Syi’ah Dan Abdullah ibn Saba’ (Bagian 3)

Komentar Para Ulama’  Dan Pakar Tentang Hakikat Abdullah bin Saba’ dan Saba’iyah (I)

Dengan memperhatikan hal-hal yang menyelimuti kisah Ibnu Saba’ dan peran yang dimaikannya, para pemerhati sejarah perjalanan dan perkembangan Islam dan sejarah kemunculan faksi-faksi dan sekte-sekte di tengan-tengah masyarakat Islam berusaha mengungkap hakikat dongeng Abdullah ibn Saba’ dan gerakan Saba’iyah yang dipimpinnya dan akhirnya mereka sampai pada sebuah kesimpulan bahwa kisah Ibnu Saba’ dan Saba’iyah tiada lain hanya dongeng yang dikarang oleh musuh-musuh Syi’ah, kemudian kisah tersebut menggelinding di sepanjang masa sehingga sebagian dengan tega mengatakan bahwa sebagian sahabat Nabi yang dikenal wara’ dan taqwa terjatuh dalam perangkap tipu daya dan kejahatan Ibnu Saba’ si Yahudi yang memeluk Islam hanya untuk maker dan merusaknya.

Dan dari penelitian mereka yang seksama Anda dapat memahami alasan yang melatar belakangi kesimpulan mereka dan ia tidak  sekedar kesimpulan yang tidak beralasan.

Dibawah ini kami akan sebutkan beberapa komentar para pakar dan peneliti tersebut.

Komentar  Doktor Thaha Husain

Kami awali dengan menyebut komentar tokoh sastra Arab, cendikiawan Mesir dan penulis kondang; DR. Thaha Husain di mana pada jilid pertama kitabnya al Fitnah al Kubrâ menyatakan keraguannya akan keberadaan pribadi Abdullah bin Saba’. Kemudian kembali pada jilid kedua menegaskan penolakannya akan keberadaanya dan menganggapnya sebagai tokoh fiktif, ia mengatakan, “Sebagian berpendapat bahwa ia (Ibnu Saba’) telah mengokohkan tipu dayanya, ia mengatur kelompok rahasia di berbagai kota yang menyembunyikan dan menganjurkan kepada kekecauan; sehingga ketika kondisi sudah siap, mereka bangkit melawan Khalifah, maka terjadilah pemberontakan, pengepungan dan pembunuhan terhadap sang Khalifah.

Dan terbayangkan kepada saya bahwa mereka yang membesar-besarkan urusan Ibnu Saba’ sedemikian rupa mereka telah berbuat salah besar kepada diri mereka sendiri dan kepada sejarah. Awal yang kami perhatikan ialah bahwa kami tidak menemukan Ibnu Saba’ disebut-sebut dalam sumber-sumber penting yang menceritakan perkara penentangan terhadap Utsman, ia tidak disebut oleh Ibnu Sa’ad ketika menceritakan kejadian yang terjadi di masa Utsman dan perlawanan manusia terhadapnya, ia tidak disebut oleh al Baladzuri dalam Ansab al-Asyrâf-nya. Dan ia dalam hemat kami adalah sumber terpenting peristiwa-peristiwa tersebut dan lebih rinci. Ia di sebutkan oleh ath Thabari dari Saif bin Umar, dan dari dialah tampaknya para sejarawan yang datang setelahnya mengambil.

Dan  saya tidak mengerti apakah Ibnu Saba’ berbahaya atau tidak di masa Utsman, akan tetapi saya memastikan bahayanya- kalaupun ia berbahaya- tidaklah besar dan tidaklah kaum Muslim di masa Utsman dapat dengan mudah dipermaikan oleh akal-akal, pendapat dan kekuasaan mereka oleh seorang pendatang dari Ahlul-Kitab yang memeluk Islam di masa Utsman, dan setelah  memeluk Islam ia langsung melancarkan penyebaran fitnah dan makar jahat di semua kota. Dan seandainya Abdullah ibn ‘Amir atau Mu’awiyah menangkap si penyusup itu si Yahudi yang tidak memeluk Islam kecuali untuk berbuat makar terhadap kaum Muslim niscaya mereka berdua atau salah satu darinya menulis surat kepada Utsman dan pasti salah satu atau keduanya akan menghabisinya.

Beliau menambahkan, “Dan orang yang menyurati Utsman untuk meminta izin menyiksa putra Abu Bakar, Inbu Abi Hudzaifah dan Ammâr ibn Yasir, seperti dalam sebagaian riwayat, pastilah ia pantas untuk tidak mema’afkan dari siksaannya seorang Ahlul-Kitab yang menjadikan Islam sebagai sarana untuk menyebarluaskan perpecahan di kalangan kaum Muslim dan meragukan mereka terhadap pimpinan bahkan tenhadap agama mereka. Tidak ada yang lebih mudah buat para penguasa daerah untuk menempuh jalan ini yaitu menangkap dan menyiksa pendatang ini, dan mereka punya keahlian dalam memantau para pembangkang dan mengusir mereka dari rumah-rumah mereka dan mengirimnya kepada Mu’awiyah atau Abdurahman bin Khalid bin Walid.

Dan yang paling mengherankan dari cerita Abdullah bin Saba’ ini ialah bahwa dialah yang mendektekan kepada Abu Dzarr agar mengkritik Mu’awiyah yang mengatakan bahwa, ‘Harta ini adalah harta Allah’, ia mengajarkan kepadanya bahwa yang benar adalah ‘Harta ini adalah milik kaum Muslim.’ Dan dari doktrin ini, dikatakan bahwa dialah yang mendektekan kepada Abu Dzarr doktrin mazhabnya tentang kritik kepada para penguasa dan orang-orang kaya, dan ancaman kepada yang menumpuk-numpuk emas dan perak dengan setrika dari api yang akan menyetrika dahi, pinggang dan punggung mereka … Saya tidak melihat sikap berlebihan yang menyerupai ini. Abu Dzarr tidak butuh kepada pendatang yang berbicara tentang Islam untuk mengajarinya bahwa, ‘bagi kaum fakir ada hak pada harta kaum kaya dan Allah mengancam kaum yang menumpuk-numpuk emas dan perak dan tidak menginfaqkannya dengan siksa yang menyakitkan ….’ Abu Dzarr tidak butuh kepada si pendatang itu agar mengajarinya dasar-dasar ajaran kebenaran Islam, Abu Dzarr telah mendahului seluruh kaum Anshar dan banyak sekali kaum Muhajirin dalam memeluk Islam, ia telah bersahabat dengan Nabi cukup lama, ia mengahafal Al-Qur’an dengan baik serta meriwayatkan sunnah dengan tepat.

Dan mereka yang menganggap bahwa Ibnu Saba’ telah bertemu dengan Abu Dzarr dan mendektekan sebagian doktrinnya adalah  telah menzalimi diri mereka dan menzalimi Abu Dzarr.

Para periwayat berkata, “Bahwa Abu Dzarr pada suatu hari, sepulang dari kota Syam ke Madinah berkata kepada Utsman, ‘Tidak sepatutnya bagi orang yang telah mengeluarkan zakat mencukupkan dengan itu sehingga ia memberi si peminta, memberi makan yang lapar dan berinfaq di jalan Allah.’ Dan ketika itu Ka’ab al Akhbâr hadir dalam pembicaran itu, ia berkata, ‘Bagi yang telah mengeluarkan zakat sudah cukup baginya.’ Maka Abu Dzarr marah dan berkata kepada Ka’ab, ‘Hai putra wanita Yahudi! Apa urusanmu dan perkara ini? Apakah kamu mengajari kami agama kami!’ Kemudian ia menusuknya dengan tongkat. Abu Dzarr menolak Ka’ab untuk mengajarinya tentang agamanya  bahkan untuk masuk dalam urusan kaum Muslim walau hanya dengan sekedar menyampaikan pendapat, padahal Ka’ab adalah seorang Muslim dan lebih lama memeluk Islam dibanding Ibnu Saba’ dan ia bertinggal di Madinah dan bergaul dengan sahabat Nabi dan dekat dengan Utsman, lalu ia tidak peduli untuk menerima sebuah prinsip agama dan hukum al Qur’an dari Abdullah ibn Saba’!

Tidakkah mengherankan seorang sahabat Nabi yang menolak Ka’ab untuk berdiskusi tentang agama kemudian ia menerima agama dari Abdullah bin Saba’ si Yahudi yang memeluk Islam untuk bermakar!

Kemudian ia melanjutkan, “Dan ada dugaan kuat adalah bahwa musuh-musuh Syi’ah pada masa kekuasaan Bani Umayyah dan Abbasiyah telah berlebih-lebihan tentang Abdullah bin Saba’ ini, agar mereka dapat meragukan sebagian kejadian yang dinisbatkan kepada Utsman dan para aparatnya, ini dari satu sisi. Dan dari sisi lain untuk menjelek-jelekan Ali dan Syi’ah beliau agar mereka mengembalikan sebagaian urusan kaum Syi’ah kepada seoarang Yahudi yang memeluk Islam untuk berbuat makar terhadap kaum Muslim. Dan alangkah banyaknya hal-hal yang diperolok-olokkan atas Syi’ah oleh musuh-musuh mereka!

Maka hendaknya kita dalam hal ini bersikap hati-hati dan kritis dan mengagungkan kaum Muslim pada masa awal Islam dari dapat dipermainkan agama, politik akal dan negara mereka oleh seorang pendatang dari kota Shan’a’, ayahnya seorang Yahudi dan ibunya seorang wanita berkulit hitam dan dia sendiri seorang beragama Yahudi kemudian memeleuk Islam bukan karena keinginan dan takut, tapi untuk makar, tipu daya dan menipu, lalu ia berkesempatan meraih kesuksesan seperti yang ia ingingkan, ia menggerakkan kaum muslimin melawan Khalifah mereka sehingga ia terbunuh, kemudian setelah itu atau sebelum itu ia memecah-belah mereka menjadi sekte-sekte dan faksi-faksi.

Ini semua adalah hal-hal yang tidak sesuai dengan akal sehat dan tidak akan bertahan terhadap kritik serta tidak selayaknya perkara sejarah ditegakkan atasnya.”[1]

Doktor Thaha Husain kembali menegaskan masalah ini pada juz dua, beliau mengatakan, “Dan yang aneh bahwa para sejarawan banyak menyebut Ibnu Sawda’/Abdullah bin Saba’ dan rekan-rekannya ketika mereka meriwayatkan perkara kekacauan pada masa Utsman, dan berbanyak-banyak menyebut mereka pada pasca terbunuhnya Utsman sebelum Ali meninggalkan kota Madinah untuk menemui Thalhah, Zubair dan Ummul Mukminin. Kemudia mereka banyak menyebut mereka (Ibnu Saba’ dan kawan-kawan) ketika Ali menemui Thalhah, Zubair dan Ummul Mukminin dalam upaya perdamaian.. Kemudian mereka (para sejarawan itu) mengklaim bahwa Ibnu Saba’ dan kawan-kawan bersekongkol ketika kelengahan Ali dan sahabat-sahabat beliau dengan mengobarkan peperangan…; yang mengherankan bahwa para sejarawan itu telah melupakan Saba’iyah sama sekali dan tidak menyinggung-nyinggungnya lagi pada peperangan Shiffin (antara Imam Ali as dan Mu’awiyah)”!

Kemudia beliau menambahkan, “Dan minimal yang dapat disimpulkan dari berpalingnya para sejarawan dari menyebut-nyebut Saba’iyah dan Ibnu Sawda’ pada peperangan Shiffin ialah bahwa perkara Saba’iyah ini adalah kisah paksaan dan buatan, ia telah diproduksi belakangan ketika semaraknya perdebatan antara kaum Syi’ah dan sekte-sekte Islam lainnya.

Musuh-musuh Syi’ah berkehendak memasukkan pada dasar ajaran mazhab ini unsur Yahudi untuk lebih mengokohkan tipu daya dan kecaman terhadap mereka. Kalau seandainya kisah Ibnu Saba’ itu bersandar pada dasar kebenaran dan sejarah yang benar maka niscaya pasti akan muncul pengaruh dan tipu dayanya dalam peperangan yang rumit di Shiffin tersebut… . Lalu bagaimana menganalisa keberpailingan sejarawan terhadap menyebutnya atau bagaimana kita akan memberikan analisa ketidak hadiran Ibnu Saba’ pada peperangan Shiffin.

Kalau saya tidak akan menganalisanya kecuali dengan satu alasan yaitu bahwa Ibnu  Saba’ tiada lain hanyalah sebuah anggapan/fiktif. Dan jika ia benar-benar ada, maka ia tidak  berbahaya seperti yang digambarkan para ahli sejarah dan seperti yang mereka gambarkan tentang aktivitasnya di masa Utsman dan masa awal khilafah Ali… .”

Lalu  ia menambahkan, “Ia hanyalah pribadi yang dipersiapkan oleh musuh-musuh Syi’ah hanya untuk kaum Syia’h saja dan tidak untuk kaum Khawarij.”

Dan dalam kesempatan lain ia mengatakan, “Adapun al Baladzuri ia telah kita lihat –seperti yang telah lewat dalam kitab ini- ia tidak menyebut Ibnu Saba’ dan tidak juga kawan-kawannya tentang perkara Utsman, ia tidak juga menyebut-nyebutnya dalam perkara Ali kecuali satu kali dalam hal yang tidak terlalu penting, ketika ia datang bersama sekelompok orang menanyakan kepada Ali tentang Abu Bakar, lalu Ali menjawabnya dengan keras seraya mencela mereka karena membicarakan hal seperti itu, sementara kota Mesir telah ditaklukkan (oleh Mu’awiyah_pen) dan Syi’ah Ali banyak terbunuh dalam mempertahankannya.

Ali menulis sepucuk surat menyebut kondisi setelah keloyoan penduduk Irak dan memerintahkan agar dibacakan kepada manusia untuk mengambil manfaatnya.

Al Baladzuri berkata, “Dan Ibnu Saba’ memiliki satu naskah dari surat tersebut lalu ia merubah-rubahnya.” Dan Ibnu Saba’ ini dalam pandangan al Baladzuri bukan Ibnu Sawda’, ia adalah Abdullah bin Wahab al Hamdani.

Al Baladzuri meriwayatkan kisah ini dengan hati-hati dan berusaha jujur sebisa mungkin, ia sering meriwatkan beberapa hadis lalu ia mengomentarinya seakan ia menampakkan keraguan atasnya, sebab ia adalah produk panduduk Irak.”

Dan setelah berbicara tentang pemalsuan hadis dan berita ,Thaha Husain kembali berkata, “Apapun masalahnya, al Baladzuri tidak menyebut-nyebut Ibnu Sawda’ dan kawan-kawannya pada fitnah masa Utsman dan masa Ali. Ath Thabari dan para perawinya yang ia nukil dari mereka, dan para ahli sejarah yang kemudian menukil dari ath Thabari, mereka semua menyebut-nyebut Ibnu Sawda’ dan kawan-kawan dalam fitnah yang tejadi pada masa Utsman dan pada tahun pertama dari masa Ali kemudian mereka melupakan Ibnu Sawda’ dan kawan-kawannya setelah itu.

Para muhadis dan ahli kalam sepakat dengan ath Thabari dan teman-temannya dalam masalah ini. hanya saja para muhaddis dan ahli kalam menyendiri tanpa ath-Thabari dan kawan-kawan dalam satu hal yaitu mereka mengklaim bahwa Ibnu Saba’ dan para pengikutnya menuhankan Ali dan Ali membakar mereka dengan api. Akan tetapi apabila Anda mencari tahu tentangnya dari buku-buku sejarah, maka Anda tidak akan menemukannya. Kita tidak tahu pada tahun keberapa dari masa kekuasaan Ali yang pendek itu muncul fitnah kaum Ghulat. Dan pembakaran sekelompok orang dengan api pada masa awal Islam dan di tengah-tengah sekelompok sahabat Nabi dan kaum Muslim yang shalih bukanlah perkara yang akan dilupakan oleh ahli sejarah lalu mereka tidak menyebutnya dan menetapkan waktunya, mereka hanya mengabaikan penyebutannya drengan total.”[2]


[1] Al-Fitnah al-Kubra :1\131-132 .cetakan kedelapan, Daar al-Ma’arif, Mesir (dengan sedikit meringkas beberapa bagaian)

[2] Al Fitnah al Kubrâ (‘Ali Wa Banûhu):43,90 dan 152 .

2 Tanggapan

  1. sebuah persembahan yang bagus!

  2. […] Syi’ah Dan Abdulla ibn Saba’ (Bagian 3) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: