Menurut Salafi: Merayakan Hari Khitan Anak Gadis Kita Boleh Hukumnya, tapi Merayakan Hari Maulid Nabi Saw. Bid’ah!!

Satu Lagi keanehan fatwa para ulama Salafi-Wahhabi!

Kaum Wahhabi Salafi selalu mengklaim sebagai penyelamat agama daari praktik-praktik bid’ah yang tidak pernah diajarkan Nabi saw…..

Menampakkan kegembiraan dengan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw. adalah Bid’ah…!  Haram hukumnya..! Bahkan bisa jadi dihukumi musyrik karenanya!!! Mengapa? Kerana Nabi saw. tidak mencontohkannya !

Anda boleh mengajukan seribu satu bukti bahwa praktik itu tidak termasuk kategori Bid’ah! Tetapi, jangan heran jika kaum Wahhabi-Salafi menolaknya mentah-mentah!!

Tapi anehnya, merayakan hari khitan gadis Wahhabi-Salafi boleh hukumnya… tidak bid’ah!!! Anehkan?!
Pasti Anda terheran-heran akan keganjilan fatwa Wahhabi-Salafi itu! Namun demikian kenyataannya… mazhab mereka selalu ditegakkan di atas keganjilan dan penyimpangan!

Untuk lebih jelasnya perhatikan kutipan di bawah ini:

..



Terjemah Teks Fatwa Lembaga Tertinggi Mazhab Wahhabi-Salafy – Arab Saudi

yang beranggotan para masyaikh kelas satu Wahhabi; Abdullah ibn Qa’ud (anggota), Abdullah ibn Ghadyan(anggota), Abdurrazzaq ‘Afifi (wakli) dan Abdul Aziz ben Baz -seorang ulama Wahhabi yang buta tapi cerdasnya luas biasa, kata pembebek Wahhabi-Salafi, dan bukti kecerdasan luar biasanya adalah fatwa di bawah ini- (Ketua):

Pertanyaan: Apahukumnya mengkhitan anak perempuan? Dan apa hukumnya menari dan bergembira serta merayakannya?

Jawab: Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam atas Nabi, keluarga dan sahabatnya. Hukum mengkhitan perempuan adalah disyari’atkan. Adapun menari, bergembira dan merayakannya, kami tidak mengetahui ada dasar untuk itu.

Adapun bersuka cita dan bergembira dengan pengkhitanan maka ia adalah sesuatu yang diajurkan dalam syari’ah. Sebab khitan adalah termasuk yang disyari’atkan. Allah telah berfrman: “Katakan dengan anugerah dan dengan rahmat Allah, maka kerenanyalah hendaknya kalian bergembira. Yang demikian itu lebih baik dari apa yang kalian kumpulkan.”

Dan khitan itu termasuk anugerah dan rahmat Allah. Maka tidak apa-apa hukumnya membuat makanan untuk moment itu sebagai ungkapan syukur kepada Allah.

.
Ibnu Jakfari berkata:

Sungguh luar biasa penyimpulan para masyaikh Wahhabi-Salafi…. selamat atas kaum yang memikili masyaikh yang cemerlang otaknya… lagi lincah ijtihadnya!!!

Merayakan hari kalahiran Nabi Rahmatan Lil ‘Alamin haram hukumnya… bid’ah hukumnya…. dosa melakukannya… haram membuat hidangan karena mereka anggap sama dengan sesajen… tapi membuat makana untuk dihidangkan dalam acara syukuran anak gadis kita yang baru dikhitan….masyru’. dianjurkan dalam syari’at!!!

Maaf! Saya tidak ingin berkomnentar lebih dari yang sudah saya katakan… setelahnya terserah Anda!!

27 Tanggapan

  1. Satu lagi…sebuah fatwa absurd ulama wahabi? menyedihkan…

  2. Wah hebat syekh2 salafiyyun …
    Hari pengkhitanan anak gadisnya lebih pantas dirayakan drpd hari kelahiran Rasulnya sendiri ….
    Dalil mereka merayakan khitan anak mereka :
    Allah telah berfrman: “Katakan dengan anugerah dan dengan rahmat Allah, maka kerenanyalah hendaknya kalian bergembira. Yang demikian itu lebih baik dari apa yang kalian kumpulkan.”

    Lha terus kok orang merayakan kelahiran Rasulullah kok ga boleh , emangnya kelahiran Rasul bukan termasuk anugerah & Rahmat Allah..??
    Padahal kelahiran Rasul adalah Rahmat & Anugerah terbesar sehingga digelari Rahmatan lil Alamin oleh Allah sendiri ..

    • semua pada goblok tulis komentar bukan pake hawa nafsu apa nga takut pertanggung jawabannya , tentang merayakan kelahiran Nabi tidak ada perintahnya dari Allah dan Rasul-nya yang mulia, maksud ente membuat syariat bukan perintah-Nya goblok… tetapi creative donk dalam urusan dunia kita ketinggalan jauh nih… creative ke… buat teknologi bukan dalam agama Islam udah sempurna…. ada printah jalan tidak ada berenti , kalau khitan ada printah-nya dari Allah dan Rasul-Nya tapi di suruh merayakan maulid tidak ada printah-Nya. sekarang siapa yang goblok ente ape Allah dan Rasul-nya ????????

  3. waduuuuh dasar ulama berpikirian ngeres… kalau dah urusun bawah udel langsung lincah ijtihadnya… ayat2 pada diobral.. hadis2 diingat…. kalau udah urusan khitan cah wadon pikirane masyaikh wahhabi langsung mudeng…. lidah mereka melet-melet.. trus langsung fatwa: AYAO DIRAYAKAN! AYO DIRAYAKAN! HARI ITU KAN PALING GERSEJARAH..
    DASAR WAHABI GILA!
    PERINGATAN HARI LAHIR NABI DIKATA BID’AH!
    MERAYAKAN PENGKITANAN MEMEK MALAH MASYRU’!!! PERSETAN SEMUA WAHABI!!!

  4. Umayyah begitu benci kepada Bani Hasyim. Sampailah itu kepada anak keturunannya.

  5. menurut saya yang awam ini pernyataan beliu tidak ada yang aneh memang hal itu di syriatkan kalau ungkapan rasa syukur itukan boleh saja, kalau dikaitkan dengan perayaan maulid memang tidak disyriatkan tidak ada perintah dari Rasulullah dan atsar dari para sahabat kalau itu disyariatkan atau bagian dari agama yang mulia ini tentunya Rasulullah menyuruhnya sebab Rasulullah bersifat tablig tidak mungkin menyembunyikan sesuatu perbuatan yang membawa umatnya kepada kebaikan, dan juga tafsir para sahabat tidak ada yang menafsirkan bersyukur dan bergembira atas ni,mat Allah untuk perayaan maulid.Bukannya saya memihak atau taglid buta ke pada syeikh Abdu Aziz ben baaz kalau boleh saya bercerita tentang pengalaman pahit dan saya rasa itu bodoh jauh dari ajaran yang asli atau sunah sebab dulu saya juga sangat panatik dan termasuk golongan yang suka baca maulid,ngaji tasauf yang tinggi tapi bukannya saya tidak punya dasar tauhid atau sifat dua puluh yang terhimpun dalam 66 akaidul iman saya juga lama belajar seperti itu, ngaji nur Muhammad yang tingkat tinggi,kitab al hikam , kitab darrunnafis, tapi apa setelah saya kembali ngaji Alquran dan sunnah ternyata apa yang saya kaji dulu banyak bertentangan dengan Alquran dan sunnah, dasar dasar banyak dari praduga , mimpi kalau ada dalilnya pun banyak lemah bahkan yang maudhu, banyak yang bertentangan dengan Allah dan RasulNya dan pemahaman para sahabat. Itulah pengalaman saya dulu bermalam malaman hanya membahas masalah itu-itu saja semangat untuk berikhtiar atau berprestasi jadi malas bahkan kuliah saya dulu gagal. Tapi setelah saya berada di manhaj assunnah atau salafi saya merasa merdeka dari selain Allah hidup bersemangat,optimis untuk meraih kebahagian kehidupan dunia dan akhiran tentunya di jalan yang di ridhoi Nya.

  6. aduh bro,..
    capek klo hari gini masih ngomongin khilafiyah,..

    kiamat-kan makin deket, kita liat aja nanti di alam selanjutnya, siapa yang “senang” dan siapa yang “sedih”…

    sekarang sih kita jalanin aja hidup dengan “taqwa”…
    no offense..🙂
    ——————————————————————————–
    http://abid912.wordpress.com

  7. Kelompok minoritas adalah di antara masalah sensitif di dunia. Sangat disayangkan, sejumlah negara tidak menjaga hak-hak minoritas agama, dan malah mendorong ke arah diskiriminasi. Kondisi Syiah di Arab Saudi dapat disebut sebagai contoh jelas pengabaian hak-hak kelompok minoritas.
    Di Arab Saudi, kelompok Syiah tidak mendapat hak-hak mendasar. Akan tetapi pemerintah negara ini tidak melakukan tindakan apapun untuk kelompok tertindas di negara ini. Padahal mereka adalah warga negara ini yang semestinya mendapatkan hak-hak seperti warga lainnya.

    Meski jumlah populasi Syiah di Arab Saudi tidak terdata secara detail, tapi sekitar 10 hingga 15 persen penduduk negara ini bermadzhab Syiah. Pada umumnya, komunitas Syiah di Arab Saudi berada di timur negara ini. Sebagian lainnya juga berada di kota suci Madinah.

    Dari sisi sejarah, Syiah di Arab Saudi mempunyai sejarah penjang di negara ini dan dunia Arab. Meski sepanjang sejarah, komunitas Syiah hidup di bawah pemerintah Sunni, namun mereka biasanya mempunyai posisi terhormat di tengah masyarakat. Akan tetapi kondisi ini tidak bertahan lama setelah berkuasanya keluarga Arab Saudi di awal abad ke-20.

    Komunitas Syiah di negara ini ditindas di masa keluarga Saudi. Keluarga Saudi berkeyakinan Wahabi. Menurut keyakinan ini, sejumlah ajaran Syiah dianggap syirik yang harus ditentang. Yang lebih ekstrim lagi, sejumlah ulama Wahabi mengeluarkan fatwa menghalalkan darah Syiah.

    Satu Abad Penindasan Syiah

    Masa penindasan terhadap kelompok Syiah di Arab Saudi sudah memasuki satu abad. Selama itu, kelompok Syiah di negara ini benar-benar dimarginalkan, bahkan hak-hak mereka diabaikan. Kondisi itu terus berlanjut hingga kini, bahkan kelompok Syiah sekarang ini tidak boleh menggelar shalat jamaah di rumah mereka. Seorang tokoh Syiah di Arab Saudi, Hasan Ali Al-Maliki ditangkap karena tudingan menggelar shalat jamaah di rumahnya.

    Ternyata Hasan Ali Al-Maliki bukan orang pertama yang ditangkap karena menggelar shalat jamaaah di rumahnya. Sebelumnya, ada beberapa warga Syiah di Arab Saudi yang dijebloskan ke penjara dengan tudingan menggelar shalat jamaah di rumah mereka.

    Sikap pemerintah Arab Saudi ini tentunya mendapat reaksi keras dari berbagai pihak. Direktur Arabic Network for Human Rights, Gamal Eid menilai tindakan Arab Saudi yang melarang warga Syiah menggelar shalat jamaah di rumah mereka, sebagai sikap rasis dan arogan.

    Hal yang harus menjadi catatan bahwa larangan menggelar shalat jamaah di rumah bukan berarti memperbolehkan warga Syiah melakukan shalat di masjid. Ibrahim Al-Muqaithib yang juga anggota Organisasi Hak Asasi Manusia di Arab Saudi mengatakan, “Warga Syiah di Arab Saudi tidak boleh melakukan shalat di masjid dan juga tidak boleh berpartisipasi dalam peringatan-peringatan agama. Mereka juga tidak diizinkan untuk mengerjakan shalat di masjid-masjid.”

    Hujjatul Islam Mohammad Bagir Al-Naser, imam jamaah di wilayah Khobar, mengeluarkan statemen keras mengenai pelarangan pelaksanaan shalat jamaah di masjid. Dalam statemen itu, ia menyatakan, “Setelah pemerintah melarang shalat jamaah di masjid-masjid, warga Syiah ingin bergabung dengan kelompok Sunni dan bersedia menjadi makmum imam masjid setempat. Akan tetapi upaya ini tetap dilarang oleh pemerintah Arab Saudi.” Bagian lain statemen itu juga menambahkan, ” Untuk itu, kita baru bisa melakukan shalat jamaah di masjid-masjid dengan syarat meninggalkan hukum fikih Syiah.”

    Ketika komunitas Syiah tidak diizinkan menggelar shalat jamaah dan acara keagamaan di masjid dan rumah-rumah mereka, maka peringatan Asyura atau Hari Kesyahidan Cucu Rasulullah Saww, Imam Husein as, juga tidak dapat dilaksanakan di negara ini. Padahal acara Asyura mendapat perhatian tersendiri dari kalangan Syiah di dunia. Acara semulia peringatan mengenang kesyahidan cucu kesayangan Rasulullah Saww pun dilarang di negara ini. Lantaran memperingati kesyahidan Imam Husein as, sekitar 30 warga Syiah ditangkap.

    Selain itu, para pejabat Arab Saudi juga berupaya menghalangi warga Syiah memiliki tempat untuk menyelenggarakan acara-acara keagamaan. Karena kebijakan ini, sejumlah masjid dan huseiniyah ditutup di negara ini. Belum lama ini, Menteri Dalam Negeri Arab Saudi, Nayef bin Abdul Aziz mengeluarkan perintah menutup sembilan masjid Syiah. Penutupan ini mendorong kelompok Syiah di negara ini mengumpulkan tanda tangan yang kemudian dikirimkan ke Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

    Dengan pengumpulan tanda tangan itu, komunitas Syiah di Arab Saudi meminta Raja Abdul Aziz supaya kembali membuka masjid-masjid Syiah dan menyetop larangan bagi warga Syiah untuk beraktivitas. Selain itu, mereka juga meminta pembebasan warga Syiah yang ditahan karena menggelar shalat jamaah di rumah mereka. Apalagi para tahanan Syiah yang ditahan mempunyai umur di atas 50 tahun. Sebagian besar pengikut madzhab Ahlul Bait di Arab Saudi dipenjara karena masalah agama dan politik.

    Protes dan reaksi atas sikap diskriminasi terus berlanjut, dan Komite Kebebasan Beragama di AS akhirnya melayangkan surat protes terhadap pemerintah Arab Saudi. Komite itu juga meminta pembebasan terhadap tahanan terlama di Arab Saudi yang bernama Hadi Al-Mathif.

    Larangan Bekerja di Instansi

    Tak diragukan lagi, selama diskriminasi terhadap warga Syiah terus berlanjut, pemerintah Arab Saudi tidak akan mengizinkan warga Syiah terlibat aktif dalam kegiatan sosial dan politik di negara ini. Warga Syiah di negara ini tidak boleh bekerja di instansi resmi pemerintah seperti militer dan kepolisian. Dengan demikian, warga Syiah tidak akan mendapatkan posisi penting di negara ini.

    Selain itu, kondisi warga Syiah terus menghadapi penghinaan, bahkan anak-anak Syiah mendapat cemoooh di lingkungan-lingkungan pendidikan dan akademi. Yang lebih ekstrim lagi, buku-buku pendidikan di negara ini sarat dengan doktrinasi anti-Syiah. Para guru Syiah juga tidak berhak menonjolkan keyakinan mereka. Jika tetap membangkang, mereka akan dijebloskan ke penjara. Para ulama Syiah juga dilarang menyampaikan ajaran-ajaran Ahlul Bait kepada para pengikut madzhab ini. Kondisi Syiah benar-benar terisolir di Arab Saudi.

    Berbagai penghinaan anti-Syiah juga mewarnai kampus-kampus di negara ini. Mahasiswa yang ketahuan bermadzhab Syiah akan mendapatkan kendala serius untuk mendapat prestasi. Sementara itu, mahasiswa yang menulis skripsi anti-Syiah akan mendapat poin istimewa. Bahkan, pemerintah juga akan mencetak hasil skripsi tersebut. Sebaliknya, warga Syiah sama sekali tidak berhak mencetak karya-karya mereka. Pada saat yang sama, pemerintah Arab Saudi mengeluarkan dana besar hingga jutaan dolar untuk mencetak buku-buku anti-Syiah di negara ini. Lebih dari itu, situs dan media-media anti-Syiah di dalam dan luar Arab Saudi seperti Televisi Al-Arabiah, juga mendapat dukungan penuh dari Arab Saudi.

    Komunitas Syiah di Arab Saudi berada di sumber-sumber minyak. 40 persen pekerja perusahaan minyak Amerika, Aramco Services Company (ASC) yang juga perusahaan utama eksplorasi minyak di Araba Saudi, adalah warga Syiah. Dengan demikian, kondisi ekonomi komunitas Syiah tidak ideal. Pemerintah Arab Saudi menutup pintu niaga bagi para pengusaha Syiah. Dengan demikian, Arab Saudi menerapkan diskriminasi terhadap komunitas Syiah di bidang politik, sosial dan ekonomi.

    Faktor Anti-Syiah di Arab Saudi

    Pada intinya, ada dua faktor yang menyebabkan pemerintah Arab Saudi bersikap sentimen terhadap kelompok Syiah. Pertama, keyakinan radikal Wahabi yang bertolak belakang dengan Syiah.

    Adapun faktor kedua adalah unsur politik. Fenomena Revolusi Islam Iran dianggap sebagai ancaman bagi kerajaan keluarga Saudi yang kini berkuasa di Arab Saudi. Munculnya gerakan-gerakan perjuangan Syiah di Irak, Lebanon dan Yaman kian mengkhawatirkan para penguasa Arab Saudi. Kondisi inilah yang membuat pemerintah Arab Saudi kian menekan warga Syiah di dalam negeri.

    Pandangan sempit dan radikal pemerintah Arab Saudi menyebabkan para pejabat negara ini memasukkan diskriminasi dan pelecehan terhadap Syiah dalam program kerja pemerintah. Pada mulanya, warga Syiah berharap Raja Abdullah bin Abdul Aziz yang menggantikan kakaknya, Fahd bin Abdul Aziz, dapat mengubah kondisi yan ada. Akan tetapi hingga kini, tidak ada perubahan akan kondisi yang ada. Syiah tetap dimarginalkan di negara ini. Padahal keterlibatan Syiah di berbagai kancah malah justru menguntungkan pemerintah Arab Saudi.

    sumber kutipan :http://groups.yahoo.com/group/PPDi/message/20065

  8. Tentang khitan,
    terlepas dari siapapun yang dikhitan itu, anak gadis ataupun Nabi, memang ada anjuran dari Nabi saw untuk meramaikannya sebagai bagian dari Syiar Islam tentang kebersihan dan kesehatan.

    Tentang Maulid,
    terlepas dari siapapun yang diperingati itu, anak gadis ataupun Nabi, memang tidak ada tuntunan dari Nabi saw untuk meramaikannya, karena Islam tidak memuliakan orang dengan memperingati hari lahir atau wafatnya.

  9. @yopienoor
    Bisa disebutkan nabi merayakan khitan nya sayyidah fatimah as ….pls di share…haditsnya…

  10. @bob
    Khitanan itu bukan bid’ah, jadi boleh saja diramaikan, ini berbeda dengan maulid yang sudah terang bid’ahnya.
    Saya belum dapat hadits Nabi untuk meramaikannya.
    Akan tetapi, karena khitanan itu sunnah (bukan bid’ah), maka boleh saja diramaikan sebagai bagian dari syiar islam.
    Kecuali kalau meramaikan khitanan itu sudah dianggap sunnah (adat), maka pada waktu itu harus kita hilangkan adat meramaikan itu, kuatir menjadi wajib.
    Trims atas pertanyaannya.

  11. Rosulullah ditanya kenapa puasa senin beliau menjawab salah satunya karena beliau di lahirkan hari itu, apakah bukan peringatan itu namanya???? apakah bukan memuliakan kelahiran namanya ???
    maulid menyanjung beliau seperti yang dilakukan oleh ibnu Abbas tapi beliau bukannya memarahi Ibnu Abbas malah mendoakannya

  12. mas yapienoor, apa anda bisa sebutkan dalil apa yang anda katakan itu mas!
    Memang wahabi selalu berpikirnya agak terbelakang!!!
    Coba Anta renungkan fatwa dila ulama salafy Arab itu… kalau soal NU mereka jadi cerdas luar siasa… NU maksudnya NISORE UDEL alais BAWAH PUSAR
    DASAR WAHABI

  13. @antijahiliah
    Entah kenapa saudara-saudara pada minta dalil sama saya?
    Perlu disadari dulu disini, kita berbeda imam, jadi apa gunanya saya sampaikan dalil dari riwayat imam sunni, kalau disisi ahlul bayt, imam itu boleh jadi tidak maksum? Bukankah ahlul bayt hanya mengakui kemaksuman 12 imam?
    (Koreksi kalau saya salah).
    Terima kasih.

  14. Huahahaha……….
    Otaknya memang di selangkangan

  15. Sy kenal beberapa orang salafi, …. salah satu dari mereka mengajukan diri pada istri orang untuk menjadi SUAMI-nya, … anjing memang!!!!

  16. Rasul ga pernah makan nasi goreng ….
    Jadi makan nasi goreng juga Bid’ah ….
    He..he…he…

  17. Bisakah saya tahu apa bukunya,judulnya,halaman buku,penerbitnya(kalau bisa yang di Indonesia apa)?

  18. Terjemah Teks Fatwa Lembaga Tertinggi Mazhab Wahhabi-Salafy – Arab Saudi

    yang beranggotan para masyaikh kelas satu Wahhabi; Abdullah ibn Qa’ud (anggota), Abdullah ibn Ghadyan(anggota), Abdurrazzaq ‘Afifi (wakli) dan Abdul Aziz ben Baz -seorang ulama Wahhabi yang buta tapi cerdasnya luas biasa, kata pembebek Wahhabi-Salafi, dan bukti kecerdasan luar biasanya adalah fatwa di bawah ini- (Ketua):

    Pertanyaan: Apahukumnya mengkhitan anak perempuan? Dan apa hukumnya menari dan bergembira serta merayakannya?

    Jawab: Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam atas Nabi, keluarga dan sahabatnya. Hukum mengkhitan perempuan adalah disyari’atkan. Adapun menari, bergembira dan merayakannya, kami tidak mengetahui ada dasar untuk itu.

    Adapun bersuka cita dan bergembira dengan pengkhitanan maka ia adalah sesuatu yang diajurkan dalam syari’ah. Sebab khitan adalah termasuk yang disyari’atkan. Allah telah berfrman: “Katakan dengan anugerah dan dengan rahmat Allah, maka kerenanyalah hendaknya kalian bergembira. Yang demikian itu lebih baik dari apa yang kalian kumpulkan.”

    Dan khitan itu termasuk anugerah dan rahmat Allah. Maka tidak apa-apa hukumnya membuat makanan untuk moment itu sebagai ungkapan syukur kepada Allah.

    Fahrul says:
    Kok malah bagus tuh artinya gak ada yang aneh dalam fatwa di atas karena sebagai rasa syukur kepada Allah bahkan lebih bagus diadakan pesta yang sesuai syar’i sebagaimana walimahan . Beda denga Maulid Nabi kan gak ada dalilnya.

  19. Wahhaby <– Nashibi <– Neo khawarij.

  20. assalamualaikum…

    Lihat Apa yang terkandung dalam perayaan Maulid Nabi.

    yang sebagian besar ada pada hadist .

  21. INILAH DALIL KAMI MERAYAKAN MAULID NABI SAW

    Dari Risalah Khusus tentang Maulid Nabi SAW

    Karya Prof. As-Sayyid Al-Habib Muhammad bin `Alwi Al-Malikiy rhm.

    1. Rasulullah SAAW memperingati Hari Maulidnya dengan jalan puasa
    setiap hari Senin sebagai tanda syukur kepada Allah SWT.

    Dalam Shahih Muslim rhm diriwayatkan hadits Abi Qutadah ra. Bahwasanya
    Rasulullah SAAW pernah ditanya tentang puasa hari senin, beliau SAAW
    menjawab : “Dzalika yaumun wulidtu fiihi, wa yaumun bu itstu fiihi, aw
    unzila `alayya fiihi.”

    2. Perayaan Maulid Nabi SAAW adalah ungkapan kegembiraan dan
    kebahagiaan dengan keberadaan Rasulullah SAAW.

    Dalam Surah Yunus : 58, Allah SWT memerintahkan kita untuk senang dan
    gembira dengan rahmatNya SWT : “Qul bifadhlillahi wa birohmatihi
    fabidzalika falyafrohuu.”, dan Rasulullah SAAW merupakan rahmat besar
    dari Allah SWT untuk kita bahkan untuk semesta alam, firmanNya dalam
    Surah Al Anbiya’ : 107 : “Wa maa arsalnaka illa rohmatan lil `alamiin.”

    3. Kegembiraan dengan kelahiran Rasulullah SAAW memiliki manfaat
    khusus bagi setiap muslim.

    Dalam Shahih Buhkari rhm diceritakan sebuah kisah mimpi `Abbas ra,
    paman Rasulullah SAAW, tentang peringanan azab atas Abu Lahab setiap
    hari Senin, karena dia di masa hidupnya pernah gembira menyambut
    kelahiran keponakannya, Muhammad ibni Abdillah, dengan memerdekakan
    budaknya bernama Tsuwaibah.

    Karenanya Al Hafidz Syamsuddin Muhammad bin Nashiruddin Ad Dimsyqi rhm
    membuat sya’ir :

    Idzaa kaa na Hadzaa kaafiron jaa `a dzammuhu

    Bi tabbat yadaahu fil jahiimi mukholladaa

    Ataa annahu fii yaumil itsnaini daa `iman

    Yukhoffafu `anhu lissuruuri bi `ahmadaa

    Famadzh dzhonnu bil `abdil ladzii kaa na `umruhu

    Bi `ahmada masruuron wa maa ta muwahhadaa

    4. Perayaan Maulid Nabi SAAW adalah Media Da’wah untuk memaparkan
    kembali sejarah kehidupan dan perjuangan Rasulullah SAAW, mendorong
    umat Islam agar Cinta Rasulullah SAAW dan mau mensuritauladaninya,
    sekaligus membiasakan umat bershalawat untuk Rasulullah SAAW, sehingga
    menjadi peneguh hati kaum muslimin.

    Dalam Surah Huud : 120, Allah SWT memberitakan dan menjelaskan
    bahwasanya kisah para Rasul dalam Al Qur’an untuk meneguhkan hati
    Rasulullah SAAW. FirmanNya SWT : “Wa kulla naqushshu `alaika min
    `anbiyaa’ir rusuli maa nutsabbitu bihi fu’aa daka.”

    5. Perayaan Maulid Nabi SAAW adalah Upaya menghidupkan Napak
    Tilas Pejuangan Rasulullah SAAW.

    Menghidupkan kenangan perjuangan orang-orang shaleh adalah sesuatu
    yang disyariatkan dalam Islam. Lihatlah berbagai perbuatan ibadah
    dalam Manasik Haji merupakan napak tilas dari berbagai peristiwa
    religius bersejarah dalam kehidupan Nabi Ibrahim kholilullah dan
    Sayyidati Hajar as serta putra mereka Nabi Isma’il as.

    6. Rasulullah SAAW menyukai dan memuji orang lain yang mencintai
    dan memujinya.

    Rasulullah SAAW memuji dan membalas dengan berbagai kebaikan hubungan
    dengan para penyair dizamannya yang membuat sya’ir-sya’ir yang memuji
    kehidupan dan perjuangan Rasulullah SAAW, seperti Hasan bin Tsabit ra.
    Maka bisa dipastikan bahwasanya Rasulullah SAAW akan sangat ridho’ dan
    menyukai mereka yang menghimpun dan menyebarluaskan sejarah kehidupan
    dan perjuangan Rasulullah SAAW, seperti yang dilakukan para `Ulama
    melalui kitab-kitab Maulid yang dibaca saat perayaan Maulid Nabi SAAW.

    7. Rasulullah SAAW memiliki perhatian dan kepedulian terhadap
    hubungan antara tempat dengan peristiwa religius bersejarah, bahkan
    beliau ikut membesarkannya.

    Dalam hadits Syaddaad bin `Aus ra yang diriwayatkan oleh Al Bazzaar,
    Abu Ya’laa, dan Ath Thabrani, bahwasanya tatkala Rasulullah SAAW Isra’
    dan Mi’raj, beliau diajak mampir oleh Jibril as ke Baitul Lahm dan
    Shalat dua raka’at disana, lalu Jibril as bertanya apakah Rasulullah
    SAAW tahu tempat apa itu, beliaupun menjawab tidak tahu, maka Jibril
    as memberitahukannya : “Shollaita baitul lahmin haytsu wulida `isaa.”

    8. Rasulullah SAAW memiliki perhatian dan kepedulian terhadap
    hubungan antara zaman dengan peristiwa religius bersejarah, bahkan
    beliau ikut membesarkannya.

    Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diceritakan bahwa tatkala Rasulullah
    SAAW mendapatkan kaum Yahudi berpuasa dan bergembira pada Hari `Asyura
    (10 Muharram) untuk merayakan kemenangan Nabi Musa as atas Fir’aun,
    maka beliau bersabda : “Nahnu aulaa bimuusaa minkum”, beliau pun
    berpuasa di hari itu dan mengenjurkan umatnya untuk berpuasa `Asyura.

    Selain itu, masih ada hadits lain dimana Rasullullah SAW menyebutkan
    keistimewaan Hari Jum’at sebagai hari penciptaan Nabi Adam as dan juga
    hari kelahiran para Nabi dan Rasul selain beliau SAAW.

    Semua itu sesuai dengan tuntunan Al Qur’an yang mengkhabarkan tentang
    limpahan kesejahteraan bagi hari kelahiran para Nabi. Dalam Surah
    Maryam : 15 tentang Nabi Yahya as : “Wa salaamun `alaihi yauma wulida
    wa yauma yamuutu wa yauma yub’atsu hayyan,” dan 33 tentang Nabi `Isa
    as : “Was salaamu `alayya yauma wulidtu wa yauma amuutu wa yauma
    ub’atsu hayyaa.”

    9. Para `Ulama terkemuka yang terkenal istiqomah dari zaman ke
    zaman dan dari berbagai madzhab serta dari berbagai negeri telah
    menjadikan Peringatan Maulid Nabi SAAW sebagai sesuatu yang Mustahsan
    yaitu suatu perbuatan yang dipandang baik.

    Nabi SAAW menjamin umatnya tidak akan sepakat dalam kesesatan: “Lan
    tajtami’a ummatiy `aladh dhoolaa lati.”

    Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, apalagi para `Ulamanya
    maka ia baik : “Hasanuhu hasan wa qobihuhu qobih.” Dalam Musnad Ahmad
    sebuah hadits mauquf dari Abdullah bin Mas’ud ra berbunyi : “Maa
    roohul muslimuuna hasanan fahuwa `indallaahi hasanun, wa maa roohul
    muslimuuna qobiihan fahuwa `indallaahi qobiihun.”

    Sedang dalam Shahih Muslim ada sebuah hadits lagi yang mempertegas
    permasalahan : “Man sanna fil islaami sunnatan hasanatan falahu
    ajruhaa, wa ajru man `amila biha min ba’dihi, man ghoiri ay yanqusho
    min ujuu rihim syai’un.”

    10. peringatan Maulid Nabi SAAW secara eksplisit dalam bentuk
    perayaan besar-besaran, memang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah
    SAW, tapi bukan berarti sebagai Bid’ah dholalah melainkan sebagai
    Bid’ah Hasanah.

    Para Sahabat ra pernah melakukan apa yang tidak pernah dilakukan
    Rasulullah SAAW :

    a. Abu Bakar ra dan `Umar ra menghimpun Al Qur’an dan membuat
    mushafnya.

    b. `Utsman ra memperbanyak mushaf Al Qur’an dan mengirimnya ke
    berbagai wilayah.

    c. `Umar ra menghimpun kaum muslimin di bawah satu Imam dalam
    Shalat Tarawih, dan beliau berkata : “Ni’amatil bid’ati hadzihi”

    d. dll.

    Imam Syafi’i ra sebagai salah seorang `Ulama Salaf terkemuka menyatakan :

    “Maa ahdatsa wa khoolafa kitaaban aw sunnatan aw ijmaa’an aw atsaron
    fahuwal bid’atudh dhoollah, wa maa ahdatsa minal khoiri wa lam
    yukhoolifu syai’an min dzalik, fahuwal mahmuud”

    Karenanya, para `ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat mengikat kata
    Bid’ah dalam hadits : “Kullu bid’atin dholaalatun” dengan ikatan
    taqdiirul kalam “Bid’atun sayyi’atun,”

    Wallahu A’lam

  22. dasar pengikut momed ngakunya punya tuhan sebenarnya pemilik segalanya, jalannya aja g tau nyang bener, sunni apa syiah? Lu2 kaga lbh baik drpd penyembah tuhan pake cangcut

  23. @edan

    Aneh ada orang edan bisa coment dsini. Tp maklumin aja, nama-a jg org edan, klo ga edan dia ga akan ikut2n coment.

  24. Maulid Nabi tidak bisa di qiyaskan dengan acara khitanan karena khitanan adalah sunnah langsung yg diperintahkan oleh Rasulullah SAW kalau masalah peringatan maulid Nabi tidak pernah perintahkan bagaimana tata cara ibadahnya…. kalau begitu antum para penulis lebih sholeh, lebih taat dan lebih alim dari tiga generasi yang terbaik seperti para shahabat Rasulullah, para tabi’in (Imam hasan al-bashri, ibnu sirin, qotadah, mujahid, sufyan at sauri, abu hanifah, malik, syafi’ie, ahmad dll) dan para tabi’ut …. semua itu tidak menlaksanankan peringatan maulid Nabi karena mereka tahu itu bukan sunnah, kalau antum semua melaksanakan maulid berarti apa yang kami katakan anda lebih alim, jujur, lebih mulia, dari apa yang kami sebutkan di atas berarti menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wassalam telah berhiatan kepada kita kenapa Rasul lupa ibadah yang satu ini (peringatan maulid) tidak diberitahukan kepada kita ???….camkan pesan imam malik dan syafi’ie “barangsiapa membuat bid’ah apa saja baik maulid dan yg lainnya berarti telah menuduh Nabi yang mulia telah berkhianat kepada kaum muslimin, dan Imam syafi’ie pun berkomentar : barangsiapa membuat bid’ah berarti dia telah membuat syariat atau agama baru…. camkan itu , dan jangan tanya mana dalil larangannya … justru orang yang berbuat harus punya persiapan bukannya yang tidak berbuat…. seperti orang mencuri tanya kenapa kamu mencuri, bukan di tanya kenapa kamu tidak mencuri.

  25. […] Menurut Salafi: Merayakan Hari Khitan Anak Gadis Kita Boleh Hukumnya, tapi Merayakan Hari Maulid Nab… […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: