Sayyidina Umar bin Khaththab ra. Di Mata Imam Bukhari !

Sayyidina Umar bin Khaththab ra. Di Mata Imam Bukhari !

Menurut Imam Bukhari, Umar bin Khaththab Murka Atas Nabi Muhammad saw.!

Pendauhuluan

Seperti Imam Bukhari tak merasa puas dengan membongkar data-data rahasia terkait dengan Siti Aisyah –istri Nabi saw.- yang rumah tempat tinggalnya ia sebut sebagai sarang fitnah dan tempat munculnya tanduk setan! Kini Imam Bukhari mengagetkan banyak pihak dengan membongkar data rahasia berbahaya tentang sikap keimanan, keta’atan dan ketundukan Khalifah Umar bin Khaththab….

Imam Bukhari membongkar data yang mengatakan bahwa SAYYIDINA UMAR MURKA BERAT ATAS NABI MUHAMMAD SAW. Sebuah sikap berbahaya yang segera akan menggugurkan keimanan! Bagaimana mungkin seorang Mukmin Muslim MURKA atas Nabinya dan keputusan yang diambilnya berdasarkan wahyu?! Padahal Allah mengancam atas siapa yang mendahulukan pendapatnya atas pendapat Nabi dan/atau mengeraskan suaranya di atas suara Nabi saw. bahwa seluruh amalnya akan digugurkan! (baca surah al Hujurât;1-3) dan dalam ayat lain Allah mengancam siapapun yang menolak keputusan Nabi saw. sebagai orang sesat dan jalan di atas kesesatan, sekalipun dalam urusan yang paling privat apalagi terkait dengan urusan dan maslahat umat Islam?!

Allah berfirman:

وَ ما كانَ لِمُؤْمِنٍ وَ لا مُؤْمِنَةٍ إِذا قَضَى اللَّهُ وَ رَسُولُهُ أَمْراً أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَ مَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَ رَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالاً مُبيناً

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata,” (QS. Al Ahzab [33]; 36)

Bahkan lebih dari itu, Allah menghukumi orang yang menentang keputusan Nabi saw, sebagai orang yang keluar dari keimanan! Allah berfirman:

فَلا وَ رَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فيما شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا في‏ أَنْفُسِهِمْ حَرَجاً مِمَّا قَضَيْتَ وَ يُسَلِّمُوا تَسْليماً

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.(QS. An Nisæ’ [4];65)

Ibnu Katsir berkata: “Allah bersumpah dengan Dzat-Nya sendiri Yang Maha Suci bahwa sesungguhnya tidaklah seorang itu beriman sehingga menjadikan Rasul saw. sebagai Hakim? penetap keputusan akhir dalam segala urusannya. Apapun yang beliau putuskan adalah benar sejati yang wajib diikuti baik secara batin maupun dzahir. Karenanya Allah berfirman: “kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” Artinya, jika mereka telah menjadikanmu sebagai Hakim mereka mena’atimu dalam batin-batin mereka sehingga mereka tidak mendapatkan dalam jiwa-jiwa mereka keberatan atas apa yang kamu putuskan dan mereka tunduk dan patuh menjalankannya pada sikap dzahir mereka serta pasrah menerima dengan sepeunghnya tanpa menentang, membangkang dan menentang….[1]

Pendek kata, sudah sangat jelas ketetapan hukum Islam dalam masalah ini!

 Sayyidina Umar bin Khaththab Murka Atas Keputusan Nabi Muhammad saw.!

Imam Bukhari –yang dikenal sangat hati-hati dalam menyeleksi hadis- setelah memohon petunjuk Allah dengan shalat dua raka’at, sebagaimana kebiasaan baik beliau sebelum menulis sebuah hadis dalam kitab Shahihnya; kitab tershahih setelah kitab suci terakhir Al Qur’an al Majîd… ya setelah bertawassul dengan shalat dua raka’at beliau meriwayatkan sebuah hadis SHAHIH bahwa Sayyidina Umar MURKA atas keputusan Nabi saw. untuk berdamai dengan kaum Musyrik Mekkah dalam perjajnjian Hudaibiyyah!

Hadis Shahih Bukhari itu berbunyi demikian:

Maka Umar datang (menemui Nabi saw. setelah keputusan damai ditetapkan Nabi saw._pen), “Bukankah kita di atas kebenaran dan mereka di atas kebatilan? Bukankah orang yang gugur dari kami itu surga tempatnya dan yang gugur dari mereka neraka tempatnya?”

Nabi saw. berkata, “Benar!”

Umar menjawab, “Kalau begitu, mengapakan kita dihinakan  dalam urusan agama kita seperti ini, kita pulang sementara Allah belum memenangkan kita.”

Nabi saw. bersabda mengingatkan, “Hai putra Khaththab, sesungguhnya aku ini Rasul utusan Allah. Allah tidak akan pernah menelantarkan aku selamanya!”

Maka Umar pergi dalam keadaan MURKA[2] LALU TIDAK SABAR sehingga ia menemui Abu Bakar dan berkata, ‘Hai Abu Bakar, bukankah kita di atas kebenaran/haq dan mereka di atas kebatilan/bathil?!’ Abu Bakar berkata, ‘Hai putra Khaththab, sesungguhnya dia adalah rasul utusan Allah saw., tidak mungkin Allah menelantarkannya. Maka turunlah setelah itu surah al Fath.[3]

Al Halabi dan juga para ulama ahli sejarah lain menyebutkan bahwa dalam peristiwa Hudaibiyyah Sayyidina Umar terus menerus mendebat Nabi saw. sehingga Abu Ubaidah bin Jarrâh menegurnya dengan keras, ia berkata, “Hai putra Khaththab, tidakkah engkau mendengar rasulullah saw. mengucapkan apa yang beliau ucapkan. Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” Sampai-sampai Nabi saw. bersabda kepada Umar, “Hai Umar, aku relah sedangkan kamu menolak?! [4]

Ibnu Jakfar berkata:

Surah al Fath turun untuk menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi saw. dengan mengambil keputusan damai berdasarkan bimbingan Allah yang nota kesepakatannya di tandanagangi oleh kedua belah pihak; Nabi saw. dan para pembesar kaum Musyrik Mekkah adalah sebuah kemenangan terbesar Islam dan kaum Muslimin. Dan surah yang memuat penegasan itu dinamai dengan surah al Fath yang artinya kemenangan! Nabi saw. bersabda, “Telah diturunkan kepadaku sebuah surah ia lebih aku sukai dari duni dan seisinya. Demikian diriwayatkan Imam Bukhari.[5] Lalu beliau membacakannya kepada para sahabat. Tetapi beliau segera tersentak kaget ketika menyeruak suara sepontan menjerit mengatakan, “Fath apakah ini! Ini bukanlah Fath![6] Kita dihalau dari masuk masjid Haram… hewan-hewan korban kita terhalau… “

Suara siapakah itu? Tentu Anda pun pasti kaget ketika ada di antara sahabat beliau yang dengan tidak sopan menentang Allah dan Rasul-Nya? Anda juga tidak sabar ingin tau siapakah si pengucap kata-kata sumbang itu? Saya sarankan Anda tidak usah mencari tahu siapa gerangan dia? Sebab saya khawatir Anda “murtad”[7] mencampakkan doqma yang selama ini Anda yakini sebagai kebenaran absolut! Jangan! Tutup saja lembaran kasus ini!

Tapi yang penting Andalah jawaban Nabi saw. terhadapnya! Nabi saw bersabda, “Sejelek-jelak ucapan adalah apa yang engkau ucapan ini. Dia adalah Fath teragung.”

Dalam banyak riwayat lain juga disebutkan bahwa setelah Sayyidina Umar MURKA ATAS KEPUTUSAN NABI SAW., ia berkampanye mempengaruhi kaum Muslimin agar menentang ketetapan dan keputusan Nabi saw.! Sayyidina Umar sendiri mengakui provakasi yang ia lakukan untuk mempangaruhi kaum Muslimin agar menentang keputusan Nabi saw. ia berkata, “Maka aku lakukan untuk itu banyak perbuatan.”[8] Dan setelah menyadari keburukan apa yang ia lakukan, ia menyesali dan menutup kesalahan itu dengan berpusa, bersedekah dan shalat serta memerdekakan budak. Demikian dilaporkan oleh al halabi dalam kitab Sirah-nya,2/706

Terlepas dari berbagai data yang diungkap riwayat-riwayat lain, riwayat Imam Bukhari di atas yag menyebut Sayyidina Umar sebagai orang yang MURKA atas ketetepan dan keputusan Nabi saw. adalah data berbahaya dan riskan untuk dibongkar!!

Ibnu Jakfari berkata:

Saya tidak mengerti, apakah memang demikian yang terjadi dan dilakukan oleh Sayyidina Umar, atau ini hanya sebuah fitnah yang sengaja disebarkan oleh Imam Bukhari dkk.? Bagi Anda yang meyakini kehati-hatian Sang Imam Agung; Bukhari dalam menyeleksi hadis sehingga beliau tidak mengoleksi dalam kitab Shahih-nya kecuali yang telah dipastikan keshahihannya… bagi Anda yang mempercayai seluruh hadis dalam kitab tershahih itu adalah pasti shahih dan harus diterima… apapun resikonya, betapapun ia membahayakan keutuhan doqma akidah Anda… maka sikap itu sepenuhnya adalah hak Anda, saya tidak akan mengintervensi pilihan Anda!

Mungkin Anda dapat memaklumi sikap “tegas” Sayyidina Umar itu dilhami oleh keimanannya yang begitu teguh bahwa umat Islam tidak boleh menerima tamparan keterhinaan! Mungkin! Walau pun saya yakin jika pembelaan itu Anda sampaikan langsung kepada Sayyidina Umar -yang sedang Anda hendak bela, dan itu sah-sah saja!- pasti beliau ra. akan segera membantah Anda! Tentu beliau akan segera meminta Anda untuk tidak terlalu bersemangat membelanya. Sebab beliau sendiri tau alasan mengapa sikap MURKA itu begitu ia pilih? Dengarkan Sayyidina Umar menjelaskan kepada Anda: “Demi Allah, aku tidak syak/ragu setelah aku memeluk Islam kecuali hari itu… “ setelahnya Sayyidina Umar mulai mendebat Nabi saw. seperti yang Anda baca serpihan datanya di atas. Demikian dilaporkan oleh Imam Jalaluddîn as Suyûthi dalam tafsir ad Durrul Mantsûr-nya dalam hadis panjang dari riwayat Abdur Razzâq, Imam Ahmad, Abdu bin Humaid, Bukhari, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir dari sahabat Miswar bin Makhramah dan Marwan bin al Hakam.[9]

Itulah sesungguhnya yang membuat Sayyidina Umar murka dan kemudian bereaksi memprovokaqsi para sahabat lain!

Dan apakah ini pujian dan pengagungan terhadap Sayyidina Umar bin Khaththab, Khalifah kedua umat Islam dan mertua Nabi Muhammad saw.? Atau hinaan dan tuduhan keji?!

Apa kira-kira yang segera akan dimuntahkan oleh mulut-mulut berbisa kaum nashibi dan kaum Salafi pendukung Bani Umayyah apabila ada data sejenis itu diriwayatkan oleh ulama Syi’ah dan diabadikan dalam kitab-kitab mereka?! Pasti kalimat berbalut racun terlembut yang akan terlontar dari mulut-mulut mereka adalah Syi’ah Kafir karena menghina Sayyidina Umar al Fâruq! Demikianlah kedengkian kaum Majusi Persi yang berpura-pura mencintai Ahlulbait Nabi terhadap Sayyidina Umar Penakluk Kerajaan Persi Majusi! Dan kata-kata senada dengannya!! Pasti dan sudah sering terlontar kalimat beracum seperti itu dari kaum nashibi Salafi Wahhabi!

Tetapi apakah Bukhari, Muslim dan para ulama Ahlusunnah lainnya juga pendukung kaum Majusi Persi atau Rafidhah Persi?! Atau jangan-jangan nanti mereka harus terpaksa mengatakan bahwa Bukhari dan ulama Ahlusunnah lainnya yang membongkar data-data seperti itu adalah antek-antek kaum Syi’ah yang bertaqiyyah dan menebar racum di tengah-tengah kaum Muslim Sunni?!

Hanya Allah yang Maha Mengetahui apa yang bakal mereka katakan di kemudian hari jika semua jalan untuk membungkam suara kebenaran telah gagal!!

Siapa tau?! Bukankah kaum nashibi panutan kaum Salafi Wahhâbi dahulu juga menuduh Imam Syafi’i, Imam an Nasa’i, Imam Sibthu Ibnu Jauzi dan lainnya sebagai Syi’ah Rafidhah! Kaum Sesat! Karena kecintaannya kepada Ahlulbait dan ketegasan sikapnya terhadap du’âtu ilan nâr/para penganjur kepada neraka jahannam; Mu’awiyah, Yazid dan tentara setan lainnya!

Kita nanti saja sampai dimana ulah bodoh kaum Salafi Wahhâbi yang sedang menanti kehancuran dan kematian rezim Wahhâbi yang sedang sekarat dan para emirnya sedang menanti giliran panggilan malaikat maut untuk dikumpulkan bersama Fir’aun, Namruth, Qadzdzâfi, Saddam Husain dan fir’aun-fir’aun lainnya!


[1] Tafsir al Qur’an al ‘Adzîm; Ibnu Katsîr,1/520. Ibnu Katsîr juga menyebutkan beberapa riwayat yang  di antaranya mengatakan bahwa orang yang menolak dan apalagi tentunya sakit hati lalu murka dan bereaksi untuk mempwngruhi orang lain agar menentang keputusan Nabi saw. adalah halal darahnya!

[2] Kata mutaghayyidhan dalam riwayat di atas saya terjemahkan dengan murka. Kata itu berasal dari kata kerja tsulâtsi (berhufuf tiga): Ghâdza-yaghidzu- ghaidhan. Contoh Ghahdahu amrun artinya: Perkata itu membuatnya marah dengan marah yang  sangat. Kata kerja taghayyadha-yataghayyadhu-mutaghayyidhun artinya: Menampakkan marah yang sangat terhadap sesuatu lain akibat sebuah perkara! (baca kamus-kamus bahasa Arab seperti al Mu’jam al Wasith,2/668. Dalam kasus di atas Sayyidina Umar menampakkan marah yang sangat kepada Nabi sebagai reaksi dari keputusan yang beliau saw tetapkan untuk berdamai dengan mengadakan perjanjian Hudaibiyyah.

[3] Shahih Bukhari, Kitab at tafsîr, tafsir surah al Fath,6/171, hadis nomer 4844 dalam penomeran Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bâri,18/216-217 dan Shahih Muslim, Kitâb al Jihâd wa as Siyar bab ke 34, juz 3 hal 1412 hadis nomer 1785.

[4] As Sirâh al Halabiyyah,2/706 Sirah Nabawiyyah; Ibnu Katsir,3/320.

[5] Shahih Bukhari, Bab Shulhu Hudaibiyyah juga baca as Sirah al Halabiyah dan Sirah Nabawiyyah tulisan Sayyid Zaini Dahlan

[6] Baca juga tafsir Fathul Qadîr; asy Syaukani,5/57.

[7] Jangan disalahpahami kata murtad di sini tidak berarti keluar dari agama Islam. Seorang bisa disebut murtad secara bahasa apabila ia mencampakkan apa yang selama ini diyakininya sebagai bagian inti agama misalnya.

[8] Baca Shahih Bukhari, Kitab asy Syurûth, Bab asy Syurûth fi al Jihâd,1/122 dan 3/256 dan Musnad Imam Ahmad dari hadis Miswar bin Makhramah dan Marwan bi  al Hakam. (Lihat juga Ad Durrul Mantsûr,6/74 ketika menafsirkan ayat 24-25 surah al Fath).

[9] Ad Durrul Mantsûr,6/74 ketika menafsirkan ayat 24-25 surah al Fath.

22 Tanggapan

  1. KONCO DEWE JANGAN DIKELUARKAN PAK JAKFARI

    INI ADA ARTIKEL WAHABI GOTEK YG MUTER2 DAN BIKIN SYUBHAT
    KARENA ALBANI SHAHIKAN HADIS TSAQOLAIN DAN MAN KUNTU MAULAHU

    INI BISA DIBIKIN ARTIKEL

    SUMBER: http://www.dd-sunnah.net/forum/showthread.php?t=93756

    TTG PENSHAHIANNYA ANTUM LIAT DI SITUS ALBANI INI:

    http://www.alalbany.net/books_view.php?id=5448&search=%E3%E4%20%DF%E4%CA%20%E3%E6%E1%C7%E5&book=sahiha

    الحمد لله رب العالمين

    من المعلوم أن كل روايات ( كتاب الله وعترتي ) ضعيفة بكل طرقها
    وإنها لا تصح ن النبي صلى الله عليه وسلم ولكننا نجد محدث الامة
    الإمام الألباني رحمه الله تعالى صحح هذه الرواية ..

    ولكن نرى أن الرافضة وأذنابهم من الباطنية يتمسكون بتصحيح الإمام
    الالباني رحمه الله تعالى لهذا الحديث متجاهلين بذلك القرينة التي صحح
    على أثرها الإمام الألباني رحمه الله هذا الحديث وتصحيحه له كان بسبب
    أمرٍ وفهمه للحديث على أثر فهمه صحح الحديث ..

    فلم يكن تصحيح الألباني بناء على فهم الرافضة والباطنية وإن إستدلوا
    به عليهم أن يلزموا أنفسهم بما أرادوا أن يلزمونا به فأن أعترفوا به
    وبتصحيح الألباني للحديث حجة على أهل السنة فإننا نقول للباطنية
    عليكم أن تقروا بتصحيح الالباني لنص الحديث وفهمه له ..

    فقال الإمام الألباني رحمه الله تعالى :

    [ من كنت مولاه فعلي مولاه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه ] . صحيح انظر طرقه وشواهده في الكتاب فهي كثيرة . وأولها عن أبي الطفيل عنه قال : لما دفع النبي صلى الله عليه وسلم من حجة الوداع ونزل غدير خم أمر بدوحات فقممن ثم قال : كأني دعيت فأجبت وإني تارك فيكم الثقلين أحدهما أكبر من الآخر : كتاب الله وعترتي أهل بيتي فانظروا كيف تخلفوني فيهما فإنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض ثم قال : إن الله مولاي وأنا ولي كل مؤمن . ثم إنه أخذ بيد علي رضي الله عنه فقال : من كنت وليه فهذا وليه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه . صحيح . وأما ما يذكره الشيعة في هذا الحديث وغيره أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : في علي رضي اله عنه : إنه خليفتي من بعدي . فلا يصح بوجه من الوجوه . بل هو من أباطيلهم الكثيرة . تابع الموضوع في الكتاب

    ولم ينتهي الموضوع على هذا النحو فإن الإمام الألباني صحح
    الحديث ولكن تصحيحه كان لقرينةٍ وفهمه لنصوص الحديث وإليكم
    ما قاله الإمام الألباني رحمه الله تعالى في هذا الحديث

    [ يا أيها الناس ! إني قد تركت فيكم ما إن أخذتم به لن تضلوا ؛ كتاب الله وعترتي أهل بيتي ] . ( صحيح بشواهده ) . انظر الشرح الطويل في الكتاب وخلاصته : أن الحديث صحيح بعد التأكد من تخريجه وإن قال بعضهم بتضعيفه . وأن كلمة عترتي يعني بها أهل بيته كما جاء في بعض طرق الحديث وأهل بيته في الأصل هم نساؤه صلى الله عليه وسلم وفيهن الصديقة عائشة رضي الله عنهن جميعا وتخصيص الشيعة أهل البيت في آيات القرآن بعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهم دون نسائه صلى الله عليه وسلم من تحريفهم لآيات الله تعالى انتصارا لأهوائهم . تابع التفصيل في الكتاب فهو مهم ومفيد .

    فإن الإمام الألباني رحمه الله صحح الحديث لأن أهل البيت
    المراد بهم في هذا الحديث هم نساء وأولهن وعلى رأسهن
    الصديقه بنت الصديق عائشة سلام الله عليها ..

    فيسقط الإستدلال بحديث الثقلين من الباطنية والرافضة
    لأن تصحيح الامام الالباني كان بقرينة كون أهل بيت
    النبي هن نساءه وعلى رأسهن أم المؤمنين سلام الله عليها
    عائشة الصديقة بنت الصديق ,,

    فحججكم بارداتٌ واهيات لا قيمة لها ولا أساس

    كتـبه /
    تقي الدين السني

  2. Ass. Wr wb.

    Salam sejahtera untuk Ustd Jakfari. Sekian lama saya bertandang ke blok ustad tak terposting tulisan baru. Alhamdulillah setelah menunggu cukup lama, akhirnya tulisan Ustad yang mencerahkan hadir juga.
    Salam takzim

  3. pertamax…..

  4. kesimpulannya yang tergesa gesa……saya pikir persoalan Nabi Muhammad adalah persoalan mu’amalah..jangan dikaitkan dengan persoalan ketundukan dalam masalah ibadah dan ketauhidan….

  5. kang jakfari, sediakah antum jika ada waktu untuk membantah argumen tendensius nan konyol nashibi di thread kaskus ‘sejarah syiah’ ini http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10473131
    ini thread syiah yg ingin menjelaskan sejarah munculnya syiah dg sebenar-benarnya, namun spt biasa kaum nashibi sok benar itu datang2 langsung mendistorsi bahkan ada yg membela yazid disitu. saya sbg awam yg sdg mempelajari ahlulbait nabi tidak berkompeten apa2 selain menyimak.
    berhubung kang jakfari jago dan amat berkompeten ttg syiah, saya harap bantuan antum utk meluruskan argumen ngaur nashibi disitu. dikhawatirkan meracuni persepsi para awam.

  6. Mau tanya ustadz, Kenapa untuk menunjukkan identitas diri bahwa kita baik dan benar saja, kita harus sambil mencaci maki ??

    Bukankah Alloh berfirman dalam surah alHujurat[49] ayat 11:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُن

  7. anda itu terlalu berlebihan dalam memaknai hadis imam bukhari itu,,jngan terlalu provokatif dalam mengartikan kata ustadz,,Sayyidin Umar Ra adalah satu dari seuluh orang yang masuk surga langsung tanpa taftisy, apa anda mau membantah hadits ini,,,begitulah khalifah kedua yang kekokohan imannya membuat dia tak mau islam dinjak injak, bukan seperti anda yang malah menginjak nginjak bahkan mengobrak abrik islam,,anda tau gak kalo Ali bin Abi halib Ra juga pernah membangkang kepada rasul…?

    _______________

    Ibnu Jakfari:

    Akhi, saya hargai perasaan Anda… Tapi tolong buktikan kalau hadis tentang 10 sahabat yang dijamin masuk surga itu memang shahih! Saya tidak atau lebih tepatnya belum membantah hadis itu!
    Oh ya?! Benarkah Imam Ali as pernah membangkang Nabi saw.?! Di mana? dalam kasus apa?
    Kelihatanya kalau Anda mulai menampakkan jiwa asli kalian yang membenci dan tidak hormat kepada Sayyidina Ali ra.!
    Kata kalian semua sahabat udul…. udul kok membangkang?! Apa bisa ketemu antara keduanya ya?!

  8. inilah para penghancur ummat dan islam yg hakiki.. si syiah dan si sunni hanya berperang karena hal sepele dan dunia (politik), bukan krn Allah. mereka tidak malu pada Nabi…. SI syiah dan si sunni yang saling menghina ini, merekalah syaithan la’natullah….. mereka syaithan berwajah manusia. Mudah2an mereka dikutuk Allah!!!!!!!!!!!!

  9. Kapan Ya Saudi Arabia Ma Iran Perang ? terus Muslim Indonesia ngebantuin yang mana ya kira-kira ? Israel bisa nonton perang ma minum beer dah.

    __________
    Ibnu Jakfari:

    Kenapa anda menginginkan perang yang menguntungkan musu-musuh Islam zionis & Amerika.
    dan menghancurkan Dunia Islam baik Arab maupun Persia?

  10. apa citer ni?

  11. assalamualaikum
    hmmm…., pak ustadz kudu belajar lgi nih,,
    kasian sama gelar yg antum sandang,,,

  12. Ahlan wasahlan.
    Hallo prend, kamu sepertinya lupa sesuatu yang telah “rela disunat dan dipangkas total”.
    Rekanan vowel diselipkan untuk memanuis kata.

    Ayat ayat Qur’an yang diubah ataw teksnya yang beda bacaaan?
    Para Ahlul bait sengaja diplonco , diatas namakan, dibuang tapi nama nama yang bersangkutan diangkat dan dipakai untuk tameng untuk mendapatkan nobel perdamaian.
    ─► https://jakfari.wordpress.com/2012/01/30/fatwa-sayyidina-umar-boleh-hukumnya-merubah-rubah-teks-suci-al-quran/

    Coba perhatikan:
    Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab Musnad-nya,4/30:

    قرأ رجل عند عمر فَغَيَّر عليه فقال: قرأت على رسول الله (ص) فلم يغير علي! قال فاجتمعنا عند النبي (ص) قال فقرأ الرجل على النبي (ص) فقال له: قد أحسنت! قال فكأن عمر وجد من ذلك فقال النبي (ص): يا عمر إن القرآن كله صواب، ما لم يجعل عذاب مغفرة أو مغفرة عذاباً!!

    “Ada seorang membaca Al Qur’an di sisi Umar, lalu ia meralatnya, orang berkata, ‘AKu membacanya demikian di hadapan Rasulullah saw. dan beliau tidak menyalahkanku!’ Umar berkata, “Maka kami berkumpul di sisi Nabi saw., orang itu membacakannya kepada Nabi saw. dan beliau pun bersabda untuknya, ‘Engkau telah berbuat baik!’ Perawi berkata, ‘Maka Umar sepertinya tidak enak hati, maka nabi saw. bersabda kepadanya, “Hai Umar selurh bentuk bacaan Al Qur’an itu benar, selama ayat siksa tidak dijadikan ayat ampunan dan ayat ampunan dijadikan ayat siksa.

    Pertanyaannya: teksnya ataw maknanyakah yang berubah,sama tidak teks dengan arti?

    Renungkan Firman Allah SWT:

    Qs Al-Baqarah:74
    Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai- sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.

    Semoga mampu melaksakan ayat diatas untuk sebuah ibadah.
    Aamiin.
    Balas ↓
    ___________________

    Siapa tau?! Bukankah kaum nashibi panutan kaum Salafi Wahhâbi dahulu juga menuduh Imam Syafi’i, Imam an Nasa’i, Imam Sibthu Ibnu Jauzi dan lainnya sebagai Syi’ah Rafidhah! Kaum Sesat! Karena kecintaannya kepada Ahlulbait dan ketegasan sikapnya terhadap du’âtu ilan nâr/para penganjur kepada neraka jahannam; Mu’awiyah, Yazid dan tentara setan lainnya!

    Kita nanti saja sampai dimana ulah bodoh kaum Salafi Wahhâbi yang sedang menanti kehancuran dan kematian rezim Wahhâbi yang sedang sekarat dan para emirnya sedang menanti giliran panggilan malaikat maut untuk dikumpulkan bersama Fir’aun, Namruth, Qadzdzâfi, Saddam Husain dan fir’aun-fir’aun lainnya!
    https://jakfari.wordpress.com/2011/11/05/sayyidina-umar-bin-khaththab-ra-di-mata-imam-bukhari/

    Wassalam.

  13. maaf terima kasih sebelumnya
    kepada ikhwan saya ingin menyakan siapakah sebenarnya
    Imam Mahdi, sudah lahir atau belum ?
    terima kasih sebelumnya

    Ibnu Jakfari Menjawab:
    Dalam keyakinan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah dannjuga banyak kalangan ulama Ahlusunnah, Imam al Mahdi as sudah lahir beliau adalah Muhammad bin Hasan al Askari.
    Sddangkan yang masyhur di kalangan Ahlusunnah beliau belum lahir.

  14. sy sjk kcl blajr agma,tnp tau organisasi/aliran islam.yg sy tau islam y islam…hingga dewasa sy knl dg nu,muhamdyah,syiah,sunni dll.sy bljr apa itu syiah,sunni n lainnya.tp hgg skg sy tdk bs memahami jln pikrn para pganut alirn ini.
    Islam adl agama ALLAH SWT,yg dturunkn dg sgl ksedrhanaan dan kedamaian plaksanaanx.tp org2 ini trlalu brpikir rumit dan picik…
    sy ini org awam yg tdk pandai meriwayatkn hadist,tp 1hal yg sy tau..hny ALLAH SWT yg tau keimanan ssorang,trmasuk para sahabt yg brjuang dg keikhlasan hati ato dg mgharapkn sesuatu.qt ini hny mns yg tdk bs mnilai mksd hati mns lain,kdg qt pun tdk bs memahami diri sndiri krn sdh trtutup nafsu setan.
    smoga qt smua slalu ditunjukn hidayah-NYA.amin..salm saudara seiman

  15. sYa islam bukan sunni atw syiah. tolong keluArkn hadis shahih yg rasul bicar ttg syiah atw sunni? bacalah khotbah terakhir rasul. jelas disitu….

  16. @aidi
    Kata Syiah dlm AlQur’an:
    Kata “Syiah” bermakna “ pengikut” ; “anggota dari suatu golongan”. Allah telah menyebutkannya di dalam Quran bahwa beberapa hamba-Nya yang saleh (para nabi) adalah syiah bagi hamba-hamba lain-Nya yang saleh.
    Dan sungguh Ibrahim termasuk dari Syiah-nya (Nuh)
    (Quran 37:83)
    Dan dia (Musa) masuk ke kota ketika penduduknya sedang lengah, dan dia mendapati padanya dua laki-laki berkelahi. Seorang dari Syiahnya (Bani Israil) dan yang seorang lagi dari golongan musuhnya (Qibthi). Maka yang dari golongannya itu meminta pertolongan dari golongan musuhnya. (Quran 28:15)
    Jadi Syiah adalah kata resmi yang digunakan Allah di dalam Alquran-Nya untuk para nabi-Nya yang agung juga para pengikutnya.
    Jika seseorang adalah Syiah (pengikut) dari hamba-Nya yang saleh, maka tidak ada yang salah untuk menjadi seorang Syiah. Di sisi lain, jika seseorang menjadi Syiah dari seorang tiran atau penjahat, dia akan bernasib sama dengan pemimpinnya. Alquran menyatakan bahwa di hari kebangkitan seseorang akan datang berkelompok, dan setiap kelompok memiliki pemimpin (imam) di depannya. Allah berfirman:
    (Ingatlah) pada hari di mana setiap orang dipanggil bersama imamnya
    (Quran 17:71)

    Kata ‘Syiah’ dlm hadis Nabi Saw:
    Nabi saw. berkata kepada Ali: “Ini adalah untuk engkau dan Syiahmu”
    Beliau saw melanjutkan perkataannya: “Saya berjanji dengan Dia yang mengatur kehidupan saya bahwa orang ini (Ali) dan Syiahnya akan selamat di hari kiamat”
     Jalal al-Din al-Suyuthi, Tafsir al-Durr al-Manthur, (Kairo) jil. 6, hal. 379
     Ibn Jarir al-Tabari, Tafsir Jami’ al-Bayan, (Kairo) jil. 33, hal. 146
     Ibn Asakir, Ta’rikh Dimashq, vol. 42, hal. 333, hal. 371
     Ibn Hajar al-Haytsami, al-Sawa’iq al-Muhriqah, (Kairo) Ch. 11, Bab 1, hal.246-247
    Nabi saw berkata: “Wahai Ali! (Pada hari kiamat) engkau dan Syiahmu akan datang kepada Allah dalam keadaan diridai dan meridai, juga akan datang pada-Nya musuh-musuhmu dgn marah dan leher mereka yang kaku (kepala mereka dipaksa melihat ke atas).
     Ibn al-‘Atsir, al-Nihaya fi gharib al-hadith, (Beirut, 1399), jil. 4 hal. 106
     al-Tabarani, Mu’jam al-Kabir, jil. 1 hal 319
     al-Haytsami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 9, nomor 14168
    Nabi saw. berkata : “Berbahagialah, wahai Ali! Sesungguhnya engkau dan Syiahmu akan berada di surga.”
     Ahmad bin Hanbal, Fadha’il al-Sahaba, (Beirut) jil. 2, hal. 655
     Abu Nu’aym al-Isbahani, Hilyatul Awliya, jil. 4, hal. 329
     al-Khatib al-Baghdadi , Tarikh Baghdad, (Beirut) jil. 12, hal. 289
     al-Tabarani, Mu’jam al-Kabir, jil. 1, hal. 319
     al-Haytsami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 10, hal. 21-22
     Ibn ‘Asakir, Ta’rikh Dimashq, jil. 42, hal. 331-332
     Ibn Hajar al-Haytsami, al-Sawa’iq al-Muhriqah, (Kairo) bab. 11, bag. 1, hal. 247

  17. Isi sejarah dlm hadist semua jelas,cuma generasi yg dtg kemudian salah mengambil tafsiran,sgh disayangkan

  18. ini bukan artikel org islam.bukan sunni.bukan syiah.bukan wahabi.
    lihatlah bahasanya.syarat dengan kebencian.kebencian terhadap islam.syarat dg tujuan.utk menghancurkan islam
    ini artikel non muslim yg menyamar menjadi org muslim utk mengadu domba.
    ketahuilah orf kafir non muslim otak dan hati anda tdk sama dg org islam oleh krn itu apa yg anda ulas ttg hadis dan berpura2 muslim.hasilnya ialah kebencian yg keluar lewat tulisan.islam baik itu sunni syiah wahabi salafi atau apapun itu yg namanya islam percaya allah.rasul nabi muhamad dan alquran hadis.itu pasti.kalau ada perbedaan di sisi yg lainnya
    wahai kafir non muslim yg menyamar menjadi muslim kami tdk akan tertipu oleh adu domba syaiton sepertimu

  19. […] Sayyidina Umar bin Khaththab ra. Di Mata Imam Bukhari ! […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: