Imamah, Studi Komperatif Sunnah-Syi’ah (2)

Apakah Imamah Ushûlddîn/Prinsip agama atau Furû’uddîn?

  • Pendapat Ahlusunnah:

Imamah dalam pandangan madzab Ahlusunnah bukan merupakan Ushuluddin, ia digolongkan furu’uddin dan masalah-masalah fiqih yang harus dipecahkan dengan dalil-dalil naqliah bukan aqliah. Bahkan mereka menganggapnya bukan hal penting yang harus dibicarakan dan di diskusikan.

Demikian dijelaskan oleh tokoh-tokoh teologi Ahlusunnah seperti Imam Ghazali, Al-Amidiy, Al-Taftazani dll.

Al Ghazali berkata, “Ketahuilah, bahwa meneliti masalah Imamah bukanlah hal penting dan bukan permasalahan aqliah, ia adalah masalah fiqhiyah…”.[1]

Al Amidi berkata, “Ketahuilah bahwa persoalan imamah bukanlah termasuk ushuluddin, dan bukan pula perkara yang keharusan di mana seorang mukallaf  tidak dibenarkan berpaling darinya dan tidak mengerti tentangnya… .“[2]

At Taftazani berkata, “Imamah bukan termasuk Ushuluddin dan akidah, berbeda dengan Syi’ah. Akan tetapi ia menurut kita (Ahlusunnah) termasuk furuu’ yang terkait dengan tindakan para mukallaf, sebab pengangkatan imamah menurut kita wajib atas umat berdasarkan dalil naqli… .”[3]

Ibnu Ruzbahan mengatakan dalam bantahannya terhadap Allamah al-Hilli ra., ”Ketahuilah bahwa Imamah menurut kelompok Al Asy’ariyah bukan termasuk Ushuludiyanaat dan dasar akidah, akan tetapi ia menurut mereka adalah termasuk furuu’ yang berkaitan dengan tindakan kaum mukallaf.”[4]

Dan sepertinya pandangan mereka yang mengatakan bahwa imamah (khilafah) adalah furu’uddin dan bukan ushuluddin adalah tepat dan sesuai dengan pandangan mereka tentang definisi dan fungsi khilafah itu sendiri, sebab seperti sudah kita ketahui bahwa imamah (khilafah) dalam pandangan Ahlusunnah adalah sekedar jabatan kekuasaan (pemerintahan).

Syahid Muthahhari berkata, “Apabila masalah Imamah dalam batasan ini yaitu kekuasaan politis bagi kaum  Muslim sepeninggal Nabi saw. maka jujur saja kita kaum Syi’ah menjadikannya dari bagaian dari furu’uddin dan bukan ushuluddin dan kita mengatakannya ia seperti masalah shalat, akan tetapi kita kaum Syi’ah yang menyakini Imamah tidak hanya memahamimya sebatas itu.”[5]

Dan yang perlu mendapat sorotan di sini bahwa kendati imamah dalam pandangan Ahlusunnah bukan termasuk ushuluddin, namun demikian mereka menekankan pentingnya keimanan terhadap keimamahan (kepemimpinan) para Khulafa’ bahkan terhadap keyakinan urutan keutamaan mereka sesuai dengan urutan masa kepemimpinan mereka, dan mereka menjadikannya sebagai bagian yang sangat penting dalam keyakinan Ahlusunnah.

Imam Ahmad bin Hambal (W:241H) berkata menjelaskan akidah Ahlusunnah, “Sebaik-baik umat ini setelah Nabi kita saw. adalah Abu Bakar,  dan sebaik-baik  setelah Abu Bakar adalah Umar, dan sebaik-baik setekah Umar adalah Utsman, dan sebaik-baik setelah Utsman adalah Ali, semoga Allah meridhai mereka. Mereka adalah para Khulafa’ yang Rasyiduun dan mendapat petunjuk.”[6]

Abu Ja’far Ath Thahawi Al Hanafi (W:321H) berkata, “Dan kami menetapkan Khilafah setelah Nabi saw. untuk Abu Bakar ash Shiddiq –sebagai pengutamaan atas seluruh umat  kemudian untuk Umar ra. kemudian untuk Utsman ra. kemudian untuk Ali ra.”[7]

Abu Al Hasan Al Asy’ariy (W:330H) berkata, “Dan mereka mengakui bahwa mereka (Abu Bakar, Umar,  Utsman dan Ali_ pen.) adalah Khulafa’ Rasyiduun Mahdiyyuun semulia-mulia manusia setelah Nabi saw.”[8]

  • Pendapat Syi’ah Imamiyah :

Dalam pandangan Syi’ah Imamiyah, Imamah -yang kita telah ketahui definisinya menurut mereka- adalah sebuah prinsip agama (Ushulluddin).

Setelah kita ketahui bersama bahwa Imamah adalah Khilafah ketuhanan yang akan menyempurnakan dan melanggengkan fungsi Nabi –selain penerimaan wahyu-, maka semua fungsi dan tugas Rasul saw.; memberikan petunjuk dan membimbing umat manusia, menuntun mereka kepada kebahagiaan dunia-akhirat, mengatur urusan manusia, menegakkan keadilan, menyingkirkan kezaliman dan kesewenang-wenangan, memelihara syari’at, menerangkan al-Kitab, menghilangkan perselisihan, mensucikan jiwa dan mendidik manusia serta lain sebagainya  adalah termasuk juga tugas dan fungsi seorang Imam. Maka alasan yang menetapkan digolongkannya kenabian sebagai Ushuluddin juga alasan digolongkannya imamah sebagai ushuluddin. Dan kalau tidak maka tidak ada alasan  memasukkan kenabian sebagai ushuluddin juga.

Oleh kerenanya Imamah dalam pandangan Syi’ah Imamiyah sebagai  Ushuluddin dan bukan furu’uddin.

Syaikh al-Mudzaffar berkata, “Dan yang membuktikan bahwa Imamah termasuk ushuluddin adalah bahwa kedudukan Imam seperti kedudukan Nabi dalam penjagaan Syari’at, keharusan mengikutinya, dan kepemimpinannya yang umum tanpa perbedaan. Dan telah sependapat dengan kita (Syi’ah Imamiyah) bahwa ia (imamah) adalah termasuk ushuluddin sekelompok  ulama selain kita seperti Qadli Al Baidhawi dalam pembahasan Al Akhbaar (berita\hadis), dan sekelompok  pensyarah ucapannya seperti disebutkan oleh Sayyid yang mulia –Rahimahuallah-.[9]

  • Dalil-dalil Imamah Sebagai Ushuluddin:

Ketahuilah bahwa arti ushuliddin adalah dasar-dasar agama, dan sesuatu dikatagorikan sebagai dasar agama karena ia adalah  pondasi yang di atasnya agama ditegakkan. Asy Syahadatain adalah termasuk ushuluddin karena alasan di atas, sebab seorang tidak dikatakan Muslim kecuali dengannya, demikian juga dengan Imamah.

Dan yang mendasari keyakinan di atas adalah Al qur’an dan Sunnah Nabi saw.

  • Dalil Al qur’an

Ayat al Baalagh:

يا أَيّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَ إنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ، وَ اللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ.

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti)kamu tidak menyampaikan Risalah-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan)manusia.(QS:5;67).

Ayat di atas –setelah terbukti- turun berkaitan dengan masalah Imamah dan wilayah sepulang Nabi saw. dari haji Wada’  di Ghadir Khum setelah menyampaikan pesan terakhir tentang kepemimpinan Ali as., seperti disebutkan dalam riwayat-riwayat yang sahih yang telah diriwayatkan oleh para ulama Ahlusunnah dan juga Syi’ah, ia menunjukkan  bahwa Imamah adalah dasar agama, sebab Imamah sesuai dengan petunjuk ayat di atas adalah sebuah perkara yang apabila Nabi saw. tidak menyampaikannya, maka seakan beliau tidak pernah menyampaikan agama dan Risalah Allah SWT. Dan ini adalah bukti kuat bahwa Imamah adalah bagian yang urgen dalam kehidupan Risalah dan kenabian, maka bagaimana mungkin ia tidak termasuk Ushuluddin?!

Hadis tentang turunnya ayat di atas tentang wilayah dan Imamah Ali  in Abi Thalib as. telah diriwayatkan oleh tidak kurang dari dua puluh Ulama besar Ahlusunnah, di antara mereka adalah:

Ibnu Abi Hatim ar-Razi.[10]

Ahmad bin Abdur-Rahman asy-Syirazi[11].

Ahmad bin Musa (Ibnu Murdawaih) [12].

Ahmad bin Muhammad ats-Tsa’labi [13].

Abu Nu’aim al-Ishfahani [14].

Abu al-Hasan Ali bin Ahmad al-Wahidi [15].

Mas’ud bin Nashir as-Sijistani [16].

Abdullah bin ‘Ubaidillah al-Hiskani [17].

Ibnu ‘Asakir ad-Dimasyqi[18].

Al-Fakh ar-Razi[19].

Jalaluddin as-Suyuthi[20].

Muhammad bin Thalhah asy-Syafi’i[21].

Ali bin Syihab al-Hamadani [22].

Ibnu Shabbagj al-Maliki [23].

Al-‘Aini[24].

Nidzamuddin an-Nisaburi al-Qummi[25].

Di bawah ini akan kami sebutkan beberapa riwayat tentangnya.

Dalam tafsir Al Durr Al Mantsur disebutkan: Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud: Kami di masa Rasulullah saw. membaca ayat ini:

يا أَيّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ  (إن عليا مولى المؤمنين) وَ إنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ، وَ اللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ.

Dengan tambahan kata: إن عليا مولى المؤمنين” ” (Sesungguhnya Ali adalah pemimpin kaum Mu’min) setelah kata:من ربك[26].

Dari Ibnu Abbas dan Jabir bin Abdillah, mereka berkata, “Allah memerintah Muhammad saw. untuk mengangkat Ali sebagai panutan bagi umat manusia dan memberitakan kepada mereka tentang wilayah (kepemimpinan)nya, maka Rasulullah saw. khawatir mereka (para sahabat) berkata (menuduh), ‘Ia (Muhammad) berkolusi dengan anak pamannya’, dan khawatir mereka mengkritik beliau dalam hal ini, maka Allah mewahyukan kepada beliau ayat di atas. Lalu beliau saw. bangkit menyampaikan wilayah Ali pada hari Ghadir Khum.”[27]

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata, “Rasulullah saw. diperintah untuk menyampaikan tentang kepemimpinan Ali, lalu Allah -Azza Wa Jalla- menurunkan ayat:

يا أَيّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَ إنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ، وَ اللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ.

Kemudian pada hari Ghadir Khumm beliau bangkit berpidato, setelah menyampaikan puja-puji kepada Allah beliau bersabda, ‘Bukanakah saya lebih berhak atas kalian lebih dari diri kalian sendiri?!’ Mereka menjawab, ‘Benar, wahai Rasulullah.’

Lalu beliau saw. bersabda, “Barang siapa yang aku adalah walinya maka Ali juga walinya. Ya Allah bimibnglah yang mengikuti Ali, musuhilah yang memusuhinya, cintailah yang mencintainya dan bencilah yang membencinya, muliakan yang memuliakanya dan bantulah yang membantunya.”[28]

  • Ayat Ikmaal ad Diin:

اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَ أَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَ رَضِيْتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيْنًا.

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu.(QS:5;3)

Ayat di atas sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat yang sahih menegaskan tentang Imamah dan Wilayah Ali as., dan tidak adanya dasar yang mengatakan sesuatu lain tentang sebab turunnya. Dan ayat ini menegaskan bahwa Imamah adalah penyempurna agama dan pelengkap bagi ni’mat Allah. Jadi bagaimana mungkin sesuatu yang dijadikan penyempurna agama tidak tergolong dasar dan pondasi (ushuul) agama?!

Dan turunnya ayat di atas dalam peristiwa pengangkatan Ali as. telah diriwayatkan oleh banyak kalangan Ulama besar Ahlusunnah, di antaranya:

Ibnu Murdawaih al-Isfahani.

Abu Nu’aim al-Isfahani.

Ibnu al-maghazili.

Al-Muwaffaq bin Ahmad al-Akhthab al-Khawarizmi.

Muhammad bin Ali an-Nathanzi.

Abu hamid mahmud bin Muhammad ash-Shalihani.

Ibrahim  bin Muhammad al-Hamawaini.

Dalam riwayat-riwayat itu disebutkan bahwa setelah Nabi saw. memproklamasikan imamah Ali as. di Ghadir Khum, Allah menurunkan ayat di atas, lalu Nabi saw. bersabda:

الله أكْبَرُ عَلىَ إكْمَالِ الدِّيْنِ وَ إتْمَامِ النِّعْمَةِ وَ رِضَا الرَبِّ بِرِسالَتِيْ وَ الوِلاَيَةِ لِعَلِيِّ بنِ أبِيْ طَالِبٍ.

Maha besar Allah atas penyempurnaan agama dan pelengkapan ni’mat dan kerelaan Tuhan terhadap Risalahku  serta wilayah (kepemimpinan) Ali[29].

Dan selain dua ayat di atas masih banyak ayat lain yang juga menunjukkan bahwa Imamah adalah termasuk dasar agama.

Dalil Sunnah :

Dalam hadis sahih ditegaskan bahwa barang siapa mati dalam keadaan tidak mengenal Imam zamannya maka ia mati jahiliyah. Maka kalau Imamah bukan hal penting dan termasuk Ushuluddin mengapakah keharusan mengenal imam dianggap begitu penting sehingga yang tidak mengenal imam digolongkan mati jahiliyyah.

Nabi saw. bersabda :

َمَنْ مَاتَ وَلَمْ يَعْرِفْ ِامَامَ زَماَنِهِ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيّةً

Siapa mati yang sedang ia tidak mengenal imam zamannya maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah[30].

Hadis di atas telah disepakati kesahihannya, baik oleh Ahlusunnah wal Jama’ah maupun Syi’ah.

Syeikh M. Hasan Al Mudzaffar ra. berkata menjelaskan dalil bahwa Imamah termasuk ushuluddin, “Di antaranya adalah riwayat-riwayat yang banyak yang menunjukkan bahwa barang siapa mati tanpa  Imam maka ia mati jahiliyah dan lain sebagainya, maka berarti ia termasuk ushuluddin, seperti riwayat Muslim  dalam bab Al Amr bi Luzuumi Al Jama’ah, pada kitab Al Imaarah dari Ibnu Umar, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يومَ القِيامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ, وَ مَن ماتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَات مِيْتَةً جاهِلِيَّةً.

Barang siapa melepas tangan dari keta’atan ia berjumpa dengan Allah pada hari kiamat tanpa  memiliki bukti, dan barang siapa mati sedang dilehernya tidak ada ikatan bai’at maka ia mati jahiliyah.

Dan seperti riwayat Muslim juga pada bab yang sama, dan Bukhari dalam bab kedua pada kitab al-Fitan:

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ , فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيْتَتَةً جَاهلِيِةَّ.ً

Barang siapa tidak menyukai dari Amirnya sesuatu hendaknya ia bersabar atasnya, kerena barang siapa keluar (memberontak) dari penguasa barang sejengkal ia mati jahiliyah.

Dan seperti riwayat Ahmad, ia berkata, “Bersabda Rasulullah saw.:

من مات بِغَيْرِ إمامٍ مَاتَ مِيْتَتَةً جَاهلِيِةَّ.ً

Darang siapa mati tanpa  imam ia mati jahiliyah.

Dan lain sebagainya.[31]


[1] Al Mawaqif :395 .

[2] Ghayah al-Maram Fi ‘Ilmi al-kalam :363.

[3] Syarh al-Mawaqif,8\344 .

[4] Ibthaal Nahjil Bathil (lihat: Dala’il ash Shidq,2\8) .

[5]Sayyid Muhsin al Kharrazi, Bidayah Al Ma’arif Al Ilahiyah,2/16 menukil dari Imamat Wa Rahbari: 50-51.

[6] Abhâts Fi al-Milal wa an-Nihal :1\255 menukil dari Kitab as-Sunnah karya Ahmad bin Hambal .

[7] Ibid. Menukil dari Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah :478-488.

[8] Maqalaat al-Islamiyyin :323 .

[9] Dala’il ash-Shidq :2\14 .

[10] Lihat : ad Durr al-Mantsuur :2\298 .

[11] Lihat : al Manaqib dan Bihar al Anwâr :37\155 .

[12] Lihat: ad Durr al Mantsuur :2\198 .

[13] Al Kasyfu wa al Bayaan (Nafahât al Azhâr :8\207-208 ).

[14] Lihat : Ma Nazala Min al-Qur’an Fi Aki as. :86 .

[15] Asbaab an-Nuzûl :135 .

[16] Lihat Nafahât :8\215.

[17] Syawahid at Tanzîl :1\187-188 .

[18] Tarikh Damaskus :2\86 .

[19] Tafsir al-Kabir ;12\49 ,dan ia mengatakan bahwa ini adalah pendapat Ibvnu Abbas ,baraa’  ibn ‘Azib dan Imama Muhammad al-Baqir as.

[20] Tafsir ad-Durr al-mantsur 2\298 .

[21]Mathalib as-Su;ul :44 .

[22] Al-Mawaddah Fi al-Qurbaa (lihat :Yanabi’ al-mawaddah :249).

[23] Al-Fushuul al-Muhimmah :42 .

[24] ‘Umdat al-qaari – Syarah al-Bukhari :18\206 .

[25] Tafsir an-Nisaburi :6\129-130 .

[26] Ad-Durr al-Mantsur :2\298 .Penulis berkata :Dan adanya tambahan ini tidak berarti telah terjadi perubahan (tahrif) pada kitab suci Al-Qur’an sebab ia bukan ayat Al-Qur’an ,ia hanya sebagai tafsiran yang mereka dengan dari Nabi saww. atau yang mereka fahami berdasarkan kondisi sebab nuzul ayat ,dan hal seperti itu banyak ditemukan dalam riwayat-riwayat para shahabat .

[27] Syawahid at-Tanzil :1\187.

[28] Hadis riwatar Abu Sa’id as-Sijistani dalam kitab beliau tentang hadis al-Wilayah, lebih lanjut lihat Nafahat al-Azhaar,8\215 .

[29] Manaqib Ali bin Abi Thalib ( al-Khawarizmi):80 dan Faraid as-Simthain (Al-Hamawaini) :1\74

[30] Hadis di atas dan hadis-hadis mengandung makna serupa seperti yang disebut Syeikh Al Mudzaffar dapat Anda jumpai dalam banyak kitab-kitab mu’tabarah para ulama Ahlusunnah, di antaranya:

Shahih Bukhari, bab al Fitan,5/13.

Shahih Muslim,6/21-22 hadis1849.

Musnad Ahmad,2/83, 3/446 dan 4/96.

Shahih Ibn Hibban,6/49 hadis 4554.

Al Mu’jam Al Kabir; Al Thabarani,10/350 hadis 10687.

Mustadrak; Al Hakim,1/77.

Hilyatul Awliyaa’,3/224.

Jaami’ Al Ushuul; Ibn Al Atsiir Al Jazari,4/7.

Musnad Ath Thayalisi:259.

Al Kuna wa Al Alqaab,2/3.

Sunan Al Baihaqi,8/156 dan 157.

Al Mabshuuth; Al Sarkhasi,1/113.

Syarah Nahj Al Balaghah; Ibn Abi Al Hadid,9/155.

Syarah Muslim; Al Nawawi,12/44.

Talkhis Al Mustadrak; Al Dzahabi,1/77 dan177.

Tafsir Ibn Katsir,1/517.

Syarh Al Maqashid,2/275.

Majma’ al Zawaid,5/218,219,223 dan312.

Kanz Al Ummal,3/200.

Taisiir Al Wushuul,2/39.

dll.

[31] Dalail ash-Shidq :2\12.

11 Tanggapan

  1. Kalau pun diriwayatkan oleh ramai ulamak besar ahlussunnah, tak semestinya ianya bermaksud hadis sahih.

  2. tokngah: ini hanya pandangan bukan hadis

  3. Masalahnya adalah, ada diantara kaum muslimin menghadapi kenyataan hadis imamah yg demikian kuatnya, mereka mencari jalan keluar, hanya sekedar tidak tergolong mati jahiliah yaitu dengan mengangkat diantara mereka seorang imam, akhirnya yg timbul adalah banyak imam ditengah kaum muslimin. dimana dalil-dalil yg mereka gunakan adalah sama imam satu dengan yg lainnya. seperti Ahmadiyah, Qodiyaniyah dan di indonesia ada Jama’ah muslimin Hizbullah. dimana masing2 merasa dirinyalah yg dimaksud dengan hadis imamah tersebut.
    sebagai informasi, masalah imamah ini telah dikupas-tuntah oleh ahlinya yg mewakili kelompok masing2 dalam suatu diskusi yg sangat santun dan telah dibukukan dengan judul “Al Muraja’at”, terjemahan buku inipun telah menglami beberapa cetak ulang. Wasalam

  4. Tolong Ustadz Jakfari kasih komen pada tulisan ini, yang saya ambil dari http://dialogsalafi.wordpress.com. Di situ pengelolanya seorang Salafy yang mau berdialog, bukan dari madzhab takfiri. Saya copas ya ustadz

    MASALAH IMAMAH DAN PENGGANTI RASULULLAH SAW (1)
    Posted on Maret 29, 2010 by dialogsalafi

    _______________________

    Ibnu Jakfari:

    Maaf kami terpaksa tidak menampilkan copas Anda (blog ini tidak menerima copas). Insyaallah pada waktunya yang tepat akan kami tanggapi penolakan mereka atas bukti-bukti imamah Ali as. .

  5. MASALAH IMAMAH DAN PENGGANTI RASULULLAH SAW (2)
    Posted on Maret 29, 2010 by dialogsalafi

    Ibnu Jakfari:

    Nanti juga akan kami tanggapi.

  6. Assalamualaikum Wr Wb

    Ustadz, adakah Rasulullah saww bersabda tentang 12 imam baik dari riwayat sunni ataupun syiah? Atau adakah penyebutan Nama para Imam yang 12 oleh Rasulullah saww? Mohon pencerahannya ustadz. Syukron.

    Ibnu Jakfari:

    Ini beberapa hadis tentang masalah itu:
    1. Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Samurah, ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah bersabda:
    لاَ يَزَالُ هَذَا الدِّيْنُ عَزِيْزًا مَنِيْعًا اِلَى اثْنَيْ عَشَرَ خَلِيْفَة
    “Agama ini akan senantiasa jaya dan terpelihara hingga berlalu duabelas khalifah”
    2. Al-Hakim dalam Mustadrak-nya, meriwayatkan dari Aun bin Juhaifah, dari ayahnya ia berkata:
    كنت مع عمي عند النبى -ص- فقال: لايزال أمر امتي صالحا حتى يمضي اثنا عشر خليفة. ثم قال كلمة وخفض بها صوته. فقلت لعمي -وكان امامي- ما قال يا عمي؟ قال: قال -يا بني- كلهم من قريش.
    “Aku bersama pamanku di tempat Nabi saww, lalu beliau bersabda: “Urusan umatku akan senantiasa baik sehingga berlalu duabelas khalifah”.Kemudian beliau mengucapkan kata-kata dengan merendahkan suara beliau. Lalu kutanyakan kepada pamanku -yang berada didepanku- apa yang beliau sabdakan? Ia menjawab: Wahai anakku. Beliau bersabda: “Semuanya dari Quraisy”.
    selainnya masih banyak termasuk yang menyebut nama-nama mereka. Tetapi tidak semua ulama Sunni menerimanya.
    Ada di antara mereka yang memaknainya sebagai imam dalam spiritual agama saja! atau imamah ruhiyah.

  7. […] Al Ghazali berkata, “Ketahuilah, bahwa meneliti masalah Imamah bukanlah hal penting dan bukan permasalahan aqliah, ia adalah masalah fiqhiyah…”.[1] […]

  8. inilah Daftar artikel Website http://syiahindonesia1.wordpress.com yang bisa anda nikmati di web kami ..

    Silahkan Nikmati :::

    Artikel Pertama :
    AJARAN KHOMEiNi WAJiBKAH DiPATUHi ??…2.SYi’AH TiDAK FANATiK TAKLiD BUTA PADA PENDAPAT ULAMA SYi’AH TEMPO DULU !!!!!!!!!!!! 3. DALAM SYi’AH PINTU iJTIHAD TERBUKA SAMPAi KiAMAT..

    Artikel Kedua :
    Riwayat Hadits Nabi SAW dari Kitab Sunni dan syi’ah…MANAKAH YG LEBIH UNGGUL HADIS AHLU SUNNAH WA JAMA’AH ATAU HADIS SYI’AH…..Hadis dalam Literatur Syi’ah

    Artikel Ketiga :
    1. MEMBONGKAR KESESATAN SYI’AH ????? SEMUA POiNT TUDUHAN KESESATAN SYi’AH TERNYATA 100% MAMPU KAMi PATAHKAN !!!!!!! 2.PERBEDAAN ANTARA AHLUSSUNNAH SUNNi DAN SYiAH

    Artikel Keempat :
    1.SYi’AH KAFiRKAN SAHABAT NABi SAW ?……. 2. AJARAN KHOMEiNi WAJiBKAH DiPATUHi ??…3.AURAT CUMA DUA LOBANG ?????????….4.SYi’AH AMBiL SANAD DARi KELEDAi ??? ….5.”SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK AKAN MENGUMPULKAN UMATKU Di ATAS KESESATAN”

    Artikel Kelima :
    1.Nikah Mut’ah Dihalalkan Nabi SAW Tapi Diharamkan Umar bin Khattab…2. Nikah Mut’ah Halal Tetapi Dengan Syarat Ketat , misal : Tidak Menzalimi Wanita…3. wanita Iran sangat susah sekali untuk dinikahi secara mut’ah

    Artikel Keenam :
    1.SEJARAH TERBENTUKNYA MAZHAB ASWAJA SUNNi !!! 2.Rasul Suci SAW menyebutkan satu persatu Nama Dua Belas khalifah umat Islam !!! 3.Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait !!! 4. Sejarah Kristen Katolik dan Injil Barnabas

    Artikel Ketujuh :
    1.Kenapa Syi’ah Hanya Mengakui Keshahihan Sebagian Hadis Aswaja Sunni ??? 2.Hadis Palsu Dalam Kitab Bukhari Muslim Terungkap ! 3.HADiS YANG MERUGiKAN AHLUL BAiT ADALAH PALSU…4.Kaitan Hadis Aswaja Dengan Kekejaman Raja Umayyah Abbasiyah….5.“hadis aswaja sunni dikutip syi’ah hanya untuk membuktikan bahwa kebenaran syi’ah ada terselip dalam kitab hadis aswaja”… 6.Secara internal : “hadis syi’ah sudah mencukupi bagi syi’ah”….

    Artikel Kedelapan :
    ASWAJA SUNNi PALSUKAN AGAMA !!! KARENA TERBUKTi MAYORiTAS ALUMNi GHADiR KUM AKUi iMAMAH ALi WALAUPUN TiDAK MAU MEMBAi’AT

    Artikel Kesembilan :
    Aswaja Sunni Runtuh Karena Terbukti “TiDAK SEMUA SAHABAT NABi SAW ADiL”

    Artikel Kesepuluh :
    1.TANDUK SETAN DARi NAJAD MENGGUNAKAN HADiS DHA’iF SYi’AH UNTUK MENUDUH SYi’AH SESAT…2.SYi’AH iMAMiYAH MENDHA’iFKAN RiBUAN HADiS KARENA SYi’AH SANGAT KETAT DALAM iLMU HADiS…

    Artikel Kesebelas :
    1.Dua Belas khulafaurrasyidin syi’ah dizalimi rezim Umayyah Abbasiyah !!! 2.Pembantaian Massal Terhadap Pengikut Ahlul BAit !!! 3.Kekejaman Mu’awiyah Melebihi Fira’un !!! 4.Ijtihad Sahabat : Membunuh Cucu Nabi SAW, Imam Hasan AS.

    Artikel Keduabelas :
    Mengapa Imam Ali dan Imam Hasan Membai’at ??? Imam Ali dan Imam Hasan Membai’at Karena Terintimidasi dan Mencegah Pertumpahan Darah Internal

    Artikel Ketigabelas :
    1. Asy’ari, Maturidy, Empat imam mazhab sunni dan Imam Al Ghazali merupakan PEMiMPiN KEAGAMAAN YANG TiDAK DiTUNJUK OLEH ALLAH !!! 2.Aswaja Sunni meninggalkan ajaran ahlul bait !! 3.Al Quran dan ahlul bait adalah dwitunggal yang tak terpisah !

    Artikel Keempat belas :
    Wajah Allah ? Mata Allah ? Kaki Allah dan Betis Nya ? Bentuk Allah ?? Tangan Allah ? Dimanakah Allah ?

    Artikel Kelima belas :
    SATU Dari TiGA WASIAT SAAT NABi SAW MENJELANG WAFAT DiSEMBUNYiKAN AGAR ASWAJA BiSA TEGAK !!!! DALiL iMAMAH iMAM ALi DAN 11 KETURUNAN NYA

    Artikel Keenam belas :
    Gusdur, Quraish Shihab, Umar Shihab dan Empat Ulama Al Azhar Juga PEMBELA SYi’AH iMAMiYAH iTSNA ASYARiAH

    inilah Daftar artikel Website http://syiahindonesia1.wordpress.com yang bisa anda nikmati di web kami ..

  9. […] Imamah, Studi Komperatif Sunnah-Syi’ah (2) Apakah Imamah Ushûlddîn/Prinsip agama atau Furû’ud… […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: