khuzaimah dalam kitab at Tauhid-nya yang di dalamnya ia mensyaratkan untuk tidak berhujjah melainkan dengan hadis yang dinukil oleh parawi adil hingga bersambung kepada Nabi saw. Aku (Ibnu Taimyah) berkata: ’Dan yang menetapkan lebih diutamakan dari yang menafikan. Bukhari hanya menafikan pengetahuannya bahwa Ibnu ‘Umairah itu pernah mendengar riwayat dai Ahnaf. Tetapi ia tidak menafikan pengetahuan orang lain. Maka jika ada seorang imam lain seperti Ibnu Khuzaimah; imam para imam mengetahuinya yang dengannya telah tetap sanad maka ia lebih diutamakan atas penafian selainnya dan ketidak tauannya. [4]

4)      Ibnu Qayyim al Jauziyah (murid setia Ibnu Tamiyah)

Ibnu Qayyim juga menshahihkan hadis ini dalam Hasyiah (cacatan pinggir atas kitab) Sunan Abu Daud. Dan setelah menyebutkan beberap kritik di antaranya pertentangannya dengan hadis Abu Hurairah, ia berkata:

فكل منهما يصدق الآخر ويشهد بصحته ، ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافاً كثيراً .

“Maka kedua hadis itu saling membenarkan dan mendukung keshahihannya. Andai bukan dari Allah pastilah kamu menemukan pertentangan yang banyak. [5]

Inilah dongeng Au’âl yang menjadi akidah andalan para ulama Ahlusunnah. Dan itulah keterangan para ulama tentangnya dan selain mereka masih banyak lainnya.

Ibnu Jakfari berkata

Jika Anda meneliti akidah kaum pagan dan rajin membaca dongeng-dongeng bangsa Yunani kuno pasti Anda akan segera mengetahui sumber dongeng yang berubah menjadi akidah andalan Mazhab Sunni. Dalam dongeng bangsa Yunani kuno digambarkan bahwa tuahn mereka mengendareai singgasana dan kendaraan yang memuatnya. Jelas gambaran Tuhan seperti dalam hadis Au’âl adalah akidah yang sangat bertentangan dengan Kemaha Sucian Allah!

Saya yakin Anda setuju jika ada yang mengatakan bahwa Allah harus disucikan dari pensifatan kaum jahil. Dan meyakini bahwa Allah –Dzat Yang Maha Agung dan Maha Suci dari butuh kepada makhluk-Nya!

Tetapi jika kebutuhan Allah kepada bertempat….  Bersemayam di atas Arsy yang dipikul oleh Au’âl (kambing hutan jantan) yang mengapung di atas lautan yang berada di atas langit ke tujuh itu tidak dianggap bertentangan dengan kemaha sucian Allah SWT.. maka apa yang harus kami katakkan?

Para ulama Ahlusunnah (khususnya mereka yang kental dengan kayakinan tajsîm dan tasybîh) hanya sibuk menerangkan bahwa yang dimaksud dengan Au’âl itu adalah para malaikat yang memikul Arsy yang di atasnya Allah SWT bersemayam, bukan kambing hutan jantan yang beneran. Mungkin dalam anggapan mereka dengan demikian masalahnya menjadi beres… kemaha sucian Allah terselamatkan!

Apa bedanya, Allah yang sedang bersemayam di atas Arsy yang mana Arsy-Nya dipikul makhluk-Nya, baik dia itu kambing hutan jantan atau malaikat? Apakah akan merubah masalah? Tolong fatwakan kepada kami, semoga Allah merahmati dan memberi upah surga abadi untuk kalian wahai Sunniyyûn?

Mungkin akal kami sangat terbatas dan tidak sejenius kalian, sehingga mampu meyakini Kemaha Sucian Allah itu terletak pada bersemayamnya Allah di atas Arsy yang ditegakkan di atas punggung Au’âl dan bukan pada ketidak butuhan Allah SWT kepada tempat, apapun dia, Arsy atau lainya? Sebab seperti disabdakan dan diajarkan para imam Ahlulbait as. yang kami beriman akan keimamahan dan kemaksuman mereka menegaskan bahwa Maha Suci Allah dari bertempat, sebab Dia adalah Dzat yang Azali dan telah wujud sebelum wujudnya tempat. Dialah yang menciptakan tempat, lalu bagaimana Dia butuh kepada bertempat.

Namun sayang, sabda-sabda suci para imam suci tidak kalian hiraukan dan tidak diindahkan. Kalian lebih bangga mengandalkan hadis-hadis palsu buatan kaum pembatil. Innâ Lillâhi wa Innâ ilaihi Râji’ûn.


[1] Mustadrak,1/378.

[2] Musnad Ahmad,1/206.

[3] Sunan at Turmudzi,5/395 hadis:3320, Sunan Abu Daud,4/231, ‘Aun al Ma’bûd (syarah Sunan Abu Daud,7/4-6, Sunan Ibnu Mâjah,1/69 hadis:193, Musnad al Bazzâr,4/135 hadis:1310, al Asmâ’ wa ash Shifât:526, Musnad Abu Ya’lâ,12/76 hdis:6713, Akhbâr Mekkah,3/76, 77 hadis:1827, kitab Al Arsy:319-322, ar Radd ‘ala al Jahmiah:50 hadis 72, at Tamhîd,7/140, al Ahâhîts al Mikhtârah,8/378 dan 375 hadis: 462 dan376 hadis:464, Syarah ‘Ushûli Aqidah Ahlisunnah,3/389-390 nomer:650, 390-391 nomer:651, at Tauhîd; Ibnu Khuzaimah:101-102, kitab as Sunnah; Ibnu Abi ‘Âshim,1/253 hadis:577, 254 hadis:578 , kitab al ‘Adhamah:82 nomer 206, 2/566 nomer 15, asy Syari’ah:292, al ‘Uluw:59, Itsbât Shifati al ‘Uluw; Ibnu Qudamah al Maqdisi:59, dan Firdaus al Akhbâr,5/130.

[4] Majmû’ Fatâwa Ibn Tamiyah,3/191-193.

[5] Hasyiyah atas Sunan Abu Daud,7/8 Dan pernyataan Ibnu Qayyim di atas dapat juga Anda baca dalam Tuhfatu Ahwadzi (syarah Sunan at Turmudzi; Al Mubarakfuri)9/166.

12 Tanggapan

  1. lumayan buat tambahan referensi untuk dekonstruksi ketuhanan…

  2. Dan di atas langit ke tujuh terdapat lautan yang jarak antara atas dan bawahnya seperti jarak antara langit dan bumi. Kemudian di atas itu terdapat delapan kambing hutan yang antara lutut dan kuku-kuku mereka sepertti jarak antara langit dan bumi. Dan Allah berada di atas itu. Tiada terseumbunyi sedikitpun dari amal anak Adam.”

    (Al Hâkim berkata; “Hadis ini shahhih sanadnya akan tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.” Adz Dzahabi juga menyetujui penshahihan itu.)

    Astaghfirullah baru tau saya kalo ada ulama yang mempercayai dongeng-dongeng khurafat seperti itu..

    walaupun saya wong bodoh tentang agama tapi kalo mempercayai dongeng yang menghina Allah SWT seperti itu ya nggak bakalan

    masak Tuhan digambarkan kayak cerita wayang saja..
    astaghfirullah-al adhim !

  3. hahahah inilah orang kalau sudah terlalu pintar..jadi memintarkan dirinya..tuhan kok di gambarkan…..kaya srimulat

    • Emang kok badui gurun macam Syekh2 nashibi pintar n jago soal klaim…
      ini yang namanya ahlul bid’ah teriak bid’ah !!

    • Emang kok badui gurun macam Syekh2 nashibi pintar n jago soal klaim anti bid’ah…
      ini yang namanya ahlul bid’ah teriak bid’ah !!

  4. Ustadz, apa tidak lebih tepat dikatakan pemahaman salafy, bukan sunni?

    Ibnu Jakfari:

    Setahu saya, Ahlusunnah itu ada tiga kubu: Asy’ari, al maturidi, dan Al Hanbaliyah. Selain itu, bukankah kaum Salafi atau Wahabi juga mengklaim merekalah yang Ahlusunnnah…. yang merawisi akidah Imam Ahmad.

  5. Waduhh… Tuhan siapa tuh, koq begitu banget, sich? Kasihan tuh kambing hutan!

  6. Saudara Ibnu Jakfari….

    Jika Imam Bukhari dan Imam Muslim tidak menuliskan hadist tsb di atas, itu berarti hadits tsb diragukan keasliannya. Isinya pun keliatan sekali sangat “melecehkan” posisi Allah. Imam Bukhari adalah orang yang sangat berhati2 dalam menuliskan sebuah hadits….Banyaklah Istighfar
    Salam

    Ibnu Jakfari:

    Akhi Abdullah, apa saudara dapat membawakan bukti kebenaran dasar konsep saudara:Jika Imam Bukhari dan Imam Muslim tidak menuliskan hadist tsb di atas, itu berarti hadits tsb diragukan keasliannya.?
    Sebab konsekuaensi dari apa yang saudara katakan itu ialah bahwa setiap hadis yang tidak diriwayatkan kedunya berarti diragukan keshahihannya!!
    Apa ada ulama terpercaya Ahlusunnah yang sependapat dengan Anda? Tolong saudara jawab!

  7. Iya..ya…, Penyimpangan ke Tuhanan teriak Penyimpangan ke Tuhanan juga…weleh..weleh Salah ..teriak salah….

  8. allahumma sholli ala muhammad wa ali muhammad

  9. Saya anjurkan para pencari kebenaran untuk mebandikan antara dua kitab Tauhid.. judulnya sama.. yang satu karangan tokoh Syi’ah bernama ash Shaquq dan yang satu karangan tokoh Sunni ternama Ibnu Khuzaiman… setelahnya bandingkan nama yang islami mana yang tajsim dan tasybih… kitab terakhir lebih pas disebut KITAB SYIRK WA KUFR ketimbang KITAB TAUHID!!!
    akidah ngawur seperti di atas telah diajarkan dalam kitab-kitab suni seperti kitab Tauhidnya Ibnu KhuZaimah, Kitab Sunnahnya Ahmad ibn Hanbal dan lain-lain..
    Al hasil, ya memang seperti itulah akidah Sunni, tidak khusus salafi…

  10. […] Seri Penyimpangan Akidah Ketuhanan Ahlusunnah (1) Allah SWT Dalam Akidah Ahlusunnah […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: