Fatwa Sayyidina Umar: Boleh Hukumnya Merubah-rubah Teks Suci Al Qur’an!

Apa pendapat Anda tentang fatwa di bawah ini: “Tidak ada kewajiban membaca Al Qur’an sesuai dengan teks asli yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw., baik dalam shalat maupun di luar shalat! Tetapi boleh hukumnya mebaca Al Qur’an dengan redaksi apapun asal sesuai dengan maknanya atau yang mirip dengan maknanya! Yang penting jangan Anda rubah ayat tentang azab/siksa/murka menjadi ayat rahmat atau sebaliknya. Barang siapa membacanya Al Qur’an sesuai dengan syarat di atas maka bacaannya sah dalam pandangan syari’at! Dia adalah Qur’an yang diturunkan Allah. Sebab Allah telah mengiznkan manusia membaca Kitab suci terakhir dan mu’jizat Nabi-Nya dengan redaksi apapun yang kita buat sendiri dengan memerhatikan syarat sederhana di atas!

Kira-kira apa tanggapan dan sikap Anda terhadap fatwa seperti di atas? Mungkin Anda akan mengatakan di pencetus fatwa di atas adalah seorang yang fasik atau bahkan kafir!

Tetapi jangan terburu-buru dan gegabah menvonisnya dengan vonis apapun, sebab fatwa itu telah dicetuskan oleh Sayyidina Umar, Khalifah Nabi saw.!

Sumber Fatwa Sayyidina Umar

Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab Musnad-nya,4/30:

قرأ رجل عند عمر فَغَيَّر عليه فقال: قرأت على رسول الله (ص) فلم يغير علي! قال فاجتمعنا عند النبي (ص) قال فقرأ الرجل على النبي (ص) فقال له: قد أحسنت! قال فكأن عمر وجد من ذلك فقال النبي (ص): يا عمر إن القرآن كله صواب، ما لم يجعل عذاب مغفرة أو مغفرة عذاباً!!

“Ada seorang membaca Al Qur’an di sisi Umar, lalu ia meralatnya, orang berkata, ‘AKu membacanya demikian di hadapan Rasulullah saw. dan beliau tidak menyalahkanku!’ Umar berkata, “Maka kami berkumpul di sisi Nabi saw., orang itu membacakannya kepada Nabi saw. dan beliau pun bersabda untuknya, ‘Engkau telah berbuat baik!’ Perawi berkata, ‘Maka Umar sepertinya tidak enak hati, maka nabi saw. bersabda kepadanya, “Hai Umar selurh bentuk bacaan Al Qur’an itu benar, selama ayat siksa tidak dijadikan ayat ampunan dan ayat ampunan dijadikan ayat siksa.” [1]

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Musa al Asy’ari dari Nabi saw. beliau  bersabda:

أتاني جبريل وميكائيل فقال جبريل إقرأ القرآن على حرف واحد، فقال ميكائيل استزده، قال إقرأه على سبعة أحرف كلها شاف كاف، ما لم تختم آية رحمة بعذاب أو آية عذاب برحمة!!.

“Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Bacalah Al Qur’an dengn satu huruf!’ Mikail berkata (menasihati Nabi saw.). ‘Mintalah tambah!’ ia berkata, ‘Bacalah dengan tujuh huruf, semuanya melegahakan dan cukup selama engkau tidak menutp ayat rahmat dengan siksa atau ayat siksa dengan rahmat.’”[2]

Imam as Suyuthi dalam Itqân-nya,1/168 berkata:

وعند أحمد من حديث أبي هريرة: أنزل القرآن على سبعة أحرف، عليماً حكيماً غفوراً رحيماً.

“Dan pada riwayat Ahmad dari hadis Abu Hurairah, “Al Qur’an diturunkan atas tujuh huruf, ‘alîman hakîman, ghafûran rahîman.

Ia juga menyebutkan hadis Umar bahwa:

إن القرآن كله صواب ما لم تجعل مغفرة عذاباً أو عذاباً مغفرة.

“Sesungguhnya bacaan Al Qur’an itu semuanya benar, selama engkau tidak menjadikan ayat ampunan sebagai siksa dan ayat siksa sebagai ampunan.”

Dan ia mengatakan sanad hadis-hadis di atas adalah bagus/jiyâd!

Dan untuk melihat lebih lanjut hadis-hadis seperti di atas yang mengerikan baca: At Târîkh al Kabîrnya Imam Bukhari,1/381, Usdul Ghâbah,5/156 dan Kanz al Ummâl,1/550,618,619 dan 2/52 dan 603.

Imam ath Thabari menambahkan dalam tafsirnya,1/34 dari hadis putra Abu Musa bahwa malaikat Mikail membantu ayahnya dan Umar, ia (Mikail) mengajarkaan kepada Nabi saw. agat tidak menerima jika hanya diajarti Jibril satu model (huruf) bacaan Al Qur’an saja, ia menyurhnya meminta tambah.

Dari Abu Bakrah dari ayahnya (Abu Musa) ia baerkata, “Rasulullah saw. bersabda:

قال جبريل: إقرءوا القرآن على حرف، فقال ميكائيل: استزده، فقال على حرفين، حتى بلغ ستة أو سبعة أحرف فقال: كلها شاف كاف ما لم يختم آية عذاب برحمة، أو آية رحمة بعذاب، كقولك هلم وتعال)!

“Jibril berkata, ‘Bacalah Al Qur’an dengan satu huruf.’ Mikail berkata (kepada Nabi saw.), ‘Mintalah tambah!’ Jibril berkata, ‘Dengan dua huruf.’ Dan Nabi saw. terus minta tambah sehingga mencapai tujuh huruf. Ia berkata, ‘Semuanya melegahkan dan cukup selama ayat siksa tidak dirubah menjadi ayat rahmat dan selama ayat rahmat tidak dirubah menajdi ayat saksa, seperti bacaan kamu, halumma dan ta’âl.”[3]

Maksudnya redaksi halumma boleh Anda rubah bacaannya menjadi ta’âl atau sebaliknya sebab kedua kata itu maknanya sama: kemarilah!

Ibnu Jakfari Bertanya:

  1. Apa pendapatmu tentang konsep bacaan Al Qur’an di atas? Bukankah konsep ini merupakan bom waktu yang akan segera meledak dan memporak-porandakan kesucian teks Al Qur’an yang diandalkan sebagai mu’jizat utama Nabi saw.?! Apakah akal waras Anda menerima dan setuju bahwa fatwa sesat di atas dinisbatkan kepada Nabi saw.?
  2. 2.      Apakah Sayyidina Umar memiliki hak untuk memporak-porandakan teks suci Al Qur’an hanya dengan memberinya kunci: selama ayat siksa tidak dirubah menjadi ayat rahmat dan selama ayat rahmat tidak dirubah menajdi ayat saksa! Sementara Nabi saw. saja tidak diberikan hak seperti itu bahwa diancam jika merubah-rubah tesk suci Al Qur’an! Baca ayat:

 وَ إِذا تُتْلى‏ عَلَيْهِمْ آياتُنا بَيِّناتٍ قالَ الَّذينَ لا يَرْجُونَ لِقاءَنَا ائْتِ بِقُرْآنٍ غَيْرِ هذا أَوْ بَدِّلْهُ قُلْ ما يَكُونُ لي‏ أَنْ أُبَدِّلَهُ مِنْ تِلْقاءِ نَفْسي‏ إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ ما يُوحى‏ إِلَيَّ إِنِّي أَخافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذابَ يَوْمٍ عَظيمٍ

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: “Datangkanlah Al Qur’an yang lain dari ini atau gantilah dia”. Katakanlah: “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)”.(QS. Yunus;15)

  1. 3.      Jika kalian mendustakan hadis-hadis di atas dan banyak selainnya dalam masalah ini, sementara ia adalah shahih dan bersanad jayyid dan kuat dan para perawinya jujur terpercaya, maka siapakah menurut kalian yang berbohong dan memalsu atas nama Nabi saw. agar kita dapat berhati-hati dari kepalsuan dan kebohongannya dalam masalah lain juga?!

Fatwa Ulama Ahlusunnah Membolehkan Merusak Teks Suci Al Qur’an!

Apa yang disebutkan dalam hadis-hadis yang shahih menurut Ahlusunnah itu ternyata tidak hanya sekedar menjadi bacaan untuk mengisi waktu-waktu nganggur para ulama… tetapi merekla benar-benar serius dalam menjakankan polotik pengrusakan teks suci walaupun kami yakin niatan para ulama Sunni itu baik, semata karena kepatuhan mereka kepada Sunnah Nabi saw.!

Untuk lebih singkatnya dan agar Anda tidak curiga bahwa saya mengada-ngada atas nama ulama besarv Ahlusunnah  dalam masalah ini, saya segera sajikan untuk Anda fatwa-fatwa mereka:

  • Imam asy Syafi’i berfatwa dalam kitabnya al Umm,1/142:

وقد اختلف بعض أصحاب النبي في بعض لفظ القرآن عند رسول الله (ص) ولم يختلفوا في معناه، فأقرهم وقال: هكذا أنزل، إن هذا القرآن أنزل على سبعة أحرف فاقرؤوا ما تيسر منه!! فما سوى القرآن من الذكر أولى أن يتسع هذا فيه إذا لم يختلف المعنى!

 “Sebagian sahabat Nabi telah berselisih tentang teks Al Qur’an di sisi Rasulullah saw. dan mereka tidak berselish tentang maknanya, dan beliau pun membenerkan mereka semua atas bacaannya dan bersabda, ‘Begitulah ia diturunkan. Sesungguhnya Al Qur’an diturunkan atas tujuh huruf. Maka bacalah sesuai yang mudah bagimu darinya.” Maka (kata Syafi’i) pada selain teks Al Qur’an, seperti dzikir lebih berhak dibolehkan merubah teksnya selama tidak merubah maknanya.

Ia juga berkata:

وليس لأحد أن يعمد أن يكف عن قراءة حرف من القرآن إلا بنسيان، وهذا في التشهد وفي جميع الذكر أخف.

“Dan tidaklah bagi seseorang itu menyengaja mencegah dari bacaan sebuah huruf Al Qur;’an melainkan dikerenakan kelupaan. Dalam pada masalah bacaan tasyahhud dan dzikir lainnya lebih ringan hukumnya.”

Al Baihaqi berkata dalam kitab Sunan-nya,2/145:

قال الشافعي: فإذا كان الله برأفته بخلقه أنزل كتابه على سبعة أحرف، معرفة منه بأن الحفظ قد نزر ليجعل لهم قراءته وإن اختلف لفظهم فيه، كان ما سوى كتاب الله أولى أن يجوز فيه اختلاف اللفظ ما لم يخل معناه!)

“Asy Syafi’i berkata, ‘Jika Allah dengan kemaha lembutan-Nya atas hamba-Nya telah menurunkan al Kitab (Al Qur’an) dengan tujuh huruf/bacaan, karena Dia mengetahui bahwa menghafal/memelihara teks tunggal itu telah langka, agar dibukakah jalan untuk mereka membacanya walaupun dengan ragam teks yang berbeda, maka untuk selain Al Qur’an lebih boleh dibaca berbeda redaksi/teksnya selama maknanya tidak rusak.”

Dan selain fatwa Imam Syafi’i, fatwa para imam dan ulama mazhab Sunni lainnya juga sama!

Lalu, kira-kira, apa yang bakal tersisa dari teks suci asli Al Qur’an yang Allah wahyukan?

Bukankah fatwa ini seruan berbahaya atas keotentikan wahyu laingi terakhir?!

Bukankah ini ajakan untuk beramao-ramai agar umat Islam mentahrif Al Qur’an?!


[1] Al Haitsami dalam Majma’ az Zawâid,7/150 dan ia berkata, “Hadis ini diriwayatkan Ahmad dan seluruh perawi jujur terpercaya.

[2] Majma’ az Zawâid,7/150 dan ia berkata, “Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan ath Thabarani dengan redaksi serupa hanya saja ada tambahan, ‘Pergi dan berpalinglah. Dalam hadis itu ada perawi bernama Ali ibn Zaid ibn Jadz’ân, ia jelek halafalannya. Tetapi hadisnya telah didukung oleh perawi lain, sedangkan peraewi lainnya dalam jalur Ahmad adalah parawi shahih.

[3] Pada catatan kaki tafsir eth Thabari disebutkan: Hadis ini diriwayatkan Ahmad dalam Musnad,7 hadis no.20447 dengan singkas dan pada 7 hadis no.20537 dengan redaksi serupa tapi ada tambahan, seperpi bacaanmu: تعال، وأقبل، وهلم واذهب، وأسرع وأعجل

10 Tanggapan

  1. @jakfari

    “Dan ia mengatakan sanad hadis-hadis di atas adalah bagus/jiyâd!”

    Komentar saya:
    Mungkin yang Anda (maksud, red) adalah bagus/jayyid.

    ________

    Ibnu Jakfari:
    Jiyad adalah bentuk jamak dari jayyid. Syukran Katsiran.

  2. Asww, marilah kita hindarkan pembahasan yang akan memicu perselisihan di kalangan muslimin. Umat Islam di Indonesia sedang butuh persatuan, maka mari kita jaga ukhuwwah dengan menghormati ajaran madzhab masing2, serta orang2 yang dimuliakan oleh masing madzhab dalam Islam.
    Berikut fatwa Rahbar AyatuLlah Uzhma Sayyid Ali Khamenei Al Husayni : “diharamkan melakukan penghinaan terhadap (tokoh-tokoh yang diagungkan) ahlusunah waljemaah apalagi melontarkan tuduhan terhadap istri nabi saw. dengan perkataan-perkataan yang menodai kehormatannya, bahkan tindakan demikian haram dilakukan terhadap istri-istri para nabi terutama penghulu mereka Rasul termulia.”
    Wassalam.

    Ibni Jakfari:

    Setuju.

  3. ya akhi tolong saya dalam kesempatan ini karena ada beberapa pertanyaan yang saya gak bisa jawab,tolong saya dalam kesempatan ini untuk menjawabnya dari pertanyaan kerabat SYI’ah jakfari:

    1. alqur’an turun melalui jibril ke rosulullah apakah bahasanya sama dengan bahasa allah ke jibril saat di alam arasy, dan apakah sudah sesuai dari fragmen kata dan tata bahasanya, sesuai dialeknya dengan bahasa rosul dahulu/bahasa usman/ali atau bahkan sudah berubah sama sekali dialeknya spt sekarang ini (pembuktian logisnya seperti apa tolong sumbernya mungkin googlingnya), cara membacanya, apakah sampai saat ini masih asli/sudah berubah.bila asli dimana letak keasliannya dan bila bukan asli dimana bukannya di susunan kata yang mana dan surat alqur’an yang mana, tolong kepresisian jawabannya sesuai fakta dan tidak 1 sudut saja.
    2.dan saat rosulullah bertemu dengan allah saat isro miraj allah memperkenalkan jati dirinya, siapa nama namanya, siapa nama jasadnya, saiapa nama nurnya siapa nama ruhnya siapa nama sir ruh dzatnya, siapa namanya dan siapa dikiri kanannya, tolong dibabar berdasarkan hadisnya..karena imam alipun punya hadisnya dan penjelasannyapun harus sama dengan imam ja’far dan 4 mazhab lainnya karena mereka memberikan pendapat beserta alasan dan faktanya..(itu bila baca hadiz secara lengkap/tidak terpisah/pisah alias bukan rangkuman hadis yang ada sekarang ini)
    3.antara bumi dan langit, surga dan neraka, lapisan setiap langit dan bumi ada beapa lapis siapa yang menjaganya dan asma allah apa yang menghijabnya, tolong disebutkan
    4. andaikan ada huruf alif, bagaimana rupa alif sesungguhnya di alam robbani, dia berada di arah mana hadirnya, di alam dan lapis berapa adanya, di bumikah dilangitkah, di hari apa jumpanya dan saat apa.
    sejujurnya masih banyak pertanyaan dari orang sebodoh saya, namun cukuplah dengan pertanyaan singkat dan ringan ini di ajukan ke imam husein dan kelak menjadi bahan parameter dan wawasan saya. wasalam

    • bagi sy anda bung, sangat tidak sopan. menisbatkan nama anda dengan seorang manusia mulya yg di sucikan…..menulis nama Allah dengan ‘a’ kecil….benar-benar anda orang yg kurang Ilmu…

      jika anda sungguh2 ingin mencari Ilmu….kedepankan dahulu akhlak anda, terutama dalam hal di atas yg sy singgung. salam

  4. Ahlan wasahlan.
    Hallo prend, kamu sepertinya lupa sesuatu yang telah “rela disunat dan dipangkas total”.
    Rekanan vowel diselipkan untuk memanuis kata.

    Ayat ayat Qur’an yang diubah ataw teksnya yang beda bacaaan?
    Para Ahlul bait sengaja diplonco , diatas namakan, dibuang tapi nama nama yang bersangkutan diangkat dan dipakai untuk tameng untuk mendapatkan nobel perdamaian.
    ─► https://jakfari.wordpress.com/2012/01/30/fatwa-sayyidina-umar-boleh-hukumnya-merubah-rubah-teks-suci-al-quran/

    Coba perhatikan:
    Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab Musnad-nya,4/30:

    قرأ رجل عند عمر فَغَيَّر عليه فقال: قرأت على رسول الله (ص) فلم يغير علي! قال فاجتمعنا عند النبي (ص) قال فقرأ الرجل على النبي (ص) فقال له: قد أحسنت! قال فكأن عمر وجد من ذلك فقال النبي (ص): يا عمر إن القرآن كله صواب، ما لم يجعل عذاب مغفرة أو مغفرة عذاباً!!

    “Ada seorang membaca Al Qur’an di sisi Umar, lalu ia meralatnya, orang berkata, ‘AKu membacanya demikian di hadapan Rasulullah saw. dan beliau tidak menyalahkanku!’ Umar berkata, “Maka kami berkumpul di sisi Nabi saw., orang itu membacakannya kepada Nabi saw. dan beliau pun bersabda untuknya, ‘Engkau telah berbuat baik!’ Perawi berkata, ‘Maka Umar sepertinya tidak enak hati, maka nabi saw. bersabda kepadanya, “Hai Umar selurh bentuk bacaan Al Qur’an itu benar, selama ayat siksa tidak dijadikan ayat ampunan dan ayat ampunan dijadikan ayat siksa.

    Pertanyaannya: teksnya ataw maknanyakah yang berubah,sama tidak teks dengan arti?

    Renungkan Firman Allah SWT:

    Qs Al-Baqarah:74
    Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai- sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.

    Semoga mampu melaksakan ayat diatas untuk sebuah ibadah.
    Aamiin.

  5. dalam hadis berkenaan al – quran diturunkan dalam tujuh huruf.majoriti ulama ahlissunah berpendapat ia bermaksud ‘tujuh sebutan / dialects bahasa arab’ yang ada ketika itu dan bukannya menukarkan maksud / terjemahan al quran..sayidina umar tidak pernah mengubah maksud al quran.allahu alam

  6. berkenaan hadis yg disampaikan dalam musnad ahmad, umar bukannya meralati makna bacaan ayat al quran itu, tetapi beliau sebenar menyanggah cara bacaan dan sebutan orang yang menjadi imam sembahyang itu.

  7. […] Fatwa Sayyidina Umar: Boleh Hukumnya Merubah-rubah Teks Suci Al Qur’an! […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: