Khalifah Rasulullah Memerangi Sunnah Rasulullah! (Bagian II)

Khalifah Rasulullah Memerangi Sunnah Rasulullah!  (Bagian II)

Khalifah Kedua Melanjutkan Politik Khalifah Pertama Dalam Memerangi Sunnah Nabi saw.

Sebagai penguasa yang diproyeksikan Khalifah pertama dan atas persetujuan kaum Quraisy (mantan musuh bebuyutan Nabi Muhammad saw.), Khalifah Umar harus setia menjalankan politik memerangi Sunnah Nabi saw. Kali ini ia mengambil sikap yang jauh lebih keras dan tegas….

Untuk mensukseskan proyek pemusnahan Sunnah Nabi saw. yang menjadi impian kaum Quraisy sejak masa hidup Nabi Muhammad saw., Khalifah Umar (yang kata akidah Sunni, beliau selalu dibimbing Allah dan dikawal dua malaikat)  menetapkan beberapa langkah politis:

Langkah Politis Pertama: Meminta Para Sahabat Mengumpukan Catatan-catatan Sunnah Mereka kemudian Membakarnya!

Kenyataan ini tidak mungkin dapat disebunyikan betapa pun mereka tidak berharap menyebar dan diketahui umat Islam secara luas. Sumber-sumber terpercaya Sunni “kecolongan” menampilkan sikap ganas dalam memerangi Sunnah Nabi saw. yang dilakukan Khalifah Nabi! perhatikan bocoran  dokumen rahasia di bawah ini:

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abdullah bin al Alâ’, ia berkata, “Aku meminta kepada Qasim agar mendiktekan hadis-hadis kepadaku, maka ia berkata, ‘Sesungguhnya hadis telah banyak  tersebar di masa Umar bin Khaththab, lalu ia meminta orang-orang agar datang kepadanya dengan membawa catatan-catatan mereka dan setelah mereka datang dengan membawanya, Umar memerintahkan agar catatan-catatan itu dibakar, kemudian ia berkata: Matsnat seperti matsnat Ahlul Kitab.

Abdullah berkata: Qasim melarangku –ketika itu- untuk menulis sebuah hadis pun.[1] Dr. Ajjaj berkata, “Umar berpidato seraya berkata: Hai manusia, sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa telah beredar di tangan kalian kitab-kitab, maka paling disukai Allah adalah yang paling lurus. Maka hendaknya setiap orang yang memiliki sebuah kitab/catatan membawanya kepadaku, agar saya memperhatikan dan menetapkan pendapat saya tentangnya.

Perawi berkata, Maka mereka mengira bahwa Umar akan melihatnya dan meluruskan isinya agar tidak terjadi perselisihan, maka mereka datang kepadanya dengan membawa kitab-kitab mereka, lalu Umar membakarnya dengan api, kemudian ia berkata: Matsnat seperti matsnat Ahlul Kitab.

Sebagaimana Umar juga menulis sepucuk surat dan dikirimkan ke berbagai kota, “Barang siapa memiliki sesuatu cacatan harus dihapus.[2].

.

Ibnu Jakfari Berkata:

Luar biasa, segala cara ditempuhnya untuk dapat merampas catatan Sunnah yang dimiliki para sahabat agar ia dapat memusnahkannya!

Apakah demikian Nabi kita memerintah kita untuk bersikap terhadap Sunnah beliau?!

Apa yang menyebabkan Khalifah Nabi saw. begitu meranuh demdam kepada Sunnah Nabi saw?! Apakah karena Sunnah Nabi menjelaskan dan menerangkan ayat-ayat Al Qur’an yang kurang berpihak kepadanya dan kepada rekan-rekan politiknya?

Atau karena Sunnah Nabi saw. itu banyak menebarkan keutamaan Ali dan Ahlulbait dan bukan keutamaan keluarga Taim, Adi atau keluarga Umayyah?

.

Langkah Politis Kedua: Melarang Periwayatan Hadis!

Tidak sulit bagi Anda yang mau meneliti sejarah masa awal Islam untuk menemukan dokumen yang membongkar bagaimana kegigihan Khalifah Umar dalam melarang penyebaran Sunnah yang dilakukan oleh para sahabat (yang tentunya diyakini kaum Sunni sebagai adil keseluruhannya tanpa terkecuali, baik Ali ibn Abi Thalib maupun Abu Hurairah, baik Fatimah putri suci Nabi saw. maupun Hindun ibu Mu’awiyah si tante pelacur yang doyan pria berkulit hitam lagi kekar itu… semuanya sama-sama adil dan terpujinya di sisi Allah SWT dan semuanya adalah ahli surga firdaus!!).

Tidak mungkin saya menyebutkan seluruh dokumen rahasia tentangnya. Kerenanya saya hanya akan menyebutkan beberapa saja.. walaupun rasanya juga akan cukup mengenalkan kepada kita nasib menderita yang dialami sunnah Nabi saw. dari sikap Khalifah Nabi!

  • Khalifah Umar berkata kepada Abu Hurairah, Tinggalkan menyampaikan hadis dari Rasulullah saw.! Atau aku akan pulangkan kamu ke desa Daus.”

Dalam kesempatan lain Khalifah Umar berkata kepadanya, Tinggalkan hadis dari Rasulullah saw.! Atau aku akan pulangkan kamu ke daerah Nathih.” (kampung halaman Abu Hurairah).[3]

Dan dalam riwayat, Khalifah Umar juga mengancam Abu Hurairah jika masih terus menyampaikan hadis dari Rasulullah saw., Khalifah Umar berkata kepada Abu Hurairah, “Hai Abu Hurairah, kamu terlalu banyak meriwayatkan hadis, maka pantaslah kalau kamu pembohong atas nama Rasulullah. Kemudian Umar mengancamnya: Tinggalkanlah menyampaikan hadis dari Rasulullah! Atau akan kupulangkan kamu ke desa suku asalmu (Daus).[4]

Ibnu Abi al-Hadid berkata, “Umar ibn al Khaththab di masa kekhalifahannya memukul Abu Huhairah dengan pelepah kurma, dan ia berkata kepadanya, kamu terlalu banyak meriwayatkan, pantaslah kalau kamu pembohong atas nama Rasulullah saw.”[5]

.

Ibnu Jakfari Berkata:

Sungguh malang nasib Abu Hurairah, gara-gara ia bersemangat menyampaikan sunnah Nabi saw. dengan tulus ia dihajar Khalifah Umar! Atau jangan-jangan Khalifah Umar benar dengan memukul Abu Hurairah sebab ia memang pembohong yang gemar memalsu atas nama Nabi saw.? Entah mana yang benar, itu bukan urusan saya.. itu urusan para ulama Ahlusunnah!

Jika Khalifah Umar benar dalam sikapnya, mengapa hadis-hadis Abu Huraiah membanjiri pasar hadis Sunni? Jika Abu Hurairah memang jujur mengapa mereka membanggakan sikap Umar sebagai Khalifah yang adil dan konsisten dalam memegangi amanat Nabi saw.?!

Ternyata Abu Hurairah bukan korban tunggal sikap tegas Khalifah Umar. Abdullah ibn Mas’ud (seorang sahabat senior yang diandalkan Nabi saw. dalam mengajarkan Al Qur’an) dan beberapa sahabat besar lainnya juga disikapi keras oleh sang Khalifah.

Ibnu Asakir meriwayatkan, Umar mengutus utusan kepada Abu Mas’ud dan Ibnu Mas’ud, dan berkata, Mengapakah kalian berbanyak-banyak menyampaikan hadis dari Rasulullah saw.”

Ibnu Adi menukil riwayat di atas dengan tambahan, Umar ibn al Khaththab mengutus utusan menemui Ibnu Mas’ud, Abu Darda’ dan Abu Mas’ud al-Anshari dan berkata, “Mengapakah kalian berbanyak-banyak menyampaikan hadis dari Rasulullah saw., lalu ia memenjarakan mereka di dalam kota Madinah sampai Umar wafat.[6]

Dan karena sebagian dari sahabat Nabi saw. enggan menuruti kemauan Khalifah Umar, maka ia segera memenjarakan mereka demi membungkam mulut-mulut mereka agar tidak menyebarkan Sunnah Nabi saw., selain dokumen di atas perhatikan dokumen- dokumen di bawah ini!

Dokumen Pertama: Khalifah Umar memenjarakan sebagian sahabat Nabi saw., seperti Ibnu  Mas’ud, Abu Mas’ud dan Abu Darda’, seperti telah lewat disebutkan. Mengomentari riwayat tentangnya, Ibnu al-Bariy berkata, “Umar melarang mereka menyampaikan hadis, sebab Umar saat itu tidak memiliki penjara.”[7]

.

Dokumen Kedua: Al Hakim dalam Mustadrak-nya meriwayatkan dari Ibrahim, bahwa Umar berkata kepada Ibnu Mas’ud, Abu Darda’ dan Abu Dzarr, hadis-hadis apa ini dari Rasulullah ? Perawi berkata, dan saya mengiranya mereka dipenjara di Madinah sampai Umar terbunuh.[8] Al-Hakim berkata, ‘Hadis ini sahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim.’ Dan Adz Dzahabi dalam ringkasan al-Mustadrak juga menyetujuinya.

.

Dokumen Ketiga: Adz Dzahabi berkata, Umar memenjarakan tiga sahabat; Ibnu Mas’ud, Abu Darda’ dan Abu Mas’ud al Anshari dan berkata, kalian telah berbanyak-banyak menyampaikan hadis dari Rasulullah saw.

.

Dokumen Keempat: Abdur Rahman ibn ‘Auf berkata, Umar ibn al-Khaththab tidak mati kecuali setelah mengutus utusan kepada para sahabat Rasulullah saw. lalu mengumpulkan mereka dari berbagai daerah; Abdullah, Hudzaifah, Abu Darda’, Abu Darr dan Uqbah ibn ‘Amir, ia berkata kepada mereka, ‘Hadis-hadis apa yang kalian sebarkan dari Rasululah saw. ini di daerah-daerah?! Mereka bertanya, apakah Anda melarang kami?! Umar menjawab, “Tidak! Tapi tinggallah kalian di sisiku, jangan berpisah dariku selama saya hidup, kami lebih mengerti, kami akan mengambil dari kalian dan menolak dari kalian. Maka mereka tidak meninggalkannya sampai Umar mati.[9]

.

Ibnu Jakfari:

Agar tidak terjadi kesalah- pahaman terhadap sikap sang Khalifah Nabi yang memusnahkan dan memerangi Sunnah Nabi saw, maka kami berharap para ulama Sunni mampu memberikan arahan logis tentangnya, jika tidak jangan salahkan apabila ada yang salah menilai Khalifah Umar!

.

Memerangi Sunnah Nabi saw. Adalah Agenda Kaum Munafiq Quraisy!

Sejak di masa hidup Nabi saw. kaum kafir Quraisy yang setelah benteng terakhir kemusyrikan dan kekafuran mereka ditaklukkan pada peritiwa Fathu Mekkah, mereka dengan terpaksa menampakkan ketundukan kepada agama Islam dengan menyatakan syahadatain secara lisan sementara hati-hati mereka masih menyimpan dendam tak terpadamkan kepada Nabi Muhammad saw. dan agamanya. Karenanya, di antara langkah yang mereka tempuh adalah memerangi Sunnah dengan cara-cara licik yaitu meragukan kesucian Sunnah Nabi Muhammad… mereka menteror Sunnah Nabi saw. dengan mengatakan bahwa Muhammad itu manusia biasa yang berbiacara dalam keadaan suka dan emosi tak terkendali! Bagaimana omongan manusia seperti itu dihormati dengan dicatat dan diabadikan?! Demikianlah cara jahat kaum Quraisy memerangi Sunnah Nabi saw.

Para ulama Ahlusunnah di antaranya Imam Ahmad, membocorkan kejahatan sikap dan agenda sesat kaum munafik Quraisy.

Abdullah ibn ‘Amr ibn al Âsh berkata menceritakan sikap menyesatkan kaum munafik Quraisy, “Dahulu aku menulis seluruh sabda  yang aku dengar dari Rasulullah saw. lalu orang-orang Quraisy melarangku, mereka berkata, ‘Mengapakah engkau menulis semua yang kau dengar dari Rasulullah, ia manusia biasa yang berbicara dalam keadaan marah dan rela.

Kemudian setelah itu akupun berhenti menulis, lalu aku sampaikan hal itu kepada Rasulullah, maka beliau bersabda sambil menunjuk mulut beliau, “Tulislah! Demi Allah, Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, tiada yang keluar darinya kecuali haq.”[10]

.

Ibnu Jakfari:

Jadi jelaslah bagi kita bahwa sikap anti sunnah itu sebenarnya adalah sikap kaum munafik Quraisy, dengannya mereka bermaksud memerangi Sunnah Nabi saw.! Lalu demi mereka semua para pemalsu hadis membuat-buat hadis palsu bahwa Nabi-lah yang sebenarnya melarang penulisan hadis! Sebagaimana kuat pula kemungkinan bahwa demi mereka para Khalifah yang berkuasa sepeninggal Nabi saw. berlomba-lomba memerangi Sunnah Nabi suci Muhammad saw.!

Membakar lembaran berisikan catatan Sunnah Nabi saw. …

Menghukum para sahabat adil yang berjuang menyebarkan amanat Nabi saw. …

Mengintimidasi mereka ….

Menjadikan mereka tahanan kota ….

Dan akhirnya konsep Hasbuna Kitabullah harus mengalahkan Kitabullah wa Sunnati apalagi Kitabullah wa ‘Itrati…….

Dan setelah sukses mengacaukan kemurnian Sunnah…

Setelah umat Islam kebanjiran ratusan ribu bahkan mungkin jutaan hadis palsu atas nama Nabi saw….

Setelah sulit rasanya -kalau tidak mustahil- membedakan hadis-hadis shahih dari tarusan ribu hadis palsu …

Setelah mereka puas mengacaukan ajara Islam…

Setelah mereka puas menghina kemuliaan dan kehormatan Nabi saw. dan menggambarkan beliau sebagai sosok pribadi yang hina, tak tau malu dan tidak bermoral…..

Setelah mereka puas menyanjung kaum munafikin …. dan menjatuhkan kaum Mukminin …

Setelah itu semua mereka bermurah hati dengan mengizinkan kaum Muslimin mencatat Sunnah Nabi saw. atau lebih jujur kita katakan: kepalsuan yang diatas-namakan Sunnah Nabi!

Hasilnya… Kaum Muslimin yang lugu lagi malang itu… yang dari lubuk hati mereka mencintai dan merindukan Nabinya dan mendambakan berjumpa dengannya walau dengan sekedar mendengar dan mencatat sabdanya… hasilnya, kaum Muslimin yang malang itu, pikiran mereka dijejali ratusan ribu hadis palsu yang “menghiasi” kitab-kitab hadis yang dibanggakan memuat Sunnah Nabi saw. Mereka menghormatinya dengan anggapan bahwa ia adalah Sunnah Nabi saw. …. Andai mereka tau bahwa ia adalah kepalsuan atas nama Nabi saw. pastilah mereka mengutuknya dan berlepas diri dari mengimaninya….

Tetapi apa hendak dikata… mereka kebingungan tak tentu arah… tiada imam dari keluarga suci Nabi saw. yang mereka jadikan panutan dalam agama!

Bagaimana mereka akan menjadikan Ali, Al Hasan, Al Husain, Ali ibn Husain, Muhammad ibn Ali al Baqir, Ja’far ash Shadiq, Musa al Kadzim, Ali ar Ridha ibn Musa, Muhammad al Jawad ibn Ali ar Ridha, Ali al Hadi ibn Muhammad al Jawad, al Hasan al ‘Askari putra Imam al Hadi dan Imam Muhammad putra al Hasan al ‘Askari… sebagai para imam panutan mereka… sedangkan para penguasa tiran selalu menghalangi mereka hanya untuk sekedar mendekat dan mencintai para imam dari Ahlubait Nabi as. itu?!

Bagaimana mereka akan menjadikan Ahlulbait as. sebagai rujukan dalam beragama mereka, sementara hati-hati mereka telah terjangkit virus kecintaan kepada selain Ahlulbait as. … Pikiran mereka telah tercemari sehingga lebih mantap menerima ajaran agama dari musuh-musuh Ahlulbait as.; dari Mu’awiyah dan tukang sulapnya… dari Yazid dan boneka-bonekanya… dari Harun ar Rasyid dan ulama bayarannya… dari al Mutawakkil (si Khalifah lacur yang menghabiskan malam dan siangnya dengan bermabok-mabokan, namun demikian tetap saja digelari oleh para ulama Sunni dengan Muhyi as Sunnah/si penyegar Sunnnah) dan para badut istananya yang bergelar Qadhi Qudhat, sang jaksa agung dan para ulama sû’ yang penjilat itu…?!

Jika Anda sebutkan di hadapan mereka pendapat Ahlulbait as… pendapat Imam Ja’far ash Shadiq as. misalnya, mereka menggeleng-gelengkan kepadanya.. mereka berteriak, ‘Kami lebih percaya kepada Abu Hanifah ketimbang Ja’far ash Shadiq kalian… Kami lebih mantap berujuk kepada asy Syafi’i ketimbang Musa putra Imam Ja’far…

jika Anda bawakan mutiara hikmah dan sabda Imam Ali as. yang mencerahkan, mereka segera berteriak keras: ‘Mana sabda Mu’awiyah… bawakan saja kepada kami hadis Abu Hurairah… Abu Hurairah ahabbu ilaina min ‘Alikum/Abu Hurairah lebih kami sukai ketimbang Ali kalian!

Jika dibawakan Sunnah Nabi saw. mereka menggerutu sambil komat-kamit mulut mereka: ‘aina Sunnatu Umar/di manakah sunnahnya Umar… kami suka Sunnahnya Umar!

Demikianlah akibat dari semua itu. Innâ Lillahi wa Innâ Ilaihi Râji’ûn.


[1] Thabagat Ibn Sa’ad,5\188 dan Tagyîd al-Ilmi:52.

[2] Taqyîd al-Ilmi: 52.

[3] Al Muhadits al Fâshil: 554 (nomer:746), al Bidayah wa an Nihayah,8\106, Akhbâr al Madinah (Ibnu Syubbah): 3\800 dan Al-I’tishâm Bi Hablillah al-Matin (al-Qasim): 2\29, Syarah Nahj al Balaghah,4\68.

[4]Adlwâ’ ‘Al as-Sunnah al-Muhammadiyah: 201 dari riwayat Ibnu ‘Asakir.

[5] Al Jalali. Tadwin al-Sunnah.432 menukil dari Syarah Nahj al-Balaghah,4/ 67.

[6] Tarikh Damasqus,39\108 dan al-Kamil (Ibnu ‘Adiy):1\18.

[7] Al Jalali.436 dari Al Muhaddits al-Faashil. 553.

[8] :1,110, dan Majma’ al-Zawaid,1/149.

[9] Kanz al ‘Ummal, 1/239.

[10] Sunan Ad Darimi,1\125, bab Rukhisha bil Kitabah, Sunan Abu Da’ud 2\126, bab Kitabatul Ilmi, Musnad Imam Ahmad:2\162, 206 dan 207, Mustadrak: 1\105-106, Jami’ Bayan al Ilmi,1\85 hadis ke2.

_______________________________________________________________________

TULISAN SEBELUMNYA

11 Tanggapan

  1. memang kami sudah dengar semua yg anda ceritakan namun bukankah itu usaha dari khalifah pertama dan kedua demi menjaga kemurnian Islam ini dari akibat sembarangan orang mengaku riwayat dari Nabi saw ?
    mohon pecerahan……………….

    Ibnu Jakfari:

    Apa Anda yakin dengan apa yang ANda sampaikan?

    • Usaha Sy Abu Bakar dan Sy Umar adalah bagi menjaga sunnah Rasulullah. Yang dibakar itu adalah yang menyeleweng. Khalifah Rasulullah sendiri adalah penyambung sunnah Rasulullah.

      Ibnu Jakfari:

      Saya harap Anda mau jujur dan harus mulai belajar jujur terhadap diri sendiri! Apakah yang dilakukan Abu Bakar itu tergolong menjaga Sunnah? Dan yang ia bakar itu adalah sunnah yang menyelaweng? Bukankah Abu Bakar mendengar sendiri dari Rasulullah saw. atau paling tidak dari perantara sahabat hadis-hadis yang ia tulis?! Lalu mungkinkan pembelaan yang Anda sampaikan itu? Siapa yang menyelewengkan sunnah di zaman Abu Bakar? Bukankah itu sama artinya Anda menuduh sahabat nabi saw. (yang selama ini disucikan Sunni) menyelewengkan Sunnah Nabi?
      Akhi, coba renungkan baik-baik! Jangan tipu diri sendiri!
      Bukankah Anda (Sunni) juga berkata bahwa Nabi saw. melarang menulisdkan sunnah beliau? Lalu mengapa Abu Bakar memiliki catatan sunnah yang ia simpan hingga setelah wafat Nabi saw.?
      Lalu mengapakah para sahabat itu memiliki catatan sunnah, jika benar seperti pendapat Sunni bahwa Nabi telah melarang mereka?
      Bukankah dengan itu, Anda menuduh Abu Bakar dan para sahabat itu menentang larangan Nabi saw.?!

  2. syi’ah dan wahabi sama-sama alat yahudi untuk menghancurkan (memecah belah) islam dari dalam, sadarlah kalian antek-antek yahudi.

  3. Sayyiduna Abu Bakr dan Sayyiduna Umar mebakar lembaran2 itu karena ingin menjaga Sunnah Nabi dari pemalsuan kaum Syi’ahnya abdullah bin saba’!!!
    hanya kamu saja yang mengatakan bahwa itu memerangi sunah nabi Saw.

    Ibnu Jakfari:

    Ajib! kata kalian Syi’ah itu buatannya Abdulla bin Saba’ yang baru ada di akhir masa kekhalifahan Utsman.. kok sekarang Abu Bakar dan Umar membakar sunnah karena ingin menjaga sunnah dari Syi’ah?!

  4. semoga antum dirahmati Allah akhi ja’fari. Saya tidak anti syi’ah bahkan sangat tertarik dg buku2 syiah yg banyak mengungkap sejarah islam. Tapi yg saya tdk habis fikir kenapa saat ‘menghujat’ umar, membela abu hurairah dan saat ‘menghujat’ abu hurairah memanfaatkan umar

    • akhi sabaruddin,
      izinkan saya menjawabnya, akhi Ibnu Ja’fari tidak membela siapa-siapa dari mereka, dia hanya bermaksud menunjukkan betapa kacau dan rancunya apa yang ada di sunni.

  5. saya benar2 bingung.antara syiah,ahlusunnah madzahibul arbaah,ahlusunnah salafi wahabi punya dalil yang kuat-kuat.mana yang benar?saya punya teman yg syiah,ahlusunnah,tapi mereka berakhlaq buruk.apakah mereka akan masuk surga?atau masuk neraka dulu lalu di masukkan ke surga sebagaimana yg ada diaqidah masing-masing.Disini yg terlihat hanya kemarahan dan saling mengejek

  6. Umat islam sejak dahulu, mudah terprofokasi oleh hasutan ZIONIS yg bertujuan memecah belah umat..agar mrk dpt dg tenang menjalankan aksi membangun faham zionismenya… Yg bodoh justru kita umat islam yg sibuk membaca kitab2 yg justru dikarang dan disponsori olh zionis yg berada dlm tubuh umat islam… Padahal ada ayat yg memperingati, bhw “Jangan mengira mereka itu bersatu,,sesungguhnya mereka itu bercerai berai”.. Tapi kita lbh asyik bercerai berai daripada bersatu.. itulah kita

  7. Semoga Allah membimbing kita semua,kalau Akhi meyakini Syiah yg benar jalankanlah, tidak usah selalu menjelekan Para Sahabat… MEREKA RIDHO KPD ALLAH DAN ALLAH RIDHO KPD MEREKA, kita ini tidak ada apa2nya bila dibanding para Sahabat. Waullahu alam bishawab.

  8. inti sunah rasul cuma satu yaitu : BUDI PEKERTI LUHUR
    selama kita melaksanakan budi pekerti luhur maka kita telah melaksanakan sunah rasul, yang baik laksanakan yang buruk tinggalkan…..gitu aja kok ribut. orang sudah ke bulan kita masih ngeributin yang gak penting.

  9. […] Khalifah Rasulullah Memerangi Sunnah Rasulullah!  (Bagian II) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: