Potret Sahabat Agung Kebanggaan Syi’ah (I)

Potret Sahabat Agung Kebanggaan Syi’ah (I)

Menghormati para sahabat mulia yang setia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah keyakinan Syi’ah Imamiyah yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Demikian diajarkan Al Qur’an dan Sunah. Tidak sedikit para sahabat yang telah berhasil menyatu dengan ajaran Islam dan mewujudkannya dalam sifat, sikap dan seluruh aspek kehidupannya. Mereka setia terhadap janji keimanan dan kepatuhan yang telah mereka ikrarkan. Di antara mereka adalah sahabat kebanggan kaum Mukmin yang menghargai fitrah dan nuraninya. Dia adalah Sayyiduna Ammâr bin Yâsir (semoga Allah meridhai beliau).

Ammâr bin Yâsir adalah seoraang sahabat agung nun mulia. Nabi saw. telah mengabarkan kabar gembira untuknya dan kedua orang tuanya surga Allah. Beliau saw bersabda: “Bergembiralah hai keluarga Ammâr dan keluarga Yâsir, janji kita ketemu di surga.” [1]

Dalam riwayat disebutkan, “Bersabarlah hai keluarga Yâsir, sesunggunhnya janji perjumpaan kita di surga.” [2]

Imam Ali as. juga memberikan apresiasi dan penghargaan kepada Ammâr dengan kata-katanya, “Darah dan daging Ammâr haram dilahap api neraka.” [3]

Nabi saw. telah mengingatkan dan mengecam siapa yang mencaci dan memusuhi Ammâr ra.  apalagi memerangi dan membunuhnya. Nabi saw. bersabda, “Barang siapa mencaci Ammâr maka Allah akan mencacinya dan barang siapa memusuhi Ammâr maka Allah akan memusuhinya.” [4]

Dalam riwayat lain disebutkan, Nabi saw. bersabda kepada Khâlid bin al Walîd, “Hai Khâlid, janganlah kamu mencaci Ammâr karena siapa yang mencaci Ammâr maka Allah akan mencacinya dan siapa membenci Ammâr maka Allah akan membencinya dan siapa yang mengejek Ammâr sebagai orang bodah maka Allah akan membodohkannya.”[5]

Dalam sabdanya, Nabi saw. mengancam pembunuh Ammâr dengaan neraka, “Pembunuh Ammâr dan merampas barangnya adalah neraka tempatnya.” [6]

Dalam banyak hadis lain ditegaskan bahwa Ammâr adalah penganjur kepada surga Allah dan yang memerangi serta membunuhnya adalah para penganjur kepada kebatilah dan kepada api neraja Jahannam. Nabi saw. bersabda, “Amboi dia Ammâr. Dia mengajak mereka ke surga tetapi mereka mengajaknya ke neraka.” [7]

Dalam hadis lain, Nabi saw. bersabda, “Amboi Ammâr. Dia akan dibunuh oleh fiah bâghiyah (kelompok pembangkang Allah), Ammâr mengajak mereka kepada Allah tetapi mereka mengajaknya ke neraka.” [8]

Hadis-hadis mulia di atas menjelaskan kepada kita bahwa Ammâr ra. adalah sahabat mulia, agung dan patut dijadikan teladan dalam agama. Di samping ia sebagai bukti nyata husnul khâtimah/kebaikan akhir kehidupan Ammâr sebagai seorang mukmin kekasih Allah SWT. beliau addalah panji hidayah Allah dan petunjuk ke jalan kebenaran bagi mereka yang tersesat jalan!

Banyak hadis Nabi saw. mengatakan bahwa Ammâr memiliki ketaqwaan yang prima yang mendorongnya selalu memilih yang haq dan menolak yang batil. Kebenaran selalu menjadi pilihannya, berpihak kepada penjunjung kebenaran adalah idamannya! Nabi saw. bersabda, “Tiada dihadapkan kepada putra Sumayyah (nama ibu Ammâr) dua perkara kecuali ia memilih yang paling berpetunjuk darinya.” [9]

Dalam redaksi lain: “Tiada dihadapkan kepada Ammâr bin Yâsir dua pilihan kecuali ia memilih yang paling berpetunjuk darinya.” [10]

Bahkan lebih dari itu, Nabi saw. menjadikan Ammâr sebagai panji untuk mengenali kebenaran di kala kabur bagi pencarinya dan terjadi perselisihan di tengah-tengah umat Islam. Nabi saw. bersabda, “Jika manusia berselisih maka putra Sumayyah bersama kebenaran.” [11]

Dan pesan demikian telah diketahui oleh para sabahat dan sebenarnya dengan cara seperti itu Nabi saw. ingin mengarahkan umat beliau kepada kebenaran sejati. Habbah al ‘Arani (seorang tabi’in mulia) berkata, ‘Aku masuk bersama Abu Mas’ud al Anshari menemui Hudzaifah bin Yamân (seorang  sahabat dekat dan kepercayaan Nabi saw. yang banyak disampaikan kepadanya berbagai rahasia apa yang bakal terjadi menimpa umat Islam) untuk menanyakan kepadanya tentang fitnah (kekacauan para pemberontak yang memberontak Ali as.) yang terjadi, maka ia berkata menasihati, “Berputarlah kamu bersama Kitabullah di manapun dia berputar, dan perhatikan kelompok yang di dalamnya terdapat putra Sumayyah (Ammâr) maka ikuti kelompok itu sebab ia senantiasa berputar bersama kebenaran di manapun ia berputar.” Ia (Habbah) berkata, ‘Maka kami berkata, ‘Siapa putra Sumayyah itu?’ Hudzaifah menjawab, ‘Ammâr. Aku mendengar Rasulullah saw bersabda untuknya, ‘Engkau tidak akan mati sehingga dibunuh oleh kelompok pemberontak/fiatuh bâghiyah, engkau meneguk minuman di siang hari dan itu adalah akhir rizkimu dari dunia ini.’

Ketika para pemberontak yang dipimpin oleh Mu’awiyah bin Abu Sufyan melawan Imam Ali as, di medan tempur itu Ammâr berkata,”Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, andai mereka memukul kami sampai kami mundur jauh ke belakang ke negeri hajar niscaya aku yakin bahwa kami di atas kebenaran dan mereka di atas kesesatan.” [12]

Demikianlah kita saksikan bagaimana kesetiaan Sayyidina Ammâr ra. terhadap Nabi saw. selama hidupnya dan setia kepada imamnya sepeninggal nabinya.  Hal demikian bukti keimanannya yang kokoh. Demikian Aisyah mensifatinya, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Ammâr dipenuhi dengan keimanan hingga ujung jari kakinya.”[13]

Karena kesetiaannya, Ammâr rela mengorbankan seluruh jiwanya demi membela imam sucinya; Ali bin Abi Thalib as. dan benarlah apa yang dikatakan Nabi saw. bahwa para pemberontak itu adalah penganjur kepada neraka jahannam dan Ammâr penganjur kepada Allah… kepada kebeneran dan kepada surga! Namun yang mengherankan adalah sikap Ahlusunnah yang menyanjung dan mengidolakan pimpinan kaum penganjur kepada kesesatan dan neraka jahannam dan menjadikannya sebagai panutan dalam agama, sementara Ammâr hampir-hampir tidak mendapatkan tempat di hati mereka!

Sayyâr bin Abul Hakam berkata, “Bani ‘Abs berkata kepada Hudzaifah, “Sesungguhnya Amirul Mukmin Utsman telah terbunuh, lalu apa yang Anda perintahkan untuk kami? Hudzaifah menjawab, ‘Aku perintahkan kalian untuk selalu bersama Ammâr dan jangan pernah berpisah darinya!’ Mereka, ‘Sesungguhnya Ammâr tidak pernah berpisah dari Ali!’ Hudzaifah berkata, ‘Sesungguhnya kedengkian telah membinasakan jasad. Sesungguhnya mereka menjauh dari Ammâr karena kedekatannya dari Ali! Demi Allah Ali jauh lebih afdhal dari Ammâr sejauh bumi dari awan. Dan Ammâr adalah satu dari para kekasih Allah. Dia (Nabi saw.) mengatahui bahwa jika mereka bersama Ammâr pasti mereka bersama Ali.’ [14]

Ini rupanya yang dapat menjadi jawaban yang akan mengusir rasa penasaran kita mengapa sebagian kaum Muslim kurang simpatik atau tidak mau banyak tau tentang Ammâr…. Sebab Ammâr adalah pecinta sejati dan pembela setia Imam Ali as. dan selalu berseberangan dengan para zalimin!

Ibnu Jakfari:

Sobat! Jujurlah kepada dirimu sendiri, pernahkan engkau dengar para kyai/ustadz Sunni rujukanmu menceritakan keagungan dan keutamaan Ammâr bin Yâsir dan membanggakannya? Mencecer hadis-hadis keutamaan tentangnya di hadapan kaum Muslim?

Apakah nama Ammâr bin Yâsir akrab di telinga Anda sebagai sabahat yang setia membela kebenaran bersama Imam Ali as. Dan melawan kezaliman kaum zalim?

Mengapakah nama harum Ammâr bin Yâsir tidak seakrab “nama-nama harum” lain seperti Mu’awiyah, Marwan, ‘Amr bin al Âsh, Samurah bin Jundub, Abu Musa al Asy’ari dkk.?

Ammâr bin Yâsir adalah Salaf kebanggaan kaum Syi’ah… semoga Allah meridhai dan merahmatinya. Amin.


[1] HR. al Hâkim dalam al Mustadrak,3/438 dan ia menshahihkannya berdasarkan syarat Muslim dan adz Dzahabi pun menyetujui penshahihan itu.

[2] Ibid. juga diriwayatkan al Haitstami dalam Majma’ az Zawâid,9/294 dan ia berkata hadis ini dari riwayat ath Thabarani dan para perawinya tsiqah/jujur.

[3] HR. al Haitstami dalam Majma’ az Zawâid,9/295 dan ia berkata hadis ini dari riwayat al Bazzâr dan para perawinya tsiqah/jujur.

[4] HR. al Hakim dalam al Mustadrak,3/439 dan ia menshahihkannya berdasarkan syarat Muslim dan adz Dzahabi pun menyetujui penshahihan itu.

[5] HR. ath Thabarani dalam al Mu’jam al kabîr,4/112, an Nasai dalam as Sunan al Kubrâ,5/74, ath Thabari dalam tafsirnya,5/206, Ibnu Katsir dalam tafsirnya,1/53 dan as Suyuthi dalam ad Durr al mantsur,2/176.

[6] HR. al Hakim dalam al Mustadrak,3/437, ia menshahihkannya berdasarkan syarat Muslim dan adz Dzahabi pun menyetujui penshahihan itu.

[7] HR. Bukhari,1/115.

[8] Ibid.3/207.

[9] HR. Ahmad dalam Musnad,1/389/4458 al Hakim dalam al Mustadrak,3/438, ia menshahihkannya berdasarkan syarat Muslim dan adz Dzahabi pun menyetujui penshahihan itu.

[10] HR. at Turmudzi dalam Sunan-nya5/332.

[11] HR. ath Thabarani dalam al Mu’jam al Kabîr,1/96, Ibnu ‘Asâkir dalam Târikh Damasqus,43/403 dan 406 adz Dzahabi dalam Siyar A’lâm,1/416 dan Ibnu Katsir dalam al Bidâyah wa an Nihâyah,7/300.

[12] HR. al Haitsami dalam Majma’ az Zawâid,7/243 dan ia berkata, ‘Ahmad dan ath Thabarani meriwayatkannya dan para parawi jalus Ahmad  adalah parawi shahih selain Abdulllah bin Salamah dia tsiqah/jujur terpercaya. Hadis serupa dengan sedikit perbedaan redaksi juga dapat ditemukan dalam Majma’ az Zawâid,9/295 dari riwayat ath Thabarani dan para parawinya adalah tsiqah.

[13]HR. al Haitsami dalam Majma’ az Zawâid,7/243 dan ia berkata, ‘Hadis ini diriwayatkan oleh al Bazzâr dan para parawinya adalah perawi hadis shahih.

[14] Ibdi.7/243 dan ia berkata, ‘Hadis ini diriwayatkan ole hath Thabarani dan para parawinya tsiqah.

6 Tanggapan

  1. lha kalau sahabat seperti ini wajib hukumnya kita hormati Sebab ia setia banget kepada Nabi dan Ahlul Bait as.
    kalau yang sukanya khianat… berenaca bunuh Nabi ya itu mah harus dikukuk!!
    Setuju????????
    ya harus setuju lah!!! tapi nati kamu bisa diusir dari anggota ASWAJA lho!!

  2. iya ikwan kaum muslimin,khusus kita ternyata selama ini salah memilih tokoh idalanya,korban sejarah….!!! yang dianggapnya “imamul huda” ternyata”imamuddolal” dan seb

    aliknya….ihdinassirotol mustaqiim yaa rooooobb…..?

  3. Kapan nih artikel mengakfirkan Khalifah Abu bakar, Umar, Utman??…
    Kok masih gitu2 aja artikelnya?? nuggu pengikutnya banyak ya?
    Yasud sy tunggu…

  4. trus idola syiah terhadap abu lu’lu gimana?? ia seorang majusi bukan??

  5. […] ada sahabat Nabi saw. yang paling menyebalkan buat kaum Salafi Wahhâbi melebihi Ammâr bin Yâsir (sahabat agung dan mulai yang surga rindu kepadanya)…pasalnya karena Ammâr ra. membela […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: