Seri Hadis Keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. (IV)

Siapa Yang Ingin Masuk Surga Hendakknya Mengikuti Ali dan Para Imam Suci Dari Ahlulbait as. (4)

  • Hadis Riwayat Ziad ibn Arqam.

Selain dua riwayat yang telah kami sebutklan sebelumnya, terdapat hadis senada dari riwayat Zaid ibn Arqam, ia berkata, rasulullah saw. bersabda:

من يريد أن يحيا حياتي ، ويموت موتي ، ويسكن جنة الخلد التي وعدني ربي ، فليتول علي بن ابي طالب ، فإنه لن يخرجكم من هدى ، ولن يدخلوكم في ضلالة.

“Siapa yang ingin hidup seperti hidupku dan mati seperti matiku, menempatai surga kekekalan yang dijanjikan Tuhanku hendaknya ia berWilâyah kepada Ali ibn Abi Thalib, karena ia tidak akan mengelurkanmu dari petunjuk dan tidak menjerumuskanmu masuk ke dalam kesesatan.”

Sumber Hadis:

Hadis ini telah diriwayatkan oleh:

1)      Al Hakim dalam Mustadrak-nya,3/128 dan ia berkata:

هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه

“Hadis ini shahih sanadnya hanya saja keduanya (Bukhari&Muslim) tidak meriwayatkannya.”

2)      ATh Thabarâni dalam Mu’jam al Kabir.

3)      Abu Nu’aim dalam Fadhâil ash Shahabah.

4)      Kanzul ‘Ummâl, 6/155, hadis no.2577.

5)      Muntakhab Kanzul ‘Ummâl (dicetak dipinggir Musnad Ahmad,5/32.

Catatan:

Seperti telah saya singgung dalam artikel sebelumnya bahwa hadis ini berbada dengan hadis nomer 2. ia berbeda dari beberapa sisinya, di antaranya:

A)          Matan hadisnya, seperti dapat Anda perhatikan.

B)          Sahabat yang meriwayatkannya.

C)          Para tokoh ulama yang meriwayatkannya.

D)           Penegasan dari sebagain ulama yang meriwayatkannya akan keshahihan hadis ini.

Karenanya al Muttaqi al Hindi menyebutkannya secara terpisah kedua hadis ini dan ia juga memberikan keputusan yang berbeda pula.

Al Hakim telah meriwayatkan hadis ini dalam Mustadrak-nya,3/128 sebagai berikut:

حدثنا بكر بن محمد الصيرفي بمرو ، ثنا إسحق ، ثنا القاسم بن أبي شيبة ، ثنا يحيى بن يعلى الأسلمي ، ثنا عمار بن زريق ، عن أبي إسحاق ، عن زياد بن مطرف ، عن زيد بن أرقم ـ رضي الله عنه ـ ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم : من يريد أن يحيى حياتي ، ويموت موتي ويسكن جنة الخلد التي وعدني ربي ، فليتول التي وعدني ربي ، فليتول علي بن أبي طالب ، فإنه لن يخرجكم من هدى ، ولن يدخلكم في ضلالة.

هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه.

“Bakr ibn Muhammad ash Shairafi menyampaikan hadis kepada kami di kota Maru, ia berkata, ‘….. dari Zaid ibn Arqam, ia berkata, Rasulullah saw. “Siapa yang ingin hidup seperti hidupku dan mati seperti matiku, menempatai surga kekekalan yang dijanjikan Tuhanku hendaknya ia berWilâyah kepada Ali ibn Abi Thalib, karena ia tidak akan mengelurkanmu dari petunjuk dan tidak menjerumuskanmu masuk ke dalam kesesatan.”

Hadis ini shahih sanadnya hanya saja keduanya tidak meriwayatkannya.”

Al Hafidz Abu Nu’aim meriwayatkan dengan sanad sebagai berikut ini:

حدثنا محمد بن أحمد بن علي ، قال : ثنا محمد بن عثمان بن أبي شيبة ، قال : ثنا إبراهيم بن الحسن التغلبي ، قال : ثنا يحيى بن يعلى الأسلمي ، قال : ثنا عمار بن زريق ، عن أبي إسحاق ، عن زياد بن مطرف ، عن زيد بن أرقم ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه [ وآله ] وسلم…

Kemudian ia berkata:

غريب من حديث أبي إسحاق تفرد به يحيى عن عمار.

“Hadis ini gharib dari riwayat Abu Ishaq, Yahya menyendiri dalam meriwayatkannya dari Ammâr.”

Abu Hatim ar Râzi juga meriwayatkannya dari Abu Bakar  al A’yun dari Yahya ibn Ya’lâ.[1]

Ibnu Asâkir[2] juga telah meriwayatkannya dengan sanad sebgai berikut:

يحيى بن عبد الحميد الحماني ، أنبأنا يحيى بن يعلى ، عن عمار بن زريق ، عن أبي إسحاق ، عن زياد بن مطرف، عن زيد بن أرقم، قال: قال النبي صلى الله عليه [وآله] وسلم… .

Ath Thabarâni juga meriwayatkannya dan darinya al Muttaqi al Hindi menukil dalam Kanzul Ummal

Perhatian!

Adz Dzahabi menolak penshahihan al Hakim dengan vonisnya:

قلت : أنى له الصحة ؟ والقاسم متروك ، وشيخه ضعيف ، واللفظ ركيك. فهو إلى الوضع أقرب.

“Bagaimana mungkin hadis itu shahih? Qasim adalah perawi terbuang/matrûk. Syeikhnya juga lemah. Redaksinya rendahan. Ia lebih dekat kepad status palsu.”[3]

Saya berkata:

Pertama: Qasim yang ia maksud adalah Qasim ibn Abi Syaibah. Dan syeikhnya adalah Yahya ibn Ya’lâ al Aslami.

Akan tetapi baik kita terima vonis adz Dzahabi bahwa Qasim adalah perawi terbuang atau tidak?, yang pasti Qasim tidak termasuk dalam mata rantai sanad hadis tersebut dalam selain riwayat al Hakim!! Karenanya semestinya kritikan hanya tertuju peda Yahya ibn Ya’lâ al Aslami saja!

Namun demikian ktirikan di atas tertolak dengan alasan sebagai di bawah ini:

Dua tokoh Ahli Hadis kenamaan Ahlusunnah; Abu Nu’aim dan Ibnu ‘Asâkir tidak sedikit pun mencacat hadis ini sama sekali. Sementara itu kita saksikan bagaimana Ibnu ‘Asâkir mencacat hadios pertama yang kami sebutkan dalam edisi pertama artikel ini, dengan kata-katanya:

فيه غير واحد من المجهولين.

“Padanya terdapat banyak perawi yang majhûl.”

Andai Yahya adalah perawi yang dha’îf/lemah pastilah ia lebih berhak juga menyebutnya.

Begitu pula dengan Abu Nu’aim ia menyebut hadis ini dengan berbagai jalur dari banyak tokoh namun demikian ia tidak sedikitpun mencacat sanadnya. Adapun kata-katanya bahwa hadis itu Gharîb/langka dari hadis Abu Ishaq, maka Anda telah memahami maknanya dari ketarangan kami sebelumnya. Selain itu Abu Ishaq as Subai’i juga tidak termasuk parawi hadis ini dalam sebagian jalurnya.

Kedua: Pencacatan atas Yahya ibn Ya’lâ al Aslami juga tertolak belakang dengan penshahihan al Hakim terhadap jalur ini yang itu artinya ia menilai tsiqah Yahya ibn Ya’lâ al Aslami.

Ketiga: Yahya ibn Ya’lâ al Aslami adalah perawi yang dipakai Imam Bukhari dalam kitab al Adab al Mufrad-nya, at Turmudzi dalam kitab Shahih-nya, dan termasuk seorang maha guru banyak kalangan tokoh Ahli hadis seperti Abu Bakar ibn Abi Syaibah dan rekan-rekannya.[4]

Keempat: Puncak yang dapat mereka katakana adalah bahwa untuk parawi yang satu ini masih diperselisihkan antara pencacatan/jarh dan pujian/ta’dîl. Akan tetapi dengan memerhatikan bahwa yang mencacatanya adalah Abu Hatim yang menuduhnya:

ضعيف الحديث ، ليس بالقوي

“Lemah hadisnya, bukan orang yang kuat.”

Dan Ibnu Hibbân yang berkata dalam kitab adh Dhu’afâ’-nya:

يروي عن الثقات المقلوبات ، فلا أدري ممن وقع ذلك ، منه أو من الراوي عنه أبي ضرار بن صرد ، فيجب التنكب عما رويا .

“Ia meriwayatkan hadis yang terbalik dari para parawi terpercaya. Aku tidak mengerti dari siapa ini semua terjadi? Darinya atau dari parawi yang menukil darinya yaitu Abu Dhirâr ibn Shurad. Karenanya harus ditinggalkan hadis keduanya.”

Serta al Bazzâr yang menvonis:

يغلط في الأسانيد

“Ia sering keliru dalam sanad.”

Atau Bukhari yang menvonisnya sebagai:

مضطرب الحديث

“Kacau hadisnya.”[5]

Saya Berkata:

Ucapan Bukhari dan al Bazzâr sama sekali tidak mencacatnya.

Adapun ucapan Ibnu Hibbân juga bertolak belakang dengan sikapnya sendiri yang sudi meriwayatkan hadis dalam kitab Shahih-nya seperti dikatakan Ibnu Hajar. Selain itu, adz Dzahabi pernah mengecam ketidak hati-hatian  Ibnu Hibbân dalam mencacat parawi dengan kata-katanya, “ … Ibnu Hibbân al Khassâf al Mutahawwir/ si penghapus yang ngawur.”[6]

Sementara itu mencacatan Abu Hatim perlu dipertimbangkan sebab ia juga terlalu gegabah dalam melepas lidahnya untuk mencacat yang tidak berhak. Demikian dikatakan adz Dzahabi sendiri.

Ketika menyebut sejarah hidup Abu Zu’ah ar Râzi, adz Dzahabi berkata, “Aku sangat tertarik dengan sikap Abu Zur’ah dalam mencacat dan menta’dil, sikap yang menjelaskan kahati-hatian dan kedalaman ilmu, berbada dengan sikap rekannya Abu Hatim ia sangat gegabah dalam mencacat/jarrâh.”[7]

(Bersambung)


[1] Baca Hilyah al Auliyâ’,4/349-350.

[2] Tarikh Damasqus,pada sejarah hidup Imam Ali as., 2/99 hadis no.602.

[3] Talkhîsh al Mustadrak (dicetak bersama al Mustadrak),3/128.

[4] Tahdzâb at Tahdzâb,11/266.

[5] Ibid.

[6] Mîzân al I’tidâl,4/8.

[7] Siyar A’lâm an Nubalâ’,13/65.

3 Tanggapan

  1. mengapa ya kok sepi nggak ada tanggapan dari orang-orang SAWAH (salafi-wahabi)… apa karena begitu jelasnya perintah hadis nabi Saw ini…. atau mereka masih rembukan dengan masyaeikh ahli hadis mereka….

  2. Ass.Wr.Wb
    1.Pak apakah saya bisa ditunjukkan tempat membeli atau mendownload kitab.. ATh Thabarâni dalam Mu’jam al Kabir
    2.saya sangat senang sekali jika mendapatkan kitab ini karena isinya tentang hadits yang banyak berasal dari kaum ahlul bait…dan pastinya shahih

  3. […] Seri Hadis Keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. (IV) Siapa Yang Ingin Masuk Surga Hendakknya Mengikuti Ali dan Para Imam Suci Dari Ahlulbait as. (4) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: